Anda di halaman 1dari 40

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sistem reproduksi pada manusia (Reproduksi berarti membuat kembali, jadi Reproduksi pada manusia berarti kemampuan manusia untuk memperoleh keturunan sehingga sistem reproduksi adalah organ-organ yang berhubungan dengan masalah seksualitas. Sistem reproduksi pada manusia akan mulai berfungsi ketika seseorang mencapai kedewasaan (pubertas) atau masa akil baligh. Pada seorang pria testisnya telah mampu menghasilkan sel kelamin jantan (sperma) dan hormon testosteron. Hormon testosteron berfungsi mempengaruhi timbulnya tanda-tanda kelamin sekunder pada pria, di antaranya suara berubah menjadi lebih besar, tumbuhnya rambut di tempat tertentu misalnya jambang, kumis, jenggot, dan dada tumbuh menjadi bidang, jakun membesar. Sedangkan seorang wanita ovariumnya telah mampu menghasilkan sel telur (ovum) dan hormon wanita yaitu estrogen. Hormon estrogen berfungsi mempengaruhi timbulnya tanda-tanda kelamin sekunder pada wanita, yaitu kulit menjadi semakin halus, suara menjadi lebih tinggi, tumbuhnya payudara dan pinggul membesar. Sistem reproduksi manusia dapat mengalami gangguan, baik disebabkan oleh kelainan maupun penyakit. Gangguan sistem reproduksi dapat terjadi baik pada wanita maupun

pria.Salah satunya gangguan yang terjadi sistem reproduksi adalah kanker. Makin berhasil pembangunan nasional, makin tinggi usia harapan hidup yang dapat dicapai oleh masyarakat Indonesia. Dengan makin UHH terhadap beberapa hal yang mungkin terjadi yaitu makin tingginya penyakit degenerasi (kemunduran) proses penuaan yang memerlukan pengawasan dan pemeliharaan kesehatan, maka makin tinggi kejadian penyakit ganas (kanker) khususnya pada alat kelamin wanita maupun laki-laki. Dalam menghadapi penyakit keganasan (kanker) dikenal motto diagnosa dini menyelamatkan jiwa penderita. Atas dasar landasan ini dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan diri secara rutin sehingga setiap perubahan dapat diketahui dengan lebih dini dan dapat ditingkatkan usaha promotif, preventif, dan kuratif, serta rehabilitative (pemulihan). 1

Setelah mencapai usia 40 tahun, seorang wanita dengan aktifitas tinggi diharapkan secara teratur melakukan pemeriksaan diri. Tetapi pada kenyataannya seorang wanita sering mempunyai pendapat atau prinsip mengapa melakukan pemeriksaan kalau tidak sakit. Kanker adalah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terusmenerus secara tidak terbatas, tidak berkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh (Himawan, 2006). Kanker adalah suatu penyakit yang ditimbulkan oleh sel tunggal yang tumbuh tidak normal dan tidak terkendali sehingga dapat menjadi tumor ganas yang dapat menghancurkan dan merusak sel atau jaringan sehat. Kanker merupakan salah satu jenis penyakit yang sangat ditakuti oleh banyak orang sehingga ada baiknya kita mencegah kanker daripada mengobatinya Di Indonesia, masalah penyakit kanker terlihat lonjakan yang luar biasa. Dalam jangka waktu 10 tahun, terlihat bahwa peringkat kanker sebagai penyebab kematian naik, dari peringkat 12 menjadi peringkat enam. Setiap tahun diperkirakan terdapat 190 ribu penderita baru dan seperlimanya akan meninggal akibat penyakit ini ,tidak hanya di Indonesia melainkan juga di berbagai Negara. Di Amerika, kanker merupakan penyebab kematian nomor dua. Pada tahun 2003 diperkirakan ada 1.334.100 kasus dengan angka kematian sebanyak 556.500 orang. Sedangkan di Eropa terdapat tiga juga kasus kanker baru tiap tahun dengan angka kematian sebesar dua juta. Angka harapan hidup penderita kanker hanya 60% dibandingkan dengan bukan penderita Namun angka kematian akibat kanker ini sebenarnya bisa dikurangi 3-35%, asal dilakukan tindakan prevelensi, screening dan deteksi dini.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah a. Apa yang dimaksud dengan kanker itu sendiri b. Apa saja faktor penyebab terjadinya kanker baik pada wanita maupun laki-laki c. Apa saja kanker pada wanita dan laki-laki

1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Adapun tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah mengetahui serta memahami kanker pada organ reproduksi.

1.3.2 Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah: a. Mengetahui kanker yang menyerang organ reproduksi b. Mengetahui tanda serta gejala kanker organ reproduksi c. Mengetahui pengobatan kanker organ reproduksi

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kanker Kanker adalah salah satu keadaan dimana adanya pertumbuhan sel yang bertambah banyak atau tidak terkendali ( sel mengalami pembelahan terus menerus ). Kanker merupakan salah satu jenis penyakit yang sangat ditakuti oleh banyak orang sehingga ada baiknya kita mencegah kanker daripada mengobatinyauksi manusia, baik pada pria atau wanita, terdiri atas kelenjar kelenjar dan saluran saluran untuk mengalirkan sel kelamin ke tempat pembuahan dan pembentukan embrio. Seiring usia yang terus bertambah dan meningkatnya fungsi kerja organ ini yang pada batas usia tertentu akan menurun fungsi kerja organ ini. Penurunan inilah yang dapat menimbulkan masalah kesehatan. Kanker organ reproduksi sangat jarang dijumpai pada usia 20-an. Resikonya akan meningkat tajam antara usia 30 - 40 tahun dan akan terus meningkat disetiap tahapan usia. Artinya adalah wanita usia 70 tahun beresiko menderita kanker dua kali lebih besar dari pada wanita usia 60 tahun dan sampai 16 kali dari pada mereka berusia 30 tahun. Organ reproduksi yang rawan kanker adalah kanker indung telur (ovarium), kanker rahim (uterus), kanker leher rahim (serviks) dan kanker vulva pada alat reproduksi wanita sedangkan pada alat reproduksi pria yang sering terjadi yaitu kanker testis dan kanker prostat.

2.2 Kanker Pada Organ Reproduksi Wanita A. Kanker Ovarium 1) Definisi Kanker ini merupakan salah satu penyebab kematian akibat kanker yang cukup besar pada wanita. Dapat terjadi pada semua usia, namun beresiko paling tinggi pada wanita berusia 50 tahun. Karena letak indung telur yang sangat dalam di perut bagian bawah, hal ini menyebabkan kanker indung telur sangat sulit dideteksi pada stadium awal. Pembengkakan seringkali tidak nampak sampai mencapai stadium lanjut. Gejalanya yang dirasakan pada stadium lanjut adalah timbul rasa sakit pada perut bagian bawah, berat badan menurun dan adanya keluhan seperti pada penyakit biasanya.

2) Patologi Pertumbuhan tumor prime diikuti oleh infiltrasi ke jaringan sekitar yang menyebabkan berbagai keluhan samar-samar seperti perasaan sebah, makan sedikit terasa cepat menjadi kenyang, sering kembung, nafsu makan menurun.

Kecenderungan untuk melakukan implantasi di rongga perut merupakan ciri khas suatu tumor ganas ovarium yang menghasilkan ascites. Tumor ganas ovarium merupakan kumpulan tumor dengan histiogenesis yang beraneka ragam, dapat berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal,

entodermal, dan mesodermal) dengan sifat-sifat histologis maupun biologis yang beraneka ragam. Oleh sebab itu histiogenesis maupun klasifikasinya masih sering menjadi perdebatan. Kira-kira 60% terdapat pada usia peri-menopausal, 30% dalam masa reproduksi dan 10% pada usia yang jauh lebih muda. Tumor ini dapat jinak (benigna), tidak jelas jinak tapi juga tidak pasti ganas (borderline malignancy atau carcinoma of low-malignant potential) dan yang jelas ganas (true malignant).

