Anda di halaman 1dari 13

1

KONSELING SEBAYA DALAM BIMBINGAN KONSELING KOMPREHENSIF (Materi Diklat Teknis Fungsional Peningkatan Kompetensi Guru Pertama BK) Oleh Agus Akhmadi 1 Abstrak: Dalam program bimbingan konseling komprehensif, layanan responsif dilakukan terhadap setiap siswa yang menghadapi masalah. Permasalahan yang dihadapi siswa sebagai remaja semakin kompleks bahkan siswa sangat rentan untuk bermasalah. Kondisi ini menuntut semakin eksis dan profesionalnya kerja konselor madrasah. R iset menunjukkan masih kurangnya kuantitas dan kualitas konseling bagi siswa, karena kemampuan guru BK masih rendah dalam menguasai pendekatan konseling, dan sisi lain siswapun cenderung lebih banyak berkonsultasi dengan sebayanya. Berangkat dari kenyataan tersebut, para ahli menyatakan konseling sebaya efektif dalam meningkatkan perkembangan kepribadian dan mengatasi berbagai masalah siswa. Oleh karena itu menerapkan konseling sebaya menjadi pilihan. Inovasi ini perlu dilakukan dengan melatihkan anak menjadi konselor. Dengan menggunakan salah satu pendekatan, t erapi realitas yang berorientasi masa sekarang, berpikir realistis, akan cocok bagi remaja dalam melaksanakan layanan konseling sebaya di madrasah. Kata Kunci: Konseling Komprehensif, Konseling Sebaya A. PENDAHULUAN Adanya perubahan dinamis pada berbagai aspek kehidupan seperti longgarnya norma kemasyarakatan, teknologi dan informasi, menyebabkan permasalahan yang dihadapi siswa sebagai remaja semakin kompleks. Siswa sebagai remaja rentan untuk bermasalah. Kondisi ini menuntut semakin eksis dan profesionalnya kerja konselor madrasah. Konselor di madrasah saat ini menunjukkan, bahwa kinerja profesional konselor dihadapkan kepada berbagai kendala. Kendala terbesar untuk mewujudkan layanan bimbingan dan konseling yang handal terjadi dalam

Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya

tataran praktis (Sudrajat, 2008). Implementasi layanan konseling di madrasah, menemukan beberapa informasi, (1) Rasio jumlah konselor dengan peserta didik masih di atas standar pelayanan 1:150 siswa, (2) Kinerjanya kurang profesional, yang ditandai: a) kurang memahami dan menerapkan pendekatan konseling dalam praktik, b) kurang memahami dan menerapkan dalam praktek masing-masing jenis layanan konseling, c) kurang memahami dan menerapkan dalam praktek masing-masing kegiatan pendukung konseling, d), kurang memberikan pelayanan konseling untuk masing -masing siswa. (3) Kurang mengembangkan kemampuan profesional konseling secara berkelanjutan, (4) Di madrasah-madrasah tertentu: a) tidak ada guru pembimbing, b) ada guru pembimbing tetapi tidak seimbang dengan banyaknya peserta didik, (c) ada kepala madrasah yang mengangkat guru mata pelajaran menjadi guru pembimbing. Pengangkatan guru mata pelajaran menjadi guru pembimbi ng di satu sisi memberi manfaat positif, karena ada kepedulian kepala madrasah terhadap program Bimbingan dan Konseling. Di sisi lain memberi citra buruk bagi profesi bimbingan dan konseling, karena dilakukan oleh tenaga yang tidak memiliki keahlian tentang Bimbingan dan Konseling d) masih ada kepala madrasah yang belum memahami secara tepat program bimbingan dan konseling di madrasah, sehingga memberikan tugas kepada guru yang mismatch, tidak proporsional e) sangat minimnya pengalaman praktik, pelatihan-pelatihan bagi konselor madrasah. Dalam kondisi keterbatasan yang demikian, permasalahan yang dihadapi siswa terus berkembang. Siswa yang mencari bantuan penyelesaian masalah akhirnya salah bimbingan. Salah satunya mencari tempat perbantuan terhadap temannya. Adanya siswa bermasalah yang berkonsultasi pada temannya, dapat memberikan efek positif namun bisa juga memberikan efek negatif. Efek positif jika teman tempat dia berkonsultasi memiliki sikap dan perilaku positif, selain karena teman sebaya lebih memahami masalah temannya. Sebaliknya efek negatif terjadi jika siswa yang bermasalah berkonsultasi pada temannya yang juga bermasalah, sementara temannya tersebut terlanjur mencari

