Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH MANAJEMEN O.K.

Asuhan Keperawatan (Intervensi) Intra-Operatif

Kelompok 07 : Mohammad Nanang F Nur Sholikah Rohmawati Setyo Hadi

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH LAMONGAN 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas penyertaan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kami telah menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan judul Makalah Manajemen Keperawatan O.K. Konsep asuhan keperawatan intra-operatif . Penyusunan makalah ini untuk tugas mata kuliah Manajemen Keperawatan, melalui makalah ini kami berharap dapat menambah wawasan dan pengetahuan. Kami menyadari makalah ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan oleh beberapa pihak, oleh karena itu kami ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak tersebut, antara lain : 1. Bapak Drs. H. Budi Utomo Amd. Kep, M,MKes, selaku ketua STIKES Muhammadiyah Lamongan. 2. Bapak Arifal Aris S.Kep, Ns, M.Mkes, selaku Kaprodi S-1 Keperawatan. 3. Ibu Ns. Heny Ekawati S.Kep, M. Kes selaku Dosen Mata Kuliah Manajemen Keperawatan. 4. Teman-teman yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Menyadari banyaknya kekurangan dalam penulisan makalah ini. Karena itu, kami sangat mengharapakan kritikan dan saran dari para pembaca untuk melengkapi segala kekurangan dan kesalahan dari makalah ini. Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Lamongan, April 2013

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tindakan operasi adalah sebuah tindakan yang bagi sebagian besar klien adalah sesuatu yang menakutkan dan mengancam jiwa klien. Hal ini dimungkinkan karena belum adanya pengalaman dan dikarenakan juga adanya tindakan anestesi yang membuat klien tidak sadar dan membuat klien merasa terancam takut apabila tidak bisa bangun lagi dari efek anestesi. Tindakan operasi membutuhkan persiapan yang matang dan benar-benar teliti karena hal ini menyangkut berbagai organ, terutama jantung, paru, pernafasan. Untuk itu diperlukan perawatan yang komprehensif dan menyeluruh guna

mempersiapkan tindakan operasi sampai dengan benar-benar aman dan tidak merugikan klien maupun petugas. Keperawatan intra operatif merupakan bagian dari tahapan keperawatan perioperatif. Aktivitas yang dilakukan pada tahap ini adalah segala macam aktivitas yang dilakukan oleh perawat di ruang operasi. Aktivitas di ruang operasi oleh perawat difokuskan pada pasien yang menjalani prosedur pembedahan untuk perbaikan, koreksi atau menghilangkan masalah-masalah fisik yang mengganggu pasien. Tentunya pada saat dilakukan pembedahan akan muncul permasalahan baik fisiologis maupun psikologis pada diri pasien. Untuk itu keperawatan intra operatif tidak hanya berfokus pada masalah fisiologis yang dihadapi oleh pasien selama operasi, namun juga harus berfokus pada masalah psikologis yang dihadapi oleh pasien. Sehingga pada akhirnya akan menghasilkan outcome berupa asuhan keperawatan yang terintegrasi.

Untuk menghasilkan hasil terbaik bagi diri pasien, tentunya diperlukan tenaga kesehatan yang kompeten dan kerja sama yang sinergis antara masingmasing anggota tim. Secara umum anggota tim dalam prosedur pembedahan ada tiga kelompok besar, meliputi pertama, ahli anastesi dan perawat anastesi yang bertugas memberikan agen analgetik dan membaringkan pasien dalam posisi yang tepat di meja operasi, kedua ahli bedah dan asisten yang melakukan scrub dan pembedahan dan yang ketiga adalah perawat intra operatif. Perawat intra operatif bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan (well being) pasien. Untuk itu perawat intra operatif perlu mengadakan koordinasi petugas ruang operasi dan pelaksanaan perawat scrub dan pengaturan aktivitas selama pembedahan. Peran lain perawat di ruang operasi adalah sebagai RNFA (Registered Nurse First Assitant). Peran sebagai RNFA ini sudah berlangsung dengan baik di negara-negara amerika utara dan eropa. Namun demikian praktiknya di indonesia masih belum sepenuhnya tepat. Peran perawat sebagai RNFA diantaranya meliputi penanganan jaringan, memberikan pemajanan pada daerah operasi, penggunaan instrumen, jahitan bedah dan pemberian hemostatis. Untuk menjamin perawatan pasien yang optimal selama pembedahan, informasi mengenai pasien harus dijelaskan pada ahli anastesi dan perawat anastesi, serta perawat bedah dan dokter bedahnya. Selain itu segala macam perkembangan yang berkaitan dengan perawatan pasien di unit perawatan pasca anastesi (PACU) seperti perdarahan, temuan yang tidak diperkirakan, permasalahan cairan dan elektrolit, syok, kesulitan pernafasan harus dicatat, didokumentasikan dan dikomunikasikan dengan staff PACU.

