Anda di halaman 1dari 8

Beberapa Contoh Batuan Sedimen Non Klastik

1. Batu Rijang ( Chert ) adalah batuan sedimen silikaan berbutir halus yang terbentuk secara Biokima. Batuan keras, kompak yang terbentuk oleh kristal kuarsa berukuran lanau (mikrokuarsa) dan kalsedon, sebuah bentuk silika yang terbuat dari serat memancar dengan panjang beberapa puluh hingga ratusan mikrometer. Lapisan rijang terbentuk sebagai sedimen primer atau oleh proses diagenesis. Di atas lantai laut dan danau, kerangka silikaan dari organisme mikroskopik terakumulasi membentuk ooze silikaan. Organisme ini adalah diatom, terdapat di danau dan mungkin juga terakumulasi dalam kondisi laut, meskipun radiolaria lebih umum sebagai komponen utama ooze silikaan di laut. Radiolaria adalah zooplankton (hewan mikroskopik dengan gaya hidup planktonik) dan diatom adalah fitoplankton (tanaman mengambang bebas dan alga). Jika terkonsolidasi, ooze ini akan membentuk lapisan rijang. Silika opalin diatom dan radiolaria adalah metastabil dan terekristalisasi membentuk silika kalsedon atau mikrokuarsa. Rijang yang terbentuk dari ooze sering berlapis tipis dengan lapisan yang disebabkan oleh variasi jumlah material berukuran lempung yang ada. Rijang ini sangat umum dalam lingkungan laut dalam. Beberapa rijang adalah hasil diagenesis, terbentuk oleh penggantian mineral lain oleh air kaya silika yang mengalir melalui batuan. Umumnya mengganti batugamping (contoh sebagai batuapi / flint dalam kapur) dan terkadang terjadi dalam batulumpur. Rijang ini dalam bentuk nodul-nodul atau lapisan irreguler dan dari sini dengan mudah dapat dibedakan dari rijang primer. Jasper adalah rijang dengan pewarnaan merah yang kuat karena adanya hematit. Radiolaria merupakan salah satu jenis rhizopoda yang hidup dilaut dan memilki cangkang yang keras yang mengandung bahan silicon dan kalsium karbonat. Radiolaria hidup bergerombol secara melayang, saat organisme ini terbawa menuju laut dalam dan kemudian mati, maka cangkang-cangkang organisme ini akan diendapkan perlahan didasar laut dalam yang kemudian mengalami akumulasi yang masih saling lepas. Kemudian akumulasi dari cangkang-cangkang tersebut membentuk sebuah batuan yang kompak yaitu batuan sedimen non klastik yang bernama batu Rijang. Dilihat dari kandungannya, batu rijang terbentuk sebagai hasil perubahan kimiawi pada pembentukan batuan endapan terkompresi, pada proses diagenesis. Pada intinya Rijang merupakan batuan yang pada umumnya terbentuk oleh endapan sisa organisme yang mengandung sililka seperti radiolaria. Endapan tersebut dihasilkan dari hasil pemadatan dan rekristalisasi dari lumpur silika organik yang

terakumulasi pada dasar l autan yang dalam. Pembentukan rijang

berpengaruh dengan habi tat radiolaria yang hidup pada lautan, ka arena pada umumnya

sehingga ketikamati terendap kemudian

di laut dalam sangat

radiolaria merupakan orga nisme yang hidup berkoloni di laut dalam radiolaria ini akan terak umulasi dan sisacangkang yang lepas akan

terpadatkan dan mengalam i rekristralisasi dari lumpur silika organik y ang terakumulasi pada

klastik yang bernama

dasar laut dalam yang ke mudian membentuk batuan sedimen non rijang.

dalam yang ke mudian membentuk batuan sedimen non rijang . Gambar 1 : Batu Rijang 2.

