Anda di halaman 1dari 11

Materi Kuliah PGSD Perspektif Global: IPS DAN PENDIDIKAN DALAM MENGHADAPI TANTANGAN GLOBAL

Posted by maseremenmaos on 06.19 in MATERI KULIAH PGS ! 0 "omentar Seperti kita ketahui bersama, bahwa problem dan tantangan pendidikan nasional dalam memasuki globalisasi harus dihadapi dengan pendekatan dan metode yang sesuai dengan kondisi masyarakat dan tuntutan perubahan di masa depan. Fenomena yang terjadi pada dunia pendidikan di era global ini adalah selalu tertinggal jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi, informasi dan dunia bisnis. Sebab dunia pendidikan tidak selalu dapat mengembangkan dirinya atas dasar rugi-laba dan prinsip efisiensi semata. Pendidikan juga mengemban visi kemanusiaan. (Suyanto, !!"# $. %i era otonomi pendidikan, masih banyak pihak terutama sekolah dan pemerintah daerah, belum memahami apa yang seharusnya dilakukan. Padahal menurut && 'o. ( ) !!* tentang Pemerintahan %aerah, banyak hal yang seharusnya menjadi tugas daerah dalam mengelola pendidikan dasar dan menengah. +akni berkaitan dengan manajemen, anggaran, kurikulum, pengawasan, evaluasi, pembinaan karier guru, pengendalian kualitas, dan pendirian sekolah. ,da baiknya para petinggi berka-a pada negara-negara yang telah menerapkan otonomi pendidikan. Setidaknya ada " (delapan$ tujuan yang saling berkaitan yang mampu mendorong pembaruan. +akni# (.$ akselerasi pembangunan ekonomi melalui modernisasi institusi, ( $ peningkatan efisiensi manajemen, (($ realokasi tanggung jawab keuangan, (*$ penumbuhkembangan demokrasi, (/$ peningkatan pengawasan oleh daerah melalui deregulasi, (0$ pengenalan sistem pendidikan berdasarkan kekuatan pasar, (1$ netralisasi kompetensi antarpusat kekuatan yang berpengaruh pada pendidikan, dan ("$ peningkatan kualitas pendidikan. Sejumlah pilihan bentuk pengelolaan otonomi pendidikan. 2isal manajemen berbasis sekolah dan adanya jembatan antara dunia akademis dan profesional. 3onsep link and mat-h dunia pendidikan dan dunia kerja selama ini belum optimal karena adanya sejumlah kendala. +akni belum bisa melakukan standarisasi out-ome perguruan tinggi, sulitnya memprediksi jenis pekerjaan yang akan hilang dan mun-ul dalam kurun waktu lima tahunan, adanya perbedaan misi dan visi antara perguruan tinggi dan pasar kerja. 4al tersebut diperlukan transformasi nilai-nilai agama dan pendidikan. Pengembangan pendidikan yang berorientasi pada penegakkan moralitas dapat dilakukan dengan mengembangkan tujuan, materi, metode, dan evaluasi. 5uga hendaknya pendidikan nasional ke depan lebih mengembangkan ke-erdasan multidimensional. Paradigma baru mengenai ke-erdasan perlu dikembangkan. +akni menyangkut ke-erdasan visual, verbal, logika, kinestetika, musikal, interpersonal dan intrapersonal. %inamika Pendidikan Pendidikan masih diper-aya sebagai proses yang mampu memompa tenaga produktif bangsa kita. 6enaga produktif (produ-tive)pradaktiv for-e)fo#s$ adalah suatu kemampuan masyarakat untuk menghasilkan suatu bentuk tindakan dan produk-

produk baik yang bersifat ekonomis-teknologis maupun intelektualitas. &mumnya tenaga produktif masyarakat lebih banyak dikenal sebagai ilmu pengetahuan dan teknologi. 3etika masyarakat semakin mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, maka di dalamnya banyak individu yang mendapat kemudahan hidup, kesejahteraan, dan kemudahan untuk mengekspresikan kemanusiaannya. %alam menghadapi perkembangan sosial tersebut, &'7S89 berusaha mengakomodasi tuntutan sosial pendidikan dengan menegaskan pilar-pilar yang direkomendasikan dalam dunia pendidikan, yaitu# learning)leuning to learn, learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together. %i :ndonesia, pilarpilar tersebut belum dapat ditegaskan, bahkan dari sudut pandang wa-ana saja masih belum terdengar. Padahal prinsip pendidikan tersebut sangat komprehensif dan jika dapat diterapkan dengan benar dan konsisten akan mampu menjadikan anak didik menjadi insan yang selain menguasai informasi dan ilmu pengetahuan juga memiliki tanggung jawab moralitas bangsa :ndonesia. 2urid memang bukan hanya harus memiliki pengetahuan, melainkan juga mampu menerapkannya dalam masyarakat. Selain itu, mereka juga harus mampu melihat realitas terdalam. %engan demikian, mereka juga harus mampu terlibat langsung dalam masyarakat. Sebagaimana terjadi setiap tahun, menjelang pergantian tahun ajaran baru, isu pendidikan mahal kembali men-uat. 6entu saja pendidikan mahal bukanlah suatu hal yang diinginkan oleh kebanyakan orang, terutama kalangan masyarakat bawah. ;agi kalangan menengah ke atas, pendidikan mahal barangkali bukanlah masalah, bahkan dianggap sebagai kewajaran karena mungkin itu tuntutan globalisasi. 