Anda di halaman 1dari 16

REFERAT REFLUKS GASTROESOFAGEAL

PEMBIMBING Dr. Afaf Susilawati, Sp.A

DISUSUN OLEH Hairu isa Ars!a"

#$#.#%.&'(

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KO)A PERIODE &( )ANUARI &#($ * $# MARET &#($ FAKULTAS KEDOKTERAN UNI+ERSITAS TRISAKTI
REFLUKS GASTROESOFAGEAL ( RGE ) / (GER)
1

PENDAHULUAN Refluks Gastroesofageal (RGE) (GER) adalah suatu keadaan, dimana terjadi disfungsi sfingter esofagus bagian bawah sehingga menyebabkan regurgitasi isi lambung ke dalam esofagus. Makanan yang kembali dari lambung ke esogafus tersebut, mungkin masuk kembali ke dalam lambung atau dikeluarkan melalui mulut menyerupai muntah . ! Refluks ini se"ara klinis dibagi menjadi dua kelompok, yaitu refluks fisiologis dan patologis. Refluks fisiologis dapat terjadi berulang#ulang sepanjang hidup, terutama pada anak, tetapi umumnya tanpa mengakibatkan suatu kelainan yang berarti, sedangkan refluks patologis dapat mengakibatkan berbagai kelainan respiratorik akibat aspirasi asam lambung. Refluks yang terjadi patologis ini di panggil Gastroesophageal reflu$ disease (GER%)&. 'eberapa istilah di masyarakat yang dapat disamakan dengan RGE adalah olab ((unda), gumoh ()awa ), menduga (Minang), meluah ('ali)!

PREVALENS RGE dapat terjadi pada semua usia, dengan pre*alens tertinggi pada bayi kemudian menurun dan menghilang pada usia !&#!+ bulan.& Refluks gastroesofageal fisiologis biasanya terjadi setelah makan (,,- pada dua jam pertama setelah makan), dan kadang#kadang terjadi ketika tidur. Refluks gastroesofageal yang patologis, GER% jarang terjadi yaitu (.,,- dari seluruh refluks, umumnya terjadi dua jam setelah makan ) , dan sebagian ke"il terjadi ketika tidur.&,!! /re*alensi GER% juga meningkat pada anak yang mempunyai riwayat kelainan neurologis, asma, bronkopulmonar dysplasia dan batuk kronis.!!

ETIOLOGI 'eberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya refluks, yaitu 0 penurunan kompetensi sfingter esofagus bagian bawah, pengembalian bahan refluks dari esofagus yang
2

tidak efisien, dan gangguan fungsi tamping (reser*oir) lambung. 'erbagai kelainan yang dapat menyebabkan timbulnya refluks akan bekerja melalui ketiga hal tersebut&. /enyebab refluks pada bayi& 0 Refluks fisiologis 1onus sfingter menurun Makan2minum berlebihan 'atuk dan lain#lain Refluks p !ologis Esofagitis kronis 'atuk kronis 0 asma, dysplasia bronkopulmonar /engaruh obat 0 aminofilin, 3# blo"ker 4elainan anatomis saluran "erna 0 malrotasi, stenosis pylorus 5nfeksi 0 Gastroeneteritis akut, otitis media, infeksi saluran kemih 154 meningkat Gangguan neurologis Miopati /enyakit ginjal kronis Gangguan metabolisme sejak lahir 1oksin 6lergi2intolerensi makanan0 kedelai, susu sapi dan lain#lain. ANATO"I DAN FISIOLOGI ESOFAGUS Esofagus berasal dari primiti*e fore gut yang dalam perkembangannya membentuk & "elah laringotrakheal sepanjang dinding lateral yang kemudian bersatu dan memisahkan esofagus primiti*e dari trakea bagian depan. 4eadaan ini berlangsung pada usia janin minggu
3

ke ,#7. /ada manusia !2, bagian atas dinding atas esofagus terdiri atas otot lirik, sedangkan &2, bagian bawah adalah otot polos. /ada waktu istirehat ujung atas tertutup oleh sfingter krikofaring (sfingter esofagus atas 8 (E6 ) dan di bagian bawah oleh sfingter esofagus bawah ((E'). 1onus kedua sfingter ini men"egah udara masuk dari atas dan men"egah refluks makanan dari lambung. (E6 melemas waktu menelan dan (E'#pun melemas ketika peristaltik men"apai sfingter tersebut!,9. 6da & jenis gelombang perilstatik yang terjadi waktu menelan, yaitu !0 !. Gelombang peristaltik primer

%imulai di faring sewaktu menelan, bergerak melalui sfingter krikofaring ke bawah ke arah esofagus. /ada sikap tegak, "airan dan makanan yang agak "air masuk ke esofagus dan lambung karena gaya berat, mendahului gelombang peristaltik primer!. &. Gelombang peristaltik sekunder

(isa makanan yang tidak terdorong oleh peristaltik primer menimbulkan refle$ *ago#*agal dan refle$ mienterik yang menimbulkan gelombang peristaltik sekunder. Gelombang peristaltik primer maupun sekunder di esofagus terutama dikendalikan oleh refle$ *agus, sedangkan refle$ mienterik kurang penting peranannya!.

