Anda di halaman 1dari 6

PENGUKURAN e/m BERDASARKAN PERCOBAAN J. J.

THOMPSON

Rony Pranata 1, Innayatul Mutmainna 2, Nurfadlia 3, Surmi 4

Laboratorium Fisika Modern Jurusan Fisika FMIPA
Universitas Negeri Makassar

Abstrak. Telah dilakukan praktikum mengenai pengukuran e/m berdasarkan percobaan J.J Thompson.Tujuan
dilakukannya percobaan ini adalah untuk memahami prinsip percobaan J.J Thompson (1897) dan menentukan
nilai e/m untuk partikel elelektron. Dalam percobaan ini digunakan sebuah Kumparan helmholtz yang berfungsi
untuk menghasilkan medan magnet yang seragam. Alat dan bahan lainnya yang digunakan adalah perangkat
eksperimen e/m EM-1N, discharge tube power supply, stabilizer 110 V dan kabel penghubung 3 pasang.
Percobaan ini dilakukan dengan cara menghubungkan kabel power discharge tube power supply ke stabilizer 110
V, mengatur arus kumparan helmholtz sehingga terlihat filamen menyala, mengatur tegangan anoda hingga
tampak berkas elekton keluar dari penembak elektron dan akan melengkung akibat kehadiran medan magnet dari
kumparan helmholtz, dan kemudian mengukur jejari berkas elektron tersebut. Hasil percobaan menunjukkan
bahwa diameter lintasan elektron berbanding terbalik dengan arus listrik, semakin besar arus listrik yang diberikan,
maka diameter berkas elektron menjadi semakin kecil. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh nilai rata-rata
e/m sebesar 1,71 10
11
/ dengan persentase kesalahan sebesar 2,85 % dari literatur.


KATA KUNCI: elektron, nilai e/m, medan magnet, kumparan Helmholtz


PENDAHULUAN

Sinar katode bukan makhluk yang
langka lagi pada tahun 1897. Sinar ini telah
ditemukan hampir tiga puluh tahun
sebelumnya. Namun demikian, karakteristiknya
belumlah diketahui secara jelas pada masa-
masa awal penemuannya. Terdapat sejumlah
bukti ilmiah tentang sinar katode ini yang
kelihatannya bertentangan. Beberapa peneliti
menggunakan jenis sinar ini untuk memberikan
muatan pada partikel, misalnya pada ion dalam
proses elektrolisis. Perrin bahkan menentukan
tanda muatan yang dimilikinya berjenis negatif.
Beberapa fisikawan yang lain, di antaranya
Heinrich Hertz menemukan bahwa ternyata
jenis sinar tersebut tidak dapat dipengaruhi oleh
medan listrik dan medan magnet sebagaimana
yang seharusnya jika sinar tersebut merupakan
muatan-muatan yang bergerak. Hertz kemudian
menggolongkannya sebagai gelombang
elektromagnetik [2].
Tahun 1897, Joseph John Thompson,
beserta Wiechert dan Kaufmann, dengan
eksperimen masing-masing, menemukan
bahwa sinar katode sesungguhnya adalah
partikel bermuatan yang memiliki sifat aneh.
Keanehan ini terletak pada fakta bahwa rasio
massa terhadap muatannya memiliki orde 1000
kali lebih kecil dibandingkan ion yang paling
ringan, ion hidrogen [2].
Di antara ketiga fisikawan ini,
Thompson, yang merupakan profesor
eksperimen fisika di Universitas Cambridge
menyajikan hasil eksperimen yang paling
lengkap dalam menguraikan sifat sinar katode
tersebut. Thompson tidak hanya menggunakan
medan listrik di antara katode dan anode dalam
menentukan kecepatan elektron tetapi juga
membangkitkan medan listrik kedua yang tegak
lurus terhadap arah gerak partikel sinar katode.
Pada awalnya, Thompson menemukan hal yang
serupa dengan Hertz, yakni gerak partikel
tersebut tidak terpengaruhi oleh medan listrik.
Namun, ketika Thompson menurunkan tekanan
gas dalam tabung, dan melakukan penelitiannya
berulang-ulang dengan menggunakan berbagai
jenis gas, akhirnya tampak adanya
penyimpangan lintasan partikel akibat pengaruh
medan listrik. Dengan mengukur
penyimpangan sinar katode tersebut dalam
medan magnet, Thompson kemudian
menentukan kecepatan partikel sinar katode dan
menghitung rasio muatan terhadap massa dari
penyimpangan akibat medan listrik dan medan
magnet ini. Dalam makalahnya, Thompson
menuliskan, ... . Kecilnya nilai e/m mungkin
disebabkan oleh kecilnya nilai m atau besarnya
nilai e, atau kombinasi dari keduanya. Bahwa
ukuran pembawa muatan yang kecil dalam sinar
katode dibandingkan molekul-molekul biasa,
menurut saya sesuai dengan hasil Lenard...
Thompson selanjutnya mengemukakan bahwa
karena kecilnya nilai e/m ini, maka ukuran
pembawa muatan ini pastilah lebih kecil dari
atom-atom [2].
Pada percobaan kali ini, pengukuran e/m
didasarkan pada percobaan Thomson, yaitu
hubungan perbandingan e dan m dapat
diperoleh dengan mengukur jari-jari sinar r
pada setiap nilai arus I dengan beberapa nilai
Tegangan V. Nilai arus I berbanding terbalik
dengan r.