penyelesaian masalah dengan sikap dan perilaku negatif, maka siswa akan terjerat pada masalah yang lebih berat dan dapat membahayakan perkembangannya. Mencermati kenyataan tersebut, perlu dikembangkan model layanan konseling yang mampu melayani siswa. Salah satu yang dapat dikembangkan adalah konselor sebaya. Pengembangan konseling sebaya diprediksi dapat menjadi alternatif solusi fenomena layanan konseling pada umumnya.

B. BIMBINGAN DAN KONSELING KOMPREHENSIF

Program bimbingan dan konseling mengandung empat komponen layanan, yaitu: (1) layanan dasar bimbingan (guidance curriculum) ; (2) layanan responsif, (3) layanan perencanaan indiviual, dan (4) layanan dukungan sistem. Keempat komponen program tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. 1) Layanan Dasar. Layanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh peserta didik melalui kegiatan penyiapan

pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas -tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian) yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya. Penggunaan instrumen asesmen perkembangan dan kegiatan tatap muka terjadwal di kelas sangat diperlukan untuk mendukung implementasi komponen ini. Asesmen kebutuhan diperlukan untuk dijadikan landasan pengembangan pengalaman terstruktur yang disebutkan. Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu siswa agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya.

Secara rinci tujuan layanan ini dapat dirumuskan sebagai upaya untuk membantu siswa agar (1) memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama), (2) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya, (3) mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan (4) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya. 2) Layanan Responsif. Layanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada peserta didik yang menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera, sebab jika tidak segera dibantu dapat menimbulkan gangguan dalam proses pencapaian tugas -tugas perkembangan. Konseling indiviaual, konseling krisis, , konsultasi dengan orangtua, guru, dan alih tangan kepada ahli lain adalah ragam bantuan yang dapat dilakukan dalam layanan responsif. 3) Perencanaan Individual. Layanan ini diartikan proses bantuan kepada peserta didik agar mampu merumu skan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Pemahaman peserta didik secara mendalam dengan segala karakteristiknya, penafsiran hasil asesmen, dan penyediaan informasi yang akurat sesuai dengan peluang dan potensi yang dimiliki peserta didik amat diperlukan sehingga peserta didik mampu memilih dan mengambil keputusan yang tepat di dalam mengembangkan potensinya secara optimal, termasuk keberbakatan dan kebutuhan khusus peserta didik. 4) Dukungan Sistem Ketiga komponen diatas, merupakan pemberian layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupak an komponen layanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infra struktur (misalnya Teknologi Informasi dan Komunikasi), dan pengembangan kemampuan profesional konselor secara

berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada peserta didik atau memfasilitasi kelancaran perkembangan peserta didik.

1. Pengertian Konseling Sebaya Sesuai istilah yang digunakan, konselor sebaya bukanlah seorang profesional di bidang konseling, namun mereka diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan konselor profes ional. Menurut Judy (1985) peer counseling is defined as variety of interpersonal helping behaviours assumed by nonprofessionals who undertake a helping role with others. Lebih lanjut dijelaskan bahwa: peer counseling includes one -to-one helping relationships, group leadership, discussion leadership,