1. Penetapan tingkat klinis keganasan UICC T1 Tia TIb Tic T2 T2a T2b T2c T3 Kriteria Terbatas pada ovarium Satu ovarium, tanpa ascites Kedua ovarium, tanpa ascites Satu/ dua ovarium, ada ascites Dengan perluasan ke panggul Uterus dan/ atau tuba, tanpa ascites Jaringan panggul lainnya, tanpa ascites Jaringan panggul lainnya, dengan ascites FIGO I Ia Ib Ic II IIa IIb IIc

Perluasan ke usus halus/ omentum dalam panggul, atau III penyebaran intraperitoneal/ kelenjar retraperitoneal

M1

Penyebaran ke alat-alat jauh

IV

2.

Diagnosis Diagnosis didasarkan atas 3 gejala/ tanda yang biasanya muncul dalam

perjalanan penyakitnya yang sudah agak lanjut : a) Gejala desakan yang dihubungkan dengan pertumbuhan primer dan infiltrasi ke jaringan sekitar, b) Gejala diseminasi/ penyebaran yang diakibatkan oleh implantasi peritoneal dan bermanifestasi adanya ascites c) Gejala hormonal yang bermanifestasi sebagai defeminisasi, maskulinisasi atau hiperestrogenisme, intensitas gejala ini sangat bervariasi dengan tipe histologik tumor dan usia penderita.

Pemeriksaan ginekologik dan palpasi abdominal akan mendapatkan tumor atau masa, di dalam panggul dengan bermacam-macam konsistensi mulai dari yang kistik sampai yang solid (padat). Pemakaian USG (Ultra Sono Graphy) dan CTscan (Computerised axial Tomography scanning) dapat memberi informasi yang berharga mengenai ukuran tumor dan perluasannya sebelum pembedahan. Laparotomi eksploratif disertai biopsi potong beku (Frozen section) masih tetap merupakan prosedur diagnostik paling berguna untuk mendapat gambaran sebenarnhya mengenai tumor dan perluasannya seta menentukan strategi penanganan selanjutnya. 6

3.

Penatalaksanaan Tumor Ganas Ovarium Pada tingkatan awal, prosedur adalah TAH + BSO + OM + APP (optional).

Luas prosedur pembedahan ditentukan oleh insidensi dari seringnya penyebaran ke sebelah yang lain (bilateral) dan kecenderungan untuk menginvasi badan rahim (korpus uteri). Tindakan konservatif (hanya mengangkat tumor ovariumnya saja: ophorektomi atau oophoro kistektomi) masih dapat dibenarkan jika tingkat klinik penyakit T1a, wanita masih muda, blum mempunyai anak, derajat keganasan tuor rendah seperti disgerminoma, tumor sel granulose dan arrhenoblastoma atau low potential malignancy = bordeline malignancy. a. Radioterapi Sebagai pengobatan lanjutan umumnya digunakan pada tingkat klinik TI dan T2 (FIGO: Tingkat I dan II), yang diberikan kpada panggul saja atau seluruh rongga perut. Pada tingkat klinik T3 dan T4 (FIGO: tingkay III dan IV)

dilakukandebulking dilanjutkan dengan khemoterapi. Radiasi untuk membunuh selsel tumor yang tersisa, hanya efektif pada jenis tumor yang peka terhadap sinar (radiosensitif) seperti disgerminoma dan tumor sel granulosa. b. Kemoterapi Sekarang telah mendapat tempat yang diakui dalam penanganan tumor ganas ovarium. Sejumlah obat sitostatika telah digunakan, termasuk agens

alkylating (seperti cyclophospamide,chlorambucil), antimetabolit (seperti Adriamisi) dan agens lain (seperti Cis-Platinum). Penanganan paliatif tumor ganas ovarium sering menggunakan preparat hormon progestativa

B. Kanker Vulva 1. Definisi Vulva merupakan bagian alat kelamin luar yang ditutupi oleh kulit. Sebagian besar keganasan vulva terdapat pada bibir besar dan kecil, dan daerah klitoris. Benrtuk keganasan daerah ini adalah Karsinoma epidermoid. Penyakit yang mendahului terjadinya kanker vulva adalah Kondiloma akuminata, infeksi virus papiloma manusia (Tipe 2, 16, dan 18), keadaan vulvitis atropikan. Lokasi keganasan vulva paling sering pada bibir besar (60%), bibir kecil (20%), klitoris (6%), dan sebagian ditempat lain. 7

Kanker primer vulva mewakili 3% sampai 5% dari semua malignansi ginekologi dan tampak hampir selalu pada wanita pascamenopause meski angka kejadiannya pada wanita yang lebih muda meningkat. (Smeltzer,2002:1564) Karsinoma vulva adalah penyebab 3% sampai 4% dari semua kanker genetalia primer pada perempuan. (Price,2005:1299)

2. Epidemiologi Usia rata rata perempuan dengan karsinoma in situ adalah 44 tahun; untuk karsinoma mikroinvasif adalah 58 tahun dan untuk karsinoma invasive yang sebenarnya adalah 61 tahun. (Price,2005;1299) Wanita kulit putih lebih banyak yang terserang disbanding wanita nonkulit putih. Karsinoma sel skuamosa menyebabkan sebagian besar tumor vulva. Angka kejadiannya lebih tinggi pada wanita hipertensi, obesitas dan diabetes. (Smeltzer,2002;1565)

3. Etiologi / Faktor Predisposisi Etiologi terjadinya kanker vulva belum diketahui secara pasti, namun yang menjadi faktor terjadinya kanker vulva adalah penyakit menular seksual, diantaranya : Penyakit menular seksual granulomatosa Sifilis Herpes hominis tipe II Kondiloma akuminata Infeksi dari HPV (virus yang menyebabkan kutil genetalia dan ditularkan melalui hubungan seksual) Pernah menderita kanker leher rahim atau kanker vagina Diabetes Obesitas Hipertensi Usia Tiga perempat penderita kanker vulva berusia diatas 50 tahun dan dua pertiganya berusia diatas 70 tahun ketika kanker pertama kali terdiagnosis. Usia rata-rata penderita kanker invasif adalah 65-70 tahun Hubungan seksual pada usia dini

Berganti-ganti pasangan seksual Merokok Virus HIV menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh sehingga lebih mudah mengalami infeksi HPV menahun Golongan sosial-ekonomi rendah. Hal ini berhubungan dengan ketidakmampuan dalam membiayai diri ke pelayanan kesehatan Neoplasia intraepitel vulva (NIV) Liken sklerosus. Penyakit ini menyebabkan kulit vulva menjadi tipis dan gatal. Peradangan vulva menahun Melanoma atau tahi lalat atipik pada kulit selain vulva.

4. Klasifikasi Adapun klasifikasi dari kanker vulva adalah : Karsinoma in situ (karsinoma dengan lesi intraepitel vulva) Karsinoma vulva invasif (Price,2005;1299) Menurut sistem FIGO, kanker vulva dapat dibedakan menurut stadium yaitu: Tabel 1. Stadium kanker vulva STADIUM 0 I MANIFESTASI Kanker hanya ditemukan di permukaan vulva Kanker ditemukan di vulva dan / atau perineum (daerah antara rektum dan vagina). Ukuran tumor sebesar 2 cm atau kurang dan belum menyebar ke kelenjar getah bening IA Kanker stadium I yang telah menyusup sampai kedalaman kurang dari 1 mm IB Kanker stadium I yang telah menyusup lebih dalam dari 1 mm II Kanker ditemukan di vulva dan/atau perineu, dengan ukuran lebih besar dari 2 cm tetapi belum menyebar ke kelenjar getah bening 9

III

Kanker ditemukan di vulva dan / atau perineum serta telah menyebar ke jaringan terdekat (misalnya uretra, vagina, anus) dan / atau telah menyebar ke kelenjar getah bening selangkangan terdekat.

