Anda di halaman 1dari 4

PENDAHULUAN

Air merupakan zat yang keberadaannya sangat


vital dalam mendukung kehidupan dan aktivitas
manusia. Kebutuhan air bersih terus meningkat
sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan
pertumbuhan sektor industri. Jika peningkatan
kebutuhan air bersih tidak diimbangi dengan sumber
penyediaan yang baru, maka akan menimbulkan
krisis air bersih. Untuk mengatasi hal ini diperlukan
studi lebih lanjut mengenai sumber daya air dan
proses pengolahannya untuk menghasilkan air
bersih. Air gambut merupakan salah satu sumber air
yang sangat mudah ditemukan di Riau, namun
dalam penggunaannya masih banyak mengalami
kendala. Salah satu kendala pengguanaan air
gambut sebagai sumber air bersih adalah tingginya
zat organik yang terlarut, terutama dalam bentuk
asam humus dan derivatnya. Bahan ini bersiIat
amorphous, coklat atau hitam, hidroIilik, asam, dan
berat molekul bervariasi (Scnitzer, 1972).
Air gambut adalah air permukaan yang banyak
terdapat di daerah berawa atau daratan rendah
terutama di Sumatera dan Kalimantan, yang
mempunyai ciri-ciri meliputi: intensitas warna yang
tinggi, pH rendah, kandungan zat organik tinggi,
keruh, konsentrasi partikel dan kation rendah.
Intensitas warna tinggi merupakan salah satu
ciri khas air gambut yang merupakan akibat dari
tingginya kandungan zat organik yang terlarut,
terutama dalam bentuk asam humus dan derivatnya
Zat organik yang menyebabkan warna tersebut
berasal dari komposisi bahan organik seperti daun,
pohon, dan kayu dengan berbagai tingkat
dekomposisi (Notodarmojo, 1994). Kandungan
organik yang banyak terdapat dalam air tanah dan
permukaan terdiri dari bahan humus. Bahan humus
dibagi dalam tiga Iraksi utama yang meliputi asam
humus yang bersiIat soluble dalam larutan alkali
tetapi tidak soluble (terjadi presipitat) dan pH 2,
asam Iulvat yang bersiIat soluble baik pada kondisi
asam maupun basa dengan berat molekul yang lebih
kecil (Yuan, 1999).
Teknologi konvensional yang umumnya
digunakan dalam pengolahan air yang mengandung
zat organik alam yang tinggi meliputi koagulasi,
Ilokulasi dan sedimentasi. Metode ini dapat
menghasilkan air bersih mendekati kualitas air yang
ditetapkan Depkes RI. Namun, kadar zat organik air
bersih yang dihasilkan dengan metode ini masih
diatas baku mutu yang ditetapkan pemerintah.
Kendala lain adalah penggunaan jumlah koagulan
dalam jumlah berlebihan akan mengakibatkan
pemborosan dan limbah yang dihasilkan bila dibuang
ke lingkungan, secara akumulatiI akan berdampak
negatiI terhadap kelestarian lingkungan.
Teknologi membran di Indonesia merupakan
teknologi yang relatiI baru dalam pengolahan air.
Namun demikian teknologi membran terus
mengalami kemajuan dalam penggunaannya. Salah
satu keunggulan teknologi ini adalah kemurnian
ABSTRACT
The water quality can be decreased, because the existence oI organic matter which caused
smell, taste and colour. To solve this problem, is by exclusion the organic matter Irom
water. The research have been done to decrease the organic matter oI peat water. The
exclusion oI organic matter Irom water conducted by using ultraIiltration membrane. The
rate oI organic in Ieed is 135.54 mg/L KMnO4 based on analysis result. The membrane
system was operated at 1.5; 2.25; 3 and 3.75 bar respectively. The result shown as Iollow
that the highest Ilux at 1.5 bar is 15.167 L/m
2
Hr; at 2.25 bar is 29.917 L/m
2
hr; at 3 bar is
38.5 L/m
2
hr and at 3.75 bar is 42.458 L/m hr. The greates oI exclusion organic Ior varia-
tion pressure given the highest Ilux yielded. The higher exclusion oI organic is at 1.5 bar
equal to 76.31 Ior 2 hours, and the smallest exclusion oI organic at 3.75 bar is equal to
68.77 Ior 2 hours.
Keywords: an organic matter, Ilux, membrane ultraIiltration, rejection
RE1EKSI ZAT ORGANIK AIR GAMBUT
DENGAN MEMBRAN ULTRAFILTRASI
Syarfi, Syamsu Herman
Program Studi Teknik Kimia, Eakultas Teknik, Universitas Riau, Pekanbaru 28293
Email: syarIiunri.ac.id
Jurnal Sains dan Teknologi 6(1), Maret 2007: 1-4
2
menghasilkan limbah yang berdampak negatiI pada
kelestarian lingkungan.
