Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN PERTUMBUHAN TANAMAN Oleh NAMA NO.

BP KELOMPOK REKAN KERJA : SERLI AFRI SUSANTI : 1010421015 : I GANJIL : 1. ABDINI PUTRI KIYASA (1010423035) 2. MAYOLA ARDA 3. NOVA ADRI Y 4. M. IKHSAN 5. M. ANUGRAH S 6. RINA OKTAVIANTI ASISTEN : ANZHARNI FAJRINA (1010422017) (1010423021) (1010422029) (1010423011) (1010421009)

LABORATORIUM TEACHING 5 JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ANDALAS PADANG, 2012

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Proses pertumbuhan merupakan hal yang lazim bagi setiap tumbuhan. Dalam proses pertumbuhan terjadi penambahan volume yang signifikan. Seiring berjalannya waktu pertumbuhan suatu tanaman terus bertambah. Proses tumbuh sendiri dapat dilihat pada selang waktu tertentu, di mana setiap pertumbuhan tanaman akan menunjukkan suatu perubahan dan dapat dinyatakan dalam bentuk kurva/diagram pertumbuhan (Latunra, dkk., 2009). Laju pertumbuhan suatu tumbuhan atau bagiannya berubah menurut waktu. Oleh karena itu, bila laju tumbuh digambarkan dengan suatu grafik, dengan laju tumbuh ordinat dan waktu pada absisi, maka grafik itu merupakan suatu kurva berbentuk huruf s atau kurva sigmoid. Kurva sigmoid ini berlaku bagi tumbuhan lengkap, bagian-bagiannya ataupun sel-selnya (Latunra, dkk., 2009). Percobaan ini diadakan dengan melihat berapa rata-rata pertumbuhan daun dengan menggunakan kurva sigmoid tersebut.

1.2 Tujuan Meneliti laju pertumbuhan daun sejak dari embrio dalam biji sampai daun mencapai ukuran tetap dan mengamati daerah tumbuh pada akar dan batang.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan yang tidak dapat dibalikkan dalam ukuran pada sistem biologi. Secara umum pertumbuhan berarti pertambahan ukuran karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertumbuhan itu bukan hanya dalam volume, tapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma, dan tingkat kerumitan. Pertumbuhan biologis terjadi dengan dua fenomena yang berbeda antara satu sama lain. Pertambahan volume sel dan pertambahan jumlah sel. Pertambahan volume sel merupakan hasil sintesa dan akumulasi protein, sedangkan pertambahan jumlah sel terjadi dengan pembelahan sel (Kaufman, dkk., 1975). Banyak faktor yang mepengaruhi pertumbuhan di antaranya adalah faktor genetik untuk internal dan faktor eksternal terdiri dari cahaya, kelembaban, suhu, air, dan hormon. Untuk proses perkecambahan banyak di pengaruhi oleh faktor cahaya dan hormon, walaupun faktor yang lain ikut mempengaruhi. Menurut literatur perkecambahan di pengaruhi oleh hormon auxin, jika melakukan perkecambahan di tempat yang gelap maka akan tumbuh lebih cepat namun bengkok, hal itu disebabkan karena hormon auxin sangat peka terhadap cahaya, jika pertumbuhannya kurang merata. Sedangkan di tempat yang perkecambahan akan terjadi relatif lebih lama, hal itu juga di sebabkan pengaruh hormon auxin yang aktif secara merata ketika terkena cahaya. Sehingga di hasilkan tumbuhan yang normal atau lurus menjulur ke atas (Soerga, 2009). Pada setiap tahap dalam kehidupan suatu tumbuhan, sensitivitas terhadap lingkungan dan koordinasi respons sangat jelas terlihat. Tumbuhan dapat mengindera gravitasi dan arah cahaya dan menanggapi stimulus-stimulus ini dengan cara yang kelihatannya sangat wajar bagi kita. Seleksi alam lebih menyukai mekanisme respons tumbuhan yang meningkatkan keberhasilan