1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimanakah proses manajemen intervensi keperawatan intra-operatif?

1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui proses manajemen intervensi keperawatan intra-operatif. 1.3.2 Tujuan Khusus 1) Untuk mengetahui definisi dari keperawatan intra-operatif. 2) Untuk mengetahui tujuan dari keperawatan intra-operatif. 3) Menjabarkan tahapan dari keperawatan intra-operatif. 4) Menjelaskan komplikasi yang mungkin muncul pasca/intra-operatif. 5) Menjelaskan konsep manajemen intervensi keperawatan intra-operatif.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Fase intraoperatif dimulai ketika klien masuk atau dipindah ke bagian atau departemen bedah dan berakhir saat klien dipindahkan ke ruang pemulihan. Fase intraoperatif dimulai ketika pasien masuk atau pindah ke bagian atau departemen bedah dan berakhir pada saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan (Kamilah F Mustika, 2009) Fase Intraoperatif dimulai ketika pasien masuk ke bagian atau ruang bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Lingkup aktifitas keperawatan, memasang infus, memberikan medikasi intravena, melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur

pembedahan dan menjaga keselamatan pasien (Fernsebner, Billie. 2005).

2.2 Tujuan aktifitas keperawatan pada fase intraoperatif Tujuan utama pada tahap intraoperatif adalah untuk memenuhi rasa nyaman dan memenuhi keseimbangan homoestatis. Tindakan perawat agar tujuan tersebut tercapai, yaitu: a. Pengkajian di perlengkapan dan pemenuhan lingkungan bersih b. Membuka dan memakai yang steril selama pembedahan c. Menyediakan obat dan cairan yang bersih d. Memantau dan memenuhi rasa nyaman e. Memasang kateter, NGT, drain f. Menyediakan spons, pisau, dan alat-alat lainnya

2.3 Anggota Tim Asuhan Keperawatan Intra Operatif 1. Ahli bedah Tim pembedahan dipimpin oleh ahli bedah senior atau ahli bedah yang sudah melakukan operasi. 2. Asisten pembedahan (1 orang atau lebih): asisten bius dokter, residen, atau perawat, di bawah petunjuk ahli bedah. Asisten memegang retractor dan suction untuk melihat letak operasi. 3. Anaesthesologist atau perawat anaesthesi Perawat anesthesi memberikan obat-obat anesthesia dan obat-obat lain untuk mempertahankan status fisik klien selama pembedahan. 4. Circulating Nurse Peran vital sebelum, selama dan sesudah pembedahan. Tugas: Set up ruangan operasi, menjaga kebutuhan alat up keamanan klien dan

dan fungsi semua peralatan sebelum pembedahan, check kebersihan daerah operasi sebelum drapping, posisi memberi dukungan mental, orientasi klien,

kebutuhan klien, Selama

memenuhi

pembedahan. 5. Surgical technologist atau Nurse scrub; bertanggung jawab menyiapkan dan mengendalikan peralatan steril dan instrumen, kepada ahli bedah/asisten. Pengetahuan anatomi fisiologi dan prosedur pembedahan memudahkan antisipasi instrumen apa yang dibutuhkan. 6. Perawat sirkulator adalah asisten perawat instrumentator dan dokter bedah. Saat klien pertama kali masuk ke dalam ruang operasi, perawat sirkulator membantu mengatur posisi klien dan menyediakan alat dan duk bedah yang dibutuhkan dalam pembedahan. Selama pembedahan

berlangsung,

perawat

sirkulator

menyediakan

bahan-bahan

yang

dibutuhkan perawat instrumentator, membuang alat dan spon kasa yag telah kotor serta tetap menghitung instrumen, jarum dan spons kasa yang telah digunakan.

