Catatan Perjalanan Menyusuri Daratan Jawa Hingga Flores

All You Have To Do Is Take the First Step
Sebuah prolog

A

ku percaya, backpacking adalah hasil perpaduan seimbang dari passion dan environment. Aku mengamini hipotesa bahwa passion dan environment sama pentingnya untuk membentuk karakter seseorang, termasuk kemauan untuk backpacking. Backpacking adalah masalah kemauan. Dimana orang menghabiskan waktu senggangnya dengan memanggul ransel, mengelilingi kota, wajah tertampar debu dan angin, serta rambut yang selalu berbau matahari. Sudikah Anda melakukannya di saat temanteman Anda berpesta pora, bermotor mengelilingi kota dimalam hari sambil sesekali menggoda wanita cantik? Backpacking bukan sekedar masalah uang. Uang adalah nomor terakhir kalau menyangkut backpacking. Kemauan adalah faktor yang paling utama. Pepatah tua bilang; dimana ada kemauan disitu ada jalan. Jadi yang kalian butuhkan pertama kali adalah kemauan, lain tidak! Banyak orang berduit tapi bahkan tidak pernah ke kota sebelah, sebaliknya banyak orang tak berduit tapi malah bisa keliling dunia. Term backpacker menurut hematku adalah orang yang pergi dengan ransel, budget terbatas, dan dalam perjalanannya ia menyelami kehidupan. Pandanganku soal backpacking sangat dipengaruhi oleh Gola Gong. Aku belajar banyak soal bakcpacking dari buku dan catatan perjalanannya. Termasuk bagaimana seharusnya seorang backpacker harus bisa menyelami kehidupan selama perjalanannya. Perjalanan ini dimulai ketika aku dan seorang sahabat, Ayos namanya, bertemu dan saling bercerita tentang pengalaman hidup. Kami sama-sama menggilai backpacking. Saya ingat,

Nuran Wibisono

setahun lalu kami saling memaki, karena sama-sama iri pada tempat yang kami kunjungi. Tahun lalu saya pergi ke Kalimantan untuk menikmati birunya langit dan lautan pulau Derawan. Sedangkan Ayos pergi ke tanah Laskar Pelangi, Belitung. Dan ya, waktu itu kami pergi sendiri-sendiri. Makanya kami saling memaki, kenapa kami tidak saling mengajak ketika pergi berpetualang? Nah, saat itulah kami berikrar kalau suatu saat kami harus berpetualang bersama. Kami menabung mulai saat itu juga. Saya mengumpulkan receh uang hasil kerja saya menerjemahkan teks lintas bahasa, sedang Ayos mengumpulkan lembar rupiah dari honor dia menulis di berbagai media.
Backpacking bukan sekedar masalah uang. Uang adalah nomor terakhir kalau menyangkut backpacking.

api sampai sekarang, ada satu pertanyaan yang belum bisa kami jawab; apa yang kita cari ketika backpacking? Itu adalah pertanyaan klise yang bakal berujung klise juga. Mungkin saat ini kami hanya bisa menjawab, kita hanya mencari kedamaian dan wawasan. Termasuk pelajaran kemanusiaan yang tidak akan mungkin bisa kita dapatkan di bangku sekolah maupun kuliah. Hanya dunia yang bisa mengajarkan kemanusiaan dengan nyata. Aku berani menjamin, ketika kalian selesai backpacking (bukan piknik atau berwisata), kalian pasti akan malu sendiri kalau hanya bisa mengeluh soal keadaan ataupun mengeluh soal hidup. Percayalah padaku, dunia adalah sekolah paling bagus, dan backpacking adalah mata pelajaran paling menyenangkan. Backpacking juga mengajarkan nasionalisme. Soe Hok Gie pernah berkata lantang, bagaimana mungkin kita menjadi nasionalis kalau kita tidak mengetahui keindahan Indonesia dengan mata kepala sendiri? Tak perlu menjadi merah, hijau atau biru untuk menjadi nasionalis. Cukup dengan mengenal sendiri keindahan Indonesia, niscaya kalian akan otomatis menjadi nasionalis. Aku sangat setuju. Buku ini kami buat bukan untuk pamer, tapi ini adalah upaya kami untuk melawan lupa sekaligus memberitahukan kepada dunia tentang indahnya Indonesia Raya. Jangan mau hanya menonton keindahan Indonesia yang ada di layar kaca dalam liputanliputan news feature. Silahkan datang dan rasakan sendiri, menangislah jika selama ini Anda tidak pernah mengenal dan mencintai Indonesia secara lengkap. Hail backpacking! []

T

Kami juga memutuskan untuk memakai sepeda motor butut Astrea Grand tahun 1996 sebagai sarana transportasi utama. Jika Che Guevara dan Alberto Granado memberi nama motor mereka dengan nama La Pedrosa, maka kami menamai sepeda butut kami; Kebo. Ia juga pemain utama dalam perjalananan ini. Selama perjalanan ini kami berhasil membuktikan teori –setidaknya pada diri kami sendiri– bahwa tidak perlu uang banyak untuk bisa berpetualang. Bayangkan, dengan uang 900 ribu rupiah per orang kami sudah bisa melintasi Bali, Lombok, Sumbawa, Pulau Moyo, Flores, hingga ke Pulau Komodo. ***

Holy Cloves Land
Text and photo

Ayos Purwoaji

ali seems usual, itu jika Anda kaitkan dengan Kuta dan Tanah Lot. Kebetulan saya dan Nuran punya kesenangan yang sama: kami rada alergi pada tempat yang touristy. Bukannya apa, tapi kami berdua ini memang tipe pria rapuh yang melankolis dimana semua wanita yang melihat akan merasa ingin memeluk. Kami pun mencoba mencari tempat-tempat relatif masih sepi dan jauh dari hingar bingar. Kebo yang sudah on fire pun saya gas menuju utara Bali. Daerah Bali Utara memang suatu antitesis dari Bali Selatan yang ramai dan panas. Sisi Bali Utara menawarkan ketenangan batin dibalut dengan indahnya lanskap pegunungan yang berkabut. Kami bersepeda menyusuri Kintamani, mengagumi keindahan Gunung Batur, dan melihat orang Kintamani yang berpipi merah. Setelahnya kami melewati desa Catur dan menuju Jembatan Tukad Bangkung. Tapi sebenarnya Kintamani bukanlah tujuan utama kami. Destinasi yang sebenarnya adalah desa Pegayaman, sebuah desa kecil di Buleleng, letaknya dekat dengan air terjun Gitgit yang terkenal itu. Desa Pegayaman adalah sebuah desa muslim dengan kultur Hindu Bali yang kental. Saya tahu keberadaan desa ini dari seorang kawan yang tinggal di Kampung Madura di Kintamani. Pertama kali masuk desa ini saya agak underestimate, karena yang saya bayangkan sebelumnya adalah sebuah

B

desa yang penuh dengan arsitektur Bali namun semua penduduknya muslim. Ternyata saya salah besar, bangunan di desa Pegayaman sih sebenarnya bangunan biasa, tidak ada altar kecil atau pura rumah khas Bali. Hanya saja mereka mempunya akar budaya yang unik dengan ritual keagamaan khas Pegayaman.

Buleleng saat itu menghadiahi sebidang tanah yang sangat luas di sudut daerah kekuasaannya. Karena kerajaan Mataram adalah sebuah kerajaan Islam, maka penduduk desa Pegayaman pun otomatis semuanya muslim. Hingga saat ini tradisi keagamaan di desa Pegayaman sangat kental. Bahkan Hisni yang merupakan generasi ketujuh pun masih

Meski mayoritas muslim, tapi hampir semua penduduk Pegayaman masih menggunakan adat Bali untuk menamai anak mereka

H

*** isni Sholeh (50) adalah ketua takmir Masjid Jamik Safinatussalam, masjid satusatunya di desa Pegayaman. Pak Hisni sangat senang ketika kami jelaskan bahwa kami dari Jawa Timur, selepas SD dia memang merantau ke Jawa Timur untuk belajar di beberapa pondok pesantren. Bahasa Jawa pak Hisni lancar sekali, tapi dia tidak dapat menyembunyikan logatnya yang sangat Bali. Lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya ini bercerita tentang sejarah desa Pegayaman dengan penuh semangat. Mereka adalah keturunan langsung tentara Mataram yang datang ke Bali untuk menolong kerajaan Buleleng dari serbuan tentara Blambangan. Karena tentara Mataram mampu mengusir pasukan dari Blambangan, maka raja

kuat memegang tradisi yang diturunkan oleh nenek moyangnya. Salah satu yang terbesar adalah perayaan Maulid Nabi. Memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah keistimewaan di Pegayaman. Seluruh penduduk desa berbaur membuat sebuah perayaan besar dan membuat masakan yang bisa dinikmati oleh seluruh penduduk kampung. Pada tanggal 12 Rabiul Awal akan diadakan sebuah parade rebana. Tapi bukan sembarang rebana, penduduk Pegayaman menyebutnya burdah, rebana berdiameter besar. Tradisi burdah sangat otentik, kita hampir tidak bisa menemukan tradisi ini di seluruh Jawa, kerajaan Mataram juga tidak mempunyai tradisi burdah. Hisni mengatakan jika tradisi ini berawal dari Malaysia. Komposisi masyarakat Pegayaman sendiri memang unik,

penduduknya tidak semua keturunan Jawa Mataram, ada juga yang memiliki akar keturunan Bugis, Hindu Bali, dan Malaysia. Sehari setelahnya, yaitu pada tanggal 13 Rabiul Awal diadakan sebuah pawai budaya yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat Pegayaman. Mengenakan pakaian unik, semua bersuka ria, makan enak, dan tertawa. Bergembira menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW. Acara ini beberapa kali dijadikan sebagai news feature di beberapa stasiun tivi. Hal unik lainnya adalah masalah nama. Meski mayoritas muslim, tapi hampir semua penduduk Pegayaman masih menggunakan adat Bali untuk menamai anak mereka. Anak pertama mereka beri nama Wayan, anak kedua Nengah, dan Nyoman untuk anak ketiga. Bedanya

dengan Hindu Bali, setelah anak keempat diberi nama Ketut, maka anak kelima dan seterusnya juga diberi awalan Ketut. *** ebagian besar penduduk Pegayaman adalah petani, mereka menanam kopi dan padi, juga rempah-rempah. Kesan saya pertama kali masuk desa Pegayaman adalah desa ini berbau cengkeh, ternyata benar dugaan saya, mereka sedang panen cengkeh dan penduduk desa menjemur cengkeh di pelataran rumah-rumah mereka. Saat meninggalkan Pegayaman pun saya masih membaui harum cengkeh desa Pegayaman, meski lamatlamat hilang digantikan bau knalpot si Kebo yang sudah ngos-ngosan menempuh ratusan kilometer dalam sehari. []

S

Text Nuran photo Ayos

Wibisono Purwoaji

ata siapa kalian butuh jutaan rupiah untuk bisa berbelanja baju sepuasnya di Bali? Anggapan itu terpatahkan oleh adanya frog market, atau orang Bali biasa menyebutnya sebagai pasar kodok atau OB. Frog market adalah sebuah tempat di daerah Tabanan yang menjual baju-baju second dengan kualitas baik dan harga murah. Tidak hanya baju, bahkan disini kamu bisa mendapatkan sepatu, celana jeans, jaket kulit hingga bed cover. Semuanya merupakan barang second dengan kualitas baik. Harganya pun sangat murah. Harga kaos berkisar di angka 15-20 ribu rupiah saja. Celana jeans harganya sekitar 25-50 ribu rupiah. Kenapa disebut frog market? Tak ada jawaban yang pasti. Frog market ini merupakan sebuah tempat yang berbentuk komplek yang dikelilingi sawah. Mungkin orang sering mendengar bunyi kodok dari sawah, karena itu disebut frog market. Satu hal yang pasti, tempat ini sangat besar, bahkan waktu 2 jam pun tak akan cukup untuk bisa mengelilingi seluruh komplek. Dalam komplek ini terdiri ratusan stan tempat menjual barang dagangan mereka Aku tak tahu kapan tepatnya pasar ini berdiri. Seingatku waktu masih duduk di bangku SMA, aku sudah sering pergi ke tempat ini. Waktu itu harga kaos masih 5 ribu rupiah, dan harga celana jeans hanya 25 ribu rupiah. Seiring berjalannya waktu, makin banyak orang yang tahu tentang tempat ini. Para sosialita dan orang-orang berduit lainnya menganggap frog market ini sebagai alternatif untuk memenuhi nafsu belanja mereka yang gila-gilaan. Mereka ini biasanya pergi dengan dandanan necis seperti mau pergi ke mall, mengendarai mobil (saya pernah melihat BMW baru terparkir di tempat ini), dan seringkali