reproduktif, namun ini mengimplikasikan tidak adanya perencanaan yang disengaja pada bagian dari tumbuhan tersebut (Campbell, 2002). Pertumbuhan biologis terjadi dengan dua fenomena yang berbeda antara satu sama lain. Pertambahan volume sel merupakan hasil sintesa dan akumulasi protein, organel-organel dan bahan-bahan penyusun sel yang lain. Sedang pertambahan jumlah sel terjadi dengan pembelahan sel. Pertumbuhan akar tanaman merupakan hasil dari pertumbuhan jumlah sel dan pertambahan volume sel secara bersama-sama (Soerga, 2009). Pada batang yang sedang tumbuh, daerah pembelahan sel batang lebih jauh letaknya dari ujung daripada daerah pembelahan akar, terletak beberapa sentimeter dibawah ujung (tunas). Sedangkan pertambahan panjang tiap lokus pada akar tidak diketahui pertambahan panjang terbesar dikarenakan kecambah mati (Salisbury dan Ross, 1995). Teorinya, semua ciri pertumbuhan bisa diukur, tapi ada dua macam pengukuran yang lazim digunakan untuk mengukur pertambahan volume atau massa. Yang paling umum, pertumbuhan berarti pertambahan ukuran. Karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertambahan itu bukan hanya dalam volume, tapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma, dan tingkat kerumitan. Pada banyak kajian, pertumbuhan perlu diukur. Pertambahan volume (ukuran) sering ditentukan denagn cara mengukur perbesaran ke satu atau dua arah, seperti panjang (misalnya, tinggi batang) atau luas (misalnya, diameter batang), atau luas (misalnya, luas daun). Pengukuran volume, misalnya dengan cara pemindahan air, bersifat tidak merusak, sehingga tumbuhan yang sama dapat diukur berulang-ulang pada waktu yang berbeda (Salisbury dan Ross, 1995). Pertumbuhan tanaman mula-mula lambat, kemudian berangsur-angsur lebih cepat sampai tercapai suatu maksimum, akhirnya laju tumbuh menurun. Apabila digambarkan dalam grafik, dalam waktu tertentu maka akan terbentuk kurva sigmoid (bentuk S). Bentuk kurva sigmoid untuk semua tanaman kurang lebih tetap, tetapi penyimpangan dapat terjadi sebagai akibat variasi-variasi di

dalam lingkungan. Ukuran akhir, rupa dan bentuk tumbuhan ditentukan oleh kombinasi pengaruh faktor keturunan dan lingkungan (Solin, 2009). Kurva sigmoid yaitu pertumbuhan cepat pada fase vegetatif sampai titik tertentu akibat pertambahan sel tanaman kemudian melambat dan akhirnya menurun pada fase senesen (Anonimous, 2012). Beberapa cara tersedia dalam pendekatan pada sistem seperti sistem tanaman dengan produk biomassa yang meningkat secara sigmoid dengan waktu untuk mendapatkan faktor-faktor dan proses hipotetik. Menerapkan fenomena yang sudah dikenal cukup baik kepada suatu sistem yang sedang dipelajari merupakan suatu pendekatan yang umum dilakukan. Pada suatu waktu, distribusi zat dalam setiap tempat dalam ruangan akan menunjukkan hubungan yang berbentuk sigmoid (Solin, 2009). Kurva menunjukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu. Tiga fase utama biasanya mudah dikenali, yaitu fase logaritmik, fase linier dan fase penuaan. Pada fase logaritmik ini berarti bahwa laju pertumbuhan lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan ukuran organisme. Semakin besar organisme, semakin cepat ia tumbuh. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun, saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Solin, 2009). Laju pertumbuhan relative (relative growth rate) menunjukkan

peningkatan berat kering dalam suatu interval waktu dalam hubungannya dengan berat asal. Dalam situasi praktis, rata-rata pertumbuhan laju relative dihitung dari pengukuran yang di ambil pada waktu t1 dan t2 (Susilo, 1991) Kurva pertumbuhan berbentuk S (sigmoid) yang ideal. Tiga fase utama biasanya mudah dikenali: fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan. Pada fase logaritmik, ukuran (v) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini berarti bahwa laju pertumbuhan (dv/dt) lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung

secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Solin, 2009). Pertumbuhan kacang hijau (Phaseolus radiatus) jika digambarkan dalam grafik akan membentuk kurva sigmoid (bentuk S). Kurva ini menggambarkan baik pertumbuhan tinggi tanaman maupun jumlah daun. Keduanya dalam bentuk sigmoid. Hal ini sesuai dengan literatur Tjitrosomo (1991) yang menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman mula-mula lambat, kemudian berangsur-berangsur menjadi lebih cepat sampai tercapai suatu maksimum, akhirnya laju tumbuh menurun. Apabila digambarkan dalam grafik dalam waktu tertentu akan terbentuk kurva sigmoid (bentuk S) (Solin, 2009). Pengukuran daun tanaman mulai dari waktu embrio dengan menggunakan kurva sigmoid juga memiliki hubungan erat dengan perkecambahan biji tersebut yang otomatis juga dipengaruhi oleh waktu dormansi karena periode dormansi juga merupakan persyaratan bagi perkecambahan banyak biji. Ada bukti bahwa pencegah kimia terdapat di dalam biji ketika terbentuk. Pencegah ini lambat laun dipecah pada suhu rendah sampai tidak lagi memadai untuk menghalangi perkecambahan ketika kondisi lainnya menjadi baik. Waktu dormansi berakhir umumnya didasarkan atas suatu ukuran yang bersifat kuantitatif. Untuk tunas dan biji dormansi dinyatakan berhasil dipecahkan jika 50 % atau lebih dari populasi biji tersebut telah berkecambah atau 50% dari tunas yang diuji telah menunjukkan pertumbuhan. Bagi banyak tumbuhan angiospermae di gurun pasir mempunyai pencegah yang telah terkikis oleh air di dalam tanah. Dalam proses ini lebih banyak air diperlukan daripada yang harus ada untuk perkecambahan itu sendiri (Kimball, 1992).

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan tempat Praktikum Fisiologi Tumbuhan ini dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2012 di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.

3.2 Alat dan bahan Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah kertas milimeter, pisau silet,pot beri campuran pasir dan tanah dengan perbandingan 3:1, botol selai, lempeng kaca,penggaris dan kertas filter. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu Phaseolus radiatus sp dan Ipomea

3.3. Cara kerja 3.3.1 Kurva Sigmoid Pertumbuhan Daun Direndam biji selama 2-3 jam dalam beaker glass, pilih 30 biji untuk percobaan. Dikupas 3 biji dan buka kotiledonnya, diukur panjang daun pada embrionya dengan kertas milimeter, kemudian dihitung rata-ratanya. Ditanam 2 biji didalam pot, siram dengan air, pelihara selama 2 minggu. Diamati sebagai berikut: diukur panjang daun dan petiolnya pada umur 3, 5, 7, 10 dan 14 hari. Pada umur 3 dan 5 hari pengukuran dilakukan dengan menggali biji. Tiap pengukuran dilakukan terhadap 3 tanaman. Pengukuran dilanjutkan tanpa memotong kecambah. Digunakan selalu tanaman yang sama untuk pengukuran lanjutan. Dibuat grafik dengan panjang rata-rata daun sebagai ordinat dan waktu pengukuran sebagai basis.

3.3.2 Daerah Tumbuh Akar dan Batang Diambil 10 buah kecambah yang akarnya lurus dan panjangnya lebih dari 2 cm. dari ujung akar ditandai dengan tinta cina dengan interval 0.2 mm. Untuk

daerah tumbuh batang diambil 10 kecambah dengan panjang batang 2 cm. kemudian dari permulaan batang bagian bawah ditandai dengan tinta cina dengan jarak 0.2 mm. disiapkan dua lempeng kacang yang telah dilapisi dengan kertas millimeter dan diikat dengan karet gelang. Ditempatkan pada masingmasing lempeng kaca kecambah akar dan batang sedemikian rupa. Pada setiap kecambah diberi no 1-10. Lempeng diletakkan ke dalam baki dan disiram

dengan air. Baki diletakkan ditempat gelap. Untuk daerah tumbuh akar diamati pertambahan panjang jarak antar tinta selama 24 jam, sedangkan untuk daerah tumbuh batang dilakukan pengamatan selama 48 jam. Setelah selesai pengamatan, dihitung rata-rata pertambahan panjang akar dan batang.

