Anda di halaman 1dari 10

Erik Erikson Erik Homburger Erikson lahir pada tahun 1902 di Jerman.

Ayahnya seorang Protestan Denmark, dan Ibunya seorang Yahudi Denmark, berpisah sebelum ia lahir, dan ia besar di dalam rumah ibunya dan ayah tiri berkebangsaan Yahudi-Jerman, Theodore Homburger, seorang dokter pediatric. Erikson belajar sebagai ahli psikoanalisis awan di Eropa dan disekolahkan di metode pendidikan Montessori. Erikson berimigrasi ke Amerika Serikt pada tahun 1933. Ia bekerja di Austen Riggs Center di Stockbridge, Massachusetts, dan melakukan penelitian di Universitas Harvard, Yale, dan di University of California di Berkeley. Sebagai hasil dari penelitiannya tentang perkembangan psikologis di tahun 1930an dan 1940-an, termasuk karya anropologis dengan suku Indian Sioux di Dakota Selatan dan Indian Yurok di California Utara, bukunya Childhood and Society diterbitkan pada tahun 1950. Di dalam buku itu ia mengajukan teori perkembangan psikososial yang menggambarkan langkah-langkah penting pada hubungan seseorang dengan dunia social, didasarkan pada saling peran antara biologi dan masyarakat. Erikson sangat mengenali psikologi penganut Freud tetapi menambahkan pada teori seksualitas infantile dari Sigmund Freud dengan memusatkan pada perkembangan anak setelah pubertas. Erikson percaya bahwa kepribadian manusia ditentukan bukan hanya oleh pengalaman masa anak-anak tetapi juga oleh pengalaman masa dewasa. Erikson menyatakan bahwa: Jika segala sesuatunya dikembalikan ke masa anak-anak, segala sesuatu adalah kesalahan orang lain dan menyerahkan tanggung jawab untuk seseorang adalah merusak. Yang paling penting, Erikson menyusun teori perkembangan manusia yang melingkupi keseluruhan rentang siklus kehidupan, mulai dari masa bayi dan masa anak-anak sampai masa lanjut usia.

Stadium dari Siklus Kehidupan Erikson menggambarkan delapan stadium siklus kehidupan. Stadium ditandai oleh satu atau lebih krisis internal, yang didefinisikan sebagai titik balik suatu periode di mana seseorang berada didalam kerentanan yang meningkat. Idealnya, sesuatu krisis diatasi secara berhasil, dan orang mendapatkan kekuatan dan mampu untuk pindah ke stadium selanjutnya.

Stadium Erikson tidak terpaku pada waktu. Perkembangan adalah kesinambungan: kendatipun stadium tertentu menguasai suatu waktu tertentu, orang mungkin mempunyai masalah sisa yang dibawa dari satu stadium ke stadium selanjutnya atau mungkin didalam stress berat dan regrasi ke stadium yang lebih awal secara keseluruhan atau sebagian. Batasan waktu yang dituliskan di bawah ini mencerminkan suatu perkiraan yang disetujui oleh sebagian besar peneliti dalam bidang ini.

Stadium 1. Kepercayaan dasar lawan ketidakpercayaan dasar (basic trust versus basic mistrust). (sejak lahir sampai kira-kira usia 1 tahun) Kepercayaan lawan ketidakpercayaan adalah krisis pertama yang harus dihadapi oleh bayi. Erikson menulis di dalam Growth and Crisis of the Health Personality: Untuk komponen pertama dari kepribadian yang sehat saya menunjuk rasa kepercayaan dasar yang saya pikir merupakan suatu sikap pada seseorang dan dunia yang didapatkan dari pengalaman dalam tahun pertama kehidupan. Kepercayaan adalah harapan bahwa kebutuhan seseorang akan diperhatikan dan dunia atau pengasuhnya dapat dipercaya. Periode ini bertepatan dengan stadium perkembangan oral dari Freud, di mana mulut merupakan zona tubuh yang paling sensitif. Menemukan putting payudara, menghisap, dan memasukkan makanan memenuhi kebutuhan primer bayi. Perhatian yang penuh dari ibu terhadap kebutuhan tersebut yang menimbulkan kepercayaan, selanjutnya meletakkan dasar untuk harapan positif bayi di masa mendatang terhadap dunia. Erikson menambahkan istilah sensorik pada stadium oral dari Freud (disebutnya sebagai oral-sensorik) karena orang tua juga mengikuti indra bayi (penglihatan, pengecapan, pencium, peraba dan pendengaran). Melalui interaksi tersebut, bayi mengembangkan perasaan kepercayaan bahwa keinginannya akan dipuaskan atau jika ibunya tidak memperhatikan, bayi mengembangkan rasa ketidakpercayaan bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. KRISIS ORAL. Pada setengah bagian kedua tahun pertama, terjadi krisis oral. Pada saat itu tersebut gigi bayi tumbuh, dan dorongan untuk menggigit terjadi. Bayi berkembang dari semata-mata pasif menjadi semakin aktif. Tetapi, jika