K

tidak menawar harga, karena menurut mereka harga di pasar ini sudah sangat murah. Akhirnya sekarang para penjual seringkali bersikap rada sombong, mereka tak mau barangnya ditawar, payah! Korbannya tentu saja orang dengan duit pas-pasan seperti aku dan ratusan mahasiswa lain yang ingin bergaya namun tak punya banyak duit. Satu hal yang menarik dari tempat ini adalah; para penjualnya kebanyakan berasal dari Jawa dan Madura. Seringkali saya ikut nimbrung dengan para penjual menggunakan bahasa Jawa. Dalam pikiranku semoga harga bisa diturunkan semaksimal mungkin. Ternyata sama saja, teori komunal disini tidak berlaku, teori yang berlaku adalah business is business, hahaha. Hal menarik lain adalah masih berlaku sistem kuno dalam berdagang, tawar menawar. Penjual pasti memasang harga yang tinggi pada awalnya. Nah, disinilah seninya, Anda harus mahir tawar menawar untuk mendapatkan harga yang dianggap pas bagi kedua belah pihak. Coba kalau anda menawar baju di counter Billabong, bisa-bisa Anda digampar oleh satpam berkumis sangar. Dalam pikiranku semoga harga bisa diturunkan semaksimal mungkin. Ternyata sama saja, teori komunal disini tidak berlaku, teori yang berlaku adalah business is business

Barang-barang yang ada disini kebanyakan produk Korea yang berasal dari Batam. Barang biasanya datang dalam bentuk bal, ditempatkan dalam sebuah karung besar. Saat barang ini sampai, para penjual mengeluarkan, memilah mana yang bagus, mana yang kualitas biasa. Biasanya kualitas bagus akan dijual lebih mahal. Nah, setelah

proses pemilahan selesai, para penjual akan mencuci barang-barangnya. Di kompleks bagian belakang, ada sebuah usaha laundry. Jadi barang dicuci dulu, dikeringkan, lalu disterika. Oleh karena itu, baju atau celana di frog market ini bisa langsung dipakai. Tapi kalau anda masih ragu, silahkan dicuci lagi dengan air panas. Jangan lupa ditambahkan sedikit garam untuk membuat barang yang anda beli jadi steril. Di kompleks frog market ini juga ada beberapa penjual makanan dan minuman dengan harga murah. Jadi kalau kalian capek setelah berkeliling kompleks, silahkan beristirahat sejenak, minum, lalu anda akan siap untuk berbelanja lagi. *** eskipun aku tahu harga di frog market sekarang jauh lebih mahal dari beberapa tahun lalu, aku tetap saja suka berbelanja disini. Kadangkala aku mendapat barang bagus kualitas luar negeri dengan harga murah meriah. Seperti waktu aku mendapatkan kaos Jean Michael Basquiat warna kuning dengan harga hanya 15 ribu rupiah. Malah ada sweater Nike asli yang dijual dengan harga hanya 30 ribu rupiah. Kalau di counter Nike, pasti harga sweater itu bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Salah seorang temanku, Budi namanya, mendapatkan kaos AND1 dengan harga 15 ribu rupiah saja. Dan sekarang dia bisa pamer menggunakan kaos itu sembari berkata bahwa kaos itu di beli di counter AND1 langsung.

M

Yah, itulah dinamika di frog market. Sebuah tempat yang merupakan antitesis dari teori belanja di Bali pasti menghabiskan banyak uang. Jadi kalau ada waktu senggang, silahkan datang dan menggilalah! []

uhan mendengar doa hambanya. Kami berdua menemukannya di desa Darek di Lombok Tengah. Desa Darek adalah desa kecil, jalannya tak beraspal penuh lubang. Menuju kesana adalah sebuah perjalanan yang berat bagi motor saya. Tanahnya sedikit tandus dan berbukit-bukit. Kata sebagian orang, tanah di desa Darek banyak mengandung emas, karena memang desa ini tidak terlalu jauh dari Sekotong, sentra emas di Lombok. Namun kebanyakan orang Darek adalah petani, mereka menanam apa saja yang sanggup hidup di lingkungan jarang air, termasuk kedelai, jagung, dan semangka. Saya berani bertaruh, meski Darek adalah sebuah desa tandus tapi mereka menghasilkan semangka merah yang jagoan. Rasanya manis dan menyegarkan. Bisa jadi karena hawa di Darek panas, lalu saat kita makan, semangka jadi terasa begitu luxurious di lidah. Saya tidak tahu. Tapi karena semua orang menanam semangka maka harga sebuah semangka di desa Darek sangatlah murah, bahkan mungkin gratis. *** emangka Darek juga sangat terkenal, bahkan jika Anda bertemu seorang penjual semangka di Sumbawa atau Flores, saya hampir yakin kalau mereka adalah orang Darek. Apalagi jika penjualnya menggunakan peci haji lengkap dengan kafiyeh merahputih yang dikalungkan di leher, seratus persen saya yakin kalau dia orang Darek!

T

memang sering menjadi tempat singgah truk-truk Fuso besar yang menuju Flores. Kami berkenalan dengan seorang penjual semangka tua bernama Syarifuddin. Ia menggunakan koko cokelat dengan peci haji dan kafiyeh, orang-orang sekitar menyebutnya dengan sebutan Pak Haji.

Text and photo

Ayos Purwoaji

S

Jujur saja, saya dan Nuran belum pernah ke Lombok sebelumnya. We have no idea about Lombok, kecuali Gili Trawangan dan Rinjani yang banyak menghiasi travel guide sebagai a-must-see tour dalam daftar mereka. Tapi kami ingin sekali untuk merasakan Lombok yang lain dengan atmosfer yang lebih alami dan tidak touristy tentu saja.

Itu hal yang kami alami saat kami harus singgah di Sumbawa Besar untuk mencari truk menuju Flores yang bisa kami tumpangi. Kami menunggu di depan pom bensin Pomatas yang

Saya lupa tanya apakah beliau bisa berhaji karena hasil menanam semangka atau bukan. Kalo iya, maka saya lebih suka memanggilnya Haji Semangka. Rata-rata hampir semua orang berumur di desa Darek adalah haji. Haji Syarifudin mengatakan ia sudah enam hari berjualan di depan pom bensin Pomatas ini. Selama enam hari itu ia sudah mendapatkan enam juta rupiah, sudah balik modal katanya. Maka ia pun akan memberikan semangkanya gratis jika ada orang yang minta. Ia menjual semangka-semangka ini di Sumbawa karena harganya bisa berlipat kali lebih tinggi ketimbang ia jual di Lombok.

Saya lupa tanya apakah beliau bisa berhaji karena hasil menanam semangka atau bukan. Kalo iya, maka saya lebih suka memanggilnya Haji Semangka :)

Ternyata begitu menyenangkan mandi di saluran dam bersama anak-anak kecil desa Darek. Bahkan mereka mengajari kami cara jumping yang baik. Memori saya tentang mandi di sungai belasan tahun yang lalu pun terpanggil kembali. Saya sangat menikmati momen ini.

Rafli mengajak kami untuk renang di saluran bendungan yang berair deras. Sampai di sana kami mendapati beberapa anak kecil yang asyik renang dan mencari udang. Tanpa pikir panjang, saya dan Nuran yang memang dari pagi belum mandi pun menanggalkan pakaian satu persatu dan membiarkan orang melihat tubuh sintal kami. Hehehe. Saya dan Nuran bermain air dengan gembira, bak seekor unta yang lama tak melihat oasis. Ternyata begitu menyenangkan mandi di saluran dam bersama anak-anak kecil desa Darek. Bahkan mereka mengajari kami cara jumping yang baik. Memori saya tentang mandi di sungai belasan tahun yang lalu pun terpanggil kembali. Saya sangat menikmati momen ini. Mungkin karena kasihan melihat tampang melas kami yang belum makan seharian, ia pun memberikan sebuah semangka merahnya untuk kami. Perlahan tapi pasti, semangka merah itu pun membasahi kerongkongan kami di tengah udara Sumbawa yang kering dan berdebu. Haji Syarifudin yang giginya tinggal satu itu pun tersenyum, melihat kami lahap memakan semangka merahnya. Ia bilang mampir saja ke rumahnya jika berkunjung lagi ke Darek. *** Plecing kangkung yang ia beli di pasar Darek itu memang murah, harganya tigaribuan dan kamu akan mendapatkan sepiring penuh kangkung hijau dengan sambal merah-yang-pedasnya-bikinampun-ampun. Tekstur pedasnya memang nendang tapi terasa segar. Mungkin karena orang Lombok suka memasak sambal tanpa menggoreng bahan-bahannya terlebih dahulu. Plecing kangkung ini sangat pas jika di padankan dengan beberapa tusuk sate jerohan Lombok yang alot. Rafli dan adiknya Nanang pun mengajak kami mengeksplor desa Darek. Kami mengujungi bendungan besar di Pengga. Tampak dari kejauhan beberapa orang dewasa terlihat memancing di tepian. Mereka mengenakan topi anyaman pandan khas Lombok. Beberapa anak muda terlihat pacaran di pintu bendungan, berasyik masyuk mengumbar kata sayang sembari memandangi bendungan sore hari. Beberapa anak muda lainnya terlihat mabuk. Setelah puas mandi, kami pun menuju sebuah beruga (semacam bale-bale) sederhana di depan PLTM Pengga yang hanya berjarak puluhan meter dari saluran dam. Di sana menunggu temanteman baru kami Bowo, Dapi, dan Ghafur. Mereka adalah anak-anak desa Darek yang ramah luar biasa, menyuguhi kami dengan kopi ABC panas-kental-manis dan –tentu sajasemangka Darek. Memakan semangka Darek di desa Darek adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Sembari menikmati senja di beruga kami juga ngobrol tentang apa saja. Mereka sangat antusias dengan Jawa, mereka pun banyak bercerita tentang desa mereka dan beberapa pantai surga yang belum dikunjungi turis. Sembari terus ngobrol dan bercanda, saya pun mengambil potongan terakhir semangka merah segar itu, rasanya leleh menyegarkan hati saya. []

Saya berani bertaruh, meski Darek adalah sebuah desa tandus tapi mereka menghasilkan semangka merah yang jagoan

S

ebelumnya saat berkunjung ke desa Darek, kami singgah di rumah Lalu Muhammad Rafli, sesama penggiat pers kampus dan pernah menjadi pimpinan Majalah Tegalboto milik Universitas Jember. Rafli dengan hangat menyambut kami dan memberikan suguhan plecing kangkung yang memang sangat terkenal sebagai makanan khas Lombok.

Text Nuran photo Ayos

Wibisono Purwoaji

Setelah tersiksa lumayan lama, aku melihat satu pemandangan yang biasa ada pada sehelai kertas berukuran 3X5 yang disebut sebagai kartu pos. Pemandangan itu adalah birunya laut yang dibarengi putih pasir pantai. Di sepanjang pantai nampak pohon kelapa berjejer mirip dengan pohon palem yang berjajar di sepanjang Beverly Hills. Nampak sangat indah! Aku langsung berteriak-teriak norak, kegirangan karena siksaan sudah selesai. Letih terbanting-banting selama perjalanan terbayar sudah. Kami langsung menggeber gas motor sekencang mungkin. Suasananya sangat sepi, tak tampak seorang pun dipantai itu, kecuali penduduk lokal di beranda rumah. Air lautnya berwarna indah, gradasi mulai hijau muda, hijau tua, biru muda hingga ke biru tua. Rata-rata penduduk di pantai Torok bekerja sebagai petani rumput laut. Kalau kalian pergi terus ke daerah selatan, akan ada sebuah gunung menjulang. Konon, di sanalah pusat emas di daerah Sekotong. Gunung emas yang sudah banyak menimbulkan korban jiwa, karena para penduduk bertikai memperebutkan emas. Ada satu kejadian lucu disini. Ketika sampai di pantai, Ayos tiba-tiba menghilang. Kemana gerangan? Yeah! Ternyata Ayos duduk diantara rimbun semak di ladang milik penduduk. Gerakannya sangat misterius, kasak kusuk dengan wajah pucat pasi memerah malu. Ternyata Ayos buang air besar! Yeah, you rock bro! Karena disana tidak ada WC, penduduk sekitar kalau buang air selalu di ladang. Ini adalah masalah sanitasi yang harusnya dipecahkan. Aku jadi mikir, kenapa tidak patungan lalu membuat sebuah WC umum?

Dimanakah tempat wisata di Lombok yang tidak touristy? Akan sangat sulit mencari jawabannya. Dulu, 3 pulau Gili adalah objek wisata yang belum terlalu ramai dikunjungi orang. Namun sekarang wisatawan terlihat menyemut di tiga pulau Gili. Aku dan Ayos kebetulan adalah tipe orang yang sedikit malas kalau pergi ke tempat wisata yang touristy. Kami ingin pergi ke tempat wisata yang belum banyak orang tahu.

ntunglah kami punya teman yang merupakan orang asli Lombok. Lalu Rafli namanya. Seorang pria berkulit legam yang bertampang mesum. Dia memberitahu ada dua pantai bagus yang belum banyak dikunjungi orang. Nama pantai itu adalah Pantai Torok dan Pantai Selong Belanak. Awalnya kami tidak ada rencana untuk kesana, namun muka Rafli yang sangat mesum itu terus membujuk kami agar menunda keberangkatan barang beberapa jam.