2ana mungkin bisa berkualitas kalau tidak mahal<, begitu kata mereka. Pada kenyataannya, anakanak konglomerat, memang jarang yang sekolah di dalam negeri, yang dianggapnya murahan, tetapi lebih senang sekolah di luar negeri, atau sekolah dalam negeri yang tergolong elite dan berfasilitas enak dan nyaman. ;agi kalangan ekonomi atas, anak para konglomerat dan pejabat, pendidikan tentu saja bukan hanya untuk meningkatkan status ekonomi (mobilitas vertikal$, melainkan lebih bermakna sebagai prestise ataupun penegasan gaya hidup, memperluas pengetahuan budaya untuk bisa sepadan dengan budaya ;arat yang dianggap sebagai patokan budaya dan peradaban. Persepsi budaya seperti ini bisa kita lihat di kalangan artis-selebritis, sebuah representasi kaum kelas atas, kalangan yang hidupnya diabdikan untuk merayakan gaya hidup (life skill$ sebagai -erminan kesadaran kelas ekonomi yang mendominasi. ;erbeda dengan mayoritas orang miskin yang dalam kesehariannnya harus menghadapi masa sulit dalam memenuhi kebutuhan hidup. ;agi kalangan ekonomi bawah ini, pendidikan bermakna bukan sekadar prestise sosial, melainkan lebih banyak sebagai alat mobilisasi sosial ke atas, yaitu meningkatkan ke-akapan agar menghasilkan pendapatan ekonomi yang lebih baik. Pendidikan adalah untuk mengondisikan tenaga berpengetahuan dan berketerampilan sebagai modal untuk dijual ke bursa kerja sehingga akan mendapat penghasilan lebih dibanding orang yang tidak berpendidikan dan yang hanya mengandalkan tenaga fisik, seperti buruh, tani, dan lain-lain. Sebagaimana dilaporkan 4uman)-hju#man %evelopment)divelapment :nde=)indeks (4%:$ atau :ndeks Pembangunan 2anusia tahun !!( lalu, :ndonesia berada dalam urutan ke-.. (!,0" $ dari .1/ negara. Posisi ini jauh di bawah Singapura yang ada di posisi ke- " (!,"""$> ;runei %arussalam ke-(. (!,"1 $> 2alaysia ke-/" (!,1?!$>

6hailand ke-1* (!,10"$> dan Philipina ke-"/ (!,1/.$. ;etapa mengenaskan@ %alam kaitan ini, mutu pendidikan juga berkaitan dengan pemerataan akses serta lemahnya alokasi anggaran. 3edua hal itulah yang membuat pendidikan menjadi mahal, hingga otak harus dipindah ke dengkul, bukan di kepala. Pendidiikan selalu diper-aya untuk membentuk masyarakat agar dapat menjadi pribadi yang dapat berpartisipasi dalam pembangunan. 6api, idealitas ini tampaknya akan sangat jauh bila kita melihat apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 8ita-ita untuk men-iptakan manusia yang lebih baik seakan-akan hanyalah ilusi. ;ahkan, kita gagap menghadapi perubahan yang -epat. %an pendidikan tidak bisa menjawab sama sekali ke-enderungan itu. 3ebijaksanaan pemerintah dalam pendidikan justru membatasi akses rakyat untuk mendapatkannya. 3ebijakan privatisasi pendidikan telah mendiskriminasikan rakyat dalam memperoleh pendidikan, hanyalah golongan masyarakat yang berduit saja yang dapat bersekolah dan memperoleh pendidikan. 5elas asumsi yang dipakai adalah filsafat ketidakadilan. %ana konpensasi kenaikan harga ;;2 untuk pendidikan dan kesehatan tidak akan -ukup efektif untuk mengurangi dampak privatisasi pendidikan yang telah dilakukan jauh-jauh hari dan tidak juga akan mampu membayar pemiskinan rakyat akibat kenaikan harga ;;2 lalu yang diikuti dengan harga-harga lainnya, juga kebijakan yang lain. %alam kondisi worst-edu-ated seperti itulah, tenaga produktif rakyat sebagai energi diharapkan dapat membangun kemajuan bangsa. Sebenarnya, pesimisme terhadap pendidikan atau sekolah yang tidak mampu mengubah keadaan hidup sudah lama dilontarkan, termasuk oleh pakar pendidikan sendiri. ;ahkan sekolah dianggap hanya membuat generasi muda terbelenggu dan membodohi masyarakat. 2ereka yang apatis itu bukan -uma orang biasa, melainkan juga para filsuf dan tokoh sejarah. 7verett Aeimer menyatakan bahwa s-hool)sku#l is dead)ded, dan :van :lli-h menggagas des-hooling)diskuling so-iety)sasaiati. Sejumlah penggagas lain juga melontarkan pesimisme mereka pada lembaga sekolah. ;uku-buku top atau best seller seperrti dari Aobert 6 3iyosaki ( !!!