Anda di halaman 1dari 11

defenisi Diastema sentral adalah suatu ruang yang terdapat diantara gigi-gigi insisif sentral atas dengan ciri

i khas yaitu berupa celah yang terdapat diantara insisif sentral rahang atas. Diastema adalah celah atau ruang yang terdapat antara gigi geligi yang dapat terjadi pada gigi geligi atas dan bawah Secara ortodontik, diastema dibagi menjadi dua kategori, yaitu diastema yang bukan disebabkan oleh perawatan ortodonti dan diastema yang terdapat pada perawatan ortodonti. Permatasari, Rina. Penutupan diastema dengan menggunakan komposit nanofiller. FKG Universitas Indonesia. Jakarta. 2008. hal 239-246

Etiologi diastema 1. Frenulum labial yang terlalu menonjol dan terlalu meluas ke proksimal, sehingga akan menahan pergesaran gigi insisif sentral untuk saling mendekat pada saat erupsi;Ukuran gigi insisif lateral kecil. 2. Rotasi dari gigi insisif. 3. Perlekatan frenulum yang abnormal. 4. Gigi sepernumerer di median line (mesiodens) 5. Kehilangan gigi insisif lateral secara kongenital. 6. Diastema pada saat pertumbuhan normal 7. Penutupan median line yang tidak sempurna 8. karena pengaruh kebiasaan buruk (menghisap jari) 9. faktor genetika Jazaldi, Fadli. Perawatan Kasus Diastema Multipel Secara Multidisiplin ( Laporan Kasus ). FKG Universitas Indonesia. Jakarta. 2008. hal 212-225

Etiologi frenulum abnormal Perlekatan frenulum tinggi terjadi karena pd saat pertumbuhan dan perkembangan gigi dan rahang perlekatan frenulum tidak ikut migrasi kearah apikal Frenulum anterior atas tidak bisa atrofi akibat kurangnya tekanan geligi kearah garis (mesial) yg disebabkan ukuran gigi geligi anterior yg kecil Faktor genetik Suryono. Incision below the clamp sebagai modifikasi teknik insisi pada frenektomi untuk minimalisasi perdarahan. J Maj Ked Gi. 2011;18(2):187-190 Faktor predisposisi dari diastema sentral dipengaruhi oleh hubungan keluarga yang diturunkan secara autosomal dominan, menerangkan bahwa diastema sentral ini dapat terjadi pada siapa saja baik laki-laki atau perempuan karena gen pembawa sifat ini terkait pada autosom Jazaldim, F and Purbiati, M. Perawatan Kasus Diatema Multipel Secara Multidisiplin (laporan kasus). Indonesian Journal of Dentistry. 2008; 15 (3) : 212-225

Pemeriksaan Klinis Eksta Oral Jaringan sekitar kepala analisis bentuk muka bentuk kepala posisi rahang bibir pipi profil muka pasien, simetris / tidak simetris Ada pembengkakan atau tidak Leher TMJ Limpadenopati

Intraoral

Kondisi oral hygene pasien Kondisi gigi geligi Kesehatan jaringan lunak ukuran lidah Oklusi lengkung rahang gerakan mandibula saat membuka dan menutup. Perlekatan frenulum labialis Blanche test Jazaldi F dan Maria Purbiati. Perawatan Kasus Diastema Multipel secara Multidisiplin. Indonesian Journal of Dentistry. Jakarta. 2008. 15 (3) : hal 212-225 Blanche test Angkat bibir atas ke arah depan atas dengan ibu jari dan telunjuk kedua tangan Normal = jaringan ikat frenulum tidak mengalami peregangan sehingga tidak terdapat jaringan yang pucat. Abnormal = Jaringan ikat frenulum yang tertarik akan meregang dan pucat. Bishara, SE. Textbook of Orthodontics. Philadelphia: W.B. Saunders Company. 2001

Indikasi frenektomi Perlekatan frenulum menyimpang yg dpt menyeabkan diastema sentral Papila yg tipis dgn frenulum melekat pd margin gingiva yg menyebabkan resesi gingiva dan gangguan pemeliharaan oral hygien Frenulum abnormal dg perlekatan gingiva yg kurang adekuat dan vestibulum yg dangkal Ankyloglossi

Devishree,Sheela Kumar et al. Frenectomy: A Review with the Reports of Surgical Technique. Journal of Clinical&Diagnostic Research.Vol 6 (9):1587-1592.2012 Kontraindikasi Pasien dgn riwayat sistemik (DM,hemofilia) Psikologis pasien tidak mendukung (takut, cemas, tekanan darah rendah, takikardi) Rezky,LK. Laporan Kasus Modul Penyakit Mulut Periodontal Frenektomi. UMY. Yogyakarta. Indonesia.2012.hal.5

Instrumentasi : Bard-parker Handles No. 3 No. 15 Blade, Mosquitohaemostat Suture Material. Prabhuji Dr M.L.V., et al. Comparison of conventional techniques with diode laser India. 2010

