Anda di halaman 1dari 42

Catatan Perjalanan Menyusuri Daratan Jawa Hingga Flores

A T
ku percaya, backpacking adalah setahun lalu kami saling memaki, karena api sampai sekarang, ada satu
All You Have hasil perpaduan seimbang dari
passion dan environment. Aku
mengamini hipotesa bahwa passion dan
sama-sama iri pada tempat yang kami
kunjungi. Tahun lalu saya pergi ke
Kalimantan untuk menikmati birunya
pertanyaan yang belum bisa kami
jawab; apa yang kita cari ketika
backpacking? Itu adalah pertanyaan
To Do Is Take environment sama pentingnya untuk
membentuk karakter seseorang,
langit dan lautan pulau Derawan.
Sedangkan Ayos pergi ke tanah Laskar
klise yang bakal berujung klise juga.
Mungkin saat ini kami hanya bisa
termasuk kemauan untuk backpacking. Pelangi, Belitung. Dan ya, waktu itu
the First Step Backpacking adalah masalah kemauan.
kami pergi sendiri-sendiri. Makanya
kami saling memaki, kenapa kami tidak
menjawab, kita hanya mencari
kedamaian dan wawasan. Termasuk
pelajaran kemanusiaan yang tidak akan
Dimana orang menghabiskan waktu saling mengajak ketika pergi mungkin bisa kita dapatkan di bangku
Sebuah prolog Nuran Wibisono
senggangnya dengan memanggul berpetualang? sekolah maupun kuliah. Hanya dunia
ransel, mengelilingi kota, wajah yang bisa mengajarkan kemanusiaan
tertampar debu dan angin, serta rambut Nah, saat itulah kami berikrar kalau dengan nyata. Aku berani menjamin,
yang selalu berbau matahari. Sudikah suatu saat kami harus berpetualang ketika kalian selesai backpacking (bukan
Anda melakukannya di saat teman- bersama. Kami menabung mulai saat itu piknik atau berwisata), kalian pasti akan
teman Anda berpesta pora, bermotor juga. Saya mengumpulkan receh uang malu sendiri kalau hanya bisa mengeluh
mengelilingi kota dimalam hari sambil hasil kerja saya menerjemahkan teks soal keadaan ataupun mengeluh soal
sesekali menggoda wanita cantik? lintas bahasa, sedang Ayos hidup. Percayalah padaku, dunia adalah
mengumpulkan lembar rupiah dari honor sekolah paling bagus, dan backpacking
Backpacking bukan sekedar masalah dia menulis di berbagai media. adalah mata pelajaran paling
uang. Uang adalah nomor terakhir kalau menyenangkan.
menyangkut backpacking. Kemauan Backpacking bukan sekedar
adalah faktor yang paling utama. masalah uang. Uang adalah Backpacking juga mengajarkan
Pepatah tua bilang; dimana ada nomor terakhir kalau nasionalisme. Soe Hok Gie pernah
kemauan disitu ada jalan. Jadi yang menyangkut backpacking. berkata lantang, bagaimana mungkin
kalian butuhkan pertama kali adalah kita menjadi nasionalis kalau kita tidak
kemauan, lain tidak! Banyak orang mengetahui keindahan Indonesia
berduit tapi bahkan tidak pernah ke kota Kami juga memutuskan untuk memakai dengan mata kepala sendiri? Tak perlu
sebelah, sebaliknya banyak orang tak sepeda motor butut Astrea Grand tahun menjadi merah, hijau atau biru untuk
berduit tapi malah bisa keliling dunia. 1996 sebagai sarana transportasi menjadi nasionalis. Cukup dengan
utama. Jika Che Guevara dan Alberto mengenal sendiri keindahan Indonesia,
Term backpacker menurut hematku Granado memberi nama motor mereka niscaya kalian akan otomatis menjadi
adalah orang yang pergi dengan ransel, dengan nama La Pedrosa, maka kami nasionalis. Aku sangat setuju.
budget terbatas, dan dalam menamai sepeda butut kami; Kebo. Ia
perjalanannya ia menyelami kehidupan. juga pemain utama dalam perjalananan Buku ini kami buat bukan untuk pamer,
Pandanganku soal backpacking sangat ini. tapi ini adalah upaya kami untuk
dipengaruhi oleh Gola Gong. Aku belajar melawan lupa sekaligus
banyak soal bakcpacking dari buku dan Selama perjalanan ini kami berhasil memberitahukan kepada dunia tentang
catatan perjalanannya. Termasuk membuktikan teori –setidaknya pada diri indahnya Indonesia Raya. Jangan mau
bagaimana seharusnya seorang kami sendiri– bahwa tidak perlu uang hanya menonton keindahan Indonesia
backpacker harus bisa menyelami banyak untuk bisa berpetualang. yang ada di layar kaca dalam liputan-
kehidupan selama perjalanannya. Bayangkan, dengan uang 900 ribu liputan news feature. Silahkan datang
rupiah per orang kami sudah bisa dan rasakan sendiri, menangislah jika
Perjalanan ini dimulai ketika aku dan melintasi Bali, Lombok, Sumbawa, selama ini Anda tidak pernah mengenal
seorang sahabat, Ayos namanya, Pulau Moyo, Flores, hingga ke Pulau dan mencintai Indonesia secara
bertemu dan saling bercerita tentang Komodo. lengkap. Hail backpacking! []
pengalaman hidup. Kami sama-sama
menggilai backpacking. Saya ingat, ***
Holy Cloves
Land Text and photo
Ayos Purwoaji

B
ali seems usual, itu jika Anda
kaitkan dengan Kuta dan Tanah
Lot. Kebetulan saya dan Nuran
punya kesenangan yang sama: kami
rada alergi pada tempat yang touristy.
Bukannya apa, tapi kami berdua ini
memang tipe pria rapuh yang melankolis
dimana semua wanita yang melihat
akan merasa ingin memeluk. Kami pun
mencoba mencari tempat-tempat relatif
masih sepi dan jauh dari hingar bingar.
Kebo yang sudah on fire pun saya gas
menuju utara Bali.

Daerah Bali Utara memang suatu


antitesis dari Bali Selatan yang ramai
dan panas. Sisi Bali Utara menawarkan
ketenangan batin dibalut dengan
indahnya lanskap pegunungan yang
berkabut. Kami bersepeda menyusuri
Kintamani, mengagumi keindahan
Gunung Batur, dan melihat orang
Kintamani yang berpipi merah.
Setelahnya kami melewati desa Catur
dan menuju Jembatan Tukad Bangkung.

Tapi sebenarnya Kintamani bukanlah


tujuan utama kami. Destinasi yang
sebenarnya adalah desa Pegayaman,
sebuah desa kecil di Buleleng, letaknya
dekat dengan air terjun Gitgit yang
terkenal itu. Desa Pegayaman adalah
sebuah desa muslim dengan kultur
Hindu Bali yang kental. Saya tahu
keberadaan desa ini dari seorang kawan
yang tinggal di Kampung Madura di
Kintamani.

Pertama kali masuk desa ini saya agak


underestimate, karena yang saya
bayangkan sebelumnya adalah sebuah
desa yang penuh dengan arsitektur Bali Buleleng saat itu menghadiahi sebidang
namun semua penduduknya muslim. tanah yang sangat luas di sudut daerah
Ternyata saya salah besar, bangunan di kekuasaannya.
desa Pegayaman sih sebenarnya Karena kerajaan Mataram adalah
bangunan biasa, tidak ada altar kecil sebuah kerajaan Islam, maka penduduk
atau pura rumah khas Bali. Hanya saja desa Pegayaman pun otomatis
mereka mempunya akar budaya yang semuanya muslim. Hingga saat ini
unik dengan ritual keagamaan khas tradisi keagamaan di desa Pegayaman
Pegayaman. sangat kental. Bahkan Hisni yang
merupakan generasi ketujuh pun masih

Meski mayoritas
muslim, tapi
hampir semua
penduduk
Pegayaman
masih
menggunakan
adat Bali untuk
menamai anak
mereka
*** kuat memegang tradisi yang diturunkan penduduknya tidak semua keturunan dengan Hindu Bali, setelah anak

H
isni Sholeh (50) adalah ketua oleh nenek moyangnya. Salah satu yang Jawa Mataram, ada juga yang memiliki keempat diberi nama Ketut, maka anak
takmir Masjid Jamik terbesar adalah perayaan Maulid Nabi. akar keturunan Bugis, Hindu Bali, dan kelima dan seterusnya juga diberi
Safinatussalam, masjid satu- Memperingati hari lahir Nabi Muhammad Malaysia. awalan Ketut.
satunya di desa Pegayaman. Pak Hisni SAW merupakan sebuah keistimewaan
sangat senang ketika kami jelaskan di Pegayaman. Seluruh penduduk desa Sehari setelahnya, yaitu pada tanggal ***
bahwa kami dari Jawa Timur, selepas berbaur membuat sebuah perayaan

S
13 Rabiul Awal diadakan sebuah pawai ebagian besar penduduk
SD dia memang merantau ke Jawa besar dan membuat masakan yang bisa budaya yang melibatkan seluruh lapisan Pegayaman adalah petani, mereka
Timur untuk belajar di beberapa pondok dinikmati oleh seluruh penduduk masyarakat Pegayaman. Mengenakan menanam kopi dan padi, juga
pesantren. Bahasa Jawa pak Hisni kampung. pakaian unik, semua bersuka ria, makan rempah-rempah. Kesan saya pertama
lancar sekali, tapi dia tidak dapat enak, dan tertawa. Bergembira kali masuk desa Pegayaman adalah
menyembunyikan logatnya yang sangat Pada tanggal 12 Rabiul Awal akan menyambut kelahiran Nabi Muhammad desa ini berbau cengkeh, ternyata benar
Bali. diadakan sebuah parade rebana. Tapi SAW. Acara ini beberapa kali dijadikan dugaan saya, mereka sedang panen
bukan sembarang rebana, penduduk sebagai news feature di beberapa cengkeh dan penduduk desa menjemur
Lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya ini Pegayaman menyebutnya burdah, stasiun tivi. cengkeh di pelataran rumah-rumah
bercerita tentang sejarah desa rebana berdiameter besar. Tradisi mereka. Saat meninggalkan Pegayaman
Pegayaman dengan penuh semangat. burdah sangat otentik, kita hampir tidak Hal unik lainnya adalah masalah nama. pun saya masih membaui harum
Mereka adalah keturunan langsung bisa menemukan tradisi ini di seluruh Meski mayoritas muslim, tapi hampir cengkeh desa Pegayaman, meski lamat-
tentara Mataram yang datang ke Bali Jawa, kerajaan Mataram juga tidak semua penduduk Pegayaman masih lamat hilang digantikan bau knalpot si
untuk menolong kerajaan Buleleng dari mempunyai tradisi burdah. Hisni menggunakan adat Bali untuk menamai Kebo yang sudah ngos-ngosan
serbuan tentara Blambangan. Karena mengatakan jika tradisi ini berawal dari anak mereka. Anak pertama mereka beri menempuh ratusan kilometer dalam
tentara Mataram mampu mengusir Malaysia. Komposisi masyarakat nama Wayan, anak kedua Nengah, dan sehari. []
pasukan dari Blambangan, maka raja Pegayaman sendiri memang unik, Nyoman untuk anak ketiga. Bedanya
K
ata siapa kalian butuh jutaan tidak menawar harga, karena menurut
rupiah untuk bisa berbelanja baju mereka harga di pasar ini sudah sangat
sepuasnya di Bali? Anggapan itu murah. Akhirnya sekarang para penjual
terpatahkan oleh adanya frog market, seringkali bersikap rada sombong,
atau orang Bali biasa menyebutnya mereka tak mau barangnya ditawar,
sebagai pasar kodok atau OB. Frog payah! Korbannya tentu saja orang
market adalah sebuah tempat di daerah dengan duit pas-pasan seperti aku dan
Tabanan yang menjual baju-baju second ratusan mahasiswa lain yang ingin
dengan kualitas baik dan harga murah. bergaya namun tak punya banyak duit.
Tidak hanya baju, bahkan disini kamu
bisa mendapatkan sepatu, celana jeans, Satu hal yang menarik dari tempat ini
jaket kulit hingga bed cover. Semuanya adalah; para penjualnya kebanyakan
Text Nuran Wibisono merupakan barang second dengan berasal dari Jawa dan Madura.
photo Ayos Purwoaji kualitas baik. Harganya pun sangat Seringkali saya ikut nimbrung dengan
murah. Harga kaos berkisar di angka para penjual menggunakan bahasa
15-20 ribu rupiah saja. Celana jeans Jawa. Dalam pikiranku semoga harga
harganya sekitar 25-50 ribu rupiah. bisa diturunkan semaksimal mungkin.
Ternyata sama saja, teori komunal disini
Kenapa disebut frog market? Tak ada tidak berlaku, teori yang berlaku adalah
jawaban yang pasti. Frog market ini business is business, hahaha.
merupakan sebuah tempat yang
berbentuk komplek yang dikelilingi Hal menarik lain adalah masih berlaku
sawah. Mungkin orang sering sistem kuno dalam berdagang, tawar
mendengar bunyi kodok dari sawah, menawar. Penjual pasti memasang
karena itu disebut frog market. Satu hal harga yang tinggi pada awalnya. Nah,
yang pasti, tempat ini sangat besar, disinilah seninya, Anda harus mahir
bahkan waktu 2 jam pun tak akan cukup tawar menawar untuk mendapatkan
untuk bisa mengelilingi seluruh komplek. harga yang dianggap pas bagi kedua
Dalam komplek ini terdiri ratusan stan belah pihak. Coba kalau anda menawar
tempat menjual barang dagangan baju di counter Billabong, bisa-bisa Anda
mereka digampar oleh satpam berkumis sangar.

