Anda di halaman 1dari 3

Meningokel Definisi Meningokel adalah selaput otak menonjol keluar pada salah satu sela tengkorak ta pi biasanya di daerah

belakang kepala. Meningokel merupakan benjolan berbentuk kista di garis tulang belakang yang umum nya terdapat di daerah lumbo-sakral. Lapisan meningel berupa durameter dan arach noid ke luar kanalis vertebralis, sedangkan medulla spinalis masih di tempat yan g normal. Benjolan ditutup dengan membrane tipis yang semi-transparan berwarna k ebiru-biruan atau ditutup sama sekali oleh kulit yang dapat menunjukkan hipertri khosis atau nevus. Pada transiluminasi tidak terlihat jaringan saraf pusat di di nding benjolan. Meningokel adalah satu dari tiga jenis kelainan bawaan spina bifida. Meningokel adalah meningens yang menonjolmelalui vertebra yang tidak utuh dan teraba sebaga i suatu benjolan berisi cairan di bawah kulit. Spina bifida (sumbing tulang bela kang) adalah suatu celah pada tulang belakang (vertebra), yang terjadi karena ba gian dari satu atau beberapa vertebra gagal menutup atau gagal terbentuk secara utuh. Meningokel atau ensephalokel merupakan kelainan bawaan dimana terjadi pemburutan selaput otak dan isi kepala keluar melalui lubang pada tengkorak atau tulang be lakang. Angka kejadiannya adalah 3 di antara 1000 kelahiran. Etiologi penyebab terjadinya meningokel dan ensephalokel adalah karena adanya defek pada penutupan spina bifida yang berhubungan dengan pertumbuhan yang tidak normal dar i korda spinalis atau penutupnya, biasanya terletak di garis tengah. Risiko melahirkan anak dengan spina bifida berhubungan erat dengan kekurangan as am folat, terutama yang terjadi pada awal kehamilan. Penonjolan dari korda spinalis dan meningens menyebabkan kerusakan pada korda sp inalis dan akar saraf, sehingga terjadi penurunan atau gangguan fungsi pada bagi an tubuh yang dipersarafi oleh saraf tersebut atau dibagian bawahnya. Gejalanya tergantung kepada letak anatomis dari spina bifida. Kebanyakan terjadi di punggung bagian bawah, yaitu daerah lumbal atau sakral, karena penutupan ver tebra di bagian ini terjadi paling akhir. Kelainan bawaan lainnya yang juga dite mukan pada penderita spina bifida: hidrosefalus, siringomielia, serta dislokasi pinggul. Gejala Gejalanya bervariasi, tergantung kepada beratnya kerusakan pada korda spinalis d an akar sarf yang terkena. Beberapa anak memiliki gejala ringan atau tanpa gejal a, sedangkan yang lainnya mengalami kelumpuhan pada daerah yang dipersarafi oleh korda spinalis maupun akar sarf yang terkena. Terdapat tiga jenis spina bifida, yaitu : Spina bifida okulta, merupakan spina bifida yang paling ringan. Satu atau be berapa vertebra tidak terbentuk secara normal, tetapi korda spinalis dan selaput nya (meningens) tidak menonjol. Meningokel, yaitu meningens menonjol melalui vertebra yang tidak utuh dan te raba sebagai suatu benjolan berisi cairan di bawah kulit. Mielokel, merupakan jenis spina bifida yang paling berat, dimana korda spina