KO"PETENSI SFINGTER ESOFAGUS #AGIAN #A$AH :ungsi sfingter esofagus bagian bawah yang utuh mn"egah terjadinya refluks. /enurunan kompetensi sfingter bagian bawah merupakan penyebab refluks tersering. :ungsi sfingter ini pada dasarnya ditentukan oleh tiga faktor, yaitu0 tekanan atau tonus sfingter, panjang seluruh sfingter, dan panjang dari bagian sfingter yang terletak di dalam rongga abdomen.&
4

!. 1onus sfingter 1onus yang rendah dapat memudahkan terjadinya refluks. /enurunan tonus hingga di bawah 7 mm;g dilaporkan dapat menimbulkan kejadian refluks hingga <9,&-. 1onus sfingter dapat menurun karena berbagai sebab, misalnya relaksasi esofagus bawah yang sementara (transient lower esophageal rela$ation), relaksasi kronis karena esofagitis berat, beberapa jenis obat seperti aminofilin dan 3#blo"ker, dll&. &. /anjang sfingter /anjang sfingter normal adalah &,+#, "m (<+- terletak didalam rongga abdomen). (emakin pendek sfingter maka semakin kurang kemampuannya dalam men"egah refluks&. ,. /anjang bagian sfingter yang terletak di dalam rongga abdomen. 1ekanan positif dari rongga abdomen dapat membantu meningkatkan kompetensi sfingter se"ara mekanis. (emakin pendek bagian sfingter yang terletak di dalam rongga abdomen, maka semakin besar kemungkinan terjadinya refluks. 'ila panjang bagian sfingter ini kurang dari & "m, pre*alens refluks menjadi kurang lebih =.-&. >. 1ekanan intrinsik sfingter (fingter bagian bawah esofagus ini akan semakin matur, demikian pula tonus intrinsiknya. 1ekanan sfingter ini men"apai titik pun"ak pada bayi lahir, kemudian menurun dengan meningkatnya usia&. +. :aktor anatomis (elain tekanan atau tonus sfingter, panjang seluruh sfingter, dan panjang dari bagian sfingter yang terletak di dalam rongga abdomen, faktor anatomis se"ara mekanik juga berperan dalam terjadinya refluks. 'entuk anatomi esofagus lambung ternyata merupakan faktor penting yang dapat men"egah refluks se"ara mekanik. /ada bayi baru lahir, angulus ;is (sudut antara bagian distal esofagus dan bagian kardia lambung ) masih tumpul. %engan berkembangnya bagian kardia, sudut ini semakin tajam, sehingga terbentuk lipatan mukosa yang berfungsi sebagai katup (flap *al*e) yang dapat men"egah terjadinya refluks se"ara mekanis ketika kardia mengalami distensi. (elain itu, lubang keluar esofagus distal dalam keadaan kolaps membentuk huruf ;, dan berperan sebagai
5

katup penyumbat ( "hoke *al*e ). ?tot polos esofagus yang berjalan melingkar juga turut berperan, karena dapat mengatur besar ke"ilnya diameter penampang esofagus &. (ebagian sfingter esofagus distal yang terletak di dalam rongga abdomen dipengaruhi tekanan intraabdomen yang positif. 6kibatnya, sfingter menjadi lebih kuat dalam menghalangi makanan yang sudah masuk ke dalam lambung kembali kedalam esofagus. )epitan diafragma meningkatkan kompetensi sfingter. (ebaliknya, kompetensi sfingter esofagus dapat berkurang karena radang kronis atau fibrosis karena esofagitis, dan pada hernia difragmatika karena sfingter berada di dalam rongga dada dengan tekanan negati*e&.