BAHAN DAN METODE
Bahanbahan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah air umpan (air gambut), aquadest, dan
bahan untuk analisa meliputi KMnO
4
, asam oksalat,
H
2
SO
4
pekat. Alat utama yang digunakan adalah
satu unit modul membran yang dilengkapi dengan
pompa dan alat pengukur tekanan. Penelitian
menggunakan membran ultraIiltrasi berbahan
sellulosa asetat (CA) yang berbantuk hollow fiber.
Peralatan analisa meliputi timbangan analitik, pH
meter, termometer, yang dilenggkapi juga dengan
pemanas, gelas ukur, gelas kimia, botol sampel,
erlenmeyer, labu ukur, dan buret.
Prosedur percobaan pada penelitian ini yang
pertama kali adalah air umpan sebelum masuk
membran dianalisa terlebih dahulu. Setelah itu air
umpan dipompakan ke membran pada tekanan 1,5
bar, 2,25 bar, 3 bar dan 3,75 bar selama 120 menit.
Proses ultraIiltrasi dilakukan masing-masing selama
120 menit. Volume permeat dicatat tiap selang
waktu 5 menit. Dan setiap selang waktu 30 menit
permeat diambil untuk dianalisa kadar organiknya.
Persiapan larutan untuk analisa zat organik, yaitu
membuat larutan KmnO
4
0,01 N, larutan asam
oksalat 0,01 N, dan larutan H
2
SO
4
4 N. Proses
analisa kadar zat organik yang terdapat pada umpan
maupun pada permeat dilakukan dengan cara titrasi
permanganometri.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Waktu Terhadap Fluks
Eluks dideIenisikan sebagai jumlah volume
permeat yang melewati satuan luas membran dalam
waktu tertentu dengan gaya dorong dalam hal ini
berupa tekanan, dimana semakin lama waktu
permeat melewati membran maka semakin kecil
Iluks yang dihasilkan (Mulder, 1996). Eluks yang
dihasilkan dipengaruhi oleh waktu dan tekanan
operasi membran, dan Iluks yang dihasilkan seperti
pada Gambar 1.
Gambar 1 menunjukkan bahwa pada waktu 10
menit pertama operasi membran terjadi penurunan
Iluks yang cukup besar, hal ini disebabkan oleh
kondisi membran yang belum mengalami kompaksi.
Selanjutnya penurunannya cenderung konstan, hal
ini disebabkan oleh adanya polarisasi kosentrasi
pada membran. Polarisasi kosentrasi terjadi karena
material yang terdapat didalam umpan berkumpul
produk yang dihasilkan jauh di atas teknologi
konvensional. Teknologi ini dapat mengatasi
kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam
pengolahan air secara konvensional, karena
pengolahan air dengan menggunakan membran
memiliki beberapa kelebihan yaitu pemisahan
dengan membran tidak mengubah struktur molekul
zat yang dipisahkan, dapat dioperasikan pada
temperatur ruang atau yang lebih rendah, karena itu
membran dapat menjalankan proses untuk zat-zat
yang rentan terhadap suhu tinggi atau hemat energi
dan tidak ada penambahan zat kimia lain selama
proses pemisahan (Shidarta, 2004). Disamping
keunggulan tersebut kemampuan teknologi membran
dalam merejeksi berbagai kontaminan dalam air
umpan relatiI baik.
Kemampuan membran ultraIiltrasi dalam
merejeksi COD pada pengolahan limbah emulsi
minyak dengan sistem aliran dead-end mencapai 90
(Zulkarnein dkk, 2004). Tingkat rejeksi zat
organik dengan membran ultraIiltrasi sistem aliran
dead-end pada pengolahan air waduk mencapai 90
(Deniva A, dkk, 2004). Tingkat rejeksi COD pada
pengolahan limbah cair emulsi minyak dengan
membran ultratraIiltrasi yang didahului dengan
proses pretreatment dengan dengan koagulan jenis
PACl mencapai mencapai 98,56 (Mayashanty D
dkk, 2004).
