Anda di halaman 1dari 18

a.

b.

2.

a.

b.

c.

3.

PERUBAHAN KURIKULUM PENDIDIKAN DI INDONESIA Oleh St. Zulfaidah Indriana di 15.07 A. Esensi Perubahan Kurikulum Dalam perspektif Soetopo dan Soemanto pengertian perubahan kurikulum agak sukar untuk dirumuskan dalam suatu devinisi. Suatu kurikulum disebut mengalami perubahan bila terdapat adanya perbedaan dalam satu atau lebih komponen kurikulum antara dua periode tertentu, yang disebabkan oleh adanya usaha yang disengaja, tentunya menuju movement yang lebih baik. Berbeda dengan ungkapan Nasution, perubahan kurikulum mengenai tujuan maupun alat-alat atau cara-cara untuk mencapai tujuan itu. Mengubah kurikulum sering berarti turut mengubah manusia, yaitu guru, pembina pendidikan, dan mereka-mereka yang mengasuh pendidikan. Itu sebab perubahan kurikulum dianggap sebagai perubahan sosial, suatu social change. Perubahan kurikulum juga disebut devolupment (pembaharuan) atau inovasi kurikulum. Mengenai makna perubahan kurikulum, bila kita bicara tentang perubahan kurikulum, kita dapat bertanya dalam arti apa kurikulum digunakan. Kurikulum dapat dipandang sebagai buku atau dokumen yang dijadikan guru sebagai pegangan dalam proses pembelajaran. Kurikulum dapat juga dilihat sebagai produk yaitu apa yang diharapkan dapat dicapai siswa dan sebagai proses untuk mencapainya. Keduanya saling berinteaksi. Kurikulum dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang hidup dan berlaku selama jangka waktu tertentu dan perlu di revisi secara berkala agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Selanjutnya kurikulum dapat ditafsirkan sebagai apa yang dalam kenyataan terjadi dengan murid didalam kelas. Kurikulum dalam arti ini tak mungkin direncanakan sepenuhnya betapapun rincinya dirrencanakan, karena dalam interaksi dalam kelas selalu timbul hal-hal yang spontan dan kreatif yang tak dapat diramalkan sebelumnya. Dalam hal ini guru lebih besar kesempatannya menjadi pengembang kurikulum dalam kelasnya. Akhirnya kurikulum dapat dipandang sebagai cetusan jiwa pendidik yang berusaha untuk mewujudkan cita-cita, nilai-nilai yang tertinggi dalam kelakuan anak didiknya. Kurikulum ini sangat erat hubungannya dengan kepribadian guru. Kurikulum yang formal mengubah pedoman kurikulum, relatif lebih terbatas dari pada kurikulum yang riil. Kurikulum yang riil bukan sekedar buku pedoman, melainkan segala sesuatu yang dialami anak dalam kelas, ruang olahraga, warung sekolah, tempat bermain, karya wisata, dan banyak kegiatan lainnya, pendek kata mengenai seluruh kehidupan anak sepanjang bersekolah. Mengubah kurikulum dalam arti yang luas ini jauh lebih luas dan dengan demikian lebih pelik, sebab menyangkut banyak variabel. Perubahan kurikulum disini berarti mengubah semua yang terlibat didalamnya, yaitu guru sendiri, murid, kepala sekolah, penilik sekolah juga orang tua dan masyarakat umumnya yang berkepentingan dalam pendidikan sekolah. Seperti yang telah penulis paprkn di atas, bahwa perubahan kurikulum adalah perubahan sosial, curriculum change is social change. 1. Jenis-Jenis Perubahan Menurut Soetopo dan Soemanto, Perubahan kurikulum dapat bersifat sebagian-sebagian, tapi dapat pula bersifat menyeluruh. Perubahan sebagian-sebagian Perubahan yang terjadi hanya pada komponen (unsur) tentu saja dari kurikulum kita sebut perubahan yang sebagiansebagian. Perubahan dalam metode mengajar saja, perubahan dalam itu saja, atau perubahan dalam sistem penilaian saja, adalah merupakan contoh dari perubahan sebagian-sebagian. Dalam perubahan sebagian-sebagian ini, dapat terjadi bahwa perubahan yang berlangsung pada komponen tertentu sama sekali tidak berpengaruh terhadap komponen yang lain. Sebagai contoh, penambahan satu atau lebih bidang studi kedalam suatu kurikulum dapat saja terjadi tanpa membawa perubahan dalam cara (metode) mengajar atau sistem penilaian dalam kurikulum tersebut. Perubahan menyeluruh Disamping secara sebagian-sebagian, perubahan suatu kurikulum dapat saja terjadi secara menyeluruh . Artinya keseluruhan sistem dari kurikulum tersebut mengalami perubahan mana tergambar baik didalam tujuannya, isinya organisasi dan strategi dan pelaksanaannya. Perubahan dari kurikulum 1968 menjadi kurikulum 1975 dan 1976 lebih merupakan perubahan kurikulum secara menyeluruh. Demikian pula kegiatan pengembangan kurikulum sekolah pembangunan mencerminkan pula usaha perubahan kurikulum yang bersifat menyeluruh. Kurikulum 1975 dan 1976 misalnya, pengembangan , tujuan, isi, organisasi dan strategi pelaksanaan yang baru dan dalam banyak hal berbeda dari kurikulum sebelumnya. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Kurikulum Menurut Soetopo dan Soemanto, ada sejumlah faktor yang dipandang mendorong terjadinya perubahan kurikulum pada berbagai Negara dewasa ini. Bebasnya sejumlah wilayah tertentu di dunia ini dari kekuasaan kaum kolonialis. Dengan merdekanya Negara-negara tersebut, mereka menyadari bahwa selama ini mereka telah dibina dalam suatu sistem pendidikan yang sudah tidak sesuai lagi dengan cita-cita nasional merdeka. Untuk itu , mereka mulai merencanakan adanya perubahan yang cukup penting di dalam kurikulum dan sistem pendidikan yang ada. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sekali. Di satu pihak, perkembangan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah menghasilkan diketemukannya teori-teori yang lama. Di lain pihak, perkembangan di dalam ilmu pengetahuan psikologi, komunikasi, dan lain-lainnya menimbulkan diketemukannya teori dan cara-cara baru di dalam proses belajar mengajar. Kedua perkembangan di atas, dengan sendirinya mendorong timbulnya perubahan dalam isi maupun strategi pelaksanaan kurikulum. Pertumbuhan yang pesat dari penduduk dunia. Dengan bertambahnya penduduk, maka makin bertambah pula jumlah orang yang membutuhkan pendidikan. Hal ini menyebabkan bahwa cara atau pendekatan yang telah digunakan selama ini dalam pendidikan perlu ditinjau kembali dan kalau perlu diubah agar dapat memenuhi kebutuhan akan pendidikan yang semakin besar. Ketiga faktor di atas itulah yang secara umum banyak mempengaruhi timbulnya perubahan kurikulum yang kita alami dewasa ini. Sebab-Sebab Kurikulum Itu Diubah Kurikulum itu selalu dinamis dan senantiasa dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dalam faktor-faktor yang mendasarinya. Tujuan pendidikan dapat berubah secara fundamental, bila suatu negara beralih dari negara yang dijajah menjadi Negara yang merdeka. Dengan sendirinya kurikulum pun harus mengalami perubahan yang menyeluruh. Kurikulum juga diubah bila tekanan dalam tujuan mengalami pergeseran. Misalnya pada tahun 30-an sebagai pengaruh golongan progresif di USA tekanan kurikulum adalah pada anak, sehingga kurikulum mengarah kepada child-

centered curriculum sebagai reaksi terhadap subject-centered curriculum yang dianggap terlalu bersifat adulatif (pembujukan) dan society-centered.. Pada tahun 40-an, sebagai akibat perang, asas masyarakatlah yang diutamakan dan kurikulum menjadi lebih society-centered. Kurikulum dapat pula mengalami perubahan bila terdapat pendirian baru mengenai proses belajar, sehingga timbul bentuk-bentuk kurikulum seperti activity atau experience curriculum, programmed instruction, pengajaran modul, dan sebagainya. Perubahan dalam masyarakat, eksplosi (ledakan) ilmu pengetahuan dan lain-lain mengharuskan adanya perubahan kurikulum. Perubahan-perubahan itu menyebabkan kurikulum yang berlaku tidak lagi relevan, dan ancaman serupa ini akan senantiasa dihadapi oleh setiap kurikulum, betapapun relevannya pada suatu saat. 4. Kesulitan-Kesulitan Dalam Perubahan Kurikulum Sejarah menunjukkan bahwa sekolah itu sangat sukar menerima pembaharuan. Ide yang baru tentang pendidikan memerlukan waktu sekitar 75 tahun sebelum dipraktikan secara umum di sekolah-sekolah. Manusia itu pada umumnya bersifat konservatif (tertutup) dan guru termasuk golongan itu juga. Guru-guru lebih senang mengikuti jejak-jejak yang lama secara rutin. Ada kalanya karena cara yang demikianlah yang paling mudah dilakukan. Mengadakan pembaharuan memerlukan pemikiran dan tenaga yang lebih banyak. Tak semua orang suka bekerja lebih banyak daripada yang diperlukan. Akan tetapi ada pula kalanya, bahwa guru-guru tidak mendapat kesempatan atau wewenang untuk mengadakan perubahan karena peraturan-peraturan administratif. Guru itu hanya diharapkan mengikuti instruksi atasan. Pembaharuan kurikulum kadang-kadang terikat pada tokoh yang mencetuskannya. Dengan meninggalnya tokoh itu lenyap pula pembaharuan yang telah dimulainya itu. Dalam pembaharuan kurikulum ternyata bahwa mencetuskan ide-ide baru lebih mudah daripada menerapkannya dalam praktik. Dan sekalipun telah dilaksanakan sebagai percobaan, masih banyak mengalami rintangan dalam penyebarluasannya, oleh sebab harus melibatkan banyak orang dan mungkin memerlukan perubahan struktur organisasi dan administrasi sistem pendidikan. Disadari atau tidak pembaharuan kurikulum pastinya memerlukan biaya yang lebih banyak untuk fasilitas dan alatalat pendidikan baru, yang tidak selalu dapat dipenuhi. Tak jarang pula pembaharuan ditentang oleh mereka yang ingin berpegang pada yang sudah lazim dilakukan atau yang kurang percaya akan yang baru sebelum terbukti kelebihannya. Bersifat kritis terhadap pembaharuan kurikulum adalah sifat yang sehat, karena pembaharuan itu jangan hanya sekedar mode yang timbul pada suatu saat untuk lenyap lagi dalam waktu yang tidak lama. B. Analisis Perubahan Kurikulum dari Tahun 1968-2006 Perkembangan Kurikulum di Indonesia NO TAHUN FOKUS ORIENTASI 1 2 3 4 1968 1975 1984 1994 Subject Matter (Mata Pelajaran) Terminal Objectives (Tiu, Tik) Keterampilan Proses (CBSA Project) Munculnya Pembagian Kamar Antara Kurikulum Nasional Dengan Kurikulum Muatan Local Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