TEORI

Dalam eksperimen ini, berkas elektron
dipengaruhi oleh gaya magnetik Fm. Gaya
magnetik tersebut berperan sebagai gaya
sentrifugal Fs. Oleh karena itu dengan
menyamakan kedua gaya tersebut kita dapat
menuliskan persamaan,

e v
m Br
= (1)
di mana v= kecepatan elektron (m/s), B= rapat
fluks magnet (T) dan r = jejari berkas elektron
(m).

Elektron dipercepat melalui potensial
pemercepat V, dengan demikian energi kinetik
elektron adalah,

2
1
2
eV mv = (2)
Kecepatan elektron menjadi,


1/ 2
2eV
v
m
| |
=
|
\ .
(3)

Medan magnet yang dihasilkan di sekitar
sumbu sepasang kumparan Helmholtz
diberikan oleh persamaan,


| |
3

5
4
o
N I
B
a

=
| |
|
\ .
(4)

Substitusi persamaan (3) dan persamaan (4) ke
dalam persamaan (1) untuk memperoleh,

( )
3
2
2
5
2
4

o
V a
e v
m Br
N Ir
| |
|
\ .
= = (5)

Jadi nilai kuat medan magnet B diberikan, maka
dapat pula digunakan persamaan,


2 2
2 e V
m B r
= (6)

Dengan, V= Potensial pemercepat (v), B= Kuat
medan magnet = 7,80 x 10
-4
x I (Wb/m
2
),
a=Jejari kumparan Helmholtz (m), N= Jumlah
lilitan pada setiap kumparan Helmholtz (130),
o= Konstanta permeabilitas = 4 x 10
-7
, I =
Arus kumparan Helmholtz (A), dan r = jejari
berkas elektron (m).


METODOLOGI EKSPERIMEN

Adapun alat dan bahan yang di gunakan
pada percobaan ini yakni perangkat eksperimen
e/m EM-1N, discharge tube power supply,
stabilizer 110 V dan kabel penghubung 3
pasang.



Gambar 1. Foto dan Skema Rangkaian
Percobaan e/m

Metode percobaan ini serupa dengan
percobaan J.J. Thompson yang dilakukan pada
tahun 1897, yaitu dengan mempercepat berkas
elektron melalui sebuah potensial yang
besarnya diketahui. Dengan mengetahui
besarnya potensial pemercepat, kecepatan
elektron tersebut dapat ditentukan. Sepasang
kumparan Helmholtz digunakan untuk
menghasilkan medan magnet seragam pada
arah tegak lurus dengan berkas elektron. Medan
magnet ini menyimpangkan berkas elektron
secara melingkar. Dengan mengukur potensial
pemercepat (V), arus kumparan Helmholtz (I),
dan jejari melingkar berkas elektron (r), nilai
e/m dapat dihitung dengan mudah.
Adapun prosedur kerja dalam percobaan
ini adalah menghubungkan kabel discharge
tube power supply dengan stabilizier 110 V,
memeriksa rangkaian listrik alat e/m seperti
pada gambar diatas. Mengatur arus pada
kumparan helmholtz sampai terlihat suatu
filamen yang berwarna hijau, lalu mencatat nilai
penunjukan pada tabel pengamatan, mengatur
tegangan anoda hingga tampak berkas elektron
keluar dari penembak elektron (elektron gun)
dan akan melengkung akibat kehadiran medan
magnet dari kumparan helmholtz lalu mencatat
nilai penunjukannya pada tabel pengamatan.
Untuk data pertama kita menggunakan
tegangan pemercepat sebesar 170 V dan data
kedua kita menggunakan tegangan pemercepat
sebesar 200 V yang dibuat konstan, lalu
mengukur diameter lintasan elektron
menggunakan mistar yang ada dalam tabung
katoda. Nilai penunjukannya dicatat pada tabel
pengamatan seperti dibawah ini :

