Anda di halaman 1dari 8

‫‪Nilai-Nilai Ukhuwwah adalah Ajaran Pokok Akhlaq‬‬

‫‪Islami‬‬

‫‪Nilai – Nilai Ukhuwwah‬‬


‫”‪“Aku” dan “Kalian” adalah “Kita‬‬
‫”‪demi “Persaudaraan‬‬
‫‪Oleh; H. Masoed Abidin‬‬

‫ل‬
‫ج َع َ‬‫ت َو َ‬ ‫خ ْيرَا ِ‬
‫سمًا لِل َ‬ ‫ل ال ِع ْي َد ُم ْو ِ‬
‫ج َع َ‬‫ح ْم ُد ل الذِي َ‬ ‫ال َ‬
‫ش َه ُد‬
‫سنَاتِ‪َ .‬أ ْ‬ ‫حَ‬‫ع ال َ‬ ‫ض لِل ِعمَارَات َو َز ْر ِ‬ ‫ي الر ِ‬ ‫َلنَا مَا ف ِ‬
‫ق الرْض َو‬ ‫ك َل ُه خَاِل ُ‬ ‫ش ِر ْي َ‬‫ل َ‬ ‫ح َد ُه َ‬
‫ل ال َو ْ‬ ‫ل ِإَل َه ِإ ّ‬ ‫ن َ‬ ‫َأ ْ‬
‫سوْله الدّاعِي‬ ‫ع ْبدُه َو َر ُ‬ ‫ح ّمدًا َ‬ ‫ن ُم َ‬‫ش َه ُد َأ ّ‬
‫سمَاوَات‪ ،‬و َأ ْ‬ ‫ال ّ‬
‫سّل ْم َو بَارِك‬ ‫ل َو َ‬ ‫صّ‬ ‫ح الَبّينَات‪ .‬الل ُه ّم َ‬ ‫ضِ‬‫ى ِد ْيِن ِه ِبَأ ْو َ‬‫إِل َ‬
‫صحَاِب ِه َو‬ ‫ى آِل ِه َو َأ ْ‬ ‫حمّد َو عَل َ‬ ‫سّيدِالكَاِئنَات‪َ ،‬نِبّينَا ُم َ‬ ‫علَى َ‬ ‫َ‬
‫ص َر ِة الدّين َو ِإزَال ِة ال ُم ْن َكرَات‪.‬‬ ‫جَت ِهدِين ِلَن ْ‬ ‫ن ال ُم ْ‬ ‫التّاِب ِع ْي َ‬
‫ن‪َ ,‬أمّا َب ْعدُ‪.‬‬
‫ى ِبَت ْقوَى ال َف َق ْد فَا َز ال ُمّتُق ْو َ‬
‫ص ْي ُك ْم َو ِإيّا َ‬
‫ُأ ْو ِ‬
‫خُلقًا‬
‫سُن ُه ْم ُ‬ ‫حَ‬
‫ل َأ ْ‬
‫ىا ِ‬‫ل إِل َ‬
‫عبَا َد ا ِ‬‫ب ِ‬ ‫ح ّ‬
‫َأ َ‬
‫‪"Hamba-hamba Allah yang paling dicintai-Nya adalah‬‬
‫‪yang paling baik akhlaknya diantara mereka" (Shahih Al‬‬
‫‪Jami’: 179).‬‬

‫ل خَيْ َر فِيْمَنْ لَ َي ْألَفُ وَلَ ُي ْؤلَفُ‬


‫ن ِإلْفٌ َم ْألُوْفٌ وَ َ‬
‫المُؤْمِ ُ‬

‫‪“Orang mukmin adalah jalinan yang dijalin, dan tidak‬‬


Mengikuti Ajaran (Sunnah) Rasulullah
ada kebaikan pada orang yang tidak mau menjalin
(persaudaraan) dan tidak mau dijalin!” (HR. Ahmad,
Thabrani & Al Hakim)

Persaudaraan antara sesama muslim (ukhuwah


Islamiyah) pada dasarnya merupakan nikmat Allah
SWT yang akan dianugerahkan kepada mereka yang
bersungguh-sungguh meraihnya.

Kunci dari hal itu adalah memperkuat hubungan


(silah qawiyyah) dengan Allah SWT maupun manusia.
Ukhuwah, jamaah, atau umat adalah beberapa idiom
keagamaan yang merupakan simpul keniscayaan kita
membentuk persekutuan antar manusia. Yakni suatu
pesan yang mendesak untuk kita insafi bersama di
tengah fakta sejarah manusia yang acap kali diwarnai
banyak konflik berdarah dan aksi kekerasan.

