Anda di halaman 1dari 133

KEBIDANAN VETERINER

Oleh: drh. Analis Wisnu Wardhana, M.Biomed

PENDAHULUAN

Ruang Lingkup Kebidanan Veteriner meliputi : proses fertilisasi, diagnosa kebuntingan dini, Eutocia, Dystocia dan kelainan saluran kelahiran FERTILISASI merupakan proses pertemuan sel spermatozoa di dalam oviduct/tuba yaitu di bagian ampulla (1/3 proximal dari tuba)

Tahap-tahap fertilisasi 1) Kapasitasi (acrosome mempunyai permeabilitas yang meningkat untuk mengeluarkan enzym hyaluronidase untuk meluluhkan sel-sel corona) 2) Tertangkapnya kepala sel spermatozoa dalam zona pellucida receptor spesifik (ZP3, ZP, ZP2) 3) Spermatozoa menembus zona pellucida dan vitelline membrane dengan bantuan enzym zona lysin 4) Terbentuknya vitelline block yang terjadi akibat masuknya kepala spermatozoa ke dalam sitoplasma sel telur maka ada canaliculi yang menghubungkan sitoplasma dengan perivitteline

5) Terjadi perubahan struktur zona pellucida karena perubahan tegangan potensial akibat spermatozoa yang pertama masuk ke dalam sitoplasma sehingga terjadi blokade yang kedua di zona pellucida 6) Transport gamet (waktu yang diperlukan gamet (morula) untuk mencapai uterus) Sapi: 5 hari Kambing, domba: 3 hari Kuda: 8-10 hari

IMPLANTASI embrio yang sampai di rahim membelah dan berkembang menjadi blastocyst, kemudian melakukan spacing yang merupakan usaha aktif dari endometrium dan embrio Pada sapi, kambing dan domba villichorion masuk diantara epitelendometrium yang membentuk crypten persendian ( syndesmochorialis) dengan bentuk plasenta cotyledonaria

Pada kuda type pertautan plasentanya epitheliochorialis yang merata di permukaan chorion dengan bentuk placenta diffusa Pada manusia tipe pertautan plasentanya hemochorialis dengan bentuk plasenta discoidalis tipe plasenta di atas sangat berguna dalam menentukan pertolongan retensio secundinarum

TEKNIK DIAGNOSIS REPRODUKSI

1.

Diagnosis kebuntingan pada ternak peliharaan meliputi: Pemeriksaan dari luar a) pemeriksaan luar kondisi tubuh b) pemeriksaan ambing dan air susunya c) pemeriksaan tekan perut sebelah kanan d) asimetris/simetris perut dari belakang e) datangnya kembali birahi

2) Pemeriksaan hormonal a) progesteron b) estrogen c) PMSG pada golongan equidae d) HCG pada golongan primata e) PGF2 3) Pemeriksaan zat kimia organik 4) Pemeriksaan sel darah putih dan merah serta lemak air susu 5) Pemeriksaan ECG 6) Pemeriksaan dengan sinar X 7) Pemeriksaan dengan USG 8) Pemeriksaan Echotomography 9) Pemeriksaan laparoscopy

10) 11) 12) 13)

Pemeriksaan ultrasonic droppler Pemeriksaan epithel vagina Vaginal biopsy Eksplorasi rectal

Fungsi pemeriksaan kebuntingan dini 1. Tercapainya produktifititas satu anak satu tahun 2. Menghindari anestrus yang berkepanjangan akibat gangguan fungsi atau atau penyakit di dalam ovarium dan uterus ex: hypofungsi, cystic ovarium(kista cl), luteal cyst dan kista folikel atau pyometra

1. Pemeriksaan dari luar

a) Gejala klinis (tidak timbulnya birahi) Pada sapi bunting muda (min. 1 bulan), kurang mutlak karena 5-10% masih menunjukkan birahi karena hormon estrogen oleh folikel non ovulated pada bunting muda sebelum implantasi, plasenta sewaktu bunting muda. Pada kuda bunting 15% menunjukkan gejala birahi kembali karena produksi estrogen oleh folikel accesorius dan produksi PMSG oleh endometrium kuda bunting umur 50-110 hari

b) Pemeriksaan tekan perut sebelah kanan menekan dengan kepalan tangan pada 10-15 cm selama 1 menit ujung segitiga fossa paralumbal, mulai kebuntingan 5 bulan untuk merasakan gerakan foetus Pada kambing dilakukan perabaan perut bimanual pada umur > 3 bulan, pada anjing umur 1 bulan

C) Pemeriksaan asimetris/simetris perut dari belakang Pada sapi bunting monotokus menunjukkan besar asimetris ke sebelah kanan (kebuntingan > 5 bulan), bulu mengkilap akibat retensi natrium karena peningkatan aldosteron dan juga retensi air oleh ginjal

d) Pemeriksaan ambing dan air susunya umur kebuntingan 5 bulan, ambing membesar dan kemerahan disertai pembesaran vena ambing, umur 8 bulan air susu kuning transparan dan lengket (terutama pada sapi dara/ heifers), pada yang tidak bunting berwarna putih pekat dan tidak begitu lengket

e) Perabaan ligamentum sacroischiadica sacoilliaca umur kebuntingan 7 bulan ligamentum ini mengendor dan terasa lembut dipengaruhi hormon relaxin yang oleh ovarium

f) Vulva umur kebuntingan 8 bulan labia mayora tampak membengkak dan kemerahan, keluar lendir dari cervix uteri yang encer dan transparan dalam jumlah yang relatif banyak (1-2 sebelum kelahiran) yang disebabkan estrogen yang diproduksi oleh placenta foetalis

