Anda di halaman 1dari 56

Volume I, No 1, Desember 2010

ISSN: 2085-8655

Kesiapan Memasuki Sekolah Dasar Pada Anak Yang Mengikuti Pendidikan TK Dengan Yang Tidak Mengikuti Pendidikan TK Di Kabupaten Kudus | Perilaku Konsumen Remaja Menggunakan Produk Fashion Bermerek Ditinjau Dari Kepercayaan Diri | Pengaruh Stres Kerja, Beban Kerja Terhadap Kepuasan Kerja (Studi Pada Medical Representatif Di Kota Kudus) | Metode Dongeng Dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah | Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati Dan Kematangan Emosi | Orientasi Nilai Pelaku Musik Hardcore

JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MURIA KUDUS

JURNAL PSIKOLOGI UMK


Volume I, No 1, Desember 2010 ISSN: 2085-8655 52 halaman

DAFTAR ISI Kesiapan Memasuki Sekolah Dasar Pada Anak Yang Mengikuti Pendidikan TK Dengan Yang Tidak Mengikuti Pendidikan TK Di Kabupaten Kudus Nur Halimah & Fajar Kawuryan Perilaku Konsumen Remaja Menggunakan Produk Fashion Bermerek Ditinjau Dari Kepercayaan Diri Wahyu Pranoto & Iranita Hervi Mahardayani Pengaruh Stres Kerja, Beban Kerja Terhadap Kepuasan Kerja (Studi Pada Medical Representatif Di Kota Kudus) Dhini Rama Dhania Metode Dongeng Dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah Latifah Nur Ahyani Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati Dan Kematangan Emosi Gusti Yuli Asih & Margaretha Maria Shinta Pratiwi Orientasi Nilai Pelaku Musik Hardcore Anto Sanjaya & Mochamad Widjanarko

Halaman 1

15

24

33 43

Penerbit: Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus | Penanggungjawab: Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus | Pemimpin Umum: Drs. M. Suharsono, M.Si | Pimpinan Redaksi: Mochamad Widjanarko, S.Psi, M.Si | Sekertaris Redaksi: Dhini Rama Dania, S.Psi, M.Si | Staf Redaksi: Fajar Kawuryan, S.Psi, M.Si; Latifah Nur Ahyani, S.Psi, MA; Trubus Raharjo, S.Psi, M.Si | Mitra Bestari: Dr. Y. Bagus Wismanto (Unika Soegijapranata); Dr. M. Sih Setija Utami (Unika Soegijapranata); Dr. Edy Suhardono (IISA) | Sekertariat: Muji Syukur, S.Psi | Alamat Redaksi: Kampus Universitas Muria Kudus, Gondangmanis, Bae, Kudus 593352 Jawa Tengah, Telp : 0291 438229 , Fax: 0291 437198, email: psiumk@yahoo.com, website: www.psikologi-umk.com

Jurnal Psikologi UMK diterbitkan dua kali dalam setahun setiap bulan Juni dan Desember. Redaksi menerima tulisan hasil penelitian atau artikel pemikiran yang kritis mengenai masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan bidang psikologi. Redaksi berhak melakukan edit dengan tidak mengubah isi pemikiran tulisan.

Volume I, No 1, Desember 2010

Kesiapan Memasuki Sekolah Dasar Pada Anak Yang Mengikuti Pendidikan TK Dengan Yang Tidak Mengikuti Pendidikan TK Di Kabupaten Kudus

KESIAPAN MEMASUKI SEKOLAH DASAR PADA ANAK YANG MENGIKUTI PENDIDIKAN TK DENGAN YANG TIDAK MENGIKUTI PENDIDIKAN TK DI KABUPATEN KUDUS
Nur Halimah 1 2 Fajar Kawuryan

Abstract This present study is aimed to investigate the school readiness differences between student who took pre-scholl education and not took pre-school education. Participants of this study consist of 120 students in the first class of elementary shool from different school in Kudus. This study use accidental sampling. NST (Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test) that made by Monks, Rost, and Coffie are used to know the school readiness. t analyses were performed and get the difference coeficient t1.2 =53,405, p=0,000 (p<0,01). This result showed that there are very significant differences school readiness between student who took pre-shcool education and not took pre-school education. The student who took pre-school education have better school readiness if compare with student who not took pre-school education. This is showed by mean difference from two kind of the participant. The student who took pre-school education get the mean score 25,98 but the student who not took preschool education only get mean score 11,25. Keywords: school readiness, pre-school education, elementary school

Manusia dalam perkembangannya ada beberapa tahapan yang harus dilalui, mulai dari masa kanak-kanak, remaja sampai dewasa. Salah satu tahapan yang harus dilalui manusia dan berpengaruh terhadap manusia baik secara fisik maupun secara psikologis adalah masa kanak-kanak, karena pada masa kanakkanak ini adalah pondasi dari kehidupannya kelak agar menjadi manusia yang berkualitas. Hurlock (1980) menyatakan bahwa rentang masa kanak-kanak dibagi lagi menjadi dua periode yang berbeda; awal dan akhir. Periode awal berlangsung dari umur dua sampai enam tahun, sedang periode akhir masa kanak berkisar antara enam sampai tiba saatnya anak matang secara seksual, dengan demikian awal masa kanak-kanak dimulai sebagai penutup masa bayi; usia dimana ketergantungan secara praktis sudah dilewati, diganti dengan tumbuhnya kemandirian dan berakhir di sekitar usia sekolah dasar. Anak usia empat sampai dengan enam tahun merupakan bagian dari anak usia dini yang berada pada rentangan usia lahir sampai dengan enam tahun. Pada usia ini biasanya disebut sebagai anak usia prasekolah. Para pendidik menyebut tahun-tahun awal masa kanak-kanak sebagai usia prasekolah, untuk membedakannya dari saat di mana anak dianggap cukup tua, baik secara fisik dan mental, untuk menghadapi tugas-tugas pada saat mereka mulai mengikuti pendidikan formal. Hasil penelitian Djohaeni (2006)

1 Alumni Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus, Pemerhati Tumbuh Kembang Anak. 2 Staf Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus.

1 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Kesiapan Memasuki Sekolah Dasar Pada Anak Yang Mengikuti Pendidikan TK Dengan Yang Tidak Mengikuti Pendidikan TK Di Kabupaten Kudus

menunjukkan bahwa pendidikan TK mampu memberikan kontribusi pada anak dalam mengembangkan seluruh aspek perkembangan yang dimilikinya. Alasan minat orangtua memasukkan anaknya ke TK sangat beragam, diantaranya agar mampu belajar disiplin, mampu bersosialisi, mandiri, juga agar anak mempunyai kesiapan sekolah saat SD. Setelah seorang anak menyelesaikan pendidikan prasekolah di taman kanak-kanak, seorang anak akan bersiap untuk mengikuti pendidikan formal di sekolah dasar. Seorang anak yang belum pernah mengikuti atau menyelesaikan pendidikan prasekolah di taman kanak-kanak biasanya belum siap untuk mengikuti pendidikan formal di sekolah dasar, sehingga kesiapan bersekolah menjadi sangat penting. Sayangnya hal ini tidak dipahami semua orangtua (Djohaeni, 2008). Seperti terungkap dalam wawancara dengan ST (Jurang, 25-05-10) orangtua yang mempunyai anak SD yang tidak mengikuti pendidikan TK mengatakan bahwa memasukkan anak ke pendidikan TK itu dirasa tidak begitu penting karena hanya diajarkan bernyanyi dan bermain, tetapi harus membayar mahal. Selain itu pendidikan TK juga bukan merupakan prasyarat wajib untuk masuk SD. Baginya agar anak dapat membaca, menulis, dan berhitung akan diajarkan di SD. Hasil penelitian Sulistiyaningsih (2005) menyatakan bahwa kesiapan bersekolah menjadi penting artinya karena anak yang telah memiliki kesiapan untuk bersekolah akan memperoleh keuntungan dan kemajuan dalam perkembangan selanjutnya. Sementara itu anak yang tidak memiliki kesiapan, justru akan frustrasi bila ditempatkan di lingkungan akademis. Berbagai bentuk perilaku sebagai cerminan frustrasi ini diantaranya adalah menarik diri, berlaku acuh tak acuh,

menunjukkan gejala-gejala fisik, atau kesulitan menyelesaikan tugasnya di sekolah. Hal senada dari wawancara dengan seorang guru SD, Bp. Setiyo Utomo (SD 2 Besito, 17-05-10, 11.00) yang menyatakan bahwa semua muridnya kelas 1 berasal dari TK. Efeknya, pada saat mengikuti proses belajar mengajar sudah memiliki kesiapan, di antaranya sudah mengenal huruf, sudah mampu menulis, menghitung jumlah gambar, berani mencoba memecahkan masalah, menceritakan dan mengurutkan cerita dari gambar-gambar. Ditambahkan juga bahwa rata-rata anak-anak ini sudah mampu duduk tenang dan menyelesaikan tugas-tugas akademik di sekolah SD. Terkait dengan kesiapan sekolah, Hurlock (dalam Sulistiyaningsih, 2005) menyatakan bahwa kesiapan bersekolah terdiri dari kesiapan secara fisik dan psikologis, yang meliputi kesiapan emosi, sosial dan intelektual. Seorang anak dikatakan telah memiliki kesiapan fisik bila perkembangan motoriknya sudah matang, terutama koordinasi antara mata dengan tangan (visio-motorik) berkembang baik. Kesiapan emosional sudah dicapai apabila anak secara emosional dapat cukup mandiri lepas dari bantuan dan bimbingan orang dewasa, tidak mengalami kesulitan untuk berpisah dalam waktu tertentu dengan orangtuanya, dapat menerima dan mengerti setiap tuntutan di sekolah, serta dapat mengontrol emosinya seperti rasa marah, takut, dan iri. Selain itu anak harus sudah dapat bekerjasama, saling menolong, menunggu giliran untuk suatu tugas dan sebagainya. Anak yang telah siap secara sosial akan mudah menyesuaikan diri dengan harapan-harapan dan aturan-aturan di sekolah. Menurut Haditono (1986) kesiapan sosial anak dapat dilihat dari kemampuan menyesuaikan diri

2 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Kesiapan Memasuki Sekolah Dasar Pada Anak Yang Mengikuti Pendidikan TK Dengan Yang Tidak Mengikuti Pendidikan TK Di Kabupaten Kudus

terhadap orang yang baru dikenal, seperti guru dan teman-teman barunya. Kesiapan intelektual telah dimiliki anak apabila anak sudah mampu mengenal berbagai macam simbol untuk huruf, angka, gambar, serta kata-kata yang digunakan untuk menyebut suatu benda, berpikir secara kritis, menggunakan penalaran walaupun masih sederhana dalam memecahkan masalah mampu berkonsentrasi dan memiliki daya ingat yang baik sehingga anak dapat mengikuti pelajaran dengan lancar (Sulistiyaningsing, 2005). K u s t i m a h ( 1 0 - 0 6 - 2 0 1 0 ; http://www.pustaka.unpad.ac.id) menyatakan beberapa faktor dalam kesiapan sekolah anak meliputi : a. Kesehatan Fisik Kesehatan yang baik dengan asupan gizi yang seimbang sangat dibutuhkan untuk dapat menunjang kesiapan masuk sekolah. Anak yang sehat akan lebih mudah mencerna pengetahuan yang diajarkan serta bersosialisasi dengan lebih baik, tampil gesit dan bersemangat, baik dalam menerima informasi maupun dalam membina hubungan sosial dengan guru serta teman -temannya. b. Usia Beberapa ahli mengatakan bahwa faktor usia sangatlah penting untuk menentukan kesiapan anak masuk sekolah dasar. Menurut Janke, Comenius, Buhler dan Hetzer dalam buku Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test (dalam Kustimah, 2008) menganggap usia 6 tahun sebagai usia yang cukup matang untuk sekolah. Pada usia ini umumnya anak telah memiliki perbendaharaan kata yang cukup banyak, memiliki kemampuan membayangkan seperti anak-anak seusianya, dapat mengemukakan secara verbal ide-ide dan pikiran-pikirannya serta organ-organ indra dan

motorik telah terkoordinasi dengan baik. c. Tingkat Kecerdasan Kecerdasan/inteligensi merupakan kemampuan seorang anak dalam memahami instruksi verbal teoritis dan menyelesaikan tugas-tugas konkrit praktis dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Anak-anak dengan tingkat kecerdasan yang berfungsi pada tahap rata-rata akan menyelesaikan tugas - tugas tersebut secepat anak-anak seusianya. Adapun anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi akan menyelesaikan tugas-tugas tersebut secara lebih cepat dan sebaliknya anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan rendah akan melaksanakannya dengan lebih lambat. Dengan demikian untuk memasuki dunia sekolah yang memiliki program pembelajaran untuk usia tertentu, maka setidaknya seorang anak memiliki tingkat kecerdasan yang berfungsi pada tahap ratarata. d. Stimulasi Tepat Faktor lingkungan terdekat dengan anak sangat berperan dalam menunjang kesiapan anak untuk memasuki sekolah dasar, sehingga potensi perkembangan anak yang dimiliki anak dapat berkembang secara optimal. Orangtua dan guru memegang peranan yang sangat penting dalam mengembangkan aspek-aspek yang sangat menunjang kesiapan anak untuk sekolah meliputi semua perkembangan baik perkembangan motorik kasar dan halus, perkembangan bahasa, perkembangan sosial, perkembangan kognisi dan perkembangan emosi anak. e. Motivasi Anak yang merasa bahagia biasanya memiliki motivasi baik untuk melakukan sesuatu, serta umumnya melakukan kegiatan didasari oleh tujuan tertentu.

3 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Kesiapan Memasuki Sekolah Dasar Pada Anak Yang Mengikuti Pendidikan TK Dengan Yang Tidak Mengikuti Pendidikan TK Di Kabupaten Kudus

Guna mengetahui kondisi faktor-faktor kesiapan sekolah anak, digunakan Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test (NST). NST terdiri dari 10 sub tes yang berisi gambar-gambar atau melengkapi gambar sekaligus jawabannya, yang masing-masing mengungkap kemampuan yang berbeda, yaitu: 1. Subtes 1: Pengamatan bentuk dan kemampuan membedakan (vorm waarneming en onderscheidings vermogen); 2. Subtes 2: Motorik halus (fijne motoriek); 3. Subtes 3: Pengertian tentang besar, jumlah, dan perbandingan (begrip voor grootte hoeveelheid en verhoudingen); 4. Subtes 4: Pengamatan tajam (scherp waarnemen); 5. Subtes 5: Kemampuan berpikir kritis (kritische waarneming); 6. Konsentrasi (taakspanning); 7. Subtes 7: Ingatan (geheugen); 8. Subtes 8: Pengertian objek dan penilaian situasi (object begrip en situatieboordeling); 9. Subtes 9: Menirukan cerita van een verhaaltje); (weergeven

bersifat non verbal individual.

dan disajikan secara

Dapat disimpulkan bahwa kesiapan anak sekolah terdiri dari beberapa aspek, baik fisik maupun psikologis dan salah satu alat tes untuk mengukur kesiapan sekolah adalah Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test (NST) yang mengukur aspek-aspek kognitif, motorik halus dan motorik kasar, penilaian sosial, serta emosional.

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik perbedaan kesiapan sekolah anak SD yang mengikuti pendidikan TK dengan yang tidak mengikuti pendidikan TK.

Hipotesis Ada perbedaan kesiapan sekolah anak sekolah dasar yang mengikuti pendidikan taman kanak-kanak dengan yang tidak mengikuti pendidikan taman kanak-kanak, dengan asumsi bahwa anak-anak yang mengikuti pendidikan TK lebih siap memasuki SD dari pada anak yang tidak mengikuti pendidikan TK.

10.Subtes 10: Menggambar orang (menstekening). Menurut Monks, Rost, dan Coffie (dalam Sulistiyaningsih, 2005) NST dikembangkan di Nijmegen - Nederland merupakan pengolahan tes Gopinger dari Jerman yang digunakan untuk mengungkap kemampuan sekolah anak. Hal senada diungkapkan bahwa NST merupakan suatu alat tes yang digunakan untuk mengungkap kesiapan untuk masuk sekolah dasar, meliputi kesiapan fisik dan kesiapan psikis. Kesiapan psikis ini terdiri dari kemasakan emosi, sosial, dan intelektual. NST

Metode Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah anak SD kelas satu yang mengikuti pendidikan taman kanak-kanak dan anak SD kelas satu yang tidak mengikuti pendidikan taman kanakkanak masing-masing sejumlah 60 siswa dari lima SD, yaitu SD 2 Besito, SD 4 Besito, SD 5 Jurang, SD 5 Gondosari, SD 10 Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Pada penelitian ini, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling. Alat tes yang digunakan untuk

4 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Kesiapan Memasuki Sekolah Dasar Pada Anak Yang Mengikuti Pendidikan TK Dengan Yang Tidak Mengikuti Pendidikan TK Di Kabupaten Kudus

mengungkap kesiapan sekolah adalah NST (Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test) yang disusun oleh Monks, Rost, dan Coffie. Tes ini terdiri dari 10 sub tes yang berisi gambargambar atau melengkapi gambar sekaligus jawabannya, yang masing-masing mengungkap kemampuan yang berbeda. Item-item yang digunakan dalam penelitian ini terbagi dalam dua kelompok, yaitu: 1. Item yang jawaban benar yaitu item yang sesuai dengan kunci jawaban yang sudah tersedia. 2. Item yang jawaban salah yaitu item yang tidak sesuai dengan kunci jawaban yang sudah tersedia. Bentuk jawaban terdiri dua alternatif jawaban yaitu Benar (B) dan salah (S). Pada jawaban benar (B) diberi nilai 1 dan jawaban salah (S) diberi nilai 0 lalu jumlah jawaban subyek pada setiap subtes dan diakumulasi untuk disesuaikan dengan norma. Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test (N.S.T.) yang telah digunakan oleh Woelan (2408-2010; http://www.adln.lib.unair.ac.id) memiliki validitas antara 0,220 sampai 0,510 dan reliabilitas sebesar 0,829. Untuk menguji perbedaan kesiapan sekolah anak yang mengikutikan pendidikan TK dengan yang tidak mengikuti pendidikan TK digunakan analisis uji t.

0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebaran data kesiapan sekolah anak SD yang mengikuti pendidikan TK dengan yang tidak mengikuti pendidikan TK memiliki distribusi normal. 2. Uji Homogenitas Hasil uji homogenitas varian kesiapan sekolah anak SD yang mengikuti pendidikan TK dengan yang tidak mengikuti pendidikan TK menunjukkan koefisiensi F sebesar 1,507 dengan p sebesar 0,142 (p>0,05) yang berarti data kesiapan sekolah anak SD yang mengikuti pendidikan TK dengan yang tidak mengikuti pendidikan TK adalah homogen.