$ banwa# :f you want to be ri-h)ritj and happy)hepi, dont go)gou to s-hool (bila anda ingin kaya dan bahagia jangan sekolah$, dan BAi-h dad, poor)pua dad juga menyuarakan pesimisme terhadap sekolah formal yang saat ini sulit dijangkau oleh rakyat. %i :ndonesia, ,ndrias 2arefa ( !! $ menulis, BSekolah saja tidak pernah -ukup, dan BSukses tanpa gelar. %armaningtyas menulis tentang Pendidikan yang memiskinkan, Pendidikan rusak-rusakan> 7dy Cageus menulis 3alau mau kaya, ngapain sekolah, dan sebagainya. 2asalahnya, dimana pun pendidikan tidak pernah berdiri sendiri tanpa terkait se-ara dialektis dengan lingkungan dan sistem sosial tempat pendidikan diselenggarakan. 2eskipun demikian, pendidikan selalu diper-aya untuk membentuk masyarakat agar dapat menjadi pribadi yang dapat berpartisipasi se-ara produktif dan kreatif dalam pembangunan. Strategi pendidikan harus dipilih agar ter-ipta sistem dan metode pendidikan yang mampu menjawab persoalan, dan bukannya hanya menjadi pendukung sistem ekonomi D politik yang kini semakin tidak berpihak pada rakyat dan menjauhkan individu di dalamnya dari kemanusiaan. Saat ini, ketika sistem yang ada masih rusak-rusakan, animo orang tua untuk menyekolahkan anak masih sangat besar. 4al tersebut terjadi karena pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia adalah kebutuhan. 'amun begitu,

sebagian orang tua tersiksa dengan fakta mahalnya biaya masuk yang ada. ;ahkan sebagian lagi juga terpaksa menekan keinginan untuk menyekolahkan anaknya. ,lasan yang mereka gunakan, selain merasa mustahil untuk dapat membiayai anaknya, karena anggapan bahwa semakin banyak orang bersekolah ternyata juga tidak dapat mengubah keadaan. Eatak dan tindakan elite politik dan pemerintah yang tetap saja menyengsarakan rakyat menambah keyakinan rakyat bahwa banyaknya orang-orang pintar dan sekolah tinggi ternyata juga tak kunjung memun-ulkan kondisi bangsa yang baik, justru malah merusak dan menambah penderitaan rakyat. 6ampaknya kearifan dan pengetahuan tidak perlu didapat dari sekolah. Pada kenyataannya, sekolah hanya menonjolkan gedung-gedung mewah tetapi dikomersialkan. 2odel pendidikan yang ada juga mengasingkan komunitas sekolah dari realitas masyarakat. ;ukanlah, dengan demikian, untuk pintar dan menjadi manusia yang berilmu dan mampu menghadapi masa depan tidak perlu masuk sekolah. Seorang antropolog dari 'orwegia, 9yind Sandbukt, yang pernah mengadakan penelitian di kalangan Suku 3ubu di 5ambi mengungkapkan tentang sosialisasi, transmisi pengetahuan tentang kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya. %itunjukkan oleh sang antropolog bahwa suku yang dianggap primitif atau terasing ternyata memiliki pengetahuan yang mengagumkan tentang lingkungan hidupnya di hutan tropis. %alam hal ini, pengetahuan yang sudah menjadi satu paket untuk siap hidup di hutan belantara, tentunya diperoleh melalui proses belajar yang panjang dan dikukuhkan dalam kurikulum. 3etika sebagian orang 3ubu ini dimukimkan kembali seperti pada umumnya, maka tiba-tiba mereka ter-erabut dari akar kehidupan yang paling dalam. ,nak-anak perdesaan, pedalaman, nelayan, sebagian di kota, adalah anak-anak pinggiran yang luput dari perhatian kurikulum. 2ereka terbiasa belajar sambil bekerja. Pandangan ekstrem bahwa kita tidak butuh sekolah tentunya tidak dapat dilihat sebagai pesimisme, tetapi harus dipandang sebagai kritik pada dunia pendidikan kita. Aealitas sosial harus masuk dalam dunia pendidikan. ,rtinya, semua orang harus dapat bersekolah dan semua orang harus dapat mengeskpresikan kepentingannya dalam dunia pendidikan. Pendidikan harus menjadi milik masyarakat, tanpa batas-batas kelas, ras, agama, maupun bentuk fisik (-a-at atau tidak$. :ntinya, memperbaiki pendidikan dimulai dengan membuka komunitas pendidikan bagi realitas sejati masyarakat agar pendidikan mampu melihat apa yang terjadi, lalu memberi jawaban bagi permasalahan yang ada. 2engintegrasikan realitas sosial ke dalam praktik pendidikan akan membuat keluaran pendidikan tidak sekedar menghafal dan tahu banyak informasi pengetahuan, tetapi juga akan sanggup memberikan nilai praktis atas informasi yang diperolehnya. :ni sesuai dengan ungkapan Paulo Freire (.?1 $ yang menegaskan bahwa mengajar bukan sekadar memindahkan pengetahuan dengan hafalan. 2engajar tidak bisa direduksi menjadi mengajar siswa saja, tetapi mengajar baru menjadi berfungsi bila siswa belajar untuk belajar (learn to learn$. ,rtinya, siswa sanggup untuk belajar alasan (why$ dari objek dan isi yang dipelajari. Siswa belajar untuk kreatif dan mandiri. 2ereka harus menerjemahkan dan menjelaskan problem nyata yang sedang dihadapi dirinya maupun masyarakatnya. &ntuk membebaskan diri dari belenggu penindasan model pembelajaran lama, perlu dimum-ulkan model pendidikan ini. 3epada peserta didik tidak hanya diberikan -ontoh, teori sekaligus rumus, tetapi juga disertai dengan berbagai perilaku