Gambar 1 : Batu Rijang

2. Batubara

Batubara merupak an sedimen organik, lebih tepatnya merup akan batuan organik,

terbentuk dari sisa

tumbuhan yang membusu k dan terkumpul dalam suatu daerah denga n kondisi banyak air,

biasa disebut rawa-rawa.

sisa-sisa tumbuhan yang ke mudian mengalami proses perubahan menja di batubara.

yang ditemukan bermacam-macam, ting kat kematangan juga

bervariasi, karena dipeng aruhi oleh kondisi-kondisi lokal. Kondis i lokal ini biasanya kandungan oksigen, tingk at keasaman, dan kehadiran mikroba. Pad a umumnya sisa-sisa

Kondisi tersebut yang menghambat pengur aian menyeluruh dari

terdiri dari kandungan b ermacam-macam pseudomineral. Batubara

Selain tumbuhan

tanaman tersebut dapat be rupa pepohonan, ganggang, lumut, bunga, biasa hidup di rawa-rawa . Ditemukannya jenis flora yang terdapat

serta tumbuhan yang pada sebuah lapisan

batubara tergantung pada kondisi iklim setempat. Dalam suatu cebakan yang sama, sifat-sifat analitik yang ditemukan dapat berbeda, selain karena tumbuhan asalnya yang mungkin berbeda, juga karena banyaknya reaksi kimia yang mempengaruhi kematangan suatu batubara. Secara umum, setelah sisa tanaman tersebut terkumpul dalam suatu kondisi tertentu yang mendukung (banyak air), pembentukan dari peat (gambut) umumnya terjadi. Dalam hal ini peat tidak dimasukkan sebagai golongan batubara, namun terbentuknya peat merupakan tahap awal dari terbentuknya batubara. Proses pembentukan batubara sendiri secara singkat dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan dari sisa-sisa tumbuhan yang ada, mulai dari pembentukan peat (peatifikasi) kemudian lignit dan menjadi berbagai macam tingkat batubara, disebut juga sebagai proses coalifikasi, yang kemudian berubah menjadi antrasit. Pembentukan batubara ini sangat menentukan kualitas batubara, dimana proses yang berlangsung selain melibatkan metamorfosis dari sisa tumbuhan, juga tergantung pada keadaan pada waktu geologi tersebut dan kondisi lokal seperti iklim dan tekanan. Jadi pembentukan batubara berlangsung dengan penimbunan akumulasi dari sisa tumbuhan yang mengakibatkan perubahan seperti pengayaan unsur karbon, alterasi, pengurangan kandungan air, dalam tahap awal pengaruh dari mikroorganisme juga memegang peranan yang sangat penting.

Penyusun Batubara Konsep bahwa batubara berasal dari sisa tumbuhan diperkuat dengan ditemukannya cetakan tumbuhan di dalam lapisan batubara. Dalam penyusunannya batubara diperkaya dengan berbagai macam polimer organik yang berasal dari antara lain karbohidrat, lignin, dll. Namun komposisi dari polimer-polimer ini bervariasi tergantung pada spesies dari tumbuhan penyusunnya.

Lignin Lignin merupakan suatu unsur yang memegang peranan penting dalam merubah susunan sisa tumbuhan menjadi batubara. Sementara ini susunan molekul umum dari lignin belum diketahui dengan pasti, namun susunannya dapat diketahui dari lignin yang terdapat pada berbagai macam jenis tanaman. Sebagai contoh lignin yang terdapat pada rumput mempunyai susunan p-koumaril alkohol yang kompleks. Pada umumnya lignin merupakan polimer dari satu atau beberapa jenis alkohol. Hingga saat ini, sangat sedikit bukti kuat yang mendukung teori bahwa lignin merupakan unsur organik utama yang menyusun batubara.