IVA

Kanker telah menyebar keluar jaringan terdekat, yaitu ke uretra bagian atas, kandung kemih, rektum atau tulang panggul, atau telah menyebar ke kelenjar getah bening kiri dan kanan

IVB

Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di dalam panggul dan / atau ke organ tubuh yang jauh.

5. Gejala Klinis Gejala klinis dari kanker vulva adalah : Pruritus lama (gejala utama kanker vulva) Perdarahan Rabas berbau busuk Nyeri juga terkadang dapat timbul Terdapat lesi awal yang tampak sebagai dermatitis kronis kemudian dapat ditemukan pertumbuhan benjolan yang terus tumbuh dan menjadi keras,

mengalami ulserasi seperti bunga kol (Smeltzer, 2002;1565)

Bagian yang paling sering terkena karsinoma adalah labia, dimana labia mayora tiga kali lebih sering terkena daripada labia minora dan klitoris. Gambaran keseluruhan lesi kanker vulva adalah datar atau timbul dan berbentuk makulopapular atau verukosa. Lesi dapat hiperpigmentasi (coklat), merah atau putih.

(Price,2005;1299) Gejala awal yang perlu mendapatkan perhatian, rasa sangat gatal, disertai rasa panas dan nyeri, terdapat benjolan kecil, terdapat perubahan kulit berwarna putih (memerlukan pemeriksaan lanjut), leukoplakia, terdapat ulkus mulai kecil tepi meninggi dan menebal, dapat disertai ulkus yang selalu mengeluarkan cairan. Cairan ini dapat dipakai untuk pemeriksaan pap smear. Faktor-faktor yang dapat menjadi pendorong terjadinya keganasan vulva adalah kekurangan gizi, terdapat hubungan

10

gizi yang kurang hieginis, atau terjadi infeksi menahunyang merupakan batu loncatan untuk terjadinya keganasan (Manuaba, 2005).

6. Pemeriksaan Fisik (Fokus ke bagian genital) Inspeksi Adanya lesi seperti bunga kol berwarna cokelat, merah atau putih Keluarnya cairan encer dari vagina dan berbau busuk Pendarahan yang terjadi, volume darah yang keluar Ekspresi wajah ibu menahan nyeri (meringis) Raut wajah pucat Pasien tampak menggaruk bagian genital Palpasi Teraba benjolan yang terus tumbuh menjadi keras di bagian vulva

7. Pemeriksaan Penunjang Pulasan Pap pada serviks (Pap Smear) Test ini mendeteksi adanya perubahan-perubahan sel leher rahim yang abnormal, yaitu suatu pemeriksaan dengan mengambil cairan pada laher rahim dengan spatula kemudian dilakukan pemeriksaan dengan mikroskop. Pemeriksaan bimanual Sistoskopi Proktoskopi Pemeriksaan foto thorak

8. Diagnosis / Kriteria diagnosis Hasil pemeriksaan positif : Dari hasil biopsi terdapat sel sel ganas pada sel skuamosa di daerah vulva. Biopsi harus dilakukan pad semua lesi vulva yang menetap, yang mengalami ulserasi atau yang tidak sembuh dengan cepat setelah terapi yang sesuai. Lesi mulai tumbuh pada permukaan kulit dan dapat dengan mudah dikenali sebagai ulkus kecil yang menjadi iritasi atau gatal atau meningkat ukurannya. (Smeltzer,2002;1565)

11

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil biopsi jaringan. Staging (Menentukan stadium kanker). Staging merupakan suatu proses yang menggunakan hasil-hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan diagnostik tertentu untuk menentukan ukuran tumor, kedalaman tumor, penyebaran ke organ di sekitarnya dan penyebaran ke kelenjar getah bening atau organ yang jauh. Dengan mengetahui stadium penyakitnya maka dapat ditentukan rencana pengobatan yang akan dijalani oleh penderita. Jika hasil biopsi menunjukkan bahwa telah terjadi kanker vulva, maka dilakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui penyebaran kanker ke daerah lain: Sistoskopi (pemeriksaan kandung kemih) Proktoskopi (pemeriksaan rektum) Pemeriksaan panggula dibawah pengaruh obat bius \ Rontgen dada CT scan dan MRI.

9. Kemungkinan Komplikasi Infeksi luka dan sepsis Trombosis vena profunda Hemoragi (Smeltzer,2002;1566)

10. Penatalaksanaan Medis Terdapat 3 jenis pengobatan untuk penderita kanker vulva: 1. Pembedahan Eksisi lokal radikal : dilakukan pengangkatan kanker dan sejumlah besar jaringan normal di sekitar kanker, mungkin juga disertai dengan pengangkatan kelenjar getah bening Bedah laser : menggunakan sinar laser untuk mengangkat sel-sel kanker Vulvektomi skinning : dilakukan pengangkatan kulit vulva yang mengandung kanker Vulvektomi simplek : dilakukan pengangkatan seluruh vulva Vulvektomi parsial : dilakukan pengangkatan sebagian vulva

12

Vulvektomi radikal : dilakukan pengangkatan seluruh vulva dan kelenjar getah bening di sekitarnya.

Eksenterasi panggul : jika kanker telah menyebar keluar vulva dan organ wanita lainnya, maka dilakukan pengangkatan organ yang terkena (misalnya kolon, rektum atau kandung kemih) bersamaan dengan pengangkatan leher rahim, rahim dan vagina. Untuk membuat vulva atau vagina buatan setelah pembedahan, dilakukan pencangkokan kulit dari bagian tubuh lainnya dan bedah plastik. 2. Terapi penyinaran Pada terapi penyinaran digunakan sinar X atau sinar berenergi tinggi lainnya untuk membunuh sel-sel kanker dan memperkecil ukuran tumor. Pada radiasi eksternal digunakan suatu mesin sebagai sumber penyinaran; sedangkan pada radiasi internal, ke dalam tubuh penderita dimasukkan suatu kapsul atau tabung plastik yang mengandung bahan radioaktif. 3. Kemoterapi Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Obat tersedia dalam bentuk tablet/kapsul atau suntikan (melalui pembuluh darah atau otot). Kemoterapi merupakan pengobatan sistemik karena obat masuk ke dalam aliran darah sehingga sampai ke seluruh tubuh dan bisa membunuh sel-sel kanker di seluruh tubuh. Penatalaksanaan menurut stadium kanker vulva yaitu : Pengobatan kanker vulva tergantung kepada stadium dan jenis penyakit serta usia dan keadaan umum penderita. Kanker vulva stadium 0 1. Eksisi lokal luas atau bedah laser, atau kombinasi keduanya 2. Vulvektomi skinning 3. Salep yang mengandung obat kemoterapi Kanker vulva stadium I 1. Eksisi lokal luas 2. Eksisi lokal radikal ditambah pengangkatan seluruh kelenjar getah bening selangkangan dan paha bagian atas terdekat pada sisi yang sama dengan kanker

13

3. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening selangkangan pada salah satu atau kedua sisi tubuh 4. Terapi penyinaran saja. Kanker vulva stadium II 1. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening selangkangan kiri dan kanan. Jika sel kanker ditemukan di dalam kelenjar getah bening, maka dilakukan setelah pembedahan dilakukan penyinaran yang diarahkan ke panggul 2. Terapi penyinaran saja (pada penderita tertentu).

Kanker vulva stadium III 1. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening selangkangan dan kelenjar getah bening paha bagian atas kiri dan kanan.