5 6

2004 2006

Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Penekanan dalam Kurikulum 1968, pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik. Sebagai pengganti kurikulum 1968 adalah kurikulum 1975. Dalam kurikulum ini menggunakan pendekatan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), mengarah kepada tercapainya tujuan spesifik, yang dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa. Dalam pelaksanaannya banyak menganut psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill). Kurikulum 1984 berorientasi kepada tujuan instruksional, didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa. Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor Materi pelajaran dikemas dengan menggunakan pendekatan spiral yakni pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan. Ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya adalah pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi). Dalam pelaksanaan kegiatan, guru harus memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Untuk mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen dan penyelidikan. Dan dalam pengajaran suatu mata pelajaran harus menyesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat

keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah. Kurikukum yang dikembangkan pada tahun 2004 diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai dengan standard performan yang telah ditetapkan. Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu yang mampu melakukan perangkat kompetensi yang telah ditentukan. Implikasinya adalah perlu dikembangkan suatu KBK sebagai pedoman pembelajaran. Selanjutnya pada tahun 2006, dikembangkannya kurikulum KTSP. KTSP adalah suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang diletakan pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran yakni sekolah dan satuan pendidikan. KTSP merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum, yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan proses belajar mengajar di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. C. Ironi Kurikulum Pendidikan di Indonesia Berlakunya kurikulum 2006 yang dituangkan dalam paket kebijakan yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22, 23 dan 24 merupakan kemajuan yang patut untuk disikapi secara posistif oleh semua pihak pemangku pendidikan, kebijakan ini merupakan kebijakan yang dapat dipandang sebagai membagi peran antara pemerintah dengan satuan pendidikan atau guru dalam bidang penyususnan kurikulum. Ada beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan dasar dan alasan mengapa KTSP diimplementasikan dalam pendidikan nasional. Berikut dijabarkan beberapa alasan : 1. Dalam kaitannya dengan keanekaragaman budaya, adat, sosial, sumber daya dan tradisi, tidak dipungkiri lagi bahwa Indonesia memiliki semuanya. KTSP hadir sebagai sebuah langkah persiapan untuk mengoptimalkan seluruh keanekaragaman itu. Dengan sistem desentralisasi pendidikan, sebuah institusi pendidikan diharapkan mampu mengoptimalkan dan melestarikan keanekaragaman yang dimiliki oleh daerahnya masing-masing. 2. Dalam setiap institusi pendidikan, permasalahan yang dihadapi tidak hanya satu. Masalah yang ada di institusi pendidikan yang satu belum tentu terjadi di institusi pendidikan lainnya. KTSP, yang penyusunannya langsung dilakukan oleh pihak satuan pendidikan, diharapkan mampu menjadi sebuah pemecahan masalah yang ada di satuan pendidikan itu sendiri. Karena yang paling mengenal sebuah institusi pendidikan adalah institusi itu sendiri, dalam hal ini seluruh tenaga pendidik dan kependidikan di institusi tersebut. 3. Memberikan kesempatan kepada seluruh unsur pendidikan, yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat untuk berperan aktif dalam memajukan suatu institusi pendidikan. Peran komite sekolah, yang terdiri dari perwakilan orang tua dan tokoh masyarakat setempat, diharapkan mampu memberikan kontribusi ide dan saran yang nantinya akan dijadikan sebagai sebuah pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dan memenuhi kebutuhan daerahnya masing-masing. Sementara itu, yang pesimistis dengan kurikulum mutahir mengolok-olok KTSP sebagai (K)urikulum (T)idak (S)iap (P)akai karena lahir terlalu premature (sebelum waktunya). Sumber kelemahannya bukan berada di mana-mana, melainkan ada pada guru sendiri. Seberapa banyak guru yang kreatif dan siap dalam spirit perubahan zaman yang disyaratkan KTSP? Selain persoalan guru, prasyarat lain seperti gedung dan komitmen pemerintah juga akan menjadi kendala yang serius. Kita khawatir kurikulum baru di tahun 2013 pun akan sama nasibnya dengan kurikulum-kurikulum lainnya. Tak dapat dipungkiri, pendidikan yang baik adalah investasi yang tak ternilai untuk kemajuan bangsa. Maka, untuk menstandarkan materi-materi pendidikan yang diberikan dalam sekolah, disusunlah kurikulum oleh pemerintah sebagai pedoman sistematis yang wajib dilaksanakan bagi institusi-institusi pendidikan di Indonesia dalam materi pelajaran. Dengan begitu banyak poin penting yang diatur dalam kurikulum, penyusunan kurikulum yang tepat sangatlah krusial untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Namun, di saat zaman reformasi ini, kurikulum yang dikeluarkan pemerintah senantiasa berubah secepat seseorang bosan dengan mainannya. Bahkan, dapat terlihat bahwa setiap kali berganti menteri pendidikan maka hampir dapat dipastikan kurikulum juga akan diubah. Kalau diistilahkan ganti menteri ganti kurikulum. Mungkin hanya ada peru bahan sedikit didalamnya, namun dengan adanya menteri baru inginnya melakukan perubahan, sayang sekali yang dirubah hanya nama, tidak lebih dari sekedar formalitas. Apakah sering berganti-ganti kurikulum itu baik? Tergantung. Sebetulnya apabila kurikulum baru memang lebih efektif dan cocok dengan realita di lapangan, maka itu baik. Tapi, apa bila kurikulum itu tidak efektif dan sulit direalisasikan dengan sempurna, maka yang terjadi adalah kebingungan dan miskonsepsi (kesalahpahaman). Bila hal itu terjadi, maka yang paling menjadi korban adalah siswa, korban dari proyek Mendiknas dan menteri baru yang ingin tampil beda. Hal ini sangat ironi dalam dunia pendidikan Indonesia, jika hal ini diteruskan lambat laun banyak penyelenggara pendidikan non-pemerintah yang bersaing dengan sekolah naungan pemerintah atau negeri. Kadang kala kita jumpai bahwa kurikulum yang diberikan sekolah swasta cenderung lebih baik ketimbang kurikulum dari pemerintah. Keplin-planan pemerintah menggonta-ganti kurikulum pendidikan sebenarnya tidak masalah, yang dipermasalahkan hanya kualitas kurikulum tersebut apakah mampu meningkatkan kualitas pembelajaran ataukah hanya akan membuat kebingungan para siswa karena selalu berubah-ubah tiap tahunnya. Evaluasi Penerapan KTSP Setiap kurikulum yang diberlakukan di Indonesia memiliki kelebihan masing-masing tergantung pada situasi dan kondisi pada saat kurikulum diberlakukan. Kelebihan-kelebihan KTSP ini antara lain : a. Dengan KTSP, sekolah mendapatkan otonomi dalam pelaksanaan pendidikan, yang mana hal ini berbeda dengan kurikulumkurikulum sebelumya, yang menyama ratakan semua sekolah dengan kurikulum yang sama tanpa melihat kondisi dan situasi lingkungan sekolah yang bersangkutan. Dengan otonomi itu, sekolah bersama dengan komite sekolah dapat secara bersamasama merumuskan kurikulum sesuai dengan kebutuhan situasi dan kondisi lingkungan. b. Dengan KTSP, sekolah mendapat kebebasan untuk merancang, mengembangkan, dan mengimplementasikan kurikulum sekolah sesuai dengan situasi, kondisi dan potensi keunggulan lokal yang bisa dimunculkan oleh sekolah.

c. d.

a.

b.

c.

a.

b.

c.