advisement, tutoring, and all activities of an interpersonal human helping or assisting nature. Dapat disimpulkan bahwa konseling sebaya adalah layanan bantuan konseling yang diberikan oleh teman sebayanya yang telah terlebih dahulu diberikan pelatihan-pelatihan untuk menjadi konselor sebaya sehingga dapat memberikan bantuan baik secara individual maupun kelompok kepada teman-temannya yang bermasalah ataupun mengalami berbagai hambatan dalam perkembangan ke pribadiannya. Dengan adanya layanan konseling sebaya, madrasah menyiapkan siswa-siswa tertentu untuk menjadi konselor nonprofesional dalam membantu masalah teman-temannya. Para siswa calon konselor sebaya akan mendapatkan pelatihan yang memadai untuk jadi konselor sebaya, sehingga diharapkan meningkatkan kemampuan siswa dalam menghadapi masalah. Dalam konseling sebaya siswa yang telah mendapatkan pelatihan lebih tinggi skor empatinya dibanding siswa yang tidak menerima pelatihan. Meskipun konselor sebaya yang dilatih tidak memperlihatkan peningkatan dalam self consept , mereka menunjukkan prestasi akademik yang lebih tinggi dibanding kelompok siswa konselor sebaya yang tidak bekerja dengan siswa-siswa lain.

Konseli-konseli yang memanfaatkan layanan konseling sebaya mampu melakukan identifikasi diri dengan teman sebaya mereka, dan para konseli menganggap bahwa konselor sebaya memiliki kemauan membangun jembatan komunikasi. Tindall (1978) menunjukkan

kemampuan dalam menengahi, dan secara signifikan lebih tinggi kemampuannya sebagai konselor individual. Selanjutnya Suwarjo (2008) membuktikan bahwa model koseling teman sebaya efektif dalam mengembangkan daya lentur ( resilience ) pada anak. Di Inggris, konseling sebaya sangat kuat, dan punya inisiatif u ntuk perlindungan hukum bagi perkembangan pendidikan, lingkungan dan keluarga. Anggota sukarela konseling sebaya menjadi mediator bagi pencegahan maupun mengatasi berbagai konflik antara kelompok.

2. Kompetensi Konselor Sebaya Dalam meningkatkan kemampuan konselor sebaya, keterampilan konseling untuk diajarkan kepada konselor sebaya yang non profesional meliputi: (1) Attending yaitu perilaku yang secara langsung berhubungan dengan respek, yang ditunjukan ketika konselor memberikan perhatian penuh pada konseli, melalui komunikasi verbal maupun non verbal, sebagai komitmen untuk fokus pada konseli. Konselor menjadi pendengar aktif yang akan berpengaruh pada efektivitas bantuan. Termasuk pada komunikasi verbal dan non verbal adalah; Empathi, (2) Summarizing yaitu dapat menyimpulkan berbagai pernyataan konseli menjadi satu

pernyataan. Ini berpengaruh pada kesadaran untuk mencari solusi masalah, (3) Questioning yaitu: proses mencari apa yang ada di balik diskusi, dan seringkali berkaitan dengan kenyataan yang dihadapi konseli. Pertanyaan yang efektif dari konselor adalah yang tepat, bersifat mendalam untuk mengidentifikasi, untuk memperjelas masalah, dan untuk

mempertimbangkan alternatif, (4) Keaslian adalah mengkomunikasikan secara jujur perasaan sebagai cara meningkatkan hubungan dengan dua atau lebih individu, (5) Assertiveness/ketegasan, termasuk kemampuan

untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaan secara jujur, yang ditunjukkan dengan cara berterus terang, dan respek pada orang lain, (6) Confrontation adalah komunikasi yang ditandai dengan ketidak sesuaian/ ketidakcocokan perilaku seseorang dengan yang lain, (7) Problem Solving adalah proses perubahan sesorang dari fase mengeksplorasi satu masalah, memahami sebab-sebab masalah, dan mengevaluasi tingkah laku yang mempengaruhi penyelesaian masalah itu (Ivey (2003). Dalam pelatihan konselor sebaya, para professional bertanggung jawab untuk memberikan kepada para siswa pelatihan yang baik, penjelasan tentang standar etik, supervisi yang pantas, dan suport atau dukungan pada orang yang dilatih dan dapat berkontrib usi pada tersedianya tenaga yang potensial. Untuk mampu menerapkan konseling sebaya yang memuaskan membutuhkan kondisi tertentu (Judy (1985), yaitu: (a) partisipan program perlu terlibat dalam perencanaan, (b) rencana program pelatihan yang spesifik sangat penting. harus dibuat komponen training yang efektif, (c) individu yang memiliki sensitivitas, kehangatan, dan kesadaran tentang orang lain menjadi trainees yang efektif (d) orang yang terlibat dalam program perlu tertarik dengan konsep dan aplikasi da ri konseling sebaya, (e) siapapun yang merencanakan untuk mengimplementasikan program konseling sebaya di madrasah membutuhkan respon positif, dari berbagai personil, (f) perlu supervisor untuk mengetahui

