Anda di halaman 1dari 6

Menjaga Niat Ikhlas dan Baik

MENJAGA NIAT BAIK DAN IKHLAS

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN

َ َ ُ
ُ َ‫ن ل‬
‫ه‬ َ ‫صي‬ ِ ِ ‫خل‬ ْ ‫م‬
ُ ‫ه‬ َ ّ ‫مُروا إل ّ لِيَعْبُدُوا الل‬ِ ‫ما أ‬َ ‫َو‬
‫صلَة َ وَيُؤ ْتُوا‬َّ ‫موا ال‬ ُ ‫قي‬
ِ ُ ‫حنََفاءَ وَي‬
ُ ‫ن‬َ ‫الدِّي‬
ِ‫مة‬ َ ْ ‫ن ال‬
َ ِّ ‫قي‬ َ ِ ‫الَّزكَاة َ وَذَل‬
ُ ‫ك دِي‬
“Pada hal mereka tidak disuruh kecuali supaya
beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan
mereka kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan
lurus.” (Q.S. Al Bayyinah: 5)

Berniat baik dan ikhlas kepada Allah SWT,


termasuk perkara besar dan penting yang bisa
menyelamatkan manusia. Niat baik adalah amalan hati,
sedang hati adalah anggota tubuh manusia yang paling
mulia. Karena itu amalan hati sangatlah penting dan
menentukan. Dengan niat di dalam hati suatu
pekerjaan akan bernilai di hadapan Allah, dan jika
anggota tubuh berbuat sesuatu tanpa niat yang
benar, maka ia tidak berarti.

Hendaklah kita senantiasa menyimpan niat yang


Upaya Meraih Redha Allah
baik di dalam hati jika melakukan sesuatu dan
mengikhlaskannya kepada Allah SWT. Jangan
melakukan ketaatan, melainkan padanya niat untuk
mendekatkan diri, patuh kepada-Nya dan mencari
keridhaan-Nya. Apabila kita mengerjakan perkara
mubah, seperti makan, minum, dan tidur, maka
hendaklah kita niatkan untuk memelihara tubuh, agar
kuat beramal dan beribadah kepada Allah SWT,
meneguhkan taqwa dan ketaatan kepada-Nya. Dengan
niat seperti itu berarti kita telah menyertakan amal
mubah dengan amal yang wajib, sedangkan kita telah
memperoleh pahala pula, lantaran perbuatan kita
telah diikat dengan niat karena Allah SWT.

Landasan amal yang ikhlas adalah memurnikan


niat karena Allah SWT semata. Maksud niat disini
adalah pendorong kehendak manusia untuk
mewujudkan satu tujuan yang dituntutnya. Maksud
pendorong adalah penggerak kehendak manusia yang
mengarah kepada amal. Sedang tujuan pendorong
amat banyak dan beragam. Ada yang bersifat materil
dan ada pula yang bersifat spritual. Ada yang
bersifat individual dan ada pula yang bersifat sosial.
Ada yang duniawi dan ada pula yang ukhrowi. Ada
yang sederhana dan ada pula yang besar dan
berbahaya. Ada yang berkaitan dengan nafsu perut
Menjaga Niat Ikhlas dan Baik

dan ada pula yang berkaitan dengan nafsu birahi. Ada


yang berkaitan dengan kenikmatan akal dan ada pula
yang berkaitan dengan rohani. Ada yang dilarang,
mubah, dianjurkan dan ada pula yang wajib. Ikhlas
punya arti melakukan sesuatu dengan hati yang bersih
dan jujur. Ikhlas adalah suatu aktivitas yang
dilakukan tanpa pamrih duniawi.

Makna ikhlas adalah menyengajakan semua amal


ibadah, ketaatan dan ibadah semata-mata kepada
Allah SWT. Untuk mendekatkan diri dan memperoleh
keridhaan-Nya. Bukan untuk tujuan-tujuan yang
lainnya, seperti berpura-pura mengerjakan ketaatan,
menampilkan diri di hadapan orang banyak mengharap
pujian atau tamak untuk mendapatkan suatu
pemberian.

Adapun ikhlas itu sendiri, menurut Al Harwi ada


tingkatannya. Ikhlas mempunyai 3 tingkatan, yaitu :
1. Tidak memandang bahwa ia telah berbuat
sesuatu.
2. Tidak mengharap balas dan ganjaran.

3. Tidak merasa puas dengan apa yang telah


diperbuat.

