Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kemajuan teknologi dan adanya perbaikan prosedur pencitraan dan teknik pembedahan memungkinkan ahli bedah neuro melokalisasi dan mengatasi lesi intrakranial dengan ketepatan lebih besar dari pada sebelumnya. Tindakan bedah Intrakranial atau disebut juga kraniotomi, merupakan suatu intervensi dalam kaitannya dengan masalah-masalah pada Intrakranial. Artinya kraniotomi dilakukan dengan maksud pengambilan sel atau jaringan intrakranial yang dapat terganggunya fungsi neorologik dan fisiologis manusia atau dapat juga dilakukan dengan pembedahan yang dimasudkan pembenahan letak anatomi intrakranial.

1.2 Tujuan Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini, yaitu : 1. Mampu mengetahui pengertian kraniotomi. 2. Mampu menjelaskan indikasi penggunaan kraniotomi. 3. Menggunakan proses keperawatan sebagai kerangka kerja untuk perawatan pasien pre, intra dan pasca kraniotomi. 4. Mengidentifikasi beberapa tindakan pada proses penatalaksanaan pasien bedah. 5. Mengidentifikasi tindakan tindakan keperawatan praoperatif yang dapat menurunkan resiko terjadinya infeksi dan komplikasi pascaoperatif. 6. Mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien operasi kraniotomi.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI

a.

Kraniotomi adalah operasi membuka tulang tengkorak untuk mengangkat tumor, mengurangi TIK, mengeluarkan bekuan darah atau menghentikan perdarahan. (Hinchliff, Sue. 1999).

b.

Kraniotomi mencakup pembukaan tengkorak melalui pembedahan untuk meningkatkan akses pada struktur intrakranial. (Brunner & Suddarth. 2002)

c.

Jadi post kraniotomi adalah setelah dilakukannya operasi pembukaan tulang tengkorak untuk, untuk mengangkat tumor, mengurangi TIK, mengeluarkan bekuan darah atau menghentikan perdarahan.

d. Craniektomy adalah insisi pada tulang tengkorak dan membersihkan tulang dengan memperluas satu atau lebih lubang,. Pembedahan craniektomy dilakukan untuk mengangkat tumor, hematom, luka, atau mencegah infeksi pada daerah tualang tengkorak. e. Cranioplasty adalah memperbaiki kerusakan tulang kepala dengan menggunakan bahan plastic atau metal plate.

2.2 INDIKASI Indikasi tindakan kraniotomi atau pembedahan intrakranial adalah sebagai berikut : a. Pengangkatan jaringan abnormal baik tumor maupun kanker.

b. Mengurangi tekanan intrakranial. c. Mengevakuasi bekuan darah .

d. Mengontrol bekuan darah, e. f. Pembenahan organ-organ intrakranial, Tumor otak,

g. Perdarahan (hemorrage),

h. Kelemahan dalam pembuluh darah (cerebral aneurysms) i. j. Peradangan dalam otak Trauma pada tengkorak.

2.3 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Prosedur diagnostik praoperasi dapat meliputi : a. Tomografi komputer (pemindaian CT) Untuk menunjukkan lesi dan memperlihatkan derajat edema otak sekitarnya, ukuran ventrikel, dan perubahan posisinya/pergeseran jaringan otak, hemoragik. Catatan : pemeriksaan berulang mungkin diperlukan karena pada iskemia/infark mungkin tidak terdeteksi dalam 24-72 jam pasca trauma. b. Pencitraan resonans magnetik (MRI) Sama dengan skan CT, dengan tambahan keuntungan pemeriksaan lesi di potongan lain. c. Electroencephalogram (EEG) Untuk memperlihatkan keberadaan atau berkembangnya gelombang patologis d. Angiografy Serebral Menunjukkan kelainan sirkulasi serebral, seperti pergeseran jaringan otak akibat edema, perdarahan trauma e. Sinar-X Mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur), pergeseran struktur dari garis tengah (karena perdarahan,edema), adanya fragmen tulang f. g. Brain Auditory Evoked Respon (BAER) : menentukan fungsi korteks dan batang otak Positron Emission Tomography (PET) : menunjukkan perubahan aktivitas metabolisme pada otak h. Fungsi lumbal, CSS : dapat menduga kemungkinan adanya perdarahan subarakhnoid i. Gas Darah Artery (GDA) : mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang akan dapat meningkatkan TIK j. Kimia/elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan yang berperan dalam meningkatkan TIK/perubahan mental k. Pemeriksaan toksikologi : mendeteksi obat yang mungkin bertanggung jawab terhadap penurunan kesadaran

l.

