Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN Kencing nanah atau gonore (bahasa Inggris: gonorrhea atau gonorrhoea) adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan, dan bagian putih mata (konjungtiva). Gonore bisa menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa menjalar ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam pinggul sehingga timbul nyeri pinggul dan gangguan reproduksi. (Anonymus). Gonorhea adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Neisseria Gonorhea yang pada umumnya ditularkan melalui hubungan kelamin, tetapi dapat juga secara langsung dengan eksudat yang infektif. (Dr.Soedarto, Penyakit-penyakit Infeksi di Indonesia,1990,Hal.74). Gonorrhea adalah infeksi yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, biasanya ditularkan melalui hubungan seks, anak-anak yang tinggal serumah dengan penghuni yang terinfeksi dapat tertular, begitu juga pekerja kesehatan yang kontak dengan eksudat terinfeksi. (Dorland,2010, hal 933).

B. ANATOMI Anatomi Saluran Reproduksi Laki-laki:

TESTIS Testis merupakan sepasang struktur berbentuk oval,agak gepeng dengan panjang sekitar 4 cm dan diameter sekitar2.5 cm. Testis berada didalam skrotum bersama epididimis yaitu kantung ekstraabdomen tepat dibawah penis. Dinding pada rongga yang memisahkan testis dengan epididimis disebut tunika vaginalis. Tunika vaginalis dibentuk dari peritoneum intraabdomen yang bermigrasi ke dalam skrotum primitive selama perkembangan genetalia interna pria, setelah migrasi ke dalam skrotum, saluran tempat turunnya testis (prosesus vaginalis) akan menutup.

EPIDIDIMIS Merupakan suatu struktur berbentuk koma yang menahan batas posterolateral testis. Epididimis dibentuk oleh saluran yang berlekuk-lekuk secara tidak teratur yang disebut duktus epididimis. Panjang duktus epididimis sekitar 600 cm. Duktus ini berawal dari puncak testis (kepala epididimis) dan berjalan berliku-liku, kemudian berakhir pada ekor epididimis yang kemudian menjadi vas deferens. Epididimis merupakan tempat terjadinya maturasi akhir sperma.

SCROTUM Skrotum pada dasarnya merupakan kantung kulit khusus yang melindungi testis dan epididimis dari cedera fisik dan merupakan pengatur suhu testis. Spermatozoa sangat sensitive terhadap suhu karena testis dan epididimis berada di luar rongga tubuh, suhu di dalam testis biasanya lebih rendah daripada suhu di dalam abdomen.

VAS DEFERENS Vas deferens merupakan lanjutan langsung dari epididimis. Panjangnya 45 cm yang berawal dari ujung bawah epididimis, naik disepanjang aspek posterior testis dalam bentuk gulungan-gulungan bebas, kemudian meninggalkan bagian belakang testis, duktus ini melewati korda spermatika menuju abdomen.

VESICULA SEMINALIS Merupakan sepasang struktur berongga dan berkantung-kantung pada dasar kandung kemih di depan rectum. Masing-masing vesicular memiliki panjang 5 cm dan menempel lebih erat pada kandung kemih daripada pada rectum. Pasokan darah ke vas deferens dan vesikula seminalis berasal dari arteri vesikulkaris inferior. Arteri

ini berjalan bersama vas deferens menuju skrotum beranastomosis dengan arteri testikukar, sedangkan aliran limfatik berjalan menuju ke nodus iliaka interna dan eksterna. Vesikula seminalis memproduksi sekitar 50-60 % dari total volume cairan semen. Komponen penting pada semen yang berasal dari vesukula seminalis adalah fruktosa dan prostaglandin.