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, kita akan


mendapatkan tiga tipe manusia dalam melakukan
Upaya Meraih Redha Allah
segala aktivitas dan segala amal-ibadahnya, yakni ;
mukhlis ikhlas, munafik dan riya’. Keikhlasan akan
membuahkan rahmat, kemunafikan akan membawa
laknat, sedangkan riya’ membawa amalan kepada
kesia-siaan. Keikhlasan punya misi membangun,
sedangkan kemunafikan dan riya’ jelas merusak dan
sia-sia. Karena itu, prilaku riya’ dan munafik, perlu
dihindari dan dibuang jauh-jauh. Prilaku munafik yang
destruktif itu jelas akan merusak dimanapun ia
berada. Ia akan merusak diri dan lingkungan
sosialnya. Begitu pula ornag yang riya’, amalan-
amalannya tidak akan diperolehnya sedikitpun di hari
kemudian.

Lalu bagaimana dengan ikhlas? Kata ini memang


mudah diucapkan, akan tetapi sangat sulit
direalisasikan. Untuk menjadi ikhlas dalam arti yang
sebenarnya, hati ini perlu dilatih secara konkrit.
Tentu saja rintangan pun selalu menghadang. Tapi
begitu rintangan-rintangan itu bisa dilewati, buah
keikh asan mudah diraih. Di saat semua aktivitas
yang tiada tergoda oleh rayuan duniawi dan semuanya
dilakukan hanya karena Allah.

Orang mukmin yang benar adalah jika pendorong


agama di dalam hatinya bisa mengalahkan pendorong
hawa nafsu, porsi akhirat bisa mengalahkan porsi
Menjaga Niat Ikhlas dan Baik

duniawi, mementingkan apa yang ada disisi Allah SWT


dari pada apa yang ad di sisi manusia, menjadikan
niat, perkataan dan amalnya bagi Allah semata,
menjadikan shalat, ibadah, hidup dan matinya bagi
Allah SWT, Rabb semesta alam. Inilah yang disebut
ikhlas.

Sesungguhnya Islam menolak perangkap dan


dualisme yang dibenci, yang sering kita lihat dalam
kehidupan manusia akhir zaman ini, sehingga
terkadang kita ,elihat seseorang di mesjid atau aktif
berpuasa pada bulan Ramadhan, tapi kemudian dalam
kehidupan mu’amalahnya dengan sesama, atau dalam
tindak tanduknya dia merupakan sosok manusia lain.
Ikhlaslah yang kemudian menyatukan kehidupan orang
muslim dan menjadikan semua sisinya hanya bagi Allah
SWT. Shalatnya, ibadahnya, hidupnya dan matinya,
semua bagi Allah Rabbal ‘Alamin.

Dengan hujjah iman yang nyata dan cahaya Al


Qur’an, seorang muslim sejati mengetahui bahwa
kebahagiaan tak bakal tercapai kecuali dengan ilmu,
amal dan ibadah. Hidup seseorang tiada berarti
kecuali dengan ilmu. Orang-orang yang berilmu pun
akan merugi jika tidak mengamalkannya. Dan amal
yang tidak disertai dengan landasan ikhlas karena
Upaya Meraih Redha Allah
Allah adalah gambar mati. Rag atanpa jiwa.

Menurut Iman Al Ghazali rahimahullah bahwa


dunia ini adalah kebodohan dan kematian kecuali ilmu.
Semua ilmu adalah hujjah atas pemiliknya kecuali
yang diamalkan. Semua alam akan sia-sia kecuali yang
didasari dengan ikhlas, sebagian orang juga berkata,
“”Ilmu laksana benih, amal laksana tanaman, sedang
ikhlas adalah air yang menyiraminya.” Allah A’lam
bissawab.

‫ُسسلِمِيْنَ َو‬
ْ ‫َاتس وَ الم‬
ِ ‫ْنس َو المُؤْمِن‬ َ ‫غفِ ْر ِللْمُؤْمِنِي‬
ْ ‫اللّهُم ّ ا‬
‫غفِ ْرلَنَا‬
ْ ‫ رَبّنَا ا‬.ِ‫ُمس وَ اْلَ ْموَاتس‬
ْ ‫لحْيَاءِ مِنْه‬ َ َ‫ ا‬،ِ‫ُسسلِمَات‬
ْ ‫اْلم‬
‫فيس‬
ِ ْ‫ْنس س َسَبقُوْنَا ِباْلِيـسسمَانِ وَلَ َتجْ َعل‬ َ ‫لخْوَانِنَا الّذِي‬ ِ َِ‫و‬
.ٌ‫ن آمَنُوْا رَبّنَا إِ ّنكَ َرءُوْفٌ َرحِيْم‬
َ ْ‫ُقلُوْبِنَا غِلّ ِللّذِي‬