Anda di halaman 1dari 61

METODA TEKNIK PERENCANAAN

(ANALISIS KESESUAIAN LAHAN)

METODA TEKNIK PERENCANAAN (ANALISIS KESESUAIAN LAHAN) Magister Perencanaan Kota dan Daerah, Jurusan Teknik Arsitektur dan

Magister Perencanaan Kota dan Daerah,

Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Menata Ruang:

Menata “wadah kehidupan” manusia dan makhluk lain agar dapat hidup, menjalankan kehidupan dan memelihara keberlanjutan kehidupannya

Pengelolaan:

SDM SDA - - SDB
SDM
SDA
-
-
SDB

Manusia sebagai pelaku utama

-Perencanaan (tata ruang: pola dan struktur ruang)

karena manusia dianugerahi akal

-Pengendalian pelaksanaan

budi dan hati nurani oleh Tuhan

Tata Ruang:

Pola ruang: alokasi ruang/wadah kegiatan sesuai kemampuannya/kesesuaiannya

Struktur ruang: penyediaan infrastruktur (secara berhirarkhi-efektif efisien- agar

kegiatan dapat berlangsung dengan optimal

Hasil Akhir:

KEGIATAN

Kesejahteraan Manusia (dan Makhluk Hidup lain)

- Merata/berkeadilan

- Berkelanjutan

(Tergambar dalam PDRB)

BEBERAPA PENGERTIAN DASAR

Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,

termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia

dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.(UU 26/2007)

Lahan adalah lingkungan fisik yang terdiri atas iklim, relief, tanah, air, vegetasi

dan benda-benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap

penggunaan lahan (Arsyad, 2006 dalam Muta’ali 2012)

Kesesuaian Lahan: Kecocokan suatu jenis lahan tertentu untuk penggunaan

tertentu

Peruntukan lahan harus sesuai dengan kesesuaian lahan untuk menjamin keberlanjutan kehidupan dari makhluk hidup yang berkehidupan di dalamnya. Jika tidak sesuai:

Ganti/evaluasi peruntukan,

Pindahkan kegiatan di ruang (

Rekayasa ruang (

lahan)

yang sesuai

lahan)

(jika dimungkinkan).

BEBERAPA PENGERTIAN DASAR (Lanjutan)

Dua analisis penting dalam analisis sumberdaya lahan: analisis kemampuan lahan dan analisis kesesuaian lahan. Analisis kesesuaian lahan merupakan spesifikasi kemampuan lahan.

Kemampuan Lahan adalah karakteristik lahan yang mencakup sifat-sifat

tanah, topografi, drainase, dan kondisi lingkungan hidup lain untuk mendukung kehidupan atau kegiatan pada suatu hamparan lahan.

Kesesuaian Lahan: Kecocokan suatu jenis lahan tertentu untuk

penggunaan tertentu

Satuan Lahan adalah bagian dari lahan yang mempunyai karakteristik yang spesifik. Sembarang bagian dari lahan yang menggambarkan karakteristik

lahan yang jelas dan nyata, tidak peduli bagaimana caranya dalam

membuat batas-batasnya. FAO (1990) menggunakan lereng, bentuk lahan,

jenis tanah, guna lahan eksistiing.

Contoh: Kriteria Kawasan Lindung dan Budidaya menurut RTRWN dan PermenPU 41/2007

Jenis Kawasan Lindung

Kriteria Penetapan/Parameter

Hutan Lindung

Hutan dengan jumlah bobot >175 terhadap lereng, jenis tanah, intensitas hujan, lereng lebih dari 40% , ketinggian di atas 2000 m apl

Kawasan Bergambut

Kawasan bergambut dengan ketebalan lebih dari 3 m, terletak di hulu

atau rawa

Kawasan Resapan Air

Hujan tinggi, tanah mudah diresapi air, bentuk yang memudahkan peresapan air banyak

Kawasan Sempadan Mata Air

200 m sekeliling mata air

Sempadan Sungai

5 m sebelah luar tanggul sungai, 100 meter dari tepi sungai besar tak bertanggul diluar permukiman, 50 meter dari tepi anak sungai tak

bertanggul di luar permukiman

Kawasan Sempadan Danau atau Waduk

50-100 m dari tepi danau waktu pasang

Sempadan Pantai

Daratan 100 m dari titik pasang tertinggi sepanjang pantai atau daratan sepanjang tepian laut yang bentuk dan kondisi fisik pantainya curam atau terjal

Kawasan Suaka Alam (Laut)

Memilki keanekaragaan biota, ekosistem, gejala dan keunikan alam

Kawasan Suaka Margasatwa (Laut)

Memiliki keanekaragaman satwa yang tinggi, tempat kehidupan satwa migran tertentu

Cagar Alam (Laut)

memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan, satwa, dan tipe Ekosistemnya, kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli atau belumdiganggu manusia, merupakan satu-satunya contoh dan membutuhkan konservasi

Jenis Kawasan Lindung

Kriteria Penetapan/Parameter

Kawasan Pantai Berhutan Bakau

Lebar paling sedikit 130 (seratus tiga puluh) kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan, diukur dari garis air surut terendah ke arah darat

Taman Nasional

Luasan cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis secara alami, berhutan atau bervegetasi tetap yang memiliki tumbuhan dan satwa yang beragam, memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis

tumbuhan maupun jenis satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih

utuh, memiliki paling sedikit satu ekosistem yang terdapat di dalamnya yang secara materi atau fisik tidak boleh diubah baik oleh eksploitasi maupun pendudukan manusia

Taman Hutan Rakyat

memiliki luas yang memungkinkan untuk pengembangan koleksi tumbuhan dan/atau satwa jenis asli dan/atau bukan asli; merupakan kawasan dengan ciri khas baik asli maupun buatan, baik pada kawasan yang ekosistemnya masih utuh maupun kawasan yang sudah berubah; memiliki keindahan alamdan/atau gejala alam

Taman Wisata Aam

memiliki luas yang cukup untuk menjamin pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya untuk dimanfaatkan bagi kegiatan wisata alam; memiliki daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa dan ekosistemnya yang masih asli serta formasi geologi yang indah, unik, dan langka; memiliki akses yang baik untuk keperluan pariwisata

Cagar Budaya

Hasil budaya manusia yang bernilai tinggi yang dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan

Jenis Kawasan Lindung Kriteria Penetapan/Parameter Cagar Biosfer Ramsar Taman Buru Kawasan Perlindungan Plasma Nuftah
Jenis Kawasan Lindung
Kriteria Penetapan/Parameter
Cagar Biosfer
Ramsar
Taman Buru
Kawasan Perlindungan Plasma Nuftah
Kawasan Pengungsian Satwa
Terumbu Karang
Koridor Jenis Satwa /Biota Laut yang dilindungi
Kawasan Unik Batuan/Fosil
Kawasan Unik Bentang Alam
Kawasan Unik Proses Geologi
Rawan Letusan Gunung Api, Rawan Gempa Bumi,
Rawan Gerakan Tanah, Rawan Longsor, Rawan
Tsunami, Rawan Gelombang Pasang, Rawan
Abrasi, Rawan Bajir, Rawan Genangan, Rawan Gas
Beracun,
Kawasan Imbuhan Air
Jenis Kawasan Budidaya Kriteria Penetapan Hutan Produksi Tetap, Hutan Produksi Terbatas, Hutan Produksi Yang Dapat
Jenis Kawasan Budidaya
Kriteria Penetapan
Hutan Produksi Tetap,
Hutan Produksi Terbatas,
Hutan Produksi Yang Dapat Dikonversi)
Hutan Rakyat
Pertanian
Pertambangan
Industri
Pariwisata
Permukiman

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN

Kesesuaian Lahan adalah kecocokan Kecocokan suatu jenis lahan tertentu untuk penggunaan tertentu

TEKNIK ANALISIS KESESUAIAN LAHAN DENGAN METODE TUMPANG TINDIH

1.

