Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH KARISINOLOGI

MANAJEMEN PAKAN PADA BUDIDAYA INTENSIF UDANG WINDU (Penaeus monodon)

Disusun oleh: Prabasthoro Fendy K. (M0410047)

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Keragaman udang dewasa umumnya sudah dapat ditunjukkan oleh laju pertumbuhannya selama tahap larva dan postlarva. Apabila pada tahap awal udang dapat menunjukkan respon positif terhadap pakan yang diberikan, yang ditunjukkan oleh kelancaran perkembangan mulai dari nauplius, zoea, mysis sampai postlarva (PL), maka diharapkan perkembangan selanjutnya di tambak juga akan mengikuti respon awal tersebut. Untuk pertumbuhannya, udang memerlukan pakan. Pada budidaya intensif pakan diberikan secara berlebihan. Pada kondisi ini, pakan harus memenuhi persyaratan dalam hal kelayakan nutrisi, sifat fisik, serta pengelolaan pakan yang tepat. Kelayakan nutrisi dapat dilihat dari kelengkpan dan keseimbangan nutriennya, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Sifat fisik pakan, pada umumnya dilihat dari stabilitas pakan, yaitu ketahanannya untuk tidak hancur, terurai dalam air. Pakan secara langsung menentukan pertumbuhan. Dalam ekosistem tambak, tidak semua pakan yang diberik an dapat dimakan oleh udang. Sebagian sisa pakan akan tersuspensi di dalam air dan sebagian besar lainnya akan mengendap di dasar tambak. Penguraian bahan organik sisa pakan tersebut akan memerlukan oksigen. Dengan demikian penambahan bahan organik secara langsung akan meningkatkan penggunaan oksigen di lingkungan tambak. Pada makalah ini akan membahas manajemen pakan, pakan. kontrol pakan pada sistem akuakultur, dan strategi pemberian

B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dari pakan? 2. Bagaimana manajemen pakan, kontrol pakan pada sistem akuakultur, dan strategi pemberian pakan dalam budidaya udang?

C. Tujuan 1. Dapat mengetahui pengertian dari pakan? 2. Dapat mengetahui manajemen pakan, kontrol pakan pada sistem akuakultur, dan strategi pemberian pakan dalam budidaya udang?

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pendahuluan Udang windu (Penaeus monodon) merupakan komoditas unggulan Indonesia dalam upaya menghasilkan devisa negara dari eksport nonmigas. Berbagai upaya telah dilakukan dalam meningkatkan produksi udang windu. Salah satu diantaranya adalah penerapan sistem budidaya udang windu secara intensif yang dimulai sejak pertengahan tahun 1986. Telah disadari bahwa peningkatan produksi udang melalui budidaya tersebut hanya dapat dicapai bila disuplai faktor-faktor produksi, khususnya benih udang dapat terjamin sepenuhnya. Pengembangan teknik-teknik pembenihan udang harus terus dilakukan untuk menunjang kegiatan budidaya udang windu. Perkembangan budidaya udang windu sendiri telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, hal ini didukung oleh usaha budidaya yang intensif dengan teknologi yang sudah dikuasai, harga yang tinggi dipasar lokal maupun internasional, dan peluang yang luas telah membuat udang windu menjadi komoditas harapan bagi para pengusaha sehingga banyak yang berani menanamkan modal bisnis udang windu ini.

B. Klasifikasi dan Morfologi Udang Windu (Penaeus monodon) Soetomo (2000) menyatakan udang windu diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Animalia Phyllum : Arthropoda Class : Malacostraca Ordo : Decapoda Family : Panaeidae Genus : Penaeus Species : Penaeus monodon Fabricus Gb.1 Udang Windu

Dalam dunia internasional, udang windu dikenal dengan nama black tiger, tiger shrimp, atau tiger prawn. Tubuh udang windu (Penaeus monodon Fab.) terbagi menjadi dua bagian, yakni bagian kepala yang menyatu dengan bagian dada (kepaladada) disebut cephalothorax dan bagian perut (abdomen) yang terdapat ekor di bagian