Karbohidrat Gula atau monosakarida merupakan alkohol polihirik yang mengandung antara lima sampai delapan atom karbon. Pada umumnya gula muncul sebagai kombinasi antara gugus karbonil dengan hidroksil yang membentuk siklus hemiketal. Bentuk lainnya mucul sebagai disakarida, trisakarida, ataupun polisakarida. Jenis polisakarida inilah yang umumnya menyusun batubara, karena dalam tumbuhan jenis inilah yang paling banyak mengandung polisakarida (khususnya selulosa) yang kemudian terurai dan membentuk protein. Protein Protein merupakan bahan organik yang mengandung nitrogen yang selalu hadir sebagai protoplasma dalam sel mahluk hidup. Struktur dari protein pada umumnya adalah rantai asam amino yang dihubungkan oleh rantai amida. Protein pada tumbuhan umunya muncul sebagai steroid, lilin. Proses Pembentukan Batubara Pembentukan batubara pada umumnya dijelaskan dengan asumsi bahwa material tanaman terkumpul dalam suatu periode waktu yang lama, mengalami peluruhan sebagian kemudian hasilnya teralterasi oleh berbagai macam proses kimia dan fisika. Selain itu juga, dinyatakan bahwa proses pembentukan batubara harus ditandai dengan terbentuknya peat. Pembentukan Lapisan Source

Teori Rawa Peat (Gambut) Autocthon Teori ini menjelaskan bahwa pembentukan batubara berasal dari akumulasi sisa- sisa tanaman yang kemudian tertutup oleh sedimen diatasnya dalam suatu area yang sama. Dan dalam pembentukannya harus mempunyai waktu geologi yang cukup, yang kemudian teralterasi menjadi tahapan batubara yang dimulai dengan terbentuknya peat yang kemudian berlanjut dengan berbagai macam kualitas antrasit. Kelemahan dari teori ini adalah tidak mengakomodasi adanya transportasi yang bisa menyebabkan banyaknya kandungan mineral dalam batubara.

Teori Transportasi Allotocton Teori ini mengungkapkan bahwa pembentukan batubara bukan berasal dari degradasi/peluruhan sisa-sisa tanaman yang insitu dalam sebuah lingkungan rawa peat, melainkan akumulasi dari transportasi material yang terkumpul didalam lingkungan aqueous seperti danau, laut, delta, hutan bakau. Teori ini menjelaskan bahwa terjadi proses yang berbeda untuk setiap jenis batubara yang berbeda pula.

Proses Geokimia dan Me tamorfosis Setelah terbentukn ya lapisan source, maka berlangsunglah be rbagai macam proses. Proses pertama adalah dia genesis, berlangsung pada kondisi tempera tur dan tekanan yang

pembentukan batubara

akan terjadi, dan bahkan a kan terbentuk dalam lapisan itu sendiri. Has il dari proses awal ini

adalah peat, atau material lignit yang lunak. Dalam tahap ini proses b iokimia mendominasi, yang mengakibatkan kuran gnya kandungan oksigen. Setelah tahap bio kimia ini selesai maka berikutnya prosesnya dido minasi oleh proses fisik dan kimia yang di tentukan oleh kondisi

temperatur dan tekanan.

Temperatur dan tekanan berperan pent ing karena kenaikan

normal dan juga melibatka n proses biokimia. Hasilnya adalah proses

temperatur akan memperc epat proses reaksi, dan tekanan memungkin kan reaksi terjadi dan

menghasilkan unsur-unsur

karena penimbunan mater ial pada suatu kedalaman tertentu atau ka rena pergerakan bumi secara terus-menerus didal am waktu dalam skala waktu geologi.

gas. Proses metamorfisme (temperatur da n tekanan) ini terjadi

Proses metamorfisme (temperatur da n tekanan) ini terjadi Gambar 2 : Batubara 3. Batu Dolomit Batuan

Gambar 2 : Batubara

3. Batu Dolomit

Batuan dolomite p ertama kali di deskripsikan oleh mineralo gist Francis bernama Deodat de Dolomieu pad a tahun 1791 dari tempat terdapatnya di d aerah Southern Alps.