2. Pemeriksaan Hormonal dan Substansi Menyerupai Hormon

a) Pemeriksaan Hormon Progesteron Kebuntingan dini Corpus luteum progesteron - pada domba CL regresi pada umur kebuntingan 3 bulan, kuda 5 bulan dan progesteron diproduksi olah placenta foetalis - pemeriksaan dilakukan pada 22-24 hari setelah dikawinkan

Sampel : serum darah, air susu - Kadar progesteron (+) : 2,5-3,0 ng/ml akurasi 80-85% ( - ): 0-0,2 ng/ml akurasi 100% karena satu-satunya sumber progesteron dari CL yang regresi pada 17 hari siklus. - 5-20% tidak akurat karena ada kemungkinan perpanjangan umur CL akibat early embryonic death - Pada sapi bunting kembar kadarnya 2X (55,5 ng/ml)
-

b) Pemeriksaan hormon Estrogen (Esterone sulfat, Estriol, Estradiol 17=37 hari 95 pg/ml) Esterone sulfat: pada serum darah babi mencapai puncak 2X umur 30 hari (500 pg) dan 110 hari (400 pg) masa kebuntingan, pada sapi 105 hari masa kebuntingan Estradiol 17: pada serum darah mencapai puncak pada 110 hari (400-500 pg/ml) masa kehamilan Pemriksaan estrogen dapat dilakukan secara kuantitatif dengan Radioimmunoassay (RIA) atau kualitatif dengan uji Cuboni Hormon ini dihasilkan oleh placenta foetalis

c) Pemeriksaan Pregnant Mare Serum Gonadotropin (PMSG) - Hormon ini dikeluarkan oleh plasenta foetalis kuda bunting mulai umur kebuntingan 50-110 hari - Untuk menentukan adanya hormon ini dapat dilakukan dengan: Bioassay: penyuntikan plasma kuda bunting pada tikus atau kelinci infantil, PMSG=FSH dan sedikit LH sehingga 3-4 hari pasca penyuntikan dapat dilihat bekas ovolasi atau folikel pada ovarium hewan coba Hemaglutination Inhibition test (HI) : menggunakan antibodi PMSG dan eritrosit domba yang sudah disensitisasi dengan PMSG sebagai indikator

c) Pemeriksaan Human Chorionic Gonadotropin (HCG) Dihasilkan oleh sel epithel chorion pada wanita hamil usia 45 hari dengan memeriksa air seni dengan cara: Bioassay: Gallimainini test, air seni wanita hamil di pagi hari sebanyak 0,5 ml disuntikkan pada saccus ventralis katak jantan, bila (+) 2-3 jam diperiksa dibawah mikroskop pada cloaca katak jantan akan ditemukan sperma

Reaksi Hemaglutination test (HA): Plano test, HCG pada urin wanita hamil direaksikan dengan eritrosit domba yang telah disensitisasi dengan HCG, hasil (+) aglutinasi RIA: memakai dasar reaksi Ag-Ab spesifik kompetisi yang dilihat dengan sinar gamma dan dihitung dengan counterperminute (CPM)

d) Pemeriksaan prostaglandin kebuntingan umur muda dihasilkan oleh endometrium babi, sapi,domba dan kambing, tidak pada kuda, pada spesimen babi meningkat pada 2 minggu pasca konsepsi. Adanya PGF2 internal tidak menimbulkan abortus karena terbentuk antiluteolisis (PGE1 dan PGE2) + progesteron sehingga aktifitas myometrium tidak terjadi

3. Pemeriksaan Substansi Kimia Organik

Pemeriksaan zat kimia darah (Globulin serum darah) yang berbeda konsentrasinya pada anjing bunting dan tidak bunting

4.Pemeriksaan Darah dan Air Susu

a) Eritrosit Pada sapi bunting terjadi peningkatan jumlah sel-sel darah merah yaitu adanya peningkatan laju Endap Darah (LED) b) Leukosit pada sapi bunting di atas 5 bulan keatas akan terjadilukositosis terutama bentuk limfositosis dan neutrofilia dengan keakuratan 80-90% c) Air susu 9kadar lemak susu pada sapi bunting di atas 3 bulan mempunyai kadar lemak > 30% dari pada sapi yang tidak bunting (< 3%)

5. Pemeriksaan Electrocardiogram (ECG)

Biasanya dilakukan untuk eksperimental pada kuda umur kebuntingan 5 bulan keatas setelah jantung foetus berfungsi dengan baik, dengan kepekaan mendekati 100%. Hasil yang diperoleh yaitu gambaran cardiogram dari sistolik dan diastolik induk dan anak.

6. Pemeriksaan Kebuntingan Dengan Sinar X (Rontgen)

Efektif dilakukan pada umur kebuntingan 5-6 bulan pada sapi, pada domba 65-70 hari, dan pada anjing/kucing >35 hari dengan efektifitas 100%. Kekuatan penyinaran 80-90 kv dan 100 mv dengan waktu ekspose 0,5-1,3 detik dengan film yang dipakai mempunyai tanda kecepatan medium.