Aku tak tahu kapan tepatnya pasar ini Dalam pikiranku semoga harga bisa
berdiri. Seingatku waktu masih duduk di diturunkan semaksimal mungkin.
bangku SMA, aku sudah sering pergi ke Ternyata sama saja, teori komunal
tempat ini. Waktu itu harga kaos masih 5 disini tidak berlaku, teori yang
ribu rupiah, dan harga celana jeans berlaku adalah business is business
hanya 25 ribu rupiah. Seiring
berjalannya waktu, makin banyak orang
yang tahu tentang tempat ini. Para Barang-barang yang ada disini
sosialita dan orang-orang berduit lainnya kebanyakan produk Korea yang berasal
menganggap frog market ini sebagai dari Batam. Barang biasanya datang
alternatif untuk memenuhi nafsu belanja dalam bentuk bal, ditempatkan dalam
mereka yang gila-gilaan. Mereka ini sebuah karung besar. Saat barang ini
biasanya pergi dengan dandanan necis sampai, para penjual mengeluarkan,
seperti mau pergi ke mall, mengendarai memilah mana yang bagus, mana yang
mobil (saya pernah melihat BMW baru kualitas biasa. Biasanya kualitas bagus
terparkir di tempat ini), dan seringkali akan dijual lebih mahal. Nah, setelah
proses pemilahan selesai, para penjual
akan mencuci barang-barangnya. Di
kompleks bagian belakang, ada sebuah
usaha laundry. Jadi barang dicuci dulu,
dikeringkan, lalu disterika. Oleh karena
itu, baju atau celana di frog market ini
bisa langsung dipakai. Tapi kalau anda
masih ragu, silahkan dicuci lagi dengan
air panas. Jangan lupa ditambahkan
sedikit garam untuk membuat barang
yang anda beli jadi steril.

Di kompleks frog market ini juga ada


beberapa penjual makanan dan
minuman dengan harga murah. Jadi
kalau kalian capek setelah berkeliling
kompleks, silahkan beristirahat sejenak,
minum, lalu anda akan siap untuk
berbelanja lagi.

***

M
eskipun aku tahu harga di frog
market sekarang jauh lebih
mahal dari beberapa tahun lalu,
aku tetap saja suka berbelanja disini.
Kadangkala aku mendapat barang
bagus kualitas luar negeri dengan harga
murah meriah. Seperti waktu aku
mendapatkan kaos Jean Michael
Basquiat warna kuning dengan harga
hanya 15 ribu rupiah. Malah ada
sweater Nike asli yang dijual dengan
harga hanya 30 ribu rupiah. Kalau di
counter Nike, pasti harga sweater itu
bisa mencapai ratusan ribu rupiah.
Salah seorang temanku, Budi namanya,
mendapatkan kaos AND1 dengan harga
15 ribu rupiah saja. Dan sekarang dia
bisa pamer menggunakan kaos itu
sembari berkata bahwa kaos itu di beli di
counter AND1 langsung.

Yah, itulah dinamika di frog market.


Sebuah tempat yang merupakan
antitesis dari teori belanja di Bali pasti
menghabiskan banyak uang. Jadi kalau
ada waktu senggang, silahkan datang
dan menggilalah! []
T
uhan mendengar doa hambanya. memang sering menjadi tempat singgah
Kami berdua menemukannya di truk-truk Fuso besar yang menuju
desa Darek di Lombok Tengah. Flores. Kami berkenalan dengan
Desa Darek adalah desa kecil, jalannya seorang penjual semangka tua bernama
tak beraspal penuh lubang. Menuju Syarifuddin. Ia menggunakan koko
kesana adalah sebuah perjalanan yang cokelat dengan peci haji dan kafiyeh,
berat bagi motor saya. Tanahnya sedikit orang-orang sekitar menyebutnya
tandus dan berbukit-bukit. Kata dengan sebutan Pak Haji.
sebagian orang, tanah di desa Darek
banyak mengandung emas, karena
memang desa ini tidak terlalu jauh dari
Sekotong, sentra emas di Lombok.
Namun kebanyakan orang Darek adalah
petani, mereka menanam apa saja yang
sanggup hidup di lingkungan jarang air,
termasuk kedelai, jagung, dan
semangka.

Saya berani bertaruh, meski Darek


adalah sebuah desa tandus tapi mereka
menghasilkan semangka merah yang
jagoan. Rasanya manis dan
menyegarkan. Bisa jadi karena hawa di
Darek panas, lalu saat kita makan,
semangka jadi terasa begitu luxurious di
lidah. Saya tidak tahu. Tapi karena
semua orang menanam semangka
maka harga sebuah semangka di desa
Darek sangatlah murah, bahkan
Text and photo mungkin gratis.
Ayos Purwoaji
***
Saya lupa tanya apakah beliau bisa

S
emangka Darek juga sangat
berhaji karena hasil menanam
terkenal, bahkan jika Anda bertemu
semangka atau bukan. Kalo iya, maka
seorang penjual semangka di
saya lebih suka memanggilnya Haji
Sumbawa atau Flores, saya hampir
Semangka. Rata-rata hampir semua
yakin kalau mereka adalah orang Darek.
orang berumur di desa Darek adalah
Apalagi jika penjualnya menggunakan
haji. Haji Syarifudin mengatakan ia
peci haji lengkap dengan kafiyeh merah-
Jujur saja, saya dan Nuran belum pernah ke sudah enam hari berjualan di depan
putih yang dikalungkan di leher, seratus
Lombok sebelumnya. We have no idea about pom bensin Pomatas ini. Selama enam
persen saya yakin kalau dia orang
Lombok, kecuali Gili Trawangan dan Rinjani hari itu ia sudah mendapatkan enam juta
Darek!
rupiah, sudah balik modal katanya.
yang banyak menghiasi travel guide sebagai Maka ia pun akan memberikan
a-must-see tour dalam daftar mereka. Tapi Itu hal yang kami alami saat kami harus
semangkanya gratis jika ada orang yang
singgah di Sumbawa Besar untuk
kami ingin sekali untuk merasakan Lombok minta. Ia menjual semangka-semangka
mencari truk menuju Flores yang bisa
yang lain dengan atmosfer yang lebih alami ini di Sumbawa karena harganya bisa
kami tumpangi. Kami menunggu di
dan tidak touristy tentu saja. berlipat kali lebih tinggi ketimbang ia jual
depan pom bensin Pomatas yang
di Lombok.
Ternyata begitu
menyenangkan mandi di
saluran dam bersama
anak-anak kecil desa
Saya lupa tanya apakah Darek. Bahkan mereka
beliau bisa berhaji karena mengajari kami cara
hasil menanam semangka atau jumping yang baik. Memori
bukan. saya tentang mandi di
Kalo iya, maka saya lebih sungai belasan tahun yang
suka memanggilnya Haji lalu pun terpanggil kembali.
Semangka :) Saya sangat menikmati
momen ini.
Rafli mengajak kami untuk renang di
saluran bendungan yang berair deras.
Sampai di sana kami mendapati
beberapa anak kecil yang asyik renang
dan mencari udang. Tanpa pikir panjang,
saya dan Nuran yang memang dari pagi
belum mandi pun menanggalkan
pakaian satu persatu dan membiarkan
orang melihat tubuh sintal kami.
Hehehe.

Saya dan Nuran bermain air dengan


gembira, bak seekor unta yang lama tak
melihat oasis. Ternyata begitu
menyenangkan mandi di saluran dam
bersama anak-anak kecil desa Darek.
Bahkan mereka mengajari kami cara
jumping yang baik. Memori saya tentang
mandi di sungai belasan tahun yang lalu
pun terpanggil kembali. Saya sangat
menikmati momen ini.

Mungkin karena kasihan melihat Plecing kangkung yang ia beli di pasar Setelah puas mandi, kami pun menuju
tampang melas kami yang belum makan Darek itu memang murah, harganya sebuah beruga (semacam bale-bale)
seharian, ia pun memberikan sebuah tigaribuan dan kamu akan mendapatkan sederhana di depan PLTM Pengga yang
semangka merahnya untuk kami. sepiring penuh kangkung hijau dengan hanya berjarak puluhan meter dari
Perlahan tapi pasti, semangka merah itu sambal merah-yang-pedasnya-bikin- saluran dam. Di sana menunggu teman-
pun membasahi kerongkongan kami di ampun-ampun. Tekstur pedasnya teman baru kami Bowo, Dapi, dan
Saya berani bertaruh, meski tengah udara Sumbawa yang kering dan memang nendang tapi terasa segar. Ghafur. Mereka adalah anak-anak desa
Darek adalah sebuah desa berdebu. Haji Syarifudin yang giginya Mungkin karena orang Lombok suka Darek yang ramah luar biasa,
tandus tapi mereka tinggal satu itu pun tersenyum, melihat memasak sambal tanpa menggoreng menyuguhi kami dengan kopi ABC
kami lahap memakan semangka bahan-bahannya terlebih dahulu. panas-kental-manis dan –tentu saja-
menghasilkan semangka merahnya. Ia bilang mampir saja ke Plecing kangkung ini sangat pas jika di semangka Darek.
merah yang jagoan rumahnya jika berkunjung lagi ke Darek. padankan dengan beberapa tusuk sate
jerohan Lombok yang alot. Memakan semangka Darek di desa
Darek adalah sebuah kenikmatan
*** Rafli dan adiknya Nanang pun mengajak tersendiri. Sembari menikmati senja di
kami mengeksplor desa Darek. Kami beruga kami juga ngobrol tentang apa

S
ebelumnya saat berkunjung ke mengujungi bendungan besar di saja. Mereka sangat antusias dengan
desa Darek, kami singgah di rumah Pengga. Tampak dari kejauhan Jawa, mereka pun banyak bercerita
Lalu Muhammad Rafli, sesama beberapa orang dewasa terlihat tentang desa mereka dan beberapa
penggiat pers kampus dan pernah memancing di tepian. Mereka pantai surga yang belum dikunjungi
menjadi pimpinan Majalah Tegalboto mengenakan topi anyaman pandan khas turis. Sembari terus ngobrol dan
milik Universitas Jember. Rafli dengan Lombok. Beberapa anak muda terlihat bercanda, saya pun mengambil
hangat menyambut kami dan pacaran di pintu bendungan, berasyik potongan terakhir semangka merah
memberikan suguhan plecing kangkung masyuk mengumbar kata sayang segar itu, rasanya leleh menyegarkan
yang memang sangat terkenal sebagai sembari memandangi bendungan sore hati saya. []
makanan khas Lombok. hari. Beberapa anak muda lainnya
terlihat mabuk.
Setelah tersiksa lumayan lama, aku
melihat satu pemandangan yang biasa
ada pada sehelai kertas berukuran 3X5
yang disebut sebagai kartu pos.
Pemandangan itu adalah birunya laut
yang dibarengi putih pasir pantai. Di
sepanjang pantai nampak pohon kelapa
berjejer mirip dengan pohon palem yang
berjajar di sepanjang Beverly Hills.
Nampak sangat indah! Aku langsung
berteriak-teriak norak, kegirangan
karena siksaan sudah selesai. Letih
Text Nuran Wibisono terbanting-banting selama perjalanan
photo Ayos Purwoaji terbayar sudah. Kami langsung
menggeber gas motor sekencang
mungkin.

Suasananya sangat sepi, tak tampak


seorang pun dipantai itu, kecuali
penduduk lokal di beranda rumah. Air
lautnya berwarna indah, gradasi mulai
hijau muda, hijau tua, biru muda hingga
ke biru tua. Rata-rata penduduk di
pantai Torok bekerja sebagai petani
rumput laut. Kalau kalian pergi terus ke
Dimanakah tempat wisata di Lombok yang tidak touristy? daerah selatan, akan ada sebuah
Akan sangat sulit mencari jawabannya. Dulu, 3 pulau Gili gunung menjulang. Konon, di sanalah
adalah objek wisata yang belum terlalu ramai dikunjungi pusat emas di daerah Sekotong.
orang. Namun sekarang wisatawan terlihat menyemut di Gunung emas yang sudah banyak
tiga pulau Gili. Aku dan Ayos kebetulan adalah tipe orang menimbulkan korban jiwa, karena para
yang sedikit malas kalau pergi ke tempat wisata yang penduduk bertikai memperebutkan
touristy. Kami ingin pergi ke tempat wisata yang belum emas.
banyak orang tahu.
Ada satu kejadian lucu disini. Ketika
sampai di pantai, Ayos tiba-tiba
menghilang. Kemana gerangan? Yeah!