FISIOLOGIS REFLUKS (fingter esofagus tidak selalu berada dalam keadaan kontraksi. /ada saat menelan, sebelum gerak peristaltik men"apai sfingter, sfingter mengalami relaksasi terlebih dahulu karena pengaruh ner*us *agus, sehingga memungkinkan terjadinya refluks. 6sam lambung yang masuk ke dalam esofagus akibat refluks yang patologis, pada keadaan normal umumnya tidak akan menimbulkan kelainan yang berarti pada esofagus. %alam keadaan normal, bahan yang masuk kedalam esofagus akibat refluks dapat dikembalikan lagi ke dalam lambung oleh gelombang peristaltik primer yang diawali dengan proses menelan, atau dapat dikembalikan oleh gelombang peristaltik sekunder akibat distensi esofagus karena makanan.&,9,!.

GE%ALA KLINIS Gejala klinis biasanya hanya @muntahA tidak projektil, sehingga kebanyakan orang tua menganggapnya suatu hal yang normal, dan tidak merisaukan keadaan bayinya ke"uali jika @muntahA nya terus menerus. Gejala klinis lainnya yaitu adanya infeksi paru berulang tanpa adanya gejala muntah yang menonjol.! Gejala lain yang sering ditemukan pada kasus RGE adalah gagal tumbuh kembang (failure to thri*e). Gagal tumbuh kembang ini terjadi karena @muntahA yang berat dan terus menerus sehingga makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan bayi terbuang per"uma. 4eadaan ini merupakan problem utama pada bayi dan jarang ditemukan pada anak yang lebih besar.!

Manifestasi klinis Refluks Gastroesofagus se"ara umum& 0 Se&i'g (ering muntah 4olik 'atuk malam hari BheeCing /neumonia berulang ?titis media berulang Esofagitis % & 'g 6pnea Gagal tumbuh (tridor 4elainan posisi kepala, leher dan toraks ((indrom (andifer) S 'g ! % & 'g (uara parau ;emoptisis 6nemia :ibrosis paru

Gejala klinis yang membedakan GER dan GER%!! 0


8

GER Regurgitasi dengan berat badan normal 1idak ada tanda dan gejala esofagitis

GER% Regurgitasi dengan berat badan kurang Rewel, nyeri pada anak %isfagia ;ematemesis dan 6nemia %efisiensi 'esi

1idak ada gejala saluran pernafasan yang 6pneu, sianosis pada infant signifikan BheeCing 6spirasi dan /neumonia rekuren 'atuk 4ronis (tridor %isgafia, odinofagia

DIAGNOSIS Dntuk mendiagnosis RGE diperlukan anamnesis yang teliti, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan klinik. /emeriksaan yang bisa dilakukan adalah 0 !. :luoroskopi dengan kontras barium!,,,9 0 %ilaksanakan se"ara bersiri dengan mengamati refleks barium dari lambung ke esofagus. &. /emantauan p; esogafus 0 dapat menentukan apakah p; penderita RGE dalam keadaan normal atau mengalami perubahan. /ada keadaan normal p; esogafus berkisar antara +#7. %asar dari perubahan p; adalah terjadinya refluks asam dari "airan lambung.!,,,9 ,. 4eterlambatan waktu pengosongan lambung 0 %iduga karena terdapat

ketidakmampuan otot fundus lambung untuk mengadakan kontraksi, untuk mengosongkan lambung. Baktu pengosongan lambung die*aluasi ,#> jam setelah makan.!
9

DIAGNOSIS #ANDING %iambil dari gelaja muntah, dapat dibagi menjadi ,, yaitu pada bayi, anak >. 'ayi (tenosis pylorus 6tresis duodenum Mekoneum ileus Malrotasi ?*erfeeding 6lergi susu protein (epsis Meningitis 6nak dengan muntah kronis 154 meningkat 'ulimia ?bstruksi intestinal 6nak dengan nyeri epigastrium dan Dlkus peptikum disfagia 6"halasia 5nfeksi esofagitis /ill esofagitis Eosinofilik esofagitis PENATALAKSANAAN /ada =.- pasien, gejala teratasi dengan inter*ensi minimal, tanpa memerlukan pengobatan medikamentosa. 1ujuan pengobatan termasuk eliminasi gejala, penyembuhan esofagitis, manajemen komplikasi, dan mempertahankan remisi. /ilihan terapi termasuk perubahan gaya hidup, terapi farmakologi, dan pembedahan anti refluks. )uga sangat
10

penting pemberian edukasi kepada pasien atau keluarga dan melakukan tindakan yang tepat pada bayi mengalami refluks gastroesofagus tanpa komplikasi.!,,,= Te& pi Ko'se&( !if /emberian 6(52(: dan perubahan posisi bayi!,&,,,=,!! !. 6(5 dan susu formula 6(5 yang mempunyai sifat easy in E easy out harus terus diberikan karena 0 6(5 hipoalergenik dan lebih mudah di"erna /engosongan lambung &$ lebih "epat dari susu formula /emberian ada libitum, *olumenya lebih sedikit daripada susu formula