7. Pemeriksaan dengan USG

Mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan sinar X: Lebih peka dan tidak banyak menimbulkan efek samping Dapat membedakan jenis kelamin Dapat memonitor pertumbuhan folikel, ovulasi dan korpus luteum Dapat memantau embrio dini (35 hari kehamilan)

8.Pemeriksaan Echotomografi

Dapat dipakai pada umur kebuntingan mulai 42 hari dengan memasang probe pada daerah ventral bagian caudal umbilicalis induk. Pada sapi umumnya dilakukan pada umur kebuntingan 90 hari serta 60 hari pada kambing dan domba

9. Pemeriksaan Laparoskopi

hanya dapat mengobservasi besar uterus dan adanya corpus luteum di dalam ovarium. Sedangkan pembesaran uterus dengan atau tanpa adanya CL belum tentu hewannya bunting. Pemeriksaan ini dapat dilakukan setelah 35 hari kawin. Pada sapi dilakukan dengan menyelipkan teleskop (terdapat lampu halogen untuk memeriksa target organ) dan probe (untuk menyisihkan viscera)dengan panjang 70 cm dan 60 cm ke dalam rongga abdomen lewat fossa paralumbal kiri yang diinsisi pada 2 tempat yang berjarak 10 cm

Pada domba dan kambing dilakukan pada 30 hari setelah kawin dengan cara berbaring, probe dan teleskop dimasukkan pada kiri dan kanan linea alba

10. Pemeriksaan Ultrasonic doppler

Prinsip alat ini menggunakan gelombang suara berkekuatan 20-20.000 HZ. Pada sapi probe dimasukkan ke dalam rektum, untuk mendiagnosa kebuntingan 75 hari dengan mendengarkan suara jantung foetus dan suara arteri umbilicalis 240 kali/menit pada umur kehamilan 45 dan menurun menjadi 160 kali/menit menjelang lahir Pada kambing dan domba probe ditempelkan pada bagian caudoventral umbilikalis, dapat dilakukan mulai umur kebuntingan 50 hari

11. Pemeriksaan Epithel Vagina

a) vaginal swab/ vaginal smear bagian anterior vagina yang merupakan lapisan mucosa/epithel yang paling labilterhadap perubahan hormon reproduksi, terutama estrogen dan progesteron. Pada mencit 2/3 masa kebuntingan (2/3 X 21 hari) vagina dalam keadaan diestrus, 1/3 masa kebuntingan (1/3 X 21 hari) vagina mengalami fase proestrus Pada sapi untuk perhitungan bentuk sel, basal, parabasal,cornified dan adanya leukosit. Pada sapi bunting memberikan gambaran epithel vagina shift to the middle

b) Vaginal Biopsi sering dilakukan pada babi karena termasuk hewan dengan dinding perut yang tebal sehingga sukar untuk dilakukan diagnosa kebuntingan yaitu pada umur kebuntingan 35 hari. Mukosa vagina bagian anterior diambil dengan forcep biopsi lalu disimpan ke dalam formalin 10%, kemudian dibuat sediaan histologis Fase diestrus, epitehel akan tersusun 3-4 lapis epithel columnar Fase estrus, epithel akan tersusun 11-12 lapis epithel columner Bunting, epithel tersusun 2 lapis epithel columner

12. Explorasi Rectal


a) Explorasi rectal dengan 1 jari tangan Sering dilakukan pada babi, untuk meraba denyut yaitu fremitus arteri uterina media pada umur kebuntingan 45 hari, pada domba dan kambing bisa dilakukan juga namun agak sulit

b) Explorasi rectal dengan 1 tangan Pada dasarnya pemeriksaan ini didasarkan atas perabaan terhadap kantong amnion, membran slip foetus, placentom, fremitus dan foetus. Dengan target palpasi pada sebagian besar alat reproduksi dengan perubahan-perubahannya. Pada sapi Friesian Holstein rectum lebih tebal dan berlemak sehingga lebih sukar untuk meraba uterus

Pada sapi potong jenis kecil, sapi madura, sapi bali, relatif mudah meraba uterus bunting dan semua perubahannya, begitu juga dengan kerbau Pada kuda rectumnya tipis tetapi elastis sehingga perlu lebih berhati-hati dalam pemeriksaan kebuntingan

Persiapan sebelum melakukan palpasi rectal: - Lepas semua aksesoris pada tangan, kuku harus pendek - Sebaiknya memakai sarung tangan panjang (obstetric gloves) atau sarung tangan karet tipis - Pelicin atau pelumas untuk memudahkan masuk rectum dan menghindari trauma mucosa rectum - Menguncupka seluruh ujung jari dan diputar 180 berulang dan didorong se arah oral - Setelah tangan masuk ke dalam rectum: sesuaikan dengan peristaltik rectum (keluarkan tangan apabila peristaltik kuat sekali).Pada sapi yang tidak bunting organ reproduksi umumnya ada di ruang pelvis, pada bagian caudal akan terasa cervix dengan ukuran 2,5-3 cm, pada premiparous sampai 4 cm. apabila maju ke cranial akan ditemui conua dan bifurcatio uteri dalam satu genggaman telapak tangan apabila tidak bunting ovarium dan cornua kanan-kiri dapat teraba

1) 2) 3) 4) 5)

6)
7)

Secara umum seekor sapi atau kerbau yang bunting dapat diraba dan dirasakan adanya tanda-tanda sebagai berikut sesuai dengan umur kebuntingannya: Kantong amnion dengan cairannya Palpasi foetus Palpasi plasenton Fremitus A. uterina media Asimetri cornua uteri dan membran chorion yang bersatu dengan allantois berbatasan pada ujung cranial cornua uteri Fluktuasi pada cornua uteri Corpus luteum (graviditatum)

1. Kantong Amnion Teraba pada umur kebuntingan 35-65 hari, > 65 hari sulit ditentukan

2. Palpasi Foetus Umur 65 hari 90 hari Besar Foetus Sebesar mencit Sebesar tikus (12-15 cm)

3.