U
ntunglah kami punya teman yang Rafli akan mengajak kami pergi ke Sebelum berangkat si Rafli Ternyata Ayos duduk diantara rimbun
merupakan orang asli Lombok. pantai Torok. Ugh! Sungguh suatu memberitahukan bahwa jalan menuju semak di ladang milik penduduk.
Lalu Rafli namanya. Seorang pria tawaran yang susah ditolak. pantai Torok rusak berat. Dan benar, Gerakannya sangat misterius, kasak
berkulit legam yang bertampang setengah jam setelah berangkat dari kusuk dengan wajah pucat pasi
mesum. Dia memberitahu ada dua Singkat kata, kami kembali menaruh tas, rumah Rafli di desa Darek, kondisi jalan memerah malu. Ternyata Ayos buang air
pantai bagus yang belum banyak dan dengan cepat sudah berada di sudah menunjukkan kekejaman dan besar! Yeah, you rock bro! Karena
dikunjungi orang. Nama pantai itu sadel sepeda motor. Ada 5 orang yang kesadisannya. Banyak lubang dimana- disana tidak ada WC, penduduk sekitar
adalah Pantai Torok dan Pantai Selong berangkat menuju pantai ini. Aku, Ayos, mana. Jadilah aku berulang kali harus kalau buang air selalu di ladang. Ini
Belanak. Awalnya kami tidak ada Rafli, serta Dafi dan Lanang. Kami berakrobat, membuat manuver-manuver adalah masalah sanitasi yang harusnya
rencana untuk kesana, namun muka membawa tiga motor saling gaul agar tidak terjerembab. Perjalanan dipecahkan. Aku jadi mikir, kenapa tidak
Rafli yang sangat mesum itu terus berboncengan, sedangkan aku yang menyiksa ini ditempuh selama dua patungan lalu membuat sebuah WC
membujuk kami agar menunda menunggangi si Kebo sendirian. jam. umum?
keberangkatan barang beberapa jam.
Kembali ke pantai, kami semua berlari- Kontur jalan menuju Selong Belanak
larian seperti anak kecil. Pasir pantainya sama seperti kontur jalan menuju Torok,
putih dan bersih. Sangat kontras dengan berbukit-bukit, naik turun. Sama seperti
warna air lautnya. Ditambah dengan di Torok, pantai kelihatan dari jauh
sepinya pantai ini, membuat pantai terlebih dahulu. Dari kejauhan, tampak
Torok semakin mantap untuk dinikmati. pemandangan khas pantai surga yang
Sejauh mata memandang, hanya ada mencolok mata. Hamparan pasir putih,
hamparan pasir putih dan air laut yang gradasi warna air laut yang sangat indah
biru menenangkan. Sama sekali tak ada dan ratusan pohon kelapa berdiri tegak
ramai orang seperti di pantai Senggigi seakan mengucapkan selamat datang
atau Kuta.Aku dan Ayos lalu membuka pada kami. Sekilas Pantai Selong
baju, dan melompat ke laut. Ah, segar Belanak ternyata jauh lebih indah dari
sekali air lautnya! pantai Torok. Angin pantai ini terasa
lebih segar. Kembali aku berteriak-teriak
Namun adalah satu hal yang ironis, norak, karena merasa telah menemukan
ternyata tanah-tanah disekitar pantai ini surga baru. Pantai ini dikelilingi oleh
sudah dibeli oleh orang-orang luar bukit-bukit hijau yang tampak
negeri. Kebanyakan dari mereka berasal meneduhkan.
dari Korea dan Australia. Aku menduga,
pastilah nantinya ditanah yang mereka Lalu aku berjalan menuju pantai. Ada
beli akan berdiri resort mewah yang sebuah warung sederhana. Warung ini
angkuh dan tak bersahabat. Orang lalu berkonsep outdoor, dengan atap daun
akan membanjiri tempat ini, yang berarti rumbia ala bangunan di daerah pantai.
akan banyak sampah dan hanya Ada bangku panjang dari bambu, kami
sekedar tempat rekreasi belaka. Apalagi berempat lalu duduk disana, menemani Dia bertubuh kekar dan tidak terlalu dibeli oleh orang asing. Dia bahkan
kalau bandara internasional Lombok seorang turis wanita dari Perancis. Dia tinggi, hanya sekitar 160 cm. Kulitnya menunjukkan sebuah villa yang berdiri
selesai dibangung pada tahun 2010, bernama Bennedicta. Dia berhidung berwarna cokelat matang –karena gagah di atas gunung. Tampak sangat
pastinya akan lebih banyak turis datang. mancung, dengan mata indah, dan terpanggang sinar matahari-, dan ia anggun sekaligus angkuh. Villa itu
Bersiaplah untuk kehilangan satu surga aksen perancis yang tampak sangat berambut pendek berombak. Tanpa ternyata dimiliki oleh orang yang
lagi di Lombok. eksotis ketika berbicara bahasa Inggris. perlu waktu lama, kami sudah akrab menjadi bos si Jaya. “Dia kan istrinya
dengannya. Jaya juga menawarkan dari Amerika. Mereka bangun villa itu.
*** Saya lalu memesan kopi, si Bennedicta kelapa muda yang ia panjat sendiri dari Kalau liburan saja mereka kesini.
sendiri sudah memesan secangkir kopi kebun miliknya. Istrinya itu kaya minta ampun,” kata dia
sambil menerawang jauh ke villa itu.

S
atu lagi pantai yang masih jarang hitam lebih dahulu. Lalu kami ngobrol,
dikunjungi orang. Selong Belanak tentang apa saja. Oh ya, di pantai Tapi sebelum kami minum kelapa muda,
namanya. Terletak di daerah Selong Belanak ini, keadaannya kami terlebih dahulu membuka baju, Ah, ternyata sama saja. Dimana-mana
Lombok Tengah, menuju ke pantai ini cenderung sepi namun tidak sesepi memperlihatkan badan kami yang six sesuatu yang bernama industri itu pasti
membutuhkan waktu sekitar 1 jam dari pantai Torok. Disini masih terlihat pack luar biasa itu. Kami tak tahan kejam. Pantai Selong Belanak yang
Mataram. Kali ini aku kembali bersama beberapa orang bule yang membawa melihat ombak memanggil kami. Kami sekarang masih polos pun beberapa
Ayos, Rafli dan Anton. Kami kembali papan selancar, pantai Selong Belanak langsung saja melompat ke dalam air, tahun lagi pasti akan dipenuhi oleh
menaiki motor untuk pergi menuju ini memang berombak besar, sangat mencumbui setiap buihnya. Segar puluhan ruko, mall dan stan yang
kesana. Tidak seperti akses menuju pantas untuk dijadikan surfing spot. sekali. Kami merasa menjadi seperti menjajakan suvenir-suvenir mahal yang
pantai Torok, jalan menuju Selong anak pantai, yang bebas dan hidup ditambahi oleh keramahan palsu ala
Belanak sangat mudah, jalan sudah Kami lalu berkenalan dengan seorang santai, seperti lagu Imanez. pramuniaga. Lalu sampah-sampah akan
teraspal dengan baik. Pantai ini penduduk asli sana. Jaya namanya. berkeliaran dimana-mana, dan ya,
diproyeksikan menjadi the next big thing Layaknya penduduk pribumi lainnya, Lewat penuturan Jaya, kami jadi tahu Lombok akan kehilangan satu lagi surga
dalam pariwisata Lombok. Jaya sangat ramah terhadap pendatang. ternyata sama seperti pantai Torok, terbaiknya.
tanah di sekitar pantai ini sudah laku
Suasananya sangat sepi, tak tampak Karena lama tak main gitar, aku pun dowernya.
meminjam sebuah gitar dari beberapa
seorang pun dipantai itu, kecuali penduduk anak lokal yang nongkrong di warung. “C’mon Bobby Marley, play more songs!”
lokal di beranda rumah. Air lautnya Lagu pertama yang terngiang di si botak tadi meminta lagu tambahan,
berwarna indah, gradasi mulai hijau muda, pikiranku adalah Anak Pantai-nya Jeremie memanggilku Bobby Marley
hijau tua, biru muda hingga ke biru tua Imanez. Aku pun langsung nyanyi karena aku sempat memainkan No
dengan volume suara maksimal meski Woman No Cry tadi. Aku hanya bisa
tak dijamin merdu. Setelah itu aku tertawa sambil bertanya, “Okay buddy,
memainkan single Knockin’ On Heavens what song?” aku bertanya pada si botak
Door dari Bob Dylan. Ternyata lagu yang itu. Sebelum konser rock ini dimulai lagi,
sangat populer ini menarik perhatian kami berkenalan secara informal,
beberapa turis yang sedang berjemur. sekedar opening talk.
Tak berapa lama kemudian ada seorang
pria bule, tinggi besar, memakai topi Ternyata rombongan bule itu semuanya
koboi untuk menutupi rambutnya yang berasal dari Perancis. Aku menghitung
botak. ada 6 orang dalam rombongan itu. Si
botak itu bernama Jeremie Graveline.
Pantai Selong Belanak yang sekarang Sedangkan wanita seksi itu bernama
masih polos pun beberapa tahun Sadoun Neila. “Arabian name?” Aku
lagi pasti akan dipenuhi oleh bertanya pada si seksi itu. “Yes, i’m from
puluhan ruko, mall dan stan yang Aljazair,” kata Neila. Empat orang
menjajakan suvenir-suvenir mahal lainnya merupakan sebuah keluarga.
Sang ayah bernama Jeremy Vosse, dia
adalah penggemar berat Rolling Stones.
Namanya Jeremie, awalnya dia hanya Dia menunjukkan beberapa lagu Rolling
duduk di kursi bambu sebelahku. Lalu Stones dalam iPhonenya. Mulai Rough
tiba-tiba dia mulai mengacungkan Justice, Honky Tonk Women hingga
jarinya keatas membentuk simbol metal, Sympathy For The Devil. Tak heran
lalu berjoget norak sambil ikut bernyanyi kalau dia yang paling heboh saat aku
“Mama put my guns on the ground!” dia menyanyikan I (Can’t) Get No
bernyanyi tak kalah sumbangnya. Kami Satisfaction.
bernyanyi bareng sambil berjoget seperti
orang idiot yang terdampar di pantai. Sebagai lagu penutup, si botak Jeremie
minta aku memainkan lagu dari Nirvana.
Rupanya tingkah polah kami direspon Maka aku nyanyikan Polly untuk si
dengan cepat oleh teman-teman si Jeremie. setelah aku selesai memainkan
botak itu. Ada satu wanita cantik dengan Polly, tiba-tiba si Neila mendekat ke
body aduhai yang mengenakan bikini arahku. Dan dia minta di foto bareng
two pieces coklat yang menenteng aku, hahaha. Baru kali ini ada wanita
handycam. Dia merekam semua tingkah bule, seksi pula, yang minta foto bareng
polah biadab kami saat bernyanyi. Si aku, haha. Yang bikin Ayos ama Rafli iri
seksi itu semakin bersemangat ketika adalah si Neila foto dengan merapatkan
Aku menyanyikan I Can’t Get No badannya padaku, sedikit membuat
Satisfaction milik Rolling Stones. Ah, macan saya terbangun dari tidurnya.
lagu ini ternyata memang ampuh untuk
membuat wanita menjadi bergairah. Tapi sang macan kembali tertidur ketika
Pantas saja banyak wanita rela tidur mengetahui Neila ternyata adalah istri
dengan Mick Jagger meski beresiko dari si botak Jeremie, crap! []
mereka akan lenyap ditelan bibir
Ah, ternyata sama saja. Dimana-mana sesuatu yang
bernama industri itu pasti kejam. Pantai Selong
Belanak yang sekarang masih polos pun beberapa
tahun lagi pasti akan dipenuhi oleh puluhan ruko, mall
dan stan yang menjajakan souvenir-souvenir yang
ditambahi oleh keramahan palsu ala pramuniaga.
P
ulau Moyo. Ada yang pernah kami dipersilahkan untuk naik ojek
mendengar nama pulau itu? Jujur, menuju kampung Labuan Aji, sebuah
sebelum ini aku belum pernah perkampungan warga asli Pulau Moyo
mendengar nama pulau itu. Indonesia yang terletak sekitar 3 kilometer dari
memiliki terlalu banyak pulau. Akan dermaga Amanwana.
sangat sulit menghapal satu persatu
nama pulau itu. Kalau anda melihat Tukang ojek yang mengantar kami
Pulau Moyo di peta Indonesia, maka adalah para pegawai Amanwana yang
hanya akan nampak sebuah noktah memang sering mengantar tamu yang
kecil di atas pulau Sumbawa yang besar ingin berkunjung ke Labuan Aji. Untuk
itu. menuju desa Labuan Aji kita harus
menembus hutan belantara yang masih
Aku dan Ayos sampai di Pulau itu pada alami. Jalannya asli jalan alam, yang
tanggal 30 Juli 2009, tanggal dimana berdebu dan tak begitu lebar. Setelah 15
seharusnya kami berangkat ke Bima. menit perjalanan, kami sampai di desa
Kami berdua mengingkari sendiri Labuan Aji.
itinerary yang kami buat. Kami tergoda
oleh rekomendasi para tukang ojek di Desa ini berada tepat di depan pantai
terminal Sumbawa Besar yang terus- lengkap dengan jejeran pohon kelapa
terusan berceracau kalau pulau Moyo ini dan angin sepoi-sepoi. Pasti sangat
sangat bagus. menyenangkan bisa tinggal disini. Kami
lalu pergi ke rumah salah satu tetua
Sebenarnya ada beberapa cara untuk desa. Pak Syukur namanya. Setelah
Text Nuran Wibisono menuju ke Pulau Moyo. Ada cara yang mengutarakan maksud kedatangan
photo Ayos Purwoaji gratisan - seperti yang kami lakukan - kami, kami yang bertampang kere dan
namun harus sedikit berjuang dan patut dikasihani ini pun dipersilahkan
memohon-mohon dengan mata berair. menginap dirumahnya.
Cara gratisan ini yakni dengan cara
menumpang kapal yang biasa ***
menyebrangkan para pegawai