belakangnya. Semua bagian badan beserta anggota-anggotanya terdiri dari ruas-ruas (segmen). Kepala-dada terdiri dari 13 ruas, yaitu kepalanya sendiri 5 ruas dan dadanya 8 ruas, Sedangkan bagian perut terdiri atas segmen dan 1 telson. Tiap ruas badan mempunyai sepasang anggota badan yang beruas-ruas pula (Suyanto dan Mujiman, 1994). Seluruh tubuh tertutup oleh kerangka luar yang disebut eksoskeleton, yang terbuat dari zat chitin. Bagian kepala ditutupi oleh cangkang kepala (karapas) yang ujungnya meruncing disebut rostrum. Kerangka tersebut mengeras, kecuali pada sambungan-sambungan antara dua ruas tubuh yang berdekatan. Hal ini memudahkan mereka untuk bergerak (Suyanto dan Mujiman, 1994). Udang betina lebih cepat tumbuh daripada udang jantan, sehingga pada umur yang sama tubuh udang betina lebih besar daripada udang jantan (Soetomo, 2000). Di bagian kepala sampai dada terdapat anggota-anggota tubuh lainnya yang berpasang-pasangan. Berturut-turut dari muka ke belakang adalah sungut kecil (antennula), sirip kepala (scophocerit), sungut besar (antenna), rahang (mandibula), alat-alat pembantu rahang (maxilla), dan kaki jalan (pereiopoda). Di bagian perut terdapat lima pasang kaki renang (pleopoda). Ujung ruas ke-6 arah belakang membentuk ujung ekor (telson). Di bawah pangkal ujung ekor terdapat lubang dubur (anus). Udang jantan biasanya lebih besar, tubuh langsing, ruang bawah perut sempit, sedangkan udang betina gemuk karena ruang perutnya membesar. (Soetomo, 2000). Alat kelamin jantan disebut petasma yang terdapat pada pangkal periopoda kelima, sedangkan alat kelamin betina disebut thelicum yang terdapat pada pangkal periopoda ketiga (Suyanto dan Mudjiman, 1994).

C. Distribusi dan Habitat Udang Windu (Penaeus monodon) Amri (2003) menyatakan bahwa habitat udang berbeda-beda tergantung dari jenis dari persyaratan hidup dari tingkatan-tingkatan dalam daur hidupnya. Udang windu bersifat euryhaline yakni bisa hidup di laut yang berkadar garam tinggi hingga perairan payau yang berkadar garam rendah. Udang windu juga bersifat benthik, hidup pada permukaan dasar laut yang lumer (soft) terdiri dari campuran lumpur dan pasir terutama perairan berbentuk teluk dengan aliran sungai yang besar dan pada stadium post larva ditemukan di sepanjang pantai dimana pasang terendah dan tertinggi

berfluktuasi sekitar 2 meter dengan aliran sungai kecil, dasarnya berpasir atau pasir lumpur. Toro dan Soegiarto (1979) menyatakan bahwa hutan mangrove merupakan habitat udang, hal ini ditandai oleh perpaduan antara tekstur dasar perairan hutan mangrove (berlumpur) dengan sistem perakaran vegetasi penyusun hutan mangrove, terlebih-lebih larva dan udang muda yang kondisinya masih lemah, akan berlindung dari serangan arus dan aliran air yang deras serta terhindar dari binatang pemangsa. Pada siang hari, udang hanya membenamkan diri pada lumpur maupun menempelkan diri pada sesuatu benda yang terbenam dalam air (Soetomo, 2000). Apabila keadaan lingkungan tambak cukup baik, udang jarang sekali menampakkan diri pada siang hari. Apabila pada suatu tambak udang tampak aktif bergerak di waktu siang hari, hal tersebut merupakan tanda bahwa ada yang tidak sesuai. Ketidakesuaian ini disebabkan oleh jumlah makanan yang kurang, kadar garam meningkat, suhu meningkat, kadar oksigen menurun, ataupun karena timbulnya senyawa-senyawa beracun (Suyanto dan Mujiman, 1994).

BAB III PEMBAHASAN

Untuk memperoleh pertumbuhan yang baik yaitu metamorfosis yang cepat dan serentak diperlukan kondisi media optimal. Faktor fisika dan kimia air yang perlu diperhatikan adalah suhu, salinitas, pH, dan lain-lainnya. Sebagai contoh, suhu yang stabil (291)C akan menyediakan kondisi optimum untuk aktivitas metabolisme tubuh. Salinitas yang mendekati titik isosmotik cairan tubuhnya dapat menghemat energi yang seharusnya untuk memelihara tingkat kerja osmotik, dapat digunakan untuk energi tumbuh. Selain itu diperlukan pakan (alami dan buatan) dengan kandungan nutrisi yang lengkap dan sesuai pada masing-masing fase. Dengan kondisi demikian, metamorfosis yang cepat dan serentak dapat dicapai, sehingga pertumbuhan pada fase berikutnya (post larva, juvenil dan dewasa) di tambak tidak terganggu.