U

Rafli akan mengajak kami pergi ke pantai Torok. Ugh! Sungguh suatu tawaran yang susah ditolak. Singkat kata, kami kembali menaruh tas, dan dengan cepat sudah berada di sadel sepeda motor. Ada 5 orang yang berangkat menuju pantai ini. Aku, Ayos, Rafli, serta Dafi dan Lanang. Kami membawa tiga motor saling berboncengan, sedangkan aku menunggangi si Kebo sendirian.

Sebelum berangkat si Rafli memberitahukan bahwa jalan menuju pantai Torok rusak berat. Dan benar, setengah jam setelah berangkat dari rumah Rafli di desa Darek, kondisi jalan sudah menunjukkan kekejaman dan kesadisannya. Banyak lubang dimanamana. Jadilah aku berulang kali harus berakrobat, membuat manuver-manuver gaul agar tidak terjerembab. Perjalanan yang menyiksa ini ditempuh selama dua jam.

Kembali ke pantai, kami semua berlarilarian seperti anak kecil. Pasir pantainya putih dan bersih. Sangat kontras dengan warna air lautnya. Ditambah dengan sepinya pantai ini, membuat pantai Torok semakin mantap untuk dinikmati. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan pasir putih dan air laut yang biru menenangkan. Sama sekali tak ada ramai orang seperti di pantai Senggigi atau Kuta.Aku dan Ayos lalu membuka baju, dan melompat ke laut. Ah, segar sekali air lautnya! Namun adalah satu hal yang ironis, ternyata tanah-tanah disekitar pantai ini sudah dibeli oleh orang-orang luar negeri. Kebanyakan dari mereka berasal dari Korea dan Australia. Aku menduga, pastilah nantinya ditanah yang mereka beli akan berdiri resort mewah yang angkuh dan tak bersahabat. Orang lalu akan membanjiri tempat ini, yang berarti akan banyak sampah dan hanya sekedar tempat rekreasi belaka. Apalagi kalau bandara internasional Lombok selesai dibangung pada tahun 2010, pastinya akan lebih banyak turis datang. Bersiaplah untuk kehilangan satu surga lagi di Lombok. *** atu lagi pantai yang masih jarang dikunjungi orang. Selong Belanak namanya. Terletak di daerah Lombok Tengah, menuju ke pantai ini membutuhkan waktu sekitar 1 jam dari Mataram. Kali ini aku kembali bersama Ayos, Rafli dan Anton. Kami kembali menaiki motor untuk pergi menuju kesana. Tidak seperti akses menuju pantai Torok, jalan menuju Selong Belanak sangat mudah, jalan sudah teraspal dengan baik. Pantai ini diproyeksikan menjadi the next big thing dalam pariwisata Lombok.

Kontur jalan menuju Selong Belanak sama seperti kontur jalan menuju Torok, berbukit-bukit, naik turun. Sama seperti di Torok, pantai kelihatan dari jauh terlebih dahulu. Dari kejauhan, tampak pemandangan khas pantai surga yang mencolok mata. Hamparan pasir putih, gradasi warna air laut yang sangat indah dan ratusan pohon kelapa berdiri tegak seakan mengucapkan selamat datang pada kami. Sekilas Pantai Selong Belanak ternyata jauh lebih indah dari pantai Torok. Angin pantai ini terasa lebih segar. Kembali aku berteriak-teriak norak, karena merasa telah menemukan surga baru. Pantai ini dikelilingi oleh bukit-bukit hijau yang tampak meneduhkan. Lalu aku berjalan menuju pantai. Ada sebuah warung sederhana. Warung ini berkonsep outdoor, dengan atap daun rumbia ala bangunan di daerah pantai. Ada bangku panjang dari bambu, kami berempat lalu duduk disana, menemani seorang turis wanita dari Perancis. Dia bernama Bennedicta. Dia berhidung mancung, dengan mata indah, dan aksen perancis yang tampak sangat eksotis ketika berbicara bahasa Inggris. Saya lalu memesan kopi, si Bennedicta sendiri sudah memesan secangkir kopi hitam lebih dahulu. Lalu kami ngobrol, tentang apa saja. Oh ya, di pantai Selong Belanak ini, keadaannya cenderung sepi namun tidak sesepi pantai Torok. Disini masih terlihat beberapa orang bule yang membawa papan selancar, pantai Selong Belanak ini memang berombak besar, sangat pantas untuk dijadikan surfing spot. Kami lalu berkenalan dengan seorang penduduk asli sana. Jaya namanya. Layaknya penduduk pribumi lainnya, Jaya sangat ramah terhadap pendatang.

Dia bertubuh kekar dan tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 160 cm. Kulitnya berwarna cokelat matang –karena terpanggang sinar matahari-, dan ia berambut pendek berombak. Tanpa perlu waktu lama, kami sudah akrab dengannya. Jaya juga menawarkan kelapa muda yang ia panjat sendiri dari kebun miliknya. Tapi sebelum kami minum kelapa muda, kami terlebih dahulu membuka baju, memperlihatkan badan kami yang six pack luar biasa itu. Kami tak tahan melihat ombak memanggil kami. Kami langsung saja melompat ke dalam air, mencumbui setiap buihnya. Segar sekali. Kami merasa menjadi seperti anak pantai, yang bebas dan hidup santai, seperti lagu Imanez. Lewat penuturan Jaya, kami jadi tahu ternyata sama seperti pantai Torok, tanah di sekitar pantai ini sudah laku

S

dibeli oleh orang asing. Dia bahkan menunjukkan sebuah villa yang berdiri gagah di atas gunung. Tampak sangat anggun sekaligus angkuh. Villa itu ternyata dimiliki oleh orang yang menjadi bos si Jaya. “Dia kan istrinya dari Amerika. Mereka bangun villa itu. Kalau liburan saja mereka kesini. Istrinya itu kaya minta ampun,” kata dia sambil menerawang jauh ke villa itu. Ah, ternyata sama saja. Dimana-mana sesuatu yang bernama industri itu pasti kejam. Pantai Selong Belanak yang sekarang masih polos pun beberapa tahun lagi pasti akan dipenuhi oleh puluhan ruko, mall dan stan yang menjajakan suvenir-suvenir mahal yang ditambahi oleh keramahan palsu ala pramuniaga. Lalu sampah-sampah akan berkeliaran dimana-mana, dan ya, Lombok akan kehilangan satu lagi surga terbaiknya.

Suasananya sangat sepi, tak tampak seorang pun dipantai itu, kecuali penduduk lokal di beranda rumah. Air lautnya berwarna indah, gradasi mulai hijau muda, hijau tua, biru muda hingga ke biru tua

Karena lama tak main gitar, aku pun meminjam sebuah gitar dari beberapa anak lokal yang nongkrong di warung. Lagu pertama yang terngiang di pikiranku adalah Anak Pantai-nya Imanez. Aku pun langsung nyanyi dengan volume suara maksimal meski tak dijamin merdu. Setelah itu aku memainkan single Knockin’ On Heavens Door dari Bob Dylan. Ternyata lagu yang sangat populer ini menarik perhatian beberapa turis yang sedang berjemur. Tak berapa lama kemudian ada seorang pria bule, tinggi besar, memakai topi koboi untuk menutupi rambutnya yang botak. Pantai Selong Belanak yang sekarang masih polos pun beberapa tahun lagi pasti akan dipenuhi oleh puluhan ruko, mall dan stan yang menjajakan suvenir-suvenir mahal Namanya Jeremie, awalnya dia hanya duduk di kursi bambu sebelahku. Lalu tiba-tiba dia mulai mengacungkan jarinya keatas membentuk simbol metal, lalu berjoget norak sambil ikut bernyanyi “Mama put my guns on the ground!” dia bernyanyi tak kalah sumbangnya. Kami bernyanyi bareng sambil berjoget seperti orang idiot yang terdampar di pantai. Rupanya tingkah polah kami direspon dengan cepat oleh teman-teman si botak itu. Ada satu wanita cantik dengan body aduhai yang mengenakan bikini two pieces coklat yang menenteng handycam. Dia merekam semua tingkah polah biadab kami saat bernyanyi. Si seksi itu semakin bersemangat ketika Aku menyanyikan I Can’t Get No Satisfaction milik Rolling Stones. Ah, lagu ini ternyata memang ampuh untuk membuat wanita menjadi bergairah. Pantas saja banyak wanita rela tidur dengan Mick Jagger meski beresiko mereka akan lenyap ditelan bibir

dowernya. “C’mon Bobby Marley, play more songs!” si botak tadi meminta lagu tambahan, Jeremie memanggilku Bobby Marley karena aku sempat memainkan No Woman No Cry tadi. Aku hanya bisa tertawa sambil bertanya, “Okay buddy, what song?” aku bertanya pada si botak itu. Sebelum konser rock ini dimulai lagi, kami berkenalan secara informal, sekedar opening talk. Ternyata rombongan bule itu semuanya berasal dari Perancis. Aku menghitung ada 6 orang dalam rombongan itu. Si botak itu bernama Jeremie Graveline. Sedangkan wanita seksi itu bernama Sadoun Neila. “Arabian name?” Aku bertanya pada si seksi itu. “Yes, i’m from Aljazair,” kata Neila. Empat orang lainnya merupakan sebuah keluarga. Sang ayah bernama Jeremy Vosse, dia adalah penggemar berat Rolling Stones. Dia menunjukkan beberapa lagu Rolling Stones dalam iPhonenya. Mulai Rough Justice, Honky Tonk Women hingga Sympathy For The Devil. Tak heran kalau dia yang paling heboh saat aku menyanyikan I (Can’t) Get No Satisfaction. Sebagai lagu penutup, si botak Jeremie minta aku memainkan lagu dari Nirvana. Maka aku nyanyikan Polly untuk si Jeremie. setelah aku selesai memainkan Polly, tiba-tiba si Neila mendekat ke arahku. Dan dia minta di foto bareng aku, hahaha. Baru kali ini ada wanita bule, seksi pula, yang minta foto bareng aku, haha. Yang bikin Ayos ama Rafli iri adalah si Neila foto dengan merapatkan badannya padaku, sedikit membuat macan saya terbangun dari tidurnya. Tapi sang macan kembali tertidur ketika mengetahui Neila ternyata adalah istri dari si botak Jeremie, crap! []

Ah, ternyata sama saja. Dimana-mana sesuatu yang bernama industri itu pasti kejam. Pantai Selong Belanak yang sekarang masih polos pun beberapa tahun lagi pasti akan dipenuhi oleh puluhan ruko, mall dan stan yang menjajakan souvenir-souvenir yang ditambahi oleh keramahan palsu ala pramuniaga.

P

ulau Moyo. Ada yang pernah mendengar nama pulau itu? Jujur, sebelum ini aku belum pernah mendengar nama pulau itu. Indonesia memiliki terlalu banyak pulau. Akan sangat sulit menghapal satu persatu nama pulau itu. Kalau anda melihat Pulau Moyo di peta Indonesia, maka hanya akan nampak sebuah noktah kecil di atas pulau Sumbawa yang besar itu. Aku dan Ayos sampai di Pulau itu pada tanggal 30 Juli 2009, tanggal dimana seharusnya kami berangkat ke Bima. Kami berdua mengingkari sendiri itinerary yang kami buat. Kami tergoda oleh rekomendasi para tukang ojek di terminal Sumbawa Besar yang terusterusan berceracau kalau pulau Moyo ini sangat bagus.
Text Nuran photo Ayos

kami dipersilahkan untuk naik ojek menuju kampung Labuan Aji, sebuah perkampungan warga asli Pulau Moyo yang terletak sekitar 3 kilometer dari dermaga Amanwana. Tukang ojek yang mengantar kami adalah para pegawai Amanwana yang memang sering mengantar tamu yang ingin berkunjung ke Labuan Aji. Untuk menuju desa Labuan Aji kita harus menembus hutan belantara yang masih alami. Jalannya asli jalan alam, yang berdebu dan tak begitu lebar. Setelah 15 menit perjalanan, kami sampai di desa Labuan Aji. Desa ini berada tepat di depan pantai lengkap dengan jejeran pohon kelapa dan angin sepoi-sepoi. Pasti sangat menyenangkan bisa tinggal disini. Kami lalu pergi ke rumah salah satu tetua desa. Pak Syukur namanya. Setelah mengutarakan maksud kedatangan kami, kami yang bertampang kere dan patut dikasihani ini pun dipersilahkan menginap dirumahnya. ***