KELENJAR PROSTAT Kelenjar prostat merupakan organ dengan sebagian strukturnya merupakan kelenjar dan sebagian lagi otot dengan ukuran sekitar 2,3 x 3,5 x 4,5 cm. Organ ini mengililingi uretra pria, yang terfiksasi kuat oleh lapisan jaringan ikat di belakang simpisis pubis. Lobus media prostat secara histologis sebagai zona transisional berbentuk baji, mengelilingi uretrra dan memisahkannya dengan duktus ejakulatorius. Saat terjadi hipertropi, lobus media dapat menyumbat aliran urin. Hipertropi lobus media banyak terjadi pada pria usia lanjut.

PENIS Penis terdiri jaringan kavernosa (erektil) dan dilalui uretra. Ada dua permukaan yaitu permukaan posterior penis teraba lunak (dekat uretra) dan permukaan dorsal. Jaringan erektil penis tersusun dalam tiga kolom longitudinal, yaitu sepasang korpus kavernosum dan sebuah korpus spongiousum di bagian tengah. Ujung penis disebut glans. Glands penis ini mengandung jaringan erektil dan berlanjut ke korpus spongiosum. Glans dilapisi lapisan kulit tipis berlipat, yang dapat ditarik ke proksimal disebut prepusium (kulit luar), prepusium ini dibuang saat dilkukan pembedahaan (sirkumsisi). Penis berfungsi sebagai penetrasi. Penetrasi pada wanita memungkinkan terjadinya deposisi semen dekat serviks uterus.

Anatomi Saluran Reproduksi Wanita:

RONGGA PELVIS Terletak di bawah,berhubungan dengan rongga abdomen, dibentuk oleh os iski dan os pubis pada sisi samping dan depan, os sakrum dan os koksigis membentuk batas belakang dan pinggiran pelvis dibentuk oleh promontorium sakrum di belakang iliopektinal sebelah sisi samping dan depan dari tulang sakrum

PINTU KELUAR PELVIS (PINTU BAWAH) Dibatasi oleh os koksigis dibelakang simfisis pubis, di depan lengkung os pubis,os iski, serta ligamentum yang berjalan dari os iski dan os sakrum disetiap sisi, pintu keluar ini membentuk lantai pelvis.

ISI PELVIS Kandung kemih dan dua buah ureter terletak dibelakang simfisis, kolon sigmoid sebelah kiri fosa iliaka dan rektum terletak di sebelah belakang rongga mengikuti lengkung sakrum. Kelenjar limfe, serabut saraf fleksus lumbosakralis untuk anggota gerak bawah cabang pembuluh darah a.iliaka interna dan v.iliaka interna berada di dalam pelvis

Genetalia pada wanita terpisah dari urethra, dan mempunyai saluran tersendiri. Alat reproduksi wanita dibagi menjadi 2 bagian yaitu :

ALAT GENETALIA DALAM 1. Uterus Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi peritoneum (serosa). Selama kehamilan berfungsi sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus. Pada saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks uterus, isi konsepsi dikeluarkan. Terdiri dari corpus, fundus, cornu, isthmus dan serviks uteri.

2. Serviks uteri Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan / menembus dinding dalam vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri dari 3 komponen utama: otot polos, jalinan jaringan ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri externum (luar, arah vagina) dilapisi epitel skuamokolumnar mukosa serviks, dan ostium uteri internum (dalam, arah cavum). Sebelum melahirkan (nullipara/primigravida) lubang ostium externum bulat kecil, setelah

pernah/riwayat melahirkan (primipara/ multigravida) berbentuk garis melintang. Posisi serviks mengarah ke kaudal-posterior, setinggi spina ischiadica. Kelenjar mukosa serviks menghasilkan lendir getah serviks yang mengandung glikoprotein kaya karbohidrat (musin) dan larutan berbagai garam, peptida dan air. Ketebalan mukosa dan viskositas lendir serviks dipengaruhi siklus haid.

3. Corpus uteri Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada ligamentum latum uteri di intraabdomen, tengah lapisan muskular/miometrium berupa otot polos tiga lapis (dari luar ke dalam arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam lapisan endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh sesuai siklus haid akibat pengaruh hormonhormon ovarium. Posisi corpus intraabdomen mendatar dengan fleksi ke anterior, fundus uteri berada di atas vesica urinaria. Proporsi ukuran corpus terhadap isthmus dan serviks uterus bervariasi selama pertumbuhan dan perkembangan wanita (gambar).

