Anda di halaman 1dari 143

DURASI PEMBERIAN TERAPI MUSIK KLASIK MOZART TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA ANAK

SKRIPSI

Oleh:
ANJAR MAHANANI G1D008020

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN PURWOKERTO 2013

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama NIM

: Anjar Mahanani : G1D008020

Tempat, tanggal lahir : Karawang, 02 Februari 1990 Alamat : Ds. Purwasari RT 01 RW 03 no.83. Kecamatan Purwasari. Kabupaten karawang, Jabar 41373 Email : Njar_mahanani@yahoo.com/ Ibu.tercinta02@gmail.com

Riwayat Pendidikan : 1. SD Negeri 1 Purwasari (2002) 2. SMP Negeri 2 Cikampek (2005) 3. SMA Negeri 5 Karawang (2008) 4. Mahasiswa FKIK, Jurusan Keperawatan, Universitas Jenderal Soedirman

PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan untuk:


Pertama dan utama untuk Allah swt, atas segala Karunia dan nikmatNya Ibuku tercinta Sri Suhartati yang telah membimbing, menjaga, memberikan motivasi dan memberikan kasih sayang yang tulus, for me You are my everything Kakak saya tercinta Wina Kusnia yang selalu memberikan dukungan, motivasi, bimbingan dan support untuk saya Kakak-kakakku yang selalu aku sayangi (Yuda, Mima, Kania, Tantri, Mei, Jajat Muzizat, Ari, Sigit, Bayu) bimbingannya Untuk Ibu Aris Fitriyani dan Ibu Dian Ramawati terimakasih atas bimbingannya dalam penyusunan skripsi ini, dan terimakasih untuk Ibu Desiyani Nani selaku penguji skripsi yang telah memberikan saran dan masukan untuk menyempurnakan skripsi ini Sahabat-sahabat terbaikku (Lia, Lintang, Dani, Retno, Nunu) Teman-teman kelompok KKN yang selalu mendukungku (Bagus, Nabila, Mas Anam & Andri) Teman-teman seperjuangan A1 Dosen pengajar & staff jurusan keperawatan Almamaterku Universitas Jenderal Soedirman terimakasih atas support, kasih sayang dan

PERNYATAAN

Dengan ini, saya menyatakan bahwa dalam karya tulis ilmiah ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar sarjana keperawatan atau kesarjanaan lain di suatu perguruan tinggi. Sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Purwokerto, Agustus 2013

Anjar Mahanani G1D008020

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan usulan penelitian berjudul Durasi Pemberian Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Anak Penelitian ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk mendapat gelar sarjana pada Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Dalam penyusunan usulan penelitian ini, penulis banyak mendapat bantuan dari banyak pihak, untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis menghaturkan ucapan terima kasih kepada : 1. dr. Hj. Retno Widiastusi, MS, selaku dekan Fakultas Kedokteran dan IlmuIlmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman. 2. Made Sumarwati, MN, selaku Ketua Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman. 3. Aris Fitriyani S. Kep., Ns., MM., selaku dosen pembimbing I yang telah bersedia memberikan bimbingan sejak awal sampai akhir penyusunan usulan penelitian ini. 4. Dian Ramawati, M. Kep., Ns., selaku dosen pembimbing II yang telah bersedia memberikan bimbingan sejak awal sampai akhir penyusunan usulan penelitian ini.

5. Desiyani Nani, S. Kep., Ns., M.Sc., selaku dosen penguji yang telah berkenan memberikan pengarahan demi kesempurnaan usulan penelitian ini. 6. Dr. Muh. Basalamah, SpA selaku pembimbing di RSUD Banyumas yang telah berkenan memberikan bimbingan selama penelitian di RSUD Banyumas. 7. Erma Dwi K. S.Kep., Ns., Kusriyati. AMK., dan seluruh perawat di ruang Kanthil RSUD Banyumas yang telah berkenan memberikan bimbingan dan motivasi selama penelitian di ruang Kanthil. 8. Keluarga yang telah memberikan dukungan moral dan material guna terselesaikannya usulan penelitian ini. 9. Teman-teman keperawatan angkatan 2008 yang telah memberikan dukungan serta bantuan hingga usulan penelitian ini dapat terselesaikan. 10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, atas bantuan moral maupun material dalam penulisan usulan penelitian ini. Penulis menyadari masih banyak ketidaksempurnaan dalam penyusunan usulan penelitian ilmiah ini, oleh karena itu diharapkan kritik maupun saran yang bersifat membangun demi hasil yang lebih baik. Semoga penelitian ini mendapat ridho dari Alloh SWT dan bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan. Purwokerto, Agustus 2013

Anjar Mahanani G1D008020

Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto 2013 DURASI PEMBERIAN TERAPI MUSIK KLASIK MOZART TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA ANAK

Anjar Mahanani1, Aris Fitriyani, S.Kep., Ns., MM2, Dian Ramawati, M. Kep., Ns3

ABSTRAK

Latar belakang: Hospitalisasi merupakan suatu proses oleh suatu alasan yang terencana atau darurat, sehingga anak harus dirawat di rumah sakit yang dapat menyebabkan anak mengalami kecemasan. Untuk mengatasi kecemasan dapat diberikan penatalaksanaan psikoterapi, salah satunya adalah dengan musik klasik Mozart. Tujuan: Penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengaruh durasi pemberian terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di RSUD Banyumas. Metode: Jenis penelitian Quasy Experiment dengan pendekatan pretest-posttest with control group design. Menggunakan teknik purposive sampling, yang berjumlah 30 anak dan dianalisis dengan Mann-Whitney dan Wilcoxon. Hasil: Hasil analisis didapatkan p value sebesar 0,025, nilai p value < (0,025<0,05). Sehingga terdapat perbedaan pengaruh durasi pemberian terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di RSUD Banyumas. Kesimpulan: Terdapat perbedaan pengaruh durasi pemberian terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di RSUD Banyumas. Kata kunci: Hospitalisasi, Kecemasan anak, Musik Klasik Mozart.

Nursing Department Faculty of Medicine and Health Scineces University of Jenderal Soedirman Purwokerto 2013

DURATION OF MOZART CLASSICAL MUSIC THERAPY FOR REDUCING CHILDREN'S ANXIETY LEVEL

Anjar Mahanani1, Aris Fitriyani, S.Kep., Ns., MM2, Dian Ramawati, M. Kep., Ns3

ABSTRACT

Background: Hospitalization is a process by which a planned or emergency reasons, so the children being hospitalized and it cause children to experience anxiety. In order to reduce the anxiety can be given psychotherapy. The music therapy is a form of psychotherapy , one of which is Mozart classical music. Purpose: The research was to determine the differences effect of duration Mozart classical music therapy in reducing anxiety level of hospitalized children during examination of vital signs in RSUD Banyumas. Methods: The type of research was quasy experiment with pretest-posttest with control group design approach. Using a purposive sampling technique, whose sample of 30 children and were analyzed with Mann-Whitney and Wilcoxon. Result: Result of analysis obtained p value of 0,025, so p value < (0,025<0,05), so that there was different effect of duration Mozart classical music therapy of 45 minutes in reducing anxiety level of hospitalized children during examination of vital signs in RSUD Banyumas. Conclusion: There was a different effect of duration Mozart classical music therapy in reducing anxiety level of hospitalized children during examination of vital signs in RSUD Banyumas. Keywords: Childrens anxiety, Hospitalization, Mozart classical music therapy.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN..................................................................... RIWAYAT HIDUP . PERSEMBAHAN HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... PRAKATA .......................................................................................... ........ ABSTRAK................................................................................................... ABSTRACT................................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................... DAFTAR TABEL ....................................................................................... DAFTAR GAMBAR .................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN............................................................................... DAFTAR SINGKATAN............................................................................. BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ........................................................... B. Rumusan Masalah ....................................................................

i ii iii iv v vi viii ix x xiv xvi xvii xviii

1 6

C. Tujuan Penelitian...................................................................... D.Manfaat Penelitian.................................................................... E. Keaslian Penelitian ................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori ......................................................................... 1. Terapi Musik .................................................................... a. Pengertian Musik .......................................................... b. Musik Klasik ................................................................ c. Pengertian Terapi Musik .............................................. d. Pengertian Terapi Musik Klasik Mozart ...................... e. Cara Kerja Terapi Musik .............................................. f. Tata Cara Pemberian Terapi Musik.............................. 2. Kecemasan ........................................................................ a. Pengertian Kecemasan ................................................. b. Tanda dan Gejala Kecemasan.................................. .... c. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan ..... ..... d. Teori Tentang Kecemasan ............................................ e. Faktor Presipitasi Kecemasan ...................... ................ f. Tingkat Kecemasan ...................................................... g. Rentang Respon Kecemasan..................................... ... h. Gangguan Kecemasan Menurut DSM-IV................ .... i. Penatalaksanaan Kecemasan ........................................ j. Akibat Kecemasan.........................................................

7 8 9

12 12 12 13 14 14 15 16 17 17 18 20 21 23 24 25 26 29 30

k. Instrumen Pengukuran Kecemasan................................ 3. Hospitalisasi........................................................................ a. Pengertian Hospitalisasi................................................. b. Dampak Hospitalisasi.................................................... c. Kecemasan Hospitalisasi................................................ d. Reaksi Anak Terhadap Sakit dan Hospitalisasi.............. B. Kerangka Teori... ...................................................................... C. Kerangka Konsep ..................................................................... D. Hipotesa Penelitian .................................................................. BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ...................................................................... 1. Jenis Penelitian............... . 2. Lokasi Penelitian................ . B. Populasi dan Sampel ................................................................ C. Variabel Penelitian .................................................................. D. Definisi Operasional ................................................................. E. Instrumen Penelitian ................................................................. F. Validitas dan Reliabilitas ......................................................... G. Teknik Pengumpulan Data ....................................................... H. Pengolahan dan Analisis Data .................................................. I. Etika Penelitian ........................................................................ BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil.. ...

31 36 36 37 38 38 51 52 53

54 54 55 55 57 58 60 61 62 64 67

69

1. Karakteristik Responden........... 2. Tingkat kecemasan Akibat Hospitalisasi... 3. Perbedaan Tingkat Kecemasan Anak Sebelum Terapi Musik Klasik Mozart Pada Kelompok 30 menit dan 45 Menit.................................................................................. 4. Pengaruh Pemberian Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Anak Yang

69 71

75

Mengalami Hospitalisasi Pada Kelompok Terapi 30 Menit dan Kelompok Terapi 45 Menit.............................. 5. Tingkat Kecemasan Anak Sesudah Terapi Musik Klasik Mozart Pada Kelompok 30 Menit dan 45 Menit................ B. Pembahasan... 1. Karakteristik Responden...... ...... 2. Tingkat Kecemasan Responden .. ...... C. Kelemahan Penelitian......... .. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan.................... B. Saran..... . DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 95 96 79 80 80 85 94 77

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman 59

3.1. Definisi Operasional............ 4.1. Distribusi Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di RSUD Banyumas........... 4.2. Distribusi Jumlah Responden Berdasarkan Usia........... 4.3. Distribusi jumlah responden berdasarkan penyakitnya.. 4.4. Distribusi jumlah responden berdasarkan tingkat kecemasan pada anak akibat hospitalisasi (5-10 tahun) di RSUD Banyumas sebelum diberikan terapi... 4.5. Distribusi jumlah responden berdasarkan tingkat kecemasan pada anak akibat hospitalisasi (5-10 tahun) di RSUD Banyumas setelah diberikan terapi.................. 4.6. Tingkat kecemasan anak akibat hospitalisasi antara kelompok terapi 30 menit dan kelompok terapi 45 menit sebelum dilakukan pemberian terapi musik klasik Mozart... 4.7. Perubahan tingkat kecemasan akibat hospitalisasi sebelum dan setelah pemberian terapi musik klasik Mozart pada kelompok terapi 30 menit (n=15)............

69 70 71

72

73

76

78

4.8. Perubahan tingkat kecemasan akibat hospitalisasi sebelum dan sesudah pemberian terapi musik klasik Mozart pada kelompok terapi 45 menit (n=15) 4.9. Tingkat kecemasan anak akibat hospitalisasi antara kelompok terapi 30 menit dan kelompok terapi 45 menit sesudah dilakukan pemberian terapi musik klasik Mozart....... 80 79

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Kerangka teori...... .... 2.2 Kerangka Konsep..

Halaman

51 52

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Lampiran 2. Lampiran 3. Lampiran 4. Lampiran 5.

Lembar Permohonan Menjadi Responden Lembar Persetujuan Responden Lembar Data Demografi Responden McMurtry Anxiety Scale Surat Ijin Penelitian Dari Jurusan Keperawatan FKIK UNSOED Untuk Direktur RSUD Banyumas

Lampiran 6. Surat Ijin Penelitian Dari Jurusan Keperawatan FKIK UNSOED Untuk Kepala Diklit RSUD Banyumas Lampiran 7. Surat Ijin Penelitian Dari Jurusan Keperawatan FKIK UNSOED Untuk Kepala BAPPEDA Kabupaten Banyumas Lampiran 8. Surat Ijin Penelitian Dari Jurusan Keperawatan FKIK UNSOED Untuk Kepala Bakesbangpolinmas Kabupaten Banyumas Lampiran 9. Surat Rekomendasi Penelitian Dari Bakesbangpolinmas Kabupaten Banyumas Lampiran 10. Surat Ijin Penelitian Dari BAPPEDA Kabupaten Banyumas Lampiran 11. Surat Keterangan Penelitian Dari RSUD Banyumas Lampiran 12. Dokumentasi Penelitian Lampiran 13. Blangko Bimbingan Lampiran 14. Rekap Hasil Penelitian

DAFTAR SINGKATAN

ACTH BOR DF DSM-IV

: Ardenal Corticotropin Hormon : Bed Occupancy Rate : Dengue Fever : Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th Edition : Dengue Syock Syndrom : Febris : Febris dengan suspek epilepsi : Aminobutirik-gamma neuroregulator : Glomerulo Nefritis Akut : Hamilton Rating Scale for Anxiety : Kejang Demam ; Penyakit Jantung Bawaan : Revised Childrens Manifest Anxiety Scale : Spence Childrens Anxiety Scale : Spence Childrens Anxiety Scale Preschool : Sindrom Nefrotiis

DSS F F, SE GABA GNA HRS-A KD PJB RCMAS SCAS SCAS Preschool SN

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masa kanak-kanak dalam disiplin ilmu psikologi merupakan rentang yang cukup panjang yaitu antara usia 2 tahun sampai dengan 11 atau 12 tahun. Dengan mempertimbangkan karakteristik dan tugas perkembangan yang berbeda, masa anak terbagi menjadi dua periode yaitu periode anak awal dan anak akhir. Periode anak awal berkisar dari usia dua sampai dengan enam tahun (2-6 tahun) dan periode anak akhir dari usia enam sampai dengan tibanya masa kematangan secara seksual, yaitu masa pubertas. Pengklasifikasian anak awal dan anak akhir mengacu pula pada usia dimana anak awal merupakan usia prasekolah dan anak akhir merupakan usia sekolah dasar (Maslihah, 2006). Anak usia prasekolah dan usia sekolah rentan terkena penyakit, sehingga banyak anak pada usia tersebut yang harus dirawat di rumah sakit dan menyebabkan populasi anak yang dirawat di rumah sakit mengalami peningkatan yang sangat dramatis (Wong , 2009). Di Indonesia 30% dari 180 anak antara 3 sampai 12 tahun mempunyai pengalaman dengan rumah sakit (Smetz cit Luthfi, 2007). Rata-rata anak mendapat perawatan selama enam hari. Selain membutuhkan perawatan yang spesial dibanding pasien lain, anak sakit juga mempunyai keistimewaan dan karakteristik tersendiri karena anak-anak bukanlah miniatur dari orang dewasa atau dewasa kecil. Dan waktu yang dibutuhkan untuk

merawat penderita anak-anak 20-45% lebih banyak daripada waktu untuk merawat orang dewasa (Aidar, 2011). Umumnya anak yang sudah agak besar jika dirawat di rumah sakit akan timbul rasa takut baik pada dokter ataupun perawat, apalagi jika anak telah mempunyai pengalamanan mendapatkan imunisasi. Dalam bayangannya, perawat atau dokter akan menyakiti dengan cara menyuntik. Selain itu anak akan merasa terganggu hubungannya dengan orang tua atau saudaranya. Lingkungan di rumah tentu berbeda bentuk dan suasananya dengan alat-alat yang ada di ruang perawatan. Reaksi pertama selain ketakutan juga pasien kurang nafsu makan bahkan anak yang masih kecil menangis, tidak mau minum susu atau makan makanan yang diberikan (Ngastiyah, 2005). Reaksi tersebut terjadi karena perawatan anak di rumah sakit merupakan pengalaman yang penuh dengan stres, baik bagi anak maupun orang tua. Lingkungan rumah sakit itu sendiri merupakan penyebab stres dan kecemasan pada anak. Pada anak usia sekolah yang dirawat di rumah sakit akan muncul tantangan-tantangan yang harus dihadapinya seperti mengatasi suatu perpisahan, penyesuaian dengan lingkungan yang asing baginya, penyesuaian dengan banyak orang yang mengurusinya, dan kerapkali harus berhubungan dan bergaul dengan anak-anak yang sakit serta pengalaman mengikuti terapi yang menyakitkan (Supartini, 2004). Sakit dan dirawat di rumah sakit merupakan krisis utama yang tampak pada anak. Jika seseorang anak dirawat di rumah sakit, maka anak tersebut akan mudah mengalami krisis karena : (1) Anak mengalami stres akibat perubahan

terhadap status kesehatannya maupun lingkungannya dalam kebiasaan sehari-hari, dan (2) Anak mempunyai sejumlah keterbatasan dalam mekanisme koping untuk mengatasi masalah maupun kejadian-kejadian yang bersifat menekan. Reaksi anak akan mengatasi krisis tersebut dipengaruhi oleh tingkat perkembangan usia, pengalaman sebelumnya terhadap proses akibat sakit dan dirawat, sistem dukungan (support system) yang tersedia, serta ketrampilan koping dalam menangani stres (Nursalam, 2005). Seorang anak bila menghadapi lingkungan yang baru dikenal akan mengalami perasaan takut dan cemas apalagi bila harus menjalani rawat inap atau hospitalisasi (Aidar, 2011). Hospitalisasi merupakan suatu proses oleh karena suatu alasan yang terencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah. Anak yang sakit dan harus dirawat dirumah sakit akan mengalami masa sulit karena tidak dapat melakukan kebiasaan seperti biasanya. Lingkungan dan orang-orang asing, perawatan dan berbagai prosedur yang dijalani oleh anak merupakan sumber utama stresor, kecewa dan cemas, terutama untuk anak yang pertama kali dirawat dirumah sakit (Elfira, 2011). Hospitalisasi bagi anak dan keluarga adalah suatu pengalaman yang mengancam dan stresor, keduanya dapat menimbulkan krisis bagi anak dan keluarga. Umumnya orangtua yang anaknya mengalami hospitalisasi akan bersikap penolakan, ketidakpercayaan akan penyakit anaknya, marah, dan rasa bersalah karena tidak mampu merawat anaknya, rasa takut, cemas, frustasi, dan depresi. Reaksi terhadap penyakit atau masalah diri yang dialami anak seperti

perpisahan, tidak mengenal lingkungan atau lingkungan yang asing, kehilangan kontrol, menarik diri, serta lebih peka dan pasif seperti menolak makan (Hidayat, 2005). Tidaklah mengejutkan bila masuk rumah sakit dikaitkan dengan kecemasan dan ketakutan. Bukan hanya pada orang dewasa, pada anak-anak pun mereka mempunyai rasa takut terhadap penyakit yang pada akhirnya berhubungan dengan ketakutan dan kecemasan akan rumah sakit. Bahkan untuk anak yang masih kecil kecemasan dan kegelisahan orang tua dapat dengan mudah mempengaruhinya (Aidar, 2011). Kecemasan merupakan suatu keadaan perasaan kepribadian, rasa gelisah, ketidaktentuan, atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber aktual yang tidak diketahui atau dikenal (Laraia & Stuart, 2007). Kecemasan merupakan suatu sinyal yang menyadarkan, ia memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman, untuk mengatasi kecemasan dapat diberikan penatalaksanaan

psikoterapi, salah satu bentuk dari psikoterapi adalah terapi musik (Kaplan & Sadock, 2002). Musik digunakan sebagai salah satu terapi pegobatan untuk menurunkan kecemasan terutama pada pasien dalam kondisi kritis. Implementasi dari terapi musik dapat mengurangi kecemasan yang akhirnya berkaitan dengan proses pemulihan yang lebih cepat. Musik yang memiliki tempo lambat dan menenangkan bisa menjadi terapi yang dapat diartikan sebagai pengobatan. Musik memiliki aspek terapeutik, sehingga musik banyak digunakan untuk

penyembuhan, menenangkan, dan memperbaiki kondisi fisik dan fisiologis pasien

maupun tenaga kesehatan, karena berdasarkan penelitian ditemukan bahwa saraf penerus musik dan saraf penerus rasa sakit adalah sama, sehingga para dokter menggunakan musik sebagai terapi (Musbikin, 2009). Studi pendahuluan dilakukan oleh peneliti melalui observasi pada pasien anak di ruang Kanthil RSUD Banyumas, buku registrasi pasien masuk dan wawancara dengan perawat yang bertugas di ruangan tersebut. Berdasarkan data yang diperoleh melalui buku registrasi pasien masuk didapatkan data bahwa jumlah pasien anak pada bulan Januari-Mei 2012 berjumlah 541 anak, sedangkan pada bulan Mei 2012 pasien anak di ruang Kanthil berjumlah 133 anak, dengan jumlah 5 penyakit teratas adalah penyakit diare cair akut (37 pasien anak), kejang demam (15 pasien anak), febris (12 pasien anak), broncho phneumoni (10 pasien anak) dan abdomen pain (5 pasien anak). Selama bulan JanuariDesember 2011 rata-rata Bed Occupancy Rate (BOR) di ruang Kanthil adalah 58,3% dengan demikian apabila dibandingkan dengan standar nasional 75-85% maka pemakaian tempat tidur yang tersedia di ruang Kanthil pada bulan JanuariDesember 2011 belum efisien. Sedangkan ratarata Bed Occupancy Rate (BOR) untuk 3 bulan terakhir (bulan AprilJuni 2012) adalah 56,08% dengan jumlah rata-rata pasien perhari adalah 18 orang. Ketika dilakukan observasi terdapat 12 pasien anak yang sedang dirawat di ruang tersebut, 9 diantaranya tidak kooperatif terhadap tindakan keperawatan yang diberikan dan mengalami kecemasan yang ditandai dengan anak mengeluarkan respon menangis jika ada perawat datang, meronta-ronta, memeluk ibunya dan sikap acuh terhadap orang lain.