Jika di dalam kelenjar getah bening ditemukan sel-sel kanker atau jika sel-sel kanker hanya ditemukan di dalam vulva dan tumornya besar tetapi belum menyebar, setelah pembedahan dilakukan terapi penyinaran pada panggul dan selangkangan 2. Terapi radiasi dan kemoterapi diikuti oleh vulvektomi radikal dan pengangkatan kelenjar getah bening kiri dan kanan 3. Terapi penyinaran (pada penderita tertentu) dengan atau tanpa kemoterapi.

Kanker vulva stadium IV 1. Vulvektomi radikal dan pengangkatan kolon bagian bawah, rektum atau kandung kemih ( tergantung kepada lokasi penyebaran kanker) disertai pengangkatan rahim, leher rahim dan vagina (eksenterasi panggul) 2. Vulvektomi radikal diikuti dengan terapi penyinaran 3. Terapi penyinaran diikuti dengan vulvektomi radikal 4. Terapi penyinaran (pada penderita tertentu) dengan atau tanpa kemoterapi dan mungkin juga diikuti oleh pembedahan. Kanker vulva yang berulang (kambuh kembali) 1. Eksisi lokal luas dengan atau tanpa terapi penyinaran 14

2.

Vulvektomi radikal dan pengangkatan kolon, rektum atau kandung kemih (tergantung kepada lokasi penyebaran kanker) disertai dengan pengangkatan rahim, leher rahim dan vagina (eksenterasi panggul)

3. Terapi penyinaran ditambah dengan kemoterapi dengan atau tanpa pembedahn 4. Terapi penyinaran untuk kekambuhan lokal atau untuk mengurangi gejala nyeri, mual atau kelainan fungsi tubuh.

11. Pencegahan Adapun cara pencegahan terkena kanker vulva adalah : Menghindari faktor resiko yang bisa dikendalikan Mengobati keadaan prekanker sebelum terjadinya kanker invasif.

C. Kanker Rahim (Uterus) 1) Pengertian Kanker Rahim adalah tumor ganas pada endometrium (lapisan rahim).Kanker rahim biasanya terjadi setelah masa menopause, paling sering menyerang wanita berusia 50-60 taun.Kanker bisa menyebar (metastase) secara lokal maupun ke berbagai bagian tubuh (misalnya kanalis servikalis, tuba falopii, ovarium, daerah di sekitar rahim, sistem getah bening atau ke bagian tubuh lainnya melalui pembuluh darah).

15

2)

Penyebab Penyebabnya yang pasti tidak diketahui, tetapi tampaknya penyakit ini melibatkan peningkatan kadar estrogen.Salah satu fungsi estrogen yang normal adalah merangsang pembentukan lapisan epitel pada rahim. Sejumlah besar estrogen yang disuntikkan kepada hewan percobaan di laboratorium menyebabkan hiperplasia endometrium dan kanker. Wanita yang menderita kanker rahim tampaknya memiliki faktor resiko tertentu. (faktor resiko adalah sesuatu yang menyebabkan bertambahnya kemungkinan seseorang untuk menderita suatu penyakit).Wanita yang memiliki faktor resiko tidak selalu menderita kanker rahim, sebaliknya banyak penderita kanker rahim yang tidak memiliki faktor resiko. Kadang tidak dapat dijelaskan mengapa seorang wanita menderita kanker rahim sedangkan wanita yang lainnya tidak.

3)

Faktor resiko a) b) c) d) Usia Kanker uterus terutama menyeranga wanita berusia 50 tahun keatas. Hiperplasia endometrium Terapi Sulih Hormon (TSH) TSH digunakan untuk mengatasi gejala-gejala menopause, mencegah osteoporosis dan mengurangi resiko penyakit jantung atau stroke. Wanita yang mengkonsumsi estrogen tanpa progesteron memiliki resiko yang lebih tinggi. Pemakaian estrogen dosis tinggi dan jangka panjang tampaknya mempertinggi resiko ini.Wanita yang mengkonsumsi estrogen dan

progesteron memiliki resiko yang lebih rendah karena progesteron melindungi rahim. e) Obesitas Tubuh membuat sebagian estrogen di dalam jaringan lemak sehingga wanita yang gemuk memiliki kadar estrogen yang lebih tinggi. Tingginya kadar estrogen merupakan penyebab meningkatnya resiko kanker rahim pada wanita obes. f) g) h) Diabetes (kencing manis) Hipertensi (tekanan darah tinggi) Tamoksifen

16

Wanita yang mengkonsumsi tamoksifen untuk mencegah atau mengobati kanker payudara memiliki resiko yang lebih tinggi. Resiko ini tampaknya berhubungan dengan efek tamoksifen yang menyerupai estrogen terhadap rahim. Keuntungan yang diperoleh dari tamoksifen lebih besar daripada resiko terjadinya kanker lain, tetapi setiap wanita memberikan reaksi yang berlainan. i) Ras Kanker rahim lebih sering ditemukan pada wanita kulit putih. j) k) l) Kanker kolorektal Menarke (menstruasi pertama) sebelum usia 12 tahun Menopause setelah usia 52 tahun

m) Tidak memiliki anak n) o) p) Kemandulan Penyakit ovarium polikista Polip endometrium.

4) Gejala Gejala kanker rahim tidak spesifik. Studi terbaru menunjukkan bahwa penderita kanker rahim biasanya mengalami gejala berikut ini secara menetap: a) b) tekanan abdomen (merasa penuh, bengkak atau kembung) Perasaan ingin buang air kecil terus menerus

Gejala lainnya meliputi: a) Gangguan pencernaan yang menetap (gas atau mual) b) Perubahan kebiasaan BAB tanpa alasan jelas, seperti sembelit c) Kehilangan nafsu makan atau cepat merasa kenyang d) Lemas & letih lesu yang berkelanjutan e) Sakit pada daerah sekitar pinggang/panggul f) Perubahan dalam siklus menstruasi

g) Perdarahan rahim yang abnormal h) Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi (pada wanita yang masih mengalami menstruasi) i) j) Perdarahan vagina atau spotting pada wanita pasca menopause Perdarahan yang sangat lama, berat dan sering (pada wanita yang berusia diatas 40 tahun) 17

k) Nyeri perut bagian bawah atau kram panggul l) Keluar cairan putih yang encer atau jernih (pada wanita pasca menopause)

m) Nyeri atau kesulitan dalam berkemih n) Nyeri ketika melakukan hubungan seksual.

5)

Pemeriksaan diagnostik a) Pemeriksaan panggul b) Pap smear c) USG transvagina d) Biopsi endometrium. Untuk membantu menentukan stadium atau penyebaran kanker, dilakukan pemeriksaan berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) Pemeriksaan darah lengkap Pemeriksaan air kemih Rontgen dada CT scan tulang dan hati Sigmoidoskopi Limfangiografi Kolonoskopi Sistoskopi. Perawat mempunyai tugas menegakkan diagnosis dini kanker rahim dengan : a) Melakukan KIE dan Motivasi tentang gejala klinik stadium awal (1) Beser putih atau bercampur darah (2) Perdarahan mendadak/sedikit setelah menopause (3) Terjadi sesak di bagian bawah abdomen b) Melakukan pemeriksaan sederhana ; (1) Pengambilan pap smear (2) Pemeriksaan dalam untuk menilai rahim c) Merujuk penderita untuk menegakkan diagnisa pasti

6)

Penatalaksanaan Pemilihan pengobatan tergantung kepada ukuran tumor, stadium, pengaruh hormon terhadap pertumbuhan tumor dan kecepatan pertumbuhan tumor serta usia dan keadaan umum penderita. 18

a) Pembedahan Kebanyakan penderita akan menjalani histerektomi (pengangkatan rahim). Kedua tuba falopii dan ovarium juga diangkat (salpingo-ooforektomi bilateral) karena sel-sel tumor bisa menyebar ke ovarium dan sel-sel kanker dorman (tidak aktif) yang mungkin tertinggal kemungkinan akan terangsang oleh estrogen yang dihasilkan oleh ovarium. . b) Terapi penyinaran (radiasi) Digunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker.