Batuan ini diberi nama Do lomit oleh de Saussure, dan sekarang pegun ungan tersebut disebut dolomit. Pada saat Dolomi eu menginformasikan bahwasannya batuan d olomite adalah seperti batu gamping, tetapi mem punyai sifat yang tidak sama dengan bat u gamping, pada saat diteteskan larutan asam ba tuan dolomite tidak membuih. Mineral yang tidak beraksi tersebut dinamakan dolomite. Ka dang-kadang dolomite juga disebut dolos tone. Dolomit sangat

dunia perminyakan disebabkan pembentuka nnya terjadi di bawah

penting artinya di dalam

tanah melalui proses alter asi dari kalsit yang ada di batu gamping. P erubahan kimiawi ini

ditandai dengan penguran gan volume dan terjadinya proses rekrista lisasi yang keduanya menghasilkan ruangan te rbuka atau porositas di dalam perlapis an batuan. Porositas

tempat bagi reservoir

minyak bumi. Secara ala miah proses alterasi dari limestone dinam akan dolomitisasi dan

proses kebalikan dari alt erasi tersebut dinamakan dedolomitisasi. masalah besar di dalam sed imentari geologi Karakteristik Fisik Dolo mite:

Keduanya merupakan

menciptakan jalan bagi m inyak bumi untuk mengalir dan menjadi

Berwarna sering mer ah muda atau kemerah merahan dan dapat tidak berwarna, putih, kuning, beruban/kela bu atau bahkan warna coklat atau hitam ketik a besi hadir di kristal.

Berkilap seperti muti ara ke seperti kaca ke tumpul

Sifat terhadap cahaya adalah transparan ke tembus cahaya

Sistem hablur adala h trigonal; menghalangi 3 Crystal Habits m meliputi rhombohedral

yang kembar belah ketupat dan yang seder hana beberapa dengan

wajah yang sedikit d ibengkokkan, juga seperti prisma/aneka wa rna, raksasa (masive),

batu karang yang membentuk. Tidak pern ah yang ditemukan di

pelana yang shaped

berisi butir kecil dan

scalenohedrons.

Perpecahan sempurn a di tiga arah yang membentuk rombohedron.

Belahan conchoidal.

Kekerasannya adalah 3.5-4 Specific Gravity adalah 2.86 ( rata-rat a)

Warna lapisan putih

Karakteristik yang la in: Tidak sama dengan kalsit, berbuih dengan lemah dengan cuka y

ang hangat atau ketik a lebih dulu bertepung/berbubuk dengan HC l yang dingin.

Mineral yang dihubu ngkan: meliputi kalsit, mineral bijih sulfid a, fluorit [CaF], barit, kwarsa dan adakalan ya dengan emas.

meliputi kalsit, mineral bijih sulfid a, fluorit [CaF], barit, kwarsa dan adakalan ya dengan emas. Gambar

Gambar 3. Batu Dolomit

4. Batugamping Terumbu

Proses pembentukan batuan gamping terumbu berasal dari pengumpulan plankton, moluska, algae yang kemudian membentuk terumbu. Jadi gamping terumbu berasal dari organisme. Batuan sedimen yang memiliki komposisi mineral utama dari kalsit (CaCO 3 ) terbentuk karena aktivitas dari coral atau terumbu pada perairan yang hangat dan dangkal dan terbentuk sebagai hasil sedimentasi organic. Tipe batuan ini paling banyak didapatkan dalam batuan karbonat Tersier di Indonesia. Tipe ini sering membentuk tebing terjal pada singkapan, masif tak berlapis atau perlapisan buruk yang hanya kelihatan dari jauh. Tipe gamping terumbu ini sering disebut “Boundstone” oleh Dunham, sedangkan berdasarkan terdapatnya lumpur karbonat diantara kerangka atau pecahan-pecahan kerangka Embrie dan Klovan membuat klasifikasi : Framestone, Bindstone, Bafflestone, Rudstone dan Floatstone. Terdapat beberapa klasifikasi batugamping yang dapat digunakan, tetapi dalam industri minyak, klasifikasi Dunham (1962) yang dimodifikasi oleh Embry dan Klovan merupakan klasifikasi yang biasa digunakan. Klasifikasi Dunham didasarkan pada tekstur pengendapan awal. Faktor utama dalam dalam klasifikasi ini yang perlu diamati adalah :