2.4 Tahapan Fase intraoperatif 1. Ruang Sementara (Holding Area) Pada sebagian besar rumah sakit, klien lebih dahulu masuk ke ruang tahanan sementara yang berada di luar ruang operasi. Disana perawat menjelaskan tahap-tahap yang akan dilaksanakan untuk menyiapakan klien menjalani permbedahan. Perawat di ruang tahanan sementara biasanya adalah bagian ddari petugas ruang operasi dan mengenakan pakaian, topi, dan alas kaki khusus ruang operasi sesuai dengan kebijakn pengontrolan infeksi rumah sakit. Di dalam ruang tahanan sementara, perawat, perawat anastesi atau ahli anstesi memasang keteter infus ke tangan klien untuk memberikan prosedur rutin penggantian cairan dan obat-obatan melalui intravena. Perawat juga memasang manset tekanan darah. Akibat pengaruh obatobatan preoperatif, klien mulai merasa pusing. Karena suhu ruang tahanan sementara dan ruang operasi biasanya dingin maka klien harus diberikan selimut tambahan. 2. Kedatangan Klien ke Ruang Operasi Perawat memindahkan klien ke ruang operasi dengan menggunakan brankar. Klien biasanya masih sadar. Setelah klien berada si atas meja operasi, perawat mengencangkan tali pengaman di sekitar klien.

Perawat ruang operasi memeriksa identifikasi kardeks klien, melihat kembali lembar persetujuan tindakan, riwayat kesehatan, hasil

pemeriksaan fisik, dan berbagai hasil pemeriksaan, pastikan bahwa alat protese dan barang berharga telah dilepas, dan memeriksa kembali rencana perawatan preoperatif yang berhubungan dengan rencan perawatan intraoperatif. Perawat mungkin akan memasang peralatan monitor sebelum pembedahan dilaksanakan. 3. Pemberian Anastesi Anasthesia (Bahasa Yunani)Negatif Sensation Anasthesia

menyebabkan keadaan kehilangan rasa secara partial atau total, dengan atau tanpa disertai kehilangan kesadaran. Tujuannya memblok transmisi impuls syaraf, menekan refleks, meningkatkan relaksasi otot. Pemilihan anesthesia oleh anesthesiologist berdasarkan konsultasi dengan ahli bedah dan factor klien Perawat perlu mengenal ciri farmakologic terhadap obat anesthesia yang digunakan dan efek terhadap klien selama dan sesudah pembedahan. 1. Anasthesia Umum Adalah keadaan kehilangan kesadaran yang reversible karena inhibisi impulse saraf otak. Misal : bedah kepala, leher. Klien yang tidak kooperatif. 1) Stadium Anesthesia Stadium I : Relaksasi Mulai klien sadar dan kehilangan kesadaran secara bertahap. Stadium II : Excitement

Mulai kehilangan kesadaran secara total sampai dengan pernafasan yang iregulair dan pergerakan anggota badan tidak teratur. Stadium III : Ansethesi pembedahan Ditandai dengan relaksasi rahang, respirasi teratur, penurunan pendengaran dan sensasi nyeri. Stadium IV : BahayaApnoe, Cardiapolmunarry arrest, dan kematian. 2) Metode Pemberian: Inhalasi , IV injection. Instilasi rectal (1)Inhalasi Metode yang paling dapat dikontrol karena intak dan eliminasi secara primer oleh paru. Obat anesthesia inhalasi yang diberikan: 1. Gas: Nitrous Axida ( N20). Paling sering digunakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau. Non iritasi dengan masa induksi dan pemulihan yang cepat. a. Folatile: Cairan yang dapat menguap. b. Halotan: Non iritasi terhadap saluran pernafasan dan

menghasilkan mual dan muntah yang minimal pada post op. Halotan dapat menekan pada system cardiovaskuler (Hypotensi dan Bradicardia). Dan berpengaruh terhadap hypotalanus. c. Ethrane: Anasthesi inhalasi yang menghasilkan relaksasi otot yang adekwat. Ethrane mengurangi ventilasi klien.dan

menurunkan tekanan darah. d. Penthrane: Pelemas otot yang efektif dan memberikan efek analgetik pada konsentrasi rendah, toksik pada ginjal dan hanya digunakan untuk pembedahan waktu pendek. e. Forane: Muscle relaksan, cardio vascular tetap stabil.

(2)Anesthesi Injeksi IV Memberikan perasaan senang., cepat dan pelepasan obat secara pelan. a. Barbiturat. Sering digunakan, bekerja langsung pada CNS dari sedasi sedang sampai kehilangan kesadaran, sedikit mengurangi nyeri b. Narcotik Suplement anesthesia inhalasi Narkotik yang sering digunakan Morphin Sulfat, Meperidine, dan Fentanil Sitrate. Analgesia post op yang adekwat. Menurunkan ventilasi alveolar dan depresan pernafasan.

