Anda di halaman 1dari 55

Pengembangan Pembelajaran SAINS Anak Usia TK-B Melalui Seni Rupa

Usia dini (0-8 thn) merupakan usia yang sangat menentukan, dalam pembentukan karakter dan kepribadian seorang anak. Usia itu sebagai usia penting bagi pengembangan intelegensi permanen dirinya, mereka juga mampu menyerap informasi yang sangat tinggi. Informasi tentang potensi yang dimiliki anak usia itu, sudah banyak diketengahkan di media massa dan media elektronik lainnya. Bahkan sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk membuktikan, pada usia itu memiliki kemampuan intelegensi yang sangat tinggi. etapi kenyataannya, sebagian besar orang tua dan guru tidak memahami akan potensi luar biasa yang dimiliki anak-anak pada usia itu. !eterbatasan pengetahuan dan informasi yang dimiliki orang tua dan guru, menyebabkan potensi yang dimiliki anak tidak berkembang. "elain itu, ada juga guru dan orang tua dari anak usia dini yang tidak tahu bagaimana #aranya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak. "ebenarnya pengembangan potensi yang dimiliki oleh anak usia ! bisa dilakukan dengan berbagai ma#am #ara dan metode. $ara dan metode tersebut harus bertitik tolak dari sifat dan karakteristik dari anak yang bersifat unik. "elain itu juga harus memperhatikan perkembangan anak yang leliputi% perkembangan fisik dan motorik, perkembangan kognitif, perkembangan sosial emosional, dan perkembangan bahasa.

Bidang-bidang tersebut di atas harus dikembangkan se#ara menyeluruh (holistik) dan tidak menekankan pada salah satu bidang pengembangan saja. &alaupun nantinya anak akan mengalami perkembangan yang berbeda dari setiap aspek perkembangannya. 'engembangan potensi yang dimiliki anak termasuk di dalamnya pengembangan kognitif (pengembangn pembelajaran bidang sains) memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu meletakkan dasar kemampuan dan pembentukan sumber daya manusia yang diharapkan. !esadaran akan pentingnya pembekalan sains pada anak akan semakin tinggi apabila menyadari bah(a manusia hidup di dunia yang dinamis, berkembang dan berubah se#ara terus menerus bahkan makin menuju masa depan, semakin komplek ruang lingkupnya, dan tentunya akan semakin memerlukan sains. )akekat sains perlu dikaji, diteliti dan

ditekuni. *nak-anak sebagai generasi yang dipersiapkan untuk masa depan yang diduga akan semakin rumit, berat, dan banya problemanya perlu dibekali dengan penguasaan sains yang memadai, tepat, bermakna, dan fungsional. +engan prediksi masa depan yang demikian, pembekalan sains bagi mereka menjadi mutlak, sehingga sains pada diri mereka mun#ul sebagai suatu #ara untuk men#ari kebenaran dalam kehidupan kelak. Berhasil tidaknya proses dan hasil suatu bidang pengembangan (terutama sains) bagi anak usia ! B dipengaruhi oleh beberapa faktor. +i antara faktor yang fundamental yang turut berpengaruh adalah para pengajar dan pendidik sains. *gar pembekalan sains pada anak berjalan se#ara optimal, hendanya orang-orang yang terlibat dalam pendidikan sains betulbetul memahami hakekat sains se#ara benar, memahami hakekat anak se#ara benar, dan tentu saja model dan media pembelajaran yang benar pula. *da dua hal ,setidaknya-yang tidak boleh dilupakan dari seorang pendidik anak usia !. .ang pertama bah(a anak usia ! mempunyai dunianya sendiri yaitu dunia bermain, sehingga pembelajaran sains tidak boleh lepas dari bermain dan permainan. "edangkan yang kedua adalah seni, bah(a anak usia ! sangat gemar akan seni dengan berbagai ma#amnya. +ari uraian di atas mu#ul permasalahan yang perlu di#ari penyelesaiannya/ yaitu% "ains yang bagaimanakah yang bisa diajarkan kepada anak usia ! B0 Bagaimanakan #ara mengembangkan pembelajaran sains untuk anak usia ! B dengan metode pendekatan melalui pembelajaran seni0 +alam makalah ini akan dibahas hakekat sains dalam pendidikan anak usia dini (usia ! B) serta model pengembangan pembelajaran sains melalui seni rupa yang sesuai bagi mer )akekat "ains 'engertian "ains "ains atau Ilmu 'engetahuan *lam adalah ilmu yang pokok bahasannya adalah alam dengan segala isinya. )al yang dipelajari dalam sains adalah sebab-akibat, hubungan kausal dari kejadian-kejadian yang terjadi di alam. 1enurut 'o(ler (dalam &inataputra 2334), sains adalah ilmu yang sistematis dan dirumuskan dengan mengamati gejala-gejala kebendaan, dan didasarkan terutama atas pengamatan induksi. $arin dan "und (2334) mendefinisikan sains sebagai pengetahuan yang sistematis atau tersusun se#ara teratur, berlaku umum, dan berupa kumpulan data hasil obser5asi dan eksperimen. *kti5itas dalam sains selalu berhubungan dengan per#obaan-per#obaan yang membutuhkan keterampilan dan kerajinan. "e#ara sederhana, sains dapat juga didefinisikan sebagai apa yang dilakukan oleh para ahli sains. +engan demikian, sains bukan hanya kumpulan pengetahuan tentang benda atau makhluk hidup, tetapi menyangkut #ara kerja, #ara berpikir, dan #ara meme#ahkan masalah. Ilmu(an sains selalu tertarik dan memperhatikan peristi(a alam, selalu ingin mengetahui apa, bagaimana, dan mengapa tentang suatu gejala alam dan hubungan kausalnya. +alam sains, terdapat tiga unsur utama, yaitu sikap manusia, proses atau metodologi, dan hasil yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan. "ikap manusia yang selalu ingin tahu tentang benda-benda, makhluk hidup, dan hubungan sebab-akibatnya akan menimbulkan permasalahan-permasalahan yang selalu ingin dipe#ahkan dengan prosedur yang benar.

'rosedur tersebut meliputi metode ilmiah. 1etode ilmiah men#akup perumusan hipotesis, peran#angan per#obaan, e5aluasi atau pengukuran, dan akhirnya menghasilkan produk berupa fakta-fakta, prinsip-prinsip, teori, hukum, dan sebagainya. 'roses Pembelajaran 'rinsip proses pembelajaran adalah belajar, sedangkan belajar adalah suatu proses perubahan perilaku indi5idu yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman. 6leh karena itu, pembelajaran adalah upaya penataan lingkungan yang kondusif sehingga proses belajar dapat tumbuh dan berkembang. !arena pembelajaran bersifat rekayasa perilaku, maka proses pembelajaran terikat dengan tujuan. +ari sudut pandang sosiologis, proses pembelajaran adalah proses penyiapan peserta didik untuk dapat menjalankan kehidupannya di masyarakat. "ekolah adalah suatu sistem sosial yang merupakan miniatur masyarakat luas. 6leh karena itu, proses pembelajaran tidak akan terlepas dari proses sosialisasi, dan apa yang dipelajari di sekolah seharusnya merupakan #erminan keadaan nyata di sekitar peserta didik yang dapat dimanfaatkan atau diimplementasikan dalam masyarakat. 'ermasalahan dalam proses belajar mengajar de(asa ini adalah ke#enderungan umum bah(a para sis(a hanya terbiasa menggunakan sebagian ke#il saja dari potensi atau kemampuan berpikirnya. +ikha(atirkan mereka menjadi malas untuk berpikir dan terbiasa malas berpikir mandiri. !e#enderungan ini sama saja dengan proses pemandulan dan sama sekali bukan proses pen#erdasan. 'ara sis(a dan juga gurunya masih terbiasa belajar dengan domain kognitif rendah. 6leh karena itu, metode berpikir dalam kegiatan mereka belajarpun belum menyentuh domain afektif dan konatif yang diperlukan. *spek lain berkenaan dengan konsep diri dan proses pengembangan kemandirian dalam berpikir, bersikap dan berperilaku. Belajar berani berpikir obyektif apalagi berbeda dengan buku dan keterangan guru, berpikir logis atau kritis, dialogis dan argumentatif umumnya masih langka di sekolah-sekolah. "elain itu sistem penilaian se#ara formatif masih amat terbatas jika dibandingkan dengan penilaian sumatif. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap akti5itas riil di lapangan kegiatan belajar mengajar di sekolah pada umumnya de(asa ini #enderung monoton dan tidak menarik, sehingga beberapa pelajaran ditakuti dan selalu dianggap sulit oleh sis(a, misalnya matematika dan sains. )al ini ditunjukkan oleh adanya korelasi positif dengan perolehan 781 pelajaran tersebut yang selalu menempati urutan terendah. Beberapa penyebabnya adalah pembelajaran di sekolah khususnya, sains lebih menekankan pada aspek kognitif dengan menggunakan hafalan dalam upaya menguasai ilmu pengetahuan, bukan mengembangkan keterampilan berpikir sis(a, mengembangkan aktualisasi konsep dengan diimbangi pengalaman konkret dan akti5itas bereksperimen. Pembelajaran sains berlangsung dengan hanya menyangkut substansi, tanpa mengembangkan kemampuan melakukan yang berhubungan dengan proses-proses mental seperti penalaran dan sikap ilmiah ("upangkat 2332). "alah satu penyebab hal ini adalah temuan "limming (2338) yang menemukan bah(a perilaku mengajar guru di Indonesia #enderung bersifat belajar pasif dengan menggunakan metode #eramah hampir di sebagian besar akti5itas proses belajar mengajarnya di kelas. 'ermasalahan ini semestinya menjadi perhatian serius dari 'emerintah yang perlu berupaya keras untuk men#ari terobosan-terobosan dalam meme#ahkannya, baik melalui pengembangan materi pembelajaran baru maupun melalui pemberdayaan metodik-didaktik yang sudah ada. +i samping faktor penunjang lain di luar akademik antara lain penyediaan

buku pelajaran yang bermutu, baik, dan dapat mengembangkan pembelajaran dengan paradigma baru tersebut. ujuan kurikulum dengan paradigma yang baru pada prinsipnya adalah tetap #on#eptual mastery. etapi hal tersebut diperoleh dengan pendekatan berbasis kompetensi, dengan tujuan agar sistem pendidikan nasional dapat merespon se#ara proaktif terhadap perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan tuntutan desentralisasi. +engan demikian lembaga pendidikan tidak akan kehilangan rele5ansi program pembelajarannya dengan kepentingan daerah, dan karakteristik peserta didik, serta tetap memiliki fleksibilitas dalam melaksanakan kurikulum yang berde5erensiasi. 'eserta didik dituntut untuk menguasai konsep-konsep dasar yang telah dipilih se#ara selektif melalui akti5itas pembelajaran yang berorientasi pada akti5itas sis(a. "is(a harus mampu mengkonstruksi pengetahuan melalui akti5itas kontekstual yang dikembangkan dalam pembelajaran dimana sis(a terlibat langsung dalam pengalaman sehari-hari yang berkaitan dengan materi yang diajarkan dan aktif melakukan eksperimen, melakukan pengolahan data, serta membuat kesimpulan. +engan demikian, pembelajaran yang dikembangkan di dalam kelas perlu dikaitkan dengan situasi nyata dimana sis(a berada, mendorong sis(a membuat hubungan antara konsep yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan keseharian sis(a di dalam masyarakat. *khirnya pembelajaran lebih bermakna dan proses belajar lebih penting daripada hasil belajar. +engan dukungan situasi yang demikian, sis(a perlu dikondisikan di dalam situasi pembelajaran di kelas yang memungkinkan sis(a mengerti dan memahami makna belajar, manfaat, peran dan status sis(a dalam proses pembelajaran tersebut. 9ika sis(a dapat memahami dan mengerti hal tersebut, maka sis(a akan berusaha untuk men#apainya dan memerlukan guru sebagai pembimbing, fasilitator, dan mediator. Pembelajaran yang ingin dikembangkan berorientasi pada proses bagaimana memperoleh informasi, #ara sains dan teknologi bekerja, kebiasaan bekerja ilmiah, dan keterampilan berpikir yang dikaitkan dengan situasi nyata dimana sis(a berada dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran tersebut dikembangkan dengan pendekatan kontekstual. +alam buku :'endekatan !ontekstual; yang diterbitkan oleh +irektorat Pendidikan <anjutan 'ertama, sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual, jika menerapkan ketujuh komponen dalam pembelajarannya. !etujuh komponen tersebut adalah konstrukti5isme, bertanya, in=uiri, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya. !onstrukti5isme merupakan filosofi pendekatan kontekstual yang menyatakan bah(a pengetahuan dibangun oleh sis(a, melalui peme#ahan masalah dan menemukan sesuatu yang berguna. 'roses menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, pengetahuan, dan keterampilan sehingga sis(a diharapkan menemukan sendiri hasilnya. ahap-tahap sis(a menemukan merupakan #ara berpikir ilmiah melalui keterampilan proses, di antaranya adalah merumuskan masalah, melakukan obser5asi, melakukan analisis dan menyajikan hasil serta mengkomunikasikan. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, bertanya ini tidak hanya guru terhadap sis(a, tetapi juga sis(a terhadap guru dan terhadap teman sendiri. Bagi sis(a akti5itas bertanya adalah untuk menggali informasi, mengkomunikasikan apa yang telah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. +i dalam proses pembelajaran di kelas dengan pendekatan kontekstual, dikondisikan ter#iptanya