4. Ligamenta penyangga uterus Ligamentum latum uteri, ligamentum rotundum uteri, ligamentum cardinale, ligamentum ovarii, ligamentum sacrouterina propium, ligamentum

infundibulopelvicum, ligamentum vesicouterina, ligamentum rectouterina. 5. Vaskularisasi uterus

Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca interna, serta arteri ovarica cabang aorta abdominalis. 6. Salping / Tuba Falopii Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri. Sepasang tuba kirikanan, panjang 8-14 cm, berfungsi sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai cavum uteri. Dinding tuba terdiri tiga lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular) serta mukosa dengan epitel bersilia.

Terdiri dari pars interstitialis, pars isthmica, pars ampularis, serta pars infundibulum dengan fimbria, dengan karakteristik silia dan ketebalan dinding yang berbeda-beda pada setiap bagiannya. 7. Pars isthmica (proksimal/isthmus) Merupakan bagian dengan lumen tersempit, terdapat sfingter uterotuba pengendali transfer gamet. 8. Pars ampularis (medial/ampula) Tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula / infundibulum, dan pada hamil ektopik (patologik) sering juga terjadi implantasi di dinding tuba bagian ini. 9. Pars infundibulum (distal) Dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae abdominale pada ujungnya, melekat dengan permukaan ovarium. Fimbriae berfungsi menangkap ovum yang keluar saat ovulasi dari permukaan ovarium, dan membawanya ke dalam tuba. 10. Mesosalping Jaringan ikat penyangga tuba (seperti halnya mesenterium pada usus). 11. Ovarium Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga peritoneum, sepasang kiri-kanan. Dilapisi mesovarium, sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf. Terdiri dari korteks dan medula. Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum (dari sel epitel germinal primordial di lapisan terluar epital ovarium di korteks), ovulasi (pengeluaran

ovum), sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid (estrogen oleh teka interna folikel, progesteron oleh korpus luteum pascaovulasi). Berhubungan dengan pars infundibulum tuba Falopii melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae menangkap ovum yang dilepaskan pada saat ovulasi. Ovarium terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta abdominalis inferior terhadap arteri renalis.

ALAT GENITALIA LUAR (VULVA) Vulva terbagi atas sepertiga bagian bawah vagina,klitoris, dan labia.Hanya mons dan labia mayora yang dapat terlihat pada genetalia eksterna wanita. Arteri pudenda interna mengalirkan darah ke vulva. Arteri ini berasal dari arteri iliaka interna bagian posterior, sedangkan aliran limfatik dari vulva mengalir ke nodus inguinalis. Alat genetalia luar terdiri dari : 1. Mons veneris/pubis (Tundun) Bagian yang menonjol berupa tonjolan lemak yang besar terletak di di atas simfisis pubis. Area ini mulai ditumbuhi bulu pada masa pubertas. 2. Labia Mayora (bibir besar) Dua lipatan dari kulit diantara kedua paha bagian atas. Labia mayora banyak mengandung urat syaraf (Syaifudin, 1997). Labia mayora merupakan struktur terbesar genetalia eksterna wanita dan mengelilingi organ lainnya, yang berakhir pada mons pubis. 3. Labia Minora (bibir kecil) Berada di sebelah dalam labia mayora. Jadi untuk memeriksa labia minora, harus membuka labia mayora terlebih dahulu. 4. Klitoris (Kelentit) Sebuah jaringan ikat erektil kecil kira-kira sebesar biji kacang hijau yang dapat mengeras dan tegang (erectil) yang mengandung urat saraf (Syaifudin, 1997), jadi homolog dengan penis dan merupakan organ perangsang seksual pada wanita. 5. Vestibulum (serambi) Merpakan rongga yang berada di antara bibir kecil (labia minora), muka belakang dibatasi oleh klitoris dan perineum. Dalam vestibulum terdapat muara-muara dari : liang senggama (introitus vagina),urethra,kelenjar bartolini, dan kelenjar skene kiri dan kanan.

