Anda di halaman 1dari 24

SISTEM SARAF(lanjut) – NYERI

Sri Kadarsih Soejono


Bagian Ilmu Faal
 Ada suatu bangunan (synaptic cleft) diantara
presinap dan possinap yang untuk meneruskan
impuls perlu substansia kimia yang dinamakan
neurotransmiter.
 Pada membran possinap terdapat reseptor untuk
mengikat transmiter tersebut, biasanya
merupakan penebalan dan dinamakan
postsynaptic density.
 Reseptor-reseptor tersebut akan mengadakan
ikatan dengan protein, suatu enzim, akibat efek
possinap.
Gambar 1.
 Di dalam terminal presinaps bersiskan
mitakondria, banyak juga membran yang
membuat bentukan vesikel yang berisikan
neurotransmiter. Ada beberapa macam
vesikel
 vesikel jernih berisikan: asetil kolin, GABA,
glutamat
 vesikel dengan tengah pekat: katekolamin
 vesikel besar dengan tengah pekat: neuropeptida
 Apparatus Golgi mensintesis protein
 Ion Ca adalah merupakan kunci untuk
vesikel sinap berfusi dengan membran
presinaps yang akan menghasilkan
potesial aksi.
 Dengan adanya potesial aksi terbuka
kanal ion Ca dan sebagai akibat
merangsang pelepasan isi vesikel
tersebut, kemudian menjadi satu dengan
membran sel kembali, hal ini terjadi di
semua sel.
Gambar 2.
 Dalam klinik, sesuai dengan kerja toksin yang
mematikan yang menghambat (blok) lepasnya
neurotransmiter, Zn-endopeptidase, yang me-
inaktivasi protein dalam fusi-eksositosis.

 Demikian juga dengan toksin tetanus yang


menyebabkan paralisis spastik akibat blok
lepasnya transmiter presinaps di susunan saraf
pusat, dan toksin botulinum yang memblok
lepasnya asetil kolin pada neuromuscular
junction dan terjadi paralisis.
 Walaupun demikian ada hal positifnya,
dengan injeksi dosis kecil secara lokal
toksin botulinum akan efektif dalam
pengobatan pada hiperaktif otot skelet.
Gambar 3
 Banyak neuron-neuron presinaps yang
berbentuk konvergens pada satu neuron
possinaps
 Ada pula axon presinaps yang bercabang (dapat
banyak) dan berakhir pada beberapa neuron
possinaps, suatu bentuk divergens.
 Pada suatu percobaan stimuli tunggal saraf
sensoris tidak menyebabkan terjadinya potensial
aksi neuron possinaps, malah rangsang tadi
menghasilkan potensial secara transien parsial
depolarisasi atau transien hiperpolarisasi
 Mediator berada di serabut presinaps dan
tidak di membran possinaps , sehingga
impuls sampai di membran possinaps
tidak dapat melepas mediator sinaps.
 Impuls hanya jalan jika potensial aksi
sampai di terminal presinaps dan hal ini
merangsang sekresi transmiter.
 Jawaban inisial depolarisasi dengan
stimulus tunggal dengan besar yang
sesuai mulai 0.5 ms setelah impuls aferen
masuk ke spinal cord. Akan mencapai
puncak 1-1.5 ms dan kemudian menurun
tidak terjal.
 Excitatory PostSynaptic Potensial
(EPSP): Selama terjadi poteasial diatas
tersebut, eksitabilitas neuron terhadap
stimuli lainnya akan meningkat.
 EPSP dihasilkan akibat depolarisasi
membran sel possinaps segera karena
rangsangan akhiran presinaps.
 EPSP akibat aktivitas di sinaps adalah
kecil, tetapi akan terjadi penjumlahan
depolarisasi hasil tiap sinaps yang aktif
Penjumlahan ini dapat spasial dan dapat
temporal
 Jika aktivitas berada di beberapa sinaps
dalam waktu bersamaan , terjadi
penjumlahan = sumasi spasial. Aktivitas di
satu sinaps fasilitasi aktivitas yang lain
untuk dapat terjadi firing level
 Penjumlahan = sumasi temporal terjadi
jika stimula berulang di aferen sehingga
timbul EPSP baru sebelum EPSP
terhambat.Makin lama waktu untuk EPSP
makin besar kemungkinan untuk sumasi
 EPSP tidak mengikuti hukum semua atau
samasekali tidak (all-or-none)
Gambar 4.
NYERI:
Ada gunanya merupakan mekanisme proteksi badan
Terjadi akibat kerusakan jaringan, timbul rasa sakit, walau
rasang sangat kecil .
Kulit iskemia , rasa sakit dan dapat pingsang
Rasa sakit : - cepat 0.1 detik
- lambat 1 detik sampai 1 menit
Cepat : benda tajam, menyengat dan mendadak
Listrik, jarum , kulit teriris
Terbakar
Tidak perlu masuk ke dalam jaringan sampai dalam
Mekanik dan termal
Lambat: sakit, nausea, sakit kronis, kerusakan jaringan.
Mekanik, termal. Dan kimiawi
 Reseptor sakit: akhiran saraf bebas, tersebar di
seluruh permukaan kulit
Di jaringan tertentu: di dalam: periosteum,
dinding pembuluh darah, permukaan artikulasio.