Dalam KTSP, sekolah diberi kebebasan dalam mengembangkan mata pelajaran tertentu sesuai dengan kebutuhan siswa serta sesuai dengan potensi di daerah tersebut. Dengan KTSP, beban belajar siswa berkurang karena KTSP lebih sederhana. Tetapi tetap memberikan tekanan bagi perkembangan siswa. Karena beberapa kurikulum sebelumnya kebanyakan memasukan alokasi jam pelajaran yang cukup lama, sehingga siswa jenuh dan itu mengakibatkan siswa tidak fokus terhadap pelajarannya, namun dalam KTSP, alokasi waktu mengalami pengurangan. Dari semua aspek yang telah dipaparkan, KTSP terkesan merupakan kurikulum yang sangat tepat untuk diterapkan di Indonesia. Namun dalam tahap pengimplementasiannya, KTSP masih sangat jauh dari konsep yang ada. Berdasarkan data yang ada, berikut beberapa masalah dalam implementasi KTSP : Standarisasi yang masih diterapkan oleh pemerintah yaitu berupa Ujian Nasional (UN). Jika KTSP dibuat dan dirancang sedemikian rupa oleh satuan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyata yang ada, mengapa pemerintah harus repot-repot mengadakan UN? Prinsip diversifikasi yang diterapkan dalam KTSP secara jelas mencantumkan bahwa tiap satuan pendidikan itu memiliki perbedaan. Pemerintah tidak bisa seenaknya memukul rata seluruh sekolah di Indonesia untuk siap mengikuti Ujian Nasional. Kualitas tenaga pendidik yang masih sangat kurang dalam mengakomodir tugas KTSP secara keseluruhan. Seperti yang telah dijelaskan diatas, dalam KTSP, tenaga pendidik menjadi perancang, pelaksana dan pengevaluasi kurikulum yang ada di sekolah tersebut. Oleh sebab itu, kompetensi yang dimiliki haruslah mampu mengakomodir seluruh tugas tersebut. Faktanya, pelaksanaan Pendidikan Guru serta sertifikasi yang diadakan masih belum mampu membekali guru untuk dapat merancang sebuah kurikulum pembelajaran yang memenuhi tujuan keseluruhan dari KTSP. Sosialisasi yang dilakukan pemerintah masih belum sempurna seluruhnya. Dalam sebuah Stadium General, Prof. Dr. Tilaar pernah mengatakan bahwa hampir ratusan guru di Sumatera Utara yang hadir saat seminar yang diisi oleh beliau mengatakan bahwa mereka tidak mengerti bagaimana KTSP harus dirancang. Yang mereka tahu adalah bagaimana mempersiapkan murid agar lulus ujian nasional. Sungguh sebuah ironi, mengingat bahwa seharusnya KTSP dirancang dan dikembangkan oleh guru, namun guru itu sendiri belum memahami sepenuhnya apa itu KTSP. Kesempurnaan konsep yang ada pada KTSP menjadi tidak berarti ketika pelaksanaannya masih jauh dari angan. Kekurangan dan kelemahan yang ada pada implementasi KTSP tentunya membutuhkan tindak lanjut dan langkah perbaikan yang harus dilakukan. Solusi dari Lemahnya Penerapan KTSP Pada dasarnya, permasalahan implementasi KTSP yang ada di Indonesia perlu diperbaiki, bukan langsung diubah. Untuk itu, kami merumuskan solusi untuk setiap permasalahan yang ada. Berikut dipaparkan solusi-solusinya: Untuk permasalahan standarisasi secara nasional dengan diadakannya UN, solusi yang kami ajukan adalah penghapusan UN. Alasannya, ketika satuan pendidikan telah merancang dan melaksanakan KTSP serta menentukan standar-standar kelulusan yang dibutuhkan sesuai dengan permasalahan satuan pendidikan dan potensi daerahnya masing-masing, seharusnya untuk masalah sistem evaluasi yang ditujukan sebagai standar kelulusan dilaksanakan oleh satuan pendidikan itu juga. Jadi UN hanya sebagai tolak ukur pemerataan pendidikan di Indonesia, bukan sebagai standar kelulusan nasional. Permasalahan kualitas guru, tentunya ini harus diselesaikan dengan cara peningkatan kualitas guru. Paling tidak, seorang guru harus paham apa Itu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Ada dua cara yang kami sarankan. Pertama pelatihanpelatihan untuk para guru, seperti workshop, seminar, PLPG, Portofolio, dan lain sebagainya. Kedua, membekali para calon guru ketika masih dalam tahapan belajar di bangku kuliah. Ada baiknya para calon guru di bangku kuliah dibekali pengetahuan tentang kurikulum dan pengelolaan sekolah sebelum mereka terjun langsung pada dunia pendidikan. Problematika terakhir adalah sosialisasi, tetap dilakukan sosialisasi ke seluruh Indonesia. Dengan mengubah konsep sosialisasi yang kebanyakan sudah dijalankan. Kenapa? Karena kebanyakan sosialisasi yang dilakukan terlihat monoton dengan hanya memberikan konsep-konsep saja yang mungkin bagi kebanyakan guru membosankan dan dalam waktu 3 hari saja timbul istilah masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Masukkan cara-cara praktis dan contoh langsung ke lapangan mungkin salah satunya dengan simulasi di dalam kelas. Lalu setelah itu, sosialisasi tidak hanya dilakukan dengan face to face saja tetapi beri juga ruang bagi para pendidik untuk mengeluarkan uneg-unegnya di dunia maya dengan mengadakan forum atau apapun itu karena dari saran dan kritik mereka jugalah kita dapat mengetahui apa yang perlu dibenahi dalam kurikulum. Pada dasarnya, ketika menemukan sebuah permasalah dalam hal apapun, sebaiknya diperbaiki, bukan diubah. Demikian seberkas pengajuan saran untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul dalam persoalan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Faktor yang mempengaruhi perubahan Kurikulum 1. Falsafah Pendidikan Falsafah pendidikan negara mempunyai implikasi yang besar terhadap pembentukan kurikulum. KBSR dan KBSM adalah hasil perubahan yang diaspirasikan dalam Falsafah Pendidikan Negara. Antara perubahanperubahan yang jelas terdapat dalam kedua-dua tersebut ialah ; 1. Sukatan pelajaran yang digubal memberi penekanan kepada aspek kesepaduan dan keseimbangan. Oleh itu konsep-konsep seperti penggabungjalinan ( penyatuan kemahiran-kemahiran ) dan penyerapan ( penyatuan isi ) sentiasa dititik beratkan. 2. Penekanan baru diberikan kepada penerapan nilai-nilai murni. Ia seharusnya diserapkan dalam setiap mata pelajaran yang diajar di sekolah. 3. Program pendidikan disusun agar dapat melahirkan insan yang seimbang dan harmonis dari segi intelek, rohani, emosi dan jasmani berdasarkan kepercayaan dan kepatuhan kepada Tuhan. 4. Program pendidikan yang menitik beratkan pendidikan umum diperkenalkan. 5. Penekanan diberikan kepada pendidikan teknik dan vokasional. 6. Penekanan juga diberikan kepada bahasa merentasi kurikulum. 7. Pemupukan budaya sains dan teknologi terus ditekankan. 8. Pemupukan budaya keusahawanan dan budaya niaga ditegaskan. 9. Pengukuhan dan perluasan bahasa Melayu sebagai satu cabang ilmu pengetahuan. 10. Peningkatan pendedahan dan penguasaan bahasa Inggeris. 11. Penekanan kepada melahirkan individu yang berkeyakinan diri dan bersikap berdikari.

1. Kehendak Masyarakat Kurikulum digubal dan dilaksanakan mengikut kehendak dan desakan masyarakat. Masyarakat juga menentukan samada kurikulum itu sesuai atau pun tidak dengan kehendak mereka. Namun begitu bukanlah mudah untuk memenuhi semua tuntutan masyarakat terhadap kurikulum dan sumbangannya pada budaya, lebih-lebih lagi dalam masyarakat yang kompleks dan mengalami perubahan yang pesat. Penilaian atau kajian berterusan adalah diperlukan untuk memastikan matlamat dan kehendak masyarakat terhadap pendidikan benar-benar terlaksana. Misalnya dalam masyarakat industri, pendidikan harus mempunyai strategi terhadap ciri-ciri ekonomi, politik, sosial dan budaya masyarakat tersebut. Dalam masyarakat pertanian pula, ciriciri kurikulumnya adalah berbeza. Masyarakat mengkehendaki murid-murid mempelajari kemahiran-kemahiran asas seperti membaca, menulis dan mengira; konsep-konsep asas cara hidup masyarakat dari segi politik, sosial dan ekonomi; serta teknik-teknik asas untuk menyertai kehidupan sesuatu masyarakat, seperti mengambil bahagian dalam perbincangan, kepimpinan dan pemikiran kritis dalam suatu sistem demokratik. KBSR telah digubal dengan tujuan untuk membolehkan murid-murid : - menguasai bahasa Melayu dengan memuaskan. - menguasai kemahiran asas berbahasa seperti bertutur, membaca dan menulis. - menguasai kemahiran mengira - menguasai Bahasa Inggeris - membina dan memupuk akhlak yang mulia - meningkatkan ilmu pengetahuan tentang manusia dan alam - dapat bergaul dalam masyarakat 3. Faktor Politik Wiles Bondi (1989) dalam Tengku Zawawi b Tengku Zainal `Curriculum Development : A Guide to Practice turut menjelaskan pengaruh politik dalam pembentukan dan perkembangan sesuatu kurikulum.