S
Amanwana, suatu resort yang ore hari, kami berjalan-jalan di
mengelola Pulau Moyo. Atau kalian bisa sekitar pesisir pantai di Moyo.
naik kapal nelayan dari suatu daerah Disini banyak terdapat terumbu
bernama Mulut Kali, tidak jauh dari karang yang sudah mati, lalu terseret
terminal Sumbawa Besar. Biayanya arus ke pantai. Pasir pantainya sendiri
kurang lebih IDR 15 ribu. Perjalanan berwarna cukup putih. Di sebelah barat
akan ditempuh selama kurang lebih 2 pantai ini terdapat beberapa rangka
jam saja. pohon tua yang nampak eksotis.
Sebenarnya kondisi laut disini enak
Kapal Monalisa yang kami tumpangi ini dibuat renang. Apalagi ada dermaga
dinahkodai oleh Bang Midun, seorang nelayan yang menjorok sekitar 20 meter
Bugis yang sudah lama jadi pelaut. ke arah pantai. Ah, pasti enak kalau
Orangnya ramah dan dengan senang loncat dari sana.
hati menjelaskan pada kami silsilah
keluarganya yang memang pelaut Moyo memang punya laut dangkal yang
tangguh. Kapal ini berlabuh di dermaga bagus untuk snorkeling, beberapa spot
kayu milik Amanwana. Setelah berlabuh, yang terkenal adalah Takat Sagele dan
Takat Tengah. Keduanya menjadi wajib
Namun yang bikin kaget
adalah ketika dua gadis
kecil itu meminta
sesuatu pada kami, “Piti
piti piti,” harap mereka
dengan mata jenakanya

Para penduduk di
Labuan Aji kurang
mengerti cara menjaga
pemandangan indah ini.
Mereka belum paham
potensi wisata daerah
mereka, Aku dan Ayos
berkali-kali misuh
karena melihat (maaf)
kotoran manusia di
pantai.
bagi yang ingin mengeksplorasi mata mereka menyiratkan kepolosan. Itu kedua gadis kecil itu, menjawab, “Buat diikatkan sebuah tali kapal berukuran
keindahan laut pulau Moyo. Sedangkan adalah anggapanku dari awal. Namun beli-beli.” Duh gusti, aku dan Ayos besar. Kita bisa beraksi bagai tarzan,
pantai yang paling diincar adalah Aidara ternyata dugaanku salah besar. Ketika sempat bingung, dikasih atau tidak. Di bergelantungan dengan memegang tali,
yang merupakan white sands beach. selesai difoto, aku terus berjalan ke arah satu sisi aku dan Ayos sangat mencintai berteriak-teriak norak, lalu berakhir
Saking terkenalnya di kalangan barat. Ada 2 orang gadis kecil yang kepolosan dan ketulusan anak kecil dengan melompat ke dalam danau.
selebritis dunia, pantai ini dijuluki mengikuti kami. Mereka kembali minta seperti mereka. Tapi di satu sisi, kalo Byuuuuurrrr! Rasanya segar dan
honeymoon beach. Moyo memang difoto. dikasih duit pasti nggak baik untuk membebaskan, kalian harus
pantai tersembunyi. Namun ada satu perkembangan mental mereka. Dengan mencobanya, harus!
hal yang aku sayangkan. Para Akhirnya Ayos memotret mereka alasan itu pula aku tak jadi memberi
penduduk di Labuan Aji kurang mengerti berdua. Ayos sebenarnya girang dengan mereka duit. Selain Diwu Mbai, ada lagi air terjun
cara menjaga pemandangan indah ini. banyaknya foto-foto bagus yang dia yang lebih eksotis, namanya air terjun
Mereka belum paham potensi wisata hasilkan disini. Namun yang bikin kaget *** Mata Jitu. Air terjun ini berundak-undak

S
daerah mereka, Aku dan Ayos berkali- adalah ketika dua gadis kecil itu alah satu objek unggulan Moyo hingga 7 tingkat. Mirip terasering dalam
kali misuh karena melihat (maaf) kotoran meminta sesuatu pada kami, “Piti piti adalah air terjun Diwu Mbai. Air dunia pertanian. Air terjun ini harus
manusia di pantai. Dan itu terjadi tidak piti,” harap mereka dengan mata terjun ini pendek saja, tak setinggi ditempuh dengan sepeda motor atau
hanya sekali atau dua kali. Aku sempat jenakanya. Ayos bingung piti itu apa. air terjun Tancak di Jember atau air mobil dari Labuan Aji, karena jaraknya
jadi malas mau jalan-jalan. Mengingat Aku sendiri pernah mendengar kata itu, terjun Cuban Rondo di Malang. Diwu yang relatif jauh dan medan yang lebih
begitu banyak ’ranjau’ yang bertebaran. kalau gak salah itu istilah jaman dulu Mbai lebih menyerupai danau kecil berat. Butuh waktu sekitar 20 menit
Kalo begini apa bedanya dengan Pantai untuk menyebut uang. Ternyata di dengan air terjun mini. Diwu Mbai ini dengan sepeda motor untuk sampai ke
Ria Kenjeran di Surabaya yang sanga Sumbawa, piti juga digunakan untuk bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari air terjun 7 tingkat ini. Memang secara
jorok. menyebut uang. desa Labuan Aji dalam waktu sekitar 20 artistik air terjun Mata Jitu lebih
menit. Air telaganya berwarna hijau tua maknyus, namun pagar pembatas
Namun gerombolan anak kecil Pulau “Buat apa piti?” tanyaku dengan jernih, sehingga aku bisa melihat hingga membuat kami hanya bisa melihat tanpa
Moyo membangkitkan semangatku keheranan. Aku menyayangkan anak ke dasar. Diwu Mbai dikelilingi banyak bisa menyentuh airnya yang jernih
untuk berjalan-jalan lagi. Mereka kecil berumur 6 tahun seperti mereka pohon besar yang teduh dan akar kehijauan seperti zamrud. Untouchable.
menyambut kami, para backpacker sudah tahu fungsi uang. Apalagi kalau merambat yang membuatnya terlihat Sehingga secara objektif menurut saya
ganteng ini, dengan minta foto. Aku dan mereka sampai meminta uang itu pada lebih eksotis. Ada sebuah pohon besar kadar kesenangan di air terjun
Ayos memang suka mengumpulkan wisatawan asing. Budaya meminta dengan dahannya yang juga besar. Diwumbai jauh lebih baik daripada di air
foto-foto anak asli daerah yang kami seperti ini sudah seharusnya Dahan itu melintang sekitar 10 meter terjun Mata Jitu []
kunjungi. Wajah mereka eksotis dan dihilangkan. Wati dan Shinta, nama dari atas permukaan air. Pada dahan itu
N B
amanya pak Syukur, Syukur eliau adalah salah satu tetua di Obrolannya sangat asyik, pak Syukur
Abidin lengkapnya. Dia lahir pulau Moyo. Selama kami banyak memberikan cerita inspiratif. Dia
pada tahun 1951 di pulau berkunjung di pulau Moyo, kami memang bukan sekedar tetua desa
Moyo. Ketika pertama kali melihat menginap di rumah pak Syukur. biasa dari pulau terpencil. Bagi aku dan
beliau, otakku langsung bekerja Rumahya terletak persis di depan Ayos, pak Syukur adalah seorang yang
dengan cepat untuk pantai. Rumah khas rumah daerah visioner dan memiliki pemikiran besar.
menggambarkan orang ini. Wajah pesisir, rumah panggung yang terbuat Bahasa kerennya; think globally, act
beliau tirus dengan rahang yang dari kayu. Suasananya rindang dengan locally.
kokoh, mirip Vigo Mortenssen ketika adanya beberapa pohon yang menaungi
main di film Hidalgo. Sedang halaman depan rumahnya. Kalau sore “Saya dulu lama hidup di Surabaya,”
rambutnya lurus dengan sisir belah menjelang, pohon ini akan ramai kata pak Syukur memulai percakapan.
Text Nuran Wibisono pinggir ala pemuda tahun 70-an. dipanjati oleh anak-anak kecil. Kesamaan kenangan tentang Jawa
Photo Ayos Purwoaji Rambutnya mengingatkan aku pada Timur inilah yang melekatkan kami. Pak
David Carradine, aktor yang beken Pak Syukur menyiapkan sebuah kamar Syukur juga beberapa kali
dengan serial Kung Fu yang sempat single bed untuk aku dan Ayos. memeragakan keahliannya berbahasa
tayang di tivi pada tahun 80an. Kamarnya kecil, sederhana namun Jawa Timuran.
Kulitnya berwarna coklat, warna bersih. Dindingnya terbuat dari anyaman
yang jamak ditemukan pada orang- bambu. Sprei kasurnya berwarna pink “Dari seluruh penduduk pulau Moyo ini
orang yang tinggal di pantai. Ketika lengkap dengan kelambu mirip ranjang Awalnya cuma saya yang sekolah
bertemu dengan kami, dia pengantin baru. Jancuk, aku memaki hingga perguruan tinggi. Lainnya tak
menggunakan jaket jeans belel, you dalam hati; kenapa aku harus berbagi punya kesadaran untuk bersekolah”
rock uncle! ranjang yang seperti pengantin ini sambung beliau. Awalnya pak Syukur
dengan seorang pria! Sebenarnya ada menghabiskan waktunya selama satu
hal yang sangat ironis. Sebuah majalah setengah tahun terlebih dahulu untuk
pernah menobatkan pulau Moyo belajar mengaji. Setelah khatam
sebagai salah satu tempat terbaik untuk alquran, barulah dia diperbolehkan
berbulan madu. Ironisnya aku harus sekolah SD. Pada masa itu, membantu
menikmati keindahan pulau ini bersama orang tua jauh mencari uang jauh lebih
dengan pria bernama Ayos! Hahaha. penting ketimbang untuk sekolah yang
berarti harus mengeluarkan uang.
*** “Mungkin saya ditakdirkan untuk
sekolah” kata beliau menerawang

M
alam itu kami duduk di ruang mengingat masa lalunya.
makan. Menu makan malam itu
sederhana namun sangat Untuk memenuhi hasrat belajarnya yang
nikmat. Hanya ada nasi putih, 1 buah tinggi pak Syukur bekerja keras. Beliau
telur dadar yang dibagi untuk 3 orang menghabiskan masa SD-SMA di
–aku, Ayos dan pak Syukur. Lalu ada Sumbawa. Untuk itu beliau harus
sayur kacang pajang yang bercita rasa meninggalkan pulau Moyo selama dua
asam menyegarkan. Meskipun menunya belas tahun untuk bersekolah. Setelah
sederhana, kami makan dengan sangat SMA terselesaikan, beliau pergi menuju
lahap. Memang, masakan rumahan itu Bali. Beliau disana untuk kuliah di
membuat para backpacker jadi rindu Akademi Maritim. Kuliahnya selesai
rumah, tak perduli sesederhana apa namun ia urung untuk melanjutkan ke
masakannya. tingkat profesi karena masalah biaya
yang begitu besar. Dalam kurun waktu
Setelah makan, kami bertiga 70an di Bali itu beliau banyak bergaul
bercengkrama sambil ngobrol. dengan bule, dan wawasannya tentang
pariwisata menjadi luas. Beliau juga kandang, balik ke Pulau Moyo, kampung Pemikiran visioner pak Syukur juga norak “Jacko Trendy” yang dibuat oleh
lancar berkomunikasi dengan bahasa halamannya. Ternyata benar, ia bisa menjadi modal penting pengembangan seorang pria ultra norak dari UNEJ
inggris, sesuatu yang masih sering menemukan kenyamanan hidup di tanah kawasan wisata di pulau Moyo yang bernama Andrey Gromico untuk
dipraktekkannya ketika ada bule tempat ia dilahirkan. memang sangat potensial. Seperti di air melambangkan kecintaannya pada
berkunjung ke Pulau Moyo. terjun Diwu Mbai yang terletak satu Michael Jackson.
*** kilometer dari desa, pak Syukur
Percakapan terhenti sejenak. Pak membangun sebuah bale dan ruang “Bapak dulu suka musik apa?” tanyaku

