Anda di halaman 1dari 18

TOKSIKOLOGI

Toksikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai kerja senyawa kimia yang merugikan terhadap organisme hidup.

Klasifikasi Racun : Toksin absolut : Racun yang zatnya sendiri sudah merupakan racun Toksin fakultatif : zatnya sendiri tidak bersifat toksin tetapi disebabkan proses yang terjadi, daya, tahan tubuh, kondisi dll

Toksin Toksin yang yang bersifat bersifat absolut absolut ;; Nutrasetikal : berasal dari makanan, tumbuhan dan hewan. Farmasetikal : berasal dari penggunaan obat-obatan Xenobiotik : berasal dari zat asing bukan makanan Racun yang terjadi akibat adanya perubahan kimia (fermentasi), karena pembusukan (daging busuk), tempe bongkrek, racun yang terdapat pada udang dan kepiting.

Proses toksikan di dalam tubuh


Toksikan akan melalui barier untuk mencapai target organ Absorpsi: Kemampuan toksikan masuk kedalam peredaran darah Intravenous: Absorpsi yang tidak terbatas (100% diabsorpsi) Inhalasi: Berpenetrasi kedalam kantong alveolar kmd masuk kapiler darah Ingesti: Absorpsi melalui dinding saluran pencernaan (efek fase 1) Intraperitoneal: mealui efek fase 1, tetapi tidak perlu absorpsi melaui ddg pencernaan Dermal/topikal: Perlu absorpsi melaui kulit Distribusi: Proses tranlokasi toksikan dari dan keseluruh tubuh, disimpan, biotransformasi dan dieliminasi Deposit DDT dalam lemak Pb dalam tulang dan gigi Metabolisme: proses biotransformasi, dimana toksikan dimodifikasi melalui sistem enzim dirubah menjadi lebih mudah larut dalam air dan diekskresikan Penurunan kelarutan dalam lemakmenurunkan jumlah toksikan mencapai target organ Peningkatan ionisasipeningkatan ekskresipenurunan daya toksisitas Ekskresi: Toksikan dibuang keluar tubuh melalui beberapa rute: Urinasi: toksikan mudah larut dalam air Exhalasi : komponen mudah menguap di ekshalasi lewat pernafasan Ekskresi cairan empedu melalui ekskresi fekal

Cara masuk toksin dan penyerapannya ke dalam tubuh ; Melalui mulut /alat pencernaan Melalui kulit dengan kontak CS2 (carbon disulfide), Hg, pb dan senyawa organik lainnya seperti senyawa arsen, anilin, tetraetil dsb. Bahan tersebut dapat menimbulkan kerusakan setempat pada kulit, dapat menimbulkan kerusakan sistemik, yaitu keracunan yang mempengaruhi/kerusakan bagian dalam organ tubuh seperti kerusakan ginjal, hati dsb. Melalui saluran pernafasan

Pengaruh/efek bahan-bahan beracun terhadap tubuh :


1. Mempengaruhi sistem sirkulasi darah Vasogenik shock (shock yang disebabkan berkurangnya volume darah pada jaringan sel otak disebabkan adanya penyempitan pembuluh) 2. Mempengaruhi`sistem saraf pusat Sentral : ( hiperexitability) : kejang-kejang, banyak bicara,meracau. Perifer : rasa nyeri, luka bakar bahan kimia pada kulit, selaput lendir pada mulut , tenggorokan dan selaput lendir mata. 3. Pengaruh terhadap alat cerna mual, muntah, nyeri lambung abdominal pain ) dan diare. 4. Pengaruh terhadap saluran kemih Urinary retention. 5. Pengaruh pada hati 6. Pengaruh terhadap keseimbangan air dan elektrolit

Fator-faktor yang mempengaruhi berat ringannya keracunan


Sifat keracunan : akut, kronik, sistemik Cara masuk ke dalam tubuh : pernafasan, oral, kulit Sifat bahan : korisif, iritatif, neurotoksik, hematotoksik/hematotoksik Banyaknya racun yang masuk ke dalam tubuh Jenis/kadar racun : kuat, agak kuat, sedang, lamah Sifat fisika kimia : kecepatan absorpsi, sifat fisik, sifat reaksi jaringan. Keadaan pribadi, mekanisme, eliminasi dan kepekaan seseorang terhadap bahan beracun tersebut

Kriteria toksisitas suatu bahan


Tabel 2. Kriteria dosis urutan daya toksisitas suatu bahan Kriteria Praktis tidak toksik Sedikit toksik Toksik sedang Sangat toksik Amat sangat toksik Super toksik Sumber: Gosseelin dkk(1976) Dosis >15g 5-15g/Kg 0,5-5g/Kg 50-500mg/Kg 5-50mg/Kg <5 mg/Kg Dosis lethal peroral orang (bb~70Kg) Seperempat galon 1/8 s/d galon Satu sendok makan-1/8galon Satu sendok teh s/d 1 sendok makan 7tetes s/d 1 sendok teh Kurang dari 7 tetes

7 Prinsip Pertolongan Pada Keracunan


Emetik Cathartik Netralizer Pengenceran Mengikat racun yang masuk ke dalam tubuh

Antidotum universal oral: carbo adsorben , magnesium oksid dan tanin

Toksin makanan
Jengkol (Pethecolobium lobatum) mengandung, asam amino sistein dan formaldehid. Bijinya mengandung asam jengkol (hamud jengkol) yang sukar larut dalam air, ( air dingin 1 :2000, air mendidih 1 ;200. Kondensasi formaldehid dengan sistein membentuk rantai panjang dapat menimbulkan keracunan. Gejala : urin berwarna merah, bercampur putih seperti air pencuci beras Perut kembung tidak bida bergerak Jika keracunan berat, disertai rasa mual, muntah, tidak dapat BAB, tidak dapat flatus.