perkembangan konseling, memberikan follow up p ada peer-counseling yang sedang dijalankan konselor.

3. Penerapan Konselor Sebaya di Madrasah

Sesuai teori konseling dan pelatihan konselor sebaya kepada siswa yang terpilih sebagai konselor, maka konseling sebaya dapat dilaksanakan dengan berbagai pendekat an konseling, dalam hal ini terapi realitas. Dengan menggunakan pendekatan realitas, ada tujuh komponen dengan

dua kategori utama yaitu: komponen struktur, dan komponen program yang perlu dilakukan (Gysbers &Henderson, 1994). Komponen struktur menggambarkan: definisi program konseling sebaya, rasional pentingnya program konseling sebaya , dan asumsi yang berisi prinsip yang mendasari program konseling sebaya. Komponen program menggambarkan: aktivitas -aktivitas utama dalam pelak sanaan program konseling sebaya , peran dan tanggung jawab personil madrasah yang terlibat dalam program konseling sebaya. Program yang perlu dilakukan dalam penerapan dan pelaksaaan konselor sebaya adalah: a. Desain program konseling sebaya. Perencanaan program konseling sebaya dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak terutama konselor, kepala madrasah, persetujuan dan dukungan para guru dan administrasi. Perencanaan meliputi: pemilihan konselor sebaya dan pelatihan bagi konselor sebaya, bentuk pelatihan, personil yang akan melatih dan kriterianya, biaya pelatihan, tempat pelatihan, lama pelatihan akan dilakukan, pihak-pihak yang dimintai dukungan untuk pelatihan, keterampilan dasar konseling yang akan dilatihkan bagi konselor sebaya,

pemahaman tentang pendekatan terapi realitas yang dijadikan kerangka pikir teoritik dan praktis dalam latihan konseling, serta evaluasi pelatihan. b. Pelaksanaan pelatihan konselor sebaya. Pelatihan dilaksanakan sesuai rencana, dan menggunakan salah satu pendekatan, misalnya terapi realitas dijadikan acuan dalam memahami hakekat konselor sebaya sebagai manusia, dan bagaimana masalah terjadi pada diri counsele, bagaimana mengarahkan konselor sebaya pada perubahan perilaku, kerangka WDEP ( W = Wants and Needs, D = Direction and Doing, E = Self -Evaluation, P = Planning and Action), bagaimana hubungan konseling harus terjalin antara konselor dengan konseli, prosedur dan teknik -teknik konseling, dan

bagaimana menilai kemajuan konseli dalam konseling. Pelatihan keterampilan dasar konseling akan berguna untuk berkomunikasi dalam konseling, sesuai tahap -tahap konseling. Pelatihan konseling dilakukan berupa latihan melaksanakan konseling individual maup un konseling kelompok. c. Pengawasan. Bekerjanya konselor sebaya dalam melayani konseli sebaya pada counseling individual ataupun konseling kelompok perlu pengawasan konselor profesional d. Membahas berbagai kesulitan yang mungkin ditemui konselor sebaya, dan menindaklanjuti proses konseling jika perlu. e. Melakukan evaluasi terhadap hasil kerja konselor sebaya, untuk peningkatan kemampuan konselor sebaya, dan mengkaji berbagai kekuatan dan kelemahan yang terjadi. f. Mengkaji dampak program konseling sebaya pada konsel or sebaya dan pada konseli sebaya.