D
Syukur kembali menyalakan rokok, i Pulau Moyo, dia membawa ganti sederhana yang fungsional. Ia juga kemudian. Tuhan, semoga beliau tidak
entah batang yang ke berapa dalam hari tanggung jawab besar. Karena membuat sebuah tangga alami dari menjawab Deddy Dores atau Nafa
ini. Pak Syukur adalah tipe perokok pengetahuan dan wawasan pak berbagai sulur akar yang besar dan Urbach. “Saya dulu suka musik yang
kelas berat. Dalam sehari beliau biasa Syukur paling tinggi di seluruh kampung, berbagai kayu berukuran sedang. rada pop. Macam Usman Bersaudara,
menghabiskan hingga 2 bungkus rokok. dia wajib membangun desanya. With Sangat eksotik. Bahkan secara iseng ia Emilia Contessa sampai Atiek CB” kata
Satu bungkusnya berisi 16 batang. Tak great power, come great responsibilities. membuat sebuah gantungan sederhana beliau dengan lucu. Ah, andai saja
perlu merk rokok yang terkenal. Merk Ia pun mulai berpikir untuk sepuluh meter diatas kolam dari tali beliau menjawab idolanya adalah Chuck
rokok yang beliau konsumsi adalah tipe memberdayakan desanya. Berbekal kapal yang besar dengan simpul mati di Berry atau BB King, sudah pasti aku
merk rokok home made tanpa bea cukai kreativitas yang tinggi pak Syukur ujungnya. Ia membuat sebuah gelayut akan langsung memeluknya.
yang menyebabkan Negara merugi membuat beberapa souvenir untuk dijual sederhana yang mampu memuaskan
milyaran rupiah tiap tahunnya. pada pihak Amanwana, sebuah resor hasrat para wisatawan untuk menjadi Sayang ketika kami mendesak beliau
kelas dunia yang ada di pulau Moyo. Tarzan. Kita bergelayut di talinya lalu untuk bercerita lebih banyak soal
“Kenapa gak merokok kretek saja pak? Pak Syukur tidak membuat souvenirnya sreeeet lepaskan diri nyemplung pengalaman masa mudanya, beliau
Dji Sam Soe kan nikmat pak” saran saya sendirian, ia juga mendidik para warga langsung di tengah kolam Diwu Mbai sedikit enggan. “Saya gak ingin ingat
sok tahu, padahal selama 21 tahun sekitar untuk membuat souvenir, jadi yang berair jernih. Sebuah pengalaman masa-masa itu lagi” kata beliau sambil
hidup di dunia belum pernah sekalipun mereka memiliki pendapatan baru selain adiktif yang cukup memacu adrenalin. tersenyum simpul. Hahahaha, aku
bibirku menyentuh rokok. dari hasil laut dan berkebun. menangkap sedikit usaha dari beliau
*** untuk menyembunyikan jejak-jejak
"Wah, saya kalau kretek gak kuat. keliarannya di masa lalu

A
Mendingan yang ini, murah, ada yos sempat bertanya, “Pak,
filternya” kata beliau sambil gimana sih bapak waktu muda Tanpa terasa, beberapa jam sudah kami
menunjukkan rokok kegemarannya yang dulu?” tanyanya berusaha berbincang. Suara TV di ruang tamu
harganya limaribuan. membuka kotak pandora. Namun sudah tak terdengar. Rupanya seluruh
jawaban pak Syukur cukup anggota keluarga Pak Syukur sudah
Percakapan terus berlanjut dengan mengagetkan, “Saya ini waktu muda tidur. Padahal beberapa menit lalu
serunya. Setelah dari Bali, Syukur muda adalah penjual cinta! Cinta kilat, playboy, masih ada suara yang menyedihkan dan
memutuskan untuk pergi merantau ke itu makanan saya!”. Seperti sudah saya cukup annoying dari Manohara dalam
Surabaya, lalu kemudian ke Jakarta. duga, perpaduan wajah mirip Vigo sebuah sinetron. Dengan pipi seperti
Saat itulah dia tahu, hidup di kota itu Mortenssen, rambut ala David bakpau, dia sudah tak cantik lagi
sama dengan perang. “Di kota, kita Carradine, rokok dan geretan zippo, sekarang.
berperang dengan dunia” kata beliau. pastilah Pak Syukur ini tipe pria yang
bisa dengan mudah mematahkan hati “Untunglah gak ada anak muda Moyo
Pak Syukur Selalu mengatakan bahwa gadis manapun. yang merantau. Kalau ada, mereka
orang kota itu panas. Maksud yang berarti orang gila. Mereka di desa jadi
panas orangnya adalah tiadanya saling Mendengar jawaban Pak Syukur, kontan nelayan atau petani tapi masih bisa
toleransi antar manusia. Homo homini aku dan Ayos saling berpandangan, lalu makan 2 kali sehari, eh ditinggalin!
lupus. Bertahun-tahun hidup dalam tertawa dengan keras secara Padahal di kota hanya jadi pemulung.
suasana berperang dengan uang di bersamaan. Bukan apa-apa, istilah Gila kan mereka!” jawab beliau sambil
Jakarta dan Surabaya, lama-lama pak “Penjual Cinta” itu terdengar klasik, geleng-geleng kepala. Lalu beliau
Syukur tidak bisa tahan dengan semua sounds retro. Tapi itu masih mending menyulut sebatang rokok lagi, entah itu
itu. Akhirnya beliau memilih untuk balik jika dibandingkan dengan istilah super sudah batang yang keberapa malam
ini...[]
Text Ayos Purwoaji
Photo Ayos Purwoaji & Nuran Wibisono

Apa moda transportasi favorit kami berdua selama perjalanan?


Jawabannya adalah truk barang. Agak aneh memang, moda
transportasi ini tidak menawarkan kenyamanan sekelas
pesawat charter, juga tidak semulus bus AC. Tapi jujur, kami
berdua –saya dan Nuran- sangat menikmatinya.
Nama aselinya Hernimusedu, titik. sama selama berjam-jam akan
Terdengar sangat Afrika sekali yak, membuat seluruh syaraf dan persendian
hehehe. Musedu masih berumur boring. Parahnya, dari Bima hinggal
tujuhbelas tahun. Badannya kecil, Sape, penumpang yang awalnya lima
kulitnya hitam, plus rambut kribo. Tipikal orang termasuk saya dan Nuran,
Floresianese. Tapi jangan ragukan bertambah empat lagi sehingga menjadi
kemampuannya, ia begitu terampil sembilan. Saya baru tahu kalo di kabin

K
ami memulainya dari Sumbawa adagium don’t judge book by it’s cover
Besar, ternyata tidak semua truk adalah benar, Lorentz sangat baik. mengikat dan mengepak barang. truk Fuso bisa dinaiki hingga sembilan
bis ditumpangi oleh para Selama perjalanan Lorentz berkisah Musedu bilang ia sudah bosan sekolah, orang, seperti muatan satu mobil L300!
backpacker seperti kami. Beberapa tentang banyak hal, termasuk tentang maka ia ingin kerja, merantau mencari Crazy!
informasi yang kami dapatkan ternyata kisah hidupnya sendiri. Lorentz pengalaman. The fact is Lorentz adalah
truk yang bisa kita tumpangi untuk mengaku bahwa ia dahulu adalah paman Musedu. Sebuah kejadian tidak mengenakkan
menuju Flores adalah truk besar seorang debt collector di Surabaya. *** sempat terjadi di Dompu. Saat itu
berjenis Fuso dengan plat EB. Untuk Namun ia bertobat ketika seorang pastor menjelang subuh dan Lorentz harus

M
mencegatnya pun ada spot khusus; memberikannya pencerahan. “Lebih enembus daratan Sumbawa memarkir truk Mata Raga-nya di sebuah
Warung Asri, seratus meter sebelum baik kamu mengusap kotoran saya dan Besar bukan sebuah perkara pom bensin di Kari Jawa. Lorentz pun
pom bensin Pomatas. Hampir setiap truk saya bayar, daripada kamu kerja penuh mudah. Jalan nasional tak tertidur, ah kami pikir dia akan tertidur
besar yang menuju Flores pasti akan dosa sebagai debt collector,” ujar pastor beraspal, atau ada tapi rusak berat. sebentar dan akan bangun pada pukul
kesana, untuk makan atau hanya muda itu. Jalannya berkelok mengikuti kontur tujuh atau delapan pagi. Perkiraan saya
sekedar mampir ngopi. dataran yang berbukit, sesekali babi meleset, lewat jam sembilan Lorentz
Dalam sebulan Lorentz melakukan hutan dan kerbau liar bergerombol masih tidur nyenyak merajai kabin.
Setelah beberapa jam menunggu, kami perjalanan pergi pulang dari Flores ke menutupi ruas jalan. Menaiki truk Nurani saya pun tergerak untuk
pun segera mendapatkan truk penolong Surabaya sebanyak dua kali. Jadwalnya Lorentz sama saja dengan menaiki membangunkannya, bagaimana tidak,
kami. Nama truknya Mata Raga, padat maka ia jarang pulang ke rumah, Llama untuk menembus Himalaya, kalo saya menunggui dia bangun bakal
sopirnya adalah bang Lorentz aseli selain itu ia tidak banyak membawa lama, perlahan, dan remnya sering lama nih perjalanan, sedangkan saya
Bajawa, Flores. Orangnya gemuk hitam uang, jadi percuma saja pulang, begitu melenguh perlahan. Buzz. Dari dan Nuran memiliki limit waktu dan uang
legam dengan kesukaan rokok pikir Lorentz. Sumbawa Besar hingga Sape kami yang ketat. Peraturannya jelas; semakin
Marlboro. Bicaranya lugas dengan suara tempuh semalam sehari. Capek dan lama kita diam di sebuah destinasi maka
kerongkongan yang noisy, terdengar Lorentz tidak sendiri, selama perjalanan pegal adalah hal yang lumrah kami uang kita akan terbuang habis percuma.
seram khas Bajawa. Tapi memang ia ditemani rekan kecilnya yaitu Musedu. rasakan, karena posisi duduk yang
Saya minta bantuan Musedu untuk untuk mampir ke Ende untuk melihat
menemani saya. Saya gedor perlahan kain tenun Flores yang melegenda itu.
pintu truk Mata Raga, namun Lorentz Tidak banyak yang saya rekam tentang
masih belum bangun juga. Musedu Pius dan Motang Rua, mungkin karena
bilang,”Lorentz memang raja tidur mas, perjalanan kami sangat singkat dan
dia bakal bangun siang nanti,” waduh saya lebih memilih untuk tidur selama
mampus, bisa mati kering nih saya perjalanan.
nunggu. Saya pun menggedor pintu ***
Mata Raga semakin keras. Saya pun

M
sukses membangunkan Lorentz, tetapi enumpang truk dalam sebuah
sekaligus saya juga sukses perjalanan backpacking akan
membangunkan macan yang sedang membawa beberapa
Saya pun sukses tidur. Lorentz marah besar, ia keuntungan. Pertama, perjalanan kita
membangunkan Lorentz, menggertak saya dan menunjuk-nunjuk akan lebih murah. Dibanding dengan
tetapi sekaligus saya juga saya. Nggak lucu nih kalo saya mati menggunakan alat transportasi bis, truk
sukses membangunkan sekarang! Begitu pikir saya, Nuran juga menjadi pilihan yang lebih menarik bagi
sempat tegang plus bingung melihatnya. kaum kere seperti kami. Kedua, kita
macan yang sedang tidur. Lorentz yang mantan debt collector akan mendapatkan banyak cerita lokal
Lorentz marah besar, ia dengan badan besar itu bakal dengan sekaligus bisa menyelami kebiasaan
menggertak saya dan mudah merobohkan saya. Mampus. daerah yang akan kita datangi. Supir
menunjuk-nunjuk saya. truk itu butuh teman ngobrol, kalo kita
Tapi memang Tuhan selalu menolong bersedia mendengarkan, ia akan
Nggak lucu nih kalo saya hambanya yang pergi backpacking, bercerita tentang apaaa saja, mulai dari
mati sekarang! kemarahan Lorentz tidak bertahan lama. ban bocor, debt collector, hingga politik
Saya pun bisa minta maaf dan kembali kotor. Itu merupakan sumber inspirasi
ngobrol dengannya. Pyuuuh. empiris untuk membuat sebuah novel
bersambung.
Suatu saat saya bertemu kembali
dengan Lorentz di Labuan Bajo, tidak Ketiga, ini yang paling penting, kita bisa
lagi sebagai penumpang dan sopir tapi tahu di warung mana saja sopir truk
sebagai seorang teman. Lorentz minta biasa mangkal untuk cari makan. Tentu
foto wajahnya yang sempat saya saja warung sopir truk itu sangat tipikal;
capture untuk dicetak, dia mau harganya murah dan porsinya besar!
mengoleksi foto wajahnya sendiri, dan Hahaha itu kan yang paling kita
akan mengambilnya saat ia mampir ke butuhkan selama backpacking! Salah
Surabaya kelak. satunya saat di pelabuhan Sape, saya
*** dan Nuran mampir makan di sebuah
warung Makassar, warungnya

S
etelah berpisah dengan Lorentz, sederhana khas sopir, harganya juga
Musedu, dan truk Mata Raga, dari murah meriah. Tapi jangan tanya
Sape saya dan Nuran rasanya, wuah enak sekali, Nuran
menggunakan truk Motang Rua. membeli dua porsi nasi campur dengan
Sopirnya bernama Pius, aseli Bajawa ikan kerapu yang digoreng kering,
juga, orangnya ramah dan sangat dibungkus. Karena porsinya jumbo, saya
informatif. Kami diberitahu rute-rute dan Nuran makan sebungkus berdua,
terbaik untuk menemukan pantai bagus yang sebungkus kami habiskan di Sape,
di sepanjang Flores. Pius juga satu lagi kami baru makan di Labuan
menyarankan kepada kami berdua Bajo. []
S
etelah sholat, karena dekat dengan banyak wanita cantik yang mengalihkan
terminal, kami sempatkan untuk perhatian kami. Hehehe.
berfoto sejenak di depan terminal.
Kami memang gila untuk berburu Atapnya bersilang, memiliki filosofi
papan nama daerah destinasi yang kami sabalong samalewa, sebuah filosofi
kunjungi. “Buat diaplot di fesbuk!” begitu yang kelihatannya populer di sepanjang
kata Nuran, polos, sepolos Dora the jazirah Sumbawa. Arti dari sabalong
Explorer yang abis menghisap ganja samalewa sendiri adalah sama tinggi
psikadelia. sama rata, mengajarkan sebuah sikap
egalitarian. Gentengnya sirap asbes
Puas berfoto, kami pun memutuskan yang dipotong segi enam memanjang
untuk cangkruk sejenak di rumah makan vertikal. Mengingatkan saya pada
Kediri. Pemilik rumah makan ini adalah rumah-rumah panjang di Kalimantan.
seorang tua tambun penuh tawa
bernama pak Heru. Kelak kami akan
menyebutnya sebagai The Old Man and
The Sea, seperti judul novel terkenal
karya Ernest Hemingway. Kami berdua
kagum dengan pak Heru, seorang jenius
lokal yang banyak akal.