Singkong
Singkong, umbi maupun daunnya mengandung zat amydialin yang sewaktu-waktu dapat membebaskan asam sianida (HCN) dari ikatannya. Asam sianida bersifat racun karena menghambat enzim sitokrom oksidase yang berfungsi mengangkut oksigen dalam selsel darah. Hal ini menyebabkan oksigen tidak dapat berikatan dengan Hb untuk membentuk oksi haemoglobin. Gejala : mual, muntah, pusing, sukar bernafas, gerak jantung cepat dan pingsan hingga tidak tertolong. Bila dalam waktu 4 jam masih hidup, maka korban dapat sembuh kembali.

Tempe bongkrek
Tempe bongkrek berasal dari ampas kelapa yang difermentasikan dengan ragi (rizopus oligoporus) yang dapat mengasilkan asam bongkrek sehingga dapat menumbuhkan sejenis cendawan yang menghasilkan racun toksoflavin. Penelitian Dr.van Veen dan Morten, penyebab utamanya disebabkan oleh bakteri Pseudomonas cocovenans, yang menghasilkan racun dari adonan ampas kelapa parutan yang mengandung asam bongkrek. Proses fermentasi adonan panas, suhu mencapai 40o C. Bakteri pseudomonas cocovenans yang dapat memecah minyak Enzim menghidrolisis gliserida gliseral + asam lemak ( as oleat membentuk asam bongkrek dan toksoflavin).

Asam bongkrek dan toksoflavin mempunyai aksi sebagai penghambat (inhibitor) terhadap enzim mitokondria serta pengganggu mekanisme fosforilasi oksidatif, menahan pemecahan karbohidrat dan lemak, menghambat pembentukan ATP atau energi biologis sehingga mengganggu metabolisme glikogen yang menyebabkan kadar gula di dalam darah turun dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu 4 jam.

Asam bonkrek dan toksoflavin stabil sampai suhu 117 oC. Oncom yang menghasilkan racun aflatoksin dapat menyebabkan hepatotoksin. Gejala : hiperglikemia, yang secara berangsur menjadi hipoglikemia, perut kram, muntah-muntah, diare, pusing, hiperdrosis.

Botulisme merupakan salah satu penyakit akibat keracunan makanan yang disebabkan oleh bakteri Chlostridium botulinum. Bakteri tersebut hidup anaerob dan berbentuk spora. Racun botulinum merupakan racun yang sangat kuat terhadap saraf.Botulinum juga toksis bagi hewan.
Tipe A Tipe B Tipe Ca Tipe Cb Tipe D Tipe E Tipe F : makanan kaleng, ikan , sayur buah : daging terutama daging babi : lalat. Tanaman busuk, dan empang basa : hati babi, makanan kuda : terdapat pada bangkai : terdapat pada daging ikan yang tidak dimasak. : Terdapat pada adonan basah hati

Gejala keracunan Sukar menelan, kelumpuhan kelopak mata, disertai kelumpuhan anggota badan seperti lengan dan kaki. Terkadang stress perut, diare, mual dan muntah.

Mycotoxin
Penyakit yang disebabkan oleh jamur (Mycotoxin) Pada makanan basi. Dihasilkan oleh jamur aspegillus, penicillium dan fusarium yang tumbuh dalam kacang-kacangan. Racun jamur yang paling berbahaya : aflatoksin memacu kanker hati Pengaruh toksin Aspergillus flavus : hepatoxin, karsinogenik, mutagenik. Pengaruh toksin Penicillium islandicum : karsinogenik, mutagenik

Pengobatan dan Pertolongan Pertama


Pertolongan untuk semua jenis keracunan dapat diberikan norit, segelas susu dan sebutit telur. Tablet Bicnatric untuk membasakan urin pada keracunan asam jengkolat dan asam bongkrek Menimbukan emesis dengan mengorek dinding pharinx belakang (keracunan ubi, tempe bongkrek, oncom, botulinum & mikotoksin) Pembilasan lambung (gastric Lavage dengan pemberian laksativ. Pada botulisme diberikan antitoksin botulinum 50.000 unit untuk tipe A dan tipe B dan 500 unit untuk tipe E secara iv. Pada botulisme perlu diberikan Dinitriles ( succinil dan N,N-bis 2cyanoethyl)ethylendiamin untuk perlindungan tipe A dan dan Quinidin untuk semua tipe. Untuk keracunan yang menimbulkan kelumpuhan pada pernafasan (keracunan sianida, botulinum) perlu diberikan bantuan pernafasan mekanik (respiration mechanic)

TERIMA KASIH