Wibisono Purwoaji

Sebenarnya ada beberapa cara untuk menuju ke Pulau Moyo. Ada cara yang gratisan - seperti yang kami lakukan namun harus sedikit berjuang dan memohon-mohon dengan mata berair. Cara gratisan ini yakni dengan cara menumpang kapal yang biasa menyebrangkan para pegawai Amanwana, suatu resort yang mengelola Pulau Moyo. Atau kalian bisa naik kapal nelayan dari suatu daerah bernama Mulut Kali, tidak jauh dari terminal Sumbawa Besar. Biayanya kurang lebih IDR 15 ribu. Perjalanan akan ditempuh selama kurang lebih 2 jam saja. Kapal Monalisa yang kami tumpangi ini dinahkodai oleh Bang Midun, seorang Bugis yang sudah lama jadi pelaut. Orangnya ramah dan dengan senang hati menjelaskan pada kami silsilah keluarganya yang memang pelaut tangguh. Kapal ini berlabuh di dermaga kayu milik Amanwana. Setelah berlabuh,

S

ore hari, kami berjalan-jalan di sekitar pesisir pantai di Moyo. Disini banyak terdapat terumbu karang yang sudah mati, lalu terseret arus ke pantai. Pasir pantainya sendiri berwarna cukup putih. Di sebelah barat pantai ini terdapat beberapa rangka pohon tua yang nampak eksotis. Sebenarnya kondisi laut disini enak dibuat renang. Apalagi ada dermaga nelayan yang menjorok sekitar 20 meter ke arah pantai. Ah, pasti enak kalau loncat dari sana. Moyo memang punya laut dangkal yang bagus untuk snorkeling, beberapa spot yang terkenal adalah Takat Sagele dan Takat Tengah. Keduanya menjadi wajib

Namun yang bikin kaget adalah ketika dua gadis kecil itu meminta sesuatu pada kami, “Piti piti piti,” harap mereka dengan mata jenakanya

Para penduduk di Labuan Aji kurang mengerti cara menjaga pemandangan indah ini. Mereka belum paham potensi wisata daerah mereka, Aku dan Ayos berkali-kali misuh karena melihat (maaf) kotoran manusia di pantai.

bagi yang ingin mengeksplorasi keindahan laut pulau Moyo. Sedangkan pantai yang paling diincar adalah Aidara yang merupakan white sands beach. Saking terkenalnya di kalangan selebritis dunia, pantai ini dijuluki honeymoon beach. Moyo memang pantai tersembunyi. Namun ada satu hal yang aku sayangkan. Para penduduk di Labuan Aji kurang mengerti cara menjaga pemandangan indah ini. Mereka belum paham potensi wisata daerah mereka, Aku dan Ayos berkalikali misuh karena melihat (maaf) kotoran manusia di pantai. Dan itu terjadi tidak hanya sekali atau dua kali. Aku sempat jadi malas mau jalan-jalan. Mengingat begitu banyak ’ranjau’ yang bertebaran. Kalo begini apa bedanya dengan Pantai Ria Kenjeran di Surabaya yang sanga jorok. Namun gerombolan anak kecil Pulau Moyo membangkitkan semangatku untuk berjalan-jalan lagi. Mereka menyambut kami, para backpacker ganteng ini, dengan minta foto. Aku dan Ayos memang suka mengumpulkan foto-foto anak asli daerah yang kami kunjungi. Wajah mereka eksotis dan

mata mereka menyiratkan kepolosan. Itu adalah anggapanku dari awal. Namun ternyata dugaanku salah besar. Ketika selesai difoto, aku terus berjalan ke arah barat. Ada 2 orang gadis kecil yang mengikuti kami. Mereka kembali minta difoto. Akhirnya Ayos memotret mereka berdua. Ayos sebenarnya girang dengan banyaknya foto-foto bagus yang dia hasilkan disini. Namun yang bikin kaget adalah ketika dua gadis kecil itu meminta sesuatu pada kami, “Piti piti piti,” harap mereka dengan mata jenakanya. Ayos bingung piti itu apa. Aku sendiri pernah mendengar kata itu, kalau gak salah itu istilah jaman dulu untuk menyebut uang. Ternyata di Sumbawa, piti juga digunakan untuk menyebut uang. “Buat apa piti?” tanyaku dengan keheranan. Aku menyayangkan anak kecil berumur 6 tahun seperti mereka sudah tahu fungsi uang. Apalagi kalau mereka sampai meminta uang itu pada wisatawan asing. Budaya meminta seperti ini sudah seharusnya dihilangkan. Wati dan Shinta, nama

kedua gadis kecil itu, menjawab, “Buat beli-beli.” Duh gusti, aku dan Ayos sempat bingung, dikasih atau tidak. Di satu sisi aku dan Ayos sangat mencintai kepolosan dan ketulusan anak kecil seperti mereka. Tapi di satu sisi, kalo dikasih duit pasti nggak baik untuk perkembangan mental mereka. Dengan alasan itu pula aku tak jadi memberi mereka duit. *** alah satu objek unggulan Moyo adalah air terjun Diwu Mbai. Air terjun ini pendek saja, tak setinggi air terjun Tancak di Jember atau air terjun Cuban Rondo di Malang. Diwu Mbai lebih menyerupai danau kecil dengan air terjun mini. Diwu Mbai ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari desa Labuan Aji dalam waktu sekitar 20 menit. Air telaganya berwarna hijau tua jernih, sehingga aku bisa melihat hingga ke dasar. Diwu Mbai dikelilingi banyak pohon besar yang teduh dan akar merambat yang membuatnya terlihat lebih eksotis. Ada sebuah pohon besar dengan dahannya yang juga besar. Dahan itu melintang sekitar 10 meter dari atas permukaan air. Pada dahan itu

diikatkan sebuah tali kapal berukuran besar. Kita bisa beraksi bagai tarzan, bergelantungan dengan memegang tali, berteriak-teriak norak, lalu berakhir dengan melompat ke dalam danau. Byuuuuurrrr! Rasanya segar dan membebaskan, kalian harus mencobanya, harus! Selain Diwu Mbai, ada lagi air terjun yang lebih eksotis, namanya air terjun Mata Jitu. Air terjun ini berundak-undak hingga 7 tingkat. Mirip terasering dalam dunia pertanian. Air terjun ini harus ditempuh dengan sepeda motor atau mobil dari Labuan Aji, karena jaraknya yang relatif jauh dan medan yang lebih berat. Butuh waktu sekitar 20 menit dengan sepeda motor untuk sampai ke air terjun 7 tingkat ini. Memang secara artistik air terjun Mata Jitu lebih maknyus, namun pagar pembatas membuat kami hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh airnya yang jernih kehijauan seperti zamrud. Untouchable. Sehingga secara objektif menurut saya kadar kesenangan di air terjun Diwumbai jauh lebih baik daripada di air terjun Mata Jitu []

S

N
Text Nuran Wibisono Photo Ayos Purwoaji

amanya pak Syukur, Syukur Abidin lengkapnya. Dia lahir pada tahun 1951 di pulau Moyo. Ketika pertama kali melihat beliau, otakku langsung bekerja dengan cepat untuk menggambarkan orang ini. Wajah beliau tirus dengan rahang yang kokoh, mirip Vigo Mortenssen ketika main di film Hidalgo. Sedang rambutnya lurus dengan sisir belah pinggir ala pemuda tahun 70-an. Rambutnya mengingatkan aku pada David Carradine, aktor yang beken dengan serial Kung Fu yang sempat tayang di tivi pada tahun 80an. Kulitnya berwarna coklat, warna yang jamak ditemukan pada orangorang yang tinggal di pantai. Ketika bertemu dengan kami, dia menggunakan jaket jeans belel, you rock uncle!

eliau adalah salah satu tetua di pulau Moyo. Selama kami berkunjung di pulau Moyo, kami menginap di rumah pak Syukur. Rumahya terletak persis di depan pantai. Rumah khas rumah daerah pesisir, rumah panggung yang terbuat dari kayu. Suasananya rindang dengan adanya beberapa pohon yang menaungi halaman depan rumahnya. Kalau sore menjelang, pohon ini akan ramai dipanjati oleh anak-anak kecil. Pak Syukur menyiapkan sebuah kamar single bed untuk aku dan Ayos. Kamarnya kecil, sederhana namun bersih. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Sprei kasurnya berwarna pink lengkap dengan kelambu mirip ranjang pengantin baru. Jancuk, aku memaki dalam hati; kenapa aku harus berbagi ranjang yang seperti pengantin ini dengan seorang pria! Sebenarnya ada hal yang sangat ironis. Sebuah majalah pernah menobatkan pulau Moyo sebagai salah satu tempat terbaik untuk berbulan madu. Ironisnya aku harus menikmati keindahan pulau ini bersama dengan pria bernama Ayos! Hahaha. *** alam itu kami duduk di ruang makan. Menu makan malam itu sederhana namun sangat nikmat. Hanya ada nasi putih, 1 buah telur dadar yang dibagi untuk 3 orang –aku, Ayos dan pak Syukur. Lalu ada sayur kacang pajang yang bercita rasa asam menyegarkan. Meskipun menunya sederhana, kami makan dengan sangat lahap. Memang, masakan rumahan itu membuat para backpacker jadi rindu rumah, tak perduli sesederhana apa masakannya. Setelah makan, kami bertiga bercengkrama sambil ngobrol.

B

Obrolannya sangat asyik, pak Syukur banyak memberikan cerita inspiratif. Dia memang bukan sekedar tetua desa biasa dari pulau terpencil. Bagi aku dan Ayos, pak Syukur adalah seorang yang visioner dan memiliki pemikiran besar. Bahasa kerennya; think globally, act locally. “Saya dulu lama hidup di Surabaya,” kata pak Syukur memulai percakapan. Kesamaan kenangan tentang Jawa Timur inilah yang melekatkan kami. Pak Syukur juga beberapa kali memeragakan keahliannya berbahasa Jawa Timuran. “Dari seluruh penduduk pulau Moyo ini Awalnya cuma saya yang sekolah hingga perguruan tinggi. Lainnya tak punya kesadaran untuk bersekolah” sambung beliau. Awalnya pak Syukur menghabiskan waktunya selama satu setengah tahun terlebih dahulu untuk belajar mengaji. Setelah khatam alquran, barulah dia diperbolehkan sekolah SD. Pada masa itu, membantu orang tua jauh mencari uang jauh lebih penting ketimbang untuk sekolah yang berarti harus mengeluarkan uang. “Mungkin saya ditakdirkan untuk sekolah” kata beliau menerawang mengingat masa lalunya. Untuk memenuhi hasrat belajarnya yang tinggi pak Syukur bekerja keras. Beliau menghabiskan masa SD-SMA di Sumbawa. Untuk itu beliau harus meninggalkan pulau Moyo selama dua belas tahun untuk bersekolah. Setelah SMA terselesaikan, beliau pergi menuju Bali. Beliau disana untuk kuliah di Akademi Maritim. Kuliahnya selesai namun ia urung untuk melanjutkan ke tingkat profesi karena masalah biaya yang begitu besar. Dalam kurun waktu 70an di Bali itu beliau banyak bergaul dengan bule, dan wawasannya tentang

M

pariwisata menjadi luas. Beliau juga lancar berkomunikasi dengan bahasa inggris, sesuatu yang masih sering dipraktekkannya ketika ada bule berkunjung ke Pulau Moyo. Percakapan terhenti sejenak. Pak Syukur kembali menyalakan rokok, entah batang yang ke berapa dalam hari ini. Pak Syukur adalah tipe perokok kelas berat. Dalam sehari beliau biasa menghabiskan hingga 2 bungkus rokok. Satu bungkusnya berisi 16 batang. Tak perlu merk rokok yang terkenal. Merk rokok yang beliau konsumsi adalah tipe merk rokok home made tanpa bea cukai yang menyebabkan Negara merugi milyaran rupiah tiap tahunnya. “Kenapa gak merokok kretek saja pak? Dji Sam Soe kan nikmat pak” saran saya sok tahu, padahal selama 21 tahun hidup di dunia belum pernah sekalipun bibirku menyentuh rokok. "Wah, saya kalau kretek gak kuat. Mendingan yang ini, murah, ada filternya” kata beliau sambil menunjukkan rokok kegemarannya yang harganya limaribuan. Percakapan terus berlanjut dengan serunya. Setelah dari Bali, Syukur muda memutuskan untuk pergi merantau ke Surabaya, lalu kemudian ke Jakarta. Saat itulah dia tahu, hidup di kota itu sama dengan perang. “Di kota, kita berperang dengan dunia” kata beliau. Pak Syukur Selalu mengatakan bahwa orang kota itu panas. Maksud yang panas orangnya adalah tiadanya saling toleransi antar manusia. Homo homini lupus. Bertahun-tahun hidup dalam suasana berperang dengan uang di Jakarta dan Surabaya, lama-lama pak Syukur tidak bisa tahan dengan semua itu. Akhirnya beliau memilih untuk balik

kandang, balik ke Pulau Moyo, kampung halamannya. Ternyata benar, ia bisa menemukan kenyamanan hidup di tanah tempat ia dilahirkan. *** i Pulau Moyo, dia membawa tanggung jawab besar. Karena pengetahuan dan wawasan pak Syukur paling tinggi di seluruh kampung, dia wajib membangun desanya. With great power, come great responsibilities. Ia pun mulai berpikir untuk memberdayakan desanya. Berbekal kreativitas yang tinggi pak Syukur membuat beberapa souvenir untuk dijual pada pihak Amanwana, sebuah resor kelas dunia yang ada di pulau Moyo. Pak Syukur tidak membuat souvenirnya sendirian, ia juga mendidik para warga sekitar untuk membuat souvenir, jadi mereka memiliki pendapatan baru selain dari hasil laut dan berkebun.