Kadar antikonvulsan darah : dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat terapi yang cukup efektif untuk mengatasi kejang. (Doenges, Marilynn.E, 1999)

2.4 PENATALAKSANAAN MEDIS a. PRAOPERASI Pada penatalaksaan bedah intrakranial praoperasi pasien diterapi dengan medikasi antikonvulsan (fenitoin) untuk mengurangi resiko kejang pascaoperasi. Sebelum pembedahan, steroid (deksametason) dapat diberikan untuk mengurangai edema serebral. Cairan dapat dibatasi. Agens hiperosmotik (manitol) dan diuretik (furosemid) dapat diberikan secara intravena segera sebelum dan kadang selama pembedahan bila pasien cenderung menahan air, yang terjadi pada individu yang mengalami disfungsi intrakranial. Kateter urinarius menetap di pasang sebelum pasien dibawa ke ruang operasi untuk mengalirkan kandung kemih selama pemberian diuretik dan untuk memungkinkan haluaran urinarius dipantau. Pasien dapat diberikan antibiotik bila serebral sempat terkontaminasi atau deazepam pada praoperasi untuk menghilangkan ansietas. Kulit kepala di cukur segera sebelum pembedahan (biasanya di ruang operasi) sehingga adanya abrasi superfisial tidak semua mengalami infeksi.

b. PASCAOPERASI Mengurangi Edema Serebral Terapi medikasi untuk mengurangi edema serebral meliputi pemberian manitol, yang meningkatkan osmolalitas serum dan menarik air bebas dari area otak (dengan sawar darah-otak utuh). Cairan ini kemudian dieksresikan melalui diuresis osmotik. Deksametason dapat diberikan melalui intravena setiap 6 jam selama 24 sampai 72 jam ; selanjutnya dosisnya dikurangi secara bertahap.

Meredakan Nyeri dan Mencegah Kejang

Asetaminofen biasanya diberikan selama suhu di atas 37,50C dan untuk nyeri. Sering kali pasien akan mengalami sakit kepala setelah kraniotomi, biasanya sebagai akibat syaraf kulit kepala diregangkan dan diiritasi selama pembedahan. Kodein, diberikan lewat parenteral, biasanya cukup untuk menghilangkan sakit kepala. Medikasi antikonvulsan (fenitoin, deazepam) diresepkan untuk pasien yang telah menjalani kraniotomi supratentorial, karena resiko tinggi epilepsi setelah prosedur bedah neuro supratentorial. Kadar serum dipantau untuk mempertahankan medikasi dalam rentang terapeutik.

Memantau Tekanan Intrakranial Kateter ventrikel, atau beberapa tipe drainase, sering dipasang pada pasien yang menjalani pembedahan untuk tumor fossa posterior. Kateter disambungkan ke sistem drainase eksternal. Kepatenan kateter diperhatikan melalui pulsasi cairan dalam selang. TIK dapat di kaji dengan menyusun sistem dengan sambungan stopkok ke selang bertekanan dan tranduser. TIK dalam dipantau dengan memutar stopkok. Perawatan diperlukan untuk menjamin bahwa sistem tersebut kencang pada semua sambungan dan bahwa stopkok ada pada posisi yang tepat untuk menghindari drainase cairan serebrospinal, yang dapat mengakibatkan kolaps ventrikel bila cairan terlalu banyak dikeluarkan. Kateter diangkat ketika tekanan ventrikel normal dan stabil. Ahli bedah neuro diberi tahu kapanpun kateter tanpak tersumbat. Pirau ventrikel kadang dilakuakan sebelum prosedur bedah tertentu untuk mengontrol hipertensi intrakranial, terutama pada pasien tumor fossa posterior

2.5 KOMPLIKASI PASCABEDAH Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada pasien pascabedah intrakranial atau kraniotomi adalah sebagai berikut : a. Peningkatan tekanan intrakranial

b. Perdarahan dan syok hipovolemik c. Ketidakseimbangan cairan dan elekrolit

d. Infeksi e. Kejang (Brunner & Suddarth. 2002).