Jari-jari kumparan Helmholtz, a= m

.
HASIL EKSPERIMEN DAN ANALISA
DATA

Jari-jari kumparan Helmholtz,a = 0,15 m

TABEL 1. Hubungan antara Tegangan
Pemercepat (V), Kuat Arus
Kumparan Helmholtz (I) dan
Diameter Berkas Elektron (d)
No
Tegangan
Pemercepat
(Volt)
Arus
Kumparan
(A)
Jari-jari
berkas
(10
-2
m)
1 170 1.14 5.00
2 170 1.20 4.75
3 170 1.27 4.50
4 170 1.33 4.25
5 170 1.42 4.00
6 170 1.52 3.75
7 170 1.61 3.50
8 200 1.25 5.00
9 200 1.32 4.75
10 200 1.40 4.50
11 200 1.47 4.25
12 200 1.56 4.00
13 200 1.65 3.75

Untuk menentukan nilai e/m digunakan rumus:

=
2

2
=
2
((7,80 10
4
) I)
2

2

% error ((

) = |

| 100%

Dengan menggunakan persamaan diatas
diperoleh nilai e/m untuk data pertama sebagai
berikut :

(

)
1
=
2
1

1
2

1
2

(

)
1
=
2 (170)
(7,8010
4
(1,14))
2
(0,05)
2

(

)
1
= 1.72 10
11



% error ((

) = |

| 100%
= |
(1,72 1,759) 10
11
1,759 10
11
| 100%
= 2,21 %

Dengan menggunakan cara yang sama
diperoleh nilai e/m dan % error e/m untuk data
kedua dan seterusnya sebagai berikut :

(

)
2
= 1.72 10
11


% error (

)
2
= 2.21 %

(

)
3
= 1.71 10
11


No. Tegangan
Pemercepat,
V (Volt)
Arus
Kumparan,
I (A)
Jejari
Berkas,
r (m)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
% error (

)
3
= 2,73 %

(

)
4
= 1.75 10
11


% error (

)
4
= 0.56 %

(

)
5
= 1.73 10
11


% error (

)
5
= 1,52 %

(

)
6
= 1.72 10
11


% error (

)
6
= 2.21 %

(

)
7
= 1.76 10
11


% error (

)
7
= 0,05 %

(

)
8
= 1.68 10
11


% error (

)
8
= 4,31 %

(

)
9
= 1.67 10
11


% error (

)
9
= 4,92 %

(

)
10
= 1.66 10
11


% error (

)
10
= 5,83 %

(

)
11
= 1.68 10
11


% error (

)
11
= 4,24 %

(

)
12
= 1.69 10
11


% error (

)
12
= 4.01 %

(

)
13
= 1.72 10
11


% error (

)
13
= 2,37 %

Analisis Ketidakpastian

= (|

| + |
2

| + |
2

|)



