Anda di halaman 1dari 399

01.

Pendahuluan MFS 1810

Salahuddin Husein

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2009

Pendahuluan: Krakatau 1883

shddin 2009

Letusan puncak Krakatau pada bulan Agustus 1883 didahului oleh beberapa letusan kecil. Foto ini diambil pada 27 Mei 1883, satu minggu setelah letusan pertama. Tampak abu dan asap keluar dari kawah di sisi selatan pulau.

Pendahuluan: Krakatau 1883

shddin 2009

(a)Krakatau terletak di Selat Sunda, antara pulau Jawa dan Sumatra. (b)Krakatau sebelum dan sesudah letusan 1883. Setelah letusan, hanya sepertiga pulau yang tersisa.

Pendahuluan: Krakatau 1883

shddin 2009

Abu letusan Krakatau tersebar di atmosfer Bumi, menghasilkan warna lembayung seperti matahari tenggelam. Lukisan ini dibuat oleh William Ascroft, London (26/11/1883, 4:40 sore).

Ekosfer

shddin 2008

Ekosfer adalah model miniatur planet Bumi, merupakan suatu sistem tertutup yang tersusun udara, air, pasir, dan organisme. Sistem ini adalah siklus penguraian dan pembaharuan. Jika ada komponen yang hilang, atau terlalu dominan, sistem akan terganggu dan seluruh biosfer planet kecil tersebut akan musnah.

Planet Bumi: hanya sebuah planet kecil

shddin 2008

Sistem Planet Bumi

shddin 2008

Atmosfer, biosfer, hidrosfer, litosfer, mantel, dan inti merupakan sub-sistem Bumi. Interaksi mereka membuat Bumi menjadi planet dinamis, yang terus berevolusi semenjak 4.6 milyar tahun lalu.

Sistem Planet Bumi

shddin 2008

Terbentuknya Tata Surya

shddin 2008

(a) ~15 milyar tahun lalu, nebula terkondensasi, (b) kontraksi, rotasi, (c) Terpipihkan menjadi piringan, Matahari di pusat dan planet-planet di tepi. (d) Radiasi Matahari membersihkan sebagian gas dan debu. (e) Planet menyempurnakan pembentukannya.

Eagle Nebula
Gambar diambil dan diolah oleh Hubble Space Telescope

shddin 2008

Terbentuknya Bumi

shddin 2008

(a)Mulanya tersusun oleh material dengan komposisi dan densitas seragam. (b)Titik leleh besi dan nikel tercapai, inti Bumi terbentuk. Silika yang lebih ringan membentuk mantel dan kerak. (c) Lapisan-lapisan Bumi terwujud.

Bumi yang Unik


Bumi: planet yang sangat hidup, atmosfer nitrogen + oksigen yang cukup dan air dalam 3 fase yang melimpah.

shddin 2008

Merkurius: planet yang telah mati, terlalu dekat dengan Venus: masih Matahari. hidup, atmosfer CO2 tebal (rumah kaca raksasa), temperatur 500 oC dan tekanan 90x Bumi.

Mars: planet yang hampir mati, atmosfer CO2 tipis, sedikit air dalam bentuk es.

Penampang Bumi

shddin 2008

Struktur Dalam Bumi

shddin 2008

Litosfer

shddin 2008

Lapisan terluar Bumi, berdasarkan sifat fisik, adalah astenosfer dan litosfer. Astenosfer bersifat panas, mendekati titik leleh, dan mampu bergerak plastis. Litosfer bersifat dingin dan kaku, mencakup bagian paling atas mantel dan dua jenis kerak: kerak samudera yang tipis dan berat, dan kerak benua yang tebal dan ringan.

Ketebalan Kerak dan Prinsip Isostasi

shddin 2008

Isostasi adalah kecenderungan universal bagian kerak Bumi untuk berada dalam keseimbangan gravitasi, yaitu untuk mengatasi perbedaan densitas dan ketebalan.

Ketebalan Kerak dan Prinsip Isostasi

shddin 2008

Tektonik Lempeng

shddin 2008

Sistem tektonik lempeng digerakkan oleh panas dalam Bumi. Arus konveksi yang sangat lambat bergerak di dalam mantel. Sebagian material mantel bawah bergerak ke atas membentuk tiang (plume) mantel.

Tektonik Lempeng

shddin 2008

Analogi arus konveksi pada mantel adalah seperti arus konveksi pada sepanci sup. Panas dari dasar menyebabkan material mengembang dan lebih ringan. Material hangat tersebut bergerak ke atas secara konvektif dan menyebar ke arah lateral. Ketika kembali dingin dan menjadi lebih berat, material tersebut tenggelam.

Tektonik Lempeng

shddin 2008

10

Tektonik Lempeng

shddin 2008

Gempabumi dan volkanisme menandai batas tepi lempeng. Volkanisme yang terisolasi disebabkan oleh mantle plume.

Tektonik Lempeng

shddin 2008

Penampang ideal hubungan tiga jenis batas lempeng: divergen, konvergen, dan transform.

11

Siklus Batuan

shddin 2008

Batuan Beku

shddin 2008

(a)

(b)

(a) Granit, batuan beku intrusif. (b) Basal, batuan beku ekstrusif.

12

Batuan Sedimen

shddin 2008

(a)

(b)

(a) Konglomerat, terbentuk dari konsolidasi fragmen batuan. (b) Batugamping, terbentuk dari ekstraksi mineral dari airlaut oleh organisme.

Batuan Malihan

shddin 2008

(a)

(b)

(a) Genis, batuan malihan berfoliasi. (b) Kuarsit, batuan malihan non-foliasi.

13

Tektonik Lempeng dan Siklus Batuan

shddin 2008

Hidrosfer

shddin 2008

Hidrosfer adalah selubung tipis Bumi yang sangat penting untuk kehidupan. Mengambil energi dari sinar Matahari, air bergerak dalam lingkaran besar dari samudera ke atmosfer, melalui daratan dan kembali ke samudera.

14

Siklus Hidrologi

shddin 2008

Kecepatan Proses Geologi

shddin 2008

15

02. Mineral MFS 1810

Salahuddin Husein

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2008

Pendahuluan

shddin 2008

Mineral intan kualitas permata. Kekerasan, kecemerlangan, kecantikan, keawetan, dan kelangkaan membuat mereka menjadi batu permata paling dicari.

Struktur Atom

shddin 2008

Inti yang padat tersusun oleh proton dan neutron serta dikelilingi oleh awan orbit elektron.

Ion

shddin 2008

Atom disebut bersifat netral apabila memiliki jumlah proton dan elektron yang sama. Karena letak yang berada di luar dan geraknya yang dinamis mengorbit inti, elektron berpotensi untuk berpindah-pindah, sehingga elektron dapat bertambah dan dapat pula berkurang. Atom-atom yang kelebihan atau kekurangan elektron disebut bermuatan listrik. Mereka dinamakan ion. Sebuah atom yang kehilangan elektron memiliki muatan positif, disebut kation. Sebuah atom yang memperoleh elektron memiliki muatan negatif, disebut anion.

Isotop

shddin 2008

Isotop karbon: sebuah atom karbon memiliki nomer atom 6 dan nomer massa atom 12, 13, dan 14, tergantung pada jumlah neutron di intinya.

Tabel Periodik Unsur

shddin 2008

Mineral

shddin 2008

terbentuk alamiah senyawa anorganik komposisi kimiawi tertentu struktur kristal tertentu sifat fisik yang konsisten

Mineral : Terbentuk Alamiah

shddin 2008

Terbentuk alamiah artinya material kristalin sintetis adalah bukan mineral.

Mineral : Terbentuk Alamiah

shddin 2008

Mineral terbentuk oleh atomatom yang saling mengikat. Ada dua jenis ikatan yang banyak terbentuk di alam: ikatan ion dan ikatan kovalen. Pembentukan ikatan ion antara sodium dan klor dilakukan oleh pertukaran elektron kulit terluar dari atom sodium kepada atom klor; proses ini menghasilkan kulit terluar yang stabil bagi kedua atom tersebut.

Mineral : Terbentuk Alamiah

shddin 2008

Ikatan kovalen terbentuk ketika dua atom berbagi elektron. Ikatan antara silikon dan oksigen, yang banyak jenis mineralnya, adalah terutama terbentuk oleh ikatan ini.

Mineral : Terbentuk Alamiah

shddin 2008

Gambar sebelah kiri menunjukkan pola kerangka 3-dimensi atomatom karbon dalam mineral intan (diamond) yang terbentuk dari ikatan kovalen. Gambar sebelah kanan memperlihatkan ikatan kovalen pada grafit (graphite), tetapi di sini atom-atom karbon membentuk lapisan-lapisan yang diikat oleh ikatan van der Waals. Lapisan itu sendiri sangat kuat, namun ikatan antar lapisan sangat lemah.

Mineral : Senyawa Anorganik

shddin 2008

Senyawa anorganik tersusun sepenuhnya oleh komponenkomponen non-organik. Organik: dominan C, N, O, H

Mineral : Komposisi Kimiawi Tertentu

shddin 2008

Beberapa mineral sebetulnya adalah kelompok mineral. Semua anggota kelompok umumnya memiliki jenis struktur yang sama, sifat fisik yang sama, dan secara kimia saling terkait, namun mereka juga memiliki perbedaan kimia tertentu. Contoh: mineral piroksen sebetulnya sebuah kelompok yang tersusun oleh augit, diopsit, hedenbergit, pigeonit, enstatit, ferrosilit, dan masih ada beberapa lagi

Mineral : Struktur Kristal Tertentu

shddin 2008

Gambar mikroskopis dari permukaan kristal grafit. Setiap titik berwarna kuning adalah atom karbon.

Struktur kristal suatu mineral adalah pola susunan 3 dimensi dari atom-atom penyusunnya.

Mineral : Struktur Kristal Tertentu

shddin 2008

Struktur kristal sodium klorida, mineral halit (halite). Diagram sebelah kiri menunjukkan ukuran ion sodium dan klorin, sedangkan diagram sebelah kanan menunjukkan lokasi setiap ion di dalam struktur kristal.

Mineral : Sifat Fisik yang Konsisten


Identifikasi sifat fisik dipergunakan untuk menentukan jenis mineral tanpa bantuan peralatan kristalografis atau kimia.

shddin 2008

Sifat fisik banyak ragamnya, sebagian meliputi kekerasan, bentuk, warna, belahan, dan lain-lain..

Sifat Fisik Mineral : Kekerasan

shddin 2008

Skala Mohs

Sifat Fisik Mineral : Belahan

shddin 2008

Belahan adalah pecahan yang teratur dan sistematis di sepanjang bidang yang dapat diperkirakan. Bidang belahan terkontrol secara kristalografis: mereka berasal dari bidang ikatan lemah dan struktur kristal.

Sifat Fisik Mineral : Belahan

shddin 2008

(a) Belahan 1 arah pada mica.

(b) Belahan 2 arah saling tegak lurus pada feldspar.

(c) Belahan 3 arah saling tegak lurus pada halite.

(d) Belahan 3 arah tidak saling tegak lurus pada calcite.

Sifat Fisik Mineral : Belahan

shddin 2008

Gambar ini adalah sayatan tipis dari mineral amfibol (amphibole) berukuran ~1 cm, memperlihatkan dua bidang belahan yang bertemu pada sudut lancip.

Semua mineral amfibol akan memperlihatkan pola belahan seperti ini.

10

Sifat Fisik Mineral : Belahan

shddin 2008

Ini adalah contoh berukuran beberapa cm dari mineral yang sama, amfibol. Tampak bahwa menentukan belahan pada contoh mineral tidak selalu mudah.

Perhatikan dimana contoh tersebut pecah untuk kehadiran bidang-bidang belahan yang berulang.

Sifat Fisik Mineral : Belahan


Penting untuk diperhatikan: - Jumlah bidang belahan - Kualitas belahan - Sudut belahan Kalsit adalah mineral yang mudah pecah dalam 3 bidang yang tidak saling tegak lurus.

shddin 2008

11

Sifat Fisik Mineral : Bentuk Kristal

shddin 2008

Kristal seringkali memiliki bentuk tertentu. Contohnya: garnet (garnet) memiliki bentuk dodekahedra (12 sisi), pirit (pyrite) memiliki kubik (6 sisi).

Perhatikan bahwa tidak satu pun dari kedua mineral tersebut memiliki bidang belahan yang jelas. Meskipun struktur kristalnya membuat kristal dengan bentuk bangun yang berkembang baik, jika pecah kedua mineral tersebut tidak akan membelah pada bidang yang teratur.

Sifat Fisik Mineral : Bentuk Kristal

shddin 2008

Kristal suatu mineral berkembang dalam berbagai bentuk, beberapa diantaranya adalah: (a) Kristal kubik (6 sisi), misal: halit (halite), galena (galena), dan pirit (pyrite). (b) Kristal dodecahedral (12 sisi), misal: garnet (garnet). (c) Kristal oktahedral (8 sisi), misal: intan (diamond). (d) Kristal prisma terpancung piramida, misal: kuarsa (quartz).

12

Sifat Fisik Mineral : Bentuk Kristal

shddin 2008

Semua kristal turmalin (tourmaline) memiliki penampang trigonal membulat.

Sifat Fisik Mineral : Bentuk Kristal

shddin 2008

Sebagian menyebut bentuk kristalnya sebagai acicular (seperti jarum), radiating, prismatic (seperti tongkat), fibrous (seperti serat), globular (seperti balon), dan lain-lain

13

Sifat Fisik Mineral : Bentuk Kristal

shddin 2008

Beberapa mineral cenderung tidak memiliki bentuk kristal yang baik.

Malasit (malachite) atau hydrous Cu-carbonate cenderung membentuk agregasi kristal fibrous. Kenampakan bergelombang tergantung pada bagaimana cara memotong sampel.

Sifat Fisik Mineral : Bentuk Kristal

shddin 2008

Perak (silver) dan emas (gold) memiliki bentuk tidak beraturan, bahkan kadang berbentuk kawat yang tersusun oleh kristal-kristal kecil.

14

Sifat Fisik Mineral : Bentuk Kristal

shddin 2008

Suatu mineral dapat memiliki banyak bentuk kristal, contoh: kalsit (calcite).

Sifat Fisik Mineral : Bentuk Kristal

shddin 2008

Intan : telah dibentuk (dipotong, dihaluskan, dipoles).

Intan : original.

15

Sifat Fisik Mineral : Sudut Antar Muka Kristal


Semua kristal kuarsa (quartz), apa pun bentuk dan ukurannya, memiliki sudut antar muka (interfacial angles) tertentu dan konstan.

shddin 2008

Sifat Fisik Mineral : Sudut Antar Muka Kristal

shddin 2008

Tampak samping dan penampang 3 kristal kuarsa (quartz) yang memperlihatkan konsistensi sudut antar muka: (a) Kristal yang terbentuk sempurna, (b) Kristal berukuran besar, (c) kristal yang tidak berkembang baik.

16

Sifat Fisik Mineral


Warna : cahaya yang diteruskan dan yang dipantulkan. Cerat : warna mineral yang telah dihancurkan dalam bentuk bubuk. Kilap : kenampakan mineral dalam memantulkan cahaya.

shddin 2008

Sifat Fisik Mineral

shddin 2008

Hematit : kilap logam

Ortoklas : kilap non-logam.

17

Sifat Fisik Mineral

shddin 2008

(a) Grafit, dapat untuk menulis.

(b) Magnetit, bersifat magnetik.

(c) Kalsit, transparan dan refraksi ganda.

Sifat Fisik Mineral

shddin 2008

Retakan: bagaimana mineral pecah tidak mengikuti bidang belahan tertentu (seperti pecahan konkoidal pada kuarsa (quartz) dan gelas (glass)).

18

Sifat Fisik Mineral


Mineral seperti sulfur (sulphur) selalu berwarna kuning dan lembut.

shddin 2008

Polimorf

shddin 2008

Intan (diamond) dan grafit (graphite) terbentuk seluruhnya oleh karbon, namun keduanya memiliki sifat fisik yang sangat berbeda. Polimorf (polymorphs) adalah material dengan komposisi kimia yang sama namun berbeda struktur kristalnya.

19

Mineral-Mineral Silikat

shddin 2008

Kelompok mineral yang membentuk 95% kerak Bumi adalah silikat, sehingga mereka merupakan mineral pembentuk batuan (rock-forming minerals) yang paling penting. Beberapa mineral yang paling penting dalam kelompok silikat adalah: - Kuarsa (quartz) - Feldspar (feldspar) - Mika (mica) - Amfibol (amphibole) - Piroksen (pyroxene) - Olivin (olivine) - Garnet (garnet)

Unsur dan Mineral yang Banyak Dijumpai

shddin 2008

20

Rock Forming Minerals

shddin 2008

Mineral-Mineral Silikat
Bangun paling dasar dari kelompok mineral silikat adalah tetrahedron silika.

shddin 2008

Setiap tetrahedron dibentuk oleh sebuah atom silikon dikelilingi oleh empat atom oksigen. Kelompok ini memiliki muatan negatif -4, sehingga akan membuat ikatan dengan kation.
oxygen atoms
Secara sistematis berbentuk piramida

silicon atom at center

schematic representation

21

Mineral-Mineral Silikat
olivine, garnet

shddin 2008

tourmaline

In co cre m as pl in ex g ity

pyroxene group

amphibole group

mica group

Mineral-Mineral Silikat : Struktur Piroksen


Setiap tetrahedron silika dalam piroksen saling terikat satu sama lainnya, membentuk satu rantai panjang.

shddin 2008

metal cations (Fe, Mg, Ca)

the triangles represent silica tetrahedra, viewed from above

22

Mineral-Mineral Silikat : Struktur Amfibol


Jaringan silikat dalam amfibol dibentuk oleh dua rantai saling terhubung.

shddin 2008

the triangles represent silica tetrahedra, viewed from above

metal cations (Fe, Mg, Ca)

Mineral-Mineral Silikat : Struktur Mika

shddin 2008

Mika adalah silikat dengan struktur lembaran. Tetrahedra silikat bergabung membentuk lembaran 2-D.
metal cations (Fe, Mg, Ca) interlayer cations (Na, K, H2O)

side view

Masing-masing lembaran terikat secara lemah oleh lapisan kation.

view from above at silica layer

23

Mineral-Mineral Silikat : Silikat Kompleks

shddin 2008

Mineral kuarsa (quartz) memiliki bentuk jaring silikat yang paling kompleks, dimana setiap tetrahedron silika saling terhubungkan satu dengan lainnya secara rumit.

Ferromagnesian Silicates

shddin 2008

Common ferromagnesian silicates: (a) Olivine (b) Augite, a pyroxene group mineral; (c) Hornblende, an amphibole group mineral (d) Biotite mica.

24

Nonferromagnesian Silicates

shddin 2008

Common nonferromagnesian silicates: (a) Quartz (b) Potassium feldspar (orthoclase) (c) Plagioclase feldspar (d) Muscovite mica

Mineral-Mineral Silikat : Feldspar & Kuarsa

shddin 2008

Feldspar memiliki 2 belahan, berbentuk kristal balok.

Kuarsa tidak memiliki belahan, umumnya berbentuk kristal prismatik.

25

Mineral-Mineral Silikat : Feldspar & Kuarsa

shddin 2008

Struktur feldspar memiliki bidang-bidang ikatan lemah, yang membentuk belahan.

Struktur kuarsa tidak memiliki bidang dengan ikatan lemah, sehingga tidak ada belahan.

Ragam Kuarsa
(a) colorless quartz (b) smoky quartz (c) amethyst (d) agate (e) rose quartz

shddin 2008

26

Mineral-Mineral Silikat : Feldspar


Plagioklas (plagioclase) = Ca,Na feldspar Feldspar alkali (alkali feldspar) = K, Na feldspar

shddin 2008

Feldspar plagioklas menunjukkan striasi pada satu bidang belahnya, hal ini tidak pernah tampak pada feldspar alkali. Beberapa jenis plagioklas juga tampak berkilau.

Mineral-Mineral Non-Silikat

shddin 2008

Meski mineral-mineral kelompok silikat sangat penting, namun ada pula mineral-mineral lain yang juga penting dalam membentuk batuan. Kalsit calcite (CaCO3) penyusun batugamping dan marmer. Gipsum gypsum (CaSO4.2H2O) mineral evaporit yang umum dijumpai. Halit halite (NaCl) mineral evaporit yang umum dijumpai. Magnetit magnetite (Fe3O4) mineral minor yang banyak dijumpai dan sebagai bijih besi. Pirit pyrite (FeS2) mineral minor yang banyak dijumpai. Galena galena (PbS) bijih timbal. Grafit graphite (C) mineral minor yang banyak dijumpai.

27

Mineral Non-Silikat

shddin 2008

(a) Calcite (CaCO3) adalah mineral karbonat yang utama. (b) Galena (PbS) adalah mineral sulfida dan bijih timbal. (c) Gypsum (CaSO4.2H2O) adalah mineral sulfat yang utama. (d) Halite (NaCl) adalah contoh mineral kelompok halida.

Rock Forming Minerals

shddin 2008

Batuan beku granit tersusun utamanya oleh feldspar alkali dan kuarsa, sedikit feldspar plagioklas, dan mineral aksesoris seperti mika biotit. (a) Sampel setangan. (b) Fotomikrograf.

28

03. Batuan Beku MFS 1810

Salahuddin Husein

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2008

Magma
Batuan beku (igneous rock; dari Bahasa Latin: ignis = api) adalah batuan yang terbentuk langsung dari pembekuan magma. Magma adalah zat cair-liatpijar yang merupakan senyawa silikat dan ada di bawah kondisi tekanan dan suhu tinggi di dalam tubuh bumi (kerak atau mantel).

shddin 2008

Magma
Jenis Magma Basa (mafic) Intermediate Asam (felsic) Kandungan silika (%) 45 - 52 53 - 65 > 65

shddin 2008

Kelompok mineral Ferromagnesian silicates Campuran dari mineral kelompok asam dan basa Non-ferromagnesian silicates

Magma
Unsur-unsur utama (total 98.03%) penyusun magma: 45.20% Oksigen (O-2) Silikon (Si+4) 27.20% Aluminium (Al+3) 8.00% 5.80% Besi (Fe+2,+3) +2 Kalsium (Ca ) 5.06% +2 Magnesium (Mg ) 2.77% Sodium (Na+1) 2.32% +1 Potassium (K ) 1.68%

shddin 2008

Magma memiliki densitas lebih kecil daripada batuan di sekitarnya, sehingga magma cenderung naik ke atas menuju permukaan. Sebagian magma mengalir di permukaan sebagai lava, sebagian lagi dilontarkan dengan kuat ke udara sebagai material piroklastik (pyroclastic; dari Bahasa Yunani: pyro = api dan klastos = hancur).

Magma

shddin 2008

Lava yang keluar di permukaan tercatat memiliki kisaran temperatur 1000 1200 oC. Ketika St. Helens meletus di tahun 1980, material piroklastik yang dilontarkannya memiliki temperatur sekitar 300 420 oC, diukur saat 2 minggu setelah letusan! Magma memiliki sifat viskositas, atau resistensi untuk mengalir, yang dikontrol oleh kandungan silika. Mineral silika tersusun oleh jaringan tetrahedra dengan ikatan antar atom yang sangat kuat, sehingga sulit untuk bersifat mengalir. Semakin asam magma, semakin banyak mineral silika, semakin kental atau semakin tinggi viskositasnya. Sebaliknya magma basa; dimana pada letusan 1783 di Iceland pernah diukur pergerakan magmanya mencapai jarak 80 km.

Deret Reaksi Bowen

shddin 2008

Urutan kristalisasi dari mineral-mineral pembentuk batuan beku menyediakan kunci terhadap pemahaman sejarah pendinginan magma. Asumsi dasar: semua magma berasal dari magma induk basa.

Deret Reaksi Bowen

shddin 2008

Dalam deret diskontinyu (discontinuous branch), yang hanya tersusun oleh mineral ferro-magnesian silicates, satu mineral berubah menjadi mineral lainnya pada kisaran temperatur tertentu dengan melakukan reaksi terhadap sisa larutan magma. Bila pendinginan berlangsung terlalu cepat dimana mineral yang telah ada tidak sempat bereaksi seluruhnya dengan sisa magma, seringkali mineral tersebut memiliki rim (selubung) yang tersusun oleh mineral yang terbentuk sesudahnya. Misalkan: olivin dengan rim piroksen. Ketika biotit telah mengkristal, pada dasarnya semua besi dan magnesium di dalam larutan magma telah selesai dipergunakan untuk membentuk mineral. Berakhir pula deret diskontinyu.

Deret Reaksi Bowen

shddin 2008

Demikian pula dengan deret kontinyu (continuous branch), yang hanya dibangun oleh mineral fledspar plagioklas. Plagioklas kaya kalsium terbentuk lebih dahulu, untuk kemudian ketika temperatur turun akan bereaksi dengan sisa larutan magma membentuk plagioklas yang sedikit kaya sodium. Demikian seterusnya hingga semua kalsium dan sodium habis dipergunakan. Bila pendinginan terlalu cepat, akan terbentuk zoning pada plagioklas, dimana plagioklas kaya kalsium dikelilingi plagioklas kaya sodium.

Deret Reaksi Bowen

shddin 2008

Bila kedua deret tersebut telah selesai dan semua besi, magnesium, kalsium, dan sodium telah habis, idealnya yang tersisa di dalam larutan magma hanyalah potassium, aluminium, dan silika. Semua unsur sisa tersebut akan bergabung membentuk ortoklas potassium feldspar (KAlSi3O8). Jika tekanan air cukup tinggi, lembaran silika dalam bentuk mika muskovit akan terbentuk. Sisanya, larutan magma didominasi oleh silika dan oksigen, akan membentuk mineral kuarsa (SiO2). Kristalisasi feldspar potassium dan kuarsa bukanlah deret reaksi, karena mereka terbentuk saling independen.

Deret Reaksi Bowen

shddin 2008

Deret Reaksi Bowen

shddin 2008

Fotomikrograf dari kristal plagioklas terzonasi, inti kaya kalsium dikelilingi secara gradual oleh material kaya sodium. Magma yang mengandung kristal seperti ini mengalami proses pendinginan yang terlalu cepat untuk membiarkan transformasi sempurna dari plagioklas kaya kalsium menjadi plagioklas kaya sodium.

Proses Pembentukan Magma

shddin 2008

Secara global, magma muncul di permukaan pada dua zona: (1) zona pemekaran lempeng samudera, dan (2) zona penunjaman lempeng samudera. Gradien panas bumi (geothermal gradient) bertambah bila semakin dalam. Nilainya rata-rata 25 oC/km. Sehingga semakin dalam batuan semakin panas, namun tetap bersifat padat, karena suhu lelehnya juga meningkat dengan bertambahnya tekanan. Tetapi dibawah zona pemekaran lempeng, temperatur melebihi suhu leleh, karena tekanan berkurang akibat terbukanya lempeng. Ditambah lagi dengan adanya air laut yang masuk lewat retakan batuan turut mengurangi suhu leleh di bawah zona pemekaran, karena air membantu energi panas dalam memecahkan ikatan kimia dalam mineral.

Proses Pembentukan Magma

shddin 2008

(a) Suhu leleh meningkat dengan bertambahnya tekanan, sehingga penurunan tekanan pada suatu tubuh batuan panas dapat menyebabkan pelelehan. (b) Kurva leleh bergeser ke kiri ketika terdapat air yang membantu lepasnya ikatan kimia didalam mineral.

Proses Pembentukan Magma di Zona Pemekaran

shddin 2008

Magma yang terbentuk di zona pemekaran bersifat basa (45 52 % silika). Tetapi batuan mantel atas darimana magma berasal bersifat ultrabasa (<45 % silika), tersusun terutama oleh mineral-mineral silika ferromagnesian dan hanya sedikit mineral-mineral silika non-ferromagnesian. Penyebab perubahan komposisi dari batuan induk ultrabasa menjadi magma basa adalah proses pelelehan sebagian (partial melting), dimana hanya sebagian batuan induk saja yang meleleh membentuk magma. Partial melting dapat terjadi karena mineral-mineral penyusun suatu batuan memiliki suhu leleh yang berbeda satu dengan lainnya.

Proses Pembentukan Magma di Zona Pemekaran

shddin 2008

Mengacu pada reaksi Bowen, urutan mineral-mineral tersebut meleleh adalah terbalik dengan urutan kristalisasinya. Sehingga kuarsa, feldspar potassium, dan plagioklas kaya sodium, meleleh terlebih dahulu sebelum silika ferromagnesian dan plagioklas kaya kalsium. Sehingga ketika batuan ultrabasa mulai meleleh, mineral-mineral kaya silika meleleh terlebih dahulu, diikuti oleh yang kurang kandungan silikanya. Sehingga jika pelelehannya tidak sempurna, akan terbentuk magma basa yang lebih banyak kandungan silikanya daripada batuan induknya.

Proses Pembentukan Magma di Zona Penunjaman

shddin 2008

Magma yang terbentuk di zona pemekaran bersifat menengah (53 65 % silika) dan asam (>65 % silika), berasal dari batuan penyusun kerak samudera yang bersifat basa (45 52 % silika). Perubahan komposisi dari batuan induk basa menjadi magma menengah dan asam dapat dijelaskan dengan proses pelelehan sebagian (partial melting). Partial melting terjadi ketika lempeng samudera yang menunjam mencapai kedalaman tertentu dimana temperaturnya cukup tinggi untuk memulai pelelehan sebagian. Air laut yang sebagian terbawa oleh batuan kerak samudera hingga kedalaman tertentu menjadi terpanaskan dan mempercepat proses pelelehan dan pembentukan magma.

Proses Pembentukan Magma di Zona Penunjaman

shddin 2008

Pengayaan kandungan silika bukan hanya karena proses partial melting pada batuan kerak samudera yang basa, namun juga terjadi pada batuan sedimen kaya silika yang ikut terseret bersama-sama penunjaman lempeng samudera. Selain itu ketika magma naik menembus kerak benua, pengayaan (enrichment) karena reaksi magma dengan batuan sekitar yang kaya silika, semakin menambah asam magma yang terbentuk.

Proses Pembentukan Magma di Zona Penunjaman

shddin 2008

Perubahan Komposisi Magma

shddin 2008

Komposisi magma dapat berubah oleh pengendapan kristal (crystal settling), suatu proses yang melibatkan pemisahan mineral oleh pengendapan akibat gaya gravitasi. Olivin, mineral silikat feromagnesian pertama terbentuk dan berat jenis paling besar, cenderung tenggelam ke bagian bawah magma, membuat magma bagian atas lebih kaya silika, sodium, dan potassium. Observasi pada sill menunjukkan bagian dasarnya memang lebih banyak mengandung olivin dan piroksin dibandingkan bagian atas. Proses pengendapan kristal ini tidak efektif untuk menghasilkan magma asam, karena diperkirakan untuk membentuk suatu volume magma asam dibutuhkan magma basa 10 kali lebih banyak. Hal ini tidak dijumpai pada tubuh-tubuh batuan intrusi.

Perubahan Komposisi Magma

shddin 2008

Komposisi magma juga dapat berubah oleh asimilasi (assimilation), suatu proses dimana magma bereaksi dengan batuan di sekitarnya (disebut country rock). Bukti adanya asimilasi datang dari inklusi (inclusion), yaitu fragmen country rock yang masuk ke dalam suatu batuan beku yang menerobosnya. Meski asimilasi betul terjadi, namun proses ini diperkirakan tidak efektif untuk menghasilkan magma asam, karena proses asimilasi juga mempercepat dinginnya magma. Sehingga hanya sedikit saja jumlah batuan sekitar yang dapat berasimilasi dan merubah komposisi magma.

10

Perubahan Komposisi Magma

shddin 2008

Pembentukan Magma dan Tektonik Lempeng

shddin 2008

11

Batuan Beku

shddin 2008

Semua batuan beku intrusif dan hampir semua batuan beku ekstrusif terbentuk ketika mineral mengkristal dari magma. Proses kristalisasi melibatkan pembentukan inti kristal (nucleation) dan pertumbuhannya. Atom-atom di dalam magma bergerak secara konstan, namun ketika pendinginan terjadi beberapa atom bergabung membentuk kelompok kecil (disebut inti atau nuclei). Dengan bertambahnya atom yang bergabung dalam urutan yang tertentu, nuclei akan tumbuh menjadi kristal mineral. Dalam pendinginan yang cepat, kecepatan pembentukan nuclei melampaui kecepatan pertumbuhannya, menghasilkan kumpulan mineral-mineral berukuran halus. Dalam pendinginan yang lambat, kecepatan pertumbuhan nuclei melampaui kecepatan pembentukannya, menghasilkan mineralmineral yang berukuran besar.