Teknik Frenektomi Labial Maksila Umumnya eksisi dengan dua hemostat Setelah anastesi lokal (Pemberian lokal anastesi pada distal dan mesial frenulum masing-masing 1 cc, serta injeksi anastesi cc di bagian palatal untuk injeksi nervus nasopalatina. , bibir ditarik ke atas, dan frenulum dijepit menggunakan dua buah hemostat bengkok, yang ditempatkan pada margin superior dan inferior. Bibir kemudian ditarik kembali, dan sebuah mata pisau bedah tipis menginsisi jaringan yang berada dibelakang hemostat, pertama dibelakang hemostat yang bawah, dan kenudian di belakang hemostat bagian atas. Jika frenulum hipertrofi dan adanya suatu jarak/ ruang yang besar antara gigi seri pertama, jaringan yang ada diantaranya dan dibelakang gigi seri pertama juga diangkat.

Jahitan interrupted ditempatkan sepanjang tepi lateral dari luka pada arah linier, setelah mukosa dari tepi luka di undermined/digangsir menggunakan gunting. Koora K, Muthu MS, & Rathna PV. Spontaneous Closure of Midline Diastema Following Frenectomy. J Indian Soc Pedod Prev Dent.2007;25(1):23-6.

Millers technique Teknik untuk kasus diastema post-orthodontic Indikasi : 1. Untuk post- orthodontik diastema case 2. Ideal time : 6 minggu sebelum alat orto dilepas dan perawatan orto sudah complete

Armamentarium : 1. Hemostat 2. Scalpel blade no. 15 3. Gauze sponges 4. 5-0 black silk suture 5. Suture pliers 6. Scissors Periodontal pack (Ceo-pack) Millers technique

1. Anstesi lokal 2% lignocaine dengan 1:80000 infiltrasi pada daerah vestibulum lateral kanan dan kiri, daerah palatinal pada daeran foramen insisivus 2. Desinfeksi dengan povidone iodine 3. Frenulum di jepit dengan hemostat pada bagian terdalam vestibulum 4. Insisi membentuk garis horizontal ujung permukaan hemostat sepanjang frenulum 5. Tepi insisi yang berbentuk garis dijahit dengan silk suture 5-0 6. Ditutup dengan periodontal pack

7. Periodontal pack dan jahitan dilepas 1 minggu post operative Follow-up selama 1 bulan V-Y Plasty Teknik untuk frenulum dengan lokasi tegangan panjang (frenulum bukalis) Armamentarium : 1. Hemostat 2. Scalpel blade no. 15 3. Gauze sponges 4. 4-0 silk suture 5. Suture pliers 6. Scissors 7. Periodontal pack (Ceo-pack) V-Y Plasty 1. Anstesi lokal 2% lignocaine dengan 1:80000 infiltrasi pada daerah vestibulum lateral kanan dan kiri, daerah palatinal pada daeran foramen insisivus 2. Desinfeksi dengan povidone iodine 3. Frenulum di jepit dengan hemostat pada bagian terdalam vestibulum 4. Insisi membentuk huruf V pada frenulum bagian attacment (daerah gingiva) dan huruf Y pada bagian labial 5. Tepi insisi yang berbentuk V-Y dijahit dengan silk suture 4-0 6. Ditutup dengan periodontal pack 7. Periodontal pack dan jahitan dilepas 1 minggu post operative 8. Follow-up selama 1 bulan Electro Surgery Teknik untuk pasien yang dengan Bleeding disorder, hemostasis, jika menggunakan teknik konvensional berisiko pendarahan Armamentarium :

1. Electrocautery dengan loop electrode 2. Hemostat Electro Surgery 1. Anstesi lokal 2% lignocaine dengan 1:80000 infiltrasi pada daerah vestibulum lateral kanan dan kiri, daerah palatinal pada daeran foramen insisivus 2. Desinfeksi dengan povidone iodine 3. Frenulum di jepit dengan hemostat pada bagian terdalam vestibulum 4. Eksisi dengan Electrocautery dengan loop electrode 5. Tanpa dilakukakan penjahitan Follow up Scar pada jaringan (estetik) Pendarahan Jahitan lepas atau tidak Perhatikan penggunaan jahitan yang resorbable atau tidak Tension pada luka Keluhan sakit Pembengkakan pada luka Terjadi infeksi Gujari SK, Devishree, P.V. Shubhashini. Frenectomy : A Review with the Reports of Surgical Techniques. Journal of Clinical and Diagnostic Research 2012; 6(9): 1587-1592 Z Plasty Teknik untuk dimana terjadi hipertropi , insisor diastema, vestibulum yang rendah Armamentarium : 1. Hemostat 2. Scalpel blade no. 15 3. Gauze sponges

