Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH TEKNIK TEGANGAN TINGGI

ISOLATOR

DISUSUN OLEH:

Nama Stambuk Kelas

: Alan Nuari : 342 12 027 : 2B

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KONVERSI ENERGI JURUSAN TEKNIK MESIN POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2013

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat TuhanYang Maha Esa karena atas rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah tentang Bahan Isolasi. Penulis menyadari dalam penulisan makalah inimasih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Akan tetapi sebagai manusia biasa, penulis tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan.Penulis juga menyadari bahwa tanpa adanya dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, makalah ini tidak dapat diselesaikan. Untuk itu pada kesempatanini penulis menyampaikan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan.

Makassar, 16 Desember 2013

Alan Nuari

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .. i KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah .. 2 C. Tujuan Penulisan 2 D. Manfaat Penulisan .. 2 BAB II PEMBAHASAN A. Isolator Padat . 3 B. Isolator Cair ... 8 C. Isolator Gas .. 14 D. Koordinasi Isolator ... 23 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan .. 29 B. Saran 29 DAFTAR PUSTAKA .. 30

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Besarnya arus dan tegangan yang muncul dalam sistem tenaga listrik secara tiba-tiba dan melonjak tinggi, baik itu yang berasal dari dalam sistem maupun dari luar lingkungan, menuntut sistem pengamanan lebih terhadap alat listrik, maupun bahan isolasi itu sendiri. Hal ini sulit untuk dihentikan sebab tingginya lonjakan tegangan yang muncul secara tiba-tiba dan hanya dalam hitungan milisekon. Untuk melindungi alat, diperlukan isolasi yang mampu memisahkan antara dua bagian yang bertegangan umumnya dengan bahan-bahan dielektrik. Namun, secara harafiah, point utama dari isolasi adalah sebagai pemisah antarbagian yang bertegangan, sehingga tidak menyebabkan terjadinya loncatan bunga api yang berujung pada kerusakan alat maupun bahan isolasi. Peran utama dari tujuan pembuatan suatu isolasi adalah mampu mencegah loncatan energi dan melindungi alat listrik maupun bahan isolasi itu sendiri, sehingga mampu menekan biaya pengeluaran akibat dari kerusakan alat, baik pada sistem tenaga listrik itu sendiri maupun peralatan rumah tangga. Sebab, seperti yang kita ketahui alat pada sistem tenaga listrik sangat mahal dan biaya yang dibutuhkan untuk membangkitkan suatu tenaga listrik bisa mencapai miliaran rupiah. Untuk itu, diperlukan upaya-upaya yang dapat meminimkan biaya yang begitu besar. Di samping itu juga merugikan rakyat apabila terjadinya lonjakan tegangan atau swiching setelah mati lampu, sebab dapat merusak alat-alat rumah tangga.

B. RUMUSAN MASALAH Beberapa pertanyaan atau rumusan masalah yang akan muncul dalam makalah ini adalah: 1. Apa itu isolator padat dan peranannya dalam sistem kelistrikan? 2. Apa itu isolator cair dan peranannya dalam sistem kelistrikan?

3. Apa itu isolator gas dan peranannya dalam sistem kelistrikan? 4. Apa itu koordinasi isolasi dan peranannya dalam sistem kelistrikan?

C. TUJUAN PENULISAN Adapun tujuan dari makalah ini adalah: 1. Untuk mengetahui tentang isolator padat dan peranannya dalam sistem kelistrikan 2. Untuk mengetahui tentang isolator cair dan peranannya dalam sistem kelistrikan 3. Untuk mengetahui tentang isolator gas dan peranannya dalam sistem kelistrikan 4. Untuk mengetahui tentang koordinasi isolator dan peranannya dalam sistem kelistrikan

D. MANFAAT PENULISAN Adapun manfaat dari makalah ini adalah: 1. Agar kita dapat mengetahui tentang isolator padan dan peranannya dalam sistem kelistrikan 2. Agar kita dapat mengetahui tentang isolator padan dan peranannya dalam sistem kelistrikan 3. Agar kita dapat mengetahui tentang isolator padan dan peranannya dalam sistem kelistrikan 4. Agar kita dapat mengetahui tentang isolator padan dan peranannya dalam sistem kelistrikan

BAB II PEMBAHASAN
A. ISOLASI Isolasi adalah salah satu bentuk peralatan tegangan tinggi yang berfungsi sebagai tahanan atau pelindung agar tidak terjadi tembus yang tidak diinginkan. Secara umum isolasi dibagi menjadi 3 (tiga) macam yaitu isolasi padat, cair dan gas. Kemampuan isolasi dalam menahan tegangan mempunyai batas-batas tertentu sesuai dengan material penyusun dan lingkungan sekitarnya. Apabila tegangan yang diterapkan melebihi kuat medan isolasi maka akan terjadi tembus atau breakdown yang menyebabkan terjadinya aliran arus antara peralatan tegangan tinggi. Kekuatan isolasi gas dipengaruhi beberapa hal antara lain temperatur, kelembaban, angin, tingkat kontaminasi udara dan besar tegangan yang diterapkan. Adanya kondisi hujan asam, hujan basa, hujan garam, serta hujan di pegunungan akan mempengaruhi kekuatan isolasi dalam mencegah terjadinya tembus antar dua peralatan tegangan tinggi yang diisolasi. Pemodelan peralatan tegangan tinggi dengan elektroda jarum homogen dan elektroda bola homogen digunakan untuk mengetahui tegangan tembus gas antara keduanya jika terjadi perubahan terhadap lingkungan sekitar, selama pengujian isolasi di laboratorium tegangan tinggi. Contoh penggunaan peralatan tegangan tinggi yang menyerupai elektroda jarum adalah arcing horn (busur api) yang dipasang di tiap ujung renteng isolator. Teknik analisis data menggunakan cara analisis data kualitatif interpretatif dan analisis statistik secara elementer. Kedua metode ini digunakan sejak awal penelitian dimulai, diantaranya dalam memilih obyek, sample, mengklasifikasikan simbol hingga kesimpulan akhir penelitian. Analisis data secara statistik digunakan untuk menaksir prosentase tembus yang terjadi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tegangan tembus udara berbanding lurus dengan tekanan, prosentase karbondioksida dan kelembaban udara tetapi berbanding terbalik dengan kenaikan temperatur.