Ini jelas menunjukkkan bahawa perkembangan kurikulum dipengaruhi oleh proses politik, kerana setiap kali pucuk pimpinan sesebuah negara itu bertukar, maka setiap kali itulah kurikulum pendidikan akan dikaji semula. Kurikulum pendidikan menjadi saluran penting bagi setiap badan pemerintahanmenguatkan pengaruh mereka. Kerajaan bertanggungjawab menetapkan Dasar Pendidikan Negara sejajar dengan hasrat pemerintah. 4. Faktor pembangunan negara dan perkembangan dunia Perkembangan kurikulum juga dipengaruhi oleh faktor pembangunan negara dan perkembangan dunia. Negara yang ingin maju dan membangun tidak seharusnya mempunyai kurikulum yang statik. Oleh itu ia harus diubahsuai mengikut peredaran masa dan kemajuan sains dan teknologi. Menurut Hida Taba (1962) dalam Tengku jawawi b tengku zainal: Technology has changed and is changing not only the face of the earth and the institutions of our society, but man itself Kenyataan di atas jelas menunjukkan bahawa perkembangan teknologi telah membawa perubahan yang pesat pada kehidupan manusia di muka bumi ini. Oleh itu perkembangan kurikulum haruslah sejajar dengan pembangunan negara dan perkembangan dunia. Kandungan kurikulum pendidikan perlu menitikberatkan mata pelajaran sains dan kemahiran teknik atau vokasional kerana tenaga kerja yang mahir diperlukan dalam zaman yang berteknologi dan canggih ini. (Ee Ah Meng, 1995 dalam tengku Zawawi b tengku Zainal). 5. Faktor perubahan sosial Selain menjadi tempat menyalurkan pengetahuan dan melatih kemahiran akademik, sekolah juga merupakan agen sosial. Melalui pendidikan di sekolah, nilai-nilai sosial yang diperlukan dalam dan negara diserapkan. Dewasa ini masalah keruntuhan moral dan jenayah di kalangan remaja dan murid-murid semakin meningkat. Mereka terdedah dengan masalah penagihan dadah, minum minuman keras, merokok, pergaulan bebas dan melakukan perkara-perkara jenayah seperti mencuri, merompak, merogol dan sebagainya. Masalah ini jika tidak dibendung dengan segera, akan merosak dan menghalang pembangunan negara. Menyedari hakikat ini, negara telah mewujudkan Falsafah Pendidikan Negara yang bertujuan memperkembangkan lagi potensi individu secara menyeluruh dan bersepadu untuk mewujudkan insan yang harmonis dan seimbang dari segi intelek, rohani, emosi dan jasmani.. Dengan itu perkembangan kurikulum harus sejajar dengan perubahan sosial agar nilai-nilai murni dalam diri individu tidak pupus ditelan arus pembangunan. 6. Faktor Perancang dan Pelaksanaan kurikulum Perubahan yang begitu pesat dalam masyarakat dan dunia membuat kurikulum hari ini perlu disesuaikan mengikut peredaran masa. Sehubungan dengan itu perancang kurikulum bertanggungjawab menyemak semula dari masa ke semasa. Pengguguran, perubahan atau pertambahan terhadap kurikulum harus dilakukan mengikut peredaran masa, kehendak masyarakat dan kemajuan negara. Kita hidup dalam masyarakat yang berubah-ubah, iaitu pengetahuan baru sentiasa ditemui, sementara pengetahuan lama yang dibuktikan kurang tepat diperkemaskinikan. Masalah pertambahan pengetahuan yang banyak menimbulkan masalah pemilihan apa yang hendak dipelajari serta pertimbangan semula bagaimana pembelajaran harus berlaku. Dengan menyedari bahawa murid-murid harus disediakan untuk menyesuaikan diri dengan permintaan masyarakat yang cepat berubah, guru-guru dan perancang kurikulum harus menyemak semula apa yang mereka kemukakan kepada murid-murid (Kamaruddin Hj. Husin, 1994 dalam Tengku Zawawi b Tengku Zainal). 7. Faktor murid , kehendak , dan keperluan masyarakat Pelajar sebagai individu mempunyai kehendak dan keperluan asas ytang melibatkan kehendak dan keperluan asa yang melibatkan keselamatan, kasih sayang, bermasyarakat dan kehendak penyempurnaan kendiri. Kurikulum yang akan dibentuk sewajarnya dapat memberi ilmu pengetahuan dan kemahiran agar kehendak dan keperluannya sebagai muriod dan individu dapat dipenuhi. Ini bermakna, kurikulum yang dibentuk akan menyediakan segala ilmu pengetrahuan dan kemahiran yang merangsang perkembangan potensi mereka secara menyeluruh iaitu merangkmi intelek, jasmani, rohani dan sosial( Ee Ah Meng, 1995dalam Tengku Zawawi b Tengku Zainal). Perancangan kurikulum yang baik sentiasa mengambil kira keperluan murid serta mampu memberi faedah secara menyeluruh. Ini bermakna faktor minat dan perkembangan individu dalam bidang kognitif, psikomotor dan afektif perlu difikirkan semasa membentuk kurikulum tersebut.

Kajian hendaklah dilakukan terhadap keperlun individu, sekurang-kurangnya dari peringkat bayi hingga remaja. Hasilnya, segala keperluan tersebut dapat diserapkan ke dalam sistem pendidikan itu dan dilaksanakan di sekolahsekolah dengan berkesan. Murid adalah individu yang bakal menjadi sebahagian daripada anggota masyarakat. Oleh itu, kurikulum haruslah bertanggungjawab menyediakan murid-murid dengan pendidikan yang berkaitan dengan masyarakat di mana mereka tinggal dan juga bentuk masyarakat yang akan mereka hadapi kelak. 8. Faktor perkembangan ilmu dan kepentingannya Masa yang berlalu turut membawa perubahan kepada masyarakat yang seterusnya menuntut mereka menerima pendidikan yang lebih sempurna selaras dengan keperluan kemajuan yang kian pesat. Ilmu yang bersifat dinamik menyebabkan ia sentiasa berkembang. Perkembangan ini disebarkan kepada masyarakat menerusi perancangan kurikulum 6yang lebih kemas dan sesuai dengan kehendak masyarakat dan negara. Penemuan baru dalam pelbagai bidang seperti perubatan, teknologi dan sebagainya menjadikan bidang itu terus berkembang. Perekembangan ini penting dalam pembentukan kurikulum supaya ia dapat dikemaskini dari masa ke semasa agar ilmu -ilmu baru ini dapat dissalurkan kepada murid-murid bagi mengimbangi keperluan zaman. Selain itu, pengenalan ilmu atau bidang-bidang baru ke dalam pendidikan membantu meningkatkan taraf pendidikan itu sendiri. Contohnya, memperkenalkan ilmu pengurusan dan perhubaungan ke dalam biodang pendidikan, khususnya ke dalam bidang kurikulum, meningkatkan lagi keberkesanan proses perkembvangan kuriklum itu sendiri. 9. Pengaruh psikologi pendidikan Teori disiplin mental yang berlandaskan konsep falsafah yang dimajukan oleh Plato dan Aristotle banyak mempengaruhi pengajaran aritmetik pada abad ke 19. Salah satu aspek disiplin mental yang penting ialah psikolgi fakulti. Psikologi Fakulti mempunyai pengaruh yang begitu kuat terhadap isu mengapa matematik perlu dipelajari oleh kanak-kanak. Manakala ahli ` fahaman perkaitan mengaggap pembelajran sebagai pembinaan unit-unit kecil yang terdiri daripada rangkaian R-G untuk menghasilakn tingkah laku. Fahaman ini telah menghasilakn startegi pengajaran aritmatik kepada fakta dan kemahiran kecil untuk diajar dan dinilai secara berasingan. Kesan utama pendekatan ini bterhadap sekolah ialah matematik diajar semata-mata dengan menggunakan teknik latih tubi ( Nik Aziz Nik Pa, 1992 dalam Tengku Zawawi b Tengku Zainal). Pemikiran psikologi `behaviourisme telah bertapak dalam kurikulum pendidikan matematik sejak awal 60an. Dalam pemikiran ini murid telah dianggap sebagai gelas kosong. Guru berperanan memasukkan pengetahuan matematik ke dalam gelas tersebut. Pendekatan ini mengenepikan aktiviti pengembangan intelek yang sekaligus membina sikap negatif dalam diri pelajar terhadap matematik. Untuk mengatasi masalah itu, satu kurikulum matetamati yang memberikan tumpuan kepada penyelesaian masalah dan pemikiran kritis telah diperkembangkan pada penghujung tahun 70an. Seterusnya dalam KBSM pengajaran dan pembelajran Matematik ditekankan kepada fahamanb binaan (konstuktivm) dan kemahiran berfikir secara kreatif dan kritis.

KESIMPULAN Pembaharuan (inovasi) perlukan bukan saja dalam bidang teknologi tetap di segala bidang termasuk bidang pendidikan pembaruan pendidikan di tirapkan di dalalam berbagai jejang pendidikan juga dalam setiap komponen sistem p pendidikan.sebagai pendidik kita harus mengetahui dan menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang kondosif sehingga dapat di peroleh hasil yang maksimal.kemajuan suatu lembaga pendidikan sangat berpengaruh pada outputnya sehingga akan muncul pengakuan dari yang rill dari siswa,orang tua,masyarakat ,namun sekolah /lembaga pendid ikan tidak akan meraih suatu pengakuan rill apabila warga sekolah tidak melakukan suatu inovasi di dalamnya dengan latar belakang kekuatan ,kelemehan tatangan dan hambatan yang ada. DAFTAR PUSTAKA Tengku Zawawi b Tengku Zainal. 2011.Faktor-faktor yang memepengaruhi perubahan kurikulum( http://mujahid.tripod.com/math4.html.

