Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Manusia adalah makhluk sosial, dimana makhluk sosial tersebut tidak dapat dapat hidup sendiri. Dikatakan manusia tak dapat hidup sendiri bahwa manusia memerlukan manusia lainnya untuk membantunya dalam menyelesaikan masalahnya. Dalam hal ini saya menuangkan beberapa rangkuman mengenai hal tersebut kedalam paper ini guna untuk memenuhi nilai tugas pada hukum perikatan juga untuk mengkaji persoalan tentang kepengurusan masalah orang lain secara suka rela atau dapat dikatakan dalam hukum perdata atau perikatan yaitu Zaakwaarneming. Zaakwaarneming berdasarkan pasal 1354 KUHPER diberikan penjelasan bahwa tindakan seseorang yang mewakili urusan orang lain sebagaimana diatur dalam pasal 1354 ini, biasa disebut dengan perwakilan sukarela, yakni mewakili urusan orang lain, seolah-olah mendapat kuasa secara tegas dari orang yang diwakilinya. Dalam penulisan paper ini berkaitan dengan tindakan medis dari pada dokter. Tindakan medis dokter inilah yang dikaji agar dapat mengetahui yang manakah termasuk Zaakwaarneming dan bagaimana akibat hukum yang diakibatkan. Maka dengan mengklasifikasikan Zaakwaarneming dalam tindakan medis dokter dapat menjelaskan letak Zaakwaarneming di dalam dokter menjalankan prakteknya.

1.2 Rumusan Masalah Perumusan masalah paper ini tidak jauh dari judul paper dan latar belakang yang dipaparkan maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut: 1. Apakah yang dimaksud dengan Zaakwaarneming dalam kaidahnya? 2. Apa hubungan antara zaakwaaarneming dengan tindakan medis dokter?

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan paper tentang Zaakwaarneming dalam kaidahnya dan hubungannya dengan tindakan medis dokter adalah 1. Untuk memaparkan tentang Zaakwaarneming dalam kaidahnya 2. Untuk menjelaskan hubungan Zaakwaarneming dengan tindakan medis dokter

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Zaakwaarneming Berdasarkan pasal 1354 KUHPER yang berbunyi Jika seorang dengan sukarela, dengan tidak mendapat perintah untuk itu, mewakili urusan orang lain dengan atau tanpa sepengetahuan orang ini, maka ia secara diam-diam mengikat dirinya untuk meneruskan serta menyelesaikan urusan tersebut, hingga orang yang diwakili kepentingannya dapat mengerjakan sendiri urusan itu. Ia memikul segala kewajiban yang harus dipikulnya, seandainya ia dikuasakan dengan suatu pemberian kuasa yang dinyatakan dengan tegas.1 Dari pasal ini diberikan penjelasan bahwa tindakan seseorang yang mewakili urusan orang lain, biasa disebut dengan perwakilan sukarela, yakni mewakili urusan orang lain, seolah-olah mendapat kuasa secara tegas dari orang yang diwakilinya. Dalam penulisan paper ini berkaitan dengan tindakan medis dari pada dokter. Tindakan medis dokter inilah yang dikaji agar dapat mengetahui yang manakah termasuk Zaakwaarneming dan bagaimana akibat hukum yang diakibatkan.2 Dari pengertian tersebut diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa persetujuan bukanlah unsur dari zaakwarneming, justru dengan adanya persetujuan secara nyata maupun kuasa, maka perbuatan tersebut bukan lagi menjadi Zaakwaarneming namun menjadi sebuah perjanjian ataupun pemberian kuasa yang notabene merupakan hal yang sangat berbeda. Dalam zaakwaneming persetujuan cukup dilakukan dengan membiarkan gestor melakukan pengurusannya. Jika dominus tidak menyetujui atau tidak memandang perlu pengurusan yang dilakukan oleh gestor, dominus cukup menghentikan kepengurusan tersebut dengan melakukan pengurusan itu sendiri sehingga Zaakwaarneming akan terhenti(apabila pengurusan tersebut masih berlangsung/belum selesai). Apabila pengurusan sudah selesai para pihak tinggal menyelesaikan kewajibannya saja, seperti memberikan

kompensasi/ganti rugi kepada gestor (pasal 1357), atau apabila dalam kepengursannya tersebur gestor mendatangkan kerugian bagi dominus, maka gestor harus memberikan tanggung jawabnya pula kepada dominus.