suasana saling belajar, sis(a belajar dari guru, dari buku dan sumber informasi lainnya, dari sesama teman, serta guru belajar dari sis(a, sehingga di dalam ruang kelas tersebut terjadi masyarakat belajar. 'emodelan dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah sesuatu yang dapat ditiru oleh sis(a untuk memudahkan, memperlan#ar, membangkitkan ide dalam proses pembelajaran. 1odel dapat diperoleh dari guru, sis(a, atau dari luar sekolah yang rele5an dengan konteks dan materi yang sedang menjadi topik bahasan. >efleksi adalah #ara berpikir tentang apa yang baru dipelajari, tentang apa yang sudah dilakukan masa lalu dan merupakan respon terhadap kejadian. "erta akti5itas atau pengetahuan baru yang diterima atau dilakukan. 'enilaian yang sebenarnya adalah proses pengumpulan berbagai data yang diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan sis(a pada saat proses pembelajaran yang dapat memberikan gambaran perkembangan belajar sis(a. 9adi, penilaian autentik adalah penilaian terhadap pengetahuan dan performansi yang diperoleh sis(a selama akti5itas pembelajaran berlangsung. "eperti diketahui, sasaran belajar sains adalah membangun gagasan saintifik setelah para sis(a berinteraksi dengan lingkungan, peristi(a, dan informasi dari sekitarnya. 'andangan konstrukti5isme sebagai filosofi pendidikan sains mutakhir menganggap semua sis(a memiliki gagasan atau pengetahuan tentang lingkungan, pengetahuan, fakta akan gejala alam disekitarnya, meskipun hal tersebut kadang terkesan naif dan miskonsepsi. 1ereka (para sis(a) seringkali mempertahankan gagasan atau pengetahuan naif tersebut se#ara kokoh, karena gagasan atau pengetahuan itu mengait dengan gagasan atau pengetahuan a(al lainnya yang sudah lebih dulu dibangun dalam (ujud struktur kognitifnya. 1enurut pandangan ini, kegiatan pembelajaran dimulai dari apa yang diketahui sis(a, sehingga pembelajaran tidak dapat dilakukan dengan #ara indoktrinasi gagasan atau pengetahuan saintifik supaya sis(a mau mengganti dan memodifikasi gagasannya yang non saintifik menjadi gagasan atau pengetahuan yang saintifik. +engan demikian, arsitek peubah gagasan atau pengetahuan dalam diri sis(a adalah sis(a sendiri. "edangkan guru hanya berfungsi sebagai fasilitator, moti5ator, dan pembimbing yang menyediakan, mempermudah, bahkan kalau bisa memper#epat berlangsungnya proses belajar. +alam proses konstruksi itu, menurut ?on @laserfeld (9askarti, A00A) diperlukan beberapa kemampuan sebagai berikut (2) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, (A) kemampuan membandingkan, mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan, dan (4) kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu daripada pengalaman yang lain. Beberapa bentuk kondisi belajar yang sesuai dengan filosofi konstrukti5isme adalah diskusi di mana sis(a mau mengungkapkan gagasan, pengujian dan penelitian sederhana, demo serta peragaan prosedur ilmiah, juga kegiatan lain yang memberi ruang kepada sis(a untuk dapat mempertanyakan, memodifikasi, dan mempertajam gagasannya. +alam belajar se#ara konstruktif, para sis(a mempunyai kesempatan untuk menyatakan, menguji, memodifikasi, dan juga meninggalkan ide-ide a(al mereka yang sudah ada sebelumnya dan mengadopsi ide-ide baru. 1elalui tugas-tugas dalam pelajaran sains yang dikaitkan dengan tingkat perkembangan intelektualnya, para sis(a mempunyai kesempatan untuk memahami alam se#ara aktif dengan membangun pemahaman tentang fenomena alam melalui akti5itas nyata kehidupan sehari-hari

1enurut $arr, dkk (2383) konstrukti5isme sebagai sebuah pendekatan dalam proses pembelajaran merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat menjanjikan akan adanya perubahan pada hasil pembelajaran. 'endekatan konstrukti5isme lebih menekankan pada sis(a sebagai pusat pembelajaran, dan pendekatan seperti ini diharapkan dapat lebih merangsang dan memberi peluang kepada sis(a untuk belajar, berpikir ino5atif, dan mengembangkan potensinya se#ara optimal. "ains dan 'roses Pembelajaran "ains pada dasarnya men#ari hubungan kausal antara gejala-gejala alam yang diamati. 6leh karena itu, proses pembelajaran sains seharusnya mengem-bangkan kemampuan bernalar dan berpikir sistematis selain kemampuan deklaratif yang selama ini dikembangkan. "alah satu ino5asi sebagai salah satu usaha adalah men#ari model-model pembelajaran sains yang memiliki kontribusi terhadap peningkatan mutu pendidikan sains. )al ini berarti, belajar sains tidak hanya belajar dalam (ujud pengetahuan deklaratif berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, tetapi juga belajar tentang pengetahuan prosedural berupa #ara memperoleh informasi, #ara sains dan teknologi bekerja, kebiasaan bekerja ilmiah, dan keterampilan berpikir. Belajar sains memfokuskan kegiatan pada penemuan dan pengolahan informasi melalui kegiatan mengamati, mengukur, mengajukan pertanyaan, mengklasifikasi, meme#ahkan masalah, dan sebagainya. Pembelajaran sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung. +engan demikian, sis(a perlu dibantu untuk mampu mengembangkan sejumlah pengetahuan yang menyangkut kerja ilmiah dan pemahaman konsep serta aplikasinya. Bahan kajian kerja ilmiah adalah % B mampu menggali pengetahuan melalui penyelidikanC penelitian, B mampu mengkomunikasikan pengetahuannya, B mampu mengembangkan keterampilan berpikir, B mampu mengembangkan sikap dan nilai ilmiah. "elanjutnya, bahan kajian sains yang berkaitan dengan pemahaman konsep dan penerapannya adalah% B memiliki pengetahuan, pemahaman, dan aplikasinya tentang makhluk hidup dan proses kehidupan/ B memiliki pengetahuan, pemahaman, dan aplikasinya tentang materi dan sifatnya/ B memiliki pengetahuan, pemahaman, dan aplikasinya tentang energi dan perubahannya/ B memiliki pengetahuan, pemahaman, dan aplikasinya tentang bumi dan alam semesta/ serta B memiliki pengetahuan, pemahaman, dan aplikasinya tentang hubungan antara sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat.

B !eterampilan proses yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran sains, diantaranya adalah keterampilan mengamati dengan seluruh indera, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan se#ara benar dengan selalu mempertimbangkan keselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan, menafsirkan, mengkomunikasikan, hasil temuan se#ara beragam, menggali dan memilah informasi faktual untuk menguji gagasan atau meme#ahkan masalah sehari-hari. 'rinsipnya pembelajaran sains, yaitu #ara memberi tahu dan #ara berbuat, akan membantu sis(a untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang alam sekitarnya dengan mendudukkan sis(a sebagai pusat perhatian dalam interaksi aktif dengan teman, lingkungan, dan nara sumber lainnya. )akekat "eni >upa 'engertian "eni >upa "eni rupa adalah #abang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. !esan ini di#iptakan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, 5olume, (arna, tekstur, dan pen#ahayaan dengan a#uan estetika. "eni rupa dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu seni rupa murni, kriya, dan desain. "eni rupa murni menga#u kepada karya-karya yang hanya untuk tujuan pemuasan eksresi pribadi, sementara kriya dan desain lebih menitikberatkan fungsi dan kemudahan produksi. "e#ara kasar terjemahan seni rupa di dalam Bahasa Inggris adalah fine art. 7amun sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa murni untuk kemudian menggabungkannya dengan desain dan kriya ke dalam bahasan 5isual arts. Pendidikan "eni >upa *pabila ditelaah lebih lanjut, pendidikan seni pada umumnya dan seni rupa khususnya merupakan sarana yang efektif bagi pendidikan anak usia dini. Pendidikan seni juga dapat menjadi sarana pendidikan afektif untuk menyalurkan emosi dan ekspresi anak. "elain itu, pendidikan seni dapat menjadi pendidikan keterampilan. 9adi se#ara konseptual, pendidikan seni sangat besar peranannya bagi proses perkembangan anak, terutama di aman !anak-!anak. "ebagai materi pembelajaran, mata pelajaran "eni perlu di pahami guru, mau diba(a kemana anak didik sehingga ter#apai arah yang tepat. 8isner (23DA) dan $hapman (23D8) mengatakan bah(a, arah atau pendekatan seni baik itu seni rupa, seni seni, seni tari ataupun seni teater, se#ara umum dapat dipilah menjadi dua pendekatan, yakni seni dalam pendidikan dan pendidikan melalui seni. 'ertama, seni dalam pendidikan. "e#ara hakiki materi seni penting diberikan kepada anak. 1aksudnya adalah, keahlian melukis, menggambar, menyanyi, menari, memainkan seni dan keterampilan lainnya perlu ditanamkan kepada anak dalam rangka pengembangan kesenian dan pelestarian kesenian. "eni dalam pendidikan ini sejalan dengan konsep pendidikan yaitu sebagai proses pembudayaan yang dilakukan dengan upaya me(ariskan atau menanamkan nilai-nilai dari generasi tua kepada generasi berikutnya (ba#a% guru kepada

murid). 6leh sebab itu, seni dalam pendidikan merupakan upaya pendidik seni dan juga lembaga yang menaungi untuk me(ariskan, melestarikan, dan mengembangkan berbagai jenis kesenian yang ada baik lokal maupun man#anegara. +ari uraian di atas, maka seni dalam pendidikan merupakan sebuah program yang mengharapkan sis(a pandai dalam bidang seni. 'andai menggambar, pintar menyanyi, terampil dalam menari, pandai memainkan alat seni dan sebagainya. 1emang terasa sangat sulit sekali apabila diterapkan pada aman !anak-!anak, karena harus mempertimbangkan kualifikasi guru terhadap bidang seni tertentu, (aktu yang #ukup, dan sarana- prasarana yang memadai. !edua, pendidikan melalui seni. 'lato menyatakan bah(a seni seharusnya menjadi dasar pendidikan. +ari pendapat ini bisa dipahami bah(a sesungguhnya seni atau pendidikan seni mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang pendidikan se#ara umum. !onsep pendidikan melalui seni juga dikemukan oleh +e(ey bah(a seni seharusnya menjadi alat untuk men#apai tujuan pendidikan dan bukannya untuk kepentingan seni itu sendiri. 1aka melalui pendidikan melalui seni ter#apai tujuan pendidikan yaitu keseimbangan rasional dan emosional, intelektual dan kesadaran estetis. 1erujuk pada konsep pendidikan melalui seni, maka pelaksanaannya lebih ditekankan pada proses pembelajaran dari pada produk. +engan penekanan pada proses pembelajaran, maka sasaran belajar pendidikan seni tidak mengharapkan sis(a pandai menyanyi, pandai memainkan alat seni, pandai menggambar dan terampil menari. 1elainkan sebagai sarana ekspresi, imajinasi dan berkreati5itas untuk menumbuhkan keseimbangan rasional dan emosional, intelektual dan kesadaran estetis. !alau memang ternyata melalui pendidikan seni dapat menghasilkan seorang seniman maka itu merupakan dampak saja. +engan penekanan pada proses pembelajaran, maka guru pun dapat melaksanakannya. !ekurangan kemampuan guru dalam hal pendidikan seni dapat ditutup dengan penggunaan berbagai media pembelajaran yang memadai. "eperti yang telah dipaparkan di atas, pendidikan seni khususnya banyak sekali memberikan kontribusi bagi perkembangan dan keseimbangan rasional, emosional, intelektual dan kesadaran estetis.

Pembelajaran "ains *nak Usia ! B 1elalui "eni >upa !arakteristik *nak Usia ! !elas B eori 'erkembangan !ognitif, dikembangkan oleh 9ean 'iaget, seorang psikolog "(iss yang hidup tahun 283E-2380. eorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep ke#erdasan, yang bagi 'iaget, berarti kemampuan untuk se#ara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. eori ini membahas mun#ulnya dan diperolehnya s#hemata-skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya- dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat anak memperoleh #ara baru dalam merepresentasikan informasi se#ara mental. eori ini digolongkan ke dalam konstrukti5isme, yang berarti, tidak seperti teori nati5isme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemun#ulan pengetahuan dan kemampuan ba(aan), teori ini

berpendapat bah(a anak membangun kemampuan kognitifnya melalui tindakan yang termoti5asi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, 'iaget memperoleh 8rasmus 'riFe. 'iaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin #anggih seiring pertambahan usia% 'eriode sensorimotor (usia 0,A tahun) 'eriode praoperasional (usia A,D tahun) 'eriode operasional konkrit (usia D,22 tahun) 'eriode operasional formal (usia 22 tahun sampai de(asa) *nak Usia ! B (E tahun) menurut 9ean 'iaget berada dalam periode praoperasional. ahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. +engan mengamati urutan permainan, 'iaget bisa menunjukkan bah(a setelah akhir usia dua tahun jenis yang se#ara kualitatif baru dari fungsi psikologis mun#ul. 'emikiran ('ra)6perasi dalam teori 'iaget adalah prosedur melakukan tindakan se#ara mental terhadap objek-objek. $iri dari tahapan ini adalah operasi mental yang se#ara logika tidak memadai. +alam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. 'emikirannya masih bersifat egosentris% anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. *nak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu #iri, seperti mengumpulkan semua benda merah (alau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat (alau (arnanya berbeda-beda. 1enurut 'iaget, tahapan praoperasional mengikuti tahapan sensorimotor dan mun#ul antara usia dua sampai enam tahun. +alam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. 1ereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. +i permulaan tahapan ini, mereka #enderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. 1ereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. etapi seiring pende(asaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. *nak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.

"trategi 'engembangan Pembelajaran "ains 1elalui "eni >upa Banyak aman !anak-kanak di Indonesia yang mendekati seni dengan dua #ara% pertama dengan mengajarkan seni sebagai bidang pengembangan yang tersendiri dan terbuka bagi sis(a. !edua dengan mengintegrasikan seni ke dalam semua bidang pengembangan sebagai alat belajar mengajar. "eni-seni 5isual (rupa) menggambar, melukis, mengukir, meran#ang dan instalasi sering diintegrasikan dalam pembelajaran di aman !anak !anak. 'endekatan yang kedua di atas, dapat di terapkan dalam bidang pengembangan sains di aman kanak-!anak. *kan tetapi tentu saja guruCpendidik di aman !anak-!anak harus memperhatikan tipologi dan gaya karya seni rupa anak, se#ara umum anak juga mengalami periodisasi atau masa perkembangan menggambar. Bahkan dikatakan bah(a pada masa peka

itulah anak-anak mengalami masa keemasan ekspresi kreatif. Berdasarkan hasil penelitian terhadap karya gambar yang dilakukan oleh para ahli antara lain &. <abert Britain dan ?iktor <o(enfeld menunjukkan bah(a setiap anak mengalami masa-masa perkembangan menggambar. 1enurut <o(enfeld periodisasi menggambar anak-anak dibedakan menjadi% B 1asa goresan (sekitar usia A-G tahun) B 1asa prabagan (sekitar usia G-D tahun) B 1asa bagan (sekitar usia D-3 tahun) B 1asa permulaan realisme (sekitar usia 3-22 tahun) B 1asa realisme semu (sekitar umur 22-24 tahun) *nak usia ! B adalah termasuk masa prabagan. 1asa ini goresan-goresan yang dilakukan oleh anak masih bersifat mendatar, tegak dan melingkar yang selanjutnya berkembang menjadi (ujud ungkapan-ungkapan yang dapat dikaitkan dengan (ujud objek tertentu, misalnya bentuk bagan manusia yang masih sederhana. !ehadiran gambar manusia yang sering di(ujudkan anak-anak memang sangat (ajar di mana anak selalu dalam lingkungan yang se#ara 5isual manusialah yang sering dilihatnya. "ejak masa ini anak sudah dapat me(ujudkan objek gambarnya se#ara tetap dengan #iri-#iri tertentu, misalnya ini aku, ini ibu, ini ayah, ini kakak, dan sebagainya. @oresan-gorasan yang dibuat sudah mulai terarah sesuai dengan hasratnya untuk memberi bentuk kepada imajinasinya. 1asa ini merupakan masa peralihan dari masa menorengCmenggores ke masa bentuk baganCskematis, sehingga dikenal dengan perkembangan menggambar prabagan. 1asa seperti ini juga terjadi dalam bidang seni rupa yang lain, di mana anak mulai dapat mengungkapkan imajinasinya ke dalam bentuk tertentu. +engan demikian dalam pembelajaran sain melalui seni rupa untuk anak ! B, harus memperhatikan periodisasi perkembangan kognitif dan periode perkembangan seni rupa bagi anak. +i mana anak dalam periode praoperasional dari sisi kogitif dan pada masa prabagan dari sisi perkembangan seni. Berangkat dari sinilah pengembangan pembelajaran sains melalui seni mulai disusun dengan memadukan pada semua aspek pengembangan dan menga#u pada tema-tema yang telah dirang#ang oleh de(an guru bersama kepala sekolah dalam rangka memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak.