 Rangsangan dapat: mekanik, termal dan kimiawi


Kimiawi: disuntikkan dibawah kulit (bradikinin,
ion K, dan enzim proteolitik)

 Jika reseptor lebih sensitif, dinamakan


hiperalgesia.

 Termal yang menyebabkan nyeri = 45oC ,


sebanding dengan kerusakan jaringan.
 Reseptor sakit tidak seperti reseptor yang lain:
Adaptasi : sangat kecil/ tidak ada sama sekali,
dalam kondisi tertentu eksitasi menjadi bertambah
besar
Rangsang berjalan terus , jaringan rusak.

 Jaringan iskemia , sakit sekali. Aliran darah


tersumbat sakit beberapa menit. Metabolisme
bertambah merasa makin sakit.

 Sakit akibat akumulasi asam laktat di jaringan


 Kejang otot merasa sangat sakit, sindroma
sakit
Reseptor sakit, mekanosensitif (langsung)
Rusak pembuluh darah iskemia (tidak
langsung)
 Dual transmisi signal sakit menuju ke SSP:
 fast, sharp pain pathway
 slow ,chronic pathway
 Dual, cepat jalan dulu, memberitahu sakit,
kemudian hindari, beberapa menit sampai
otak

 Jalan sampai otak:


 traktus neospinotalamus untuk fast pain
berhenti di brain stem dan talamus
Mekanis, termal
 traktus paleospinotalamus untuk slow pain
 Pain Suppression: bervariasi untuk
menekan sakit

 Otak sendiri menahannya untuk tidak ke


sistem saraf,

 Dengan mengaktifkan sistem kontrol sakit


= sistem analgesia
 Sistem analgesia terdiri dari 3
komponen:
1. periaqaeductal dan periventrikuler di
mesensefalon dan pons ventrikel 3
dan 4 signal dari neuron-neuron
dikirim ke
2. nukleus rafe magnus di pons bawah
medula atas, Diteruskan turun ke
3. kornu dorsalis, medula spinalis
 Rangsang elektrik: dibawa ke periaqaeduct dan
nukleus rafe magnus
Dapat menekan signal sakit (kuat) pada waktu
masuk ke dorsal spinal roots

 Periaqaeduct, periventrikuler menekan sakit


tidak terlalu kuat
Neurotransmitter , supres sakit (sistem
analgesia): enkefalin Serotonin

 Nuklei periventrikuler dan periaqaeduct ke saraf


ujung-ujung mensekresikan enkefalin.
Juga rafe magnus mensekresikan enkefalin
 serabut-serabut asal dari nuklei ini dan berakhir
di kornu dorsalis medula spinalis mensekresikan
serotonin pada ujung-ujungnya

 serotonin secara setempat merangsang sekresi


enkefalin

 enkefalin : presinaps inhibisi dan possinaps


inhibisi
Pada serabut-serabut sakit A dan C dengan
sinapsnya di kornu dorsalis dengan cara
presinaps inhibisi dan blok kanal ion Ca,
Ion Ca melepas transmiter di sinaps blok
presinaps inhibisi
 Pemblok dapat kerja di sistem analgesik
mulai dengan menit sampai jam

 Sistem analgesi dapat dihambat di


permulaan masuk korda spinalis

 Sistem analgesia dapat menghambat


transmisi sakit di perjalanan di nuklei
retikuler, batang otak, dan talamus

 Sistem opiat otak: endorfin dan enkefalin