Placentom Merupakan persatuan antara karunkula(induk) dengan cotiledon (anak), mulai dapat diraba pada umur kebuntingan 2,5 bulan dengan ukuran maksimal 5 cm pada umur kebuntingan 200 hari. Pada umur kebuntingan 5-6 bulan placentom sangat membantu dalam diagnosa kebuntingan karena foetus kedudukannya paling jauh ke depan

4.

fremitus (arterial thrill) terjadi karena derasnya aliran darah dan pembesaran ukuran A.uterina media, yang mulai dapat dirasakan pada umur kebuntingan 80-120 hari (3,5 bulan)
5.

Asimetri kornua uteri Hanya terjadi pada monotokus, pembesaran pada salah satu kornua karena adanya cairan amnion, dapat teraba mulai umur 45 hari

6.

Fluktuasi Adanya cairan amnion dan alllanthois mengakibatkan konsistensi yang berfluktuasi pada dinding uterus dan penipisan dinding uterus, fluktuasi ini sangat jelas pada umur kebuntingan 60 hari karena cairan amnion dengan cepat bertambah.

7)

Corpus luteum (graviditatum) Pada umur 24 hari apabila teraba corpus luteum maka 80-90% hewan tersebut bunting, 10-20% terdapat CL karena adanya gangguan pelepasan PGF2 pada uterus sehingga CL bertahan(>14-17 hari) karena hambatan produksi luteolysin, gangguan yang mengakibatkan CL persisten antara lain: 1) Mummifikasi foetus 2) Maceratio foetus 3) Endometritis 4) Pyometra

PALPASI REKTAL PADA SAPI

Sapi bunting dini


1. 2.

3. 4.

5.

Umur 45 hari, yang sudah dapat diraba berupa: Asimetri kornua uteri Perpanjangan cervix uteri tetapi padat dan rapat Pembesaran dan bertambahnya cairan amnion Teraba batas kornua yang berisi gelembung amnion membran slip Korpus luteum graviditatum

Kebuntingan 3,5-4 bulan

Uterus belum mencapai dasar rongga abdominal dan dapat dirangkul dengan 1 telapak tangan Placentom sebesar 1 ruas jari telunjuk Fetus bergerak memantul menyentuh telapak tangan Fremitus A. uterina media

Kebuntingan 5 bulan

Foetus hanya dapat diraba bagian anteriornya (situs longitudinal anterior) atau bagian posteriornya (situs longitudinal posterior) Foetus berada di dasar abdomen sebelah kanan Placentom sebesar buah kemiri fremitus

Kebuntingan 6 bulan

Foetus sering tidak teraba (posisi paling jauh ke oral) Placentom sebesar buah pala dengan jumlah 80-100 buah Fremitus

Kebuntingan 7-9 bulan

7: foetus mulai kembali ke aboral 8: kaki foetus mulai mengarah ke pelvis 9: kaki depan ( posisi anterior ) sudah berada di rongga pelvis, dagu berada di atas os pubis paling anterior, fremitus dan placentonm semakin keras dan besar, vulva sangat membengkak diikuti oleh keluarnya lendir transparan dari vulva

PALPASI REKTAL PADA KUDA

Hampir semua teknik diagnosa yang diterapkan pada sapi dapat dipakai pada kuda, tapi tidak sebaliknya
Kebuntingan 30-45 hari Ovarium kiri akan mudah teraba tangan kanan dan dan ovarium kanan oleh tangan kiri pemeriksa, yang teletak di daerah sub lumbar, yaitu 5-10 cm di depan bagian atas crista os. Ileum Bila tidak bunting uterusnya sangat lembek dengan lebar 4-7 cm dan tebal 2-5 cm pada posisi dorsal atau sedikit ke ventral batas anterior pelvis

apabila bunting ada tonus uterus dan cervix yang menonjol, dengan ketebalan dinding uterus mencapai 3X dari yang tidak bunting Bentuk uterus menyerupai tabung, sedangkan cervix uteri tertutup rapat, kenyal dan menyerupai tongkat pendek.

Kebuntingan 3 Bulan

Terdapat penggelembungan kantong dalam uterus sampai membentuk oval dengan penampang 15-25 cm. Umur kebuntingan 60-100 hari kantong foetus mulai memasuki corpus uteri dan uterus yang bunting akan mulai memasuki rongga abdomen

Kebuntingan 7 Bulan Foetus berada paling jauh ke depan dan diagnosa didasarkan pada pembesaran uterus, dengan bagian foetus yang kadang-kadang teraba Pada usia kebuntingan selanjutnya foetus mulai kembali ke arah aboral sehingga lebih mudah untuk dilakukan diagnosa kebuntingan dengan palpasi rektal

PALPASI REKTAL PADA BABI

Pada umur 40 hari dengan kecermatan 90% palpasi dengan satu jari tangan bisa bisa meraba a. uterina media, a.illiaca externa pada anterior tepi os. Ileum , cervix uteri danbagian caudal uterus Pada babi yang tidak bunting a. uterina media sama atau lebih besar dari a. illiaca externa (sebesar straw) Cervix uteri pada babi bunting tidak ada tonus, tonus terjadi hanya ketika terjadi estrus. Foetus babi bunting hanya bisa diraba per rektal setelah 2 minggu terakhir masa kebuntingan

DISTOKIA

Adalah kesulitan dalam proses kelahiran yang disebabkan oleh 3 faktor utama yaitu: 1. Tenaga yang kurang untuk mengeluarkan fetus 2. Saluran kelahiran induk 3. Kelainan pada fetus

Batasan Kelahiran Normal dan Tidak Normal


Eutocia= kelahiran normal, dimana fetus sudah cukup umur dan keluar dengan usaha induk dan anak dalam kisaran waktu yang normal Fase-fase kelahiran (Laba Mahaputra 2007)

Hewan Sapi

Waktu

Fase I

Fase II 0,5-4 0,5-1 2-3

Fase III 0,5-8 4-5 12

Range 0,5-24 Average 2-6 !!! 6-12

Domba

Range Average !!! Range Average !!! Range Average !!! Range Average !!!