4. 5-0 vicryl suture 5. Suture pliers 6. Scissors 7. Periodontal pack (Ceo-pack) Z Plasty 1. Anstesi lokal 2% lignocaine dengan 1:80000 infiltrasi pada daerah vestibulum lateral kanan dan kiri, daerah palatinal pada daeran foramen insisivus 2. Desinfeksi dengan povidone iodine 3. Frenulum di jepit dengan hemostat pada bagian terdalam vestibulum 4. Insisi membentuk huruf Z dengan sudut 60/30 /45 5. Tepi insisi yang berbentuk Z dijahit dengan vicryl suture 5-0 6. Ditutup dengan periodontal pack 7. Periodontal pack dan jahitan dilepas 1 minggu post operative 8. Follow-up selama 1 bulan Agarwal A, Kapahi R. Labial Frenectomy through Z plasty. . Journal of Clinical and Diagnostic Research 2012; 6(3): 537-538. medikamentosa Pre bedah Antibiotik : amoxicillin 500mg 3x1 metronidazol 250-500mg 3-4x1

Analgesik : asam mefenamat 250-500mg 3x1

Post bedah Antibiotik : amoxicillin 500mg 3x1 metronidazol 250-500mg 3-4x1

Analgesik : asam mefenamat 250-500mg 3x1 Betadin gargle Obat kumur chlorhexidine 0,12 % selama 3 minggu

Bakar,A. Kedokteran gigi Klinis.Quantum. Yogyakarta. Indonesia.2012.hal.203

Dapat digunakan apabila diastema sentral < 2mm Composite restorasi Ceramik restorasi gigi anterior tanpa reduksi proksimal Resin bonding porselen veneer restorasi Koora et al. Spontaneous closure of midline iastema following frenectomy.J Indian Soc Pedod Prev Dent.2007. hal 23-6 Tata laksana diastema sentral setelah frenektomi Idealnya frenektomi dilakukan saat perawatan ortodonsi atau disaat berakhirnya perawatan ortodonsi. Dikarenakan timbulnya jaringan parut justru menghalangi tertutupnya median diastema. Setelah di lakukan frenektomi, pergerakan gigi yang diperlukan adalah gerakan bodily dan tipping, maka digunakan peranti cekat. Jenis perawatan ortodontik pada pasien diastema sentral adalah ortodontik cekat dengan penggunaan retainer jenis fixed permanent retainer. Jenis retainer ini dapat menjaga stabilisasi perawatan. Masa retensi minimal 12 bulan. Jazaldim, F and Purbiati, M. Perawatan Kasus Diatema Multipel Secara Multidisiplin (laporan kasus). Indonesian Journal of Dentistry. 2008; 15 (3) : 212-225.

Perwatan alternatif Selain Perawatan Orto untuk perawatan diastema sentral juga dapat menggunakan komposit pada daerah proksimal gigi. Pembagian diastema berdasarkan lebar ruangannya dan tentunya mempengaruhi penatalaksanaannya terbagi 3: 1. Diastema dengan lebar 1-2mm 2. Diastema dengan lebar 2-3mm

3. Diastema dengan lebar 3-4mm Lebar 1-2mm : Pada keadaan ini gigi tidak perlu dipreparasi, hanya dilakukan pengasaran email. Komposit diletakan pada bagian proksimal hingga ke permukaan fasial dan lingual tetapi cukup sampai developmental groove saja. Lebar 2-3mm : Gigi dapat dipreparasi maupun tidak dipreparasi tetapi dilakukan veneering di fasial. Peletakan komposit di bagian proksimal sama seperti pada diastema yang Kecil. Selain itu terkadang juga diperlukan Esthetic Counturing (Recounturing) pada bagian distal permukaan fasial, untuk menciptakan ilusi agar gigi tidak terlihat terlalu lebar. Lebar 3-4mm : Gigi dapat dipreparasi maupun tidak dipreparasi tetapi dilakukan full coverage veneer. Peletakan komposit dilakukan diatas daerah yang diperparasi. Diperlukan Esthetic Counturing (Recounturing) pada bagian distal permukaan fasial, untuk menciptakan ilusi agar gigi terlihat tidak terlalu lebar.

Rina Permata Sari, Munyati Usman. Penutupan Diastema Dengan Menggunakan Komposit Nanofiller. Indonesian Journal Of Dentisry; Jakarta,Indonesia.2008 15 (3): 239-246.

komplikasi Infeksi Muncul 2-7 hari setelah pembedahan, gejala: purulent, nyeri, kemerahan, bengkak, peningktan suhu dan leukosit. Perdarahan dan pembengkakan Dehisccence (terbukanya lapisan partial, 4-5 hari)dan Eviscerasi (keluarnya pembuluh darah) Isnandar. Refleksi Kasus Modul Penyakit Periodontal Frenektomi. FKG USU. Medan. Indonesia. 2011 hal 4-7.

Instruksi Minum obat yang telah diresepkan secara teratur. Jangan berkumur terlalu sering. Jangan menyentuh area post-frenektomi dengan menggunakan tangan atau lidah. Pasien disarankan mengkonsumsi makanan lunak

Pasien harus selalu menjaga OH Melakukan kontrol setelah pembedahan / apabila ada keluhan. Bakar, Abu. Kedokteran Gigi Klinis. Yogyakarta: Penerbit Quantum Sinergis Media. 2012.