Momentum Akselerasi Mutu Pendidikan: Optimisme Guru Muhammadiyah Menyongsong Kurikulum 2013
24-04-2013 13:02:11, pada Dunia Guru

Oleh: Yanur Setyaningrum, S.Pd., M.Pd. (Guru IPA SMP Muhammadiyah 1 Malang; yanursetyaningrum@yahoo.com) Muhammadiyah mendukung langkah Kemdikbud meningkatkan kualitas pendidikan melalui perubahan kurikulum. Muhammadiyah akan melaksanakan kurikulum itu dengan memperkuat, memperkaya dan memperkecil risiko kelemahan yang ada (Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, MA). Mukaddimah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah menetapkan untuk segera mengimplementasikan Kurikulum 2013 pada awal tahun ajaran baru di pertengahan Juli 2013 mendatang. Semangat dan niat kuat itu dapat dilihat dari kegiatan sosialisasi dan uji publik kurikulum yang gencar dilakukan. Berbagai dukungan dan tentangan mencuat ke permukaan. Tentangan muncul misalnya dari Hafid Abbas, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta yang menegaskan bahwa modus perubahan kurikulum lebih terkesan sebagai ikhtiar dadakan karena tidak didahului persiapan yang lebih matang. Perubahan kurikulum dadakan ini cermin ketiadaan kerangka besar arah pembenahan pendidikan nasional (Kolom Opini Kompas, 2013). Sementara itu, Henry Alex Rudolf Tilaar, profesor emeritus Universitas Negeri Jakarta, bahkan menyebut bahwa penyusunan Kurikulum 2013 ternyata tidak tercantum dalam penjabaran rencana strategis pendidikan dasar 2009-2014. Untuk itu, dia meminta agar rencana pemberlakuan kurikulum ditunda dulu sampai betul-betul matang (Kompas, 13/03/2013). Berbeda dengan kedua guru besar tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, MA (Kompas, 24/01/2013; muhammadiyah.or.id, 20/02/2013) menegaskan bahwa Muhammadiyah mendukung langkah Kemdikbud meningkatkan kualitas pendidikan melalui perubahan kurikulum. Muhammadiyah akan melaksanakan kurikulum itu dengan memperkuat, memperkaya dan memperkecil risiko kelemahan kurikulum yang ada. Kebijakan yang diambil oleh Kemdikbud dalam memperbaiki mutu generasi bangsa melalui pendidikan tersebut sejalan dengan semangat yang diusung oleh Muhammadiyah. Untuk itu, perubahan kurikulum yang bertujuan memajukan anak bangsa ini memperoleh dukungan penuh. Menurut hemat penulis sebagai seorang guru, alangkah bijaknya bila sikap Muhammadiyah yang akan melaksanakan Kurikulum 2013 dengan memperkuat, memperkaya dan memperkecil risiko kelemahan kurikulum ini diadopsi. Kita tidak boleh terjebak pada buruk sangka dan stigma persoalan yang alih-alih memberi solusi malah mungkin menjerat kita untuk tidak mau melakukan perubahan. Jadi, ini bukan masalah setuju atau tidak karena hal ini bisa panjang pula diskusinya. Apalagi kalau setiap orang bebas mengungkap argumentasinya. Faktor subjektivitas akan menggiring kita untuk berdebat kusir, soal lain yang justru tak menjawab persoalan utama. Oleh karena hal ini bersifat kontraproduktif, maka bijaknya perlu dihindari. Jangan sampai kita malah justru seperti dikatakan oleh Pradipto (2007) yang hanya melanggengkan kontestasi dalam sebuah relasi sosial yang di dalamnya hanya ada saling bersaing dan menghancurkan. Padahal, kita sepakat perubahan itu sesuatu keniscayaan yang harus dihadapi mana kala kita ingin terus maju dan berkembang. Bukankah melalui perubahan kurikulum ini sesungguhnya kita ingin membeli (menyiapkan) masa depan siswa kita dengan harga sekarang? Tentu saja, dengan tidak menutup mata pada beberapa kekurangan yang ada kita tidak perlu antipati pada Kurikulum 2013. Alangkah bijaknya bila direspon sebagai sebuah tantangan untuk kemudian bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini. Oleh karena itu, Kurikulum 2013 sejatinya harus menjadi momentum akselerasi peningkatan mutu pendidikan. Optimisme ini akan coba diuraikan pada bagian selanjutnya dari artikel ini. Mengapa Kurikulum Harus Berubah? Perubahan kurikulum tentulah bukan asal sulap, sesukanya atau dengan membalikkan tangan. Pastilah begitu banyak pertimbangan yang diambil dan pada ujungnya berharap cita-cita pendidikan Indonesia menjadi semakin berkualitas akan dinikmati. Menurut Kemdikbud (2012a) setidaknya ada 8 permasalahan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sehingga harus diperbaiki, yaitu: (1) Konten KTSP masih terlalu padat, ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak. (2) KTSP belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. (3) KTSP belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan. (4) Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam KTSP. (5) KTSP belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global. (6) Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang multitafsir dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered learning). (7) Standar penilaian belum mengarah pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum

secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala. (8) KTSP cenderung memerlukan dokumen yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multitafsir. Dampak dari kekurangan tersebut secara faktual dapat dilihat dari berbagai indikator empirik. Laporan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2011, menyebutkan bahwa nilai rata-rata matematika siswa Indonesia menempati urutan ke-38 dari 42 negara. Sedangkan untuk sains justru lebih mengecewakan, yaitu menempati urutan ke-40 dari 42 negara. Sebagian besar siswa hanya mampu mengerjakan soal sampai level menengah sehingga disinyalir ada perbedaan bahan ajar di Indonesia dengan yang diujikan di tingkat internasional. Hasil studi TIMSS menunjukkan siswa Indonesia berada pada ranking amat rendah dalam berbagai kemampuan, misalnya: (1) memahami informasi yang komplek, (2) teori, analisis dan pemecahan masalah, (3) pemakaian alat, prosedur dan pemecahan masalah dan (4) melakukan investigasi. Indikator berbeda, yaitu hasil studi Program for International Student Assessment (PISA) menunjukkan peringkat Indonesia baru bisa menduduki 10 besar terbawah dari 65 negara. Kriteria penilaian mencakup kemampuan kognitif dan keahlian siswa membaca, matematika, dan sains. Hampir semua siswa Indonesia ternyata cuma menguasai pelajaran sampai level 3 saja, sementara banyak siswa negara maju maupun berkembang lainnya menguasai pelajaran sampai level 4, 5, bahkan 6 (Kemdikbud, 2012b). Dewasa ini pun terdapat fakta terkait problematika karakter warga negara yang tidak mencerminkan karakter mulia bangsa Indonesia. Kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak sering terjadi. Kecenderungan ini juga menimpa generasi muda, misalnya pada kasus-kasus perkelahian massal. Pemandangan miris sering kita lihat secara langsung atau melalui berbagai media. Bentrokan antar kampung, antar pendukung calon kepala daerah atau pendukung partai politik, perkelahian pelajar, perkelahian mahasiswa, bahkan bentrok antar aparat keamanan hampir tiap hari terjadi. Memang, belum ada kajian ilmiah bahwa kekerasan tersebut bersumber dari kurikulum. Namun demikian beberapa ahli pendidikan dan tokoh masyarakat menganalisis bahwa salah satu akar masalahnya adalah implementasi kurikulum yang terlalu menekankan aspek kognitif dan keterkungkungan siswa di ruang belajarnya dengan kegiatan yang kurang menantang siswa. Oleh karena itu, kurikulum perlu direorientasi dan direorganisasi terhadap beban belajar dan kegiatan pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan ini (Marto, 2012). Berbagai kasus yang berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang, manipulasi, termasuk kecurangan dalam Ujian Nasional/UN menunjukkan mendesaknya upaya menumbuhkan budaya dan karakter melalui kegiatan pembelajaran dalam satuan pendidikan. Maka kurikulum harus mampu memandu upaya karakterisasi itu pada siswa. Masil dalam fokus yang sama, saat ini upaya pemenuhan kebutuhan manusia telah secara nyata mempengaruhi secara negatif lingkungan alam. Pencemaran, semakin berkurangnya sumber air bersih, adanya potensi rawan pangan pada berbagai belahan dunia, dan pemanasan global merupakan tantangan yang harus dihadapi generasi muda di masa kini dan masa mendatang. Kurikulum seharusnya juga diarahkan untuk membangun kesadaran dan kepedulian mereka terhadap lingkungan serta menumbuhkan kemampuan untuk merumuskan pemecahan masalah secara kreatif terhadap isu-isu lingkungan dan ketahanan pangan. Momentum Akselerasi Mutu Pendidikan Menurut Fadli (2010) salah satu variabel yang mempengaruhi sistem pendidikan nasional adalah kurikulum. Kurikulum harus dapat mengikuti dinamika yang ada dalam masyarakat. Kurikulum harus bisa menjawab kebutuhan masyarakat luas dalam menghadapi persoalan kehidupan kekinian yang dihadapi. Sudah sepatutnya bila kurikulum itu terus diperbaharui seiring dengan realitas, perubahan, dan tantangan dunia pendidikan dalam membekali siswa menjadi manusia yang adaptif dan dinamis. Kurikulum harus komprehensif dan responsif terhadap dinamika sosial, relevan, tidak overload sekaligus mampu mengakomodasi keberagaman keperluan dan kemajuan teknologi. Oleh karena itu, kurikulum harus dirancang dalam rangka lebih mengembangkan segala potensi yang ada pada siswa. Pendapat Fadli tersebut memberi pencerahan kepada kita bahwa perubahan kurikulum itu merupakan sesuatu yang nicaya, pasti dan kebutuhan yang terus berkembang. Kurikulum harus menjadi wahana yang efektif untuk mewujudkan kondisi yang ideal dengan kondisi kekinian. Kurikulum bersifat dinamis dan terus berkembang, dan wajib mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Persoalan kurikulum itu dipakai untuk waktu tertentu, karena masih dianggap relevan dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan aspek teoretis berkembangnya ilmu pengetahuan dan aspek empiris implementasi dan manajemen kurikulum. Selain itu, persepsi masyarakat terhadap output pendidikan juga harus diakomodasi secara memadai. Kurikulum bukan kitab suci yang sakral dan tidak dapat diutak-atik. Kurikulum adalah instrumen untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagai instrumen, penggunaannya tergantung pada sumber daya manusia. Lebih penting lagi, tujuan universal pendidikan adalah mewujudkan manusia seutuhnya yang meningkatkan harkat dan martabatnya. Pendidikan bukan sekadar meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk memenuhi kebutuhan tenaga-tenaga terampil untuk pembangunan fisik, tetapi lebih kepada pembentukan sikap mental dan karakter yang menjadi fondasi bagi kehidupan masa depan. Tantangan masa depan semakin canggih, kompleks dan menuntut respon perubahan. Respon berupa perubahan kurikulum merupakan langkah strategis yang dapat ditempuh pemerintah sebagai pengemban amanat Undang-undang. Kurikulum 2013 ini, seperti kata Kemendikbud, bukanlah kurikulum baru di dunia bahkan sudah diterapkan di beberapa negara maju seperti Finlandia, Jerman dan Prancis (Mahmud, 2013). Bagaimana pun perubahan