Terapi penyinaran merupakan terapi lokal, hanya menyerang sel-sel kanker di daerah yang disinari. Pada stadium I, II atau III dilakukan terapi penyinaran dan pembedahan. Penyinaran bisa dilakukan sebelum pembedahan (untuk

memperkecil ukuran tumor) atau setelah pembedahan (untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa). c) Kemoterapi Pada terapi hormonal digunakan zat yang mampu mencegah sampainya hormon ke sel kanker dan mencegah pemakaian hormon oleh sel kanker. Hormon bisa menempel pada reseptor hormon dan menyebabkan perubahan di dalam jaringan rahim. Sebelum dilakukan terapi hormon, penderita menjalani tes reseptor hormon. Jika jaringan memiliki reseptor, maka kemungkinan besar penderita akan memberikan respon terhadap terapi hormonal. Terapi hormonal merupakan terapi sistemik karena bisa mempengaruhi sel-sel di seluruh tubuh. Pada terapi hormonal biasanya digunakan pil progesteron. d) Terapi hormonal dilakukan pada: (1) Penderita kanker rahim yang tidak mungkin menjalani pembedahan ataupun terapi penyinaran (2) Penderita yang kankernya telah menyebar ke paru-paru atau organ tubuh lainnya (3) Penderita yang kanker rahimnya kembali kambuh. (4) Jika kanker telah menyebar atau tidak memberikan respon terhadap terapi hormonal, maka diberikan obat kemoterapi lain, yaitu

siklofosfamid, doksorubisin dan sisplastin.

19

D. Kanker Servik (Leher Rahim) 1. Definisi

Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997). Kanker Serviks adalah pertumbuhan sel-sel mulut rahim/serviks yang abnormal dimana sel-sel ini mengalami perubahan kearah displasia atau mengarah keganasan. Kanker ini hanya menyerang wanita yang pernah atau sekarang dalam status sexually active. Tidak pernah ditemukan wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual pernah menderita kanker ini. Biasanya kanker ini menyerang wanita yang telah berumur, terutama paling banyak pada wanita yang berusia 35-55 tahun. Akan tetapi, tidak mustahil wanita yang mudapun dapat menderita penyakit ini, asalkan memiliki faktor risikonya. 2. Etiologi Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain : Umur pertama kali melakukan hubungan seksual Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus ssemakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.

20

Jumlah kehamilan dan partus Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda. Jumlah perkawinan Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini. Infeksi virus Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks. Sosial Ekonomi Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh. Hygiene dan sirkumsisi Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.

21

3. Patologi Karsinoma serviks adalah penyakit yang progresif, mulai dengan intraepitel, berubah menjadi neoplastik, dan akhirnya menjadi kanker serviks setelah 10 tahun atau lebih. Secara histopatologi lesi pre invasif biasanya berkembang melalui beberapa stadium displasia (ringan, sedang dan berat) menjadi karsinoma insitu dan akhirnya invasif. Berdasarkan karsinogenesis umum, proses perubahan menjadi kanker diakibatkan oleh adanya mutasi gen pengendali siklus sel. Gen pengendali tersebut adalah onkogen, tumor supresor gene, dan repair genes. Onkogen dan tumor supresor gen mempunyai efek yang berlawanan dalam karsinogenesis, dimana onkogen memperantarai timbulnya transformasi maligna, sedangkan tumor supresor gen akan menghambat perkembangan tumor yang diatur oleh gen yang terlibat dalam pertumbuhan sel. Meskipun kanker invasive berkembang melalui perubahan intraepitel, tidak semua perubahan ini progres menjadi invasif. Lesi preinvasif akan mengalami regresi secara spontan sebanyak 3 -35%. Bentuk ringan (displasia ringan dan sedang) mempunyai angka regresi yang tinggi. Waktu yang diperlukan dari displasia menjadi karsinoma insitu (KIS) berkisar antara 1 7 tahun, sedangkan waktu yang diperlukan dari karsinoma insitu menjadi invasif adalah 3 20 tahun (TIM FKUI, 1992). Proses perkembangan kanker serviks berlangsung lambat, diawali adanya perubahan displasia yang perlahan-lahan menjadi progresif. Displasia ini dapat muncul bila ada aktivitas regenerasi epitel yang meningkat misalnya akibat trauma mekanik atau kimiawi, infeksi virus atau bakteri dan gangguan keseimbangan hormon. Dalam jangka waktu 7 10 tahun perkembangan tersebut menjadi bentuk preinvasif berkembang menjadi invasif pada stroma serviks dengan adanya proses keganasan. Perluasan lesi di serviks dapat menimbulkan luka, pertumbuhan yang eksofitik atau dapat berinfiltrasi ke kanalis serviks. Lesi dapat meluas ke forniks, jaringan pada serviks, parametria dan akhirnya dapat menginvasi ke rektum dan atau vesika urinaria. Virus DNA ini menyerang epitel permukaan serviks pada sel basal zona transformasi, dibantu oleh faktor risiko lain mengakibatkan perubahan gen pada molekul vital yang tidak dapat diperbaiki, menetap, dan kehilangan sifat serta kontrol pertumbuhan sel normal sehingga terjadi keganasan (Suryohudoyo, 1998; Debbie, 1998).

22

4.

Klasifikasi Klasifikasi Kanker Serviks menurut FIGO 1978

Tingkat Kriteria 0 I Ia Karsinoma In Situ ( KIS), membran basalis utuh Proses terbatas pada servks walaupun ada perluasan ke korpus uteri Karsinoma mikro invasif, bila membran basalis sudah rusak dan sel tumor sudah stroma tidak > 3 mm, dan sel tumor tidak tedapat didalam pembuluh limfe atau pembuluh darah. Ib Secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma, tetapi pada pemeriksaan histologi ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia II Proses keganasan telah keluar dari serviks dan menjalar 2/3 bagian atas vagina dan parametrium, tetapi tidak sampai dinding panggul II a II b III a Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infitrat tumor Penyebaran ke parametrum, uni atau bilateral, tetapi belum sampai dinding panggul Penyebaran sampai bagian distal vagina, sedang parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul. III b Penyebaran sudah sampai dinding panggul, tidak ditemukan daerah infiltrat antara tumor dengan dinding panggul. IV Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mokusa rektum dan atau vesika urinaria atau telah bermetastasi keluar panggul ketempat yang jauh IV a Proses sudah sampai mukosa rektum dan atau vesika urinaria atau sudah keluar dari pangul kecil, metastasi jauh belum terjadi IV b Telah terjadi metastasi jauh.

23

5.

Manifestasi Klinis Keputihan Menurut Dalimartha (2004), gejala kanker serviks pada kondisi pra-kanker ditandai dengan Fluor albus (keputihan) merupakan gejala yang sering ditemukan getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Dalam hal demikian, pertumbuhan tumor menjadi ulseratif.

Perdarahan Perdarahan yang dialami segera setelah bersenggama (disebut sebagai perdarahan kontak) merupakan gejala karsinoma serviks (75 -80%). Pada tahap awal, terjadinya kanker serviks tidak ada gejala-gejala khusus. Biasanya timbul gejala berupa ketidak teraturannya siklus haid, amenorhea, hipermenorhea, dan penyaluran sekret vagina yang sering atau perdarahan intermenstrual, post koitus serta latihan berat. Perdarahan yang khas terjadi pada penyakit ini yaitu darah yang keluar berbentuk mukoid. Menurut Baird (1991) tidak ada tanda-tanda khusus yang terjadi pada klien kanker serviks. Perdarahan setelah koitus atau pemeriksaan dalam (vaginal toussea) merupakan gejala yang sering terjadi. Karakteristik darah yang keluar berwarna merah terang dapat bervariasi dari yang cair sampai menggumpal. Perdarahan rektum dapat terjadi karena penyebaran sel kanker yang juga merupakan gejala penyakit lanjut.