pemahaman (a-t)aekt of -ognition)kognijan$. 2enerjemahkan muatan dan isi pelajaran ke dalam realitas sosial akan menjadi entry point dari apa yang disebut Freire sebagai pendidikan terhadap masalah (problem)prablem possing)posem edu-ation)edjukeijen$. &ntuk apa ada pendidikan kalau masalah kemanusiaan tetap ber-okol di atas bumi. 6antangan Flobal Seorang futurolog yang -ukup terkenal, ,lvin 6ofler (.?"?$ menggunakan istilah kejutan masa depan (future)fjuta sho-k$ untuk menggambarkan situasi sekarang yang membuat kita terlempar pada suatu kondisi di mana kita mengalami tekanan yang menggun-angkan dan hilangnya orientasi individu disebabkan kita dihadapkan dengan terlalu banyak perubahan dalam waktu yang terlalu singkat. :tulah situasi yang persis kita alami di :ndonesia. Perubahan berskala besar dan -epat ternyata kita respons se-ara lambat. %alam bidang pendidikan kita tertinggal jauh> jangankan dengan negara-negara besar> kita masih berada di bawah 2alaysia, Gietnam, :ndia yang beberapa tahun yang lalu kalah kualitasnya dengan pendidikan kita. 6etapi sampai kapan pun pendidikan sebagai suatu upaya menghadapkan manusia (peserta didik$ pada realitas yang terus saja berubah saat ini sangat diharapkan perannya untuk mampu mengikuti arus Haman, bukan berarti untuk mengikis kemanusiaan melainkan justru untuk menemukan kondisi air kehidupan yang memungkinkan jiwaraga bangsa berenang dengan indah. Flobalisasi adalah arus utama yang membawa dampak mahahebat terhadap ruang waktu yang mengalami per-epatan atau terjadinya dalam bahasa ,nthony Fiddens ( !! $ time)taim-spa-e)speisdistanHiation)disteistsisen. 6entu saja interaksi manusia dengan teknologi, manusia dengan manusia lain, semakin intensif# makna baru didapat dari objektivikasi baik rasional maupun irasional karena perkembangan basis material, :ptek yang terus berubah. 6ugas pendidikan adalah membawa generasi ini mampu merengkuh mekanisme yang lebih dekat agar dalam menghadapi kontradiksi alam selalu mengalami perubahan. Flobalisasi sebagai proses terkait dengan globalution, yakni paduan dari kata globaliHation dan evolution)i#vallu#jen. %alam hal ini, globalisasi adalah hasil perubahan (evolusi$ dari hubungan masyarakat yang membawa kesadaran baru tentang hubungan atau interaksi antarumat manusia. 7volusi pemikiran ke arah kematangan dan kemajuan yang mendorong produktivitas dan kreativitas ditimpakan pada pendidikan. %alam bidang ekonomi, se-ara umum globalisasi disebabkan oleh penurunan hmbatan dalam perdagangan dan investasi serta kemajuan teknologi. 3eni-hi 9hmane (.??0$ menyebutkan faktor-faktor globalisasi sebagai * : (:nvestasi, :ndustri, :nformasi, :ndividual$. Perkembangan investasi terjadi karena perkembangan pasar modal yang menjadikan negara maju memiliki kelebihan modal untuk melakukan investasi se-ara meluas. :ndustri juga mengalami pengglobalan disebabkan oleh strategi perusahaan multinasional modern yang tidak lagi dibentuk dan dikondisikan oleh alasan kenegaraan. :nformasi juga dipi-u oleh perkembangan teknologi yang membuat manusia menemukan -ara pandang baru yang memperluas perasaan dan interaksi global. Sedangkan individu juga mengalami pemaknaan baru> dari sudut pandang ekonomi kapitalis, individu sebagai konsumen mengalami perubahan orientasi se-ara global, terutama akses yang lebih baik terhadap informasi

gaya hidup. 3apitalisme global membawa paham liberalisme dan individualisme untuk men-iptakan stabilitas ekonominya. Aealitas global yang berkembang sekarang ini adalah pendidikan itu sendiri. 3arena globalisasi telah membawa doktrin yang membentuk masyarakat, peserta didik dan juga pengajar tidak luput dari doktrin global. Singkatnya, sistem dan budaya pendidikan yang berkembang juga telah terhegemoni oleh perkembangan globalisasi. Flobalisasi sebagai istilah tersendiri juga paling banyak diterima dan diu-apkan di dunia pendidikan. 2eskipun istilah globalisasi telah begitu terkenal, dalam banyak hal awalnya hampir tidak ada perdebatan ilmiah dan kritis terhadapnya, ke-uali doktrin. 