D

Pemikiran visioner pak Syukur juga menjadi modal penting pengembangan kawasan wisata di pulau Moyo yang memang sangat potensial. Seperti di air terjun Diwu Mbai yang terletak satu kilometer dari desa, pak Syukur membangun sebuah bale dan ruang ganti sederhana yang fungsional. Ia juga membuat sebuah tangga alami dari berbagai sulur akar yang besar dan berbagai kayu berukuran sedang. Sangat eksotik. Bahkan secara iseng ia membuat sebuah gantungan sederhana sepuluh meter diatas kolam dari tali kapal yang besar dengan simpul mati di ujungnya. Ia membuat sebuah gelayut sederhana yang mampu memuaskan hasrat para wisatawan untuk menjadi Tarzan. Kita bergelayut di talinya lalu sreeeet lepaskan diri nyemplung langsung di tengah kolam Diwu Mbai yang berair jernih. Sebuah pengalaman adiktif yang cukup memacu adrenalin. *** yos sempat bertanya, “Pak, gimana sih bapak waktu muda dulu?” tanyanya berusaha membuka kotak pandora. Namun jawaban pak Syukur cukup mengagetkan, “Saya ini waktu muda adalah penjual cinta! Cinta kilat, playboy, itu makanan saya!”. Seperti sudah saya duga, perpaduan wajah mirip Vigo Mortenssen, rambut ala David Carradine, rokok dan geretan zippo, pastilah Pak Syukur ini tipe pria yang bisa dengan mudah mematahkan hati gadis manapun. Mendengar jawaban Pak Syukur, kontan aku dan Ayos saling berpandangan, lalu tertawa dengan keras secara bersamaan. Bukan apa-apa, istilah “Penjual Cinta” itu terdengar klasik, sounds retro. Tapi itu masih mending jika dibandingkan dengan istilah super

norak “Jacko Trendy” yang dibuat oleh seorang pria ultra norak dari UNEJ bernama Andrey Gromico untuk melambangkan kecintaannya pada Michael Jackson. “Bapak dulu suka musik apa?” tanyaku kemudian. Tuhan, semoga beliau tidak menjawab Deddy Dores atau Nafa Urbach. “Saya dulu suka musik yang rada pop. Macam Usman Bersaudara, Emilia Contessa sampai Atiek CB” kata beliau dengan lucu. Ah, andai saja beliau menjawab idolanya adalah Chuck Berry atau BB King, sudah pasti aku akan langsung memeluknya. Sayang ketika kami mendesak beliau untuk bercerita lebih banyak soal pengalaman masa mudanya, beliau sedikit enggan. “Saya gak ingin ingat masa-masa itu lagi” kata beliau sambil tersenyum simpul. Hahahaha, aku menangkap sedikit usaha dari beliau untuk menyembunyikan jejak-jejak keliarannya di masa lalu Tanpa terasa, beberapa jam sudah kami berbincang. Suara TV di ruang tamu sudah tak terdengar. Rupanya seluruh anggota keluarga Pak Syukur sudah tidur. Padahal beberapa menit lalu masih ada suara yang menyedihkan dan cukup annoying dari Manohara dalam sebuah sinetron. Dengan pipi seperti bakpau, dia sudah tak cantik lagi sekarang. “Untunglah gak ada anak muda Moyo yang merantau. Kalau ada, mereka berarti orang gila. Mereka di desa jadi nelayan atau petani tapi masih bisa makan 2 kali sehari, eh ditinggalin! Padahal di kota hanya jadi pemulung. Gila kan mereka!” jawab beliau sambil geleng-geleng kepala. Lalu beliau menyulut sebatang rokok lagi, entah itu sudah batang yang keberapa malam ini...[]

A

Text Ayos Purwoaji Photo Ayos Purwoaji

& Nuran Wibisono

Apa moda transportasi favorit kami berdua selama perjalanan? Jawabannya adalah truk barang. Agak aneh memang, moda transportasi ini tidak menawarkan kenyamanan sekelas pesawat charter, juga tidak semulus bus AC. Tapi jujur, kami berdua –saya dan Nuran- sangat menikmatinya.

K

ami memulainya dari Sumbawa Besar, ternyata tidak semua truk bis ditumpangi oleh para backpacker seperti kami. Beberapa informasi yang kami dapatkan ternyata truk yang bisa kita tumpangi untuk menuju Flores adalah truk besar berjenis Fuso dengan plat EB. Untuk mencegatnya pun ada spot khusus; Warung Asri, seratus meter sebelum pom bensin Pomatas. Hampir setiap truk besar yang menuju Flores pasti akan kesana, untuk makan atau hanya sekedar mampir ngopi. Setelah beberapa jam menunggu, kami pun segera mendapatkan truk penolong kami. Nama truknya Mata Raga, sopirnya adalah bang Lorentz aseli Bajawa, Flores. Orangnya gemuk hitam legam dengan kesukaan rokok Marlboro. Bicaranya lugas dengan suara kerongkongan yang noisy, terdengar seram khas Bajawa. Tapi memang

adagium don’t judge book by it’s cover adalah benar, Lorentz sangat baik. Selama perjalanan Lorentz berkisah tentang banyak hal, termasuk tentang kisah hidupnya sendiri. Lorentz mengaku bahwa ia dahulu adalah seorang debt collector di Surabaya. Namun ia bertobat ketika seorang pastor memberikannya pencerahan. “Lebih baik kamu mengusap kotoran saya dan saya bayar, daripada kamu kerja penuh dosa sebagai debt collector,” ujar pastor muda itu. Dalam sebulan Lorentz melakukan perjalanan pergi pulang dari Flores ke Surabaya sebanyak dua kali. Jadwalnya padat maka ia jarang pulang ke rumah, selain itu ia tidak banyak membawa uang, jadi percuma saja pulang, begitu pikir Lorentz. Lorentz tidak sendiri, selama perjalanan ia ditemani rekan kecilnya yaitu Musedu.

Nama aselinya Hernimusedu, titik. Terdengar sangat Afrika sekali yak, hehehe. Musedu masih berumur tujuhbelas tahun. Badannya kecil, kulitnya hitam, plus rambut kribo. Tipikal Floresianese. Tapi jangan ragukan kemampuannya, ia begitu terampil mengikat dan mengepak barang. Musedu bilang ia sudah bosan sekolah, maka ia ingin kerja, merantau mencari pengalaman. The fact is Lorentz adalah paman Musedu. *** enembus daratan Sumbawa Besar bukan sebuah perkara mudah. Jalan nasional tak beraspal, atau ada tapi rusak berat. Jalannya berkelok mengikuti kontur dataran yang berbukit, sesekali babi hutan dan kerbau liar bergerombol menutupi ruas jalan. Menaiki truk Lorentz sama saja dengan menaiki Llama untuk menembus Himalaya, lama, perlahan, dan remnya sering melenguh perlahan. Buzz. Dari Sumbawa Besar hingga Sape kami tempuh semalam sehari. Capek dan pegal adalah hal yang lumrah kami rasakan, karena posisi duduk yang

sama selama berjam-jam akan membuat seluruh syaraf dan persendian boring. Parahnya, dari Bima hinggal Sape, penumpang yang awalnya lima orang termasuk saya dan Nuran, bertambah empat lagi sehingga menjadi sembilan. Saya baru tahu kalo di kabin truk Fuso bisa dinaiki hingga sembilan orang, seperti muatan satu mobil L300! Crazy! Sebuah kejadian tidak mengenakkan sempat terjadi di Dompu. Saat itu menjelang subuh dan Lorentz harus memarkir truk Mata Raga-nya di sebuah pom bensin di Kari Jawa. Lorentz pun tertidur, ah kami pikir dia akan tertidur sebentar dan akan bangun pada pukul tujuh atau delapan pagi. Perkiraan saya meleset, lewat jam sembilan Lorentz masih tidur nyenyak merajai kabin. Nurani saya pun tergerak untuk membangunkannya, bagaimana tidak, kalo saya menunggui dia bangun bakal lama nih perjalanan, sedangkan saya dan Nuran memiliki limit waktu dan uang yang ketat. Peraturannya jelas; semakin lama kita diam di sebuah destinasi maka uang kita akan terbuang habis percuma.

M

Saya pun sukses membangunkan Lorentz, tetapi sekaligus saya juga sukses membangunkan macan yang sedang tidur. Lorentz marah besar, ia menggertak saya dan menunjuk-nunjuk saya. Nggak lucu nih kalo saya mati sekarang!

Saya minta bantuan Musedu untuk menemani saya. Saya gedor perlahan pintu truk Mata Raga, namun Lorentz masih belum bangun juga. Musedu bilang,”Lorentz memang raja tidur mas, dia bakal bangun siang nanti,” waduh mampus, bisa mati kering nih saya nunggu. Saya pun menggedor pintu Mata Raga semakin keras. Saya pun sukses membangunkan Lorentz, tetapi sekaligus saya juga sukses membangunkan macan yang sedang tidur. Lorentz marah besar, ia menggertak saya dan menunjuk-nunjuk saya. Nggak lucu nih kalo saya mati sekarang! Begitu pikir saya, Nuran juga sempat tegang plus bingung melihatnya. Lorentz yang mantan debt collector dengan badan besar itu bakal dengan mudah merobohkan saya. Mampus. Tapi memang Tuhan selalu menolong hambanya yang pergi backpacking, kemarahan Lorentz tidak bertahan lama. Saya pun bisa minta maaf dan kembali ngobrol dengannya. Pyuuuh. Suatu saat saya bertemu kembali dengan Lorentz di Labuan Bajo, tidak lagi sebagai penumpang dan sopir tapi sebagai seorang teman. Lorentz minta foto wajahnya yang sempat saya capture untuk dicetak, dia mau mengoleksi foto wajahnya sendiri, dan akan mengambilnya saat ia mampir ke Surabaya kelak. *** etelah berpisah dengan Lorentz, Musedu, dan truk Mata Raga, dari Sape saya dan Nuran menggunakan truk Motang Rua. Sopirnya bernama Pius, aseli Bajawa juga, orangnya ramah dan sangat informatif. Kami diberitahu rute-rute terbaik untuk menemukan pantai bagus di sepanjang Flores. Pius juga menyarankan kepada kami berdua

untuk mampir ke Ende untuk melihat kain tenun Flores yang melegenda itu. Tidak banyak yang saya rekam tentang Pius dan Motang Rua, mungkin karena perjalanan kami sangat singkat dan saya lebih memilih untuk tidur selama perjalanan. *** enumpang truk dalam sebuah perjalanan backpacking akan membawa beberapa keuntungan. Pertama, perjalanan kita akan lebih murah. Dibanding dengan menggunakan alat transportasi bis, truk menjadi pilihan yang lebih menarik bagi kaum kere seperti kami. Kedua, kita akan mendapatkan banyak cerita lokal sekaligus bisa menyelami kebiasaan daerah yang akan kita datangi. Supir truk itu butuh teman ngobrol, kalo kita bersedia mendengarkan, ia akan bercerita tentang apaaa saja, mulai dari ban bocor, debt collector, hingga politik kotor. Itu merupakan sumber inspirasi empiris untuk membuat sebuah novel bersambung. Ketiga, ini yang paling penting, kita bisa tahu di warung mana saja sopir truk biasa mangkal untuk cari makan. Tentu saja warung sopir truk itu sangat tipikal; harganya murah dan porsinya besar! Hahaha itu kan yang paling kita butuhkan selama backpacking! Salah satunya saat di pelabuhan Sape, saya dan Nuran mampir makan di sebuah warung Makassar, warungnya sederhana khas sopir, harganya juga murah meriah. Tapi jangan tanya rasanya, wuah enak sekali, Nuran membeli dua porsi nasi campur dengan ikan kerapu yang digoreng kering, dibungkus. Karena porsinya jumbo, saya dan Nuran makan sebungkus berdua, yang sebungkus kami habiskan di Sape, satu lagi kami baru makan di Labuan Bajo. []

M

S

etelah sholat, karena dekat dengan terminal, kami sempatkan untuk berfoto sejenak di depan terminal. Kami memang gila untuk berburu papan nama daerah destinasi yang kami kunjungi. “Buat diaplot di fesbuk!” begitu kata Nuran, polos, sepolos Dora the Explorer yang abis menghisap ganja psikadelia. Puas berfoto, kami pun memutuskan untuk cangkruk sejenak di rumah makan Kediri. Pemilik rumah makan ini adalah seorang tua tambun penuh tawa bernama pak Heru. Kelak kami akan menyebutnya sebagai The Old Man and The Sea, seperti judul novel terkenal karya Ernest Hemingway. Kami berdua kagum dengan pak Heru, seorang jenius lokal yang banyak akal. Dari hasil ngobrol ngalor ngidul dengan pak Heru inilah kami mendapatkan banyak wawasan. Suatu saat saya menanyakan letak kesultanan Bima, karena pernah saya baca di sebuah buku ensiklopedi kerajaan Indonesia. Tak disangka pak Heru bilang kalau letaknya tak jauh rumah makannya, hanya sekitar satu kilometer saja. Kami tambah bersyukur karena pak Heru bersedia mengantarkan kami berdua menjelajah kota Bima. Terimakasih Tuhan. *** ujuan kami adalah kompleks kerajaan Bima. Tempatnya di seberang alun-alun Bima, bangunannya megah, dan arsitekturnya tidak tampak begitu tua. Ada banyak pengaruh Eropa dalam bentuk bangunannya. Secara keseluruhan masih terlihat baik dan terawat. Istananya sangat eye catching, mungkin karena bentuknya paling besar, atau karena saat kami datang ada even pemilihan abang none Bima, sehingga

S

banyak wanita cantik yang mengalihkan perhatian kami. Hehehe. Atapnya bersilang, memiliki filosofi sabalong samalewa, sebuah filosofi yang kelihatannya populer di sepanjang jazirah Sumbawa. Arti dari sabalong samalewa sendiri adalah sama tinggi sama rata, mengajarkan sebuah sikap egalitarian. Gentengnya sirap asbes yang dipotong segi enam memanjang vertikal. Mengingatkan saya pada rumah-rumah panjang di Kalimantan.