Dari hasil ngobrol ngalor ngidul dengan


pak Heru inilah kami mendapatkan
banyak wawasan. Suatu saat saya
menanyakan letak kesultanan Bima,
karena pernah saya baca di sebuah
buku ensiklopedi kerajaan Indonesia.
Tak disangka pak Heru bilang kalau
Text and photo Ayos Purwoaji
letaknya tak jauh rumah makannya,
hanya sekitar satu kilometer saja. Kami
tambah bersyukur karena pak Heru
bersedia mengantarkan kami berdua
menjelajah kota Bima. Terimakasih
Pada sisi yang menghadap alun-alun
Tuhan.
terdapat sebuah balkon persegi, saya
mengimajinasikan di situlah tempat Raja
Kami singgah di Bima ***
bertitah kepada seluruh rakyatnya yang

T
ujuan kami adalah kompleks
tidak terlalu lama. kerajaan Bima. Tempatnya di
berkumpul di alun-alun. Sangat gagah.
Truk Mata Raga yang Di antara balkon dan alun-alun terdapat
seberang alun-alun Bima,
dua buah tiang kapal. Mungkin ini
kami tumpangi sedang bangunannya megah, dan arsitekturnya
adalah simbolisasi bahwa bangsa Bima
bongkar muatan, jadi tidak tampak begitu tua. Ada banyak
adalah bangsa pelaut. Kalo dilihat dari
pengaruh Eropa dalam bentuk
kami harus menunggu. bangunannya. Secara keseluruhan
bentuknya, saya taksir ini adalah bentuk
Saya dan Nuran pun tiang phinisi. Selain karena bentuknya
masih terlihat baik dan terawat.
yang identik, phinisi juga jenis kapal
memutuskan jalan- Istananya sangat eye catching, mungkin
yang bertiang dua. Hanya sayang,
jalan melihat kota karena bentuknya paling besar, atau
sebuah tiang patah di tengah, entah
karena saat kami datang ada even
Bima, sekaligus cari pemilihan abang none Bima, sehingga
mengapa tidak ada inisiatif untuk
masjid untuk sholat. membuatnya lagi.
***
Dari koleksinya yang sedikit
D
itemani seorang juru kunci, saya berbentuk bunga lily, dan karpet merah penduduknya muslim. Syariat berlaku
dan Nuran melihat-lihat bagian dengan motif floral. Terlihat sangat ketat di sini. Saking kuat pengaruh Islam itu, dibanding dengan
dalam istana yang saat ini mewah pada zamannya. dan Eropa sampai-sampai stempel
dialihfungsikan sebagai museum sejarah kerajaan pun beraksara Arab dengan bangunannya yang bekas
kesultanan Bima. Saya selalu suka pergi Setelah berkeliling kamar, saya dan crown frame. Di sisinya bertuliskan istana maka museum ini
ke museum, hampir setiap kota yang Nuran diajak menuju pojok ruangan Padoeka Sarie Soelthan Ibrahim Koning terlihat kosong melompong.
saya datangi jika ada kesempatan pasti yang terlihat gelap. Sedikit menukik ke van Bima secara melingkar.
saya akan mampir museumnya. kiri akan ada sebuah loteng tua di
Tapi saya sangat menikmati
Menurut saya museum Bima punya sebelah tiga kamar mandi yang berjajar. *** tour ini.

B
koleksi yang tidak begitu banyak, Juru kunci bilang jika ini adalah sebuah agi yang membawa anak kecil,
padahal setahu saya kesultanan Bima kamar yang diperuntukkan bagi jin yang daripada merusak barang
adalah kerajaan yang besar. Dari dimiliki Raja. Sebetulnya ingin saya foto, bersejarah, lebih baik tinggalkan
koleksinya yang sedikit itu, dibanding tapi juru kunci tidak memperbolehkan anak Anda di luar dengan puluhan rusa
dengan bangunannya yang bekas istana saya mengambil gambar. Sebetulnya berbodi cantik. Anak-anak kecil itu akan
maka museum ini terlihat kosong saya juga ngeri, ada perasaan yang senang dan gembira, mereka akan
melompong. Tapi saya sangat aneh pas masuk ruangan ini. Apalagi mengimajinasikan diri seperti apa yang
menikmati tour ini. kloset berjajar tiga yang saya lewati mereka suka: Alice in Wonderland untuk
sangat mirip dengan setting film Saw. anak cewek, sedangkan yang cowok
Saya dan Nuran diajak berkeliling Heck! bisa mengimajinasikan diri sebagai
melihat kamar Raja dan keluarganya. Mowgli. []
Interior ruangannya sangat Eropa; kursi Dari artifak peninggalannya, kerajaan
dengan motif Victorian, pendant lamp Bima adalah kerajaan yang mayoritas
K
ami bertemu dengan bapak tua Namun seperti layaknya ksatria
ini tidak sengaja. Truk yang kami manapun, tak pernah ada kata
tumpangi dari Sumbawa berhenti menyerah dalam hidupnya. Aku dan
sejenak untuk bongkar barang di Ayos melihat Pak Heru sebagai seorang
belakang warung ini, sembari yang mengagumkan. Seorang jenius
menghabiskan waktu kami pun mengisi hasil didikan alam. Dia hanya tamatan
perut di warung langganan supir ini. SD, tapi dia adalah seorang ahli
Warung makan Kediri namanya. Bapak pembuat kapal. Dia bahkan hanya
tua itu bernama pak Heru, dahulu ia juga sempat mencicipi setengah hari di SMP,
pejalan seperti kami. Wawasannya lalu keluar karena bosan, tapi dia sudah
Text Nuran Wibisono photo Ayos Purwoaji sangat luas, kami banyak belajar hal menjadi penambang emas yang
baru dari beliau. tangguh. Malu rasanya mahasiswa
seperti kami berada di depan dia.
Kami gambarkan pak Heru sebagai
seorang pria tua berbadan subur Salah satu cerita legendaris adalah
dengan rambut yang mulai memutih dan ketika beliau mencarter pesawat selama
menipis. Kalau berjalan dia perlahan, sebulan untuk menerbangkan nener
seakan menjaga keseimbangan agar tak dalam jumlah banyak ke Surabaya dan
jatuh. Aku melihat dia sebagai orang Bali. Hal itu terjadi pada tahun 80an,
yang sangat menikmati hidup di masa dimana pesawat masih belum sebanyak
tuanya. Senyum tak pernah hilang dari sekarang. Sudah tentu biaya
wajah bulatnya. Kalo ketawa bahkan operasionalnya mahal sekali, mungkin
bisa sampai ngakak, mungkin dia setara nilai carter pesawat partai untuk
melihat hidup ini sebagai sebuah pentas menerbangkan campaign orator di masa
Srimulat. Memasak adalah salah satu pemilu. Tapi dalam perhitungan bisnis,
hobinya, pemikirannya yang out of the biaya operasional itu seharusnya hanya
box menuntunnya menemukan menu- sepersekian dari keuntungan yang bisa
menu baru yang belum pernah dibuat. didapat. Itu berarti bisnis yang dilakukan
pak Heru adalah bisnis raksasa.
***

S
yahdan, pak Heru adalah seorang ***

A
taipan sukses di kota Bima. ku begitu tertarik dengan
Bisnisnya menggurita dari kebiasannya berkeliling.
Ernest Hemingway pernah pembuatan kapal kayu, hasil laut, Ketertarikanku dimulai ketika dia
menulis sebuah novel yang pembangunan tower telekomunikasi, bercerita dia pernah berpetualang ke
hingga tambang emas. Dia hijrah ke Flores, waktu itu Flores masih belum
sangat terkenal, judulnya The kota Bima sejak 34 tahun lalu. Hampir sebagus sekarang. “Kenapa sih dulu
Old Man and The Sea. Julukan tidak ada orang di Bima yang tidak kenal bapak suka berpetualang?” tanyaku.
itu kami sematkan untuk pak beliau, kami telah membuktikannya Aku juga masih selalu mencari jawaban
Heru, sebuah pria tua tambun dengan mata kepala sendiri. Beliau telah yang pas tentang kenapa aku mencintai
merintis banyak usaha di Bima. Pak backpacking. Pertanyaan ini ibarat
pengelola warung makan Heru adalah tipikal pebisnis sejati, Kisah pertanyaan klasik, tak akan pernah
Kediri di kota Bima. Bagi kami hidupnya bagaikan sebuah grafik nilai hilang. Pak Heru menjawab dengan
berdua, pak Heru adalah tukar rupiah, naik turun tak tentu. pasti, ia mengatakan bahwa ia
seorang inspiring person. Ia Pernah dalam suatu masa dia menjadi berpetualang di masa mudanya untuk
salah satu orang terkaya di Bima, tapi ia mencari wawasan baru dari setiap
adalah seorang lelaki pembuat juga pernah kolaps hingga titik nadir, daerah yang dikunjungi. Ini merupakan
kapal yang menolak tua. tersandung hobinya main judi. modal besarnya untuk membangun
bisnis.
Dia lalu kembali bercerita dengan
antusias. Bagaimana dia dulu bisa
menjadi juragan kapal. Memiliki banyak
anak buah para pelaut Bugis yang gagah
berani, dan segala macam warna-warni
kehidupan yang menurutku sangat gagah.
Setelah mengunjungi kawasan
Kesultanan Bima, pak Heru mengajak
kami untuk melihat galangan kapal
miliknya. Pria yang menolak tua itu terlihat
sangat gagah berdiri di depan kapal-kapal
yang ia desain.

Ada satu hal yang paling saya kagumi dari


pria ini, quotation-nya tidak akan pernah
saya lupakan; “Punya banyak wawasan
itu penting. Para petualang yang bisa
banyak hal, punya wawasan yang luas
mungkin sulit untuk hidup kaya raya. Tapi
dia tak akan pernah hidup kesusahan” dia
berkata itu sembari tersenyum. Deg.
Jantungku serasa berhenti, jawaban pria
tua ini sangat inspiratif.

***

P
ria tua gundul ini ternyata juga usil
luar biasa. Ia membuat sebuah
minuman berwarna cokelat gelap. Ia
menyuruh Ayos meminumnya, katanya
“coba saja, enak kok”. Setelah minum,
muka Ayos yang mesum berubah jadi
pucat tapi tetap mesum. Minuman itu
ternyata seduhan kayu songga, lebih pahit
dari brotowali dan pare. Istri Pak Heru
menyebut seduhan kayu songga adalah
jamu setan karena pahitnya nggak
Everything about him was old ketulungan. Ayos bilang pahitnya nggak
Except his eyes ilang-ilang, meski sudah minum es teh
And they were the same color as the sea manis sekalipun. Pak Heru hanya tertawa
terbahak, seluruh tubuhnya bergetar,
And were cheerful matanya yang sipit sudah tidak kelihatan
And undefeated lagi. Sekali tertawa, akan sangat sulit bagi
Pak Heru untuk berhenti. Mengingatkan
Ernest Hemmingway, aku pada seniman besar yang baru saja
The Old Man and the Sea pergi, Mbah Surip. []
Text and photo Ayos Purwoaji