Tumpang-tindih Perkalian 1-0 (Boolean):

Sesuai (1) atau Tidak sesuai (0)

1x1=1, 1x0=0, 0x0=0

2.

Tumpang-tindih dengan Pengharkatan (Penambahan Pembobotan):

Kelas kesesuaian lahan untuk budidaya, penyangga, atau lindung.

Gradasi kesesuaian lahan bagi peruntukan tertentu (misal pertanian, permukiman):

Sangat sesuai (S1): lahan tidak mempunyai pembatas yag berat atau pembatas kurang berarti

dan tak berpengaruh secara nyata untuk penggunaan tertentu secara lestari

Cukup sesuai (S2): lahan mempunyai pembatas agak berat yang mengurangi produktivitas dan keuntungan yang diperoleh pada penggunaan tertentu secara lestari Sesuai marginal/hampir sesuai (S3): lahan mempunyai pembatas sangat berat untuk penggunaan tertentu secara lestari Tidak sesuai saat ini (N1): lahan mempunyai pembatas sangat berat yang belum dapat diiatasi

saat ini dengan biaya yang rasional. Tidak sesuai permanen (N2): lahan mempunyai pembatas sangat berat dan tidak mungkin untuk penggunaan tertentu secara lestari.

Pemberian bobot / pembobotan sesuai besar-kecil pengaruh suatu parameter dibanding parameter lain terhadap faktor yang dianalisis.

Pertanian subur Lereng Sungai 0 = Tidak memenuhi kriteria/Tidak Sesuai 1 = Memenuhi kriteria/Sesuai Contoh
Pertanian subur Lereng Sungai 0 = Tidak memenuhi kriteria/Tidak Sesuai 1 = Memenuhi kriteria/Sesuai Contoh

Pertanian subur

Pertanian subur Lereng Sungai 0 = Tidak memenuhi kriteria/Tidak Sesuai 1 = Memenuhi kriteria/Sesuai Contoh Tumpang-tindih

Lereng

Pertanian subur Lereng Sungai 0 = Tidak memenuhi kriteria/Tidak Sesuai 1 = Memenuhi kriteria/Sesuai Contoh Tumpang-tindih

Sungai

Pertanian subur Lereng Sungai 0 = Tidak memenuhi kriteria/Tidak Sesuai 1 = Memenuhi kriteria/Sesuai Contoh Tumpang-tindih
Pertanian subur Lereng Sungai 0 = Tidak memenuhi kriteria/Tidak Sesuai 1 = Memenuhi kriteria/Sesuai Contoh Tumpang-tindih
Pertanian subur Lereng Sungai 0 = Tidak memenuhi kriteria/Tidak Sesuai 1 = Memenuhi kriteria/Sesuai Contoh Tumpang-tindih
Pertanian subur Lereng Sungai 0 = Tidak memenuhi kriteria/Tidak Sesuai 1 = Memenuhi kriteria/Sesuai Contoh Tumpang-tindih
Pertanian subur Lereng Sungai 0 = Tidak memenuhi kriteria/Tidak Sesuai 1 = Memenuhi kriteria/Sesuai Contoh Tumpang-tindih

0 = Tidak memenuhi kriteria/Tidak Sesuai

1 = Memenuhi kriteria/Sesuai

Contoh Tumpang-tindih Boolean:

Kesesuaian Lahan untuk Industri

Kriteria lahan untuk Industri:

Bukan tanah subur untuk pertanian

Lereng kurang dari 5%

Dekat jalan raya, maksimal 1 km

Jauh dari badan air/sungai, minimal 150 m

Guna lahan eksisting bukan permukiman dan hutan lindung

---------

• Jauh dari badan air/sungai, minimal 150 m • Guna lahan eksisting bukan permukiman dan hutan

Contoh Tumpang-tindih dengan Pengharkatan Penambahan Pembobotan:

Kesesuaian Lahan Untuk Hutan Lindung-Hutan Produksi Kesesuaian Lahan untuk Lindung Penyangga - Budidaya

Jenis Hutan

Total Skor

Keterangan

125-174 Tebang Pilih <125 Tebang pilih atau tebang habis Parameter yang digunakan: (pengharkatan disertai
125-174
Tebang Pilih
<125
Tebang pilih atau tebang habis
Parameter yang digunakan:
(pengharkatan disertai pembobotan)
• Kelerengan
• Jenis Tanah
• Intensitas Hujan

Hutan Lindung

>174

Apaba dipenuhi salah satu syarat berikut:

Lereng >40%,

Tanah sangat peka terhadap erosi yaitu jenis tanah regosol, litosol, organosol dan renzina dengan lereng lapangan lebih dari

15%,

Jalur pengamanan aliran sungai/air, sekurang-kurangnya 100 meter di kanan-kiri sungai/aliran air tersebut

Pelindung mata air sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200

meter di sekeliling mata air tersebut,

Mempunyai ketinggian di atas permukaan laut ≥ 2.000 meter.

Hutan Produksi Terbatas

Hutan Produksi Bebas Dikonversi

Sumber:

Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 837/KPTS/UM/11/1980 Tentang Kriteria dan Penetapan Kawasan Hutan Lindung

Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 683/KPTS/UM/8/1981 Tentang Kriteria dan Penetapan Kawasan Hutan Produksi

Klasifikasi Kesesuaian Lahan (menurut sumber lain)

125-174

<125 lereng <15%

Total Skor

Keterangan

>174

Kawasan Lindung, termasuk hutan lindung

Kawasan Fungsi penyangga

Kawasan hutan produksi terbatas

Kawasan hutan produksi tetap

Kawasan hutan produksi konversi

Budidaya tanaman tahunan

<125 lereng <8%

Kawasan tanaman semusim dan permukiman

Sumber: Mutaali (2012)

Catatan: Informasi lain menyebutkan bahwa Permukiman dapat diadakan pada lahan dengan kelerengan 0-25%

Parameter yang digunakan:

(pengharkatan disertai pembobotan)

Kelerengan

Jenis Tanah

Intensitas Hujan

Proses Analisis Kesesuaian Lahan dengan Teknik Tumpang-tindih disertai Pembobotan:

a.

Buat peta Satuan Lahan.

R

L

A

P

+

C S D
C
S
D

RC LS RS LD AC PS AS PD
RC
LS
RS
LD
AC
PS
AS
PD

b.

Buat kelas harkat parameter yang akan digunakan, beri bobot jika perlu. (Lihat halaman berikut)

Kelas

6Jenis Tanah

Keterangan

Harkat

(Kepekaan Erosi)

Kelas x Bobot 2

1

Aluvial, dsb

Tidak Peka

15

2

Latosol

Agak Peka

30

3

Brown Forest Soil, dsb

Kurang Peka

45

4

Andosol, Laterit, dsb

Peka

60

5

Regosol, Litosol , dsb

Sangat Peka

75

Kelas

Kisaran Lereng

Keterangan

Harkat

(%)

1

0-8

Datar

20

2

8-15

Landai

40

3

15-25

Agak curam

60

4

25-45

Curam

80

5

>45

Sangat curam

100

c. Buat pengharkatan masing-masing Satuan Lahan.

Parameter

 

Satuan Lahan

 

RC

RS

AC

AS

Lereng

80

   

60

Jenis Tanah

75

   

15

Curah hujan

20

   

10

Skor Total

175

   

85

Satuan Lahan adalah bagian dari lahan yang mempunyai karakteristik yang spesifik. Sembarang bagian dari lahan yang menggambarkan karakteristik lahan yang jelas dan nyata, tidak peduli bagaimana caranya dalam membuat batas- batasnya. FAO (1990) menggunakan lereng,

bentuk lahan, jenis tanah, guna lahan eksistiing.