Nyeri Dirasakan dapat menjalar ke ekstermitas bagian bawah dari daerah lumbal. Pada tahap lanjut, gejala yang mungkin dan biasa timbul lebih bervariasi, sekret dari vagina berwarna kuning, berbau dan terjadinya iritasi vagina serta mukosa vulva. Perdarahan pervagina akan makin sering terjadi dan nyeri makin progresif. Gejala lebih lanjut meliputi nyeri yang menjalar sampai kaki, hematuria dan gagal ginjal dapat terjadi karena obstruksi ureter.

24

6. Pemeriksaan Diagnostik Sitologi/pap smear Keuntungan: murah, dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat. Kelemahan: tidak dapat menentukan lokasi. Schillentest Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glikogen karena tidak mengikat yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena kaersinoma tidak berwarna. Koloskopi Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40x. Keuntungan: dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsi. Kelemahan: hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedangkan kelainan pada skuamosa kolumnar junction dan intraservikal tidak terlihat. Kolpomikroskopi Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200x. Biopsi Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya. 1. 2. Konisasi Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.

25

7. Penatalaksanaan Irradiasi a. Dapat dipakai untuk semua stadium b. Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk c. Tidak menyebabkan kematian seperti operasi d. Dosis: penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak di serviks e. Komplikasi irradiasi: kerentanan kandungan kencing, diarrhea, perdarahan rectal, fistula vesico atau recto vaginalis f. Operasi 1) Operasi limfadektomi untuk stadium 1 dan 2 2) Operasi histerektomi vagina yang radikal 3) Kombinasi Irradiasi dan pembedahan Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi, oedema. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula, disamping itu menambah penyebaran ke sistem limfe dan peredaran darah Cytostatika Bleomycin, terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. 5% dari ca.serviks adalah resisten terhadap radio terapi, dianggap resisten bila 8-10 minggu post terapi kedaan masih tetap sama.

8. Pembagian kanker seviks berdasarkan FIGO Penatalaksanaan pengobatan kanker serviks uteri dapat dilakukan dengan berbagai modalitas terapi. Terapi kanker serviks uteri berdasar stadiumnya adalah sebagai berikut :

26

- Stadium IA1 Histerektomi ekstrafasial. Bila fertilitas masih diperlukan dilakuan konisasi dilanjutkan pengamatan lanjut. - Stadium IA2 Histerektomi radikal atau modifikasi (tipe 2) dan limfadenektomi pelvis. Histerektomi ekstrafasial dan limfadenektomi pelvis bila tidak ada invasi limfo vaskular3. Konisasi luas atau trakhelektomi radikal dengan limfadenektomi laparoskopi, kalau fertilitas masih dibutuhkan.Radioterapi: radiasi luar dan brakiterapi (dosis di titik A 75-80 Gy) Stadium IBI/IIA Hindari gabungan operasi dengan radiasi untuk mengurangi morbiditas. Histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis, sampel kgb paraaorta2. Pada usia muda, ovarium dapat dikonservasi. Terapi adjuvan

kemoradiasi pasca bedah (dengan cisplatin 5-FU) bila ada faktor risiko kgb (+), parametrium (+), tepi sayatan (+). Radioterapi: radiasi luar dan brakiterapi (dosis di titik A 80-85 Gy) - Stadium IB2/IIA > 4 cm. Kemoradiasi : Radiasi luar dan brakiterapi serta pemberian cisplatin 40 mg/m2/minggu selama radiasi luar. Kalau kgb iliaka kommunis atau para-aorta (+) lapangan radiasi diperluas. Operasi : Histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis

Neoadjuvan kemoterapi : (cisplatin 3 seri) diikuti histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis - Stadium IIB, III, IVA Kemoradiasi : Radiasi luar dan brakiterapi serta pemberian cisplatin 40

mg/m2/minggu selama radiasi luar. Kalau kgb iliaka kommunis atau para aorta (+) lapangan radiasi diperluas 27

Eksenterasi

: Dapat dipertimbangkan pada IVA bila tidak meluas

sampai dinding panggul, terutama bila ada fistel rektovaginal dan vesikovaginal - Stadium IVB atau residif Residif lokal sesudah operasi1 Radiasi + kemoterapi (cisplatin 5-FU). 50 Gy bila lesi mikroskopik dan 64-66 Gy pada tumor yang besar2. panggul Eksenterasi kalau proses tidak sampai dinding

9. Prognosa Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala. Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi. Setelah histerektomi radikal, terjadinya 80% rekurensi dalam 2 tahun.

2.3 Kanker Pada Organ Reproduksi Pria A. Kanker Testis 1. Definisi

28

Kanker Testis adalah pertumbuhan sel sel ganas didlam testis yang bisa menyebabkan testis membesar atau menyebabkan adanya benjolan di dalam skrotum. Testis secara anatomis merupakan alat reproduksi pria yang mempunyai berat kira kira 12 gram pada orng dewasa dan berukuran 53 cm. Testis dilapisi olehdua lapisan yang berasal dari processus vaginalis peritonei yaitu tunica vaginalis parietalis dan visceralis. Kedua lapisan ini membentuk rongga kosong. Lebih kedalam terdapat lapisan jaringan ikat tebal yaitu tunica albuginea dan lebih kedalam lagi tunica vasculosa. Epididimis terletak pada bagian posterolateral testis dan merupakan penghubung antara tubuli seminiferus contorti dan vas deferens. Pada tubuli seminiferi terdapat sel sel penunjang (sel sertoli ) dan sel sel germinativum yang mengalami spermatogenesis pada waktu akil baliq. Pada stroma terdapat sel sel interstitium ( sel Leydig ) yaitu sel bulat atau diagonal dengan sitoplasma banyak , berwarna merah inti besar mengandung khromatin kasar dan anak inti jelas. Didalam sitoplasma sel ini terdapat lipofuscin, titik lemak dan kristaloid Reinke. Tumor adalah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel sel yang tumbuh terus menerus secara tidak terbatas , tidak berkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh. Tumor dibedakan menjadi dua yaitu tumor yang jinak ( benigna ) dan tumor yang ganas ( maligna ). Ca testis merupakan tumor ganas pada testis. 2. Etiologi Penyebab kanker testis belum diketahui namun tercatat beberapa factor resiko. Kegagalan penurunan testis kedalam skrotum (kriptorkidisme atau undesensustestis) aka meningkatkan resiko berkembangnya kanker testis kular hingga beberapa kali lipat. Testis yang tidak turun dan menetap dalam abdomen memilki resiko kanker testiskular yang lebih tinggi daripada yang tertahan dalam kanalis inguinalis. Adapun disebut Sindrom Klinefelter yaitu suatu keadaan yang berkaitan dengan peningkatan resiko berkembangnya kanker testis. 3. Epidemiologi Usia puncak sesorang mengidap kanker testis adalah 15-35 tahun. Insiden meningkat perlahan setelah 40 tahun Tumor testis hampir seluruhnya ganas dan termasuk tumor ganas yang derajat keganasannya tinggi. Kebanyakan penderita berumur antara 24 34 tahun dengan frekwensi tumor testis kira kira 2 % daripada seluruh tumor ganas pada pria atau kira kira 10 % daripada tumor ganas tractus urogenitalis .