Sebagai salah satu kandidat kuat The New Seven


Wonders of Nature, Taman Nasional Komodo
memang menjadi pusat perhartian dan pemberitaan
di media masa. Setiap hari saya lihat berita tentang
Komodo. Saya pun cukup bangga dan sudah
memberikan voting untuk Komodo. Tapi
pemberitaan media yang luar biasa tentang
kehidupan satwa liar Komodo tidak berimbang
dengan pemberitaan suku asli yang mendiami pulau
Komodo dan pulau Rinca. Meski mereka berada di
Kabupaten Manggarai Barat, mereka tidak
mengidentifikasi diri mereka sebagai suku
Manggarai, mereka lebih bangga disebut sebagai
suku Komodo.
S
elama di Pulau Komodo, saya dan atapnya bersilang khas Bima dengan
Nuran memang menginap di desa filosofi sabalong samalewa. Modifikasi
Komodo. Desa ini merupakan lainnya, mereka memanfaatkan bagian
tempat tinggal bagi suku Komodo. bawah rumah panggung mereka
Kami tinggal di rumah pak Kasim, yang sebagai domestic room, seperti dapur,
sebelumnya secara ajaib kami bertemu kamar mandi, dan pawon. Ada juga di
saat menunggu kapal kecil di Labuan beberapa rumah yang mejadikan rangan
Bajo. Tidak ada satupun homestay atau di bawah panggungnya sebagai
hostel di pulau Komodo. Jika ingin playground bagi anak-anak atau tempat
menginap, Anda harus bermalam di mengaso. Tampak pula beberapa rumah
resor sekitar Taman Nasional dengan yang agak modern menambahkan
harga selangit, atau menemukan tangga spiral dari semen yang tidak di
penduduk dengan rumah yang bisa cat, mengingatkan saya pada bentuk-
ditinggali dengan harga nego. Jalan bentuk rumah bergaya Mediteranian.
tengahnya Anda bisa mencari losmen
murah yang tersebar di segala penjuru Secara umum pemandangan di desa
Labuan Bajo. Komodo memang indah: lautnya yang
jernih, bebukitan dengan rumput halus,
Pak Kasim yang rumahnya kami tinggali dan kapal-kapal cumi yang unik. Tapi
adalah seorang guru SD. Dia adalah yang paling tidak bisa saya lupakan
salah satu generasi pertama suku adalah sunsetnya, sangat indah! Apalagi
Komodo yang bisa melanjutkan jika Anda berkunjung saat bulan
pendidikan hingga perguruan tinggi. purnama di musim kemarau, sunsetnya
Orangnya tinggi dan berkumis lebat, seperti surga. Ajaib dan luar biasa.
santun dan bahasanya tertata apik. Mirip Alhamdulillah saya kesana pada saat
sekali sama guru saya dan Nuran ketika yang tepat. Saya sudah mengunjungi
SD, namanya pak Kholik. Pak Kasim banyak tempat yang menawarkan
adalah seorang terpandang di desa sunset, tapi saya pikir di pulau Komodo
Komodo. Selain karena kapasitas yang terhebat. Saya belum pernah lihat
keilmuannya, dia juga pendiri kelompok yang seindah itu sebelumnya.
pengrajin souvenir di desa Komodo. Bodohnya, saat itu baterai kamera saya
Istrinya yang cheerful merupakan habis. Tuhan memang ingin saya
keturunan langsung Umpu Dajo, berhenti sejenak dari memotret, Dia
seorang tokoh semi-mitikal-semi- ingin saya diam dan bertasbih
historikal yang menjadi cikal bakal mengaggumi ciptaannya yang indah di
keberadaan suku Komodo. Mereka dermaga desa Komodo.
berdua dikaruniai dua anak, cewek dan
cowok. Anak pak Kasim yang cewek Pekerjaan masyarakat Komodo tidak
sedang merantau ke Bima untuk begitu beragam, sebagian dari mereka
melanjutkan sekolah menengah keatas. bekerja sebagai nelayan, sebagian lagi
sebagai pengrajin, sebagian lagi bekerja
*** sebagai penjual souvenir. Nelayan
adalah profesi orang-orang tua yang

K
ehidupan masyarakat Komodo membosankan, sejak Komodo dijadikan
tidak jauh berbeda dengan sebagai sebuah destinasi wisata yang
kehidupan masyarakat pesisir prestise banyak masyarakat yang
lainnya. Bentuk rumah mereka adalah beralih jadi pengrajin, mereka bisa dapat
rumah panggung khas Bugis namun dolar tanpa harus berbau amis.
Mereka memiliki adat dan bahasa yang sama
sekali otentik yang dipakai tidak lebih dari duaribu
orang suku Komodo. Jadi bisa disimpulkan bahwa
adat dan bahasa Komodo ini juga sangat langka
dan harus dijaga dari kepunahan. Jika duaribu
suku Komodo punah maka bahasa Komodo pun
juga akan punah
milik nenek moyang mereka. Pak
Kasim juga mengatakan bahwa
selama ini tidak ada peneliti lokal
yang dating untuk
mendokumentasikan kehidupan
suku Komodo, apalagi tingkat
pendidikan masyarakat Komodo
yang minim juga tidak bisa
diharapkan untuk menyelamatkan
ratusan folklore dan kebudayaan
Komodo dari kepunahan.

***

H
ewan Komodo (Varanus
komodoensis) menempati
tempat yang sangat penting
dalam kehidupan suku Komodo.
Menurut kepercayaan mereka, suku
Komodo dan hewan Komodo lahir
dari rahim seorang ibu yang sama.
Anak lelaki yang berwujud manusia
diberi nama Gerong dan anak
perempuan yang berbentuk komodo
diberi nama Orah. Hingga saat ini
masyarakat desa Komodo menyebut
komodo dengan sebutan Orah. Suku
Komodo percaya bahwa bahasa
mereka adalah satu-satunya bahasa
yang bisa dimengerti oleh hewan
purba yang muncul pertama kali
sejak zaman Tertiarum tersebut,
makanya ranger yang ada di Taman
Nasional Komodo adalah orang asli
Komodo.
Sedangkan generasi muda yang rada Suku Komodo memang indigenous,
malas memegang pahat mereka lebih mereka tidak sama dengan suku Sayangnya kami tidak bisa bertemu
suka menjadi penjual souvenir, lebih gaya Manggarai atau suku Bima. Mereka langsung dengan hewan komodo,
dengan bahasa Inggris seadanya. memiliki adat dan bahasa yang sama saat itu musim kawin, komodo
Suku Komodo percaya sekali otentik yang dipakai tidak lebih bersembunyi dan menjadi lebih
bahwa bahasa mereka Secara fisik masyarakat Komodo berkulit dari duaribu orang suku Komodo. Jadi agresif. Kalau nekat mau pilih
adalah satu-satunya cerah, sangat berbeda dari masyarakat bisa disimpulkan bahwa adat dan adventure trip menyusuri Pulau
bahasa yang bisa Flores yang rata-rata berkulit gelap. bahasa Komodo ini juga sangat langka Komodo saya sih bisa
Struktur masyarakatnya terdiri dari suku dan harus dijaga dari kepunahan. menemukannya, tapi maaf, saya
dimengerti oleh hewan Komodo sebagai mayoritas, sisanya Jika duaribu suku Komodo punah maka tidak ingin kehilangan masa muda
purba yang muncul adalah peranakan Bugis atau Bima. bahasa Komodo pun juga akan punah. akibat dicium komodo cewek yang
pertama kali sejak Menurut sejarahnya, dahulu suku Komodo Tanda-tanda kepunahan itu semakin kebelet pengen kawin… []
zaman Tertiarum tersebut masuk dalam wilayah teritori Kerajaan terasa, banyak generasi muda Komodo
Bima. tidak mengerti praktik kebudayaan purba
S
aat kapal feri dari Sape merapat,
When morning time I stare the moonlight kami mulai melihat kemegahan
I miss the place where I grow up Labuan Bajo. Jujur saja ini jauh dari
When the bird singing it’s hard to say goodbye bayangan kami selama ini, Flores
tak sesepi yang kami bayangkan.
I’m sorry never gave the answer Labuan Bajo sedang bersolek, sedang
And you’re waiting on the line bersiap menyambut para tamu yang
Because you know membanjiri kota kecil ini. Semenjak
I am alone long way from home Pulau Komodo menjadi salah satu
nominasi dari 7 Wonders of Nature,
keran pariwisata terbuka semakin lebar.
(Komunal, Higher Than Mountain) Turis mancanegara pun masuk makin
banyak, seperti air bah.

Kami menaksir, lima hingga sepuluh


tahun lagi Labuan Bajo akan seramai
Poppies Lane II, Kuta. Banyak artshop
yang menjajakan berbagai souvenir
seperti kain tenun Ende dan patung
komodo berbagai ukuran. Selain itu juga
berjajar counter diving dan travel yang
Text Nuran Wibisono Photo Ayos Purwoaji akan membantu Anda mengeksplorasi
keindahan Flores dan kepulauannya
yang superb. Untuk makanan jangan
ragu, banyak resto padang dan sate
madura yang berjajar.

Jika melihat Labuan Bajo dari jauh,


maka Anda akan mengira seperti berada
di Marrakesh, sebuah kota pelabuhan
eksotik di Afrika. Picture this: rumah
bertumpuk berjajar memenuhi bukit-
bukit, di depannya ada sebuah dermaga
besar penuh kapal dan pesiar, semua
bertumpuk di sebuah teluk kecil cantik
dengan lanskap yang anggun. Aih, sejak
awal saya sudah terpesona oleh kota
pelabuhan ini. Penduduknya heterogen,
kebanyakan Floresianese yang ramah.
Pelabuhannya terbagi dua, satu untuk
kapal kecil dan perikanan. Satunya
adalah dermaga besar untuk feri dan
tilong.

***

B
elum selesai shock kami dengan
bersoleknya Labuan Bajo, kami
harus tertawa dalam kegetiran.
Sebuah takdir membawa kami masuk ke mahkamah internasional seperti
dalam hostel neraka, namanya losmen Slobodan Milosevic.
Gembira. Aku yang tak pernah
mempermasalahkan buruknya kondisi Kami juga memulai petualangan kami
penginapan, menjadi tertawa sekaligus menuju Pulau Komodo dari sini, naik
gregetan dengan kondisi losmen dan kapal penduduk pulau Komodo yang
pelayanan yang tak mencerminkan berangkat dari pelabuhan ikan. Harga
keramahan khas orang Flores.Lima yang kami tebus hanya IDR 20.000 per
puluh ribu yang kami keluarkan terbakar orang, bandingkan jika saya ikut travel
percuma seiring kutukan kami yang yang sekali jalan seharga tujuhratus ribu
terus menerus keluar karena kondisi hingga satujuta lebih. Kami sangat
losmen yang nggilani. Suatu saat kami menikmati perjalanan kami yang
ditanya oleh seorang pemuda bernama bertabur tawa dan kekaguman. Tak
Maradona yang aseli pulau Komodo,”Di salah memang kalau ada pendapat
Labuan Bajo nginep dimana mas?” Saat bahwa Indonesia is dangerously pulang, “Jancuk, aku pengen cepet Jolly Jumper,berjalan menuju matahari
kami menyebut nama losmen sialan itu beautiful. Pulau Komodo dan para mulih nang Suroboyo,” ujar Ayos tenggelam dan bernyanyi dengan lirih;
Maradona tertawa, dia menyebut penduduk desa Komodo akan selalu menjelang sholat maghrib. Aku bertanya I’m a poor lonesome cowboy. Mungkin
Losmen Gembira adalah losmen mendapat tempat dalam hati para kenapa,“Yo kangen ae ambek Suroboyo. memang saatnya petualangan ini harus
terburuk se-Indonesia Raya, merdeka! petualang. Mereka ramah dan sangat Kangen ambek Winda pisan” sahutnya berakhir sampai disini. Labuan Bajo juga
baik kepada kami. jujur. Yah, di balik kacamata tebal si menyadarkan kami akan hangatnya
Tapi jangan khawatir, masih banyak Ayos , pada matanya aku bisa melihat rumah.
hostel murah tapi tidak murahan di *** ada perasaan kangen pada sang pacar.

D
Labuan Bajo. Diantaranya ada Losmen i Labuan Bajo pula titik kulminasi Aku juga kangen Jember waktu itu. Dan perasaan itu adalah perasaan yang
Rasa Sayange dan Losmen 21 yang itu tiba. Setelah hampir tiga Kangen siang-siang ngopi dengan para wajar.
kami rekomendasikan. Kedua losmen itu minggu menempuh perjalanan teman SMA atau anak-anak Tegalboto.
memiliki derajat kemanusiaan yang jauh tanpa berhenti dan melewati banyak Esok paginya aku dan Ayos
lebih tinggi daripada derajat Losmen tempat, kami memiliki firasat yang sama Aih, melankolia. Ini yang bikin para meninggalkan Labuan Bajo dengan
Gembira yang sudah bisa dimasukkan bahwa perjalanan kami sudah mencapai petualang jadi gamang. Perasaan rindu diiringi lagu dari Komunal. Terdengar
sebagai penyiksaan dan pelanggaran puncaknya, dan harus segera diakhiri. rumah dan keluarga. Apa ini yang selalu begitu bingar hingga telinga kami
HAM kelas dunia. Pemilik losmen Di teras masjid pelabuhan Labuan Bajo, dirasakan Lucky Luke ketika berada di berdengung []
neraka ini seharusnya sudah diadili di Ayos mendaratkan isyarat untuk segera akhir cerita? Ketika dia menunggangi
Kisah senang dan susah selalu
mewarnai sebuah perjalanan. Itu
juga berlaku bagi kami, meski
perjalanan kali ini terasa
menyenangkan, namun ada
beberapa detail kisah susah yang
kami hadapi. Kami pilihkan
empat kejadian terburuk yang
membuat kami terlihat begitu
konyol dan bodoh. Saat
mengingat lagi empat kejadian
ini maka batin kami akan
berteriak -shit- dan kami akan
menyesal mengapa kami pernah
dilahirkan. Pesan kami, selalu
bersiaplah jiwa dan raga
terhadap segala sesuatu yang
akan kalian hadapi nanti.
Text Nuran Wibisono Image Google and Ayos Purwoaji
L M
osmen bedebah ini terletak di daerah usibah mengenaskan ini terjadi
Labuan Bajo, Flores. Menginap disana ketika kami masuk ke dalam
adalah suatu bencana paling parah kapal feri untuk menyebrang
yang kami alami sepanjang hidup kami. dari Lombok menuju Sumbawa.
Harga losmen memang murah, hanya 25
ribu per orang/ malam. Tapi begitu anda
Suasana dan interior kapal sangat
check in, welcome to the jungle! Lantai menyenangkan, membuat saya berpikir
berdebu, tampak tak pernah dibersihkan. untuk tidur sejenak. Namun rencana
Begitu anda masuk kamar, anda akan tidur itu berantakan, setelah juru video
menemukan ruangan seperti kamar gas nan kapal yang selera musiknya pasti lebih
angker, cocok untuk melakukan holocaust. buruk daripada Arman Dhani Bustomi
Kamarnya sempit dengan kasur sangat (padahal Dhani adalah salah satu pria
berdebu, banyak tikus, ranjang berderit – dengan selera musik terburuk yang
sehingga tidak memungkinkan untuk pernah aku kenal) menyetel sebuah
melakukan ML karena ranjangnya pasti akan
worst hostel menimbulkan bunyi yang sangat berisik. Aku worst entertainment kaset VCD yang berisi kumpulan video
terjatuh karena ranjangku roboh hanya gara- klip tahun 90an milik Nafa Urbach.
LOSMEN GEMBIRA gara aku menggeliat. Pergi ke kamar mandi
di lantai bawah adalah horror dan terror baru.
NAFA URBACH Tuhan tolong kami! Kalau saja bunuh diri
itu tidak haram, sudah pasti saya akan
Saya yang tidak pernah merasa jijik atas bunuh diri dengan melompat dari kapal
kondisi apapun sempat merasa sedikit jijik. ketimbang harus mendengarkan si Nafa
Mendingan tak usah saya gambarkan Urbach bernyanyi! Suaranya sangat
keadaan kamar mandinya daripada anda annoying. Satu lagi yang bikin lebih
pingsan di depan komputer. Oh ya, siapkan merusak otak dan hati adalah ketika
gerinda untuk menggilas muka sang pemilik
yang ketus. So, how “GEMBIRA” are you?
mengetahui lagu-lagu yang dinyanyikan
adalah ciptaan Deddy Dores.