a. Jika tekstur pengendapannya tidak dapat dikenali, maka klasifikasi Dunham tidak dapat digunakan, batuan harus dideskripsi berdasarkan ciri fisik atau diagenesis

b. Jika tekstur pengendapannya dapat dikenali, maka klasifikasi Dunham dapat digunakan dengan pembagian sebagai berikut :

 butiran kurang dari 10% dari seluruh batuan maka disebut mudstone. Mudstone terdapat dalam lingkungan carbonate platform dan cekungan. Calcareous mudstone berasal dari hancurnya calcareous alga hijau, pemisahan partikel- partikel skelatal besar, dan kemungkinan penyerapan inorganik dari air laut. Mudstone pada lingkungan cekungan dan slope berasal dari winnowed platform muds (periplatform ooze) atau berasal dari cangkang-cangkang nannoplankton coccoliths (nannofosil ooze). Mudstone berakumulasi pada lingkungan energi rendah.  butiran lebih dari 10% dengan tetap didominasi oleh lumpur disebut wackestone, sedangkan bila butiran tidak didukung lumpur tetapi dengan matriks disebut packstone. Wackestone dan packstone diendapkan pada lingkungan energi transisi dimana arus tidak dapat memindahkan seluruh lumpur dari area tersebut dan tidak dapat memisahkannya dari butiran pasir. Area tersebut juga merupakan lingkungan energi rendah seperti pada mudstone hanya saja lebih dekat pada

 



 



 



 



tempat dimana

pasir lebih ting gi diproduksi pada tempat pengendapan terse but.

Batuan seluruh

butiran skeletal dan non skeletal; bioclast, ooids dan peloids s. Umumnya terbentuk

pada lingkunga n energi tinggi seperti beaches, shoals atau n earby reefs.

butiran-butiran pasir diendapkan, atau per sentasi butiran-butiran

nya berupa butiran disebut grainstone. Gra

instone terbentuk dari

Jika butiran dii

kat pada waktu pengendapan oleh binding,

baffling dan aktivitas

framebuilding

pada terumbu-pembangunan organisme diseb ut boundstone.

asi Dunham untuk

menggambarka n terumbu yang kasar-diperoleh dari end apan skeletal. Muddy

dalam

Floatstone

da

n

ada lah

rudstone,

butiran

ditambahkan

skeletal

pada

klasifik

floatstone

floatstone

mengandung m atriks calcareous sand. Rudstone mungkin bersih, tanpa matriks,

atau dengan pa sir atau matrik lumpur antara tekstur yang did ukung butiran.

Framestone da

seperti corals,

reef flat. Strom atolite alga merupakan bentuk tipe dari tekst ur bindstone.

matriks

lump ur;

sandy

mbu skleletal robulus,

stone red algae, bryozoa. Bindstone biasa se bagai komponen pada

n bafflestone terbentuk oleh pembangun teru

Batugamping terumb u adalah jenis sedimen biologi, yang merupa kan suatu susunan dari

Foraminifera. Ditinjau

dari segi ekologinya, org anisma pembentuk terumbu dapat berkemb ang dengan baik dan

mempunyai penyebaran pa da daerah neritik yang dangkal dengan kedal aman maksimum 60m.

rangka-rangka organisma y ang terdiri atas Algae, Koral, Moluska dan

aman maksimum 60m. rangka-rangka organisma y ang terdiri atas Algae, Koral, Moluska dan Gambar 4 :

Gambar 4 : Batugamping Terumbu