1 2

Ahmadi Miru & Sakka Pati ,2008 Hukum Perikatan penjelasan makna pasal 1223 sampai 1456 BW Ibid

2.2 Unsur-unsur Zaakwaarneming Berdasarkan Pasal 1354 BW Zaakwaarneming yaitu pengurusan kepentingan orang lain tanpa perintah dari orang yang bersangkutan ini memiliki 5 unsur yaitu3: a. Zaakwaanerming ialah suatu perbuatan hukum pengurusan kepentingan pihak atau orang lain. Terkait dengan perbuatan hukum, maka pelaksanaan pengurusan harus sejalan dan sesuai dengan hasil akhir yang dikendaki atau memang diharapkan oleh dominus. Untuk membatasi penyalagunaan Zaakwaanerming, pasal 1357 Kitab UndangUndang hukum perdata menyatakan dengan tegas bahwa jika kepentingan telah diurus dengan baik yang artinya sesuai dengan kehendak dan pengharapan dari dominus, maka dominus berkewajiban untuk mengganti segala pengeluaran yang telah dikeluarkan oleh gestor yang dianggap perlu dan atau berfaedah bagi jalannya pengurusan kepentingan yang baik tersebut . Selanjutnya, Zaakwaanerming pelaksanaannya diatur pada pasal 1356 dan pasal 1357 mengungkapkan dua hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan sehubungan dengan pengurusan kepentingan pihak lain: Berhubungan dengan makna kepentingan, pengurusan harus selalu dikaitkan dengan kepentingan dominus. Suatu hal yang merupakan kepentingan bagi gestor belum tentu kepentingan bagi dominus. Dalam kehidupan seharihari contoh zaakwaanerming antara lain pembayaran tagihan listrik, tagihan telepon dan lain lain. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi zaakwaanerming jarang dilakukan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada dominus Berhubungan dengan makna pengurusan dengan baik, dan pengeluaran yang perlu dan berfaedah harus dilihat dari kebiasaan, kepatutan dan kepantasan yang berlaku dimana kegiatan zaakwaanerming dilakukan. b. Zaakwaanerming dilakukan secara sukarela. Pernyataan sukarela yang dimaksud ialah pekerjaan pengurusan kepentingan dominus oleh gestor dilakukan tanpa maksud tertentu dalam lapangan harta kekayaan. Pasal 1358, mengatur hal ini menegaskan setiap tindakan pengurusan kepentingan dominus oleh gestor tidak memberi hak kepada gestor untuk menuntut pemenuhan upah dari dominus. Namun demikian seringkali ditemui pengurusan sukarela dalam masyarakat untuk tujuan atau maksud tertentu, contoh karyawan mengurus kepentingan pribadi atasannya agar mendapat
3

Muljadi & Widjaja, Perikatan yang lahir dari perjanjian, 2002

kenaikan gaji, seorang A mengurus pemakaman perijinan surat kematian tetangganya ke kekelurahan dan kecamatan. Dalam undangundang hal tersebut tidak dilarang, bahkan dalam suatu masyarakat adalah suatu bentuk kewajiban moral untuk saling membantu, yang jika tidak dilaksanakan akan mendapat sangsi moral tertentu . c. Zaakwanerming dilakukan tanpa adanya perintah (kuasa atau kewenangan) yang diberikan oleh pihak yang kepentingannya diurus. Unsur ini membedakan antara Zaakwanerming dengan lastgeving (pemberian kuasa). Pada lastgeving, tidak hanya memberikan kewenangan untuk melakukan pengurusan atas kepentingan tertentu dari lastgever (pemberi kuasa) , tetapi juga membebani lasthebber (penerima kuasa) untuk menyelesaikan tugas hingga selesai. Jika lasthebber bermaksud membebaskan diri dari beban yang diberikan, ia wajib menyampaikan pemberitahuan mengenai maksudnya kepada lastgever dalam suatu jangka waktu tertentu yang layak, yang sesuai dengan beban yang harus dijalankan kepengurusannya olehnya serta menurut pertimbangan dan kepatutan yang berlaku dalam masyarakat. Jika terjadi kerugian pada lastgever, maka lasthebber wajib mengganti kerugian tersebut . d. Zaakwanerming dilakukan dengan atau tanpa sepengetahuan dari orang yang kepentingannya diurus. Merupakan salah satu unsur yang membedakan