2.6 ASUHAN KEPERAWATAN PREOPERASI

a. Pengkajian berdasarkan pola fungsional Gordon pada preoperasi 1) Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan Tanyakan pada klien bagaimana pemahaman pasien dan keluarga tentang rencana prosedur bedah dan kemungkinan gejala sisanya yang dikaji bersamaan dengan reaksi pasien terhadap rencana pembedahan. Menanyakan pada klien tentang pengalaman pembedahan, pengalaman anestesi, riwayat pemakaian tembakau, alcohol, obat-obatan. Biasanya klien mengalami perubahan status kognitif karena pembedahan ang akan dihadapi.

2) Pola nutrisi metabolic Tanyakan kepada klien bagaimana pola makannya sebelum sakit dan pola makan setelah sakit? Apakah ada perubahan pola makan klien? Kaji apa makanan kesukaan klien?kaji riwayat alergi makanan maupun obat-obatan tertentu. Biasanya sebelum pembedahan, pasien dipuasakan selama 6-8 jam. Segala bentuk defisiensi nutrisi dan cairan harus di koreksi sebelum pembedahan untuk memberikan protein yang cukup untuk perbaikan jaringan. Kondisi gizi buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami berbagai komplikasi pasca operasi dan mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di rumah sakit. Balance cairan perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan input dan output cairan. Demikaian juga kadar elektrolit serum harus berada dalam rentang normal.

3) Pola eliminasi Kaji bagaimana pola miksi dan defekasi klien? Apakah mengalami gangguan? Kaji apakah klien menggunakan alat bantu untuk eliminasi nya?. Biasanya klien yang dipasangi keteter akan merasa sakit saat BAK .

4) Pola aktivas latihan Kaji bagaimana klien melakukan aktivitasnya sehari-hari sebelum menghadapi

pembedahan, apakah klien dapat melakukannya sendiri atau malah dibantu keluarga, dan apakah aktivitas terganggu karena perasaan cemas yang dirasakan.

5) Pola istirahat tidur Kaji perubahan pola tidur klien sebelum menghadapi oprasi, berapa lama klien tidur dalam sehari? Apakah klien mengalami gangguan dalam tidur, seperti nyeri dan lain lain. Keadaan pasien yang cemas akan mempengaruhi kebutuhan tidur dan istirahat (Ruth F. Craven, Costance J Himle, 2000). Pada pasien preoperasi yang terencana mengalami kecemasan yang mengakibatkan terjadinya gangguan pola tidur antara 3 5 jam, sedangkan kebutuhan tidur dan istirahat normal adalah antara 7 8 jam. (Gunawan L, 2001).

6) Pola kognitif persepsi Kaji tingkat kesadaran klien, apakah klien mengalami gangguan penglihatan,pendengaran, dan kaji bagaimana klien dalam berkomunikasi? atau lakukan pengkajian nervus cranial.

7) Pola persepsi diri dan konsep diri Kaji bagaimana klien memandang dirinya dengan penyakit yang dideritanya? Apakah klien merasa rendah diri ? biasanya klien akan merasa rendah diri akibat pembedahan yang akan dijalani. Klien akan takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan setelah operasi.

8) Pola peran hubugan Kaji bagaimana peran fungsi klien dalam keluarga sebelum dan selama dirawat di Rumah Sakit? Dan bagaimana hubungan social klien dengan masyarakat sekitarnya?. Pola peran hubungan klien dengan orang lain tergantung dengan kepribadiannya. Klien dengan kepribadian tipe ekstrovert pada orang biasanya memiliki ciri-ciri mudah bergaul, terbuka, hubungan dengan orang lain lancar dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Hal ini akan menyebabkan seseorang lebih terbuka, lebih tenang serta dapat mengurangi rasa cemas dalam menghadapi pra operasi.

9) Pola reproduksi dan seksualitas Kaji apakah ada masalah hubungan dengan pasangan? Apakah ada perubahan kepuasan pada klien berkaitan dengan kecemasan dan ketakutan sebelum operasi? Pada pasien baik preoperasi maupun postoperasi terkadang mengalami masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksualnya

10) Pola koping dan toleransi stress Kaji apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah? Apakah klien menggunakan obatobatan untuk menghilangkan stres? Pada pasien pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan . Takut terhadap anestesi, takut terhadap nyeri atau kematian, takut tentang ketidaktahuaan atau takut tentang derformitas atau ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Smeltzer and Bare, 2002).