Text and photo

Ayos Purwoaji

Kami singgah di Bima tidak terlalu lama. Truk Mata Raga yang kami tumpangi sedang bongkar muatan, jadi kami harus menunggu. Saya dan Nuran pun memutuskan jalanjalan melihat kota Bima, sekaligus cari masjid untuk sholat.

T

Pada sisi yang menghadap alun-alun terdapat sebuah balkon persegi, saya mengimajinasikan di situlah tempat Raja bertitah kepada seluruh rakyatnya yang berkumpul di alun-alun. Sangat gagah. Di antara balkon dan alun-alun terdapat dua buah tiang kapal. Mungkin ini adalah simbolisasi bahwa bangsa Bima adalah bangsa pelaut. Kalo dilihat dari bentuknya, saya taksir ini adalah bentuk tiang phinisi. Selain karena bentuknya yang identik, phinisi juga jenis kapal yang bertiang dua. Hanya sayang, sebuah tiang patah di tengah, entah mengapa tidak ada inisiatif untuk membuatnya lagi.

*** itemani seorang juru kunci, saya dan Nuran melihat-lihat bagian dalam istana yang saat ini dialihfungsikan sebagai museum sejarah kesultanan Bima. Saya selalu suka pergi ke museum, hampir setiap kota yang saya datangi jika ada kesempatan pasti saya akan mampir museumnya. Menurut saya museum Bima punya koleksi yang tidak begitu banyak, padahal setahu saya kesultanan Bima adalah kerajaan yang besar. Dari koleksinya yang sedikit itu, dibanding dengan bangunannya yang bekas istana maka museum ini terlihat kosong melompong. Tapi saya sangat menikmati tour ini.

D

berbentuk bunga lily, dan karpet merah dengan motif floral. Terlihat sangat mewah pada zamannya. Setelah berkeliling kamar, saya dan Nuran diajak menuju pojok ruangan yang terlihat gelap. Sedikit menukik ke kiri akan ada sebuah loteng tua di sebelah tiga kamar mandi yang berjajar. Juru kunci bilang jika ini adalah sebuah kamar yang diperuntukkan bagi jin yang dimiliki Raja. Sebetulnya ingin saya foto, tapi juru kunci tidak memperbolehkan saya mengambil gambar. Sebetulnya saya juga ngeri, ada perasaan yang aneh pas masuk ruangan ini. Apalagi kloset berjajar tiga yang saya lewati sangat mirip dengan setting film Saw. Heck! Dari artifak peninggalannya, kerajaan Bima adalah kerajaan yang mayoritas

penduduknya muslim. Syariat berlaku ketat di sini. Saking kuat pengaruh Islam dan Eropa sampai-sampai stempel kerajaan pun beraksara Arab dengan crown frame. Di sisinya bertuliskan Padoeka Sarie Soelthan Ibrahim Koning van Bima secara melingkar. *** agi yang membawa anak kecil, daripada merusak barang bersejarah, lebih baik tinggalkan anak Anda di luar dengan puluhan rusa berbodi cantik. Anak-anak kecil itu akan senang dan gembira, mereka akan mengimajinasikan diri seperti apa yang mereka suka: Alice in Wonderland untuk anak cewek, sedangkan yang cowok bisa mengimajinasikan diri sebagai Mowgli. []

B

Dari koleksinya yang sedikit itu, dibanding dengan bangunannya yang bekas istana maka museum ini terlihat kosong melompong. Tapi saya sangat menikmati tour ini.

Saya dan Nuran diajak berkeliling melihat kamar Raja dan keluarganya. Interior ruangannya sangat Eropa; kursi dengan motif Victorian, pendant lamp

Text

Nuran Wibisono

photo

Ayos Purwoaji

ami bertemu dengan bapak tua ini tidak sengaja. Truk yang kami tumpangi dari Sumbawa berhenti sejenak untuk bongkar barang di belakang warung ini, sembari menghabiskan waktu kami pun mengisi perut di warung langganan supir ini. Warung makan Kediri namanya. Bapak tua itu bernama pak Heru, dahulu ia juga pejalan seperti kami. Wawasannya sangat luas, kami banyak belajar hal baru dari beliau. Kami gambarkan pak Heru sebagai seorang pria tua berbadan subur dengan rambut yang mulai memutih dan menipis. Kalau berjalan dia perlahan, seakan menjaga keseimbangan agar tak jatuh. Aku melihat dia sebagai orang yang sangat menikmati hidup di masa tuanya. Senyum tak pernah hilang dari wajah bulatnya. Kalo ketawa bahkan bisa sampai ngakak, mungkin dia melihat hidup ini sebagai sebuah pentas Srimulat. Memasak adalah salah satu hobinya, pemikirannya yang out of the box menuntunnya menemukan menumenu baru yang belum pernah dibuat. *** yahdan, pak Heru adalah seorang taipan sukses di kota Bima. Bisnisnya menggurita dari pembuatan kapal kayu, hasil laut, pembangunan tower telekomunikasi, hingga tambang emas. Dia hijrah ke kota Bima sejak 34 tahun lalu. Hampir tidak ada orang di Bima yang tidak kenal beliau, kami telah membuktikannya dengan mata kepala sendiri. Beliau telah merintis banyak usaha di Bima. Pak Heru adalah tipikal pebisnis sejati, Kisah hidupnya bagaikan sebuah grafik nilai tukar rupiah, naik turun tak tentu. Pernah dalam suatu masa dia menjadi salah satu orang terkaya di Bima, tapi ia juga pernah kolaps hingga titik nadir, tersandung hobinya main judi.

K

Namun seperti layaknya ksatria manapun, tak pernah ada kata menyerah dalam hidupnya. Aku dan Ayos melihat Pak Heru sebagai seorang yang mengagumkan. Seorang jenius hasil didikan alam. Dia hanya tamatan SD, tapi dia adalah seorang ahli pembuat kapal. Dia bahkan hanya sempat mencicipi setengah hari di SMP, lalu keluar karena bosan, tapi dia sudah menjadi penambang emas yang tangguh. Malu rasanya mahasiswa seperti kami berada di depan dia. Salah satu cerita legendaris adalah ketika beliau mencarter pesawat selama sebulan untuk menerbangkan nener dalam jumlah banyak ke Surabaya dan Bali. Hal itu terjadi pada tahun 80an, dimana pesawat masih belum sebanyak sekarang. Sudah tentu biaya operasionalnya mahal sekali, mungkin setara nilai carter pesawat partai untuk menerbangkan campaign orator di masa pemilu. Tapi dalam perhitungan bisnis, biaya operasional itu seharusnya hanya sepersekian dari keuntungan yang bisa didapat. Itu berarti bisnis yang dilakukan pak Heru adalah bisnis raksasa. *** ku begitu tertarik dengan kebiasannya berkeliling. Ketertarikanku dimulai ketika dia bercerita dia pernah berpetualang ke Flores, waktu itu Flores masih belum sebagus sekarang. “Kenapa sih dulu bapak suka berpetualang?” tanyaku. Aku juga masih selalu mencari jawaban yang pas tentang kenapa aku mencintai backpacking. Pertanyaan ini ibarat pertanyaan klasik, tak akan pernah hilang. Pak Heru menjawab dengan pasti, ia mengatakan bahwa ia berpetualang di masa mudanya untuk mencari wawasan baru dari setiap daerah yang dikunjungi. Ini merupakan modal besarnya untuk membangun

Ernest Hemingway pernah menulis sebuah novel yang sangat terkenal, judulnya The Old Man and The Sea. Julukan itu kami sematkan untuk pak Heru, sebuah pria tua tambun pengelola warung makan Kediri di kota Bima. Bagi kami berdua, pak Heru adalah seorang inspiring person. Ia adalah seorang lelaki pembuat kapal yang menolak tua.

S

A

bisnis. Dia lalu kembali bercerita dengan antusias. Bagaimana dia dulu bisa menjadi juragan kapal. Memiliki banyak anak buah para pelaut Bugis yang gagah berani, dan segala macam warna-warni kehidupan yang menurutku sangat gagah. Setelah mengunjungi kawasan Kesultanan Bima, pak Heru mengajak kami untuk melihat galangan kapal miliknya. Pria yang menolak tua itu terlihat sangat gagah berdiri di depan kapal-kapal yang ia desain. Ada satu hal yang paling saya kagumi dari pria ini, quotation-nya tidak akan pernah saya lupakan; “Punya banyak wawasan itu penting. Para petualang yang bisa banyak hal, punya wawasan yang luas mungkin sulit untuk hidup kaya raya. Tapi dia tak akan pernah hidup kesusahan” dia berkata itu sembari tersenyum. Deg. Jantungku serasa berhenti, jawaban pria tua ini sangat inspiratif. *** ria tua gundul ini ternyata juga usil luar biasa. Ia membuat sebuah minuman berwarna cokelat gelap. Ia menyuruh Ayos meminumnya, katanya “coba saja, enak kok”. Setelah minum, muka Ayos yang mesum berubah jadi pucat tapi tetap mesum. Minuman itu ternyata seduhan kayu songga, lebih pahit dari brotowali dan pare. Istri Pak Heru menyebut seduhan kayu songga adalah jamu setan karena pahitnya nggak ketulungan. Ayos bilang pahitnya nggak ilang-ilang, meski sudah minum es teh manis sekalipun. Pak Heru hanya tertawa terbahak, seluruh tubuhnya bergetar, matanya yang sipit sudah tidak kelihatan lagi. Sekali tertawa, akan sangat sulit bagi Pak Heru untuk berhenti. Mengingatkan aku pada seniman besar yang baru saja pergi, Mbah Surip. []

P

Everything about him was old Except his eyes And they were the same color as the sea And were cheerful And undefeated
Ernest Hemmingway, The Old Man and the Sea

Text and photo

Ayos Purwoaji

Sebagai salah satu kandidat kuat The New Seven Wonders of Nature, Taman Nasional Komodo memang menjadi pusat perhartian dan pemberitaan di media masa. Setiap hari saya lihat berita tentang Komodo. Saya pun cukup bangga dan sudah memberikan voting untuk Komodo. Tapi pemberitaan media yang luar biasa tentang kehidupan satwa liar Komodo tidak berimbang dengan pemberitaan suku asli yang mendiami pulau Komodo dan pulau Rinca. Meski mereka berada di Kabupaten Manggarai Barat, mereka tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai suku Manggarai, mereka lebih bangga disebut sebagai suku Komodo.