B. ISOLATOR PADAT 1. Pengertian Isolator Padat Isolator padat yang digunakan dalam peralatan sistem tenaga listrik adalah bahan organis, anorganis dan polimer sintetis. Contoh bahan organis adalah kertas, kayu, dan karet, sedang bahan anorganis adalah keramik dan mika. Contoh polimer sintetis adalah polyvinyl chloride dan resin epoksi. Bahan isolasi padat yang banyak digunakan adalah mika, keramik, dan gelas. Kemampuan isolator sangat dipengaruhi oleh sifat bahan isolator dan besar polutan yang menempel pada permukaan bahan isolator. Polutan akan menyebabkan permukaan lebih konduktif. Konduktifitas yang lebih besar ini akan menyebabkan aliran arus apabila diberi tegangan. Besar arus yang mengalir tergantung pada besar polutan, nilai arus yang mengalir pada permukaan isolator mempengaruhi nilai Tegangan Flashover, semakin besar nilai arus yang mengalir maka semakin kecil nilai Tegangan Flashover. Dalam hal ini intensitas polusi dinyatakan dalam ESDD (Equivalent Salt Deposit Density).

2. Bahan Isolator Padat Ada beberapa bahan isolasi bentuk padat yang dikenal dalam bidang kelistrikan. Bahan-bahan tersebut antara lain: a. Kaca Kaca adalah substansi yang dibuat dengan pendinginan bahanbahan yang dilelehkan, tidak berbentuk kristal tetapi tetap pada kondisi berongga. Kaca pada umumnya terdiri dari campuran silikat dan beberapa senyawa antara lain : borat, pospat. Kaca dibuat dengan cara melelehkan beberapa senyawa silikat (pasir), alkali (Na dan K) dengan bahan lain (kapur, oksida timah hitam). Karena itu sifat dari kaca tergantung dari komposisi bahan-bahan pembentuknya tersebut. Massa

jenis kaca berkisar antara 2 hingga 8,1 g/cm2, kekuatan tekannya 6000 hingga 21000 kg/cm2 , kekuatan tariknya 100 hingga 300 kg/cm2. Karena kekuatan tariknya relatif kecil, maka kaca adalah bahan yang regas. Walaupun kaca merupakan substansi berongga, tetapi tidak mempunyai titik leleh yang tegas, karena pelelehannya adalah perlahan lahan ketika suhu pemanasan di naikkan. Titik pelelehan kaca berkisar antara 500 hingga 17000 C. Makin sedikit kandungan S1O2 nya makin rendah titik pelembekan suatu kaca. Demikian pula halnya dengan muai panjangnya, makin banyak kadar S1O2 yang dikandungnya akan makin kecil ? nya. Muai panjang untuk kaca berkisar antara 5,5-10-7 hingga 150. 10-7 per derajat celcius. b. Sitol Sitol mempunyai bahan dasar kaca yang merupakan

pengembangan baru. Pemakaian sitol adalah sangat luas, struktur dan sifat-sifatnya adalah diantara kaca dan keramik. Sitol juga disebut keramik-kaca atau kaca kristal. Yang banyak dijumpai dipasaran antara lain : pyroceram, vitoceram. Sitol mempunyai struktur kristal yang halus (hal ini yang membedakannya dengan kaca biasa) tetapi berongga. Tidak seperti halnya keramik biasa, sitol tidak dibuat dengan pembakaran tetapi cenderung dengan fusi dari bahan-bahan mentahnya dengan menjadikannya meleleh dan kemudian kristalisasi. c. Porselin Porselin adalah bahan isolasi kelompok keramik yang sangat penting dan luas penggunaannya. Istilah bahan -bahan keramik adalah digunakan untuk semua bahan anorganik yang dibakar dengan pembakaran pada suhu tinggi dan bahan asal berubah substansinya. Bahan dasar dari porselin adalah tanah liat. Ini berarti bahan dasar tersebut mudah dibentuk pada waktu basah, tetapi menjadi tahan terhadap air dan kekuatan mekaniknya naik setelah dibakar.

Penggunaan isolator dari porselin antara lain : isolator tarik, isolator penyangga, rol isolator seperti dapat dilihat pada gambar.