!esimpulan +ari uraian di atas kiranya dapat ditarik suatu kesimpulan bah(a sains bagi anak usia ! B hanya yang berkaitan dengan konsep-konsep dasar atau hal-hal yang alamiah yang sudah mereka rasakan sehari-hari dengan menga#u pada menu pembelajaran yang telah ditetapkan oleh lembaga. $ara pengembangan pembelajaran sains untuk anak usia ! B harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak dari sisi kognitif dan dari sisi seni se#ara bersamaan.

*dapun pendidikan seni rupa berfungsi sebagai upaya pemberian pengetahuan dan pengalaman dasar kegiatan kreatif seni rupa dengan menerapkan konsep seni sebagai alat pembelajaran. !esesuaian dalam pemberian pengalaman dalam berolah seni rupa bagi anak akan berdampak positif bagi kebermaknaan pendidikan sains yang diperolehnya.

"aran 'erlu kemampuan dan kemauan khusus bagi para pendidik usia dini agar dapat mengemas dan mengembangkan program pembelajaran sains melalui seni rupa. "elain itu pemerintah melalui perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan untuk #alon guru usia dini hendaknya memperhatikan aspek pendidikan seni dan kreati5itas. )al ini penting agar pendidikan untuk usia dini tidak bersifat normatif, kaku, dan kurang menarik.

+aftar 'ustaka $ampbell, <inda. 1etode 'raktis Pembelajaran Berbasis 1ultiple Intelligen#es, 9akarta% Instuisi 'ress, A00E Hisher, 8laine Hlory, *estheti# *(areness and he $hild, &ashington% H.8. 'ea#o#k 'ublisher, 23D8 @oldberg, 1erryl, *rt and <earning% *n Integreted *proa#h ea#ing and <earning in 1urlti#ultural and 1ultilingual "ettings, <ondon% <ongman, 233D <o(enfeld, ?iktor I Britain, &. <ambert, $reati5e and 1ental @ro(th, 7e( .ork% 1a#1illan 'ublishing, 238A 1enelusuri ujuan Pendidikan "eni >upa di "ekolah, dalam % http%CC(((.depdiknas.go.idCjurnalCG0C , 0D 7opember A00D "eefeldt, $arol , ea#hing .oung $hildren, 7e( 9ersey% 'renti#e-)all In#.,2380 "inger, +orothy @, * 'iaget 'rimer% )o( a $hild hinks, 7e( .ork% 'enguin Books <td., 233E

"und and $orring, ea#hing "#ien#e hrough +is#o5ery ("iJth 8ditition), $olumbus% 1erryl 'ub. $ompany, 2388
PEMBELAJARAN INOVATIF PEMANFAATAN OUTBOND SAINS SEBAGAI SARANA MEWUJUDKAN MEANINGFUL LEARNING

PEMBELAJARAN INOVATIF PEMANFAATAN OUTBOND SAINS SEBAGAI SARANA MEWUJUDKAN MEANINGFUL LEARNING

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (ipteks) saat ini mengakibatkan perubahan-perubahan di berbagai bidang kehidupan. Mulyasa (2008: 9) mengemukakan bah a pendidikan harus dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat, terutama dalam kaitannya dengan permasalahanpermasalahan perkembangan ipteks. !esuksesan pendidikan anak "ndonesia merupakan u#ung tombak kema#uan bangsa "ndonesia untuk dapat bersaing dengan negara lain. $ealita proses pembela#aran di kelas tradisional, sis a kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembela#aran di dalam kelas didominasi oleh kegiatan bela#ar yang hanya mengarahkan sis a untuk mengha%al in%ormasi sa#a, otak sis a dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai in%ormasi. &is a tidak dituntut untuk memahami dan menghubungkan in%ormasi yang diingatnya itu dengan kehidupan sehari-hari sis a. Pembela#aran dengan menerapkan pendekatan tersebut kurang mendorong sis a untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir. &ebagaimana yang diungkapkan Mary (2002: ') bah a (hinking outside the bo) is sometimes di%%i*ult orking ha+e their outlooks limited by *lassroom hen students and tea*hers are ithin the *onstraints o% a traditional *lassroom. &tudents espe*ially alls be*ause they o%ten do not yet

ha+e a

ide perspe*ti+e on the potential %or their a*tions to ha+e *i+i*

*onse,uen*es. &aat ini pembela#aran yang dilakukan masih belum bermakna. -al ini sebagaimana diungkapkan .bdurrahman (200/: '00) bah a selama mengikuti pembela#aran di sekolah sis a #arang bersentuhan dengan pendidikan nilai yang berorientasi pada pembentukan atak dan kepribadian. -al tersebut mengakibatkan pembela#aran kurang bermakna dan #uga mengakibatkan sis a kurang termoti+asi untuk mempela#ari sains yang ditun#ukkan dengan sikap bosan mengikuti proses pembela#aran sehingga sains kurang berkesan dalam benak mereka (Martin, et al., 2000: 1). 2leh karena itu, perlu suatu pendekatan pembela#aran yang sesuai dengan tahap perkembangan intelektual sis a dan dapat memberikan makna bagi sis a untuk dapat men#adi manusia seutuhnya. Pembela#aran dengan outbond sains memungkinkan sis a mengalami langsung konsep yang dipela#ari serta mengembangkan penalaran logis dan menga#arkan sis a untuk menguasai nilai-nilai spiritual, emosional dan intelektual se*ara optimal. -al itu dikarenakan materi pembela#aran dapat dirangkum men#adi kegiatan yang dekat dengan pengalaman sis a dalam kesehariannya sehingga men#adi bermakna bagi kehidupan.

BAB II PEMBAHASAN

A. De kr!" ! In#$a ! "no+asi pendidikan (edu*ation inno+ation) adalah pembaharuan pendidikan se*ara parsial berskala sekolah atau kelas, dengan ob#ek pembaharuan mengenai salah satu komponen pendidikan (&ukard#o 3 4as &alira ati, 2008). &antyasa (2000: 0) menambahkan bah a pembela#aran ino+ati% adalah pembela#aran yang lebih bersi%at student *entered, artinya pembela#aran yang lebih memberikan peluang kepada sis a untuk mengkontruksi pengetahuan se*ara mandiri (sel% dire*ted) dan dimediasi oleh teman sebaya. 4ari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bah a pembela#aran ino+ati% adalah pembaharuan pendidikan yang mengakti%kan sis a untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan men*iptakan pembela#aran student *entered.

Menurut Marsa#a (200/) keunggulan pembela#aran ino+ati% adalah: (') !ualitas hasil bela#ar yang di*apai men#adi lebih tinggi5 (2) 6ingkup hasil bela#ar men#adi lebih komprehensi%5 (7) Pembela#aran ino+ati% tidak sa#a menekankan pada hasil bela#ar kogniti%, tetapi #uga hasil bela#ar proses dan sikap. !onsekuensinya tentu akan memerlukan aktu yang lebih lama karena dilakukan untuk men*apai banyak hasil bela#ar. Pembela#aran ino+ati% dengan metode yang berpusat pada sis a (student *entered learning) #uga memiliki keragaman model pembela#aran yang menuntut partisipasi akti% dari sis a. Metode-metode tersebut diantaranya sebagai berikut '. 8erbagi in%ormasi (in%ormation sharing) dengan *ara: *urah gagasan (brainstorming), kooperati%, kolaborati%, diskusi kelompok (group dis*ussion),diskusi panel (panel dis*ussion), simposium, dan seminar 2. Pembela#aran melalui peme*ahan masalah (problem sol+ing based learning) dengan *ara: studi kasus, tutorial, dan lokakarya. 7. 8ela#ar dari pengalaman (e)perien*e based) dengan *ara: simulasi, bermain peran (roleplay), permainan (game), dan kelompok temu5 &alah satu metode alternati% yang saat ini sedang digemari dan diyakini lebih berhasil dari kegiatan *eramah adalah pendidikan luar ruang (outbound edu*ation), yang sarat dengan permainan yang menantang, mengandung nilainilai pendidikan, dan mendekatkan sis a dengan alam.

B. &.

Lan%a an Te#r! Mean!ng'(l Learn!ng 4unia pendidikan saat ini sering lebih menitikberatkan pada bagaimana mengembangkan ke*erdasan kogniti% sehingga ter#ebak pada rasional oriented dan melepaskan orientasi irrasional maupun meta%isik, sema*am spiritual, dan konsep diri yang dianggap sebagai penghambat. !eadaaan yang demikian mengakibatkan pembunuhan karakter yang dimiliki sis a dari sebuah kesatuan

dalam dimensi kediriannya. Menurut .bdurrahman (200/: /9) proses pembela#aran meliputi keseluruhan unsur baik kogniti%, a%ekti% dan psikomotorik. .pabila proses pembela#aran tidak ber#alan se*ara simultan maka akan ter#adi split personality (diri yang terpisah) pada setiap sis a. :e#ala split personality ini tampak dalam per#alanan dunia pendidikan kita, tak terke*uali pendidikan sains. -al ini men#adi tantangan bagi para guru untuk mengupayakan bagaimana melakukan pembela#aran yang menitikberatkan pada proses penyempurnaan manusia atau memanusiakan manusia (to be human) dan mengartikan hidup (enoble li%e). &piritualisme yang dilaksanakan dalam pendidikan berorientasi praktik riil seorang guru dan sis a untuk menyempurnakan proses menu#u kematangan hidupnya. Pada akhirnya yang diinginkan adalah dimensi spiritual yang mapan dalam diri setiap sis a. &is a tidak hanya mamapu menangkap pesan lahiriah dari apa yang ia pela#ari, namun lebih dari itu sis a #uga mampu memproyeksikan pesan esoterik dari setiap teori yang ia pela#ari. Pendidikan adalah proses interaksi antara sis a dengan dirinya sendiri (konsentris), sis a dan alam sekitar (horisontal) dan interaksi sis a dengan .llah s t (+ertikal), tetapi banyak metode penga#aran kita yang memisah-misahkan ketiga interaksi tersebut. 2leh karena itu guru hendaknya menyadari pentingnya pembela#aran yang bermakna dengan men*iptakan keseimbangan antara guru, sis a, dan lingkungan. -al tersebut dapat di u#udkan dengan memahami dan menerapkan berbagai metode atau model menga#ar semisal ;(6, ;ooperati+e learning, <uantum learning, ,uantum tea*hing, a**elerated learning dan sebagainya. Menurut 8artlet pembela#aran lebih bermakna adalah proses pembela#aran yang membangun makna (input), kemudian prosesnya melalui struktur kogniti% sehingga akan berkesan lama dalam ingatan=memori (ter#adi rekonstruksi). &ementara itu, menurut >ohn 4e ey, pembela#aran se#ati adalah lebih berdasar pada pen#ela#ahan yang terbimbing dengan pendampingan daripada sekedar transmisi pengetahuan. Pembela#aran merupakan indi+idual dis*o+ery. -al tersebut senada dengan pendapat 8urton ('912: 20) bah a ?6earning is e)perien*e@. Pengalaman merupakan sumber dari pengetahuan, nilai dan keterampilan. Pendidikan memberikan kesempatan dan pengalaman dalam

proses pen*arian in%ormasi, menyelesaikan masalah dan membuat keputusan bagi kehidupannya sendiri ( .bo*ahke*il.in%o=bela#ar-bersama-alam.html).

Metode bela#ar ino+ati% outbond sains dapat men#adi salah satu sarana yang dapat diman%aatkan untuk mengembangkan pertumbuhan %isik dan perkembangan mental sis a seutuhnya sehingga ter u#ud pembela#aran yang bermakna. .rtinya, sis a mampu membangun %isik dan mentalnya dengan bela#ar sambil bermain karena melalui permainan outbond sains akan terbangun suasana yang lepas, bebas, menyenangkan dan atrakti% serta memberi makna dalam bela#ar sis a. ). O(t*#n% Sa!n .lam ini kaya akan pengetahuan. -al yang tidak dapat sis a pela#ari di dalam ruangan, dapat sis a dapatkan di luar ruangan, sehingga sis a dapat bela#ar membuat kesimpulan dan mengu#i apa yang diterimanya di kelas. (erdapat tiga tahapan yang dapat dilakukan sis a untuk memudahkan masuknya in%ormasi, yaitu mendengar, menulis atau menggambar lalu melihat dan melakukan per*obaan sendiri. Misalnya, bela#ar tentang bunga, sis a dapat mengeksplorasi bunga misal ma*am-ma*am arna mahkota bunga, adanya putik dan benang sari, dan sebagainya. :uru hendaknya dapat menga#ak sis a untuk melakukan obser+asi di lapangan misalnya mengamati, menyentuh atau meraba dan menganalisa. &ebagai *ontoh sis a melakukan obser+asi untuk mengenal bagian dari tumbuhan, misalnya daun, akar, batang, kelopak, dan sebagainya. (ak hanya itu, guru #uga memaparkan pada sis a masing-masing %ungsinya dan bentuknya yang beragam sehingga sis a bela#ar mengenal apa yang ada di alam melalui semua inderanya. Pembela#aran sains dengan meman%aatkan lingkungan dapat dilakukan dengan *ara memba a lingkungan ke dalam kelas, seperti: menghadirkan nara sumber untuk menyampaikan materi di dalam kelas. .gar penggunaan lingkungan sebagai sumber bela#ar ber#alan e%ekti%, maka perlu dilakukan peren*anaan, pelaksanaan dan e+aluasi serta tindak lan#utnya. 4i samping itu peman%aatan lingkungan dapat ditempuh dengan *ara melakukan kegiatan dengan memba a sis a ke lingkungan, seperti sur+ey, karya isata, berkemah, praktek lapangan dan sebagainya. 2utbond adalah suatu program pembela#aran di alam terbuka yang berdasarkan

pada prinsip e)periential learning (bela#ar melalui pengalaman langsung) yang disa#ikan dalam bentuk permainan, simulasi, diskusi dan petualangan sebagai media penyampaian materi. .rtinya dalam program outbond tersebut sis a se*ara akti% dilibatkan dalam seluruh kegiatan yang dilakukan. 4engan langsung terlibat pada akti+itas (learning by doing) sis a akan segera mendapat umpan balik tentang dampak dari kegiatan yang dilakukan, sehingga dapat diman%aatkan sebagai bahan pengembangan diri setiap sis a dimasa mendatang. -al tersebut #uga dapat diartikan bah a proses bela#ar dari pengalaman (e)periental learning) dengan menggunakan seluruh pan*a indera (global learning) yang nampaknya rumit, memiliki kekuatan karena situasinya ?memaksa@ sis a memberikan respon spontan yang melibatkan %isik, emosi, dan ke*erdasan sehingga se*ara langsung mereka dapat lebih memahami diri sendiri dan orang lain.