Hasil wawancara dengan perawat, perawat di ruang Kanthil mengatakan sebagian besar anak tidak kooperatif dan mengalami kecemasan terhadap tindakan keperawatan yang diberikan dan perawat lebih banyak bekerja sama dengan orang tua saat melakukan tindakan keperawatan, dan mahasiswa profesi yang bertugas di ruang Kanthil mengatakan bahwa banyak pasien anak yang menangis ketika didekati oleh perawat. Berdasarkan kasus di atas perlu dilakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan pada pasien anak tersebut, salah satu tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat kecemasan pada anak adalah dengan diberikannya terapi farmakologi dan terapi non-farmakologi. Terapi nonfarmakologi diantaranya adalah terapi musik klasik, sedangkan di RSUD Banyumas belum menyediakan terapi musik dalam pemberian asuhan keperawatan pada anak untuk mengurangi tingkat kecemasan anak saat dilakukan hospitalisasi.

B. Perumusan Masalah Hospitalisasi dan lingkungan rumah sakit merupakan penyebab stress dan kecemasan pada anak (Supartini, 2004). Dampak yang dapat ditimbulkan akibat kecemasan karena hospitalisasi adalah anak akan merasa ketakutan, menangis, tidak mau makan dan minum (Ngastiyah, 2005). Kurangnya pengetahuan tentang rutinitas dan pengobatan di rumah sakit seperti rutinitas pemeriksaan tanda-tanda vital menjadi salah satu hal yang membuat anak takut dan sulit beradaptasi sehingga menyebabkan bertambahnya kecemasan pada anak (Rudolf, 2004). Beberapa cara relaksasi bisa digunakan untuk menurunkan kadar hormon

penyebab stres dan kecemasan, misalnya dengan meditasi ataupun dengan terapimusik. Tetapi cara paling efektif untuk menurunkan kadar hormon stres adalah dengan mendengarkan musik klasik (Musbikin, 2009). Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan pada penelitian ini yaitu Adakah perbedaan pengaruh durasi pemberian terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di RSUD Banyumas?.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Perbedaan Pengaruh Durasi Pemberian Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Anak Usia 5 sampai 10 Tahun Yang Mengalami Hospitalisasi di RSUD Banyumas. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui gambaran karakteristik anak yang mengalami hospitalisasi di ruang Kanthil RSUD Banyumas (usia, jenis kelamin dan jenis penyakit). b. Mengetahui tingkat kecemasan akibat hospitalisasi pada anak usia 5 sampai 10 tahun saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di ruang Kanthil RSUD Banyumas sebelum diberikan terapi musik klasik Mozart. c. Mengetahui tingkat kecemasan akibat hospitalisasi pada anak usia 5 sampai 10 tahun saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda di ruang Kanthil RSUD Banyumas sesudah diberikan terapi musik klasik Mozart.

d. Mengetahui perbedaan skor penurunan tingkat kecemasan akibat hospitalisasi pada kelompok perlakuan 30 menit dan kelompok 45 menit saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di ruang Kanthil RSUD Banyumas sebelum dan sesudah diberikan terapi musik klasik Mozart.

D. Manfaat Penelitian Sesuai dengan latar belakang, perumusan masalah dan tujuan penulisan yang hendak dicapai, maka manfaat yang dapat diharapakan dari penelitian ini adalah : 1. Bagi institusi Rumah Sakit Dapat diterapkan sebagai asuhan keperawatan dalam pemberian terapi musik klasik Mozart untuk menurunkan tingkat kecemasan pada pasien anak selama hospitalisasi, dan dapat diterapkan sebagai asuhan keperawatan dalam kegiatan perawatan sehari-hari. 2. Pendidikan Keperawatan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu literatur di keperawatan anak dan menjadi tambahan informasi yang berguna bagi para pembaca untuk meningkatkan mutu pendidikan keperawatan anak, khususnya dalam penanganan kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi. 3. Pelayanan Keperawatan Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai informasi dalam memberikan asuhan keperawatan berupa pemberian terapi musik klasik Mozart untuk menurunkan kecemasan akibat hospitalisasi pada anak dan memberikan pengetahuan

bahwa terapi musik klasik Mozart perlu dilaksanakan untuk mendukung proses penyembuhan. 4. Penelitian Keperawatan Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai data untuk penelitian selanjutnya, dan menambah literatur tentang terapi musik klasik Mozart terhadap kecemasan akibat hospitalisasi pada anak di ruang perawatan anak. 5. Bagi Peneliti Menambah pengetahuan baru dalam memberikan asuhan keperawatan untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien anak saat hospitalisasi dengan cara pemberian terapi musik klasik.

E. Keaslian Penelitian Berdasarkan penelusuran pustaka, beberapa riset penelitian yang sejenis yaitu oleh Rahayu (2011) dengan judul Pengaruh Mendongeng Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Akibat Hospitalisasi Pada Anak Usia (6-8 tahun) Sekolah di Ruang Aster RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Penelitian ini menggunakan desain penelitian One Group Pra-Post Test Design, dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling dan uji analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah adalah analisis statistik uji Wilcoxon. Hasil yang diperoleh sebelum dilakukan perlakuan mendongeng sebanyak 63,2% mengalami kecemasan berat dan 36,8% mengalami kecemasan sedang. Sedangkan setelah dilakukan perlakuan mendongeng sebanyak 5,3 % mengalami kecemasan ringan, 89,5% mengalami kecemasan sedang dan 5,3% tetap

mengalami kecemasan berat. Hasil uji Wilcoxon, dengan z hitung sebesar 3,728 dan Aasym sig nya sebesar 0,000 (nilai p). Hal ini menunjukan bahwa nilai p value<0,05, yang berarti ada pengaruh yang sangat signifikan antara sebelum dan sesudah anak diberikan terapi mendongeng. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat penurunan stres hospitalisasi pada pasien anak usia 6-8 tahun setelah dilakukan terapi mendongeng. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti terletak pada persamaan uji statistiknya yaitu uji Wilcoxon, variabel terikatnya yaitu tingkat kecemasan anak akibat hospitalisasi dan perbedaannya terletak pada variabel bebasnya. Penelitian Farida (2010) dengan judul Efektifitas Terapi Musik Terhadap Penurunan Nyeri Post Operasi Pada Anak Usia Sekolah Di RSUP Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen, dengan

jumlah sampel 14 orang yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol, dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data dapat dikumpulkan dengan menggunakan Face Pain Rating Scale. Data yang sudah dikumpulkan di analisa dengan uji t (t-test) dengan tingkat kemaknaan 5% (= 0,05). Pada kelompok kontrol, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh terapi musik terhadap intensitas nyeri paska operasi tidak bermakna yaitu 0,200 (p>0,05). Sedangkan pada kelompok intervensi terapi musik mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap intensitas nyeri yaitu 0,000 (p<0,05). Sehingga dapat diketahui bahwa terapi musik dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap intensitas nyeri paska operasi pada anak. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti terletak pada persamaan teknik

pengambilan sampel yaitu purposive sampling, variabel bebasnya yaitu terapi musik dan perbedaannya terletak pada variabel terikatnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Terapi Musik a. Pengertian Musik Menurut Campbell (2001) musik merupakan suatu bentuk seni yang menyangkut organisasi atau kombinasi dari suara atau bunyi dan keadaan diam yang dapat menggambarkan keindahan dan ekspresi dari emosi dalam alur waktu dan ruang tertentu. Musik dapat menyebabkan terjadinya kepuasan estetis melalui indera pendengaran dan memiliki hubungan waktu untuk menghasilkan komposisi yang memiliki kesatuan dan kesinambungan. Musik didefinisikan sebagai suara dan diam yang terorganisir melalui waktu yang mengalir (dalam ruang), beberapa kesimpulan sementara dan pertanyaan yang muncul adalah musik berasal dari suara, suara berasal dari vibrasi dan vibrasi adalah esensi dari segala sesuatu (Eagle cit Amsila, 2011). Musik adalah bunyi atau nada yang menyenangkan untuk didengar. Musik dapat keras, ribut, dan lembut yang membuat orang senang mendengarnya. Orang cenderung untuk mengatakan indah terhadap musik yang disukainya. Musik ialah bunyi yang diterima oleh individu dan

berbeda bergantung kepada sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang (Willougnby 1996 cit Farida 2010). Melalui musik juga seseorang dapat berusaha untuk menemukan harmoni internal (inner harmony). Jadi, musik adalah alat yang bermanfaat bagi seseorang untuk menemukan harmoni di dalam dirinya. Hal ini dirasakan perlu, karena dengan adanya harmoni di dalam diri seseorang, ia akan lebih mudah mengatasi stres, ketegangan, rasa sakit, dan berbagai gangguan atau gejolak emosi negatif yang dialaminya. Selain itu musik melalui suaranya dapat mengubah frekuensi yang tidak harmonis tersebut kembali ke vibrasi yang normal, sehat, dan dengan demikian memulihkan kembali keadaan yang normal (Merrit, 2003). b. Musik Klasik Musik klasik merupakan sebuah musik yang dibuat dan ditampilkan oleh orang yang terlatih secara profesional melalui pendidikan musik. Musik klasik juga merupakan suatu tradisi dalam menulis musik, yaitu ditulis dalam bentuk notasi musik dan dimainkan sesuai dengan notasi yang ditulis. Musik klasik adalah musik yang komposisinya lahir dari budaya Eropa dan digolongkan melalui periodisasi tertentu (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008). Sebuah penampilan musik klasik memiliki atmosfir yang serius. Penonton diharapkan untuk diam dan tidak banyak bergerak agar tiap nada dalam komposisi yang dimainkan dapat terdengar dengan jelas. Penampil musik klasik diharuskan untuk berbusana formal dan terlibat secara langsung dengan penonton. Pada musik klasik,

improvisasi dilakukan dalam bentuk interpretasi. Improvisasi sering dilakukan pada periode baraque, terutama oleh J.S Bach. Pemain dapat mengimprovisasi chord maupun melodi (Kamien, 2004). c. Pengertian Terapi Musik Terapi musik adalah sebuah terapi kesehatan yang menggunakan musik di mana tujuannya adalah untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi fisik, emosi, kognitif, dan sosial bagi individu dari berbagai kalangan usia (Suhartini, 2008). Terapi musik adalah materi yang mampu mempengaruhi kondisi seseorang baik fisik maupun mental. Musik memberikan rangsangan pertumbuhan fungsi-fungsi otak seperti fungsi ingatan, belajar, mendengar, berbicara, serta analisi intelek dan fungsi kesadaran (Satiadarma, 2004). d. Terapi Musik Klasik Mozart Musik klasik Mozart adalah musik klasik yang muncul 250 tahun yang lalu. Diciptakan oleh Wolgang Amadeus Mozart. Musik klasik Mozart memberikan ketenangan, memperbaiki persepsi spasial dan memungkinkan pasien untuk berkomunikasi baik dengan hati maupun pikiran. Musik klasik Mozart juga memiliki irama, melodi, dan frekuensi tinggi yang dapat merangsang dan menguatkan wilayah kreatif dan motivasi di otak. Musik klasik Mozart memiliki efek yang tidak dimiliki komposer lain. Musik klasik Mozart memiliki kekuatan yang

membebaskan, mengobati dan dan menyembuhkan (Musbikin, 2009).

e. Cara Kerja Terapi Musik Musik bersifat terapeutik artinya dapat menyembuhkan. Salah satu alasannya karena musik menghasilkan rangsangan ritmis yang kemudian ditangkap melalui organ pendengaran dan diolah di dalam sistem saraf tubuh dan kelenjar pada otak yang selanjutnya mereorganisasi interpretasi bunyi ke dalam ritme internal pendengarnya. Ritme internal ini mempengaruhi metabolisme tubuh manusia sehingga prosesnya

berlangsung dengan lebih baik. Dengan metabolisme yang lebih baik, tubuh akan mampu membangun sistem kekebalan yang lebih baik, dan dengan sistem kekebalan yang lebih baik tubuh menjadi lebih tangguh terhadap kemungkinan serangan penyakit (Satiadarma, 2002). Sebagian besar perubahan fisiologis tersebut terjadi akibat aktivitas dua sistem neuroendokrin yang dikendalikan oleh hipotalamus yaitu sistem simpatis dan sistem korteks adrenal (Prabowo & Regina, 2007). Hipotalamus juga dinamakan pusat stres otak karena fungsi gandanya dalam keadaan darurat. Fungsi pertamanya adalah mengaktifkan cabang simpatis dan sistem saraf otonom. Hipotalamus menghantarkan impuls saraf ke nukleus-nukleus di batang otak yang mengendalikan fungsi sistem saraf otonom. Cabang simpatis dari sistem saraf otonom bereaksi langsung pada otot polos dan organ internal untuk menghasilkan beberapa perubahan tubuh seperti peningkatan denyut jantung dan peningkatan tekanan darah. Sistem simpatis juga menstimulasi medula adrenal untuk melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin

ke dalam pembuluh darah, sehingga berdampak meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, dan norepinefrin secara tidak langsung melalui aksinya pada kelenjar hipofisis melepaskan gula dari hati. Ardenal Corticotropin Hormon (ACTH) menstimulasi lapisan luar kelenjar adrenal (korteks adrenal) yang menyebabkan pelepasan hormon (salah satu yang utama adalah kortisol) yang meregulasi kadar glukosa dan mineral tertentu (Atkinson cit Primadita, 2011). Salah satu manfaat musik sebagai terapi adalah self-mastery yaitu kemampuan untuk mengendalikan diri. Musik mengandung vibrasi energi, vibrasi ini juga mengaktifkan sel-sel di dalam diri seseorang, sehingga dengan aktifnya sel-sel tersebut sistem kekebalan tubuh seseorang lebih berpeluang untuk aktif dan meningkat fungsinya. Selain itu, musik dapat meningkatkan serotonin dan pertumbuhan hormon yang sama baiknya dengan menurunkan hormon ACTH (Satiadarma, 2002). Pemberian intervensi terapi musik klasik membuat seseorang menjadi rileks, menimbulkan rasa aman dan sejahtera, melepaskan rasa gembira dan sedih, melepaskan rasa sakit dan menurunkan tingkat stres, sehingga dapat menyebabkan penurunan kecemasan (Musbikin, 2009). Hal tersebut terjadi karena adanya penurunan Ardenal Corticotropin Hormon (ACTH) yang merupakan hormon stres (Djohan, 2005). f. Tata Cara Pemberian Terapi Musik Belum ada rekomendasi mengenai durasi yang optimal dalam pemberian terapi musik. Seringkali durasi yang diberikan dalam

pemberian terapi musik adalah selama 20-35 menit, tetapi untuk masalah kesehatan yang lebih spesifik terapi musik diberikan dengan durasi 30 sampai 45 menit. Ketika mendengarkan terapi musik klien berbaring dengan posisi yang nyaman, sedangkan tempo harus sedikit lebih lambat, 50 - 70 ketukan/menit, menggunakan irama yang tenang (Schou, 2007). 2. Kecemasan a. Pengertian Kecemasan Kecemasan adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi. Kecemasan merupakan alat peringatan internal yang memberikan tanda bahaya kepada individu (Videbeck, 2008). merupakan suatu keadaan yang wajar, karena seseorang Cemas pasti

menginginkan segala sesuatu dalam kehidupannya dapat berjalan dengan lancar dan terhindar dari segala marabahaya atau kegagalan serta sesuai dengan harapannya. Banyak hal yang harus dicemaskan, salah satunya adalah kesehatan, yaitu pada saat dirawat di rumah sakit (Nevid, 2005). Gangguan kecemasan dapat ditandai hanya dengan rasa cemas, atau juga dapat memperlihatkan seperti fobia atau obsesif dan kecemasan muncul bila gejala utama tersebut dilawan. Kecemasan diperantarai oleh suatu sistem kompleks yang melibatkan (sedikitnya) sistem limbik (amigdala, hipokampus), thalamus, korteks frontal secara anatomis dan norepinefrin (lokus seruleus), serotonin dan aminobutirik-gamma

neuroregulator (GABA), reseptor GABA berpasangan dengan reseptor benzodiazepin pada sistem neurokimia. Hingga saat ini belum diketahui

jelas bagaimana kerja bagian-bagian tersebut dalam menimbulkan kecemasan (Tomb, 2004). Kecemasan adalah keadaan emosi yang tidak memiliki objek yang spesifik dan kondisi ini dialami secara subjektif. Cemas berbeda dengan rasa takut. Takut merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya. Cemas adalah respon emosional terhadap penilaian tersebut (Stuart, 2001). Kecemasan memiliki dua aspek yakni aspek yang sehat dan aspek membahayakan, yang bergantung pada tingkat kecemasan, lama kecemasan dialami, dan seberapa baik individu melakukan koping terhadap kecemasan. Kecemasan dapat dilihat dalam rentang ringan, sedang, berat sampai panik. Setiap tingkat menyebabkan perubahan fisiologis dan emosional pada individu (Videbeck, 2008). Pada anak usia sekolah ketakutan dan kecemasan dapat ditunjukkan secara langsung melalui tingkah laku, contohnya watak pemarah. Sumber ketakutan dan kecemasan pada anak sekolah tahun pertama dapat berupa bayangan atau ancaman yang tidak berbentuk, misalnya kegelapan. Kecemasan anak usia sekolah lebih terpusat pada hal yang nyata, misalnya cedera tubuh atau bahaya alam. Selama masa sekolah akhir sampai remaja, prestasi di sekolah dan hubungan sosial menjadi sumber kekhawatiran utama (Aidar, 2011). b. Tanda dan Gejala Kecemasan Tanda dan gejala kecemasan yang ditunjukkan atau dikemukakan oleh seseorang bervariasi, tergantung dari beratnya atau tingkatan yang

dirasakan oleh idividu tersebut (Hawari, 2004). Keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang saat mengalami kecemasan secara umum menurut Hawari (2004), antara lain adalah sebagai berikut: (1) Gejala psikologis : pernyataan cemas, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung, merasa tegang, tidak tenang, gelisah, dan mudah terkejut; (2) Gangguan pola tidur dan mimpi-mimpi yang menegangkan, (3) Gangguan konsentrasi dan daya ingat; dan (4) Gejala somatik : rasa sakit pada otot dan tulang, berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, sakit kepala, gangguan perkemihan, tangan terasa dingin dan lembab, dan lain sebagainya. Menurut Stuart (2001) pada orang yang cemas akan muncul beberapa respon yang meliputi : (1) Respon fisiologis diantaranya: (a) Kardiovaskular : palpitasi, tekanan darah meningkat, tekanan darah menurun, dan denyut nadi menurun; (b) Pernafasan : nafas cepat dan pendek, nafas dangkal dan terengah-engah; (c) Gastrointestinal : nafsu makan menurun, tidak nyaman pada perut, mual dan diare; (d) Neuromuskular : tremor, gugup, gelisah, insomnia dan pusing; (e) Traktus urinarius : sering berkemih; (f) Kulit : keringat dingin, gatal, dan wajah kemerahan; (2) Respon perilaku: respon perilaku yang muncul adalah gelisah, tremor, ketegangan fisik, reaksi terkejut, gugup, bicara cepat, menghindar, kurang kooordinasi, menarik diri dari hubungan interpersonal dan melarikan diri dari masalah; (3) Respon kognitif: respon kognitif yang muncul adalah perhatian terganggu, pelupa, salah dalam memberikan

penilaian, hambatan berfikir, kesadaran diri meningkat, tidak mampu berkonsentrasi, tidak mampu mengambil keputusan, menurunnya lapangan persepsi dan kreatifitas, bingung, takut, kehilangan kontrol, takut pada gambaran visual dan takut cedera atau kematian; dan (4) Respon afektif: respon afektif yang sering muncul adalah mudah terganggu, tidak sabar, gelisah, tegang, ketakutan, waspada, gugup, mati rasa, rasa bersalah dan malu. c. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan menurut Stuart dan Sundeen (1998) adalah: 1) Usia atau tingkatan perkembangan Semakin tua usia seseorang, tingkat kecemasan dan kekuatan seseorang semakin konstruktif dalam menggunakan koping terhadap masalah yang dihadapi. 2) Jenis kelamin Menurut jenis kelamin, laki-laki lebih tinggi kecemasannya

dibandingkan dengan perempuan. Hal ini dibuktikan dari hasil pemeriksaan asam lemak bebas menunjukan nilai yang tinggi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita. 3) Pengalaman individu Pengalaman individu sangat mempengaruhi respon kecemasan karena pengalaman dapat dijadikan suatu pembelajaran dalam menghadapi suatu stressor atau masalah. Jika respon kecemasan yang semakin

berkurang bila dibandingkan dengan seseorang yang baru pertama kali menghadapi masalah tersebut. d. Beberapa Teori Tentang Kecemasan Beberapa teori memberikan kontribusi terhadap kemungkinan faktor etiologi dalam pengembangan kecemasan. Menurut Stuart & Laraia (2007) teori-teori tersebut adalah sebagai berikut : 1) Teori Psikoanalitik Pandangan psikoanalitik menyatakan kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian, yaitu id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Ego berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan, dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya. 2) Teori Interpersonal Menurut pandangan interpersonal, kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kelemahan spesifik. Individu dengan harga diri rendah mudah mengalami perkembangan kecemasan yang berat.