0,5-24 2-6 6-12 2-12 6 6-12 1-4 6-12 2-12 6-12

0,5-2 1 2-3 1-4 0,5-1 6-12

0,5 12 -

Babi

Kuda

10-30mnt 0,5-12 0,5-3 2-3 12 2-6 6-12 Stlh anak terakhir keluar

Anjing

Fase I:

onset kontraksi reguler dari myometrium yang mengakibatkan pembukaan cervix Fase II: fase pengeluaran fetus Fase III: Fase pengeluaran plasenta

Klasifikasi dan penyebab Distokia

I. Distokia Maternal A. Penyempitan saluran kelahiran 1. penyempitan rongga pelvis 2. pembukaan cervix yang tidak sempurna 3. cystocele vagina 4. tumor vagina 5. labia vulva tertutup sebagian 6. bekas saluran mullery persisten 7. obstruksi vagina oleh vesica urinaria penuh urine

B. Salah letak uterus 1. hernia uteri 2. torsio uteri C. Ketidakmampuan pengeluaran fetus 1. Inertia uteri primer dan sekunder 2. Ruptura diafragma 3. Ectopic pregnancy II. Distokia Foetalis A. Tidak tergantung situs, posisi, habitus 1. Oversize fetus 2. Kelainan perkembangan fetus - duplikasi fetus - ascites fetus - anasarca - hydrocephalus

B. Terpengaruh situs, posisi, habitus 1. situs -posterior -vertikal -transversal 2. posisi - ventral - lateral - dorsal 3. Habitus Kaki depan: - penekukan pada persendian scapula - penekukan pada persendian humero radius ulna - penekukan pada carpal

Kaki belakang: - penekukan pada kedua(breech)/ salah satu persendian pinggul - penekukan pada kedua atau salah satu persendian tarsal (hock flexion) Kepala leher: - Lateral - upward - downward/vertex 3. Kematian foetus - mummifikasi - maceratio foetus - molle/bunting anggur

Distokia Foetalis
Merupakan penyebab terbesar terjadinya distokia (81%) A. Oversize fetus 1. Absolute oversize Penyebab: a. Gravidatum prolongatus b. Breed c. Nutrisi berlebih dengan kandang yang sempit

Diagnosa: Per-vaginal dengan meletakkan tangan pada os illium dexter sinister disertai traksi
Cara mendiagnosa fetus hidup/mati a. situs long anterior: menekan bola mata, menarik lidah b. situs long posterior: kontraksi sphincter ani

Pertolongan: 1. Fetus hidup: tarik paksa, sectio caesar 2. Fetus mati: dilakukan fetotomi a. perkutan: pemotongan dilakukan pada bagian tubuh yang menhalangi keluarnya fetus, situs anterior pada persendian scapula, situs posterior pada sendi pinggul b. sub cutan pemotongan dengan pisau kawat (wire saw) atau pisau rantai (chain shaw) dilakukan di bawah kulit, dimana sebelumnya dilakukan pengulitan dengan pisau jari pada bagian yang akan dipotong

2. Relative oversize foetus Penyebab: saluran pelvis normal, ukuran fetus normal tetapi belum pernah melahirkan Diagnosa: palpasi vaginal, situs, posisi, habitus, hidup/mati Pertolongan: reposisi dan traksi

B. Kelainan Situs, Posisi dan Habitus Kelainan situs, posisi, habitus yang sering terjadi pada kuda dan sukar dikoreksi: 1. Situs: transversal posisi: ventral habitus: semua kaki menekuk kedalam 2. Situs: transversal posisi: ventral habitus: tidak ada (semua kaki keluar melalui saluran kelahiran) 3. Situs: transversal posisi: dorsal habitus: semua kaki menekuk

Kelainan situs, posisi, habitus yang sering terjadi pada kuda dan lebih mudah dikoreksi: 4. Situs: longitudinal posterior posisi: dorso sacral habitus: bihipflexion (breech) 5. Situs: longitudinal anterior posisi: dorso sacral habitus: penekukan leher ke illial dextra

Kelainan situs, posisi, habitus yang sering terjadi pada sapi dan sukar dikoreksi: 1. Situs : vertico oblique (vertikal dengan bagian pinggul miring ke arah dasar pelvis) posisi : ventral dengan chepalo sacral habitus : breech kedua phalanx di pelvis inlet

2. Situs: longitudinal anterior posisi: dorso sacral habitus: penekukan kepala leher ke bawah (downward) 3. Situs: longitudinal anterior posisi: dorso pubis habitus: penekukan pada kedua sendi scapula 4. Situs: longitudinal posterior posisi: dorso pubis habitus: penekukan kedua sendi pinggul

Kelainan situs, posisi, habitus yang sering terjadi pada sapi dan lebih mudah dikoreksi: 5. Situs: Long anterior posisi: dorso sacral habitus: vertex atau bersama dengan biscapula flexion 6. Situs: Long anterior posisi: dorso sacral habitus: kepala leher ke illio dextra

7. Situs: Long anterior posisi: dorso sacral habitus: penekukan pada kedua persendian scapula (biscapula flexion) 8. Situs: Long anterior posisi: dorso sacral habitus: penekukan pada salah satu/kedua persendian carpal 9. Situs: vertikal chepalo pubis posisi: dorsal habitus: semua kaki menekuk