11) Pola nilai dan kepercayaan Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi pembedahan?

b. Diagnosa keperawatan preoperasi 1. Depresi berhubungan dengan ketidakpastian pengobatan : pembedahan 2. Kurang pengetahuan tentang persiapan pre operasi berhubungan dengan keterbatasan koginitf. 3. Resiko tinggi peningkatan tekanan intracranial berhubungan dengan metastase tumor ke jaringan lunak. 4. Cemas, berhubungan dengan pengalaman bedah (anesthesi, nyeri) dan hasil akhir dari pembedahan 5. Kurang pengetahuan mengenai prosedur dan protokol pre-operatif dan harapan pasca-operatif

NANDA Cemas, berhubungan dengan pengalaman bedah (anesthesi, nyeri) dan hasil akhir dari pembedahan (p. 242) Defenisi: sebuah perasaan ketidaknyamanan, tidak enak atau takut samar-samar disertai oleh respon otonom sumbernya sering tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu; perasaan ketakutan yang disebabkan oleh antisipasi bahaya. itu adalah mengubah sinyal yang memperingatkan bahaya yang akan datang dan memungkinkan individu untuk mengambil langkah-langkah untuk menghadapi ancaman

Batasan karakteristik: Insomnia Kawatir Menggigil Gelisah Tidak nafsu makan Tekanan darah meningkat Sulit konsentrasi

NOC : Control kecemasan (p. 116) Indikator:

Memonitor intensitas kecemasan Mengeliminasi penyebab kecemasan Menurunkan stimulasi lingkungan ketika cemas Merencanakan strategi koping Gunakan strategi koping yag efektif Gunakan teknik relaksasi Perhatikan hubungan social Laporkan tidur yang tidak adekuat Control respon cemas

NIC Penurunan kecemasan (p.109) Aktifitas: o Gunakan ketenangan, meyakinkan pendekatan o Jelaskan semua prosedur o Lihat untuk mengerti perspektif pasien terhadap situasi stress o Sediakan informasi tentang diagnosis, pengobatan, dan prognosis o Tetap bersama pasien untuk kenyamanan dan mengurangi takut o Tanggapi perilaku o Ciptakan suasana untuk menfasilitasi kepercayaan o Menyemangati secara verbal mengenai perasaan, persepsi, dan ketakutan o Identifikasi perubahan tingkat kecemasan o Bantu pasien mengidentifikasi situasi yang menurunkan kecemasan o Ajarkan klien menggunakan teknik relaksasi o Gunakan obat-obatan untuk mengurangi kecemasan, jika diperlukan

POSTOPERASI a. Pengkajian berdasarkan pola fungsional Gordon pada pasien postoperasi 1) Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan

Tanyakan pada klien bagaimana pandangannya tentang penyakit yang dideritanya dan pentingnya kesehatan bagi klien? Bagaimana pandangan klien tentang penyakitnya setelah pembedahan? Apakah klien merasa lebih baik setelah pembedahan?

2) Pola nutrisi metabolic Tanyakan kepada klien bagaimana pola makannya sebelum sakit dan pola makan setelah sakit? Apakah ada perubahan pola makan klien? Kaji apa makanan kesukaan klien?kaji riwayat alergi klien. Pada pasien pasca pembedahan biasanya tidak diperkenankan menelan makanan sesudah pembedahan. Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif dengan decompresi dan drainase lambung. Makanan yang dianjurkan pada pasien post operasi adalah makanan tinggi protein dan vitamin C. Protein sangat diperlukan pada proses penyembuhan luka, sedangkan vitamin C yang mengandung antioksidan membantu meningkatkan daya tahan tubuh untuk pencegahan infeksi. Pembatasan diit yang dilakukan adalah NPO (nothing peroral) . Biasanya makanan baru diberikan jika: Perut tidak kembung Peristaltik usus normal Flatus positif Bowel movement positif Pemberian infus merupakan usaha pertama untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Monitor cairan per infus sangat penting untuk mengetahui kecukupan pengganti dan pencegah kelebihan cairan. Begitu pula cairan yang keluar juga harus dimonitor.

3) Pola eliminasi Kaji bagaimana pola miksi dan defekasi kliensetelah pembedahan? Apakah mengalami gangguan? Kaji apakah klien menggunakan alat bantu untuk eliminasi nya?. Biasanya klien dipasangi keteter pasca operasi. Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 8 jam post anesthesia inhalasi, IV, spinal.