Zaakwanerming dengan lastgeving (pemberian kuasa). Hal yang membedakannya ialah pada lastgeving selalu diawali dengan penawaran dari seorang lastgever kepada orang yang akan menjadi lasthebber mengenai pemberian suatu beban. Berdasarkan pasal 1795 dan 1796 Kitab UndangUndang Hukum Perdata, lastgeving dibagi menjadi dua yaitu lastgeving yang bersifat umum dan lastgeving yang bersifat khusus. Lastgeving yang bersifat umum dapat diwujudkan pada zaakwaanerming, karena pengurusan kepentingan lastgever tidak mengandung hak bagi lasthebber untuk mengalihkan kebendaan milik lastgever, maupun untuk membebani kebendaan milik lastgever dengan jaminanjaminan kebendaan, maupun halhal yang hanya dapat dilakukan oleh seorang pemilik terhadap kebendaan yang dimilikinya. Sedangkan lastgeving bersifat khusus tidak dapat dilakukan melalui , karena bertujuan untuk melakukan sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh seorang pemilik sejati dari suatu kebendaan tidak dapat dilaksanakan tanpa perintah, kuasa atau kewenangan yang diberikan secara tegas oleh pemilik tersebut .

e. Pihak yang melakukan pengurusan (gestor) dengan dilakukannya pengurusan, berkewajiban untuk menyelesaikan pengurusan tersebut hingga selesai atau hingga pihak yang diurus kepentingannya tersebut (dominus) dapat mengerjakan sendiri kepentingannya tersebut. 2.3 Hak dan kewajiban Gestor dan Dominus Dalam hal ini perlu diketahui untuk memperjelas pemahaman tentang

zaakwaarneming mengenai hak dan kewajiban dari pihak yang melakukan pengurusan atau disebut dengan gestor dan pihak yang diurus kepentingannya disebut dominus, maka dijelaskan sebagai berikut4: Gestor berhak atas : Penggantian atas segala biaya dan ganti kerugian yang telah dikeluarkan oleh gestor yang perlu dan berfaedah bagi pengurusan kepentian dominus, sebagai akibat penguruan kepentian dominus olehnya, kecuali hak atas upah. Menahan segala apa kepunyaan dominus yang berada di tangannya, sekian lamanya, hingga kepadanya telah dibayar lunas segala biaya dan ganti kerugian yang telah dikeluarkan gestor yang perlu dan berfaedah bagi pengurusan kepentian dominus. Kewajiban dari seorang gestor : Menyelesaikan kepengurusan kepentingan dominus yang telah mulai dilaksanakan atau dikerjakan olehnya, kecuali jika kegiatan pengurusan tersebut diambil alih oleh dominus setelah ia sendiri dapat mengerjakannya. Dalam hal dominus meninggal, maka kepentingan yang telah diurus oleh gestor tetap harus diselesaikan, hingga dapat diambil alih oleh ahi waris dominus. Pada sisi sebaliknya jika gestor meninggal , ahli waris gestor berkewajiban menyelesaikan urusan terkait tersebut. Melakukan pengurusan kepentingan dominus sebagai layaknya seorang bapak rumah tangga yang baik. Memberikan laporan pertanggungjawaban tentang apa yang telah dilakukan atau diperbuatnya sehubungan dengan kepengurusan yang telah dimulai olehnya hingga selesai.