Proses Analisis Kesesuaian Lahan dengan Teknik Tumpang-tindih disertai Pembobotan:

d.

e.

Buat klasifikasi kesesuaian lahan (Lindung, Penyangga, Budidaya)

Total Skor Keterangan >175 Kawasan Lindung, termasuk hutan lindung Parameter yang digunakan: (pengharkatan
Total Skor
Keterangan
>175
Kawasan Lindung, termasuk hutan lindung
Parameter yang digunakan:
(pengharkatan disertai pembobotan)
125-174
Kawasan Fungsi penyangga
Kawasan hutan produksi terbatas
Kelerengan
Jenis Tanah
<124 lereng <15%
Kawasan hutan produksi tetap
Kawasan hutan produksi konversi
Budidaya tanaman tahunan
<124 lereng <8%
Kawasan tanaman semusim dan permukiman

Intensitas Hujan

Tentukan kesesuaian lahan dari masing-masing Satuan Lahan.

Parameter

 

Satuan Lahan

 

RC

RS

AC

AS

Lereng

80

   

60

Jenis Tanah

75

   

15

Curah hujan

20

   

10

Skor Total

175

   

85

Kesesuaian Lahan

Lindung

   

Permukiman dan

Tanaman Semusim

Lereng

Jenis Tanah

Intensitas Hujan

Kelas Lereng

Kisaran Lereng (%)

Keterangan

Harkat Kelas x Bobot 20

 

1

0-8

Datar

20

Bobot 20

2

8-15

Landai

40

 

3

15-25

Agak curam

60

 

4

25-45

Curam

80

 

5

>45

Sangat curam

100

 

Kelas Tanah

Jenis Tanah

Keterangan (Kepekaan Terhadap Erosi)

Harkat Kelas x Bobot 15

 

1

Aluvial, Tanah Glei Planosol Hidromorf Kelabu, Literita Air Tanah

Tidak Peka

15

 

2

Latosol

Agak Peka

30

Bobot 15

3

Brown Forest Soil, Non Calcis Brown, Mediteran

Kurang Peka

45

 

4

Andosol, Laterit, Grumosol,

Peka

60

 

Podsolik

 

5

Regosol, Litosol ,Organosol, Renzina

Sangat Peka

75

 

Kelas Intensitas

Kisaran Curah Hujan (mm/hari hujan)

Keterangan

Harkat Kelas x Bobot 10

Hujan

 

1

8 - 13,6

Sangat rendah

10

 

2

13,6 - 20,7

Rendah

20

Bobot 10

3

20,7 - 27,7

Sedang

30

 

4

27,7 - 34,8

Tinggi

40

 

5

> 34,8

Sangat Tinggi

50

Sumber : SK Menteri Pertanian No 837/KPTS/UM/11/1980

Contoh kasus A

Parameter

Kondisi Lahan

Harkat

Lereng

20%

60

Jenis tanah

Latosol

30

Curah hujan

12 mm/hari hujan

10

 

Jumlah Harkat

100

Lahan A sesuai untuk hutan produksi bebas yang dapat dikonversi / permukiman

Contoh kasus B

Parameter

Kondisi Lahan

Harkat

Lereng

20%

60

Jenis tanah

Andosol

60

Curah hujan

12 mm/hari hujan

10

 

Jumlah Harkat

130

Lahan B sesuai untuk hutan produksi terbatas, tidak cocok untuk permukiman

Contoh kasus C

Parameter

Kondisi Lahan

Harkat

Lereng

20%

60

Jenis tanah

Regosol

75

Curah hujan

12 mm/hari hujan

10

 

Jumlah Harkat

145

Lahan C jika menggunakan jumlah harkat, sesuai untuk hutan produksi terbatas, tapi jika dilihat dari kriteria bahwa tanah regosol dengan lereng >15% harus dijadikan sebagai kawasan lindung, maka peruntukan Lahan C sebaiknya adalah kawasan lindung.

Contoh kasus D

Parameter

Kondisi Lahan

Harkat

Lereng

20%

60

Jenis tanah

Andosol

60

Curah hujan

35 mm/hari hujan

50

 

Jumlah Harkat

170

Lahan D sesuai untuk hutan produksi terbatas.

SOAL LATIHAN:

1. Tentukan Kesesuaian Lahan di Lahan A, B, C, D, E (Tuliskan penghitungan analisisnya di halaman sebalik).

2. Lakukan langkah yang sama pada satuan lahan yang lain.

Latosol kekuningan Regosol ` Podsolik kuning ` ` ` ` Podsolik merah Aluvial kelabu tua
Latosol kekuningan
Regosol
`
Podsolik kuning
`
`
`
`
Podsolik merah
Aluvial kelabu tua
20 mm/hari hujan 25 mm/hari hujan
20 mm/hari hujan
25 mm/hari hujan
>45% 25-45% >65% 15-25% 0-8% 8-15% 15-25%
>45%
25-45%
>65%
15-25%
0-8%
8-15%
15-25%
` A C D ` ` ` ` E F B
`
A
C
D `
`
`
`
E
F
B

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PERTANIAN

Kriteria Teknis Kawasan Pertanian (PermenPU 41/2007):

Kriteria Teknis Kawasan Pertanian (PermenPU 41/2007):

Type Iklim menurut Schmidt & Ferguson

Type Iklim men uru t Schmidt & Ferguson Tipe Iklim Nilai Q (%)   Keadaan Iklim

Tipe Iklim

Nilai Q (%)

 

Keadaan Iklim dan Vegetasi

 

A

< 14,3

Daerah sangat basah, hutan hujan tropika

 

B

14,3 33,3

Daerah basah, hutan hujan tropika

 

C

33,3 60,0

Daerah

agak

basah,

hutan

rimba,

daun

gugur

pada

musim

kemarau

D

60,0 100,0

Daerah sedang, hutan musim

 

E

100,0 167,0

Daerah agak kering, hutan sabana

 

F

167,0 300,0

Daerah kering, hutan sabana

 

G

300,0 700,0

Daerah sangat kering, padang ilalang

 

H

> 700,0

Daerah ekstrim kering, padang ilalang

 

(Q = BK / BB x 100%).

BK = bulan kering, curah hujan <60 mm BB = bulan basah, curah hujan >100 mm BL = bulan lembab, curah hujan 60-100 mm

Penanganan Lahan Pertanian berdasar Kelerengan menurut PermenPU 41/2007

Kriteria Umum Kawasan

Kelerengan dan Penanganan

Pertanian Tanaman Pangan Lahan Basah:

Pola tanam: monokultur, tumpangsari, campuran tumpang gilir;

Ketinggian <1000 m

Tindakan konservasi secara vegetatif: pola tanam sepanjang tahun, penanaman tanaman panen atas air tersedia dengan

Kelerengan <40%

Kedalaman efektif lapisan tanah >30 cm

jumlah dan mutu yang memadai yaitu 5 - 20 L/detik/ha untuk

Curah hujan 1500-4000 mm pertahun

mina padi, mutu air bebas polusi, suhu 23 - 30ºC, oksigen larut 3 -

7 ppm, amoniak 0.1 ppm dan pH 5 - 7;

(Kelerengan <8%)

Tindakan konservasi secara mekanik: pembuatan pematang, teras, dan saluran drainase.