10. situs: vertical posisi: ventral habitus: semua kaki di pelvis inlet 11. situs: long posteriror posisi: dorso pubis habitus: penekukan pada salah satu atau kedua persendian tibio-metatarsal (persendian tarsal) atau tidak ada habitus

Distokia Maternal

Distokia yang terjadi pada induk yang disebabkan diantaranya oleh konstriksi saluran kelahiran atau kekurangan tenaga untuk mengeluarkan fetus

1. Penyempitan saluran kelahiran

Penyempitan rongga pelvis disebabkan karena immaturity atau perkembangan tubuh yang melambat sehingga terjadi penyempitan rongga pelvis dan terjadi ketidak sebandingan pelvis dengan fetus Pembukaan cervix yang tidak sempurna kegagalan cervix untuk membuka secara sempurna karena adanya fibrosis cervix dan kurang berfungsinya hormon (pada domba disebut dgn ringwomb)

Cystocele vagina kantung urine yang berbaring pada vagina atau vulva, ada 2 tipe: 1. Eversion dari kantung urine melalui urethra akibat dilatasi berlebihan dari urethra dan usaha straining yang kuat, kadang-kadang organ menempati vulva dan kelihatan diantara labia 2. Prolapse dari kantung urine karena perobekan pada lantai vagina pertolongan yang diberikan dengan mengatasi straining menggunakan epidural anestesi dan retropulsi pada fetus yang telah menempati vagina dan menutup vagina yang robek dengan penjahitan

Neoplasma neoplasma yang terdapat pada vagina vulva dapat berpotensi menyebabkan distokia Obstruksi pelvis oleh distensi kantung urine terjadi pada babi dimana saluran kelahiran terjadi penyumbatan (obstruksi) karena adanya kebengkakan (distensi) kantung urine yang terdorong ke belakan oleh straining sehingga timbul ball-valve pada saluran kelahiran (cateterisasi dapat menolong kondisi ini)

Abnormalitas lainnya misalnya sisa-sisa saluran mullery dan bifid (cervix ganda)

2. Torsio Uteri

Berputarnya uterus pada sumbu panjangnya, dimana bagian yang berputar terletak di anterior vagina Disebabkan karena tidak stabilnya uterus sapi, karena besarnya curvatura mayor uterus dan mudahnya uterus condong ke anterior dimana uterus menggantung di sub illial oleh ligamen uterus Derajat torsio yang paling umum 90-180

Diagnosa dilakukan dengan palpasi rectal terdapat penyempitan di bagian anterior dinding vagina dan tersusun dalam bentuk spiral yang miring Treatmen yang dapat dilakukan adalah: 1. rotasi foetus per vaginal 2. rotasi tubuh sapi (rolling) 3. koreksi pembedahan

3. Salah letak uterus bunting

Hernia ventral pada kuda, sapi dan domba betina terjadi umumnya pada kebuntingan lanjut disebabkan karena sobeknya lantai abdominal oleh traumatik atau otot ambominal yang melemah sehingga tidak mampu menopang uterus bunting

4. Kekurangan tenaga pengeluaran fetus

Inertia uteri primer terjadi karena kekurangan kontraksi myometrium yang dipermudah oleh keadaan: - meregangnya myometrium oleh fetus yang terlalu besar, hydroallanthois atau jumlah fetus yang banyak - degenerasi toksik dari infeksi bakteri - infiltrasi lemak pada myometrium bantuan kelahiran dapat dilakukan dengan ergometrine dan oxytocin, bila gagal dilakukan operasi caesar

Inentia uteri sekunder merupakan inertia dari pengeluaran yang merupakan hasil dari distokia

INDUKSI KELAHIRAN

Tujuan: - mendapatkan kelahiran anak - aborsi dan meliputi stadium pertama, kedua dan juga termasuk pengeluaran plasentanya serta pertimbangan waktu yang tepat, keuntungan dan kerugian dilakukannya induksi serta pertimbangan pemakaian obat

KUDA Dipakai untuk menginduksi stadium II kelahiran dengan usia kebuntingan minimal 330 hari Obat yang dipilih adalah - Oxytocin 50-150 IU im pada otot leher, reaksi dapat dilihat dalam 15 menit - Oxytocin 100-120 IU iv tetapi harus dilakukan drip dalam 1 liter larutan NaCl Fisiologis diberikan dengan tetes lambat selama satu jam (jantung kuda peka terhadap kalsium, jangan infus dgn cal burogluconas!!!)

SAPI Setiap induksi kelahiran akan selalu diikuti dengan retensi secundinarum Obat yang dipakai: 1. Short acting corticosteroid Dexamethasone, 25 mg im Flumethasone, 10 mg im penyuntikan sekitar 2 minggu sebelum akhir kebuntingan dapat menginduksi 8090% , 24-72 jam pasca penyuntikan yang disertai dengan retensi plasenta

2. Estradiol 25 mg im pemakaian estradiol dapat digabungkan dengan oxytocin atau corticostreroid karena estrogen saja tidak cukup untuk memicu kontraksi yang kuat 3. Prostaglandin - PGF2 (Fuji) 9 mg im keberhasilan induksinya mencapai 90% dengan onset partus terjadi waktu 24-72 jam

BABI dilakukan sekurang kurangnya pada umur kebuntingan 112 hari obat yang dipakai: 1. Prostaglandin F2 10 mg im atau cloprostenol 175 Ug im, induksi mencapai 95% dengan onset partus terjadi dalam 30 jam, agar responnya lebih cepat tambahkan obat no 2 2. Oxytocin 30 IU im 24 jam setelah pemberian Prostaglandin F2