Semua itu bermula karena tidak adanya kehendak


mulia menjadi orang lain sebagai pribadi yang wajib
menghadap perhormatan tulus dan penuh cinta.

Persaudaraan yang hakiki dalam Islam (Ukhuwwah


Islamiyah) adalah nikmat terbesar dalam penataan
hubungan sesama muslim.

Persaudaraan semacam itu hanya dimungkinkan


terjadi manakala terdapat ta’lif al-qalb (pertautan
hati, perasaan dan pikiran) antara satu dan yang
lainya. Sebaliknya, adalah mustahil persaudaraan itu
Nilai-Nilai Ukhuwwah adalah Ajaran Pokok Akhlaq
Islami
terkait dengan kuat erat, manakala hati, perasaan,
dan pikiran saling bertentangan.

Hati yang menyatu akan menyikapi perbedaan


(seperti perbedaan pendapat, golongan, dan mungkin
juga perbedaan partai) dengan husnudz-dzan
(berbaik sangka) dan tasamuh (toleransi).

Hati yang saling bertentangan akan menyikapi


setiap perbedaan dengan kacamata su‘udz-dzan
(berburuk sangka) dan permusuhan. Allah SWT
befirman surat Al-Anfal ayat : 36.

Mestilah disadari barsama bahwa nikmat ukhuwah


itu akan diraih kaum muslimin manakala interaksi
mereka dengan ajaran Islam selalu terjadi.

Maknanya kaum muslimin senantiasa berupaya


untuk mengaplikasikan nilai-nilai Islam pada semua
bidang kehidupan yang digelutinya.

Islami dalam ibadah mahdlah, Islami dalam


berekonomi, berperilaku politik, sosial budaya, dan
sebagainya. Keterikatan kuat dengan ajaran Islam ini,
Insya Allah akan melahirkan keterikatan kuat pula
dengan sesama muslim dan seluruh umat manusia.

Komitmen yang kuat kepada ajaran Islam akan


melahirkan komitmen menghormati dan menyayangi
sesama manusia, sesuai ajaran Islam. Allah SWT
Mengikuti Ajaran (Sunnah) Rasulullah
berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 103... « Dan
berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah,
dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan
ni’mat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (di masa
jahiliyah, selalu dalam keadaan) bermusuh-musuhan,
maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan
kamu dengan ni’mat Allah itu menjadi orang-orang yang
bersaudara ; dan (ingatlah ketika itu) kamu telah
berada di tepi jurang api neraka (karena perbantahan
dan kebiasan menghidupkan perselisihan sesama kamu),
lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya…
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat Nya
kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk »

Sebagai bangsa, kita dikarunia dengan kedamaian


dan ketentraman hidup. Semestinya dapat mengambil
hikmah dari ayat Ali Imran 103 ini, sehingga kita
tidak mudah terpancing isu-isu yang mengarah kepada
upaya untuk memecah belah persatuan bangsa,
khususnya sesama ummat Islam, yang menjadi bagian
terbesar dari penduduk negeri ini.

Pengalaman pahit yang dialami saudara-saudara


kita di berbagai belahan dunia, yang telah mencatat
sejarah kelam akibat permusuhan di antara mereka
hendaknya jangan sampai terjadi di negeri kita.

Kita semestinya harus senantiasa waspada dan


mencoba bersikap bijak di dalam menghadapi potensi
Nilai-Nilai Ukhuwwah adalah Ajaran Pokok Akhlaq
Islami
konflik yang setiap saat dapat muncul karena dipicu
oleh peristiwa-peristiwa kecil semata.

Ukhuwwah yang biasa diartikan “persaudaraan”,


terambil dan akar kata yang pada mulanya berarti
“memperhatikan”. Makna ini memberi kesan bahwa
persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua
pihak yang merasa bersaudara.

Perhatian itu pada mulanya lahir karena adanya


persamaan di antara pihak-pihak yang bersaudara,
sehingga makna tersebut kemudian berkembang, dan
pada akhirnya ukhuwah diartikan, « setiap
persamaan dan keserasian dengan pihak lain, baik
persamaan keturunan, dari segi ibu, bapak, atau
keduanya, maupun dan segi persusuan. »

Secara majazi. kata ukhuwah (persaudaraan)


mencakup persamaan salah satu unsur seperti suku.
Agama, profesi, perasaan, bangsa dan martabat
kemanusiaan.