3) Teori Perilaku Menurut pandangan perilaku, kecemasan merupakan hasil dari frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Faktor tersebut bekerja menghambat usaha seseorang untuk memperoleh kepuasan dan kenyamanan. 4) Teori Keluarga Teori keluarga menunjukkan bahwa kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga. Kecemasan ini terkait dengan tugas perkembangan individu dalam keluarga. Anak yang akan dirawat di rumah sakit merasa tugas perkembangannya dalam keluarga akan terganggu sehingga dapat menimbulkan kecemasan. 5) Teori Biologis Teori biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepin. Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan. Penghambat asam (GABA) juga mungkin memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan kecemasan. Selain itu, telah dibuktikan bahwa kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata sebagai predisposisi terhadap kecemasan. Kecemasan mungkin disertai gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stresor.

e. Faktor Presipitasi Kecemasan Stuart (2001) mengatakan bahwa faktor presipitasi/stresor pencetus dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu : 1) Ancaman Terhadap Integritas Fisik Ancaman terhadap integritas fisik seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Kejadian ini menyebabkan kecemasan dimana timbul akibat kekhawatiran terhadap tindakan pemasangan infus yang mempengaruhi integritas tubuh secara keseluruhan. Pada anak yang dirawat di rumah sakit timbul kecemasan karena ketidakmampuan fisiologis dan menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas seharihari, seperti bermain, belajar bagi anak usia sekolah, dan lain sebagainya. 2) Ancaman Terhadap Rasa Aman Ancaman ini terkait terhadap rasa aman yang dapat menyebabkan terjadinya kecemasan, seperti ancaman terhadap sistem diri seseorang yang dapat membahayakan identitas, harga diri dan fungsi sosial seseorang. Ancaman ini dapat terjadi pada anak yang akan dilakukan tindakan pemasangan infus dan bisa juga terjadi pada orang tua. Ancaman yang terjadi pada orang tua dapat disebabkan karena orang tua merasa bahwa anak mereka akan menerima pengobatan yang membuat anak bertambah sakit atau nyeri.

f. Tingkat Kecemasan Peplau (1963) dikutip oleh Stuart (2001), mengidentifikasi kecemasan dalam empat tingkatan dan menggambarkan efek dari tiap tingkatan. Setiap tindakan memiliki karakteristik lahan persepsi yang berbeda tergantung pada kemampuan individu dalam menerima informasi/ pengetahuan mengenai kondisi yang ada dari dalam dirinya maupun dari lingkungannya. Tingkat kecemasan menurut Peplau (1963) yang dikutip oleh Stuart (2001) itu dapat dibagi menjadi empat meliputi : 1) Cemas Ringan Cemas ringan merupakan cemas yang normal yang berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya, seperti melihat, mendengar dan gerakan menggenggam lebih kuat. Kecemasan tingkat ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas. 2) Cemas Sedang Cemas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan hal yang lain, sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. Kecemasan ini mempersempit lapang presepsi individu, seperti penglihatan, pendengaran, dan gerakan menggenggam berkurang.

3) Cemas Berat Cemas berat sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Individu tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. 4) Panik Panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror. Rincian terpecah dari proporsinya. Individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan hal itu dikarenakan individu tersebut mengalami kehilangan kendali, terjadi peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. Individu yang mengalami panik juga tidak dapat berkomunikasi secara efektif. Tingkat kecemasan ini tidak sejalan dengan kehidupan, dan jika berlangsung terus menerus dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian. g. Rentang Respon Kecemasan Rentang respon individu terhadap cemas berfluktuasi antara respon adaptif dan maladaptif. Rentang respon yang paling adaptif adalah antisipasi dimana individu siap siaga untuk beradaptasi dengan cemas yang mungkin muncul. Sedangkan rentang yang paling maladaptif adalah

panik dimana individu sudah tidak mampu lagi berespon terhadap cemas yang dihadapi sehingga mengalami ganguan fisik, perilaku maupun kognitif (Stuart, 2001). Seseorang berespon adaptif terhadap kecemasannya maka tingkat kecemasan yang dialaminya ringan, semakin maladaptif respon seseorang terhadap kecemasan maka semakin berat pula tingkat kecemasan yang dialaminya, seperti gambar dibawah ini:

Respon adaptif

Respon maladaptif

Ringan

Sedang

Berat

Berat sekali

h. Gangguan Kecemasan menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th Edition (DSM-IV) DSM-IV menuliskan gangguan kecemasan berikut ini: 1) Gangguan panik dan agorafobia Gangguan panik adalah episode ketakutan yang sangat sering terjadi yang memiliki banyak tanda-tanda fisik dan gejala. Agoraphobia adalah ketakutan yang tidak masuk akal yaitu takut pada orang

banyak. Ketakutan agorafobia biasanya melibatkan karakteristik kelompok situasi yang termasuk berada di luar rumah sendirian, berada di antara orang banyak atau berdiri dalam antrian, berada di jembatan, dan perjalanan di bus, kereta, mobil, atau pesawat (Chandler, 2008).

2) Fobia sosial Fobia adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan penghindaran yang disadari terhadap objek, aktivitas atau situasi yang ditakuti. Fobia sosial disebut juga gangguan kecemasan sosial, ditandai dengan ketakutan yang berlebihan tehadap penghinaan dan rasa memalukan di dalam berbagai lingkungan sosial. Tipe umum fobia sosial seringkali keadaan yang kronis dan menimbulkan

ketidakberdayaan yang ditandai oleh penghindaran fobik terhadap sebagian besar situasi sosial (Kaplan & Sadock, 2002). 3) Gangguan obsesif- kompulsif Obsesi adalah pikiran, perasaan, ide, atau sensasi yang mengganggu. Kompulsi adalah pikiran atau perilaku yang disadari, dibakukan, dan rekuren, seperti menghitung, memeriksa atau menghindari. Obsesi meningkatkan kecemasan seseorang, sedangkan kompulsi menurunkan kecemasan seseorang. Tetapi jika seseorang memaksa untuk suatu kompulsi, kecemasan akan meningkat. Seseorang dengan gangguan obsesi-kompulsif biasanya menyadari irasionalitas dari obsesi dan merasakan bahwa obsesi dan kompulsi sebagai ego-distonik. Gangguan obsesi-kompulsif dapat merupakan gangguan yang

menyebabkan ketidakberdayaan, karena obsesi dapat menghabiskan waktu dan dapat mengganggu secara bermakna pada rutinitas normal seseorang, fungsi pekerjaan, aktivitas sosial yang biasanya, atau

hubungan dengan teman dan anggota keluarga (Kaplan & Sadock, 2002). 4) Gangguan stress paska traumatik Rasa takut yang wajar setelah beberapa hal yang benar-benar mengerikan terjadi pada seseorang di masa lalu terus menyebabkan kesulitan, meskipun trauma mengerikan telah selesai (Chandler, 2008). 5) Kecemasan pemisahan Ketakutan yang tidak masuk akal terpisahkan dari orang tua atau pengasuh. Ini adalah kekhawatiran tentang menjadi jauh dari rumah atau jauh dari orang tua yang tidak dipengaruhi oleh usia anak, budaya, dan gaya hidup. Contoh dari kecemasan pemisahan adalah sebagai berikut: anak yang lebih muda akan mengamuk ketika ibunya mulai melakukan pekerjaannya atau pada anak yang lebih tua akan mulai terjadi gejala panik apabila dalam waktu 2 jam ibunya tidak kembali, dan yang paling umum adalah mimpi bahwa orang tuanya mendapatkan kecelakaan mobil, rumah terbakar, hilang di mal, sekolah, toko dan tersesat di perjalanan berkemah. Semua tanda-tanda serangan panik dapat terjadi ketika orangtua meninggalkan anak. Biasanya timbul sakit kepala berat, mual, muntah, sesak nafas tepat sebelum sekolah atau sebelum orang tuanya pergi bekerja (Chandler, 2008).

6) Kecemasan umum Setiap orang memiliki teman atau tetangga dengan masalah ini. Pada anak-anak ketakutan tergantung pada tahap perkembangan, tetapi mereka semua memiliki karakteristik tertentu. Sepanjang hari anakanak menemukan sesuatu yang mereka takuti di setiap kesempatan. Kecemasan dan kekhawatiran yang terkait dengan tiga (atau lebih) dari enam gejala berikut dengan setidaknya beberapa gejala hadir dalam beberapa hari dan selama 6 bulan terakhir (catatan: hanya satu item yang diperlukan pada anak). Gejala tersebut diantaranya: kegelisahan atau perasaan tegang, mudah lelah, sulit berkonsentrasi/pikiran

kosong, mudah tersinggung, ketegangan otot dan gangguan tidur (kesulitan untuk tertidur atau tidur tidak memuaskan dan gelisah). Fokus dari kecemasan dan kekhawatiran tidak berhubungan dengan beberapa gangguan kejiwaan lainnya. Kecemasan, khawatir atau gejala fisik menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau penurunan bidang penting sosial, pekerjaan, atau gangguan fungsi. Kecemasan itu timbul bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu obat, obat lain atau penyakit medis(Chandler, 2008). i. Penatalaksanaan Kecemasan Menurut Kaplan & Sadock (2002) penatalaksanaan yang paling efektif untuk pasien dengan gangguan kecemasan adalah sebagai berikut:

1) Psikoterapi Pendekatan psikoterapetik utama untuk gangguan kecemasan adalah kognitif-perilaku, suportif, dan berorientasi tilikan. Teknik terapi kognitif-perilaku memliki kemanjuran jangka panjang dan jangka pendek. Pendekatan kognitif secara langsung menjawab distorsi kognitif pasien, dan pendekatan perilaku menjawab keluhan somatik. Teknik utama yang digunakan dalam pendekatan perilaku adalah relaksasi dan biofeedback. Teknik relaksasi yang dapat diberikan antara lain adalah terapi musik, nafas dalam, dan guidance imagenary. Psikoterapi berorientasi-tilikan memusatkan untuk mengungkapkan konflik bawah sadar dan kekuatan ego. Terapi suportif menawarkan ketentraman dan kenyamanan pada pasien. 2) Farmakoterapi Dua jenis obat utama yang harus dipertimbangkan dalam pengobatan gangguan kecemasan adalah buspirone dan benzodiazepin. Obat lain yang mungkin berguna adalah obat trisiklik (imipramin), anti histamine, dan antagonis adrenergik beta (propanol). j. Akibat Kecemasan Akibat dari kecemasan adalah timbulnya ketegangan motorik, hiperaktivitas otonomik, dan kewaspadaan kognitif. Ketegangan motorik paling sering dimanifestasikan sebagai gemetaran kegelisahan dan nyeri kepala. Hiperaktivitas seringkali dimanfestasikan oleh sesak nafas, keringat berlebih, palpitasi, dan berbagai gejala gastrointestinal.

Kewaspadaan kognitif ditandai oleh sifat lekas tersinggung dan mudahnya pasien dikejutkan (Kaplan & Sadock, 2002). k. Instrumen Pengukuran Kecemasan Pada Anak Untuk mengukur tingkat kecemasan anak terdapat beberapa instrumen pengukuran kecemasan anak, diantaranya adalah sebagai berikut: 1) Tingkat kecemasan dapat diukur dengan menggunakan alat ukur (instrumen) yang dikenal dengan nama Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A), yang terdiri dari 14 kelompok gejala yang masingmasing kelompok di rinci lagi dengan gejala-gejala yang lebih spesifik (Hawari, 2004). Menurut Hawari (2004) gejala-gejala yang lebih

spesfik adalah sebagai berikut: a) Perasaan cemas : cemas, firasat buruk, takut akan pikiran sendiri dan mudah tersinggung. b) Ketegangan : merasa tegang, lesu, tidak dapat beristirahat dengan tenang, mudah terkejut, mudah menangis, gemetar dan gelisah. c) Ketakutan : pada gelap, pada orang asing, ditinggal sendiri, pada binatang besar, pada keramaian lalu lintas dan pada kerumunan orang banyak. d) Gangguan tidur : sukar untuk tidur, terbangun pada malam hari, tidur tidak nyenyak, bangun dengan lesu, banyak mimpi, mimpi buruk dan mimpi yang menakutkan.

e) Gangguan kecerdasan : sukar berkonsentrasi, daya ingat menurun dan daya ingat buruk. f) Perasaan depresi (murung) : hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hobi, sedih, terbangun pada saat dini hari dan perasaan berubah-ubah sepanjang hari. g) Gejala somatik/fisik (otot) : sakit dan nyeri di otot, kaku, kedutan otot, gigi gemerutuk dan suara tidak stabil. h) Gejala somatik/fisik (sensorik) : tinnitus (telinga berdenging), penglihatan kabur, muka merah atau pucat, merasa lemas dan perasaan ditusuk-tusuk. i) Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) : takikardi (denyut jantung cepat), berdebar-debar, nyeri di dada, denyut nadi mengeras, rasa lesu/lemas seperti mau pingsan dan detak jantung menghilang/berhenti sekejap. j) Gejala respiratori (pernafasan) : rasa tertekan atau sepit di dada, rasa tercekik, sering menarik nafas dan nafas pendek/ sesak. k) Gejala gastrointestinal (pencernaan) : sulit menelan, perut melilit, gangguan pencernaan, nyeri sebelum dan sesudah makan, perasaan terbakar di perut, rasa penuh atau kembung, mual, muntah, BAB konsistensinya lembek, sukar BAB (konstipasi) dan kehilangan berat badan. l) Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin) : sering buang air kecil, tidak dapat menahan BAK, tidak datang bulan (tidak dapat

haid), darah haid berlebihan, darah haid sangat sedikit, masa haid berkepanjangan, masa haid sangat pendek, haid beberapa kali dalam sebulan, menjadi dingin (frigid, ejakulasi dini, ereksi melemah, ereksi hilang dan impotensi). m) Gejala autonom : mulut kering, muka merah, mudah berkeringat, kepala pusing kepala terasa berat, kepala terasa sakit dan bulu-bulu berdiri. n) Tingkah laku/sikap : gelisah, tidak tenang, jari gemetar, kening/dahi berkerut, wajah tegang, otot tegang/mengeras, nafas pendek dan cepar serta wajah merah. Masing-masing kelompok gejala diberi penilaian angka (skor) antara 0-4, dengan penilaian sebagai berikut : Nilai 0 = tidak ada gejala (keluhan) Nilai 1 =gejala ringan Nilai 2 = gejala sedang Nilai 3 = gejala berat Nilai 4 = gejala berat sekali/ panik Masing-masing nilai angka (skor) dari ke 14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang, yaitu : total nilai (skor) : kurang dari 14 = tidak ada kecemasan, 14-20 = kecemasan ringan, 21-27 = kecemasan sedang, 28-41= kecemasan berat, 42-56 = kecemasan berat sekali (Hawari, 2004).

2) Spence Childrens Anxiety Scale (SCAS) adalah instrumen kecemasan untuk mengukur kecemasan pada anak usia sekolah. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kecemasan Spence Children's Anxiety Scale (SCAS) yang telah dimodifikasi oleh Wedyana (2009) dan digunakan sebagai instrument dalam

peneltiannya yang berjudul Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Tingkat Kecemasan Anak Usia Sekolah Yang Menjalani Rawat Inap di RSUD. Prof. Dr. Margono. Instrumen ini terdiri dari 32 pertanyaan, yang memiliki total skor 96. Responden diminta untuk menunjukkan frekuensi setiap gejala yang terjadi pada empat skala poin mulai dari tidak pernah (skor 0) sampai poin selalu (skor 3). Hasil kuesioner akan menjadi kriteria tingkat kecemasan anak: ringan (skor <16), sedang (skor 17-32), berat (skor 33-48), dan berat sekali/panik (skor >49).
3)

Spence Childrens Anxiety Scale (SCAS) preschool adalah instrumen kecemasan untuk mengukur kecemasan pada anak usia prasekolah. Skala ini terdiri dari 28 pertanyaan kecemasan, Skala ini dilengkapi dengan meminta orang tua untuk mengikuti petunjuk pada lembar instrumen. Jumlah skor maksimal pada skala kecemasan SCAS Preschool adalah 112. 28 item kecemasan tersebut memberikan

ukuran keseluruhan kecemasan, selain nilai pada enam sub-skala masing-masing menekankan aspek tertentu dari kecemasan anak, yaitu kecemasan umum, kecemasan sosial, gangguan obsesif kompulsif, ketakutan cedera fisik dan kecemasan pemisahan (Spence, 2011). Hasil

total skor kuesioner akan menjadi kriteria tingkat kecemasan anak, dengan rentang skor kecemasan sebagai berikut: ringan (skor < 28), sedang (skor 28-56), berat (skor 57-84), dan sangat berat/panik (skor >85). Jumlah pertanyaan dalam instrumen ini terdiri dari 6 sub-skala kecemasan dan pada item pertanyaan sebagai berikut: a) Kecemasan umum (1, 4, 8, 14 dan 28) b) Kecemasan sosial (2, 5, 11, 15, 19 dan 23) c) Gangguan obsesif kompulsif (3, 9, 18, 21 dan 27) d) Ketakutan cedera fisik (7, 10, 13, 17, 20, 24 dan 26) e) Kecemasan pemisahan (6, 12, 16, 22 dan 25) 4) Faces anxiety scale for children dikembangkan oleh McMurtry (2010) untuk mengukur kecemasan/rasa takut pada pasien anak di unit perawatan intensif. Anak-anak sering diminta untuk melaporkan kecemasan / ketakutan sebelum dan selama prosedur medis yang menyakitkan, sebelumnya dilakukan penyelidikan awal dari sifat psikometri dari skala kecemasan wajah. Faces anxiety scale for children menunjukkan berbagai tingkat kecemasan. Skor 0

memberikan gambaran tidak ada kecemasan sama sekali, skor 1 (menggambarkan lebih sedikit kecemasan), skor 2 (menggambarkan sedikit kecemasan), skor 3 (menggambarkan kecemasan) dan skor 4 (menggambarkan kecemasan yang ekstrim pada anak).