Muljadi & Widjaja, Perikatan yang lahir dari perjanjian, 2002

Memberikan perhitungan kepada dominus tentang segala apa yang telah diterimanya kepada dominus (dikeluarkan untuk kepentingan dominus) dalam kaitannya dengan kepengurusan kepentingan dominus tersebut. Memberikan penggantian kerugian, biaya dan bunga kepada dominus sebagai akibat kesalahan, maupun kelalaian dalam melakukan pengurusan kepentingan dominus. Dominus berhak atas : Menuntut agar gestor melakukan pengurusan kepentingan dominus

sebagaimana layaknya bapak rumah tangga yang baik Meminta agar gestor menyampaikan laporan pertanggung jawaban tentang apa yang telah dilakukan atau diperbuatnya olehnya sehubungan dengan kepenguran yang telah dimulai olehnya tersebut hingga selesai Meminta gestor memberikan perhitungan kepada dominus tentang segala apa yang telah diterimanya kepada dominus (dikeluarkannya untuk kepentingan dominus) dalam kaitannya dengan kepengurusan kepentingan dominus tersebut. Menuntut gestor atas setiap kerugian, biaya dan bunga yang diderita dominus sebagai akibat kesalahan , maupun kelalaian dalam melakukan pengurusan kepentingan dominus. Menuntut gestor untuk bertanggung jawab atas setiap perikatan yang dibuat oleh gestor untuk kepentingan dominus, yang telah dibuatnya secara tidak baik, yang tidak perlu, dan berfaedah bagi kepentingan dominus. Kewajiban dominus : Memberi penggantian atas seluruh biaya yang telah dikeluarkan gestor yang perlu dan berfaedah bagi pengurusan kepentingan dominus. Memberi ganti rugi atas setiap perikatan yang dibuat oleh gestor, yang berfaedah dan perlu untuk kepentingan dominus dalam rangka pengurusan kepentingan dominus. Memenuhi seluruh perikatan yang telah dibuat oleh gestor, yang berfaedah dan perlu untuk kepentingan dominus dalam rangka pengurusan kepentingan dominus.

2.4 Berakhirnya Zaakwaanerming Berakhirnya Zaakwaanerming, hanya berlaku dalam hal: Diselesaikannya pengurusan kepentingan dominus yang telah dilaksanakan oleh gestor. Diserahkannya pekerjaan pengurusan kepentingan dominus yang telah dilaksanakan tapi belum selesai kepada dominus atau ahli warisnya jika dominus telah meninggal, yang disertai dengan laporan dan perhitungan mengenai perikatan yang telah dibuat atau dilaksanakan serta biayabiaya yang telah dikeluarkan yang perlu dan berfaedah bagi pengurusan kepentingan dominus5. 2.5 Hubungan Zaakwaarneming dalam Tindakan Medis Dokter Suatu perikatan timbul karena adanya suatu kegiatan yang menyebabkan pihak-pihak terikat oleh suatu perjanjian. Dalam hal ini sama dengan hal tersebut yakni bahwa dalam dokter melakukan tindakan medis didasari dengan adanya suatu perjanjian yang dinamakan perjanjian terapeutik. Perjanjian terapeutik memiliki kaitan dengan kepengurusan kepentingan orang lain yaitu zaakwaarneming. Perjanjian terapeutik merupakan hubungan hukum antara dokter dan pasien dalam pelayanan medis secara profesional didasarkan kompetensi yang sesuai dengan keahlian dan keterampilan tertentu dibidang Kedokteran. Istilah transaksi atau perjanjian terapeutik memang tidak dikenal dalam KUH Perdata tetapi dalam perjanjian lain sebagaimana diterangkan dalam Pasal 1319 KUH Perdata, bahwa untuk semua perjanjian baik yang mempunyai suatu nama khusus, maupun yang tidak terkenal dengan suatu nama tertentu, tunduk pada peraturan umum mengenai perikatan pada umumnya, dan peraturan umum mengenai perikatan yang bersumber pada perjanjian. Dengan demikian suatu perikatan bisa timbul baik karena perjanjian maupun karena Undang-Undang6. Dikaitkan dengan isi dari hubungan hukum tersebut, yaitu pelayanan medis yang mencakup berbagai tujuan maka pelayanan tersebut ada yang berobyekkan pelayanan dengan ukuran hasilnya ada juga yang berobyekkan pelayanan sebagai usaha atau ikhtiar. Oleh karenanya, hubungan hukum tersebut dapat dikelompokkan pada resultaat verbintennis (perikatan hasil) dan inspanningverbintenis(perikatan ihtiar). Perbedaan yang menonjol
5