DOMBA dan KAMBING pada domba pemberian induksi akan memberikan efek yang pendek karena progesteron untuk mempertahankan kebuntingan tidak lagi diproduksi oleh CL tetapi oleh selaput membran induk sehingga pemberian prostaglandin tidak akan memberikan efek, tetapi dapat diberikan dexamethasone 1020 mg pada umur kebuntingan 140 hari. Pada kambing dapat diberikan PGF2 5-20 mg, closprostenol 63-125 Ug im onset partus akan terjadi 27-55 jam

GANGGUAN ALAT KELAMIN BETINA LUAR

1. FISTULA RECTOVAGINAL adalah suatu keadaan luka yang terjadi pada dinding vagina atas dan melebar merobek daerah perineal sehingga feses masuk ke dalam saluran vagina dan menimbulkan vaginitis yang kronis. terapi dapat dilakukan denga operatif dan diberikan antibiotika dan juga kemoterapiutika secara lokal

2. HEMATOMA VULVA adalah keadaan jaringan sub mukosa bibir vulva yang membengkak pada salah satu atau kedua bibir vulva karena efek samping dari manipulasi daerah vulva pada waktu pertolongan kelahiran, apabila kronis dan disertai dengan infeksi kuman dan disertai timbunan nanah atau terjadi pembentukan jaringan fibrous yang mengakibatkan bentuk vulva asimetris. pengobatan dapat dilakukan denga cara operatif untuk mengeluarkan darah beku dan nanah, kemudian dicuci dan diberikan antibiotika dan kemoterapiutika lokal

3. DEFORMITAS PERINEAL Adalah bentuk lubang anus yang penutupannya kurang sempurna bahkan ada yang terbuka sampai berhubungan dengan vagina sehingga feses akan masuk pada vagina. Deformitas ini terjadi akibat pertolongan kelahiran yang salah. Pertolongan dapat dilakukan dengan penjahitan pada bagian yang sobek dan setelah operatif dapat dilakukan: 1. pengaturan pakan sehingga feses bisa lunak 2. pemberian Terramycin injeksi 2g/ hari (kuda) 3. Vit.C 10 ml dan Bcomplex 10 ml ketiganya dilakukan selama 2 minggu dan diberikan antibiotika serta kemoterapiutik lokal dan hindarkan dari myasis (infeksi oleh lalat)

PATOLOGI ALAT KELAMIN POST PARTUM


1. PARESIS PUERPURALIS Sinonim: milk fever, Parturient apoplexi, , purpureal apoplexi, parturient paresis, parturient intoxicasi, parturient toxaemia, calving fever, fitulary fever Merupakan penyakit metabolisme pada hewan yang terjadi pada waktu segera setelah melahirkan yang manifestasinya ditandai dengan penderita mengalami: depresi umum, tidak dapat bediri karena kelemahan tubuh bagian belakang, tidak sadarkan diri. Biasanya terjadi 48 jam setelah melahirkan

terjadi pada sapi yang berproduksi susu tinggi dan biasanya terjadi pada sapi perah yang telah beranak lebih dari 4 kali dan didalam darahnya ditemukan: - hypocalcemia ( normal 9-12 mg % menjadi 5-7 mg %) - hypofosfatemia - hypermagnesimia atau hypomagnesimia - hyperglycemia kemungkinan faktor genetis juga berperan

Teori yang menerangkan mengapa pada sapi yang berproduksi tinggi sering terjadi hypocalcemiadan menyebabkan terjadinya milk fever a. Hormon parathyroid turun karena stress kelahiran dan mengakibatkan gangguan mineral darah b. Hormon tyrocalcitonin turun yang menyebabkan turunnya pengaturan usus dalam menyerap mineral kalsium dan mempengaruhi turunnya kadar kalsium darah

c. Adanya gangguan penyerapan kalsium pada pencernaan atau asupan kalsium yang kurang d. Turunnya kemampuan penyerapan kalsium pada sapi yang tua e. Gangguan produksi vitamin D yang mengatur keseimbangan Kalsium dan Fosfor dalam tubuh f. Hormon estrogen dan steroid yang dihasilkan oleh kelenjar plasenta maupun kelenjar adrenal bagian korteks dapat menurunkan absorbsi kalsium dari usus dan mobilisasi kalsium dari tulang muda

1. 2. 3. 4. 1.

2.
3. 4. 5. 6. 7.

Predisposisi terjadinya milk fever Produksi susu tinggi Umur Nafsu makan Ransum pakan (Ca:P= 2:1) Differensial diagnosa: Metritis akut: dengan gejala tremor anggota gerak belakang beberapa hari pasca partus diikuti gejala mirip paresis Ketosis: gejala mirip paresis tapi ada keton body dalam darah Mastitis:induk menjadi malas, nafsu makan hilan dan suhu tubuh naik Gross tetani Luxatio coxofemoral Paralysis obturatoria karena pertolongan distokia secara paksa Fraktura os pelvis

Pengobatan: kecepatan diagnosa penting, berikan calcium bboragluconat 20% sebanyak 250-500 ml iv atau dikombinasikan dengan sc, bila disertai hypomagnesimia dapat diberikan tambahan Magnesium boragluconat 50 g yang dilarutkan dalam 1000 ml aquadest steril, sebaiknya hewan diberikan alas jerami dan posisi berbaring dibolak-balik agar tidak terjadi pneumonia dan kembung