3. Hospitalisasi a. Pengertian Hospitalisasi Hospitalisasi adalah proses karena suatu alasan yang terencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit. Menjalani terapi dan perawatan sampai dipulangkan kembali ke rumah. Di rawat di rumah sakit tetap merupakan masalah besar dan menimbulkan ketakutan, cemas, bagi anak. Dampak hospitalisasi yang dialami bagi anak dan keluarga akan menimbulkan stres dan tidak merasa aman. Jumlah dan efek stres tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit dan pengobatan (Supartini, 2004). Hospitalisasi adalah kondisi yang dapat menyebabkan krisis pada anak sakit dan dirawat di rumah sakit. Keadaan ini terjadi karena anak berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru bagi anak yaitu rumah sakit, sehingga kondisi tersebut dapat menjadi faktor penyebab stres baik terhadap anak maupun keluarga (Wong, 2009). Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi individu karena faktor penyebab stres yang dihadapi dapat menimbulkan perasaan tidak aman, seperti : lingkungan asing, berpisah dengan orang yang berarti, kurang informasi, kehilangan kebebasan dan kemandirian, pengalaman yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan dan perilaku petugas rumah sakit. Semakin sering berhubungan dengan rumah sakit, maka bentuk kecemasan semakin kecil atau sebaliknya (Elfira, 2011).

b. Dampak Hospitalisasi Anak akan cenderung lebih manja, minta perhatian lebih pada orang tua serta bersikap cuek pada perawat yang akan merawatnya karena anak belum dapat beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit. Stres yang umumnya terjadi berhubungan dengan hospitalisasi adalah takut akan unfamiliarity, lingkungan rumah sakit yang menakutkan, rutinitas rumah sakit, prosedur yang menyakitkan, dan takut akan kematian. Reaksi emosional pada anak sering ditunjukkan dengan menangis, marah dan berduka sebagai bentuk yang sehat dalam mengatasi stres karena hospitalisasi (Elfira, 2011). Anak sering menganggap sakit merupakan hukuman untuk perilaku buruk, hal ini terjadi karena anak masih mempunyai keterbatasan tentang dunia di sekitar mereka. Anak juga mempunyai kesulitan dalam pemahaman mengapa mereka sakit, tidak bisa bermain dengan temannya, mengapa mereka terluka dan nyeri sehingga membuat mereka harus pergi ke rumah sakit dan harus mengalami hospitalisasi. Reaksi anak tentang hukuman yang diterimanya dapat bersifat pasif, kooperatif, membantu atau anak mencoba menghindar dari orang tua, dan anak menjadi marah. Sehingga anak kehilangan fungsi dan kontrol sehubungan terganggunya fungsi motorik yang mengakibatkan berkurangnya percaya diri pada anak, sehingga tugas perkembangan yang sudah dicapai dapat terhambat. Hal ini membuat anak menjadi regresi; ngompol lagi, suka menghisap jari dan menolak untuk makan. Anak cenderung mengalami pengekangan yang

dapat menimbulkan kecemasan pada anak sehingga anak merasa tidak nyaman akan perubahan yang terjadi pada dirinya (Elfira, 2011). c. Kecemasan Hospitalisasi Umumnya reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan, kehilangan, perlukaan tubuh, dan rasa nyeri. Pada anak yang mengalami perawatan di rumah sakit biasanya timbul reaksi, antara lain: menolak makan, sering bertanya, menangis perlahan, dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan. Sehingga perawatan di rumah sakit menjadi kehilangan kontrol dan pembatasan aktivitas. Seringkali hospitalisasi dipersepsikan oleh anak sebagai hukuman, sehingga ada perasaan malu, takut sehingga menimbulkan reaksi agresif, marah, berontak, dan tidak mau bekerja sama dengan perawat (Rahayu, 2011). d. Reaksi Anak Terhadap Sakit dan Hospitalisasi Hospitalisasi adalah suatu keadaan krisis pada anak, saat anak sakit dan dirawat di rumah sakit sehingga anak harus beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit (Wong, 2009). Reaksi hospitalisasi pada anak bersifat individual dan sangat bergantung pada tahapan usia perkembangan anak. Pengalaman sebelumnya di rumah sakit, sistem pendukung yang tersedia dan kemampuan koping yang dimiliki anak (Supartini, 2004). Menurut Supartini (2004) reaksi anak terhadap sakit dan hospitalisasi di pengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : 1) Perkembangan anak terhadap sakit berbeda-beda sesuai tingkat perkembangan anak. Berkaitan dengan umur anak, semakin muda anak

maka akan semakin sukar baginya untuk menyesuaikan diri dengan pengalaman di rumah sakit. 2) Pengalaman dirawat di rumah sakit sebelumnya Apabila anak pernah mengalami tidak menyenangkan saat dirawat di rumah sakit sebelumnya, akan menyebabkan anak takut dan trauma, sebaliknya apabila saat dirawat di rumah sakit anak mendapatkan perawatan yang baik dan menyenangkan maka anak akan lebih kooperatif pada perawat dan dokter. 3) Dukungan keluarga Anak akan mencari dukungan yang ada dari orang lain untuk melepaskan tekanan akibat penyakit yang dideritanya. Anak biasanya akan meminta dukungan kepada orang terdekat dengannya contohnya orang tua atau saudaranya. Perilaku ini biasanya ditandai dengan permintaan anak untuk ditunggui selama dirawat di rumah sakit, didampingi saat dilakukan treatment padanya, minta dipeluk saat merasa takut dan cemas bahkan sangat merasa ketakutan. 4) Perkembangan koping dalam menangani stresor Apabila mekanisme koping anak baik dalam menerima keadaan bahwa dia harus di rawat di rumah sakit maka akan lebih kooperatif anak tersebut dalam menjalani perawatan di rumah sakit. Proses perawatan yang seringkali butuh waktu lama akhirnya menjadikan anak berusaha mengembangkan perilaku atau strategi dalam menghadapi penyakit yang dideritanya. Perilaku ini menjadi salah satu

cara yang dikembangkan anak untuk beradaptasi terhadap penyakitnya. Menurut Aidar (2011), beberapa perilaku itu antara lain : 1) Penolakan (avoidance) Perilaku dimana anak berusaha menghindar dari situasi yang membuatnya tertekan. Anak berusaha menolak treatment yang diberikan, seperti tidak mau disuntik, tidak mau dipasang infus, menolak minum obat, bersikap tidak kooperatif kepada petugas medis. 2) Mengalihkan perhatian Anak berusaha mengalihkan perhatian dari pikiran atau sumber yang membuatnya tertekan. Perilaku yang dilakukan anak misalnya membaca buku cerita saat di rumah sakit, menonton televisi (TV) saat dipasang infus, atau bermain mainan yang disukai. 3) Berupaya aktif (active) Anak berusaha mencari jalan keluar dengan melakukan sesuatu secara aktif. Perilaku yang sering dilakukan misalnya menanyakan tentang kondisi sakitnya kepada tenaga medis atau orang tuanya, bersikap kooperatif terhadap petugas medis, minum obat teratur, beristirahat sesuai dengan peraturan yang diberikan. 4) Mencari dukungan (support seeking) Anak mencari dukungan dari orang lain untuk melepaskan tekanan akibat penyakit yang dideritanya. Anak biasanya akan minta dukungan kepada orang yang dekat dengannya, misalnya dengan permintaan anak untuk ditunggui selama dirawat di rumah sakit, didampingi saat

dilakukan treatment padanya, dan minta dipeluk atau dielus saat merasa kesakitan. Reaksi anak terhadap hospitalisasi menurut golongan umur dibagi menjadi 2, yaitu: 1) Reaksi Anak Pra-Sekolah terhadap Hospitalisasi Usia prasekolah merupakan kelompok usia tiga sampai enam tahun. Penyakit yang sering ditemukan pada anak usia prasekolah yaitu penyakit menular atau infeksi seperti cacar air (varicella), parotitis (mumps), konjungtivitis, stomatitis, dan penyakit parasit pada usus. Beberapa kondisi penyakit menyebabkan anak harus dirawat di rumah sakit dan mendapatkan prosedur invasif (Hockenberry & Wilson, 2007). Anak usia prasekolah juga mengalami stres apabila

mendapatkan perawatan di rumah sakit (hospitalisasi) sebagaimana kelompok anak usia lain. Perawatan anak prasekolah di rumah sakit memaksa anak untuk berpisah dari lingkungan yang dirasakannya aman, penuh kasih sayang, dan menyenangkan, yaitu lingkungan rumah, permainan, dan teman sepermainannya (Supartini, 2004). Anak usia prasekolah menganggap hospitalisasi merupakan

pengalaman baru dan sering membingungkan yang dapat membawa dampak negatif terhadap perkembangan normal. Hospitalisasi

membuat anak masuk dalam lingkungan yang asing, dimana mereka

biasanya dipaksa untuk menerima prosedur yang menakutkan, nyeri tubuh dan ketidaknyamanan (Wong, 2009). Perawatan di rumah sakit membuat anak kehilangan kontrol terhadap dirinya. Perawatan di rumah sakit juga mengharuskan adanya pembatasan aktivitas anak sehingga anak merasa kehilangan kekuatan diri. Perawatan di rumah sakit sering kali dipersepsikan anak prasekolah sebagai hukuman sehingga anak akan merasa malu, bersalah, atau takut (Supartini, 2004). Respon anak untuk memahami nyeri yang diakibatkan oleh prosedur invasif yang menyakitkan bagi anak tergantung pada usia anak, tingkat perkembangan anak, dan faktor situasi lainnya (Hockenberry & Wilson, 2007). Karakteristik anak usia prasekolah dalam berespon terhadap nyeri diantaranya dengan menangis keras atau berteriak;

mengungkapkan secara verbal aaow uh, sakit; memukul tangan atau kaki; mendorong hal yang menyebabkan nyeri; kurang kooperatif; membutuhkan restrain; meminta untuk mengakhiri tindakan yang menyebabkan nyeri; menempel atau berpegangan pada orangtua, perawat atau yang lain; membutuhkan dukungan emosi seperti pelukan; melemah; dan antisipasi terhadap nyeri aktual (Hockenberry & Wilson, 2007). Reaksi terhadap perpisahan yang ditunjukkan anak usia prasekolah adalah dengan menolak makan, sering bertanya, menangis walaupun secara perlahan, dan tidak kooperatif terhadap petugas

kesehatan. Ketakutan anak terhadap perlukaan muncul karena anak menganggap tindakan dan prosedurnya mengancam integritas

tubuhnya. Hal ini menimbulkan reaksi agresif dengan marah dan berontak, ekspresi verbal dengan mengucapkan kata-kata marah, tidak mau bekerja sama dengan perawat, dan ketergantungan pada orangtua (Supartini, 2004). Anak prasekolah akan mendorong orang yang akan melakukan prosedur yang menyakitkan agar menjauh, mencoba mengamankan peralatan, atau berusaha mengunci diri di tempat yang aman (Wong, 2009). 2) Reaksi anak usia sekolah (6-12 tahun) terhadap hospitalisasi Anak usia sekolah stresor yang dihadapi anak yang dirawat di rumah sakit adalah lingkungan baru dan asing, pengalaman yang menyakitkan dengan petugas, prosedur tindakan keperawatan, diagnotik dan terapi, berpisah dengan orang tua dalam arti semetara. Kondisi ini akan menyebabkan anak mengalami kecemasan (Rasmun, 2004). Anak usia sekolah membayangkan dirawat di rumah sakit merupakan hukuman, dipisahkan, merasa tidak aman dan

kemandiriannya terlambat. Mereka menjadi ingin tahu dan bingung, anak bertanya kenapa orang itu, mengapa berada di rumah sakit, bermacam pertanyaan dilontarkan karena anak tidak mengetahui yang sedang terjadi (Wong & Whaley, 2007). Kecemasan pada anak usia sekolah adalah kecemasan karena perpisahan dengan kelompok, mengalami luka pada tubuh dan nyeri

dan kehilangan kontrol juga dapat menimbulkan kecemasan (Wong & whaley, 2007). Menurut Wong & whaley (2007) kecemasan yang terjadi pada usia sekolah selama hospitalisasi dapat disebabkan karena: a) Cemas karena perpisahan Anak usia sekolah memiliki koping yang lebih baik terhadap perpisahan, namun keadaan sakit akan meningkatkan keinginan mereka untuk selalu ditemani oleh orang tua. Anak usia sekolah lebih merasa cemas karena berpisah dengan sekolah dan aktivitas sehari-hari mereka dibandingkan cemas karena berpisah dengan orang tua. Reaksi yang umum terjadi pada anak usia sekolah karena perpisahan adalah merasa sendiri, bosan, merasa terisolasi, dan depresi. b) Kehilangan kontrol (Loss Of Control) Anak usia sekolah, aktivitas yang dibatasi seperti bed rest, penggunaan kursi roda, kehilangan privasi serta rutin di rumah sakit akan menghilangkan kekuatan diri dan identitas dari anak. Reaksi yang mungkin muncul pada anak adalah perasaan depresi, menunjukkan rasa permusuhan dan frustasi. c) Luka pada tubuh dan rasa sakit atau nyeri Perawatan anak di rumah sakit memaksa anak berpisah dengan lingkungan yang dicintainya, yaitu keluarga terutama kelompok sosialnya dan menimbulkan kecemasan. Kehilangan kontrol juga

terjadi akibat dirawat di rumah sakit karena adanya pembatasan aktivitas. Anak usia sekolah telah mampu mengkomunikasikan rasa sakit yang mereka alami dan menunjukkan lokasi nyeri tersebut. Respon terhadap nyeri yang ditunjukkan diantaranya: melihat perilaku dari anak lain yang lebih kecil terutama saat dilakukan prosedur tindakan yang menyebabkan nyeri, perilaku mengulur waktu dengan berkata tunggu sebentar atau saya belum siap, menggigit bibir dan memegang sesuatu dengan erat (Aidar, 2011). Kehilangan kontrol tersebut berdampak pada perubahan peran dalam keluarga, akan kehilangan kelompok sosialnya karena ia biasa melakukan kegiatan bermain atau pergaulan sosial, perasaan takut mati, dan adanya kelemahan fisik. Reaksi terhadap perlakuan atau rasa nyeri akan ditunjukkan dengan ekspresi baik secara verbal maupun non verbal. Anak usia sekolah sudah mampu mengontrol perilakunya jika merasa nyeri, yaitu dengan menggigit bibir dan atau menggigit dan memegang sesuatu dengan erat (Wong & Whaley,2007). 4. Tanda Vital a. Pengertian Tanda Vital Pemeriksaan tanda-tanda vital adalah sebuah proses dari seorang ahli medis ataupun praktisi kesehatan memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Pengukuran yang paling sering dilakukan oleh praktisi kesehatan adalah pengukuran suhu, nadi, tekanan darah,

frekuensi pernapasan dan saturasi oksigen. Sebagai indikator dari status kesehatan, ukuran-ukuran ini menandakan keefektifan sirkulasi, respirasi, fungsi neural dan endokrin tubuh. Karena sangat penting, maka disebut dengan tanda vital. Banyak faktor seperti suhu lingkungan, latihan fisik, dan efek sakit yang menyebabkan perubahan tanda vital, kadang-kadang di luar batas normal. Pengukuran tanda vital memberikan data untuk menentukan status kesehatan klien yang lazim (data dasar), seperti respon terhadap stres fisik dan psikologis, terapi medis dan keperawatan, perubahan tanda vital, dan menandakan perubahan fungsi fisiologis.Perubahan pada tanda vital dapat juga menandakan kebutuhan dilakukannya intervensi keperawatan dan medis. Tanda vital merupakan cara yang cepat dan efisien untuk memantau kondisi klien atau mengidentifikasi masalah dan mengevaluasi respon klien terhadap intervensi. Teknik dasar inspeksi, palpasi dan auskultasi digunakan untuk menentukan tanda vital (Potter & Perry, 2005). b. Cara Pengukuran Tanda-tanda Vital Pada Anak Menurut Potter & Perry (2005) pedoman berikut ini adalah pedoman cara pengukuran tanda-tanda vital pada anak. 1) Langkah-langkah mengukur tekanan darah : a) Saat diperiksa, pasien duduk dengan santai, sebaiknya pengukuran dilakukan beberapa menit setelah mulai duduk dan dalam ruangan yang tenang.

b) Lengan yang diukur harus dalam keadaan bebas (tidak tertutup pakaian yang ketat di bagian lengan), sehingga manset dapat terlilit dengan baik. c) Memilih manset yang baik, yaitu manset yang dapat melilit 40% lengan atas bagian tengah. Pemakaian manset berukuran standar pada lengan yang berukuran besar dapat mempengaruhi pembacaan tekanan darah. Sehingga sebaiknya jangan memaksakan manset pada lengan yang berukuran besar. d) Lilitkan manset pada tengah lengan ke atas dengan bola manset berada di tengah arteri brachialis, dan batas bawah manset dengan siku kurang lebih 1 inci (sekitar 2,5 cm) di atas lipat siku. e) Pastikan manset sejajar dengan posisi jantung. f) Pompa tensimeter sampai manset mengembang dan catat tekanan saat bunyi denyut nadi terdengar jelas. Pompa kembali sampai kurang lebih 30 mmHg diatas tekanan ini. g) Lepaskan pompa dan tunggu sekitar 30 detik kemudian memompa kembali sampai denyut terdengar lagi. h) Catat hasil tekanan darah sistolik dan diastolik. Untuk pembacaan sistolik, catat di mana denyut terdengar sebanyak 2 kali secara berurutan untuk pertama kali setelah pompa dilepaskan. Untuk pembacaan diastolik, catat saat denyut menghilang (tidak terdengar lagi).

i) Tunggu 30 detik untuk mengulangi prosedur ini pada lengan yang sama. Ukuran-ukuran manset: a) Usia 0-12 bulan : Lebar manset 2 inci (5 cm) b) Usia 1-5 tahun : Lebar manset 3 inci (7.5 cm)

c) Usia 6-12 tahun : Lebar manset 4 inci (10 cm) d) Usia > 12 tahun : Lebar manset 5 inci (12.5 cm) Pasanglah manset melingkari lengan atas atau tungkai atas, dengan batas bawah lebih kurang dari 3 cm dari siku. 2) Cara Mengukur Denyut Nadi a) Dengan menggunakan 2 jari yaitu telunjuk dan jari tengah, atau 3 jari, telunjuk, jari tengah dan jari manis jika kita kesulitan menggunakan 2 jari. b) Temukan titik nadi ( daerah yang denyutannya paling keras ), yaitu nadi karotis di cekungan bagian pinggir leher kira-kira 2 cm di kiri/kanan garis tengah leher ( kira-kira 2 cm disamping jakun pada laki-laki ), nadi radialis di pergelangan tangan di sisi ibu jari. c) Pada bayi dan anak d bawah 2 tahun laju nadi dihitung dengan meraba arteri brakialis atau arteri femoralis. d) Nadi dapat pula di raba di tempat- tempat lain yang letak arteriny superficial seperti arteri temporalis, arteri carotis dan arteri dorsalis pedis.

3) Laju Pernafasan Penghitungan laju pernapasan pada bayi dan anak paling tepat bila dilakukan pada waktu tidur. Laju pernapasan dapat dihitung dengan beberapa cara: a) cara inspeksi : pemeriksa melihat gerakan nafas dan menghitung frekuensinya. Cara ini tifdak praktis dan tidak di anjurkan karena pemeriksa harus melihat gerakan nafas dan detik jarum jam sekaligus. b) Cara palpasi : tangan pemeriksa diletakkan pada dinding abdomenatau dinding dada pasien kemudian dihitung gerakan pernapasan yang terasa pada tangan tersebut, sementara pemeriksa memperhatikan jarum jam. c) Cara auskultasi: stetoskop didengarkan dan dihitung bunyi

pernapasan. d) Semua perhitungan harus dilakukan selama satu menit penuh. c. Nilai Normal Tanda-tanda Vital Pada Anak Pengukuran fisiolgis, elemen kunci dalam mengevaluasi status fisik fungsi vital anak, mencakup suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi pernapasan dan tekanan darah. Bandingkan setiap catatan fisiologis dengan nilai normal untuk kelompok usia tersebut, selain itu bandingkan nilai yang diperoleh pada kunjungan sebelumnya dengan catatan yang ada saat ini. Seperti pada sebagian besar prosedur yang dilakukan pada anak, anak yang lebih besar dan remaja diperlakukan hampir sama dengan orang dewasa (Muscari,

2005). Adapun nilai normal tanda-tanda vital pada anak adalah sebagai berikut: 1) Tekanan Darah Rentang sistolik normal anak usai 1-7 tahun (usia dalam tahun + 90) dan usia 8-18 tahun (2x usia dalam tahun + 83). Sedangkan rentang diastolik normal anak usia 1-5 tahun (56 mmhg) dan usia 6-18 tahun (usia dalam tahun + 52) (Muscari, 2005). 2) Denyut Nadi Rentang denyut nadi normal pada anak usia 2-10 tahun saat istirahat dan terbangun adalah 70-110 kali/menit dan usia 10 tahun-dewasa adalah 5590 kali/menit (Muscari, 2005). 3) Frekuensi Pernapasan Frekuensi pernapasan normal pada anak usia 6 bulan-2 tahun adalah 2030 kali/menit, anak usia 3-10 tahun adalah 20-28 kali/menit dan anak usia 10-18 tahun adalah 12-20 kali/menit (muscari, 2005). 4) Suhu Rentang suhu normal anak sama dengan suhu orang dewasa (36,5-37,5 derajat celcius) (Muscari, 2005).