2utbond #uga dikenal dengan sebutan media outbond a*ti+ities. 2utbond merupakan salah satu metode pembela#aran yang dapat digunakan oleh guru di sekolah. 4engan konsep interaksi antar sis a dan alam melalui kegiatan simulasi di alam terbuka. -al tersebut diyakini dapat memberikan suasana yang kondusi% untuk membentuk sikap, *ara ber%ikir serta persepsi yang kreati% dan positi% dari setiap sis a guna membentuk #i a kepemimpinan, kebersamaan=team ork, keterbukaan, toleransi dan kepekaan yang mendalam, yang pada harapannya akan mampu memberikan semangat, inisiati%, dan pola pemberdayaan baru dalam suatu sekolah.

Melalui simulasi outdoor a*ti+ities ini, sis a #uga akan mampu mengembangkan potensi diri, baik se*ara indi+idu (personal de+elopment) maupun dalam kelompok (team de+elopment) dengan melakukan interaksi dalam bentuk komunikasi yang e%ekti%, mana#emen kon%lik, kompetisi, kepemimpinan, mana#emen resiko, dan pengambilan keputusan serta inisiati%. .dapun tu#uan outbond menurut .drianus dan Au%iarti (http:== idhoy.multiply.*om) tu#uan outbond adalah untuk: a. Mengidenti%ikasi kekuatan dan kelemahan diri sis a. b. 8erekspresi sesuai dengan *aranya sendiri yang masih dapat diterima lingkungan. *. Mengetahui dan memahami perasaan, pendapat orang lain dan memahami

perbedaan. d. Membangkitkan semangat dan moti+asi untuk terus terlibat dalam kegiatankegiatan. e. 6ebih mandiri dan bertindak sesuai dengan keinginan. %. 6ebih empati dan sensiti% dengan perasaan orang lain. g. Mampu berkomunikasi dengan baik h. Mengetahui *ara bela#ar yang e%ekti% dan kreati%. i. Memberikan pemahaman terhadap sesuatu tentang pentingnya karakter yang baik. #. Menanamkan nilai-nilai yang positi% sehingga terbentuk karakter sis a melalui berbagai *ontoh nyata dalam pengalaman hidup. k. Membangun kualitas hidup sis a yang berkarakter. l. Menerapkan dan memberi *ontoh karakter yang baik kepada lingkungan.

!egiatan outbond sains merupakan kegiatan bela#ar sambil bermain atau sebaliknya. Menurut Bygotsky ((ed#asaputra, 200': '0) bermain mempunyai peran langsung terhadap perkembangan kongnisi seorang anak dan berperan penting dalam perkembangan sosial dan emosi anak. Menurut -eterington dan Parke (Moesli*hatoen, '999: 79), bermain #uga ber%ungsi untuk mempermudah perkembangan kogniti% anak. 8ela#ar sambil bermain akan memungkinkan anak meneliti lingkungan, mempela#ari segala sesuatu dan meme*ahkan masalah yang dihadapinya. 8ermain #uga meningkatkan perkembangan sosial anak serta untuk memahami peran orang lain dan menghayati peran yang akan diambilnya setelah ia de asa kelak.

4 oretCky (Moesli*hatoen, '999: 79) mengemukakan bah a %ungsi bermain dan interaksi dalam permainan mempunyai peran penting bagi perkembangan kogniti% dan sosial sis a. >adi berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bah a man%aat bermain tidak sa#a dapat meningkatkan perkembangan kogniti% dan sosial, tetapi #uga perkembangan bahasa, disiplin, perkembangan moral, kreati+itas, dan perkembangan %isik sis a.

Pendekatan outbond *o*ok diterapkan karena adanya perbedaan-perbedaan

indi+idu dalam kelas. Pada pendekatan ini, sis a diberi rangsangan untuk menemukan konsep yang akan dipela#ari dengan dibimbing oleh guru.

+. Karakter! t!k Prosedur mempersiapkan pembela#aran dengan outbond sains sis a (e)periental learning) menurut 2emar -amalik (2007: 9/)adalah sebagai berikut: '. :uru merumuskan dengan teliti pengalaman bela#ar yang diren*anakan untuk

memperoleh hasil yang potensial atau memiliki alternati% hasil. 2. :uru berusaha menya#ikan pengalaman yang bersi%at menantang dan memoti+asi. 7. &is a dapat beker#a se*ara indi+idual, tetapi lebih sering beker#a dalam kelompokkelompok ke*il. 9. Para sis a ditempatkan dalam situasi-situasi peme*ahan masalah yang nyata. 0. Para sis a se*ara akti% berperan serta dalam pembentukan pengalaman membuat keputusan sendiri dan memikul konsekuensi atas keputusan-keputusan tersebut.

Menurut :ordon dan 8ro ne (Moesli*hatoen, '999: 0/-08) terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan dan peralatan outbond sains yaitu antara lain: '. Memilih bahan untuk kegiatan bermain yang mengundang perhatian semua sis a, yakni bahan-bahan yang dapat memuaskan kebutuhan, menarik minat, dan menyentuh perasaan mereka. 2. Memilih bahan yang multi guna yang dapat memenuhi bema*am tu#uan pengembangan

seluruh aspek perkembangan sis a. 7. Memilih bahan yang dapat memperluas kesempatan sis a untuk menggunakannya dengan berma*am *ara. 9. Memilih bahan yang men*erminkan karakteristik tingkat usia kelompok sis a. 0. Memilih bahan harus sesuai dengan %ilsa%at dan napas kurikulum yang dianut. 1. Memilih bahan yang men*erminkan kualitas ran*angan dan keterampilan ker#a. /. Memilih bahan dan peralatan yang tahan lama. 8. Memilih bahan-bahan yang dapat dipergunakan se*ara %leksibel dan serba guna. 9. Memilih bahan yang mudah dira at dan diperbaiki. '0. Memilih bahan yang men*erminkan peningkatan budaya kelompok. ''. Memilih bahan yang tidak membedakan #enis kelamin dan meniru-niru.

Pembela#aran berdasarkan pengalaman ini menyediakan suatu alternati% pengalaman bela#ar bagi sis a yang lebih luas daripada pendekatan yang diarahkan oleh guru kelas. &trategi ini menyediakan banyak kesempatan bela#ar se*ara akti%, personalisasi dan kegiatan-kegiatan bela#ar yang lainnya bagi para sis a untuk semua tingkat usia. Pembela#aran dengan outbond ini guru dapat menginternalisasikan dimensi spiritual ke dalam kegiatan bela#ar sis a, agar apa yang sis a pela#ari dapat mendekatkan sis a kepada .llah s t (&ang Pen*ipta).

.dapun hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam kegiatan pembela#aran ini adalah: ') Menentukan bentuk kegiatan yang akan dipakai !egiatan outbond ini dapat di+ariasi sendiri oleh guru. Misalnya: dalam satu materi dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, seperti dalam tema yang lain D lingkungan. &is a di pos " D sayangi aku (mempela#ari tanaman dan praktek menanan dan mera atnya), pos 2D opera sampah (sis a memperagakan dalam bentuk drama singkat=spontan dan guru

men#elaskannya), pos 7 D sampah (mengenal sampah dan *ara meman%aatkannya, dapat #uga dengan praktek), pos 9 dilan#utkan dengan pemaknaan terhadap bahaya sampah dalam kehidupan kita, dsb. 2) Menentukan dilaksanakan di luar #am pela#aran. 7) Menentukan rute per#alanan 2utbond ini dapat dilakukan satu kelas bersama-sama dengan sistem kompetisi dan dapat #uga dilakukan dengan giliran kelompok=rooling, hal tersebut disesuaikan dengan kemampuan dan #umlah guru. 2utbond dapat menggunakan rute di sekitar sekolahan atau di lingkungan dengan berpindah pos sa#a. 9) Mempersiapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan di tiap pos. a. >ika menggunakan sistem kompetisi: semakin banyak kelompok yang dibentuk maka peralatannya semakin banyak. b. >ika menggunakan sistem roling: peralatan yang dibutuhkan sedikit. 0) Menentukan dan mempersiapkan petugas pos arga sekitar. Pembela#aran ini #uga dapat dilakukan hanya aktu pelaksanaan kegiatan. !egiatan outbond ini dapat dilaksanakan dalam pembela#aran atau dapat #uga

>ika dalam bentuk rolling maka diperlukan lebih banyak pen#aga pos daripada dengan sistem kompetisi. (iap pen#aga pos dipersiapkan untuk dapat mengisi pos yang dipegangnya. Entuk menyamakan persepsi tema yang akan dia#arkan maka perlu diadakan brie%ing.

&etelah semua persiapan selesai maka tahap selan#utnya pelaksanaan kegiatan outbond ') :uru membagi sis a men#adi beberapa kelompok. 2) :uru men#elaskan tentang benda dan si%atnya: 7) :uru men#elaskan aturan permainan 2utbond.

8erikut merupakan *ontoh implementasi pembela#aran ino+ati% dengan meman%aatkan outbond sains dalam rangka meningkatkan meaning%ul learning.

R#ket Bal#n 8ahan dan alat: balon dengan soal tantangan, selotip, benang kasur yang ter#ulur hingga garis %inish, sedotan

;ara bermain: a) 4i garis start telah tersedia balon dengan soal tantangan, selotip, benang kasur yang ter#ulur hingga garis %inish, dan sedotan. :unakanlah alat-alat ini dengan baik. b) 8antuan a al: &edotan dimasukkan ke dalam benang kasur. *) 4iskusikan *ara agar balon dan soal dapat diterima oleh teman kalian di seberang (#arak 2-7 meter). d) &etelah balon diterima, ker#akanlah soal dan serahkan '0 menit kemudian kepada petugas pos. e) !er#akan dengan baik semoga kalian termasuk orang-orang yang beruntung. !un*i: 8alon bisa terbang lho.... 6embar pertanyaan yang diletakkan ke dalam balon: a) &elain terdapat soal, benda apa yang kalian tiupkan ke dalam balon hingga balon menggelembungF b) Menurut kalian, bagaimanakah bentuk benda tersebut di dalam balonF .pakah bentuknya

berubah #ika udara dimasukkan ke dalam plastikF *) 4apatkah kalian merasakan udara yang ada di sekitarmuF d) 4apatkah kalian melihatnya dan dapatkah kalian memegangnyaF e) .pa yang kalian rasakan ketika melepas balonF 4an mengapa balon yang dilepas dapat berlari dengan ken*angF %) &ebutkan si%at-si%at benda gas dalam permainan iniF g) &ebutkan man%aat benda gas dalam kehidupan sehari-hariG

&etelah kegiatan outbond, guru bersama sis a membahas kembali apa yang telah dilaksanakan. Metode yang digunakan yaitu metode diskusi, dimana akan diperoleh pendapat yang berbeda dan ber+ariasi antara sis a yang satu dengan yang lainnya. :uru bertugas mem%asilitasi dalam menyisipkan makna (misal pesan moral, sikap dan ker#asama). Misal sebagai *ontoh dalam kegiatan ini yaitu: Edara yang ada di dalam balon memberikan tekanan sehingga ketika dilepaskan balon dapat berlari menu#u ke u#ung benang yang lain. Edara merupakan benda gas yang mempunyai si%at bentuknya berubah-ubah sesuai dengan tempatnya, udara dapat memberikan tekanan, udara tidak terlihat dan tak dapat dipegang namun bisa dirasakan, dan udara ada di mana-mana=ada di sekitar kita. &emakin banyak udara dalam balon maka balon #uga akan tampak besar dan tekanannya #uga besar. (ekanan besar maka larinya semakin *epat artinya dalam kehidupan ini kita harus mengisi kehidupan kita (seperti balon) dengan menambah a asan, akhlak yang baik, dan keterampilan-keterampilan, selain itu kita #uga harus memupuk semangat, moti+asi dan kemauan yang besar agar kita akan dapat berlari dengan *epat untuk men*apai *ita-*ita. !emudian sis a diarahkan pada peman%aatan apa yang sedang dipela#ari dengan kehidupan mereka sehingga men#adi orang yang pandai bersyukur. &ebagai *ontoh: Edara dapat diman%aatkan untuk a. Mengisi ban kendaraan tanyakan kepada sis a berapa banyak udara yang di masukkan ke dalam ban kendaraan (sedikit=banyakF) dan dapatkah udara dalam ban-ban tersebut

mengangkat 00 orangF 4an berilah tanggapan pada sis a bah a: meskipun udara yang kita berikan pada ban sedikit, akan tetapi udara memberikan tekanan pada ban sehingga ban men#adi keras dan dapat digunakan kendaraan seperti bus untuk mengangkut 00 orang atau lebih. (#angan menganggap hal yang sepele, karena hal yang sepele kadang adalah sesuatu yang besar pengaruhnya bagi kehidupan). b. 8erna%as D tanyakan dari manakah udara yang kita hirupF 8agaimanakah ketika hidungmu mampetF 8ayarkah kita untuk menghirup udara disekitar kitaF -itunglah berapa banyak tabung gas yang kita perlukan untuk berna%as hingga hari iniF &iapakah yang men*iptakan udaraF 4an berikanlah tanggapan pada sis a bah a: kita dapat bebas berna%as, menghirup udara sebebas-bebasnya dimanapun kita berada, diberi nikmat kesehatan sehingga dapat berna%as dengan baik gratis dan #ika kita harus berna%as dengan tabung gas maka berapa uang yang akan dikeluarkan hingga kita hidup sampai hari ini. "ni adalah karunia .llah s t. 8ersyukurlah atas segala nikmat-Hya.

D. Kele*!,an 2utbond sains akan menya#ikan pembela#aran akti% dan menyenangkan sehingga sis a tidak *epat #enuh dan bosan dalam proses pembela#aran. &uasana kegiatan outbond sains yang menarik dan menyenangkan akan

mempermudah sis a dalam pemahaman konsep sains, dan dapat meningkatkan perkembangan psikomotor dan a%ekti% sis a, serta men#adikan pembela#aran akan lebih bermakna. &elain itu, terdapat keuntungan-keuntungan pembela#aran dengan menggunakan outbond sains berdasarkan uraian di atas antara lain yaitu. '. Membuat proses pembela#aran berpusat pada sis a yang men#adikan proses bela#ar menyangkut semua aspek yang memungkinkan sis a berkembang sebagai indi+idu yang dapat ber%ungsi se*ara menyeluruh. 2. Memungkinkan sis a membentuk sel% *on*ept sehingga sis a dapat mengenal dirinya sendiri lebih baik, yaitu mengenal kelebihan dan kekurangan dirinya. 7. Melatih sis a untuk mengkonstruk konsep dari pengalaman-pengalamannya yang menyenangkan 9. Mengembangkan bakat-bakat sis a 0. Men*egah sis a bela#ar hanya pada tingkat +erbal sa#a 1. 8ela#ar se*ara bermain memberi dan mengakomodasi in%ormasi. aktu kepada sis a untuk mengasimilasi

E.