3.4 Parameter Pengamatan Pada praktikum pertumbuhan tanaman ini yang sangat diamati yaitu kurva laju pertumbuhan daun sejak embrio dalam biji hingga mencapai ukuran yang tetap, dan melihat daerah tumbuh pada akar dan batang pada kecambah kacang hijau.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Dari hasil pengamatan pada praktikum Pertumbuhan Tanaman didapatkan hasil sebagai berikut: 4.1.1 Kurva Sigmoid Pertumbuhan Daun Tabel 1 Hari Ke Panjang batang 5 cm 7 13 18 Panjang batang 6 7 14 16,5 Panjang batang 5 7,2 10 15 PA 1,5 3,8 3 3,3 PA PA PD LD JD PPetiol Ket Pot pertama 5 7 10 14 Hari Ke 0,9 2 1 2 0,1

1,5

3 4 5 PD 3 3,3

1,3 1,8 2,1 LD 1 1

2 4 5 JD 2 2

0,3 0,4 0,5 PPetiol 0,2 0,3

Ket Pot kedua

5 7 10 14

4 5,3 PD 2 3 3,2 4

1,8 3 LD 1 1,4 2 2

4 4 JD 2 2 4 4

0,5 0,8 PPetiol 0,2 0,3 0,3 0,6 Ket Pot ketiga

Hari ke 5 7 10 14

Tabel diatas disajikan dalam bentuk kurva sebagai berikut:

Kurva Pertumbuhan Daun


6 Panjang daun (cm) 5 4 3 2 1 0 3 5 7 10 14 panjang rata-rata daun

4.1.2 Daerah Tumbuh Akar dan Batang Daerah tumbuh akar: interval jarak tinta pada akar 1mm, setelah 24 jam pengamatan,terjadi pertambahan panjang dengan rata-rata dari 10 kecambah yaitu : Akar ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Panjang interval 5 4,5 2,5 10,5 8 5,8 4 5 6 7 5/9 = 0,55 cm 0,5 0,27 1,1 0,8 0,6 0,4 0,55 0,66 0,77 Rata interval

Daerah tumbuh batang: interval jarak tinta pada batang 1 mm, setelah 48 jam pengamatan ada pertambahan panjang batang.

4.2 Pembahasan 4.2.1 Kurva Sigmoid Pertumbuhan Daun Dari tabel dapat dilihat bahwa pertambahan panjang daun bertambah setiap hari. Pada hari ketiga kami tidak melakukan pengamatan dikarenakan mengikuti kuliah lapangan, pada hari kelima pertambahan panjang daun adalah 1 cm dan . Pada hari terakhir pengamatan panjang daun mencapai 5,3 cm. Selama pengamatan ada kecambah yang mati. Data dalam tabel dapat disajikan dalam bentuk kurva, yaitu kurva yang berbentuk huruf S (kurva sigmoid). Kurva sigmoid berguna oleh para ahli dalam melakukan penelitianpenelitian lebih lanjut tentang tumbuh dan perkembangan tanaman, karena ia menunjukkan tahapan-tahapan perkembangan. Dalam percobaan-percobaan yang menggunakan tumbuhan hidup, fase perkembangan tanaman perlu diperhatikan untuk dapat untuk dapat menganalisa suatu fenomena dengan tepat (Salisburry, 1995).

4.2.2 Daerah Tumbuh Akar dan Batang Pada percobaan b, pada pertumbuhan daerah akar tidak ada beberapa akar yang mengalami pertambahan. Akar yang diberi tinta pada interval 1 mm setelah 24 jam pengamatan ada pertambahan. Pada derah tumbuh akar setelah 48 jam pengamatan, ada dari kecambah yang mengalami pertambahan panjang. Pada kecambah ini yang bertambah adalah akar sekunder yang bewerwarna putih. Namun,sebagian yang tidak adanya pertambahan ini disebabkan karena kecambah kekurangan zat hara untuk pertumbuhan. Kecambah hanya diberi air, walaupun air di dalam baki banyak tetapi kertas millimeter tidak mampu menyerap sehingga kecambah yang jaraknya jauh dari air tidak dapat menyerapnya. Sehingga tanaman jadi layu dan tidak tumbuh seperti yang diharapkan.