Pada proses pemisahan dengan membran ada
dua parameter penting yang paling menentukan
kinerja membran yaitu Iluks (permeabilitas) dan
selektiIitas (Iaktor pemisah). Eluks menentukan
lajunya produksi, sedangkan selektiIitas menentukan
kemurnian produk (SyarIi dan Eauzi, 2004).
Permeabilitas suatu membran merupakan ukuran
kecepatan dari suatu spesi menembus membran.
Secara kuantitas, permeabilitas membran sering
dinyatakan sebagai Iluks atau koeIisien
permeabilitas. Sedangkan kemampuan membran
dalam merejeksi sejumlah kontaminan dapat
dinyatakan dalam rejeksi.
Salah satu permasalahan penting dalam
pengolahan air gambut adalah tingginya zat organik
sehingga hasil proses pengolahan belum mencapai
baku mutu. Penelitian ini dipandang penting untuk
dilakukan guna mengetahui kemampuan membran
ultraIiltrasi dalam merejeksi zat organik air gambut,
sehingga kadar zat organik air bersih yang dihasilkan
dapat memenuhi baku mutu. Lebih lanjut penelitian
ini dapat mengurangi penggunaan bahan kimia pada
pengolahan secara konvensional sehingga tidak
Jurnal Sains dan Teknologi 6(1), Maret 2007: 1-5
3
Rejeksi Zat Organik Air Gambut (Syarfi & Herman)
Pengaruh Waktu Terhadap Rejeksi Zat Organik
Penentuan kadar zat organik dilakukan dengan
titrasi permanganometri, dimana Iaktor ketelitian
titrasi ini yaitu 1,1. Data tersebut dapat dilihat juga
pada Gambar 3.
Air umpan dengan konsentrasi zat organik
sebesar 135,54 mg/l KMnO
4
dilewatkan ke
membran. Kinerja membran dalam merejeksikan zat
organik dicoba selama 120 menit Berdasarkan
Gambar 3. dapat diketahui bahwa secara umum
rejeksi meningkat terhadap waktu untuk berbagai
tekanan operasi. Rejeksi tertinggi dicapai pada
tekanan 1,5 bar yaitu mencapai 76,31 pada waktu
120 menit, sedangkan rejeksi terendah tercapai
pada tekanan 3,75 bar yaitu 68,77 pada waktu
yang sama. Rejeksi zat organik berbeda untuk tiap
tekanannya, dimanan semakin besar tekanan yang
diberikan pada membran maka kadar zat organik
yang mampu diserap oleh membran semakin kecil,
hal ini kemungkinan disebabkan oleh deposisi pori-
pori membran akibat peningkatan tekanan.
Sebaliknya semakin besar waktu operasi
kecenderungan rejeksi akan meningkat meskipun
relatih kecil, hal ini kemungkinan disebabkan oleh
Ioulan yang menempel atau terikat pada membran
akan menjadi Iilter baru bagi air umpan. Rejeksi zat
organik pada proses ini masih tergolong rendah
dibandingkan dengan hasil penelitian yang
diterapkan pada emulsi minyak dan air waduk
(Deniva dkk, 2004; Mayashanty D, dkk 2004 dan
Zulkarnain T dkk, 2004). Hal ini kemungkinan
disebabkan oleh berbedanya karakteristik dari air
gambut yang bersiIat soluble pada kondisi asam
maupun basa dengan berat molekul yang kecil
(Yuan, 1999).
pada permukaan membran dan membentuk lapisan
gel. Lapisan ini makin lama makin menebal,
sehingga tahanan hidrouliknya dapat mengurangi
Iluks.
Laju Pembentukkan
Laju pembentukan cake terjadi karena adanya
material terdeposisi yang dibawa oleh umpan pada
permukaan membran. Seiring dengan laju operasi
membran cake yang terbentuk semakin menebal, hal
ini disebabkan oleh pengendapan atau pelekatan
material dipermukaan membran, yang dikenal
dengan fouling dan scaling (Rautenbach, 1989).
Untuk menentukan laju pembentukan cake dapat
dihitung dengan memplotkan 1/J (1/Iluks) terhadap
waktu operasi seperti terlihat pada Gambar 2.