Tekstur Batuan Beku

shddin 2008

Efek kecepatan pendinginan magma terhadap pembentukan dan pertumbuhan kristal: (a) pendinginan yang cepat menghasilkan butiran kristal kecil dan tekstur afanitik. (b) pendinginan yang lambat menghasilkan butiran kristal yang besar dan tekstur faneritik.

12

Tekstur Batuan Beku

shddin 2008

Aphanitic, tekstur butiran halus dimana mineral terlalu kecil untuk dilihat mata telanjang tanpa kaca pembesar.

Tekstur Batuan Beku

shddin 2008

Phaneritic, tekstur berbutir kasar dimana mineral dapat mudah terlihat mata telanjang tanpa kaca pembesar.

13

Tekstur Batuan Beku

shddin 2008

Porphyritic, tersusun oleh mineral-mineral dengan berbagai ukuran, dengan mineral berukuran besar yang disebut kristal sulung (phenocryst) dikelilingi mineral berukuran kecil yang disebut massa dasar (ground mass).

Tekstur Batuan Beku

shddin 2008

Tekstur gelasan (glassy texture) berkembang ketika magma mendingin dengan cepatnya sehingga perpindahan ion-ion untuk membentuk kristal terhambat. Tekstur gelasan umumnya terbentuk pada kerak aliran lava dan dalam magma cair.

14

Tekstur Batuan Beku

shddin 2008

Tekstur vesikular (vesicular texture) terbentuk ketika magma mengandung sejumlah gas dan uap air yang terperangkap ketika pendinginan magma berlangsung.

Tekstur Batuan Beku

shddin 2008

Tekstur piroklastik (pyroclastic texture) terbentuk ketika kristal, bongkah batuan dan gelas disemburkan dari kawah gunungapi sebagai abu panas. Material tersebut kemudian diendapkan sebagai jatuhan abu (ash fall) atau sebagai aliran abu (ash flow).

15

Klasifikasi Batuan Beku

shddin 2008

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Peridotit diduga merupakan batuan penyusun mantel atas. Lava ultrabasa paling muda berumur 2.5 milyar tahun. Batuan ultra basa: peridotite, tersusun sebagian besar oleh mineral olivine dan pyroxene.

16

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Basalt, tersusun oleh plagioclase, pyroxene, dan olivine.

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Basalt

17

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Porphyritic Basalt

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Gabbro, tersusun oleh pyroxene, plagioclase, dan olivine.

18

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Gabbro

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Andesite, tersusun oleh plagioclase, pyroxene, dan amphibole.

19

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Porphyritic Andesite

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Diorite, tersusun oleh plagioclase, amphibole, quartz, dan biotite.

20

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Diorite

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Porphyritic Diorite

21

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Rhyolite, tersusun oleh Kfeldspar, plagioclase, quartz, dan biotite.

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Rhyolite

22

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Granite, tersusun oleh K-feldspar, quartz, plagioclase, dan biotite.

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Granite

23

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Porphyritic Granite

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Pegmatite adalah istilah secara tekstur untuk batuan beku asam yang ukuran mineralnya sangat besar. Komposisi mineralnya mendekati granite, dengan ukuran butir mineralnya dapat mencapai lebih dari 3 cm.

24

Klasifikasi Batuan Beku Lainnya

shddin 2008

Tekstur

Komposisi Vesikular (vesicular) Gelasan (glassy) Piroklastik (pyroclastic)

Asam Pumice Obsidian

Basa Scoria

Volcanic breccia Tuff

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Obsidian

25

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Obsidian

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Pumice

26

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Pumice

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Scoria

27

Contoh Batuan Beku

shddin 2008

Tuff

Klasifikasi Batuan Beku

shddin 2008

Berdasarkan atas letak membekunya magma: 1. Batuan beku dalam (intrusive igneous rocks) concordant vs discordant 2. Batuan beku luar (extrusive igneous rocks)

28

Klasifikasi Batuan Beku

shddin 2008

Sill

Dike

29

03. Volkanisme dan Batuan Beku MFS 1810

Salahuddin Husein

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2008

Pendahuluan

shddin 2008

Legenda suku Indian Cheyenne tentang asal terbentuknya Devil's Tower.

Klasifikasi Batuan Beku

shddin 2008

Berdasarkan atas letak membekunya magma: 1. Batuan beku dalam (intrusive igneous rocks) concordant vs discordant 2. Batuan beku luar (extrusive igneous rocks)

Volkanisme

shddin 2008

Lava

shddin 2008

Aa lava

Pahoehoe lava

Lava

shddin 2008

Kilauea Volcano, Hawaii, USA

Lava

shddin 2008

Kekar tiang (columnar joint)

Letusan Gunungapi dan Terbentuknya Kaldera

shddin 2008

Monitoring Aktifitas Gunungapi

shddin 2008

Dampak Letusan Gunungapi

shddin 2008

Kota St. Pierre, Martinique, setelah hancur akibat terjangan awan panas (nue ardente) hasil letusan Gunung Pelee di tahun 1902. Hanya 2 orang dari 28.000 penduduk yang selamat.

Volkanisme dan Tektonik Lempeng

shddin 2008

G. Merapi

shddin 2008

G. Merapi

shddin 2008

Nue ardente - G. Merapi, Jawa Tengah

Top 10 Letusan Gunungapi


1. Siberia, Rusia (250 jtl) 2. Deccan, India (65 jtl) 3. Toba, Indonesia (75 rtl) 4. Yellowstone, USA (2 jtl) 5. Yellowstone, USA (600 rtl) 6. Yellowstone, USA (1.3 jtl) : 3 juta km3 : 1.5 juta km3 flood basalt flood basalt kaldera kaldera kaldera kaldera kaldera kaldera kaldera kaldera

shddin 2008

: 2800 km3 : 2500 km3

: 1000 km3 : 280 km3

7. Tambora, Indonesia (1815) : 150 km3 8. Mazama, USA (7,6 rtl) : 40 km3

9. Santorini, Yunani (1628 SM) : 30 km3 10. Krakatau (1883) : 18 km3

Catatan: Letusan Tambora (1815) menempati peringkat teratas (level 7) dalam rangking VEI (volcanic explosivity index; skala 0 8), yaitu suatu peringkat letusan gunungapi dunia tercatat semenjak tahun 1500 M. Letusan Krakatau (1883) berada dibawah Tambora, yaitu pada level 6.

Volcanic Explosion Index (VEI)


VEI 0 1 2 3 4 5 Tinggi Plume <100 m 100 - 1000 m 1 - 5 km 3 - 15 km 10 - 25 km >25 km Volume >1000 m3 Jenis Letusan Hawaiian Hawaiian / Strombolian Strombolian /Volcanian Volcanian Volcanian / Plinian Plinian Plinian / UltraPlinian Contoh Kilauea, berulang Stromboli, berulang Galeras 1992 Ruiz 1985 Galunggung 1822 St. Helens 1980

shddin 2008

Catatan

>10.000 m3 >1 juta m3 >10 juta m3 >100 juta >1 km3 m3

4.000 meninggal (lokal) 57 meninggal (lokal) 36.000 meninggal, sebagian besar akibat tsunami 12.000 meninggal (lokal), 80.000 kelaparan & meninggal (dunia), "Year without Summer" Diduga menyisakan 10.000 manusia di dunia

>25 km

>10 km3

Krakatau 1883

>25 km

>100 km3

Ultra-Plinian

Tambora 1815

>25 km

>1000 km3

Ultra-Plinian

Toba 73,000 ya

Toba Supervolcano

shddin 2008

Toba Supervolcano

shddin 2008

Toba Supervolcano

shddin 2008

Toba Supervolcano

shddin 2008

1. Sibandung caldera (73,000 ya): Young Toba Ash event. 2. Haranggaol caldera (500,000 ya): Middle Toba Ash event. 3. Sibandung caldera (800,000 ya): Old Toba Ash event.

Present-Day Toba Volcanic Landforms

shddin 2008

Grey area : topographic depressions. Green area : updomed areas V1 : Tandukbenua (Sipisopiso) active volcano V2 : Pusubukit active volcano D1 : Pardepur dacite domes D2 : Tuk-tuk rhyolite dome HS : Hot springs

10

Evolution of the Toba Post- Mega Eruption

shddin 2008

Bahaya Volkanisme

shddin 2008

11

Volkanisme dan Asal Mula Kehidupan

shddin 2008

Batuan beku tersusun oleh unsur-unsur oksigen (O), silika (Si), aluminium (Al), besi (Fe), kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), dan kalium (K). Gas volkanik tersusun oleh sebagian besar oleh uap air (>90%), sisanya disusun oleh unsur-unsur hidrogen (H), oksigen (O), karbon (C), sulfur (S), klorin (Cl), dan nitrogen (N). Gas-gas volkanik tersebut di permukaan Bumi bergabung untuk membentuk air (H2O), karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfida (H2S), karbon monoksida (CO), nitrogen (N2), hidrogen (H2), asam hidroklorik (HCl), dan metan (CH4). Senyawa gas-gas tersebut membentuk lautan, atmosfer, dan kehidupan.

12

04. Proses Sedimentasi dan Batuan Sedimen MFS 1810


Salahuddin Husein

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2008

Terbentuknya Batuan Sedimen


Proses terbentuknya batuan sedimen dari batuan yang telah ada sebelumnya. Material yang berasal dari proses pelapukan kimiawi dan mekanis, ditransportasikan dalam bentuk larutan dan padat, dan diendapkan sebagai sedimen, yang kemudian terlitifikasi menjadi batuan sedimen.

shddin 2008

Pelapukan

shddin 2008

Pelapukan (weathering) adalah proses hancurnya fisik batuan (disintegrasi) dan perubahan kimiawi (dekomposisi) batuan dan mineral pada atau di dekat permukaan bumi.

Differential weathering: terjadi karena batuan berbeda dalam komposisi dan struktur yang menyebabkan perbedaan tingkat kecepatan pelapukan. Pelapukan terdiri dari 2 jenis: 1. Pelapukan mekanis 2. Pelapukan kimiawi

Pelapukan Mekanis

shddin 2008

Pelapukan mekanis terjadi bila gaya-gaya fisika memecahkan material batuan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil dengan masih mempertahankan komposisi kimia batuan induknya. Proses pelapukan mekanis meliputi: 1. Pembekuan es (frost action) 2. Pelepasan tekanan (pressure release) 3. Pemuaian dan penyusutan panas (thermal expansion and contraction) 4. Pertumbuhan kristal garam (salt crystal growth) 5. Aktifitas organisme

Pelapukan Mekanis akibat Pembekuan Es

shddin 2008

Pelapukan akibat pembekuan es terjadi ketika air meresap masuk kedalam bidang retakan dan mengembang ketika membeku. Pecahanpecahan batuan akan terbentuk ketika proses tersebut terjadi berulangkali.

Pelapukan Mekanis akibat Pelepasan Tekanan

shddin 2008

Kekar lembaran pada granit terbentuk ketika erosi menghilangkan batuan penutup dan menghilangkan gaya tekan yang ada. Batuan kemudian mengembang dan retakan-retakan yang sejajar bidang permukaan terbentuk. Proses seperti ini juga seringkali terjadi dalam proses penambangan (rock burst) yang membahayakan jiwa para penambang.

Pelapukan Mekanis akibat Pemuaian dan Penyusutan

shddin 2008

Batuan merupakan konduktor panas yang jelek, sehingga bila terkena panas permukaan batuan akan lebih memuai daripada bagian dalamnya, mengakibatkan permukaan batuan mengalami keretakan. Mineral berwarna gelap lebih menyerap panas dibandingkan dengan mineral berwarna cerah, menyebabkan heterogenitas tingkat pemuaian antar mineral dalam suatu batuan.

Pelapukan Mekanis akibat Kristal Garam

shddin 2008

Air yang mengandung garam meresap kedalam kayu, dan ketika airnya menguap garam yang tertinggal mengembang dan memecahkan seratserat kayu.

Pelapukan Mekanis akibat Organisme

shddin 2008

Jamur Akar pepohonan

Pelapukan Kimiwi
Pelapukan kimiwai terjadi ketika material batuan mengalami perubahan komposisi (dekomposisi) oleh reaksi kimiawi. Umumnya ada 3 proses pelapukan kimiawi: 1. Solusi Ca+2 + 2HCO3contoh: CaCO3 + H2O + CO2 Kalsit Air Karbon ion ion dioksida kalsium bikarbonat 2. Oksidasi contoh: 4Fe + 3O2 Besi Oksigen 2Fe2O3 Oksida besi (Hematit)

shddin 2008

3. Hidrolisa contoh: 2KAlSi3O8 + 2H+ + 2HCO3+ H2O Ortoklas ion ion air hidrogen bikarbonat Al2Si2O5(OH)4 + 2K+ + 2HCO3- + 4SiO2 Lempung ion ion silika (Kaolin) potassium bikarbonat

Pelapukan Kimia akibat Solusi

shddin 2008

Ketika pelarutan (solusi) terjadi, ion-ion suatu materi terpisah dalam suatu cairan, dan material padat menjadi larut. Air merupakan pelarut yang efektif karena bentuk molekulnya yang asimetris, mempunyai muatan listrik positif pada ujung atom hidrogen dan muatan listrik negatif pada ujung oksigen. Diagram dibawah menunjukkan proses pelarutan (disolusi) sodium khlorida (NaCl) di dalam air.

Faktor Pengontrol Tingkat Pelapukan Kimiawi

shddin 2008

Pelapukan kimiawi bekerja pada permukaan batuan, dimana prosesnya berjalan dari luar ke arah dalam. Beberapa faktor yang mengontrol tingkat kecepatan pelapukan kimiawi adalah: 1. Ukuran partikel 2. Iklim 3. Jenis material induk

Ukuran Partikel dan Tingkat Pelapukan

shddin 2008

Ketika batuan terbelah menjadi bongkah-bongkah berukuran kecil, luas permukaannya bertambah namun volumenya tetap. Semakin luas permukaan suatu batuan, semakin intensif proses pelapukan yang dialaminya.

Iklim dan Tingkat Pelapukan

shddin 2008

Material Induk dan Tingkat Pelapukan

shddin 2008

Pelapukan Membola

shddin 2008

(a) Pelapukan membola terjadi ketika tubuh batuan terbelah-belah oleh bidang kekar dan mengalami proses pelapukan kimia. (b) Proses pelapukan kimia tersebut berjalan paling intensif pada bagian sudut dan tepi bongkah. (c) Ketika suatu bongkah telah terlapukkan menjadi bola, seluruh permukaannya akan mengalami proses perlapukan dengan intensitas yang sama dan tidak akan ada lagi perubahan bentuk; yang berubah hanyalah ukuran bolanya saja yang terus mengecil.

Tanah
Tebal dan tipisnya tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: 1. Jenis batuan induk (komposisi mineral batuan induk) 2. Relief topografi permukaan bumi 3. Iklim 4. Organisme 5. Waktu

shddin 2008

Ketebalan Tanah

shddin 2008

Dikontrol oleh jenis batuan induk; granit lebih mudah lapuk dibandingkan dengan kuarsit, sehingga tanahnya pun lebih tebal.

Dikontrol oleh relief topografi; lereng perbukitan yang curam tidak akan mampu menahan tanahnya dari gerakan massa, sehingga tanahnya pun lebih tipis, bila dibandingkan dengan dataran.

Ketebalan Tanah

shddin 2008

Diagram pembentukan tanah sebagai fungsi dari iklim dan tumbuhan; proses tersebut berlangsung intensif bila curah hujan dan suhu relatif tinggi.

Terbentuknya Batuan Sedimen


Proses terbentuknya batuan sedimen dari batuan yang telah ada sebelumnya. Material yang berasal dari proses pelapukan kimiawi dan mekanis, ditransportasikan dalam bentuk larutan dan padat, dan diendapkan sebagai sedimen, yang kemudian terlitifikasi menjadi batuan sedimen.

shddin 2008

10

Butiran Sedimen
Butiran (partikel) sedimen dibedakan berdasarkan ukurannya. Skala Wentworth paling banyak dipergunakan:

shddin 2008

Transportasi Sedimen
Butiran partikel sedimen dipindahkan oleh agen transportasi sedimen: 1. Air 2. Angin 3. Glasial

shddin 2008

Selama proses transportasi, setiap butiran sedimen mengalami: 1. Abrasi yang mengurangi ukuran partikel dan menghaluskan permukaan butiran (rounded) 2. Sortasi (distribusi ukuran butir dalam satu kumpulan butiran sedimen)

11

Transportasi Sedimen

shddin 2008

Sifat pembulatan (rounding) dan pemilahan (sorting) butiran sedimen. (a) well-sorted, well-rounded gravel. (b) poorly sorted, angular gravel. Semakin jauh jarak transportasi, semakin kecil ukuran partikel sedimen dan semakin halus permukaan partikel tersebut (well-rounded). Semakin tinggi dan lama durasi kerja energi agen transportasi, semakin seragam/tersortasi ukuran butiran sedimen (well-sorted).

Proses Litifikasi

shddin 2008

Proses litifikasi adalah proses perubahan sedimen menjadi batuan sedimen. Litifikasi melibatkan dua proses: 1. Kompaksi (pemadatan), melibatkan proses pembebanan dan dapat mengurangi volume hingga 40% (untuk sedimen lumpur). 2. Sementasi (penyemenan), melibatkan senyawa terlarut yang meresap melalui medium air kedalam rongga antar sedimen, umumnya terdiri dari: - Kalsium karbonat (CaCO3) - Silika (SiO2) - Oksida besi (Fe2O3) hematit - Hidroksida [FeO(OH)] limonit Kompaksi berlaku efektif untuk butiran sedimen berukuran lumpur, sedangkan untuk yang berukuran pasir dan yang lebih besar lagi memerlukan sementasi.

12

Proses Litifikasi

shddin 2008

Klasifikasi Batuan Sedimen

shddin 2008

13

Klasifikasi Batuan Sedimen

shddin 2008

Batuan sedimen detrital tersusun oleh detritus (partikel padat dari batuan yang telah ada sebelumnya). Detritus sering pula disebut dengan nama klastika (yang berarti partikel), sehingga jenis batuannya diidentifikasi memiliki tekstur klastik. Batuan sedimen kimiawi berasal dari senyawa terlarut hasil dari pelapukan kimiawi, dimana aktifitas kimiawi anorganik maupun organik mengekstraksi senyawa tersebut dan merubahnya menjadi mineral padat. Batuan sedimen kimiawi yang dihasilkan oleh aktifitas organisme lazim disebut sebagai batuan sedimen bio-kimiawi.

Contoh Batuan Sedimen

shddin 2008

Konglomerat

Breksi

14

Contoh Batuan Sedimen

shddin 2008

Batupasir

Batulempung

Contoh Batuan Sedimen

shddin 2008

Ooid

Batu kapur

Coquina

Batugamping

15

Contoh Batuan Sedimen

shddin 2008

Batu gipsum

Batu garam

Batu rijang

Batubara

Contoh Struktur Sedimen

shddin 2008

Current ripple marks

Wave ripple marks

16

Contoh Struktur Sedimen

shddin 2008

Mud cracks

Fosil dalam Batuan Sedimen


Fosil Dinosaurus

shddin 2008

Fosil Manusia?

Fosil Pepatung

Fosil Trilobita

17

Lingkungan Sedimentasi

shddin 2008

Hampir semua sedimen bergerak dari pegunungan menuju lautan, sehingga lingkungan sedimentasi dapat dibedakan menjadi 3 kelompok: daratan, pesisir/transisi, dan laut.

Lingkungan Sedimentasi Glasial

shddin 2008

Glasier dapat membawa bongkah batuan besar, kerakal, pasir, dan lumpur bersamasama dengan es. Material-material tersebut sebenarnya diendapkan di tepi glasier ketika es mencair (A) . Sedimen yang dihasilkan umumnya tidak terpilah dan tidak berlapis, dengan butiran sedimen berbentuk runcing-runcing yang terendapkan diatas batuan dasar yang tergerus dan terpoleskan (B). Sungai yang kemudian terbentuk dari cairan es dapat bekerja memilah endapan glasial dan mengendapkannya disekitar tubuh glasier sebagai endapan yang terpilah dan berlapis.

18

Lingkungan Sedimentasi Kipas Aluvial

shddin 2008

Lingkungan pengendapan ini umumnya berkembang di kaki pegunungan, dimana air kehilangan energinya untuk membawa sedimen ketika melintasi dataran (A). Banjir bandang yang terjadi sangat cepat merupakan faktor penting dalam proses sedimentasi di lingkungan ini, yang mengendapkan sedimen-sedimen berukuran besar (B).

Lingkungan Sedimentasi Eolian

shddin 2008

Angin adalah agen pemilah butiran sedimen yang sangat efektif. Lempung dan debu dibawa dalam jarak puluhan atau ratusan kilometer sebelum diendapkan. Pasir dipilah dan ditransportasikan dekat dengan permukaan tanah. Gravel tidak dapat dibawa secara efektif oleh angin. Proses utama di lingkungan ini adalah pergerakan gumuk pasir (A). Pasir ditiup melintasi gumuk dan diendapkan di sebaliknya, membentuk struktur silang-siur dengan arah kemiringan mengikuti arah angin (B).

19

Lingkungan Sedimentasi Eolian

shddin 2008

Parangtritis, DIY

Lingkungan Sedimentasi Sungai

shddin 2008

Sungai merupakan saluran transportasi dimana material hasil erosi dibawa dari daratan menuju lautan. Sebelum mencapai lautan, hampir semua sungai berkelok-kelok di sepanjang dataran (A) dan mengendapkan sebagian besar sedimen. Pada lingkungan ini, sedimentasi terjadi di dasar sungai, pada gosong sungai, dan pada dataran limpas banjir. Endapan sungai umumnya dicirikan oleh tubuh channel pasir atau gravel yang memotong perlapisan horisontal lanau dan lempung (B).

20

Lingkungan Sedimentasi Delta

shddin 2008

Salah satu lingkungan sedimentasi terbesar terjadi ketika aliran sungai memasuki lautan dan mengendapkan sebagian besar sedimennya pada lingkungan delta. Umumnya delta sangat kompleks dan tersusun dari banyak lingkungan pengendapan lainnya, seperti pantai, gosong laut, laguna, rawa, sungai, dan danau (A). Karena delta merupakan gabungan dari lingkungan darat dan laut, banyak jenis sedimen yang dihasilkannya dengan didominasi oleh pasir, lanau dan lempung (B).

Lingkungan Sedimentasi Pantai

shddin 2008

Banyak sedimen terakumulasi di daerah pertemuan darat dan laut, yang biasa disebut daerah transisi. Dalam lingkungan pesisir ini, hadir pula banyak sub-lingkungan sedimentasi seperti pantai, gosong, laguna, dan dataran pasang-surut, masing-masing dengan ciri tersendiri. Ketika gelombang bekerja dengan kuat, lumpur terbawa jauh dan hanya pasir serta kerikil saja yang diendapkan sebagai pantai atau gosong (A). Umumnya endapan pantai berciri terpilah dengan baik, berbentuk bundar, dan umumnya berlapis dalam perlapisan yang miring landai (B).

21

Lingkungan Sedimentasi Laguna

shddin 2008

Gosong laut dan terumbu karang dapat mengisolasi sebagian perairan pesisir, membentuk laguna. Karena laguna terlindungi dari energi gelombang yang tinggi, airnya relatif tenang (A). Sedimen berukuran halus, kaya akan bahan organik, terendapkan sebagai lumpur hitam atau batubara. Bila laguna terisi penuh sedimen, maka rawa akan berkembang. Pergerakan turun dan naiknya air laut dapat menggeser posisi gosong penghalang, sehingga endapan batubara hadir berselang-seling dengan endapan pasir (B).

Lingkungan Sedimentasi Dataran Pasang-surut

shddin 2008

Lingkungan dataran pasang-surut sangat unik, karena terbentuk dari saling pergantian dari lingkungan laut dangkal dan daratan (A). Energi arus pasang-surut tidak begitu kuat, sedimen yang mampu dibawa umumnya lumpur dan pasir, serta struktur ripple hadir di atas permukaan yang luas. Struktur mud crack umumnya terbentuk ketika air surut. Endapan dataran pasang-surut dicirikan oleh tumpukan lumpur dan pasir dalam lapisan horisontal (B) serta memiliki banyak struktur ripple dan mud crack.

22

Lingkungan Sedimentasi Terumbu

shddin 2008

Terumbu karang adalah struktur dinding padat dari kalsium karbonat yang disusun oleh kerangka binatang laut, umumnya koral. Bentuknya berupa dinding dengan lereng yang terjal menghadap laut lepas (A). Gelombang dapat memecahkan sebagian dari dinding tersebut dan bongkahnya terkumpul di kaki dinding. Penurunan dasar laut secara perlahan menyebabkan terumbu dapat tumbuh mencapai ketebalan lebih dari 1000 m (B). Karena terumbu memiliki toleransi ekologis yang terbatas (koral memerlukan lingkungan laut dangkal yang hangat), endapan terumbu adalah indikator lingkungan purba yang baik.

Lingkungan Sedimentasi Terumbu

shddin 2008

Parangtritis, DIY

Baron, DIY

23

Lingkungan Sedimentasi Laut Dangkal

shddin 2008

Laut dangkal membatasi semua daratan (A) dan sedimen yang terendapkan sangat tergantung pada kondisi lokal, seperti iklim, energi gelombang, sirkulasi air, dan suhu. Bila suplai sedimen dari daratan cukup, pasir dan lumpur akan terendapkan. Bila sedimen daratan tidak banyak, batugamping akan berkembang. Endapan laut dangkal dicirikan oleh perselingan batupasir, batulempung dan batugamping yang tipis-tipis (B).

Lingkungan Sedimentasi Laut Dalam

shddin 2008

Di lingkungan laut dalam, pengendapan sebagian besar disebabkan oleh arus turbit, yang dicirikan oleh endapan dengan struktur perlapisan gradasi. Endapan lainnya adalah lumpur berwarna merah atau coklat yang diendapkan dari suspensi di air laut yang membawa banyak lumpur dan organisme mikroskopis.

24

Lingkungan Sedimentasi Laut Dalam

shddin 2008

Pergerakan arus turbidit pada lereng laut dalam dapat dipicu oleh longsor atau gempabumi. Sedimen bergerak dalam suspensi, dan ketika arus melemah, material berbutir kasar diendapkan pertama dan diikuti oleh material berbutir halus. Lumpur perlahan-lahan terendapkan ketika arus telah berhenti. Satu kali proses tersebut akan menghasilkan struktur gradasi lapisan.

Siklus Naik-Turun Air Laut

shddin 2008

Lautan berkembang ke arah daratan. Garis pantai ditandai oleh endapan pasir yang berubah menjadi lumpur dan karbonat ke arah laut. Lautan semakin berkembang ke arah daratan, mengendapkan lapisan pasir yang ditutupi oleh lumpur dan karbonat.

Semakin berkembang laut, lumpur diendapkan diatas pasir pada garis pantai mula-mula. Ketika air laut susut, pasir diendapkan diatas lumpur. Sehingga urutan vertika endapan yang terbentuk adalah pasir, lumpur, karbonat, dan pasir.

Tersingkapnya urutan transgresi-regresi (naik-turunnya air laut) memperlihatkan siklus batupasir, batulempung, batugamping, dan batupasir.

25

Interpretasi Lingkungan Sedimentasi

shddin 2008

Interpretasi lingkungan pengendapan berdasarkan pada jenis batuan sedimen dan hubungan vertikal dan lateralnya. Urutan lingkungan pengendapan pada diagram diatas adalah: kipas aluvial, sungai, rawa, laguna, pantai, dan laut dangkal. Urutan batuan yang terbentuk adalah: konglomerat, batupasir, batulempung, batubara, dan batugamping. Mereka terbentuk dalam urutan vertikal ketika setiap lingkungan bergerak maju dan mundur mengikuti kembang-susut air laut dalam kurun waktu tertentu.

26

05. Metamorfisme dan Batuan Metamorf MFS 1810


Salahuddin Husein

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2008

Pendahuluan

shddin 2008

Batuan metamorfik adalah batuan yang telah berubah karena bertambahnya tekanan dan temperatur (Katili dan Marks, 1963; hal. 90). Batuan metamorfik mengalami perubahan mineralogik dan struktur oleh metamorfisme dan terjadi langsung dari fase padat tanpa melalui fase cair (Turner, 1954; dalam Williams dkk., 1954; hal. 161-162). Bahasa Yunani: meta = terubah dan morpho = bentuk

Agen Metamorfisme

shddin 2008

Tekanan

Temperatur

Fluida

Faktor Tekanan

shddin 2008

(a) Tekanan litostatis berlaku seragam ke segala arah di kerak bumi yang disebabkan oleh berat pembebanan batuan diatasnya. Sehingga, tekanan bertambah seiring kedalaman. (b) Gelas styrofoam berukuran 200 ml diturunkan kedalam samudera pada kedalaman 750 m dan 1500 m. Pertambahan tekanan di segala arah yang dialami oleg gelas tersebut menyebabkan berkurangnya volume namun dengan tetap mempertahankan bentuk dasarnya.

Faktor Tekanan

shddin 2008

Selain tekanan litostatis, batuan juga mengalami stress diferensial (directed pressure) akibat proses deformasi batuan selama pembentukan pegunungan.

Granit Ketika tekanan diterima secara non-homogen, satu dimensi akan menerima stress lebih besar dari yang lain. Gneiss

Faktor Tekanan

shddin 2008

Rekristalisasi mineral dalam stress diferensial selalu berhubungan dengan minimalisasi energi dan pertumbuhan yang tegaklurus terhadap arah stress maksimum.

Faktor Tekanan

shddin 2008

Mineral pada batuan granit mengkristal dari larutan magma tanpa dipengaruhi oleh tekanan. Kristal mineral tumbuh bebas ke segala arah. Mineral mika pada batuan gneiss tumbuh tegak lurus terhadap arah stress maksimum. Granit termetamorfosa dan mengembangkan foliasi menjadi gneiss.

Faktor Tekanan

shddin 2008

Tekanan diferensial bersifat tidak merata ke segala arah, menyebabkan batuan mengalami distorsi, seperti garnet terpuntir pada gambar di samping.

Faktor Temperatur

shddin 2008

Panas merupakan agen metamorfisme yang penting karena fungsinya untuk meningkatkan kecepatan reaksi kimia yang akan menghasilkan mineral baru. Panas didalam proses metamorfisme berasal dari 2 sumber: 1. Tubuh magma intrusif 2. Gradien geotermal akibat penimbunan (~250C/km)

Faktor Fluida

shddin 2008

Dalam proses metamorfisme, fluida berupa air (H2O) hampir selalu hadir dalam jumlah bervariasi diantara butiran mineral atau di lubang pori bebatuan. Fluida tersebut, yang umumnya mengandung ion terlarut, mempercepat proses metamorfisme dengan cara meningkatkan kecepatan reaksi kimia. Ada 3 sumber air yang terlibat dalam proses metamorfisme: 1. Air terjebak didalam pori batuan ketika batuan tersebut terbentuk. 2. Cairan volatil dari magma. 3. Hasil proses dehidrasi dari mineral jenuh air seperti gipsum (CaSO4.H2O).

Faktor Fluida

shddin 2008

Reaksi air dengan batuan sekitar juga bisa membentuk mineral baru dalam kondisi tekanan dan temperatur tertentu, seperti: 2Mg2SiO4 + 2H2O Mg3Si2O5(OH)4 + MgO Olivine Air Serpentin terbawa dalam larutan

Jenis Metamorfisme

shddin 2008

Dikenal 3 jenis metamorfisme: 1. Metamorfisme kontak, dimana panas magmatik dan fluida sangat berperan, 2. Metamorfisme dinamik, yang dihasilkan oleh tekanan tinggi selama deformasi batuan, dan 3. Metamorfisme regional, umumnya terbentuk pada daerah yang luas dan terkait dengan proses pembentukan pegunungan. Seringkali batas ketiganya tidak begitu tegas, tergantung pada agen metamorfisme mana yang paling dominan.

Metamorfisme Kontak

shddin 2008

Metamorfisme kontak berlangsung ketika suatu tubuh magma merubah batuan yang telah ada disekelilingnya. Faktor-faktor yang penting: 1. Temperatur mula-mula tubuh magma (secara tidak langsung terkait komposisi: magma basa lebih panas dibandingkan magma asam), 2. Ukuran intrusi, 3. Kandungan fluida magma dan/atau batuan disekelilingnya. Seringkali pada fase akhir pendinginan, ketika suatu tubuh intrusi magma mulai mengkristal, sejumlah besar fluida panas dilepaskan. Larutan fluida tersebut bereaksi dengan batuan disekelilingnya dan menghasilkan mineral-mineral metamorfik baru. Proses ini lazim disebut alterasi hidrotermal dan seringkali menghasilkan mineral bernilai ekonomis tinggi.