kurikulum ini harus dianggap sebagai usaha masa kini untuk mempersiapkan siswa bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di masa depan. Kurikulum 2013 sebagai jawaban untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia menghadapi perubahan dunia. Kurikulum menjadi acuan mengenai apa yang diperlukan serta mengapa hal tersebut diperlukan dalam dunia pendidikan. Pengembangan dan perubahan kurikulum adalah sesuatu kelaziman untuk menciptakan siswa yang kompeten dan bisa dipertanggungjawabkan. Kurikulum merupakan konstruksi dan antisipasi untuk mengembangkan kehidupan masa depan yang diinginkan. Dalam posisi ini maka kurikulum harus menjadi jantung pendidikan dalam membentuk generasi baru dengan memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan potensi dirinya untuk memenuhi kualitas yang diperlukan bagi kehidupan masa mendatang. Hasil studi TIMSS dan PISA serta beberapa indikator yang telah diuraikan sebelumnya menyebabkan Kemdikbud menduga ada yang perlu disempurnakan pada KTSP. Selama ini pemberlakuan KTSP tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan terhadap kemampuan siswa di Indonesia (Putradnyana, 2012). Hasil studi ini menunjukkan perlu ada perubahan orientasi kurikulum dengan tidak membebani siswa dengan konten namun pada aspek kemampuan esensial yang diperlukan semua warga negara untuk berperan serta dalam membangun negara pada masa mendatang (Kemdikbud, 2012a). Kurikulum 2013 bertujuan mencetak siswa memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik serta berimbang. Siswa akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif. Kurikulum 2013 mengarahkan proses pembelajaran harus bisa medorong siswa untuk mengamati (observing), bertanya (questioning), menalar (associating), mencoba (experimenting), dan membentuk jejaring (networking). Tentu saja, cita-cita ini harus kita dukung dengan penuh semangat dan dengan sepenuh hati. Untuk memenuhi prasyarat itu maka cara pembelajarannya tentu harus holistik dan menyenangkan. Pembelajaran seyogyanya menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik melalui penilaian berbasis test dan portofolio (saling melengkapi). Jelaslah bahwa perubahan kurikulum merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk menyesuaikan dengan kebutuhan perkembangan pendidikan dan perkembangan dunia yang sedang berjalan (bahkan berlari kencang). Perubahan kurikulum 2013 searah sinergi dengan komponen pendidikan yang lain, dalam upaya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam hal ini, semua komponen dalam sistem pendidikan nasional termasuk kurikulum masing-masing memiliki pengaruh terhadap upaya menciptakan pendidikan yang bermutu. Peran Guru Muhammadiyah Penting dicermati, apapun perubahan kurikulum yang hendak digagas, kita mesti bersungguh-sungguh dalam proses implementasinya. Satu prinsip, perubahan kurikulum mesti berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan. Bukankah tak ada kompromi untuk kualitas pendidikan? Sesungguhnya tidak ada satu komponen pendidikan pun yang secara sendirian berpengaruh terhadap upaya peningkatan pendidikan. Semua komponen akan berpengaruh sesuai dengan porsi masing-masing. Semua komponen dalam sistem pendidikan secara singergis akan saling berpengaruh terhadap mutu pendidikan, termasuk kurikulum. Kurikulum tidak akan berpengaruh terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan jika ia tidak bersinergi dengan komponen pendidikan yang lain. Bertand Russel malah percaya bahwa More important than the curriculum is the question of the methods of teaching and spirit in which the teaching is given. Pada awal era reformasi pun Muhammad Surya, (ketua PGRI) menyatakan: semua keberhasilan agenda reformasi pendidikan, pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan, yaitu guru. Sehubungan dengan itu, ada baiknya kita merenungi ulang dan mendalam penegasan yang disampaikan Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, MA. Menurutnya, Muhammadiyah telah memiliki pengalaman sejarah sangat panjang dalam membangun dunia pendidikan sehingga dapat mengawal Kurikulum 2013 agar benar-benar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru Muhammadiyah adalah Laskar Zaman untuk anak-anak Muhammadiyah dan anak-anak Bangsa yang menjadi ujung tombak dalam bidang pendidikan. Para guru secara umum dan guru-guru Muhammadiyah secara khusus sebagai ujung tombak atau aktor terdepan penerapan kurikulum, diharapkan bisa menyiapkan dan membuka diri terhadap terjadinya perubahan. Kesiapan guru lebih penting daripada pengembangan Kurikulum 2013. Kenapa guru menjadi penting? Kurikulum boleh berganti, tetapi guru yang akan menentukan apakah ia mau menggunakan kurikulum itu atau tidak. Paling tidak, kenyataan selama ini secara empiris membuktikan bahwa guru yang menentukan, guru yang menjadi aktor utama implementasi kurikulum. Dengan demikian kita harus memastikan bahwa jangan sampai kondisi kebanyakan guru malah mirip syair lagu Dian Pisesa yaitu "aku masih seperti yang dulu". Menurut Indriyanto (2013) guru merupakan aktor terdepan dalam implementasi Kurikulum 2013. Peran penting guru antara lain meliputi: (1) kemampuan menjabarkan topik-topik bahasan pada mata pelajaran menjadi informasi yang menarik dan mudah dipahami oleh siswa, (2) kemampuan untuk mengidentifikasi tingkat dan area kesulitan siswa dan kemampuan untuk membantunya keluar dari kesulitan tersebut, dan (3) kemampuan melakukan evaluasi kemajuan belajar siswa. Berdasarkan hasil evaluasi guru dapat menentukan strategi untuk menentukan metode pembelajaran yang lebih tepat dan kecepatan dalam memberikan informasi berupa pengetahuan kepada siswa. Perbaikan mutu pendidikan ini dengan demikian sesungguhnya tergantung pada kualitas guru, bagaimana agar murid mengalaminya sebagai bagian dari kehidupannya sehari-hari, bukan sekedar pemahaman menjelang ujianujian. Jika kualitas guru seburuk saat ini, maka dipastika bahwa sekolah justru akan semakin menggerogoti kemandirian dan imajinasi. Pada level yang lebih tinggi bahkan sekolah juga mengalienasi murid dari kehidupan nyata. Sekolah menjadi ladang pembantaian inovasi, tempat yang pengap bagi beragam ekspresi multiranah dan multi-kecerdasan muridnya.