2. KETOSIS sinonim: Acetonemia, toxaemia of pregnancy Penyakit metabolisme pada sapi yang memproduksi susu yang tinggi, selalu dalam kandang terjadi beberapa hari samapai beberapa minggu setelah partus. Ciri penyakit ini adalah terjadinya penurunan berat badan dan produksi susu secara drastis, disertai hypoglycemia, ketonaemia, ketonuria dan tercium bau keton dari nafasnya

Penyebab dari penyakit ini masih ada beberapa pendapat, ada yang menyebutkan karena gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan peristiwa kekurangan makanan yang menyebabkan kemampuan metabolisme energi berkurang. Pendapat lain yaitu karena gagguan fungsi dari kelenjar adrenal yang memnyebabkan terjadinya gangguan metabolisme karbohidrat

Pengobatan: R/ Cortisone acetate (tab/suspensi) Large Animal: 0,5 1,5 g im Small Animal: 2-10 mg /kg BB im/oral R/ Hydrocortisone (tab/suspensi) Large Animal: 0,5 1,5 g im Small Animal: 2-10 mg /kg BB im/oral 2-4x per dhari

R/Prednisone (tab/suspensi) Large Animal: 125-500 mg im Small Animal:10-20 mg per-oral R/Prednosolon (tab/suspensi) Large Animal: 100-400 mg im Small Animal: 20- 50 mg im setiap hari
R/Corticotropin/ ACTH dalam gelatin atau minyak untuk menghambat absorbsi Large Animal: 200-600 g im Small Animal: 2 Ug/kg BB im pengobatan diulang 18 jam kemudian

Pencegahan 1. sapi perah yang peka terhadap ketosis dijaga makanannya yaitu pemberian ransum asam propionat untuk mencegah ketosis 2. sapi tidak boleh dibiarkan dalam keadaan lapar dan terlalu makan banyak ransum yang mengandung lemak 3. exercise 4.pada awal periode kering jangan biarkan sapi terlalu gemuk 5. selama periode kering konsentrat diberikan mulai 1-2 kg/ hari dalam minggu pertama dana dinaikkan 4-5 kg/hari pada waktu minggu terakhir sebelum melahirkan 6. periode kering paling lambat dimulai 4-5 minggu sebelum partus, periode kering yang lama merugikan

3. PARAPLEGIA POST PARTUM Keadaan dimana induk yang sedang bunting tua atau beberapa hari setelah partus tidak dapat berdiri dan berbaring pada salah satu sisi tubuhnya karena adanya kelemahan pada bagian tubuh bagian belakang Penyebabnya adalah kelemahan badan akibat menahan beban yang terlalu berat (fetus besar, ascites dsb), kandang yang terlalu sempit, fraktura pada tulang penyusun anggota gerak belakang, defisiensi vit D, tekanan fetus pada syaraf di rongga pelvis, kontusio pada otot bagian belakang, gangguan peredaran darah pada kaki belakang

Gejala yang timbul adalah hewan berbaring dan dalam kondisi yang sehat dan sensibilitasnya tetap baik karena tidak ada paralysa sehingga tetap bereaksi apabila ditusuk dengan benda tajam Differensial diagnosa - milk fever - ketosis - paralisa post partum

Komplikasi - dekubitas - prolapsus vagina - gangguan digesti - tympani Pengobatan - berikan vit B1, B6 - rangsang syaraf dengan kaki belakang dengan memberikan linimen kamfer spiritus - berikan ransum pakan yang mudah dicerna dan bersifat laksatif - bolak-balik posisi berbaring

4. PARALYSA POST PARTUM paralysa pada satu atau kedua kaki belakang karena gangguan pada n. obturatorius Penyebab: trauma pada n. obturatoria pada waktu proses partus atau adanya farktura Gejala: hewan tidak bisa berdiri dan sensibilitasnya berkurang atau hilang pengobatan: - memperbaiki kondisi tubuh dengan ransum yang baik - memberikan latihan untuk berdiri dan massage - bolak bali posisi hewan untuk menghindari decubites

5. PARTURIENT ECLAMPSIA (PUERPUREAL TETANI) Suatu penyakit pada induk yang ditandai dengan adanya konvulsi dari anggota badan, terjadi pada umumnya setelah partus atau pada permulaan laktasi, sebabnya tidak jelas, tetapi gejala akan semakin jelas bila induk disunti iv dengan garam kalsium atau denga bahan2 narkotik

Gejala: anoreksia disertai rasa sakit, hewan tidak tenang dan pernafasan lebih cepat dan berbaring dengan kaki-kaki direntangkan. Convulsi terjadi terus menerus dengan panas tubuh mencapai 42C dan sangat terasa pada vagina dan mammae serta tidak mau menyusui anaknya Differensial diagnosa dapat dikelirukan dengan tetanus, bedanya penyakit ini timbul secara tiba2 setelah partus dan adanya reaksi terhadap garam kalsium

Pengobatan: - pemberian kalsium gluconat larutan 20% sebanyak 250-500 ml iv, pada domba 50 ml iv dan anjing 5-50 ml iv, bila perlu juga disuntikkan im - pemberian barbiturat atau morphine sulfate 60-90 mg sc (kuda), 15 mg sc (anjing)diulang 48 jam kemudian(untuk mengurangi konvulsi yang timbul) - bila perlu diberikan meperidine Hydrochloridea 250-500 mg iv atau 500-1000 mg im(sapi/kuda), 10-20 mg /kg BB im (anjing) diulang 6 jam kemudian

Natrium pentobarbital diberikan separuh dosis anesthesi Pemberian garam kalsium dan vit D selama gravid dapat mencegah terjadinya penyakit ini Pemberian preparat kalsium dalam ransum