c. Inovar Kombinasi Fentonil sitrat dan Tranguilizer Dropreridol. Digunakan dosis kecil untuk supplement N20 dan anesthesia regional. Durasi panjang depresi pernafasan, hypoventilasi, apnea, hypotensi selama posat op. d. Ketamine Obat anesthesia yang tersendiri. Bekerja pada bagian syaraf tertentu. Diberikan pada IV atau IM. Menyebabkan penurunan kesadaran secara cepat, analgetika tanpa depresi pernafasan atau kehilangan tonus otot. Merangsang sitem cardiovascular.

e. Neuromusculer Brochler Muscle relaksan selama pembedahan. Mempermudah pemasangan GT Tube Bekerja pada garis otot tubuh dengan mempengaruhi impuls pada motor end plate. 3) Komplikasi anesthesia umum Komplikasi jarang tetapi dapat mengancam jiwa. Komplikasi sebagian besar minor sebagai akibat tehnik intubasi seperti gigi patah atau trauma vocal cord. Dapat terjadi akibat hyperektensi leher, rongga mulut kecil, sendi mandibuler yang kaku. Anesthesia overdosispada orang tua atau kelainan klien. Hypertermia Maligna. Kerusakan pada circulasi calcium , rata-rata membran sel otot mertabolisme meningkat dan suhu tubuh 46 derajad celcius. Terjadi pada klien yang sensitip pada halothane, penthran, succinyl clorida . 2. Anestesi Local Atau Regional Anestesi local atau regional secara sementara memutus transmisi impuls saraf menuju dan dari lokasi khusus. Luas anestesi tergantung pada letak aplikasi, volume total anestesi, kosentrasi dengan kemampuan penetrasi obat. a. Penggunaan regional anestesi: Kontra indikasi general anestesi Klien mengalami reaksi yang merugikan dengan general anestesi Pilihan klien

b. Komplikasi: Over dosis Teknik pemberian yang salah Sensitifitas klien terhadap anestesi

c. Tanda: Stimulasi CNS diikuti depresi CNS dan cardio: Gelisah, pembicaraan incoherent, sakit kepala, mata kabur, rasa metalik, mual, muntah, tremor,konfulsi dan peningkatan nadi respirasi, tekanan darah Komplikasi local: Edema, peradangan, abses, necrosis,gangren. 4. Pengaturan Posisi Klien Selama Pembedahan Selama anastesi umum, tenaga keperawatan dan dokter bedah seringkali tidak mengatur posisi klien sampai klien mencapai tahap relaksasi yang lengkap. Idealnya, posisi klien diatur agar dokter bedah mudah mencapai tempat pembedahan dan fungsi sirkulasi serta pernafasan adekuat. Posisi tidak boleh mengganggu struktur neuromuskular. Tim harus mencatat usia, berat badan, tinggi badan status nutrisi, keterbatasan fisik, dan kondisi yang ada sebelum pembedahan serta

mendokumentasikannya untuk mengingatkan petugas yang akan merawat klien setelah operasi (Walsh, 1993). 5. Dokumentasi Perawatan Intraoperatif Selama fase intraoperatif, petugas keperawatan melanjutkan rencana asuhan keperawatan preoperatif. Misalnya asaeptik yang ketat harus dilakukan untuk meminimalkan resiko infeksi luka bedah. Selama prosedur pembedahan berlangsung, perawat menjaga agar pencatatan

aktivitas perawatan klien dan prosedur yang dilakukan oleh petugas ruang operasi tetap akurat. Dokumentasi perawatan intraoperatif memberi data yang bermanfaat bagi perawat yang akan merawat klien setelah pembedahan.

2.5 Proses Keperawatan Dalam Fase Intra Operatif 2.5.1 Pengkajian Pengkajian klien bedah meliputi evaluasi faktor-faktor fisik dan psikologis secara luas. Banyak parameter dipertimbangkan dalam pengkajian menyeluruh terhadap klien, dan berbagai masalah klien atau diagnosis keperawatan 1. Di ruang penerimaan perawat sirkulasi: a. Memvalidasi identitas klien b. Memvalidasi inform concent 2. Chart Review: a. Memberikan informasi yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi kebutuhan actual dan potensial selama pembedahan. b. Mengkaji dan merencanakan kebutuhan klien selama dan sesudah operasi. 3. Perawat menanyakan: a. Riwayat allergi, reaksi terhadap anesthesia atau tranfusi darah. b. Check riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. c. Check pengobatan sebelumnya : therapy, anticoagulasi. d. Check adanya gigi palsu, kontaks lens, perhiasan, wigs dan dilepas. e. Kateterisasi.