A. Pakan Pakan adalah makanan/asupan yang diberikan kepada hewan ternak. Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi pertumbuhan, kehidupan makhluk hidup serta perkembangbiakannya (Sunarno dan Widiyati, 2010). Suatu makanan minimal harus mengandung protein, karbohidrat dan lemak. Ketiga zat ini masing-masing akan diubah menjadi energi yang sangat diperlukan ikan maupun udang agar dapat melakukan aktivitas (Asmawi, 1986). Pada prinsipnya komponen pakan dapat dikelompokkan kedalam tiga kelompok besar yaitu komponen makro, mikro, dan suplemen atau food additives. Protein, karbohidrat, dan lemak termasuk dalam komponen makro; sedangkan yang termasuk dalam komponen mikro adalah vitamin, mineral dan zat pengikat (binder). Berbagai senyawa yang seiring dimasukkan ke dalam komponen food additives meliputi senyawa antioksidan, antibiotik, atraktan, pewarna, enzim dan vitamin atau mineral tunggal yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam pakan untuk tujuan-tujuan tertentu. Karbohidrat pada pakan ikan berperan sebagai penyedia energi terbesar kedua setelah protein. Ikan mempunyai kemampuan lebih rendah dalam memanfaatkan karbohidrat dibandingkan dengan hewan darat. Namun karbohidrat harus tersedia dalam pakan ikan, sebab jika karbohidrat tidak cukup tersedia maka nutrien yang lain seperti protein dan lemak akan dimetabolisme untuk dijadikan energi sehingga pertumbuhan

ikan akan menjadi lambat (Wilson, 1994). Menurut Wanatabe (1988), kadar karbohidrat yang optimum pada ikan karnivora adalah 10-20%, sedangkan pada ikan omnivora adalah 30-40%. Protein merupakan unsur penyusun tubuh yang utama sehingga pemberian protein yang cukup diperlukan untuk pertumbuhan. Kebutuhan protein untuk tiap jenis udang berbeda-beda. Berdasarkan hasil penelitian Steffens (1981), kebutuhan ikan akan protein tergantung pada jenis, ukuran udang, faktor lingkungan, energi serta jumlah makanan yang tersedia di lingkungan tersebut. Lemak pakan mempunyai peranan penting bagi ikan tropis sebagai sumber energi, memelihara bentuk dan fungsi membran serta untuk mempertahankan daya apung tubuh (Suhenda dan Samsudin, 2008). Kandungan lemak yang baik bagi ikan menurut Hastings (1976) berkisar antara 4-18%. Ketersediaan pakan merupakan faktor yang perlu diperhatikan karena akan menentukan pertumbuhan udang. Intensifikasi dalam budidaya udang menyebabkan peranan pakan sangat penting, hal ini disebabkan karena pakan merupakan biaya yang dominan dalam budidaya ikan yaitu sebesar 40-70 % dari total biaya produksi (Yurisman dan Heltonika, 2010).

B. Manajemen Pakan Desakan internasional agar tetap memperhatikan dan melestarikan lingkungan mendorong nutritionists dan aquaculturists untuk membuat formulasi pakan yang ramah atau berwawasan lingkungan, termasuk manajemen pemberiannya agar lebih efisien. Terkait dengan masalah tersebut adalah: (a) pengadaan pakan dengan kandungan protein rendah, (b) optimalisasi profil asam amino, (c) optimalisasi perbandingan protein terhadap energi (P/E ratio) dari pakan, (d) perbaikan kualitas bahan pakan, (e) pemilihan bahan pakan yang mempunyai daya cerna tinggi, dan (e) optimalisasi strategi manajemen pakan. Penggunaan karbohidrat dalam pakan adalah penting dikarenakan sebagai: - sumber energi yang jauh lebih murah bila dibandingkan dengan protein, maka karbohidrat dapat menekan ongkos produksi dan yang pada akhirnya dapat menurunkan total harga pakan (Cruz -Suarez et al., 1994) - pada tingkat tertentu, karbohidrat mampu men-substitusi energi yang berasal dari protein pakan (sparing protein pakan) dan karena itu e fisiensi pemanfaatan protein pakan untuk pertumbuhan dapat ditingkatkan (Rosas et al., 2000)