Menurut Rosyid (2012) yang kita butuhkan saat ini bukan hanya perubahan kurikulum, tapi juga perubahan guru. Guru harus menjadi sosok yang mandiri dan teladan manusia merdeka yang tidak mudah diintimidasi oleh birokrat, pendidikan dan wali murid. Pembinaannya harus dilakukan oleh organisasi profesi guru, bukan monopoli Pemerintah. Guru tidak boleh dipandang lebih sebagai pegawai, tapi sebagai profesional yang bekerja dengan berpedoman pada kode etik guru. Terkait dengan penerapan Kurikulum 2013, Kemdikbud sudah menjanjikan akan memberikan pelatihan yang memadai selama rentang waktu Februari-Juni 2013. Pelatihan pun akan dilanjutkan sambil berjalannya kurikulum di tahun ajaran baru. Kita tunggu saja realisasinya. Memang, menurut Mahmud (2012) sosialisai tentang Kurikulum 2013 ini sangat penting agar guru tidak mengalami serangan jantung tiba-tiba. Tanpa pengetahuan yang cukup maka guru tidak akan bisa mengaplikasikan kurikulum baru ini. Terlebih lagi dalam kurikulum baru ini guru dituntut lebih mandari dan aktif menciptakan bahan. Guru juga dituntut melakukan tiga hal yaitu guide, teach, explain. Guru diharapkan dapat membimbing siswa, mengajar dan menjelaskan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Guru tidak sebatas mengeluarkan isi buku dan dimasukkan ke kepala sisw a, tetapi peran aktif guru lebih dituntut untuk menuntun siswa mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapat di sekolah. Ikhtitam Sekali lagi, Kurikulum 2013 tentu tidak luput dari kekurangan. Namun demikian, harus kita yakini bahwa Kurikulum 2013 merupakan ikhtiar untuk mengakselerasi peningkatan mutu pendidikan. Guru sudah seharusnya menjadi pendukung utama agar Kurikulum 2013 dapat secara signifikan meningkatan mutu pendidikan. Guru dituntut tidak hanya cerdas tapi juga adaptif terhadap perubahan. Mana mungkin perubahan kurikulum bisa diterapkan jika ditangani guru yang stres dan resisten dengan lahirnya perubahan itu sendiri? Sangat tepat apa yang ditegaskan oleh Hidayat (2013) bahwa saat ini yang jauh lebih penting adalah guru sebagai ujung tombak serta garda terdepan dalam pelaksanakan kurikulum. Oleh karena itu betapa pentingnya kesiapan guru dalam mengimplementasikan kurikulum itu selain kompetensi, komitmen dan tanggung jawab yang harus terjaga. Kompetensi guru bukan saja menguasai apa yang harus dibelajarkan (content) tapi bagaimana membelajarkan siswa dengan metode menantang, menyenangkan, memotivasi, menginspirasi dan memberi ruang kepada siswa untuk melakukan keterampilan proses yaitu mengobservasi, bertanya, mencari tahu, dan merefleksi. Kurikulum penting, tetapi yang tak kalah pentingnya juga adalah bagaimana strategi membelajarkan dan spiritnya. Di sinilah guru berperan besar di dalam mengimplementasikan tiap proses pembelajaran pada Kurikulum 2013. Adanya strategi yang tepat dalam mengimplementasikan kurikulum disertai dengan spirit pendidikan yang selalu menggelora pada setiap guru dan peserta didik, maka proses pendidikan itu sendiri tidak akan terlepas dari rohnya. Akhirnya, semua berpulang kepada ada tidaknya kemauan untuk berubah (willingness to change) dari para pemangku kepentingan utama pendidikan tersebut, khususnya para guru. Bila tidak, percayalah mutu pendidikan kita akan tetap seperti saat ini, semakin tertinggal jauh. Bagaimana, apakah kita mau berubah? Wallahu alam bi al-Shawab.

PEMBELAJARAN TEMATIK:
Guru itu merayu, bukan memaksa Guru itu pelayanan sejati dan mulia, Guru membuat senang, menghindari caci maki Guru membangun hati, sehingga apa saja yang disampaikan teresapi.

Oleh; djoko adi walujo [djokoadi_walujo@yahoo.com]

Ketika tugas mulia dimulai, ketika itu pula seorang guru melaksanakan tugas profesi, menyandarkan segala kegiatan pada keahliannya dan kompetensi dirinya. Banyak guru di belahan negeri, sudah pasang badan untuk menjujung tinggi prefesi, bagaimana guru di negeri ini? Kita sadar akan hal itu, sehingga dapat membangun negeri mejadi lebih baik, lebih etis dan aestetitis.Hari ini adalah saat yang sangat luar biasa, kita bertemu dalam sebuah arena untuk menegakkan profesionalitas kita, membangun kopentensi diri sekaligus meneningkatkan percaya diri, sedang muara akhirnya adalah pada profesionalisasi. Banyak bertebaran metoda pembelajaran seperti CTL, Cooperative Learning, dan lain-lain, namun pilihan harus tetap disandarkan pada ABCD CRITERIUM. APA ABCD CRITERIUM ITU? Sebuah kreteria yang harus dikedepankan ketika seorang guru akan melaksanakan tugas profesi, di awali membuat persiapan mengajar, hingga mengevaluasi sang pelajar

Tahukah kita siapa siswa dan karakternya? ini berarti guru sedang menakar Audience

Tahukah kita apa yang harus kita ubah perilaku siswa kita? Ini berarti kita sedang mengatakan pilihan sesuai dengan tujuan pembelajaran Entry Behavior Pada saat yang bagaimana kondisi yang terjadi?, Ini berarti guru akan melakukan sebuah adaptasi pembelajaran Condition Kemudian jika guru mulai memikirkan tingkatan capaian, sekaligus menakar yang akan dicapai berarti guru telah menentukan tingkat takaran Degree

Dari ABCD Criterium, maka guru akan memilih metode yang sangat cocok dengan karakter siswa siswa. Selanjunya yang perlu diingat adalah tak semua meteode pembelajaran itu bias berhasil tanpa memahami kriteria itu. Ingat!

Guru bukan memaksakan sebuah metoda pembelajaran tertentu Guru memilih metode yang sesuai dengan karakter siswa

APA DAN MENGAPA PEMBELAJARAN TEMATIK ?

Hakikatnya pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu. Oleh karena itu, guru harus merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar sang siswa. Pembelajaran tematik dapat pula dipandang sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan, utamanya untuk mengurai masalah klasik kurikulum di Indonesia yang dikatakan negara yang padat materi kurikulum, tapi bukan kaya kurikulum. Pembelajaran tematik member peluang pembelajaran terpadu yang lebih biak dan menekankan keterlibatan sang siswa dalam belajar, membuat mereka terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran dan pemberdayaan dalam memecahkan masalah tumbuhnya kreativitas sesuai dengan kebutuhan sang siswa. Lebih lanjut, diharapkan siswa dapat belajar dan bermain dengan kreativitas yang tinggi. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan, selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik disekolah akan sangat membantu siswa, hal ini dilihat dari tahap perkembangan siswa yang, masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa, Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pembicaraan.

ALASAN MENGAPA MELAKUKAN PEMBELAJARAN TEMATIK


Kehidupan itu komplek, saling terkait, dan tidak berdiri sendiri. (Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas) Mampu menyiasati kurikulum kita yang padat apalagi memiliki muatan kegiatan yang tinggi dengan cara yang mudah dan menarik, dan bersifat fleksibel Pada dasarnya dalam diri sang siswa memiliki kemampuan kreatif dan kecerdasan majemuk Pembelajaran temamtik menunjukan cakrawala pembelajaran sekaligus merupakan pardigma pembelajaran yang mampu memberikan layananan keberagaman. Berpusat pada siswa, maka hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa Memberikan pengalaman langsung Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan

HARAPAN PEMBELAJARAN TEMATIK Dengan pembelajaran tematik diharapkan akan memberikan manfaat seperti: 1. Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu. 2. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama. 3. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan. 4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi sang siswa. 5. Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan maka belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas. 6. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk memgembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari mata pelajaran lain. 7. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan dapat dipersiapkan sekaligus diberikan dalam dua atau tiga kali pertemuan, sedangkan selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial dan pengayaan.

PLUS DAN MINUS PEMBELAJARAN TEMATIK


Pembelajaran tematik memiliki plus tapi juga mengantongi minus yaitu : 1. Menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik.

2. Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik. 3. Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna. 4. Mengembangkan keterampilan berfikir anak didik sesuai dengan persoalan yang dihadapi. 5. Menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerja sama. 6. Memiliki sikap toleransi komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain. 7. Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan peserta didik. (Kunandar (2007) Ingat ada minusnya!!! Selain memiliki kelebihan pembelajaran tematik juga memilki kelemahan, adapun kelemahan pembelajaran tematik terjadi jika dilakukan oleh guru tunggal, Misalnya seorang guru kelas kurang menguasai secara mendalam penjabaran tema sehingga pembelajaran tematik akan merasa sulit untuk mengaitkan tema dengan materi pokok setiap mata pelajaran.

IMPLIKASI PEMBELAJARAN TEMATIK:


Dalam implementasi pembelajaran tematik disekolah dasar mempunyai implikasi yang mencakup :

Implikasi bagi guru

Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreaktif baik dalam menyiapkan pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan, dan utuh.

Implikasi bagi siswa.

1. Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya yang dimungkinkan untuk bekerja, baik secara individual, pasangan kelompok kecil, maupun klasikal. 2. Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi dan aktif.

Implikasi terhadap sarana, prasarana,sumber balajar dan media.

1. Pelaksanaan pembelajaran ini memerlukan berbagai prasarana dan prasarana belajar, 2. Pembelajaran ini perlu memanfaatkan bebagai sumber balajar, baik yang didesain secara khusus maupun yang tersedia dilingkungan, 3. Pembeajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran bervariasi dan 4. Pembelajaran ini masih dapat menggunakan buku ajar yang sudah ada atau bila memungkinkan untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan ajar terintegrasi.

Implikasi terhadap pengaturan ruangan.

1. 2. 3. 4. 5.

Ruang perlu ditata sesuai tema yang dilaksanakan. Susunan bangku bisa berubah-ubah. Perta didik tidak harus selalu harya duduk dikursi, tetapi dapat duduk ditikar atu dikarpet. Kegiatan hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik didalam maupun diruangan. Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta didik dan dimanfaatkan sebagai sumber balajar. 6. Alat, sarana, sumber belajar hendaknya dikelola dengan baik.