&. :ormula hipoalergenik!,&,,,=,!! :ormula hipoalergenik dapat di"oba selama !#& minggu pada bayi yang mendapat formula yang mengalami muntah, karena beberapa orang bayi memiliki alergi terhadap susu sapi. ,. /enambahan sereal!,&,,,=,!! (ebagai agen untuk mengentalkan formula. :ormula ini memberikan kalori tambahan juga dapat mengurangkan regurgitasi yang berlebihan, frekuensi dan *olume muntah dibandingkan dengan formula yang tidak menggunakan agen pengental., >. 1erapi posisi!,&,,,<,=,!! Memposisikan daerah esofagus#lambung lebih tinggi dengan meninggikan kepala. Refluks pada anak normal jarang terjadi saat tidur, tetapi pada refluks yang patologis, justru lebih sering terjadi ketika anak sedang tidur. ?leh karena itu, pengaturan posisi perlu dilakukan hampir sepanjang hari. /osisi yang dianggap paling efektif adalah berbaring telungkup (pronasi) dengan kepala ditinggikan ,.F. /ada anak usia diatas =# !. bulan dalam keadaan tejaga sebaiknya kepala ditegakkan, dan pada waktu tidur dibaringkan dengan kepala ditinggikan. (etelah minum 6(52(:, bayi digendong setinggi payu dara ibu, dengan muka menghadap dada ibu. ;al ini menyebabkan bayi tenang, sehingga mengurangi refluks.
11

F &) ko!e& pi 1ujuan diberikan adalah untuk menunjukkan efikasi yang baik pada populasi pasien, mengurangi *olume dan asiditas refluks, meningkatkan kompetensi GE(, meningkatkan klirens esofagus, meningkatkan resistensi mukosa esofagus, tidak ada efek yang merugikan, dan aman serta biaya yang rendah!,,. ?bat#obat yang tersedia antaranya !,,,!!0 !. ?bat prokinetik 1ujuan digunakan untuk memperbaiki peristaltik esofagus, dan memper"epat pengosongan lambung. ?bat ini juga dapat mengurangi frekuensi refluks. 6ntara lain yang banyak dipakai 0 'etanikol 0 merupakan obat yang bersifat parasimpatomimetik, dan dapat diberikan pada bayi dengan refluks. 'etanikol berkerja pada sfingter esofagus bagian bawah dengan meningkatkan tekanan sfingter pada saat istirehat. Metaklopramid 0 ?bat ini dapat meningkatkan tekanan sfingter esofagus#bawah dan memper"epat pengosongan lambung dengan "ara meningkatkan kontraksi antrum. ;anya perlu diingat efek samping metaklopramid terjadi pada !.#&.kasus berupa gangguan pada susunan saraf pusat. %omperidon 0 %apat meningkatkan tonus sfingter esofagus#bawah dan motilitas antrum sehingga pengosongan lambung menjadi lebih "epat. ?bat ini tidak melewati sawar darah#otak, sehingga efek sampingnya lebih sedikit daripada metaklopramid. Hisaprid 0 ?bat yang memberikan manfaat lain yang menguntungkan, seperti mengurangi batuk yang timbul pada malam hari akibat refluks. ?bat ini dapat menyebabkan aritmia jantung yang serius sehingga pemberian pada anak#anak sangat terbatas. &. 6ntagonis reseptor histamine ;&

12

?bat ini se"ara kompetitif menghambat aksi histamin pada reseptor histamin ;& pada sel parietal lambung. ?bat ini sangat selektif pada reseptor histamine ;& dan memiliki sedikit atau tanpa efek pada reseptor histamine ;!. Makanya, obat ini menghambat sekresi asam yang dihasilkan oleh reseptor histamin, tapi tidak memiliki efek pada sekresi asam yang disebabkan oleh asetilkolin atau gastrin. ?bat yang termasuk golongan ini adalah Himetidin, Ranitidin, :amotidin dan IiCatidin. ,. 5nhibitor /ompa /roton (//5) ?bat ini terikat dengan hydrogen2potassium adenosine triphosphate, suatu enCim yang berperan sebagai pompa proton pada sel parietal, karena itu dapat menghambat pertukaran ion yang merupakan langkah akhir pada sekresi asam hidroklorida. (ehingga kini, tidak ada //5 yang dibenarkan penggunaannya pada bayi J ! tahun. %iantara obat, omeprasol, lansoprasol, pantoprasol, rabeprasol dan esomeprasol. ?meprasol dan lansoprasol telah dibenarkan oleh :%6 pasa pasien anak#anak. ?bat yang lain masih belum dibenarkan penggunaannya.