4. Layanan Konseling sebaya dengan pendekatan Realitas


Penyelesaian masalah sebenarnya masalah kehidupan sehari -hari dan dapat dilakukan oleh hamper setiap orang. Demikian juga bagi siswa dan remaja, setiap masalah yang ny ata dan dapat dinalar, sebenarnya dapat diselesaikan dengan caranya sendiri. Bagi remaja yang sedang berada pada puncak perkembangan intelektual, segala sesuatu perlu realistis, dan mereka sedang ingin menguji segala sesuatu dengan logika, selain itu mereka tidak begitu perhatian pada masa lalu, yang penting bagi mereka adalah menikmati hidup sekarang dengan hal-hal yang realistis. Pendekatan konseling realitas yang dikembangkan William Glasser (Corey 2005) sebagai salah satu pendekatan yang berorientasi ke depan, sederhana untuk dilakukan, konsen pada masa sekarang, dan mengajak berpikir realistis. Terapi realitas didasarkan pada asumsi bahwa manusia berjuang untuk dapat mengontrol kehidupan mereka untuk memenuhi

10

kebutuhannya. Menurut teori ini manusia lah ir dengan lima kebutuhan pokok, yaitu (a) mempertahankan hidup/ survival, b) cinta dan perasaan diakui/love and belonging , c) berkuasa,kuat,beprestasi/ power or

achivement , d) memiliki kebebasaan atau kemandirian /freedom or independence , e) kesenangan, kegembiraan/ fun. Setiap individu

membutuhkan kelima kebutuhan tersebut, meskipun kadar kebutuhannya berbeda-beda. Teori ini menjelaskan bahwa semua yang pernah dilakukan dari lahir sampai meninggal adalah perilaku. Setiap perilaku selal u merupakan cara yang ditempuh untuk memenuhi kebutuhan. Seluruh perilaku diciptakan dari empat komponen yang berbeda yaitu: tindakan, berfikir, merasa, dan fisiologi. Orang bertingkah laku untuk menutupi gap antara apa yang ia inginkan dengan apa yang i a terima dan ia dapat. Terapi realitas percaya bahwa dasar masalah sebagian besar konseli adalah: ketidakpuasan dalam hubungan atau keterlibatan dengan orang lain. Banyak problem konseli disebabkan ketidakmampuan dalam menjalin hubungan dengan orang -orang terdekat secara memuaskan dalam kehidupannya. Semakin mampu konseli berhubungan dengan orang -orang terdekatnya semakin besar peluangnya untuk memperoleh kebahagiaan . Sedikit konseli yang menyadari inti problemnya terletak pada cara dia memilih perilaku, yang diketahuinya adalah dia disakiti, dikucilkan, dan tidak bahagia. Dalam konseling, tujuan utamanya adalah menolong konseli untuk memperoleh hubungan yang memuaskan dengan orang-orang terdekatnya, mengupayakan pemenuhan kebutuhan konseli akan cinta dan memiliki, membantu konseli belajar cara -cara yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Hubungan antara konselor dan konseli didasari pemahaman dan hubungan penuh dorongan semangat, didasari kerelaan konselor untuk mengembangkan gaya terapeutik individualnya sendiri, pelibatan diri antara konselor dengan konseli, konselor harus mempunyai kualitas

11

kepribadian tertentu, termasuk kehangata n, keharmonisan / kesesuaian, pemahaman, penerimaan, perhatian, respek pada konseli, keterbukaan, dan kesukarelaan untuk ditantang orang lain . Satu cara yang mengembangkan hubungan terapeutik tersebut adalah dengan mendengarkan konseli, termasuk membicarakan secara luas topik-topik yang relevan dengan konseli, konselor membantu konseli meningkatkan pemahaman yang mendalam tentang konsekuensi dari perilakunya . Dalam hal melakukan layanan konseling, Carr (1981) menyatakan bahwa tanpa bantuan aktif dari para s iswa (teman sebaya) dalam memecahkan krisis perkembangan dan problem -problem psikologis mereka sendiri, program-program layanan dan program konseling tidak akan berhasil secara efektif. Menurutnya konselor harus melibatkan para siswa (teman sebaya) sebagai teman kerja dan upaya-upaya membantu siswa melalui berbagai tindakan yang rasional dan logis. Judy dkk (1985) menunjukkan bahwa sebagian besar layanan yang diberikan melalui

konseling sebaya ternyata sukses.