- sebagai binder, karbohidrat (terutama yang berasal dari bahan pakan tertentu) mampu meningkatkan kualitas fisik pakan dan menurunkan prosentase debu pakan ( Hastings dan Higs, 1980), - sebagai komponen tanpa nitrogen, maka penggunaan karbohidrat dalam jumlah tertentu dalam pakan dapat menurunkan sejumlah limbah bernitrogen sehingga meminimalkandampak negatif dari pakan terhadap lingkungan (Kaushik dan Cow ey, 1991), yang juga merupakan media hidup dari udang itu sendiri. Jenis dan tingkat karbohidrat pakan mempengaruhi laju pertumbuhan udang. Misalnya, kelangsungan hidup juvenil udang windu dipengaruhi oleh tingkat karbohidrat; sedangkan sukrosa dan glukosa adalah lebih baik daripada trehalosa dalam meningkatkan pertumbuhannya (Pascual et al., 1983). Dalam penelitiannya, Rosas et al. (2000) mendapatkan bahwa pakan dengan kandungan karbohidrat 10% belum cukup untuk memenuhi kebutuhan energi karbohidrat, dan masih perlu energi dari protein pakan. Selanjutnya dijelaskan bahwa nilai maksimum dari tingkat glikogen dan aktifitas -amilase terjadi pada udang yang diberi pakan mengandung 21% karbohidrat. Udang mampu mencerna karbohidrat pakan menjadi komponen-komponen yang lebih sederhana dan dapat diserap melalui dinding usus sebelum masuk ke dalam aliran darah. Daya cerna atau kemampuan dalam memanfaatkan karbohidrat bervariasi dan terkait dengan sumber karbohidrat, spesies, proses pembuatan pakan, kondisi lingkungan hidupnya (terutama suhu), dan status kesehatan.

C. Kontrol Pakan Pada Sistem Akuakultur Kebutuhan protein pakan yang tinggi dapat berarti limbah bernitrogen dan biaya pakan yang tinggi pula. Sebanyak kurang lebih 25% nitrogen pakan dimanfaatkan oleh organisme target (udang atau ikan), sisanya diekskresikan sebagai ammonia atau sebagai N-organik dalam feses atau sisa pakan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas air (Hargreaves, 19 98; Avnimelech, 1999). Karena itu, peningkatan prosentase karbohidrat yang diberikan secara langsung ke dalam pakan hingga kebutuhan maksimum sering dilakukan. Disamping itu, karbohidrat dapat pula diberikan secara tidak langsung melalui biosintesis protein mikrobial. Penambahan karbohidrat dilakukan sebagai bagian dari skema pemberian pakan. Pada kasus ini, penambahan substrat berkarbon menyebabkan recycling dan meningkatkan penggunaan protein melalui penggunaan protein-protein mikroba.

Pendekatan metode ini telah dirintis oleh Avnimeleh (1999), yaitu penambahan substrat berkarbon guna menurunkan N-organik dan memproduksi protein mikroba dalam sistem akuakultur. Percobaan ini dapat diterapkan baik pada ikan maupun udang, yang penting adalah bahwa spesies terpilih dapat memanen bakteri dan mampu manfaatkan protein mikrobial. Dijelaskan bahwa hubungan antara penambahan karbohidrat, penurunan NH4-OH dan produksi protein mikrobial tergantung dari koefisien konversi mikroba, C/N ratio dalam biomas mikroba, dan kandungan karbon dari materi yang ditambahkan (Avnimeleh, 1999). Efisiensi konversi mikroba didefinisikan sebagai prosentase dari C-terasimilasi berkenaan dengan C-pakan yang dimetabolisme; dan nilai tersebut berada pada kisaran 40-60%. Pendekatan ini mempunyai prospek penting untuk aktivitas akuakultur dimasa mendatang. Avnimelech (1999) mengemukakan beberapa alasan: (a) peraturan lingkungan melarang pengeluaran air kaya nutrien ke lingkungan, (b) bahaya akan masuknya patogen ke dalam lingkungan perairan, dan (c) biaya yang tinggi untuk memompa air dalam jumlah besar. Pendekatan ini terlihat merupakan suatu cara yang praktis dan tidak mahal untuk menurunkan akumulasi nitrogen inorganik dalam kolam. Dengan menggunakan sistem tersebut maka dapat dikatakan bahwa protein dimakan oleh udang dua kali, pertama dalam pakan dan kemudian dipanen lagi sebagai protein mikroba. Sistem tersebut juga memungkinkan protein untuk dapat digunakan lebih lanjut. Bilamana protein mikrobial diperhitungkan ke dalam protein pakan, maka sistem ini benar-benar mampu menurunkan total protein pakan, misalnya dari 30% hingga menjadi 23%.