B. Kerangka Teori Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dijelaskan oleh Aidar (2011), Djohan (2005), Kaplan & Sadock (2007), Musbikin (2009), Satiadarma (2002), Stuart & Sundeen (1998), Stuart & Laraia (2007) dan Wong & Whaley (2007), maka dibentuk kerangka teori penelitian yang dapat dijelaskan melalui Gambar 2.1 sebagai berikut: Penatalaksanaan kecemasan Hospitalisasi Pada Anak Menyebabkan anak mengalami: 1.Perpisahan 2.Kehilangan control 3.Luka pada tubuh dan nyeri Non-farmakologi Farmakologi

Terapi musik klasik mozart untuk mengatasi kecemasan Meningkatkan serotonin dan menurunkan hormon ACTH

Reaksi anak: 1. Melakukan penolakan (penolakan pemeriksaan TTV) 2. Mengalihkan perhatian 3. Berupaya aktif 4. Mencari dukungan

Teori-teori tentang kecemasan: 1.Teori psikoanalitik 2.Teori interpersonal 3.Teori perilaku 4.Teori keluarga 5.Teori biologis

Kecemasan akibat hospitalisasi

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan: 1. Usia 2. Jenis kelamin 3. Pengalaman individu

Rileks, rasa aman & sejahtera, melepaskan rasa gembira & sedih, melepaskan rasa sakit & menurunkan tingkat stres

Penurunan tingkat kecemasan pada anak

Gambar 2.2 Kerangka Teori Penelitian

C. Kerangka Konsep Kerangka konsep merupakan fokus penelitian yang akan diteliti, kerangka konsep ini terdiri dari variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent). Adapun kerangka konsep dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Pretest (kecemasan anak hospitalisasi saat pemeriksaan TTV) Dengan menggunakan McMurtry Faces Anxiety scale Post-test Post-test Kelompok kontrol Terapi musik klasik Mozart selama 30 menit (kecemasan (kecemasan anak anak hospitalisasi saat hospitalisasi) pemeriksaan TTV) Dengan Dengan menggunakan menggunakan McMurtry Faces SCAS Anxiety scale

Pretest (kecemasan anak hospitalisasi saat pemeriksaan TTV) Dengan menggunakan McMurtry Faces Anxiety scale

Kelompok perlakuan Terapi musik klasik Mozart selama 45 menit

Penurunan tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi

Post-test (kecemasan anak hospitalisasi saat pemeriksaan TTV) Dengan menggunakan McMurtry Faces Anxiety scale

1. Usia 2. Jenis kelamin 3. Jenir penyakit 4. Pengalaman individu

Keterangan:
: Diteliti

: Tidak diteliti

Gambar 2.3 Kerangka Konsep Penelitian

D. Hipotesa Penelitian Ada dua hipotesis yaitu hipotesis statistik atau disebut juga hipotesis nol (Ho) dan hipotesis kerja (Ha) disebut juga dengan hipotesis alternatif. Hipotesa penelitian adalah jawaban sementara penelitian atau dalil sementara yang sebenarnya akan dibuktikan dalam penelitian (Notoatmojo, 2002). Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Ha : Ada perbedaan pengaruh durasi pemberian terapi musik klasik Mozart selama 30 menit dan 45 menit terhadap tingkat kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di RSUD Banyumas. Ho : Tidak ada perbedaan pengaruh durasi pemberian terapi musik klasik Mozart selama 30 menit dan 45 menit terhadap tingkat kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di RSUD Banyumas.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, Jenis penelitian ini menggunakan penelitian Quasi eksperimental dengan rancangan penelitian pretest-posttest with control group design, dengan pendekatan pretest-posttest with control group design pengukuran dilakukan pada kedua kelompok, sebelum (01 dan 03) dan setelah periode perlakuan (02 dan 04), sehingga diperoleh 4 hasil pengukuran (Saryono, 2011). Kelompok perlakuan diberikan terapi musik klasik Mozart selama 45 menit dan kelompok kontrol selama 30 menit. 01 >---------------- (X) ---------------- 02 03 >----------------- (X) --------------- 04

Keterangan : (X) = Pemberian terapi musik klasik Mozart 01 = Pengamatan/test sebelum dilakukan perlakuan 30 menit 02 = Pengamatan/test setelah diberikan terapi musik klasik Mozart 30 menit 03 = Pengamatan/test sebelum dilakukan perlakuan 45 menit 04 = Pengamatan/test setelah diberikan terapi musik klasik Mozart 45 menit

2. Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di RSUD Banyumas selama 3 bulan pada 17 Januari 2013 - 20 April 2013.

B. Populasi dan Sample 1. Populasi Populasi merupakan keseluruhan sumber data yang diperlukan dalam suatu penelitian (Saryono,2011). Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono, 2007). Populasi dalam penelitian ini adalah pasien anak rawat inap di RSUD Banyumas, dalam satu bulan terakhir yaitu bulan Mei 2012 jumlah pasien anak yang dirawat di ruang Kanthil sebanyak 133 pasien . 2. Sampel Sampel adalah sebagian dari populasi yang mewakili populasi tersebut (Saryono,2011). Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono, 2007). Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik non probability sampling dengan cara purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang didasarkan pada pertimbangan tertentu seperti waktu, biaya, dan tenaga (Saryono, 2011).

Keterangan: n = Besar sampel N = Besar populasi = Standar deviasi normal untuk = 0.10 (1,64) d = Tingkat kesalahan yang dipilih (d=10% atau 0,1) p = Proporsi target populasi yaitu 50% q = Proporsi tanpa atribut 1-P (1-0,5) Berdasarkan rumus diatas maka dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut:

n = 44,88 n = 45
Berdasarkan perhitungan dengan rumus tersebut di atas diperoleh besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 45 pasien anak, yang dibagi dalam 2 kelompok perlakuan. a. Kriteria inklusi Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah: 1) Anak usia 5-10 tahun. 2) Anak yang telah mengalami perawatan selama 2 hari.

3) Anak yang mengalami kecemasan ringan dan sedang akibat hospitalisasi. 4) Tingkat kesadaran compos mentis. 5) Tidak menderita gangguan pendengaran. 6) Anak yang ditunggu oleh orang tuanya selama dirawat di Rumah Sakit. 7) Orang tua setuju anaknya menjadi responden. b. Kriteria eksklusi Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah: 1) Anak dengan kebutuhan khusus ( anak dengan autism, anak dengan hiperaktif, anak dengan tunagrahita, anak yang berada di ruang isolasi). 2) Pasien yang mengkonsumsi obat-obatan anti ansietas.

C. Variable Penelitian Variabel penelitian adalah sesuatu yang bervariasi (Saryono, 2011). Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent). 1. Variabel bebas (Independent Variable) adalah variabel yang merangsang atau menstimulasi variabel target (Saryono, 2011). Variabel bebas adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lain (Nursalam, 2003). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah terapi musik klasik Mozart.

2. Variabel terikat (Dependent Variable) adalah variabel yang timbul akibat dari efek penelitian (Saryono, 2011). Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas (Hidayat, 2007). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi di ruang Kanthil RSUD Banyumas. 3. Variabel pengganggu (confounding) Variabel pengganggu dalam penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, jenis penyakit dan pengalaman individu.

D. Definisi Operasional Variabel Definisi operasional dibuat untuk memudahkan pengumpulan data dan menghindarkan perbedaan interpretasi serta membatasi ruang lingkup variabel (Saryono, 2011). Setiap variabel harus dirumuskan secara operasional untuk memudahkan pemahaman dan pengukuran setiap variabel yang ada dalam penelitian. Adapun definisi operasional dari penelitian ini sebagai berikut:

Tabel 3.1 Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala

1.

Terapi musik klasik Mozart yang Terapi musik diperdengarkan pada anak pra klasik Mozart sekolah untuk mengurangi tingkat kecemasan, musik yang dipilih untuk terapi adalah musik klasik Mozart yang berjudul Mozart Wombsong Musical Soup. Diberikan dengan durasi 30 menit pada kelompok kontrol dan 45 menit pada kelompok perlakuan menggunakan headset. Terapi musik diberikan pada pagi hari setelah anak selesai mandi dan sarapan. Variabel bebas : Tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi Kecemasan yang timbul pada anak yang dirawat di rumah sakit setelah hari ke-2 hospitalisasi dan diukur pada hari ke3 Faces anxiety scale for children

1. Diberikan terapi musik klasik Mozart selama 30 menit Nominal 2. Diberikan terapi musik klasik Mozart selama 45 menit

2.

Skor 0 (tidak ada kecemasan sama sekali), skor 1 (lebih sedikit kecemasan), skor 2 (sedikit kecemasan), skor 3 (kecemasan) skor 4 (kecemasan

ordinal

yang ekstrim) 3. Jenis kelamin Klasifikasi jenis seksual yang dimiliki oleh anak Kuesioner Perempuan: 1 Laki-laki: 2 nominal

4.

Usia

.Lamanya waktu Kuesioner, hidup responden dari wawancara sejak lahir sampai dengan terakhir pada saat penelitian dilakukan (dalam tahun)

usia responden dalam tahun


rasio

E. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik sehingga lebih mudah diolah (Saryono, 2011). Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah faces anxiety scale for children

dikembangkan oleh McMurtry (2010) untuk mengukur kecemasan/rasa takut pada pasien anak di unit perawatan intensif. Anak-anak sering diminta untuk melaporkan kecemasan/ketakutan sebelum dan selama prosedur medis yang menyakitkan, sebelumnya dilakukan penyelidikan awal dari sifat psikometri dari skala kecemasan wajah. Faces anxiety scale for children menunjukkan berbagai tingkat kecemasan. Skor 0 memberikan gambaran tidak ada kecemasan sama sekali, skor 1 (menggambarkan lebih sedikit kecemasan), skor 2 (menggambarkan sedikit kecemasan), skor 3 (menggambarkan kecemasan) dan skor 4 (menggambarkan kecemasan yang ekstrim pada anak).

F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen 1. Uji Validitas Validitas merupakan suatu indeks yang menunjukan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur (Saryono, 2011). Pengukuran validitas kuisioner dilakukan untuk mengetahui tingkat ketepatan dan kecermatan alat ukur untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Notoatmojdo, 2003). Penelitian ini tidak melakukan uji validitas lagi, karena instrumen yang digunakan untuk penilaian dalam penelitian ini merupakan instrumen baku yang biasa digunakan untuk mengetahui tingkat kecemasan. Adapun nilai uji validitas yang telah didapatkan oleh McMurtry bahwa r hitung lebih besar dari r tabel, dengan nilai r hitung adalah sebesar 0.78. 2. Uji Reliabilitas Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukan sejauh mana suatu alat pengukuran dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Saryono, 2011). Hal ini berarti menunjukan sejauh mana hasil pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan pertimbangan reliabilitas harus dilakukan pada pertanyaan-pertanyaan yang sudah memiliki validitas (Notoatmojdo, 2003). Penelitian ini tidak melakukan uji reliabilitas lagi, karena instrument yang digunakan untuk penilaian dalam penelitian ini merupakan instrument baku yang biasa digunakan untuk mengetahui tingkat kecemasan. Berdasarkan uji reliabilitas yang telah dilakukan oleh McMurtry didapatkan bahwa berdasarkan hasil perhitungan uji reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach

diperoleh nilai r alpha lebih besar dari nila r table dengan hasil reliabilitas yaitu sebesar 0,77 yang artinya reliable dan dapat digunakan dalam penelitian.

G. Teknik Pengumpulan Data 1. Cara Pengumpulan Data a. Pengumpulan data dilakukan di RSUD Banyumas setelah mendapat ijin dari Direktur RSUD Banyumas, Kepala instalasi rawat inap dan Kepala ruang rawat Kanthil. b. Memilih data responden yang memenuhi kriteria inklusi untuk dipilih menjadi sampel. c. Memberikan penjelasan kepada responden dan orang tua tentang tujuan dari terapi musik. d. Memberikan lembar informed consent sebagai bentuk persetujuan dengan orang tua responden, dan meminta orang tua responden untuk memberikan tanda tangannya pada lembar persetujuannya tersebut. e. Melakukan pengukuran kecemasan anak sebelum diberikan terapi musik klasik Mozart saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital menggunakan faces anxiety scale for children. f. Memberikan terapi musik pada responden. g. Melakukan pengukuran kecemasan anak setelah diberikan terapi musik klasik Mozart saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital menggunakan faces anxiety scale for children.

2. Jenis Data a. Data Primer Data primer disebut juga data tangan pertama. Data primer diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau alat pengambilan data, langsung pada subyek sebagai sumber informasi yang dicari (Saryono, 2011). Data primer dalam penelitian ini diperoleh oleh peneliti secara langsung dari hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner dan hasil pengamatan langsung di lapangan (ruang Kanthil RSUD Banyumas). b. Data Sekunder Data sekunder disebut juga data tangan kedua. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subyek penelitian (Saryono, 2011). Data sekunder digunakan untuk melengkapi dan mendukung data primer. Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh oleh peneliti dari pihak RSUD Banyumas. Data yang diperoleh berupa: jumlah pasien rawat inap anak, usia pasien, jenis penyakit, lama rawat pasien dan nama pasien.

H. Pengolahan dan Analisis Data 1. Pengolahan data Menurut Saryono (2011) langkah-langkah dalam memproses data terdiri dari: a. Editing

Data yang terkumpul selanjutnya disusun. Editing adalah memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh para pengumpul data. Tujuannya adalah mengurangi kesalahan atau kekurangan yang ada di daftar pertanyaan. b. Coding Coding adalah mengklasifikasikan jawaban dari para responden ke dalam kategori. Klasifikasi data merupakan usaha untuk

menggolongkan, mengelompokkan dan memilah data berdasarkan klasifikasi tertentu. Kegiatan ini akan memudahkan dalam menguji hipotesis. c. Encoding, scoring dan membuat isian data Scoring adalah memberikan penilaian terhadap item-item yang perlu diberi penilaian atau skor. d. Tabulating: menghasilkan rangkuman data. Tabulating adalah pekerjaa membuat tabel. Jawaban-jawaban yang telah diberi kode kemudian dimasukkan ke dalam tabel. Langkah terakhir dari penelitian ini adalah melakukan analisa data. Selanjutnya data dimasukkan ke komputer dan dianalisis secara statistik. 2. Analisa Data Setelah data terkumpul maka dilakukan analisa data dengan perhitungan statistik dengan cara: a. Analisa Univariat

Analisa univariat merupakan analisis yang dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Pada umumnya dalam analisa ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel

(Notoatmodjo, 2003). Pada penelitian ini akan diketahui distribusi frekuensi mengenai karakteristik umur responden, jenis kelamin responden, dan lama hari rawat responden. b. Analisis Bivariat Analisis bivariat merupakan analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2003). Analisis bivariat dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat

kecemasan anak dengan melihat pre test dan post test. Analisis ini menggunakan uji statistik Uji Mann-Whitney dan Wilcoxon. Uji MannWhitney merupakan uji non-parametrik yang digunakan untuk

membandingkan dua mean populasi yang berasal dari populasi yang sama. Uji Mann-Whitney juga digunakan untuk menguji apakah dua mean populasi sama atau tidak. Untuk menghitung nilai statistik uji Mann-Whitney, rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

Keterangan: U = Nilai uji Mann-Whitney N1= sampel 1

N2= sampel 2 Ri = Ranking ukuran sampel Uji statistik Wilxocon merupakan uji dua sampel berhubungan (dependen), dimana terdapat tahap sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) perlakuan pada masing-masing kelompok. Uji statistik Wilxocon dipilih dalam penelitian ini karena skala data yang digunakan adalah ordinal dan pelaksanaan penelitiannya dilakukan dengan adanya hubungan yaitu tahap pretest dan posttest (Saryono, 2011). Dalam penelitian ini, uji statistik Wilcoxon digunakan untuk mengetahui pengaruh terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi sebelum-sesudah diberikan terapi pada kelompok responden yang diberi perlakuan terapi musik klasik Mozart 30 menit dan sebelum-sesudah diberikan terapi pada kelompok yang diberi terapi musik klasik Mozart selama 45 menit. Adapun rumus uji statistik Wilcoxon yaitu:

th = Se=
Keterangan: D =deviasi/selisih antara nilai sesudah dengan nilai sebelum (Xssd-Xsbl)

= rata-rata deviasi Se= standard error nilai deviasi SD= standard deviasi n = banyak data. I. Etika Penelitian Etika adalah prinsip moral yang memengaruhi tindakan (Saryono, 2011). Etika penelitian menurut Hidayat (2007), terdiri dari 3 macam yaitu: 1. Informed Consent Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan responden, dengan bentuk lembar persetujuan. Lembar persetujuan diberikan sebelum penelitian kepada responden yang akan diteliti. Lembar ini dilengkapi dengan judul penelitian dan manfaat penelitian, sehingga subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian. Bila subjek menolak, maka peneliti tidak boleh memaksa dan harus tetap menghormati hak-hak subjek. 2. Anonimity Anonimity digunakan untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden, tetapi pada lembar tersebut diberikan kode pengganti nama responden. 3. Confidentiality Informasi yang telah dikumpulkan dari responden akan dijamin kerahasiaanya oleh peneliti, dan hanya akan digunakan untuk pengembangan ilmu. Penelitian ini mencantumkan semua nama dan sumber kutipan yang diambil peneliti, baik dari buku, skripsi maupun jurnal. Dalam penelitian ini

responden

bersedia

secara

sukarela

sebagai

responden.

Penelitian

ini

memperhatikan kerahasiaan, sehingga menggunakan inisial saja dan menjamin semua informasi yang dikumpulkan dalam penelitian tidak dibuka di depan publik, kecuali data ilmiah yang dijadikan variabel dalam penelitian ini. Sebelum penelitian dilakukan, terlebih dahulu peneliti memberikan lembar persetujuan kepada setiap responden, sehingga responden dapat memutuskan bersedia ataupun menolak untuk menjadi sampel penelitian.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil 1. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini berjumlah 15 orang pada kelompok yang diberi perlakuan terapi musik klasik Mozart selama 30 menit dan 15 orang pada kelompok yang diberi perlakuan terapi musik klasik Mozart selama 45 menit, sehingga jumlah responden seluruhnya adalah 30 orang, dengan karakteristik yang terdiri dari jenis kelamin, usia anak dan tanda-tanda vital. a. Distribusi Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Distribusi jumlah responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.1. Distribusi Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di RSUD Banyumas No Jenis kelamin Kelompok Jumlah Presentase (%) 30 menit 45 menit 1 Laki-laki 6 7 13 43,3 2 Perempuan 9 8 17 56,7 Total 15 15 30 100 Sumber: Data Primer Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa responden yang terbanyak pada kedua kelompok adalah berjenis kelamin perempuan, dengan rincian pada kelompok 30 menit sebanyak 9 orang dan pada

kelompok 45 sebanyak 8 orang, dengan jumlah presentase keselurahan sebesar 56,7%. b. Distribusi Jumlah Responden Berdasarkan Usia Responden dalam penelitian ini berusia antara 5 sampai 10 tahun. Distribusi jumlah responden berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 4.2. Tabel 4.2. Distribusi Jumlah Responden Berdasarkan Usia No 1 2 3 4 5 6 Umur (tahun) 5 6 7 8 9 10 Total Kelompok Jumlah 30 menit 45 menit 7 2 9 5 2 7 0 4 4 2 1 3 0 1 1 1 5 6 15 15 30 Sumber: Data Primer Presentase (%) 30 23,3 13,3 10 3,4 20 100

Berdasarkan tabel 4.5. dapat diketahui bahwa responden yang terbanyak pada kelompok 30 menit adalah berusia 5 tahun yaitu sebanyak 7 orang, sedangkan pada kelompok 45 menit adalah berusia 10 tahun sebanyak 5 orang. c. Distribusi Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Penyakit Responden dalam penelitian ini menderita berbagai macam penyakit. Distribusi jumlah responden berdasarkan penyakitnya dapat dilihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3. Distribusi jumlah responden berdasarkan penyakitnya No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama penyakit Kelompok 30 menit 45 menit 5 5 Jumlah 10 1 1 1 3 1 3 1 1 1 1 3 1 2 30 Presentase (%) 33,3 3,3 3,3 3,3 10 3,3 10 3,3 3,3 3,3 3,3 10 3,3 6,7 100

Febris PJB (Penyakit 1 0 Jantung Bawaan) Vomitus 1 0 DSS (Dengue 1 0 Syock Syndrom) KD (Kejang 2 1 Demam) Retensi urine 1 0 SN (Sindrom 2 1 Nefrotis) VSR 1 0 Thypoid 1 0 HSP 0 1 Gizi buruk 0 1 GNA (Glomerulo 0 3 Nefritis Akut) DF (Dengue 0 1 Fever) F, SE (Febris dengan suspec 0 2 epilepsi) Total 15 15 Sumber: Data Primer

Berdasarkan tabel 4.3. dapat diketahui bahwa jenis penyakit yang terbanyak diderita oleh responden pada kedua kelompok adalah febris (F), dengan rincian pada kelompok 30 menit sebanyak 5 orang, sedangkan pada kelompok 45 menit sebanyak 5 orang. 2. Tingkat kecemasan anak akibat hospitalisasi a. Distribusi jumlah responden berdasarkan tingkat kecemasan pada anak akibat hospitalisasi (5-10 tahun) di RSUD Banyumas sebelum diberikan terapi.