Proses tumbuh adalah suatu proses yang kompleks atau sulit sekali, baik mengenai sifat tumbuhan maupun faktor lingkungan. Pertumbuhan yang terbesar merupakan pertumbuhan yang terdiri dari fase membesar dan memanjang sel-sel. Tumbuhan memiliki beberapa fase pertumbuhan, ada yang disebut perkecambahan, tanaman muda, tanaman dewasa, fase generatif, fase vegetatif dan fase-fase lainnya. (Devlin, 1975). Pertumbuhan adalah proses dalam kehidupan tanaman yang

mengakibatkan perubahan ukuran tanaman semakin besar dan juga yang menentukan hasil tanaman. Pertambahan ukuran tubuh tanaman secara keseluruhan merupakan hasil dari pertambahan ukuran bagian-bagian (organorgan) tanaman akibat dari pertambahan jaringan sel yang dihasilkan oleh pertambahan ukuran sel. Jumlah sel yang semakin banyak atau ruang (volume) sel yang semakin besar membutuhkan semakin banyak bahan-bahan sel yang disintesis menggunakan substrat yang sesuai (Raeja, 1952). Pada tingkat sel, proses pertumbuhan menggunakan substrat senyawasenyawa organic seperti asam amino dan karbohidrat untuk menghasilkan bahan-bahan sel. Pada tingkat tanaman, substrat dapat dibatasi pada bahan anorganik dan unsure lain yang diambil tanama dari lingkungan seperti karbon dioksida, unsure hara, air dan radiasi matahari yang diolah menjadi bahan organic yang dapat diukur secara sederhana dengan pertambahan bobot keseluruhan tanman atau bagian-bagian tanaman termasuk bagian yang dipanen dan parameter yang lain (Burhan, 1977)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Laju pertumbuhan daun kecambah kacang hijau mengalami pertambahan setiap hari. Laju pertambahan ini dapat disajikan dalam bentuk kurva huruf S (kurva sigmoid). 2. Pada percobaan daerah tumbuh akar dan daerah tumbuh batang hanya salah satu saja yang mengalami pertambahan panjang selama

pengamatan. Dan yang tidak mengalami peertambahan hal ini disebabkan karena kurangnya unsur pertumbuhan dan kecambah tidak mampu menyerap air untuk pertumbuhan.

5.2 Saran Adapun hal-hal yang perlu dievaluasi dalam praktikum kali ini adalah: agar praktikan terlebih dahulu memahami target dari praktikum dengan baik dan benar sebelum memulai praktikum, hal ini menuntut peranan asisten yang mampu mengarahkan praktikum dengan baik dan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2012, Kurva Sigmoid. http://www.lapanrs.com/. Dikases pada tanggal 8 April 2012 pukul 16:14 WIB. Burhan, dkk.1977. Fisiologi Tanaman. PT Bina Aksara: Jakarta Devlin, M.R. 1975. Plant Physiology Reinhold Book Cooperation. Run Hold Book Corporation: New York Campbell, N. A, J. B. Reece and L. E. Mitchell. 2002. Biologi jilid 2. Erlangga, Jakarta. Kaufman, P. B., J. Labavitch, A. A. Prouty, N.S Ghosheh, 1975 . Laboratory Experiment in Plant Physiology. Macmillan Publishing Co., Inc. New York. Kimball, J.W., 1992. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta. Latunra, A.I., Eddyman, W,F., Tambaru, E., 2007. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan II. Universitas Hasanuddin, Makassar. Raeja and Anderson. 1952. Plant Physiology. Vant Nostrand Company inc: New Jersey Salisbury, F.B. dan Ross, C.W., 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. ITB Press. Bandung. Soerga, N., 2009. Pola Pertumbuhan Tanaman. http://soearga.wordpress.com/. Diakses pada tanggal 8 april 2012 pukul 23:48 WIB. Solin, M., 2009, Kurva Sigmoid. http://nidawafiqahnabila.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 9 April 2012 pukul 16:06 WIB.