3. Mekanisme Kegagalan Bahan Isolator Padat Mekanisme kegagalan bahan isolasi padat terdiri dari beberapa jenis sesuai fungsi waktu penerapan tegangannya. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut :

Grafik kegagalan isolasi padat Uraian masing masing jenis kegagalan pada bahan isolasi padat adalah sebagai berikut: a. Kegagalan asasi (intrinsik) adalah kegagalan yang disebabkan oleh jenis dan suhu bahan ( dengan menghilangkan pengaruh luar seperti tekanan, bahan elektroda, ketidakmurnian, kantong kantong udara. Kegagalan ini terjadi jika tegangan yang dikenakan pada bahan dinaikkan sehingga tekanan listriknya mencapai nilai tertentu yaitu 106 volt/cm dalam waktu yang sangat singkat yaitu 10-8 detik b. Kegagalan elektromekanik adalah kegagalan yang disebabkan oleh adanya perbedaan polaritas antara elektroda yang mengapit zat isolasi padat sehingga timbul tekanan listrik pada bahan tersebut. Tekanan listrik

yang terjadi menimbulkan tekanan mekanik yang menyebabkan timbulnya tarik menarik antara kedua elektroda tersebut. Pada tegangan 106 volt/cm menimbulkan tekanan mekanik 2 s.d 6 kg/cm2. c. Kegagalan streamer adalah kegagalan yang terjadi sesudah suatu banjiran (avalance). Sebuah elektron yang memasuki band conduction di katoda akan bergerak menuju anoda dibawah pengaruh medan memperoleh energi antara benturan dan kehilangan energi pada waktu membentur. Jika lintasan bebas cukup panjang maka tambahan energi yang diperoleh melebihi pengionisasi latis (latice). Akibatnya dihasilkan tambahan elektron pada saat terjadi benturan. Jika suatu tegangan V dikenakan terhadap elektroda bola, maka pada media yang berdekatan (gas atau udara) timbul tegangan. Karena gas mempunyai permitivitas lebih rendah dari zat padat sehingga gas akan mengalami tekanan listrik yang besar.Akibatnya gas tersebut akan mengalami kegagalan sebelum zat padat mencapai kekuatan asasinya. Karean kegagalan tersebut maka akan jatuh sebuah muatan pada permukaan zat padat sehingga medan yang tadinya seragam akan terganggu. Bentuk muatan pada ujung pelepasan ini dalam keadaan tertentu dapat menimbulkan medan lokal yang cukup tinggi (sekitar 10 MV/cm). Karena medan ini melebihi kekuatan intrinsik maka akan terjadi kegagalan pada zat padat. Proses kegagalan ini terjadi sedikit demi sedikit yang dapat menyebabkan kegagalan total. d. Kegagalan termal, adalah kegagalan yang terjadi jika kecepatan pembangkitan panas di suatu titik dalam bahan melebihi laju kecepatan pembuangan panas keluar. Akibatnya terjadi keadaan tidak stabil sehingga pada suatu saat bahan mengalami kegagalan. e. Kegagalan Erosi, adalah kegagalan yang disebabkan zat isolasi pada tidak sempurna, karena adanya lubang lubang atau rongga dalam bahan isolasi padat tersebut. Lubang/rongga akan terisi oleh gas atau cairan yang kekuatan gagalnya lebih kecil dari kekuatan zat padat.

C. ISOLATOR CAIR 1. Pengertian Isolator Cair Bahan isolasi cair ini biasanya digunakan pada peralatan seperti transformator, pemutus beban, rheostat. Bahan isolasi cair memiliki dua fungsi yaitu sebagai pemisah antara bagian yang bertegangan atau pengisolasi dan juga sebagai pendingin. Persyaratan agar bahan cair dapat digunakan sebagai bahan isolasi adalah mempunyai tegangan tembus dan daya hantar panas yang tinggi . Beberapa alasan digunakannya bahan isolasi cair adalah sebagai berikut: Isolasi cair memiliki kerapatan 1000 kali atau lebih d i b a n d i n g k a n d e n g a n isolasi gas, sehingga memiliki kekuatan dielektrik yang lebih tinggi menurut hukum Paschen. Isolasi cair akan mengisi celah atau ruang yang akan diisolasi dan secara serentak melalui proses konversi menghilangkan panas yang timbul akibat r u g i e n e r g i . Isolasi cair cenderung dapat memperbaiki diri sendiri (self healing ) jika terjadi p e l e p a s a n muatan ( discharge). Namun kekurangan

utama isolasi cair adalah mudah terkontaminasi.

2. Penerapan Isolasi Cair a. Minyak Transformator Minyak transformator adalah minyak mineral yang

diperoleh dengan pemurnian minyak mentah. Dalam pemakaiannya, minyak ini karena pengaruh panas dari rugi-rugi di dalam transformator akan timbul hidrokarbon. Selain berasal dari minyak mineral, minyak transformator dapat pula yang dapat dibuat dari bahan organik, misalnya minyak trafo piranol, silicon. Sebagai bahan

isolasi,minyak transformator harus mempunyai tegangan tembus yang tinggi. Sebagian besar trafo tenaga kumparan-kumparan dan intinya direndam dalam minyak-trafo, terutama trafo-trafo tenaga yang berkapasitas besar, karena minyak trafo mempunyai sifat sebagai media pemindah panas (disirkulasi) dan bersifat pula sebagai isolasi (daya tegangan tembus tinggi) sehingga berfungsi sebagai media pendingin dan isolasi. Untuk itu minyak trafo harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: Kekuatan isolasi tinggi. Penyalur panas yang baik memiliki berat jenis yang kecil, sehingga partikel- partikel dalam minyak dapat mengendap dengan cepat. Viskositas yang rendah agar lebih mudah bersirkulasi dan kemampuan pendinginan menjadi lebih baik. Titik nyala yang tinggi, tidak mudah menguap yang dapat membahayakan. Tidak merusak bahan isolasi padat. S i f a t k i m i a ya n g s t a b i l . Sebagai bahan isolasi, minyak transfomator harus mempunyai tegangan tembus yang tinggi. Pengujian tegangan tembus minyak transformator dapatdilakukan dengan mengunakan peralatan seperti ditunjukanpada gambar di bawah ini.