Metamorfisme Kontak

shddin 2008

Pengaruh temperatur suatu intrusi terhadap batuan disekelilingnya dan reaksi kimia yang dihasilkannya menghasilkan zona konsentris yang disebut aureoles.

Metamorfisme Dinamik

shddin 2008

Metamorfisme dinamik terjadi akibat pergerakan patahan dimana batuan terkena tekanan diferensial yang tinggi di sepanjang zona patahan. Batuan hasil metamorfisme dinamik adalah milonit, bersifat keras, padat, berbutir halus dan dicirikan oleh laminasi tipis.

Sayatan tipis Foto singkapan

Metamorfisme Regional

shddin 2008

Hampir sebagian besar batuan metamorf dihasilkan oleh proses jenis ini, yang umumnya terjadi di sepanjang batas lempeng konvergen. Proses ini membentuk gradasi intensitas metamorfisme dari daerah yang terkena tekanan dan temperatur tinggi menuju daerah yang hanya terkena tekanan dan temperatur rendah. Tingkatan metamorfisme tersebut dapat diidentifikasi berdasarkan mineral indeks. Contohnya: Mineral indeks dalam proses metamorfisme pada batuan yang kaya-lempung: klorit biotit garnet staurolit kyanit silimanit
(200OC) (>500OC)

Metamorfisme Regional

shddin 2008

Perubahan mineral indeks relatif terhadap tekanan dan temperatur dalam metamorfisme regional pada batuan serpih.

Metamorfisme Regional
Kurva keseimbangan Al2SiO5

shddin 2008

Andalusit

Kyanit

Silimanit

Metamorfisme Regional

shddin 2008

Klasifikasi Batuan Metamorf

shddin 2008

10

Klasifikasi Batuan Metamorf

shddin 2008

Nama batuan metamorf dapat mengacu pada protolith (batuan asal) atau pada tingkatan metamorfisme. Mineral baru yang lebih besar dari mineral sekitarnya disebut porfiroblas (porphyroblasts).

Klasifikasi Batuan Metamorf

shddin 2008

Sekis, difoto tegaklurus bidang foliasi, memperlihatkan lineasi kristal biotit (porfiroblas).

11

Klasifikasi Batuan Metamorf

shddin 2008

Muskovit

Garnet Biotit Kuarsa

Sayatan tipis dari sekis (slide sebelumnya) yang dipotong tegaklurus bidang foliasi. Porfiroblas garnet berbentuk butiran sedangkan biotit berbentuk pipih dan ikut membentuk foliasi dan lineasi. Matriks tersusun oleh kuarsa dan muskovit.

Tekstur Batuan Metamorf

shddin 2008

Sekis mika (tekstur foliasi)

Kuarsit (tekstur nonfoliasi)

Kedua foto diatas adalah foto sayatan tipis dengan diameter 3 mm.

12

Contoh Batuan Metamorf

shddin 2008

Slate: batuan metamorfik terfoliasi yang berbutir halus. Bidang foliasi umumnya memotong bidang perlapisan batuan asal.

Schist: batuan metamorfik terfoliasi kuat dengan kandungan mineral pipih yang melimpah, umumnya terdiri dari mineral muskovit atau khlorit.

Contoh Batuan Metamorf

shddin 2008

Gneiss: bidang foliasinya disusun oleh perselangselingan lapisan berwarna terang (umumnya mineral feldspar dan kuarsa) dan lapisan berwarna gelap (mineral silika basa).

Quartzite: batuan metamorfik non-foliasi yang berasal dari batupasir kaya kuarsa.

13

Contoh Batuan Metamorf

shddin 2008

Metaconglomerate: seringkali memperlihatkan butiran yang terlonjongkan.

Marble: batugamping yang mengalami rekristalisasi selama proses metamorfisme, banyak mengandung mineral kalsit.

Metamorfisme Progresif pada Shale


shale

shddin 2008

slate

schist

phyllite

14

Transisi dari Shale menjadi Slate

shddin 2008

Kedua batuan berbutir sangat halus. Metamorfisme dan deformasi menyebabkan mineral lempung rekristalisasi menjadi mika dan reorientasi dalam bidang planar membentuk slaty cleavage. shale slate

1 mm

1 mm

Slaty Cleavage

shddin 2008

Slaty cleavage umumnya tidak sejajar terhadap bidang perlapisan.

15

Transisi dari Slate menjadi Phyllite

shddin 2008

Mika terus rekristalisasi dan tumbuh membesar (meski belum tampak tanpa alat bantu visual). Tekstur batuan menjadi tidak planar sempurna. Phyllite dalam contoh setangan tampak bergelombang dan bercahaya. slate phyllite

1 mm

1 mm

Transisi dari Phyllite menjadi Schist

shddin 2008

Proses rekristalisasi membuat mika, kuarsa dan feldspar berukuran cukup besar untuk tampak dalam contoh setangan. Batuan terfoliasi sangat kuat karena dominasi mika dan umumnya memiliki porfiroblas garnet dan silika alumina. phyllite schist

1 mm

1 mm

16

Transisi dari Schists menjadi Gneiss

shddin 2008

Pada tekanan dan temperatur yang tinggi, mika mulai berubah dan membentuk mineral garnet, feldspar dan silika alumina. Proses tersebut dipengaruhi pula oleh perbedaan mekanika antara mika dan kuarsa + feldspar yang menghasilkan pita-pita gneiss. schist gneiss

1 mm

1 cm

Metamorfisme Progresif pada Shale

shddin 2008

17

Protolith

shddin 2008

Kuarsit dihasilkan oleh metamorfisme pada batupasir kuarsa.

Marmer dihasilkan oleh metamorfisme pada batugamping.

Batugamping vs Marmer

shddin 2008

Hampir semua batugamping berwarna suram sedangkan marmer cerah dengan beberapa cerat warna. Warna suram pada batugamping berasal dari material klastik (lempung) pengotor dan material organik. Proses metamorfisme menghilangkan material organik (sebagai volatil), mencerahkan warna batuan, dan lempung terkristalisasi menjadi mineral baru dengan pola cerat.

18

Batupasir vs Kuarsit
Mengapa kuarsit lebih keras daripada batupasir? Batupasir

shddin 2008

Kuarsit

Batupasir vs Kuarsit

shddin 2008

Butiran dalam batupasir direkatkan oleh semen, yang biasanya lemah. Ketika terkena proses metamorfisme, yang pertama hilang adalah semen.

Selanjutnya, butiran menjadi seperti terlas-kan, menjadikannya kerangka padat yang saling mengunci.

19

Preservasi Struktur Protolith

shddin 2008

meta-shale

meta-sandstone

Metamorfisme terhadap perselingan shale dan batupasir ini masih memperlihatkan struktur sedimen.

Metakonglomerat

shddin 2008

Dalam stress yang sangat tinggi, semua material akan terdeformasi, termasuk fragmen-fragmen dalam konglomerat.

20

Metakonglomerat

shddin 2008

Batuan yang berbeda jenis memiliki respon yang berbeda terhadap stress. Fragmen granit masih tetap bulat, sedangkan fragmen klastika volkanik menjadi memanjang.

Protolith Batuan Beku

shddin 2008

Pada metamorfisme derajat rendah, gelas dan feldspar dalam batuan volkanik akan rekristalisasi menjadi klorit (mika hijau), dimana batuan yang dihasilkan disebut greenstone. Pada metamorfisme derajat menengah hingga tinggi, batuan beku basa (ekstrusif dan intrusif) menghasilkan batuan metamorf berbutir kasar yang disebut sebagai amfibolit (amphibolite). Amfibolit sebetulnya adalah gneiss yang didominasi oleh mineral amfibol. Pada derajat tinggi, amfibolit juga mengandung garnet. Batuan beku menengah dan asam yang berbutir kasar akan rekristalisasi membentuk gneiss, yang teksturnya mirip dengan gneiss produk metamorfisme tingkat tinggi dari shale.

21

Greenstone

shddin 2008

Plagioklas feldspar (p) sebelumnya kaya Ca namun rekristalisasi menjadi kaya Na dalam matriks (m) klorit, mineral mika Mg yang berukuran lempung.

Formasi Catoctin, Virginia, ~570 Myr old basaltic lava.

Amfibolit

shddin 2008

Greenstone yang mengalami metamorfisme pada tingkatan lebih tinggi akan menjadi amfibolit.

22

Protolith Batuan Beku di Zona Subduksi

shddin 2008

Zona subduksi adalah tempat eksklusif untuk mendapatkan metamorfisme tekanan tinggi dalam temperatur rendah. Batuan beku basalt yang menyusun kerak samudera akan berubah pertama menjadi sekis biru, kemudian menjadi eklogit (berbutir kasar tersusun oleh piroksen (jade) dan garnet).

blueschist: low T, high P

eclogite: high T, very high P

Urat Kuarsa

shddin 2008

Seperti pada pelapukan kimiawi, reaksi metamorfisme seringkali menghasilkan kelebihan Si. Silika tersebut bergerak sebagai fluida melalui batuan hingga mendingin dan membentuk urat (veins) yang tersusun oleh kuarsa.

pada marmer

pada sekis, kemudian terlipat oleh deformasi berikutnya

23

Korundum
Gneiss dari protolith kaya alumina dapat mengandung mineral korundum (Al2O3). Korundum berwarna merah disebut rubi, bila berwarna biru disebut safir. Selain sebagai batumulia, mineral ini berfungsi sebagai amplas (penghalus)

shddin 2008

Migmatit

shddin 2008

Migmatite: merupakan metamorfisme derajat tinggi yang menghasilkan campuran antara batuan metamorf (warna gelap) dan batuan beku granit (warna cerah). Diduga migmatit terbentuk ketika tekanan dan temperatur cukup tinggi untuk menyebabkan partial melting.

24

Migmatit

shddin 2008

Fasies Metamorfisme

shddin 2008

25

Fasies Metamorfisme

shddin 2008

Fasies greenschist merupakan ciri metamorfisme regional derajat rendah yang umumnya terjadi di dasar samudera. Warna hijau dihasilkan oleh klorit, talk, serpentin dan epidot.

Fasies blueschist lazim terbentuk di zona penunjaman. Mineral berwarna biru adalah amfibol yang stabil pada tekanan tinggi dan temperatur rendah.

Metamorfisme dan Tektonika Lempeng

shddin 2008

26

06. Waktu Geologi dan Geokronologi MFS 1810


Salahuddin Husein

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2008

Pendahuluan

shddin 2008

Pendahuluan

shddin 2008

Konsep waktu (yang benar) ditemukan di Edinburgh pada dekade 1770-an oleh sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh James Hutton. Mereka menantang konsep waktu konvensional yang telah ada di sepanjang sejarah hidup manusia, yang menyatakan bahwa unit waktu terukur adalah rentang hidup manusia dan bahwa umur planet Bumi hanya 6000 tahun (yang dihitung oleh Uskup Ussher berdasarkan kronologi alkitab). Hutton dan kawan-kawan telah mempelajari batuan di sepanjang pesisir Skotlandia dan menyimpulkan bahwa setiap formasi batuan, betapapun tua, adalah hasil erosi dari batuan lain, yang jauh lebih tua.

Pendahuluan

shddin 2008

Penemuan Hutton dkk memperlihatkan bahwa waktu terentang sangat jauh melebihi manusia mampu bayangkan. Penemuan tersebut merubah cara pandang manusia terhadap Bumi, planet, bintang, dan juga terhadap kehadiran manusia itu sendiri. Sesungguhnya, konsep waktu yang berdasarkan observasi formasi batuan tersebut berakar dari prinsip paling dasar dalam ilmu Geologi, yaitu prinsip keseragaman (uniformitarianisme), yang menjadi dasar Geologi modern.

Konsep-Konsep tentang Waktu Geologi

shddin 2008

Pendapat paling dominan sebelum abad ke-18 dimiliki oleh kelompok gereja berdasarkan kajian tekstual terhadap alkitab, mereka menyatakan umur Bumi tidak lebih tua dari 6.000 tahun. Penciptaan Bumi dan segala isinya dalam waktu sedemikian singkat dipercaya melibatkan proses katastropis. Pendapat ini lazim disebut sebagai teori penciptaan. Salah seorang ilmuwan pendukung teori penciptaan adalah Baron Georges Cuvier (1769-1832). Pengamatannya terhadap kumpulan fosil pada setiap lapisan batuan dianggapnya sebagai bukti adanya peristiwa bencana alam bersifat katastropis yang memusnahkan setiap makhluk hidup di setiap kurun waktu tertentu.

Konsep-Konsep tentang Waktu Geologi

shddin 2008

Upaya ilmiah untuk menentukan umur Bumi telah dilakukan oleh beberapa ilmuwan. Georges Louis de Buffon (1707-1788) menyatakan Bumi mendingin perlahan-lahan dari suatu bola panas. Dengan membuat percobaan laboratorium dengan beberapa bola besi berbagai diameter dan dibiarkan dingin mengikuti temperatur kamar, de Buffon melakukan ekstrapolasi terhadap diameter Bumi sesungguhnya dan menentukan usia Bumi sekitar 75.000 tahun. Sekelompok ilmuwan lainnya pada paruh abad ke-18 menghitung kecepatan pengendapan berbagai sedimen dan melakukan ekstrapolasi terhadap ketebalan batuan sedimen yang diketahui saat itu, menghasilkan rerata umur Bumi sekitar 1 juta tahun.

Konsep-Konsep tentang Waktu Geologi

shddin 2008

John Joly, seorang geolog Irlandia, pada abad ke-19 berasumsi bahwa air laut pada mulanya bersifat tawar namun kemudian menjadi asin akibat mineral garam yang dibawa oleh sungai. Dengan menghitung volume seluruh airlaut yang ada di Bumi, dia menentukan waktu 90 juta tahun untuk lautan mencapai kadar salinitas saat ini, yang kemudian dianggap sebagai umur Bumi. Pada tahun 1785, James Hutton (1726-1797), seorang geolog Skotlandia, berdasarkan studi detail terhadap singkapan batuan dan proses alam yang tengah berlangsung saat itu, mengemukakan prinsip keseragaman (uniformitarianisme). Konsep tersebut menyatakan proses geologi yang sama telah bekerja pula pada waktu lampau, dan Hutton menuliskannya sebagai we find no vestige of a beginning, and no prospect of an end. Keunggulan prinsip ini lah yang mengantarkan Hutton sebagai Bapak Geologi Modern.

Konsep-Konsep tentang Waktu Geologi

shddin 2008

Pada tahun 1830, Charles Lyell, seorang murid James Hutton, menerbitkan buku Principles of Geology. Konsep keseragaman menjadi diterima secara luas oleh kalangan ilmuwan dan usia Bumi yang sangat tua diterima oleh masyarakat. Kelak, buku tersebut juga sangat mempengaruhi teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin pada tahun 1859. Lord Kelvin (1824-1907), seorang fisikawan Inggris yang sangat dihormati, pada tahun 1866 mengklaim telah mematahkan fondasi uniformitarianisme geologi. Beranjak dari asumsi umum bahwa Bumi berawal dari sebuah bola panas, Kelvin menghitung usia terbentuknya Bumi berdasarkan suhu leleh batuan, dimensi Bumi dan koefisien pendinginan. Dia menyatakan umur Bumi tidak mungkin lebih tua dari 100 juta tahun. Pendapat Kelvin membuat masyarakat ilmuwan terbelah, antara mendukung konsep Hutton atau menerima kalkulasi Kelvin (yang tampak sangat logis).

Konsep-Konsep tentang Waktu Geologi

shddin 2008

Pada akhirnya, kampanye Kelvin selama 40 tahun harus berakhir dengan ditemukannya unsur radioaktif di penghujung abad ke-19. Materi radioaktif dipercaya menjaga panas internal Bumi relatif konstan. Penemuan radioaktif tersebut sekaligus membuat para geolog dapat menghitung umur batuan secara mutlak dan menemukan bahwa Bumi memang sangat tua!

Pendekatan Waktu Geologi

shddin 2008

Para geolog menggunakan dua pendekatan berbeda untuk menentukan waktu geologi, yaitu: 1. Penanggalan relatif (relative dating) yang menempatkan berbagai peristiwa geologi dalam urutan kronologis berdasarkan posisinya dalam rekaman data geologi. 2. Penanggalan mutlak (absolute dating) menggunakan berbagai teknik dan hasilnya dinyatakan dalam angka tahun sebelum sekarang. Yang paling lazim adalah penanggalan radiometrik dengan menggunakan unsur-unsur radioaktif di dalam batuan.

Penanggalan Relatif

shddin 2008

Sebelum berkembangnya teknik penanggalan radiometrik, para geologi tidak memiliki cara untuk menentukan umur mutlak dan hanya berpegang kepada metode penanggalan relatif. Penanggalan relatif menempatkan berbagai proses geologi dalam urutan kronologis tertentu, metode ini tidak dapat mengetahui kapan suatu proses terjadi di masa lampau. Ada 6 prinsip yang dipergunakan dalam penanggalan relatif: 1. Superposition 2. Original horizontality 3. Lateral continuity 4. Cross-cutting relationship 5. Inclusion 6. Fossil succession

Penanggalan Relatif

shddin 2008

1. Prinsip superposition (Nicolas Steno, 1638-1686): dalam suatu urutan batuan sedimen yang belum terganggu, batuan yang paling tua diendapkan paling bawah sedangkan batuan yang paling muda diendapkan paling atas. 2. Prinsip original horizontality (Nicolas Steno, 1638-1686): dalam proses sedimentasi, sedimen diendapkan sebagai lapisan horisontal. 3. Prinsip lateral continuity (Nicolas Steno, 1638-1686): sedimen melampar secara horisontal ke segala arah hingga menipis dan berakhir di tepi cekungan pengendapan.

Penanggalan Relatif

shddin 2008

4. Prinsip cross-cutting relationship (James Hutton, 1726-1797): intrusi batuan beku atau patahan harus lebih muda daripada batuan yang diintrusi atau yang terpatahkan. 5. Prinsip inclusion: suatu inklusi (fragmen suatu batuan didalam tubuh batuan lain) harus lebih tua daripada batuan yang mengandungnya tersebut. 6. Prinsip fossil succession (William Smith, 1769-1839): fosil yang ada di lapisan paling bawah lebih tua daripada fosil pada lapisan paling atas.

Principles of Cross-cutting Relationship and Inclusions

shddin 2008

(a) Aliran lava (lapisan 4) membakar lapisan dibawahnya, dan lapisan 5 mengandung inklusi dari aliran lava, sehingga lapisan 4 lebih muda dari lapisan 3 namun lebih tua dari lapisan 5 dan 6. (b) Lapisan batuan dibawah dan diatas sill (lapisan 3) terbakar, menunjukkan bahwa sill tersebut lebih muda daripada lapisan 2 dan 4, namun umur lapisan 5 terhadap sill tidak dapat ditentukan.

Principles of Cross-cutting Relationship and Inclusions

shddin 2008

(a) Granit lebih muda daripada batupasir karena batupasir terpanggang pada bidang kontaknya dengan granit dan granit mengandung inklusi batupasir. (b) Inklusi granit didalam batupasir menunjukkan granit lebih tua daripada batupasir.

Principle of Faunal Succession

shddin 2008

William Smith mempergunakan fosil untuk mengidentifikasi perlapisan yang sama umurnya dari berbagai lokasi terpisah, kelak metode ini dikenal sebagai prinsip faunal succession.

Ketidakselarasan

shddin 2008

Siccar Point, Berwickeshire, Skotlandia tenggara. Disinilah James Hutton, James Hall dan John Playfair pada tahun 1788 menemukan prinsip ketidakselarasan.

Ketidakselarasan

shddin 2008

Waktu geologis bersifat menerus/kontinyu, namun informasi dimana waktu tersebut didapatkan berasal dari rekaman batuan yang bersifat tidak menerus/diskontinyu. Bidang ketidakmenerusan dalam urutan batuan yang menunjukkan terganggunya proses sedimentasi dalam waktu yang cukup lama disebut sebagai bidang ketidakselarasan (unconformity). Waktu geologi yang hilang dari rekaman batuan, karena tidak adanya pengendapan batuan, disebut sebagai hiatus. Sehingga bidang ketidakselarasan bisa juga disebut sebagai bidang dimana tidak adanya pengendapan (non-deposisi) atau erosi yang memisahkan batuan yang lebih muda terhadap batuan yang lebih tua.

Ketidakselarasan

shddin 2008

Ketidakselarasan

shddin 2008

Terdapat 3 jenis ketidakselarasan: 1. Disconformity (antara 2 unit batuan sedimen yang paralel) 2. Angular unconformity (antara 2 unit batuan sedimen yang menyudut) 3. Nonconformity (antara batuan kristalin dan batuan sedimen)

10

Disconformity

shddin 2008

Angular Unconformity

shddin 2008

11

Nonconformity

shddin 2008

Menerapkan Prinsip Penanggalan Relatif

shddin 2008

12

Menerapkan Prinsip Penanggalan Relatif

shddin 2008

Korelasi

shddin 2008

13

Penanggalan Mutlak

shddin 2008

Pada tahun 1896, Henri Bacquerel (1852-1908) menemukan unsur radioaktif di alam. Pada tahun 1903, Pierre dan Marie Curie menemukan proses peluruhan radioaktif. Lord Rutherford (1871-1937) yang pertamakali mengetahui kegunaan peluruhan radioaktif untuk menentukan penanggalan geologis secara mutlak.

Penanggalan Mutlak

shddin 2008

Prinsip dasar metode ini adalah menggunakan peluruhan radioaktif dari isotop unsur beberapa mineral yang terdapat didalam batuan, yang tingkat kecepatan peluruhan telah diketahui dalam satuan waktu-paruh (half-life), yaitu jumlah waktu yang diperlukan untuk merubah separuh inti isotop, dengan cara membandingkan jumlah atom unsur yang tersisa (parent isotope) dengan atom unsur yang dihasilkan oleh proses peluruhan tersebut (daughter isotope). Pengukuran waktu paruh ditentukan di laboratorium. Dari sampel batuan, geolog hanya menentukan rasio isotop indukanak (parent-daughter ratio) dengan alat bernama mass spectrometer.

14

Isotop

shddin 2008

Sebuah atom karbon memiliki nomer atom 6 dan nomer massa atom 12, 13, atau 14, tergantung pada jumlah neutron didalam intinya.

Meskipun hampir semua isotop dari 92 unsur alam bersifat stabil, namun sebagian kecil justru bersifat tidak stabil dan secara spontan luruh kedalam bentuk isotop yang lebih stabil.

Jenis-jenis Peluruhan Radioaktif

shddin 2008

15

Peluruhan Radioaktif

shddin 2008

Uranium 238 meluruh menjadi stabil sebagai timbal 206 melalui delapan peluruhan alfa dan 6 peluruhan beta.

Waktu Paruh

shddin 2008

(A) Hampir semua proses peluruhan alamiah berjalan secara linear. Jika pasir luruh dalam waktu 1 jam, maka seluruhnya akan habis dalam waktu 2 jam. (B) Peluruhan radioaktif berjalan secara eksponensial. Jika -nya meluruh dalam waktu 1 jam, maka dari sisanya (atau ) akan meluruh dalam 2 jam. Proses ini diekspresikan dengan istilah waktu paruh (half-life), dalam contoh ini adalah 1 jam.

16

Waktu Paruh

shddin 2008

(a) Magma mengandung atom stabil dan atom radioaktif. (b) Ketika magma mendingin dan mengkristal, sebagian atom radioaktif bergabung kedalam mineral. Pada kondisi ini, mineral tersebut mengandung 100% isotop induk dan 0% isotop anak. (c) Setelah satu waktu paruh terlewati, 50% isotop induk meluruh menjadi 50% isotop anak yang lebih stabil.

Waktu Paruh

shddin 2008

17

Ketidakpastian dalam Penanggalan Radioaktif

shddin 2008

Penanggalan radioaktif yang paling akurat umumnya pada batuan beku, karena mineral hasil kristalisasi magma hanya mengandung isotop induk saja, sedangkan isotop anak jika telah terbentuk tidak akan masuk kedalam sistem kristal karena perbedaan ukuran. Sehingga yang terukur betul-betul waktu kristalisasi mineral yang mengandung isotop radioaktif, bukan waktu terbentuknya isotop tersebut.

Ketidakpastian dalam Penanggalan Radioaktif

shddin 2008

Penanggalan radioaktif pada batuan sedimen tidak dapat dilakukan, karena yang terukur hanyalah waktu terbentuknay mineral, bukan waktu berlangsungnya sedimentasi. Pengecualian berlaku pada mineral glaukonit, suatu mineral berwarna hijau yang mengandung isotop potassium 40 yang akan meluruh menjadi argon 40. Glaukonit terbentuk di lingkungan laut hasil reaksi kimia dengan mineral lempung selama proses diagenesa ketika litifikasi. Meskipun demikian, karena argon adalah gas, maka isotop anak argon 40 biasanya hilang menguap dari mineral. Sehingga penanggalan pasangan potassium 40/argon 40 pada glaukonit harus dipandang sebagai umur minimal.

18

Ketidakpastian dalam Penanggalan Radioaktif


Umur mutlak batuan sedimen dapat diperkirakan dari penanggalan mutlak batuan beku yang ada didekatnya.

shddin 2008

Ketidakpastian dalam Penanggalan Radioaktif

shddin 2008

Penanggalan radioaktif pada batuan metamorf harus dilakukan dengan sangat berhati-hati. Panas yang terjadi selama metamorfisme umumnya menyebabkan isotop anak keluar dari sistem yang ada. Bila semua isotop anak keluar dan yang tersisa hanya isotop induk, maka rasio yang terukur kemudian adalah cerminan waktu metamorfisme, bukan waktu kristalisasi mineral. Namun bila tidak semua isotop anak keluar selama metamorfisme, maka hasil penanggalan akan menjadi tidak akurat.

19

Ketidakpastian dalam Penanggalan Radioaktif

shddin 2008

Untuk menjamin penanggalan radiometrik yang akurat, maka sampel harus: - segar - tidak lapuk - tidak pernah terkena tekanan dan temperatur tinggi - selalu lakukan uji silang dengan isotop lainnya (misal uranium 235/timbal 207 dengan uranium 238/timbal 206; hasil rasio keduanya harus mendekati).

Ketidakpastian dalam Penanggalan Radioaktif

shddin 2008

Pengaruh metamorfisme terhadap akurasi penanggalan radioaktif: (a) Mineral ketika terkristal pada 700 jtl. (b) Mineral ketika 400 jtl. (c) Proses metamorfisme pada 350 jtl menyebabkan seluruh isotop anak keluar dari mineral. (d) Penanggalan pada saat ini hanya mendapatkan umur metamorfisme, bukan umur kristalisasi.

20

Penanggalan Jejak Fisi (Fission Track)

shddin 2008

Pemancaran partikel atom dari peluruhan uranium dalam suatu mineral dapat menyebabkan rusaknya struktur kristal yang ada. Dampak kerusakan akan tampak sebagai jejak mikroskopis linear yang hanya tampak apabila mineral dikenai asam hidrofluorik. Umur sampel ditentukan berdasarkan jumlah jejak fisi dan jumlah uranium: semakin tua sampel, semakin besar jumlah jejak fisi. Metode ini efektif untuk kisaran 40.000 hingga 1,5 juta tahun. Problem kemungkinan muncul apabila batuan terkena temperatur tinggi dimana struktur kristal yang rusak dapat diperbaiki dan jejak fisinya akan hilang. Umur yang didapat akan jauh lebih muda dari yang seharusnya.

Penanggalan Jejak Fisi (Fission Track)

shddin 2008

Jejak fisi (panjangnya 16 m) dalam kristal apatit dari batuan beku.

21

Penanggalan Radiokarbon

shddin 2008

Karbon memiliki 3 isotop, yaitu karbon 12, 13 dan 14. Hanya karbon 14 yang bersifat radioaktif. Karbon 14 memiliki waktu paruh 5.730 30 tahun. Praktis untuk sampel berumur >70.000 tahun. Penanggalan radiokarbon berdasarkan rasio karbon 14 terhadap karbon 12 dan umumnya dipergunakan untuk sisasisa makhluk hidup.

Penanggalan Radiokarbon

shddin 2008

Produksi karbon 14 di atmosfer tidaklah konstan di sepanjang waktu, sehingga perbandingan karbon 14/karbon 12 juga tidak konstan. Penanggalan radiokarbon kemudian dikoreksi dengan metode penanggalan lainnya, seperti penanggalan cincin pohon, sebagaimana pada diagram diatas.

22

Penanggalan Cincin Pohon (Tree-Ring Dating)

shddin 2008

Usia sebuah pohon dapat ditentukan dengan menghitung jumlah cincin pertumbuhan yang ada pada pokok pohon bagian bawah. Setiap cincin mencerminkan masa pertumbuhan satu tahun. Perbedaan lebar setiap cincin dapat dipergunakan sebagai kunci untuk mencocokkan usia pertumbuhan dari berbagai pohon. Prosedur mencocokkan pola cincin dari berbagai pohon di suatu tempat disebut sebagai penanggalan silang (cross-dating). Dengan mengkorelasikan sekuen cincin pohon yang sudah teridentifikasi dari pohon yang masih hidup hingga sisa-sisa pohon yang telah mati, suatu skala waktu dapat dibuat hingga 14.000 tahun silam. Metode ini sangat berguna untuk penanggalan peristiwa geologi muda.

Penanggalan Cincin Pohon (Tree-Ring Dating)

shddin 2008

Dengan metode cross-dating, pola cincin-pohon dari berbagai pohon dan kayu dapat saling dicocokkan untuk membuat kronologi lebar cincin.

23

Skala Waktu Geologi

shddin 2008

Beberapa Bukti Pendukung

shddin 2008

Pertanyaan tentang umur Bumi sesungguhnya juga pertanyaan tentang usia Matahari dan benda-benda angkasa lainnya, karena diyakini semuanya terbentuk bersamaan dari material debu jagad semesta. Para ahli astronomi telah menghitung rasio mula-mula hidrogen dan helium di dalam Matahari dan jumlahnya kini, memperkirakan usia Matahari sekitar 4,6 milyar tahun. Meteorit yang jatuh ke Bumi menunjukkan sebagian dari mereka (dan yang tertua) terbentuk sekitar 4,5 milyar tahun lalu. Batuan yang dibawa dari Bulan menunjukkan usia paling tua sekitar 4,53 milyar tahun lalu.

24

Beberapa Bukti Pendukung

shddin 2008

Material tertua di Bumi adalah butiran zircon dari Australia Barat yang berumur 4,4 milyar tahun lalu. Batuan tertua di Bumi adalah gneiss Acasta berusia 4,0 milyar tahun lalu dari Kanada baratlaut. Tanpa mengembangkan konsep waktu geologis, seorang mahasiswa geologi tidak akan mampu memahami arti besar dari proses geologi yang berjalan sangat lambat, seperti pelapukan dan pelarutan. Arti dari proses-proses tersebut tidak dapat hanya dilihat dari jangkauan waktu yang dialami indera manusia, yang hanya mengenal hari, minggu, tahun dan pergantian musim.

Mineral Tertua Planet Bumi

shddin 2008

Kristal zirkon dari batupasir yang ditemukan di Australia Barat, berumur 4.4 milyar tahun (hanya 100-200 juta tahun setelah planet Bumi terbentuk!).

25

Batuan Tertua Planet Bumi

shddin 2008

Gneiss Acasta di Kanada baratlaut terbentuk 4,0 milyar tahun lalu.

Skala Waktu Geologi


Namun bagaimana memahami dan mengapresiasi skala waktu milyaran tahun tersebut kedalam perspektif manusiawi kita? Salah satunya adalah dengan mempergunakan jam tangan geologi ini. Kehadiran kita hanyalah 17 detik terakhir saja

shddin 2008

26

Sejarah Bumi (Kita adalah Penghuni Terakhir?)

shddin 2008

27

07. Interior Bumi MFS 1810

Salahuddin Husein

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2007

Pendahuluan

shddin 2007

Semenjak lebih dari 200 tahun silam, para ilmuwan melalui perhitungan densitas (rasio massa terhadap volume) material-material yang ada di Bumi telah mengetahui bahwa planet ini tidak bersifat homogen. Isaac Newton (1642-1727) memperkirakan densitas rerata Bumi sekitar 5,0 6,0 gr/cm3. Pada tahun 1797 Henry Cavendish menghitung densitas rerata Bumi sebesar 5,5 gr/cm3. Perhitungan modern menunjukkan densitas rerata planet ini adalah sebesar 5,52 gr/cm3. Volume Bumi dapat dihitung dengan mudah karena radius planet ini telah lama diketahui secara akurat. Massa Bumi hanya dapat diperkirakan secara tidak langsung berdasarkan perbandingan gaya tarik gravitasi antara Bulan dan Bumi dengan bola metal yang telah diketahui massa-nya.