Kele-a,an .dapun kelemahan dari pembela#aran dengan outbond sains yaitu: '. Iaktu yang digunakan relati% lama. 2. Membutuhkan peralatan dan sumber bela#ar yang beragam. 7. (enaga yang dibutuhkan lebih banyak. 9. "de permainan dan memberi makna pada tiap konsep memerlukan kreati+itas dan perhatian yang lebih dari guru.

F. '. 2. 7. 9.

S#l( ! Meman%aatkan aktu yang tersedia dengan sebaik-baiknya

Meman%aatkan peralatan dan sumber bela#ar yang ada di lingkungan Meman%atkan tenaga see%ekti% mungkin Pelatihan bagi guru

G. Ke !-"(lan 8erdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bah a outbond merupakan salah satu metode yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir, keterampian sosial, li%e skill, kemampuan spiritual dan sikap sis a Prinsip ?e)periential learning? (bela#ar melalui pengalaman langsung) pada kegiatan outdoor ini, sis a akan mampu mengembangkan potensi diri, baik se*ara indi+idu (Personal 4e+elopment) maupun dalam kelompok ((eam 4e+elopment). Melalui outbond, sis a se*ara akti% dilibatkan dalam seluruh kegiatan yang dilakukan dan langsung berinteraksi dengan alam untuk mengenal .llah s t (&ang Pen*ipta) dan men*intai lingkungan .tempat hidupnya. 8anyak orang yang mengetahui bah a teknik tersebut dapat mengembangkan potensi sis a dan memberikan lingkungan bela#ar yang kreati% dan menyenangkan, akan tetapi guru #arang meman%aatkan outbond dalam pembea#aran se*ara %ormal. Padahal #ika outbond ini dilakukan maka akan diperoeh keman%aatan yang luar biasa.

DAFTAR PUSTAKA

.bdurrahman. (200/). Meaningful learning re-invensi kebermaknaan pembelajaran. Aogyakarta: Pustaka Pela#ar. 8urton, Iilliam -. '912. The guidance of learning activity . He ;entury-;ro%ts, "n*. Aork: .ppleton-

http:== idhoy.multiply.*om=#ournal=item.'0=definisi_dan manfaat outbond. diakses pada tanggal 1 >anuari 2009. http:==marsa#a. ordpress.*om " Iayan &antyasa. (2000). Model pembelajaran inovatif dalam implementasi KBK,Makalah Penataran :uru-:uru &MP, &M., dan &M! se- !abupaten >embrana >uni->uli 2000. >embrana: JM"P. "!"P Hegeri &ingara#a. Martin, et.al. (2000). Teaching science for all children: in,uiry methods %or *onstru*ting understanding-7rd edition. Pearson edu*ation. "n*. Mary, et.al. (2002). 6inking universities and k-12 through design of outdoor learning environment Paper ini dipubikasikan di >. ;hambers (Kd.). (2002). &ele*ted Papers %rom the '7 "nternational ;on%eren*e on ;ollege (ea*hing and 6earning, (pp. 10-/9) diakses dari >anuari 2009. Moesli*hatoen, $. ('999). Metode pengajaran di taman kanak-kanak. >akarta: Penerbit $ineka ;ipta. Mulyasa. (2008). !mplementasi KT"# Kemandirian guru dan kepala sekolah . >akaerta: 8umi .ksara.. 2emar -amalik. (2007). #endekatan baru strategi belajar mengajar berdasarkan $B"%. 8andung: penerbit &inar 8aru .lgesindo 8andung. &ukard#o34as &alira ati. #embelajaran sains &!#%' terpadu yang kreatif dan menyenangkan, Makalah &eminar Hasional Program &tudi Pendidikan &ains Program Pas*asar#ana EHA, 8 2ktober 2008. Aogyakarta: Program &tudi Pendidikan &ains PPs EHA. (ed#asaputra, Mayke &. (200'). Bermain mainan dan permainan untuk pendidikan usia dini. >akarta: :rasindo. .bo*ahke*il.in%o=bela#ar-dengan-alam.html .glenninstitute.org.pd% pada tanggal 22

Pen%!%!kan SAINS Unt(k Anak U !a D!n! BAB I PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami kema#uan yang sangat pesat seiring dengan perubahan Caman. 8egitu pula perkembangan ilmu pengetahuan pada dunia pendidikan menuntut perubahan sistem pendidikan nasional, supaya masyarakat khususnya anak mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan Caman saat ini dan yang akan datang.

Peningkatan

kualitas

pada

berbagai

#enis

dan

#en#ang

pendidikan

termasuk taman kanak-kanak dan sekolah dasar merupakan titik berat pembangunan pendidikan pada saat ini dan pada kurun aktu yang akan datang. Pendidikan anak usia dini adalah upaya pembinaan yang ditu#ukan kepada anak se#ak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui

pemberian

rangsangan

pendidikan

untuk

membantu

pertumbuhan

dan

perkembangan #asmani dan rohani agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lan#ut. Pendidikan anak usia dini dilaksanakan melalui #alur pendidikan %ormal, non %ormal atau in%ormal.

&e*ara spesi%ik pada !urikulum 2009 untuk Pendidikan .nak Esia 4ini (selan#utnya disingkat P.E4) dinyatakan tu#uan pendidikan anak usia dini pada (aman !anak-kanak adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan %isik meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, kogniti%, bahasa, %isik=motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar. Entuk men*apai tu#uan tersebut ruang lingkup kurikulum dasar. dipadukan dalam dua bidang pengembangan yaitu bidang pengembangan pembentukan perilaku dan bidang pengembangan kemampuan

8idang pengembangan kemampuan dasar merupakan kegiatan yang dipersiapkan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan dan kreati+itas sesuai dengan tahap perkembangan anak, meliputi : berbahasa, kogniti%, %isik = motorik dan seni. !ogniti% sendiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir anak untuk dapat mengolah perolehan bela#arnya, sehingga dapat menemukan berma*am-ma*am alternati% peme*ahan masalah, membantu anak untuk mengembangkan kemampuan logika matematika dan kemampuan sains.

8erdasarkan kurikulum '999 yang disempurnakan tu#uan penga#aran sains di &4 adalah untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai ilmiah pada sis a serta rasa men*intai dan menghargai kebesaran (uhan Aang Maha Ksa. .dapun ketrampilan-ketrampilan proses yang harus dimiliki sis a diantaranya adalah mengamati, mengklasi%ikasikan, mena%sirkan hasil pengamatan, melakukan per*obaan, menyimpulkan, mengkomunikasikan, menerapkan perolehan yang semuanya ter*ermin dalam setiap tu#uan pembela#aran umum .

!enyataan di lapangan menun#ukkan dalam proses pembela#aran sains hanya mendengar *eramah dari guru sa#a atau memba*a buku teks yang dilan#utkan dengan pembahasan se*ara +erbal hal ini mengakibatkan sis a tidak mempunyai kesempatan untuk menemukan sendiri %akta dan konsep dan sis a tidak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan sains harus ketrampilan aspek memproseskan perolehan. Pembela#aran melibatkan

pengetahuan, a%ekti% dan psikomotor sehingga pengetahuan untuk memahami konsep diperoleh melalui proses berpikir dengan memiliki ketrampilan proses dan sikap ilmiah. Pemahaman ini berman%aat bagi anak untuk meme*ahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat menanggapi se*ara kritis perkembangan sains.

(u#uan pengembangan pembela#aran sains untuk anak adalah agar anak memiliki kemampuan meme*ahkan masalah yang dihadapinya melalui melalui metode sains proses, meningkatkan kemampuan sains pada anak , diharapkan anak memiliki sikap ilmiah dan diharapkan anak lebih berminat untuk menghayati sains. (etapi kenyataannya di lapangan, anak-anak sekarang kurang berminat pada sains. Pembela#aran sains di taman kanak-kanak pada umumnya masih berupa konsep dan ha%alan yang sebatas pada sains produk seperti menga#arkan tentang tata surya: bulan, bintang, dll, bukan menga#arkan pada sains proses. -al itu akan membuat anak-anak men#adi takut pada sains . &elain itu dari hasil a an*ara dengan guru di taman kanak-kanak pembela#aran sains yang ada masih berpusat pada guru sehingga perhatian anak men#adi tidak %okus, karena anak tidak dia#ak terlibat langsung dalam proses sains tersebut. .nak-anak harus dia#arkan bagaimana merasakan, mengalami, dan men*oba berbagai %enomena alam. !arena kegiatan yang berhubungan dengan eksperimen ini akan mema*u kreati+itas anak. .nak #uga akan bela#ar untuk berani men*oba. &uatu si%at mental yang kini amat berharga dan langka di dunia orang de asa.

&elain itu, melakukan eksperimen sains adalah pintu untuk memasuki dunia sains. !alau dilakukan di masa kanak-kanak, maka ia akan berpotensi besar untuk men#adi memori masa ke*il yang menyenangkan. !onsekuensi pembela#aran sains melalui ha%alan sa#a atau anak tidak terlibat langsung pada

proses sains menyebabkan anak-anak belum menun#ukkan kemampuannya menguasai kemampuan dasar kogniti% khususnya kemampuan sains, seperti yang telah ditetapkan dalam kurikulum 2009. "ndikasi yang paling sering ter#adi bah a murid-murid (! tidak menguasai kemampuan sains adalah anak tidak dapat berpikir kritis , padahal dengan kemampuan sains dapat membantu anak men#adi membuat keputusan yang tepat berdasarkan usaha yang *ermat, sistematis, logis dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

&ains atau "P. se*ara har%iah dapat disebut sebagai ilmu tentang alam atau yang mempela#ari peristi a-peristi a yang ter#adi di alam. &ains adalah sistem tentang alam semesta yang diperoleh melalui pengumpulan data dengan obser+asi dan eksperimen terkontrol. &ains adalah produk atau hasil dari proses penyelidikan ilmiah yang dilandasi oleh sikap dan nilai-nilai tertentu.

4ari sudut bahasa, sains atau &*ien*e (8ahasa "nggris), berasal dari bahasa 6atin, yaitu dari kata &*ientia artinya pengetahuan. (etapi pernyataan tersebut terlalu luas dalam penggunaan sehari-hari, untuk itu perlu dimun*ulkan ka#ian etimologi lainnya. Para ahli memandang batasan etimologi lainnya. Para ahli memandang batasan etimologis tentang sains yaitu dari bahasa >erman, hal itu meru#uk pada kata Iissens*ha%t, yang memiliki pengertian pengetahuan yang tersusun atau terorganisasikan se*ara sistematis.

&e*ara konseptual terdapat se#umlah pengertian dan batasan sains yang dikemukakan para ahli. (ames $onant yang dikutip oleh %li )ugraha mende%inisikan sains sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, yang tumbuh sebagai hasil serangkaian per*obaan dan pengamatan serta dapat diamati dan diu#i lebih lan#ut. &enada dengan $onant* %hmadi memberikan pengertian sains sebagai ilmu teoritis yang didasarkan atas pengamatan, per*obaan-per*obaan terhadap ge#ala alam berupa makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (isi alam semesta yang

lebih terbatas, khususnya tentang manusia dan si%at-si%atnya), sedangkan menurut +odge mengartikan sains sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode-metode yang berdasarkan pada pengamatan dengan penuh ketelitian. &e*ara analitis, beberapa ahli men*oba memberikan batasan sains dengan membagi sains berdasarkan dimensi pengka#iannya. "umaji menyatakan bah a se*ara sempit sains adalah "lmu Pengetahuan alam ("P.), terdiri atas physi*al s*ien*es dan li%e s*ien*es. (ermasuk physi*al s*ien*es adalah ilmu-ilmu astronomi, kimia, geologi, minerologi, metereologi dan %isika, sedangkan li%e s*ien*es meliputi biologi, Coologi dan %isiologi. -al yang sama #uga di#elaskan oleh 4odge bah a sains terdiri dari physi*al s*ien*e, il%e s*ien*e dan bumi dan sekitarnya. 4imana physi*al s*ien*e terdiri dari ob#ek Lob#ek yang dapat dieksplor , karena anak dapat bela#ar tentang berat, bentuk, ukuran, arna dan suhu. 6i%e s*ien*e men*eritakan tentang prosesnya. .nak dapat mempela#ari tentang proses pertumbuhan tanaman dan kehidupan binatang. &edangkan ,rnest -agel seperti dikutip oleh !ndra.ati memandang sains dari tiga aspek 5 pertama, dari a "ek t(.(an, sains adalah sebagai alat untuk menguasai alam dan untuk memberikan sumbangan kepada kese#ahteraan manusia. !edua, sains sebagai suatu "engeta,(an /ang ! te-at! dan tangguh dalam arti merupakan suatu kesimpulan yang didapat dari berbagai peristi a. !etiga, sains sebagai -et#%e, yaitu merupakan suatu perangkat aturan untuk meme*ahkan masalah, untuk mendapatkan atau mengetahui penyebab dari suatu ke#adian, dan untuk mendapatkan hukum-hukum atau teori dari obyek yang diamati.

8erdasarkan de%inisi diatas, bah a sains dapat dipandang sebagai suatu dimensi yang terdiri suatu proses, maupun produk atau hasil serta sebagai sikap. .pabila pembela#aran sains yang dapat dikembangkan meliputi tiga substansi mendasar, yaitu pendidikan dan pembela#aran sains berisi program yang mem%asilitasi penguasaan proses sains, penguasaan produk sains serta program yang mem%asilitasi pengembangan-pengembangan sikap sains. &.Sa!n e*aga! (at( "r# e adalah *ara untuk memperoleh

pengetahuan. :ambaran sains berhubungan erat dengan kegiatan penelusuran ge#ala dan %akta-%akta alam yang dilakukan melalui kegiatan laboratorium

beserta perangkatnya. !ebenaran sains akan diakui #ika penelusurannya berdasar pada kegiatan pengamatan, hipotesis (dugaan), per*obaan-per*obaan yang ketat dan obyekti%, meskipun kadang berseberangan dengan nilai yang ada. >adi, sains menuntut proses yang dinamis dalam ber%ikir, pengamatan, eksperimen, menemukan konsep maupun merumuskan berbagai teori. $angkaian proses yang dilakukan dalam kegiatan sains tersebut, saat ini dikenal dengan sebutan metode keilmuan atau metode ilmiah. ).Sa!n e*aga! "r#%(k terdiri atas berbagai %akta, konsep prinsip,

hukum dan teori . Fakta adalah sesuatu yang telah ter#adi yang dapat berupa keadaan, si%at atau peristi a5 sedangkan k#n e" adalah suatu ide yang merupakan generalisasi dari berbagai peristi a atau pengalaman khusus, yang dinyatakan dalam istilah atau simbol tertentu yang dapat diterima. !onsep menga*u pada benda-benda atau obyek, peristi a, keadaan, si%at, kondisi, *iri dan atribut yang melekatnya. &edangkan te#r! adalah komposisi yang dihasilkan dari pengembangan se#umlah proposisi (pernyataan berarti) yang dianggap memiliki keterhubungan se*ara sistematis dan kebenarannya sudah teru#i se*ara empirik serta dianggap berlaku se*ara uni+ersal . 3.Sa!n dipertahankan e*aga! oleh (at( !ka", atau dikenal dengan istilah sikap ilmuan khususnya ketika men*ari atau

keilmuan, maksudnya berbagai keyakinan, opini dan nilai-nilai yang harus seorang mengembangkan pengetahuan baru. 4iantara sikap tersebut adalah rasa tanggung #a ab yang tinggi, rasa ingin tahu, disiplin, tekun, #u#ur, dan terbuka terhadap pendapat orang lain.