Pertanian Tanaman Pangan Lahan Kering:

Kemiringan 0 - 6%: tindakan konservasi secara vegetatif ringan,

Ketinggian <1000 m

tanpa tindakan konservasi secara mekanik;

Kelerengan <40%

Kemiringan 8 - 15%: Tindakan konservasi secara vegetatif ringan sampai berat yaitu pergiliran tanaman, penanaman menurut kontur, pupuk hijau, pengembalian bahan organik, tanaman penguat keras; Tindakan konservasi secara mekanik (ringan), teras gulud disertai tanaman penguat keras; Tindakan konservasi secara mekanik (berat), teras gulud denganinterval tinggi 0,75 1,5 m

dilengkapi tanaman penguat, dan saluran pembuang air ditanami

Kedalaman efektif lapisan tanah >30 cm

Curah hujan 1500-4000 mm pertahun

(Kelerengan <15%)

rumput.

Kemiringan 15 - 40%: Tindakan konservasi secara vegetatif (berat), pergiliran tanaman, penanaman menurut kontur, pemberian mulsa sisa tanaman, pupuk kandang, pupuk hijau, sisipan

tanaman tahunan atau batu penguat teras dan rokrak; Tindakan konservasi secara mekanik (berat), teras bangku yang dilengkapi tanaman atau batu penguat teras dan rokrak, saluran pembuangan air ditanami rumput.

Penanganan Lahan Pertanian berdasar Kelerengan menurut PermenPU 41/2007

Kriteria Umum Kawasan

Kelerengan dan Penanganan

Pertanian Tanaman Pangan Lahan Basah:

Lihat

halaman sebelumnya

Pertanian Tanaman Pangan Lahan Kering:

Lihat

halaman sebelumnya

Pertanian Tanaman Tahunan/Perkebunan:

Kemiringan 0 -6 %: pola tanam monokultur, tumpang sari, interkultur atau campuran. Tindakan konservasi, vegetatif tanaman penutup tanah, penggunaan mulsa, pengolahan tanah minimum. Tanpa tindakan konservasi secara mekanik;

Ketinggian <1000 m

Kelerengan <40%

Kedalaman efektif lapisan tanah >30 cm

Curah hujan >1500 mm pertahun

Kemiringan 8 - 15%: Pola tanam, monokultur, tumpang sari, interkultur atau campuran; Tindakan konservasi secara vegetatif, tanaman penutup tanah, penggunaan mulsa, pengolahan tanah minimal; Tindakan konservasi secara mekanik, saluran drainase, rokrak teras bangku, diperkuat dengan tanaman penguat atau rumput.

Kemiringan 25 - 40%: Pola tanam, monokultur, interkultur atau campuran; Tindakan konservasi secara vegetatif, tanaman

Memiliki Skor <124 serta cocok bagi tanaman tahunan

penutup tanah, penggunaan mulsa, pengolahan tanah minimal;

Tindakan konservasi secara mekanik, saluran drainase, rokrak

teras individu.

Kesesuaian Lahan Model “Wilayah Tanah Usaha“ Oleh Dr. I. Made Sandy (1977) Model sederhana menggunakan dua komponen:

Ketinggian tempat

Lereng (budidaya <40 o , Lindung > 40 o )

Ketinggian

Perwilayahan

Keterangan

0-2 m

Tanah Usaha Terbatas

Elevasi 0-2 m wajib dilindungi sebagai kawasan perlindungan pantai

2-7

Tanah Usaha Terbatas I

Tambak ikan

Dimungkinkan pengembangan sawah meski hasilnya tak sebaik pada ketinggian di atasmya.

7-25 m

Tanah Usaha Utama 1

Umumnya merupakan daerah padat penduduk, terutama di Pulau Jawa.

Potensi ancaman banjir sangat besar. Garis bendungan pada

ketinggian 25 m. Pada ketinggian tersebut banyak dbuat bendungan untuk pengendalian air sekaligus untuk irigasi

<12,5 m sawah 1xpanen; >12,5m sawah 2xpanen

25-100

Tanah Usaha Utama 1

Guna lahan pertanian lahan kering, perkebunan

Sawah hasilnya masih cukup baik

Banyak permukiman tapi tak sepadat ketinggian di bawahnya

100-500

Tanah Usaha Utama 1

Guna lahan pertanian lahan kering, tanaman keras, buah-buahan, perkebunan

Sawah jika masih ada air

Permukiman mulai jarang, topografi mulai sulit untuk pembuatan jalan

500-1000

Tanah Usaha Utama 2

Bergelombang dan berbukit.

Peralihan iklim panas ke sedang (nb. Suhu di pantai 25-27 o C setiap naik 100 m suhu turun 0,61-1 o )

Padi masih bisa tumbuh meski tidak sebaik di bawah 500 m

Tanah datar yang luas sebaiknya untuk hortikultura dan sayur-sayuran,

tanah bergelombang untuk tanaman keras beriklim sejuk: cengkeh, kopi, kemiri, jeruk

>1000

Tanah Usaha Terbatas

Suhu cukup rendah, beriklim sedang

Tanaman iklim sedang dapat tumbuh dengan baik

Tanah datar luas sangat sesuai untuk bunga-bungaan, sayur-sayuran

dan buah-buahan iklim dingin.

 

>2000 harus ditetapkan sebagai Hutan Lindung

ANALISIS KEMAMPUAN LAHAN

Kemampuan Lahan adalah karakteristik lahan yang mencakup sifat-sifat tanah, topografi, drainase, dan kondisi lingkungan hidup lain untuk mendukung kehidupan atau kegiatan pada suatu hamparan lahan.

Teknik Pemerian : Deskripsi = tabularis

Teknik Pengharkatan: Penjumlahan dan Pengurangan (yang menguntungkan dikurangi yang merugikan)

Teknik Pembandingan: Tabularis

Teknik Pengharkatan: Penjumlahan dan Pengurangan

Faktor Yang Menguntungkan (nilai +)

Faktor Yang Merugikan (nilai -)

Kandungan unsur hara N, P2O5, K2O

Penghambat:

Singkapan batuan

Kelembaban tanah terhadap tanaman

Tekstur, Struktur, Kandungan bahan organik

Kebatuan

Konkresi Muka air tanah Mikro relief Makrorelief Lereng

Kapasitas penyerapan hara Kemasaman (pH), Fraksi Lempung, Bahan Organik

Kedalaman tanah efektif

 

Permeabilitas

Kepekaan tanah terhadap erosi

Bahaya:

Kandungan debu, Bentuk Struktur, Taraf perkembangan struktur

Kekeringan

Kegaraman/salinitas

 

Banjir

Erosi

Kemampuan lahan = Σ(Faktor Menguntungkan) – Σ (Faktor Merugikan)

Faktor Menguntungkan:

Kandungan Unsur Hara (N, P2O5 dan K2O):

Kandungan N (%)

<0,1

amat rendah

harkat 1

0,10,2

rendah

harkat 2

0,20,3

sedang

harkat 3

0,3-0,5

tinggi

harkat 4

>0,75

amat tinggi

harkat 5

Kandungan P2O5 (%)

<0,0021

amat rendah

harkat 1

0,021-0,040

rendah

harkat 2

0,040-0,060

sedang

harkat 3

0,060-0,100

tinggi

harkat 4

>0,100

amat tinggi

harkat 5

Kandungan K2O (%)

<0,0021

amat rendah

harkat 1

0,021-0,040

rendah

harkat 2

0,040-0,060

sedang

harkat 3

0,060-0,100

tinggi

harkat 4

>0,100

amat tinggi

harkat 5

Harkat Kandungan Unsur Hara merupakan penjumlahan harkat kandungan N, P2O5 dan K2O:

<4

harkat 1+

4-7

harkat 2+

8-11

harkat 3+

12-15

harkat 4+

>15

harkat 5+

Kelembaban Tanah Terhadap Tanaman (Tekstur, Struktur, Kandungan bahan organik)