6. Himen (selaput dara) Lapisan/membran tipis yang menutupi sebagian besar dari liang senggama, ditengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir keluar, letaknya mulut vagina pada bagian ini, bentuknya berbeda-beda ada yang seperti bulan sabit. Konsistensinya ada yang kaku, dan ada yang lunak, lubangnya ada yang seujung jari, ada yang dapat dilalui satu jari. Himen mungkin tetap ada selama pubertas atau saat hubungan seksual pertama kali. 7. Perineum (kerampang) Merupakan bagian terendah dari badan berupa sebuah garis yang menyambung kedua tuberositas iski, daerah depan segitiga kongenital dan bagian belakang segitiga anal, titik tengahnya disebut badan perineum terdiri dari otot fibrus yang kuat di sebelah depan anus

C. ETIOLOGI Penyebab pasti penyakit gonore adalah bakteri Neisseria gonorrhea yang bersifat patogen. Daerah yang paling mudah terinfeksi adalah daerah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng yang belum berkembang pada wanita yang belum pubertas. Gonorrhoeae adalah bakteri yang tidak dapat bergerak, tidak memiliki spora, jenis diplokokkus gram negatif dengan ukuran 0,8 1,6 mikro. Bakteri gonokokkus tidak tahan terhadap kelembaban, yang cenderung mempengaruhi transmisi seksual. Bakteri ini bersifat tahan terhadap oksigen tetapi biasanya memerlukan 2-10% CO2 dalam pertumbuhannya di atmosfer. Bakteri ini membutuhkan zat besi untuk tumbuh dan mendapatkannya melalui transferin, laktoferin dan hemoglobin. Organisme ini tidak dapat hidup pada daerah kering dan suhu rendah, tumbuh optimal pada suhu 3537 dan pH 7,2-7,6 untuk pertumbuhan yang optimal. Gonokokkus terdiri dari 4 morfologi, type 1 dan 2 bersifat patogenik dan type 3 dan 4 tidak bersifat patogenik. Tipe 1 dan 2 memiliki pili yang bersifat virulen dan terdapat pada permukaannya, sedang tipe 3 dan 4 tidak memiliki pili dan bersifat nonvirulen. Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang.

D. PATOFISIOLOGI Setelah melekat, gonokokus berpenetrasi ke dalam sel epitel dan melalui jaringan sub epitel di mana gonokokus ini terpajan ke system imun (serum,

komplemen, immunoglobulin A(IgA), dan lain-lain), dan difagositosis oleh neutrofil. Virulensi bergantung pada apakah gonokokus mudah melekat dan berpenetrasi ke dalam sel penjamu, begitu pula resistensi terhadap serum, fagositosis, dan pemusnahan intraseluler oleh polimorfonukleosit. Faktor yang mendukung virulensi ini adalah pili, protein, membrane bagian luar, lipopolisakarida, dan protease IgA. Bakteri secara langsung menginfeksi uretra, endoserviks, saluran anus, konjungtiva dan farings. Infeksi dapat meluas dan melibatkan prostate, vas deferens, vesikula seminalis, epididimis dan testis pada pria dan kelenjar skene, bartholini, endometrium, tuba fallopi dan ovarium pada wanita.