Pendahuluan

shddin 2007

Dengan membandingkan densitas rerata Bumi sebesar 5,5 gr/cm3 terhadap densitas bebatuan yang ada di permukaan Bumi yang hanya berkisar antara 2,5 hingga 3,0 gr/cm3, para ilmuwan memprediksi bahwa interior Bumi harus tersusun oleh material dengan densitas yang lebih besar daripada yang ada di permukaan. Dewasa ini, Bumi dipandang sebagai sebuah bola yang tersusun oleh beberapa lapisan konsentris yang saling berbeda komposisi dan densitasnya.

Pendahuluan

shddin 2007

Pemboran paling dalam yang pernah dilakukan manusia untuk mempelajari interior Bumi secara langsung, yang hanya mampu menjangkau kedalaman 12 km, dilakukan di Semenanjung Kola, Rusia baratlaut. Bangunan bertingkat 30 pada gambar adalah menara pemboran.

Pendahuluan

shddin 2007

Karena tidak ada pengamatan langsung kedalam interior Bumi, model ini dibuat berdasarkan bukti-bukti tidak langsung, sebagian besar dari studi gelombang seismik.

Gelombang Gempabumi

shddin 2007

Gempabumi adalah getaran Bumi, yang disebabkan oleh (1) peristiwa patah dan pergerakan mendadak dari suatu tubuh batuan yang mengalami regangan diluar batas sifat elastisnya, dan (2) oleh letusan gunungapi. Jika suatu batuan yang mengalami regangan patah, batuan tersebut akan berusaha kembali ke posisi semula (proses ini dikenal dengan nama teori elastic-rebound) seraya menghasilkan getaran yang disebut gelombang seismik.

Gelombang Gempabumi

shddin 2007

Elastic-rebound theory

Gelombang Gempabumi

shddin 2007

Fokus (hiposenter) adalah titik mula patah/pergerakan sesar. Gelombang seismik merambat dari fokus ke segala arah. Episenter adalah titik proyeksi fokus di permukaan Bumi.

Gelombang Gempabumi

shddin 2007

Diagram balok suatu sesar penyebab gempabumi

Gelombang Gempabumi
Ada dua jenis gelombang seismik:

shddin 2007

(1) Gelombang badan (body waves): merambat melalui bagian dalam Bumi serupa seperti rambatan suara. Dikenal 2 jenis: (a) Gelombang primer (P): partikel batuan bergerak maju-mundur searah dengan arah rambatan gelombang, (b) Gelombang sekunder (S): partikel batuan bergerak ke atas-bawah tegak lurus dengan arah rambatan gelombang. (2) Gelombang permukaan (surface waves): hanya merambat di permukaan Bumi serupa seperti gerakan gelombang air. Dikenal 2 jenis: (a) Gelombang Love (L): partikel batuan bergerak ke kanan-kiri tegak lurus arah rambatan gelombang, (b) Gelombang Rayleigh (R): partikel batuan bergerak eliptis vertikal berlawanan dengan arah jarum jam (anti-clockwise), berlawanan dengan arah rambatan gelombang.

Gelombang Gempabumi

shddin 2007

Gelombang Gempabumi

shddin 2007

Gelombang Gempabumi

shddin 2007

Gelombang Gempabumi

shddin 2007

Gelombang Gempabumi

shddin 2007

Ketika terjadi gempabumi, gelombang badan dan permukan merambat ke segala arah dari titik fokus pada saat yang bersamaan. Gelombang P paling cepat, diikuti oleh gelombang S, dan kemudian oleh gelombang L dan yang terakhir adalah gelombang R. Perbedaan antara waktu kedatangan gelombang P dan S adalah fungsi jarak fokus dengan seismograf.

Gelombang Gempabumi

shddin 2007

Kecepatan rambat gelombang seismik P dan S ditentukan oleh sifat densitas dan elastisitas material yang dilewati, dimana keduanya bertambah besar bila semakin dalam. Kecepatan gelombang seismik berkurang dengan bertambahnya densitas namun bertambah cepat dengan bertambahnya elastisitas. Karena semakin dalam elastisitas bertambah lebih cepat daripada densitas, maka secara umum kecepatan gelombang seismik bertambah sesuai kedalaman. Rambatan gelombang P lebih cepat daripada gelombang S. Namun tidak seperti gelombang P yang bisa merambat melalui medium cair, gelombang S tidak bisa dirambatkan karena medium cair tidak memiliki kekuatan geser (shear strength atau rigidity) mereka hanya mengalir saja bila terkena gaya geser.

Gelombang Gempabumi

shddin 2007

(a) Andai Bumi memiliki komposisi dan densitas yang homogen, maka gelombang seismik merambat melalui garis lurus. (b) Karena semakin dalam densitas dan elastisitas bertambah, rambat gelombang seismik akan mengalami pembiasan (refraksi) dan lintasannya membentuk kurva. Gelombang seismik hanya akan bergerak secara lurus dan tidak akan dibiaskan jika arah rambatannya tegak lurus terhadap batas kontak material yang berbeda densitas dan elastisitas.

Gelombang Gempabumi

shddin 2007

Selain dibiaskan, gelombang seismik juga mengalami pemantulan (refleksi) jika menemui batas material yang berbeda densitas dan elastisitasnya. Gambar diatas memperlihatkan pola rambatan gelombang P.

Gelombang Gempabumi

shddin 2007

Meskipun secara umum diketahui semakin dalam kecepatan gelombang seismik semakin bertambah, namun perubahan mendadak terjadi di beberapa kedalaman (misal pada dasar kerak Bumi dan pada kedalaman 2.900 km), yang disebut sebagai bidang diskontinyuitas, yang menandakan adanya perubahan komposisi material atau sifat fisiknya. Bidang-bidang diskontinyuitas tersebut yang menjadi dasar bagi pembagian lapisan-lapisan konsentris interior Bumi.

Inti Bumi

shddin 2007

Beno Gutenberg pada tahun 1914 menemukan zona bayangan gelombang P (P-wave shadow zone). Berkurangnya kecepatan gelombang P secara mendadak pada batas inti-mantel (kedalaman 2.900 km) menyebabkan gelombang P dibiaskan sedemikian rupa sehingga hanya sedikit saja gelombang P yang mencapai permukaan pada zona antara 103o dan 143o dari titik pusat gempa.

Pembiasan gelombang P dan ketidakhadiran gelombang S, mendukung dugaan bahwa inti Bumi tersusun oleh material cair.

10

Inti Bumi

shddin 2007

Harold Jeffreys (1926) menemukan bahwa gelombang S sama sekali diblok oleh inti, sehingga membentuk zona bayangan gelombang S (S-wave shadow zone) yang lebih besar dari 103o. Gelombang S tidak akan melewati material cair, sehingga tampaknya inti Bumi bersifat cair.

Inti Bumi

shddin 2007

Meski demikian, sebagian kecil gelombang P ternyata masih mencapai permukaan pada zona bayangan gelombang P 103o 143o tersebut. Inge Lehmann (1938) menyatakan bahwa fenomena tersebut menandakan adanya inti padat didalam inti cair yang mampu memantulkan sebagian gelombang P. Penemuan Lehmann tersebut akhirnya membentuk persepsi kita hingga saat ini, bahwa ada 2 jenis inti Bumi yang berbeda sifat fisiknya, yaitu inti luar yang cair dan inti dalam yang padat.

11

Inti Bumi

shddin 2007

Inti Bumi terletak dibawah Mantel pada kedalaman 2.900 km dari permukaan dan memiliki diameter 6.960 km (sama dengan diameter Planet Mars). Inti Bumi menyumbang 16,4% volume Bumi dan 1/3 massa Bumi. Komposisi dan densitas inti Bumi dipelajari dengan cara percobaan laboratorium dan studi meteorit (yang materialnya tersusun oleh besi dan nikel, dianggap berasal dari sisa-sisa pembentukan tata surya). Densitas inti luar Bumi: 9,9 12,2 gr/cm3. Densitas inti dalam Bumi: 12,6 13,0 gr/cm3. Tekanan di pusat inti Bumi setara dengan 3,5 juta kali tekanan di permukaan Bumi. Inti Bumi tidak mungkin tersusun oleh komposisi mineral-mineral yang ada di permukaan, karena pada tekanan yang demikian besar mereka masih tidak akan mencapai densitas yang diharapkan. Baik inti luar dan inti dalam keduanya diperkirakan tersusun oleh besi.

Inti Bumi

shddin 2007

Tetapi besi murni terlalu besar densitasnya untuk menjadi penyusun inti luar, sehingga harus ada pengotor dengan densitas lebih kecil. Percobaan laboratorium dan perbandingan dengan meteorit menunjukkan kemungkinan 12% inti luar tersusun oleh sulfur, serta sedikit silika, oksigen, nikel dan potassium. Sebaliknya dengan inti dalam, besi murni terlalu kecil densitasnya untuk mencapai densitas yang diharapkan, sehingga harus ada pengotor dengan densitas lebih besar. Kemungkinan 10-20% inti dalam tersusun oleh nikel. Diduga perbedaan komposisi tersebut juga menjelaskan perbedaan sifat fisik antara inti luar yang cari dan inti dalam yang padat. Pada tekanan yang sangat tinggi dan temperatur >5.000 oC pada inti Bumi, campuran besi dan nikel yang menyusun inti dalam masih belum mencapai titik leleh, sedangkan campuran besi dan sulfur yang menyusun inti luar sudah mencapai titik leleh.

12

Mantel Bumi

shddin 2007

Pada tahun 1909 Andrija Mohorovii menemukan bidang diskontinyuitas seismik pada kedalaman 30 km, dimana gelombang seismik yang lebih dalam dan mengalami pembiasan ternyata tiba lebih dahulu di stasiun seismograf dibandingkan dengan gelombang seismik dangkal yang tidak mengalami pembiasan. Bidang diskontinyuitas tersebut kini dikenal dengan nama bidang Moho, memisahkan antara kerak dan mantel Bumi. Diatas bidang tersebut, gelombang seismik merambat dengan kecepatan 6,75 km/s, sedangkan dibawahnya mencapai 8 km/s.

Mantel Bumi

shddin 2007

Meski secara umum semakin dalam kecepatan gelombang P dan S bertambah, namun ada beberapa bidang diskontinyuitas hadir. 100 250 km: zona kecepatan rendah, astenosfer (batuan mendekati titik leleh, kurang elastis, bersifat plastis)

13

Mantel Bumi

shddin 2007

Bidang diskontinyuitas pada mantel atas terkait dengan perubahan fase mineral yang diikuti oleh pertambahan densitas: 400 km: perubahan struktur mineral olivin dengan kehadiran Mg spinel 640 720 km: Mg spinel digantikan oleh Mg perovskit.

Mantel Bumi
Meskipun densitas mantel dapat diketahui dengan menghitung rambat gelombang seismik, yaitu berkisar antara 3,3 hingga 5,7 gr/cm3, namun menduga komposisinya tidak mudah.

shddin 2007

Kemungkinan besar penyusun mantel adalah peridotit (60% olivin, 30% piroksen, 10% feldspar), berdasarkan: 1. Uji laboratorium terhadap densitas dan sifat fisiknya terhadap gelombang seismik, 2. Studi urutan ofiolit (fragmen kerak samudera) menunjukkan peridotit terletak paling bawah yang berarti paling dekat dengan mantel, 3. Studi pipa kimberlit (batuan beku dalam pembawa intan yang diduga berasal dari mantel) menjumpai banyak peridotit sebagai inklusi.

14

Mantel Bumi

shddin 2007

Pipa kimberlit adalah pipa batuan beku dalam pembawa intan, pertamakali dijumpai di dekat kota Kimberley, Afrika Selatan. Pipa kimberlit disusun oleh kimberlit yang berwarna abu-abu kebiruan (olivin, serpentin, kalsit dan silika) dan seringkali mengandung inklusi peridotit. Kehadiran intan dan koesit (kuarsa dalam tekanan tinggi) mengindikasikan kimberlit terbentuk dari magma pada kedalaman 100 300 km. Fakta bahwa kerak benua hanya setebal rerata 35 km menunjukkan magma kimberlit berasal dari mantel. Sehingga inklusi peridotit merupakan bukti bahwa mantel tersusun oleh batuan jenis tersebut.

Tomografi Seismik

shddin 2007

Dalam dekade terakhir, para ahli geofisika mengembangkan metode baru dalam mempelajari dinamika mantel Bumi, yaitu tomografi seismik (seismic tomography). Prinsip dasarnya adalah membangun geometri 3 dimensi sebaran global variasi kecepatan rambat gelombang seismik dari jutaan data gempabumi. Berdasarkan uji laboratorium, diketahui bahwa kecepatan gelombang seismik rendah dipengaruhi oleh material batuan panas dan sebaliknya kecepatan gelombang seismik tinggi dipengaruhi oleh material batuan dingin. Sepintas, peta tomografi dapat dianggap sebagai peta temperatur mantel. Selanjutnya, berdasarkan asumsi bahwa material panas akan bergerak naik karena lebih kecil densitasnya dan material dingin akan bergerak turun karena lebih besar densitasnya, maka peta tomografi dapat menunjukkan pola aliran material mantel.

15

Tomografi Seismik

shddin 2007

Daerah berwarna merah adalah mantel dengan kecepatan seismik lambat dan diinterpretasikan disusun oleh material panas dan densitas kecil, umumnya dijumpai pada kerak samudera yang terkait dengan pergerakan magma ke permukaan. Daerah berwarna biru adalah mantel dengan kecepatan seismik cepat dan diduga disusun oleh material dingin dan densitas besar, umumnya dijumpai pada kerak benua yang memiliki akar jauh kebawah mantel. Interior Bumi tidak lagi dilihat seperti bola-bola konsentrik kerak, mantel dan inti.

Tomografi Seismik

shddin 2007

Model dinamika mantel Bumi yang dibuat berdasarkan studi tomografi.

16

Tomografi Seismik

shddin 2007

Studi tomografi juga memperlihatkan bahwa batas mantel dan inti bukanlah bidang konsentrik yang halus. Banyak tinggian (antimountains) dan rendahan (anticontinents) dengan beda tinggi mencapai 20 km. Topografi permukaan inti luar demikian dapat menyebabkan banyaknya energi yang hilang dari perputaran inti luar sebagai panas dan menggerakkan arus konveksi pada mantel. Model dinamika interior Bumi yang dibuat berdasarkan studi tomografi. Inti luar dianggap homogen untuk memperlihatkan detail inti dalam.

Kerak Bumi

shddin 2007

Ada 2 jenis kerak Bumi: kerak benua dan kerak samudera, keduanya memiliki densitas lebih kecil daripada mantel dibawahnya. Kerak benua memiliki densitas antara 2,0 hingga 3,0 gr/cm3 (diluar mineral logam berat), dengan rerata 2,70 gr/cm3. Kerak samudera memiliki densitas rerata 3,0 gr/cm3. Kecepatan rambat gelombang P pada kerak benua adalah 6,75 km/s, namun di dasar kerak kecepatannya menjadi 8 km/s. Kecepatan rambat gelombang P pada kerak samudera adalah 7 km/s. Ketebalan kerak benua berbeda-beda, yang dikenal sebagai prinsip isostasi.

17

Panas Bumi

shddin 2007

Dari data pemboran pertambangan, diketahui temperatur Bumi semakin dalam menjadi semakin besar. Di dekat permukaan, gradien geotermal rerata sekitar 25 oC/km. Namun nilai gradien tersebut tidak konstan (karena semua batuan akan meleleh pada kedalaman 100 km saja!). Diperkirakan temperatur pada dasar kerak sekitar 800 1200 oC. Pada batas mantel-inti, temperatur diperkirakan berkisar antara 3500 5000 oC. Bila angka tersebut cukup akurat, maka gradien geotermal di mantel hanya sekitar 1 oC/km saja. Temperatur maksimum di pusat inti diperkirakan mencapai 6500 oC (mendekati nilai temperatur di permukaan matahari!) Panas Bumi dihasilkan oleh peluruhan radioaktif. Namun jumlah isotop radioaktif terus berkurang, menyebabkan panas Bumi akan terus menurun. Buktinya ditunjukkan oleh aliran lava ultrabasa yang hanya dijumpai pada kurun 3,8 2,5 mtl (Archean) dan tidak pernah ada pada kurun yang lebih muda. Lava ultrabasa tersebut membutuhkan temperatur kerak >1600 oC.

Panas Bumi

shddin 2007

Sebagian panas dari dalam batuan kerak Bumi lepas ke atmosfer, dikenal sebagai fenomena heat flow. (a) Heat flow pada punggung tengah samudera dimana pemekaran dan pembentukan kerak samudera tengah berlangsung. (b) Heat flow pada palung samudera dimana penunjaman kerak samudera dibawah kerak benua yang memunculkan busur gunungapi tengah berlangsung.

18

Gravitasi Bumi

shddin 2007

Hukum gravitasi universal (ditemukan oleh Isaac Newton): gaya tarik gravitasi antara 2 obyek berbanding lurus dengan perkalian massa dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak. F = G((m1 x m2)/D2) Berat (weight) adalah gaya gravitasi antara obyek dan pusat massa Bumi. Obyek 1 dan 2 terletak pada jarak yang sama, namun gaya gravitasi 1 lebih besar karena massa-nya lebih besar. Massa 2 dan 3 sama besar, namun gaya gravitasi 3 lebih kecil empat kali karena jaraknya terhadap pusat massa Bumi dua kali lebih jauh.

Gravitasi Bumi

shddin 2007

Gaya tarik gravitasi akan sama di semua tempat di permukaan Bumi jika planet ini sempurna bulatnya, komposisinya homogen, dan tidak berputar pada porosnya (rotasi).

Rotasi menghasilkan gaya


sentrifugal yang melawan gaya gravitasi, sehingga obyek di ekuator akan memiliki berat lebih kecil daripada obyek yang identik di kutub.

19

Gravitasi Bumi

shddin 2007

Para ahli kebumian menggunakan gravimeter untuk mengukur variasi/anomali gaya gravitasi di permukaan Bumi. Prinsipnya alat tersebut menggunakan beban pada pegas yang bereaksi terhadap perubahan gravitasi. Gravimeter sangat bermanfaat dalam eksplorasi minyakbumi dan sumberdaya mineral.

(a) anomali gravitasi positif, akibat massa dengan densitas besar (mass excess) (b) dan (c) anomali gravitasi negatif, akibat massa dengan densitas kecil (mass deficiency)

Prinsip Isostasi

shddin 2007

Pada awal abad 19, para surveyor di India menemukan error pada alat pendulum mereka yang dianggap disebabkan oleh gaya tarik Peg. Himalaya. Namun perhitungan di kemudian hari menunjukkan jika Himalaya merupakan massa yang lebih tebal atau lebih tinggi densitasnya, error yang dihasilkan akan lebih besar dari yang teramati.

Kehadiran pegunungan yang memiliki densitas lebih besar (mass excess) akan menghasilkan anomali gravitasi positif (a), namun ternyata tidak (b).

20

Prinsip Isostasi

shddin 2007

J. H. Pratt menjelaskannya bahwa topografi Himalaya menjadi tinggi karena pegunungan tersebut tersusun oleh batuan dengan densitas lebih rendah daripada wilayah di sekitarnya. George Airy menjelaskannya bahwa Himalaya selain menjulang ke atas, juga terentang jauh ke bawah dengan akar yang memiliki densitas lebih kecil. Dengan kata lain, pegunungan mengapung diatas batuan mantel yang lebih besar densitasnya, dan kelebihan densitas batuan kerak (mass excess) diatas permukaan diimbangi oleh kekurangan densitas (mass deficiency) di dasar kerak, yang menyebabkan pergeseran garis pendulum. Kemudian hari studi seismik menunjukkan adanya lapisan batuan dengan densitas rendah dibawah pegunungan. Penjelasan Airy terbukti benar untuk pegunungan, namun penjelas Pratt juga benar ketika dipergunakan untuk menerangkan (1) elevasi kerak benua yang lebih tinggi daripada kerak samudera, dan (2) topografi punggungan tengah samudera yang lebih tinggi daripada daerah sekitarnya. Kini penjelasan Airy dan Pratt tersebut dikenal sebagai prinsip isostasi.

Prinsip Isostasi
Prinsip isostasi dapat dianalogikan dengan apungan gunung es.

shddin 2007

Gunung es tenggelam hingga posisi seimbang sedemikian rupa dengan 10% massanya berada diatas permukaan air. Gunung es yang besar akan tenggelam lebih dalam dan muncul lebih tinggi dibandingkan dengan gunung es yang berukuran lebih kecil.

Jika es di permukaan mencair, tubuh gunung es akan bergerak naik ke permukaan untuk mempertahankan kondisi keseimbangan. Fenomena ini dikenal sebagai isostatic rebound.

21

Prinsip Isostasi

shddin 2007

Isostatic rebound pada kerak Bumi umumnya terjadi: (1) di daerah yang dulunya tertutup oleh glasiasi (pembentukan es pada benua), dan

Prinsip Isostasi

shddin 2007

Isostatic rebound pada kerak Bumi umumnya terjadi: (2) di daerah pegunungan yang tererosi sangat lanjut.

22

Prinsip Isostasi: Paradoks

shddin 2007

Jika prinsip isostasi benar, ini membawa implikasi kehadiran mantel yang bersifat cair/liquid. Namun dari sifat seismik mantel yang mampu merambatkan gelombang S menunjukkan mantel bersifat padat. Bagaimana menjelaskan paradoks ini? Untuk waktu yang sangat singkat, yang diperlukan untuk merambatkan gelombang seismik S, mantel bersifat padat. Namun untuk waktu yang sangat panjang, yang diperlukan untuk menahan gaya tekan (stress) akibat pembebanan batuan kerak diatasnya, mantel akan mengalir dan bersifat cair dengan viskositas tinggi.

Medan Magnet Bumi

shddin 2007

Kerak Bumi mengandung beberapa mineral yang bersifat magnetik, salah satunya adalah magnetite. Namun medan magnet Bumi tentu saja bukan karena tubuh magnetite yang besar ada di inti Bumi. Karena semua sifat kemagnetan pada mineral tersebut akan hilang diatas titik Curie, yaitu sekitar 580 oC. Temperatur di kedalaman 100 km telah cukup tinggi untuk menghilangkan sifat kemagnetan pada mineral-mineral yang ada. Fakta lainnya bahwa lokasi kutub magnetik Bumi yang terus berpindah di sepanjang waktu juga menunjukkan sumber medan magnet Bumi bukanlah suatu tubuh mineral tertentu.

23

Medan Magnet Bumi

shddin 2007

Hingga saat ini para ahli beranggapan bahwa medan magnet Bumi dihasilkan oleh suatu mekanisme elektromagnetik pada inti terluar Bumi (seperti prinsip kerja dinamo). Namun, bagaimana kerja mekanisme tersebut, belum dipahami seutuhnya.

Medan Magnet Bumi


Inklinasi magnetis: deviasi medan magnet terhadap bidang horisontal.

shddin 2007

24

Medan Magnet Bumi

shddin 2007

Deklinasi magnetis: sudut antara garis titik posisi kompas terhadap kutub magnet Bumi dengan garis titik posisi kompas terhadap kutub geografis Bumi. Saat ini sudut antara kutub geografis dan kutub magnetis Bumi adalah 11,5o, dihitung dari titik pusat Bumi. Lokasi kutub magnetis saat ini adalah pada kepulauan Arktik milik Kanada.

Medan Magnet Bumi

shddin 2007

Magnetometer adalah alat untuk mengukur variasi/anomali kemagnetan. Alat ini sangat bermanfaat terutama dalam eksplorasi sumberdaya mineral. Anomali kemagnetan regional diduga disebabkan oleh kompleksitas arus konveksi di lapisan inti luar Bumi. Anomali kemagnetan lokal disebabkan oleh variasi jenis batuan secara lateral dan horisontal.

25

Medan Magnet Bumi: Reversal

shddin 2007

Ketika magma mendingin melewati titik Curie, mineral-mineral yang mengandung unsur besi akan memperoleh sifat kemagnetannya dan mengatur orientasi tubuhnya terhadap medan magnet. Fenomena ini mampu merekam arah dan kekuatan medan magnet Bumi. Selama mineral tersebut tidak terkena panas melampaui titik Curie, dia akan menyimpan rekaman informasi kemagnetan tersebut. Paleomagnetisme adalah cabang ilmu geologi yang mempelajari medan magnet purba, mengandalkan rekaman informasi kemagnetan (arah dan kekuatan) pada batuan. Ahli geologi mengacu kondisi kemagnetan saat ini sebagai polaritas normal, yaitu kutub utara dan selatan magnet relatif berimpit dengan kutub utara dan selatan geografis Bumi. Sejak tahun 1906, para ahli telah mengetahui bahwa arah medan magnet pada batuan purba seringkali berlawanan dengan medan magnet Bumi saat ini. Fenomena ini disebut sebagai pembalikan magnetik (magnetic reversal), dimana kutub utara magnet relatif berimpit dengan kutub selatan geografis Bumi (polaritas terbalik).

Medan Magnet Bumi: Reversal

shddin 2007

26

Medan Magnet Bumi: Reversal

shddin 2007

Medan Magnet Bumi: Reversal

shddin 2007

27

Medan Magnet Bumi: Reversal

shddin 2007

Penyebab proses pembalikan polaritas kemagnetan (magnetic reversal) tidak begitu dipahami, meskipun tampaknya mereka terkait dengan perubahan intensitas/kekuatan medan magnet. Perhitungan menunjukkan bahwa medan magnet Bumi telah melemah sebesar 5% selama 100 tahun terakhir. Jika kecenderungan ini terus berlangsung, dalam beberapa ribu tahun mendatang akan tiba saatnya dimana medan magnet Bumi hilang (non-existent) dan kemudian membalik polaritasnya. Setelah pembalikan polaritas kemagnetan terjadi, medan magnet kembali membangun intensitasnya.

28

08. Tektonik Lempeng MFS 1810

Salahuddin Husein

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2007

Teori Apungan Benua

shddin 2007

Antonio Sneider-Pellegrini (1858) berdasarkan pengamatan terhadap kesamaan endapan batubara di Eropa dan Amerika Utara menduga kedua benua tersebut pernah menjadi satu ketika Perioda Pennsylvanian dan kemudian terpecah. Penyebabnya adalah banjir katastropik Nuh.

Peta sebaran kontinen; dari buku "Creation and Its Mysteries Revealed" (A. Snider-Pelligrini, 1858)

Edward Suess (1885) berdasarkan pada kesamaan fosil tetumbuhan Paleozoikum dan bukti paleo-glasial di India, Australia, Afrika, Antartika dan Amerika Selatan menyatakan kelima benua tersebut pernah bersatu dengan nama superkontinen Gondwana, yang kemudian terpisah karena tenggelam oleh naiknya air laut.

Teori Apungan Benua

shddin 2007

Frank Taylor (1910) menduga semua benua saat ini dulu pernah menjadi satu yang kemudian terpecah dan menyebar ke ekuator akibat perlambatan kecepatan rotasi Bumi karena gaya pasang-surut. Alfred Wagener (1915) berdasarkan data-data geologi, paleontologi dan klimatologi membuat sebuah hipotesa apungan benua (continental drift), yang menyatakan bahwa semua benua pernah bergabung menjadi satu dengan nama superkontinen Pangea. Sayangnya Wagener tidak mampu menjelaskan mekanisme pecahnya Pangea.

Teori Apungan Benua

shddin 2007

Peta sebaran kontinen; dari buku The Origin of Continents and Oceans" (A. Wagener, 1915)

Teori Apungan Benua

shddin 2007

Alexander du Toit (1937) memecahkan paradoks perbedaan paleo-klimat antara belahan superkontinen selatan (Gondwana) yang tertutup endapan glasial dengan belahan superkontinen utara (yang kemudian dia beri nama Laurasia terdiri dari Amerika Utara, Greenland, Eropa dan Asia) yang tertutup endapan batubara. Teori apungan benua dan bukti-bukti pendukungnya masih sulit diterima oleh kalangan masyarakat ahli kebumian, terutama karena kurangnya penjelasan mekanisme yang memadai tentang bagaimana suatu benua yang tersusun oleh batuan granitik dapat bergerak mengapung diatas batuan kerak samudera basaltik yang lebih besar densitasnya. Hingga pada tahun 1960an ketika para oseanografer memperlihatkan bukti-bukti meyakinkan dari dasar laut.

Bukti-Bukti Teori Apungan Benua

shddin 2007

Kecocokan kontinen: Wagener (dan orang-orang sebelumnya) melihat dengan jelas kecocokan bentuk geometri garis pantai antara 2 benua yang dipisahkan oleh Samudera Atlantik. Para kritikus teori Apungan Benua menyatakan bahwa garis pantai merupakan hasil dari proses eksogenik yang terus berubah, sehingga bisa saja kecocokan tersebut merupakan kebetulan belaka. Sir Edward Bullard (1965) menunjukkan kecocokan yang sebenarnya justru terjadi pada batas lereng benua (continental slope) di kedalaman 2000 m, dimana terletak transisi dari kerak benua menjadi kerak samudera.

Bukti-Bukti Teori Apungan Benua

shddin 2007

Kesamaan sekuen batuan: Sekuen batuan marin, non-marin, dan glasial yang berumur Pennsylvania hingga Jura hampir mirip untuk kelima benua Gondwana.

Bukti-Bukti Teori Apungan Benua


Kemenerusan rangkaian pegunungan: Pegunungan Appalachia yang menerus dari Amerika Utara hingga ke Eropa Utara dan Greenland.

shddin 2007

Bukti-Bukti Teori Apungan Benua

shddin 2007

Kemenerusan rangkaian pegunungan: antara Amerika Selatan dan Afrika.

Dot hijau: batuan beku dan metamorfik (umur > 2 mtl.) Dot oranye: batuan Prekambrium Garis tipis: sumbu lipatan pegunungan akibat deformasi antara 650 - 450 jtl.

Bukti-Bukti Teori Apungan Benua

shddin 2007

Paleoklimat: Di akhir era Paleozoikum, glasier masif menutupi sebagian besar kontinen belahan Bumi selatan. Bukti-buktinya berupa lapisan till (endapan glasier yang mencair) dan striasi (gores-garis) akibat pergerakan glasier. Kini selain Antartika, empat kontinen Gondwana lainnya berada di dekat ekuator. Bukti-bukti dari striasi menunjukkan pergerakan glasier dari arah pantai saat ini menuju daerah pegunungan. Padahal umumnya glasier bergerak dari daerah tinggi di daratan menuju laut. Paradoks ini hanya bisa dijelaskan bila keempat kontinen Gondwana disatukan di daerah kutub. Pada waktu yang sama (Paleozoikum akhir), endapan batubara yang luas di kontinen belahan Bumi utara menunjukkan iklim tropis. Kini mereka berada pada lintang sedang di utara. Sehingga bila mereka digeser ke selatan mendekati ekuator, interpretasi tersebut mendukung penyatuan Gondwana di kutub selatan.

Bukti-Bukti Teori Apungan Benua


Bukti glasiasi:

shddin 2007

Bukti-Bukti Teori Apungan Benua


Bukti paleoklimat:

shddin 2007

Bukti-Bukti Teori Apungan Benua


Bukti paleontologi:

shddin 2007

Bukti-Bukti Teori Apungan Benua


Bukti polarwandering (1950-an):

shddin 2007

Bukti-Bukti Teori Apungan Benua


Bukti polarwandering:

shddin 2007

Pemekaran Dasar Samudera

shddin 2007

Pesatnya perkembangan riset oseanografi pada dekade 1960-an, menghasilkan peta-peta bawah laut yang spekatkuler. Salah satunya adalah sistem punggungan tengah samudera (mid-oceanic ridge) yang panjangnya lebih dari 65.000 km.

Pemekaran Dasar Samudera

shddin 2007

Harry Hess (1962), berdasarkan risetnya tentang guyot (gunungapi bawah laut yang terpancung) mengajukan teori pemekaran dasar samudera (seafloor spreading) untuk menjelaskan teori apungan benua. Menurut Hess, kerak benua tidak bergerak diatas kerak samudera, melainkan keduanya bergerak bersama-sama. Dia menunjukkan bahwa dasar samudera berpisah pada punggungan tengah samudera dimana kerak samudera baru terbentuk dari magma yang naik ke permukaan. Kerak samudera yang baru terbentuk kemudian bergerak menjauh dari punggungan tengah samudera, suatu proses yang menjelaskan bagaimana pulau gunungapi yang terbentuk di punggungan tengah samudera kemudian menjadi guyot. Untuk mekanisme pemekaran punggungan tengah samudera, Hess menggali kembali gagasan Arthur Holmes (1940-an), yaitu dengan sistem sel-sel arus konveksi di mantel Bumi. Magma panas dari mantel naik di sepanjang punggungan tengah samudera membentuk kerak baru. Kerak lama menunjam kedalam mantel di sepanjang palung samudera, dimana nanti kerak tersebut akan dipanaskan dan didaur-ulang, melengkapi siklus suatu sel arus konveksi.