Tekstur Tanah

Kasar

harkat 1

Agak kasar

harkat 2

Sedang

harkat 3

Agak halus

harkat 4

Halus

harkat 5

Struktur Tanah

Butir tunggal

harkat 1

Gumpal/pejal/kubus/prisma

harkat 2

Remah

harkat 3

Kandungan bahan organik

<2

rendah

harkat 1

2-6

sedang

harkat 2

6-10

agak tinggi

harkat 3

10-30

tinggi

harkat 4

>30

harkat 5

Harkat kelembaban tanah terhadap tanaman merupakan penjumlahan harkat dari tekstur tanah, struktur tanah, dan kandungan bahan organik

<4

harkat 1+

4-6

harkat 2+

7-9

harkat 3+

10-11

harkat 4+

>12

harkat 5+

Kapasitas Penyerapan Unsur Hara

Keasaman

<4,5

sangat asam

harkat 1

4,5-5,5

asam

harkat 2

5,5-6,5

agak asam

harkat 3

6,5-7,5

netral

harkat 4

7,5-8,5

agak basa

harkat 3

8,5-9,0

basa

harkat 2

>9,0

sangat basa

harkat 1

Fraksi Lempung (%)

<20

rendah

harkat 1

20-40

sedang

harkat 2

40-60

agak tinggi

harkat 3

>60

tinggi

harkat 4

Bahan Organik

1. Perbandingan C/N

2. Kandungan bahan

<7

rendah

harkat 1

<2

rendah

harkat 1

7-10

sedang

harkat 2

2-6

sedang

harkat 2

10-14

agak tinggi

harkat 3

6-10

agak tinggi

harkat 3

14-20

tinggi

harkat 2

10-30

tinggi

harkat 4

>20

amat tinggi

harkat 1

>30

sangat tinggi

harkat 5

Harkat Kapasitas Penyerapan Unsur Hara:

<5

harkat 1+

5-6

harkat 2+

7-8

harkat 3+

9-10

harkat 4+

>10

harkat 5+

Kedalaman Tanah Efektif (cm)

<25

dangkal

harkat 1

25-50

sedang

harkat 2

>50

dalam

harkat 3

Permeabilitas (cm/jam)

>12,50

cepat/sangat cepat

harkat 1+

6,25-12,50

agak cepat

harkat 2+

2,00-6,25

sedang

harkat 3+

0,50-2,00

agak lambat

harkat 2+

<50

lambat/sangat lambat

harkat 1+

Kepekaan Tanah Terhadap Erosi

1. Kandungan Debu (%)

2. Bentuk Struktur Tanah

>50

tinggi

harkat 1

- lempeng/prisma/tiang/gumpal

harkat 1

30-50

agak tinggi

harkat 2

- butir tunggal

harkat 2

15-30

sedang

harkat 3

- remah

harkat 3

<15

rendah

harkat 4

- kubus

harkat 4

3. Taraf Perkembangan Struktur Tanah

Tanpa struktur

Lemah

Sedang

Kuat

harkat 1

harkat 2

 

harkat 3

Jumah Harkat Kepekaan Tanah Terhadap Erosi

harkat 4

<5

harkat 1+

5-6

harkat 2+

7-8

harkat 3+

9-10

harkat 4+

>10

harkat 5+

Faktor Merugikan: Faktor Penghambat

Batu Besar/Singkapan Batuan (%)

tanpa batu besar

0

harkat 0

Mikrorelief (khusus untuk dataran)

tanpa mikrorelief

0

harkat 0

 

1-10

sedikit

harkat 1-

1-10

sedikit

harkat 1-

10-25

sedang

harkat 2-

10-50

sedang

harkat 2-

>25

banyak

harkat 3-

>50

banyak

harkat 3-

Batu Kecil/Kebatuan (%)

Makrorelief (khusus perbukitan/pegunungan)

tanpa batu kecil

0

harkat 0

datar

harkat 0

1-3

sedikit

harkat 1-

berombak

harkat 1-

3-15

sedang

harkat 2-

bergelombang

harkat 2-

>15

banyak

harkat 3-

Berbukit-bergunung

harkat 3-

Konkresi (khusus untuk dataran (%))

Lereng (khusus perbukitan/pegunungan)

tanpa konkresi

0

harkat 0

<3

datar

harkat 0

1-3

sedikit

harkat 1-

3-8

landai

harkat 1-

3-50

sedang

harkat 2-

8-15

miring

harkat 2-

>50

banyak

harkat 3-

>15

curam

harkat 3-

Muka Air Tanah (khusus untuk dataran (cm)

tanpa glei

harkat 0

>100

dalam

harkat 1-

50-100

agak dalam

harkat 2-

<50

dangkal

harkat 3-

Faktor Merugikan: Faktor Bahaya

Kekeringan (indikator pasir kedalaman <100 cm)

 

<40%

sedikit pasir

harkat 0

40-60%

cukup pasir

harkat 1-

agak banyak pasir

60-80%

harkat 2-

banyak pasir

>80%

harkat 3-

Banjir (bulan per tahun)

   

Erosi

 

0

tanpa

harkat 0

tanpa

harkat 0

<2

jarang

harkat 1-

e1

 

ringan

harkat 1-

2-6

sering

harkat 2-

e2

sedang

harkat 2-

>6

selalu

harkat 3-

e3, e4

berat

harkat 3-

Kadar Garam/Salinitas

   

1. Kadar garam (%)

<0,15

tanpa

harkat 0

0,15-0,35

sedikit

harkat 1-

Harkat

Kadar Garam (Penjumlahan

0,35-0,65

sedang

harkat 2-

>65

banyak

harkat 3-

 

dari harkat kadar garam dengan

 

harkat rata-rata luas wilayah)

2. Rata-rata luas wilayah (%)

 

0

 

harkat 0

0

tanpa

harkat 0

1-2 (-

)

harkat 1-

1-5

sedikit

harkat 1-

3-4 (-

)

harkat 2-

5-35

sedang

harkat 2-

5-6 (-

)

harkat 3-

>35

banyak

harkat 3-

     
   

Kemampuan Lahan (Sumber: Analisis Kemampuan Lahan untuk Pertanian dengan Teknik Penjumlahan-Pengurangan, fakultas Geografi UGM 1994)

Jumlah

Kelas

Arti Kelas Kemampuan

Tanah

harkat

Kemampuan

>20

I

Lahan baik sekali, hampir tidak ada penghambat, dapat digunakan untuk segala macam usaha pertanian

Aluvial (bahan vulkanik), regosol (abu vulkanik) di kaki gunung api

15-19

II

Lahan baik, ada sedikit penghambat, dapat digunakan untuk berbagai usaha pertanian dengan sedikit intensifikasi

Aluvial (bahan tersier) dan latosol (agakkurus), andosol (di lembah) dan non calcc brown (kurang air)

12-14

III

Lahan agak baik, beberapa penghambat memerlukan investasi untuk usaha pertanian

Latosol (vulkanik), bergelombang

8-11

IV

Lahan sedang, beberapa penghambat perlu diatasi untuk suatu usaha pertanian

Mediteran pada gunung api, grumosol di dataran (agak jelek, kurang air)

4-7

V

Lahan agak jelek, beberapa penghambat memerlukan usaha intensifikasi lebeh banyak,usaha pertanian mekanis tidak mungkin

Latosol pada breksi (kurus, banyak tonjolan batu, berbukit)

0-3

VI

Lahan jelek, berbagai penghambat alam membatasi penggunaan lahan untuk pertanian biasa, baik untuk tanaman tahunan, hutan produksi dan peternakan

Regosol dan andosol di kerucut vulkan, renzina dan grumosol di bukit (berbatu, dangkal, peka erosi), podsolik merah kuning di dataran (kurus, masam, jelek, konkresi), organosol eutrof (air tanah, udah terbakar, irreversible)

-3 - 0

VII

Jelek sekali, pertumbuhan tanaman/penggunaan lahan sangat terbatas oleh faktor alam, agak baik untuk tanaman tahunan, hutan produksi.

