Anda di halaman 1dari 2

I.

Proses Perencanaan Berdasarkan Teori Perencanaan (Top-Down Planning) Rob dan banjir seolah tak pernah lepas dari identitas Kota Semarang. Konon, kota yang memiliki topografi perbukitan dan dataran rendah pada jarak yang relatif dekat itu telah mengalaminya sejak satu abad yang lalu. Upaya menangani rob dan banjir terus dilakukan sejak dulu. Pada tahun 1858 dan 1 !1 misalnya, dua kanal besar di sisi timur dan barat kota dibangun le"at heren diensten #kerja "ajib$ bagi kaum pribumi saat itu. Sejak itu, Semarang memiliki sungai yang dikenal sekarang sebagai %anjir Kanal &imur dan %arat. Kini, penanganan banjir dan rob di Semarang memasuki babak baru. %isa dikatakan baru karena penanganan dilakukan se'ara serentak, dari hulu ke hilir. Sebut beberapa upayanya yakni, normalisasi %anjir Kanal %arat, pembangunan (aduk )atibarang, dan pembuatan Perda *rainase. +ormalisasi %anjir Kanal %arat dan Pembangunan (aduk )atibarang termasuk Proyek Pengelolaan &erpadu Sumber *aya ,ir serta Penanggulangan %anjir di Semarang. Selain dua kegiatan itu, proyek yang didanai pinjaman dari )epang tersebut juga menyebut satu proyek lain yakni perbaikan drainase. +ormalisasi %anjir Kanal %arat dijad"alkan selesai tahun -!1- ini. Sementara, pembangunan (aduk )atibarang telah berjalan sekitar .! persen. &ahun depan, "aduk yang membendung Sungai Kreo sudah digenangi. *ua proyek itu bakal mengubah "ajah Kota Semarang. Pemkot Semarang saat ini juga menyiapkan Raperda *rainase. ,turan tersebut penting untuk menjadi payung hukum terhadap upaya penanganan banjir dan rob. )ika raperda itu ditetapkan, kemungkinan besar Semarang menjadi kota pertama di /ndonesia yang memilikinya. Penanganan rob dan banjir juga dilakukan melalui optimalisasi rumah pompa yang ada, menyusun kelembagaan pengelolaan polder, pengerukan saluran0saluran air, serta pembersihan polder &a"ang melalui karya bhakti terpadu yang melibatkan semua unsur masyarakat yang mendapatkan i1in oleh pemerintah dan dibantu juga oleh &+/. *ari sisi pembinaan dan penga"asan bersama akan fungsi saluran dengan *inas &erkait dilibatkan pula kesadaran masyarakat dalam hal operasional saluran seperti Pembongkaran Penyambungan )alan 2asuk yang menganggu aliran air dan pemeliharaan saluran. #'ontoh )l. Kakap dan 3ondomono$ serta Kegiatan Resik Resik kali pada setiap hari minggu.

Sumber:Grand Design BKB Semarang

Gambar 1. Banjir Kanal Barat Semarang

+ormalisasi %anjir Kanal %arat dalam pembangunannya menggunakan &eori Peren'anaan Top-Down. Pendekatan ini seringkali mendesak bagian ba"ah bekerja sesuai kemauan atasan di dalam peren'anaan tanpa memedulikan situasi nyata bagian ba"ah. TopDown Planning adalah peren'anaan yang berdasarkan kepada pihak0pihak yang memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk pengambilan keputusan dan penentuan idea tau gagasan. (aktu peren'anaan bisa sangat pendek, tetapi ada banyak hal yang terle"atkan karena sempitnya forum informasi dan komunikasi. %iasanya menimbulkan kepatuhan yang terpaksa namun untuk sementara "aktu efektif. *alam pelaksanaan proyek normalisasi banjir kanal barat, sesuai dengan 'iri khas top down planning, keputusan0keputusan peren'anaan ditetapkan se'ara sentralistik oleh organisasi yang terletak di luar kasa"an kegiatan proyek. Pada kasus kali ini, organisasi tersebut adalah Pemerintah Kota Semarang, bukan masyarakat yang tinggal atau mendiami ka"asan tersebut yang memutuskan peren'anaan. Partisipasi masyarakat terbatas pada penyediaan data atau menyetujui dan mengikuti apa yang sudah diren'anakan. 2ega proyek yang dilaksanakan Pemkot Semarang dalam upaya menormalisir Sungai %anjir Kanal %arat, mulai a"al -!1! diren'anakan selesai akhir -!14. 2enyusul didapatnya pinjaman senilai Rp1,5 trilyun #terdiri tiga komponen termasuk normalisasi sungai tersebut$ dari )apan %ank for /nternational 6ooperation #)%/6$. Pemerintah dan pihak in7estor memiliki pengetahuan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat, inter7ensi dilakukan terhadap suatu komunitas sosial yang biasanya didasarkan pada data0data kuantitatif atau estimasi numerik. 8leh karena itu, peren'anaan dengan pendekatan seperti ini biasanya memiliki "aktu yang lebih tetap serta bersifat kaku karena tidak memperhatikan dan mempertimbangkan perubahan lingkungan atau inisiatif lokal. &elah disebutkan beberapa kesesuaian yang men'erminkan penggunaan teori peren'anaan dari atas terhadap proyek normalisasi %anjir Kanal %arat. Penggunaan teori tersebut tidak semata0mata memiliki kekurangan. Untuk men'iptakan keseimbangan antar daerah, maka teori ini digunakan untuk me"ujudkan 'ita0'ita pembangunan. Semarang sebagai ibukota Pro7insi )a"a &engah memiliki kebutuhan untuk melakukan pembangunan skala nasional yang lebih penting dibandingkan dengan pembangunan daerah untuk mendukung perkembangan sektor0sektor lain di daerah sekitarnya, tentu saja dengan 'atatan bah"a pembangunan yang dilakukan mampu menjadi pendorong perkembangan sektor lain. 9al lain yang menjadi latar belakang penggunaan teori ini adalah kebutuhan akan teknolgi yang lebih modern dan 'anggih untuk melakukan pembangunan sehingga bukan teori bottom up yang berasal dari masyarakat yang digunakan.