29

4. Klasifikasi Terdapat 2 kelompok besar tumor testicular yaitu Tumor sel GCT (germinal) yang berasal dari sel-sel yang memproduksi sperma dan dibatasi oleh tubulus seminefirus dengan jumlah 95%. Sex cord tumor yang berasal dari sel-sel penunjang testis spesialis maupun yang non spesialis dengan jumlah kurang dari 5% Berdasarkan sumber lain dari Internet, kanker testis dikelompokkan menjadi: Seminoma: 30-40 % dari semua jenis tumor testis. Biasanya ditemukan pada pria usia 30-40 tahun dan terbatas pada testis Non seminoma: Merupakan 60% dari semua jenis tumor testis. Dibagi lagi menjadi beberapa subkatagori: Karsinoma Embrional: Sekitar 20 % dari kanker testis, terjadi pada usia 20-30 tahun dan sangat ganas. Pertumbuhannya sangat cepat dan menyebar ke paruparu dan hati Tumor yolk sac: Sekitar 60 % dari semua jenis kanker testis pada anak laki-laki. Teratoma: Sekitar 7% dari kanker testis pada pria dewasa dan 40 % pada anak laki-laki Tumor sel stroma: Tumor yang terdiri dari sel-sel Leydig, sel sertoli dan sel granulosa. Tumor ini merupakan 3-4%dari semua jenis tumor testis. Tumor bisa menghasilakan hormon estradiol, yang bisa menyebabkan salah satu gejala kaker testis yaitu ginekomastia

Kanker testis memiliki 6 stadium yaitu I II IIa IIb IIc III : Terbatas pada testis : mengenai testis dan kelenjar limfe retroperitoneal : kelenjar getah bening kurang dari 2 cm : kelenjar getah bening 2-5 cm : kelenjar getah bening lebih dari 5 cm : metastasis jau

30

5. Gejala

Testis membesar atau teraba aneh(tidak seperti biasanya) Benjolan atau pembengkakan pada salah satu atau kedua testis Nyeri tumpul di punggung atau perut bagian bawah Ginekomastia Rasa tidak nyaman/rasa nyeridi testis atau skrotum terasa berat

6. Terapy Pengobatan tergantung kepada jenis, stadium dan beratnya penyakit.Setelah kanker ditemukan, langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan jenis sel kankernya. Selanjutnya ditentukan stadiumnya: Stadium I : kanker belum menyebar ke luar testis Stadium II : kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di perut Stadium III : kanker telah menyebar ke luar kelenjar getah bening, bisa sampai ke hati atau paru-paru. Ada 4 macam pengobatan yang bisa digunakan: 1. Pembedahan : pengangkatan testis (orkiektomi dan pengangkatan kelenjar getah bening (limfadenektomi 2. Terapi penyinaran : menggunakan sinar X dosis tinggi atau sinar energi tinggi lainnya, seringkali dilakukan setelah limfadenektomi pada tumor non-seminoma.

Juga digunakan sebagai pengobatan utama pada seminoma, terutama pada stadium awal. 3. Kemoterapi : digunakan obat-obatan (misalnya cisplastin, bleomycin dan etoposid) untuk membunuh sel-sel kanker. Kemoterapi telah meningkatkan angka harapan hidup penderita tumor non-seminoma. 4. Pencangkokan sumsum tulang : dilakukan jika kemoterapi telah menyebabkan kerusakan pada sumsum tulang penderita.

Tumor seminoma: - Stadium I diobati dengan orkiektomi dan penyinaran kelenjar getah bening perut - Stadium II diobati dengan orkiektomi, penyinaran kelenjar getah bening dan kemoterapi dengan sisplastin - Stadium III diobati dengan orkiektomi dan kemoterapi multi-obat. 31

Tumor non-seminoma: - Stadium I : diobati dengan orkiektomi dan kemungkinan dilakukan limfadenektomi perut - Stadium II : diobati dengan orkiektomi dan limfadenektomi perut, kemungkinan diikuti dengan kemoterapi. - Stadium III : diobati dengan kemoterapi dan orkiektomi.

Jika kankernya merupakan kekambuhan dari kanker testis sebelumnya, diberikan kemoterapi beberapa obat (ifosfamide, cisplastin dan etoposid atau vinblastin). 7. Pemeriksaan fisik Inspeksi: Ukuran, bentuk, warna, lesi skrotum, push, ada perdarahan atau tidak Palpasi: Ada masa atau tidak, ada tidaknya nyeri tekan

8. Pemeriksaan penunjang USG skrotum Pemeriksaan darah untuk petanda tumor AFP (alfa fetoprotein), HCG (human chorionic gonadotrophin) dan LDH (lactic dehydrogenase). Hampir 85% kanker nonseminoma menunjukkan peningkatan kadar AFP atau beta HCG. Rontgen dada (untuk mengetahui penyebaran kanker ke paru-paru) CT scan perut (untuk mengetahui penyebaran kanker ke organ perut) Biopsi jaringan.

32

B. Kanker Prostat 1. Pengertian Kanker Prostat

Kanker prostat merupakan momok yang menakutkan bagi kaum pria karena kanker jenis ini, menyerang kelenjar prostat yang merupakan bagian penting dari organ reproduksi pria. Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di prostat, sebuah kelenjar dalam sistem reproduksi pria. Prostat merupakan kelenjar utama pada sistem reproduksi pria yang berfungsi untuk memproduksi sebagian besar cairan di dalam sperma (air mani) yang menjaga sperma agar tetap hidup. Kelenjar prostat menghasilkan sitrat dan glukosa yang penting bagi kehidupan sperma. Selain itu, kelenjar prostat juga menghasilkan cairan yang keluar bersama sperma ketika terjadi ejakulasi. Sebenarnya, seiring bertambahnya usia, seorang pria akan mengalami pembesaran kelenjar prostat. Tetapi, tidak selalu pembesaran kelenjar prostat mengakibatkan pembengkakan. Karena letaknya yang mengelilingi pangkal saluran kemih (uretra) yang terletak di bawah kandung kemih, maka jika kelenjar prostat membengkak, kelenjar prostat dapat menekan saluran kemih sehingga air kencing

33

menjadi tidak lancar atau bahkan tersumbat. Uraian berikut akan membantu Anda untuk lebih mengenali gejala-gejala kanker prostat dan cara menghindarinya.

2. Gejala-Gejala Kanker Prostat Gejala yang ditimbulkan oleh pembengkakan kelenjar prostat hampir mirip dengan gejala kanker prostat. Untuk memastikan apakah hanya terjadi pembesaran kelenjar prostat atau gejala kanker prostat, seorang pria dianjurkan untuk segera melakukan pemeriksaan bila mengalami gejala berikut:

Sulit berkemih Bisa berupa perasaan ingin berkemih tapi tidak ada yang keluar, berhenti saat sedang berkemih, ada perasaan masih ingin berkemih atau harus sering ke toilet untuk berkemih karena keluarnya sedikit-sedikit. Gejala ini muncul sebagai akibat membesarnya kelenjar prostat yang ada di sekitar saluran kemih karena ada tumor di dalamnya sehingga mengganggu proses berkemih.

Nyeri saat berkemih Problem ini juga disebabkan adanya tumor prostat yang menekan saluran kemih. Namun, nyeri ini juga bisa merupakan gejala infeksi prostat yang disebut prostatitis. Bisa juga tanda hiperplasia prostat yang bukan merupakan kanker.

Keluar darah saat berkemih Gejala ini jarang terjadi, namun jangan diabaikan. Segeralah periksa ke dokter meski darah yang dikeluarkan hanya sedikit, samar-samar atau hanya berwarna merah muda. Kadangkala infeksi saluran kemih juga bisa menyebabkan gejala ini.