Responden dalam penelitian ini mengalami tingkat kecemasan yang berbeda-beda akibat hospitalisasi sebelum diberikan terapi musik klasik Mozart. Distribusi jumlah tingkat kecemasan anak akibat hospitalisasi (510 tahun) di RSUD Banyumas sebelum diberikan terapi dapat dilihat pada tabel 4.4. Tabel 4.4. Distribusi jumlah responden berdasarkan tingkat kecemasan pada anak akibat hospitalisasi (5-10 tahun) di RSUD Banyumas sebelum diberikan terapi. No Tingkat Kecemasan Kelompok % 26,7 23,3 45 menit 9 5 1 Jumlah % 30 16,7 3,3 17 12 1 56,7 40 3,3 100 Total 15 15 30 Sumber: Data Primer. N=30. Tahun 2013. Berdasarkan tabel 4.4. diperoleh bahwa tingkat kecemasan anak akibat hospitalisasi di RUSD Banyumas sebelum diberikan terapi dibagi dalam beberapa kategori tingkat kecemasan,pada hasil penelitian ini tingkat kecemasan responden lebih banyak terdapat pada kategori tingkat lebih sedikit kecemasan, hal itu dapat terlihat dari presentase yang Presentase

1 2 3 4 5

30 menit Tidak ada kecemasan Lebih sedikit kecemasan Sedikit kecemasan Mengalami kecemasan Kecemasan ekstrim 8 7 -

diperoleh yaitu 26,7% pada kelompok perlakuan terapi musik klasik Mozart selama 30 menit dan 30% pada kelompok perlakuan terapi musik klasik Mozart selama 45 menit. b. Distribusi jumlah responden berdasarkan tingkat kecemasan pada anak akibat hospitalisasi (5-10 tahun) di RSUD Banyumas setelah diberikan terapi. Responden dalam penelitian ini mengalami tingkat kecemasan yang berbeda-beda akibat hospitalisasi setelah diberikan terapi musik klasik Mozart. Distribusi jumlah tingkat kecemasan anak akibat hospitalisasi (510 tahun) di RSUD Banyumas setelah diberikan terapi dapat dilihat pada tabel 4.5. Tabel 4.5. Distribusi jumlah responden berdasarkan tingkat kecemasan pada anak akibat hospitalisasi (5-10 tahun) di RSUD Banyumas setelah diberikan terapi. Kelompok Presentase Tingkat No Jumlah 30 45 Kecemasan % % menit menit 1 Tidak ada 2 6,7 5 16,6 7 23,3 kecemasan 2 3 4 5 Lebih sedikit kecemasan Sedikit kecemasan Mengalami kecemasan Kecemasan ekstrim Total 8 3 2 26,7 10 6,7 10 33,3 18 3 2 60 10 6,7 100

15

15

30

Sumber: Data Primer. N=30. Tahun 2013.

Berdasarkan tabel 4.5. diperoleh bahwa tingkat kecemasan anak akibat hospitalisasi di RUSD Banyumas setelah diberikan terapi dibagi dalam beberapa kategori tingkat kecemasan, pada hasil penelitian ini tingkat kecemasan responden lebih banyak terdapat pada kategori tingkat lebih sedikit kecemasan, hal itu dapat terlihat dari presentase yang diperoleh yaitu 26,7% pada kelompok perlakuan terapi musik klasik Mozart selama 30 menit dan 33% pada kelompok perlakuan terapi musik klasik Mozart selama 45 menit. Kelompok 30 menit sebelum diberikan terapi musik klasik Mozart jumlah responden yang mengalami lebih sedikit kecemasan sebanyak 8 orang, tetapi setelah diberikan terapi musik klasik Mozart jumlah pasien yang tidak mengalami perubahan (tetap pada tingkat lebih sedikit kecemasan) sebanyak 5 orang, 1 orang responden mengalami peningkatan kecemasan menjadi cemas dan 2 orang responden lainnya menjadi tidak mengalami kecemasan. Sedangkan jumlah pasien yang mengalami sedikit kecemasan sebelum dilakukan terapi musik klasik Mozart berjumlah 7 orang, tetapi setelah diberikan terapi musik klasik Mozart jumlah responden yang tidak mengalami perubahan (tetap pada tingkat sedikit kecemasan) sebanyak 3 orang, responden yang mengalami penurunan tingkat kecemasan menjadi lebih sedikit kecemasan sebanyak 3 orang dan 1 orang mengalami peningkatan kecemasan menjadi cemas. Perubahan tingkat kecemasan pada kelompok 30 menit ini dapat dilihat pada lampiran data kecemasan responden.

Kelompok 45 menit sebelum diberikan terapi musik klasik Mozart jumlah responden yang mengalami lebih sedikit kecemasan sebanyak 9 orang, tetapi setelah diberikan terapi musik klasik Mozart jumlah pasien yang tidak mengalami perubahan (tetap pada tingkat lebih sedikit kecemasan) sebanyak dan 2 orang responden lainnya menjadi tidak mengalami kecemasan. Sedangkan jumlah pasien yang mengalami sedikit kecemasan sebelum dilakukan terapi musik klasik Mozart berjumlah 5 orang, tetapi setelah diberikan terapi musik klasik Mozart semua responden mengalami perubahan tingkat kecemasan, 3 orang mengalami penurunan kecemasan menjadi lebih sedikit kecemasan, dan 2 orang mengalami penurunan menjadi tidak cemas. Sebelum diberikan terapi musik klasik Mozart 1 orang responden mengalami kecemasan, tetapi setelah diberikan terapi responden menjadi tidak cemas. Adapun pada kelompok 45 menit ini terdapat responden yang tertidur ketika diberikan terapi musik klasik Mozart. Perubahan tingkat kecemasan pada kelompok 30 menit ini dapat dilihat pada lampiran data kecemasan responden. 3. Perbedaan Tingkat Kecemasan Anak Sebelum Terapi Musik Klasik Mozart Pada Kelompok 30 Menit dan 45 Menit Tingkat kecemasan anak akibat hospitalisasi berbeda-beda, namun sebelum dilakukan penelitian lebih lanjut dan pemberian perlakuan berupa terapi musik klasik Mozart pada responden, peneliti melakukan penilaian tentang tingkat kecemasan awal pada responden kelompok terapi 30 menit dan kelompok terapi 45 menit dengan menggunakan uji statistik Mann-Whitney.

Uji statistik Mann-Whitney digunakan untuk menguji dua sampel tidak berhubungan (independen), dengan syarat datanya skala ordinal. Uji statistik ini digunakan untuk mengetahui tingkat kecemasan anak akibat hospitalisasi sebelum dilakukan terapi musik klasik Mozart pada kelompok terapi 30 menit dan terapi 45 menit, serta untuk mengetahui perkembangan tingkat kecemasan akibat hospitalisasi sesudah dilakukan terapi musik klasik Mozart pada kelompok terapi 30 menit dan terapi 45 menit. Tingkat kecemasan anak akibat hospitalisasi antara kelompok terapi 30 menit dan kelompok terapi 45 menit sebelum dilakukan pemberian terapi musik klasik Mozart dari hasil analisis uji Mann-Whitney dapat dilihat pada tabel 4.6. Tabel 4.6. Tingkat kecemasan anak akibat hospitalisasi antara kelompok terapi 30 menit dan kelompok terapi 45 menit sebelum dilakukan pemberian terapi musik klasik Mozart. p Value Kelompok n Z test Sebelum 30 menit 45 menit Total 15 15 30 -0,328 0,743

Berdasarkan Tabel 4.6. diketahui bahwa hasil analisis dari uji statistik Mann-Whitney pada saat sebelum terapi diperoleh nilai p value sebesar 0,743 dengan =0,05. Karena nilai p value>0,05, maka Ho diterima yang berarti tidak ada perbedaan tingkat kecemasan pasien yang mengalami hospitalisasi pada kelompok 30 menit dan kelompok 45 menit, dengan kata lain kelompok 30 menit dan kelompok 45 menit memiliki tingkat kecemasan yang sama sebelum dilakukan pemberian terapi musik klasik Mozart.

4. Pengaruh Pemberian Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Anak Yang Mengalami Hospitalisasi Pada Kelompok Terapi 30 Menit dan Kelompok Terapi 45 Menit. Sesuai dengan hasil analisis uji statistik Mann-Whitney diatas yang menunjukan bahwa tidak ada perbedaan tingkat kecemasan pasien yang mengalami hospitalisasi pada kelompok 30 menit dan kelompok 45 menit, maka dapat dilanjutkan dengan pemberian perlakuan berupa pemberian terapi musik klasik Mozart pada responden kelompok 30 menit dengan pemberian terapi musik klasik Mozart selama 30 menit dan pemberian terapi musik klasik Mozart pada responden kelompok 45 menit dengan pemberian terapi musik klasik Mozart selama 45 menit. Untuk melihat pengaruhnya terhadap tingkat kecemasan akibat hospitalisasi sebelum dan sesudah pemberian terapi musik klasik Mozart pada kedua kelompok responden maka digunakan uji statistik Wilcoxon. Uji statistik Wilcoxon digunakan untuk menguji dua sampel yang berhubungan, dimana terdapat tahap pretest dan posttest perlakuan pada masing-masing kelompok. Tingkat kecemasan akibat hospitalisasi pada masing-masing kelompok dengan menggunakan uji Wilcoxon, dapat dilihat pada tabel 4.7. dan tabel 4.8. a. Perubahan Tingkat Kecemasan Akibat Hospitalisasi Sebelum Dan Setelah Pemberian Terapi Musik Klasik Mozart Pada Kelompok Terapi 30 Menit (n=15).

Perubahan tingkat kecemasan akibat hospitalisas sebelum dan setelah pemberian terapi musik klasik Mozart pada responden kelompok 30 menit dapat dilihat pada tabel 4.7. Tabel 4.7. Perubahan tingkat kecemasan akibat hospitalisasi sebelum dan setelah pemberian terapi musik klasik Mozart pada kelompok terapi 30 menit (n=15) Variabel Tingkat kecemasan anak sebelum terapi 30 menit N 15 Mean 4.00 -1,134 Tingkat kecemasan 15 4.00 anak sesudah terapi 30 menit Sumber: Data Primer. n=15. Tahun 2013. Berdasarkan tabel 4.7. hasil analisis menggunakan uji statistik Wilcoxon dengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05) diperoleh nilai p value adalah 0,257 dengan demikian p value > (0,257 >0,05), maka Ho diterima. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di RSUD Banyumas pada kelompok 30 menit. b. Perubahan Tingkat Kecemasan Akibat Hospitalisasi Sebelum Dan Setelah Pemberian Terapi Musik Klasik Mozart Pada Kelompok Terapi 45 Menit (n=15). Perubahan tingkat kecemasan akibat hospitalisas sebelum dan setelah pemberian terapi musik klasik Mozart pada responden kelompok 30 menit dapat dilihat pada tabel 4.8. 0,257 Z test p Value

Tabel 4.8. Perubahan tingkat kecemasan akibat hospitalisasi sebelum dan sesudah pemberian terapi musik klasik Mozart pada kelompok terapi 45 menit (n=15). Variabel Tingkat kecemasan anak sebelum terapi 45 menit N 15 Mean 0,00 Z test p Value

-2,724 Tingkat kecemasan 15 5,00 anak sesudah terapi 45 menit Sumber: Data Primer. n=15. Tahun 2013. Berdasarkan tabel 4.8. hasil analisis menggunakan uji statistik Wilcoxon dengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05). Berdasarkan hasil uji ini, didapatkan nilai p value adalah 0,006 dengan demikian p value < (0,006<0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di RSUD Banyumas pada kelompok 45 menit. 5. Tingkat Kecemasan Anak Sesudah Terapi Musik Klasik Mozart Pada Kelompok 30 Menit dan 45 Menit Uji statistik yang selanjutnya digunakan adalah uji statistik MannWhitney. Berdasarkan hasil uji statistik Wilcoxon yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di RSUD Banyumas pada kelompok 45 menit, maka perlu dilakukan uji

0,006

untuk mengetahui perbedaan pengaruh durasi pemberian terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan akibat hospitalisasi pada kelompok 30 menit dan 45 menit dengan menggunakan uji statistik Mann-Whitney. Tabel 4.9. Tingkat kecemasan anak akibat hospitalisasi antara kelompok terapi 30 menit dan kelompok terapi 45 menit sesudah dilakukan pemberian terapi musik klasik Mozart. p Value Kelompok n Z test Sesudah 30 menit 45 menit Total 15 15 30 -2,246 0,025

Berdasarkan tabel 4.9. diketahui bahwa hasil analisis dari uji statistik Mann-Whitney pada saat sesudah perlakuan diperoleh nilai p value sebesar 0,025 dengan =0,05. Karena nilai p value < 0,05 (0,025<0,05) maka Ho ditolak yang berarti terdapat perbedaan pengaruh durasi pemberian terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di RSUD Banyumas pada kelompok terapi 30 menit dan 45 menit sesudah diberikan terapi musik klasik Mozart, dengan kata lain antara kelompok 30 menit dan 45 menit memiliki tingkat kecemasan yang berbeda setelah dilakukan pemberian terapi musik klasik Mozart. B. Pembahasan 1. Karakteristik Responden Di RSUD Banyumas a. Jenis Kelamin Jumlah penduduk anak Indonesia pada rentang usia 5-12 tahun menurut hasil Sensus Penduduk 2010 adalah 18.680 juta anak laki-laki dan

17.714 juta anak perempuan (Profil Anak Indonesia, 2012). Jumlah pasien anak usia 5-10 tahun di ruang Kanthil selama penelitian adalah 37 orang anak perempuan dan 49 orang anak laki-laki (buku register ruang kanthil, 2013). Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah responden terbanyak berdasarkan jenis kelamin adalah perempuan pada kelompok 30 menit sebanyak 9 orang dan pada kelompok 45 menit sebanyak 8 orang, dengan jumlah presentase keseluruhan sebesar 56,7%. Karena usia responden dalam penelitian ini mempunyai rentang antara usia 5 tahun sampai dengan 10 tahun, hal itu sesuai dengan pernyataan Monks, Knoers, dan Rahayu (2006), bahwa anak usia sekolah mengalami kecemasan dan kecakapan verbal lebih banyak pada anak perempuan. Sedangkan agresi, aktifitas, dominasi, impulsifitas, kecakapan pengamatan ruang dan kecakapan kuantitatif lebih banyak pada laki-laki. Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti juga sesuai dengan penelitian Sari dan Sulisno (2012) bahwa anak perempuan lebih cemas daripada anak laki-laki karena anak perempuan lebih sensitif dan mendapat stressor lebih intensif daripada anak laki-laki yang eksploratif. Hasil penelitian tidak sesuai dengan pendapat Wong (2007) yang menyatakan anak perempuan pada umumnya lebih adaptif terhadap stressor dibanding anak laki-laki. Stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan disebut stressor. Stressor menunjukkan suatu kebutuhan yang tidak terpenuhi dan kebutuhan tersebut bisa saja kebutuhan fisiologis, psikologis, sosial, lingkungan, perkembangan,

spiritual, atau kebutuhan kultural (Potter & Perry, 2005). Selama hospitalisasi anak-anak mengalami stress akan kebutuhan psikologis seperti perhatian dari orang tua dan keluarga, kebutuhan sosial seperti bertemu dengan teman-temannya, kebutuhan lingkungan seperti anak ingin berada di lingkungan rumahnya dan kebutuhan perkembangan seperti bermain dengan teman sebaya. Anak laki-laki merupakan salah satu faktor risiko yang membuat anak-anak tertentu lebih mudah tersinggung dibandingkan anak lain dalam kondisi stress saat hospitalisasi (Wong, 2007). b. Usia Berdasarkan buku register di ruang Kanthil diketahui bahwa selama penelitian jumlah pasien anak usia 5 tahun adalah sebanyak 24 anak, usia 6 tahun sebanyak 14 anak, usia 7 tahun sebanyak 12 anak, usia 8 tahun sebanyak 16 anak, usia 9 tahun sebanyak 4 anak dan usia 10 tahun sebanyak 16 anak. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti diketahui bahwa responden yang terbanyak pada kelompok 30 menit adalah responden berusia 5 tahun yaitu sebanyak 7 orang, dan pada kelompok 45 menit jumlah responden terbanyak adalah responden berusia 10 tahun yaitu sebanyak 5 orang. Masa kanak-kanak dalam disiplin ilmu psikologi merupakan rentang yang cukup panjang yaitu antara usia 2 tahun sampai dengan 11 atau 12 tahun. Dengan mempertimbangkan karakteristik dan tugas perkembangan yang berbeda, masa anak terbagi menjadi dua periode yaitu periode anak awal dan anak akhir. Periode anak awal

berkisar dari usia dua sampai dengan enam tahun (2-6 tahun) dan periode anak akhir dari usia enam sampai dengan tibanya masa kematangan secara seksual, yaitu masa pubertas. Pengklasifikasian anak awal dan anak akhir mengacu pula pada usia dimana anak awal merupakan usia prasekolah dan anak akhir merupakan usia sekolah dasar (Maslihah, 2006). Apabila dilihat dari klasifikasi pembagian kelompok usia, maka jumlah responden terbanyak ada pada kelompok anak usia prasekolah yaitu berjumlah 16 orang (usia 5-6 tahun), dan sisanya berjumlah 14 orang berada pada kelompok anak usia sekolah. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa jumlah mayoritas anak yang mengalami kecemasan akibat hospitalisasi adalah anak usia prasekolah dengan jumlah 16 orang. Umumnya anak usia pra sekolah jika dirawat di rumah sakit akan timbul rasa takut baik pada dokter ataupun perawat, apalagi jika anak telah mempunyai pengalamanan mendapatkan imunisasi. Dalam bayangannya, perawat atau dokter akan menyakiti dengan cara menyuntik. Selain itu anak akan merasa terganggu hubungannya dengan orang tua atau saudaranya. Lingkungan di rumah tentu berbeda bentuk dan suasananya dengan alat-alat yang ada di ruang perawatan. Reaksi pertama selain ketakutan juga pasien kurang nafsu makan bahkan anak yang masih kecil menangis, tidak mau minum susu atau makan makanan yang diberikan (Ngastiyah, 2005). Kecemasan pada anak usia sekolah adalah kecemasan karena perpisahan dengan kelompok, mengalami luka pada tubuh dan

nyeri dan kehilangan kontrol juga dapat menimbulkan kecemasan (Wong & whaley, 2007). Dampak hospitalisasi pada anak yaitu anak akan cenderung lebih manja, minta perhatian lebih pada orang tua serta bersikap cuek pada perawat yang akan merawatnya karena anak belum dapat beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit. Stres yang umumnya terjadi berhubungan dengan hospitalisasi adalah takut akan unfamiliarity, lingkungan rumah sakit yang menakutkan, rutinitas rumah sakit, prosedur yang menyakitkan, dan takut akan kematian. Reaksi emosional pada anak sering ditunjukkan dengan menangis, marah dan berduka sebagai bentuk yang sehat dalam mengatasi stres karena hospitalisasi (Elfira, 2011). c. Jenis Penyakit Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti diketahui bahwa jenis penyakit yang terbanyak diderita oleh kedua kelompok adalah febris (F), dengan rincian pada kelompok 30 menit sebanyak 5 orang, sedangkan pada kelompok 45 menit sebanyak 5 orang. Febris (demam) adalah kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 380C) dan sebagai respon normal tubuh terhadap infeksi, infeksi merupakan penyebab demam terbanyak pada anak-anak. Suhu tubuh dikendalikan oleh suatu bagian dari otak yang disebut hipotalamus. Hipotalamus berusaha agar suhu tubuh tetap hangat (36,5-37,50C) meskipun lingkungan luar tubuh berubah-ubah. Hipotalamus mengatur suhu dengan cara menyeimbangkan antara produksi panas pada otot dan hati, dan pengeluaran panas pada kulit dan

paru-paru. Ketikaa terjadi infeksi, sistem kekebalan tubuh meresponnya dengan melepaskan zat kimia dalam aliran darah. Zat kimia tersebut akan merangsang hipotalamus untuk menaikkan suhu tubuh dan akhirnya akan menambah jumlah sel darah putih yang berguna dalam melawan kuman (FKUI, 2007). Pada penelitian ini mayoritas responden mengalami febris, karena febris merupakan tanda dan gejala dari penyakit lainnya sehingga perlu dilakukan observasi lebih lanjut agar tidak terjadi komplikasi lanjutan dan merupakan kebijakan rumah sakit.

2. Tingkat Kecemasan Responden a. Perbedaan Tingkat Kecemasan Anak Sebelum Terapi Musik Klasik Mozart Pada Kelompok 30 Menit dan 45 Menit Hasil penelitian menunjukan bahwa pada awalnya tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi di RSUD Banyumas tidak memiliki perbedaan antara kelompok 30 menit dan kelompok 45 menit. Hal itu terlihat pada tabel 4.6. dimana diperoleh nilai p value sebesar 0,743 dengan =0,05. Karena nilai p value>0,05, yang berarti tidak ada perbedaan tingkat kecemasan pasien yang mengalami hospitalisasi pada kelompok 30 menit dan kelompok 45 menit, dengan kata lain kelompok 30 menit dan kelompok 45 menit memiliki tingkat kecemasan yang sama sebelum dilakukan pemberian terapi musik klasik Mozart, hal ini merupakan syarat baik dilakukannya penelitian eksperimental.