Alat pengujian tegangan tembus minyak transformator

Jarak elektoda dibuat 2,5 cm, sedangkan tegangannya dapat diatur dengan menggunakan autotransformator sehingga dapat diketahui tegangan sebelum saat terjadinya kegagalan isolasi yaitu terjadinya loncatan bunga api. Loncatan bungaapi dapat dilihat lewat lubang yang diberi kaca. Selain itu dapat dilihat dari voltmeter tegangan tertinggi sebelum terjadinya kegagalan isolasi (karena setelah terjadinya kegagalan isolasi voltmeter akan menunjukan harga nol). Tegangan tembus nominal minyak transformator untuk tegangan kerja tertentu dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tegangan tembus standar minyak transformator Tegangan kerja peralatan Di atas 35 kV 6 s/d 35 kV Di bawah 6kV Tegangan tebus (kV) untuk jarak 2,5 mm Minyak baru 40 30 30 Sedang dipakai 35 25 20

Berdasarkan standar yang dikeluarkan oleh ASTM yakni dalam standar D-877 disebutkan bahwa suatu bahan isolasi har us memiliki tegangan tembus sebesar kurang lebih 30 kV untuk lebar sela elektroda 1 mm, dengan kata lain kekuatan dielektrik bahan isolasikurang lebih 30 kV/mm. Sedangkan menurut standar ASTM D-1816 suatu bahan isolasi harus mampu menahan tegangan sebesar 28 V untuk suatu lebar sela elektroda sebesar 1,2 mm. Standar ini merupakan standar yang diterima secara internasional dan harus dipenuhi oleh suatu bahan yang

dikategorikan sebagai suatu bahan isolasi. Kegunaan minyak trafo adalah selain untuk bahan isolasi juga sebagai media pendingin antara kumparan kawat atau inti besi dengan sirip pendingin. Untuk minyak isolasi pakai berlaku untuk transformator berkapasitas > 1 MVA atau bertegangan >30 kV.

Minyak Transformator b. Minyak Kabel Minyak kabel juga merupakan salah satu hasil pemurnian minyak bumi. Minyak kabel digunakan untuk memadatkan penyekat kertas pada kabel tenaga ,kabel tanah, dan terutama kabel tegangan tinggi, kecuali untuk menguatkan baik daya sekat mekanisnya, penyekat kertas, juga

untuk menjaga atau menahan air supaya tidak meresap. sekaligus sebagai elektrikum . Pada dasarnya penyekat bentuk cair digunakan sebagai bahan pembersih pada alat-alat listrik misalnya pada reustak. Hal ini banyak difungsikan sebagai pengisolasi atau bahan pengisi seperti pada minyak trafo yang merupakan pemurni bahan- bahan mineral. Oleh karena itu bahan isolasi bentuk cair banyak digunakan karena memiliki daya tembus tinggi dan daya hantar yang kuat. Adapun kendalakendala yang biasa menghambat kerja yaitu misalnya pada minyak trapo biasa terdapat air dan asam. c. Cairan Sintesis Di samping bahanbahan tersebut di atas terdapat pula isolasi cair sintesis yang juga digunakan pada teknik listrik. Isolasi cair sintesis yang sering digunakan pada teknik listrik adalah cairan yang berisi chloor (hidrokarbon) seperti difenil (CH) dimana 3 sampai 5. Atom hydrogen diganti dengan atom chloor .Bahanbahan ini diantaranya adalah sovol, askarel, araclor, pyralen, shibanol. Sovol adalah bahan cair yang agak kental ,tidak berwarna, massa jenisnya. Lebih besar dari minyak trafo. dan tegangan tembusnya hampir sama dengan minyak trafo dan permiabilitasnya lebih tinggi . Sovol yang dicampur dengan sedikit trichlobenzena (CHCL)untuk mengurangi kekentalannya sehingga diperoleh bahan baru yang disebut sovtol. Karena sovol dan sovtol tidak terbakar bila dengan udara dan tidak menyebabkan ledakan. Maka itu trafo yang diisi sovtol tidak berisiko kebakaran dan ledakan sehingga sovtol tidak digunakan pada isolasi pada pemutus dan juga bahan ini beracun sehingga penggunaanya harus hati hati