Kontak seksual dengan penderita

Bayi terinfeksi selama proses persalinan Invasi bakteri Neisseria gonorrhea Menyebar melalui pembuluh darah GONORRHEA

Kontak dengan penderita

B1 Menyerang tenggorokan Faringitis gonokokal Obstruksi jalan nafas PO2 PCO2 RR MK: Gangguan Pola Nafas

B2 Infeksi pada saat persalinan Inflamasi Pelepasan mediator kimia

B3 Invasi bakteri Menyebar ke pembuluh darah Menstimulasi hipotalamus Merangsang reseptor nyeri Nyeri MK: Gangguan pola tidur

B4 Genetalia Bakteri masuk dalam uretra Rasa tidak enak saat kencing Sumbatan saluran kemih Inkontinensia MK: Gangguan pola eliminasi

B5 Faringitis Nyeri telan (Disfagia) Nafsu makan

B6 Bakteri menyerang ke pembuluh darah Vasodilatasi Eritema

(IgA) Penyakit sistemik MK: Resiko Infeksi

MK: Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Kulit kemerahan MK: Gangguan integritas kulit

E. MANIFESTASI KLINIS Pada pria, gejala awal biasanya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi. Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra, yang beberapa jam kemudian diikuti oleh nyeri ketika berkemih dan keluarnya nanah dari penis. Penderita sering berkemih dan merasakan desakan untuk berkemih, yang semakin memburuk ketika penyakit ini menyebar ke uretra bagian atas. Lubang penis tampak merah dan membengkak. Pada wanita, gejala awal bisa timbul dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi. Penderita wanita seringkali tidak menunjukkan gejala selama beberapa minggu atau bulan, dan diketahui menderita penyakit ini hanya setelah mitra seksualnya tertular. Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Tetapi beberapa penderita menunjukkan gejala yang berat, seperti desakan untuk berkemih, nyeri ketika berkemih, keluarnya cairan dari vagina dan demam. Infeksi bisa menyerang leher rahim, rahim, saluran telur, indung telur, uretra dan rektum; menyebabkan nyeri pinggul yang dalam atau nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Nanah yang keluar bisa berasal dari leher rahim, uretra atau kelenjar di sekitar lubang vagina. Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubungan seksual melalui anus (lubang dubur) bisa menderita gonore pada rektumnya. Penderita merasakan tidak nyaman di sekitar anusnya dan dari rektumnya keluar cairan. Daerah di sekitar anus tampak merah dan kasar, tinjanya terbungkus oleh lendir dan nanah. Pada pemeriksaan dengan anaskop akan tampak lendir dan cairan di dinding rektum penderita. Melakukan hubungan seksual melalui mulut (oral sex) dengan seorang penderita gonore bisa menyebabakn gonore pada tenggorokan (faringitis gonokokal). Biasanya infeksi ini tidak menimbulkan gejala, tetapi kadang menyebabkan nyeri tenggorokan dan gangguan menelan. Jika cairan yang terinfeksi mengenai mata maka bisa terjadi infeksi mata luar (konjungtivitis gonore). Penderita pria biasanya mengeluhkan sakit pada waktu kencing. Dari mulut saluran kencing keluar nanah kental berwarna kuning hijau. Setelah beberapa hari keluarnya nanah hanya pada pagi hari, sedikit dan encer serta rasa nyeri berkurang. Bila penyakit ini tidak diobati dapat timbul komplikasi berupa peradangan pada alat kelamin. Pada wanita, penyakit ini tidak menunjukkan gejala yang jelas atau bahkan tidak menimbulkan keluhan sama sekali, sehingga wanita mudah menjadi

Asuhan Keperawatan GONORRHEA

Page 10

sumber penularan GO. Kadang penderita mengeluh keputihan dan nyeri waktu kencing.