&ehingga dapat disimpulkan bah a sains adalah ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan %akta dan ge#ala alam yang tersusun se*ara sistematis yang didapatkan melalui pengamatan dan eksperimen.

BAB III PEMBAHASAN

&ebagaimana de%inisi-de%inisi sains yang teah di#elaskan pada 8.8 "" ,dapat diktahui bah a de%inisi sains untuk anak usia dini adalah sains yang sasarannya ditu#ukan pada anak-anak usia dini,baik pada #en#ang (aman !anakkanak maupun &ekolah 4asar. &ains,saat ini men#adi hal yang penting untuk diterapkan atau dikenalkan pada anak-anak usia dini karena sains menga#ak anak untuk berpikir kritis, dengan sains anak dapat tidak begitu sa#a

menerima atau menolak sesuatu. Mereka mengamati, menganalisis dan menge+aluasi in%ormasi yang ada sebelum menentukan keputusannya. 4engan melalui per*obaan-per*obaan sains melalui ketrampilan proses, anak-anak dapat ditingkatkan kemampuan sainsnya. 4engan media obser+asi, mempunyai kemampuan sains yang tinggi dapat anak yang dan menemukan

mempertanyakan ob#ek-ob#ek yang dipahaminya. .nak usia 9-1 tahun dapat dilatih untuk mempunyai kemampuan sains . .nak dapat mulai dia#arkan ketrampilan obser+asi dasar seperti pengamatan.6e at *ara ini anak dapat dia#ak untuk memahami apa itu bunyi, udara, air, *ahaya, suhu, tanah serta berbagai kayu dan logam. Mendidik anak mempunyai kemampuan sains dapat membantu orang tua untuk yang menghindarkan tidak tepat. anak dari anak kemungkinan mempunyai menggunakan in%ormasi Mendidik

kemampuan sains akan membantu anak untuk se*ara akti% membangun pertahanan diri terhadap serangan in%ormasi disekelilingnya

Melatih anak dengan per*obaan

sains

akan membuat anak men#adi

berpikir kreati%, ino+ati%, dan mandiri, 4imensi lain dari sains #uga yang teramat penting adalah dimensi ?proses@ yaitu proses mendapatkan sains itu sendiri. &ains diperoleh melalui suatu penelitian dan per*obaan yang disebut dengan metode ilmiah. .nak usia dini atau usia prasekolah berada dalam -a a e-a "erke-*angan #takn/a, salah satu hasil penelitian menyebutkan, kapasitas ke*erdasan anak pada usia empat tahun sudah men*apai 00 persen. !apasitas itu akan meningkat hingga 80 persen pada usia delapan tahun. "ni menun#ukkan

pentingnya memberikan rangsangan pada anak usia dini. Mengenalkan sains pada anak bukan berarti mengenalkan rumus-rumus. &uasana harus dalam keadaan bermain. Mengenalkan sains pada anak harus sesuai dengan tahapan umur dan perkembangannya.

-al ini men#adi penting bah a pembela#aran hendaknya dihubungkan dengan apa yang telah diketahui anak dan rele+an dengan mereka.Mempertimbangkan karakteristik anak yang se#ak dalam kandungan telah siap untuk bela#ar dan terlahir sebagai peneliti alamiah yang meiliki dorongan kuat untuk mengadakan eksplorasi dan in+estigasi, maka implikasi bagi orang de asa khususnya guru, haruslah bertindak sebagai %asilitator bagi setiap anak dalam menun#ang minat dan keingintahuan mereka. Memberikan kesempatan, tantangan serta melibatkan anak dalam beragam kegiatan untuk memperoleh pengalaman langsung yang seluas-luasnya merupakan inti proses sains. 4an, tidak kalah penting pula bagi pembela#aran sains di tingkat (!, bila dilakukan kehidupan. se*ara terintegrasi melaui bermain karena bermain selain menghilangkan stress pada anak #uga merupakan *ara anak bela#ar tentang

&ains yang diperkenalkan kepada anak usia dini, akan mendorong mereka men#adi anak yang kaya akan inspirasi. Melatih anak dengan eksperimen sains bisa membuat anak bersikap kreati% dan kaya akan inisiati%. Permainan sains #uga bisa menumbuhkan pola berpikir logis pada anak. Mereka akan terbiasa untuk mengikuti tahap-tahap eksperimen sains. Kksperimen gagal tidak boleh disembunyikan, gagal harus disampaikan. 4isini akan mun*ul #uga sikap sporti%ti+itas pada anak.!arena dengan bekal sains, se#ak ke*il anak-anak akan bisa meme*ahkan masalahnya sendiri. Pendidikan sains menekankan pada pemberian pengalaman se*ara langsung. 4engan demikian, anak perlu dibantu untuk mengembangkan se#umlah ketrampilan proses sains agar mampu men#ela#ahi serta memahami alam sekitarnya.

4engan memberikan pembela#aran sains se#ak usia dini dapat melatih anak dalam menggunakan pikirannya, kekuatannya, ke#u#urannya serta teknikteknik yang dimilikinya dengan penuh keper*ayaan diri, sehingga tugas guru adalah mengembangkan program pembela#aran sains yang dapat mengeksplorasi dan berorientasi sains se*ara optimal. Program pembela#aran sains yang diberikan pada anak usia dini hendaklah telah melalui proses analisa tugas dan kemampuan anak, atas pertimbangan pilihan dan +ariasi kegiatan yang diminati dan merangsang anak serta sesuai dengan aspek yang melekat pada anak sebagai indi+idu yang unik.

Pembela#aran pada anak pra sekolah sebaiknya bersi%at terpadu atau terintegrasi yaitu terintegrasi dengan bidang lain seperti matematika, ataupun akti+itas sosial lainnya. Mengenalkan sains pada anak berarti membantu anak untuk melakukan per*obaan sederhana sehingga dapat menghubungkan sebab dan akibat suatu perlakuan. Per*obaan tersebut #uga akan membantu anak untuk mulai ber%ikir logis. Mengenalkan sains pada anak prasekolah dapat melalui permainan yang menyenangkan dengan bahan yang ada disekitar anak. Pengenalan sains pada anak prasekolah lebih ditekankan pada proses daripada produk. 2leh sebab itu dalam bermain sains anak dia#arkan untuk menggunakan seluruh pan*a indranya sebaik mungkin, agar dalam proses bermain tersbut anak dapat menemukan #a aban-#a aban dari suatu kegiatan bermain.

SAINS UNTUK ANAK USIA DINI

Pengertian sains untuk anak usia dini adalah bagaimana memahami sains berdasarkan sudut pandang anak . !arena #ika kita memandang dimensi sains dari ka*amata anak, maka akan berimplikasi pada kekeliruan-kekeliruan dalam menentukan hakikat sains bagi anak usia dini yang berdampak *ukup signi%ikan

terhadap pengembangan pembela#aran sains itu sendiri kepada mereka. -al tersebut tentunya se*ara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pula pada proses dan produknya yaitu anak-anak itu sendiri.

!ehidupan anak tidak dapat lepas dari sains, kreati+itas dan akti+itas sosial. Makan, minum, menggunakan berbagai benda yang ada di rumah seperti radio, (B, dan kalkulator tidak lepas dari sains dan teknologi. 2leh sebab itu, guru hendaknya dapat menstimulasi anak dengan berbagai kegiatan yang terkait dengan sains dan teknologi. Entuk itu, seorang guru perlu mempela#ari konsep-konsep keilmuan dan *ara penga#arannya. Pengenalan sains untuk anak pra sekolah lebih ditekankan pada proses daripada produk. Entuk anak prasekolah keterampilan proses sains hendaknya dilakukan se*ara sederhana sambil bermain. !egiatan sains memungkinkan anak melakukan eksplorasi terhadap berbagai benda, baik benda hidup maupun benda tak hidup yang ada disekitarnya. .nak bela#ar menemukan ge#ala benda dan ge#ala peristi a dari benda-benda tersebut. &ains #uga melatih anak menggunakan lima inderanya untuk mengenal berbagai ge#ala benda dan ge#ala peristi a. .nak dilatih untuk melihat, meraba, membau, merasakan dan mendengar. &emakin banyak keterlibatan indera dalam bela#ar, anak semakin memahami apa yang dipela#ari. .nak memperoleh pengetahuan baru hasil penginderaanya dengan berbagai benda yang ada disekitarnya. Pengetahuan yang diperolehnya akan berguna sebagai modal berpikir lan#ut. Melalui proses sains, anak dapat melakukan per*obaan sederhana. Per*obaan tersebut melatih anak menghubungkan sebab dan akibat dari suatu perlakuan sehingga melatih anak berpikir logis. 4alam pembela#aran sains, anak #uga berlatih menggunakan alat ukur untuk melakukan pengukuran. .lat ukur tersebut dimulai dari alat ukur nonstandar, seperti #engkal, depa atau kaki. &elan#utnya anak berlatih menggunakan alat ukur standar. .nak se*ara bertahap berlatih menggunakan stuan yang akan memudahkan mereka untuk ber%ikir se*ara logis dan rasional. 4engan demikian sains #uga mengembangkan kemampuan intelektual anak.

PENTINGN0A SAINS

.nak pada usia dini sudah dikenalkankan dengan sains, hal ini tentu sa#a mempertimbangkan pentingnya sains bagi anak. 4i sini ada beberapa hal yang membuktikan pentingnya pengenalan sains pada anak usia dini.

6eeper ( '999 ) menyampaikan bah a : '. Pengembangan pembela#aran sains ditu#ukan agar anak memiliki

kemampuan meme*ahkan masalah yang dihadapinya melalui pengguanaan metode sains, sehingga anak L anak terbantu dan men#adi terampil dalam menyelesaikan berbagai hal yang dihadapi. 2. Pengembangan pembela#aran sains pada anak usia dini ditu#ukan agar

anak L anak memiliki sikap ilmiah. -al ini mendasar misalkan 5 tidak *epat L *epat dalam mengmabil keputusan, dapat melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang, berhati L hati terhadapa in%ormasi L in%ormasi yang diterimanya serta bersi%at terbuka. 7. Pengembangan pembela#aran sains pada anak usia dini ditu#ukan agar

anak L anak mendapatkan pengetahuan dan in%ormasi ilmiah. 9. Pengembangan pembela#aran sains pada anak usia dini ditu#ukan agar

anak L nak men#adi lebih berminat dan tertarik untuk menghayati sains yang berada dan ditemukan di lingkungan dan alam sekitarnya. 4ari uraian L uraian tersebut dapat disimpulkan bah a pentingnya sains adalah : Membantu pemahaman anak tentang konsep sains dan keterkaitannya

dengan kehidupan sehari L sehari. Membantu melekatkan aspek L aspek yang terkait dengan keterampilan

proses sains, sehingga pengetahuan dan gagasan tenatang alam sekitar dalam diri anak men#adi berkembang.

Membantu

menumbuhkan

minat

pada

anak

untuk

mengenal

dan

mempela#ari benda L benda serta ke#adiandi luar lingkungannya. Mem%asilitasi dan mengemabngkan sikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis,

ma as diri, bertanggung #a ab, beker#a sama, dan mandiri dalam kehidupan. Membantu anak agar mampu menerapkan berbagai konsep sains untuk

men#elaskan ge#ala L ge#ala alam dan meme*ahkan masalah dalam kehidupan sehari L hari. Membantu anak agar mampu mengguanakan teknologi sederhana yang

dapat digunakan untuk meme*ahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari L hari. Membantu anak untuk dapat mengenal dan memupuk rasa *inta terhadap

alam sekitar, sehingga menyadari kebesaran dan keagungan (uhan AMK.

KEMAMPUAN SAINS ANAK USIA DINI

Pada

dasarnya

se#ak

anak

usia

dini,

manusia

sudah

memiliki

ke*enderungan dan kemampuan berpikir kritis. -al itu di#elaskan oleh Bre.er &ebagai mahluk rasional dan pemberi makna, manusia selalu terdorong untuk memikirkan hal-hal yang ada di sekelilingnya. !e*enderungan manusia memberi arti pada berbagai hal dan ke#adian di sekitarnya merupakan indikasi dari kemampuan berpikirnya. !e*enderungan ini dapat kita temukan pada seorang anak yang memandang berbagai benda di sekitarnya dengan penuh rasa ingin tahu. Ke-a-"(an k#gn!t!' anak ( !a 1 2 3 ta,(n a%ala, 4 (') sudah dapat memahami #umlah dan ukuran, (2) tertarik dengan huru% dan angka. .da yang sudah mampu menulisnya atau menyalinnya, serta menghitungnya, (7) telah mengenal sebagian arna,

(9) mulai mengerti tentang

aktu, kapan harus pergi sekolah dan pulang dari

sekolah, nama-nama hari dalam satu minggu, (0) mengenal bidang dan bergerak sesuai dengan bidang yang dimilikinya, (1) pada akhir usia 1 tahun, anak sudah mulai mampu memba*a, menulis dan berhitung. 4engan pemahaman terhadap kondisi kogniti% anak dan kemampuan bela#ar yang tinggi yakni rasa ingin tahu tersebut, Pembela#aran sains yang kondusi% akan membuat anak mengenali lebih baik obyek atau lingkungan yang dipela#arinya. Pembela#aran seperti itu akan membantu anak mengenali se*ara langsung berbagai hal. .nak akan mengenal tantangan hidup dan peluangpeluangnya. 4engan penyediaan pengalaman langsung melalui pembela#aran sains, kekuatan intelektual anak men#adi terlatih se*ara simultan dan terus menerus. 4engan sering mengamati, maka ketrampilan sains anak berkembang. .nak usia taman kanak-kanak telah memiliki kemampuan dasar tentang matematika dan pengetahuan tentang alam sekitar , yang dikenal dengan pengetahuan alam. !emampuan dasar matematika ini dapat dilihat dari kemampuan anak tersebut dalam konsep bilangan, menghitung pada batas tertentu dan bahkan ada yang telah dapat melakukan operasi hitung se*ara sederhana. Perkembangan pengetahuan alam sekitar (sains) pada anak ini, dapat dilihat dari kemampuannya dalam menyebutkan nama ob#ek yang ada disekitarnya, men#elaskan tentang peristi a yang ter#adi dan yang akan ter#adi, serta hal-hal lainnya. akan

Maka, dapat disimpulkan bah a kemampuan sains anak usia dini adalah kegiatan pada anak usia dini, diantaranya: , kemampuan mengamati, dan mengklasi%ikasikan, menarik kesimpulan mengkomunikasikan

mengaplikasikannya berdasarkan pengalaman sains yang diperolehnya.

