Anda di halaman 1dari 1

BAB I PENDAHULUAN

1. 1

LATAR BELAKANG Menurut World Health Organization (WHO) 50 juta penduduk di seluruh

dunia mengalami epilepsi, 37 juta diantaranya tergolong epilepsi primer dan sisanya adalah epilepsi sekunder. Estimasi WHO pada tahun 2001 prevalensi epilepsi aktif ialah 8,2 per 1000 penduduk, Sedangkan estimasi prevalensi terjadinya epilepsi di Amerika Serikat ialah 25.000-40.000 orang per populasi setiap tahunnya.1 Berdasarkan definisi International League Against Epilepsi (ILAE) epilepsi merupakan kejang yang terjadi secara berulang-ulang dalam 24 jam dan pasien dalam keadaan sadar pada periode bebas kejang. Epilepsi merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan (seizure) berulang sebagai akibat dari adanya gangguan fungsi otak secara intermitten yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik abnormal dan berlebihan di neuro-neuron secara paroksismal, didasari oleh berbagai faktor etiologi. Bangkitan epilepsi adalah manifestasi klinik dari bangkitan serupa (stereotipik), berlangsung secara mendadak dan sementara dengan atau tanpa perubahan kesadaran, disebabkan oleh hiperaktivitas listrik sekelompok sel saraf di otak. 2 Lebih dari 5% populasi didunia mungkin mengalami satu kali kejang dalam hidup mereka. Kurang lebih sebanyak 60 juta orang didunia menderita epilepsy. Anak-anak dan remaja lebih cenderung menderita epilepsy dengan sebab yang tidak diketahui atau murni genetic daripada orang dewasa. Epilepsy dapat mulai terjadi pada semua usia. Pada penelitian terbaru memperlihatkan bahwa 70% kejang yang terjadi pada anak-anak dan dewasa yang baru terdiagnosis epilepsy dapat dikontrol dengan baik oleh pengobatan. Dan 30% orang yang mengalami kejang tidak memberikan respon yang baik dengan pengobatan yang tersedia.3