Tabel 1 Perbedaan Rerata Kesiapan Sekolah Anak SD yang Mengikuti Pendidikan TK dengan yang Tidak Mengikuti Pendidikan TK
Paired Samples Statistics Mean Pair TK 1 NON_TK 25.98 11.25 N 57 57 Std. Deviation 1.302 1.607 Std. Error Mean .173 .213

Tabel 2 Uji Perbedaan Kesiapan Sekolah Anak SD yang Mengikuti Pendidikan TK dengan yang Tidak Mengikuti Pendidikan TK
Paired Samples Test Paired Differences

Hasil Penelitian
Pair 1 TK - NON_TK

Mean 14.74

Std. Deviation 2.083

Std. Error Mean .276

1. Uji Normalitas Berdasarkan uji normalitas dengan teknik Kolmogorof-Smirnov terhadap data kesiapan sekolah anak SD yang mengikuti pendidikan TK diperoleh nilai K-SZ sebesar 1,941 dengan p sebesar 0,138 (p > 0,05) dan anak yang tidak mengikuti pendidikan TK diperoleh nilai K-SZ sebesar 1,157 dengan p sebesar 0,138 (p >
Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Lower 14.18 Upper 15.29 53.405 56 .000

df

Sig. (2-tailed)

5 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Kesiapan Memasuki Sekolah Dasar Pada Anak Yang Mengikuti Pendidikan TK Dengan Yang Tidak Mengikuti Pendidikan TK Di Kabupaten Kudus

Hasil analisis data menunjukkan koefisien beda t1.2 sebesar 53,405 dengan p sebesar 0,000 (p<0,01), menunjukkan ada perbedaan sangat signifikan kesiapan sekolah anak SD yang mengikuti pendidikan TK dengan yang tidak mengikuti pendidikan TK. Hal ini juga ditunjukkan dengan perbedaan rerata keduanya yaitu untuk anak yang mengikuti pendidikan TK sebesar 25,98 dan untuk anak yang tidak mengikuti pendidikan TK sebesar 11,25. Berdasarkan hasil analisis data di atas maka hipotesis yang diajukan yaitu ada perbedaan kesiapan sekolah anak yang mengikuti pendidikan TK dengan anak yang tidak mengikuti pendidikan TK; diterima.

lingkungan akademis (Sulistiyaningsih, 2005). Adapun menurut Cronbach (dalam Soemanto, 2003) kesiapan (readiness) sebagai segenap sifat atau kekuatan yang membuat seseorang dapat bereaksi dengan cara tertentu. Dalam hal kesiapan ini melibatkan beberapa faktor antara lain (1) perlengkapan dan pertumbuhan fisiologis, yang menyangkut pertumbuhan terhadap kelengkapan pribadi seperti tubuh pada umumnya seperti alat indra dan kapasitas intelektual, (2) motivasi, yang menyangkut kebutuhan, minat serta tujuan-tujuan individu untuk mempertahankan serta mengembangkan diri. Hal lain yang mempengaruhi kesiapan sekolah anak adalah keluarga dan lingkungan. Hurlock (1980) menyatakan lingkungan yang terdekat dengan anak adalah keluarga. Dari berbagai karakteristik keluarga, faktor tingkat pendidikan orangtua merupakan sesuatu yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak. Tingkat pendidikan orangtua ini sangat penting hubungannya dengan cara mereka mengasuh anak, sementara itu cara pengasuhan anak berhubungan dengan perkembangan anak. Dalam hal ini tingkat pendidikan dan lingkungan orangtua mempengaruhi cara pengasuhan anak. Dalam lingkungan yang terpencil dan tidak ada akses pendidikan banyak orangtua tidak memasukkan anaknya ke lingkup pendidikan sekolah yang memadai, hal ini akan berbeda dengan orangtua yang tinggal di lingkungan yang mempunyai banyak akses pendidikan, kebanyakan dari mereka merasa bahwa pendidikan usia dini adalah hal yang penting untuk perkembangan kognitif anak-anak khususnya anak-anak usia prasekolah. Pada hasil penelitian juga dapat dilihat adanya perbedaan rerata yaitu rerata anak yang mengikuti pendidikan TK lebih besar yaitu

Diskusi Kesiapan bersekolah anak yang satu belum tentu sama dengan anak yang lainnya, bahkan meskipun usianya sama. Hal ini disebabkan karena ada banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya kesiapan bersekolah anak. Selain dipengaruhi oleh kemasakan, lingkungan tempat anak berkembang juga ikut membentuk kesiapan anak bersekolah. Dapat dipahami bahwa pendidikan anak pada usia prasekolah merupakan dasar yang penting untuk keberhasilan pada jenjang studi yang selanjutnya. Setelah menyelesaikan pendidikan prasekolah di TK, seorang anak akan bersiap untuk mengikuti pendidikan formal di SD (Sulistiyaningsih, 2005). Anak yang mengikuti pendidikan TK dimungkinkan lebih matang dari pada anak yang tidak mengikuti pendidikan TK seperti terungkap dalam penelitian Kustimah (2008). Kesiapan bersekolah menjadi penting artinya karena anak yang telah memperoleh keuntungan dan kemajuan dalam perkembangannya yang selanjutnya. Sementara itu anak yang belum memiliki kesiapan, justru akan mengalami hambatan-hambatan bila ditempatkan di

6 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Kesiapan Memasuki Sekolah Dasar Pada Anak Yang Mengikuti Pendidikan TK Dengan Yang Tidak Mengikuti Pendidikan TK Di Kabupaten Kudus

sebesar 25,98 dan rerata anak yang tidak mengikuti pendidikan TK sebesar 11,25. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kondisi pendidikan prasekolah yang ditempuh sebelum mengikuti pendidikan sekolah serta lingkungan tempat tinggal anak-anak. Anak-anak yang sebelum SD mengikuti pendidikan TK dimungkinkan secara kognitif, fisik, dan emosi sudah siap dalam memasuki pendidikan sekolah dasar. Anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan TK ketika memasuki pendidikan sekolah dasar secara kognitif, fisik dan emosi rata-rata belum siap. Anak yang belum memiliki kesiapan, justru akan frustrasi bila ditempatkan di lingkungan akademis. Berbagai bentuk perilaku sebagai cerminan frustrasi ini diantaranya adalah untuk menarik diri, berlaku acuh tak acuh, menunjukkan gejala- gejala sakit fisik, atau kesulitan menyelesaikan tugasnya di sekolah (Rowen dkk dalam Sulistiyaningsih, 2005).

kemasakan emosi, sosial, dan intelektual dalam mengikuti pendidikan di sekolah dasar. 2. Bagi peneliti selanjutnya, agar melibatkan faktor pendukung kesiapan belajar yang lain, misalnya dukungan orangtua, tingkat kecerdasan, dan motivasi.

Daftar Pustaka Dalyono, M. (1997). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rieka Cipta Djoehaeni, H. (2006). Pengembangan Potensi Anak Usia Dini Melalui Penerapan Kelas Ya n g B e r p u s a t P a d a A n a k : http://www.jurnal.psikologi.ac.id. 22-062010, 10.30 ___________. (2008). Pengembangan Potensi Anak Usia Dini melalui Penerapan Kelas yang Berpusat pada Anak : http://www.jurnal.psikologi.ac.id. 22-062010, 10.00 Haditono, S.R.(1986). Pengasuhan Anak Menuju Kesiapan Masuk SD. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM Hurlock. (1980). Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga Kustimah, (2008). Gambaran Kesiapan Anak Masuk Sekolah Dasar Dtinjau dari Hasil Test NS (Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test). Bandung: Universitas Padjadjaran. http://www.pustaka.unpad.ac.id. 10-062010, 13:30. Monks dkk. (2004). Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Munarsih, C. (2010). Pembelajaran Terpadu pada Pendidikan Usia Dini bagi Anak

Simpulan dan Saran Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan ada perbedaan sangat signifikan kesiapan sekolah antara anak SD yang mengikuti pendidikan TK dengan yang tidak mengikuti pendidikan TK, dimana anak SD yang sebelumnya mengikuti pendidikan TK memiliki kesiapan sekolah lebih tinggi dibandingkan yang tidak mengikuti pendidikan TK.

Saran Dari hasil penelitian ini dapat disarankan : 1. Bagi orangtua agar memasukkan anaknya di pendidikan prasekolah sebelum memasuki sekolah dasar agar memiliki kesiapan fisik dan kesiapan psikis; berupa

7 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Kesiapan Memasuki Sekolah Dasar Pada Anak Yang Mengikuti Pendidikan TK Dengan Yang Tidak Mengikuti Pendidikan TK Di Kabupaten Kudus

Miskin di Jakarta: http://www.adln.lib.unjupi.ac.id. 5-05-2010, 13.20. Soemanto, W. (2003). Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Rineka Cipta. Sulistiyaningsih, W. (2005). Kesiapan Bersekolah Anak Ditinjau Dari Jenis Pendidikan Pra Sekolah Anak dan Tingkat Pendidikan Orangtua. Jurnal Psikologia. Volume 01 Juni 2005. Universitas Sumatera Utara. Woelan, H. (2010). Uji Validitas dan Reliabilitas Tes NST. http://www.adln.lib.unair.ac.id. 24-08-2010, 22:00.

8 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Konsumen Remaja Menggunakan Produk Fashion Bermerek Ditinjau Dari Kepercayaan Diri

PERILAKU KONSUMEN REMAJA MENGGUNAKAN PRODUK FASHION BERMEREK DITINJAU DARI KEPERCAYAAN DIRI

Wahyu Pranoto 1 2 Iranita Hervi Mahardayani

Abstract This study aims to empirically examine the relationship between consumer behavior of teenagers using branded fashion products with confidence. In this study the subjects of research is student in the Muria Kudus University, with a purposive sampling based sampling that samples with characteristics of teenagers using branded fashion products. Measuring instrument used to obtain the data is scale consumer behavior teenagers use fashion branded products and the confidence scale. The results obtained from both the correlation coefficient rxy of 0.433 with p of 0.000 (p <0.050), this means there is a significant positive relationship on teenagers consumer behavior using branded fashion products with confidence. So the hypothesis accepted. Teenangers consumer behavior using branded fashion product and confidence gained on medium category. Effective contribution to the behavior variable of consumer confidence at 43.3%. Keywords: consumer behavior and confidence

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak menuju masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa (Rumini, 2004). Periode transisi pada usia remaja membuat remaja akan selalu berusaha untuk dapat diterima dengan baik oleh kelompok sosialnya. Mereka mengusahakan berbagai cara yang ditujukan pada konformitas kelompoknya. Penampilan fisik merupakan prioritas utama yang menjadi perhatian para remaja, bahkan banyak yang hanya mau membeli produk fashion dengan merek tertentu saja yang harganya mahal, hanya untuk meningkatkan harga diri dan menambah kepercayaan dirinya. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa penampilan fisik merupakan suatu kontributor yang sangat berpengaruh pada rasa percaya diri remaja, (Santrock dalam Kusumaningtyas, 2009). Penampilan remaja dalam kesehariannya, fashion merupakan salah satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam menunjang penampilannya. Remaja menyadari bahwa fashion sangat penting kerena mereka memiliki keinginan untuk selalu tampil menarik ditengah tengah kelompok sosialnya. Salah satu bentuk perilaku remaja dalam menambah penampilan dirinya dimata kelompoknya adalah dengan mengikuti mode yang diminati oleh kelompok sebayanya (Mappiare,1982). Remaja cenderung membeli produk fashion bukan karena alasan kebutuhan, tetapi

1 Alumni Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus. 2 Staf Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus.

9 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Konsumen Remaja Menggunakan Produk Fashion Bermerek Ditinjau Dari Kepercayaan Diri

hanya untuk berpenampilan agar lebih dihargai dan dapat diterima oleh kelompoknya atau teman sebayanya. Perilaku ini lebih dipengaruhi oleh faktor emosi dari pada rasio, karena pertimbangan pertimbangan dalam membuat keputusan untuk membeli suatu produk lebih menitikberatkan pada status sosial, mode dan kemudahan, dari pada pertimbangan ekonomis. Pilihan emosional biasanya didasarkan atas rasa salah, rasa takut, kurang percaya diri, dan keinginan bersaing serta menjaga penampilan diri, (Sarwono dalam Kusumaningtyas, 2009) Teman sebaya lebih memberikan pengaruh dalam memilih hal cara berpakaian, hobi, perkumpulan (club), dan kegiatan sosial lainya (Yusuf, 2004). Karena itu remaja berusaha berpenampilan sama dengan teman sebayanya, remaja merasa dirinya lebih diterima dan dihargai. Bagi seorang remaja, arti penerimaan atau penolakan teman sebaya dalam kelompok sangatlah penting. Hal itu mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pikiran, sikap, perasaan, perbuatan perbuatan dan penyesuaian diri remaja. Hal yang demikian ini akan menimbulkan rasa senang, gembira, puas bahkan rasa bahagia yang pada gilirannya memberi rasa percaya diri yang besar (Mappiare, 1982) Salah satu penyebab dari rasa kurang percaya diri tersebut yaitu bahwa remaja merasa dirinya memiliki kekurangan dan tidak sama dengan kelompok teman sebayanya dalam konteks secara fisik. Hal ini yang menyebabkan remaja memilih untuk menutupi kekuranganya tersebut dan berusaha untuk untuk berpenampilan sama dengan kelompoknya. Remaja yang tidak percaya diri ini cenderung akan menggunakan produk fashion bermerek sebagai kompensasi terhadap kekuranganya, Sinaga (dalam Kusumaningtyas, 2009)

Mode yang terus berkembang seiring perubahan jaman, menyebabkan remaja terus menerus mengikuti perkembangan arus mode. Semakin tinggi kecenderungan mengikuti mode maka kepercayaan diri pada remaja akan semakin kuat atau meningkat. Kecenderungan mengikuti mode memiliki prediksi kuat terhadap terbentuknya kepercayaan diri pada remaja, Buntaran (dalam Kusumaningtyas, 2009). Dengan begitu remaja yang kurang memiliki rasa percaya diri yang kuat secara otomatis akan menggunakan mode mode yang sedang marak dikalangannya, guna menambah rasa kepercayaan diri pada remaja tersebut. Berdasarkan fenomena diatas, diduga bahwa remaja yang memiliki masalah dalam kepercayaan dirinya, kurang atau tidak percaya diri akan melakukan usaha untuk menutupi rasa kurang percaya dirinya tersebut dengan cara menggunakan produk fashion bermerek. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis ingin mengetahui adakah hubungan antara perilaku konsumen remaja yang menggunakan produk fashion bermerek dengan kepercayaan diri.

Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji secara empirik hubungan antara perilaku konsumen remaja menggunakan produk fashion bermerek dengan kepercayaan diri.

Hipotesis Ada hubungan positif antara kepercayaan diri dengan perilaku konsumen remaja yang menggunakan produk fashion bermerek, dimana semakin tinggi kepercayaan dirinya maka perilaku konsumen menggunakan

10 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Konsumen Remaja Menggunakan Produk Fashion Bermerek Ditinjau Dari Kepercayaan Diri

produk fashion bermerek semakin tinggi pula, begitu pula sebaliknya semakin rendah pula kepercayaan dirinya semakin rendah perilaku konsumen remaja menggunakan produk fashion bermerek.

menggunakan produk fashion bermerek menunjukkan, dari 40 item tidak terdapat item yang gugur, item yang valid dengan koefisien validitas berkisar antara 0,2202 sampai 0,7460. Hasil reliabilitas skala perilaku konsumen remaja menggunakan produk fashion bermerek menunjukkan reliabilitas alpha (rtt) sebesar 0,9467

Metode Penelitian Untuk menguji hipotesis penelitian, sebelumnya dilakukan identifikasi dari variabel variabel yang akan dipakai dalam penelitian ini, yaitu : 1. Variabel Bebas: Kepercayaan Diri. 2. Variabel Tergantung: Perilaku Konsumen Remaja menggunakan produk fashion bermerek. Penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu mahasiswa fakultas psikologi, fakultas ekonomi, fakultas teknik, fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, fakultas hukum, dan fakultas pertanian, tetapi dalam penelitian ini hanya diambil sampel dari masing-masing populasi tersebut yaitu remaja yang berusia 1821 tahun dan menggunakan produk fashion bermerek. Dalam penelitian ini dikumpulkan dengan metode skala. Adapun skala yang dibuat dalam penulis ini adalah skala perilaku konsumen remaja menggunakan produk fashion bermerek dan skala kepercayaan diri. Metode analisis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah menggunakan metode teknik korelasi poduct moment

Skala Kepercayaan Diri Sedangkan item Skala Kepercayaan Diri menunjukkan, dari 40 item pada tahap 1 perhitungan terdapat 6 item yang gugur dengan koefisiensi validitas 0,0056 sampai dengan 0,1766, pada tahap 2 perhitungan terdapat 1 item yang gugur dengan koefisien validitas 0,1638, jadi hasil akhir perhitungan terdapat 33 item yang valid dengan koefisiensi validitas berkisar antara 0,2254 sampai 0,7198. Hasil reliabilitas skala kepercayaan diri menunjukkan bahwa kepercayaan diri mempunyai reliabilitas alpha (rtt) pada tahap 1 sebesar 0,8433, tahap 2 sebesar 0,8661 dan pada tahap terakhir dengan hasil sebesar 0,8682, Analisis Data Tabel 1 Uji Normalitas Sebaran
No. 1. 2. Variabel K -SZ P > 0,05 > 0,05 Keterangan Distribusi Normal Distribusi Normal Perilaku Konsumen 0,713 Kepercayaan Diri 0,520

Hasil Penelitian Validitas dan Reliabilitas Skala Perilaku Konsumen Remaja Menggunakan Produk Fashion Bermerek Item skala perilaku konsumen remaja

Tabel 2 Uji Linieritas Hubungan


PKR* PD Between (combined) F 1,805 Sig. ,020

Groups linierity Devitiation from Linierity Within Groups Total

23,939 ,000 1,190 ,270

11 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Konsumen Remaja Menggunakan Produk Fashion Bermerek Ditinjau Dari Kepercayaan Diri

Tabel 3 Uji Hipotesis


X kepercayaan diri Pearson Correlation Sig.(1 - tailed) N Y P. Konsmn Pearson Correlation Sig.(1- tailed) N ** Correlation is significant at the 0,01 level X PD 1 99 ,433** ,000 99 Y P.KNSMN ,433** ,000 99 1 99

Diskusi Berdasarkan analisis data hipotesis yang diajukan yaitu ada hubungan positif antara perilaku konsumen remaja menggunakan produk fashion bermerek dengan kepercayaan diri, dengan rxy sebesar 0,433 dengan P < 0,05, dengan demikian hipotesis yang diajukan diterima yaitu semakin tinggi perilaku konsumen remaja menggunakan produk fashion bermerek maka semakin tinggi kepercayaan diri. Sebaliknya, semakin rendah perilaku konsumen remaja menggunakan produk fashion bermerek maka semakin rendah pula kepercayaan dirinya. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Tambunan (2001) bahwa remaja yang memiliki kekurangan pada fisiknya membuat remaja tersebut akan merasa kurang percaya diri pada kelompok sosialnya, dan remaja tersebut akan mudah terbujuk oleh penawaran produk produk fashion bermerek terbaru yang menurutnya bisa membuat dirinya lebih bisa percaya diri. Bagi produsen, remaja yang tidak percaya diri ini merupakan pasar potensial bagi produk produk fashion yang mereka ciptakan. Remaja yang seperti ini akan cenderung menggunakan produk fashion bermerek untuk meningkatkan kualitas yang ada pada dirinya khususnya dalam hal penampilan. Salah satu penyebab dari rasa kurang percaya diri tersebut bahwa remaja merasa dirinya memiliki kekurangan dan tidak sama

dengan kelompok teman sebayanya dalam konteks secara fisik. Hal ini yang menyebabkan remaja memilih untuk menutupi kekuranganya tersebut dan berusaha untuk untuk berpenampilan sama dengan kelompoknya. Remaja yang tidak percaya diri ini cenderung akan menggunakan produk fashion bermerek sebagai kompensasi terhadap kekuranganya, Sinaga (dalam Kusumaningtyas, 2009). Sifat remaja selalu ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan diakuinya remaja tersebut oleh orang lain atau teman sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang in (Tambunan, 2001). Karena itu remaja akan menggunakan produk fashion bermerek yang dasarnya produk tersebut sesuai dengan mode atau tren yang sedang in. Besarnya pengaruh perilaku konsumen remaja menggunakan produk fashion bermerek terhadap kepercayaan diri tampak pada besarnya sumbangan efektif sebesar 43,3%, berarti masih terdapat 56,7% faktor lain yang mempengaruhi kepercayaan diri. Besarnya sumbangan efektif perilaku konsumen remaja menggunakan produk fashion bermerek yang relatif besar ini penting untuk diperhatikan khususnya bagi remaja. Bagi remaja yang memiliki perilaku konsumen dalam penggunaan produk produk fashion bermerek yang sangat tinggi hanya guna untuk sekedar menambah kepercayaan dirinya hendaknya untuk tetap bisa dikontrol. Fatimah (dalam Rosita, 2010) menyebutkan kepercayaan diri muncul bukan dari penampilan luar kita

12 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Konsumen Remaja Menggunakan Produk Fashion Bermerek Ditinjau Dari Kepercayaan Diri

saja melainkan dari rasa optimisme dalam diri, selalu berpikir positif, berpikir realistik dan apa adanya serta evaluasi diri yang objektif. Hasil analisis variabel perilaku konsumen remaja menggunakan produk fashion bermerek diperoleh mean empirik sebesar 113,77 dan SD empirik sebesar 15,675. Berdasarkan norma kategorisasi tingkat perilaku konsumen remaja menggunakan produk fashion bermerek, diperoleh bahwa perilaku konsumen remaja menggunakan produk fashion bermerek tersebut tergolong sedang. Hal ini diketahui dari hasil respon subyek pada item dalam skala yang menunjukkan prosentase perilaku konsumen remaja menggunakan produk fashion bermerek terbesar pada tingkat sedang. Remaja dengan perilaku konsumennya menggunakan produk fashion bermerek sangat rendah ada 11 orang (11,11%), Remaja dengan perilaku konsumennya menggunakan produk fashion bermerek rendah ada 15 orang (15,15%), Remaja dengan perilaku konsumennya menggunakan produk fashion bermerek yang tergolong sedang ada 46 orang (46,46%), Remaja dengan perilaku konsumennya menggunakan produk fashion bermerek tinggi ada 19 orang (19,19%) dan Remaja dengan perilaku konsumennya menggunakan produk fashion bermerek yang tergolong sangat tinggi ada 8 orang (8,08%). Sedangkan hasil analisis variabel kepercayaan diri diperoleh mean empirik sebesar 97,44 dengan SD empirik sebesar 9,417. Berdasarkan norma kategorisasi tingkat kepercayaan diri diperoleh bahwa kepercayaan diri remaja tergolong sedang. Hal ini diketahui dari hasil respon subyek pada item dalam skala yang menunjukkan prosentase kepercayaan diri terbesar pada tingkat sedang. Remaja dengan kepercayaan diri yang sangat rendah ada 6 orang (6%), remaja dengan

kepercayaan diri yang rendah ada 23 orang (23,23%), remaja dengan kepercayaan diri sedang ada 41 orang (41,41%), remaja dengan kepercayaan diri tinggi ada 24 orang (24,24%), dan remaja dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi ada 5 orang (5%).