Pe)*e+ , ' A'!i Refluks /embedahan anti refluks mungkin perlu dilakukan bagi anak#anak dengan GER berat yang masih belum berhasil dengan pengobatan medikamentosa dan komplikasi berat. /rosedur pembedahan yang paling umum dilakukan adalah the nissen fundopli"ation. /rosedur ini melibatkan penjahitan lipatan fundus (bagian paling atas lambung) di sekitar esofagus. 4omplikasi masih tetap bisa terjadi setelah pembedahan antirefluks yaitu jika penjahitan tidak ken"ang gejala sama masih bisa berulang, tetapi jika terlalu ken"ang anak mungkin mengalami perut kembung dan gas yang berlebihan!,,,!.,!!. Manajemen GER dan GER% se"ara skematik !! 0

13

KO"PLIKASI 6nak bisa mengalami kedua#dua komplikasi esofageal dan ekstraesofageal GER%. 4omplikasi yang paling sering terjadi kepada anak yang mempunyai defisit neurologi dan gangguan menelan>.
14

Ko)plik si esof ge l E&osi Esop, gi!is S!&ik!u& Esof ge l # &&e!-s esof gus A+e'ok &si'o)

Ko)plik si Pul)o' l 6pneu atau 6G1E 'atuk 4ronis 6sma 6spirasi /neumonia

Ko)plik si THT (inusitis ?titis media Garingitis %ental erosi

PROGNOSIS 'agi infantil, prognosis GER adalah baik, dengan kebanyakan pasien memberi respon terhadap pengobatan konser*atif dan non farmakologik 7. Gejala yang berlanjutan sehingga K != bulan berkemungkinan untuk mendapat GER yang kronis. (ekiranya kasus dengan komplikasi, perlunya tindakan bedah. /rognosis untuk pembedahan adalah baik 7. 'agi anak yang mempunyai masalah perkembangan dan kelainan pada motorik , manajemen untuk GER biasanya susah dengan adanya disfungsi pada refle$ menghisap dan menelan 7.

DAFTAR PUSTAKA
!. (uraatmaja (udaryat. 4apita (elekta. Gastroenterologi anak. Refluks Gastroesofageal (RGE).HL (agung (eto. )akarta,&..<. ; M &&9#&>!. &. Rahajoe II, (upriyatno ' dkk. 'uku 6jar Respiratologi 6nak. 4elainan (istem Respiratorik akibat Refluks Gastroesofagus. 5katan %okter 6nak 5ndonesia &.!.. Edisi !, Hetakan 4edua. )akarta. 'ab <. ;M ,=>#,9<. 15

,. ;egar 'adriul, Landenplas N*an. /aediatri"a 5ndonesiana. Gastroesophageal Reflu$ in Hhildren. Lol +!. /0 ,7!#,<!. >. (trange GR, 6bramo )1, %eis I). /ediatri" Emergen"y Medi"ine. , rd edition. M"Graw ;ill. 5n Gastroesophageal reflu$. Hhapter <,. D(6 &..9. /age0 7.9#7!,. +. 4leigman MR, et al. Ielson te$tbook of pediatri"s. !=th edition 0 B' (aunders Ho.&..<. Gastroesophageal Reflu$ %isease (GER%). Hhapter ,&.. /age 0 !+><#!++. 7. ("hwarC M(, Huffari H et al. /ediatri" Gastroesophageal Reflu$. Dpdated0 )un !>, &.!& at www.medi"ine.meds"ape."om <. Hhristopher 'oey HM. 6"id reflu$ in Hhildren. Malaysian /aediatri" 6sso"iation (M/6). Dpdated + )une &.!& at www.mpaweb.org.my =. (haw Lannesa, Gawson Margaret. Hlini"al /aediatri" %ieteti". , rd edition. GastroenterologyM Gastro#oesophageal reflu$. /age !!+#!!=. 9. /ri"e 6(, Bilson MG. /atofisiologi 4onsep 4linis /roses#proses /enyakit. Edisi 7. Lolume !. /enerbit 'uku 4edokteran EGH &..,. Hetakan !, &..7. Gangguan EsofagusM 'ab &,. ;0 >.>#>!7. !.. Mayo Hlini". 5nfant 6"id Reflu$. Gast re*iew on 6ugust &!, &.!.. 6""essed at http022www.mayo"lini"."om !!. )ung %6. Gastroesophageal Reflu$ in 5nfant and Hhildren. 6meri"an :amily /hysi"ian. Lolume 7>, Iumber !!. %e"ember !, &..!. /age 0 !=+,#!=7..

16