3alimat yang paling akrab di telinga kita sebagaimana sering dipidatokan para politisi Bpro globalisasi# Bmau tidak mau, suka tidak suka, kita tidak bisa mengindar dari arus globalisasi ... 2asalahnya, bagaimana kita menyiapkan diri untuk menghadapinya, agar bisa memetik manfaat dari arus besar itu. 6anpa membahas se-ara kritis, gambaran ekonomi global sema-am itu demikian kuat, sehingga memukau para pengajar, bahkan para analisi, dan membius pemikiran sosialpolitik kita. 'amun menanggapi pemahaman yang banyak diterima itu, dua orang profesor Paul 4irst dan Frahame 6hompson dalam FlobaliHation in Iuestion)kwestjen ( !!.#($ justru mempertanyakan# benarkah demikianJ 3edua tokoh itu meragukan apakah betul telah terjadi proses pembentukan ekonomi global itu. %engan menunjukkan data-data yang sangat akurat, 4irst dan 6hompson mengatakan bahwa Bkonsep globalisasi seperti yang telah dikemukakan oleh para penganut ekstrem teori globalisasi tidak lain dan tidak bukan adalah mitos belaka. Kebih jauh, argumen yang dikemukakan oleh 4irst dan 6hompson ( !!.#($ adalah# (.$ tatanan ekonomi yang sangat mendunia sekarang ini bukannya tanpa preseden# itu tak lain hanyalah bagian dari gelombang turun naik (konjungtur)ku#ki$ pertumbuhan ekonomi, atau keadaan ekonomi internasional yang mulai ada sejak ekonomi yang berlandaskan pada teknologi industri menyebar ke seluruh dunia sejak .?0!-an. %alam beberapa hal, ekonomi internasional sekarang ini justru lebih tidak terbuka dibandingkan dengan ekonomi dunia pada tahun ."1! hingga tahun .?.*> ( $ perusahaan internasional (6'8, transnational -ompany)kampeni$ yang murni jarang ditemukan. Perusahaan transnasional pada umumnya berbasis negara nasional dan kegiatan perdagangannya di berbagai belahan dunia bertumpu pada kekuatan produksi dan pemasaran di lokasi nasional, dan tidak ada ke-enderungan ke arah perkembangan menjadi perusahaan internasional murni> (($ mobilitas pasar modal tidak mengakibatkan berpindahnya penanaman modal dan kesempatan kerja se-ara besar-besaran dari negara maju ke negara-negara berkembang. Sebaliknya penanaman modal asing (Foreign)fo#ren %ire-t)dairekt :nvestment)investment L F%:$ justru banyak terpusat di negara-negara industri maju, sedangkan %unia 3etiga D 3e-uali segelintir negara industri baru D tetap menempati posisi di pinggiran, baik dari sisi investasi maupun perdagangan> (*$ seperti diakui para pendukung esktrem teori globalisasi, ekonomi dunia jauh dari bersifat ekonomi Bglobal. Sebaliknya, perdagangan, investasi, dan arus dana dewasa ini terpusat di wilayah 6ritunggal D 7ropa, 5epang, dan ,merika &tara D dan pemusatan ini tampaknya akan terus berlanjut> (/$ kekuatan ekonomi 6ritunggal (F-($ ini, dengan demikian, memiliki kemampuan D apalagi jika ada koordinasi di antara ketiganya dalam kebijakan ekonomi D untuk mengatur pasar modal dan aspek ekonomi lainnya. 3arena itu, tidak

benar bila dikatakan pasar dunia tidak bisa adiatur dan dikendalikan, meski pada saat ini ruang lingkup dan tujuan yang ingin di-apai dengan mengatur ekonomi dunia masih terbatas, karena kepentingan negara-negara besar ini berbeda dan doktrin ekonomi yang dianut oleh tiga elite itu juga berbeda. 2eskipun demikian, bahwa globalisasi bisa dikatakan Bmitos, realitas hubungan global tampaknya memiliki gerak historis yang bisa dijelaskan. Pada kenyataannya, globalisasi sudah menjadi pembi-araan dalam berbagai literatur akademik dan segera diadopsi di sekolah-sekolah dan universitas kita. %alam penelitian 5ames Petras ( !! #/0$, bahwa# 3ebangkitan M:deologi Flobalisme pada awalnya ditemukan dalam jurnal-jurnal bisnis di akhir tahun .?0!-an dan awal tahun .?1!-an. 3emudian istilah globalisasi diambil alih oleh dunia akademik (ekonomi, sosiologi, kebudayaan, dan politik internasional$ dan menjadi sebuah kerangka kerja yang diterima luas ketika berbi-ara tentang perluasan pasar modal internasional tanpa terlalu membahas asalusulnya, hubungannya dengan kekuasaan dan hasil-hasilnya yang eksploitatif. 3aitannya dengan posisi %unia 3etiga, seperti :ndonesia, juga diyakini bahwa negaranegara mana pun tidak akan Bselamat bila menolak globalisasi kapitalis. Sebagaimana dikatakan Feli= Eilfred (.??0#.(-.*$ bahwa# B6idak akan mengalami keselamatan (kemakmuran, kemajuan$ bila berada di luar globalisasi, di luar kapitalisme, dan ekonomi pasar. %ogma ekonomi yang baru diproklamasikan ini mendapat gemanya di antara kelompok kelas atas dan kelas memengah masyarakat negara-negara %unia 3etiga ... 