Simpulan dan Saran Simpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara perilaku konsumen remaja menggunakan produk fashion bermerek dengan kepercayaan diri. Saran Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan di atas maka peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut: 1. Remaja Bagi remaja yang kurang percaya diri dalam berpenampilan dan merasa mendapati kekurangan yang ada pada dirinya apabila mungkin diharapkan menggunakan produk fashion bermerek untuk tetap bisa tampil lebih percaya diri atau dengan cara optimis dengan kemampuan, berpikir positif, berpikir realistik dan apa adanya serta evaluasi diri yang objektif, pengendalian diri yang baik dan kemampuan bersosialisasi yang baik. 2. Peneliti selanjutnya Bagi peneliti lain disarankan untuk menggunakan faktor lain yang mempengaruhi perilaku konsumen sebagai variabel dependent atau variabel tergantung karena karena masih terlalu luas arti tentang perilaku konsumen.

13 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Konsumen Remaja Menggunakan Produk Fashion Bermerek Ditinjau Dari Kepercayaan Diri

Daftar Pustaka Assianbrain. (2008). Mengenal Perilaku Konsumen. www.AssianBrain.com Beureukat. (2003). Faktor Lingkungan Sebagai Penentu Perilaku Konsumen . Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Edris, M. (2008). Perilaku Konsumen. Fakultas Ekonomi, Universitas Muria Kudus. Engel, J. F. (2002). Perilaku Konsumen Jilid 2. Jakarta : Binarupa Aksara. Ferrinadewi, E. (2008). Merek Dan Psikologi Konsumen. Yogyakarta: Graha Ilmu. Hakim, T, (2005). Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri. Jakarta: Puspa Swara. Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga. Kusumaningtyas, R. (2009). Hubungan Konsep Diri dengan Minat Membeli Produk Fashion Bermerek Terkenal Pada Remaja. Skripsi (tidak diterbitkan). Semarang: Fakultas Psikologi UNNES. Mappiare, A. (1982). Psikologi Remaja. Surabaya : Usaha Nasional Rosita, H. (2010). Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Kepercayaan Diri Pada Mahasiswa. Jurnal: Unversitas Gunadarma. Rumini, S dan Sundari, S. (2004). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta : Rineka Cipta. Tambunan, R. (2001). Kepercayaan Diri Anda. www.e-psikologi.com Yusuf, S. (2004). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Rosdakarya. Zumars, D. (2010). Konsumen Indonesia Suka

Barang Bermerek (Branded Item) . http://dzumar.wordpress.com

14 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Pengaruh Stres Kerja, Beban Kerja Terhadap Kepuasan Kerja (Studi Pada Medical Representatif Di Kota Kudus)

PENGARUH STRES KERJA, BEBAN KERJA TERHADAP KEPUASAN KERJA (STUDI PADA MEDICAL REPRESENTATIF DI KOTA KUDUS)
Dhini Rama Dhania Universitas Muria Kudus

Abstract With the growth of world trade in products where competition is accompanied by increasingly stringent targets are so high from the company to its marketing, as well as the marketing of drug company called Medical Representative is charged with a high enough target. Therefore this study aims to determine Workload Influence on Job Stress, Job Stress and Effect on Medical Representative Job Satisfaction in Kudus. From the results of hypothesis test showed that the adjusted R2 of , 025 indicates that the effect of workload on job stress at 2.5%. With a very small effect, may imply that no form of workload influence on work stress. while for the Effect of Work Stress on Job Satisfaction gained 0,033 Adjusted R2 results show an effect of work stress on job satisfaction by 3.3%, With very little effect, may imply that no form of the effect of job stress on job satisfaction. Keywords: Job Stress, Workload, Job Satisfaction

perkembangan dalam dunia perdagangan di mana persaingan produk semakin ketat disertai dengan target-target yang begitu tinggi dari perusahaan kepada para marketing. Dengan demikian para marketing ini sangat diperlukan agar setiap produk yang dihasilkan dapat dikenal dan tertanam dalam pikiran dan hati masyarakat baik melalui penjelasan door to door, dan face to face. Dalam perusahaan farmasi para karyawan marketing ini biasa disebut dengan medical representative. Terkait dengan produk yang ditawarkan, sasaran pasarnya juga sangat spesifik, yakni kalangan dokter. Tugas seorang medical representative tidak jauh berbeda dengan sales, tugasnya antara lain mempresentasikan di depan dokter mengenai keunggulan dan kelebihan obat yang mereka tawarkan, menjelaskan kegunaan dari jenis obat baru, ia harus dapat menjelaskan secara rinci segala informasi yang berkaitan dengan produk yang diwakilinya. Dengan demikian para medical representative dituntut oleh pihak perusahaan untuk selalu dapat menutup target yang telah ditetapkan perusahaan. Adanya target yang telah dibebankan pada para medical representative tersebut, maka munculah sebuah permasalahan dalam pemasaran produk obat khususnya di kota Kudus. Hal ini dikarenakan minimnya unit pelayanan kesehatan yang ada di kota Kudus, dan banyaknya cabang perusahaan farmasi yang

Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Indonesia H Sampurno, 2005 (dalam Republika) mengatakan, dalam tiga tahun mendatang ada masalah domestik yang menyangkut nasib distribusi obat nasional, terutama yang berskala kecil. Akibatnya, lebih dari ribuan pedagang besar farmasi harus memperebutkan pasar lokal yang tersisa, sekitar 20 % saja. Sedangkan 80 % sudah dikuasai distributor asing. Dengan

15 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Pengaruh Stres Kerja, Beban Kerja Terhadap Kepuasan Kerja (Studi Pada Medical Representatif Di Kota Kudus)

berdiri di kota Kudus, ini membuat para medical representative mengalami kesulitan dalam menutup target yang ditetapkan perusahaan karena kurangnya tempat untuk memasarkan produknya, dengan begitu para medical representatif saling berlomba-lomba satu sama lain untuk segera dapat menutup target. Adanya ketergantungan perusahaan akan sumber daya manusia (karyawan) dapat dilihat dalam bentuk keaktifan karyawan dalam menetapkan rencana, sistem, proses dan tujuan yang ingin dicapai dalam suatu perusahaan (Hasibuan, 1994). Oleh karena itu sangat perlu adanya perhatian khusus dalam kesejahteraan karyawan dalam suatu organisasi. Kesejahteraan karyawan menjadi sangat penting pada masa sekarang ini, karena apabila kesejahteraan rendah akan muncul akibat-akibat seperti banyak demonstrasi dan aksi mogok kerja.. Kepuasan kerja yang dirasa oleh medical representatif tidak terlepas dari suatu keadaan yang mengikuti seorang individu, salah satunya yaitu stress. Sullivan & Bhagat (1992) menyebutkan bahwa banyak penelitian mengenai pengaruh stres kerja terhadap kepuasan kerja dalam suatu organisasi. Hasil penelitian Alberto (1995), Praptini (2000) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja salah satunya adalah stres kerja. Lebih lanjut penyebab stress dapat dibagi menjadi dua, yaitu internal dan eksternal, di mana salah satu penyebab stress yang berasal dari eksternal yaitu beban kerja yang dirasakan individu sebagaimana diungkapkan oleh Cooper (dalam Rice, 1999). Beban kerja itu sendiri misalnya target yang telah ditetapkan perusahaan merupakan suatu beban kerja yang harus ditanggung oleh para medical representative. Beban kerja yang dirasa cukup berat dapat berpengaruh pada kondisi fisik dan

psikis seseorang. Menurut Menpan (1997), pengertian beban kerja adalah sekumpulan atau sejumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu tertentu. Hart and Staveland (dalam Wikipedia, 2008) mendefinisikan beban kerja sebagai berikut : the perceived relationship between the amount of mental processing capability or resources and the amount required by the task. Dari beberapa pengertian mengenai Beban kerja dapat ditarik kesimpulan beban kerja adalah sejumlah kegiatan yang membutuhkan proses mental atau kemampuan yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, baik dalam bentuk fisik maupun psikis. Stres merupakan suatu kondisi internal yang terjadi dengan ditandai gangguan fisik, lingkungan, dan situasi sosial yang berpotensi pada kondisi yang tidak baik. Pendapat tersebut diungkapkan oleh Morgan & King, (1986: 321) yang lebih jelasnya sebagai berikut: as an internal state which can be caused by physical demands on the body (disease conditions, exercise, extremes of temperature, and the like) or by environmental and social situations which are evaluated as potentially harmful, uncontrollable, or exceeding our resources for coping Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli tentang kepuasan kerja diantaranya Wagner III & Hollenbeck (1995), mengutip ungkapan yang diberikan oleh Locke, yang menjelaskan kepuasan kerja adalah suatu perasaan menyenangkan yang datang dari persepsi seseorang mengenai pekerjaannya atau yang lebih penting yaitu nilai

16 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Pengaruh Stres Kerja, Beban Kerja Terhadap Kepuasan Kerja (Studi Pada Medical Representatif Di Kota Kudus)

kerja, untuk lebih jelasnya sebagai berikut : a pleasurable feeling that results from the perception that one's job fulfills or allows for the fulfillment of one's important job values.

Kerangka Berpikir Dalam suatu kesempatan Smith (1981) mengemukakan bahwa konsep stres kerja dapat ditinjau dari beberapa sudut yaitu: pertama, stres kerja merupakan hasil dari keadaan tempat kerja. Kedua, stres kerja merupakan hasil dari dua faktor organisasi yaitu keterlibatan dalam tugas dan dukungan organisasi. Ketiga, stres karena work load atau beban kerja. Keempat, akibat dari waktu kerja yang berlebihan. Dan kelima, faktor tanggung jawab kerja. Kahn dan Quin (dalam Ivanceviech et al, 1982) menambahkan bahwa stres kerja merupakan faktor-faktor lingkungan kerja yang negatif, salah satunya yaitu beban kerja yang berlebihan dalam pekerjaan. Hal senada juga diungkapkan oleh Keenan dan Newton (1984) yang menyebutkan bahwa stress kerja merupakan perwujudan dari kekaburan peran dan beban kerja yang berlebihan. Hasil penelitian Kuan (1994), Bat (1995), Aun (1998) dan Yahya (1998) membuktikan bahwa beban kerja yang berlebih berpengaruh pada stres kerja. Selanjutnya, penelitian Widjaja (2006) menemukan bahwa beban pekerjaan yang terialu sulit untuk dikerjakan dan teknologi yang tidak menunjang untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik sering menjadi sumber stres bagi karyawan. Quick dan Quick (1984) mengkategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu: Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun), dan yang ke dua Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat

tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Lebih lanjut Eustress dapat memunculkan suatu kondisi kepuasan dalam pekerjaannya. Sebagaimana diungkapkan oleh Nilvia (2002) bahwa Kepuasan kerja karyawan merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam usaha peningkatan kemampuan sumber daya manusia suatu organisasi, karena dengan kepuasan kerja yang dirasakan maka seorang karyawan mampu bekerja secara optimal. Sullivan & Bhagat (1992) menyebutkan bahwa banyak penelitian mengenai pengaruh stres kerja terhadap kepuasan kerja dalam suatu organisasi. Hasil penelitian Lee (dalam Google.com, 2008) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja salah satunya adalah stres kerja. Selanjutnya penelitian Alberto (1995), mengungkapkan bahwa stress kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja staf audit. Penelitian yang senada juga ditemukan oleh Praptini (2000) yang menunjukkan bahwa stress berpengaruh terhadap kepuasan kerja yang dirasakan oleh tenaga edukatif tetap Universitas Airlangga. Namun hasil penelitian Lut (2008) menunjukkan bahwa pengaruh stres kerja terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT SHARP Electronics Indonesia adalah stres kerja tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan. Karena dengan stres, seseorang semakin terpacu untuk mengerahkan segala kemampuan dan sumberdaya-sumberdaya yang dimilikinya agar dapat memenuhi persyaratan dan kebutuhan kerja. Berdasarkan kerangka berpikir diatas maka dapat dibuat suatu model sebagai kerangka pemikiran teoritis untuk menjawab masalah penelitian sebagai berikut:

17 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Pengaruh Stres Kerja, Beban Kerja Terhadap Kepuasan Kerja (Studi Pada Medical Representatif Di Kota Kudus)
? Motivator Factor. Antara lain : Achievement

Beban Kerja H1

Stres Kerja H2

Kepuasan Kerja

Dari hasil penelitian terdahulu dari model penelitian di atas, dapat dibuat hipotesis penelitian sebagai berikut : a) Beban kerja berpengaruh secara signifkan terhadap stres kerja. b) Stres kerja berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan kerja.

(keberhasilan menyelesaikan tugas, Recognition (penghargaan), Work it self (pekerjaan itu sendiri), Responbility (tanggung jawab), Possibility of growth (kemungkinan untuk mengembangkan diri), Advancement (kesempatan untuk maju),
? Hygiene

factor, antaralain :working condition (kondisi kerja), interpersonal relation (hubungan antar pribadi), company policy and administration (kebijaksanaan perusahaan), supervision technical (tekhnik pengawasan), Job security (perasaan aman dalam bekerja.

Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat kuantitatif dengan pengumpulan data melalui skala. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah beban kerja, variabel intervening adalah stres kerja, dan variabel terikatnya adalah kepuasan kerja medical representatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga skala pengukuran yaitu : a). Skala beban kerja. Dalam pengukuran beban kerja dengan menggunakan metode NASA TLX, (NASATask Load Index) faktornya antara lain: Kebutuhan Fisik (KF), Kebutuhan Mental (KM), Kebutuhan Waktu (KW), Performansi (PF), Usaha (U), dan Tingkat Stress (TS). b). Skala Stres Kerja Untuk mengukur stres kerja adalah indikator yang digunakan oleh Patricia (2006). dimana indikatornya antara lain : Fisiologis, Kognitif, Subyektif, Perilaku, dan Keorganisasian. c). Skala Kepuasan Kerja Indikator kepuasan kerja disusun berdasarkan teori dua faktor Herzberg, yaitu : 18 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus Populasi penelitian ini adalah Medical Representatif di kota Kudus. Cara pengambilan sample pada penelitian ini dilakukan secara Purposive Sampling. Pengambilan sample dilakukan langsung oleh peneliti di rumah sakit, apotik, dan tempat prakter dokter. Dalam penelitian yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan tekhnik analisis statistik multiple linier regression menggunakan program analisis statistik SPSS versi 11,5 for windows. tekhnik analisis regresi linier untuk mengukur kekuatan hubungan antar 2 variabel atau lebih, juga menunjukkan arah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Analisis regresi linier dilakukan untuk mengetahui pengaruh satu variabel independen terhadap satu variabel dependen. Sebelum melakukan uji hipotesis, data perlu diuji agar memenuhi kriteria Best Linear Unbiased Estimator (BLUE) sehingga dapat menghasilkan parameter penduga yang sahih (Supramono & Haryanto, 2005) yaitu dengan menguji multikoleniaritas, heterokedastisitas, dan normalitas.

Volume I, No 1, Desember 2010

Pengaruh Stres Kerja, Beban Kerja Terhadap Kepuasan Kerja (Studi Pada Medical Representatif Di Kota Kudus)

Hasil Penelitian Pengumpulan data dilakukan dengan menyebar 60 kuesioner. Kuesioner yang telah diisi dan dikembalikan sebanyak 50 kuesioner, sedangkan yang digunakan dalam melakukan analisis data hanya 42 kuesioner karena 8 kuesioner lainnya rusak (tidak diisi secara lengkap). Berikut karakteristik responden yang ditemui dilapangan : Tabel 1 Responden berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Pria Wanita Jumlah Frekuensi 24 18 42 Prosentase 57 % 43 % 100 %

Tabel 4 Hasil Uji Reliabilitas dan Validitas MasingMasing Skala


Skala Skala Beban Kerja Skala Stres Kerja Skala Kepuasan Kerja Koef. Reliabilitas 0, 7516 0, 9034 0, 9659 Validitas 0,3521 0,6231 0,3342 0,7561 0,2954 0,9013

Item gugur 3 19 2

Tabel 2 Responden berdasarkan Usia


Usia < 30 tahun 30 - 45 tahun Jumlah Frekuensi 16 26 42 Prosentase 38 % 62 % 100 %

Untuk melihat bahwa suatu data terdistribusi secara normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah datanya terdistribusi secara normal atau mendekati normal (Bida, 2006). Dalam penelitian ini, digunakan diagram normal P plot untuk mengetahui distribusi data. Dari dua (2) grafik normal Pplot cenderung menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau garis histogram. Hal ini berarti data yang digunakan dalam penelitian ini mengalami gejala normalitas. Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi yang sempurna. Indicator tidak terjadinya multikolinearitas adalah variance inflation factor /VIP disekitar angka 1, angka tolerance mendekati 1, dan koeefisien korelasi antar variable independent harus lemah (dibawah 0,5). Hasil uji multikolinearitas menunjukkan bahwa nlai VIF dari kedua variabel sekitar angka 1, nilai tolerance mendekati 1, dan koefisien korelasi dibawah 0.5, maka dapat disimpulkan bahwa tdak terdapat masalah multikolnearitas pada model regresi ini. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, gejala heteroskedastisitas terjadi sebagia akibat dari variasi residual yang tidak sama untuk semua pengamatan, untuk mendeteksinya digunakan grafik Scatterplot. Dari hasil grafik dilihat titik-titik menyebar secara acak diatas dibawah angka nol pada sumbu Y. Hal ini

Tabel 3 Responden berdasarkan Lama Bekerja sebagai Medical Representatif


Usia 1 5 tahun 5 10 tahun > 10 tahun Jumlah Frekuensi 12 24 6 42 Prosentase 29 % 57 % 14 % 100 %

Sesuai dengan prosedur penelitian, langkah selanjutnya adalah menguji validitas & reabilitas masing-masing skala. berikut hasil uji validitas dan reabilitas masing-masing skala.