lis menonjol dan kulit di atasnya tampak kasar dan merah. Gejala dari spina bifida umumnya berupa penonjolan seperti kantung di punggung t engah sampai bawah pada bayi baru lahir, jika disinari, kantung tersebut tidak t embus cahaya, kelumpuahn/kelemahan pada pinggul, tungkai atau kaki, penurunan se nsasi, inkontinensia uri (besar) maupun inkontinensia tinja, korda spinalis yang terkena rentan terhadap infeksi (meningitis). Gejala pada spina bifida okulta, adalah seberkas rambut pada daerah sakral (panggul bagian belakang), lekukan pad a daerah sakrum. Biasanya terdapat di daerah servikal atau daerah torakal sebelah atas. Kantong h anya berisi selaput otak, sedangkan korda tetap dalam korda spinalis (dalam dura meter tidak terdapat saraf). Operasi akan mengoreksi kelainan, sehingga tidak te rjadi gangguan sensorik dan motorik dan bayi akan menjadi normal. Diagnosis Diagnosis spina bifida, termasuk meningokel ditegakkan berdasarkan gejala dan ha sil pemeriksaan fisik. Pada trimester pertama, wanita hamil menjalani pemeriksaa n darah yang disebut triple screen. Tes ini merupakan tes penyaringan untuk spin a bifida, sindrom down, dan kelainan bawaan lainnya. Sebanyak 85% wanita yang mengandung bayi dengan spina bifida, akan memiliki kada r serum alfa petoprotein yang tinggi. Tes ini memiliki angka positif yang palsu tinggi, karena itu jika hasilnya positif, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan u ntuk memperkuat diagnosis. Dilakukan USG yang biasanyadapat menemukan adanya spi na bifida. Kadang-kadang dilakukan amniosentesis (analisa cairan ketuban). Setelah bayi lahir, dilakukan pemeriksaan rontgen tulang belakang untuk menentuk an luas dan lokasi kalainan, pemeriksaan USG tulang belakang bisa menunjukkan ad anya kelainan pada korda spinalis maupun vertebra, serta pemeriksaan CT-scan ata u MRI tulang belakang kadang-kadang dilakukan untuk menentukan lokasi dan luasny a kelainan. Pengobatan Tujuan dari pengobatan awal spina bifida, termasuk meningokel, adalah mengurangi kerusakan saraf akibat spina bifina, meminimalkan komplikasi (misalnya infeksi) , serta membantu keluarga dalam menghadapi kelainan ini. Pembedahan dilakukan un tuk menutup lubang yang terbentuk dan untuk mengobati hidrosefalus, kelainan gin jal dan kandung kemih serta kelainan bentuk fisik yang sering menyertai spina bi fida. Terapi fisik dilakukan agar pergerakan sendi tetap terjaga dan untuk memperkuat fungsi otot. Untuk mengobati atau mencegah meningitis, infeksi saluran kemih dan infeksi lainnya, diberikan antibiotik. Untuk membantu memperlancar aliran air k emih bisa dilakukan penekanan lembutdiatas kandung kemih. Pada kasus yang berat kadang harus dilakukan pemasangan kateter. Diet kaya serat dan program pelatihan buang air besar bisa membantu memperbaiki fungsi saluran pencernaan. Untuk mengatasi gejala muskuloskeletal (otot dan kerangka tubuh) perlu campur ta ngan dari ortopedi (bedah tulang) maupun terapi fisik. Kelainan saraf lainnya di obati sesuai dengan jenis dan luasnya gangguan fungsi yang terjadi. Kadang-kadan g pembedahan shunting untuk memperbaiki hidrosefalus akan menyebabkan berkurangn ya mielomeningokel secara spontan. Pencegahan Risiko terjadinya spina bifida bisa dikurangi dengan mengkonsumsi asam folat. Ke kurangan asam folat pada seorang wanita harus dikoreksi sebelum wanita tersebut

hamil, karena kelainan ini terjadi sangat dini. Kepada wanita yang berencana untuk hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi asam fola t sebanyak 0,4 mg/hari. Kebutuhan asam folat pada wanita hamil adalah 1 mg/hari. Penatalaksanaan Sebelum dioperasi, bayi dimasukkan ke dalam inkubator dengan kondisi tanpa b aju. Bayi dalam posisi telungkup atau tidur jika kantongnya besar untuk mencegah infeksi. Berkolaborasi dengan dokter anak, ahli bedah, ahli ortopedi, dan ahli urolog i, terutama untuk tindakan pembedahan, dengan sebelumnya melakukan informed cons ent dan informed choice pada keluarga. Lakukan pengamatan dengan cermat terhadap adanya tanda-tanda hidrosefalus (denga n mengukur lingkar kepala setiap hari) setelah dilakukan pembedahan atau juga ke mungkinan terjadinya meningitis (lemah, tidak mau minum, mudah terangsang , keja ng, dan ubun-ubun besar menonjol). Selain itu, perhatikan pula banyak tidaknya g erakan tungkai dan kaki, clbbed feet, retensi urine, dan kerusakan kulit akibat iritasi urine dan feses. Ensephalokel Definisi Ensephalokel adalah suatu kelainan tabung saraf yang ditandai dengan adanya peno njolan meningens (selaput otak) dan otak yang berbentuk seperti kantung melalui suatu lubang pada tulang tengkorak. Ensephalokel disebabkan oleh kegagalan penut upan tabung saraf selama perkembangan janin. Jaringan otak yang menonjol. Gejala Gejala dari ensefalokel, antara lain berupa hidrosefalus, kelumpuahn keempat ang gota gerak (kuadriplegia spastik), gangguan perkembangan, mikrosefalus, gangguan penglihatan, keterbelakangan mental dan pertumbuhan, ataksia, serta kejang. Beb erapa anak memiliki kecerdasan yang normal. Ensefalokel seringkali disertai deng a kelainan kraniofasial atau kelainan otak lainnya. Penatalaksanaan Cegah infeksi perlukaan ensefalokel waktu lahir, menutup luka dengna kasa st eril setelah lahir. Persiapan operasi dilakukan sedini mungkin untuk mencegah infeksi otak yang sangat berbahaya. Pasca operasi perhatikan luka agar : tidak basah, ditarik atau digaruk bayi, perhatikan mungkin terjadi hidrosefalus, ukur lingkar kepala, pemberian antibio tik (kolaborasi). DAFTAR PUSTAKA Rukiyah,Yeyeh dkk. 2010. Asuhan neonatus bayi dan anak balita. Jakarta: CV T rans Info Media Lia Dewi, Vivian Nanny. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba Medika Nur Muslihatun, Wafi. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta: Fit ramaya http://novimpihalimi.blog.com/2011/04/20/meningokel-dan-ensefalokel/