S

elama di Pulau Komodo, saya dan Nuran memang menginap di desa Komodo. Desa ini merupakan tempat tinggal bagi suku Komodo. Kami tinggal di rumah pak Kasim, yang sebelumnya secara ajaib kami bertemu saat menunggu kapal kecil di Labuan Bajo. Tidak ada satupun homestay atau hostel di pulau Komodo. Jika ingin menginap, Anda harus bermalam di resor sekitar Taman Nasional dengan harga selangit, atau menemukan penduduk dengan rumah yang bisa ditinggali dengan harga nego. Jalan tengahnya Anda bisa mencari losmen murah yang tersebar di segala penjuru Labuan Bajo. Pak Kasim yang rumahnya kami tinggali adalah seorang guru SD. Dia adalah salah satu generasi pertama suku Komodo yang bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Orangnya tinggi dan berkumis lebat, santun dan bahasanya tertata apik. Mirip sekali sama guru saya dan Nuran ketika SD, namanya pak Kholik. Pak Kasim adalah seorang terpandang di desa Komodo. Selain karena kapasitas keilmuannya, dia juga pendiri kelompok pengrajin souvenir di desa Komodo. Istrinya yang cheerful merupakan keturunan langsung Umpu Dajo, seorang tokoh semi-mitikal-semihistorikal yang menjadi cikal bakal keberadaan suku Komodo. Mereka berdua dikaruniai dua anak, cewek dan cowok. Anak pak Kasim yang cewek sedang merantau ke Bima untuk melanjutkan sekolah menengah keatas. ***

atapnya bersilang khas Bima dengan filosofi sabalong samalewa. Modifikasi lainnya, mereka memanfaatkan bagian bawah rumah panggung mereka sebagai domestic room, seperti dapur, kamar mandi, dan pawon. Ada juga di beberapa rumah yang mejadikan rangan di bawah panggungnya sebagai playground bagi anak-anak atau tempat mengaso. Tampak pula beberapa rumah yang agak modern menambahkan tangga spiral dari semen yang tidak di cat, mengingatkan saya pada bentukbentuk rumah bergaya Mediteranian. Secara umum pemandangan di desa Komodo memang indah: lautnya yang jernih, bebukitan dengan rumput halus, dan kapal-kapal cumi yang unik. Tapi yang paling tidak bisa saya lupakan adalah sunsetnya, sangat indah! Apalagi jika Anda berkunjung saat bulan purnama di musim kemarau, sunsetnya seperti surga. Ajaib dan luar biasa. Alhamdulillah saya kesana pada saat yang tepat. Saya sudah mengunjungi banyak tempat yang menawarkan sunset, tapi saya pikir di pulau Komodo yang terhebat. Saya belum pernah lihat yang seindah itu sebelumnya. Bodohnya, saat itu baterai kamera saya habis. Tuhan memang ingin saya berhenti sejenak dari memotret, Dia ingin saya diam dan bertasbih mengaggumi ciptaannya yang indah di dermaga desa Komodo. Pekerjaan masyarakat Komodo tidak begitu beragam, sebagian dari mereka bekerja sebagai nelayan, sebagian lagi sebagai pengrajin, sebagian lagi bekerja sebagai penjual souvenir. Nelayan adalah profesi orang-orang tua yang membosankan, sejak Komodo dijadikan sebagai sebuah destinasi wisata yang prestise banyak masyarakat yang beralih jadi pengrajin, mereka bisa dapat dolar tanpa harus berbau amis.

K

ehidupan masyarakat Komodo tidak jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat pesisir lainnya. Bentuk rumah mereka adalah rumah panggung khas Bugis namun

Mereka memiliki adat dan bahasa yang sama sekali otentik yang dipakai tidak lebih dari duaribu orang suku Komodo. Jadi bisa disimpulkan bahwa adat dan bahasa Komodo ini juga sangat langka dan harus dijaga dari kepunahan. Jika duaribu suku Komodo punah maka bahasa Komodo pun juga akan punah

milik nenek moyang mereka. Pak Kasim juga mengatakan bahwa selama ini tidak ada peneliti lokal yang dating untuk mendokumentasikan kehidupan suku Komodo, apalagi tingkat pendidikan masyarakat Komodo yang minim juga tidak bisa diharapkan untuk menyelamatkan ratusan folklore dan kebudayaan Komodo dari kepunahan. *** ewan Komodo (Varanus komodoensis) menempati tempat yang sangat penting dalam kehidupan suku Komodo. Menurut kepercayaan mereka, suku Komodo dan hewan Komodo lahir dari rahim seorang ibu yang sama. Anak lelaki yang berwujud manusia diberi nama Gerong dan anak perempuan yang berbentuk komodo diberi nama Orah. Hingga saat ini masyarakat desa Komodo menyebut komodo dengan sebutan Orah. Suku Komodo percaya bahwa bahasa mereka adalah satu-satunya bahasa yang bisa dimengerti oleh hewan purba yang muncul pertama kali sejak zaman Tertiarum tersebut, makanya ranger yang ada di Taman Nasional Komodo adalah orang asli Komodo. Sayangnya kami tidak bisa bertemu langsung dengan hewan komodo, saat itu musim kawin, komodo bersembunyi dan menjadi lebih agresif. Kalau nekat mau pilih adventure trip menyusuri Pulau Komodo saya sih bisa menemukannya, tapi maaf, saya tidak ingin kehilangan masa muda akibat dicium komodo cewek yang kebelet pengen kawin… []

H

Suku Komodo percaya bahwa bahasa mereka adalah satu-satunya bahasa yang bisa dimengerti oleh hewan purba yang muncul pertama kali sejak zaman Tertiarum tersebut

Sedangkan generasi muda yang rada malas memegang pahat mereka lebih suka menjadi penjual souvenir, lebih gaya dengan bahasa Inggris seadanya. Secara fisik masyarakat Komodo berkulit cerah, sangat berbeda dari masyarakat Flores yang rata-rata berkulit gelap. Struktur masyarakatnya terdiri dari suku Komodo sebagai mayoritas, sisanya adalah peranakan Bugis atau Bima. Menurut sejarahnya, dahulu suku Komodo masuk dalam wilayah teritori Kerajaan Bima.

Suku Komodo memang indigenous, mereka tidak sama dengan suku Manggarai atau suku Bima. Mereka memiliki adat dan bahasa yang sama sekali otentik yang dipakai tidak lebih dari duaribu orang suku Komodo. Jadi bisa disimpulkan bahwa adat dan bahasa Komodo ini juga sangat langka dan harus dijaga dari kepunahan. Jika duaribu suku Komodo punah maka bahasa Komodo pun juga akan punah. Tanda-tanda kepunahan itu semakin terasa, banyak generasi muda Komodo tidak mengerti praktik kebudayaan purba

When morning time I stare the moonlight I miss the place where I grow up When the bird singing it’s hard to say goodbye I’m sorry never gave the answer And you’re waiting on the line Because you know I am alone long way from home (Komunal, Higher Than Mountain)

aat kapal feri dari Sape merapat, kami mulai melihat kemegahan Labuan Bajo. Jujur saja ini jauh dari bayangan kami selama ini, Flores tak sesepi yang kami bayangkan. Labuan Bajo sedang bersolek, sedang bersiap menyambut para tamu yang membanjiri kota kecil ini. Semenjak Pulau Komodo menjadi salah satu nominasi dari 7 Wonders of Nature, keran pariwisata terbuka semakin lebar. Turis mancanegara pun masuk makin banyak, seperti air bah. Kami menaksir, lima hingga sepuluh tahun lagi Labuan Bajo akan seramai Poppies Lane II, Kuta. Banyak artshop yang menjajakan berbagai souvenir seperti kain tenun Ende dan patung komodo berbagai ukuran. Selain itu juga berjajar counter diving dan travel yang akan membantu Anda mengeksplorasi keindahan Flores dan kepulauannya yang superb. Untuk makanan jangan ragu, banyak resto padang dan sate madura yang berjajar. Jika melihat Labuan Bajo dari jauh, maka Anda akan mengira seperti berada di Marrakesh, sebuah kota pelabuhan eksotik di Afrika. Picture this: rumah bertumpuk berjajar memenuhi bukitbukit, di depannya ada sebuah dermaga besar penuh kapal dan pesiar, semua bertumpuk di sebuah teluk kecil cantik dengan lanskap yang anggun. Aih, sejak awal saya sudah terpesona oleh kota pelabuhan ini. Penduduknya heterogen, kebanyakan Floresianese yang ramah. Pelabuhannya terbagi dua, satu untuk kapal kecil dan perikanan. Satunya adalah dermaga besar untuk feri dan tilong.

S

Text

Nuran Wibisono Photo Ayos Purwoaji

B

*** elum selesai shock kami dengan bersoleknya Labuan Bajo, kami harus tertawa dalam kegetiran.

Sebuah takdir membawa kami masuk ke dalam hostel neraka, namanya losmen Gembira. Aku yang tak pernah mempermasalahkan buruknya kondisi penginapan, menjadi tertawa sekaligus gregetan dengan kondisi losmen dan pelayanan yang tak mencerminkan keramahan khas orang Flores.Lima puluh ribu yang kami keluarkan terbakar percuma seiring kutukan kami yang terus menerus keluar karena kondisi losmen yang nggilani. Suatu saat kami ditanya oleh seorang pemuda bernama Maradona yang aseli pulau Komodo,”Di Labuan Bajo nginep dimana mas?” Saat kami menyebut nama losmen sialan itu Maradona tertawa, dia menyebut Losmen Gembira adalah losmen terburuk se-Indonesia Raya, merdeka! Tapi jangan khawatir, masih banyak hostel murah tapi tidak murahan di Labuan Bajo. Diantaranya ada Losmen Rasa Sayange dan Losmen 21 yang kami rekomendasikan. Kedua losmen itu memiliki derajat kemanusiaan yang jauh lebih tinggi daripada derajat Losmen Gembira yang sudah bisa dimasukkan sebagai penyiksaan dan pelanggaran HAM kelas dunia. Pemilik losmen neraka ini seharusnya sudah diadili di

mahkamah internasional seperti Slobodan Milosevic. Kami juga memulai petualangan kami menuju Pulau Komodo dari sini, naik kapal penduduk pulau Komodo yang berangkat dari pelabuhan ikan. Harga yang kami tebus hanya IDR 20.000 per orang, bandingkan jika saya ikut travel yang sekali jalan seharga tujuhratus ribu hingga satujuta lebih. Kami sangat menikmati perjalanan kami yang bertabur tawa dan kekaguman. Tak salah memang kalau ada pendapat bahwa Indonesia is dangerously beautiful. Pulau Komodo dan para penduduk desa Komodo akan selalu mendapat tempat dalam hati para petualang. Mereka ramah dan sangat baik kepada kami. *** i Labuan Bajo pula titik kulminasi itu tiba. Setelah hampir tiga minggu menempuh perjalanan tanpa berhenti dan melewati banyak tempat, kami memiliki firasat yang sama bahwa perjalanan kami sudah mencapai puncaknya, dan harus segera diakhiri. Di teras masjid pelabuhan Labuan Bajo, Ayos mendaratkan isyarat untuk segera

D

pulang, “Jancuk, aku pengen cepet mulih nang Suroboyo,” ujar Ayos menjelang sholat maghrib. Aku bertanya kenapa,“Yo kangen ae ambek Suroboyo. Kangen ambek Winda pisan” sahutnya jujur. Yah, di balik kacamata tebal si Ayos , pada matanya aku bisa melihat ada perasaan kangen pada sang pacar. Aku juga kangen Jember waktu itu. Kangen siang-siang ngopi dengan para teman SMA atau anak-anak Tegalboto. Aih, melankolia. Ini yang bikin para petualang jadi gamang. Perasaan rindu rumah dan keluarga. Apa ini yang selalu dirasakan Lucky Luke ketika berada di akhir cerita? Ketika dia menunggangi

Jolly Jumper,berjalan menuju matahari tenggelam dan bernyanyi dengan lirih; I’m a poor lonesome cowboy. Mungkin memang saatnya petualangan ini harus berakhir sampai disini. Labuan Bajo juga menyadarkan kami akan hangatnya rumah. Dan perasaan itu adalah perasaan yang wajar. Esok paginya aku dan Ayos meninggalkan Labuan Bajo dengan diiringi lagu dari Komunal. Terdengar begitu bingar hingga telinga kami berdengung []

Kisah senang dan susah selalu mewarnai sebuah perjalanan. Itu juga berlaku bagi kami, meski perjalanan kali ini terasa menyenangkan, namun ada beberapa detail kisah susah yang kami hadapi. Kami pilihkan empat kejadian terburuk yang membuat kami terlihat begitu konyol dan bodoh. Saat mengingat lagi empat kejadian ini maka batin kami akan berteriak -shit- dan kami akan menyesal mengapa kami pernah dilahirkan. Pesan kami, selalu bersiaplah jiwa dan raga terhadap segala sesuatu yang akan kalian hadapi nanti.
Text

Nuran Wibisono Image Google and Ayos Purwoaji

worst hostel

LOSMEN GEMBIRA

osmen bedebah ini terletak di daerah Labuan Bajo, Flores. Menginap disana adalah suatu bencana paling parah yang kami alami sepanjang hidup kami. Harga losmen memang murah, hanya 25 ribu per orang/ malam. Tapi begitu anda check in, welcome to the jungle! Lantai berdebu, tampak tak pernah dibersihkan. Begitu anda masuk kamar, anda akan menemukan ruangan seperti kamar gas nan angker, cocok untuk melakukan holocaust. Kamarnya sempit dengan kasur sangat berdebu, banyak tikus, ranjang berderit – sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan ML karena ranjangnya pasti akan menimbulkan bunyi yang sangat berisik. Aku terjatuh karena ranjangku roboh hanya garagara aku menggeliat. Pergi ke kamar mandi di lantai bawah adalah horror dan terror baru. Saya yang tidak pernah merasa jijik atas kondisi apapun sempat merasa sedikit jijik. Mendingan tak usah saya gambarkan keadaan kamar mandinya daripada anda pingsan di depan komputer. Oh ya, siapkan gerinda untuk menggilas muka sang pemilik yang ketus. So, how “GEMBIRA” are you?