19 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Pengaruh Stres Kerja, Beban Kerja Terhadap Kepuasan Kerja (Studi Pada Medical Representatif Di Kota Kudus)

menunjukkan bahwa tidak ada masalah heteroskidastisitas yang mengindikasikan varians konstan yang menghasilkan model estimator yang tidak bias. Maka dapat dikatakan model regresi memenuhi syarat untuk memprediksi stres. Dari hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan tekhnik analisis regresi diperoleh hasil uji hipotesis menunjukkan nilai Adjusted R2 sebesar -,025 ini menunjukkan bahwa pengaruh beban kerja terhadap stres kerja sebesar 2,5 %. Dengan pengaruh yang sangat kecil tersebut, dapat diartikan bahwa tidak ada bentuk pengaruh beban kerja terhadap stres kerja, yang berarti semakin tinggi beban kerja, stres kerja yang dirasakan dapat tinggi ataupun rendah. Begitupun juga sebaliknya semakin kecil beban kerja yang ditanggung, stres kerja yang dirasakan dapat tinggi ataupun rendah.. Selain itu diketahui hasil nilai F hitung sebesar 0.000 dengan tingkat signifikansi 0.993, dan nilai t hitung 0.009 dengan sigifkansi 0.993. Hal ini menunjukan bahwa beban kerja tidak berpengaruh secara signifikan terhadap stress kerja. Hasil penelitian berarti menolak hipotesis 1 penelitian, yaitu beban kerja berpengaruh secara signifikan terhadap strees kerja. Dari hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan tekhnik analisis regresi diperoleh: Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai Adjusted R2 sebesar 0,033 ini menunjukkan stres kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja sebesar 3,3 %, Dengan pengaruh yang juga sangat kecil, dapat diartikan bahwa tidak ada bentuk pengaruh stres kerja terhadap kepuasan kerja, yang berarti semakin tinggi stres kerja, kepuasan kerja yang dirasakan dapat tinggi ataupun rendah. Begitupun juga sebaliknya semakin kecil stres kerja, kepuasan kerja yang dirasakan dapat tinggi ataupun rendah.

Hasil tersebut lebih diperjelas dengan nilai F hitung sebesar 2,391 dengan signifikansi 0,130. Dan dari perhitungan uji t diperoleh nilai sebesar 1.546 dengan signifikansi sebesar 0.130. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh stres kerja terhadap kepuasan kerja tidak signifikan. Hasil penelitian ini berarti menolak Hipotesis 2 yaitu : stres kerja berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan kerja.

Diskusi Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa beban kerja mempengaruhi stres yang dirasakan seorang karyawan. Hasil penelitian tersebut antara lain : Kuan (1994), Bat (1995), Aun (1998) dan Yahya (1998) membuktikan bahwa beban kerja yang berlebih berpengaruh pada stres kerja. Selanjutnya, penelitian Widjaja (2006) menemukan bahwa beban pekerjaan yang terialu sulit untuk dikerjakan dan teknologi yang tidak menunjang untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik sering menjadi sumber stres bagi karyawan. Namun pada kenyataanya beban tidak selalu menjadi sumber penyebab stress yang dirasakan medical represntatif, terdapat faktorfaktor lain yang dapat mempengaruhi stres kerja medical representatif . dimana faktor yang mempengaruhi stres kerja itu sendiri sangat banyak sekali dan juga tergantung dari persepsi individu dalam menghadapi suatu masalah. Terkadang ada individu yang saat menghadapi beban kerja yang berat menjadi merasa tertantang untuk dapat menyelesaikannya sehingga akan lebih rajin dan giat dalam mencapai target yang telah dibebankan. Sehingga individu yang demikian tidak merasakan stres dalam pekerjaannya tetapi merasa lebih bersemangat untuk bekerja memenuhi target.

20 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Pengaruh Stres Kerja, Beban Kerja Terhadap Kepuasan Kerja (Studi Pada Medical Representatif Di Kota Kudus)

Hal itu sejalan dengan yang diungkapkan Selye (dlm Brief et al,1981) bahwa stres kerja adalah konsep yang terus bertambah. Ini terjadi akibat adanya permintaan yang bertambah, maka semakin bertambah pula munculnya potensi kerja yang disebakan oleh banyak hal. Stres kerja itu bisa diakibatkan karena pengaruh gaji atau salary yang diterima karyawan, seperti yang dikemukakan oleh Cooper & Payne (dlm Robins, 2001). apalagi pada saat sekarang ini perekonomian menjadi sangat sulit sehingga seseorang banyak yang mengalami stres karena kesulitan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai Adjusted R2 sebesar -,025 ini menunjukkan bahwa pengaruh beban kerja terhadap stres kerja sebesar 2,5 %. Dengan pengaruh yang sangat kecil tersebut, dapat diartikan bahwa tidak ada bentuk pengaruh beban kerja terhadap stres kerja, yang berarti semakin tinggi beban kerja, stres kerja yang dirasakan dapat tinggi ataupun rendah. Begitupun juga sebaliknya semakin kecil beban kerja yang ditanggung, stres kerja yang dirasakan dapat tinggi ataupun rendah Begitu juga dengan hasil penelitian stres kerja tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan. Jadi stres kerja tidak secara otomatis mempengaruhi kepuasan kerja Medical representatif di kota Kudus. Artinya stres kerja bukan sebagai prediktor terhadap munculnya variabel kepuasan kerja. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai Adjusted R2 sebesar 0,033 ini menunjukkan stres kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja sebesar 3,3 %, Dengan pengaruh yang juga sangat kecil, dapat diartikan bahwa tidak ada bentuk pengaruh stres kerja terhadap kepuasan kerja, yang berarti semakin tinggi stres kerja, kepuasan kerja yang dirasakan dapat tinggi ataupun rendah. Begitupun juga sebaliknya

semakin kecil stres kerja, kepuasan kerja yang dirasakan dapat tinggi ataupun rendah. Hasil dari penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Lut (2008) yang menunjukkan bahwa pengaruh stres kerja terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT SHARP Electronics Indonesia tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan. Karena dengan stres, seseorang semakin terpacu untuk mengerahkan segala kemampuan dan sumberdaya-sumberdaya yang dimilikinya agar dapat memenuhi persyaratan dan kebutuhan kerja. Sejalan dengan penelitian diatas, McGee, Goodson & Cashman (1984) mendapati bahwa beberapa faktor yang menyebabkan pegawai mengalami stres kerja tetapi masih merasa puas terhadap pekerjaannya. Hal ini diantaranya disebabkan oleh tugas yang mereka kerjakan penuh dengan tantangan dan menyenagkan hati mereka. Selain itu terjadi komomunikasi yang efektif di antara para anggota dalam organisasi tersebut. Selain dari penelitian Lut, beberapa pendapat juga menyatakan bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan yaitu insentif dan gaji yang diterima (Parwanto & Wahyudin, 2008). Pendapat yang lain juga diungkapkan oleh Soewondo (1992) dimana faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja itu antara lain hubungan personal, tempat kerja, dan karir yang tidak jelas.

Simpulan dan Saran Simpulan Berdasarkan dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa stres kerja tidak secara signifikan mempengaruhi

21 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Pengaruh Stres Kerja, Beban Kerja Terhadap Kepuasan Kerja (Studi Pada Medical Representatif Di Kota Kudus)

kepuasan kerja yang dirasakan medical representatif di kota Kudus. Terdapat banyak hal yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja seseorang. Berdasarkan hasil wawancara awal didapat bahwa salah satu alasan merasa nyaman dengan pekerjaan yang dijalani saat iini adalah meskipun berat tetapi mereka sangat mengharapkan mendapatkan insentif guna menambah untuk kebutuhan keluarga. Hal ini juga didukung oleh Cooper & Payne (dlm Robins, 2001) yang mempengaruhi kepuasan kerja seseorang salah satunya adalah salary yang diterima. Untuk itu diharapkan para medical representatif tidak hanya fokus terhadap gaji dan insentif sebagai pendorong untuk dapat merasakan kepuasan kerja. Banyak hal yang dapat menjadi pendorong untuk dapat merasakan kepuasan kerja, misalnya saja karena stres kerja yang tinggi membuat medical representatif menjadi terpacu untuk melakukan tugasnya sebaik mungkin sehingga mampu merasakan puas dengan pekerjaannya.

rekomendasi bagi penelitian selanjutnya adalah penelitian ini difokuskan hanya pada satu kota. Pada kenyataannya medical reprentatif bukan hanya ada di kota Kudus saja. Oleh karena itu hasil penelitian ini masih sulit digeneralisasikan kedalam medical representatif di kota lain, dan penelitian selanjutnya bisa dilakukan dikota-kota yang lain. Penelitian mengenai kepuasan kerja tidak bersifat statis, ketidakpuasan yang saat ini terjadi dimasa yang akan datang bisa saja mengalami perubahan oleh karena itu masih sangat terbuka untuk dilakukannya pelatihan yang sama sehingga dapat diketahui tingkat improvement kepuasan. Berdasarkan hasil penelitian terdapat variabel-variabel lain yang mempengaruhi variabel dependen yang belum terdeteksi, misalnya: variabel lain yang mempengaruhi stres dan kepuasan medical representatif yaitu iklim organisasi dan insentif. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan ke dua variabel ini untuk mengetahui pengaruhnya terhadap stres dan kepuasan.

Saran Diharapkan para Medical representatif mampu mengatasi stres yang berkaitan dengan perasaan yang hanya dapat dirasakan oleh individu, yaitu perasaan gelisah dan ketakutan, agresif, lesu, merasa lelah, merasa sangat kecewa, kehilangan kesabaran. Karena bila stres dibiarkan berkepanjangan akan berpengaruh pada kondisi fisiologis, dan kognitif yang pada akhirnya akan merugikan diri individu. Rekomendasi penerapan bagi perusahaan, lebih menjamin kesejahteraan dari medical representatif, lebih jeli dan peka mengenai hal-hal yang dapat menjadi kepuasan bagi karyawannya. Rekomendasi penerapan bagi penelitian lanjutan, beberapa keterbatasan dari penelitian ini dan

Daftar Pustaka Alberto., (1995). A comparison of organizational structure, job stress, and satisfaction in audit and Management. All Businnes Arifin Haji Zainal. (1977). Pengkhususan dan Kepuasan kerja. Dewan Masyarakat, Julai: 40-41 Cooper, C. L., Dewe, P. J., & O'Driscoll, M. P. (1991). Organizational Stress: A Review and Critique of Theory, Research, and Applications. California: Sage Publications, Inc. Ivancevich, J. M. dan Mattson, M.T., dan

22 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Pengaruh Stres Kerja, Beban Kerja Terhadap Kepuasan Kerja (Studi Pada Medical Representatif Di Kota Kudus)

Preston,. (1982). Occupational Stress, Type A a behavior, and Psychological Well Being. Accademy of Management Journal. 25(2).373-391. Keenan, A., & Newton, T.J. (1984).Fractration in Organizations: Relationship to role stress Chinate, and Psychological Strain. Journal of Occupational Pychologi. 57, 57-65. Lee., (2008) The Effect of Job Characteristics and Personal Factors on Work Stress, Job Satisfaction and Turnover Intention . www.google.com Matteson, M.T & Ivancevich, J.M. (1988). Controlling work stress. San Fransisc. Praptini., (2000). Pengaruh stress kerja terhadap kepuasan kerja tenaga edukatif tetap Fakultas Ilmu Social Universitas Airlangga. Surabaya. Airlangga University Library. Republika., (2003). Medical Representative Smith, M.J.(1981). Occupational Stress: an Overview of Psychologi factors. Dalam Selvendy.G & Smith M.J. (ed), Pacing and Occupational Stress. London: Taylor & Francis. Ltd. Sullivan, Rabi, Bhagat., (1992). Organizational stress, Job satisfaction, and Job Performance. www.google.com. Supramono & Haryanto., (2005). Desain Proposal Penelitian Studi Pemasaran. Yogyakarta. Andi Offset Wagner, III, J.A. & Hollenbeck, J.R. 1995. Management of Organizational Behavior. New Jersey: Prentice-Hall Inc. Wijono, S., (2001). Pengaruh interaksi motivasi kerja dan kepribadian terhadap prestasi kerja supervisor disebuah pabrik tekstil di Salatiga. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Dian Ekonomi. Vol.VII No.2. September hal 248-

278. Wijono, S. (2007). Kepuasan dan Stres Kerja. Salatiga: Widya Sari Press W i k i p e d i a . ( 2 0 0 ) . http://en.wikipedia.org/wiki/Workload

23 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Metode Dongeng Dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah

METODE DONGENG DALAM MENINGKATKAN PERKEMBANGAN KECERDASAN MORAL ANAK USIA PRASEKOLAH

Latifah Nur Ahyani Universitas Muria Kudus

Abstract The research aims to know the storytelling method in increasing the development of moral intelligence of preschool children. Subject of the research is the five year students of kindergarten. The research is designed using model of The Untreated Control Group Design with Pretest and Posttest. This design uses two groups examined which consist of an experiment group and a control group. The measurement is conducted twice using moral intelligence measurement instrument, namely before it is given treatment (pre-test) and after it has been given treatment (post-test). The result of analysis using covariance analysis (anacova) shows that there is difference of moral intelligence achievement level of the preschool children between those who received moral value guidance using storytelling method and those who do not receive it. The result of analysis also shows that there is difference of moral intelligence achievement level before they receive moral value guidance through storytelling method and after the have received it. The importance of storytelling method toward the moral intelligence of preschool children is 34 %.

antara benar dan salah, baik dan tidak baik, perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Banyak masalah yang diselesaikan dengan kekerasan, adu kekuatan fisik dan mengabaikan cara penyelesaian dengan mengandalkan pertimbangan moral. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan dan hal tersebut dapat terjadi karena dalam semua aspek telah terjadi pengabaian terhadap bagian yang sangat mendasar yaitu nilai-nilai moral. Kepekaan seseorang mengenai kesejahteraan dan hak orang lain merupakan pokok persoalan ranah moral. Kepekaan tersebut tercermin dalam kepedulian seseorang akan konsekuensi tindakannya bagi orang lain, dan dalam orientasinya terhadap pemilikan bersama. Faktor yang sangat dirasakan kurang menunjang terbentuknya nilai moral anak adalah pengaruh lingkungan. Pola asuh yang adekuat, supervisi orang dewasa di sekitar anak dan model perilaku moral diharapkan dapat meminimalisir pengaruh lingkungan tersebut. Anak usia prasekolah dipandang sebagai individu yang baru mulai mengenal dunia. Anak belum memahami tata krama, sopan santun, aturan, norma, etika, dan berbagai hal lain yang terkait dengan kehidupan dunia. Usia prasekolah merupakan masa bagi seorang anak untuk belajar berkomunikasi dengan orang lain serta memahaminya. Oleh karena itu seorang anak perlu dibimbing dan diberi stimulasi agar mampu memahami berbagai hal

Keywords: moral intelligence, storytelling method.

Anak-anak tumbuh dan berkembang dalam kehidupan yang diwarnai oleh pelanggaran terhadap hak orang lain, kekerasan, pemaksaan, ketidakpedulian, kerancuan

24 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Metode Dongeng Dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah

tentang kehidupan dunia dan segala isinya. Pemberian stimulasi pada anak selama proses pengembangan kepribadian menjadi sangat penting. Stimulasi identik dengan pemberian rangsangan yang berasal dari lingkungan di sekitar anak guna lebih mengoptimalkan aspek perkembangan anak. Salah satu stimulasi yang diperlukan dan penting untuk anak adalah penanaman nilainilai moral. Penanaman nilai-nilai moral sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan perkembangan kecerdasan moral mereka. Borba (2001) merumuskan bahwa kecerdasan moral yaitu kemampuan memahami kebenaran dari kesalahan, artinya memiliki keyakinan etika yang kuat dan bertindak berdasarkan keyakinan tersebut, sehingga orang bersikap benar dan terhormat. Kecerdasan yang sangat penting ini mencakup karakter-karakter utama, seperti kemampuan memahami penderitaan orang lain dan tidak bertindak jahat, mampu mengendalikan dorongan dan menunda pemuasan, mendengarkan dari berbagai pihak sebelum memberikan penilaian, menerima dan menghargai perbedaan, dapat memahami pilihan yang tidak etis, dapat berempati, memperjuangkan keadilan, dan menunjukkan kasih sayang dan rasa hormat pada orang lain. Borba (2001) menyatakan kecerdasan moral terbangun dari tujuh kebajikan utama yaitu empati, nurani, kontrol diri, respek, baik budi, toleransi dan adil yang membantu anak menghadapi tantangan dan tekanan etika yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupannya kelak. Kebajikan-kebajikan utama tersebut yang akan melindunginya agar tetap berada di jalan yang benar dan membantunya agar selalu bermoral dalam bertindak. Perkembangan moral merupakan suatu proses yang terus menerus berkelanjutan sepanjang hidup. Meningkatnya kapasitas

moral anak dan didukung dengan kondisi yang baik, anak berpotensi menguasai moralitas yang lebih tinggi. Setiap kali anak berhasil menguasai satu kebajikan, kecerdasan moralnya bertambah dan ia pun menaiki tangga kecerdasan moral yang lebih tinggi. Temuan penting yang dilaporkan adalah anak-anak dengan kecerdasan moral tinggi menunjukkan korelasi dengan academic performance dan peningkatan prestasi yang signifikan (Blocks, 2002). Kochanska, Murray, dan Harlan (McCartney & Phillips, 2006) menyimpulkan dari berbagai penelitian bahwa kecerdasan moral berpengaruh terhadap kemampuan regulasi diri pada anak usia dini maupun prasekolah. Konsep kecerdasan moral memberikan pemahaman bahwa kecerdasan moral dapat diajarkan. Anak dapat meniru model, anak dapat menangkap inspirasi mengenai perilaku moral, dapat diberikan penguatan (reinforcement) sehingga setahap demi setahap anak dapat meningkatkan kecerdasan moralnya. Semakin dini diajarkan kepada anak semakin besar kapasitas anak untuk mencapai karakter yang solid yaitu growing to think, believe, and act morally (Coles, 1999). Fittro (Mukti & Hwa, 2004) menyatakan bahwa anak-anak mengembangkan moralitas perlahan dan bertahap. Setiap tahap membawa anak lebih dekat dengan pembangunan moral dewasa. Fittro juga mencatat bahwa salah satu cara yang efektif untuk membantu anak-anak kita mengubah moral mereka menjadi positif adalah mengajar perilaku moral dengan contoh. Namun, anakanak dikelilingi oleh contoh buruk. Selain menetapkan contoh yang baik bagi anak-anak, salah satu hal sederhana yang dapat kita lakukan adalah membaca sebuah dongeng yang dapat menghubungkan mereka dengan sebuah prinsip atau nilai.

25 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Metode Dongeng Dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah

Menurut Lenox (2000) pendidik masa awal kanak-kanak ditantang untuk memperkenalkan anak-anak kepada dunia untuk masa depan mereka, suatu dunia yang akan terus meningkat menjadi multicultural dan bersuku banyak. Metode dongeng adalah suatu alat kuat untuk meningkatkan suatu pemahaman diri dan orang lain. Collin (Isbell dkk., 2004) menegaskan mendongeng mempunyai banyak kegunaan di dalam pendidikan utama anak. Dia menyimpulkan bahwa dongeng menyediakan suatu kerangka konseptual untuk berpikir, yang menyebabkan anak dapat membentuk pengalaman menjadi keseluruhan yang dapat mereka pahami. Dongeng menyebabkan mereka dapat memetakan secara mental pengalaman dan melihat gambaran di dalam kepala mereka, mendongengkan dongeng tradisional menyediakan anak-anak suatu model bahasa dan pikiran bahwa mereka dapat meniru. Sanchez dkk. (2009) mengungkapkan kekuatan utama strategi dongeng adalah menghubungkan rangsangan melalui penggambaran karakter. Dongeng memiliki potensi untuk memperkuat imajinasi, memanusiakan individu, meningkatkan empati dan pemahaman, memperkuat nilai dan etika, dan merangsang proses pemikiran kritis/kreatif. Menurut Horn (Staden & Watson, 2007) dongeng mempunyai kemampuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang benar untuk siswa anak usia dini. Selain itu, metode dongeng dapat dijadikan sebagai media membentuk kepribadian dan moralitas anak usia dini. Menurut Borba (2001) dongeng tentang suatu kebajikan serta pengaruhnya dalam memberikan perubahan yang positif di dunia akan membantu anak memahami kekuatan kebajikan tersebut dan membuat

mereka berpikir bahwa mereka pun dapat melakukan sesuatu bagi dunia. Metode dongeng dapat dijadikan sebagai media pembentuk kepribadian dan moralitas anak usia dini, melalui metode dongeng akan memberikan pengalaman belajar bagi anak usia dini. Metode dongeng memiliki sejumlah aspek yang diperlukan dalam perkembangan kejiwaan anak, memberi wadah bagi anak untuk belajar berbagai emosi dan perasaan dan belajar nilai-nilai moral. Anak akan belajar pada pengalaman-pengalaman sang tokoh dalam dongeng, setelah itu memilah mana yang dapat dijadikan panutan olehnya sehingga membentuknya menjadi moralitas yang dipegang sampai dewasa.