5ika kita tidak mau bergabung dengan proses globalisasi ini, kita akan tertinggal (atau ditinggal$ dalam suatu lomba kebodohan. Pada kenyataannya, globalisasi memang lebih diterima sebagai dogma dan ideologi daripada suatu realitas yang dijelaskan se-ara objektif. Sehingga globalisasi seakanakan hanyalah ideologi atau dalam bahasa 2ar= Bkesadaran semu yang menutupi hakikat sebenarnya. Penampilan ideologi globalisasi sangat B-antik dan menarik, tetapi ternyata menyembunyikan kejahatan yang hanya dapat dikenal oleh mereka yang menjadi korbannya. 2emang, pada realitasnya, globalisasi Bmen-abut orang dan menjanjikan kemakmuran ... orang tersebut sebenarnya dihisap habis-habisan, kemudian dibiarkan mati kekeringan. 3arena Bekonomi kapitalis liberal yang merupakan pusat dari proses globalisasi. Eilliam Aobinson (.??0$ menunjukkan bahwa globalisasi terdiri dari dua proses. Pertama, kulminasi dari proses yang dimulai beberapa abad yang lalu, ternyata di dalamnya terdapat hubungan produksi kapitalis meruntuhkan dan menggantikan seluruh hubungan prakapitalis hampir di seluruh dunia. 3edua, transisi lebih dari beberapa dekade hubungan bangsa-bangsa melalui pertukaran komoditas dan aliran modal dalam pasar dunia yang terintegrasi, ternyata di dalamnya terdapat model produksi yang berbeda berkoeksistensi dalam formasi-formasi sosial ekonomi nasional dan regional yang luas bisa lepas dari keterikatan eksternalnya, yaitu globalisasi proses produksi itu sendiri. Pembagian kerja kolonial telah mentransformasikan dengan mun-ulnya 2'8 (multinational -orporations$ sebagai agen utama aktivitas ekonomi internasional dan gelombang yang terjadi dalam revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi (s-ientifi-)saiantifik and te-hnologi-al)teknelodjikal revolutionLS6A$ S6A pertama dimulai setelah Perang %unia :: dan terfokus pada teknologi intensif sebagai modal (energi nuklir, teknik otomatik baru, bahan-bahan sintetik, komputer dan elektronik,

dan lain-lain$> S6A 3edua dimulai tahun .?0!-an dan ter-akup di dalamnya generasi komputerisasi kedua, elektronika dan teknologi sintetik, dan teknologi komunikasi yang baru. Pertama membentuk pergeseran dari produksi dengan menekankan tenaga kerja menuju produksi yang menekankan modal sebagai alat akumulasi dalam skala global. 3edua dari intensifikasi modal ke teknologi dan ilmu pengetahuan dan penelitian untuk mengembangkan teknologi yang -anggih (komputerisasi, elektronika, telekomunikasi, teknologi robotik, sibernetik, ilmu luar angkasa, dan lain-lain. %ominasi globalisasi sebenarnya merupakan model imperailisme baru, bukan hanya menebarkan ideologi yang menumpulkan daya kritis masyarakat dan anggota komunitas atau lembaga pendidikan seperti sekolah dan universitas. Penggunaan istilah imperialisme ini untuk memahami dan menjelaskan globalisasi berdasarkan akta globalisasi dalam potensi empirisnya dibandingkan potensi normatifnya. ,rgumen ini juga didukung oleh fakta bahwa globalisasi yang terjadi dewasa ini dipandang sebagai proyek kelas, bukan sebagai suatu yang nis-aya. %alam hal ini, globalisasi dipandang tidak sebagai istilah khusus yang bermanaat untuk mendeskripsikan dinamika proyek ini, tetapi lebih sebagai alat ideologis yang lebih digunakan untuk deskripsi daripada preskripsi yang akurat. Sehingga globalisasi dapat diganti dengan sebuah istilah yang menggunakan nilai deskripsi dan kekuatan penjelas yang lebih adekuat, yakni imperialisme. %engan menggunakan istilah imperialisme, jaringan lembaga-lembaga yang menentukan struktur sistem perekonomian global yang baru dilihat bukan dalam pengertian struktural, melainkan dalam pengertian kesengajaan dan ketergantungan yang dikendalikan oleh oang-orang merepresentasikan dan berusaha mendahulukan kepentingan kelas kapitalis internasional yang baru. 3elas ini pada kenyataannya dibentuk berdasarkan lembaga-lembaga yang meliputi sekitar (1.!!! perusahaan transnasional (6'8$, unit-unit kerja kapitalisme global, penyalur Dpenyalur modal dan teknologi serta agen-agen besar tatanan imperial baru. Perusahaan-perusahaan transnasional tersebut bukan hanya menjadi penyangga organisatoris tatanan imperial ini, termasuk ;ank %unia, :2F, dan Kembaga-Kembaga keuangan internasional dan lain (:F:$ yang mengklaim diri sebagai komunitas keuangan internasional, atau apa yang disebut ;arnet dan 5ohn 8avenagh ( !! $ sebagai jaringan keuangan global. 