PEMBELAJARAN SAINS PADA ANAK USIA DINI

&etiap anak berpotensi untuk men#adi seorang saintis, karena anak-anak yang mengadakan kegiatan sains seringkali dapat melakukannya se*ara menge#utkan. (etapi kemampuan anak dalam penguasaan sains tergantung pada %asilitator dalam hal ini orang tua, guru dan lingkungan. Pengembangan pembela#aran sains akan men#adi pendidikan yang baik #ika kita mampu mengindi+idualisasikan sains pada anak se*ara baik, yaitu men#adi bersi%at pribadi, melekat pada kehidupannya, berkembang sesuai karakteristiknya serta sesuai dengan kesanggupan anak.

Pembela#aran dalam area sains pada a alnya melibatkan pengetahuan %isik dan pengetahuan logika matematika. 4imana anak-anak men#ela#ahi si%atsi%at materi, mereka men*apai pengetahuan dari materi tersebut melalui pengetahuan %isik. !emudian mereka men*iptakan hubungan antar benda-benda tersebut , seperti pada saat mengelompokkan daun-daun, mereka pada saat itu bela#ar logika matematika.

Proses

sainti%ik adalah

sebuah

siklus dari

pembentukan

hipotesis,

mengumpulkan data, mengkon%irmasikan atau menolak berbagai hipotesis, membuat generalisasi, kemudian mengulangi siklus. !etrampilan dasar yang digunakan dalam proses sainti%ik men*akup pengamatan, mengelompokkan dan membandingkan, dan mengukur, mengkomunikasikan, berpikir yang melakukan lebih eksperimen, &etiap menghubungkan, menyimpulkan dan mengaplikasikan. !arena menyimpulkan mengaplikasikan mensyaratkan abstrak. ketrampilan ini, pada saat diaplikasikan ke dalam program sains untuk anak usia dini akan didiskusikan pada bagian berikut. 8agaimanapun harus benar bela#ar diingat bah a semua ketrampilan tersebut penting dalam pembela#aran se*ara umum. &emua ketrampilan tersebut bahkan tidak hanya diaplikasikan dalam bela#ar sains.

.nak-anak harus dapat berpikir dalam tema-tema konkrit operasional sebelum mereka dapat berpikir tentang berbagai ob#ek yang memiliki berbagai kategori sekaligus. Mayoritas anak-anak tidak dapat berpikir konkrit pada usia dini. :uru dapat mendorong anak-anak untuk mengelompokkan berbagai ob#ek

dan men#elaskan bagaimana berbagai ob#ek tersebut dapat dikelompokkan. .nak dapat mengelompokkan berbagai balok berdasarkan bentuk, kelompok benda-benda tersebut dapat dimasukkan dalam area seni atau ma*am-ma*am tombol, daun-daun, bi#i-bi#ian atau koleksi lainnya.

.nak

yang

duduk

di

taman

kanak-kanak

berada

dalam

%ase

praoperasional. &uatu %ase perkembangan kogniti% yang ditandai dengan ber%ungsinya kemampuan simbolis, kemampuan berpikir se*ara intuiti% dan berpusat pada *ara pandang anak itu sendiri atau egosentris. Jase ini #uga meletakkan dasar bagi kemampuan matematika dan pengetahuan alam atau sains. !emampuan bahasa pada %ase ini sudah *ukup baik.

&ehingga dapat disimpulkan bah a peningkatan kemampuan sains anak usia dini khususnya (! 8 meliputi kemampuan untuk mengamati, mengklasi%ikasi, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan masalah yang dihadapinya melalui ketrampilan proses, &elain itu #uga sikap rasa ingin tahu #uga dapat meningkatkan kemampuan sains anak usia anak (! 8. Pembela#aran sains di (! 8 tidak hanya diharapkan dapat membantu anak untuk memperoleh se#umlah in%ormasi, ide-ide, ketrampilan, nilai-nilai dan *ara berpikir #uga *ara mengekspresi dan mengkomunikasikannya.

KETERAMPILAN PROSES

&ains ("P.) hakikatnya terdiri dari dua komponen penting yang satu sama lain saling menun#ang yaitu komponen produk dan komponen proses. Produk sains berupa pengetahuan, %akta, konsep dan hukum. &edangkan proses berupa ketrampilan dan sikap yang berhubungan dengan penyelidikan dan penemuan.

!ata ketrampilan berasal dari kata terampil yang berarti kepandaian melakukan sesuatu dengan *epat dan benar, seorang yang dapat melakukan sesuatu dengan *epat tetapi tidak benar tidak dapat dikatakan trampil demikian

pula apabila seseorang melakukannya dengan benar tetapi lambat belum dapat dikatakan trampil. 6ebih lan#ut di#elaskan bah a seseorang yang trampil dalam suatu bidang tidak ragu-ragu melakukan peker#aan tersebut seakan-akan tidak pernah lagi dipikirkan bagaimana melaksanakannya, tidak ada lagi kesulitan yang menghambat. 4alam ruang lingkup yang lebih luas, ketrampilan meliputi kegiatan berupa perbuatan, berpikir, berbi*ara, melihat, mendengarkan dan sebagainya sedangkan dalam pengertian yang sempit biasanya ketrampilan lebih ditu#ukan berupa perbuatan. 8eberapa ahli lain men#elaskan pengertian ketrampilan merupakan perilaku yang tampak sebagai akibat perbuatan otot yang digerakkan oleh sistem sara% dan disertai koordinasi yang memadai antara ker#a otot dan proses psikologi yang mengatur gerak itu.

!etrampilan proses ini tidak tumbuh dan beker#a se*ara otomatis, tetapi perlu dilatih agar tumbuh dan berkembang baik. Melalui kegiatan-kegiatan sains yang dilakukan, anak akan menghayati proses ilmiah. &ehingga dapat dikatakan, ketrampilan proses anak akan lebih berkembang dan terlatih.:uru dapat meren*anakan berbagai kegiatan akti%, yang dapat mengembangkan ketrampilan proses. -asilnya anak akan lebih mampu menerapkan ketrampilan proses itu dalam kehidupan serhari-hari. Para ilmu an dalam menemukan suatu %akta atau teori tersebut melalui tahapan-tahapan kegiatan tertentu yang disebut proses ilmiah yang menumbuh kemabangkan sikap ilmih, sehingga terbentuk produk ilmiah yaitu ilmu pengetahuan alam (sains) yang men#adi dasar dan melahirkan kema#uan-kema#uan teknologi yang berman%aat bagi kelangsungan hidup manusia .

!etrampilan proses bukalah sesuatu yang khusus dalam sains, karena ketrampilan tersebut merupakan ketrampilan biasa yang laCim dilakuakan para ilmu an atau orang-orang yang bergelut dalam sains, demikian #uga dalam pembela#aran sains hampir /0M dari pokok bahasan memerlukan ketrampilan proses, alaupun ada #uga pendekatan lain yang menun#ang dan saling terkait dengan pendekatan ini, tetapi semua itu selalu berorientasi pada *ara bela#ar sis a akti% yang mengembangkan ketrampilan proses suatu perolehan dengan isi, pesan, ran*angan dan arah yag #elas.

6angkah-langkah yang dilakukan para ilmu an dalam usaha mendapatkan pengetahuan tentang alam biasa dikenal dengan metode ilmiah. )uryani menyatakan bah a ketrampilan-ketrampilan dasar yang dimiliki ilmuan dalam melakukan kegiatan ilmiah dikenal dengan ketrampilan proses sains. -arlen mendeskripsikan ketrampilan proses sebagai kegiatan-kegiatan sis a yang dilakukan dalam bela#ar untuk men*apai tu#uan tertentu, dan seluruh kegiatan men#adi kesatuan yang tidak terpisah-pisah, misalnya dalam kegiatan penyelidikan mulai dari melakukan pengamatan, mena%sirkan hasil pengamatan dann ketrampilan-ketrampilan sela#utnya se*ara keseluruhan masing-masing ketrampilan proses yang terlibat men#adi bagian dari keseluruhan ketrampilan dalam proses penyelidikan tersebut. Menurut $onny "emia.an ketrampilan proses adalah ketrampilan %isik dan mental yang dimiliki , dikuasai dan diterapkan oleh ilmu an.!etrampilan proses adalah ketrampilan ilmiah yang men*akup ketrampilan kogniti%, ketrampilan psikomotor dan a%ekti%.

!etrampilan-ketrampilan ini dapat digunakan untuk menemukan dan mengembangkan konsep serta menanamkan sikap ilmiah. .spek-aspek ketrampilan proses meliputi : '. 2bser+asi, men*akup ketrampilan melibatkan semua alat indra untuk

meyatakan si%at yang dimiliki oleh suatu benda atau ob#ek 2. Mena%sirkan hasil pengamatan, melibatkan ketrampilan men*ari hubungan

antara pengamatan dengan pernyataan *iri-*iri atau si%at suatu benda atau peristi a yang mudah diberi arti oleh orang lain. 7. 9. Mengelompokkan, memerlukan ketrampilan obser+asi 8erkomunikasi, men*atat hasil pengamatan yang rele+an dengan

penyelidikan. 0. Menga#ukan pertanyaan, memberikan kesempatan kepada sis a untuk

mengungkapkan apa yang ingin diketahuinya. 1. Menyimpulkan (in%erensi), merupakan ketrampilan memberikan pen#elasan

atau interprestasi terhadap suatu data yang didasarkan atas pengetahuan dan pengalaman a al.

Pembela#aran sains berbasis ketrampilan proses adalah bentuk pembela#aran yang mengintegrasikan ketrampilan proses ke dalam rangkaian akti+itas bela#ar guna mengarahkan sis a pada proses pengetahuan se*ara mandiri.

RAMBU5RAMBU KEGIATAN SAINS UNTUK ANAK

!egiatan pengenalan sains untuk anak prasekolah sebaiknya disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. :uru=pendidik hendaknya tidak men#e#alkan konsep sains kepada anak, tetapi memberikan kegiatan pembela#aran yang memungkinkan anak menemukan sendiri %akta dan konsep sederhana tersebut. (eori K)perimental 6earning dari ;arl $ogermengisyaratkan pentingnya pembela#aran yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan anak. Menurutnya anak se*ara alamiah dengan kapasitas dan kemauan untuk bela#ar. Jungsi pendidik hanyalah mem%asilitasi dan membantu agar anak dapat bela#ar se*ara optimal. Menurut Piaget ('9/2) anak prasekolah usia 9-1 tahun berada pada %ase perkembangan pra operasional dan menu#u konkret operasional. Entuk itu kegiatan sains sebaiknya disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan karakterstik anak tersebut. 8erikut ini merupakan rambu-rambu yang dapat men#adi a*uan dalam pembela#aran sains : &. Ber !'at k#nkr!t 8enda-benda yang digunakan bermain dalam kegiatan pembela#aran adalah benda yang konkrit (nyata). Pendidik tidak dian#urkan untuk men#e#ali anak dengan konsep-konsep sendirri konsep tersebut. ). H(*(ngan e*a* ak!*at terl!,at e6ara lang (ng .nak usia 0-1 tahun masih sulit menghubungkan sebab akibat yang tidak terlihat se*ara langsung karena pikiran mereka yang bersi%at transdukti%. .nak tidak abstrak. Pendidik sebaiknya menyediakan berbagai benda dan %asilitas lainnya yang diperlukan agar anak dapat menemukan

dapat menghubungkan sebab-akibat yang tidak terlihat se*ara langsung. >ika anak melihat peristi a se*ara langsung, membuat anak mampu mengetahui hubungan sebab akibat yang ter#adi. &ains kaya akan kegiatan yang melatih anak menghubungkan sebab akibat. 7. Me-(ngk!nkan anak -elak(kan ek "l#ra ! !egiatan sains sebaiknya memungkinkan anak melakukan eksplorasi terhadap berbagai benda yang ada disekitarnya. Pendidik dapat menghadirkan ob#ek dan %enomena yang menarik ke dalam kelas. Misalnya guru menghadirkan induk ku*ing dengan anaknya, atau ulat yang akan men#adi kepompong. .nak akn merasa senang memperhatikan perilaku dan perubahan yang ter#adi terhadap binatang tersebut. 8ermain dengan air, magnet, balon, suara atau bayangbayang akan membuat anak sangat senang. .nak #uga akan dapat menggunakan hampir semua pan*a indranya untuk melakukan eksplorasi atau penyelidikan. 8. Me-(ngk!nkan anak -enk#n tr(k ! "engeta,(an en%!r!. &ains tidak melatih anak untuk mengingat berbagai ob#ek, tetapi melatih anak mengkonstruksi pengetahuan berdasarkan ob#ek tersebut. 2leh karena itu kegiatan pengenalan sains tidak *ukup dengan memberitahu de%inisi atau namanama ob#ek, tetapi memungkinkan anak berinteraksi langsung dengan ob#ek dan memperoleh pengetahuan dengan berbagai inderanya dari ob#ek tersebut. 2leh sebab itu sangat tidak tepat #ika memperkenalkan anak berbagai ob#ek melalui gambar atau model. .nak membutuhkan ob#ek yang sesungguhnya.