3. Mekanisme Kegagalan Isolator Cair Teori mengenai kegagalan dalam zat cair kurang banyak diketahui dibandingkan dengan teori kegagalan gas atau zat padat. Hal tersebut disebabkan karena sampai saat ini belum didapatkan teori yang dapat menjelaskan proses kegagalan dalam zat cair yang benar-benar sesuai antara keadaan secara teoritis dengan keadaan sebenarnya. Teori kegagalan zat isolasi cair dapat dibagi menjadi empat jenis sebagai berikut: a. Teori Kegagalan Elektronik Teori ini merupakan perluasan teori kegagalan dalam gas, artinya proses kegagalan yang terjadi dalam zat cair dianggap serupa dengan yang terjadi dalam gas. Oleh karena itu supaya terjadi kegagalan diperlukan elektron awal yang dimasukkan kedalam zat cair. Elektron awal inilah yang akan memulai proses kegagalan. b. Teori Kegagalan Gelembung Kegagalan gelembung atau kavitasi merupakan bentuk kegagalan zat cair yang disebabkan oleh adanya gelembung-gelembung gas di dalamnya. c. Teori Kegagalan Bola Cair Jika suatu zat isolasi mengandung sebuah bola cair dari jenis cairan lain, maka dapat terjadi kegagalan akibat ketakstabilan bola cair tersebut dalam medan listrik. Medan listrik akan menyebabkan tetesan bola cair yang tertahan didalam minyak yang memanjang searah medan dan pada medan yang kritis tetesan inimenjadi tidak stabil. Kanal kegagalan akan menjalar dari ujung tetesan yang memanjang sehingga menghasilkan kegagalan total. d. Teori Kegagalan Tak Murnian Padat

Kegagalan tak murnian padat adalah jenis kegagalan yang disebabkan oleh adanya butiran zat padat (partikel) didalam isolasi cair yang akan memulai terjadi kegagalan.

D. ISOLATOR GAS 1. Pengertian Isolator Gas Pada umumnya isolator gas digunakan sebagai media isolasi dan penghantar panas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada isolator gas ini adalah ketidakstabilan temperatur, ketidaknormalan sifat kedielektrikan pada tekanan yang tinggi dan resiko ledakan dari gas yang digunakan.

2. Klasifikasi Isolator Gas Berdasarkan kekuatan dielektrik, rugi-rugi dielektrik, stabilitas kimia, korosi, dll, isolator gas dapat diklasifikasikan menjadi : a. Gas sederhana, contohnya : Udara Nitrogen Helium Hidrogen b. Gas Oksida, contohnya : Gas karbondioksida Gas Sulphur dioksida c. Gas Hidrokarbon, contohnya : Methana Ethana Propana d. Gas Elektronegatif, contohnya :

Gas Sulphur hexaflorida CH2Cl2

Bahan isolasi gas adalah digunakan sebagai pengisolasi dan sekaligus sebagai media penyalur panas. Bahan isolasi gas yang dibahas dalam makalah ini adalah: udara, sulphur hexa fluorida (SF6) sebagai titik berat di damping gas-gas lain yang lazim digunakan di dalam teknik listrik. a. Udara Udara merupakan bahan isolasi yang mudah didapatkan,

mempunyai tegangan tembus yang cukup besar yaitu 30 kV/ cm. Contoh yang mudah dijumpai antara lain : pada JTR, JTM, dan JTT antara hantara yang satu dengan yang lain dipisahkan dengan udara. Hubungan antara tegangan tembus dan jarak untuk udara tidak linier seperti ditunjukkan pada gambar berikut:

Vt = f (celah udara) pada p = 1 atm, F = 50 Hz

b. Sulphur Hexa Fluorida Sulphur Hexa Fluorida (SF+) merupakan suatu gas bentukan antara unsur sulphur dengan fluor dengan reaksi eksotermis:

S + 3 F2 ----------------SF 6 + 262 kilo kalori

Molekul sulphur hexa fluorida

Terlihat pada gambar bahwa molekul SF6 mempunyai 6 atom Fluor yang mengelilingi sebuah atom Sulphur, di sini masing-masing atom Fluo mengikat 1buah elektron terluar atom Sulphur. Dengan demikian maka SF6 menjadi gas yang inert atau stabil seperti halnya gas mulia. Sampai saat ini SF6 merupakan gas terberat yang mempunyai massa jenis 6,139 kg/m3 yaitu sekitar 5 kali berat udara pada suhu 00 celsius dan tekanan 1 atmosfir. Sifat lainnya adalah : tidak terbakar, tidak larut pada air, tidak beracun, tidak berwarna dan tidak berbau. SF6 juga merupakan bahan isolasi yang baik yaitu 2,5 kali kemampuan isolasi udara. Perbandingan SF6 dengan beberapa gas lain seperti tercantum pada tabel:

Sifat beberapa Gas

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa untuk pembentukan SF6 timbulpanas, ini berarti bahwa pada pemisahan SF6 menjadi Sulphur dan Fluor memerlukan panas dari sekelilingnya sebesar 262 k . kalori/

molekul. Hal ini tepat sekali digunakan untuk bahan pendinginan pada peralatan listrik yang menimbulkan panas atau bunga api pada waktu bekerja, misalnya : sakelar pemutus beban. Sifat dari SF6 sebagai media pemadam busur api dan relevansinya pada sakelar pemutus beban adalah: Hanya memerlukan energi yang rendah untuk mengoperasikan mekanismenya. Pada prinsipnya SF6 sebagai pemadam busur api adalah tanpa memerlukan energi untuk mengkompresikannya, namun semata-mata karena pengaruh panas busur api yang terjadi. Tekanan SF6 sebagai pemadam busur api maupun sebagai pengisolasi dapat dengan mudah dideteksi. Penguraian pada waktu memadamkan busur api maupun

pembentukannya kembali setelah pemadaman adalah menyeluruh (tidak ada sisa unsure pembentuknya) Relatif mudah terionisasi sehingga plasmanya pada CB

konduktivitasnya tetap rendah dibandingkan pada keadaan dingin. Hal ini mengurangi kemungkinan busur api tidak stabil dengan