L

worst entertainment

NAFA URBACH

usibah mengenaskan ini terjadi ketika kami masuk ke dalam kapal feri untuk menyebrang dari Lombok menuju Sumbawa. Suasana dan interior kapal sangat menyenangkan, membuat saya berpikir untuk tidur sejenak. Namun rencana tidur itu berantakan, setelah juru video kapal yang selera musiknya pasti lebih buruk daripada Arman Dhani Bustomi (padahal Dhani adalah salah satu pria dengan selera musik terburuk yang pernah aku kenal) menyetel sebuah kaset VCD yang berisi kumpulan video klip tahun 90an milik Nafa Urbach. Tuhan tolong kami! Kalau saja bunuh diri itu tidak haram, sudah pasti saya akan bunuh diri dengan melompat dari kapal ketimbang harus mendengarkan si Nafa Urbach bernyanyi! Suaranya sangat annoying. Satu lagi yang bikin lebih merusak otak dan hati adalah ketika mengetahui lagu-lagu yang dinyanyikan adalah ciptaan Deddy Dores. ku terakhir pergi ke Bedugul ketika masih kelas 3 SD. Sedangkan Ayos malah belum pernah sama sekali. Karena itulah kami pergi menempuh ratusan kilometer untuk pergi ke Bedugul. Kami begitu terpesona oleh pemandangan pura di tengah danau yang legendaris itu. Kesalahan kami adalah masuk ke Bedugul Water Sport. Kenapa? Karena pemandangan disana melulu deretan jet sky, perahu motor, orang mancing, dan anak-anak muda labil-penganut rambut miring-memakai celana pensil-dengan boxer terlihat-yang-ingin-mencarigebetan. Bahkan pemandangan di danau ini tidak jauh lebih baik ketimbang pemandangan di Telaga Sarangan. Yang paling bikin kami merutuk adalah kami harus membayar 17 ribu rupiah untuk masuk ke danau kacangan ini. Crap!

M

worst transportation

LANGSUNG INDAH

alam bis inilah aku mendapatkan kesengsaraan hidup yang tak tertanggungkan perihnya. Picture this: aku adalah tipe orang yang tak tahan dengan kendaraan ber-AC. Sedangkan bis ini adalah tipe bis eksekutif dengan AC menyala garang bak angin topan. Karena hanya membayar 50 ribu (dari tarif normal 125 ribu), kami pun didiskriminasikan, disuruh duduk lesehan diatas tikar, yang diapit oleh pintu belakang dan toilet. Sang supir bis adalah orang yang terobsesi menjadi pembalap NASCAR tapi gagal memenuhi ambisinya. Jadi dia melampiaskan nafsunya dengan menyupiri bisnya dengan ugal-ugalan. Padahal kondisi jalan dari Bima - Poto Tano penuh lubang dan bergelombang. Mampus! Itu adalah malam terpanjang dalam hidupku. Aku pergi ke toilet hingga 4 kali. Ya, aku muntah sebanyak 4 kali malam itu.

D

A

worst destination

DANAU BEDUGUL

Nasi Jinggo (Bali)
Nasi paling nikmat dan murah meriah yang ada di seluruh Bali. Ini adalah menu wajib kaum backpacker yang mendamba makanan murah. Nasi ini dibungkus dengan daun pisang, lauknya ada suwiran daging ayam atau cacahan daging sapi, sambal goreng kentang tempe, sejumput mie goreng, tumis kacang panjang dan sedikit sambal. Penjual nasi ini banyak ditemukan di daerah PB Sudirman atau di sepanjang jalan Sesetan, Denpasar Bali.

Plecing Kangkung (Lombok)
Makanan ini sudah jamak ditemui dimana-mana, tapi Plecing yang kami makan di Desa Darek ini benar-benar merubah hidup kami. Kangkungnya segar dan crispy disiram dengan bumbu plecing yang merah menyala. Bercitarasa pedas namun menyegarkan. Bukannya berhenti karena kepedasan, yang ada adalah anda akan kembali menyendok plecing ini, lagi, lagi dan lagi, walau mulut anda sudah mengecap-ngecap karena kepanasan dan kepedasan!

Sianata (Sumbawa)
Ia bukan temannya Hiawatta. Sianata adalah sambal khas orang Bima, terutama yang tinggal di daerah pesisir. Sambal ini unik, hanya perlu 2 bahan saja, garam dan cabe rawit. Cara membuatnya pun sangat gampang. Tinggal campur garam dengan cabe rawit, lalu di haluskan. Rasanya? Jelas percampuran asin dan pedas. Namun mungkin karena hanya ada 2 bahan saja, pedasnya jauh lebih nampol! IDR -

IDR 2.500 Bubur Bali Pasar Ubud (Bali)
Text Nuran Wibisono Photo Ayos Purwoaji

IDR 3.000
Bubur ini kami tahu dari sebuah review pada sebuah buku tentang kuliner murah di Bali. Menurut kami rasanya lumayan, gurih namun rada spicy, sebuah citarasa khas Bali yang penuh rempah. Warnanya sedikit kehijauan karena efek dari bayam yang dicampurkan. Tambah nikmat jika dimakan panas dengan kacang kedelai. Porsinya sangat pas untuk sarapan sebagai bekal berkeliling Ubud.

Kue Kompyang (Flores)
Kue ini merupakan kue khas Flores. Bentuknya unik, bulat, kecil, seperti bakpau. Bedanya adalah kue kompyang berwarna coklat, keras, serta ada taburan wijen diatasnya. Paling enak dimakan hangat bareng selai, atau saus pedas, atau dengan susu, terserah anda saja. Saranku, setelah membeli, simpan kue ini ke dalam freezer. Ketika kalian mau memakannya, keluakan, lalu iris tipis di bagian atas, setelah itu baru digoreng lagi. Kue ini memang lebih enak dimakan hangat. IDR 500

Puteri Tenggelam (Lombok)
Puteri Tenggelam adalah nama makanan ringan khas Lombok. Secara visual jajanan ini mirip dengan cimol, jajanan khas Bandung yang berbentuk kecil bulat dan berwarna putih. Bedanya, kalau cimol bercitarasa pedas, Puteri Tenggelam ini berasa manis. Jajanan ini terbuat dari tepung beras. Didalamnya ada potongan pisang. Jajanan ini bertambah lengkap ketika ditaburi parutan kelapa lalu disiram oleh saus gula merah yang legit. Ketika dimakan, tekstur kue yang lembut bercampur dengan tekstur pisang yang sedikit kenyal namun manis, masih dicampur oleh gurihnya parutan kelapa.

Aneka Masakan Hiu (Bali)
kalau kalian bosan makan ikan yang biasa, kalian harus mencoba daging ikan hiu. Pergilah ke daerah Jimbaran. Ada sebuah warung yang nyaman bernama Warung Hiu Bakar Pak Item. Letaknya pas di kiri jalan setelah gapura Universitas Udayana. Jangan bayangkan hiu disajikan dengan apa adanya dan tidak berkelas. Aku mencoba masakan hiu ini bersama Ayos dan Budi. Hiu bakar adalah daging hiu yang juga dipotong fillet namun berbentuk memanjang. Dibakar dengan menggunakan bumbu merah khas Bali yang segar. Masakan ini disajikan dengan plecing kangkung dan 3 jenis sambal yang biasa dipakai untuk masakan ayam betutu. Selain hiu bakar, ada pula varian lain seperti hiu fish N chips, hiu pedas saus tiram, sop sirip hiu.

IDR 2.000 Nasi Tempong (Banyuwangi)
Makanan khas Banyuwangi ini sangat cocok untuk membuat Anda menangis semalaman. Sambalnya yang pedas di luar nalar paling pas memang ditemani teh panas, lidah Anda pun akan terbakar kuadrat! Nasi ini memang didesain untuk menampar lidah, namanya saja nasi tempong yang berarti nasi tampar. Mudah ditemui di daerah pinggir kota Banyuwangi, tanya saja warga lokal agar tak tersesat.

Warung Makan Kediri (Bima)
Ini sih bukan meal, tapi tempatnya yang enak. Bagi para pejalan, Anda akan mendapatkan banyak fasilitas gratis! Charge hape, mandi, sholat, silahkan semaunya. Harganya juga tidak bakal membunuhmu. Makanannya kebanyakan adalah makanan Jawa, jadi buat Anda yang datang dari Jawa akan feels like home. Ini juga penawar bagi Anda, karena kebanyakan citarasa orang Bima adalah masakan yang asam. Jika tidak terbiasa Anda akan shock. Silahkan mampir karena tempatnya hanya sekitar limaratus meter dari terminal Bima.

IDR 3.000 Es Degan Pomatas (Sumbawa)
Cuaca Sumbawa yang kering dan berdebu adalah siksaan tersendiri bagi kerongkongan Anda. Es degan paling enak kami temui sepanjang perjalanan ada di dekat pom bensin Pomatas, Sumbawa Besar. Rumusnya: degan dicampur susu kental manis ditambah air jeruk nipis. Rasanya suueggeer! Teksturnya unik.

IDR 3.500

IDR 17.000

IDR 2.500

ami meyakini, lagu dapat membawa semangat tersendiri dalam perjalanan kami. Seringkali aku mendendangkan Free Bird dari Lynyrd Skynyrd ketika sedang berjalan menyusuri aspal berdebu. Tak terhitung pula berapa kali Ayos berdendang sumbang Sunrise dari si cantik Norah Jones ketika melihat sunset maupun sunrise yang indah. Inilah beberapa lagu yang menjadi teman perjalanan kami. Silahkan cari dan download, siapa tahu bisa menjadi teman Anda dalam perjalanan. [] 1. Lynyrd Skynyrd – Free Bird 2. Komunal – Higher Than Mountain II 3. Imanez – Anak Pantai 4. The Doors – Roadhouse Blues 5. Gugun and the Bluesbug – Spinnin’ Around Me 6. Efek Rumah Kaca – Balerina 7. The S.I.G.I.T – Clove Doper 8. Deep Purple – Highway Star 9. Steppenwolf – Born To Be Wild 10. John Mayer – 3X5 11. Jefferson Airplane – Volunteer 12. Wonderbra – Indie V 13. Norah Jones – Sunrise 14. Sting – Englishman In New York 15. Superman Is Dead – Kuta Rock City 16. AC/DC – It’s a Long Way to the Top 17. Ozzy Osbourne – Crazy Train 18. Float - Pulang 19. Seringai – Serigala Militia 20. The Doors – The End

K

Text

Nuran Wibisono Image Google

You should have seen that sunrise with your own eyes it brought me back to life You'll be with me next time I go outside No more 3x5's (John Mayer, 3x5)

If i leave here tomorrow Would you still remember me For i must be traveling on now Coz there are too many places i've got to see (Lynyrd Skynrd, Free Bird)

Keluarga Subakta, Sayan, Bali Keluarga Aminah, Darek, Lombok Keluarga Syukur, Moyo, Sumbawa Keluarga Kasim, Komodo, Manggarai Barat Keluarga Ririn, Mataram, Lombok Keluarga Wiwin, Tabanan, Bali Bli Neker dan Bli Putu Lalu Rafli dan anak-anak desa Darek Pak Fredrik Non, Kasospol KPPP Poto Tano, Sumbawa Barat Ibu Itun, ibu Awi, dan ibu Rasmini, Amanwana Bang Midun dan Bang Efendi, KM Monalisa Bang Denis dan Bang Suprianto, Terminal Sumbawa Lorentz, Musedu, Andreas, truk Mata Raga Om Pius, truk Motang Rua Pak Heru RM Kediri, Bima Pak Supardi, Labuan Bajo Dona, Muchdar, dan anak-anak desa Komodo Pak Vinsentius Latif, TNK Ery Satriawan, Mataram, Lombok Nur Fahmi, Hega’s Wana Jember Arif Budiarto, Denpasar, Bali Yoga dan Gusman ISI Bali

Ayos Purwoaji
Mulai jatuh cinta dengan backpacking sejak membaca komik Tintin. Ayos adalah penganut ajaran sesat "never having sex before married". Pria berkacamata dengan muka mesum ini adalah pemuja jazz yang sesekali diiringi dengan dendang dangdut dari OM Pantura, orkes melayu yang ia temui di perjalanan Banyuwangi-Bali. Saat ini dia berusaha keras untuk niat kuliah setelah semester sebelumnya dia sibuk mengejar seorang cewek priyayi cantik. hifatlobrain.blogspot.com

Nuran Wibisono
Memulai backpacking sejak SMP setelah membaca novel Gola Gong yang berjudul Balada si Roy. Nuran menganut filosofi: jika kau menikah, maka kehidupanmu sebagai lelaki berakhir sudah. Bagi Nuran, jika kuliah seenak traveling maka ia akan lulus cepat dengan predikat summa cumlaude. Selain flirting, saat ini aktivitas lain Nuran yang cukup membanggakan adalah menjadi kontributor untuk sebuah situs lifestyle ternama.

nurannuran.wordpress.com