D. Strategi Pemberian Pakan Hormon berperan dalam regulasi pertumbuhan dan penggunaan nutrien pada udang. Konsekuensinya adalah bahwa sistem endokrin udang peka terhadap perubahanperubahan nutrien yang masuk ke dalam tubuh. Karbohidrat tercerna diduga berperan dalam regulasi produksi hormon pituitary dan thyroid, sedangkan hormon tersebut meregulasi pertumbuhan dan penggunaan energi (MacKenzie, 1998; Banos et al., 1998). Insulin dan glukagon, selain meregulasi metabolisme karbohidrat dan lipid, juga meregulasi pertumbuhan. Udang yang diberi pakan berkabohidrat lebih tinggi menunjukkan kandungan insulin, plasma darah, dan cadangan glikogen jaringan yang lebih tinggi pula.

Dalam papernya, MacKenzie (1998) mengemukakan peran penting dari berbagai hormon yang terkait dengan regulasi karbohidrat pakan dan yang pada akhirnya dapat dipergunakan sebagai strategi dalam pemberian pakan. Dijelaskan bahwa puasa meningkatkan sirkulasi dan sekresi hormon pituitary, yaitu hormon pertumbuhan, yang telah sangat dikenal sebagai salah satu hormon anabolik. Hormon pertumbuhan ini menggunakan pengaruh somatotrop udang melalui stimula produksi IGF (insulin-like growth factor) pada jaringan target. Namun, jumlah reseptor hormon pertumbuhan menurun selama puasa sehingga jaringan tersebut kehilangan sensitifitas terhadap stimulasi, dan mengakibatkan penurunan produksi IGF. Hal ini mungkin merupakan alasan utama pertumbuhan yang menurun, meskipun selama puasa sirkulasi hormon pertumbuhan meningkat, yaitu dengan menghilangkan feedback negatif dari IGF. Peningkatan hormon pertumbuhan yang tinggi dan tetap terjadi selama puasa mungkin masih tetap mendukung pertumbuhan tulang dan lipolisis. Peningkatan hormon anabolik tersebut yang terjadi setelah pemberian pakan kemudian secara langsung mungkin mengaktifkan proses-proses yang mendorong peningkatan pertumbuhan seperti transport nutrien intestinal atau sintesis protei n. Karena itu, kemungkinan yang ada adalah bahwa periode puasa dapat dijadwalkan kedalam strategi pengaturan pemberian pakan untuk mengaktifkan respon-respon endokrin yang mengurangi lipogenesis atau mendorong terjadinya lipolisis. Puasa (fasting) memberikan efek endokrin yang berbeda bila dibandingkan dengan pembatasan pemberian pakan (food restriction). Farbridge et al. (1992) menyatakan bahwa status fisiologis yang diakibatkan oleh pembatasan pemberian pakan secara substansial berbeda dengan yang terjadi selama puasa penuh. Puasa yang berkepanjangan justru mendorong terjadinya proses-proses katabolisme seperti mobilisasi protein untuk mempertahankan kehidupan ikan maupun udang. Dengan demikian, perlu dikaji periode waktu yang tepat antara hari -hari pemberian pakan (feeding periods) dan puasa (fasting time). Dengan demikian, pengaturan yang tepat antara pemberian pakan (feeding) dan puasa (fasting) masih tetap memberikan kesempatan pada udang untuk tumbuh normal, dan bahkan dapat menurunkan depot lemak tubuh (sehingga diperoleh daging udang yang rendah kandungan lemaknya, lean flesh). Karena itu, cukup beralasan untuk mengasumsikan bahwa: Konsumsi pakan meningkatkan produksi hormon anabolik untuk langsung menggunakan nutrien tercerna.