demikian ada pemotongan arus dan menimbulkan tegangan antar kontak. Karakteristik gas SF6 adalah elektro negatif sehingga

penguraiannya menjadikan dielektriknya naik secara bertahap. Transien frekuensi yang tinggi akan naik selama operasi pemutusan dan dengan adanya hal ini busur api akan dipadamkan pada saat nilai arusnya rendah. c. Gas-gas lain Gas bentukan fluoro organic misalnya C7F14, C7F8, C14, F24 mempunyai tegangan tembus yang tinggi, berkisar antara 6 10 kali tegangan tembus udara. Pemakaian gas ini cocok untuk bahan isolasi pada alat-alat pemutus. Gas karbon dioksoda (CO2) dapat digunakan sebagai gas residu pada bahan dielektrik cair (minyak) pada alat-alat tegangan tinggi, antara lain: kabel dan trafo. Gas neon adalah salah satu gas mulia yang banyak digunakan sebagai bahan pengisi lampu-lampu tabung.

3. Penerapan Isolator Gas Pada Sistem Kelistrikan Berikut ini adalah beberapa penerapan penggunaan isolator gas pada sistem kelistrikan a. Pada gardu induk Konvensional Mengacu pada arti dasar isolasi sebenarnya yaitu pemisah antara bagian bertegangan yang satu dan bertegangan yang lainnya, berarti gardu induk konvensional ( gardu induk dengan isolasi udara ) adalah gardu induk di mana antar gardu induk tersebut terpisah oleh udara sebagai isolasinya sehingga diperlukan tempat pembangunan gardu yang

luas. Udara yang dimaksud di sini adalah udara biasa di mana tempat kita bernapas menghirup. b. Gas Insulated Substation / Gas Insulated Switchgear ( GIS ) Gardu induk ini menggunakan sebagai bahan isolatornya yang diletakkan di antara kedua substrat yang bertegangan, maupun antara substrat yang bertegangan satu dengan yang tidak bertegangan. Perlu diketahui bahwa kriteria gas ini tidak berbau, tidak berwarna, tidak beracun, tidak terakar, tidak larut dalam air, dan merupakan bahan isolator yang baik yang mampu mengisolasi 8,9 . Pembangunan gardu ini juga tidak memerlukan area yang luas. c. Circuit Breaker Pada CB, masih menggunakan karena gas tersebut mampu memadamkan busur api yang menjadi pemicu kerusakan komponen listrik, seperti terbakar, meledak, dan lain sebagainya. Berikut alasan mengapa menggunakan : Energi yang diperlukan sedikit; Tekanan gas mudah terdeteksi; Tidak mengubah struktur zat, karena ketika terjadi proses pembentukan dan penguraian akan sama seperti semula; Mudah terionisasi sehingga konduktivitasnya tetap rendah; Akibat keelektronegatifan , menjadikan dielektriknya naik secara bertahap ketika terjadi penguraian; Busur api mudah dipadamkan.

d. Mesin-Mesin Listrik Besar Misalnya pada generator turbo dan kondensator sinkron. Mereka menggunakan gas sebagai isolatornya. Hidrogen mampu bertindak sebagai pendingin sebab memiliki konduktvitas termal yang relatif tinggi sehingga dapat mengurangi rugi-rugi pada belitannya. Kemudian, kebisingan dapat diminimalisir sebab kepekatan hidrogen lebih rendah dibanding udara. Namun, hati-hati dengan reaksi antara hidrogen dan udara karena pada perbandingan tertentu, dapat mengakibatkan letusan.

e. Perangkat Tegangan Tinggi seperti Kabel dan Transformator Pada kabel dan transforator, mereka menggunakan gas sebagai isolator sebab tegangan tembusnya rendah yaitu 157 , sebagai gas residu pada bahan dielektrik cair, dan tahan tehadap suhu tinggi 6880 C / W/ . f. Bahan Dielektrik Kondensator Menggunakan sebagai pendingin dengan resistivitas termal 10400 C / W/ pada suhu 30 C dan tegangan tembus 358 Vcm. g. Lampu Tabung Menggunakan gas Ne dengan tegangan tembusnya sekitar 100 V/cm, resistivitas termalnya 2150 C/W h. Komponen yang Diisi Gas Komponen yang diisi gas seperti yang terdapat pada Live Tank CB dan Dead Tank CB. Pada Live Tank CB, ketika kontaktor terbuka, maka gas yang mengisolasi akan keluar melalui nozzle sehingga busur api dapat dipadamkan. Sedangkan pada Dead Tank CB, saat kontaktor terbuka maka katup gas ikut terbuka menurunkan tekanan yang semulanya tinggi, maka gas akan masuk ke pipa dan nozzle pada tangki utama sehingga tekanan di tangki utama akan sedikit naik tapi tekanan akan menurunkan dengan memompa gas masuk ke reservoir bertekanan tinggi. i. Current Transformer dan Busbar Berikut gas-gas yang sering dipakai pada alat ini adalah:

