Anda di halaman 1dari 3

Mertua dan Menantu

Manusia itu ibarat lingkaran


Diawali dengan angka nol
Maka diakhiri pula dengan nol
Saat bayi kau tak mampu apa-apa
Maka menjelang uzur keadaanmu
Tak jauh berbeda dengan bayi
Maka bersabarlah,....

Wanita itu tak henti-hentinya bercerita panjang lebar, sesekali dia menarik napas panjang
lalu kembali bercerita untuk satu tarikan napas tadi. Sesekali dadanya terlihat naik dan
turun menahan luapan emosi kemarahan, sesekali matanya terlihat berkaca-kaca menahan
sedih dan kekesalan. Aku menatap mata wanita itu, aku menangkap bahwa kekesalan
hatinya itu telah menumpuk hingga ke kerongkongannya dan telah siap untuk
dimuntahkan, entah mengapa sedikitpun dia tak merasa sungkan saat menceritakan
kekurangan dan perselisihan dengan mertuanya padaku, sekilas dan teramat jelas aku
melihat ada rasa benci dan amarah yang besar dan membludak dari dalam dadanya saat
cerita itu mengalir begitu saja dari bibirnya.

Sesekali kualihkan pandanganku darinya, memperhatikan anak-anak kami yang sedang


bermain bersama, ada sedikit rasa yang aneh menyelinap dihatiku, karena ini bukan untuk
pertamakalinya dia menceritakan perselisihan dengan mertuanya padaku dan kepada
beberapa tetangga kami yang lain. Mungkin aku merasa risih karena posisiku juga
seorang menantu. Aku memilih mendengarkan saja tanpa memberikan komentar apapun.

Sesekali dia mencoba meminta pendapatku, aku mencoba membalasnya dengan


senyuman. Sebenarnya aku merasa iba padanya, terutama saat kudapati sorot matanya
yang penuh harap semoga ada kisah yang sama dariku. Aku membalas menatapnya
kembali mencoba menjelaskan sesuatu lewat sorot mataku, tak hentinya aku bersyukur
dihati bahwa hubunganku dengan mertuaku baik-baik saja, kalaupun ada perbedaan
pendapat aku rasa itu wajar, toh memang sudah seperti itu hidup ini, karena aku selalu
sepakat dengan pemikiran bahwa semua hal bisa dikomunikasikan dengan cara yang baik
pula.

Sekilas kulihat dia memalingkan wajahnya dariku, entahlah apa yang dia pikirkan dengan
sikapku tadi, mungkin dia merasa aku tak begitu peduli dengan masalah yang dia hadapi,
atau mungkin dia kesal karena aku tidak begitu menanggapinya. Entahlah aku tak bisa
menebak lagi isi hati wanita itu, dia langsung mengganti topik pembicaraan kami ke arah
lain.

Alhamdulillah ucapku dalam hati mudah-mudahan dia mengerti maksudku


membicarakan sebuah masalah hanya dari satu pihak saja justru membuatku bingung
menentukan sikap. Bagaimanapun saat seseorang mencurahkan isi hatinya maka tentu
saja ia ingin mendapatkan simpati dari oranglain bahkan sebuah pembelaan dan

September 09, aida.doc


pembenaran. Dalam kondisi seperti ini, bukan berarti aku tak ingin membela wanita itu,
sebagai sesama menantu terus terang aku pilu mendengarkan kisahnya Namun kali ini
aku lebih ingin menjadi pendengar yang baik buat wanita itu.

Suatu sore yang indah saat aku sedang asik bermain di depan rumah dengan gadis
kecilku, aku disapa oleh tante sebelah rumah, kulihat ada beberapa orang tetangga lain
yang juga sudah ikut nongkrong di situ, walaupun hatiku agak enggan untuk singgah
kupikir untuk silaturrahmi tidak ada salahnya. Namun benar saja, dalam sedikit obrolan
terselip obrolan yang seharusnya aku dan ibu-ibu yang lain sebagai tetangganya tak perlu
tahu tentang kekurangan menantunya dan besannya.

Bukankah salah satu tujuan dari pernikahan adalah menyatukan dan menambah hangat
silaturrahmi kedua belah keluarga yang menikah, Namun mengapa tak jarang terjadi
tujuan itu menjadi samar bahkan menjadi awal dari perselisihan. Aku kasihan mengapa
pernikahan menjadi awal ketidakharmonisan keluarga mereka?? ku tarik nafas dalam-
dalam, aku tidak cukup mengerti bagaimana cara berfikir setiap orang, termasuk cara
mereka menilai sebuah masalah sehingga menjadi sebuah perang dingin antar keluarga
bahkan perang terbuka sekalipun.

Mungkin ini sudah seperti fenomena dalam sinetron sekarang yang menurutku terkadang
berlebihan dan kurang bisa diterima oleh logikaku, sebagian tayangan sinetron yang
banyak menyuguhkan sisi kehidupan mertua yang sering berseteru dengan menantunya.
Bahkan banyak kita jumpai di kehidupan nyata tak jarang pula ada perselisihan menantu
dan mertua yang memperebutkan harta warisan bahkan sampai baku hantam segala
Naudzubillahi min dzalaaik.

Jujur saja aku tidak begitu memahami kondisi seperti ini, bagiku semua masalah diawali
oleh faktor sebab akibat, sehingga banyak hal yang memicu kondisi seperti itu. Tapi
bukankah semua orang punya masalah di dunia ini, orang hidup pasti punya masalah,
hanya saja bagaimana setiap kita mengatasi masalah itu dengan bijaksana atau
sebaliknya.

Sesaat sebelum menikah ayah dan ibuku berpesan, jadilah istri yang menyenangkan hati
suamimu, menjaga kehormatan keluarga. Berbaiklah dengan keluargamu dan
keluarganya, baik dan buruk mertuamu berarti baik buruknya kamu juga, sehingga kamu
tidak perlu untuk membicarakan keburukannya kepada oranglain.

Manusia itu ibarat lingkaran, diawali dengan angka nol maka akan diakhiri pula dengan
angka nol. Jadi saat bayi kita tak mampu apa-apa, saat sudah lanjut usiapun akan banyak
berkurang kemampuannya, jika seorang ibu sangat bersabar mengasuh anaknya di kala
bayi, lalu mengapa sang anak tidak bersabar saat orangtuanya menjelang tua menjadi
sangat cerewet dan kekanak-kanakan hanya karena Allah mengurangi banyak
kemampuannya??? Jika hati terkadang terlanjur sakit, maka berusahalah untuk
memaafkan dan tetaplah bersikap lemah lembut dan kasih sayang (Ali imran : 159)

September 09, aida.doc


Satu hal yang terus kuyakini sampai saat ini, bahwa jangan pernah menjudge seseorang
bahkan sampai membencinya, karena seburuk apapun orang itu pasti ada sisi baiknya,
ketika rasa benci itu telah bersemanyan di hati kita maka sebesar apapun kebaikannya
maka tak akan pernah terlihat lagi oleh mata hati kita.

Nasehat ayahku terus terngiang setiap waktu di telingaku, insya Allah untuk selalu ku
ingat. Aku hanya bersyukur dalam hati atas apa yang Allah berikan saat ini suami, anak
dan mertua. Hidup memang tidak ada yang sempurna, Namun hati kitalah yang mampu
untuk membuat hidup kita berarti atau tidak.

September 09, aida.doc