Pendekatan riset eksperimental membandingkan 2 kelompok yang homogen, seperti contoh subjek responden yang memiliki nyeri angina ringan dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok pertama sebagai kelompok eksperimental dan kelompok lainnya sebagai kelompok kontrol, pada awal perlakuan kedua kelompok tersebut memiliki tingkat nyeri angina yang sama, kemudian diberikan perlakuan pada kelompok eksperimental untuk melihat apakah ada perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok tersebut (Demsey P.A & Demsey A. D., 2002). Sesuai dengan tinjauan pustaka diatas maka pada pendekatan eksperimental kelompok kontrol dan kelompok perlakuan memiliki kesetaraan (homogen), sehingga

eksperiment dapat dilakukan untuk melihat perubahan pada kedua kelompok untuk melihat hasil signifikan setelah eksperiment. Peneliti melakukan pengukuran terlebih dahulu tentang tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi untuk memastikan perubahan tingkat kecemasan setelah diberikan terapi musik klasik Mozart. b. Perubahan Tingkat Kecemasan Akibat Hospitalisasi Sebelum Dan Sesudah Pemberian Terapi Musik Klasik Mozart Pada Kelompok Terapi 30 Menit Berdasarkan tabel 4.7. menunjukan bahwa pada kelompok 30 menit tidak menunjukan perubahan tingkat kecemasan yang signifikan pada saat sebelum dan sesudah terapi. Hasil analisis menggunakan uji statistik Wilcoxon dengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05) diperoleh nilai p value adalah 0,257 dengan demikian p value > (0,257 >0,05),

maka Ho diterima. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di RSUD Banyumas pada kelompok 30 menit. Hal ini dapat disebabkan karena ketika diberikan terapi musik klasik Mozart responden juga mendapat tindakan invasif yang menimbulkan rasa sakit sehingga meningkatkan kecemasan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Miller & Bornstein cit Schou (2008) dalam perbandingan beberapa metode yang dilakukan oleh Miller dan Bornstein didapatkan hasil bahwa pemberian terapi musik selama 30 menit tidak memiliki efek meningkatkan relaksasi. Sehingga mereka menyarankan untuk menambah durasi pemberian terapi musik yang lebih lama, hal ini diharapkan akan memberikan hasil yang lebih baik. Tetapi penelitian ini tidak sejalan dengan dengan hasil penelitian Suhartini (2008) Terapi musik adalah sebuah terapi kesehatan yang menggunakan musik di mana tujuannya adalah untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi fisik, emosi, kognitif, dan sosial bagi individu dari berbagai kalangan usia. Pemberian terapi musik selama 30 menit efektif untuk menurunkan perubahan respon fisiologis terhadap kecemasan yang dirawat diruang ICU-ICCU. Dan hasil penelitian ini juga tidak sejalan dengan hasil penelitian Arslan, Ozer, & Ozyurt (2008). Pemberian durasi musik selama 30 menit penggunaan terapi musik bermanfaat sebagai intervensi keperawatan mandiri untuk mengelola kecemasan pra operasi

pada pasien yang menjalani operasi urogenital. Mendengarkan musik yang dipilih sendiri selama periode pra operasi secara efektif dapat mengurangi tingkat kecemasan dan harus menjadi alat yang berguna ketika sesi pra operasi. c. Perubahan Tingkat Kecemasan Akibat Hospitalisasi Sebelum Dan Sesudah Pemberian Terapi Musik Klasik Mozart Pada Kelompok Terapi 45 Menit Berdasarkan tabel 4.8. hasil analisis menggunakan uji statistik Wilcoxon dengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05). Berdasarkan hasil uji ini, didapatkan nilai p value adalah 0,006 dengan demikian p value < (0,006<0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di RSUD Banyumas pada kelompok 45 menit. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Sendelbach & Halm cit Arslan, Ozer & Ozyurt (2007) Tingkat kecemasan pada kelompok musik secara statistik signifikan lebih rendah pada post test setelah diberikan terapi musik selama 45 menit dibandingkan pada kelompok kontrol. Studi eksperimental menyelidiki efek fisiologis dan psikologis musik pada pasien yang menjalani operasi jantung menemukan penurunan tingkat kecemasan kelompok musik. Studi yang menyelidiki efek musik pada pasien yang lebih tua yang menjalani operasi jantung, tingkat kecemasan

kelompok yang diberi terapi musik lebih rendah daripada kelompok kontrol. Setelah terapi musik selama 45 menit pada pasien operasi jantung ditemukan bahwa musik menjadi lebih bermanfaat untuk relaksasi dan menunjukkan ada perbedaan dalam kelompok, yaitu menunjukkan penurunan kecemasan pada semua kelompok setelah sesi pra operasi dan sesi pasca operasi . Pengaruh yang signifikan ditemukan ketika membandingkan tindakan dilakukan setelah sesi pra operasi dan setelah sesi pasca operasi antara sesi hari ke tiga dan empat, dan perbedaan signifikan yang diidentifikasi dalam efek antar kelompok (Schou, 2008). d. Tingkat Kecemasan Anak Sesudah Terapi Musik Klasik Mozart Pada Kelompok 30 Menit dan 45 Menit Berdasarkan tabel 4.9. diketahui bahwa hasil analisis dari uji statistik Mann-Whitney pada saat sesudah perlakuan diperoleh nilai p value sebesar 0,025 dengan =0,05. Karena nilai p value < 0,05 (0,025<0,05) maka Ho ditolak yang berarti terdapat perbedaan pengaruh durasi pemberian terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tandatanda vital di RSUD Banyumas pada kelompok terapi 30 menit dan 45 menit sesudah diberikan terapi musik klasik Mozart, dengan kata lain antara kelompok 30 menit dan 45 menit memiliki tingkat kecemasan yang berbeda setelah dilakukan pemberian terapi musik klasik Mozart. Perubahan tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi antara kelompok yang diberi terapi musik klasik Mozart selama 30 menit

dan 45 menit mengalami perbedaan. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukan bahwa tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi sesudah diberikan terapi musik klasik Mozart pada kelompok 30 menit tidak mengalami perubahan yang signifikan jika dilihat dari hasil p value, sedangkan pada kelompok 45 menit mengalami perubahan yang signifikan jika dilihat dari hasil p value. Perubahan pada kelompok 45 menit dapat terjadi karena adanya pengaruh durasi yang lebih lama yaitu selama 45 menit pada saat pemberian terapi musik klasik Mozart, dan pada kelompok 30 menit sebelumnya terdapat beberapa masalah, diantaranya ketika diberikan terapi musik terdapat peningkatan kecemasan yang dialami responden akibat prosedur invasif. Pada kelompok 45 menit ada responden yang tertidur saat diberikan terapi, tetapi pada kelompok 30 menit tidak ada responden yang tertidur. Peneliti menggunakan musik klasik Mozart untuk anak dengan judul Mozart Wombsong Musical Soup, dengan tempo yang lambat. Hal ini sejalan bahwa musik klasik Mozart memberikan ketenangan, memperbaiki persepsi spasial dan memungkinkan pasien untuk berkomunikasi baik dengan hati maupun pikiran. Musik klasik Mozart juga memiliki irama, melodi, dan frekuensi tinggi yang dapat merangsang dan menguatkan wilayah kreatif dan motivasi di otak. Musik klasik Mozart memiliki efek yang tidak dimiliki komposer lain. Musik klasik Mozart memiliki kekuatan yang membebaskan, mengobati dan dan menyembuhkan (Musbikin, 2009).

e. Perbedaan Pengaruh Durasi Pemberian Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Anak Yang Mengalami

Hospitalisasi Saat Dilakukan Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital Perbedaan pengaruh durasi pemberian terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi dapat dilihat dari penilaian melalui face anxiety scale for children yang diujikan sebelum dan setelah pemberian terapi pada kedua kelompok. Data dianalisa dengan menggunakan uji statistik Mann-Whitney dan Wilcoxon. Dari uji statistik Mann-Whitney diperoleh nilai p value sebesar 0,025 dengan =0,05; nilai p value<0,05 pada saat sesudah perlakuan, maka Ho ditolak yang berarti terdapat perbedaan pengaruh durasi pemberian terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital pada kelompok 30 menit dan 45 menit. Sedangkan hasil uji menggunakan uji statistik Wilcoxon dengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0,05) didapatkan nilai p value adalah 0,006 dengan demikian p value < (0,006<0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tandatanda vital di RSUD Banyumas pada kelompok 45 menit. Penelitian Soeparmin, Suarjaya dan Tyas (2008) mengenai pengaruh musik klasik terhadap kecemasan anak saat perawatan gigi menunjukkan kecemasan anak berkurang pada perawatan gigi dengan

menggunakan fasilitas musik, dan penurunan kecemasan pada anak perempuan lebih besar dibandingkan anak laki-laki. Anak yang mengalami penurunan kecemasan lebih banyak dibandingkan anak yang mengalami peningkatan kecemasan saat perawatan gigi dengan menggunakan fasilitas musik. Hal ini menunjukkan bahwa musik memilki efek menguntungkan yang signifikan dalam menanggulangi dan menurunkan tingkat kecemasan pasien anak selama perawatan gigi berlangsung. Musik merupakan sebuah rangsangan pendengaran yang

terorganisir yang terdiri dari melodi, ritme dan harmoni. Melodi mempengaruhi tubuh, ritme atau irama mempengaruhi jiwa, sedangkan harmoni mempengaruhi roh. Banyak dari proses kehidupan kita yang berakar dari irama, sebagai contoh, irama detak jantung, pernafasan, sampai berbagai aktivitas otak. Musik dalam bidang kedokteran memiliki hubungan sejarah yang erat dan panjang. Sejak zaman Yunani kuno musik digunakan sebagai sarana untuk meringankan penyakit dan membantu pasien dalam mengatasi emosi yang menyakitkan seperti kecemasan, kesedihan, dan kemarahan. Ketika musik diaplikasikan sebagai salah satu cara distraksi untuk mengurangi kecemasan, musik dapat memberikan kenyamanan dan relaksasi yang merupakan salah satu cara menurunkan `kecemasan psikologis dan prilaku individual yang menunggu perawatan ataupun yang sedang dalam perawatan. Pada saat music diperdengarkan, musik mampu merangsang pengeluaran gamma amino butric acid (GABA), enkephalin, beta endorphin. Zat-zat tersebut dapat menimbulkan

efek analgesia sehingga dapat mengurangi tingkat kecemasan pasien (Soeparmin, Suarjaya dan Tyas, 2008). Musik sebagai gelombang suara dapat meningkatkan suatu respon seperti peningkatan endorphin yang dapat mempengaruhi suasana hati dan dapat menurunkan kecemasan pasien. Musik memiliki sifat yang universal dan sangat mudah diterima oleh organ pendengaran dan tidak dibatasi pula oleh fungsi intelektual. Musik klasik memiliki kejernihan keanggunan, dan kebeningan, musik ini mampu memperbaiki konsentrasi, ingatan, dan persepsi. Pada dasarnya semua jenis musik sebenarnya dapat digunakan dalam usaha menurunkan kecemasan anak. Seringkali dianjurkan memilih musik relaksasi dengan tempo sekitar 60 ketukan/menit, sehingga didapatkan keadaan istirahat yang optimal. Musik klasik sering menjadi acuan karena berirama tenang dan mengalun lembut. Pemilihan musik klasik lebih didasarkan pada keyakinan banyak ahli bahwa irama dan tempo kebanyakan musik klasik mengikuti kecepatan detak jantung manusia yaitu sekitar 60 detak/menit. Terapi musik sangat efektif digunakan untuk mengurangi kecemasan pada pasien yang akan menjalani prosedur medik termasuk pasien anak(Soeparmin, Suarjaya dan Tyas, 2008).

C. Kelemahan Penelitian Kelemahan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Objek penelitian yang hanya dilakukan pada satu institusi rumah sakit saja. Akan lebih baik bila penelitian serupa dilakukan di beberapa rumah sakit dan di lingkungan yang lebih tepat dalam lingkup yang lebih besar serta dilakukan dalam waktu yang lebih lama. 2. Adanya faktor confounding yang tidak dikendalikan pada penelitian ini yaitu: jenis penyakit yang diderita oleh responden, dilakukan tindakan invasif saat yang dilakukan bersamaan dengan terapi musik, pangaruh pengalaman hospitalisasi sebelumnya, dan tidak ada pemisahan kategori kronik maupun kategori akut pada responden.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian dan pembahasan mengenai perbedaan pengaruh durasi pemberian terapi musik klasik Mozart pada anak yang mengalami hospitalisasi di RSUD Banyumas pada saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Karakteristik responden dalam penelitian pada kelompok 30 menit adalah berusia 5 tahun, jenis kelamin perempuan dengan penyakit febris. Sedangkan pada kelompok 45 menit berusia 10 tahun, perempuan dan dengan penyakit febris. 2. Tingkat kecemasan anak sebelum terapi musik klasik Mozart pada kelompok 30 menit dan 45 menit menunjukkan tidak memiliki perbedaan. 3. Tingkat kecemasan anak sebelum dan sesudah terapi musik klasik Mozart pada kelompok 30 menit tidak menunjukan perubahan. 4. Tingkat kecemasan anak sebelum dan sesudah terapi musik klasik Mozart pada kelompok 45 menit menunjukan pengaruh terhadap tingkat kecemasan anak yang mengalami hospitalisasi. 5. Tingkat kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi di RSUD Banyumas sesudah dilakukan terapi musik klasik Mozart antara kelompok 30 menit dan kelompok 45 menit menunjukan adanya perbedaan, dengan kata

lain antara kelompok 30 menit dan kelompok 45 menit memiliki tingkat kecemasan yang berbeda sesudah diberikan terapi musik klasik Mozart. 6. Ada perbedaan pengaruh durasi pemberian terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di RSUD Banyumas pada kelompok 45 menit. B. Saran Berdasarkan penelitian dan pembahasan mengenai perbedaan pengaruh durasi pemberian terapi musik klasik Mozart terhadap tingkat kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital di RSUD Banyumas, peneliti ingin menyampaikan saran sebagai berikut: 1. Bagi institusi Rumah Sakit Bagi institusi Rumah Sakit diharapkan dapat mempertimbangkan untuk diterapkannya sebagai asuhan keperawatan dengan pemberian terapi musik klasik Mozart untuk menurunkan tingkat kecemasan pada pasien anak selama hospitalisasi dan terapi yang diberikan selama minimal 45 menit. 2. Penelitian keperawatan Bagi penelitian keperawatan diharapkan dapat dilakukan penelitian lanjutan mengenai pengaruh terapi musik klasik Mozart terhadap perubahan tanda-tanda vital pada pasien yang mengalami hospitalisasi dan tindakan invasif, dengan pemberian terapi lebih dari sekali selama anak mengalami hospitalisasi.

3. Bagi Masyarakat/orangtua Bagi masyarakat khususnya orangtua dapat mempertimbangkan memberikan terapi mendengarkan musik pada anak yang mengalami kecemasan baik di rumah maupun di rumah sakit.

DAFTAR PUSTAKA

Aidar, N. (2011). Hubungan peran keluarga dengan tingkat kecemasan anak usia sekolah (6-12 tahun) yang mengalami hospitalisasi di ruang III Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan. Skripsi, Universitas Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id/handle /123456789/27095. Amsila, N. (2011). Pengaruh musik klasik dan pop terhadap kemampuan pemecahan masalah spasial ditinjau dari dimensi kepribadian ekstrovert dan introver. Skripsi, Universitas Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/26497. Arslan, Sevban., Ozer, Nadiye., & Ozyurt, Funda. (2008). Effect of music on preoperative anxiety in men undergoing urogenital surgery. Australian Journal of Advanced Nursing, Volume 26, Number 2, 2008. Campbell, D. (2001). Efek mozart, memanfaatkan kekuatan musik untuk mempertajam pikiran, meningkatkan kreativitas, dan menyehatkan tubuh. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Chandler, J. (2008). Anxiety disorders in children and adolescents. http://www.jameschandlermd.com/anxiety/anxiety_disorder.pdf. Demsey, P. A., & Demsey, A. D. (2002). Riset keperawatan edisi 4. Jakarta: EGC. Djohan. (2009). Psikologi musik. Yogyakarta: Best Publisher. Elfira, E. (2011). Pengaruh terapi bermain dengan tehnik bercerita terhadap kecemasan akibat hospitalisasi pada anak pra sekolah di ruang perawatan anak di RSUP H. Adam Malik Medan. Skripsi, Universitas Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id/ handle/123456789/24484. Farida, A. (2010). Efektifitas terapi musik terhadap penurunan nyeri post operasi pada anak usia sekolah di RSUP Haji Adam Malik Medan. Skripsi, Universitas Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/20095. Febriani, L. (2011). Efektifitas terapi musik klasik untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin seksio sesarea di RSUD DR. Pirngadi Medan. Skripsi, Universitas Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/27165.

FKUI. (2007). Ilmu kesehatan anak 2. Editor: Hassan, Ruspeno. & Alatas, Husein. Jakarta: FK UI. Hawari, D. (2004). Manajemen stress, cemas dan depresi. Jakarta: FK UI. Hidayat, A. A. (2005). Pengantar ilmu keperawatan anak 1. Jakarta: Salemba Medika. _____________. (2007). Metode penelitian keperawatan dan teknik analisis data. Jakarta: Salemba Medika. Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2007). Wongs nursing care of infants and children (8th ed.). St. Louis: Mosby Elsevier. Indonesia Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa (Indonesia). (2008). Kamus besar bahasa indonesia pusat bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kamien, R. (2004). Music: an appreciation (4th ed). New York : McGraw-Hill. Kanthil, R. (2013). Buku register ruang kanthil 2013. Banyumas: Ruang Kanthil RSUD Banyumas. Kaplan, H.I & Sadock, B. J. (2002). Sinopsis psikiatri jilid 2. Jakarta: Binarupa Aksara. Kementrian Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak (KPP & PA). (2012). Profil anak indonesia 2012. Jakarta: CV. Miftahur Rizky. Lutfhi, A. (2007). Pengaruh terapi bermain terhadap kecemasan anak pre-sekolah yang dirawat di instalasi rawat inap Rumah Sakit Sarila Husada Sragen. Skripsi, Universitas Muhamadiyah Surakarta. http://etd.eprints.ums.ac.id/16625/. Maslihah, S. (2006). Perkembangan anak usia prasekolah. Materi disampaikan pada pelatihan training for trainer (tft) tingkat nasional lembaga pendidikan prasekolah raudhoh. Bandung: Bumi Kitri. http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/197007262003122SRI_MASLIHAH/MAKALAH_PELATIHAN.pdf McMurtry, C.M., Noel, M., Chambers, C.T., McGrath, P.J. (2011). Childrens fear during procedural pain: Preliminary investigation of the Childrens Fear Scale. Health Psychology, Advanced Access Online. Merritt, S. (2003). Simfoni otak. Bandung : Kaifa. Monks, F. J., Knoers AMP., & Hadinoto, S. R. (2006). Psikologi perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Musbikin, I. (2009). Kehebatan musik untuk mengasah kecerdasan anak. Jogjakarta: Power Books (IHDINA). Ngastiyah. (2005). Perawatan anak sakit edisi 2. Jakarta: EGC. Nevid, J. S. (2005). Psikologi abnormal edisi kelima. Jakarta: Erlangga. Notoatmodjo. (2003). Metodologi penelitian kesehatan edisi ke 2. Jakarta: Rineka Cipta. Nursalam.(2003). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. _________. (2005). Asuhan keperawatan bayi dan anak. Jakarta : Salemba Medika. Primadita, A. (2011). Efektifitas intervensi terapi musik klasik terhadap stress dalam menyusun skripsi pada mahasiswa PSIK UNDIP Semarang. Skripsi, Universitas Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id . Potter & Perry. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan volume 1, Edisi 4. Jakarta: EGC. Prabowo, H. & Regina, H.S. (2007). Tritmen meta musik untuk menurunkan stres. http://repository.gunadarma.ac.id. Purba, M. & Pasaribu, B. M. (2006). Musik populer. Jakarta : Pendidikan Seni Nusantara. Rahayu, I. (2011). Pengaruh mendongeng terhadap penurunan tingkat kecemasan akibat hospitalisasi pada anak usia (6-8 tahun) sekolah di ruang Aster RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Skripsi, Universitas jenderal Soedirman. Rasmun, (2004). Stres, koping dan adaptasi. Jakarta : Sagung Seto. Saryono. (2011). Metodologi penelitian keperawatan. Purwokerto: UPT. Percetakan dan Penerbitan UNSOED. Sari, F. S., & Sulisno, Madya. (2012). Hubungan kecemasan ibu dengan kecemasan anak saat hospitalisasi anak. Journal Nursing Study. Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012. Hal 51-59. Satiadarma, M.(2002). Terapi musik, Cetakan Pertama. Jakarta: Milenia Populer. Satiadarma, M. P & Zahra. (2004), Cerdas dengan musik. Jakarta: Puspa Suara. Schou, K. (2008). Music therapy for post operative cardiac patients, a randomized controlled trial evaluating guided relaxation with music and music

listening on anxiety, pain, and mood. Dissertation Thesis. Department of Communication: Aalborg University. http://www.mt-phd.aau.dk/digitalAssets/6/6484_karin_schou_thesis.pdf. Soeparmin,Soesilo., Suarjaya, I. Kt., & Tyas, M.P. (2008). Peranan musik dalam mengurangi kecemasan anak selama perawatan gigi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar. Spence, S.H., Rapee, R., McDonald, C., & Ingram, M. (2001). The structure of anxiety symptoms among preschoolers. Behaviour research and therapy, 39, 1293 - 1316. Spence, S. H., Barrett, P. M., Turner, C. M. (2003). Psychometric properties of the spence childrens anxiety scale with young adolescents. Journal of Anxiety Disorders, 17 (2003) 605625. Sulistiyani, E. (2009). Pengaruh pemberian kompres es batu terhadap penurunan tingkat nyeri pada anak prasekolah yang dilakukan prosedur pemasangan infus di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Thesis, Universitas Indonesia. www.lontar.ui.ac.id . Supartini, Y. (2004). Buku ajar konsep dasar keperawatan anak, Cetakan 1. Jakarta: EGC. Stuart, G.W & Sundeen, S.J. (1998). Keperawatan jiwa, Edisi 3. Jakarta: EGC. Stuart, G. W. (2001). Buku saku keperawatan jiwa (edisi ketiga). Jakarta: EGC. Stuart, G. W & Laraia, M. T. (2007). Principles and practice of psychiatric nursing 8 th edition. Mosby: Elsevier Mosby. Sugiyono. (2007). Metode penelitian kuantitatif kualitatif. Bandung: Alfabeta. Suhartini. (2008). Effectiveness of music therapy toward reducing patients anxiety in intensive care unit. Media Ners, Volume 2, Nomor 1, Mei 2008, hlm 1-44. http://ejournal.undip.ac.id. Tomb, D. A. (2004). Buku saku psikiatri edisi keenam. Jakarta: EGC. Videbeck, S. L. (2008). Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta : EGC. Wedyana D, A. A, (2009). Hubungan pola asuh orang tua terhadap tingkat kecemasan anak usia sekolah yang menjalani rawat inap di RSUD Prof. Dr. Margono. Skripsi, Universitas Jenderal Soedirman. Wong dan Whaleys. (2007). Nursing care of infants and children, 8th edition. St Louis: Mosby.