diantara

dua

jenis

hubungan

hukum

tersebut

adalah

pada

Muljadi & Widjaja, Perikatan yang lahir dari perjanjian, 2002 http://wibowomedia.blogspot.com/2010/02/informed-consent-dalam-kondisi.html

resultaatverbintenis yang terpenting bagi pasien adalah hasil yang sesuai dengan keinginannya sedangkan insparningverbintenispasen tidak dapat mengharapkan hasilnya tetapi iktiar yang sebaik-baiknya dalam melakukan pelayanan kesehatan. Sekalipun hubungan hukum yang berisi pelayanan kesehatan dapat dibedakan pada hubungan hukum atas hasil dan hubungan hukum atas ihtiar, pada umumnya persoalan-persoalan hukum yang timbul dari hubungan hukum antara dokter dan pasien adalah hubungan ihtiar7. Hubungan hukum antara rumah sakit/dokter dan pasien yang bersumber dari undangundang adalah hubungan hukum yang terjadi karena undang-undang memberikan kewajiban kepada dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Artinya untuk terjadinya hubungan hukum ini tidak diperlukan prakarsa bahkan partisipasi pasien. Hubungan-hubungan hukum seperti ini terjadi misalnya pada keadaan emergency yang tidak memungkinkan meminta persetujuan pasien untuk terjadinya pelayanan kesehatan padahal undang-undang memerintahkan kepada dokter untuk memberikan pertolongan. Ketiadaan prakarsa bahkan partisipasi pasien tersebut dapat terjadi sejak awal terjadinya hubungan hukum atau ditengah-tengah berlangsungnya hubungan hukum. Pada yang terakhir ini awalnya pasien dalam keadaan sadar dan memberikan persetujuan untuk dilakukannya tindakan tertentu, kemudian dalam proses pelaksanaan pelayanan medis ketika pasien diletakkan dalam keadaan tidak sadar (anestesi) terjadi sesuatu yang mengakibatkan dokter harus melakukan tindakan tertentu untuk life saving, padahal sudah tidak mungkin lagi untuk mendapatkan persetujuan pasien. OIeh karena keadaan pasien yang tidak memungkinkan memberikan partisipasi dalam hubungan-hubungan hukum seperti dinyatakan diatas, maka ada yang berpendapat bahwa hubungan hukum dokter dan pasien tersebut dapat dikualifikasi sebagai hubungan hukum perwakilan sukarela (zaakwaarnemings) sebagaimana diatur dalam P asal 1354KUH Perdata. Hubungan hukum perwakilan sukarela sendiri dapat dirumuskan sebagai hubungan hukum yang didalamnya seseorang mengurus urusan orang lain dengan sukarela tanpa diminta oleh orang yang punya urusan, baik diketahui atau tidak diketahui oleh yang punya urusan. Pemilik urusan disebut dominus, sedang yang mengurus secara sukarela disebut gestore. Mengingat titik berat hubungan hukum
7