Pemekaran Dasar Samudera


Bagaimana membuktikan hipotesa Hess? Jawabnya adalah dengan penelitian pembalikan kutub magnetik Bumi. F. Vine, D. Matthews dan L.W. Morley (1963) menjelaskan polaritas magnetik pada batuan di dasar laut.

shddin 2007

Pemekaran Dasar Samudera

shddin 2007

Umur kerak samudera berdasarkan anomali magnetik

Pemekaran Dasar Samudera

shddin 2007

Pemboran laut dalam (deep-sea drilling project) juga mengkonfirmasi teori pemekaran dasar samudera dengan menentukan sebaran ketebalan sedimen laut dalam. Kecepatan sedimentasi di laut dalam hanya rata-rata 0.3 cm/1000 tahun. Semakin dekat dengan punggungan tengah samudera, sedimen semakin tipis bahkan absen pada puncak punggungan. Hal ini terjadi karena di daerah tersebut kerak samudera baru saja terbentuk sehingga sedimen belum ada waktu untuk terendapkan.

10

Teori Tektonik Lempeng

shddin 2007

Teori tektonik lempeng didasarkan pada model sederhana dari planet Bumi: litosfer yang rigid, terdiri dari kerak benua dan kerak samudera, bersamasama dengan bagian paling atas mantel yang ada dibawahnya, tersusun oleh berbagai lempengan dengan beragam ukuran. Lempeng-lempeng tersebut memiliki ketebalan bervariasi: yang disusun oleh kerak benua dan mantel atas memiliki ketebalan hingga 250 km. Sedangkan yang disusun oleh kerak samudera dan mantel atas memiliki ketebalan hingga 100 km. Litosfer yang rigid berada diatas astenosfer yang panas dan lemah. Diduga adanya transfer panas di astenosfer lah yang menyebabkan lempeng diatasnya bergerak. Lempeng-lempeng tersebut bergerak saling menjauh di punggungan tengah samudera dan bertemu di palung laut, dimana salah satu lempeng akan menunjam masuk kembali ke mantel. Teori ini dapat menjelaskan hubungan antara proses pembentukan pegunungan, kegempaan, dan volkanisme.

Lempeng Tektonik

shddin 2007

11

Batas Lempeng Tektonik

shddin 2007

Batas Divergen

shddin 2007

12

Batas Konvergen (samudera samudera)

shddin 2007

Batas Konvergen (benua samudera)

shddin 2007

13

Batas Konvergen (benua benua)

shddin 2007

Batas Transform

shddin 2007

14

Pergerakan Relatif Lempeng Tektonik

shddin 2007

Gerak relatif ditentukan dari: (1) umur batuan sedimen di dasar laut, (2) pembalikan magnetik batuan kerak samudera, (3) satellite laser ranging technique, (4) radio signals.

Hot Spot

shddin 2007

Hot spot adalah titik di permukaan Bumi dimana kolom magma dari mantel (mantle plume) muncul di permukaan membentuk gunungapi atau flood basalt. Karena sifatnya yang stasioner, hot spot dapat dipergunakan untuk menentukan kecepatan absolut dari pergerakan lempeng.

15

Hot Spot

shddin 2007

Mekanisme Tektonik Lempeng

shddin 2007

Ada 2 model yang menjelaskan mekanisme tektonik lempeng: (a) sel arus konveksi panas yang hanya terbatas di astenosfer, (b) sel arus konveksi panas yang melibatkan seluruh mantel. Kedua model berdasarkan asumsi: - satu sel arus konveksi menggerakkan satu lempeng tektonik - arus konveksi muncul di punggungan tengah samudera - arus konveksi masuk kembali di palung samudera - batas-batas lempeng tersebut ditentukan oleh sel arus konveksi.

16

Mekanisme Tektonik Lempeng

shddin 2007

Selain oleh sel konveksi, pergerakan lempeng tektonik juga disebabkan oleh gaya gravitasi melalui mekanisme slab-pull dan ridge-push. - Slab-pull: litosfer yang menunjam lebih dingin dan lebih padat, sehingga mampu menarik sisa lempeng yang masih ada di permukaan. - Ridge-push: topografi punggungan tengah samudera lebih tinggi dari lempeng sekitarnya, sehingga gaya gravitasi dapat menarik litosfer menjauh darinya.

Siklus Wilson
J. Tuzo Wilson (awal 1970-an) mengajukan hipotesa siklus superkontinen (kemudian dikenal sebagai siklus Wilson), yang menyatakan bahwa superkontinen seperti Pangea bukan hanya terjadi satu kali saja dalam sejarah Bumi, melainkan berulangkali dengan interval waktu sekitar 500 juta tahun. Hipotesa Wilson tersebut mampu menjelaskan sebaran rangkaian pegunungan akibat orogenesa yang terjadi di tengah benua sebagai hasil kolisi ketika 2 benua bertemu menutup suatu siklus superkontinen.

shddin 2007

17

09. Deformasi dan Pembentukan Pegunungan MFS 1810

Salahuddin Husein

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2007

Deformasi Batuan
Perlapisan batuan mengalami deformasi berupa perlipatan, retakan dan patahan.

shddin 2007

Deformasi Batuan

shddin 2007

Deformasi adalah proses perubahan bentuk dan/atau volume akibat stress. Deformasi sering juga disebut sebagai strain. Stress adalah gaya yang bekerja pada suatu permukaan (per satuan luas). 3 (tiga) jenis stress: - compression: dihasilkan akibat gaya eksternal yang saling berhadapan dan keduanya saling menekan batuan. Batuan akan mengalami pemendekan (shortening) melalui perlipatan atau patahan. - tension: dihasilkan akibat gaya eksternal yang saling berhadapan dan keduanya saling menjauhi batuan. Batuan akan mengalami pemanjangan. - shear: dihasilkan akibat gaya eksternal yang bekerja saling sejajar namun berlawanan arah. Batuan akan mengalami pergeseran antar perlapisan.

Stress dan Deformasi Batuan

shddin 2007

Deformasi (Strain)

shddin 2007

1. Bersifat elastis bila material yang terkena deformasi kembali ke bentuk semula ketika stress dihilangkan. 2. Ketika batas elastisitas terlampaui, material akan mengalami deformasi bersifat permanen, yaitu bersifat plastis bila material bersifat liat (ductile) dan menghasilkan perlipatan, atau bersifat patah bila material bersifat rapuh (brittle) dan menghasilkan patahan. Tipe strain ditentukan oleh: 1. Jenis stress 2. Tekanan 3. Temperatur 4. Jenis batuan 5. Waktu Batuan disebut bersifat liat (ductile) atau rapuh (brittle) tergantung pada berapa banyak strain plastis yang dialaminya. Ductile kurva A Brittle kurva B

Deformasi (Strain)
Pengaruh jenis stress pada jenis deformasi:

shddin 2007

Deformasi (Strain)

shddin 2007

Pengaruh tekanan ruang pada jenis deformasi:

Brittle Low confining pressure

Ductile High confining pressure

Deformasi (Strain)

shddin 2007

Pengaruh temperatur pada jenis deformasi:

Brittle

Ductile

Deformasi (Strain)
Pengaruh waktu pada jenis deformasi:

shddin 2007

Rock Creek Cemetery, Washington DC, USA

Papan marmer ini melengkung akibat beratnya sendiri dalam waktu 80 tahun.

Strike dan Dip

shddin 2007

Menurut prinsip original horizontality, batuan sedimen diendapkan dalam perlapisan yang horisontal. Sehingga setiap perlapisan batuan sedimen yang miring tentulah mengalami proses deformasi setelah pengendapan dan litifikasi. Untuk menggambarkan orientasi perlapisan batuan yang telah mengalami deformasi dan tidak lagi horisontal, geologis menggunakan konsep strike dan dip.

Strike dan Dip

shddin 2007

Strike adalah arah suatu garis yang dibentuk oleh perpotongan bidang horisontal dengan bidang perlapisan batuan yang miring. Dip adalah deviasi sudut maksimum dari suatu bidang perlapisan batuan yang miring dari bidang horisontal. Dip harus diukur tegaklurus terhadap arah strike.

Perlipatan (Folds)

shddin 2007

Monoklin (Monocline)

shddin 2007

San Rafael Swell, Utah, USA

Antiklin dan Sinklin (Anticline dan Syncline)

shddin 2007

Antiklin dan Sinklin (Anticline dan Syncline)

shddin 2007

Calico Hills, California, USA

Antiklin dan Sinklin (Anticline dan Syncline)

shddin 2007

Kootenay National Park, British Columbia, Canada

Antiklin dan Sinklin (Anticline dan Syncline)

shddin 2007

Antiklin dan Sinklin (Anticline dan Syncline)

shddin 2007

Alaskobong, Purwodadi, Jawa Tengah

Antiklin dan Sinklin (Anticline dan Syncline)

shddin 2007

Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah

Kubah (Domes)

shddin 2007

10

Kubah (Domes)

shddin 2007

Texas, USA

Zagros Mts., Iran

Perlipatan Menunjam (Plunging Folds)

shddin 2007

11

Perlipatan Menunjam (Plunging Folds)

shddin 2007

St. George, Utah, USA

Perlipatan Menunjam (Plunging Folds)


Sheep Mts., Wyoming, USA

shddin 2007

12

Perlipatan Menunjam (Plunging Folds)

shddin 2007

Perlipatan Rebah (Recumbent Folds)

shddin 2007

Riau, Indonesia

13

Perlipatan Kompleks (Complex Folds)

shddin 2007

Kink Folds

shddin 2007

Carpathians Mts, Romania

14

Kink Folds

shddin 2007

France

Chevron Folds

shddin 2007

Hartland Point, Devon, UK

15

Chevron Folds

shddin 2007

Cuspate Folds

shddin 2007

16

Box Folds

shddin 2007

Kekar (Joints)
Arches National Park, Utah, USA

shddin 2007

Arches National Park, Utah, USA

Arches National Park, Utah, USA

17

Kekar (Joints)

shddin 2007

Kekar (Joints)

shddin 2007

18

Kekar (Joints)

shddin 2007

Kekar (Joints)

shddin 2007

19

Kekar (Joints)

shddin 2007

Kekar (Joints)

shddin 2007

Columnar joints: akibat pendinginan

Sheeting joints: akibat pembebanan

20

Sesar (Faults)

shddin 2007

Sesar Turun (Normal Faults)

shddin 2007

21

Sesar Turun (Normal Faults)

shddin 2007

Sesar Turun (Normal Faults)

shddin 2007

22

Sesar Turun (Normal Faults)

shddin 2007

Lost River Range, Idaho, USA

Sesar Naik (Thrust Faults)

shddin 2007

23

Sesar Naik (Thrust Faults)

shddin 2007

Wales, UK

Sesar Naik (Thrust Faults)

shddin 2007

Klamath Falls, Oregon, USA

24

Sesar Naik (Thrust Faults)

shddin 2007

British Columbia, Canada

Sesar Geser (Strike-Slip Faults)

shddin 2007

25

Sesar Geser (Strike-Slip Faults)

shddin 2007

San Andreas Fault, California, USA

Sesar Geser (Strike-Slip Faults)

shddin 2007

San Andreas Fault, California, USA

26

Orogenesa: Pembentukan Pegunungan

shddin 2007

1. Pegunungan dapat terbentuk akibat erosi yang menyingkap batuan resisten, seperti batolith.

Orogenesa: Pembentukan Pegunungan

shddin 2007

2. Pegunungan dapat terbentuk akibat pensesaran bongkah (block faulting).

Humboldt Range, Nevada, USA

27

Orogenesa: Pembentukan Pegunungan

shddin 2007

3. Pegunungan dapat terbentuk akibat tektonik lempeng, yang berlangsung di sepanjang batas konvergen. Saat ini aktivitas orogenesa Bumi terkonsentrasi pada 2 jalur, yaitu (1) sabuk orogenesa Alpen-Himalaya dan (2) sabuk orogenesa Lingkar-Pasifik.

Orogenesa Lempeng Samudera Samudera


Orogenesa dan pembentukan busur pulau gunungapi pada batas lempeng samudera-samudera. (a) Penunjaman lempeng samudera dibawah busur kepulauan. (b) Deformasi dan perlipatan pada cekungan belakang busur. (c) Pensesaran naik cekungan belakang busur keatas kontinen dan penggabungan busur kepulauan terhadap kontinen.

shddin 2007

28

Orogenesa Lempeng Samudera Kontinen


Tiga tahap perkembangan Pegunungan Andes (Amerika Selatan): (a) Sebelum 200 jtl, pesisir barat Amerika Selatan adalah batas kontinen pasif. (b) Orogenesa dimulai ketika pesisir barat Amerika Selatan menjadi batas kontinen aktif. (c) Deformasi, volkanisme dan plutonisme terus berlangsung hingga saat ini.

shddin 2007

Orogenesa Lempeng Kontinen Kontinen

shddin 2007

Kolisi India dengan Asia serta pembentukan Pegunungan Himalaya.

29

Lempeng Mikro dan Akresi Kontinen

shddin 2007

Lempeng mikro yang bergabung (akresi) dengan kontinen Amerika Utara

30

10. Proses Lereng dan Gerakan Massa MFS 1810


Salahuddin Husein

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2007

Prolog
31 Mei 1970, terjadi gerakan massa debris flow di Nevado Huascarn, Peru, akibat gempabumi yang terjadi pada jarak 65 km. Debris flow terdiri dari > 50 juta m3 massa dengan kecepatan 320 km/jam.

shddin 2007

Peristiwa selama 4 menit tersebut membunuh lebih dari 25.000 orang di kota Yungay dan Ranrahirca.

Prolog

shddin 2007

Hasil akhir dari drama singkat tersebut adalah Kota Yungay terkubur oleh batu dan lumpur setebal 14 m. Ironisnya, satu-satunya bagian kota yang tidak hancur hanyalah sebuah bukit kompleks pekuburan, dimana 92 penduduk selamat dengan lari ke puncak bukit tersebut.

Pendahuluan

shddin 2007

Gerakan massa (mass wasting atau mass movement atau slope failure) adalah perpindahan material menuruni lereng akibat gaya gravitasi. Gerakan massa terjadi bila gaya gravitasi yang bekerja di suatu lereng melebihi gaya penahannya. Gaya penahan (shear strength) suatu lereng tergantung pada sifat kohesi materialnya dan gaya gesek (internal friction) antar-butir. Gaya gravitasi bekerja secara vertikal, namun ada komponennya yang sejajar lereng yang dapat menyebabkan ketidakstabilan lereng. Semakin besar sudut lereng, semakin besar komponen gaya gravitasi yang sejajar lereng, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya gerakan massa. Sudut lereng maksimum sebelum terjadi gerakan massa disebut angle of repose, dimana shear strength seimbang dan sama besar dengan gaya gravitasi. Untuk material lepas, angle of repose berkisar dari 25o hingga 40o.

Pendahuluan

shddin 2007

Faktor-Faktor Penyebab Gerakan Massa

shddin 2007

Semua lereng berada dalam keadaan keseimbangan dinamis (dynamic equilibrium), artinya mereka selalu beradaptasi dengan kondisi baru, salah satunya dengan cara gerakan massa. Ada beberapa faktor yang menyebabkan gerakan massa, hampir di semua kasus mereka bekerja saling terkait (interrelated): 1. Perubahan dalam sudut lereng (slope angle) Merupakan faktor paling utama dalam gerakan massa. Semakin curam lereng, semakin besar komponen gravitasi yang bekerja sejajar lereng, semakin tidak stabil lereng, dan semakin besar kemungkinan terjadinya gerakan massa.

Faktor-Faktor Penyebab Gerakan Massa

shddin 2007

Gerakan massa akibat pemotongan lereng oleh sungai

Faktor-Faktor Penyebab Gerakan Massa

shddin 2007

Gerakan massa akibat pemotongan lereng oleh pembuatan jalan.

Faktor-Faktor Penyebab Gerakan Massa

shddin 2007

2. Berkurangnya kekompakan material akibat pelapukan (weathering and climate) Semakin lapuk suatu material, semakin besar kemungkinan terjadinya gerakan massa. Tingkat pelapukan mempengaruhi kuat geser suatu batuan. 3. Bertambahnya kandungan air (water content) Bertambahnya kandungan air menambah berat massa batuan dan sekaligus mengurangi kuat geser batuan tersebut, sehingga menambah besar kemungkinan terjadinya gerakan massa. Khusus untuk lempung yang seringkali berfungsi sebagai bidang gelincir gerakan massa, air dalam jumlah banyak dapat mengisi mengisi pori-pori dan mempermudah mineral lempung yang pipih untuk saling bergeser.

Faktor-Faktor Penyebab Gerakan Massa

shddin 2007

4. Perubahan tumbuhan penutup lahan (vegetation cover) Akar tumbuhan menyerap air dari suatu lereng, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya gerakan massa. Sistem akar tumbuhan juga menstabilkan lereng dengan cara mengikat partikel tanah dan merekatkan tanah pada batuan dasarnya. Bila tumbuhan penutup lereng berkurang atau hilang, maka kemungkinan terjadinya gerakan massa bertambah. 5. Pembebanan (overloading) Umumnya akibat aktivitas manusia, seperti penimbunan atau penumpukan material diatas suatu lereng. Penambahan beban menyebabkan bertambahnya tekanan air pori yang dapat mengurangi kuat geser batuan.

Faktor-Faktor Penyebab Gerakan Massa

shddin 2007

Hilangnya vegetasi penutup akibat penggundulan hutan memicu gerakan massa.

Faktor Geologi dalam Kestabilan Lereng

shddin 2007

(a) Perlapisan batuan yang miring searah lereng rentan terhadap gerakan massa. Bertambahnya sudut lereng akibat aktivitas sungai, bertambahnya beban massa batuan akibat bertambahnya kandungan air, dapat memicu terjadinya gerakan massa.

(b) Bidang retakan miring searah lereng rentan terhadap gerakan massa. Bertambahnya lebar bidang retakan akibat pelapukan kimiawi dapat mengurangi kuat geser batuan dan menjadi faktor pemicu terjadinya gerakan massa.

Mekanisme Pemicu Gerakan Massa

shddin 2007

Berbagai faktor tersebut (pada slide sebelumnya) menyebabkan gerakan massa dengan cara mempengaruhi ketidakstabilan lereng, namun hampir semua gerakan massa yang cepat dipicu oleh suatu gaya yang mengganggu keseimbangan lereng. Mekanisme pemicu yang paling banyak terjadi adalah (1) getaran gempabumi dan (2) penambahan jumlah air permukaan akibat hujan yang sangat lebat. Beberapa pemicu lainnya yang tidak lazim adalah (a) letusan gunung berapi, (b) bunyi petir, (c) letusan dinamit pada penambangan, (d) letusan tembakan senapan, (e) jeritan suara manusia.

Jenis Gerakan Massa


Gerakan massa dibedakan berdasarkan pada kriteria: 1. Kecepatan pergerakan (cepat atau lambat) 2. Jenis pergerakan (jatuhan, geseran, atau aliran) 3. Jenis material yang bergerak (batuan, tanah, atau debris)

shddin 2007

Dalam satu kali peristiwa gerakan massa, seringkali terjadi perubahan jenis gerakan. Misalkan pada bagian atas lereng bergerak sebagai geseran, namun akibat adanya penambahan air maka menjadi aliran pada bagian bawah lereng.

Jenis Gerakan Massa

shddin 2007

Jenis Gerakan Massa Jatuhan

shddin 2007

Jenis Gerakan Massa Geseran


1. Slump (rotational slide)

shddin 2007

Jenis Gerakan Massa Geseran


2. Rockslide along bedding planes

shddin 2007

Jenis Gerakan Massa Geseran


2. Rockslide along fracture planes

shddin 2007

Jenis Gerakan Massa Aliran


1. Mudflow Material bergerak mengalir seperti fluida kental atau bergerak plastis. Mudflows bergerak sangat cepat (hingga 80 km/jam), tersusun dari 50% lumpur (partikel berukuran lempung dan lanau) dan kandungan air hingga 30%. 2. Debris flow Tersusun oleh material yang lebih besar dari lumpur dan mengandung lebih sedikit air daripada mudflow.

shddin 2007

10

Jenis Gerakan Massa Aliran

shddin 2007

3. Earthflow Membentuk massa tanah basah dengan geometri seperti lidah, gerakan lambat, banyak terjadi pada lereng tertutup vegetasi rumput.

Jenis Gerakan Massa Aliran

shddin 2007

4. Quick clays Beberapa lempung secara spontan bergerak seperti cair dan mengalir ketika terganggu.

11

Jenis Gerakan Massa Aliran


5. Solifluction Pergerakan sedimen permukaan jenuh air yang sangat lambat. Sering terjadi di daerah permafrost (tanah yang senantiasa membeku di sekitar kutub bumi) dan membentuk topografi lobate.

shddin 2007

Jenis Gerakan Massa Aliran


6. Creep

shddin 2007

12

Jenis Gerakan Massa Kompleks

shddin 2007

Bencana Bendungan Vaiont

shddin 2007

Pada tanggal 9 Oktober 1963, selama 30 detik sebanyak 240 juta m3 batuan (lebar 2 km dan tebal 175 m) longsor ke Bendungan Vaiont, Italia, membunuh hampir 3000 orang. Longsoran juga menimbulkan angin kencang sejauh 260 m yang menghancurkan bangunan rumah di Casso. Getaran permukaannya tercatat pada stasiun seismograf di seluruh Eropa.

13

Bencana Bendungan Vaiont

shddin 2007

Gerakan Massa sebagai Bagian dari Proses Eksogenik

shddin 2007

14

Mengenali Potensi Gerakan Massa

shddin 2007

Penyelidikan geologi detail untuk menghasilkan peta kestabilan lereng: - Tanda-tanda longsoran purba - Analisa sampel tanah dan batuan: komposisi, tingkat pelapukan, daya kohesi dan kemampuan menyerap dan melewatkan air.

Mengurangi Potensi Gerakan Massa


1. Mengurangi jumlah air pada pori batuan dengan drainase.

shddin 2007

15

Mengurangi Potensi Gerakan Massa


2. Mengurangi kemiringan lereng dengan metode cut and fill.

shddin 2007

Mengurangi Potensi Gerakan Massa


3. Mengurangi kemiringan lereng dengan metode benching.

shddin 2007

16

Mengurangi Potensi Gerakan Massa


4. Menyangga lereng dengan metode retaining wall.

shddin 2007

Mengurangi Potensi Gerakan Massa


5. Memperkuat lereng dengan metode rock bolts.

shddin 2007

17

11. Air Permukaan MFS 1810

Salahuddin Husein

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2007

Pendahuluan
Diantara planet-planet sekitarnya, Bumi merupakan planet unik karena memiliki air dalam bentuk cair yang melimpah.

shddin 2007

Merkurius terlampau kecil untuk mempertahankan air, Venus terkena efek rumahkaca yang menyebabkan air permukaannya menguap, Mars memiliki sedikit air dalam keadaan beku dan sisa-sisa uap air di atmosfernya.

Permukaan Mars dan bentuk pola pengalirannya.

Pendahuluan

shddin 2007

71% permukaan Bumi tertutup oleh air, atmosfernya mengandung sedikit uap air yang sangat vital. Volume air di Bumi diperkirakan sekitar 1.36 milyar km3.

Siklus Hidrologi

shddin 2007

Siklus Hidrologi

shddin 2007

Siklus hidrologi adalah perputaran air di permukaan bumi secara kontinyu. Siklus hidrologi dibangkitkan oleh radiasi matahari. Siklus tersebut bisa terjadi karena air dapat berubah fase dengan mudahnya pada kondisi permukaan Bumi. Jumlah air di samudera yang menguap setara dengan ketebalan 1 m/tahun. 85% air di atmosfer berasal dari samudera, sisanya 15% dari daratan. 80% air di atmosfer kembali ke samudera, melengkapi siklus 3 tahap: evaporasi, kondensasi, dan presipitasi. 20% air di atmosfer jatuh di daratan, dengan tahapan siklus: evaporasi, kondensasi, pergerakan uap air dari samudera ke daratan, presipitasi, runoff (aliran permukaan), dan infiltrasi. Runoff mengembalikan air ke samudera sebanyak 36.000 km3 per tahun.

Aliran Permukaan
A

shddin 2007

Erosi oleh aliran sungai menrupakan proses dominan dalam pembentukan morfologi suatu daerah. Foto-foto ini menunjukkan kompleksitas sistem aliran sungai dalam berbagai skala, dari skala regional dari citra satelit (A) dan foto udara (B) hingga skala lokal (C).
C

Aliran Permukaan

shddin 2007

Sistem sungai dibangun oleh berbagai bagian yang dicirikan berbagai proses geologi yang berbeda. Anak-anak sungai di bagian hulu adalah subsistem yang mengumpulkan air dan sedimen serta menyalurkannya ke sungai induk; proses erosi sangat dominan di bagian ini. Sungai induk adalah subsistem transportasi, proses erosi dan pengendapan dapat terjadi di bagian ini. Bagian bawah dari sistem sungai adalah subsistem yang menyebarkan air kembali ke lautan dan mengendapkan sedimen pada delta; pengendapan adalah proses yang paling dominan di bagian ini.

Aliran Permukaan
Karakteristik sebuah sungai berubah sistematis kearah hilir. Gradiennya berkurang dan ukuran sungainya melebar. Perubahan lainnya adalah penambahan volume air dan pelebaran lembah sungai.

shddin 2007

Aliran Permukaan

shddin 2007

Air tidak memiliki kekuatan (strength), sehingga dapat mengalir pada bidang miring seberapa pun landainya. Aliran air, sebagaimana juga fluida lainnya, dibagi menjadi 2 jenis: (a) laminar dan (b) turbulen. Kontrol utamanya adalah: (1) kecepatan aliran dan (2) derajat kekasaran (roughness) permukaan dasar aliran. Jika presipitasi air di suatu daerah melampaui kapasitas infiltrasi, maka terbentuk runoff (aliran permukaan). Runoff bergerak dalam dua bentuk, yaitu: (1) aliran lembaran (sheet flow), dan (2) aliran sungai (channel flow). Aliran lembaran menyebabkan erosi lembaran (sheet erosion).

Aliran Permukaan

shddin 2007

Gradien sungai adalah besarnya lereng sungai, dihitung berdasarkan selisih tinggi dibagi dengan jarak horisontal. Gradien umumnya besar pada bagian hulu dan semakin mengecil ke arah hilir.

Kecepatan Aliran Permukaan

shddin 2007

Kecepatan aliran (stream velocity) adalah jarak tempuh partikel air dalam waktu tertentu, biasanya dengan unit meter/detik. Kecepatan aliran bervariasi baik dalam jarak horisontal maupun dalam penampang melintang. Dasar sungai dan tebing sungai menyebabkan resistensi akibat gesekan (friksi), sehingga alirannya lebih lambat namun sekaligus lebih turbulen (bermanfaat untuk erosi).

Kecepatan Aliran Permukaan

shddin 2007

Bentuk penampang sungai juga mengontrol kecepatan aliran. Penampang sungai yang lebar dan dangkal serta penampang sungai yang sempit dan dalam memiliki lebih banyak kontak dengan air daripada penampang sungai yang berbentuk semi-sirkular.

Kecepatan Aliran Permukaan

shddin 2007

Derajat kekasaran (roughness) sungai turut serta mengontrol kecepatan aliran. Parameter ini mengukur resistensi gesekan dari suatu sungai. Dasar dan tebing sungai dengan fragmen batuan berukuran bongkah memiliki resistensi gesekan lebih besar dibandingkan dengan dasar dan tebing sungai yang disusun oleh pasir dan lempung. Sungai yang ditumbuhi banyak vegetasi memiliki resistensi gesekan lebih besar dibandingkan dengan sungai tanpa vegetasi.

Kecepatan Aliran Permukaan

shddin 2007

Kontrol paling utama terhadap kecepatan aliran adalah gradien sungai. Semakin besar gradien, semakin cepat aliran sungainya. Namun seringkali justru semakin ke arah hilir alirannya semakin cepat. Penyebabnya ada tiga, yaitu: 1. Kecepatan bertambah kontinyu akibat gravitasi meskipun gradiennya berkurang, 2. Bagian hulu umumnya memiliki derajat kekasaran yang besar, sedangkan bagian hilir derajat kekasarannya lebih kecil, sehingga kecepatannya juga semakin besar ke arah hilir, 3. Jumlah anak sungai semakin bertambah ke arah hilir, menyebabkan debit (volume total) air yang disalurkan oleh sungai di bagian hilir menjadi bertambah, yang pada akhirnya akan menambah kecepatan aliran.

Debit Aliran Permukaan

shddin 2007

Debit adalah volume total air dalam sungai yang mengalir melalui suatu titik pada perioda waktu tertentu. Parameter yang harus diketahui adalah penampang sungai (A) dan kecepatan alirannya (V). Debit (Q) dihitung dengan rumus: Q = VA. Satuan debit adalah meter kubik per detik (m3/s).

Erosi Sungai

shddin 2007

Sungai memiliki dua jenis energi, yaitu energi potensial dan energi kinetik. Energi potensial adalah energi posisi, seperti yang dimiliki oleh air yang dibendung atau pada air tergenang pada posisi yang tinggi. Pada aliran sungai, energi potensial dikonversi menjadi energi kinetik, atau energi gerak. Sebagian besar energi kinetik hilang sebagai panas akibat gerak aliran turbulen, namun sebagian kecil sisanya (~5%) mampu mengerosi dan mentransportasikan sedimen. Erosi melibatkan pemindahan fisik material terlarut dan partikel lepas tanah dan batuan. Sehingga sungai mentransportasikan sedimen dalam dua bentuk, yaitu (1) material terlarutkan, dan (2) partikel padat. Proses erosi lainnya pada sungai adalah abrasi, dimana batuan yang terkena aliran air dikikis oleh tumbukan partikel padat yang ditransportasikan oleh sungai. Contoh: potholes.

Transportasi Muatan Sedimen


Karena material terlarutkan tidak tampak, seringkali diabaikan dalam perhitungan muatan sedimen dalam aliran sungai.

shddin 2007

Partikel padat yang dibawa oleh aliran dapat berupa: (1) suspended load, yaitu partikel berukuran lempung dan lanau yang berada dalam kondisi suspensi oleh aliran turbulen, dan (2) bed load, yaitu partikel berukuran pasir dan kerikil yang bergerak di sepanjang dasar sungai karena aliran turbulen tidak mampu mengangkat mereka dalam suspensi. Sebagian dari bed load dapat terangkut naik dalam suspensi ketika arus eddy berputar pada dasar sungai. Setelah bergerak dengan kecepatan aliran air, sesaat kemudian mereka diendapkan kembali di dasar sungai. Biasanya tidak lama kemudian mereka kembali naik ke dalam suspensi dengan proses yang sama, yang lazim disebut sebagai saltasi (saltation). Partikel bed load yang berukuran besar untuk digerakkan secara saltasi berpindah dengan bergulung (rolling) atau bergeser (sliding).

Transportasi Muatan Sedimen

shddin 2007

Mode transportasi sedimen oleh air permukaan.

Transportasi Muatan Sedimen

shddin 2007

Kompetensi sungai: ukuran partikel terbesar yang mampu dibawa oleh aliran sungai. Kompetensi berhubungan dengan faktor kecepatan aliran. Kapasitas sungai: jumlah total sedimen yang mampu dibawa oleh aliran sungai. Kapasitas merupakan fungsi dari debit.

Pengendapan Sungai

shddin 2007

Sungai hanya mampu membawa muatan sedimennya dalam jarak tertentu dari tempat material tersebut dierosi atau diangkut. Muatan sedimen tersebut dapat diendapkan pada beragam lingkungan: dasar sungai, dataran banjir, dan delta. Material hasil pengendapan sungai disebut sebagai alluvial (alluvium). Hampir semua sungai melakukan erosi, transportasi dan deposisi secara efektif selama banjir. Sehingga seringkali endapan alluvial tidak mencerminkan proses sedimentasi harian yang kontinyu, melainkan bersifat peristiwa sedimentasi skala besar dan periodik yang terjadi ketika banjir.