4) Pola aktivas latihan

Kaji bagaimana klien melakukan aktivitasnya sehari-hari, apakah klien dapat melakukannya sendiri atau malah dibantu keluarga? Biasanya pasien diposisikan untuk berbaring ditempat tidur agar keadaanya stabil. Biasanya posisi awal adalah terlentang, tapi juga harus tetap dilakukan perubahan posisi agar tidak terjadi dekubitus. Pasien yang menjalani pembedahan abdomen dianjurkan untuk melakukan ambulasi dini.

5) Pola istirahat tidur Kaji perubahan pola tidur klien selama sehat dan sakit, berapa lama klien tidur dalam sehari? Apakah klien mengalami gangguan dalam tidur pasca operasi seperti nyeri dan lain lain. Biasanya pasien mengalami gangguan tidur karena nyeri pasca operasi.

6) Pola kognitif persepsi Kaji tingkat kesadaran klien, apakah klien mengalami gangguan penglihatan, pendengaran, dan kaji bagaimana klien dalam berkomunikasi?atau lakukan pengkajian nervus cranial. Kaji apakah ada komplikasi pada kognitif, sensorik, maupun motorik setelah pembedahan. Monitor kondisi umum dan neurologis pasien dilakukan seperti biasanya. Jahitan dibuka pada hari ke 5-7. Tindakan pemasangan fragmen tulang atau kranioplasti dianjurkan dilakukan setelah 6-8 minggu kemudian. CT scan kontrol diperlukan apabila post operasi kesadaran tidak membaik dan untuk menilai apakah masih terjadi hematom lainnya yang timbul kemudian.

7) Pola persepsi diri dan konsep diri Kaji bagaimana klien memandang dirinya dengan penyakit yang dideritanya? Apakah klien merasa rendah diri? Biasanya klien mengalami gangguan citra tubuh karena efek pembedahan.

8) Pola peran hubugan Kaji bagaimana peran fungsi klien dalam keluarga sebelum dan selama dirawat di Rumah Sakit? Dan bagaimana hubungan social klien dengan masyarakat sekitarnya?

9) Pola reproduksi dan seksualitas

Kaji apakah ada masalah hubungan dengan pasangan? Apakah ada perubahan kepuasan pada klien? Pada klien baik preoperasi maupun postoperasi terkadang mengalami masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksualnya

10) Pola koping dan toleransi stress Kaji apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah? Apakah klien menggunakan obatobatan untuk menghilangkan stres?

11) Pola nilai dan kepercayaan Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi penyakitnya? Apakah ada pantangan agama dalam proses penyembuhan klien?

b. Diagnosa keperawatan post operasi Diagnosa keperawatan yang dapat muncul adalah: 1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan pendarahan, edema serebral. 2. Potensial terhadap ketidakefektifan termoregulasi yang berhubungan dengan kerusakan hipotalamus, dehidrasi, dan infeksi. 3. Potensial terhadap kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan hipoventilasi, aspirasi dan imobilisasi. 4. Perubahan sensori persepsi berhubungan dengan edema periorbital, balutan kepala, selang endotrakea dan efek TIK 5. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan atau ketidakmampuan fisik 6. Ganggguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka insisi. 7. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka insisi. 8. Resiko tinggi infeksi berhubungan berhubungan dengan tindakan invasif, penurunan tingkat kesadaran, lamanya, type dari tindakan pembedahan. 9. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan post operasi. 10. Pola nafas inefektif berhubungan dengan gangguan integritas jaringan otak, hypoxemia dampak dari anestesi, serebral edema, area pembedahan sekitar medulla obongata atau pons. 11. Bersihan jalan napas inefektif berhubungan dengan penumpukan secret. 12. Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan efek anastesi.

13. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah

NANDA Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penghentian aliran darah (hemoragi, hematoma); edema cerebral; penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia, disritmia jantung) p. 143 Defenisi : resiko untuk penurunan sirkulasi jaringan serebral. Factor resiko: Tumor otak Cedera kepala Embolus

NOC Perfusi jaringan otak Defenisi: meluasnya aliran darah ke sistem saraf otak dan memelih Indicator: Fungsi neurologis Tekanan intra cranial dalam batas normal Tidak ada muntah

NIC Monitoring tekanan intracranial (p. 345) Defenisi: mengukur dan menginterpretasikan data pasien untuk meregulasi tekanan intra cranial Aktivitas: