Anda di halaman 1dari 12

Trauma Dada

Bentuk yang paling umum dari trauma dada di Australia adalah cedera dada tertutup sekunder akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Cedera extrathoracic yang parah sering terjadi bersamaan. Manajemen awal diarahkan pada deteksi dan koreksi gangguan yang mengancam jiwa. Penilaian dan resusitasi segera dilakukan secara simultan .Pendekatan tim diperlukan dengan pemimpin tim memiliki prioritas pengelolaan yang jelas. Dalam hampir setiap kasus pernapasan dan resusitasi sirkulasi diutamakan. !ebuah penilaian sekunder dilakukan setelah penilaian awal. !elama waktu ini pemeriksaan radiologi dan pencitraan lain dalam penyelidikan dilakukan. "amun x ray#dada merupakan bagian integral dari penilaian awal dan harus diperoleh sesegera mungkin.

Manajemen Segera
Perdarahan eksternal yang jelas dikendalikan dan resiusitasi sirkulasi dimulai. Darah diambil untuk sampel cross#match biokimia dan tes hematologi. Pada saat yang sama pemeriksaan terhadap respirasi dan umum dilaksanakan. $Tabel %&.'(

Table 68.1 Manajemen segera pada trauma dada Pastikan patensi jalan napas oksigenasi dan )entilasi !ingkirkan dan atasi * Pneumothorax +aemothorax tamponade jantung ,akukan penilaian terhadap trauma ekstratorak
Dekompresi perut

Berikan pereda nyeri Pertimbangkan kembali pemasangan intubasi endotrakeal

Oksigenasi -alan napas yang clear harus dipastikan. .ksigen diberikan melalui sungkup muka dan dilakukan penilaian terhadap )entilasi. /ntubasi endotrakeal dan )entilasi terkontrol diindikasikan pada jalan napas yang kompromise cedera kepala berat dan hipo)entilasi kasar dan hipoksemi yang tidak berkaitan dengan
pneumothorax. 0rikotiroidektomi atau trakeostomi hanya dilakukan apabila obstruksi jalan napas atas tidak dapat

dilalui oleh intubasi translaringeal.

Pneumothorax dan Hemothorax


!etiap pneumothorak dan hemothorak diterapi. 1entilasi kendali pada keadaan tension pneumothorak berpotensi 2atal. 0anul '3 atau '4 56 /1 dapat dimasukkan perkuatn untuk mengatasi tension
pneumothorak dalam keadaan darurat. Biasanya bagaimanapun juga terdapat waktu untuk memasukkan wide # bore interkostalis kateter $ /CC ( dalam kondisi steril. /CC diarahkan superior melalui /C! 3 anterior 4 cm lateral terhadap tepi sternum pada dewasa biasanya akan menguras pneumothorax non loculated secara adekuat. /nsersi melalaui garis midaxila sejajar puting atau diatasnya direkomendasikan jika dibutuhkan posisi lebih lateral. ,okasi ini lebih dipilih bila drainasi harus dilakukan pada hemothoraks dimana tube diletakkan pada posterior. Pneumothorak diekspektasikan terletak anterior pada saat pasien berada pada posisi supine dan karenanya lebih mungkin untuk dilihat pada dasar paru. Pada radiologi tampak hiperlusensi pada basiler )isualisasi berbeda adanya dia2ragma yang tertekan batas jantung bergeser dan sudut costo2renikus lebih dalam.

0etika memasukkan cest tube trokars tidak dianjurkan $untuk menghindari penetrasi ke paru atau organ lain(. !etelah persiapan steril dan in2iltrasiluas menggunakan lignocaine '7 kulit diinsisi dan sepasang 2orsep tumpul digunakan untuk membedah pleura yang kemudian akan ruptur secara perlahan. $gambar %&.'(. !ebuah jari dengan sarung tangan melalui saluran ini memastikan bahawa paru#paru tidak melekat dinding dada dan /CC dimasukkan. /CC dihubungkan dengan underwater seal darin dan dilakukan
suction bila perlu. Tidak biasa dilakukan suction dengan tekanan lebih dari '8 cm+38 walaupaun alat tersebut memiliki kemampuan menghisap hingga 48#%8 cm+38 dengan )olume aliran udara '9#38l:menit.

Tamponade Jantung
Tamponade jantung dicurigai pada tiap pasien trauma dada yang memiliki tekanan darah rendah dan peningkatan tekanan )ena. Diagnosa banding meliputi tension pneumothorax dan gagal jantung
$biasanya akibat kontusio miokard yang keras atau prolongoed syok dan penanganan yang tidak adekuat(. +ika tersedia echocardiography transeso2ageal $T.;( dengan cepat dapat mengkon2irmasi atau menyingkirkan tamponade. Computed tomography $CT( scan juga akan mengungkapkan e2usi perikardium tetapi tidak cocok untuk pasien yang tidak stabil. .leh karena itu dalam situasi yang mendesak diagnosis klinis harus ditindaklanjuti.

Tatalaksana darurat dari tamponade jantung adalah aspirasi dari kantong pericardial sebaiknya dilakukan dengan kontrol menggunakan ;C6. Pasien pada posisi supine kepala <98. ;06 limbs lead dipasang dan chest lead dihubungkan dengan metal hub jarum aspirasi '%56 dengan kawat steril.
-arumdengan kanula plastik ini dimasukkan melalui bahu kiri dengan sudut <9 derajat memasuki kulit dengan titik 3cm di bawah sudut yang dibentuk antara procesus xiphoideus dan kartilago costae ke =. Aspirasi dilakukan seiring dengan jarum yang dimasukkan perlahan. Perkembangan yang berarti dapat terjadi mengikuti pengambilan darah sebanyak <8ml. 0ontak dengan miokardium ditandai dengan !T ele)asi pada ;C6 atau denyut ektopik. 0etika didapatkan ketukan positi2 kanul ditinggalkan in situ untuk drainase lebih lanjut. !ebagai alternati2 kateter pigtail

dapat diletakkan ke dalam kantung perikardium menggunakan kawat penuntun. Torakotomi selanjutnya dan eksplorasi lengkap biasanya diperlukan.

Banyak pusat kesehatan yang mengaplikasikan torakotomi dengan dekompresi perikardial melalui aspirasi. Pendekatan operati2 untuk memasuki luka dada telah dideskripsikan.

Trauma ekstratorakal
Trauma ekstratorakal seperti trauma kepala leher dan abdomen dan kehilangan darah masi2 yang tak tampak harus disingkirkan. Penanganan harus segera dilakukan sebelum analgesik poten diberikan.

ekompresi !ambung
Distensi lambung dengan resiko regurgitasi muntah dan aspirasi sangat sering terjadi terutama pada
pasien yang disertai dengan trauma kepala. ,ambung harus didekompresi menggunakan pipa nasogastrik $atau orogastrik nila dicurigai 2rajtur basis cranii(. -ika diperlukan ;T darurat maka dinajurkan untuk dilakuan rapidse>uence crash intubation $dengan memberikan tekanan pada cricoid(

Penghilang "#eri
Penghilang nyeri biasanya akan ber2ungsi pada tahap awal ini dengan menggunakan opioid /1. /ni akan mengurangi distress pernapasan pada pasien dengan 2raktur iga dan atau sternum.

Pertimbangan kembali penggunakan $entilator Mekanik


!etelah penanganan awal bantuan )entilator mekanik harus dipertimbangkan. $tabel %&.3( 1entilasi juga harus dipertimbangkan untuk pasien distress pernapasan dengan keadaan *
'. 3. <. 4.

.besitas berat Penyakit paru sebelumnya 0ontusio pulmonal berat atau aspirasi Trauma abdomen berat yang memerlukan tindakan operati2

Tabel %&.3 /ndikasi mayor untuk pemasangan ;T dan )entilasi +ipoksemia yang berbahaya dan atau hiperkarbia Trauma kepala signi2ikan Adanya segmen yang 2lail dan kontusio dan distress pernapasan

Trauma ada Spesi%ik


Trauma dada spesi2ik harus disingkirkan secara sistematis.

&uptur 'orta
Pelebaran mediastenum selalu menimbulkan kecurigaan akan adanya ruptur aorta. Dalam suatu kurun waktu pelebaran mediastenum melebihi &cm tampak pada semua '8 pasien dengan ruptur aorta torasik. Diagnosa ditegakkan dengan ditemukannya satu atau lebih gambaran radiologi *
'. 3. <. 4. 9.

+emothorak kiri Depresi cabang utama kiri bronkus 6aris tepi lengkung atau aorta desenden yang samar#samar 5raktur iga pertama atau hematom pada apikal kiri Displacement dari mid#eso2agus ke kanan $dapat dideteksi dengan naogastric tube in situ(

6ambaran radiologilain yang mencurigakan adalah hilangnya jendela aorticopulmonary de)iasi anterior atau lateral dari trakea hilangnya ?stripe@ paraspinal dan lapisan kalsium pada lengkung aorta. 6old standart pemeriksaan adaAah aortogra2i meskipun penggunaan CT dengan kontras dilakukan lebih awal dan dilanjutkan angiogra2i bila perlu. T.; dapat menampilkan gambaran dari distal lengkung aorta dan
aorta desenden dengan baik terutama pada bagian istmus dimana sebagian besar trauma terjadi. /ni memungkinkan ditegakkan diagnosis pada pasien yang unstable tanpa perlu ditrans2er ke bagian radiologi. /stmus terletak pada persimpangan dari lengkungan mobile dan aorta desenden yang ter2iksir tepat di atas sumber arteri subcla)ia kiri. Pada sekitar '87 kasus ruptur terjadi pada aorta desenden atau dekat dengan pusat pembuluh darah besar lain. Bobekan yang terjadi biasanya disebabkan oleh trauma.

Tatalaksana yaitu dengan tindakan operati2 dan terkadang diperlukan bypass atrio2emoral kiri atau kardiopulmonary. Teknik#teknik ini tidak memerlukan perlindungan terhadap terjadinya paraplegia. Banyak pekerja mempertanyakan prioritas dari aortogra2i dan operasi segeradibandingkan tatalaksana terhadap trauma lain yang mengancam nyawa. .bat#obatan B#blocker dan antihipertensi digunakan untuk
memungkinkan penundaan operasi. Bagaimanapun juga hanya keadaan tertentu yang memperbolehkan pendekatan elekti2 terhadap ruptur aorta

&uptur dia%ragma dan paresis dia%ragma


Penyebab umum dari ruptur dia2ragma adalah kompresi abdomen berat dan insidennya meningkat setelah
sabuk pengaman diwajibkan. Buptur dia2ragma kiri lebih sering terjadi. +emopneumothorak sering salah didiagnosa katika dilatasi lambung memberikan gambaran air#2luid inter2ace pada x#ray. 0esalahan diagnosa lebih jarang terjadi bila tube nasogastric diletakkan insitu yaitu ketika ujung distal berada pada posisi abnormal. Meskipun demikian dengan rupture dia2ragma kiri terdapat resiko terjadi strangulasi usus dan perbaikan operati2 harus dilakukan setelah resusitasi awal.

Buptur dia2ragma kanan lebih sulit didiagnosa karena adanya hepar. 6ambaran radiogra2i hampir sama mdengan paralise dia2ragma kanan. Dengan tidak adanya 2raktur iga sebelah kanan hemothorax

minimal dengan peninggian dia2ragma sebelah kanan adalah bukti yang sugesti2. MB/ menampilkan gambaran koronal dan sagitalis dan )isualisasi langsung dia2ragma. MB/ direkomendasikan untuk mendiagnosa rupture di2ragma jika CT tidak dapat mendiagnosa. Perbaikan ruptur dia2ragma melalui pendekatan abdominal disarankan karena lebih dari =97 kasus berkaitan dengan trauma intraabdominal. 0elemahan ner2us 2renikus unilateral maupun bilareal biasanya tampak setelah trauma tumpul dada.
Bentuk biletral tampak dengan adanya pergerakan paradokssal abdomen#dinding dada ortopnea penurunan kapasitas )ital dan kesulitan penyapihan dari )entilator. Dis2ungsi dia2ragma dapat juga terjadi setelah operasi upper abdominal. +al ini mungkin terjadi karena re2leks inhibisi dari akti)itas dia2ragma. Dis2ungsi respirasi sekunder dari paresis dia2ragma akan diperparah dengan adanya trauma paru dan dinding dada lainnya.

(angguan Jalan "apas Major


Meskipun tanda dan gejala dapat ber)ariasi tergantung dari derajat ruptur gambaran klinis yang sering tampak adalah distress pernapasan em2isema subktunaeus dan hemophtisis. Pneumothorax yang mungkin terjadi dengan tekanan rendah kadang dapat terjadi dengan ruptur bronkus. ;m2isema mediastenum biasanya tampak pada x#ray dada. Bersama dengan trauma trakea penanganan segera termask intubasi endotrakeal $dengan posisi cu22 distal dari robekan( untuk mencegah aspirasi dan kebocoran udara. !egala bentuk pneumothorak harus didrainase. Terkadang suction menuju intercostal dibutuhkan. 0etika priotitas utama telah dicapai bronkoskopi dan perbaikan primer awal dilakukan. Tube dengan lumen ganda terkadang diperlukan untuk perbaikan operati2 dan jika terjadi kebocoran udara. -ika terdapat luka pada leher yang besar tube endotrakeal dapat dipasang melalui leher dan luka trakeal pada situasi darurat. /ntubasi sulit dapat diseleasikan dengan bronkoskopi 2leksibel. 0etika jalan napas sudah diamankan general anestesia dan inter)ensi lain dapat dilakukan.

Haemothorak masi%
6angguan intercostae dan atau arteri mammary adalah penyebab paling sering. 0ondisi ini biasanya 2atal bila penyebabnya adalah perdarahan dari aorta atau arteri pulmonarismayor lain. Penanganan segera termasuk insersi dengan /CC kaliber besar dan resusitasi adekuat. 0ehilangan darah lebih lanjut adalah indikasi untuk torakotomi dini. Drainase yang inadekuat dari hemothoraks mungkin membutuhkan torakotomi dan dekortikasi pada hari berikutnya namun ini jarang dibutuhkan.

)ontusio Pulmonal

Penampakan klasik dari kontusio pulmonal adalah kerusakan paru tidak terbatas secara anatomis dan menjadi semakin edem pada lebih dari 4&jam. Bagaimanapun juga e)aluasi CT dapat mengungkapkan in2iltrasi pulmonal dan konsolidasi pada kenyantaanya adalah laserasi pulmonal yang dikelilingi oleh intraal)eolar hemoragi $blood pneumonia( tanpa trauma jaringan interstitial. Beberapa laserasi diklasi2ikasikan menjadi 4 tipe sesuai dengan pola CT mekanisme terjadinya trauma lokasi 2raktur iga dan penemuan operati2. 0etika kontusio pulmonal berkaitan dengan kegagalan segmen dada untuk mengembang dan distress pernapasan )entilasi bantuan dibutuhkan $ biasanya untuk jangka pendek(

)ontusio Miokard
0ontusio miokard sering terjadi pada trauma tumpul dada dandapat menimbulkan artimia dan gagal jantung. 0edua komplikasi tadi dapat diatasi seperti penanganan in2ark miokard. ;06 '3#lead dapat menunjukkan bermacam#macam abnormalitas dari perubahan T#wa)e non spesi2ik hingga Cwa)e patologis. T.; dapat menunjukkan gerakan dinding dada abnormal. Abnormalitas juga dapat tampak menggunakan myocardial nuclear scanning $tidak biasa dilakukan pada pasien dengan trauma akut(. 0erusakan jantung seperti ruptur dari dinding )entrikel septum inter)entrikel dan aparatus )al)ular dan gangguan dari arteri koroner major biasanya berkaitan dengan trauma tembus namun juga dilaporkan terjadi pada trauma tumpul dada. !ekali lagi T.; mungkin dapat membantu diagnosa. 0reatini kinase dan enDim C0MB harus diperiksa pada semua kasus kontusio miokard. 5raktur sternum $lebih sering pada wanita orang tua dan pengguna searblet( berkaitan dengan sedikitnya kejadian kontusio jantung dan aritmia.

*mboli udara sistemik


!ering terjadi pada trauma tembus dan sangat mengancam jiwa. Meskipun jarang dapat terjadi underiagnosa dan dapat terlihat saat dilakukan otopsi kon)ensional. ;mboli udara biasanya terjadi akibat 2istula )ena bronkopulmoner. 0ejadian ini patut dicurigai pada pasien trauma dada dengan * '. Tanda neurologi 2okal pada absennya trauma kepala 3. 0olaps sirkulasi segera setelah bantuan )entlasi pada absennya tension pneumothoraks <. Diperolehnya busa ketika pengambilam sampel darah dari pasien yang kolaps 0etika dicurigai 5i.3 harus dinaikkan hingga ' 8 dan tekanan )entilasi dan )olume diturunkan hingga le)el minimal. Terapi oksigen hiperbarik meskipun diindikasikan jarang dilakukan dalam

praktek. Mattox merekomendasikan torakotomi segera untuk melakukan clamp pada aorta asenden menghilangkan sumber udara $dengan melakukan clamp pada hilum pulmonal( dan aspirasi udara bebas dari )entrikel kiri dan aorta asending.

Per%orasi *so%agus
Meskipun biasa terjadi pada trauma tembus pada kasus yang jarang dapat terjadi Eada trauma dada tertutup. Pasien mungkin mengeluhkan nyeri retrosternal dan kesulitan menelan hematemesis dan em2isema ser)ikal. F#ray dada menunjukkan em2isema mediastenum pelebaran mediastenum pneumothorak hydrothorax atau hydropneumothorax. -ika dicurigai gastrogra2 menelan dan atau endoskopi dilakukan. Penatalakasanaan adalah dengan perbaikan operati2 segera. 6astrotomi dan 2eeding jejunostomi biasanya dilakukan bersamaan.

Flail chest
!egmen yang kolaps bukan merupakan masalah yang dominan pada trauma dada namun tidak boleh dilewatkan. 0onsep dari pendullu2t $pergerakan udara to#and#2ro antara sisi yang kolaps dan sisi sehat pada dada( telah terbukti tidak benar. Dengan adanya 2lail chest )entilasi secara keseluruhan berkurang namun didistribusikan ke kedua paru karena pergesaran mediastinum menyamakan tekanan pleura. "amun demikian terdapat ekspansi minimal pada daerah kontusio pengurangan daerah pengembangan pari gangguan batuk dan penurunan )entilasi pada kasus berat. !elain itu semakin besar segmen yang mengalami 2lail semakin kecil tekanan intrapleural yang dapat digunakan untuk inspirasi. Pergesaran mediastenum yang parah dapat menyebabkan kegagalan sirkulasi.

)ontrol "#eri
Penghilang nyeri yang adekuat sangatlah penting. +al ini adalah penentu apakah napas dalam dan batuk yang e2isien dapat dilakukan atau tidak dengan demikian menghindari pemasangan ;T pada cidera yang tidak berat. Pilihan penghilang nyeri ber)ariasi yaitu * '. .pioid /1 dengan 2rekuensi dan dosis intermiten atau dengan in2us kontinuos 3. /nhalasi ;ntonox selama physiotherapy <. Blok sara2 interkosta * a. Blok sara2 multipel

b. 1olume besar tunggal $mis * 38ml 8 97 bupi)akain( ke dalam ' sela iga $unilateral or bilateral( menyebar untuk mengeblok sara2 di atas dan di bawah lokasi injeksi c. Bupi)acaine intrapleural $8 39#8 97( melalui /CC unilateral atau bilateral $digunakan kateter epidural( menggunakan injeksi intermiten atau in2us kontinus d. Analgesia epidural e. .pioid spinal dan epidural 2. "!A/D $ pada pasien yang telah diresusitasi sempurna dan dengan 2ungsi ginjal yang baik(

ukungan respiratori
0etika beberapa pendekatan dasar untuk menangani pasien dengan trauma dada sudah dilakukan strategi terakhir ditentukan oleh tingkat keparahan traumadada berkaitan dengan trauma dan kee2ekti2an penghilang nyeri. !emua hal ini mempengaruhi dis2ungsi pernapasan.

Terapi konser+ati%
Penatalaksanaan konser)ati2 termasuk pemberian oksigen dengan masker penghilang nyeri adekuat dan 2isioterapi. /ni merupakan penanganan pada trauma ringan $mis* trauma dada terisolasi dengan 2raktur iga namun tanpa 2lail chest atau gangguan gas darah. +al yang sama dilakukan pada trauma dada sedang $mis * 2lail signi2ikan namun dengan gas darah adekuat dan kemampuan untuk

batuk(. 1entilasi pro2ilaksis pada kedua kelompok ini dianggap tidak sesuai dengan kemungkinan resiko barotrauma in2eksi komplikasi trakeostomi dan perpanjangan hospitalisasi.

,antuan "apas "on -.n+asi%


Bahkan terhadap trauma dada terisolasi sedang#berat ;T dabat dihindarkan analgetik adekuat dipastikan dan pasien dapat menggunakan close-fitting facemask untuk bantuan napas non in)asi2. Penentuan terlebih dahulu tekanan jalan napas dan sungkup muka dapat menurunkan resiko barotrauma. Pasien yang dapat mentoleranasi penggunaan alat#alat ini ber)ariasi. 1entilasi non in)asi2 cukup menjanjikan namun studi yang membandingkan metode ini dengan )entilator mekanik masih terbatas.

,antuan "apas .n+asi%


Bantuan "apas /n)asi2 penting pada pasien dengan trauma dada berat disertai trauma kepala. /ntubasi trakeal adapt dilakukan melalui rute oral atau nasal atau trakeostomi. Trakeostomi lebih menguntungkan daripada intubasi translaringeal pada pasien sadar $menurunkan ketidaknyamanan kebutuhan akan sedasi dan kesulitan napas(. Trakeostomi perkutaneus dapat dilakukan di /CG. Penggunaan dini intermittent mandatory )entilaton dianggap mampu memperpendek durasi penggunaan )entilasi buatan. Akhir#akhir ini hampir sebagian besar pusat kesehtana menggunakan pressure control dan pressure support )etilation untuk mencapai weaning lebih awal dan menurunkan insiden barotrauma. Pressure ventilator juga menyediakan kompensasi untuk kebocoran udara. Airway pressure release belum dapat die)aluasi seutuhnya meskipun digunakan secara luas selama weaning. Pada pasien dengan 2lail terapi konser)ati2 yang tidak susai atau dukungan )entilasi yang minim dapat menyebabkan peningkatan kapasitas residu paru. 1entilasi paru independen dapat digunakan untuk menangani kontusio pulmonal unilateral dan atau 2lail.

Stabilisasi Operati%
Terdapat kentungan tindakan operati2 untuk stabilisasi dinding dada. 0euntungan metode ini adalah berkurangnya waktu penggunaan )entilasi bantuan atau pemendekan waktu hospitalisasi. Tindakan stabilisasi operati2 tidak diragukan dapat mengurangi de2ormitas dan dinding dada yang stabil membantu pasien mengatasi masalah paru. Bagaimanapun juga kecuali 2raktur sternum ruptur dia2ragma dan kasus lain yang memerlukan torakotomi kasus untuk perbaikan operati2 belum dibuktikan.

)omplikasi
!etelah resusitasi dan penanganan awal dapat terjadi komplikasi yang memerlukan penanganan.

&etensio Sputum
Betensio sputum dapat menyebabkan perburukan distress pernapasan dan mengakibatkan kolaps pulmonal. /n2eksi lebih sering terjadi. Meminimalisir retensio sputum pada pasien dengan napas spontan termasuk dengan analgeik adekuat tanpa depresi napas nyata. Pada pasien dengan intubasi:)entilasi humidi2ikasi e2isien dan pembersihan endobronkial adalah penting. Perubahan posisi yang sering penting dilakuka. -ika pembersihan sekret teteap sulit dilakukan meskipun penghilang nyeri telah diberikan minitrakeostomi $9 4mm .D tube )ia krkotiroidotomi perkutaneus( dapat menghindarkan penggunaan intubasi endotrakeal kon)ensional atau trakeostomi.

,ronkospasme
Bronkospasme diatasi secara kon)ensional. 0ejadian ini dapat menyebabkan terjadinya aspirasi.

,arotrauma
Barotrauma lebih sering terjadi pada pasien dengan )entilator mekanik. Barotrauma juga mungkin terjadi pada pasien dengan napas spontan beberapa hari setelah masuk rumah sakit terutama jika disertai dengan distress pernapasan. ;m2isema operati2 em2isema mediatsenum pneumothorak em2isema pulmonal interstitial dan pneumoperitoneum dapat terjadi. Pada pasien dengan em2isema operati2 atau mediastenum beberapa kebijakan menyarankan pemasangan /CC jika anestesia dan )entilator mekanik direncanakan meskipun pneumothorakstidak dapat dibuktikan oleh Fray dada. CT scan sangat sensiti2 untuk memastikan atau menyingkirkan pneumothoraks dan dapat digunakan untuk menghindari pemasangan selang /CC.

(agal "apas 'kut


6agal napas akut sering terjadi. 0etika trauma paru akut $atau ABD!( terjadi segera setelah trauma penyebab yang mungkin adalah kontusio pulmonal aspirasi prolonged syok atau penundaan

resusitasi dan pelepasan mediator masi2 mengikuti multitrauma dan emboli lemak. 0etika ABD! terjadi beberapa hari setelah trauma in2eksi yang mungkin berasal dari lokasi yang jauh dari paru mungkin merupakan penyebabnya.

.n%eksi
/n2eksi merupakan penyebab kematian sebagian besar kasus trauma dada. !umber dari in2eksi ber)ariasi endogen terutama berasal dari bakteri yang berkoloni pada oro2aring dan saluran caerna. Beberapa kebijakan menyarankan antibiotik pro2ilaksus parenteral $mis * ce2otaxim( untuk melawan bakteri komunitas $mis * streptococcus pneumonia +aemophilus in2luenDa Branhamella catarrhalis !taphylococcus aureus atau ;.coli( dari saat pasien masuk B! hingga 4 hari. Pada saat yang bersamaan kombinasi polymixin ; tobramycin dan am2oterisisn B diberikan untuk mencegah kolonisasi dan in2eksi oleh ;nterobacter Pseudomonas dan Candida. Bagaimanapun juga strategi ini memerlukan studi lebih lanjut Pentingnya cuci tangan oleh pengunjung dan perhatian khusus pada tindakan yang steril pada perawatan respiratori dan manajemen pada pemasanagn kateter tidak dapat dilewatkan. Pemberian asupan enteral dapat menurunkan translokasi bakteri dam toksin dari usus sehingga menurunkan kejadian sepsis.

Tromboembolism
Tindakan pencegahan termasuk pergerakan berulang penggunaan stoking penghindaran tekanan pada anggota badan dan heparin subktan dosis rendah $9888 units b.d atau t.d.s( atau low mocular weightsodium heparin $3988 units perhari(

"utrisi inadekuat
Atoni gaster dan stasis sering terjadi. Pada banyak kasus nutrisi enternal adekuat dapat diberikan dengan cara yang tepat $mis pada sisi kanan selama pemberian makanan(. Metoklopramide atau cisapride dapat digunakan untuk mengosongkan lambung. "utrisi parenteral kadang diperlukan.

Stress ulser
!ucral2ate yang diberikan melalui nasogastrik digunakan sebagai pro2ilaksis sampai enteral 2eeding dapat diberikan. Asebagai alternati2 +3 blocker dapat digunakan. Besusitasi awal dipertimbangkan untuk menurunkan angka kejadian komplikasi.

)oagulopati
Besusitasi yang tepat kontrol perdarahan dan penggunan penyaring darah untuk trans2usi darah masi2 dapat membantu

Prognosis Angka kematian akibat trauma dadayang dilaporkan ber)ariasi menunjukkan )ariasi tingkat keparahan trauma dada dan trauma ekstratorakal yang berkaitan. Di Australia dari '''H pasien dengan trauma dada dan trauma lainnya angka kematian total adalah 9 <7. < penyebab kematian tersering adalah sepsis $<9 %7( cidera kepala berat $<< H7( dan eksanguinasi $'& %7(. Angka kematian <= 97 pada pasien berusia lebih dari %8 tahun dengan gagal napas dan 33 &7 untuk semua kelompok usia membutuhkan )entilator mekanik. Trunkey melaporkan '%7 kematian pada pasien dengan kontusio pulmonal terisolasi. 0etika dikombinasikan dengan 2lail chest angka kematian meningkat hingga 437.