Podsolik merah kuning di bukit dan lateritik di dataran (kurus, jelek, peka erosi, konkresi, dangkal, curam), organosol, oligotrof (kurus, air tanah, udah terbakar, peka erosi, ireversible)

<= -4

VIII

Lahan amat jelek, faktor-faktor alam tidak memungkinkan untuk suatu usaha pertanian, hanya baik untuk hutan lindung atau margasatwa

Podsol (kurus sekali, masam, jelek, air tanah, peka erosi, konkresi)

Teknik Pembandingan/Tabularis Kemampuan Lahan (Sumber: PermenLH 17/2009) ttg Analisis daya Dukung Lahan)

Kelas

 

Kriteria

Rekomendasi Penggunaan Lahan

I

1.

Tidak mempunyai atau hanya sedikit hambatan yang membatasi

Pertanian:

penggunaannya.

a.

Tanaman pertanian

 

2. Sesuai untuk berbagai penggunaan, terutama pertanian.

semusim.

3. Karakteristik lahannya antara lain: topografi hampir datar - datar,

b. Tanaman rumput.

ancaman erosi kecil, kedalaman efektif dalam, drainase baik, mudah diolah, kapasitas menahan air baik, subur, tidak terancam banjir

c. Hutan dan cagar alam.

II

1.

Mempunyai beberapa hambatan atau ancaman kerusakan yang

Pertanian:

mengurangi pilihan penggunaannya atau memerlukan tindakan

a.

Tanaman semusim.

konservasi yang sedang.

b. Tanaman rumput.

2.

Pengelolaan perlu hati-hati termasuk tindakan konservasi untuk

c. Padang penggembalaan.

mencegah kerusakan.

d. Hutan produksi.

e. Hutan lindung.

f. Cagar alam.

III

1.

Mempunyai beberapa hambatan yang berat yang mengurangi pilihan

1. Pertanian:

penggunaan lahan dan memerlukan tindakan konservasi khusus dan

a. Tanaman semusim.

keduanya.

b. Tanaman yang memerlukan

2.

Mempunyai pembatas lebih berat dari kelas II dan jika dipergunakan

Pengolahan tanah.

untuk tanaman perlu pengelolaan tanah dan tindakan konservasi lebih

c. Tanaman rumput.

sulit diterapkan.

d. Padang rumput.

3.

Hambatan dimaksud pada angka 1 membatasi lama penggunaan

e. Hutan produksi.

bagi tanaman semusim, waktu pengolahan, pilihan tanaman atau

f. Hutan lindung dan cagar

kombinasi dari pembatas tersebut.

alam.

2.

Non-pertanian.

Kelas

 

Kriteria

 

Penggunaan

IV

1.

Hambatan dan ancaman kerusakan tanah lebih besar dari kelas III,

1. Pertanian:

dan pilihan tanaman juga terbatas.

a. Tanaman semusim dan

 

2.

Perlu pengelolaan hati-hati untuk tanaman semusim, tindakan

Tanaman pertanian pada

konservasi lebih sulit diterapkan.

umumnya.

b.

Tanaman rumput.

c.

Hutan produksi.

d.

Padang penggembalaan.

e.

Hutan lindung dan suaka

alam.

2.

Non-pertanian.

V

1.

Tidak terancam erosi tetapimempunyai hambatan lain yang tidak

1.

Pertanian:

mudah untuk dihilangkan, sehingga membatasi pilihan penggunaannya.

a.

Tanaman rumput.

2.

Mempunyai hambatan yang membatasi pilihan macam penggunaan

b.

Padang penggembalaan.

dan tanaman.

c.

Hutan produksi.

3.

Terletak pada topografi datar-hampir datar tetapi sering terlanda

d.

Hutan lindung dan suaka

banjir, berbatu atau iklim yang kurang sesuai.

alam.

2. Non-pertanian

VI

1.

Mempunyai faktor penghambat berat yang menyebabkan

1. Pertanian:

penggunaan tanah sangat terbatas karena mempunyai ancaman kerusakan yang tidak dapat dihilangkan.

a. Tanaman rumput.

 

b. Padang penggembalaan.

2.

Umumnya terletak pada lereng curam, sehingga jika dipergunakan

c. Hutan produksi.

untuk penggembalaan dan hutan produksi harus dikelola dengan baik

d. Hutan lindung dan cagar

untuk menghindari erosi.

alam.

2.

Non-pertanian.

Kelas

 

Kriteria

Penggunaan

VII

1.

Mempunyai faktor penghambat dan ancaman berat yang tidak dapat

a. Padang rumput.

dihilangkan, karena itu pemanfaatannya harus bersifat konservasi. Jika

b. Hutan produksi.

 

digunakan untuk padang rumput atau hutan produksi harus dilakukan pencegahan erosi yang berat.

VIII

1. Sebaiknya dibiarkan secara alami.

a. Hutan lindung.

2. Pembatas dan ancaman sangat berat dan tidak mungkin dilakukan

b. Rekreasi alam.

tindakan konservasi, sehingga perlu dilindungi.

c. Cagar alam.

Kelompok 1 adalah kelas kemampuan lahan yang cocok untuk usaha tani yaitu kelompok I sd IV

Dua kelas pertama (kelas I dan kelas II) merupakan lahan yang cocok untuk penggunaan pertanian

Kelas III sampai dengan kelas VI dapat dipertimbangkan untuk berbagai pemanfaatan lainnya. Meskipun demikian, lahan kelas III dan kelas IV masih dapat digunakan untuk pertanian.

Kelompok 2 adalah kelas kemampuan lahan yang tidak bisa digunakan untuk

usaha tani.

2 (dua) kelas terakhir (kelas VII dan kelas VIII) merupakan lahan yang harus dilindungi atau untuk fungsi konservasi.

Skema Hubungan antara Kelas Kemampuan Lahan dengan Penggunaan Lahan

Kelas

Hutan

Penggembalaan

 

Pertanian

 

Kemampuan

 
                 

Lahan

Lindung/

Produksi

Terbatas

Sedang

Intensif

Terbatas

Sedang

Intensif

Sangat

Cagar Alam

Terbatas

Intensif

I

                 

II

                 

III

                 

IV

                 

V

                 

VI

                 

VII

                 

VIII

                 

Sumber: Rayes (2007) dalam Muta’ali (2012)

Kelas Kemampuan Lahan dalam Tingkat Unit Pengelolaan:

Klasifikasi pada kategori unit pengelolaan memperhitungkan faktor-faktor penghambat yang bersifat permanen atau sulit diubah seperti tekstur tanah, lereng permukaan, drainase, kedalaman efektif tanah, tingkat erosi yang telah terjadi, liat masam (cat clay), batuan di atas permukaan tanah, ancaman banjir atau genangan air yang tetap. Faktor-faktor tersebut digolongkan berdasarkan besarnya intensitas faktorpenghambat atau ancaman

Faktor Penghambat/ Pembatas

 

Kelas Kemampuan Lahan

 

I

II

III

IV

V

VI

VII

VIII

Lereng permukaan (l)

A

B

C

D

A

E

F

G

Kepekaan Erosi (KE)

KE1-2

KE3

KE4-5

KE6

(*)

(*)

(*)

(*)

Tingkat Erosi (e)

e0

e1

e2

e3

(**)

e4

e5

(*)

Kedalaman Tanah (k)

k0

k1

k2

k2

(*)

k3

(*)

(*)