Tujuan Penelitian Penelitian ini memiliki tujuan yaitu mengetahui metode dongeng dalam meningkatkan perkembangan kecerdasan moral anak usia prasekolah.

Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Ada perbedaan tingkat pencapaian kecerdasan moral anak usia prasekolah antara yang mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng dengan yang tidak mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng. Anak yang mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng memiliki tingkat kecerdasan moral yang lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng. 2. Ada perbedaan tingkat pencapaian kecerdasan moral anak usia prasekolah

26 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Metode Dongeng Dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah

sebelum mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng dan setelah mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng. Tingkat kecerdasan moral sebelum mendapatkan penyampaian nilai moral melalui metode dongeng lebih rendah dibandingkan tingkat kecerdasan moral setelah mendapatkan penyampaian nilai moral melalui metode dongeng.

setting) sehari-hari anak usia 4-6 tahun dan ada keterlibatan dengan teman sebaya. Situasi dan others' yang terlibat sesuai dengan relevansi masing-masing kebajikan. Objek dalam gambar merupakan bagian dan situasi (tidak terlalu banyak back ground) sehingga tidak memecah perhatian anak dalam memahami situasi. Figure focus dapat berganti (parallel) antara anak laki-laki dan perempuan. Instrumen ini dibuat berdasarkan tujuh kebajikan sebagai unsur dari kecerdasan moral menurut Borba (2001) yaitu empati, nurani, kontrol diri, respek, baik budi, toleran, adil. Pengujian validitas menggunakan model construct validity dan content validity. Skala terdiri dari tujuh gambar dan diposisikan sebagai instrumen aitem. Subyek uji coba terdiri dari 24 orang anak yang berasal dari empat orang siswa PAUD di Semarang, dua orang siswa TK di Solo, enam orang siswa TK di Bantul, delapan orang siswa PAUD di Sleman, empat orang siswa TK di Kodya Yogyakarta. Hasil angka corrected item-total correlation berada pada kisaran 0,304 0,623. Berdasarkan angka korelasi tersebut disimpulkan bahwa tujuh butir skala (gambar) cukup valid untuk mengukur kecerdasan moral anak. Butir yang valid diuji reliabilitasnya dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach. Angka reliabilitasnya tidak terlalu tinggi yaitu berkisar antara 0,617-0,760. Prosedur penyajian alat ukur diberikan langsung pada anak secara individual dan anak diminta memberikan respon dengan cara menceritakan situasi apa yang dapat ditangkap anak dari gambar yang disajikan satu per satu. Jawaban masing-masing subyek dicatat pada lembar jawab. Jawaban masing-masing subyek diberi skor antara 1 3. Skor 3 apabila memenuhi semua kriteria, skor 2 apabila memenuhi lebih dari satu kriteria, skor 1 apabila hanya memenuhi satu kriteria atau sama sekali

Metode Penelitian Subyek penelitian adalah siswa TK X dan TK Y di Surakarta dengan karakter sekolah bukan sekolah favorit, memiliki fasilitas yang terbatas, sekolah memiliki rumpun yang sama. Sekolah yang dipilih sebagai tempat penelitian adalah TK Q. Sampel penelitian ditetapkan dengan tidak random atau non random yaitu melalui penunjukan. Siswa yang menjadi sampel penelitian adalah siswa TK B berusia 5 tahun. Jumlah siswa laki-laki dan perempuan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sama. Rancangan penelitian ini menggunakan model The Untreated Control Group Design with Pretest and Posttest (Cook & Campbell, 1979). Desain ini menggunakan dua kelompok yang diamati yang terdiri dari satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol. Pengukuran dilakukan dua kali yaitu sebelum diberikan perlakuan (pre-test) dan sesudah diberikan perlakuan (post-test). Penelitian ini menggunakan instrumen pengukuran kecerdasan moral untuk mengumpulkan data tentang kecerdasan moral anak usia prasekolah. Instrumen dibuat dalam bentuk gambar berwarna dengan ukuran kertas (21cm x 16cm) yang terdiri dari tujuh gambar yang mewakili tujuh kebajikan dan dijilid menjadi sebuah buku instumen. Instrumen berupa situasi dalam kehidupan (life

27 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Metode Dongeng Dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah

tidak memenuhi kriteria. Seluruh jawaban anak nantinya akan digunakan sebagai pembahasan. Perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini adalah metode dongeng. Sebuah modul metode dongeng dirancang bagi anak-anak usia prasekolah dengan tujuan untuk meningkatkan kecerdasan moral. Modul metode dongeng disusun dengan mengajak anak mendengarkan dongeng yang terdiri dari pengenalan nilai-nilai moral yang harus dimiliki anak-anak. Nilai moral terkandung dalam setiap dongeng, penelitian ini dilakukan dalam 10 kali pertemuan sehingga dibutuhkan 10 dongeng berbeda yang mengandung nilai moral berbeda. Waktu yang dibutuhkan dalam satu kali pertemuan adalah 25 menit. Kegiatan di kelas disusun dengan urutan kegiatan awal, pelajaran inti, evaluasi, kegiatan penutup Untuk menguji hipotesis yang diajukan, data-data yang terkumpul akan dianalisis secara statistik melalui analisis kovarians (anakova) dan anava amatan ulangan dengan mengendalikan usia siswa atau usia sebagai kovariabel, hanya siswa yang berusia 5 tahun yang diambil sebagai sampel penelitian.

Ketiga kategori tersebut adalah rendah, sedang dan tinggi. Kategori kecerdasan moral ditentukan berdasarkan skor total subyek pada pengukuran dengan menggunakan instrumen kecerdasan moral. Hasil data penelitian untuk pengukuran ini diperoleh data mean hipotetik sebesar 14 dan standar deviasi sebesar 2,33. Berdasarkan pengelompokkan dengan norma kategorisasi kecerdasan moral dapat diketahui jumlah anak pada masing-masing kategori. Pada kelompok eksperimen, jumlah anak dengan kategori rendah tidak ada atau kosong, kategori sedang ada empat anak dan dengan kategori tinggi ada 13 anak. Pada kelompok kontrol, jumlah anak dengan kategori rendah ada dua anak, kategori sedang ada 10 anak dan dengan kategori tinggi ada lima anak. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan formulasi one-sample Kolmogorov-Smirnov test. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa sebaran data kedua kelompok subyek adalah normal dengan p sebesar 0,972 p > 0,05 untuk data pre-test dan p sebesar 0,535 p > 0,05 untuk data post-test pada kelompok eksperimen, p sebesar 0,541 p > 0,05 untuk data pre-test dan p sebesar 0,681 p > 0,05 untuk data post-test pada kelompok kontrol, sehingga pengujian asumsi kemudian dilanjutkan pada uji homogenitas. Uji homogenitas 0,217 dengan p Berdasarkan hasil dinyatakan bahwa adalah homogen. menunjukkan F sebesar = 0,645 (p > 0,05). tersebut maka dapat varian variabel terikat

Hasil Penelitian Hasil analisis diskripstif menunjukkan kenaikan skor empirik pada pre-test dan posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen dengan melihat rerata pada pre-test 11,18 dengan standar deviasi 3,522 terjadi kenaikan rerata pada post-test menjadi 17,47 dengan standar deviasi 2,695. Pada kelompok kontrol juga terjadi kenaikan dengan melihat rerata pada kelompok pre-test 11,82 dengan standar deviasi 3,067 menjadi 14,41 dengan standar deviasi 2,575 pada post-test. Penelitian ini menggunakan tiga kategori.

Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis covariance (anacova) dan anava amatan ulangan. Hipotesis Pertama Berdasarkan hasil analisis data diperoleh F untuk metode adalah 15,974 dengan p = 0,00 (p < 0,05) yang berarti signifikan dengan

28 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Metode Dongeng Dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah

demikian hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada tingkat pencapaian kecerdasan moral anak usia prasekolah antara yang mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng dengan yang tidak mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng. Perbedaan tingkat pencapaian kecerdasan moral anak usia prasekolah dengan melihat rerata, rerata pada kelompok yang mendapatkan metode dongeng 17,47 dengan standar deviasi 2,695 sedangkan rerata pada kelompok yang tidak mendapatkan metode dongeng 14,41 dengan standar deviasi 2,575. Hal ini menunjukkan anak yang mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng memiliki tingkat kecerdasan moral yang lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak mendapatkan penyampaian nilai moral melalui metode dongeng. Berdasarkan nilai partial eta squared ( 2 ) diketahui besarnya sumbangan metode dongeng terhadap perkembangan kecerdasan moral anak usia prasekolah adalah 34 %.

post-test 17,47 dengan standar deviasi 2,695. Hal ini menunjukkan tingkat kecerdasan moral sebelum mendapatkan penyampaian nilai moral melalui metode dongeng lebih rendah dibandingkan tingkat kecerdasan moral setelah mendapatkan penyampaian nilai moral melalui metode dongeng.

Diskusi Mendongeng adalah salah satu bentuk seni rakyat tertua yang mengajak anak-anak pada perjalanan yang menarik dan pada saat yang sama mengajarkan mereka sejarah, budaya dan nilai-nilai moral. Dongeng dapat digunakan secara efektif sebagai awal untuk diskusi mengenai isu-isu hak pribadi dan nilai-nilai sosial. Penelitian ini untuk mengetahui metode dongeng dalam meningkatkan perkembangan kecerdasan moral anak usia prasekolah. Anak usia prasekolah yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah anak usia 5 tahun, siswa TK B di TK Q yang merupakan sekolah dengan fasilitas terbatas dan bukan sekolah favorit. Menurut Dodge dkk. (2002) usia 5 tahun adalah usia dimana munculnya minat anak-anak akan penalaran dan penggambaran mengapa sesuatu seperti itu, mereka bisa berfikir dengan cara yang kompleks, menghubungkan informasi baru yang mereka kumpulkan dengan sesuatu yang mereka ketahui sebelumnya. Hasil analisis dengan menggunakan program SPSS 16.00 for windows dengan teknik analisis covariance (anacova) menunjukkan hipotesis yang mengatakan bahwa ada perbedaan tingkat pencapaian kecerdasan moral anak usia prasekolah antara yang mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng dengan yang tidak mendapatkan penyampaian nilai-nilai

Hipotesis Kedua Berdasarkan hasil analisis data diketahui F sebesar 61,389 dengan p = 0,00 (p < 0,05) yang berarti signifitan dengan demikian hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pada tingkat pencapaian kecerdasan moral anak usia prasekolah antara sebelum mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng dengan setelah mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng. Perbedaan tingkat pencapaian kecerdasan moral anak usia prasekolah dengan melihat rerata, rerata pada pre-test 11,18 dengan standar deviasi 3,522 sedangkan rerata pada

29 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Metode Dongeng Dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah

moral melalui metode dongeng dinyatakan diterima. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan post-test yang signifikan pada level 0,05 antara kelompok yang mendapatkan metode dongeng dengan kelompok yang tidak mendapatkan metode dongeng dengan p = 0,00 (p < 0,05). Collin (Isbell dkk., 2004) menegaskan mendongeng mempunyai banyak kegunaan di dalam pendidikan utama anak. Dia menyimpulkan bahwa dongeng menyediakan suatu kerangka konseptual untuk berpikir, yang menyebabkan anak dapat membentuk pengalaman menjadi keseluruhan yang dapat mereka pahami. Dongeng menyebabkan mereka dapat memetakan secara mental pengalaman dan melihat gambaran di dalam kepala mereka, mendongengkan dongeng tradisional menyediakan anak-anak suatu model bahasa dan pikiran bahwa mereka dapat meniru. Para guru menemukan bahwa anak-anak dapat dengan mudah mengingat apapun juga fakta yang ilmiah atau histories yang mereka pelajari melalui dongeng. Anak-anak menyadari gambaran yang mereka buat di dalam pikiran mereka ketika mereka mendengar dongeng yang diceritakan, dan mereka menjaga gambaran yang dibuat bahkan waktu mereka membaca dengan diam untuk diri mereka (Baldwin & Dudding, 2007). Menurut Forester dkk. (Peel & Shortland, 2004 ) metode mendongeng secara meningkat dikenali sebagai cara kuat untuk mengkomunikasikan gagasan dan menyebabkan transformasi belajar. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada perbedaan tingkat pencapaian kecerdasan moral anak usia prasekolah sebelum mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode

dongeng dan setelah mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng dinyatakan diterima. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan nilai pre-test dan postest yang signifikan pada level 0,05 pada kelompok yang mendapatkan metode dongeng dengan p = 0,00 (p < 0,05). Menurut Ellis (Isbell dkk., 2004) mendongeng secara meningkat diakui mempunyai implikasi praktis dan teoritis penting. Hasil analisis menunjukkan besarnya sumbangan metode dongeng terhadap perkembangan kecerdasan moral anak usia prasekolah adalah 34 %. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Borba (2001) dongeng tentang suatu kebajikan serta pengaruhnya dalam memberikan perubahan yang positif di dunia akan membantu anak memahami kekuatan kebajikan tersebut dan membuat mereka berpikir bahwa mereka pun dapat melakukan sesuatu bagi dunia. Penelitian yang telah dilakukan ini juga tidak lepas dari berbagai kelemahan. Kelemahan yang perlu ditekankan dalam penelitian ini adalah dalam proses pemberian perlakuan dalam penelitian ini yang terlalu cepat yaitu 10 kali pertemuan, sehingga nilainilai yang terkandung dalam dongeng belum benar-benar dipahami dan diterapkan oleh anak. Kelemahan lain dalam penelitian ini adalah proses pemberian perlakuan tidak dapat sepenuhnya dikontrol dengan ketat, karena perlakuan dilakukan di dalam kelas di mana juga ada kelas-kelas lain yang juga sedang belajar. Akibatnya anak-anak yang mengikuti proses perlakuan terkadang mudah beralih perhatian. Selain itu kelemahan yang lain adalah subyek penelitian yang masih berusia sangat muda membuat pengontrolan terhadap anak juga lebih sulit karena anak tidak dapat

30 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Metode Dongeng Dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah

dipaksa untuk terus menerus memperhatikan bila mereka merasa bosan.

Simpulan dan Saran Simpulan Metode dongeng sebagai stimulasi berperan dalam meningkatkan perkembangan kecerdasan moral anak usia 5 tahun yang menjadi siswa di TK B di sekolah dengan fasilitas terbatas dan bukan sekolah favorit. Anak yang mendapatkan penyampaian nilainilai moral melalui metode dongeng memiliki tingkat kecerdasan moral yang lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak mendapatkan penyampaian nilai moral melalui metode dongeng. Selain itu, tingkat kecerdasan moral setelah mendapatkan penyampaian nilai moral melalui metode dongeng lebih tinggi dibandingkan tingkat kecerdasan moral sebelum mendapatkan penyampaian nilai moral melalui metode dongeng.

dongeng sebagai metode pembelajaran untuk mata pelajaran. Penelitian selanjutnya juga diharapkan untuk mempertimbangkan faktor lain yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan moral anak usia prasekolah misalnya tingkat kecerdasan, kondisi emosi, faktor sosial lain seperti keluarga, televisi, teman sebaya.

Daftar Pustaka Baldwin, J. & Dudding, K. (2007). Storytelling in school . www.storytellingschools.org. Diunduh pada tanggal 20 Oktober 2009. Blocks,J.H. (2002). The role of ego control and ego resilience in the organization of behavior. The minesota symposium on child psychology, 13 (79), 118-122. Borba, M. (2001). Building moral intelligence. San Fransisco : Josey-Bass. Coles, R. (1999). The moral intelligence of children. Madison : Random House. Cook, T.D & Campbell, D.T. (1979). Quasiexperimentation design and analysis issues for field settings. USA : Houghton Mifflin Company. Dodge, D.T., Colker, L.J., & Heroman, C. (2002). The creative curriculum for preschooll. Fourt edition. Wasington DC. Teaching strategies inc Isbell, R., Sobol, J., Lindauer, L & Lowrance. (2004). The effects of storytelling and story reading on the oral language complexity and story comprehension of young children. Early childhood education journal, 32 (3). Springer Science Business Media, Inc. Lenox, M.F. (2000). Storytelling for young children in a multicultural world. Early childhood education journal, 28 (2). Human Sciences Press, Inc.

Saran 1. Bagi guru Mengingat bahwa metode dongeng sebagai stimulasi memiliki kontribusi dalam meningkatkan perkembangan kecerdasan moral anak usia prasekolah, maka guru diharapkan menggunakan metode dongeng secara berkelanjutan untuk menyampaikan nilai-nilai moral agar perkembangan kecerdasan moral anak terus meningkat. 2. Bagi penelitian selanjutnya Penelitian selanjutnya diharapkan di dalam proses pemberian suatu perlakuan dilakukan dalam kurun waktu yang lebih lama, secara berkelanjutan dan di seluruh tingkatan usia. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat diarahkan untuk mengetahui efektifitas metode

31 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Metode Dongeng Dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah

McCartney, K. & Philips, D. (2006). Blackwell handbook of early childhood development. UK : Blackwell Publishing Ltd. Mukti, N.A & Hwa, S.P. (2004). Malaysian perspective : designing interactive multimedia learning environment for moral values education. Educational technology & society, 7 (4). International Forum of Educational Technology & Society. Peel, D. & Shortland, S. (2004). Student teacher collaborative reflection: perspective on learning together. Innovation in education and teaching international. Taylor & Francis Ltd. Sanchez, T., Zam, G., Lambert, J. (2009). Story-telling as an effective strategy in teaching character education in middle grade social studies. Journal for the liberal arts and sciences, 13 (2). Staden, CJS. & Watson, R. (2007). When old is new : exploring the potential of using indigenous stories to construct learning in early childhood settings. A paper presented at the AARE conference, Fremantle 26-29th November.

32 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati dan Kematangan Emosi

PERILAKU PROSOSIAL DITINJAU DARI EMPATI DAN KEMATANGAN EMOSI

Gusti Yuli Asih1 2 Margaretha Maria Shinta Pratiwi

Abstract This recearched was aimed to realize the relation between empathy and emotional maturity toward prosocial behavior. There were two hypotheses proposed, which, there was a relationship existed between empathy and emotional maturity. Second hypothesis, there was a difference prosocial behavior among man and woman. Indicator used for measuring prosocial behavior, empathy, and emotional maturity was the use of scale. Subjects used in this research are 49 subjects. Data analysis used regression and t-test analysis. The result of the test showed that there was a significant positive relationship between empathy, emotional maturity, toward prosocial behavior showed by Rxy=0,932 with p=0,000, and no difference in prosocial behavior among men and women. Keyword: prosocial behavior, empathy, emotional maturity

Tindakan menolong sepenuhnya dimotivasi oleh kepentingan sendiri tanpa mengharapkan sesuatu untuk dirinya. Tindakan prososial lebih menuntut pada pengorbanan tinggi dari si pelaku dan bersifat sukarela atau lebih ditunjukkan untuk menguntungkan orang lain daripada untuk mendapatkan imbalan materi maupun sosial. Akhir-akhir ini banyak kejadian atau kecurangan yang terjadi di dunia pendidikan. Banyaknya perilaku yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang pendidik, seperti memberi bocoran soal, memberikan jawaban pada saat ujian akhir nasional berjalan, serta memberikan peluang kepada anak didiknya saling bertukar jawaban ketika ujian, serta masih banyak lagi perilaku prososial yang seharusnya tidak dilakukan, akan tetapi hal ini banyak ditemui, demi membantu anak didiknya. Contoh kasus yang terjadi yaitu kecurangan Ujian Negara di Malang. Kasus kecurangan yang dilakukan oleh para guru agar membantu siswa dengan cara memberikan kunci jawaban (NN, 2006) Kenyataan yang kita temui, adanya empati yang diberikan guru kepada muridnya bukan karena keinginan untuk memberikan pertolongan kepada anak didik, tetapi lebih karena takut bila kredibilitas sekolah terancam, bila banyak anak didik yang tidak lulus. Robert dan Strayer (1986: 2) mengungkapkan bahwa empati nampaknya berhubungan dengan perilaku prososial

Perilaku prososial merupakan salah satu bentuk perilaku yang muncul dalam kontak sosial, sehingga perilaku prososial adalah tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain tanpa mempedulikan motif-motif si penolong.