10

Pengendapan Sungai
1. Sungai teranyam (braided streams) dan endapannya

shddin 2007

Sungai teranyam memiliki banyak tubuh air yang terpisah dan bergabung dalam pola jaringan yang rumit. Sungai teranyam berkembang ketika muatan sedimen sungai terlampau banyak (over-capacity), dimana sebagian diendapkan sebagai tubuh gosong (bar) pasir dan kerikil di dasar sungai. Gosong-gosong tersebutlah yang membagi sungai menjadi beberapa tubuh aliran yang teranyam. Sungai teranyam umumnya memiliki penampang yang lebar dan dangkal. Muatan sedimennya adalah jenis bed load dengan ukuran pasir dan kerikil. Sungai teranyam dapat berkembang baik di daerah yang erosinya tinggi dan vegetasinya sedikit.

Pengendapan Sungai
2. Sungai berkelok (meandering streams) dan endapannya

shddin 2007

Sungai berkelok memiliki tubuh air tunggal yang melengkung dalam kurva lebar dan sinus. Penampang sungainya relatif semi-sirkular pada bagian yang lurus, namun menjadi asimetris pada bagian kelokan: kedalaman maksimum ada di tebing luar (disebut juga cut bank karena kecepatan aliran dan turbulensi paling besar yang membuat erosi sangat dominan) dan kedalaman minimum ada di tebing dalam (kecepatan aliran paling lambat). Karena terjadi perbedaan kecepatan aliran, tebing luar mengalami erosi dan tebing dalam mengalami deposisi. Hasil dari proses ini adalah kelokan sungai dapat bergerak secara lateral dan lebar penampang sungai dapat terjaga karena tingkat erosi di satu sisi diimbangi oleh tingkat deposisi yang sama di sisi lain. Endapan pada kelokan dalam disebut point bar, tersusun oleh pasir atau kerikil dengan struktur silang-siur (cross-bedding).

11

Pengendapan Sungai

shddin 2007

Pengendapan Sungai
Aliran air di sekitar kelokan sungai mengikuti pola ulir. Aliran pada bagian kelok luar bergerak lebih cepat daripada bagian kelok dalam. Perbedaan kecepatan tersebut, bersama-sama dengan resistensi gesekan pada tebing sungai, menghasilkan pola ulir tersebut. Akibatnya, erosi terjadi pada bagian luar dimana kecepatan paling tinggi, dan deposisi terjadi pada bagian dalam dimana kecepatan paling kecil. Pola erosi dan deposisi tersebut membuat sungai bermigrasi secara lateral.

shddin 2007

12

Pengendapan Sungai
2. Sungai berkelok (meandering streams) dan endapannya

shddin 2007

Seringkali karena migrasi meander secara lateral dapat membentuk pola sangat sinus dan hanya menyisakan sedikit dataran sebagai pembatas. Bila pembatas tersebut rusak oleh aliran sungai ketika banjir, maka meander yang sangat sinus tersebut akan ditinggalkan (cut off) dan disebut sebagai danau tapal kuda (oxbow lake). Danau tapal kuda dapat bertahan selama beberapa saat, sebelum kemudian bahan organik dari tumbuhan dan sedimen halus dari banjir mengisinya. Ketika danau tapal kuda telah tertutup secara sempurna, disebut sebagai parut kelok (meander scar).

Pengendapan Sungai

shddin 2007

13

Pengendapan Sungai

shddin 2007

Pengendapan Sungai

shddin 2007

14

Pengendapan Sungai
3. Dataran banjir

shddin 2007

Pengendapan Sungai

shddin 2007

4. Delta Delta terbentuk ketika sungai mengalir bergabung dengan tubuh air lainnya, kecepatan alirannya berkurang dengan cepat dan mengendapkan sedimen muatannya. Hasilnya adalah berkembangnya garis pantai kearah luar (prograde) yang merupakan karakter suatu delta.

15

Pengendapan Sungai

shddin 2007

4. Delta Sungai distributari terbentuk ketika gosong mulut sungai berkembang akibat pembentukan delta.

Pengendapan Sungai
4. Delta Bentuk delta tergantung pada keseimbangan interaksi antara proses sedimentasi sungai dan proses erosi laut.

shddin 2007

16

Pengendapan Sungai

shddin 2007

4. Delta Perkembangan dan pertumbuhan suatu delta ditentukan oleh perpindahan (avulsion) sungai. Delta Mississippi dibentuk oleh 7 sub-delta secara berurutan. Erosi laut menghilangkan geometri delta yang lama.

Pengendapan Sungai
4. Delta Sebaran delta-delta besar di Bumi terletak pada cekungan-cekungan pengaliran (drainage basins) besar.

shddin 2007

17

Pengendapan Sungai

shddin 2007

5. Kipas alluvial (alluvial fan) Kipas alluvial adalah endapan alluvium berbentuk lobate di daratan. Kipas alluvial terbentuk ketika sungai memasuki suatu cekungan kering tanpa air dan mengendapkan material yang dibawanya. Umumnya terbentuk di lingkungan dengan sedikit vegetasi penutup.

Cekungan Pengaliran (Drainage Basin)

shddin 2007

Suatu sungai dan jaringan anak-anak sungai membawa aliran permukaan (runoff) dari suatu daerah dengan luasan tertentu, yang disebut dengan cekungan pengaliran (drainage basin). Suatu cekungan pengaliran terpisah dari cekungan pengaliran lain di dekatnya oleh suatu daerah tinggian (topographic highs) yang disebut sebagai pembagi (divides).

18

Pola Pengaliran (Drainage Pattern)


Jaringan sungai membentuk beragam pola tertentu yang dikontrol oleh kondisi geologi lokal. Dalam suatu cekungan pengaliran lazim dijumpai beberapa pola pengaliran sekaligus.

shddin 2007

Pola dendritik: dikontrol oleh perlapisan batuan sedimen yang relatif horisontal atau relatif termiringkan, umumnya cenderung resisten. Juga berkembang pada batuan kristalin.

Pola rektangular: berkembang pada daerah dengan kekar dan/atau sesar yang saling berpotongan tegaklurus.

Pola radial: berkembang pada morfologi gunungapi dan kubah.

Pola Pengaliran (Drainage Pattern)

shddin 2007

Suatu pola pengaliran bisa berubah menjadi pola lain ketika kontrol geologinya berubah. Gambar berikut memperlihatkan pola dendritik berubah menjadi pola trellis ketika lapisan sedimen yang relatif horisontal tererosi dan membuka struktur perlipatan dibawahnya.

19

Paras Dasar (Base Level)

shddin 2007

Sungai yang mengalir menuruni suatu gradien lereng dapat mengerosi vertikal kebawah hingga mencapai paras yang sama dengan ketinggian paras tubuh air tujuannya. Batas paling bawah yang dapat dierosi oleh sungai disebut paras dasar (base level). Paras muka laut (sea level) adalah paras dasar paling akhir (ultimate base level), dimana secara teoritis suatu sungai dapat mengerosi lembahnya hingga setara dengan paras muka laut. Meski demikian, pada kenyataannya sungai tidak akan pernah mencapai ultimate base level karena mereka membutuhkan gradien untuk tetap dapat mengalir. Sungai juga memiliki paras dasar sementara (temporary base level), seperti danau dan bendungan yang menjadi paras dasar lokal untuk segmen sungai bagian hulu. Paras dasar dapat berubah akibat perubahan paras muka laut (eustasy) atau akibat turun-naiknya daratan (uplift-subsidence).

Paras Dasar (Base Level)


Ketika ultimate base level turun, sungai akan mengerosi lembahnya lebih dalam. Sebaliknya ketika ultimate base level naik, sungai akan mengendapkan material yang dibawanya pada lembah sungai.

shddin 2007

20

Paras Dasar (Base Level)

shddin 2007

Pembangunan bendungan menciptakan paras dasar lokal (local base level) yang akan menampung semua sedimen dari segmen bagian hulu. Konsekuensi lainnya adalah air yang dikeluarkan dari bendungan ke arah hilir adalah sebagian besar air tanpa muatan sedimen (sediment-free) namun masih memiliki energi untuk membawa sedimen. Yang terjadi adalah peningkatan erosi pada bagian hilir dari bendungan.

Graded Stream

shddin 2007

Penampang longitudinal suatu sungai memperlihatkan ketinggian sungai di sepanjang alirannya dari hulu hingga hilir. Penampang longitudinal biasanya memiliki banyak ketidakteraturan, seperti danau atau air terjun, yang merupakan paras dasar lokal (local base level). Ketidakteraturan tersebut akan dihilangkan oleh proses aliran permukaan. Dimana gradien terlalu besar, erosi akan menguranginya. Dimana gradien terlalu kecil untuk mempertahankan kecepatan aliran yang memadai guna transportasi sedimen, deposisi akan terjadi untuk menambah gradien tersebut. Dengan kata lain, sungai akan membentuk penampang longitudinalnya sedemikian rupa berbentuk cekung yang halus (smoothly concave), dimana semua bagian sistem akan saling menyesuaikan secara dinamis. Sungai yang memiliki penampang longitudinal dalam keseimbangan tersebut dinamakan graded stream, dimana terjadi keseimbangan yang kompleks antara gradien, debit, kecepatan aliran, karakter sungai, dan muatan sedimen; sedemikian rupa sehingga tidak terjadi erosi atau deposisi.

21

Graded Stream

shddin 2007

Bentuk graded stream adalah konsep yang ideal, yang jarang terbentuk di alam. Namun konsep tersebut memudahkan kita dalam menafsirkan perubahan pada sungai, misalkan adanya gangguan struktur (sesar) seperti pada gambar-gambar berikut.

Kasus Gangguan pada Graded Stream

shddin 2007

Delta Nil

Bendungan Aswan

n Su i ga l Ni

22

Kasus Gangguan pada Graded Stream

shddin 2007

Sungai Nil merupakan sumber kehidupan bagi rakyat Mesir. Sekali dalam setahun, selama sebulan, Sungai Nil akan banjir dan meluap, membuat subur tanah pertanian di sepanjang alirannya hingga ke Delta Nil. Tahun 1970, Pemerintah Mesir menyelesaikan satu proyek raksasa: Bendungan Aswan. Bendungan tersebut akan memberikan irigasi kepada 1 juta hektar lahan pertanian dan menghasilkan listrik 10 milyar kilowatt. Diharapkan pendapatan negara dari pertanian akan meningkat dan industri akan berkembang pesat. Namun ternyata, bendungan tersebut menghancurkan keseimbangan Sungai Nil, dan inilah tujuh (7) kerugian yang tidak pernah diramalkan sebelumnya: 1. Sungai Nil bukan hanya sumber air bagi delta, tetapi juga sumber sedimen. Ketika semua sedimen terperangkap di bendungan, keseimbangan fisik dan biologi pada delta menjadi hancur. Tanpa pasokan sedimen dari sungai, kini Delta Nil terbuka terhadap energi penuh arus laut, erosi gelombang memakan bagian depan delta. Sebagian delta mengalami abrasi hingga beberapa meter per tahun.

Kasus Gangguan pada Graded Stream

shddin 2007

2. Sedimen yang sebelumnya dibawa oleh Sungai Nil merupakan sumber makanan bagi kehidupan laut di pesisir delta. Pasokan sedimen yang terhenti membuat jumlah plankton dan zat organik turun hingga sepertiga. Perubahan ini membuat ikan-ikan sarden, makarel, kerang dan kepiting menghilang. Panen hasil laut ikan-ikan tersebut sebelumnya sebesar 16.000 ton per tahun menjadi hilang. 3. Sedimen dari Sungai Nil juga merupakan pupuk alamiah bagi para petani di dataran banjir sungai tersebut. Kini mereka terpaksa mempergunakan pupuk buatan. 4. Air yang dilepaskan dari Bendungan Aswan menuju Delta Nil bersifat jernih, dengan sedikit sedimen saja. Tanpa muatannya, air tersebut mengalir jauh lebih cepat dan dengan penuh tenaga mengerosi tebing-tebing sungai yang dilalui. Hasilnya adalah 3 bendungan irigasi kecil hancur dan > 500 jembatan penyeberangan runtuh. 10 bendungan pengatur kecepatan arus pun kemudian dibangun antara Bendungan Aswan dan laut, dengan harga biaya pembuatan Bendungan Aswan itu sendiri.

23

Kasus Gangguan pada Graded Stream

shddin 2007

5. Banjir tahunan Sungai Nil sangat penting bagi ekologi sekitarnya, karena banjir tersebut mampu menyapu endapan garam yang terbentuk pada iklim kering (arid) di Mesir. Tingkat salinitas tanah meningkat pesat semenjak Bendungan Aswan berfungsi, bukan hanya pada Delta Nil saja, melainkan jauh hingga ke hulu Sungai Nil. Jutaan hektar lahan terancam menjadi gurun pasir. 6. Irigasi yang dibangun oleh Bendungan Aswan bisa membuat panen dua kali dalam setahun, tanpa ada jeda musim kering. Padahal sebelumnya musim kering justru membatasi populasi bilharzia, parasit darah yang dibawa oleh cacing dan menyerang manusia. Kini satu dari dua rakyat Mesir terkena infeksi penyakit tersebut, dan menjadi penyebab kematian paling populer nomer 10 di negeri tersebut. 7. Tertahannya air di Bendungan Aswan menjadi obyek penguapan (presipitasi) yang sangat tinggi, karena lokasinya yang berada pada salah satu tempat yang paling kering dan panas di Bumi. Meski sebelumnya telah dikalkulasi, namun ternyata jumlah air yang menguap hilang tersebut setara dengan setengah dari jumlah air yang dulunya dianggap terbuang percuma ke laut.

Perkembangan Lembah Sungai


Proses-proses yang membentuk lembah sungai: Erosi vertikal (downcutting) menambah dalam lembah Erosi lateral (lateral erosion) menambah lebar lembah Gerakan massa (mass wasting) menambah lebar lembah Erosi lembaran (sheet wash) menambah lebar lembah Erosi ke arah hulu (headward erosion) menambah panjang lembah

shddin 2007

24

Perkembangan Lembah Sungai


Erosi ke arah hulu (headward erosion):

shddin 2007

Perkembangan Lembah Sungai

shddin 2007

Perompakan sungai (stream piracy) sebagai akibat dari headward erosion:

25

Perkembangan Lembah Sungai


Sungai Pecos berkembang ke arah utara dengan headward erosion dan merompak sungai-sungai yang mengalir ke arah timur:

shddin 2007

Perkembangan Lembah Sungai


Perkembangan (stadia) lembah sungai: (a) Stadia muda (b) Stadia dewasa (c) Stadia tua

shddin 2007

26

Teras Sungai (Stream Terraces)


Teras sungai adalah sisa erosi terhadap dataran banjir yang sebelumnya terbentuk ketika sungai mengalir pada elevasi lebih tinggi. Pembentukan teras sungai umumnya terjadi ketika adanya perubahan paras dasar erosi (base level) yang menyebabkan pertambahan gradien dan kecepatan aliran, keduanya memicu berkembangnya erosi vertikal.

shddin 2007

Teras Sungai (Stream Terraces)

shddin 2007

27

Incised Meanders
Incised meanders adalah sungai berkelok yang mengerosi batuan dasar (bedrock). Terbentuk ketika sungai berkelok yang berkembang pada alluvial mengalami pengangkatan (uplifting) dan mengerosi ke batuan dasar.

shddin 2007

Sungai Superposisi (Superposed Streams)

shddin 2007

Sungai mengalir menuruni suatu lereng mengikuti prinsip gravitasi, sehingga arah alirannya ditentukan oleh kondisi topografi yang ada. Namun beberapa sungai tampaknya tidak mengikuti kontrol fundamental tersebut. Sebagian sungai ada yang memotong perbukitan, disebut sebagai sungai superposisi (superposed streams). Lembah hasil erosi vertikalnya disebut water gaps. Terbentuknya sungai superposisi dimulai ketika sungai mampu mempertahankan arah alirannya terhadap struktur geologi yang tersingkap karena erosi vertikal, atau mereka mampu mempertahankan arah aliran terhadap pengangkatan daratan (uplifting).

28

Sungai Purba

shddin 2007

Sistem sungai purba di Gurun Sahara, Afrika, yang kini telah tertimbun oleh pasir gurun. Gambar radar dibuat oleh Pesawat Ruang Angkasa AS Columbia.

29

12. Air Tanah MFS 1810

Salahuddin Husein

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2007

Pendahuluan

shddin 2007

Air tanah (groundwater), yaitu air yang tersimpan pada pori-pori tanah dan batuan, adalah sumberdaya alam yang sangat vital untuk kehidupan manusia. Saat ini, kebutuhan air tanah terbanyak adalah untuk pertanian, kemudian untuk industri, dan untuk keperluan rumah-tangga. Penggunaan air tanah yang tidak terkendali menyebabkan masalah serius berupa penurunan permukaan tanah dan merembesnya air laut. Permasalahan besar lainnya adalah polusi dari proses penambangan dan pembuangan zat beracun. Sehingga kepentingan manusia terhadap air tanah bukan saja bagaimana cara menemukannya, namun juga bagaimana cara melindunginya dari polutan dan mengatur penggunaannya.

Air Tanah dan Siklus Hidrologi


Air tanah menyumbang 22% (8.4 juta km3) dari persediaan air tawar dunia. Pemasok utama air tanah adalah (1) infiltrasi dari presipitasi dan (2) infiltrasi dari sungai dan danau. Air tanah akan kembali ke permukaan melalui tubuh air seperti sungai, danau dan laut.

shddin 2007

Porositas dan Permeabilitas

shddin 2007

Ketersediaan air tanah tergantung pada porositas dan permeabilitas batuan. Porositas adalah persentase volume pori terhadap volume total batuan. Permeabilitas adalah kemampuan batuan untuk melewatkan fluida, ditentukan oleh porositas dan interkoneksinya. Aquifer adalah lapisan batuan yang menampung dan menyalurkan air tanah. Aquiclude adalah lapisan batuan yang bersifat impermeable.

Paras Muka Air Tanah (Water Table)

shddin 2007

Ketika air meresap masuk ke dalam tanah dan batuan, sebagian kecil tertahan oleh material dan berhenti. Zona ini disebut zona aerasi (zone of aeration) dan air tanah yang tertahan disebut sebagai suspended water. Rongga pori di zona ini mengandung air dan udara sekaligus. Dibawa zona aerasi terdapat zona saturasi (zone of saturation) dimana semua rongga pori terisi oleh air. Paras muka air tanah (water table) membatasi zona saturasi dan zona aerasi. Umumnya konfigurasi water table mengikuti topografi permukaan lahan. Diatas water table dijumpai lapisan kapiler (capillary fringe), dimana air tanah bergerak naik ke atas karena regangan permukaan (surface tension). Water table bervariasi sepanjang tahun, cenderung naik di musim hujan karena pergerakan air tanah yang lambat tidak dapat mempertahankan konfigurasi water table mula-mula, dan cenderung turun di musim kemarau karena tidak mendapat pasokan yang cukup untuk menggantikan air tanah yang telah bergerak.

Paras Muka Air Tanah (Water Table)

shddin 2007

Paras Muka Air Tanah (Water Table)

shddin 2007

Bagian bawah dari zona saturasi dapat berubah secara tegas, misalkan bila terdapat lapisan kedap air dibawah aquifer. Namun dapat pula berubah secara gradual, karena semua pori batuan akan semakin kecil ke arah bawah akibat tekanan litostatik.

Pergerakan Air Tanah

shddin 2007

Pergerakan air tanah selalu menuju ke daerah bertekanan rendah dengan dipengaruhi oleh gravitasi. Perbedaan tinggi water table menyebabkan perbedaan tekanan air pada zona saturasi.

Mata Air (Spring)


Mata air adalah munculnya air tanah secara alamiah ke permukaan.

shddin 2007

Mata air dapat muncul pada tebing lembah dimana lapisan impermeable menyebabkan air tanah pada aquifer bermigrasi lateral dan muncul merembes di permukaan.

Mata Air (Spring)

shddin 2007

Mata air dapat terbentuk di sepanjang tebing lembah dimana batugamping mengijinkan terjadinya aliran bebas ke permukaan.

Mata Air (Spring)

shddin 2007

Patahan dapat menggeser batuan impermeable sejajar dengan batuan permeable, sehingga air tanah bergerak ke atas di sepanjang bidang patahan.

Mata Air (Spring)

shddin 2007

Mata air juga dapat muncul ketika lava basal yang banyak rongga dan retakan bertemu dengan permukaan, seperti tebing lembah.

Sumur (Well)

shddin 2007

Sumur (well) dibuat untuk keperluan mendapatkan air tanah dengan cara menggali atau membor hingga zona saturasi. Pengambilan air tanah melalui sumur dapat membentuk kerucut depresi air tanah (cone of depression), yaitu fenomena turunnya water table di sekitar sumur. Terbentuknya kerucut depresi lazimnya bermasalah ketika sumur yang menimbulkannya adalah jenis sumur industri yang mengambil air tanah dalam jumlah yang banyak dan cepat, melampaui kecepatan pengisian kembali.

Sumur (Well)
Banyak faktor yang menentukan keberhasilan pembuatan sumur:

shddin 2007

Sumur A dan E digali hingga kedalaman yang sama, namun sumur A berhasil karena menjumpai aquifer tergantung (perched aquifer), sedangkan sumur E tidak. Sumur C berhasil menembus water table. Sumur B melewati aquifer namun berhasil menjumpai retakan, sedangkan sumur D tidak.

Sistem Artesis

shddin 2007

Sistem air tanah artesis (artesian system) terbentuk ketika air tanah tertekan (confined) yang membuatnya memiliki tekanan hidrostatik tinggi. Tiga (3) faktor geologi untuk membentuk sistem artesis: 1. Aquifer diapit oleh aquiclude pada bagian atas dan bagian bawah, sehingga aquifer menjadi tertekan (confined). 2. Perlapisan batuan aquifer dan aquiclude memiliki kedudukan miring dan tersingkap di permukaan, sehingga aquifer tetap dapat terisi (recharge). 3. Tingkat presipitasi memadai di daerah pengisian (recharge area) sehingga tekanan hidrostatik di aquifer tetap tinggi.

Sistem Artesis

shddin 2007

Sistem artesis dapat terbentuk ketika perlapisan aquifer dan aquiclude terlipat dan muncul di permukaan.

Sistem Artesis

shddin 2007

Sistem artesis juga dapat terbentuk pada perlapisan aquifer dan aquiclude yang miring landai.

Sistem Artesis

shddin 2007

Sistem artesis dapat berkembang pada perlapisan aquifer yang menjemari dengan perlapisan aquiclude.

Sistem Artesis

shddin 2007

Sistem artesis berkembang pada perlapisan aquifer dan aquiclude yang membentuk perlipatan, dimana kemunculannya sebagai mata air dapat terjadi pada bidang patahan atau pada singkapan aquifer.

Erosi dan Deposisi oleh Air Tanah

shddin 2007

Ketika air hujan meresap ke dalam tanah, segera terjadi kontak dengan mineral yang ada dan melakukan proses pelapukan kimiawi. Pada daerah yang permukaannya disusun oleh batuan mudah larut, seperti batugamping, air tanah merupakan agen utama dalam proses erosi dan sekaligus membentuk bentang alam yang unik. Batugamping, suatu batuan sedimen yang disusun terutama oleh mineral kalsit (CaCO3), memiliki sebaran cukup luas di permukaan Bumi.

10

Erosi dan Deposisi oleh Air Tanah


Meskipun batugamping tidak larut di dalam air murni, namun reaksi pelarutannya dapat terjadi jika ada sedikit asam hadir di dalam air.

shddin 2007

Carbonic acid (H2CO3) adalah asam lemah yang terbentuk ketika air bereaksi dengan karbon dioksida. (H2O + CO2 H2CO3) Karena atmosfer mengandung sedikit karbon dioksida (0.03%) dan karbon dioksida juga dihasilkan di dalam tanah oleh proses penguraian zat organik, hampir semua air tanah bersifat sedikit asam. Ketika air tanah yang sedikit asam tersebut merembes melalui berbagai retakan atau rongga pori pada batugamping, terjadilah proses pelarutan kalsit oleh air tanah untuk membentuk kalsium bikarbonat, yang akan ditransportasikan dalam larutan air tanah. (CaCO3 + H2CO3 Ca+2 + 2HCO3-) Proses tersebut bersifat reversible, artinya kalsium bikarbonat yang terlarut dapat diendapkan kembali sebagai mineral kalsit jika karbon dioksida menguap.

Topografi Karst

shddin 2007

Topografi karst adalah bentang alam yang dibentuk oleh erosi air tanah dan berkembang pada daerah yang didominasi oleh batugamping

11

Topografi Karst

shddin 2007

Evolusi Topografi Karst


Stadia muda

shddin 2007

Sinkhole terdistribusi dan jumlah serta ukurannya semakin membesar ketika sistem gua dibawahnya berkembang dan atapnya runtuh.

12

Evolusi Topografi Karst


Stadia dewasa

shddin 2007

Dimensi sinkhole semakin besar dan sebagian bergabung dengan yang terdekat, membentuk lembah pelarutan (solution valley). Sungai menghilang (disappearing stream) dan mata air banyak terbentuk.

Evolusi Topografi Karst


Stadia tua

shddin 2007

Proses pelarutan menghilangkan sebagian besar lapisan batugamping. Yang tersisa hanya bukit-bukit kecil sebagai sisa dari topografi karst.

13

Sistem Gua

shddin 2007

Sistem Gua

shddin 2007

Dripstone

14

Perkembangan Sistem Gua


Stadia muda

shddin 2007

Air merembes melalui bidang retakan dan bidang perlapisan batugamping menuju paras muka air tanah dan kemudian bergerak menuju sungai permukaan terdekat. Mineral mudah larut menjadi terlarut dan alur aliran air tanah menjadi lebar.

Perkembangan Sistem Gua


Stadia dewasa

shddin 2007

Ketika sungai permukaan mengerosi dasar lembah dan menjadi semakin dalam, paras muka air tanah menjadi turun. Rembesan air permukaan melalui zona aerasi semakin memperlebar bidang retakan dan gua yang telah terbentuk. Pergerakan air tanah menuju sungai permukaan mengembangkan sistem gua horisontal.

15

Perkembangan Sistem Gua


Stadia tua

shddin 2007

Ketika sungai mengerosi lembah semakin dalam, air di dalam sistem gua mencari jalan turun untuk menuju paras sungai permukaan. Sehingga sistem gua horisontal baru terbentuk di bawah. Gua horisontal lama di atas terus berkembang dan semakin besar, sebagian runtuh membentuk sinkhole, atau sebagian lagi terisi oleh runtuhan atap gua.

Permasalahan Air Tanah


1. Penurunan paras muka air tanah

shddin 2007

Pengambilan air tanah dalam jumlah yang melebihi kapasitas pengisiannya (recharge) secara langsung menyebabkan penurunan water table.

16

Permasalahan Air Tanah


2. Masuknya air laut (seawater incursion atau seawater encroachment)

shddin 2007

Lazimnya terjadi di daerah pesisir, ketika tekanan dari air tanah yang berada di atas air laut berkurang karena dipompa, air asin segera masuk mengisi rongga pori yang ditinggalkan kosong oleh air tanah dan membentuk kerucut naik (cone of ascension) terhadap sumur.

Permasalahan Air Tanah


2. Masuknya air laut (seawater incursion atau seawater encroachment)

shddin 2007

Problem ini dapat diatasi dengan membuat sumur injeksi atau sumur resapan untuk menurunkan kembali water table dan menambah tekanan air tanah terhadap air laut, sehingga air laut bisa didorong menjauh dari sumur.

17

Permasalahan Air Tanah


3. Penurunan permukaan tanah (subsidence) Bila air tanah diambil dalam jumlah berlebihan, tekanan air antara butiran sedimen berkurang, sehingga berat material diatasnya dapat menekan butiran tersebut untuk saling merapat, menyebabkan terjadinya pernurunan permukaan tanah (subsidence). San Joaquin Valley, California, mengalami subsidence sebesar 9 m selama 50 tahun (1925-1975) karena pengambilan air tanah untuk irigasi pertanian.

shddin 2007

San Joaquin Valley, California, USA

Permasalahan Air Tanah


3. Penurunan permukaan tanah (subsidence) Menara miring Pisa, Italia, sebetulnya telah miring begitu selesai dibangun pada tahun 1173 akibat pemadatan sebagian pada bagian fondasi. Selama dekade 1960-an, Kota Pisa mengekploitasi air tanah secara tidak terkendali, membuat menara semakin miring hingga pada tahap berbahaya. Upaya teknis memperbaiki fondasi serta pengontrolan yang ketat dalam pengambilan air tanah dapat mengurangi proses rebahnya menara hingga 1 mm / tahun (cukup untuk mempertahankannya sebagai obyek wisata bernilai jutaan dollar untuk beberapa abad mendatang!).
Pisa, Italia

shddin 2007

18

Permasalahan Air Tanah


3. Penurunan permukaan tanah (subsidence) Mexico City dibangun diatas bekas danau purba. Pengambilan air tanah secara tidak terkendali menyebabkan sedimennya mengalami pemadatan, dan kota mengalami penurunan secara tidak merata, sebagian telah turun hingga 6 m. Gereja Our Lady of Guadalupe ini miring akibat penurunan sebagian bangunan hingga 1 m.

shddin 2007

Mexico City, Mexico

Permasalahan Air Tanah


3. Penurunan permukaan tanah (subsidence) Subsidence juga bisa disebabkan oleh eksploitasi minyak bumi, seperti yang dialami oleh Long Beach, California, yang turun sebesar 9 m selama 34 tahun produksi hidrokarbon.

shddin 2007

Long Beach, California, USA

19

Permasalahan Air Tanah


4. Pencemaran (kontaminasi) air tanah

shddin 2007

Sumber utama pencemaran air tanah adalah penyimpanan kotoran manusia, penimbunan sampah, penyimpanan zat beracun, dan pertanian. Sekali polutan masuk ke dalam sistem air tanah, mereka akan menyebar. Dan karena air tanah bergerak dengan lambat, membersihkan polutan pun memerlukan waktu yang sangat lama.

Permasalahan Air Tanah


4. Pencemaran (kontaminasi) air tanah

shddin 2007

Umumnya proses oksidasi, penguraian oleh bakteri, dan penyaringan oleh sedimen, dapat menghilangkan pengotor dari rembesan sistem penyimpanan kotoran manusia sebelum mencapai water table. Namun jika batuannya sangat permeable atau water table terlalu dekat dengan sistem pembuangan tersebut, kontaminasi air tanah dapat terjadi.

20

Permasalahan Air Tanah


4. Pencemaran (kontaminasi) air tanah Penempatan limbah diatas aquiclude bermanfaat untuk mencegah tercemarnya air tanah pada aquifer oleh rembesan limbah tersebut.

shddin 2007

Hot Spring dan Geyser


Batuan di daerah volkanik aktif memiliki temperatur tinggi hingga ribuan tahun. Air tanah yang masuk ke dalam batuan tersebut akan dipanaskan, dan bila muncul kembali ke permukaan akan membentuk sumber mata air panas (hot spring) dan air mancur panas (geyser). Karena air tanah panas umumnya mengandung banyak mineral terlarut, maka seringkali sumber mata air panas dimanfaatkan untuk pengobatan. Selain itu, air tanah panas ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi panas bumi (geothermal energy) yang bersih, ramah lingkungan dan terbaharukan.
Old Faithful Geyser, Yellowstone National Park, Wyoming, USA

shddin 2007

21

Proses Terbentuknya Geyser

shddin 2007

Air tanah mengisi sistem gua dan retakan yang ada pada batuan panas di daerah volkanik aktif. Ketika gelembung uap air terbentuk dan naik, jumlahnya semakin bertambah dan berkumpul di bagian atas tabung-tabung geyser.

Proses Terbentuknya Geyser

shddin 2007

Uap yang terus mengembang memaksa air naik ke atas hingga keluar di permukaan melalui pipa geyser. Bagian paling bawah dari tabung-tabung geyser kini siap untuk erupsi.

22

Proses Terbentuknya Geyser

shddin 2007

Keluarnya air mengurangi tekanan pada pipa geyser. Konsekuensinya air dan uap dari tabung geyser membanjiri pipa dan bergerak naik dengan sangat cepat membentuk erupsi.

Proses Terbentuknya Geyser

shddin 2007

Erupsi berhenti ketika tekanan dari uap telah habis dan tabung geyser telah kosong. Sistem kemudian mulai mengisi air tanah, dan siklus erupsi dimulai lagi. Pada Old Faithful Geyser, siklus ini berkisar antara 30 hingga 90 menit.