Asuhan Keperawatan GONORRHEA

Page 11

BAB II ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN 1. Identitas Nama, Umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, pekerjaan, pendidikan, status perkawinan, alamat, tanggal masuk Rumah Sakit. 2. Keluhan Utama Biasanya nyeri saat kencing 3. Riwayat Penyakit Sekarang Tanyakan penyebab terjadinya infeksi, bagaimana gambaran rasa nyeri, daerah mana yang sakit, apakah menjalar atau tidak, ukur skala nyeri dan kapan keluhan dirasakan. 4. Riwayat Penyakit Dulu Tanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit parah sebelumnya, (sinovitis, atritis) 5. Riwayat Kesehatan Keluarga Tanyakan apakah dikeluarga klien ada yang menderita penyakit yang sama dengan klien. 6. Pola Reproduksi Seksual Perawat perlu mengkaji bagaimana pola reproduksi seksual klien. Berapa jumlah anak klien. Tanyakan masalah seksual klien yang berhubungan dengan penyakitnya. 7. Pemeriksaan Fisik a. b. c. d. e. f. g. h. Kemerahan pada sekitar alat kelamin. Keluar cairan kuning dan kental dari mata (pada bayi baru lahir). Keluar cairan kental/nanah dari lubang uretra atau vagina. Di sekitar anus tampak merah. Tinja terbungkus oleh lendir dan nanah. Tumbuh tonjolan seperti jengger ayam di sekitar alat kelamin. Nyeri saat kencing. Nyeri punggung bawah.

Asuhan Keperawatan GONORRHEA

Page 12

B. DIAGNOSA 1. 2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan inflamasi jaringan. Resiko tinggi terhadap transmisi infeksi yang berhubungan dengan sifat menular dari darah dan ekseri tubuh. 3. Isolasi sosial berhubungan rasa takut penolakan aktual diri orang lain.

C. INTERVENSI Dx 1: Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan inflamasi jaringan. Tanda-tanda : Merintih dan terengah-engah. Gelisah dan memejamkan mata. Tidur satu arah dengan posisi tertentu.

Kriteria Hasil : - Setelah dilakukan asuhan keperawatan nyeri berkurang / hilang. Intervensi 1. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi intensitas (skala 1 10) frekuensi dan waktu. Rasional : Mengindikasikan kebutuhan untuk intervensi dan tanda-tanda perkembangan komplikasi. 2. Dorong pengungkapan perasaan Rasional : Mengurangi rasa takut dan ansietas sehingga mengurangi persepsi akan intensitas rasa sakit. 3. Berikan tindakan kenyamanan misal : perubahan posisi tubuh. Rasional : Meningkatkan relaksasi / menurunkan tegangan otot. 4. Dorong penggunaan teknik relaksasi mis : bimbingn imajinasi, visualisasi latihan nafas dalam. Rasional : Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol dan dapat meningkatkan kemampuan koping. 5. Kolaborasi dengan tenaga medis dan pemberian analgesik. Rasional :
Asuhan Keperawatan GONORRHEA Page 13

Mempercepat proses penyembuhan.

Dx. 2. Resiko tinggi terhadap tranmisi infeksi yang berhubungan sifat menular dari darah dan ekresi tubuh. Intervensi : 1. Ajarkan klien untuk menghindari kontak seksual dengan banyak pasnagan. Rasional : Gonore dapatmenular melalui kontak seksual dan kotak darah. 2. Buang jarum dan benda tajam pada wadah tahan tembus yang di letakkan pada area penggunaan. Rasional : Mencegah tertusuk jarum secara tidak sengaja dengan peralatan yang terkontaminasi. 3. Anjurkan menggunakan handuk sendiri-sendiri. Rasional : Handuk memberi barier dari kontak dengan sekresi dan ekskresi infeksius.

Dx. 3. Isolasi sosial yang berhubungan dengan rasa takut akan penolakan diri. Tanda-Tanda : Tampak depresi, cemas, atau marah. Ketidak mampuan untuk konsentrasi dan membuat keputusan tak berguna.

Kriteria Hasil : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan dapat mengekspresikan kesedihannya. Intervensi : 1. Anjurkan px untuk ikut serta dalamaktivitas yang disukai. Rasional : Membantu Pasien menemukan kesenangan dan makna beraktivitas. 2. Anjurkan pasien untuk kontak dengan orang yang tidak menolaknya. Rasional : Memberikan pasien kesempatan untuk membina hubungan saling percaya dan berbagi perasaan. 3. Luangkan waktu bersama pasien saat hadirnya orang pendukung.
Page 14

Asuhan Keperawatan GONORRHEA

Rasional : Kehadiran perawat dapat membantu memodalisasi nilai pasien dan memberikan model peran bagi orang lain bagaimana berinteraksi. 4. Ajarkan px tentang transmisi bakteri. Rasional : Mengurangi rasa takut kontak umum dan kebutuhan isolasi.