1 Staf Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Semarang. 2 Staf Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Semarang

33 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati dan Kematangan Emosi

individu. Empati berkaitan dengan kemampuan individu dalam mengekspresikan emosinya, oleh karena itu empati seseorang dapat diukur melalui wawasan emosionalnya, ekspresi emosional, dan kemampuan seseorang dalam mengambil peran dari individu lainnya. Pada dasarnya, empati merupakan batasan dari individu apakah ia akan melakukan atau mengaktualisasikan gagasan prososial yang mereka miliki ke dalam perilaku mereka atau tidak. Hurlock (1999: 118) mengungkapkan bahwa empati adalah kemampuan seseorang untuk mengerti tentang perasaan dan emosi orang lain serta kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain. Empati pada diri individu, akan dapat menggerakkan hati dan perilakunya untuk membantu anak didiknya supaya dapat lulus ujian atau lulus UAN. Perilaku prososial yang dilakukan guru terhadap anak didiknya lebih banyak dilakukan oleh guru laki-laki daripada guru perempuan. Faktor personal yang mendasari perilaku prososial dikategorikan menjadi dua, yaitu faktor personal dan faktor situasional. Karakteristik kepribadian yang mempengaruhi perilaku prososial yaitu adanya kematangan emosi. Individu yang matang secara emosi, akan mampu berperilaku prososial dengan baik Perilaku prososial Chaplin (1995: 53) memberikan pengertian perilaku sebagai segala sesuatu yang dialami oleh individu meliputi reaksi yang diamati. Watson (1984: 272) menyatakan bahwa perilaku prososial adalah suatu tindakan yang memiliki konsekuensi positif bagi orang lain, tindakan menolong sepenuhnya yang dimotivasi oleh kepentingan sendiri tanpa mengharapkan sesuatu untuk dirinya. Kartono (2003: 380) menyatakan bahwa perilaku prososial adalah suatu perilaku sosial yang

menguntungkan di dalamnya terdapat unsureunsur kebersamaan, kerjasama, kooperatif, dan altruisme. Perilaku prososial dapat memberikan pengaruh bagaimana individu melakukan interaksi sosial. Sears (1991: 61) memberikan pemahaman mendasar bahwa masing-masing individu bukanlah sematamata makhluk tunggal yang mampu hidup sendiri, melainkan sebagai makhluk social yang sangat bergantung pada individu lain, individu tidak dapat menikmati hidup yang wajar dan bahagia tanpa lingkungan sosial. Seseorang dikatakan berperilaku prososial jika individu tersebut menolong individu lain tanpa memperdulikan motif-motif si penolong, timbul karena adanya penderitaan yang dialami oleh orang lain yang meliputi saling membantu, s a l i n g m e n g h i b u r, p e r s a h a b a t a n , penyelamatan, pengorbanan, kemurahan hati, dan saling membagi. Myers (dalam Sarwono, 2002: 328) menyatakan bahwa perilaku prososial atau altruisme adalah hasrat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan kepentingan sendiri. Perilaku prososial dapat dimengerti sebagai perilaku yang menguntungkan orang lain. Secara konkrit, pengertian perilaku prososial meliputi tindakan berbagi (sharing), kerjasama (cooperation), menolong (helping), kejujuran (honesty), dermawan (generousity) serta mempertimbangkan hak dan kesejahteraan orang lain (Mussen dalam Dayakisni, 1988: 15). Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku prososial adalah suatu tindakan yang mendorong seseorang untuk berinteraksi, bekerjasama, dan menolong orang lain tanpa mengharapkan sesuatu untuk dirinya. Mussen, dkk (1989: 360) menyatakan bahwa aspek-aspek perilaku prososial

34 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati dan Kematangan Emosi

meliputi: a. Berbagi Kesediaan untuk berbagi perasaan dengan orang lain dalam suasana suka dan duka. b. Kerjasama Kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain demi tercapainya suatu tujuan. c. Menolong Kesediaan untuk menolong orang lain yang sedang berada dalam kesulitan. d. Bertindak jujur Kesediaan untuk melakukan sesuatu seperti apa adanya, tidak berbuat curang. e. Berderma Kesediaan untuk memberikan sukarela sebagian barang miliknya kepada orang yang membutuhkan. Bringham (1991: 277) menyatakan aspekaspek dari perilaku prososial adalah: a. Persahabatan Kesediaan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan orang lain. b. Kerjasama Kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain demi tercapai suatu tujuan. c. Menolong Kesediaan untuk menolong orang lain yang sedang berada dalam kesulitan. d. Bertindak jujur Kesediaan untuk melakukan sesuatu seperti apa adanya, tidak berbuat curang. e. Berderma Kesediaan untuk memberikan sukarela sebagian barang miliknya kepada orang yang membutuhkan.

Aspek-aspek perilaku prososial yang dipakai dalam penelitian ini yaitu berbagi, menolong, kerja sama, bertindak jujur, berderma.

Empati Empati diartikan sebagai perasaan simpati dan perhatian terhadap orang lain, khususnya untuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain (Sears, dkk, 1991: 69). Hal senada diungkapkan oleh Hurlock (1999: 118) yang mengungkapkan bahwa empati adalah kemampuan seseorang untuk mengerti tentang perasaan dan emosi orang lain serta kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain. Kemampuan untuk empati ini mulai dapat dimiliki seseorang ketika menduduki masa akhir kanak-kanak awal (6 tahun) dengan demikian dapat dikatakan bahwa semua individu memiliki dasar kemampuan untuk dapat berempati, hanya saja berbeda tingkat kedalaman dan cara mengaktualisasikannya. Empati seharusnya sudah dimiliki oleh remaja, karena kemampuan berempati sudah mulai muncul pada masa kanak-kanak awal (Hurlock, 1999: 118) Leiden, dkk (1997: 317) menyatakan empati sebagai kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain sehingga orang lain seakan-akan menjadi bagian dalam diri. Lebih lanjut dijelaskan oleh Baron dan Byrne (2005: 111) yang menyatakan bahwa empati merupakan kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. Arwani (2002: 56) menyatakan empati terhadap pasien merupakan perasaan dan pemahaman dan penerimaan perawat terhadap pasien yang dialami pasien dan kemampuan merasakan dunia pribadi pasien.

35 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati dan Kematangan Emosi

Empati merupakan sesuatu yang jujur, sensitive dan tidak dibuat-buat didasarkan atas apa yang dialami orang lain. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa empati merupakan kemampuan yang dimiliki individu untuk mengerti dan menghargai perasaan orang lain dengan cara memahami perasaan dan emosi orang lain serta memandang situasi dari sudut pandang orang lain. Baron dan Byrne (2005: 111) menyatakan bahwa dalam empati juga terdapat aspekaspek, yaitu: a. Kognitif Individu yang memiliki kemampuan empati dapat memahami apa yang orang lain rasakan dan mengapa hal tersebut dapat terjadi pada orang tersebut. b. Afektif Individu yang berempati merasakan apa yang orang lain rasakan. Batson dan Coke (Watson, 1984: 290) menyatakan bahwa di dalam empati juga terdapat aspek-aspek: a. kehangatan Kehangatan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap hangat terhadap orang lain. b. kelembutan Kelembutan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap maupun bertutur kata lemah lembut terhadap orang lain. c. peduli Peduli merupakan suatu sikap yang dimiliki seseorang untuk memberikan perhatian terhadap sesame maupun lingkungan sekitarnya.

d) kasihan Kasihan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap iba atau belas asih terhadap orang lain. Aspek-aspek empati yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Wa t s o n y a n g m e l i p u t i : k e h a n g a t a n , kelembutan, peduli, dan kasihan.

Kematangan Emosi Emosi terbentuk melalui perkembangan yang dipengaruhi oleh pengalaman dan dalam perkembangan, emosi menuju tingkat yang konstan, yaitu adanya integrasi dan organisasi dari semua aspek emosi (Osho, 2008: 102). Emosi tersebut bersifat positif seperti cinta, seks, berharap, teguh, simpati, optimis, loyal, dan bersifat negative seperti takut, benci, marah, tamak, iri, dendam, dan percaya tahayul. Anderson (dalam Mappiare, 1983: 18) mengatakan bahwa seseorang yang memiliki kematangan emosional belum tentu dapat dikatakan sebagai orang dewasa. Seseorang yang memiliki kematangan emosional berarti orang tersebut sudah dewasa, tetapi orang dewasa belum tentu memiliki kematangan emosional. Kartono (1995: 165) mengartikan kematangan emosi sebagai suatu keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional, oleh karena itu pribadi yang bersangkutan tidak lagi menampilkan pada emosional seperti pada masa kanak-kanak. Seseorang yang telah mencapai kematangan emosi dapat mengendalikan emosinya. Emosi yang terkendali menyebabkan orang mampu berpikir secara lebih baik, melihat persoalan secara objektif (Walgito, 2004: 42) Lebih lanjut Davidoff (1991: 49) menerangkan bahwa kematangan emosi merupakan kemampuan individu untuk dapat menggunakan emosinya

36 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati dan Kematangan Emosi

dengan baik serta dapat menyalurkan emosinya pada hal-hal yang bermanfaat dan bukan menghilangkan emosi yang ada dalam dirinya. Hurlock (1999: 213) mendefinikan kematangan emosi sebagai tidak meledaknya emosi di hadapan oranng lain melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan caracara yang lebih dapat diterima. Sartre (2002: 7) mengatakan bahwa kematangan emosi adalah keadaan seseorang yang tidak cepat terganggu rangsang yang bersifat emosional, baik dari dalam maupun dari luar dirinya, selain itu dengan kematangan emosi maka individu dapat bertindak dengan tepat dan wajar sesuai dengan situasi dan kondisi. Meichati (1983: 8) mengatakan bahwa kematangan emosional adalah keadaan seseorang yang tidak cepat terganggu rangsang yang bersifat emosional, baik dari dalam maupun dari luar dirinya, selain itu dengan matangnya emosi maka individu dapat bertindak tepat dan wajar sesuai dengan situasi dan kondisi. Kematangan emosi adalah kemampuan dan kesanggupan individu untuk memberikan tanggapan emosi dengan baik dalam menghadapi tantangan hidup yang ringan dan berat serta mampu menyelesaikan, mampu mengendalikan luapan emosi dan mampu mengantisipasi secara kritis situasi yang dihadapi. Menurut Walgito (2004: 43) orang yang matang emosinya mempunyai ciri-ciri antara lain: a. Dapat menerima keadaan dirinya maupun orang lain sesuai dengan objektifnya. b. Pada umumnya tidak bersifat impulsive, dapat mengatur pikirannya dalam memberikan tanggapan terhadap stimulus yang mengenainya.

c. Dapat mengontrol emosinya dengan baik dan dapat mengontrol ekspresi emosinya walaupun dalam keadaan marah dan kemarahan itu tidak ditampakkan keluar. d. Dapat berpikir objektif sehingga akan bersifat sabar, penuh pengertian dan cukup mempunyai toleransi yang baik. e. Mempunyai tanggung jawab yang baik, dapat berdiri sendiri, tidak mengalami frustrasi dan mampu menghadapi masalah dengan penuh penngertian. Ciri-ciri kematangan emosi menurut Anderson (dalam Mappiare, 1983: 153), yaitu: a. Kasih sayang: individu mempunyai rasa kasih saying seperti yang didapatkan dari orang tua atau keluarganya sehingga dapat diwujudkan secara wajar terhadap orang lain sesuai dengan norma sosial yang ada. b. Emosi terkendali: individu dapat menyetir perasaan-perasaan terutama terhadap orang lain, dapat mengendalikan emosi dan mengekspresikan emosinya dengan baik. c. Emosi terbuka, lapang: individu menerima kritik dan saran dari orang lain sehubungan dengan kelemahan yang diperbuat demi pengembangan diri, mempunyai pemahaman mendalam tentang keadaan dirinya. Jersild (dalam Sobur, 2003: 404-406) menjelaskan ciri-ciri individu yang memiliki kematangan emosi, antara lain: a. Penerimaan diri yang baik Individu yang memiliki kematangan emosi akan dapat menerima kondisi fisik maupun psikisnya, baik secara pribadi maupun secara sosial. b. Kemampuan dalam mengontrol emosi Dorongan yang muncul dalam diri individu untuk melakukan sesuatu yang bertentangan

37 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati dan Kematangan Emosi

dengan nilai-nilai yang berlaku akan dapat dikendalikan dan diorganisasikan ke arah yang baik. c. Objektif Individu akan memandang kejadian berdasarkan dunia orang laindan tidak hanya dari sudut pandang pribadi. Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri individu yang memiliki kematangan emosional adalah tidak impulsive, mempunyai tanggung jawab yang baik, dapat mengendalikan emosi, menerima keadaan dirinya, dan berpikir objektif

memberikan bantuan kepada anak didiknya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Myers (dalam Sarwono, 2002) menyatakan empati adalah hasrat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan sendiri. Empati lebih menitikkan pada kesejahteran orang lain. Empati yang tinggi pada diri pendidik akan menjadikannya memiliki keinginan untuk menolong anak didik atau muridnya. Djauzi (2003: 59) menjelaskan kemampuan empati yang ditunjukkan oleh individu akan dapat membuatnya memahami orang lain secara emosional dan intelektual. Empati membuat seseorang peduli dan rela untuk memberikan perhatian terhadap anak didik. Perasaan kasihan terhadap orang lain dapat meningkatkan kesediaan pendidik untuk bekerjasama dan mau berbagi memberikan sumbangan yang berarti kepada orang lain. Stephan dan Stephan (1989: 272) meyatakan bahwa orang yang mempunyai rasa empati akan berusaha untuk menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan dan merasa kasihan terhadap penderitaan orang tersebut. Empati banyak disebut sebagai motif dasar bagi seseorang untuk bertindak prososial (Iannotti, 1978). Banyak penelitian tidak ditunjukkan hubungan langsung antara empati dengan prososial dalam arti perilakunya. Penelitian lebih menekankan hubungan empati dengan motif prososial (Bar-Tal, dkk., 1981). Hoffman (1977) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pada tingkat empati tinggi, empati sebagai vicarious affective arousal berperan besar. Anak wanita tampak lebih prososial karena mereka lebih memiliki tekanan empatetik, lebih mudah dipengaruhi perasaannya, dengan demikian cenderung mengurangi ketegangannya dengan jalan memberikan reaksi prososial. Empati yang rendah, maka recognition of affect in others yang mengandung aspek kognitif lebih

Jenis kelamin Perbedaan stereotype pria dan wanita menyebabkan perbedaan dalam perilaku prososial antara pria dan wanita. Eisenberg dan Lennon (dalam Berndt, 1992) menyatakan bahwa anak perempuan lebih mudah merasa tidak enak jika melihat orang lain mengalami kesusahan.

Kerangka Berpikir Manusia sebagai makhluk sosial hendaknya senantiasa memberikan bantuan kepada orang lain. Hal ini dikarenakan manusia membutuhkan kehadiran dari individu lain dalam kesehariannya. Sears (1991: 61) menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang hidupnya bergantung pada individu lain. Manusia harus kompeten atau memiliki ketrampilan sosial yang memadai agar dapat bertahan hidup dan merasakan kebahagiaan dalam kehidupan tersebut. Berbagai rencana yang mengakibatkan banyaknya anak didik yang mengalami stres dapat mendorong individu untuk memberi bantuan, baik dalam bentuk materi maupun bantuan non materi. Usaha yang dilakukan individu untuk dapat

38 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati dan Kematangan Emosi

berpengaruh dalam ikutserta memberikan dan melahirkan intensi prososial. Emosi yang terkendali menyebabkan seseorang mampu berpikir secara baik, melihat persoalan secara objektif (Walgito, 2004: 42). Kematangan emosi sebagai keadaan seseorang yang tidak cepat terganggu rangsang yang bersifat emosional, baik dari dalam maupun dari luar dirinya, selain itu dengan matangnya emosi maka individu dapat bertindak tepat dan wajar sesuai dengan situasi dan kondisi dengan tetap mengedepankan tugas dan tanggung jawabnya, sehingga dengan kematangan emosi yang dimilikinya, individu mampu memberikan atau berperilaku prososial sesuai dengan yang diharapkan. Penelitian Power dan Parke (dalam Eiserberg dan Mussen, 1989) melakukan penelitian dengan hasil menurut budaya perilaku membantu dan menolong lebih pantas dilakukan oleh wanita sehingga wanita lebih cenderung memberikan pertolongan daripada pria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris hubungan antara empati, kematangan emosi, jenis kelamin, dan perilaku prososial.

laki-laki dan perempuan

Metode Penelitian Subyek penelitian merupakan faktor utama yang harus ditentukan sebelum kegiatan penelitian dilakukan. Tujuan dari penentuan subyek penelitian adalah untuk menghindari kesalahan pengambilan sampel yang dapat mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam pengambilan simpulan dan generalisasi hasil simpulan. Populasi dalam penelitian ini adalah guru-guru SMA di lingkungan Universitas Semarang. Teknik pengambilan sampel menggunakan non random sampling (pengambilan sampel dengan penunjukan). Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan skala. Ada tiga buah skala yang akan dipakai yaitu skala perilaku prososial, skala empati, dan skala kematangan emosi. Pengumpulan data jenis kelamin, dengan melihat data identitas yang terdapat di dalam skala. Hipotesis yang diajukan, diuji secara statistik dengan menggunakan teknik Analisis Regresi untuk menguji hubungan keempat variabel, serta Uji T untuk menguji perbedaan perilaku prososial. Semua perhitungan statistik dalam penelitian ini menggunakan program SPSS.

Hipotesis Hipotesis yang diajukan: Hipotesis mayor: Ada hubungan antara empati, kematangan emosi, dan jenis kelamin terhadap perilaku prososial. Hipotesis minor: a. Ada hubungan positif antara empati terhadap perilaku prososial. b. Ada hubungan antara kematangan emosi terhadap perilaku prososial. c. Ada perbedaan perilaku prososial antara

Hasil Penelitian Pengujian validitas aitem menggunakan teknik Product Moment yang kemudian dikoreksi dengan menggunakan teknik korelasi Part Whole. Uji validitas dimaksudkan untuk mengetahui aitem-aitem mana saja yang valid dan nantinya akan digunakan dalam penyusunan alat ukur penelitian Penyusunan Skala Perilaku Prososial yang semula berjumlah 31 aitem terdapat 4 aitem

39 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati dan Kematangan Emosi

yang gugur sehingga tersisa 27 aitem yang valid. Koefisien aitem berkisar antara 0,290 0,779 dengan taraf signifikansi 5%. Penyusunan Skala Empati yang semula berjumlah 33 aitem terdapat 4 aitem yang gugur sehingga tersisa 29 aitem yang valid. Koefisien aitem berkisar antara 0,280 - 0,825 dengan taraf signifikansi 5% . Penyusunan Skala Kematangan Emosi yang semula berjumlah 30 aitem terdapat 4 aitem yang gugur sehingga tersisa 26 aitem yang valid. Koefisien aitem berkisar antara 0,255-0,591 dengan taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil uji analisis data yang diperoleh diketahui bahwa Rxy = 0,932 dan p= 0,000 sehingga hipotesis dalam penelitian ini diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif yang sangat signifikan antara empati, kematangan emosi, jenis kelamin terhadap perilaku prososial. Empati terhadap perilaku prososial rxy = 0,884 dan p = 0,000. Kematangan emosi terhadap perilaku prososial rxy = 0,794 dan p = 0,000. Sementara itu hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan terhadap perilaku prososial tidak terbukti, karena tidak ada perbedaan antara keduanya.

muridnya. Baron dan Byrne (2005: 111) menyatakan bahwa empati merupakan kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. Seorang pendidik merasa memiliki tanggung jawab terhadap proses keberhasilan seorang anak didik. Seorang pendidik akan merasa sedih apabila ada anak didiknya yang tidak berhasil atau tidak lulus, sehingga akan berusaha semaksimal mungkin untuk menolong anak didiknya. Seorang pendidik akan menolong dengan iklas dan tidak mengharapkan hadiah maupun ber'pamrih' apabila anak didiknya berhasil. Kematangan emosional sebagai keadaan seseorang yang tidak cepat terganggu rangsang yang bersifat emosional, baik dari dalam maupun dari luar dirinya, selain itu dengan matangnya emosi maka individu dapat bertindak tepat dan wajar sesuai dengan situasi dan kondisi (Meichati, 1983:8). Kematangan emosi merupakan kemampuan dan kesanggupan individu untuk memberikan tanggapan emosi dengan baik dalam menghadapi tantangan hidup yang ringan dan berat serta mampu menyelesaikan, mampu mengendalikan luapan emosi dan mampu mengantisipasi secara kritis situasi yang dihadapi. Seorang pendidik yang memiliki kematangan emosi, akan menujukkan perilaku yang objektif dan mampu berpikir secara logis. Perbuatan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan yang matang serta mampu memilih perilaku yang tepat pula. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan skor prososial antara laki-laki dan perempuan, sehingga dapat disimpulkan bahwa perbedaan stereotype tidak menyebabkan perbedaan dalam perilaku prososial. Perilaku prososial

Diskusi Koestner dan Franz (1990) empati merupakan kemampuan untuk menempatkan diri dalam perasaan atau pikiran orang lain tanpa harus secara nyata terlibat dalam perasaan atau tanggapan orang tersebut. Myers (dalam Sarwono, 2002) menyatakan empati adalah hasrat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan sendiri. Empati lebih menitikkan pada kesejahteran orang lain. Empati yang tinggi pada diri pendidik akan menjadikannya memiliki keinginan untuk menolong anak didik atau

40 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati dan Kematangan Emosi

antara laki-laki dan perempuan tidak berbeda karena dalam hal-hal tertentu perempuan lebih mudah memberikan pertolongan, namun pada situasi yang lain perempuan lebih mudah bereaksi untuk memberikan pertolongan (Purnamasari, dkk, 2004: 41).

yang mempengaruhi perilaku prososial pada guru, seperti kepribadian dan faktor situasional.