4. Mekanisme Kegagalan Isolator Gas Mekanisme Kegagalan Isolasi Gas Dalam mekanisme tembus listrik bahan isolasi, ada beberapa peristiwa/proses yang berperan di dalamnya, antara lain: Ionisasi, yaitu peristiwa terlepasnya elektron dari ikatan atom netral sehingga menghasilkan satu elektron bebas dan ion positif Deionisasi, yaitu peristiwa dimana satu ion positif menangkap elektron bebas sehingga ion positif tersebut menjasi atom netral Emisi, yaitu peristiwa terlepasnya elektron dari permukaan logam menjasi elektron bebas Proses dasar dalam kegagalan isolasi gas adalah ionisasi benturan oleh elektron. Ada dua jenis proses dasar yaitu : Proses primer, yang memungkinkan terjadinya banjiran electron Proses sekunder, yang memungkinkan terjadinya peningkatan banjiran elektron

Saat ini dikenal dua mekanisme kegagalan gas yaitu : a. Mekanisme Kegagalan Townsend Pada proses primer, elektron yang dibebaskan bergerak cepat sehingga timbul energi yang cukup kuat untuk menimbulkan banjiran elektron. Jumlah elektron Ne pada lintasan sejauh dx akan bertambah dengan dNe, sehingga elektron bebas tambahan yang terjadi Ne.dx . Ternyata jumlah elektron bebas dalam lapisan dx adalah dNe = dNe yang bertambah akibat proses ionisasi sama besarnya dengan jumlah Ne.(t).dt; ion positif dN+ baru yang dihasilkan, sehingga dNe = dN+ = dimana : koefisien ionisasi Townsend jumlah ion positif baru yang dihasilkan Ne : jumlah total electron kecepatan luncur elektron konstan,Ne = N0, x = Pada medan uniform,x sehinggaNe = NO Jumlah elektron yang menumbuk anoda per detik sejauh d dari katoda sama dengan jumlah ion positif yaitu N+ = N0 x . Arus ini akan naik terus sampai terjadi peralihan menjadi pelepasan yang bertahan sendiri. Peralihan ini adalah percikan dan d diikuti oleh perubahan arus dengan cepat dimana karena >> d secara teoritis menjadi tak terhingga, tetapi O 1 maka dalam praktek hal ini dibatasi oleh impedansi rangkaian yang menunjukkan mulainya percikan. b. Mekanisme Kegagalan Streamer Ciri utama kegagalan streamer adalah postulasi sejumlah besar foto ionisasi molekul gas dalam ruang di depan streamer dan pembesaran medan listrik setempat oleh muatan ruang ion pada ujung streamer. Muatan ruang ini menimbulkan distorsi medan dalam sela. Ion positif dapat dianggap stasioner dibandingkan elektron-elektron yang begerak

cepat dan banjiran elektron terjadi dalam sela dalam awan elektron yang membelakangi muatan ruang ion positif. Medan Er yang dihasilkan oleh muatan ruang ini pada jari jari R adalah : Pada jarak dx, jumlah pasangan x dx sehingga : elektron yang dihasilkan adalah R adalah jari jari banjiran setelah menempuh jarak x, dengan rumus diffusi R= (2Dt). Dimana t = x/V sehingga, dimana : N : kerapatan ion per cm2, e : muatan elektron ( C ), : permitivitas ruang bebas R : jari jari (cm), V : kecepatan banjiran D : koefisien diffusi.

E. KOORDINASI ISOLATOR 1. Pengertian Koordinasi Isolator Koordinasi isolasi dapat didefenisikan sebagai korelasi antara daya isolasi alat-alat dan sirkuit listrik di satu pihak dan karakteristik alat-alat pelindungnya di lain pihak, sehingga isolasi tersebut terlindung dari bahayabahaya tegangan lebih secara ekonomis. Koordinasi isolasi dinyatakan dalam bentuk langkah-langkah yang diambil untuk menghindarkan kerusakan terhadap alat-alat listrik karena tegangan lebih dan membatasi lompatan sehingga tak menimbulkan kerusakan terhadap alat-alat listrik dan karakteristik alat-alat pelindung terhadap tegangan lebih, yang masingmasing ditentukan oleh tingkat ketahanan impuls dan tingkat perlindungan impulsnya. Koordinasi isolasi mempunyai dua tujuan :

Perlindungan terhadap peralatan Penghematan (ekonomi)

Oleh karena perlindungan bertujuan ekonomi pula, maka kedua tujuan tersebut disatukan menjadi satu tujuan : ekonomi, hal ini berlaku untuk semua masalah dalam bidang perlindungan. Dalam hal koordinasi isolasi, yang dituju ialah sebuah sistem tenaga listrik yang bagian-bagiannya, masingmasing dan satu sama lain, mempunyai daya isolasi yang diatur sedemikian rupa, sehingga dalam setiap kondisi operasi, kwalitas pelayanan (penyediaan) dicapai dengan biaya seminimum mungkin. Biaya peralatan yang dimaksud terdiri dari biaya pertama peralatan (first cost), biaya kerusakan, biaya pelayanan berhenti (outages),biaya penurunan dan penaikan kwalitas pelayanan.

2.

Karakteristik Koordinasi Isolator Karakteristik koordinasi isolator adalah sebagai berikut: Dalam hal kemampuan isolasi untuk menghadapi surja hubung dan surja petir maka yang berperan adalah kemampuan isolasi terhadap kenaikan tegangan yang dikenakan padanya. Dalam pengoperasian normal isolasi peralatan sistem tenaga ditentukan sesuai dengan tegangan kerja (kelas tegangan) dimana peralatan itu beroperasi. Pengaman petir dan dan surja hubung memerlukan penetapan dari level tegangan yang disebut level tegangan shunt, yaitu perangkat pengaman seperti arrester. Batas ketahanan impuls petir yang disebut sebagai Basic Impulse Level (BIL) adalah ketentuan untuk setiap sistem tegangan nominal dari berbagai peralatan.