D. IMPLEMENTASI Bimbingan dan pengarahan (counseling dan leaching) Memberikan dorongan sosial dan emotional. Memberikan perawatan diri sendiri (self care). Meningkatkan sikap-sikap seksual yang sehat.

E. EVALUASI Menyebutkan faktor-faktor yang menyebabkan infeksi sekarang dengan STDS (Multi Partner Seksual ; tidak mempraktekkan safe sex). Menjelaskan mengapa terapi harus dilakukan. Menjelaskan mengapa pasien tidak boleh melakukan aktivitas seksual sementara terjadi infeksi-infeksi STDS. Menjelaskan apa yang dimaksud Safe Sex.

Asuhan Keperawatan GONORRHEA

Page 15

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Gonorrhea adalah infeksi yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, biasanya ditularkan melalui hubungan seks, anak-anak yang tinggal serumah dengan penghuni yang terinfeksi dapat tertular, gonore bisa menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa menjalar ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam pinggul sehingga timbul nyeri pinggul dan gangguan reproduksi. Neisseria gonorrhoeae adalah bakteri yang tidak dapat bergerak, tidak memiliki spora, jenis diplokokkus gram negatif dengan ukuran 0,8 1,6 mikro. Bakteri gonokokkus tidak tahan terhadap kelembaban, yang cenderung

mempengaruhi transmisi seksual. Penyebab pasti penyakit gonore adalah bakteri Neisseria gonorrhea yang bersifat patogen. Daerah yang paling mudah terinfeksi adalah daerah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng yang belum berkembang pada wanita yang belum pubertas. Tanda dan gejala dari gonore : Pada pria: 1) Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra kemudian diikuti nyeri ketika berkemih. 2) Disuria yang timbul mendadak, rasa buang air kecil disertai dengan keluarnya lendir mukoid dari uretra. 3) Keluarnya nanah dari penis. Pada wanita: 1) Nyeri ketika berkemih. 2) Keluarnya cairan dari vagina. 3) Demam. 4) Disparenia. 5) Infeksi dapat menyerang leher rahim, rahim, indung telur, uretra, dan rektum serta menyebabkan nyeri pinggul yang dalam ketika berhubungan seksual. Pada anak: 1) Infeksi terjadi pada masa perinatal, yaitu pada saat bayi lewat jalan lahir.
Asuhan Keperawatan GONORRHEA Page 16

2) Infeksi pada mata (ophthalmia neonatorum / blenorrhoeae). 3) Dapat mengakibatkan kebutaan bila dibiarkan tanpa pengobatan. 4) Konjungtivitis, timbul pada hari ke 5 sampai hari ke 12 setelah lahir.

B. SARAN Saran dari saya semoga dari pembuatan makalah ini banyak membantu dalam pencegahan maupun dalam pengobatan. meskipun kami ketahui makalah yang kami susun ini jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu dimohon saran dan kritiknya demi tercapainya pembuatan makalah yang brikutnya lebih baik.

Asuhan Keperawatan GONORRHEA

Page 17

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, dkk. 1990. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi Ketiga. Jakarta: EGC. Fahmi, Syaiful. 1997. Penyakit Menular Seksual. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Jakim, Mi. dkk. 1995. Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC. Lachlan, Mc. 1979. Diagnosis dan Penyakit Kelamin. Icmia Kedokteran. Yogayakrta.

Lory, Barban C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Bandung: Yayasan IAPK. Soedarto. Dr, DTMH, PHD. 1990. Penyakit-Penyakit Infeksi di Indonesia. Jakarta: Widya Medika.

Asuhan Keperawatan GONORRHEA

Page 18