Daftar Pustaka Arwani. (2002). Komunikasi dalam keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Baron, R. A. dan Byrne. D.(2005). Psikologi sosial. Jilid 2. Alih Bahasa: Ratna Djuwita. Edisi kesepuluh. Jakarta: Erlangga. Bar Tal, & Shavut, N. (1981). Motives for helping behaviour: Kibbutz and City Children in Kindergarten & School . Development Psychology. 17, (6) 766-772. Berndt, T. J. (1992). Child development. New York: Brace Jovenovich College Publisher. Bringham, J. C. (1991). Social psychology. Edisi 2. New York: Harper Colling Publisher Inc. Davidoff, L. L. (1991). Psikologi suatu pengantar. Alih Bahasa: Mari Juniati. Jakarta: Erlangga Dayakisni, T. (1988). Perbedaan intensi prososial siswa siswi ditinjau dari pola asuh orangtua. Jurnal Psikologi.1, (V) 14-17. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Djauzi, S. (2004). Komunikasi dan empati dalam hubungan dokter pasien. Jakarta: Fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Hurlock, E. B. (1999). Perkembangan anak. Jilid 2. Alih Bahasa: Med. Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Zarkasih. Edisi keenam. Jakarta: Erlangga. Hoffman. (1977). Sex differences in empathy and related behavior . Psychological Bulletin. 84, (4) 712-722

Simpulan dan Saran Simpulan Berdasarkan hipotesis yang telah diajukan ternyata hipotesis yang menyatakan 1. Ada hubungan yang sangat signifikan antara empati, kematangan emosi, dan jenis kelamin terhadap perilaku prososial. 2. Ada hubungan positif antara empati terhadap perilaku prososial. 3. Ada hubungan antara kematangan emosi terhadap perilaku prososial. 4. Tidak ada perbedaan perilaku prososial antara laki-laki dan perempuan

Saran Berkaitan dengan simpulan dan pembahasan yang telah disebutkan di atas, maka ada beberapa saran yang dapat disampaikan yaitu: 1. Bagi guru

Faktor yang mempengaruhi perilaku prososial yang tertinggi adalah empati, disarankan para pendidik atau guru lebih arif dalam memberikan perilaku prososialnya. 2. Bagi penelitian selanjutnya Penelitian ini masih banyak terdapat keterbatasan dan kekurangan, bagi peneliti selanjutnya yang berminat melakukan penelitian lebih lanjut dapat disarankan agar peneliti memperhitungkan aspek-aspek lain

41 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati dan Kematangan Emosi

Iannotti, R.J. (1978). Effect of role-taking experiences on role-taking, empathy, altruism and aggression. Developmental Psychology. 14, 119-124. Kartono, K. (1992). Psikologi wanita. Jilid 1. Bandung: Mandar Maju. Kartono, K. (2003). Kamus psikologi. Bandung: Pionir Jaya Mappiare, A. (1983). Psikologi remaja . Surabaya; Usaha Nasional. Meichati, S. (1983). Kesehatan mental. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Mussen, P. H. Conger, J. J and Kagan, J. (1989). Child development and personality (Fifth Edition). Harper and Row Publishers. NN. (2006). Kronologis kecurangan ujian nasional di Malang. Diunduh 22 Maret 2 0 1 0 . w w w. p p i g r o n i n g e n . n l / p p i g / Kronologi%20Malang.doc. Osho. (2008). Emotional learning. Alih Bahasa: Ahmadi Kahfi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Purnamasari, A., Ekowarni, E., Fadhila, A., (2004). Perbedaan intensi prososial siswa SMUN dan MAN di Yogyakarta. Humanitas Indonesian Psychological Journal. Vol. 1. No. 1 Januari: 32-42 Robert and Strayer, J. (1996). Adolescent p r o s o c i a l b e h a v i o u r . www.personal.psi.edu./fakulty/j/g/jgp4/497 /prosocial2.htm. Sartre, J. P. (2002). Pengantar teori emosi. Alih Bahasa: Luthfi Ashari. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sarwono, S. W. (2002). Psikologi sosial, individu dan teori-teori psikologi sosial. Jakarta: Balai Pustaka.

Sears, D.O; Fredman, J.L., dan Peplau, L. A. (1991). Psikologi sosial. Jilid 2. Alih Bahasa: Michael Adryanto. Jakarta: Erlangga. Sobur, A. (2003). Psikologi umum. Bandung: Pustaka Setia Stephan, C. W. and Stephan, W. G. (1985). Two social psychological. Chicago: The Dorley Press. Walgito, B. (2004). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta: Andi. Watson. (1984). Psychology science and application. Illionis: Scoot Foresmar and Company.

42 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Orientasi Nilai Pelaku Musik Hardcore

ORIENTASI NILAI PELAKU MUSIK HARDCORE


Anto Sanjaya1 2 Mochamad Widjanarko
Abstract Human being is unique. No one is either physically or psychologically identical with others. Being different from others requires courage and is the choice in life. Selection of value orientation will make an individual being has a way and control of life as a form of value orientation which is believed and embraced. Hardcore music performer is one of many differences in value orientation adopted by men. A hardcore music performer certainly has a reason in choosing it as a a way of life. The objective of the research is to know and to understand the value orientation of the hardcore music performers in the Kudus Regency. The informants of the reasearch are the hardcore music performers located in Kudus Regency who are involved in Komunitas Kudus Hardcore Community (KDHC). Value orientation in the research is viewed by using motivational types of value which is proposed by Schwartz. Orientation value proposed by Schwartz consists of 10 types of values consisting of power, prestige, pleasure, stimulation, self direction, unity, virtue, tradition, compatibility and security. Based on the coding of interviews and observations conducted on the three informants shows that the hardcore music performers in Kudus Regency have value orientations that lead to the value of creativity and the other value that stands out is the value orientation led to the value of independence. Keywords: Value Orientation, Hardcore Music Performer
1 Alumni Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus, Gitaris Band Atasbawah 2 Staf Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus

Setiap manusia sebagai individu pasti mempunyai keinginan, harapan dan berbagai capain hidup. Minat manusia juga beragam, antara individu yang satu dengan lainya saling berbeda namun terdapat pula invidu yang mempunyai ketertarikan akan hal sama. Demikian pula orientasi nilai setiap individu, satu sama lain pasti berbeda Kesamaan minat, memicu banyak pribadi yang berbeda dalam berbagai latar belakang; hal baik fisik, pendidikan, kondisi ekonomi, suku, agama, ras serta berbagai latar belakang kehidupan lainya bertemu, menjalin ikatan, membentuk perkumpulan dan melakukan berbagai bentuk hubungan sosial lainya. Sebaliknya dengan adanya perbedaan minat diantara individu yang satu dengan yang lain dapat saling menutup diri, menjaga jarak dan membatasi kontak sosial. Di Kudus sendiri terdapat beberapa bentuk hubungan sosial yang mana hal itu terjadi karena adanya kesamaan minat. Salah satunya adalah kesamaan minat akan musik hardcore. Dengan adanya kesamaan akan minat terhadap musik hardcore individuindividu yang terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan serta berbagai tingkatan umur membentuk suatu kelompok sosial. Di sini yang dimaksud kelompok, mereka saling melakukan interaksi satu dengan yang lain dan saling mempengaruhi, seperti yang diungkapkan oleh Shaw (dalam, Bimo Walgito, 2003). Mereka hidup di dalam satu batasan geografis, atau nilai-nilai secara kepentingan bersama dan hidup dalam suatu daerah tertentu dan saling berinteraksi (Al Barry,

43 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Orientasi Nilai Pelaku Musik Hardcore

2005). Selanjutnya ini disebut sebagai komunitas. Komunitas yang lekat dengan musik hardcore di Kudus adalah Kudus Hardcore Community (KDHC), terdiri dari orang-orang yang menyukai musik hardcore baik itu pemain musik, penggiat, maupun penikmat dan mempunyai tujuan untuk memajukan musik hardcore di Kudus supaya diterima oleh masyarakat Kudus. Dari hasil wawancara penulis lakukan tanggal 3 Mei 2009 di studio musik Blitz, Komunitas ini didirikan tanggal 18 Mei 2008 oleh beberapa band dan segelintir penggiat hardcore di Kudus ini. Tanggal 18 Mei 2008 dipilih sebagai tanggal berdirinya KDHC karena pada tanggal tersebut untuk kali pertama diadakan acara bertemakan indie (independent) dimana mayoritas diisi oleh band-band hardcore Kudus dan selebihnya band yang masih dalam kategori indie. Terlebih lagi acara tersebut diorganisir secara kolektif atau swadaya dari band pengisi serta anggota komunitas, demikian menurut DS salah satu penggagas dan penggiat KDHC. Sebelum berdirinya KDHC ia bersama dengan beberapa teman mendirikan Kudus Movement yang dapat ia katakan sebagai embrio dari berdirinya KDHC. Kudus Movement sendiri sebelumnya berisikan aktivitas selayaknya anak band, bermain musik dan nongkrong. Selain sebagai penggiat komunitas, DS juga mengisi posisi bass pada band emohardcore Kudus bernama Brooklyn. Band ini sendiri telah mengeluarkan mini album berisi lima lagu di bawah label indie Kudus Murvals records. Mini album bertajuk ILl Stand In My Way dikemas dalam format audio cd dengan full colour artwork serta profesional packing ini diedarkan secara independent melalui jaringan komunitas. Meski begitu band ini mampu melampaui batasan wilayah komunitas, respon publik sangat antusias. Satu dari puluhan band

yang bisa dikatakan sedang naik daun adalah Brooklyn. Band ini tengah menjadi bahan pembicaraan banyak orang dan pentasnya mampu menyedot perhatian banyak orang (Radar Kudus, Minggu 26 Oktober 2008). Fenomena underground sendiri tidak bisa dilepaskan dengan istilah independent yang berarti mandiri, bebas, merdeka. Istilah independent ini kemudian populer dengan idiom indie di kalangan musisi maupun media. Pemakaian label indie dikaitkan dengan metode sistem produksi yang dilakukan oleh seorang pemusik atau band yag mulai dari penciptaan lagu, merekam kemudian memasarkan secara swadaya. Jadi, dari proses kreatif membuat sampai mendistribusikan produk bahkan tur konser mereka secara mandiri dan di luar jalur mainstream, akhirnya disebut sebagai istilah DIY (Do It Yourself) yang dalam terjemahan bahasa Indonesia berarti lakukan dengan sendiri. Karena dalam mendistribusikan atau memasarkan produk ini lewat gerilya atau jalan bawah tanah. Itu dilatarbelakangi faktor ideologi, minimnya biaya ataupun memang karya mereka tidak bisa diterima masyarakat umum. Maka muncul istilah underground. Orientasi nilai yang dimiliki oleh pelaku musik hardcore di Kudus kemudian akan dilihat dengan kesepuluh tipe nilai berdasarkan klasifikasi Schwartz, yaitu : rangsangan, arah diri, kecocokan, tradisi, keamanan, kebersamaan, kebajikan, prestasi, kekusaan dan kesenangan. Kesepuluh nilai tersebut dapat dikelompokan ke dalam dua dimensi. Dimensi yang pertama yaitu openness to change yang berlawanan dengan conservation. Kemudian dimensi yang kedua yaitu self transedence yang berlawan dengan self enhancement. Berdasarkan hal diatas penulis berpendapat bahwa pelaku musik hardcore

44 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Orientasi Nilai Pelaku Musik Hardcore

mempunyai orientasi nilai tersendiri yang dapat membuat mereka tetap dapat bertahan, menjadikan hardcore sebuah pilihan dan eksis dalam kehidupan masyarakat serta menikmati apa yang dilakukan dan dikerjakannya maka penulis tertarik untuk mengeksplorasi orientasi nilai di kalangan pelaku hardcore di Kabupaten Kudus.

waktu bersama teman-teman untuk bersenang-senang. Hal ini menunjukan bahwa informan di pandang teman-teman dan lingkunganya, informan juga memiliki kontrol untuk menjalani kehidupannya Nilai prestasi memiliki intentitas yang kuat dilihat dari pernyataan informan bahwa sejak mengenal hardcore ia mempunyai kemampuan desain grafis serta dapat bekerja sebagai operator warnet. Informan merasa kebutuhannya saat ini dapat tercukupi dengan bekerja sebagi operator warnet. Hal ini dikuatkan oleh tipe nilai arah diri bahwa sejak bergelut dengan hardcore dirinya telah banyak membuat gigs hardcore, acara sosial dan t-shirt dari band lokal Kudus. Nilai kesenangan mempunyai intensitas yang kuat karena informan mengatakan dirinya sangat menikmati kehidupan. Masalah dalam kehidupan dianggap informan sebagai sesuatu yang wajar. Hal ini didukung oleh tipe nilai rangsangan, informan menyatakan bahwa sebuah konsekuensi harus dihadapi. Dari situ menunjukan informan memiliki tingkat kesenangan yang tinggi, bagi informan kesenangan hidupnya harus terpenuhi apapun resikonya nanti akan dihhadapinya. Tipe nilai rangsangan pada informan kuat. Informan berani menghadapi sebuah resiko jika itu sudah menjadi sebuah kausalitas. Pernyataan berani berbuat berani bertanggung jawab menguatkan tipe nilai rangsangan. Informan bergairah dalam menjalani kehidupan. Nilai arah diri memiliki intensitas yang kuat terutama dilihat dari pernyataan informan sangat merasa ingin tahu sesuatu hal yang baru terutama jika itu menyangkut pekerjaanya, menurut informan seusianya harus mandiri. Banyak yang telah ia perbuat sejak menjadi seorang youthcrew, sampai dengan membikin album.

Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Subyek dalam penelitian ini adalah pelaku musik hardcore yang terlibat dalam Komunitas Kudus Hardcore Community (KDHC). Pengambilan data melalui observasi dan wawancara. Analisis data menggunakan koding, dengan menggunakan tahapan sebagai berikut; melakukan transkripsi hasil wawancara dan observasi, identifikasi kata kunci, menemukan tema dan kategori serta menyusun bagan teoritis. Kredibilitas hasil penelitian dilakukan dengan menggunakan metode triangulasi, kecermatan transkrip, dan pemeriksaan teman sejawat.

Hasil Penelitian Intensitas Orientasi Nilai Informan 1 Tipe nilai kekuasaan, informan memiliki intensitas yang kuat dilihat dari pernyataan informan bahwa ia dapat mengetahui makna hidup dan semangat dalam menjalani kehidupan. Ia merasa sikap orang-orang di sekitar terutama keluarga sangat mendukungnya. Informan merasa nyaman dengan mendapatkan banyak teman. Hal ini didukung oleh faktor kesenangan, informan begitu menikmati kehidupannya karena mempunyai banyak teman dalam suasana kebersamaan dan banyak menghabiskan

45 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Orientasi Nilai Pelaku Musik Hardcore

Intensitas nilai kebersamaan pada informan kuat dilihat dari pernyataan informan yang akan membantu orang yang membutuhkan bantuan jika memang dirinya bisa membantu dan itu ia lakukan walaupun orang tersebut tidak dikenalnya. Aspek ini diperkuat oleh tipe nilai kebajikan. Ini terlihat dari pengakuan informan yang pernah membantu nenek yang tidak dikenalnya menyeberang jalan. Kuatnya tipe nilai kebajikan juga dikuatkan oleh pernyataan informan bahwa memafkan adalah hal yang sudah sewajarnya dilakukan. Ini menguatkan informan memang memiliki sisi kebajikan yang kuat. Nilai tradisi pada informan pada tingkat sedang. Terlihat dari pengakuanya bahwa ia belum dapat menjalankan kewajiban agama dan Tuhannya. Informan mengaku belum bisa menjadi orang yang religius meskipun ia percaya dengan Tuhan. Informan mengerti bahwa norma harus ditaati. Intensitas yang sedang pada aspek ini didukung aspek kecocokan, informan sering melanggar perintah orang tua dan ingin bebas, tidak diatur. Diantara semua aspek. Paling lemah adalah nilai kecocokan dan keamanan. Ini terlihat dari pengakuanya yang sering melanggar perintah orang tua. Dirinya tidak mau diatur oleh siapapun dan bebas berkehendak semaunya. Hal ini menunjukan bahwa pembatasan tingkah laku dan dorongan yang tidak sesuai dengan norma sosial pada informan lemah. Intensitas aspek keamanan pada informan memiliki tingkat yang lemah karena informan tidak suka membersihkan rumah dan mengaku bahwa kamar tidurnya berantakan. Informan juga menghindari obat jika sakit. Pernyataan informan yang mengatakan melakukan keinginan masyarakat dengan terpaksa, karena dirinya tidak suka akan hal tersebut

menguatkan bawah motivasi untuk menjaga harmoni bermasyarakat berada pada tingkat lemah.

Intensitas Orientasi Nilai Informan II Intensitas tipe nilai kekuasaan pada informan kedua kuat. Dirinya yakin hardcore adalah sebuah jalan hidup dan ia merasa sebagai pribadi yang positif dan mempunyai kualitas hidup yang baik. Hal ini juga dikuatkan dengan pernyataan bahwa informan merasa yakin dengan ilmu dan wacana yang ia dapat dari hardcore dapat meningkatkan kualitas hidupnya secara personal dan sosial. Aspek ini juga didukung dengan kuatnya tipe nilai prestasi informan yang menyatakan mendapatkan materi dari jurnalisme yang ia peroleh dari hardcore. Hal ini menunjukan informan mempunyai penguasan hidup sehari-hari. Informan memiliki intensitas tipe nilai prestasi yang kuat terlihat dari pernyataannya bahwa ia mendapatkan dan menguasai jurnalisme dari hardcore yang pada akhirnya hal itu bisa mendatangkan materi bagi informan. Hal ini didukung oleh tipe nilai arah diri pada informan dengan pernyataan dirinya bangga dengan gaya hidup positifnya yang bisa mempengaruhi generasi di bawahnya. Tipe nilai kesenangan pada informan kuat terlihar dari pernyataan informan yang mengaku sangat bersyukur dengan dengan apa yang ada pada dirinya sekarang dan menjalani kehidupan apa adanya. Banyak aktivitas bersenang-senang pada informan seperti main games, membaca buku, melihat gigs, mendengarkan musik dan lain-lain. Kuatnya tipe nilai kesenangan menunjukan informan menikmati hidup pada dirinya.