C. PENUTUP

Konselor sebagai profesi perbantuan semakin hari peranannya semakin dibutuhkan. Dalam melayani kebutuhan yang semakin kompleks diperlukan terobosan. Inovasi dalam layanan konseling di madrasah perlu terus dilakukan. Salah satunya dengan pelibatan secara be rkelanjutan para siswa dalam kegiatan konseling. Layanan konseling sebaya memiliki peluang cukup besar untuk diterapkan di madrasah, jika digerakan oleh konselor profesional dan didukung berbagai pihak, khususnya kepala madrasah, dan guru. Siswa terpilih akan mampu membantu konselor melaksanakan tugasnya, sekaligus siswa tersebut mendapatkan berbagai manfaat dari peran konselor sebaya tersebut.

12

Berbagai pendekatan konseling dapat digunakan. Pendekatan terapi realitas, dapat menjadi salah satu pendekatan yan g bisa dilatihkan pada konselor sebaya, bersamaan dengan pelatihan keterampilan dasar konseling, karena pendekatan ini praktis, sederhana untuk mengarahkan konselor sebaya pada perubahan perilaku. Pendekatan terapi realitas dipandang cocok bagi siswa karen a pendekatan ini berorientasi pada masa sekarang, mengutamakan realitas, dan latihan bertanggung jawab yang sangat dibutuhkan pada usia remaja sesuai tingkat perkembangan intelektual, moral dan sosialnya.

DAFTAR PUSTAKA ABKIN. (2008). Penegasan Profesi Bimbingan dan Konseling . Bandung: ABKIN Asmangiyah.(2008).http://www.lpmpdki.web.id/id/Riset -dan Penelitian/ Implementasi Pelayanan- Konseling-Sekolah.html Carr, R.A. (1981). Theory and Practice of Peer Counseling . Ottawa: Canada Employment and Immigratio n Commission. Corey, Gerald. (2005). Theory And Practice Of Counseling & Psychotherapy. USA: Thomson Brooks/Cole. Depdiknas (2008). Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal . Bandung: Jurusan PPB FIP UPI. Dirjen P4TK, Depdiknas.(2007). Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal . Jakarta: Depdiknas. Erhamwilda (2007). Survei terhadap Kecenderungan Siswa -Siswa SMA untuk Berkonsultasi dalam Mengatasi Ma salahnya. Penelitian Mandiri. Tidak diterbitkan . Gysbers, N.C., & Henderson, P. (2006). Developing & Managing: Your School Guidance and Counseling Program (4th Edition). USA: ACA. Silver, E., Coupey, s. Bauman, L., Doctors, S., &Boeck, M. (1992). Effects Of A Peer Counseling Training Intervention On Psychological Functioning Of Adolescents . Journal of Adolescent Development , 7, 110-128. Suwardjo. (2008). Model Konseling Sebaya Untuk Pengembangan Daya Lentur (Resiliences). (Studi Pengembangan Modeling Teman Sebaya untuk Mengembangkan Daya Lentur Anak Asuh Panti Sosial Asuhan Anak,

13

Propinsi Istimewa Yogyakarta) . Disertasi. Bandung: Pasca UPI (tidak diterbitkan). Syamsu Yusuf L.N. (2005). Pengembangan Program Bimbingan dan Konseling di SMP (Materi Workshop Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi Konselor SMP). Jakarta : Direktorat PLP Depdiknas Bekerjasama dengan ABKIN. Tanpa nama. (2007). Peer counseling . (http://www.wilsherifoundation.org/dw Pages/senior.htm/ Tindall, Judy A & H.Dean Gray (1985). Peer Counseling , In Depth Look At Training Peer Helpers. United State of America: Accelerated Development Publishers.