Sulit ereksi atau menahan ereksi Tumor prostat bisa saja menyebabkan aliran darah ke penis yang seharusnya meningkat saat terjadinya ereksi menjadi terhalang sehingga susah ereksi. Bisa juga

34

menyebabkan tidak bisa ejakulasi setelah ereksi. Tapi, pembesaran prostat bisa saja menyebabkan munculnya gejala ini.

Sulit

buang air

besar

(BAB)

dan

masalah

saluran

pencernaan

lainnya.

Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih dan di depan rektum. Akibatnya, bila ada tumor, pencernaan akan terganggu. Namun perlu diingat, sulit BAB yang terus menerus terjadi juga bisa menyebabkan pembesaran prostat karena terjadi tekanan pada kelenjar secara terus menerus. Sulitnya BAB dan gangguan saluran pencernaan bisa juga mengindikasikan kanker usus besar.

Nyeri terus-menerus di punggung bawah, panggul atau paha dalam bagian atas Sering kali, kanker prostat menyebar di wilayah-wilayah ini, yaitu pada punggung bawah, panggul dan pinggul sehingga nyeri yang sulit dijelaskan di bagian ini bisa menjadi tanda adanya gangguan.

Sering berkemih di malam hari Jika Anda sering terbangun di malam hari lebih dari sekali hanya untuk berkemih, periksalah segera ke dokter.

Urin yang menetes atau tidak cukup kuat Gejala ini mirip inkontinensia urin (mengompol). Urin tidak dapat ditahan hingga perlahan keluar dan menetes. Atau kalau pun keluar aliran tidak cukup kuat.

Usia di atas 50 dan mempunyai faktor resiko Karena tidak menimbulkan gejala maka pria yang memiliki faktor resiko sebaiknya memeriksakan diri secara rutin. Jika salah satu atau beberapa dari gejala-gejala di atas dirasakan atau dilihat sebaiknya

orang tersebut segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar tidak sampai terkena dampak dari kanker prostat. Untuk mengetahui secara dini adanya kanker prostat, pria dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan secara teratur setahun sekali berupa:

Pemeriksaan fisik: Digital Rectal Examination (DRE) atau pemeriksaan colok dubur.

35

Pemeriksaan USG (Ultrasonografi) kelenjar prostat. Pemeriksaan kadar PSA (Prostat Spesific Antigen) dalam darah. Seperti jenis kanker lainnya, penyebab kanker prostat belum diketahui secara pasti.

Namun, ada beberapa faktor resiko yang mewajibkan seorang pria waspada terhadap penyakit ini, antara lain: riwayat medis keluarga penderita kanker prostat, usia di atas 50 tahun, obesitas, perokok, mengonsumsi alkohol, dan kurang berolahraga.

3. Penyebab Kanker Prostat Penyebab kanker prostat belum diketahui secara pasti, namun penelitian telah menemukan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker prostat, yaitu :

Usia Risiko kanker prostat akan meningkat setelah usia 50 tahun.

Ras/Etnis Orang berkulit hitam memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker prostat dibandingkan orang berkulit putih.

Riwayat Keluarga Jika Ayah atau saudara laki-laki Anda menderita kanker prostat, maka risiko Anda akan meningkat lebih dari dua kali lipat. Risiko akan semakin tinggi jika Anda memiliki kerabat yang terdiagnosa kanker prostat di bawah usia 65 tahun.

Diet Diet tinggi lemak dan obesitas (kegemukan) akan meningkatkan risiko kanker prostat.

36

4. Pencegahan Kanker Prostat Pencegahan dapat dilakukan dengan memiliki pola hidup sehat yaitu dengan rajin mengonsumsi banyak sayuran dan buah, kurangi makanan berlemak, hindari rokok dan alkohol, konsumsi makanan/minuman yang mengandung antioksidan dan omega-3. Selain itu dengan rajin berolahraga, banyak dokter mengamati bahwa pria bertubuh bugar jarang mengalami masalah prostat ketimbang mereka yang lebih banyak duduk. Dan langkah selanjutnya adalah dengan melakukan pemeriksaan yang teratur (1 tahun sekali) terutama bagi yang memiliki faktor resiko yang tinggi untuk terkena kanker prostat.

5. Diagnosis Kanker Prostat Baku emas untuk diagnosis kanker Prostat adalah melalui Biopsi Prostat yang dilakukan dengan cara mengambil jaringan Prostat yang kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk mendeteksi ada tidaknya sel kanker. Namun cara ini bersifat invasif dan kurang nyaman bagi pasien. Upaya untuk mendeteksi dini kanker Prostat adalah dengan melakukan skrining melalui pemeriksaan :

Pemeriksaan colok dubur (Digital Rectal Examinatiton / DRE) Dengan menggunakan sarung tangan, dan jari yang diberi pelumas, dokter akan memeriksa prostat Anda, apakah membesar dan ada benjolan.

Tes PSA (Prostate-Specific Antigen - Antigen Khusus Prostat) Tes darah ini bertujuan untuk mengukur kadar protein yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat. Bila kadarnya tinggi mengindikasikan kanker prostat. Namun peningkatan kadar PSA kadang juga dapat disebabkan oleh pembesaran prostat, infeksi atau peradangan prostat. Bila hasil pemeriksaan PSA sedikit meningkat, perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan free-PSA untuk menentukan nilai rasio free-PSA/PSA total.

37

Transrectal Ultrasound Pemeriksaan ultrasonic (transrectal ultrasound) merupakan cara lain untuk mendeteksi kanker prostat.

6. Dampak yang ditimbulkan oleh Kanker Prostat


Air Kemih berwarna merah Kaki bengkak dan rasa tidak nyaman di daerah panggul (bila telah menyebar ke kelenjar getah bening)

Menimbulkan rasa sakit pada tulang yang tidak kunjung hilang, patah tulang, dan tekanan pada tulang belakang (bila telah menyebar ke tulang)

Anemia Kejang, serta gejala mental atau neurologis lainnya

7. Pengobatan Kanker Prostat

Watching waiting Diperlukan tes PSA, pemeriksaan colok dubur, dan biopsi prostat rutin untuk memonitor perkembangan kanker prostat. Selama dilakukan watching waiting, tidak diberikan terapi medis apapun.

Pengangkatan kelenjar prostat Dilakukan untuk kanker yang masih terbatas pada kelenjar prostat saja, dan dilakukan melalui pembedahan (prostatektomi radikal).

Radiasi Dengan menggunakan sinar X berkekuatan tinggi untuk membunuh sel-sel kanker. Kekurangannya, terapi ini dapat juga mempengaruhi jaringan sehat yang lain.

Terapi hormonal 38

Dimaksudkan untuk mencegah tubuh memproduksi hormon seks pria, yaitu testosteron yang dapat menstimulasi perkembangan sel kanker prostat.

Kemoterapi Menggunakan bahan kimia untuk mencegah perkembangan sel-sel kanker. Digunakan pada kasus kanker prostat yang telah menyebar ke bagian lain dari tubuh.

39

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Kanker adalah salah satu keadaan dimana adanya pertumbuhan sel yang bertambah banyak atau tidak terkendali ( sel mengalami pembelahan terus menerus ). Kanker organ reproduksi sangat jarang dijumpai pada usia 20-an. Resikonya akan meningkat tajam antara usia 30 - 40 tahun dan akan terus meningkat disetiap tahapan usia. Artinya adalah wanita usia 70 tahun beresiko menderita kanker dua kali lebih besar dari pada wanita usia 60 tahun dan sampai 16 kali dari pada mereka berusia 30 tahun. Organ reproduksi pada wanita yang rawan kanker adalah kanker indung telur (ovarium), kanker rahim (uterus), kanker leher rahim (serviks) dan kanker vulva sedangkan pada alat reproduksi pria yang sering terjadi yaitu kanker testis dan kanker prostat.

3.2 Saran

40