23

Endapan pada Hot Spring dan Geyser

shddin 2007

Travertine (calcareous tufa) terbentuk ketika air tanah panas yang kaya kalsium karbonat menguap.
(Minerva Terrace, Yellowstone National Park, Wyoming, USA)

Geyserite (siliceous sinter) terbentuk ketika air tanah panas yang kaya silika menguap.
(Liberty Cap, Yellowstone National Park, Wyoming, USA)

24

13. Proses Eolian MFS 1810

Salahuddin Husein

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2007

Prolog

shddin 2007

Sahal Desert, Nigeria

Prolog

shddin 2007

Selama beberapa dekade terakhir, padang pasir dunia semakin bertambah luas dengan merebut jutaan hektar lahan produktif, dan bahkan pemukiman. Ekspansi padang pasir tersebut, dikenal dengan istilah desertifikasi (desertification), diperkirakan terjadi dengan kecepatan 70.000 km2 per tahun, menyebabkan banyak kerugian bagi umat manusia. Ratusan ribu orang mati kelaparan dan dipaksa menjadi pengungsi alam (environmental refugees) dari kampung halamanya ke tenda-tenda penampungan yang tidak mendapat pasokan makanan cukup. Daerah-daerah yang terancam desertifikasi terletak pada tepi padang pasir yang telah ada. Daerah perbatasan tersebut memiliki keseimbangan ekosistem yang sangat rumit, berfungsi sebagai penyangga (buffer area) antara padang pasir di satu sisi dengan daerah subur di sisi lain. Kemampuan daerah penyangga terhadap tekanan lingkungan akibat proses alam maupun kegiatan manusia sangatlah terbatas. Padang pasir memang berkembang atau menyusut mengikuti perubahan iklim, namun desertifikasi kali ini lebih banyak disebabkan oleh tindakan manusia.

Prolog

shddin 2007

Di banyak tempat, tumbuhan alamiah digantikan oleh tanaman pangan demi memenuhi kebutuhan populasi manusia. Karena daerah penyangga tersebut rawan terhadap kekeringan, panen seringkali gagal, menyisakan lahan yang tandus dan terbuka terhadap proses eolian. Karena rumput merupakan vegetasi paling dominan pada daerah penyangga, beternak adalah kegiatan ekonomi yang paling diminati. Selama ini, daerah tersebut dapat terjaga keseimbangannya, karena para penggembala ternak hidup nomaden. Namun pertumbuhan jumlah hewan ternak kini melebihi kapasitas lahan untuk mendukungnya. Hasilnya, tanaman penutup habis dan menyebabkan tanah subur hilang, menyisakan tanah tandus yang siap untuk proses eolian. Pembuatan sumur juga menyumbang terjadinya desertifikasi, karena aktivitas manusia dan hewan di sekitar sumur tersebut akan menghabiskan tanaman penutup. Dengan hilangnya tanaman, tanah menjadi terbuka untuk proses eolian.

Prolog

shddin 2007

Air sumur yang dipergunakan untuk irigasi juga membantu desertifikasi dengan menambah kadar garam pada tanah. Ketika air menguap, sedikit garam tertinggal dalam tanah, dan garam tersebut tidak akan terbuang seperti pada daerah yang sering menerima hujan dan banjir. Kadar garam pada tanah akan terus meningkat, hingga tanaman tidak lagi mampu untuk tumbuh. Mengumpulkan kayu bakar untuk memasak juga salah satu penyebab utama desertifikasi. Populasi manusia di daerah penyangga yang terus bertambah telah menghabiskan semua pohon dan semak-semak yang ada. Kini berjalan kaki mencari kayu bakar selama berhari-hari adalah hal yang lazim. Penggunaan kotoran ternak sebagai pengganti kayu bakar juga menambah laju desertifikasi, karena nutrisi-nutrisi penting bagi kesuburan tanah yang terdapat dalam kotoran tersebut menjadi hilang. Politik turut memainkan peran dalam desertifikasi. Banyak bermunculannya negara-negara baru pada dekade 1950-1960 membuat para penggembala ternak dibatasi perpindahannya. Sebagian gembala tidak lagi bisa mengikuti ritme alam sebagai nomaden, terpaksa menghabiskan seluruh persediaan rumput yang ada di satu tempat tanpa mampu pindah ke tempat lain.

Pendahuluan

shddin 2007

Seringkali orang mengkaitkan proses geologi oleh angin (proses eolian) dengan gurun pasir. Padahal, proses eolian tidak hanya terbatas pada gurun saja. Dimana pun ada sedimen lepas yang dapat dierosi, ditransportasi, dan diendapkan oleh tenaga angin, maka proses eolian terjadi di sana. Sebagaimana halnya yang sering kita amati di pantai.

Transportasi Sedimen oleh Angin

shddin 2007

Angin bersifat fluida dalam gerak turbulen, sehingga transportasi sedimen mirip dengan yang dilakukan oleh air permukaan. Meski angin bergerak lebih cepat daripada air permukaan, namun karena densitasnya lebih rendah maka angin hanya mampu membawa partikelpartikel halus berukuran lempung dan lanau dengan cara suspensed load. Partikel-partikel besar didorong pada permukaan dengan cara bed load. Bed load berlangsung efektif dalam gerak saltasi (saltation) untuk partikel berukuran medium, disamping rolling dan sliding (keduanya disebut bersamasama sebagai surface creep) untuk partikel yang lebih besar. Surface creep terjadi karena tumbukan dari partikel lain, baik yang disebabkan oleh gerak saltasi maupun surface creep yang telah berlangsung. Suspended load bisa menempuh jarak ribuan kilometer dari asalnya, bisa berupa awan debu (dust cloud) atau badai debu (dust storm).

Transportasi Sedimen oleh Angin

shddin 2007

Transportasi Sedimen oleh Angin

shddin 2007

Erosi oleh Angin Abrasi


Angin mengerosi material dengan 2 cara: abrasi dan deflasi. Abrasi (abrasion) melibatkan tumbukan akibat saltasi pasir. Efek abrasi biasanya bersifat minor, karena pasir jarang terangkat lebih dari ketinggian 1 meter. Abrasi cenderung memodifikasi bentuk material yang telah ada dengan cara menggosok dan menghaluskan. Ventifact (batu poles) merupakan produk abrasi yang banyak dijumpai.

shddin 2007

Erosi oleh Angin Ventifact


Proses terbentuknya ventifact oleh abrasi:

shddin 2007

(A) Bentuk bongkah batuan mula-mula. (B) Satu faset (sisi halus) dibentuk oleh abrasi pada bagian yang menghadap ke arah datangnya angin. (C) Hilangnya pasir di bagian belakang bongkah batuan menyebabkan bongkah tersebut berguling. (D) Angin kembali mempoles sisi yang baru.

Erosi oleh Angin Yardang

shddin 2007

Yardang adalah bentukan lain oleh abrasi. Dimensinya lebih besar dari ventifact, menyerupai lunas perahu terbalik. Punggungannya sejajar dengan arah angin. Yardang juga banyak dijumpai di Planet Mars.

Kharga, Mesir

Erosi oleh Angin Deflasi


Deflasi (deflation) adalah mekanisme erosi angin yang menghilangkan endapan lepas di permukaan.

shddin 2007

Morfologi yang dihasilkan deflasi adalah cekungan deflasi (deflation hollow atau deflation basin atau blow out) dan lantai gurun (desert pavement).

Cekungan deflasi di Death Valley, California, USA

Erosi oleh Angin Cekungan Deflasi


Sering pula dijumpai cekungan deflasi berbentuk sirkular, yang terjadi karena kombinasi proses pelarutan dan proses eolian. Semen yang mengikat butiran sedimen hilang karena terlarutkan oleh air permukaan. Selanjutnya proses eolian menerbangkan sedimen lepas tersebut.
Cekungan deflasi di Great Plains, Texas, USA

shddin 2007

Erosi oleh Angin Cekungan Deflasi

shddin 2007

Cekungan deflasi di Colorado Plateau, USA

Erosi oleh Angin Lantai Gurun


Proses terbentuknya lantai gurun (desert pavement):

shddin 2007

(a) Lantai gurun (desert pavement) terbentuk ketika deflasi menghilangkan material berbutir halus dari permukaan tanah dan hanya menyisakan partikel berukuran besar. (b) Deflasi terus berlangsung dan semakin banyak material halus yang dibawa, sementara partikel berukuran besar terkonsentrasi dan membentuk lantai gurun, yang pada akhirnya melindungi material dibawahnya dari proses deflasi.

Erosi oleh Angin Lantai Gurun

shddin 2007

Lantai gurun di Semenanjung Sinai

Pengendapan oleh Angin Gumuk Pasir

shddin 2007

Angin menghasilkan 2 jenis endapan yang memiliki morfologi impresif, yaitu (1) gumuk pasir (sand dune) yang diendapkan tidak jauh dari sumbernya, dan (2) loess yang disusun oleh partikel lempung dan lanau meliputi daerah yang sangat luas dan jauh dari asal sumbernya. Gumuk pasir terbentuk ketika angin bertiup melewati suatu penghalang dan membentuk dua zona udara tenang, disebut wind shadows, yaitu di bagian depan dan di bagian belakang penghalang tersebut. Ketika butiran pasir yang bergerak saltasi terendapkan di zona udara tenang, mereka mulai terakumulasi dan membangun gundukan (gumuk) pasir. Semakin besar, gundukan tersebut menjadi bersifat self-generating, yaitu secara otomatis membentuk penghalang yang mengurangi kecepatan angin dan memaksanya menurunkan pasir yang dibawa. Hampir semua gumuk memiliki bentuk penampang asimetris, lereng landai menghadap datangnya angin (windward) dan lereng terjal searah tiupan angin (downwind atau leeward).

Pengendapan oleh Angin Gumuk Pasir


Proses pembentukan gumuk pasir: (a) terbentuknya wind shadows, dan (b) mulai terbentuknya gumuk pasir.

shddin 2007

Pengendapan oleh Angin Gumuk Pasir

shddin 2007

10

Pengendapan oleh Angin Gumuk Pasir


Migrasi gumuk pasir:

shddin 2007

Gumuk pasir dapat bermigrasi secara lateral. Butiran pasir dengan saltasi bergerak naik ke atas lereng windward dan berkumpul di puncak gumuk (a). Bila tumpukan pasir tersebut membuat sudut leeward melebihi 30o-34o (angle of repose), pasir akan jatuh dan longsor ke kaki leeward (a). Demikian proses tersebut terjadi berulangkali, gumuk dengan perlahan bergerak searah dengan tiupan angin (b). Pola migrasi seperti tersebut akan menghasilkan struktur sedimen silang-siur (cross-bed), yang bermanfaat untuk melihat arah tiupan angin purba ketika batuan tersebut terbentuk.

Pengendapan oleh Angin Gumuk Pasir

shddin 2007

11

Pengendapan oleh Angin Gumuk Pasir

shddin 2007

Pengendapan oleh Angin Gumuk Pasir

shddin 2007

Zion National Park, Utah, USA

12

Pengendapan oleh Angin Gumuk Pasir

shddin 2007

Zion National Park, Utah, USA

Jenis Gumuk Pasir

shddin 2007

Ada 4 jenis gumuk pasir yang dasar, yaitu barchan, longitudinal, transversal, dan parabolik. Jenis kombinasi dari bentuk dasar tersebut juga sering dijumpai. Faktor-faktor yang menentukan jenis gumuk: 1. Pasokan pasir 2. Arah dan kecepatan angin 3. Jumlah vegetasi

13

Jenis Gumuk Pasir Barchan

shddin 2007

Gumuk barchan memiliki bentuk serupa bulan sabit dengan ujung-ujungnya menghadap arah tiupan angin (downwind). Mereka terbentuk pada daerah yang datar, permukaan kering dengan sedikit vegetasi, pasokan pasir terbatas, dan tiupan angin yang konstan. Dimensinya relatif kecil, jarang melampaui tinggi 30 m. Gumuk barchan merupakan jenis gumuk paling cepat bermigrasi, dapat menempuh jarak 10 m per tahun.

Jenis Gumuk Pasir Barchan

shddin 2007

Salton Sea, California, USA

14

Jenis Gumuk Pasir Longitudinal


Gumuk longitudinal sering pula disebut gumuk seif, memiliki bentuk punggungan memanjang searah dengan tiupan angin.

shddin 2007

Mereka dihasilkan oleh pertemuan tiupan dua angin yang sedikit berbeda arah dalam pembentukan angin utama. Biasanya gumuk jenis ini tidak membutuhkan pasokan pasir yang banyak. Tingginya bervariasi, antara 3 m hingga lebih dari 100 m. Panjangnya dapat mencapai 100 km.

Jenis Gumuk Pasir Longitudinal

shddin 2007

Gibson Desert, Australia

15

Jenis Gumuk Pasir Transversal

shddin 2007

Gumuk transversal membentuk punggungan panjang yang tegak lurus terhadap arah angin. Bila dilihat dari udara, tampak seperti gelombang di laut, sehingga sering pula disebut sebagai lautan pasir (sand sea). Gumuk jenis ini membutuhkan pasir yang melimpah dengan sedikit atau tanpa vegetasi. Bila pasokan pasir terbatas, seperti pada tepi gurun, gumuk jenis ini berubah menjadi tipe barchan. Jenis kombinasi ini disebut barchanoid. Puncak gumuk transversal dapat mencapai tinggi 200 m dengan lebar mencapai 3 km.

Jenis Gumuk Pasir Transversal

shddin 2007

Great Sand Dunes National Monument, Colorado, USA

16

Jenis Gumuk Pasir Sand Sea

shddin 2007

North Africa

Jenis Gumuk Pasir Barchanoid

shddin 2007

White Sands National Monument, New Mexico, USA

17

Jenis Gumuk Pasir Parabolik

shddin 2007

Gumuk parabolik banyak berkembang di daerah pantai. Bentuknya seperti tipe barchan, yaitu menyerupai bulan sabit. Namun ujung-ujungnya menghadap ke arah datangnya angin (upwind). Gumuk ini terbentuk akibat deflasi yang menghasilkan cekungan (blow out atau deflation hollow) diantara dua vegetasi. Gumuk jenis ini membutuhkan pasir yang melimpah, tiupan angin yang kencang, dan kehadiran vegetasi yang memadai.

Jenis Gumuk Pasir Parabolik

shddin 2007

Lake Michigan, Michigan, USA

18

Pengendapan oleh Angin Loess

shddin 2007

Loess adalah endapan angin yang terdiri dari partikel halus (lempung lanau) dengan komposisi dominan berupa butiran quarsa, feldspar, mika dan kalsit. Material loess berasal dari tiga sumber utama: (1) gurun pasir, (2) endapan glasial Pleistosen, dan (3) dataran banjir sungai pada daerah semi-arid. Material halus tersebut harus distabilisasi dengan kelembaban dan vegetasi. Sehingga loess tidak akan terbentuk di gurun pasir, meskipun materialnya berasal dari sana. Saat ini, loess menutupi 10% permukaan Bumi. Tanah yang berasal dari endapan loess bersifat sangat subur. Tidak mengherankan bila daerah produsen gandum terbesar dunia selalu berada pada daerah loess.

Pengendapan oleh Angin Loess

shddin 2007

Central China

19

Pengendapan oleh Angin Loess

shddin 2007

Yukon River, Yukon Territory, Canada

Pengendapan oleh Angin Loess


Sebaran endapan loess saat ini di permukaan Bumi:

shddin 2007

20

Sabuk Tekanan Udara dan Pola Udara Global

shddin 2007

Untuk dapat memahami proses eolian, harus dipahami terlebih dahulu pola global tekanan udara dan angin yang bertanggungjawab terhadap sirkulasi atmosfer Bumi. Tekanan udara adalah densitas udara yang dikeluarkan terhadap sekelilingnya (definisi lain: berat udara). Ketika udara dipanaskan, akan terjadi pemuaian yang mengurangi perbandingan massa terhadap volume, dan menyebabkan penurunan tekanan udara. Demikian pula sebaliknya bila udara didinginkan. Sehingga bagian permukaan bumi yang menerima banyak radiasi matahari, seperti daerah ekuator, memiliki tekanan udara rendah. Sedangkan daerah yang lebih dingin, seperti daerah kutub, memiliki tekanan udara tinggi. Udara bergerak (atau sering disebut angin) dari tekanan tinggi menuju tekanan rendah.

Sabuk Tekanan Udara dan Pola Udara Global


Jika Bumi tidak berputar pada porosnya (gerak rotasi), angin bergerak langsung dalam garis lurus dari satu zona menuju zona lainnya.

shddin 2007

Namun karena Bumi berputar rotasi, angin berbelok ke arah kanan dari arah alirannya pada belahan Bumi utara (northern hemisphere), dan angin berbelok ke arah kiri dari arah alirannya pada belahan Bumi selatan (southern hemisphere). Pola pembelokan aliran angin akibat rotasi Bumi dikenal dengan nama efek Coriolis. Kombinasi dari perbedaan tekanan berdasarkan lintang Bumi dan efek Coriolis tersebut lah yang membentuk pola sabuk angin global yang memiliki orientasi timur-barat.

21

Sabuk Tekanan Udara dan Pola Udara Global

shddin 2007

Sabuk Tekanan Udara dan Pola Udara Global

shddin 2007

Karena equator menerima lebih banyak radiasi matahari, udaranya menjadi panas dan bergerak naik. Udara ekuator yang naik tersebut kemudian mendingin dan melepaskan kandungan uap airnya sebagai hujan. Akibatnya udara yang terus bergerak ke arah utara dan selatan bersifat kering. Ketika mencapai lintang 20o-30o, udara tersebut menjadi lebih dingin dan berat. Akibatnya udara tersebut mulai turun. Tekanan dari lapisan atmosfer yang lebih rendah menghangatkan udara yang turun tersebut, menghasilkan udara kering dan panas. Suatu kondisi yang tepat untuk membentuk gurun pasir di belahan Bumi utara dan selatan.

22

Distribusi Gurun

shddin 2007

Iklim kering terbentuk pada lintang rendah dan sedang, dimana potensi hilangnya air akibat penguapan (evaporasi) melebihi curah hujan (presipitasi) tahunan. Iklim kering meliputi 30% permukaan daratan Bumi dan terbagi menjadi daerah semi-arid dan arid. Daerah semi-arid menerima lebih banyak curah hujan, tetapi tetap dianggap kering. Tanahnya umumnya berkembang baik dan subur serta mendukung pertumbuhan vegetasi rumput penutup. Daerah arid, umumnya disebut gurun, menerima kurang dari 25 cm hujan per tahun dan memiliki tingkat penguapan tinggi. Tanahnya tidak berkembang baik, dan hampir atau sama sekali tidak ada tumbuhan penutup.

Distribusi Gurun

shddin 2007

23

Distribusi Gurun

shddin 2007

Di sebagian permukaan Bumi, iklim kering juga berkembang pada lintang tinggi, terutama pada interior kontinen. Iklim kering pada daerah tersebut terbentuk karena letaknya yang jauh dari udara laut yang lembab serta kehadiran rangkaian pegunungan yang membentuk daerah bayangan hujan (rain shadow), yang dapat berkembang menjadi gurun. Ketika udara laut yang lembab mengalir ke daratan dan menjumpai rangkaian pegunungan, mereka dipaksa untuk bergerak naik. Setelah naik, udara tersebut mendingin, membentuk awan dan terciptalah hujan yang jatuh pada bagian menghadap ke arah datangnya angin (windward). Udara yang kemudian turun di punggung pegunungan searah tiupan angin (leeward) bersifat lebih hangat dan kering, menghasilkan rainshadow desert.

Distribusi Gurun

shddin 2007

24

Karakteristik Gurun

shddin 2007

Temperatur siang hari umumnya berkisar pada 32-38 oC pada musim panas, seringkali pula mencapai 46-50 oC. Temperatur tertinggi yang pernah diukur adalah 58 oC di El Azizia, Libya, pada tanggal 13 September 1922. Pada musim dingin, temperatur siang hari hanya berkisar pada 10-18 oC. Namun seringkali pula mencapai 35 oC. Fluktuasi temperatur pada musim dingin berkisar dari <0 oC hingga 38 oC pada satu hari. Meskipun gurun didefinisikan hanya menerima curah hujan <25 cm/tahun, namun angka tersebut tidak akurat sekaligus tidak dapat diprediksi. Sering terjadi suatu tempat menerima curah hujan melebihi angka presipitasi tahunan dalan satu kali badai, dan kemudian hanya menerima sedikit atau tidak ada hujan sama sekali untuk tahun-tahun berikutnya. Vegetasi di gurun umumnya jarang dan terdistribusi tidak merata serta memiliki ciri pertumbuhan yang lambat.

Karakteristik Gurun

shddin 2007

Sonoran Desert, North America

25

Karakteristik Gurun

shddin 2007

Pelapukan mekanis adalah jenis pelapukan paling dominan di daerah gurun, dengan bentuk utamanya berupa variasi temperatur harian yang ekstrim. Pelapukan mekanis lainnya akibat akar tanaman dan pertumbuhan kristal garam juga turut andil. Pelapukan kimiawi sangat sedikit karena iklim yang kering dan minimnya asam organik dari tumbuhan yang tersebar jarang. Pelapukan kimiawi hanya berkembang sesaat ketika musim dingin dan curah hujan cukup banyak. Salah satu fenomena menarik di gurun adalah pernis batuan (rock varnish, sering pula disebut patination), yaitu lapisan sangat tipis berwarna coklat atau hitam dengan komposisi besi dan oksida mangan. Sumber kedua mineral tersebut diduga dari debu gurun yang dibawa oleh angin atau dari penguapan kotoran mikroorganisme. Tanah gurun, jika berkembang, umumnya tipis dan setempat-setempat, karena terbatasnya hujan serta akibat jarangnya vegetasi yang mengurangi efisiensi pelapukan kimiawi dan pembentukan tanah. Terlebih, jarangnya vegetasi penutup membuat erosi angin sangat kuat sehingga hanya sedikit tanah yang bisa terbentuk.

Karakteristik Gurun

shddin 2007

Rock varnish di Castle Valley, Utah, USA

26

Karakteristik Gurun
Adanya rock varnish atau patinasi, ternyata telah dimanfaatkan oleh para seniman prasejarah. Mereka membuat berbagai petroglif (petroglyphs; dari Bahasa Yunani, petro artinya batu dan glyph artinya memahat) yang sangat indah dan mistis.

shddin 2007

Aneka petroglyphs di Dinosaur National Monument, Utah, USA

Karakteristik Gurun

shddin 2007

Petroglyphs bercorak manusia di Dinosaur National Monument, Utah, USA

27

Karakteristik Gurun

shddin 2007

Air, meskipun bukan agen proses eksogenik yang dominan, sering meninggalkan jejaknya. Kondisi kering dan jarangnya vegetasi memperbesar peluang terjadinya erosi air. Karena seringkali datang sekaligus ketika badai, air dalam jumlah banyak mampu mengerosi dan membawa banyak material gurun dalam waktu yang singkat. Sungai-sungai yang ada di gurun tidak berkembang baik karena sifatnya yang intermitten. Sebagian besar tidak pernah mencapai laut, karena paras muka air tanah (water table) sangat dalam, sehingga sungai-sungai tidak pernah mendapat pasokan air dari air tanah untuk menggantikan airnya yang menguap ke udara dan yang terserap ke dalam tanah. Jenis pola pengaliran seperti ini disebut internal drainage, dimana muatan sungai hanya diendapkan di lingkup gurun saja. Sebagian gurun memiliki sungai permanen, seperti Sungai Nil di Afrika. Sungai-sungai tersebut mampu mengalir melintasi gurun karena hulunya berada diluar kawasan tersebut dan volume air pada mata air tersedia dalam jumlah melimpah, cukup untuk menggantikan hilangnya air yang kelak menguap dan terserap selama menempuh perjalanan melintasi gurun.

Bentangalam Gurun

shddin 2007

Banyak bentangalam (landform) yang berkembang di gurun dibentuk oleh air permukaan. Danau playa (playa lake) adalah danau yang bersifat sementara (temporer), bisa berumur beberapa jam hingga beberapa bulan, terbentuk akibat limpasan air permukaan yang tidak terserap oleh tanah dan terhimpun di suatu daerah topografi rendah. Jika semua air danau playa menguap, dasar danau yang mengering disebut playa, atau panci garam (salt pan), dicirikan oleh retak lumpur (mudcracks) dan kristal garam. Kipas alluvial (alluvial fan) terbentuk ketika aliran permukaan dengan muatan sedimen sangat banyak mengalir dari pegunungan ke lantai gurun yang relatif datar, menyebarkan semua muatannya secara lateral dan membentuk tubuh endapan berbentuk kipas dengan kemiringan landai dan sortasi buruk. Bajada adalah beberapa kipas alluvial yang berdekatan dan saling tersambung tumpang-tindih.

28

Bentangalam Gurun
Contoh danau playa:

shddin 2007

Croneis Dry Lake, Mojave Desert, California, USA

Bentangalam Gurun
Contoh playa:

shddin 2007

Racetrack Playa, Death Valley, California, USA

29

Bentangalam Gurun
Contoh kipas alluvial:

shddin 2007

Death Valley, California, USA

Bentangalam Gurun
Contoh bajada:

shddin 2007

Black Mountains, Death Valley, California, USA

30

Bentangalam Gurun

shddin 2007

Pediment adalah permukaan sisa erosi suatu batuan dasar yang memiliki relief rendah dan kelerengan landai, terletak di depan pegunungan. Inselberg (gunung pulau) adalah gunung terisolasi di tengah gurun. Mereka merupakan sisa erosi yang tersusun oleh batuan resisten dan memiliki kelerengan yang terjal. Sisa erosi lainnya adalah mesa dan butte. Keduanya memiliki puncak yang relatif datar serta dibatasi oleh tebing-tebing terjal. Mesa lebih lebar, menyerupai meja. Sedangkan butte menyerupai tiang.

Bentangalam Gurun
Contoh pediment:

shddin 2007

Mesquite, Nevada, USA.

31

Bentangalam Gurun
Contoh inselberg:

shddin 2007

Ayers Rock, Central Australia

Bentangalam Gurun
Contoh inselberg:
Ayers Rock

shddin 2007

Olgas Rock, Central Australia

32

Bentangalam Gurun
Contoh mesa:

shddin 2007

Zuni Pueblo, New Mexico, USA

Bentangalam Gurun
Contoh butte:

shddin 2007

Monument Valley, Arizona, USA

33

14. Proses Pesisir

MFS 1810
Salahuddin Husein

Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada 2007

Pendahuluan

shddin 2007

Pendahuluan

shddin 2007

Kawasan pesisir terletak antara garis air terendah ketika pasang surut dan garis air tertinggi yang dipengaruhi oleh badai. Proses pesisir melibatkan interaksi tiada henti antara energi proses pesisir dengan material pesisir. Jika energi pesisir sangat tinggi, erosi akan terjadi dan garis pantai akan mundur. Sebaliknya jika pasokan material dari darat besar, deposisi akan mendominasi dan garis pantai akan maju. Tinggal di daerah pesisir, meski seolah menyenangkan, seperti yang dipilih oleh 2/3 populasi penduduk Bumi, namun resiko alam yang dihadapi juga banyak ragamnya: - Naiknya air laut menyebabkan erosi pesisir semakin meningkat. - Tanah longsor sering terjadi pada daerah pesisir yang memiliki tebing cukup terjal. - Pantai-pantai berpasir sering bermigrasi karena arus sepanjang pantai. - Badai sering mengancam. Demikian pula dengan tsunami.

Pendahuluan

shddin 2007

San Diego, California, USA

Proses Pesisir Pasang-Surut

shddin 2007

Pasang-surut (tides) adalah fluktuasi paras muka laut harian akibat gaya tarik Bulan dan Matahari. Sebagian besar pesisir mengalami 2 kali pasang-tinggi (high tides) dan 2 kali pasang-rendah (low tides), dengan kisaran hanya beberapa cm hingga 15 m. Kondisi pergerakan air menuju pasang-tinggi disebut pasang-banjir (flood tides), sedangkan kondisi pergerakan air menuju pasang-rendah disebut pasang-susut (ebb tides).

Low tide

High tide

Proses Pesisir Pasang-Surut

shddin 2007

Baik Bulan maupun Matahari memiliki gaya tarik gravitasi yang mampu menimbulkan energi pembangkit pasang-surut yang cukup kuat untuk merubah bentuk tubuh Bumi yang padat, namun pengaruhnya lebih banyak dialami oleh tubuh air pada lautan dan samudera. Matahari memiliki massa 27 juta kali dari Bulan, namun jaraknya terhadap Bumi adalah 390 kali lebih jauh daripada Bulan, sehingga energi pembangkit pasang-surutnya hanya 46% daripada yang dihasilkan oleh Bulan. Jika kita menganggap Bumi seluruhnya tertutup oleh air laut, maka energi pasang-surut akibat gaya tarik gravitasi Bulan akan menghasilkan dua kumpulan massa air. Kumpulan massa air pertama berada pada bagian Bumi yang mengalami gaya tarik Bulan terbesar, yaitu yang menghadap ke arah Bulan. Kumpulan massa air kedua berada pada sisi sebaliknya dari kumpulan pertama akibat gaya inersia sentrifugal rotasi Bumi, yaitu yang menjauh dari arah Bulan. Karena rotasi Bumi dan revolusi Bulan, suatu titik akan mengalami naik dan turunnya air laut sebanyak 2 kali setiap hari.

Proses Pesisir Pasang-Surut

shddin 2007

Proses Pesisir Pasang-Surut

shddin 2007

Proses Pesisir Pasang-Surut

shddin 2007

Revolusi Bulan membutuhkan waktu 28 hari, sehingga posisinya terhadap garis lintang akan berubah setiap hari. Dipengaruhi oleh rotasi Bumi, Bulan memerlukan waktu 50 menit lebih lama untuk kembali ke titik semula setiap hari. Sehingga bila suatu titik mengalami pasang tinggi pada pukul 13:00, maka keesokan harinya pasang tinggi pada titik tersebut akan terjadi pada pukul 13:50. Posisi Bulan dan Matahari mempengaruhi pasang-surut. Bila keduanya berada pada satu garis lurus, yang terjadi setiap 2 minggu sekali, gaya tarik gabungan tersebut sangat besar dan akan menghasilkan pasang-maksimum (spring tides) yang 20% lebih tinggi dari pasang biasa. Bila Bulan dan Matahari berada saling tegak lurus terhadap Bumi, juga terjadi 2 minggu sekali, energi pembangkit pasang-surut Matahari meniadakan sebagian dari energi pembangkit pasang-surut Bulan, menyebabkan terbentuknya pasang-minimum (neap tides) yang 20% lebih rendah dari pasang biasa.

Proses Pesisir Pasang-Surut

shddin 2007

Kisaran (range) ketinggian pasang-surut dipengaruhi oleh konfigurasi garis pantai dan kedalamannya. Pesisir yang terbuka dan landai umumnya memiliki kisaran ketinggian pasang-surut yang rendah. Sedangkan pesisir yang sempit dan memanjang dapat memiliki kisaran ketinggian pasang-surut yang besar, seperti di Teluk Fundy, Nova Scotia, dengan kisaran pasang-surut 16.5 m. Jika kisaran ketinggian pasang-surut >5 m, energi aliran airnya dapat dipergunakan untuk menghasilkan tenaga listrik (tidal power). Dengan prinsip sederhana, yaitu membangun bendungan dua arah, air dari pasang-banjir (flood tide) dibendung untuk kemudian dilepaskan untuk memutar turbin ketika pasang-tinggi (high tide). Demikian pula sebaliknya ketika pasangsusut (ebb tide), airnya ditahan untuk kemudian dilepaskan sambil memutar turbin ketika pasang-rendah (low tide). Tidal power telah sukses di estuarin La Rance River, Perancis, semenjak 1966, dan menghasilkan 240 MW listrik.

Proses Pesisir Pasang-Surut

shddin 2007

Pembangkit listrik tenaga pasang-surut (tidal power) di estuarin La Rance River, France

Proses Pesisir Gelombang

shddin 2007

Gelombang (waves) adalah gerak osilasi permukaan air. Hampir semua bentuk alam erosi dan deposisi di pesisir dibentuk oleh energi gelombang. Bagian tertinggi suatu gelombang disebut puncak (crest), sedangkan bagian paling rendah disebut palung (trough). Panjang gelombang (wave length, simbolnya L) adalah jarak horisontal antara dua puncak (atau palung) yang berdekatan. Tinggi gelombang (wave height) adalah jarak vertikal antara puncak dan palung. Kecepatan gelombang (celerity, simbolnya C) adalah waktu yang dibutuhkan oleh dua puncak berturutan (atau lembah) menempuh satu titik: C = L/T dimana T adalah perioda gelombang (wave period). Sesungguhnya yang diukur sebagai kecepatan gelombang adalah kecepatan bentuk gelombang, dan bukan kecepatan gerak partikel air. Partikel air pada gelombang bergerak osilasi maju-mundur, tidak ada pergerakan maju yang berarti.

