Anda di halaman 1dari 3

Apa Yang Dimaksud Dengan Eritroblastosis Fetalis?

Eritroblastosis Fetalis, umumnya juga dikenal sebagai penyakit hemolisis pada bayi baru lahir, adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan penyerangan pada sel darah merah bayi akibat adanya antibodi di dalam darah ibu sewaktu terjadi inkompatibilitas golongan darah rhesus (Rh). Permukaan sel darah merah membawa protein dengan jenis yang berbeda-beda untuk menandai golongan darah yang berbeda-beda. Ketika faktor protein Rh muncul pada sel darah merah, individu tersebut diketahui memiliki Rh positif. Apabila protein tersebut tidak muncul, maka dikenal sebagai Rh negaitf. Eritroblastosis Fetalis hanya dapat terjadi ketika ibu dengan Rh negatif peka dengan bayi yang memiliki Rh positif ketika hamil. Kepekaan terjadi ketika darah ibu dengan Rh negatif terpapar oleh darah bayi Rh positif sewaktu hamil. Setelah terpapar, tubuh ibu meresponinya dengan menghasilkan antibodi untuk melawan sel darah Rh positif dan dikatakan peka. Sewaktu kehamilan pertama dengan bayi Rh positif dari ibu Rh negatif, aliran darah ibu tidak memiliki antibodi karena belum terpapar sebelumnya. Namun, sewaktu persalinan, campuran darah bayi dan darah ibu menimbulkan kepekaan. Pada kehamilan berikutnya dengan bayi Rh positif, keberadaan antibodi dalam darah ibu menyerang sel darah merah bayi melalui plasenta atau sewaktu persalinan, menyebabkan eritroblastosis fetalis. Hal ini merupakan kondisi yang mengancam keselamatan bayi karena dapat menyebabkan pecahnya selsel darah merah, menyebabkan anemia dan ikterus. Bayi baru lahir biasanya memerlukan transfusi darah dan pengawasan secara ketat. Ketika eritroblastosis fetalis terjadi sewaktu kehamilan, transfusi darah intrauterin diperlukan untuk mencegah kematian bayi di dalam kandungan.

2. Pemindaian dengan bahan radioaktif,

Merupakan cara yang aman untuk mengenali penyakit jantung. Pada dasarnya metode ini dilakukan untuk mengetahui aliran darah di arteri jantung dan untuk mengetahui fungsi ventrikel. Pasien disuntik dengan bahan radioaktif vang tidak berbahaya. Kemudian pasien berbaring dan di bagian jantung di periksa dengan detektor sinar gamma. Detektor akan

merekam gambar jantung dan dari rekaman tersebut dapat dibuat foto polaroidnya. Satu satunya ketidaknyamanan adalah saat pasien disuntik menggunakan jarum suntik.

Metode ini hampir tidak menimbulkan komplikasi. Metode ini digunakan untuk memeriksa rasa nyeri dada atau memastikan hasil uji menggunakan metode lain, memeriksa hasil terapi jantung atau operasi by pass.

1)

Transplantasi Jantung.

Transplantasi Jantung yaitu mengganti jantung pasien yang sudah rusak dengan jantung baru yang masih baik. Keberhasilan transplamtasi jantung pertama kali dilakukan pada tanggal 3 Desember 1967. Dr. Christian Barnard mengambil jantung seorang pasien yaitu Louis Washkansky yang rusak dan menggantinya dengan jantung yang masih baik dari seorang wanita yang meninggal akibat kecelakaan.

2)

Jantung Buatan

Operasi jantung mulai berkembang setelah diciptakan mesin seperti jantung pada tahun 1953. Selama operasi jantung, jantung dibuat tidak aktif. Sebagai gantinya, dipasang mesin jantung yang berfungsi menggantikan fungsi jantung, memompa, dan memberi oksigen kedalam darah. Mesin jantung ini memiliki saluran yang berhubungan dengan vena cava dan aorta. Mula-

mula pompa mesin jantung menyedot darah dari vena cava jantung ( darah kaya CO2 ) untuk dibawa menuju ke oksigenator. Di oksigenator darah diperkaya dengan oksigen dan diambil karbon dioksidanya. Darah yang sudah kaya oksigen dan tidak mengandung karbon dioksida dipompa menuju aorta dan dari aorta darah terpompa ke seluruh tubuh. Agar darah tidak menggumpal selama operas, darah diberi heparin yang merupakan senyawa antikoagulan. Setelah operasi selesai dan sirkulasi darah kembali dikendalikan oleh jantung, maka aktifitas heparin dinetralkan dengan menggunakan protamin sulfat.