6atanan dunia baru ini juga disangga oleh banyak sekali forum pren-anaan dan kebijakan strategis seperti F-1, 3omisi 6rilateral (68$ dan Eorld)we#ld 7-onomi-)i#kenomik Forum (E7F$> serta aparatur pemerintahan di negara-negara yang menjadi pusat sistem yang telah direstrukturisasi sedemikian rupa sehingga dapat melayani dan merespon kepentingan-kepentingan modal global. Seluruh lembaga tersebut merupakan sebuah bagian integral dari imperialisme baru, yaitu sistem pemerintah global baru. 3etika korporasi global mampu menjangkau keseluruh penjuru dunia, mereka tidak hanya membawa produk-produk dan merek-merek yang sudah mapan, tetapi juga media-media dan metode-metode pemasaran yang -anggih untuk menjajah setiap kultur yang mereka jumpai. 6he 7-onomist melaporkan, bahwa pada tahun .?"? saja, korporasi global menghabiskan belanja iklan total lebih dari N *! miliar. ;iaya lain sebesar N("! miliar dihabiskan untuk kemasan, desain, dan promosi di tempat penjual (point-of-sale)seil-promotions$ lainnya. Se-ara bersama, pengeluaran ini berjumlah N. ! per kepala untuk seluruh dunia. 2eskipun sebagian besar pengeluaran korporat

ini ditujukan untuk men-iptakan permintaan akan produk tertentu, ia juga membantu men-iptakan kultur konsumen global yang bersifat umum. 6ujuannya, untuk men-iptakan kesan di benak masyarakat bahwa kepentingan akumulasi kapital D khususnya kepentingan korporasi besar D adalah sama dengan kepentingan masyarakat luas. Se-ara keseluruhan, korporasi menghabiskan dana per kapita untuk men-iptakan konsumen yang bersahabat lebih dari separo dana per kapita yang digunakan dunia untuk pendidikan masyarakat (%ana dunia untuk pendidikan masyarakat adalah N !1 per kapita. &ntuk negara-negara selatan angka ini adalah N(($. Pertumbuhan belanja periklanan jauh melebihi kenaikan belanja pendidikan. 2enghadapi globalisasi dengan imbasnya dalam membentuk struktur ide masyarakat, pendidikan harus mampu menjawab persoalan-persoalan tersebut, terutama menekankan pada metode belajar yan mendekatkan peserta didik pada dunia se-ara utuh, keterkaitan antara satu kondisi dengan kondisi lain yang saling mempengaruhi antara satu bangsa dengan bangsa lain, antara satu komunitas dengan komunitas lain> globalnya kehidupan harus disambut dengan globalnya pemikiran, luasnya jangkauan wawasan dan pengetahuan, serta penguasaan teknologi untuk menyambut masa depan kemajuan di bidang teknis yang pada kenyataannya berkembang sangat -epat. 2enurut 2erryfield (.??1# ( $ dalam buku Preparing)pri#pering 6ea-her)ti#tej to 6ea-h Flobal)gloubel Perspe-tives mengatakan# ada tiga syarat yang harus dimiliki oleh guru dalam mengembangkan pendidikan perspektif global# kemampuan konseptual, pengalaman lintas budaya dan keterampilan pedagogis. Pertama, kemampuan konseptual berkenaan dengan peningkatan pengetahuan guru dalam konteks isu-isu global. Furu harus memiliki wawasan tentang isu, dinamika, sejarah, dan nilai-nilai global agar mereka memiliki keterampilan mengapresiasikan persamaan dan perbedaan budaya dalam masyarakat dunia. Penguasaan konseptual dalam tema perspektif global diyakini dapat menjadi pemi-u (trigger)trige$ yang -ukup potensial bagi guru dalam membangun suasana belajar yang dinamis agar siswa mampu merespons isu-isu lokal dalam kaitannya dengan masalah global. Furu harus dapat mengaitkan isu-isu apa pun, baik lokal maupun nasional, dalam hubungannya dengan kejadian global. %alam pelajaran ekonomi, misalnya, kondisi ekonomi daerah dan nasional dianalisis dari perspektif global, hubungan ekonomi antarnegara, dan juga per-aturan modal yang mengalir antara satu negara dengan negara lain. 2asalah politik juga dapat dikaitkan dalam hubungannya dengan kepentingan global dalam pelajaran kewarganegaraan. Sementara masalah multikulturalitas dan multinasionalitas bisa menjadi topik yang menarik dalam pelajaran bahasa :nggris. 3edua, pengalaman lintas budaya (inter-ulturalism$. Syarat ini masih belum banyak dimiliki oleh para guru kita, terutama disebabkan oleh profesi guru yang berlatar belakang studinya hanya di daerah atau nasional. 2ayoritas guru kita adalah lulusan di bawah S. dan rata-rata sekolahnya tidak berada jauh dari tempat asalnya. ;erbeda dengan lulusan S. atau perguruan tinggi yang biasanya dihuni oleh mahasiswa dari berbagai ma-am etnik, ras, agama, dan adat-istiadat. 2ereka telah belajar berinteraksi se-ara inter-kultural dan demikian lebih dapat mengerti perbedaan latar belakang masing-masing orang. %i samping itu, juga sangat sedikit guru yang pernah belajar ke luar negeri yang se-ara langsung pernah hidup dalam keadaan budaya yang berbeda dengan dirinya. 3esadaran multi-budaya akan mudah terbentuk apabila orang se-ara langsung mengalaminya dalam kehidupan sesungguhnya. 3etidaktahuan hanya