2.5.2 Diagnosa Kepeawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin sering muncul pada pasien selama pelaksanaan operasi adalah sebagai berikut : 1) Cemas 2) Resiko perlukaan/injury 3) Resiko penurunan volume cairan tubuh 4) Resiko infeksi 5) Kerusakan integritas kulit

2.5.3 Intervensi Berikan asuhan keperawatan berdasarkan pada prioritas kebutuhan pasien : 1. 2. 3. 4. 5. Atur dan jaga agar peralatan syaktion berguna dengan baik. Atur peralatan pemantauan invasif. Bantu saat pemasangan jalur (arteri /CVP ). Lakukan tindakan kenyamanan fisik yang sesuai bagi pasien. Posisikan pasien dengan tepat untuk prosedur anastesi dan pembedahan, pertahankan kelurusan tubuh sesuaifungsi. 6. Ikuti tahapan sesuai dengan prosedur bedah : a. Lakukan scrab/bersihan dengan terampil b. Berespon terhadap kebutuhan pasien dengan antisipasi peralatan dan bahan apa yang dibutuhkan sebelu diminta. 7. Ikuti prosedur yang telah ditetapkan sebagai contoh : a. Perawatan dan pemakaian darah dan komponen darah b. Perawatan dan penanganan spesimen, jaringan dan kultur. c. Persiapan kulit antiseptik

d. Membuka dan menutup sarung tangan. e. Menghitung kasa, instrumen, jarum. f. Tekhnik septik g. Penatalaksanaan kateter urine. h. Penatalaksanaan drainase 8. Komunikasikan situasi yang merugikan pada ahli bedah, ahli anastesi/ perawat yang bertanggung jawab/ bertindak yang tepat untuk mengontrol atau menangani situasi. 9. Gunakan peralatan secara bijaksana untuk menghemat biaya.

10. Bantu ahli bedah dan anastesi untuk menerapkan rencana penerapan mereka. 11. Bertindak sebagai advotkat pasien a. Berikan privasi fisik b. Jaga kerahasiaan c. Berikan keselamatan dan kenyamanan fisik 12. Informasikan pasien dengan pengalaman intraoperatif a. Jelaskan segala stimulasi sensori yang akan dialami. b. Gunakan keterampilan komunikasi umum 13. Koordinasi aktivitas bagi personil lain yang terlibat dalamperawatan pasien. Seperti X ray, laboratorium, ICU. 14. Operasikan dan atasi semua masalah peralatan yang umumnya digunakan diruang operai dan tugaskan dilayanankhusus. 15. Ikutserta dalam konferensi perawatan pasien. 16. Dokumentasikan semua observasi dan tindakan.

17. Komunikasikan baik verbal dan tulisan mengenai status kesehatan pasien saat pemindahan dari ruang operasi.

2.5.4 Evaluasi 1. Mengevaluasi kondisi pasien dengan cepat sebelum dikeluarkan dari ruang operasi yaitu cara bernafas, warnakulit, selang invasif ( IV), drain kateter berfungsi secara normal, balutan adekuat tidak terlalu ketat. 2. Ikut serta dalam mrngidentifikasi praktek keperawatan pasien yang tidak aman dan menanganinya dengan baik. 3. Ikut serta dalam mengevaluasi keamanan lingkungan. 4. Melaporkan dan mendokumentasikane. Menunjukkan pemahaman tentang prinsip aseptik dan praktek keperawatan teknis. 5. Mengenali tanggung gugat legal dari keperrawatan preoperatif.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Fase intraoperatif dari perawatan perioperatif dimulai ketika pasien masuk atau pindah kebagian atau departemen bedah dan berakhir pada saat pasien dipindahkan keruang pemulihan. Pada fase ini lingkup aktifitas dapat meliputi :memasang infus (IV), memberikan medikasi intravena, melakukan pembedahan pemantauan dan menjaga

fisiologismenyeluruh keselamatan pasien. 3.2 Saran

sepanjang prosedur

Hendaknya mahasiswa dapat benar benar memahami dan mewujud nyatakan peran perawat yang prefesional, serta dapat melaksanakan tugas tugas dengan penuh tanggung jawab, dan selalu mengembangkan ilmu keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Kozier, et. All (2004). Fundamental of Nursing. Concepts, Process, and Practice. New Jersey. Pearson Prentice Hall. Seventh Edition. Volume 2 Marilynn E. Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3. EGC, Jakarta.

Ws. Potter and Perry.2005.Fundamental Keperawatan. Konsep, Proses, dan Praktik. Jakarta. EGC. Edisi 4. Volume 2