H. M. Faiz Mufidi & Sri Pursetyowati, Penyelesaian sengketa medis dirumah sakit, warta paramarta

perwakilan sukarela adalah kesukarelaan gestor tanpa adanya pemberian kuasa, maka di dalamnya juga terkandung pengertian tanpa kuasa atau perintah undang-undang. Sedangkan dalam kaitan dokter memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien yang membutuhkan dan sang pasien tidak mampu memberikan partisipasi dalam proses pelayanan kesehatan tersebut merupakan kewajiban undang-undang maka sangat tidak tepat apabila dikualifikasi sebagai hubungan perwakilan sukarela. Dengan demikian seorang dokter yang memberikan pertolongan dalam bentuk pelayanan kesehatan kepada seseorang yang tidak meminta, misalnya dalam keadaan tidak sadar, bukanlah memberikan pertolongan secara sukarela tetapi melakukan kewajiban menurut undangundang maka perikatan yang timbul adalah perikatan menurut undang-undang yang bukan zaakwaarneming. Dapat dikatakan bahwa semua hubungan hukum antara dokter dan pasien yang bersumbe dari undang-undang, tidak mungkin menghasilkan resultaat verbintenis, oleh karena pasien tidak mempunyai prakarsa bahkan partisipasi. Dengan demikian perikatan yang dihasilkannya adalah inspanning verbintenis. Sebagai suatu perikatan, sekalipun pasien tidak mempunyai prakarsa atau bahkan partisipasi dalam terjadinya peristiwa hukum tersebut maka hak pasien untuk memperoleh ikhtiar yang sebaik-baiknya dari dokter dalam melaksanakan kewajiban memberikan pelayanan kesehatan tetap mendapatkan perlindungan hukum. Dengan demikian apabila dokter dalarn

melaksanakan kewajiban dalam bentuk pelayanan kesehatan atau medis melakukan kesalahan dan kemudian menimbulkan kerugian bagi pasien maka pasien tetap berhak menggugat8.

H. M. Faiz Mufidi & Sri Pursetyowati, Penyelesaian sengketa medis dirumah sakit, warta paramarta

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Dari uraian yang telah diterangkan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Zaakwaanerming ialah suatu perbuatan hukum pengurusan kepentingan pihak atau orang lain. Terkait dengan perbuatan hukum, maka pelaksanaan pengurusan harus sejalan dan sesuai dengan hasil akhir yang dikendaki atau memang diharapkan oleh dominus. Untuk membatasi penyalagunaan Zaakwaanerming, pasal 1357 Kitab UndangUndang hukum perdata menyatakan dengan tegas bahwa jika kepentingan telah diurus dengan baik yang artinya sesuai dengan kehendak dan pengharapan dari dominus, maka dominus berkewajiban untuk mengganti segala pengeluaran yang telah dikeluarkan oleh gestor yang dianggap perlu dan atau berfaedah bagi jalannya pengurusan kepentingan yang baik tersebut . Dengan memiliki syarat-syarat adanya zaakwaarneming adalah sebagai berikut: a. Yang diurus (diwakili) oleh zaakwaarnemer adalah kepentingan orang lain, bukan kepentingan dirinya sendiri. b. Perbuatan pengurusan kepentingan orang lain itu harus dilakukan zaakwaarnemer dengan sukarela, artinya karena kesadaran sendiri tanpa mengharapkan imbalan/upah apapun, dan bukan karena kewajiban yang timbul dari undang-undang maupun perjanjian. c. Perbuatan pengurusan kepentingan orang lain itu harus dilakukan oleh zaakwaarnemer tanpa adanya perintah (kuasa) melainkan atas inisiatif sendiri. d. Harus terdapat suatu keadaan yang membenarkan inisiatif seseorang untuk bertindak sebagai zaakwaarnemer misalnya, keadaan yang mendesak untuk berbuat. Jadi dalam tindakan medis dokter dikatakan sebagai zaakwaarneming yaitu didasarkan atas kesukarelaan pengurusan tindakan dokter tersebut, saat darurat misalkan karena adanya undang-undang yang mengatur juga karena pasien tidak dapat ditanya konfirmasinya atau tidak sadar. Dan perikatan yang ditimbulkan adalah perikatan karena undang-undang bukan karena zaakwaarneming.

10

DAFTAR PUSTAKA Ahmadi Miru & Sakka Pati , 2008, Hukum Perikatan penjelasan makna pasal 1223 sampai 1456 BW H. M. Faiz Mufidi & Sri Pursetyowati, Penyelesaian sengketa medis dirumah sakit, warta paramarta Muljadi & Widjaja, Perikatan yang lahir dari perjanjian, 2002 http://wibowomedia.blogspot.com/2010/02/informed-consent-dalam-kondisi.html

11