Semua peralatan dan komponen-komponennya harus mempunyai BIL di atas level sistem proteksi, sesuai margin. Nilai batas ini biasanya ditentukan berdasarkan isolasi udara dengan metoda statistik.

Untuk peralatan yang bukan isolasi seperti trafo isolasi, batas margin batas margin ditetapkan berdasarkan metoda konvensional.

3.

Prinsip Koordinasi Isolasi Rasionalisasi dari pada daya isolasi suatu sistem dan implementasi dari pada koordinasi isolasi menyangkut prinsip-prinsip tertentu yang di dalam prakteknya berupa aturan-aturan sebagai berikut : a. Arrester petir (lightning arrester) dipakai sebagai alat pelindung pokok. b. Tegangan sistem mempunyai tiga harga : Tegangan nominal Tegangan dasar (rated) Tegangan maksimum.

c. Ada dua macam sistem : yang netralnya diisolasikan (isolated neutral system) dan yang dibumikan secara efektif (effectively grounded system). Pada kedua sistem ini tegangan-transmisi maksimumnya dapat mencapai 105% dari tegangan dasar. d. Tegangan dasar (rating) yang dipakai pada arrester adalah tegangan maksimum frekuensi rendah (50 c/s) di mana arrester tersebut bekerja dengan baik. Pada sistem terisolasi, arrester harus mempunyai tegangan dasar maksimum tidak melebihi tegangan dasar penuh atau arrester 100%. Pada sistem yang dibumikan, tegangan dasar maksimum dari pada arrester dapat diturunkan menjadi 80% dari tegangan sistem maksimum. Cara dan aplikasi khusus memungkinkan pemakaian arrester 75-80%.

e. Dalam penentuan isolasi trafo, dipakai isolasi yang dikurangi (reduced insulation), yaitu tingkat isolasi yang lebih rendah dari pada apa yang telah ditetapkan dalam standar seperti yang terdapat pada tabel f. Dua unsur utama koordinasi isolasi yang penting ialah karakteristik volt waktu dari isolasi yang harus dilindungi dan karakteristik pelindung dari arrester. Pada tegangan tinggi sekali (EHV, UHV) ada dua pasang karakteristik yang perlu diperkatikan, satu untuk surja petir dan satu lagi untuk surja bubung.

Dengan karakteristik isolasi dan karakteristik arrester dapat disusun suatu sistem pengaman yang terkoordinasi. Tegangan operasi proteksi harus lebih kecil dari tegangan tembus isolasi. Koordinasi antara

kemampuan isolasi dan pengaman sistem ditentukan dengan Basic Insulation Level (BIL).

4. Karakteristik Alat Pelindung Alat pelindung berfungsi melindungi peralatan tenaga listrik dengan cara membatasi surja (surge) tegangan lebih yang datang dan mengalirkannya ke tanah. Berhubungan dengan fungsinya itu ia harus dapat menahan tegangan sistem 50 c/s untuk waktu yang tak terbatas, dan harus dapat melakukan surja arus dengan tak merusaknya. Kecuali itu sebuah alat pelindung yang baik mempunyai protekctive-ratio yang tinggi, yaitu perbandingan antara tegangan surja maksimum yang diperbolehkan pada waktu pelepasan dan tegangan sistem 50 c/s maksimum yang dapat ditahan sesudah pelepasan (discharge) terjadi. Gelombang surja merupakan suatu gelombang impuls tegangan yang melonjak dan merambat dari titik sumbernya berarah radial sepanjang penghantar.

Gelombang surja pada instalasi listrik

Titik A merupakan besar amplitude gelombang surja yang dapat ditahan oleh isolator dan titik B untuk tanduk busur apinya. Fungsi dari

tanduk busur api adalah melindungi isolator dari tegangan tembus yang disebabkan oleh gelombang surja. Bila amplitude tegangan telah mencapai titik B, maka terjadi pelepasan muatan listrik (discharge) dari tanduk yang terhubung ke penghantar ke tanduk yang terhubunga ke bumi (grounding) yang menimbulkan loncatan api.

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan pada BAB II, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: Isolasi adalah suatu peralatan yang berfungsi sebagai tahanan atau pelindung agar tidak terjadi tembus yang tidak diinginkan. Isolator terbagi atas tiga jenis, yaitu isolator padat, isolator cair, dan isolator gas

B. SARAN Diharapkan adanya kritik dan saran atas hasil penulisan makalah ini agar pada penulisan selanjutnya dapat mengurangi kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA

http://faizalnizbah.blogspot.com/2013/06/bahan-isolasi-bentuk-padat.html http://nhoeelektronika.blogspot.com/2013/02/bahan-isolator.html http://irwanrinaldielektro.blogspot.com/2012/06/isolasi-tegangan-tinggi.html http://faizalnizbah.blogspot.com/2013/06/isolator-bentuk-cair.html http://ancharyu.wordpress.com/2010/02/27/isolator-cair/ http://adykhulu.blogspot.com/2008/12/isolator-gas.html http://ancharyu.wordpress.com/2010/03/17/98/ http://mysterimanedin.blogspot.com/2012/04/pendahuluan-persoalanisolasiadalah.html http://bagusyogohutomo.blogspot.com/2012/11/24-kordinasi-isolasi.html