Tekstur Lapisan Atas (t)

t1-3

t1-3

t1-4

t1-4

(*)

t1-4

t1-4

t5

Tekstur Lapisan Bawah (t)

t1-3

t1-3

t1-4

t1-4

(*)

t1-4

t1-4

t5

Permeabilitas Tanah (P)

P2-3

P2-3

P2-4

P1

(*)

(*)

(*)

P5

Drainase (d)

d1

d2

d3

d4

d5

(**)

(**)

d0

Kerikil/Batuan (b)

b0

b0

b1

b2

b3

(*)

(*)

B4

Ancaman Banjir (o)

o0

o1

o2

o3

o4

(**)

(**)

(*)

Garam/Salinitas (g) (***)

g0

g1

g2

g3

(**)

g3

(*)

(*)

Keterangan: (*) = sembarang sifat, (**) = tidak berlaku, (***) umumnya di daerah beriklim kering

KELOMPOK PARAMETER:

Lereng Permukaan (peta topografi)

l0 = (A) = 0-3% : datar.

l1 = (B) = 3-8% : landai/berombak.

l2 = (C) = 8-15% : agak miring/bergelombang.

l3 = (D) = 15-30% : miring berbukit. l4 = (E) = 30-45% : agak curam. l5 = (F) = 45-65% : curam. l6 = (G) = > 65% : sangat curam.

Kepekaan Erosi (uji laboratorium sampel tanah)

KE1 = 0,00-0,10 : sangat rendah KE2 = 0,11-0,20: rendah KE3 = 0,21-0,32:sedang KE4 = 0,33-0,43: agak tinggi KE5 = 0,44-0,55: tinggi KE6 = 0,56-0,64 sangat tinggi

Tingkat Erosi (perhitungan)

e0 = tidak ada erosi. e1 = ringan: < 25% lapisan atas hilang. e2 = sedang: 25-75% lapisan atas hilang, < 25% lapisan bawah hilang. e3 = agak berat: > 75% lapisan atas hilang, < 25% lapisan bawah hilang. e4 = berat: sampai lebih dari 25% lapisan bawah hilang. e5 = sangat berat: erosi parit

Kedalaman sampai Kerikil, Padas (pengukuran lapangan)

k0 = dalam: > 90 cm. k1 = sedang: 90-50 cm. k2 = dangkal: 50-25 cm. k3 = sangat dangkal: < 25 cm.

Tekstur tanah (uji laboratorium sampel tanah)

t1 = halus: liat, liat berdebu. t2 = agak halus: liat berpasir, lempung liat berdebu, lempung berliat, lempung liat berpasir. t3 = sedang: debu, lempung berdebu, lempung. t4 = agak kasar: lempung berpasir. t5 = kasar: pasir berlempung, pasir.

Permeabilitas (uji laboratorium sampel tanah)

p1 = lambat: < 0.5 cm/jam. p2 = agak lambat: 0.5 2.0 cm/jam. p3 = sedang: 2.0 6.25 cm/jam. p4 = agak cepat: 6,25 12,5 cm/jam p5 = cepat: >12,5 cm/jam

Drainase Tanah (pengukuran/pengamatan lapangan)

d0 = berlebihan, air lebih segera keluar dari tanah dan sangat sedikit air yang ditahan oleh tanah sehingga tanaman akan segera mengalami kekurangan air d1 = baik: tanah mempunyai peredaran udara baik. Seluruh profil tanah dari atas sampai lapisan bawah berwarna terang yang seragam dan tidak terdapat bercak-bercak.

d2 =

agak baik: tanah mempunyai peredaran udara baik. Tidak terdapat bercak-bercak berwarna kuning, coklat atau

d3 =

kelabu pada lapisan atas dan bagian atas lapisan bawah. agak buruk: lapisan atas tanah mempunyai peredaran udara baik. Tidak terdapat bercak-bercak berwarna kuning, kelabu, atau coklat. Terdapat bercak-bercak pada saluran bagian lapisan bawah.

d4 = buruk: bagian bawah lapisan atas (dekat permukaan) terdapat warna atau bercak-bercak berwarna kelabu, coklat dan kekuningan.

d5=

sangat buruk: seluruh lapisan permukaan tanah berwarna kelabu dan tanah bawah berwarna kelabu atau terdapat

bercak-bercak kelabu, coklat dan kekuningan.

Ancaman Banjir/Genangan (data sekunder)

o0 =

tidak pernah: dalam periode satu tahun tanah tidak pernah tertutup banjir untuk waktu lebih dari 24 jam.

o1 =

kadang-kadang: banjir yang menutupi tanah lebih dari 24 jam terjadinya tidak teratur dalam periode kurang dari

satu bulan.

o2 =

selama waktu satu bulan dalam setahun tanah secara teratur tertutup banjir untuk jangka waktu lebih dari 24 jam.

o3 =

selama waktu 2-5 bulan dalam setahun, secara teratur selalu dilanda banjir lamanya lebih dari 24 jam.

o4 = selama waktu enam bulan atau lebih tanah selalu dilanda banjir secara teratur yang lamanya lebih dari 24 jam.

Garam/Salinitas (uji lab sampel tanah, umumnya di daerah beriklim kering)

g0 = bebas, 0-15% garam larut pada suhu 25 o g1 = terpengaruh sedikit, 0,15-0,35 garam larut pada suhu 25 o g2 = terpengaruh sedang, 0,35-0,65% garam larut pada suhu 25 o g3 = terengaruh hebat, >65% garam larut pada suhu 25 o

Kerikil/Batuan (pengukuran/pengamatan lapangan)

Batuan Kerikil (diameter 2-7,5 mm jika berbentuk bulat atau sampai 15 cm sumbu panjang jika berbentuk gepeng.

Batuan Kecil (diameter 7,5-25 mm jika berbentuk bulat atau sampai 15-40 cm sumbu panjang jika berbentuk gepeng.

Dalam lapisan 20 cm:

b0 = tidak ada atau sedikit: 0-15% volume tanah. b1 = sedang: 15-50% volume tanah. b2 = banyak: 50-90% volume tanah. b3 = sangat banyak: > 90 % volume tanah.

Batuan Lepas (diameter lebih besar dari 25 cm jika berbentuk bulat atau bersumbu memanjang lebih dari 40 cm jika

berbentuk gepeng) b0 = tidak ada: kurang dari 0.01% luas areal. b1 = sedikit : 0.01%-3% permukaan tanah tertutup. b2 = sedang : 3%-15% permukaan tanah tertutup. b3 = banyak : 15%-90% permukaan tanah tertutup. b4 = sangat banyak: lebih dari 90% permukaan tanah tertutup; tanah sama sekali tidak dapat digunakan untuk produksi

pertanian.

Batuan terungkap merupakan batuan yang tersingkap di atas permukaan tanah, yang merupakan bagian dari satuan besar yang terbenam di dalam tanah (batuan tertutup) b0 = tidak ada: kurang dari 2% permukaan tanah tertutup. b1 = sedikit : 2% - 10% permukaan tanah tertutup. b2 = sedang : 10% - 50% permukaan tanah tertutup. b3 = banyak : 50% - 90% permukaan tanah tertutup. b4 = sangat banyak : lebih dari 90% permukaan tanah tertutup; tanah sama sekali tidak dapat digarap.