Wong, D. L., Eaton, M. H., Wilson, D., Winkelstein, M. L., Schwartz, P. (2009). Buku ajar keperawatan pediatrik, Volume 2. Jakarta : EGC.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Permohonan menjadi responden

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth. Orang Tua Responden Di Ruang Kanthil RSUD Banyumas Dengan Hormat, Saya yang bertanda tangan dibawah ini dengan: Nama : Anjar Mahanani NIM : GID008020 Alamat : Kp. Kalijurang RT 01 RW 03 no. 83 Kec. Purwasari, Kab. Karawang. Jawa Barat. 41373 Adalah mahasiswa Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jendral Soedirman Purwokerto Akan mengadakan penelitian dengan judul Perbedaan Pengaruh Durasi Pemberian Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Tingkat Kecemasan Anak Yang Mengalami Hospitalisasi Saat Dilakukan Pemeriksaan Tanda-tanda Vital di RSUD Banyumas. Penelitian ini tidak akan menimbulkan akibat yang merugikan bagi siapapun. Kerahasiaan seluruh informasi akan dijaga dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. Tidak ada paksaan dalam keikutsertaan anak menjadi responden penelitian. Untuk itu saya mohon kesediaan Bapak/Ibu untuk menjadikan anaknya sebagai responden dalam penelitian ini, jika Bapak/Ibu bersedia anaknya menjadi responden saya mohon Bapak/Ibu menandatangani lembar persetujuan dan menjawab pernyataan-pernyataan pada lembar kuesioner yang telah disediakan. Atas perhatian dan partisipasi Bapak/Ibu selaku orang tua anak saya ucapkan terima kasih. Peneliti

Anjar Mahanani

Lampiran 2. Persetujuan menjadi Responden

PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Setelah mendapat penjelasan dan saya memahami bahwa penelitian yang berjudul Perbedaan Pengaruh Durasi Pemberian Terapi Musik Klasik

Mozart Terhadap Tingkat Kecemasan Anak yang Mengalami Hospitalisasi Saat Dilakukan Pemeriksaan Tanda-tanda Vital di RSUD Banyumas ini
tidak merugikan saya dan anak saya serta telah dijelaskan secara jelas tentang tujuan penelitian, cara pengisian kuesioner dan kerahasiaan data. Oleh karena itu, saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama Orang Tua Nama Anak Usia Anak Alamat : : : :

Menyatakan bersedia turut berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian yang akan dilakukan oleh Anjar Mahanani, Mahasiswa Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Demikian lembar persetujuan ini saya isi dengan sebenar-benarnya agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Purwokerto,........................................ Orang Tua Responden

(.....................................)

Lampiran 3. Data Demografi Responden

DATA DEMOGRAFI RESPONDEN

Perbedaan Pengaruh Durasi Pemberian Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Anak yang Mengalami Hospitalisasi Saat Dilakukan Pemeriksaan Tanda-tanda Vital di RSUD Banyumas

Data ini harap diisi sesuai dengan kondisi yang ada, peneliti akan menjaga kerahasiaannya dan menggunakan data ini sesuai dengan tujuan penelitian.

Identitas Responden 1. Nama Orang Tua 2. Nama Anak 3. Usia Anak 4. Jenis Kelamin Anak : : : :

5. Hasil Pemeriksaan TTV : Pre Test Tekanan Darah Suhu Nadi Pernapasan Post Test

Lampiran 4. McMurtry Anxiety Scale

PERLAKUAN 30 MENIT TTV PRE usia diagnosa SUHU 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 A10 A11 A12 A13 L L L P L P L L P L P L P 6 8 5 5 6 10 6 6 5 5 5 5 6 F F SN thypoid VSD SN Retensi urine KD F KD F DSS F 36 37 35,9 37,3 36 35, 6 36,2 36,9 38,4 37,8 36 38 37,3 NADI 92 115 92 130 100 90 110 105 120 104 100 124 100 RR 28 24 26 27 40 36 28 26 29 28 25 29 27 TD 100/70 90/60 100/60 100/60 90/60 100/70 100/70 100/70 110/70 100/60 90/70 110/70 100/70 SUHU 36,4 36, 5 35,8 36, 9 36,5 35, 6 35,9 36,8 38,4 36, 6 35, 6 38,4 36,3 NADI 97 106 90 90 120 90 110 108 120 110 100 112 100 RR 30 24 25 24 50 35 28 26 30 27 27 29 26 TD 100/70 90/60 100/60 90/60 90/40 100/70 100/60 100/60 110/70 90/60 90/60 110/70 100/60 TTV POST FACES ANXIETY PRE 1 1 2 2 2 1 1 1 2 1 2 2 1 POST 3 1 1 2 3 0 1 0 2 1 1 2 1

NO

KODE

Jenis kelamin

KET

14 15

A14 A15

P L

5 8

vomitus PJB

37,3 36,2

100 115

26 29

100/60 110/70

37 36,9

100 116

27 28

100/60 110/70

1 2

1 1

PERLAKUAN 45 MENIT
Jenis kelamin TTV PRE usia diagnosa SUHU 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 F10 P P L P P L P L L L 10 10 10 10 6 7 7 10 6 9 HSP Gizi buruk F, SE F F F F, SE SN GNA GNA 36,4 36,8 36,1 36,2 35, 6 37,1 36,9 36,3 36,4 36 NADI 80 84 88 112 98 110 100 110 115 104 RR 27 22 24 24 27 26 27 27 28 26 TD 100/70 100/60 100/70 100/60 90/60 100/60 110/70 100/60 110/70 100/70 SUHU 36,3 36,7 36 36 36 36,8 37 36, 5 36, 6 36,8 NADI 96 96 87 108 99 110 100 110 113 100 RR 28 24 22 23 28 27 27 27 26 27 TD 110/90 110/60 100/70 100/60 90/60 100/60 100/70 100/60 100/70 100/70 PRE 1 2 1 1 1 1 3 1 1 1 POST 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 TTV POST FACES KET

NO

KODE

11 12 13 14 15

F11 F12 F13 F14 F15

L P P L L

8 5 5 7 7

F KD DF GNA F

37,2 36 36,3 35,6 37, 5

100 110 100 112 110

27 27 26 27 26

100/60 90/70 90/60 90/70 100/70

36,8 36, 5 36,3 35,2 36, 5

100 106 100 120 110

27 28 26 28 26

110/70 90/60 90/60 100/70 90/70

2 2 2 1 2

1 0 1 1 1

Keterangan: Skor 0 = tidak ada kecemasan sama sekali Skor 1 = lebih sedikit kecemasan Skor 2 = sedikit kecemasan Skor 3 = mengalami kecemasan Skor 4 = kecemasan ekstrim = Peningkatan tingkat kecemasan = Penurunan tingkat kecemasan = Tetap/tidak berubah

NPar Tests Wilcoxon Signed Ranks Test


Ranks N Pos Perlakuan 30 Menit Pre Perlakuan 30 Menit Negativ e Ranks Positiv e Ranks Ties Total 5a 2b 8c 15 Mean Rank 4.00 4.00 Sum of Ranks 20.00 8.00

a. Pos Perlakuan 30 Menit < Pre Perlakuan 30 Menit b. Pos Perlakuan 30 Menit > Pre Perlakuan 30 Menit c. Pos Perlakuan 30 Menit = Pre Perlakuan 30 Menit

Test Statisticsb Pos Perlakuan 30 Menit - Pre Perlakuan 30 Menit -1.134a .257

Z Asy mp. Sig. (2-t ailed)

a. Based on positiv e ranks. b. Wilcoxon Signed Ranks Test

NPar Tests Wilcoxon Signed Ranks Test

Ranks N Pos Perlakuan 45 Menit Pre Perlakuan 45 Menit Negativ e Ranks Positiv e Ranks Ties Total 9a 0b 6c 15 Mean Rank 5.00 .00 Sum of Ranks 45.00 .00

a. Pos Perlakuan 45 Menit < Pre Perlakuan 45 Menit b. Pos Perlakuan 45 Menit > Pre Perlakuan 45 Menit c. Pos Perlakuan 45 Menit = Pre Perlakuan 45 Menit

Test Statisticsb Pos Perlakuan 45 Menit - Pre Perlakuan 45 Menit -2.724a .006

Z Asy mp. Sig. (2-t ailed)

a. Based on positiv e ranks. b. Wilcoxon Signed Ranks Test

NPar Tests Mann-Whitney Test


Ranks Pre Perlakuan Kelompok 30 Menit 45 Menit Total N 15 15 30 Mean Rank 15.03 15.97 Sum of Ranks 225.50 239.50

Test Statisticsb Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asy mp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-t ailed Sig.)] Pre Perlakuan 105.500 225.500 -.328 .743 .775
a

a. Not corrected f or ties. b. Grouping Variable: Kelompok

NPar Tests Mann-Whitney Test


Ranks Pos Perlakuan Kelompok 30 Menit 45 Menit Total N 15 15 30 Mean Rank 18.67 12.33 Sum of Ranks 280.00 185.00

Test Statisticsb Pos Perlakuan 65.000 185.000 -2.246 .025 .050


a

Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asy mp. Sig. (2-t ailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

a. Not corrected f or ties. b. Grouping Variable: Kelompok

TTV PRE PERLAKUAN 30 MENIT


Frequencies

Frequency Table

Jenis kel amin Frequency 6 9 15 Percent 40.0 60.0 100.0 Valid Percent 40.0 60.0 100.0 Cumulat iv e Percent 40.0 100.0

Valid

Laki-laki Perempuan Total

Usia Frequency 7 5 2 1 15 Percent 46.7 33.3 13.3 6.7 100.0 Valid Percent 46.7 33.3 13.3 6.7 100.0 Cumulativ e Percent 46.7 80.0 93.3 100.0

Valid

5 6 8 10 Total

Suhu (oC) Frequency 1 1 3 2 1 1 3 1 1 1 15 Percent 6.7 6.7 20.0 13.3 6.7 6.7 20.0 6.7 6.7 6.7 100.0 Valid Percent 6.7 6.7 20.0 13.3 6.7 6.7 20.0 6.7 6.7 6.7 100.0 Cumulativ e Percent 6.7 13.3 33.3 46.7 53.3 60.0 80.0 86.7 93.3 100.0

Valid

35.6 35.9 36.0 36.2 36.9 37.0 37.3 37.8 38.0 38.4 Total

Suhu Frequency 5 10 15 Percent 33.3 66.7 100.0 Valid Percent 33.3 66.7 100.0 Cumulat iv e Percent 33.3 100.0

Valid

Normal Tidak Normal Total

Nadi (kali /menit) Frequency 1 2 4 1 1 1 2 1 1 1 15 Percent 6.7 13.3 26.7 6.7 6.7 6.7 13.3 6.7 6.7 6.7 100.0 Valid Percent 6.7 13.3 26.7 6.7 6.7 6.7 13.3 6.7 6.7 6.7 100.0 Cumulativ e Percent 6.7 20.0 46.7 53.3 60.0 66.7 80.0 86.7 93.3 100.0

Valid

90 92 100 104 105 110 115 120 124 130 Total

Nadi Frequency 10 5 15 Percent 66.7 33.3 100.0 Valid Percent 66.7 33.3 100.0 Cumulat iv e Percent 66.7 100.0

Valid

Normal Tidak Normal Total

RR (kali/meni t) Frequency 1 1 3 2 3 3 1 1 15 Percent 6.7 6.7 20.0 13.3 20.0 20.0 6.7 6.7 100.0 Valid Percent 6.7 6.7 20.0 13.3 20.0 20.0 6.7 6.7 100.0 Cumulativ e Percent 6.7 13.3 33.3 46.7 66.7 86.7 93.3 100.0

Valid

24 25 26 27 28 29 36 40 Total

RR Frequency 10 5 15 Percent 66.7 33.3 100.0 Valid Percent 66.7 33.3 100.0 Cumulat iv e Percent 66.7 100.0

Valid

Normal Tidak Normal Total

Sistol Frequency 3 12 15 Percent 20.0 80.0 100.0 Valid Percent 20.0 80.0 100.0 Cumulativ e Percent 20.0 100.0

Valid

90 100 Total

Diastol Frequency 6 9 15 Percent 40.0 60.0 100.0 Valid Percent 40.0 60.0 100.0 Cumulativ e Percent 40.0 100.0

Valid

60 70 Total

TTV POS PERLAKUAN 30 MENIT


Frequencies

Frequency Table

Suhu (oC) Frequency 2 1 1 1 1 2 1 1 2 1 2 15 Percent 13.3 6.7 6.7 6.7 6.7 13.3 6.7 6.7 13.3 6.7 13.3 100.0 Valid Percent 13.3 6.7 6.7 6.7 6.7 13.3 6.7 6.7 13.3 6.7 13.3 100.0 Cumulativ e Percent 13.3 20.0 26.7 33.3 40.0 53.3 60.0 66.7 80.0 86.7 100.0

Valid

35.6 35.8 35.9 36.3 36.4 36.5 36.6 36.8 36.9 37.0 38.4 Total

Suhu Frequency 7 8 15 Percent 46.7 53.3 100.0 Valid Percent 46.7 53.3 100.0 Cumulat iv e Percent 46.7 100.0

Valid

Normal Tidak Normal Total

Nadi (kali /menit) Frequency 3 1 3 1 1 2 1 1 2 15 Percent 20.0 6.7 20.0 6.7 6.7 13.3 6.7 6.7 13.3 100.0 Valid Percent 20.0 6.7 20.0 6.7 6.7 13.3 6.7 6.7 13.3 100.0 Cumulativ e Percent 20.0 26.7 46.7 53.3 60.0 73.3 80.0 86.7 100.0

Valid

90 97 100 106 108 110 112 116 120 Total

Nadi Frequency 11 4 15 Percent 73.3 26.7 100.0 Valid Percent 73.3 26.7 100.0 Cumulat iv e Percent 73.3 100.0

Valid

Normal Tidak Normal Total

RR (kali/meni t) Frequency 2 1 2 3 2 1 2 1 1 15 Percent 13.3 6.7 13.3 20.0 13.3 6.7 13.3 6.7 6.7 100.0 Valid Percent 13.3 6.7 13.3 20.0 13.3 6.7 13.3 6.7 6.7 100.0 Cumulativ e Percent 13.3 20.0 33.3 53.3 66.7 73.3 86.7 93.3 100.0

Valid

24 25 26 27 28 29 30 35 50 Total

RR Frequency 10 5 15 Percent 66.7 33.3 100.0 Valid Percent 66.7 33.3 100.0 Cumulat iv e Percent 66.7 100.0

Valid

Normal Tidak Normal Total

Sistol Frequency 5 10 15 Percent 33.3 66.7 100.0 Valid Percent 33.3 66.7 100.0 Cumulativ e Percent 33.3 100.0

Valid

90 100 Total

Diastol Frequency 1 9 5 15 Percent 6.7 60.0 33.3 100.0 Valid Percent 6.7 60.0 33.3 100.0 Cumulativ e Percent 6.7 66.7 100.0

Valid

40 60 70 Total

TTV PRE PERLAKUAN 45 MENIT


Frequencies

Frequency Table

Jenis kel amin Frequency 7 8 15 Percent 46.7 53.3 100.0 Valid Percent 46.7 53.3 100.0 Cumulat iv e Percent 46.7 100.0

Valid

Laki-laki Perempuan Total

Usia Frequency 2 2 4 1 1 5 15 Percent 13.3 13.3 26.7 6.7 6.7 33.3 100.0 Valid Percent 13.3 13.3 26.7 6.7 6.7 33.3 100.0 Cumulativ e Percent 13.3 26.7 53.3 60.0 66.7 100.0

Valid

5 6 7 8 9 10 Total

Suhu (oC) Frequency 2 2 1 1 2 2 1 1 1 1 1 15 Percent 13.3 13.3 6.7 6.7 13.3 13.3 6.7 6.7 6.7 6.7 6.7 100.0 Valid Percent 13.3 13.3 6.7 6.7 13.3 13.3 6.7 6.7 6.7 6.7 6.7 100.0 Cumulativ e Percent 13.3 26.7 33.3 40.0 53.3 66.7 73.3 80.0 86.7 93.3 100.0

Valid

35.6 36.0 36.1 36.2 36.3 36.4 36.8 36.9 37.1 37.2 37.5 Total

Suhu Frequency 5 10 15 Percent 33.3 66.7 100.0 Valid Percent 33.3 66.7 100.0 Cumulat iv e Percent 33.3 100.0

Valid

Normal Tidak Normal Total

Nadi (kali /menit) Cumulativ e Percent 6.7 13.3 20.0 26.7 46.7 53.3 80.0 93.3 100.0

Valid

80 84 88 98 100 104 110 112 115 Total

Frequency 1 1 1 1 3 1 4 2 1 15

Percent 6.7 6.7 6.7 6.7 20.0 6.7 26.7 13.3 6.7 100.0

Valid Percent 6.7 6.7 6.7 6.7 20.0 6.7 26.7 13.3 6.7 100.0

Nadi Frequency 12 3 15 Percent 80.0 20.0 100.0 Valid Percent 80.0 20.0 100.0 Cumulat iv e Percent 80.0 100.0

Valid

Normal Tidak Normal Total

RR (kali/meni t) Frequency 1 2 4 7 1 15 Percent 6.7 13.3 26.7 46.7 6.7 100.0 Valid Percent 6.7 13.3 26.7 46.7 6.7 100.0 Cumulativ e Percent 6.7 20.0 46.7 93.3 100.0

Valid

22 24 26 27 28 Total

RR Frequency 15 Percent 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulat iv e Percent 100.0

Valid

Normal

Sistol Frequency 4 9 2 15 Percent 26.7 60.0 13.3 100.0 Valid Percent 26.7 60.0 13.3 100.0 Cumulativ e Percent 26.7 86.7 100.0

Valid

90 100 110 Total

Diastol Frequency 7 8 15 Percent 46.7 53.3 100.0 Valid Percent 46.7 53.3 100.0 Cumulativ e Percent 46.7 100.0

Valid

60 70 Total

TTV POS PERLAKUAN 45 MENIT


Frequencies

Frequency Table

Suhu (oC) Frequency 1 3 2 3 1 1 3 1 15 Percent 6.7 20.0 13.3 20.0 6.7 6.7 20.0 6.7 100.0 Valid Percent 6.7 20.0 13.3 20.0 6.7 6.7 20.0 6.7 100.0 Cumulativ e Percent 6.7 26.7 40.0 60.0 66.7 73.3 93.3 100.0

Valid

35.2 36.0 36.3 36.5 36.6 36.7 36.8 37.0 Total

Suhu Frequency 9 6 15 Percent 60.0 40.0 100.0 Valid Percent 60.0 40.0 100.0 Cumulat iv e Percent 60.0 100.0

Valid

Normal Tidak Normal Total

Nadi (kali /menit) Frequency 1 2 1 4 1 1 3 1 1 15 Percent 6.7 13.3 6.7 26.7 6.7 6.7 20.0 6.7 6.7 100.0 Valid Percent 6.7 13.3 6.7 26.7 6.7 6.7 20.0 6.7 6.7 100.0 Cumulativ e Percent 6.7 20.0 26.7 53.3 60.0 66.7 86.7 93.3 100.0

Valid

87 96 99 100 106 108 110 113 120 Total

Nadi Frequency 13 2 15 Percent 86.7 13.3 100.0 Valid Percent 86.7 13.3 100.0 Cumulat iv e Percent 86.7 100.0

Valid

Normal Tidak Normal Total

RR (kali/meni t) Frequency 1 1 1 3 5 4 15 Percent 6.7 6.7 6.7 20.0 33.3 26.7 100.0 Valid Percent 6.7 6.7 6.7 20.0 33.3 26.7 100.0 Cumulativ e Percent 6.7 13.3 20.0 40.0 73.3 100.0

Valid

22 23 24 26 27 28 Total

RR Frequency 15 Percent 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulat iv e Percent 100.0

Valid

Normal

Sistol Frequency 4 11 15 Percent 26.7 73.3 100.0 Valid Percent 26.7 73.3 100.0 Cumulativ e Percent 26.7 100.0

Valid

90 100 Total

Diastol Frequency 7 8 15 Percent 46.7 53.3 100.0 Valid Percent 46.7 53.3 100.0 Cumulativ e Percent 46.7 100.0

Valid

60 70 Total