=
(

)
(

)
100%
= 100%
= |(

) (

)|satuan

Untuk data pertama

(

)
1
= (|

1
| + |
2

1
| + |
2

1
|) (

)
1

(

)
1
= (|
1
170
| +|
2(0,01)
1,14
|
+|
2(0,002)
0,05
|) (1,7210
11
)
(

)
1
= 0,178 10
11


=
(

)
1
(

)
1
100 %
=
0,178 10
11

1,72 10
11
100 %
= 10,34 % (2 )
= (100 10,34) % = 89,66 %
(

)
1
= |1,7 0,1| 10
11



Dengan menggunakan perhitungan yang sama
diatas akan diperoleh nilai dari

)
2
= 0,184 10
11


= 10,68 % (2 )
= 89,32 %
(

)
2
= |1,7 0,1| 10
11

)
3
= 0,189 10
11


= 11,05 % (2 )
= 88,95 %
(

)
3
= |1,7 0,1| 10
11

)
4
= 0,201 10
11


= 11,50 % (2 )
= 88,50 %
(

)
4
= |1,7 0,2| 10
11

)
5
= 0,208 10
11


= 12,00 % (2 )
= 88,00 %
(

)
5
= |1,7 0,2| 10
11

)
6
= 0,216 10
11


= 12,57 % (2 )
= 87,43 %
(

)
6
= |1,7 0,2| 10
11

)
7
= 0,233 10
11


= 13,26 % (2 )
= 886,74 %
(

)
7
= |1,7 0,2| 10
11

)
8
= 0,170 10
11


= 10,10 % (2 )
= 89,10 %
(

)
8
= |1,6 0,1| 10
11

)
9
= 0,175 10
11


= 10,44 % (2 )
= 89,56 %
(

)
9
= |1,6 0,1| 10
11

)
10
= 0,179 10
11


= 10,82 % (2 )
= 89,18 %
(

)
10
= |1,6 0,1| 10
11

)
11
= 0,190 10
11


= 10,27 % (2 )
= 88,73 %
(

)
11
= |1,6 0,1| 10
11

)
12
= 0,199 10
11


= 11,78 % (2 )
= 88,62 %
(

)
12
= |1,6 0,1| 10
11

)
13
= 0,213 10
11


= 12,38 % (2 )
= 87,62 %
(

)
13
= |1,6 0,2| 10
11




Nilai rata-rata

yang di peroleh adalah



1,71 10
11



% error ((

) = |

| 100%

= |
(1,71 1,759) 10
11
1,759 10
11
| 100%
= 2,85 %

Pengukuran e/m ini didasarkan pada
percobaan Thomson, yaitu hubungan
perbandingan e dan m dapat diperoleh dengan
mengukur jari-jari sinar r pada setiap nilai arus
I dengan beberapa nilai Tegangan V. Nilai arus
I berbanding terbalik dengan r.
Jika suatu muatan elektron bergerak di
dalam ruang yang berada di bawah pengaruh
medan magnet atau medan listrik maka muatan
tersebut akan mengalami gaya sehingga
pergerakan elektron akan menyimpang. Adanya
gejala fisis ini dipertimbangkan sebagai
pergerakan muatan elektron di dalam medan
magnet maupun medan listrik. Percobaan ini
menggunakan sebuah tabung katode dan
kumparan yang berfungsi untuk menghasikan
medan magnet. Kumparan ini disebut kumparan
Helmholtz (yaitu kumparan yang memiliki
besar jari-jari sama dengan jarak kedua
kumparan) yang digunakan untuk memberikan
medan magnet yang konstan dalam ruang yang
sempit dan terbatas.
Adanya arus listrik yang mengalir
menyebabkan adanya loncatan elektron. Medan
magnet dari kumparan Helmholtz
menyebabkan adanya perubahan arah dan
kecepatan elektron yang bergerak sehingga
terlihat berkas elektron berbentuk lingkaran.
Hasil praktikum menunjukkan bahwa
pada saat nilai tegangan (V) tetap sedangkan
nilai arus listrik (I) berubah semakin besar,
maka diameter lintasan elektron akan semakin
kecil. Jika semakin besar nilai kuat arusnya
maka medan magnet yang dihasilkan oleh
kumparan Helmholtz semakin besar pula.
Medan magnet yang besar membelokkan
elektron dengan kuat sehingga diameter lintasan
elektron semakin kecil, karena diameter
elektron berbanding terbalik dengan medan
magnet. Berdasarkan hasil analisis data
diperoleh perbandingan nilai e dan m sebesar
1,71 x 10
11
C/kg. Nilai ini berbeda dengan nilai
dari literatur dimana perbandingan nilai e dan m
sebesar 1,759 x 10
11
C/kg, sehingga terdapat
persentase kesalahan sebesar 2,85 %. Adanya
perbedaan ini kemungkinan besar disebabkan
oleh adanya kesalahan paralaks, yaitu kesalahan
praktikan pada saat sedang mengamati atau
membaca diameter dari lintasan elektron.


SIMPULAN

Pengukuran nilai e/m ini didasarkan pada
prinsip percobaan Thomson yaitu jika suatu
muatan elektron bergerak di dalam ruang yang
berada di bawah pengaruh medan magnet atau
medan listrik maka muatan tersebut akan
mengalami gaya sehingga pergerakan elektron
akan menyimpang. Adanya gejala fisis ini
dipertimbangkan sebagai pergerakan muatan
elektron didalam medan magnet maupun medan
listrik. Hubungan perbandingan e dan m
diperoleh dengan mengukur jari-jari berkas
elektron, r pada setiap nilai arus I dengan
beberapa nilai Tegangan V. Berdasarkan hasil
analisis data, diperoleh nilai e/m elektron
sebesar 1,71 10
11
/.


REFERENSI

[1] Demtrder, W., et. all. 2006. Atoms,
Molecules, andPhotons, AnIntroductionto
Atomic-, Molecular-, andQuantum-Physics.
Springer, New York.

[2] Subaer, dkk. 2013. Penuntun Praktikum
Eksperimen Fisika I Unit Laboratorium Fisika
Modern Jurusan Fisika FMIPA UNM.