Contoh Identifikasi Kelas Kemampuan Lahan

Contoh Identifikasi Kelas Kemampuan Lahan  Pilih kelas yang paling besar pembatasnya: Lahan sampel 1 masuk

Pilih kelas yang paling besar pembatasnya: Lahan sampel 1 masuk dalam kategori Kelas III dengan faktor penghambat kepekaan erosi (ke) dan drainase (d)

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN untuk PERTANIAN

Lahan Sesuai untuk Pertanian

1. Tumpang-tindih dengan penambahan-pembobotan:

• Jumlah bobot terhadap lereng, jenis tanah dan curah hujan <125 (Lihat SK Menteri Pertanian
• Jumlah bobot terhadap lereng, jenis tanah dan curah hujan <125
(Lihat SK Menteri Pertanian no 837/1980 dan 683/1981)

2. Tumpang-tindih hasil 1 (Lahan sesuai untuk budidaya)

dengan: • Kelerengan (simak analisis kemampuan lahan) • 0-3% • 3-8% • 8-15% • 15-30%
dengan:
• Kelerengan (simak analisis kemampuan lahan)
• 0-3%
• 3-8%
• 8-15%
• 15-30%
• >30%
• Ketinggian (simak analisis wilayah tanah usaha) • 7-25 m • 0-7; 25-100 m •
• Ketinggian (simak analisis wilayah tanah usaha)
• 7-25 m
• 0-7; 25-100 m
• 100-500 m
• 500-1000 m
• >1000 m

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN untuk PERMUKIMAN

Proses Analisis dan Kriteria Teknis Kawasan Permukiman:

1. Tumpang-tindih dengan penambahan-pembobotan:

Lahan Sesuai untuk Permukiman

• Jumlah bobot terhadap lereng, jenis tanah dan curah hujan <125 (Lihat SK Menteri Pertanian
• Jumlah bobot terhadap lereng, jenis tanah dan curah hujan <125
(Lihat SK Menteri Pertanian no 837/1980 dan 683/1981)

2. Tumpang-tindih dengan metode boolean:

• Topografi datar sampai bergelombang (kelerengan lahan 0 - 25%); Sumber lain (Muta’ali, 2012) menyarankan
• Topografi datar sampai bergelombang (kelerengan lahan 0 - 25%);
Sumber lain (Muta’ali, 2012) menyarankan kelerengan lahan ≤ 15%
• Tidak berada pada kawasan lindung; • Tidak berada pada daerah rawan bencana (longsor, banjir,
• Tidak berada pada kawasan lindung;
• Tidak berada pada daerah rawan bencana (longsor, banjir, erosi, abrasi);
• Tidak berada pada wilayah sempadan sungai/pantai/waduk/
danau/mata air/saluran pengairan
• Bukan tanah organosol, glay humus, laterit air tanah atau jenis tanah
dengan kadar liat tinggi
• Tidak berada di jalur rel kereta api; daerah aman penerbangan;
• Bukan sawah irigasi teknis.
• Bukan sawah irigasi teknis.

3. Pastikan:

• Tersedia sumber air, baik air tanah maupun air yang diolah oleh penyelenggara dengan jumlah
• Tersedia sumber air, baik air tanah maupun air yang diolah oleh
penyelenggara dengan jumlah yang cukup. Untuk air PDAM suplai air
60 liter/org/hari - 100 liter/org/hari;
• Drainase baik sampai sedang;

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN untuk PERMUKIMAN

1. Analisis Kesesuaian Lahan dengan Teknik Tumpang-tindih Penambahan-

Pembobotan menghasilkan peta kesesuaian untuk budidaya (skor <125)

2. Analisis Kesesuaian Lahan dengan Teknik Tumpang-tindih Boolean:

Peta yang ditumpang tindih:

Peta Lahan Sesuai untuk Budidaya

Peta Guna Lahan Saat Ini (Singkirkan lahan sawah irigasi teknis)

Peta Lereng (Singkirkan lahan dengan kelerengan >15%, sumber lain menggunakan kriteria >25%)

Peta Kawasan Lindung (Singkirkan lahan yang harus dilindungi)

Hasil:

Peta Lahan Sesuai untuk Permukiman yang tidak berada di kawasan lindung dan sawah beririgasi teknis

dengan kelerengan <15%.

3. Yakinkan hasil kesesuaian lahan permukiman yang dIperoleh dari langkah 2 di atas dengan informasi tentang kemudahan mendapatkan air bersih dan drainase.

Lahan datar (0-15%) kemampuan drainasenya sedang, lahan bergelombang (15-

40%) kemampuan drainasenya baik (Muta’ali 2012, halaman 208)

REFERENSI TAMBAHAN UNTUK KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN

Contoh Proses Analisis Kesesuaian Lahan Untuk Permukiman

Contoh Proses Analisis Kesesuaian Lahan Untuk Permukiman Sumber: Nusha, Fakultas Geografi, UMS, 2009, Evaluasi kesesuaian

Sumber: Nusha, Fakultas Geografi, UMS, 2009, Evaluasi kesesuaian lahan untuk lokasi permukiman diKecamatan selogiri kabupaten wonogiri Propinsi jawa tengah

diKecamatan selogiri kabupaten wonogiri Propinsi jawa tengah Sumber: Setyowati, Geografi-FIS UNNES, 2007: Kajian Evaluasi

Sumber: Setyowati, Geografi-FIS UNNES, 2007: Kajian Evaluasi Kesesuaian Lahan Permukiman Dengan Teknik GIS)

Contoh Parameter Yang Digunakan pada Analisis Kesesuaian Lahan Untuk

Permukiman Oleh Fajar Dania Nusha K, Fakultas Geografi UMS, 2009

No

Data /parameter

Keterangan

1

Kemiringan Lereng

Sudut lereng: semakin datar lereng semakin mudah dalam penempatan pondasi bangunan dan semakin rendah biaya pembangunan. Dihitung dari peta topografi

dan survei lapangan.

2

Kerapatan Alur Sungai

Kedalaman dan panjang alur: semakin renggang alur sungai semakin kecil resiko bahaya banjir. Dihitung dari peta topografi dan survei lapangan.

3

Banjir atau Penggenangan

Frekuensi banjir: semakin jarang banjir semakin nyaman untuk bermukim. Survei lapangan, wawancara dengan penduduk.

4

Erosi Permukaan

Kenampakan erosi: semakin bebas erosi semakin nyaman untuk bermukim. Survei

lapangan identifikasi ada tidaknya singkapan batuan, alur/parit akibat air permukaan, kenampakan akar tanaman

5

Bahaya Longsor

Gerakan massa batuan. Semakin stabil semakin aman untuk bermukim. Diidentifikasi dari peta topografi, jenis tanah/batuan dan survei lapangan.

6

Drainase

Genangan air: tanah lembab tergenang tidak sehat untuk bermukim. Survei

lapangan.

7

Kekuatan Batuan

Batuan yang kuat akan menopang pondasi bangunan dengan kokoh. Survei lapangan, test kekuatan batuan dengan pukulan.

8

Pelapukan Batuan

Batuan sangat lapuk kuang kuat menopang bangunan di atasnya. Survei lapangan, pengamatan kesegaran batuan.

9

Daya Dukung Tanah

Kekuatan tanah menahan beban. Pengukuran lapangan menggunakan

penetrometer

10

Kedalaman Air Tanah

Kemudahan mendapatkan air tanah dangkal. Survei lapangan, pengukuran pada sumur yang ada, pengeboran.

11

Tekstur Tanah

Tanah yang mudah kembang-kerut akan cepat merusak bangunan di atasnya. Survei laboratorium dari sampel.

1. Kemiringan lereng

Sudut Lereg

Kriteria

Nilai

0

- 2

Datar

5

2

- 8

Landai

4

8

- 21

Miring

3

21 - < 40

Terjal

2

>

40

Sangat terjal

1

2. Alur sungai

Kedalaman Alur Sungai

Jumlah Alur Sungai

Nilai

 

< 1

0 1

5

2

4

2 4

4

5

8

5 10

3

9

15

11 15

2

>

16

> 15

1

3. Kerawanan banjir/genangan