46 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Orientasi Nilai Pelaku Musik Hardcore

Intensitas tipe nilai rangsangan pada informan kuat, hal ini terlihat dari pernyataan informan yang mengaku berani menghadapi semua resiko dari setiap perbuatanya. Dalam melakukan setiap perbuatanya informan mengaku berlandaskan pada keyakinan informan terhadap Tuhannya. Tipe nilai kesenangan juga didukung oleh tipe nilai kecocokan pada informan yang menyatakan bawah apa yang dilakukanya bisa dipertanggungjawabkan. Informan memiliki intensitas tipe nilai arah diri kuat. Pengakuan informan bahwa dirinya memilih hardcore bukan asal, penyampaian pesan lewat musik itu lah yang menjadikan hardcore sebagai pilihannya. Keingintahuan informan juga kuat terlihat dari pernyataanya yang mengaku juga suka belajar hal-hal baru yang menarik baginya dan akan mendalaminya. Informan mengaku gaya hidupnya adalah gaya hidup yang positif. Melalui musik informan menyampaikan gaya hidupnya kepada generasi dibawahnya. Bagi dirinya kemandirian adalah hal yang mutlak. Intensitas tipe nilai kebersamaan pada informan kuat, terlihat dari pernyataan informan yang akan membantu orang yang membutuhkan bantuan semampunya. Aspek ini juga didukung oleh pernyataan informan pada tipe nilai kebajikan yang mengaku sering memberi uang kepada orang yang tidak dikenal untuk ongkos perjalanan Membantu baginya adalah sebuah kewajiban dari nilai yang bersumber dari kultur yang ia percaya. Tipe nilai kebajikan pada informan memiliki intensitas yang kuat. Informan adalah orang yang pemaaf terlihat dari pengakuannya yang mengatakan dengan pasti dirinya adalah orang yang pemaaf. Sikap suka menolong ia tunjukan dengan pengakuan informan yang sering memberi uang kepada orang yang tidak ia kenal untuk ongkos perjalanan pulang, entah

itu disengaja atau tidak hal itu sering ia alami. Ini menunjukan informan memiliki kebajikan yang kuat. Intensitas tipe nilai tradisi pada informan kuat. Hal ini terlihat dari pernyataan informan yang sangat meyakini Tuhan dan agama. Informan juga merasa sebagai orang yang religius. Keseharian informan merasa tidak bertentangan dengan nilai agama yang ia percaya. Dalam memandang tradisi ia percaya budaya dibangun atas cipta, rasa dan karsa manusia. Pernyataan informan tersebut memperlihatkan aspek tradisi pada informan kuat Tipe nilai kecocokan pada informan memiliki intensitas yang kuat dilihat dari pernyataan informan yang mengaku semua perbuatannya bisa dipertanggungjawabkan dan harus dihormati oleh siapapun termasuk orang tuanya. Penghargaan terhadap orang tua, kepatuhan juga dilakukanya terlihat dari pernyataan informan yang akan melakukan apapun untuk membantu dalam masalah keluarga dan hal itu bagi informan adalah hal yang sudah sewajarnya. Diantara semua aspek, Intensitas tipe nilai keamanan pada informan paling berbeda. Informan memiliki intensitas tipe nilai keamanan yang sedang. Menurut pengakuan informan dirinya termasuk orang malas untuk bersih-bersih. Dirinya juga hidup hanya untuk dirinya dan keluarga bukan untuk masyarakat. Ini memperliharkan bahwa keharmonisan dan stabilitas dalam bermasyarakat cenderung rendah. Meski begitu informan mempunyai banyak teman, hal ini memperlihatkan bahwa informan hubungan yang baik dengan banyak orang-orang di sekitarnya.

Intensitas Oerientasi Nilai Informan III Intensitas tipe nilai kekuasaan pada

47 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Orientasi Nilai Pelaku Musik Hardcore

informan kuat. Dirinya mengaku di dukung oleh orang tua dalam keluarga. Teman-teman informan bahan mendukungnya. Informan mengaku mendapatkan banyak pengalaman dari hardcore terutama berdagang t-shirt yang saat ini menjadi sumber untuk mengisi uang sakunya. Orang-orang di sekitar informan mengetahui status informan sebagai seorang youthcrew. Tipe nilai prestasi pada informan kuat terlihat dari pengakuan informan yang mempunyai keahlian berdagang t-shirt yang didapatnya dengan bergelut musik hardcore. Kuatnya tipe nilai prestasi juga diperkuat oeh pengakuanya yang tidak bisa seperti sekarang jika tidak mengenal hardcore. Selain itu informan juga mempunyai prestasi yang gemilang dalam bidang olahraga sepakbola sebagai kiper tim U-21 Persiku. Aspek ini didukung oleh pernyataan informan pada tipe nilai kesenangan yang menyatakan membuat suatu gigs hardcore bagi informan satu hal yang menyenangkan. Intensitas tipe nilai kesenangan pada informan kuat. Hal ini terlihat dari pengakuan informan bahwa dirinya sangat menikmati hidup dan apa yang ada pada dirinya. Banyak cara bersenang-senang yang dilakukan informan diantaranya melihat gigs, bermain bola dan jalan bersama pacar. Hal ini menguatkan aspek kesenangan, dilihat dari cara informan bersenang-senang dan menikmati kehidupannya. Tipe nilai rangsangan mempunyai intensitas yang kuat. Informan mengaku bahwa dirinya tidak takut dalam menghadapi resiko. Dari hasil wawancara didapat bahwa tidak ada kata takut dalam menghadapi sebuah resiko. Intensitas tipe nilai arah diri pada informan ketiga kuat terlihat dari pernyataan informan yang mengaku bahwa hardcore baginya lebih menarik untuk dipahami. Informan mengartikan

kemandirian secara luas yaitu melakukan apa yang ada di pikiran untuk bergerak dan membuat keadaan sekitar menjadi lebih baik. Rasa ingin tahu informan juga tinggi terlihat dari pengakuanya. Tipe nilai kebersamaan pada informan memiliki intensitas yang kuat, hal ini dapat dilihat dari pernyataan informan yang akan membantu orang yang membutuhkan bantuan. Motivasi tindakan prososial pada informan sangat tinggi terlihat dari tindakanya yang tidak hanya membantu orang yang dikenalnya tapi juga akan membantu orang yang tidak dikenalnya jika memang orang tersebut membutuhkan bantuan. Hal tersebut juga didukung oleh pernyataanya pada tipe nilai kebajikan yang menyatakan dirinya pernah memberikan tempat duduknya kepada seorang ibu yang tidak dikenalnya di dalam perjalan dari Kudus ke Malang. Ini menunjukan kuatnya motivasi prososial informan Intensitas tipe nilai kebajikan pada informan kuat yang ditunjukan dengan pengakuanya sebagai berikut. Informan mengaku pernah dalam perjalanan pulang dari kudus ke malang melihat seorang ibu yang berdiri. Kemudian informan memberikan tempat duduknya untuk ibu tersebut dan dirinya rela untuk berdiri. Tak hanya sampai disitu, informan juga membayarkan ongkos perjalanan ibu tersebut. Dalam hal memafkan sebisa mungkin informan akan memafkan orang yang menghinanya. Informan memiliki intensitas tipe nilai tradisi yang sedang. Informan percaya dengan Tuhan dan agama akan tetapi informan merasa dirinya belum sebagai seorang yang religius. Dalam memandang tradisi, informan beranggapan budaya yang dimiliki oleh bangsanya sangat beragam dan kaya dan tidak dimiliki oleh bangsa lain.

48 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Orientasi Nilai Pelaku Musik Hardcore

Intensitas tipe nilai kecocokanpada informan sedang, hal ini ditunjukan dengan seringnya informan berseberangan pendapat dengan orang tua. Hal ini disebabkan informan merasa tidak cocok dengan ayah. Dalam wawancara informan menjawab dirinya sering melanggar perintah orang tua. Namun informan tidak begitu saja mengesampingkan kedua orang tuanya. Informan mengaku sering membantu orang tua dalam hal kecil seperti mengantar ayahnya ke toko, membeli gas dan mengantar ibunya berbelanja. Intensitas tipe nilai keamanan kuat pada informan, hal ini terlihat dari pengakuanya informan yang membersihkan rumah setiap hari minggu dan hari libur di pagi harinya. Dalam menjaga kesehatan informan akan minum obat jika sakit. Hal ni diperkuat dengan pernyataan informan yang akan melakukan apa yang memang diinginkan masyarakat jika hal tersebut berdampak positif. Diskusi Masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang musik hardcore dan para pelakunya khusunya di Kabupaten Kudus mengharuskan penulis menyampaikan hasil penelitian mendekati fakta di lapangan tentang para pelaku musik hardcore. Hal ini disebabkan kekhawatiran terjadinya pandangan yang salah terhadap para para pelaku. Cara berpikr sempit seperti anggapan yang selama ini terjadi pada pelaku semisal musik hardcore adalah musik yang bising dan tidak mempunyai maksud dan tujuan, musik yang identik dengan narkotika karena dilihat dari cara pelaku melakukan pogo berdampak pada pengkerdilan potensi-potensi yang dimiliki oleh informan. Orientasi nilai pada pelaku musik hardcore dimaksudkan agar masyarakat mendapat gambaran yang jelas mengenai pemetaan sikap dan perilaku yang merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang diyakini pelaku.

Dilihat dari pencapaian status sosial dan prestise serta kontrol terhadap orang lain atau sumber daya tertentu, pada dasarnya semua informan mendapatkan pengakuan dan bahkan dukungan dari lingkungan mereka. Dari segi kesuksesan, kecakapan dan ambisi ketiga informan merasa banyak mendapat hal yang bagi mereka itu sangat bermanfaat. Faktor-faktor untuk mencapai keberhasilan pribadi sesuai dengan standar sosial dan menunjukannya kepada masyarakat dirasakan oleh ketiga informan setelah mereka menjadi seorang youthcrew. Dalam segi kesenangan, informan I, II dan III menikmati kehidupan yang mereka jalani dan banyak melakukan kegiatan bersenang-senang merupakan unsur pemuasan. Dari segi rangsangan dalam hal keberanian dalam hidup, menghadapi kehidupan yang ada dan semua informan tidak mempunyai rasa takut. Ketiganya juga berani menghadapi kehidupan masing-masing. Aspek arah diri ketiga informan seperti menentukan tujuan sendiri, bebas, dan mandiri yang memotivasi tindakan yang independent terlihat kuat. Kesemuanya memiliki tujuan yang jelas dan alasan yang kuat dari pilihan yang telah mereka tentukan. Dari segi kebersamaan yang memotivasi tindakan sosial dan segi kebajikan yang berisi nilai seperti pemaaf dan suka menolong . Dari segi tradisi yang akan memotivasi pada penghargaan, komitment dan penerimaan terhadap tradisi, kebiasaan, adat istiadat dan agama tampak kuat pada informan II. Hal ini informan II mendasari segala perbuatannya berdasar keyakinan dan agama yang dianutnya. Sedangkan pada informan I dan III hanya pada tingkatan percaya saja belum pada penerapan dalam kehidupan keseharian seperti informan II

49 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Orientasi Nilai Pelaku Musik Hardcore

Dari segi kecocokan terlihat pada semua informan meskipun ketiganya memiliki kekuatan yang berbeda. Informan kedua cenderung memiliki kontrol diri yang kuat dan mampu menahan dorongan-dorongan yang berseberangan dengan nilai-nilai sosial. Pada informan ketiga, hal ini berkurang atau mempunyai kontrol yang sedang karena informan seorang anak yang berseberangan dengan orang tua dan tidak cocok dengan ayahnya. Pada informan pertama kemampuan kontrol terhadap dorongan negatif lemah, hal ini disebabkan suybyek mengedepankan kebebasan Dari segi keamanan yang memotivasi tindakan untuk menjaga keharmonisan hubungan dalam hidup bermasyarakat lemah pada informan I dan II dan kuat pada informan ketiga. Kuatnya aspek ini pada informan ketiga terlihat dari rutinnya informan membersihkan rumah setiap minggu dan kemauan informan menjaga hubungan dengan masyarakat. Berbeda dengan informan I dan II yang tidak memperdulikan apa keinginan dalam masyarakat. Informan II hanya hidup untuk dirinya dan keluarga, di tetangga sedang terjadi apa itu bukan urusan informan. Dari intensitas yang telah teridentifikasi selanjutnya dikelompokan ke dalam dimensi nilai bipolar sebagai berikut. Dimensi openess to change pada kesemua informan muncul dengan kecenderungan kuat. Sedangkan dimensi conservation yang berlawanan dengan dimensi sebelumnya hanya pada informan I yang memiliki kecenderungan lemah. Untuk dimensi yang kedua yaitu dimensi self enhancement dan self transendence muncul kuat pada semua informan. Begitu juga dengan nilai kesenangan yang masuk ke dalam dimensi openess to change dan self enhancement juga memperlihatkan kecenderungan kuat pada semua informan.

Kesesuaian dengan dimensi teori yang sejalan dan berkonflik hanya terjadi pada informan I pada dimensi openess to change yang muncul kuat dan berkebalikan pada dimensi conservation yang berseberangan. Untuk informan kedua dan ketiga tidak terjadi konflik pada semua dimensi. Terjadinya perbedaan pada informan pertama dengan informan kedua dan III pasti mempunyai faktor penyebab. Setelah penulis mencoba mencermati hasil observasi dan wawancara dengan masing informan. Penulis menemukan bahwa faktor tersebut disebabkan oleh latar belakang keluarga informan I. Intensitas yang lemah pada informan pada dimensi conservation yang berisi batasanbatasan terhadap tingkah laku, ketaatan terhadap aturan tradisi dan perlindungan terhadap stabilitas. Kelemahan tersebut karena informan sejak kecil jauh dari orang tua. Bibi informan tidak mendidik informan secara keras atau sangat memanjakan informan karena takut informan akan ikut orang tuanya ke Bandung. Hal itu menyebabkan sikap informan yang bebas dan tidak mau diatur.

Simpulan dan Saran Simpulan Penulis menyimpulkan bahwa orientasi nilai pada pelaku musik hardcore adalah sebagai berikut : 1. Pelaku musik hardcore di Kabupaten Kudus mempunyai orientasi nilai yang mengarah pada nilai-nilai kreativitas 2. Nilai lain yang menonjol pada pelaku musik hardcore di Kabupaten Kudus adalah orientasi nilai yang mengarah pada nilai-nilai kemandirian

50 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Orientasi Nilai Pelaku Musik Hardcore

Nilai-nilai tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal : 1. Dukungan lingkungan 2. Manfaat yang dirasakan oleh informan Semakin tinggi dukungan lingkungan dan semakin besar manfaat yang dirasakan informan maka semakin tinggi tingkat keyakinan informan terhadap hardcore sebagai sebuah jalan hidup. Sedangkan untuk output nilai dari pelaku musik hardcore dipengaruhi oleh hal hal sebagai berikut: 1. Teman sebagai pembentuk kepribadian 2. Kedekatan dan tingkat kasih sayang dan perhatian orang tua dalam kehidupan keluarga

Daftar Pustaka Alsa, A. (2007). Pendekatan Kuantitatif & Kualitatif serta Kombinasinya dalam Penelitian Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Blaxter, L., Hughes, C dan Thight, M. (2006). How To Research Seluk Beluk Melakukan Riset. Edisi Kedua. Jakarta: PT. Indeks. C, Glesson. (1997). Menciptakan Keseimbangan. Jakarta: PT. Grasindo. Kamarulzaman, AKA., Y. Al Barry, M. Dahlan. (2005). Kamus Ilmiah Serapan. Yogyakarta: Absolut. Kartini, K., Gulo, D. (2003). Kamus Ilmiah Psikologi. Bandung: Pionir Jaya. Moleong, L. J. (2002). Metodologi Penelitian K u a l i t a t i f . B a n d u n g : P T. R e m a j a Rosdakarya. Patton, M. G. (2006). Metode Evaluasi Kualitatif. (terjemahan oleh Priyadi, B. P) Yogyakarta: Pustaka Belajar. Parker, S. R., J. Child, R. K dan Smith, M. A. (1990). Sosiologi Industri. Jakarta: PT. Rhineka Cipta. Poerwandari, E. K. (2001). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia. Edisi Revisi. Jakarta: lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) UI. Prayitno, H., Amti, E. (1999). Dasar-Dasar Bimbingan & Konseling. Edisi Revisi. Jakarta: PT Rhineka Cipta. Subyantoro, A., F. X, Suwarto.(2000). Metode & Teknik Penelitian Sosial. Yogyakarta: C.V Andi Offset. Walgito, B. (2003). Psikologi Sosial. Suatu Pengantar. Yogyakarta: Andi. --------------. (2006). Arti Nilai. Melayu Online,

Saran-saran 1. Untuk pelaku musik hardcore Menjadi seseorang yang berbeda memang membutuhkan keberanian, apalagi juga semacam menjadi seorang youthcrew yang masih awam di masyarakat dan terbilang minoritas sebagai sebuah genre musik di Indonesia. Oleh karena itu disarankan : a. Lebih terbuka terhadap masyarakat sebagai upaya sosialisasi hardcore b. Menjalin hubungan sosial yang baik dengan lingkungan agar tidak terkesan eksklusif. 2. Peneliti Orientasi nilai pada seseorang mempunyai perbedaan yang dapat berubah sewaktuwaktu karena pengaruh kondisi psikologis seseorang, pembentukan kepribadian yang terkait dengan perkembangan dan lingkungan. Orientasi nilai pada pelaku musik hardcore sangat menarik untuk diteliti ulang oleh peneliti yang lain.

51 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

Volume I, No 1, Desember 2010

Orientasi Nilai Pelaku Musik Hardcore

h t t p : / / w w w. m e l a y u o n l i n e . c o m / index.php/nilai.html , (diakses 4 Mei 2009). --------------. (2007). Nilai. Belajar Psikologi: Bukan Hanya Untuk Anda, http://rumahbelajarpsikologi.com/index.ph p/nilai.html, (diakses 4 Mei 2009). --------------. April (2009). Hardcore Punk, http://wikipedia.org/wiki/hardcore_punk.ht m, (diakses 4 Mei dan 2 Agustus). ---------------. Radar Kudus, 8 Februari 2009 . Sistemnya DIY (Do It Yourself), hlm. 4. ---------------. Radar Kudus, 26 Oktober 2008 . Brooklyn The Shining Star, hlm. 3.

52 Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus

KETENTUAN PENULISAN JURNAL PSKOLOGI UMK


(Catatan: ketentuan ini merupakan format final artikel Jurnal Psikologi UMK)

Judul (12 point centered alignment, uppercase)


Nama lengkap penulis dan tanpa gelar (11 point centered)
Nama dan instansi penulis (11 point centered) Abstrak Abstrak di tulis dalam bahasa Inggris atau Indonesia, dengan maksimal 250 kata, dalam satu paragrap. Abstrak berisi tujuan penulisan, metode penelitian dan keterangan singkat hasil penelitian. (11 point without indentation) Kata kunci: 3 10 kata. (11 point, italic)

Bagian utama tulisan hasil penelitan terdiri dari: (1) Pendahuluan (berisi latar belakang masalah, tinjauan pustaka, tujuan penelitian dan hipotesis), (2) Metode penelitian (berisi rancangan penelitan, pengambilan sample, dan analisis data), (3) Hasil penelitian (hasil uji hipotesis), (4) Diskusi (memuat evaluasi hasil penelitian, masalah yang terkait hasil penelitian, dan rekomendasi, (5) Daftar pustaka. Artikel hasil pemikiran disajikan dengan meliputi: (1) Pendahuluan (latar belakang, tujuan, dan perumusan masalah), (2) Pembahasan (terdiri dari beberapa bagian), (3) Kesimpulan dan rekomendasi, (4) Daftar pustaka.

Ketentuan daftar pustaka dengan urutan: nama belakang penulis, tahun penerbitan, kota penerbitan, penerbit, volume, dan halaman. Tabel atau gambar di beri judul dan keterangan yang jelas. Setiap gambar, tabel atau grafik yang disertakan juga sumber penyuntingnya. Artikel di kirim ke redaksi melalui email psiumk@yahoo.com dan 1 salinan asli, dengan ketentuan, kertas A4, Arial 11 point, spasi 2, justified alignment, top margin 2 cm, bottom 2 cm, left 1 cm dan right 1 cm. Artikel ditulis maksimal 15 halaman, minimal 10 halaman. Redaksi berhak mengedit ulang artikel tanpa mengubah isi. Artikel yang di muat adalah artikel yang sesuai dengan ketentuan yang telah disebutkan.