D A
alam bis inilah aku mendapatkan ku terakhir pergi ke Bedugul
kesengsaraan hidup yang tak ketika masih kelas 3 SD.
tertanggungkan perihnya. Picture Sedangkan Ayos malah belum
this: aku adalah tipe orang yang pernah sama sekali. Karena itulah kami
tak tahan dengan kendaraan ber-AC. pergi menempuh ratusan kilometer
Sedangkan bis ini adalah tipe bis untuk pergi ke Bedugul. Kami begitu
eksekutif dengan AC menyala garang terpesona oleh pemandangan pura di
bak angin topan. Karena hanya tengah danau yang legendaris itu.
membayar 50 ribu (dari tarif normal 125 Kesalahan kami adalah masuk ke
ribu), kami pun didiskriminasikan, Bedugul Water Sport. Kenapa? Karena
disuruh duduk lesehan diatas tikar, yang pemandangan disana melulu deretan jet
diapit oleh pintu belakang dan toilet. sky, perahu motor, orang mancing, dan
Sang supir bis adalah orang yang anak-anak muda labil-penganut rambut
worst transportation terobsesi menjadi pembalap NASCAR worst destination miring-memakai celana pensil-dengan
tapi gagal memenuhi ambisinya. Jadi dia boxer terlihat-yang-ingin-mencari-
LANGSUNG INDAH melampiaskan nafsunya dengan
menyupiri bisnya dengan ugal-ugalan.
DANAU BEDUGUL gebetan. Bahkan pemandangan di
danau ini tidak jauh lebih baik ketimbang
Padahal kondisi jalan dari Bima - Poto pemandangan di Telaga Sarangan. Yang
Tano penuh lubang dan bergelombang. paling bikin kami merutuk adalah kami
Mampus! Itu adalah malam terpanjang harus membayar 17 ribu rupiah untuk
dalam hidupku. Aku pergi ke toilet masuk ke danau kacangan ini. Crap!
hingga 4 kali. Ya, aku muntah sebanyak
4 kali malam itu.
Nasi Jinggo (Bali) Plecing Kangkung (Lombok) Sianata (Sumbawa)
Nasi paling nikmat dan murah meriah Makanan ini sudah jamak ditemui Ia bukan temannya Hiawatta. Sianata
yang ada di seluruh Bali. Ini adalah dimana-mana, tapi Plecing yang kami adalah sambal khas orang Bima,
menu wajib kaum backpacker yang makan di Desa Darek ini benar-benar terutama yang tinggal di daerah pesisir.
mendamba makanan murah. Nasi ini merubah hidup kami. Kangkungnya Sambal ini unik, hanya perlu 2 bahan
dibungkus dengan daun pisang, lauknya segar dan crispy disiram dengan bumbu saja, garam dan cabe rawit. Cara
ada suwiran daging ayam atau cacahan plecing yang merah menyala. membuatnya pun sangat gampang.
daging sapi, sambal goreng kentang Bercitarasa pedas namun menyegarkan. Tinggal campur garam dengan cabe
tempe, sejumput mie goreng, tumis Bukannya berhenti karena kepedasan, rawit, lalu di haluskan. Rasanya? Jelas
kacang panjang dan sedikit sambal. yang ada adalah anda akan kembali percampuran asin dan pedas. Namun
Penjual nasi ini banyak ditemukan di menyendok plecing ini, lagi, lagi dan mungkin karena hanya ada 2 bahan
daerah PB Sudirman atau di sepanjang lagi, walau mulut anda sudah saja, pedasnya jauh lebih nampol!
jalan Sesetan, Denpasar Bali. mengecap-ngecap karena kepanasan IDR -
IDR 2.500 dan kepedasan!
IDR 3.000
Kue Kompyang (Flores)
Bubur Bali Pasar Ubud (Bali) Kue ini merupakan kue khas Flores.
Bubur ini kami tahu dari sebuah review Puteri Tenggelam (Lombok) Bentuknya unik, bulat, kecil, seperti
pada sebuah buku tentang kuliner Puteri Tenggelam adalah nama bakpau. Bedanya adalah kue kompyang
Text Nuran Wibisono murah di Bali. Menurut kami rasanya makanan ringan khas Lombok. Secara berwarna coklat, keras, serta ada
Photo Ayos Purwoaji lumayan, gurih namun rada spicy, visual jajanan ini mirip dengan cimol, taburan wijen diatasnya. Paling enak
sebuah citarasa khas Bali yang penuh jajanan khas Bandung yang berbentuk dimakan hangat bareng selai, atau saus
rempah. Warnanya sedikit kehijauan kecil bulat dan berwarna putih. Bedanya, pedas, atau dengan susu, terserah anda
karena efek dari bayam yang kalau cimol bercitarasa pedas, Puteri saja. Saranku, setelah membeli, simpan
dicampurkan. Tambah nikmat jika Tenggelam ini berasa manis. Jajanan ini kue ini ke dalam freezer. Ketika kalian
Aneka Masakan Hiu (Bali) dimakan panas dengan kacang kedelai. terbuat dari tepung beras. Didalamnya mau memakannya, keluakan, lalu iris
kalau kalian bosan makan ikan yang Porsinya sangat pas untuk sarapan ada potongan pisang. Jajanan ini tipis di bagian atas, setelah itu baru
biasa, kalian harus mencoba daging sebagai bekal berkeliling Ubud. bertambah lengkap ketika ditaburi digoreng lagi. Kue ini memang lebih
ikan hiu. Pergilah ke daerah Jimbaran. parutan kelapa lalu disiram oleh saus enak dimakan hangat.
Ada sebuah warung yang nyaman
IDR 2.000
gula merah yang legit. Ketika dimakan, IDR 500
bernama Warung Hiu Bakar Pak Item. tekstur kue yang lembut bercampur
Letaknya pas di kiri jalan setelah gapura Nasi Tempong (Banyuwangi) dengan tekstur pisang yang sedikit
Universitas Udayana. Jangan Makanan khas Banyuwangi ini sangat kenyal namun manis, masih dicampur Warung Makan Kediri (Bima)
bayangkan hiu disajikan dengan apa cocok untuk membuat Anda menangis oleh gurihnya parutan kelapa. Ini sih bukan meal, tapi tempatnya yang
adanya dan tidak berkelas. Aku semalaman. Sambalnya yang pedas di IDR 3.000 enak. Bagi para pejalan, Anda akan
mencoba masakan hiu ini bersama Ayos luar nalar paling pas memang ditemani mendapatkan banyak fasilitas gratis!
dan Budi. Hiu bakar adalah daging hiu teh panas, lidah Anda pun akan terbakar Charge hape, mandi, sholat, silahkan
yang juga dipotong fillet namun kuadrat! Nasi ini memang didesain untuk Es Degan Pomatas (Sumbawa) semaunya. Harganya juga tidak bakal
berbentuk memanjang. Dibakar dengan menampar lidah, namanya saja nasi Cuaca Sumbawa yang kering dan membunuhmu. Makanannya
menggunakan bumbu merah khas Bali tempong yang berarti nasi tampar. berdebu adalah siksaan tersendiri bagi kebanyakan adalah makanan Jawa, jadi
yang segar. Masakan ini disajikan Mudah ditemui di daerah pinggir kota kerongkongan Anda. Es degan paling buat Anda yang datang dari Jawa akan
dengan plecing kangkung dan 3 jenis Banyuwangi, tanya saja warga lokal enak kami temui sepanjang perjalanan feels like home. Ini juga penawar bagi
sambal yang biasa dipakai untuk agar tak tersesat. ada di dekat pom bensin Pomatas, Anda, karena kebanyakan citarasa
masakan ayam betutu. Selain hiu bakar, IDR 3.500 Sumbawa Besar. Rumusnya: degan orang Bima adalah masakan yang
ada pula varian lain seperti hiu fish N dicampur susu kental manis ditambah asam. Jika tidak terbiasa Anda akan
chips, hiu pedas saus tiram, sop sirip air jeruk nipis. Rasanya suueggeer! shock. Silahkan mampir karena
hiu. Teksturnya unik. tempatnya hanya sekitar limaratus meter
IDR 17.000 IDR 2.500 dari terminal Bima.
K
ami meyakini, lagu dapat membawa semangat tersendiri dalam perjalanan
kami. Seringkali aku mendendangkan Free Bird dari Lynyrd Skynyrd ketika
sedang berjalan menyusuri aspal berdebu. Tak terhitung pula berapa kali
Ayos berdendang sumbang Sunrise dari si cantik Norah Jones ketika melihat
sunset maupun sunrise yang indah. Inilah beberapa lagu yang menjadi teman
perjalanan kami. Silahkan cari dan download, siapa tahu bisa menjadi teman Anda
dalam perjalanan. []

1. Lynyrd Skynyrd – Free Bird


2. Komunal – Higher Than Mountain II
3. Imanez – Anak Pantai
4. The Doors – Roadhouse Blues
5. Gugun and the Bluesbug – Spinnin’ Around Me
6. Efek Rumah Kaca – Balerina
7. The S.I.G.I.T – Clove Doper
8. Deep Purple – Highway Star
9. Steppenwolf – Born To Be Wild
10. John Mayer – 3X5
11. Jefferson Airplane – Volunteer
12. Wonderbra – Indie V
13. Norah Jones – Sunrise
14. Sting – Englishman In New York
15. Superman Is Dead – Kuta Rock City
Text Nuran Wibisono Image Google 16. AC/DC – It’s a Long Way to the Top
17. Ozzy Osbourne – Crazy Train
18. Float - Pulang
19. Seringai – Serigala Militia
20. The Doors – The End

You should have seen that sunrise with your own eyes
it brought me back to life
You'll be with me next time I go outside
No more 3x5's

(John Mayer, 3x5)

If i leave here tomorrow


Would you still remember me
For i must be traveling on now
Coz there are too many places i've got to see

(Lynyrd Skynrd, Free Bird)


Keluarga Subakta, Sayan, Bali
Keluarga Aminah, Darek, Lombok
Keluarga Syukur, Moyo, Sumbawa
Keluarga Kasim, Komodo, Manggarai Barat
Keluarga Ririn, Mataram, Lombok
Keluarga Wiwin, Tabanan, Bali
Bli Neker dan Bli Putu
Lalu Rafli dan anak-anak desa Darek
Pak Fredrik Non, Kasospol KPPP Poto Tano, Sumbawa Barat
Ibu Itun, ibu Awi, dan ibu Rasmini, Amanwana
Bang Midun dan Bang Efendi, KM Monalisa
Bang Denis dan Bang Suprianto, Terminal Sumbawa
Ayos Purwoaji Nuran Wibisono
Lorentz, Musedu, Andreas, truk Mata Raga
Mulai jatuh cinta dengan backpacking Memulai backpacking sejak SMP setelah
Om Pius, truk Motang Rua
sejak membaca komik Tintin. Ayos membaca novel Gola Gong yang
Pak Heru RM Kediri, Bima
adalah penganut ajaran sesat "never berjudul Balada si Roy. Nuran menganut
Pak Supardi, Labuan Bajo
having sex before married". Pria filosofi: jika kau menikah, maka
Dona, Muchdar, dan anak-anak desa Komodo
berkacamata dengan muka mesum ini kehidupanmu sebagai lelaki berakhir
Pak Vinsentius Latif, TNK
adalah pemuja jazz yang sesekali sudah. Bagi Nuran, jika kuliah seenak
Ery Satriawan, Mataram, Lombok
diiringi dengan dendang dangdut dari traveling maka ia akan lulus cepat
Nur Fahmi, Hega’s Wana Jember
OM Pantura, orkes melayu yang ia dengan predikat summa cumlaude.
Arif Budiarto, Denpasar, Bali
temui di perjalanan Banyuwangi-Bali. Selain flirting, saat ini aktivitas lain
Yoga dan Gusman ISI Bali
Saat ini dia berusaha keras untuk niat Nuran yang cukup membanggakan
kuliah setelah semester sebelumnya dia adalah menjadi kontributor untuk
sibuk mengejar seorang cewek priyayi sebuah situs lifestyle ternama.
cantik.

hifatlobrain.blogspot.com nurannuran.wordpress.com