Implikasi terhadap pemilihan metode

Pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan menggunakan multi metode, misalnya percobaan, bermain peran, tanya jawab, demonstrasi, dan bercakap-cakap.Kekuatan manusia ada penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan menerapkannya. Ilmu pengetahuan dibangun sekolah secara bertahap dan tersekat-sekat dalam banyak mata pelajaran, dalam banyak disiplin yang karakternya berbeda-beda. Namun, dalam penerapannya, siswa hampir selalu memerlukan pendekatan yang integratif, berbagai disiplin dan pendekatan itu diterapkan secara simultan dalam menyikapi berbagai gejala kehidupan scara kritis, dalam memecahkan berbagai masalah kehidupan. Keterampilan untuk menggunakan berbagai disiplin ilmu secara simultan, sistematis dan logis sering tidak tergarap oleh sekolah. Masalahnya, sekolah lebih berkonsetrasi pada peningkatan kemampuan siswa dalam bidang agama, bahasa,

matematika, sejarah dan yang lainnya. Memecahkan masalah bagaimana menggunakan berbagai bidang disiplin ilmu dalam menghadapi masalah kehidupan secara integratif sepertinya cukup diserahkan kepada siswa untuk mengembangkan kompetensinya secara alamiah. Banyak lembaga pendidikan yang memberikan perhatian terhadap masalah itu. Di antaranya dengan mengembangkan kurikulum terpadu. Di beberapa sekolah unggul di Indonesia mengadopsi strategi pembelajaran ini sebagai ciri khas keunggulan proses pembelajaran. Dalam pembelajaran tematik memungkinkan satu tema tertentu dibahas dari berbagai disiplin ilmu. Contoh, tema pengelolaan sampah rumah tangga perkotaan dibahas dari sisi agama, sejarah, biologi, geografi, kimia, sehingga tema itu menjadi bahan pembahasan sejumlah mata pelajaran. Untuk menerapkan model pembelajaran seperti itu memerlukan disain kurikulum yang berbeda dengan model pembelajaran per disiplin ilmu. Sekolah perlu menentukan tema-tema yang relevan dengan banyak Standan Kompetensi dan Kompetensi dasar pada berbagai mata pelajaran. Perlu menetapkan tujuan pembelajaran pada tema-tema yang dipilih dan perlu mengembangkan kolaborasi pendidik sehingga tidak bekerja sendiri-sendiri. Kurikulum Terpadu merupakan suatu pendekatan yang mempersiapkan siswa untuk belajar mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan kehidupan di abad depan dengan yang terintegrasi dalam berbagai dimensi.Dengan pendekatan ini siswa memadukan berbagai aspek keilmuan yang fous pada pemahaman gejalan kehidupan secara terintegrasi pula dalam bidang studi yang luas. RUJUKAN YANG DISARANKAN: Sutirjo Dan Sri Istuti Mamamik, (2005), Tematik Pembelajaran efektif kurikulum 2004, Bayu Media Malang ISBN : 9793695-36-6

Apa, Mengapa dan Bagaimana Pembelajaran Tematik ?


Submitted by admin on Thu, 02/21/2013 - 09:26

APA, MENGAPA DAN BAGAIMANA PEMBELAJARAN TEMATIK?


Oleh : TATANG SUNENDAR ISKANDAR Widyaiswara LPMP Jawa Barat A. Pendahuluan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dijadikan panduan dalam pengembangan sekolah akan segera diganti dengan kurikulum yang sekarang lazim disebut kurikulum tahun 2013.banyak kontroversi yang menyertai diberlakukannya kurikulum 13 salah satunya adalah penerapan pembelajaran Tematik,pembelajaran tematik yang pada KTSP diterapkan di kelas rendah yaitu kelas 1- 3 maka maka kurikulum 2013 diterapkan untuk semua tingkatan yaitu dari kelas 1 V1. banyaknya kontroversi yang terjadi kemendikbud tetap bergeming untuk memberlakukannya mulai tahun ajaran baru sekitar bulan jula 2013. dari banyak pertanyaan terkait penerapan tematik disemua tingkatan di sekolah dasar (SD) Kemendikbud punya alasan seperti yang telah disampaikan dalam uji publik kurikulum 2013, antara lain sebagai berikut :
1. hasil penelitian menunjukan bahwa anak melihat dunia sebagai suatu kebutuhan yang terlihat bukan pengalan pengalan yang terlepas dan terpisah 2. Mata pelajaran mata pelajaran sekolah dasar dengan definisi kompetensi yang berbeda mengasilkan banyak keluaran yang sama 3. keterkaitan satu sama lain antar mata pelajaran sekolah dasar menyebabkan keterpaduan konten pada berbagai mata pelajaran dan arahan bagi siswa untuk mengaitkan antar mata pelajaran akan menghasilkan hasil pembelajaran siswa 4. fleksibilitas pemanfatan waktu dan menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa 5. menyatukan pemebelajaran siswa untuk konfergensi pemahaman yang diperolehnya sambil mencegah terjadinya inkonsistensi antar mapel 6. merefleksikan dunia nyata yang dihadapi anak dirumah dan dilingkungannya 7. selaras dengan cara anak berpikir dimana hasi penelitian otak mendukung teori pedagogi dan psikologi bahwa anak menerima banyak hal dan mengolah dan merangkumnya menjadisatu sehingga mengajarkan secara holistik terpadu adalah sejalan dengan bagaimana otak anak mengolah informasi.

tertarik dari hal hal tersebut diatas sambil mengingatkan kembali pemahaman para pengajar di sekolah dasar maka dengan ini penulis uraikan apa mengapa dan bahaimana pembelajaran tematik. B. Pengertian Pembelajaran Tematik Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar, konsep belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi siswa SD sebaiknya dilakukan dengan Pembelajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya: 1) Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu, 2) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama; 3) pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan; 4) kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;

5) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas; 6) Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain; 7) guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan. C. Landasan Pembelajaran Tematik Landasan Pembelajaran tematik mencakup: Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya. Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya. Landasan psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya. Landasan yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).

Memanusiakan Manusia
Maret 24, 2013 by Agus Rohman

Berawal dari ketidakpuasan berantai. Guru SMP mengeluhkan mutu lulusan SD, guru SMA mengeluhkan mutu lulusan SMP, dosen di perguruan tinggi mengeluhkan mutu lulusan SMA, dan perusahaan/pengguna lulusan perguruan tinggi mengeluhkan lulusan sarjana. Bagaimanakah arah pendidikan di Indonesia? Keluhan itu juga keluar dari masyarakat yang merasa miris dengan sikap dan prilaku lulusan pendidikan sekarang ini. Banyak sekali kasus yang melibatkan pelajar/orang yang berpendidikan. Seperti tawuran, pencurian, pelecehan seksual, narkoba dan masih banyak lagi. Bahkan baru-baru ini penyimpangan sosial ini mulai merambah ke anak SMP dan SD. Miris banget bukan? Dan lagi ditambah ulah para anggota dewan dan pejabat pemerintah sebagai orang yang berpendidikan dan dipercaya sebagai wakil rakyat malah sering memakan uang rakyat. Sebenarnya apa tujuan pendidikan itu? Mengapa para pengguna lulusan sarjana masih melakukan seleksi kepada calon karyawan dengan tes kemampuan dasar dan melakukan training untuk beberapa bulan. Mereka seolah-olah meragukan mutu dan kualitas dari lulusan perguruan tinggi. Ketidakpuasan atau kerisauan masyarakat terhadap pendidikan juga dialami beberapa negara. Charles Handy (dalam Gibson (ed), 1997: 24) menyatakan:.we have designed our schools on the implicit assumption that all the problems in the world have already been solved and teacher knows the answer..In my view of the world, the future world of constant discontinuity, the problem are not yet here. We have to invent the world. Traditional education is, therefore in danger of being deskilling rather than the reserve Sebenarnya pendidikan dapat dipahami dalam tiga jangkauan pandangan. Menurut Samani (2011: 6) tujuan pendidikan untuk jangka pendek adalah dipahami sebagai proses pembelajaran; untuk jangka menengah pendidikan dipahami sebagai persiapan bekerja; sedangkan untuk jangka panjang pendidikan dipahami sebagai proses pembudayaan. Pembudayaan kehidupan ini tidak hanya terkait dengan pekerjaan, tetapi sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial, dan sebagai warga negara. Hal dipahami bahwa tujuan pendidikan sebenarnya adalah proses memanusiakan manusia. Bagaimana seorang guru fisika di kampus pendidikan yang mencetak guru, mengajarkan fisika sebagai sarana untuk menjadikan siswanya menjadi manusia seutuhnya. Perlu diingat bahwa tugas guru adalah mencetak tenaga pendidik fisika yang mampu melatih anak menjadi manusia melalui fisika. Bukan mentransfer pengetahuan fisika. Desain pendidikan seharusnya dimulai dengan mengkonstruksi pola kehidupan di masa depan di saat anak didik sudah mulai dewasa dan terjun bekerja dan bermasyarakat. Yang menjadi kunci bukan teaching tapi learning. Peran guru/dosen adalah menciptakan situasi, memberikan informasi dan membimbing agar anak dapat mengkonstruksi pemahaman/keterampilan tertentu dengan cepat dan benar. Konsep apakah anak belajar perlu diperhatikan dan bukan sekedar apakah guru mengajar. Semoga tujuan pendidikan di Indonesia dapat menjadikan masyarakatnya menjadi manusia seutuhnyaAmin