BAB IV KESIMPULAN

Sistem budidaya udang windu secara tertutup dapat dipakai sebagai alternatif budidaya yang berwawasan lingkungan untuk menghasilkan produksi udang yang tinggi secara lestari. Kinerja sistem budidaya tersebut akan lebih baik bila didukung dengan manajemen pakan, kontrol pakan pada sistem akuakultur, dan strategi pemberian pakan yang benar. 1. Manajemen pakan Pakan dengan kandungan karbohidrat 10% belum cukup untuk memenuhi kebutuhan energi karbohidrat, dan masih perlu energi dari protein pakan. Selanjutnya dijelaskan bahwa nilai maksimum dari tingkat glikogen dan aktifitas -amilase terjadi pada udang yang diberi pakan mengandung 21% karbohidrat. 2. Kontrol pakan pada sistem akuakultur Efisiensi konversi mikroba didefinisikan sebagai prosentase dari C-terasimilasi berkenaan dengan C-pakan yang dimetabolisme; dan nilai tersebut berada pada kisaran 40-60%. Pendekatan ini mempunyai prospek penting untuk aktivitas akuakultur dimasa mendatang. 3. Strategi pemberian pakan Pengaturan yang tepat antara pemberian pakan (feeding) dan puasa (fasting) masih tetap memberikan kesempatan pada udang untuk tumbuh normal, dan bahkan dapat menurunkan depot lemak tubuh (sehingga diperoleh daging udang yang rendah kandungan lemaknya, lean flesh). Karena itu, cukup beralasan untuk mengasumsikan bahwa: Konsumsi pakan meningkatkan produksi hormon anabolik untuk langsung menggunakan nutrien tercerna.

DAFTAR PUSTAKA

Alava, V.R. and Pascual, F.P., 1987. Carbohydrate requirements of P. monodon Fabricius juveniles. Aquaculture, 61: 211-217.
Amri, K., 2003. Budidaya Udang Windu Secara Intensif. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Farbridge, K.J., Flett, P.A., Leatherland, J.F., 1992. Temporal effect of restricted diet and compensatory increased dietary intake on thyroid function, plasma growth hormone levels and tissue lipid reserves of rainbow trout Oncorhynchus mykiss. Aquaculture, 104: 157-174. Hargreaves, J.A., 1988. Nitrogen biogeochemistry of aquaculture ponds. Aquaculture,166: 181-212. Hastings, W.H. 1976. Fish Nutrition and Fish Feed Manufacture. FAO Technical Conference on Aquaculture, Japan Kaushik, S.J. and Cowey, C.B., 1991. Dietary factors affecting nitrogen excretion by fish. In: Cowey, C.B. and Cho, C.Y. (Eds.). Nutritional Strategies & Aquaculture Waste. Fish Nutr. Res. Lab., Dept. of Nutr. Sci., Univ. of Guelph, Guelph, Ontario, pp.: 319. MacKenzie, D.S., VanPutte, C.M. and Leiner, K.A., 1998. Nutrient regulation of endocrine function in fish. Aquacultre, 161: 3-25. Pascual, P.F., Coloso, R.M. and Tamse, C.T., 1983. Survival and some histological changes in Penaeus monodon Fabricius juveniles fed various carbohydrate. Aquaculture, 31: 169-180.
Soetomo, M.J.A., 2000. Teknik Budidaya Udang Windu (Penaeus monodon). Kansiua. Ygyakarta.

Steffens, W. 1981. Protein Utilization by Rainbow Trout (Salmo gairdneri) and Carp (Cyprinus carpio). Aquaculture 23: 337-345
Suyanto, S.R dan A. Mujiman., 1994. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya. Jakarta. Toro, V dan Soegiarto., 1979. Biologi Udang Windu. Proyek Penelitian Sumberdaya Ekonomi. Lembaga Oceanoligi LIPI. Jakarta. 144 Halaman.

Wanatabe, T. 1988. Fish Nutrition and Marine culture. Japan International Cooperation Agency, Japan Yurisman dan B. Heltonika. 2010. Pengaruh Kombinasi Pakan Terhadap Pertumbuhan dan Kelulusan Hidup Larva Ikan Selais (Ompok hypophthalmus). Berkala Perikanan Terubuk 38 (2): 80-94 ISSN 0126-4265