Dalam kamus-kamus bahasa Arab ditemukan


bahwa kata akh yang membentuk kata ukhuwah
digunakan juga dengan arti teman akrab atau
sahabat.

Beberapa faktor penunjang lahirnya persaudaraan


dalam arti luas adalah persamaan. Semakin banyak
Mengikuti Ajaran (Sunnah) Rasulullah
persamaan akan semakin kokoh pula persaudaraan.
Persamaan rasa dan cita merupakan faktor dominan
yang mendahului lahirnya persaudaraan hakiki dan
pada akhirnya menjadikan seseorang merasakan
derita saudaranya, « laa yukminuu ahadukum hatta
yuhibba li akhihi maa yuhibbu linafsihi.. » mengulurkan
tangan sebelum diminta, serta memperlakukan
saudaranya tidak hanya atas dasar “take and give”,
tetapi justru, « Dan orang-orang yang telah
menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar)
sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka
mencintai orang yeng berhijrah kepada mereka. Dan
mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka
terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang
Muhajirin) itu ; dan mereka mengutamakan orang lain
(Muhajirin) atas diri mereka.., Sekalipun mereka
memerlukan (apa yang diberikan itu, karena merekapun
kekurangan), Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran
dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. »
(Q.S. 59 - Al Hasyr: 9).

Untuk memantapkan persaudaraan antar sesama,


Al Qur’an pertama kali menggaris bawahi perlunya
menghindari segala macam sikap perilaku yang dapat
mengeruhkan hubungan di antara mereka. Dalam hal
ini marilah kita perhatikan firman Allah,
« Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah
bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua
Nilai-Nilai Ukhuwwah adalah Ajaran Pokok Akhlaq
Islami
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu
mendapat rahmat. » (Q.S. Al Hujurat:10).

Setelah menyatakan bahwa orang-orang mukmin


bersaudara, dan memerintahkan untuk melakukan
ishlah (perbaikan huhungan) jika seandainya terjadi
kesalah pahaman di antara kelompok kaum muslim. Al
Qur’an memberikan contoh penyebab keretakan
hubungan sekaligus melarang setiap muslim
melakukannya. « Wahai orang yang beriman, jangan
satu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena)
boleh jadi mereka (yang diolok-olokan itu) lebih baik
dari mereka (yang mengolok-olokkan),dan jangan pula
wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita yang lain,
(karena) boleh jadi, wanita (yang diolok-olok itu) jauh
lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok itu), dan
janganlah kamu mencela dirimu sendiri (cela mencela
dan jatuh menjatuhkan sesama muslim), dan jangan
kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk.
Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) fasiq (kafir)
sesudah beriman. Dan barangsiapa yang tidak
bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang
dzalim. » ( QS.49, Al Hujurat ayat : 11.).

Karena itu, persekutuan atau persaudaraan


dikatakan tuntas manakala manusia menjadi satu
tubuh (kal jasadil wahid), di mana ketika anggota
tubuh yang satu sakit (idzasy-takaa minhi ‘udhwun),
Mengikuti Ajaran (Sunnah) Rasulullah
maka yang lain ikut merasakan dan menanggung
deritanya (tada’aa lahu saa-irul jasadi bis-sahari wal
humaa). Atau, “Yang terluka padamu / Berdarah
padaku.” 1
Akhirnya, persekutuan manusia (ukhuwah
insaniyah) mendapat dimensi spiritualitasnya berkat
hubungan manusia dengan Tuhan.2

Pensekutuan berada dalam tatapan terang Ilahi,


terpendar dalam pijar kemanusiaan.

‫ َو‬،‫عصْمَ ُة أَمْرِنَا‬ ِ َ‫صلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الّذِي ُهو‬ ْ ‫اللّهُ ّم ا‬


‫ح لَنَا آخِرَتِنَا‬
ْ ِ‫ َو اصْل‬،‫ي فِيْهَا مَعَاشِنَا‬ ِ ‫ح لَنَا دُنْيَانَا الّت‬
ْ ِ‫اصْل‬
ّ‫ َو اجْ َعلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَ ًة لَنَا فيِ ُكل‬،‫الّتيِ ِإلَيْهَا َمعَادُنَا‬
،ٍ‫ وَاجْ َعلِ المَ ْوتَ رَاحَ ًة لَنَا مِنْ ُكلّ سَر‬،ٍ‫خَيْر‬

1 Meminjam bait syair Sutardji Calzoum Bachri.


2 Seperti ditengarai Martin Buber (1875 - 1965) dalam
karyanya Ich Und Du (Aku dan Engkau),