Dari Gambar 2 diketahui bahwa laju
pembentukan cake pada tekanan 3,75 bar lebih kecil
dibandingkan dengan tekanan 1,5 bar, 2,25 bar dan
3 bar, ini terjadi karena dengan gaya dorong yang
tinggi akan memperlambat pembentukan cake pada
permukaan dan pori membran sehingga kemampuan
membran untuk menyaring kotoran lebih sedikit,
karena pori membran akan membesar secara elastis
akibat gaya dorong yang terlalu besar dan
sebaliknya untuk tekanan yang lebih kecil.
0
10
20
30
40
50
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120
Waktu (menit)
Fluks (L/ m
2
.jam)
tekanan 1,5 bar
tekanan 2,25 bar
tekanan 3 bar
tekanan 3,75 bar
Gambar 1. Grafik penurunan fluks terhadap
waktu pada tekanan yang berbeda
0
0,5
1
1,5
2
2,5
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120
t (waktu)
1
/
J
Tekanan 1,5
Tekanan 2,25
Tekanan 3
Tekanan 3,75
Gambar 2. Laju pembentukan c terhadap waktu
0
10
20
30
40
50
60
70
80
5 30 60 90 120
t waktu (menit)
R
e
j
e
k
s
i

Z
a
t

O
r
g
a
n
i
k

(
p
e
r
s
e
n
)
P1.5 P2.25 P3 P3.75
Gambar 3. Grafik rejeksi zat organik terhadap waktu
4
KESIMPULAN
Tingkat rejeksi zat organik pada air umpan
paling besar terdapat pada tekanan 1,5 bar sebesar
76,31 , yaitu pada 120 menit dan rejeksi terkecil
terdapat pada tekanan 3,75 bar yaitu sebesar 68,77
pada 2 jam pertama. Semakin besar variasi
tekanan yang diberikan maka semakin besar pula
Iluks yang dihasilkan, tetapi tingkat rejeksi zat
organik dari cenderung rendah.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
SaiIul Hidayat, Ririen Widyastuti dan Muhardi,
mahasiswa Eakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia
UNRI yang telah membantu sehingga penelitian ini
dapat terlaksana dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Albrecht, R & Rautenbach, R. 1989. Membran
Processes. Institut Iur VerIahrenstechnik RWTH
Aachen. West Germany.
Deniva A dkk. 2004. Refeksi Zat Organik dan
Kekeruhan Menggunakan Teknologi Membran
Ultrafiltrasi Dengan Sistem Aliran Dead End.
Prosiding ITB Sain dan Teknologi Vol 36 A No 1,
p.63-82. ITB. Bandung.
Mayashanty D dkk, 2004. Pengolahan Limbah Cair
Emulsi Minvak dengan Proses Membran
Ultrafiltrasi Dua Tahap Aliran Cross Flow.
Prosiding ITB Sains dan Teknologi. Vol 36 A p.45-
62. ITB. Bandung.
Mulder M. 1996. Basic Principles of Membrane
Technologv. Kluwer Academic Publisher.
Netherlands.
Notodarmojo S. 1994. Pengolahan Air Berwarna.
Kajian terhadap Studi Laboratorium. Makalah
Lokakarya Pengolahan Air Berwarna.
Palangkaraya.
Schnitzer dan Khan. 1972. Humic Subtance in
environment. Mareel Dekker Inc. New York.
Shidarta, C. 2004. Pengaruh Tebal dan Waktu
Pemakaian Membran Cellulose Acetate terhadap
Prosentase Refeksi Ion Klorida, Fluks, dan
Konstanta Permeabilitas Solute pada Membran
dengan Proses Desalinasi Svstem Reverse
Osmosis. Prosiding Seminar Tjipto Utomo. 3: C5.
Bandung.
Syarfi, Fauzi, dan Amri, A. 2004. Evektivitas
Membran Poli Jinil Alkohol (PJA) Crosslink pada
Proses Sorpsi Dehidrasi Larutan Etanol. Jurnal
Sains dan Teknologi Eakultas Teknik Universitas
Riau. 3: 51-55. Pekanbaru.
Yuan A. 1999. Humic Acid Fouling during Microfil-
tration. Journal oI Membrane Science. Vol 157. ppl
-12.
Zulkarnain T et all. 2004. Efek Pretreatment terhadap
Pembentukan Lapisan Cake dan Struktur Membran
pada Membran Ultrafiltrasi Aliran Cross Flow
dalam Pengolahan Limbah Cair Emulsi Minvak.
Prosiding ITB Sains & Teknologi. Vol 36 A No 2
p.127-144. ITB. Bandung.
Jurnal Sains dan Teknologi 6(1), Maret 2007: 1-5