P. 1
Studi Kasus Kota Semarang

Studi Kasus Kota Semarang

|Views: 25|Likes:
Dipublikasikan oleh Adnan Adin Nugraha

More info:

Published by: Adnan Adin Nugraha on Jan 04, 2014
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/06/2014

pdf

text

original

Studi Kasus Kota Semarang Secara topografis Kota Semarang terdiri dari daerah perbukitan, dataran rendah dan

daerah pantai, dengan demikian topografi Kota Semarang menunjukkan adanya berbagai kemiringan dan tonjolan. Daerah pantai 65,22% wilayahnya adalah dataran

dengan kemiringan 25% dan 37,78 % merupakan daerah perbukitan dengan kemiringan 1540%. Kondisi lereng tanah Kota Semarang dibagi menjadi 4 jenis kelerengan yaitu lereng I (0-2%) meliputi kecamatan Genuk, Pedurungan, Gayamsari, Semarang Timur, Semarang Utara dan Tugu, serta sebagian wilayah Kecamatan Tembalang, Banyumanik dan Mijen. Lereng II (2-5%) meliputi Kecamatan Semarang Barat, Semarang Selatan, Candisari, Gajahmungkur, Gunungpati dan Ngaliyan, lereng III (15-40%) meliputi wilayah di sekitar Kaligarang dan Kali Kreo (Kecamatan Gunungpati), sebagian wilayah kecamatan Mijen (daerah Wonoplumbon) dan sebagian wilayah Kecamatan Banyumanik, serta Kecamatan Candisari. Sedangkan lereng IV (> 50%) meliputi sebagian wilayah Banyumanik (sebelah tenggara), dan sebagian wilayah Kecamatan Gunungpati, terutama disekitar Kaligarang dan Kali Kripik. Kota Bawah yang sebagian besar tanahnya terdiri dari pasir dan lempung. Pemanfaatan lahan lebih banyak digunakan untuk jalan, permukiman atau perumahan, bangunan, halaman, kawasan industri, tambak, empang dan persawahan. Kota Bawah

sebagai pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan, perindustrian, pendidikan dan kebudayaan, angkutan atau transportasi dan perikanan. Berbeda dengan daeah perbukitan atau Kota Atas yang struktur geologinya sebagian besar terdiri dari batuan beku. Wilayah Kota Semarang berada pada ketinggian antara 0 sampai dengan 348,00 meter dpl (di atas permukaan air laut). Secara topografi terdiri atas daerah pantai, dataran rendah dan perbukitan, sehingga memiliki wilayah yang disebut sebagai kota bawah dan kota atas. Pada daerah perbukitan mempunyai ketinggian 90,56 - 348 MDPL yang diwakili oleh titik tinggi yang berlokasi di Jatingaleh dan Gombel, Semarang Selatan, Tugu, Mijen, dan Gunungpati, dan di dataran rendah mempunyai ketinggian 0,75 MDPL. Kota bawah merupakan pantai dan dataran rendah yang memiliki kemiringan antara 0% sampai 5%, sedangkan dibagian Selatan merupakan daerah dataran tinggi dengan kemiringan bervariasi antara 5%-40%.

00 1. Sedangkan outter ringroad selatan sampai saat ini belum terbangun. sehingga belum mampu menjadi penyeimbang pertumbuhan wilayah serta belum mampu menjadi penopang jalur distribusi nasional. sehingga belum menjadi sarana transportasi massal yang menjadi pilihan utama masyarakat.12 0.00 629.12 68.00 2.154.16 27. dan penyediaan air baku.12 Sumber: Kota Semarang dalam Angka 2010 Pembangunan fasilitas umum merupakan salah satu upaya dalam pemenuhan kebutuhan akan infrastruktur kota yang menjadi tuntutan atau kebutuhan aktivitas masyarakat kota Semarang.16 907.12 2. provinsi maupun jalan kota.250. Jalur rel kereta api kondisinya masih memprihatinkan ditambah sistem pengelolaan yang belum memadai.Infrastruktur wilayah terutama infrastruktur perhubungan darat.28 1.691. Jalur jalan Pantura empat lajur yang melewati Kota semarang selalu menghadapi masalah alam yaitu banjir dan rob. selalu tertinggal dari tuntutan kebutuhan masyarakat yang tumbuh baik dalam artian jumlah maupun kualitas pelayanan yang dibutuhkan. Tabel Status Jalan dan Kondisi Jalan di Kota Semarang Tahun 2010 Status Jalan Negara Provinsi Kota/Lokal Jumlah Kondisi Panjang (km) Baik Sedang Rusak 68. drainase. baik untuk jalan nasional.786.00 0.00 629. .88 907. Pemenuhan akan infrastruktur kota dilakukan melalui pemenuhan sarana dan prasarana jalan dan jembatan. khususnya jalan dan perkeretaapian kondisinya belum memadai.00 27.16 0.00 0. Infrastruktur perhubungan yang ada. Kondisi tersebut antara lain ditunjukkan oleh panjang jalan yang dilihat dari status pengelolaannya menunjukkan adanya panjang yang relatif tetap.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->