1. Me-(ngk!nkan anak -en.a9a* "er #alan :a"a: %ar! "a%a :-enga"a: !eterbatasan anak menghubungkan sebab akibat menyebabkan anak sulit men#a ab pertanyan @mengapa@. Pertanyaan tersebut harus di#a ab dengan logika ber%ikir sebab akibat. >ika anak bermain dengan air di pipal lalu anak ditanya @apa yang akan ter#adi #ika u#ung pipa dinaikkanF@. .nak dapat men#a ab, @air akan mengalir melalui u#ung yang lain yang lebih rendah.@ tidak perlu anak ditanya @mengapa #ika u#ung ini dinaikkan, air akan mengali ke u#ung yang lebih rendah@F -al itu tidak akan dapat di#a ab oleh anak. &ering anak

mener#emahkan pertanyaan Nmengapa@ dengan @untuk apa@, sehingga pertanyaan mengapa akan di#a ab @agar@ atau @supaya@ . 3. Le*!, -enekankan "r# e %ar!"a%a "r#%(k Melakukan kegiatan eksplorasi dengan benda-benda akan sangat menyenangkan bagi anak. .nak tidak br%ikir apa hasilnya. 2leh sebab itu guru tidak perlu men#e#ali nak dengan berbagai konsep sains atau mengharuskan anak untuk menghasilkan sesuatu dari kegiatan anak. 8iarkan anak se*ara alami menemukan berbagai pengertian dari interaksinya bermain dengan berbagai benda. 4engan kata lain proses lebih penting daripada produk. ;. Me-(ngk!nkan anak -eng(nakan *a,a a %an -ate-at!ka Pengenalan sains hendaknya terpadu ddengan disiplin ilmu yang lain, seperti bahasa, matematika, seni dan atau budi pekerti. Melalui sains anak melakukan eksplorasi terhadap ob#ek. .nak dapat men*eritakan hasil eksplorasinya kepada temannya (bahasa). .nak melakukan pengukuran, menggunakan bilangan, dan memba*a angka (matematika). .nak dapat #uga menggambarkan ob#ek yang diamati dan mea arnai gambarnya (seni). .nak #uga dia#arkan men*intai lingkungan atau benda disekitarnya (budipekerti). <. Men/a.!kan keg!atan /ang -enar!k =the wondwer of science> &ains menya#ikan berbagai per*obaan yang menarik seperti sulap. .nak-anak yang masih memiliki pikiran magis (=imagi*al reasoning) akan sangat tertarik dengan kea#aiban tersebut. Misalnya air susu di*ampur air sabun dan diberi tiga ma*am pe arna makanan, lalu diaduk. 4engan manmbahkan sedikit air soda, anak akan melihat air berbuih dan mengeluarkan gelembung seperti mendidih, menampilkan air arna arni yang menarik

MATERI DAN KEGIATAN SAINS

.da beberapa materi sains yang sesuai untuk anak prasekolah terutama usia 0-1 tahun. Pembela#aran topik-topik sains hendaknya lebih bersi%at memberikan pengalaman tangan pertama (%irst-hand e)perien*e) kepada anak, bukan mempela#ari konsep saians yang abstrak. &elain itu pembela#aran sains hendaknya mengembangkan kemampuana obser+asi, klasi%ikasi, pengukuran, mengunakan bilangan dan mengidenti%ikasi hubungan sebab akibat. Materi

tersebut antara lain: &. Mengenal gerak .nak sangat senang bermain dengan benda-benda yang dapat bergrak, memutar, menggelinding, melenting, atau melorot. .da beberpa kegiatan untuk mengenalkan anak dengan gerakan, antara lain: a. Menggel!n%!ng %an *ent(k *en%a Materi ini menyadarkan anak akan sebab-sebab timbulnya gerakan pada benda. !emiringan papan, bentuk benda slilidris dan kotak, halus kasarnya permukaan benda ikut mempengaruhi ke*epatan gerakan. Materi ini #uga dapat melatih kemampuan obser+asi. *. Menggel!n%!ng %an (k(ran *en%a 8ermain dengan *ara menggelindingkan benda-benda dengan berbagai ukuran akan membantu sis a untuk mengenal bah a besar ke*il, berat ringannya suatu benda akan mempengaruhi gerak benda tersebut. Meteri ini #uga melatih kemampuan obser+asi pada anak. ). Mengenal *en%a 6a!r 8ermain dengan air merupakan salah satu kesenangan anak. Pendidik dapat mengarahkan permainan tersebut agar anak dapat memiliki berbagai pengalaman tentang air. .ir senantiasa menyesuaikan bentuknya dengan bentuk adahnya. .ir mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yng lebih rendah atau dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan rendah. 8erbagai kegiatan n dengn air, antara lain: a. K#n er$a ! $#l(-e !egiatan ini merupakan *ara untuk melatih anak memahami isi atau +olume benda *air. .nak Pra operasional belum dapat memahami konser+asi +olume (Piaget '9/2). 2leh karena itu memperkenalkan anak dengan be#ana yang dapat diisi akan membantu anak memahami konser+asi +olume. &ambil mengisi botol besar, lalu memindahkan ke botol yang lebih ke*il dan sebalaiknya, anak bela#ar mengunakan bilangan untuk menghitung banyaknya air yang dimasukkan ke botol tersebut. .nak #uga akan berlatih memahami pengertian lebih banyak dan lebih sedikit. !egiatan ini sebaiknya dilakukan di luar kelas. .gar tidak basah, sebaiknya anak diminta memakai rompi plastik. *. Tenggela- %an tera"(ng !egiatan ini dapat dilakukan di kelas atau di luar kelas. >ika di kelas, beri

alas plastik dan koran agar air tidak mmbasahi tempat. (u#uan kegiatan ini adalah agar anak diberi pengalaman bah a ada benda yang tenggelam an ada yang terapung. .nak sering mengira benda yang berukuran ke*il terapung dan yang besar tenggelam. (enggelam atau terapung tidak ditentukan oleh ukuran benda melainkan oleh berat #enis benda. . 6. Me-*(at *en%a tera"(ng (u#uan kegiatan ini addalah untuk mengenalkan pada anak bah a benda yang tenggelam dapat dibuat terapung. 4ari kegiatan ini pula anak akan memahami, mengapa perahu yang berat dapat terapung. %. Lar(t %an t!%ak lar(t. &ebagian benda larut ke dalam air dan sebagian lagi tidak. :ula, garam dan arna pada teh larut dalam air sehingga akan membentuk larutan. >ika larutan dibiarkan, maka akan membentuk endapan, ke*uali #ika airnya diuapkan semua. 8enda lain tidak larut dalam air, seperti tepung, pasir dan minyak. >ika benda tersebut di*ampur dengan air maka tidak akan membentuk larutan, tetapi membentuk *ampuran. ;ampuran kelihatan tidak homogen dan #ika diendapkan, maka akan terlihat adanya endapan. e. A!r -engal!r .ir mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah karena gra+itasi bumi. .ir dari tempat yang lebih rendah dapat dialirkan ke tempat yang lebih tingi dengan menambah tekanan, misalnya dengan pompa air. .nak sangat senang bermain dengan air mengalir dan memperoleh pengalaman langsung yang kelak akan berguna untuk mempela#ari sains. '. Mengenal !'at *er*aga! *en%a 6a!r Melalui kegiatan ini anak diperkenalkan bah a benda *air itu berma*amma*am, tidak hanya air. 8enda-benda *air itu #uga memiliki si%at yang berbeda. 7. Mengenal t!-*angan =nera6a> Hera*a sangat baik untuk melatih anakmenghubungkan sebab akibat karena hasilnya akan nampak se*ara langsung.#ika beban di satu lengan timbangan di tambah, maka beban akan turun. 4emikian pula #ika beban di geser men#auhi sumbu. 8erbagai benda memiliki massa #enis berbeda. !apas dan spon memiliki massa #enis yang lebih ke*il dibanding besi dan batu, meskipun batu dan besi ukurannya ke*il tetapi akan lebih berat dari kapas atau spon. 8. Ber-a!n gele-*(ng a*(n

.nak sangat menyukai bermain dengan gelembung sabun. 4engan menambahkan satu sendok gliserin pada dua liter air, larutan sabun, akan diperoleeh larutan yang sabun yang menak#ubkan yang dapat digunakan untuk membentuk gelembung raksasa, #endela ka*a, atau bentuknya lainnya dari busa.. 1. Mengenal *en%a5*en%a lent!ng 8enda-benda dari karet pada umumnya memuliki kelenturan sehingga mampu melenting #ika di#atuhkan. 4emikian pulla benda dari kare yang diisi udara , seperi bola basket, bola +oli dan bola plastik. .nak sangat senang bermin dengan benda-benda tersebut. 3. Mengenal B!natang 8inatang merupakan mahluk yang menarik bagi anak-anak karena mampu merespon rangsang. .n#ing, misalnya mampu mengembalikan bnda-benda yang dilemparkan pemiliknya. .nak ku*ing akan menge#ar dan menerkam bendabenda yang bergerak. Meskipun masih diperdebatkan dari segi sanaitasi dan higienisnya, memelihara he an peliharaan dapat mengembangkan rasa kasih dan sayang pada anak. Melalui binatang anak akan bela#ar banyak tentang mahluk tersebut. 2leh karena itu di nagara-negara ma#u, kebun binatang dilengkapi dengan po#ok sains (sains *enter) dimana anak dapat berinteraksi dengan bintang yang #inak dan bersih sambil memperla#arinya. .da beberapa keuntungan yang diperoleh anak #ika berinteraksi dengan binatang. Pertama, anak bela#ar mengenal dan menghargai mahluk hidup, ia bela#ar bah a mahluk hidup memerlukan makanan, papan dan kasih sayang. !edua, anak bela#ar untuk menyayangi binatang yang pada akhirnya akan menumuhkan rasa kasih sayang pada mahluk hidup.

Masih banyak materi yang dapat membantu anak mengenal sains termasuk mengenal tubuh mereka sendiri. :uru dapat mengembangkan sendiri %enomena%enomena yang ada dan yang ter#adi di sekitar anak. (ermasuk tumbuhan yang ada di sekitar mereka.

MENUMBUHKAN JIWA SAINS ANAK USIA DINI

(erkadang orang tua melupakan satu hal, bah a anak adalah pribadi yang unik. .nak bukanlah miniatur orang de asa. .nak memiliki hak untuk tumbuh, berkembang dan dihargai. &etiap anak memiliki pengalaman masing L masing, dan pasti pengalaman anak yang satu berbeda dengan anak yang lain. &etiap anak pasti mendapatkan pengalaman melihat, meraba, merasa, mendengar dan lain sebagainya, sehingga ter#alin suatu hubungan antar sel otak, yang semakin lama semakin berkembang akan ter#adi komunikasi yang lebih banyak, maka kemampuan bela#ar #uga semakin baik.

(idak hanya makanan, nutrisi dan giCi, yang mempengaruhi bagaimana perkembangan atau kelan#utan perkembangan anak kelak, akan tetapi #uga ditentukan oleh stimulasi dari lingkungan yang kondusi% akan membuat anak semakin berkembang dan semakin ?kaya@. &etiap anak memiliki bakat tersendiri, salah satunya adalah sains. &ains bisa diberikan pada anak se#ak usia 2 tahun. !arena pada dasarnya setiap anak memiliki #i a sains.-al ini terbukti dari #i a dasar sains anak seperti : Senang -enga-at! (erkadang kita sering mendapati anak senang mengamati sesuatu, seperti benda dengan berbagai bentuk, ber arna- arni. Senang *ertan/a (erkadang sebagai orang tua kita dibuat #engah dengan berbagai pertanyaan anak. .papun yang ditemui, anak sering banyak bertanya. (ak #arang orang tua dibuat ke alahan mendapat pertanyaan ?nyleneh@ anak. L anaknya. 8eberapa orang tua tidak sabar, lalu men#a ab seadanya sa#a. Me-!l!k! ra a !ng!n ta,( /ang *e ar .nak pada dasarnya memiliki keingintahuan yang besar. Misalnya, ia ingin tahu kenapa baling L baling bisa berputar, air bisa mengalir dan sebagainya. Senang -en6#*a ,al 2 ,al *ar( !arena memiliki keingintahuan yang besar, seringkali anak men*oba sesuatu arna yang men*olok atau sesuatu yang bergerak . Misalnya, anak suka mengamati mainan ki*ir angin dari kertas yang

yang baru, bahkan ia tidak menyadari bah a ?per*obaan baru@nya *ukup membahayakan keselamatan dirinya.Para orang tua hendaknya mendampingi anak dan mem%asilitasi si%at dasarnya. &elain agar dapat memperluas a asan, hal ini #uga akan mengembangkan ke*erdasan logis matematis , alam dan kreati+itas anak L anak. !egiatan sains pada anak usia dini pastilah berbeda dengan kegiatan sains orang de asa. !egiatan sains pada anak usia dini sangatlah sederhana, tetapi *ukup menstimulasi daya pikir kritis dan kreati+itas anak.

BAB IV PENUTUP

KESIMPULAN

.nak-anak usia dini berada dalam tahap keemasan perkembangan otaknya.Mereka mempunyai daya ingat yang lebih ta#am dibanding orang de asa,ini merupakan sebuah momentum terpenting dalam hidupnya untuk membangun memori-memori berharga dimasa ke*il yang akan diingat dalam aktu yang lama.

&eperti diketahui bah a setiap anak yang terlahir telah mempuyai #i a#i a sains,untuk kemudian mengembangkannya adalah tugas dari orang tua,para guru,dan lingkungannya.Pada dasarnya setiap anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar,suka melakukan pengamatan,selalu ingin men*oba hal-hal yang baru,dan hal-hal lainnya yang kadang tidak disadari oleh para orang tua.4engan dasar inilah,orang tua atau guru sebagai %asilitator sekaligus pembimbing sangat dibutuhkan kehadirannya dalam mendampingi masa keemasan anak ini.

Memperkenalkan sains pada anak se#ak dini,merupakan pilihan yang tepat untuk menumbuhkan berbagai sikap ilmiah yang akan sangat membantunya kelak dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi di masa mendatang,terlebih untuk menghadapi tantangan globalisasi yang luar biasa saat ini.&e*ara tidak langsung pembela#aran sains pada anak usia dini akan membentuk mental anak untuk men#adi pribadi yang tangguh sekaligus siap dalam menghadapi tantangan globalisasi dengan berbagai kema#uan-kema#uan teknologi yang pesat.

SARAN

4engan berbagai kema#uan teknologi yang ada saat ini,penerapan atau pengenalan sains untuk anak usia dini sangat penting,dalam rangka membekali mereka untuk mempersiapkan diri se#ak dini menghadapi tantangan globalisasi,sekaligus mempersiapkan mental mereka sebagai generasi pengganti yang intelek dan mumpuni untuk merubah dari saat ini. 2rang tua maupun guru selain berperan sebagai %asilitator,#uga harus men#adi pembimbing sekaligus pendamping anak dalam pembela#aran sains,oleh karena itu,mereka harus terlebih dahulu menguasai sains,agar penerapan pembela#aran sains pada anak dapat dilakukan se*ara maksimal tanpa harus ada kesalahan penerapan konsep sains. !omitmen yang kuat disertai kesabaran dalam membimbing anak bela#ar sains men#adi kun*i keberlangsungan pembela#aran sains pada anak usia dini. a#ah Caman kearah yang lebih baik

DAFTAR PUSTAKA

.hmadi, .bu. '99'. !lmu %lamiah +asar. >akarta: $ineka ;ipta. ;arin, &und. '989. Teaching "cience Throught +iscovery . ;olombus, 2hio : ;harles Merril Publishing. -adis, Ja Cia .s in. #sikologi #erkembangan %nak. >akarta: 4epdiknasHugraha, .. Joundation. Hugraha, .. Tumbuh dan Belajar %nak /sia +ini. 8ogor: !!8-8akat. Piaget, >.('9/0). The "cience of ,ducation and The #sichology of The $hild . He Aork: :rossman. &uyanto, &lamet. (2000). #embelajaran untuk %nak TK. >akarta: 4epdiknas E".

#engembangan #embelajaran "ains #ada %nak /sia +ini . >"6&"