Proses Pesisir Gelombang

shddin 2007

Anatomi gelombang

Gerak partikel air dalam gelombang

Proses Pesisir Gelombang

shddin 2007

Diameter orbit partikel air dalam gelombang mengecil bila semakin dalam, dan pada kedalaman setengah panjang gelombang (L/2), disebut dasar gelombang (wave base), diameternya menjadi nol. Bila kedalaman dasar laut lebih besar dari kedalaman dasar gelombang, dasar laut tersebut tidak terpengaruh oleh gelombang. Gelombang dapat dihasilkan oleh beberapa peristiwa, seperti tanah longsor di dasar laut, pergerakan patahan di dasar laut, dan letusan gunung api. Namun pembentuk gelombang paling dominan adalah angin. Ketika angin bertiup di atas permukaan laut, sebagian energinya dipindahkan ke tubuh air, menyebabkan permukaan air bergerak osilasi. Mekanisme perpindahan energi tersebut terkait gesekan (frictional drag) antara udara dan air. Pada daerah terbentuknya gelombang, seperti pada daerah badai di tengah laut, gelombang tidak beraturan (irregular waves) dengan puncak yang tajam terbentuk. Gelombang tak beraturan tersebut dinamakan sea. Sea adalah kumpulan gelombang dengan berbagai tinggi dan panjang, yang satu tidak dapat dibedakan dengan lainnya.

Proses Pesisir Gelombang

shddin 2007

Proses Pesisir Gelombang

shddin 2007

Sea

Proses Pesisir Gelombang

shddin 2007

Swell

Proses Pesisir Gelombang

shddin 2007

Ketika sea bergerak keluar dari daerah pembentukan gelombang, mereka akan terpilah menjadi beberapa gelombang lebar dan panjang (swell) yang memiliki puncak bundar dan ukurannya seragam. Terbentuknya gelombang tergantung 3 faktor: (1) kecepatan angin, (2) durasi atau lamanya tiupan angin, dan (3) luas atau panjang wilayah yang terkena tiupan angin, disebut fetch. Beberapa gelombang dengan panjang, tinggi, dan perioda berbeda dapat bergabung, menghasilkan gelombang yang lebih kecil atau lebih besar. Dua gelombang yang bergabung dapat membentuk gelombang berbahaya (rogue wave) yang lebih besar 3-4 kali dari gelombang normal. Rogue wave dapat saja muncul mendadak dari laut yang relatif tenang, dan sangat membahayakan kapal. Gelombang akan pecah begitu kedalaman dasar laut lebih dangkal daripada kedalaman dasar gelombang, menghasilkan breaker.

Proses Pesisir Gelombang

shddin 2007

Gelombang yang bergerak dari sea menjadi swell hanya kehilangan sedikit energi dalam perjalanannya melintasi lautan. Ketika dasar gelombang menyentuh dasar laut di dekat pantai, gerak orbital partikel air terganggu. Kecepatan gelombang meningkat, panjang gelombang berkurang dan tinggi gelombang bertambah. Akibatnya, ketika gelombang memasuki laut dangkal, bentuk gelombang menjadi asimetri. Puncak gelombang bergerak lebih cepat daripada tubuh gelombang, hingga akhirnya puncak gelombang pecah ke depan membentuk breaker dan memindahkan energi kinetiknya ke pantai. Ada dua jenis breaker, yaitu: (1) plunging, berkembang pada dasar pantai yang terjal, dan (2) spilling, berkembang pada dasar pantai yang landai.

Proses Pesisir Gelombang

shddin 2007

Plunging breaker

10

Proses Pesisir Gelombang

shddin 2007

Plunging breaker

Proses Pesisir Gelombang

shddin 2007

Spilling breaker

11

Proses Pesisir Arus Pantai

shddin 2007

Ada dua jenis arus yang berkembang di pantai, yaitu: arus sepanjang pantai (longshore current) dan arus robek (rip current). Gelombang yang bergerak dari laut dalam dicirikan oleh puncak yang panjang dan menerus, namun mereka jarang sejajar dengan garis pantai. Sehingga sebagian dari gelombang terlebih dahulu pecah dan menyentuh pantai dibandingkan sebagian lainnya. Efek dari pertemuan menyudut antara gelombang dan garis pantai adalah pembelokan gelombang agar relatif sejajar dengan garis pantai, disebut refraksi gelombang (wave refraction). Meskipun telah refraksi, gelombang tetap saja mendekati pantai dengan sudut tertentu, menyebabkan massa air diantara breaker dan garis pantai bergerak sejajar garis pantai, menghasilkan arus sepanjang pantai (longshore current). Arus sepanjang pantai sangat penting karena mereka mampu mengerosi, membawa dan mengendapkan sejumlah besar sedimen di pantai. Pergerakan sedimen akibat arus sepanjang pantai disebut longshore drift.

Proses Pesisir Arus Pantai

shddin 2007

Refraksi gelombang pada pantai lurus

12

Proses Pesisir Arus Pantai

shddin 2007

Gelombang membawa massa air ke pantai, sehingga harus ada mekanisme untuk mengembalikannya kembali ke laut. Salah satu caranya adalah membentuk arus robek (rip current). Arus robek adalah arus permukaan yang sempit dan mengalir keluar ke arah laut melalui zona breaker. Arus ini berbahaya bagi para perenang pemula. Sebagian massa air yang dibawa keluar oleh arus robek disumbangkan oleh arus sepanjang pantai. Sehingga arus robek berfungsi sebagai sel sirkulasi arus sepanjang pantai. Lokasi terbentuknya arus robek juga ditentukan oleh konfigurasi dasar laut pantai, seperti cekungan. Mereka terbentuk pada gelombang yang tingginya paling rendah. Ketinggian gelombang dikontrol oleh variasi kedalaman air, di daerah yang cekung tinggi gelombangnya akan lebih rendah dibandingkan daerah lain.

Proses Pesisir Arus Pantai

shddin 2007

13

Proses Pesisir Arus Pantai


Rip current bisa dideteksi berdasarkan warna keruh akibat sedimen pantai yang dibawanya menjauh.

shddin 2007

Deposisi Pesisir Pantai

shddin 2007

Pantai adalah bentuk alam yang paling dikenali di pesisir, terutama dari segi wisata. Berupa tubuh sedimen, terutama pasir, yang memanjang dan relatif sempit, dan selalu berubah. Tergantung pada konfigurasi garis pantai, pelamparannya bisa memanjang (continuous beach) hingga ratusan kilometer, atau bisa pendek saja membentuk pantai kantong (pocket beach) pada teluk-teluk sempit. Definisi pantai adalah tubuh sedimen yang belum terkonsolidasi, melampar kearah darat dari garis pasang-rendah (low tide) hingga titik tertinggi air mampu masuk ke daratan ketika badai, yang ditandai oleh perubahan topografi seperti gumuk pasir, tebing batu, atau munculnya vegetasi permanen. Komponen pantai antara lain backshore: bagian kering yang hanya terkena air bila badai atau pasang sangat tinggi. Backshore terdiri dari satu atau beberapa berm, suatu bidang permukaan relatif horisontal atau miring sangat landai ke arah daratan, hasil endapan gelombang. Di depan berm terdapat beach face, bidang permukaan yang miring ke arah laut dan selalu terkena sapuan gelombang (wave swash).

14

Deposisi Pesisir Pantai


Pantai menerus (continuous beach):

shddin 2007

Myrtle Beach, Grand Strand, South Carolina, USA

Deposisi Pesisir Pantai


Pantai kantong (pocket beach):

shddin 2007

California, USA

15

Deposisi Pesisir Pantai

shddin 2007

Cannibal Bay, South Island, New Zealand

Deposisi Pesisir Pantai

shddin 2007

Piha Beach, New Zealand

16

Deposisi Pesisir Pantai


Penampang pantai:

shddin 2007

Deposisi Pesisir Pantai

shddin 2007

Beach face merupakan bagian dari foreshore, suatu daerah yang tertutup air ketika pasang-tinggi (high tide) namun terbuka ketika pasang-rendah (low tide). Sebagian kecil sedimen di pantai berasal dari erosi gelombang, namun sebagian besar berasal dari daratan yang dibawa oleh sungai dan disebarkan oleh longshore current. Longshore drift adalah fenomena transportasi sedimen pantai yang unik. Gelombang datang dengan sudut tertentu terhadap pantai dan mendorong butiran pasir bergerak menaiki beach face pada sudut tersebut. Namun ketika massa air turun kembali (backwash) bersama-sama butiran pasir tersebut, gerakannya adalah tegak lurus terhadap garis pantai. Pola gerakan massa air demikian menyebabkan gerakan sedimen dengan pola zig-zag searah dengan longshore current. Untuk memperlebar pantai dan mengurangi erosi, struktur groin yang tegak lurus garis pantai dan menjorok ke laut cukup bermanfaat. Mereka mengganggu aliran longshore current sehingga terjadi deposisi pada bagian yang menghadap arus (upcurrent). Namun tidak dapat dihindari bahwa erosi juga terjadi pada bagian sebaliknya (downcurrent).

17

Deposisi Pesisir Pantai


Terbentuknya longshore drift akibat longshore current dan interaksi antara gelombang yang naik ke pantai (surf) dan sapuan arus baliknya (backwash).

shddin 2007

Refraksi gelombang pada pantai lurus

Deposisi Pesisir Pantai


Longshore drift dapat diamati dari foto udara:

shddin 2007

Refraksi gelombang pada pantai lurus

18

Deposisi Pesisir Pantai


Struktur groin untuk menahan longshore drift :

shddin 2007

Refraksi gelombang pada pantai lurus Cape May, New Jersey, USA

Deposisi Pesisir Pantai


Struktur breakwater untuk mengendalikan longshore drift di Santa Barbara, California, USA.

shddin 2007

Refraksi gelombang pada pantai lurus

19

Deposisi Pesisir Pantai

shddin 2007

Tahun 1925 sebelum Pelabuhan Santa Barbara dibangun, longshore drift memainkan peranan pentingnya dalam transportasi sedimen pantai.

Tahun 1938 ketika pelabuhan selesai dibangun, longshore drift mengelilingi breakwater dan mengendapkan sedimennya di mulut pelabuhan.

Refraksi gelombang pada pantai lurus

Deposisi Pesisir Pantai

shddin 2007

Pantai adalah suatu kawasan dimana energi gelombang terserap, sehingga butiran-butiran sedimen lepas yang membentuk pantai selalu dipengaruhi oleh gerak gelombang. Secara keseluruhan, penampang pantai relatif tidak berubah selama kondisi keseimbangan terpenuhi. Meskipun pasang-surut dan longshore current mempengaruhi konfigurasi pantai, namun yang paling berpengaruh dalam membentuk penampang keseimbangan pantai adalah gelombang badai. Karena badai umumnya berlangsung ketika musim tertentu, seperti musim dingin atau musim penghujan, maka biasanya pantai memiliki penampang musim kemarau dan penampang musim penghujan. Gelombang energi tinggi pada musim hujan mengerosi pasir dari pantai dan mengendapkannya di lepas pantai, membuat pantai musim penghujan memiliki berm yang sempit atau tanpa berm, lereng beach face yang landai, dan munculnya beberapa offshore bar yang sejajar dengan garis pantai. Gelombang energi rendah pada musim kemarau membawa kembali pasir offshore bar ke pantai, membuat pantai musim kemarau memiliki berm yang lebar, beach face yang terjal, dan offshore yang landai.

20

Deposisi Pesisir Pantai


Perubahan musiman penampang pantai:

shddin 2007

Deposisi Pesisir Spit

shddin 2007

Bila pantai tumbuh secara lateral akibat longshore current, seringkali pada ujungnya yang lepas dari daratan akan terbentuk spit. Spit biasanya tumbuh di muara sungai atau teluk. Bila spit menutup seluruh teluk, maka disebut sebagai baymouth bar. Spit terbentuk karena longshore current yang melemah energinya akibat memasuki tubuh air yang lebih dalam, seperti mulut teluk atau muara sungai. Sehingga sedimen yang dibawa longshore current terendapkan di sana, membentuk tubuh gosong pasir (sand bar). Sering pula ujung spit menjadi melengkung karena refraksi gelombang atau akibat gelombang dari arah berbeda, membentuk hook atau recurved spit. Varian dari spit adalah tombolo, yang tubuh gosong pasir yang menjorok ke laut dan menghubungkan suatu pulau dengan daratan utama. Tombolo terbentuk karena refraksi gelombang di sekitar pulau menyebabkan longshore current dua arah yang saling bertemu di belakang pulau sambil mengendapkan sedimen yang dibawanya.

21

Deposisi Pesisir Spit


Terbentuknya spit dan baymouth bar:

shddin 2007

Spit di mulut Sungai Klamath, California, USA

Deposisi Pesisir Spit


Terbentuknya hook:

shddin 2007

22

Deposisi Pesisir Spit


Terbentuknya hook:

shddin 2007

Deposisi Pesisir Spit


Terbentuknya tombolo:

shddin 2007

23

Deposisi Pesisir Spit


Terbentuknya tombolo:

shddin 2007

1.Sebuah pulau di lepas pantai berfungsi sebagai pemecah gelombang (breakwater) terhadap gelombang yang datang, menciptakan daerah dengan energi rendah (wave shadow) pada perairan pesisir di belakang pulau tersebut.

Deposisi Pesisir Spit


Terbentuknya tombolo:

shddin 2007

2.Sedimen yang dibawa oleh longshore current terperangkap di zona wave shadow tersebut.

24

Deposisi Pesisir Spit


Terbentuknya tombolo:

shddin 2007

3.Sedimen terus terendapkan hingga tombolo terbentuk. Selanjutnya longshore current akan membawa sedimen mengelilingi bagian depan tombolo.

Deposisi Pesisir Spit


Terbentuknya tombolo:

shddin 2007

25

Deposisi Pesisir Spit

shddin 2007

Sveti Stefan, Serbia

Deposisi Pesisir Barrier Islands

shddin 2007

Barrier islands adalah rangkaian pulau tersusun oleh pasir yang memanjang dan sempit serta terpisah dari daratan oleh laguna. Bagian luar yang menghadap laut lepas, geometri garis pantai barrier island cenderung rata oleh erosi gelombang, sedangkan bagian dalam yang menghadap laguna cenderung tidak teratur. Proses terbentuknya barrier island masih belum diketahui dengan pasti. Menurut salah satu model, barrier island terbentuk akibat pertumbuhan spit yang kemudian menempel pada suatu pulau. Menurut model lain, barrier island terbentuk akibat punggungan pantai (beach ridges) yang tumbuh di pantai yang terus tenggelam (subsidence).

26

Deposisi Pesisir Barrier Islands

shddin 2007

Outer Banks, North Carolina, USA

Deposisi Pesisir Barrier Islands


Proses terbentuk barrier islands dari perkembangan spit:

shddin 2007

(a) longshore current memperpanjang spit di sepanjang pantai, (b) ketika badai spit terpecah, membentuk tidal inlet dan barrier island.

27

Deposisi Pesisir Barrier Islands


Proses terbentuk barrier islands dari perkembangan spit:

shddin 2007

(a) punggungan pantai (beach ridge) terbentuk di pesisir daratan, (b) ketika air laut naik (sea level rise), sebagian punggungan pantai tenggelam dan membentuk barrier island.

Deposisi Pesisir Barrier Islands


Pembangunan struktur jetti untuk melindungi kanal Ocean City Inlet pada tahun 1930 menyebabkan gangguan pada longshore drift di sepanjang barrier island yang bergerak ke arah selatan. Konsekuensinya, Assateague Island mengalami kekurangan sedimen dan bermigrasi 500 m ke arah daratan, bergeser dari Fenwick Island yang terletak di utaranya.

shddin 2007

28

Deposisi Pesisir Barrier Islands


Juli 1984: sebelum pecah, spit berfungsi sebagai pelindung pantai Chatham.

shddin 2007

Chatham, Massachusetts, USA

Deposisi Pesisir Barrier Islands

shddin 2007

Maret 1987: dua bulan setelah pecah dan terbentuk barrier island, inlet semakin besar dan membuka daratan terhadap erosi.

Chatham, Massachusetts, USA

29

Deposisi Pesisir Barrier Islands

shddin 2007

Juli 1992: lima tahun setelah pecah, lebar inlet adalah 3 km, terbentuk spit baru yang menghubungkan barrier island dengan daratan. Erosi kuat tetap menyerang pesisir daratan utama.

Chatham, Massachusetts, USA

Erosi Pesisir

shddin 2007

Di sepanjang pesisir yang erosi lebih dominan daripada deposisi, pantai tidak akan berkembang dan sebaliknya tebing laut (sea cliff) akan berkembang dengan baik. Tebing laut (sea cliff) adalah bentukan erosi yang selalu terkena hantaman gelombang, terutama ketika badai, membuat gawirnya bergerak mundur ke arah daratan. Proses erosi yang bekerja pada tebing laut adalah: 1. Korosi (corrosion): pelapukan kimiawi oleh air laut, 2. Hidrolika (hydraulic action): tekanan yang ditimbulkan oleh hantaman gelombang, 3. Abrasi (abrasion): penggerusan oleh fragmen batuan dan pasir yang dibawa oleh gelombang. Kecepatan tererosinya dan mundurnya tebing laut (retreat) tergantung pada intensitas gelombang dan resistensi batuan penyusun tebing laut.

30

Erosi Pesisir

shddin 2007

Cape Sebastian State Park, Oregon, USA

Erosi Pesisir

shddin 2007

Portland Head Light, Cape Elizabeth, Maine

31

Erosi Pesisir

shddin 2007

Beachy Head and Seven Sisters Cliffs, East Sussex, England

Erosi Pesisir

shddin 2007

Hawaii, USA

32

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

Erosi pada tebing laut paling efektif terjadi di kakinya (undercut), dimana kontak langsung dengan gelombang terjadi. Hasilnya adalah bagian atas yang menggantung dan rentan terhadap gerakan massa. Proses demikian membentuk bidang permukaan hasil erosi pada kaki tebing yang relatif datar atau miring landai ke arah laut, disebut wave-cut platform. Pada wave-cut platform tersebut proses abrasi berlangsung efektif. Sedimen yang tererosi dari tebing pantai dan wave-cut platform akan ditransportasi ke arah laut dan diendapkan di kaki wave-cut platform, membentuk wave-built platform. Tebing laut tidak mengalami erosi dan mundur dengan kecepatan yang sama, karena adanya perbedaan resistensi material penyusunnya. Bagian yang lebih resisten akan menjorok ke arah laut, membentuk tanjung (headland). Sedangkan bagian yang tidak resisten akan menjorok ke arah daratan, membentuk teluk (embayment), dimana pocket beach dapat terbentuk. Refraksi gelombang di sekitar headland menyebabkan energi gelombang terfokus dan membentuk gua laut (sea cave) pada tebing headland.

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

33

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

Washington, USA

34

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

Mexico

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

Bila di sisi lain tebing headland juga terbentuk sea cave, dan proses erosi yang terus berlanjut membuat kedua sea caves bergabung, maka busur laut (sea arch) terbentuk. Erosi yang terus melebarkan sea arch akan menyebabkan atapnya runtuh, menyisakan tonggak laut (sea stack) pada wave-cut platform. Dalam jangka panjang, proses erosi laut akan meratakan/meluruskan geometri pesisir. Refraksi gelombang yang membuat energinya terkumpul pada headland dan tersebar pada bagian teluk akan membuat bagian headland mengalami erosi paling tinggi dan sedimennya akan diendapkan pada bagian teluk.

35

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

Refraksi gelombang berakibat pengumpulan energi pada semenanjung (headland) dan penyebaran energi pada teluk.

36

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

Refraksi gelombang berakibat pengumpulan energi pada semenanjung (headland) dan penyebaran energi pada teluk.

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

Akibatnya terbentuk sea stack pada semenanjung dan pengendapan hasil erosinya pada teluk membentuk pantai kantong (pocket beach).

37

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform


Refraksi gelombang di Oregon, USA

shddin 2007

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

Proses terbentuknya sea caves, sea arches, dan sea stacks: (1) Energi gelombang terkonsentrasi pada tanjung sebagai akibat refraksi gelombang. Zona lemah seperti kekar, sesar, dan perlapisan yang tidak resisten, tererosi lebih cepat, sehingga sea caves terbentuk pada bagian tersebut.

38

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform


Proses terbentuknya sea caves, sea arches, dan sea stacks: (2) Sea caves terus bertambah besar dan membentuk sea arch.

shddin 2007

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

Proses terbentuknya sea caves, sea arches, dan sea stacks: (3) Sea arch runtuh meninggalkan sea stack. Sea arch baru terbentuk kembali di sisa tubuh tanjung.

39

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform


Runtuhnya sea arch di pesisir California, USA:
1969

shddin 2007

1987

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

Cabo San, Lucas, Mexico

40

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

Phang-Nga Bay, Phuket, Thailand

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

Shipwreck Coast, Victoria, Australia

41

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

Twelve Apostles, Port Campbell National Park, Victoria, Australia

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform

shddin 2007

El Arco, Cabo San, Lucas, Mexico

42

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform


Evolusi keseimbangan pesisir yang melibatkan sea cliff:

shddin 2007

(1) Naiknya muka air laut menenggelamkan bentang lahan, yang sebelumnya dierosi oleh aliran sungai permukaan, dan membentuk teluk, tanjung dan pulau.

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform


Evolusi keseimbangan pesisir yang melibatkan sea cliff:

shddin 2007

(2) Erosi gelombang memotong sea cliff dan, secara setempat-setempat, sea stacks dan sea arches pada pulau dan tanjung.

43

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform


Evolusi keseimbangan pesisir yang melibatkan sea cliff:

shddin 2007

(3) Tebing yang terpotong semakin mundur, sedangkan tanjung tererosi untuk membentuk sea cliff baru. Sedimen mulai diendapkan dan terakumulasi membentuk pantai dan spit.

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform


Evolusi keseimbangan pesisir yang melibatkan sea cliff:

shddin 2007

(4) Pulau-pulau telah tererosi seluruhnya, pantai dan spit semakin tumbuh, dan laguna terbentuk di teluk.

44

Erosi Pesisir Wave-Cut Platform


Evolusi keseimbangan pesisir yang melibatkan sea cliff:

shddin 2007

(5) Garis pesisir yang lurus dihasilkan oleh mundurnya sea cliff dan oleh sedimentasi pada teluk dan laguna. Selanjutnya wave-cut platform yang telah terbentuk mengurangi erosi lebih jauh oleh gelombang.

Neraca Sedimen Pesisir

shddin 2007

Neraca sedimen pesisir (nearshore sediment budget ) adalah sistem keseimbangan antara pasokan sedimen dengan sedimen yang tererosi di daerah pesisir. Neraca seimbang berarti meski sedimen selalu berpindah, namun jumlah keseluruhan sedimen dianggap tetap atau konstan. Neraca positif berarti pasokan sedimen melebihi jumlah yang tererosi. Neraca negatif berarti sedimen yang tererosi melebihi jumlah yang dipasok. Jika kondisi neraca negatif ini berlangsung dalam waktu yang lama, sistem pesisir dalam kondisi kritis dan pantai-pantai bisa menghilang. Sumber-sumber pasokan sedimen: (1) sedimen asal darat yang dibawa oleh sungai dan didistribusikan oleh longshore current, (2) erosi tebing laut (sea cliff) di sekitarnya, dan (3) sedimen yang dibawa oleh gelombang (onshore transport). Sumber-sumber erosi sedimen: (1) longshore current yang membawa sedimen ke kawasan pesisir di sebelahnya, (2) angin yang membawa sedimen dari pesisir naik ke darat, dan (3) gelombang dan arus laut lainnya yang membawa sedimen ke arah laut lepas (offshore transport), termasuk bila ada submarine canyon yang akan memindahkan sedimen lebih dalam.

45

Neraca Sedimen Pesisir

shddin 2007

Neraca Sedimen Pesisir

shddin 2007

46

Pesisir Terumbu

shddin 2007

Terumbu (reef) membentuk jenis pesisir yang unik karena sifatnya yang organik. Terumbu modern dibentuk oleh komunitas kompleks dari koral, alga dan invertebrata laut lainnya. Hampir semua terumbu tumbuh di air hangat dan dangkal pada daerah tropis dan semi-tropis, antara 25o LS dan 30o LU. Terumbu tidak dapat hidup pada kedalaman lebih dari 76 m, namun perkembangan paling ekstensif terjadi hanya beberapa meter di bawah permukaan laut, karena hanya bagian atas terumbu saja yang menerima cahaya matahari yang berkembang aktif secara organik. Air laut yang kotor menghalangi pertumbuhan terumbu karena menghalangi cahaya matahari dan kandungan lumpurnya dapat menyumbat saluran metabolisme. Sehingga terumbu tidak pernah tumbuh di mulut sungai yang besar dan banyak kandungan lumpurnya. Terumbu hanya dapat hidup pada air laut dengan kadar salinitas antara 27 40 ppt, sehingga terumbu dapat mati bila ada pasokan air tawar dari daratan yang mengurangi kadar salinitas air laut. Tiga jenis terumbu: (1) fringing reef, (2) barrier reef, dan (3) atoll, dimana urutan ketiganya menyiratkan perkembangan suatu pulau yang tenggelam.

Pesisir Terumbu

shddin 2007

Distribusi terumbu karang dunia saat ini terbatas pada kawasan lintang rendah, dimana temperatur air laut rerata melebihi 18 oC sepanjang tahun.

47

Pesisir Terumbu

shddin 2007

Fringing Reefs

Pesisir Terumbu

shddin 2007

Barrier Reefs

48

Pesisir Terumbu

shddin 2007

Atolls

Pesisir Terumbu

shddin 2007

Barrier Reefs

Society Islands, French Polynesia

49

Pesisir Terumbu

shddin 2007

Society Islands, French Polynesia

Reef mounds yang tersebar di dalam laguna

Pesisir Terumbu
Komunitas organisme penyusun terumbu

shddin 2007

Society Islands, French Polynesia

50

Klasifikasi Pesisir

shddin 2007

Terdapat banyak jenis pesisir, dan semuanya menunjukkan bentuk alam dan proses geologi yang berbeda dan bervariasi satu dengan lainnya. Semuanya dipengaruhi oleh: (1) bentuk alam (landform) yang ada sebelumnya, (2) perubahan paras muka laut (sea level change), dan (3) proses geologi pesisir yang bekerja saat ini. Meskipun rumit, pengelompokkan jenis pesisir harus diupayakan karena sangat membantu dalam memahami proses terbentuknya pesisir. Agar efektif, klasifikasi pesisir dilakukan berdasarkan skala: 1. Skala global berasosiasi dengan tektonik lempeng, 2. Skala lokal berasosiasi dengan proses erosi dan deposisi. Menurut tinjauan tektonik lempeng, secara global pesisir dapat diklasifikasi menjadi 3 jenis: 1. Pesisir konvergen (active margin coasts) 2. Pesisir divergen (passive-margin coasts) 3. Pesisir laut marginal (marginal sea coasts)

Klasifikasi Pesisir

shddin 2007

Pesisir konvergen (active-margin coasts) dibentuk pada zona pertemuan lempeng, umumnya dicirikan oleh tebing laut (sea cliffs), teras laut yang terangkat (raised marine terraces), dan paparan benua yang sempit (narrow continental shelves). Mereka mudah dikenali karena dicirikan oleh sifat volkanisme dan kegempaan yang aktif. Pesisir divergen (passive-margin coasts) dibentuk pada zona pemekaran benua (rifting), umumnya dicirikan oleh topografi dengan relief yang rendah (low relief topography), dataran pesisir yang lebar (broad coastal plains), dan paparan benua yang lebar (wide continental shelves). Meski demikian, pesisir divergen yang masih berusia muda bisa saja memiliki karakteristik seperti pesisir konvergen. Pesisir laut marginal (marginal sea coasts) terlindungi oleh busur kepulauan dan sering dimodifikasi oleh pasokan sedimen dari benua.

51

Klasifikasi Pesisir

shddin 2007

Sebaran jenis pesisir menurut tektonik lempeng

Klasifikasi Pesisir

shddin 2007

Berdasarkan tinjauan proses geologi skala lokal, ada 2 kelompok pesisir: 1. Pesisir primer (primary coasts) yang dibentuk oleh proses asal darat, 2. Pesisir sekunder (secondary coasts) yang dibentuk oleh proses asal laut. Pesisir primer (primary coasts) secara dominan dibentuk oleh proses geologi yang bekerja diatas daratan, seperti sungai, glasier, gunungapi, dan struktur geologi. Mereka menghasilkan garis pesisir yang tidak beraturan (irregular coastlines) yang dibentuk oleh teluk (bay), estuarin (estuarine), fiord, tanjung (headlands), semenanjung (peninsulas), dan pulau-pulau lepas pantai (offshore islands). Pesisir primer dapat bersifat erosional maupun deposisional; namun pengaruh laut sangat minimal dalam proses-proses tersebut.

52

Klasifikasi Pesisir

shddin 2007

Pesisir primer: erosi sungai yang terkena naiknya paras muka laut (sea level rise) menghasilkan teluk (embayment) dengan pulau lepas pantai (offshore islands).

Klasifikasi Pesisir

shddin 2007

Pesisir primer: deposisi sungai menghasilkan delta.

53

Klasifikasi Pesisir

shddin 2007

Pesisir primer: erosi glasial yang terkena naiknya paras muka laut (sea level rise) menghasilkan fiords, yaitu teluk panjang dan sempit (drowned glacial valleys).

Klasifikasi Pesisir

shddin 2007

Pesisir sekunder (secondary coasts) dibentuk oleh erosi dan deposisi laut. Mereka dicirikan oleh tebing hasil erosi gelombang (wave-cut cliffs), pantai (beaches), gosong penghalang (barrier bars), dan gosong ujung (spits). Termasuk dalam jenis pesisir sekunder adalah yang dibangun oleh organisme, seperti hutan bakau (mangroves) dan terumbu karang (reefs). Erosi dan deposisi laut cenderung meluruskan dan menghaluskan garis pesisir, serta menciptakan keseimbangan antara energi gelombang dan konfigurasi garis pesisir.

54

Klasifikasi Pesisir

shddin 2007

Pesisir sekunder: erosi laut menghasilkan wave-cut cliffs.

Klasifikasi Pesisir

shddin 2007

Pesisir sekunder: deposisi laut menghasilkan barrier islands dan beaches.

55

Klasifikasi Pesisir

shddin 2007

Pesisir sekunder: pertumbuhan terumbu karang menghasilkan barrier reefs dan atolls.

Tsunami

shddin 2007

Pergerakan dasar samudera akibat gempabumi, letusan gunungapi, atau longsoran dasar laut, seringkali menghasilkan suatu gelombang yang jarang terjadi, disebut gelombang laut seismik (seismic sea wave), atau populer dikenal dengan nama tsunami. Berbeda dengan gelombang yang dihasilkan oleh angin yang hanya efekti di permukaan laut, energi yang dipindahkan oleh pergerakan dasar samudera berlaku bagi seluruh tubuh air, sehingga semua partikel air ikut dalam gerakan gelombang tsunami. Tsunami memiliki panjang gelombang (wavelength) yang sangat panjang (55200 km) dan tinggi gelombang (wave height) yang kecil (30-60 cm). Sehingga di laut lepas tsunami jarang bisa dirasakan atau dikenali, meski gelombang tersebut mengarungi samudera dengan kecepatan tinggi (500-800 km/jam). Ketika tsunami mendekati pesisir, energi yang sebelumnya didistribusikan di tubuh air yang dalam menjadi terkonsentrasi pada tubuh air yang dangkal, menyebabkan panjang gelombang berkurang, namun tinggi gelombang (wave height) bertambah. Perubahan karakter tersebut menjadikan tsunami sebagai gelombang paling berbahaya dan menghancurkan, selain jangkauannya yang sangat luas.

56

Tsunami

shddin 2007

Tsunami

shddin 2007

Pemodelan komputer terhadap tsunami 1960 yang terjadi di Chile dan mengarungi seluruh Samudera Pacific.

(a) 5 jam setelah gempabumi

(b) 10 jam setelah gempabumi

57

Tsunami

shddin 2007

Pemodelan komputer terhadap tsunami 1960 yang terjadi di Chile dan mengarungi seluruh Samudera Pacific.

(c) 17 jam setelah gempabumi, tsunami melanda New Zealand.

(d) 22 jam setelah gempabumi, tsunami menghantam Jepang.

58