akan menimbulkan adaptasi terhadap hasil interaksi dengan orang dari etnis atau etinitas budaya lain yang ditemuinya. %alam proses globalisasi terjadi transnasionalisasi sehingga apa yang bersifat lokal dapat menembus batas-batas teritorial dan mengalami pemaknaan yang berbeda bagi umat manusia. 5adi, tidak berarti bahwa trans-nasionalisasi atau globalisasi ini tidak terkait dengan tempat. 6rans-nasionalisasi atau globalisasi memungkinkan manusia untuk membuat tindakan simultan dalam pelbagai tempat yang berbeda sekaligus. Flobal di sini berarti trans-lokal. Flobalisasi bukanlah suatu yang mengembangkan apa saja dengan dalih keuniversalan, tetapi bukan berarti tidak terikat pada tempat. 6empat atau kebertempatan bukan hilang, diberi makna yang baru. :nilah yang kemudian mun-ul istilah dari Aoland Aobertson (.??0$ yakni glokalisasi. ,pa yang lokal bukannya tidak penting, tapi justru dapat arti yang baru dalam hubungan masyarakatnya. 3etiga, keterampilan pedagogis dalam perspektif global menurut Aoland Aobertson (.??0$ adalah the pra-ti-e of tea-hing and learning globaliy oriented -ontent in ways)weisaid that support)sepo#t diversity)daive#siti and so-ial)soujel justi-e)jastis in inter-onne-ted world.)we#ld 3eterampilan pedagogis tentunya menyangkut metode mengajar yang tepat oleh guru agar peserta didik dapat memahami suatu masalah dalam konteks yang luas dan komprehensif (global$. Selain menguasai materi dan konsepsi permasalahan, guru harus memiliki kemampuan agar apa yang disampaikan mudah diterima, serta mun-ul motivasi bagi peserta didik untuk mempelajari dan mendalami tema-tema yang ada di luar kelas. Semuanya akan tergantung pada kebijakan pendidikan baik yang menyangkut metode maupun materi yang disampaikan pada peserta didik. Pemaknaan se-ara global terhadap masalah-masalah lokal ini merupakan kata kun-i dalam tujuan tersebut. &ntuk menjelaskan gejala-gejala alam dan hubungan sesama (baik dalam ilmu alam, eksak, maupun ilmu sosial dan humaniora$, para pendidik sebaiknya membawanya pada pemaknaan se-ara global, terutama kalau dalam memberikan penjelasan dan berdialog dengan peserta didik sedang mengangkat tema-tema demokrasi dan 4,2. Penekanan ini akan melahirkan penjiwaan baru yang membawa generasi kita untuk berpikir se-ara global, dengan demikian dapat memaknai hubungan antarsesama manusia se-ara holistik dan tidak parsial. 2etode lainnya adalah melalui buku-buku pelajaran dan ba-aan-ba-aan yang tidak saja mema-u semangat ilmu penetahuan dan teknologi modern, global, dan menunjukkan tingkat penemuan baru, tetapi juga harus memuat materi-materi dan -ontoh--ontoh yang meluaskan imajinasi global peserta didik. 2isalnya, kasus-kasus atau peristiwa tentang (masyarakat, kebiasaan, teknologi, bahkan permaalahan$ negara lain sering dijadikan -ontoh, tetapi hal ini juga mesti dibandingkan dengan kondisi masyarakat kita sendiri. %engan men-eritakan negara atau benua lain, se-ara simultan otak peserta didik dibawa untuk membayangkan tempat itu, lalu dibawa kembali ke negara sendiri, untuk dibandingkan. 4al ini akan mema-u semangat untuk maju dan berpikir, karena pada saat otak manusia didorong untuk berpikir akan suatu tempat yang jauh dari tempat ia berada otaknya sedang memperluas perspeksi.

Penutup

Peran guru sangat diharapkan karena guru adalah pemandu dan teman dialog bagi peserta didik, bukan hanya orang yang bertugas mendiktenya. Flobalisasi sedang menunggu, biarkanlah anak-anak didik mengetahui kebebasan menikmati dunia dengan keanekaragaman. 2ari kita dorong mereka untuk mema-u tenaga produktif dan kreativitas dalam menghadapi proses pengglobalan (bukan penggombalan$. %emikianlah sekelumit pemikiran yang dapat saya sampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya bagi penyelesaian persoalan bangsa dan negara ter-inta. Paling tidak, menjadi input bagi persoalan pendidikan kita dalam menghadapi tantangan global, yang akhirnya kualitas pendidikan kita akan setara dengan negara-negara di berbagai belahan dunia ini.