bayi menggigit terlalu aktif, putting payudara dilepaskan. Respons ibu sebagian adalah dipengaruhi perilaku anak, dan bayi belajar bahwa ia harus mengontrol dorongan untuk mengigit. Sebagai akibatnya, bayi belajar bahwa mereka dapat mempengaruhi lingkungan, dan mereka mulai mengembangkan rasa dalam dirinya sendiri sebagai individu yang terpisah dari lingkungan. Di dalam kultur sekarang ini, penyapihan arti payudara atau botol dimulai pada akhir fase ini. Erikson percaya bahwa perpisahan adalah dasar dari rasa sedih, nostalgia atau kerinduan. Tetapi, jika kepercayaan adalah dasar dari kuat, anak mengembangkan pengertian harapan, optimism, dan kepercayaan diri. Seorang ibu atau pengasuh yang mencintai dengan penuh kasih sayang yang memberikan perawatan yang konsisten dan dengan kualitas yang baik memberikan dasar untuk perkembangan kepercayaan. Menurut Erikson, pencapaian sosial pertama dari bayi adalah kemampuannya untuk membiarkan ibunya di luar jangkauan penglihatannya tanpa kecemasan atau kemarahan yang tidak semestinya. Hal tersebut terjadi karena ibu menjadi suatu kepastian inti (inner certainty) di dalam gambaran mental bayi. Konsep yang sejalan adalah konsep dari Jean Piaget mengenai keabadian objek (object permanence) di mana kemampuan anak untuk mempertahankan citra mental seseorang atau objek, bahkan seseorang atau objek tersebut tidak terlihat dan dengan konsep Margaret Mahler tentang keteguhan objek (object constancy), dimana anak mempunyai gambaran mental tentang ibunya sebagai dapat dipercaya dan stabil. (Fase perkembangan tersebut terjadi pada usia 24 sampai 36 bulan, menurut Mahler).

Stadium 2. Otonomi lawan rasa malu dan ragu-ragu (autonomy versus shame and doubt). (kira-kira usia 1 tahun sampai 3 tahun) Otonomi merupakan rasa penguasaan anak terhadap dirinya sendiri dan terhadap dorongan dan desakannya. Anak yang baru belajar berjalan mendapatkan rasa bahwa mereka terpisah dari yang lainnya. Saya, kamu, dan milikku adalah kata-kata yang sering digunakan oleh anak-anak selama periode ini. anak memiliki pilihan mempertahankan atau melepaskan, bekerja sama atau keras kepala. Periode ini bertepatan dengan stadium perkembangan anal dari Freud. Bagi Erikson, periode ini adalah waktu untuk anak menahan fesesnya (holding in) atau mengeluarkan feses (letting go); kedua perilaku tersebut mempunyai pengaruh pada ibu.

Anak-anak dalam tahun kedua dan ketiga kehidupannya belajar untuk berjalan sendirian, makan sendiri, mengontrol sfingter anal, dan untuk berbicara. Maturasi muskular tersebut menentukan sifat stadium perkembangan ini. jika orang tua mengizinkan anak untuk berfungsi secara otonom dan bersikap membantu tanpa bersikap overprotektif, anak mendapatkan kepercayaan diri dan merasa bahwa mereka dapat mengontrol dirinya sendiri dan dunianya. Tetapi, jika anak dihukum karena bersikap otonom atau dikontrol secara berlebihan, mereka merasa marah dan dipermalukan. Jika orang tua menunjukkan persetujuan tentang control diri sendiri, harga diri anak meningkat, dan rasa kebanggaan berkembang. Control yang berlebihan dari orang tua atau anak yang kehilangan control diri, disebut juga impotensi muskular dan anal oleh Erikson, menyebabkan rasa ragu-ragu dan malu. Rasa malu menyatakan secara tidak langsung bahwa seseorang dipandang benci oleh dunia luar. Hal ini menggali perasaan anak yang merasa kecil saat berdiri tegak untuk pertama kalinya. Karena merasa kecil, anak mudah merasa malu oleh pengalaman pengasuhan orang tua yang kurang.

Stadium 3. Inisiatif lawan rasa bersalah (initiative versus guilt). (usia 3-5 tahun) Stadium ini berhubungan dengan fase falik-oedipal dari Freud. Selama periode ini, anak mengembangkan rasa ingin tahu tentang seksual yang dimanifestasikan terlibat dalam permainan seks kelompok atau menyentuh genitalianya sendiri atau teman sebayanya. Jika orang tua tidak membuat masalah tentang dorongan masa anak-anak tersebut (Erikson memberi contoh ini: Jika kamu memegangnya, nanti dipotong oleh dokter), dorongan akhirnya ditekan dan tampak kembali selama masa remaja sebagai bagian dari pubertas. Jika orang tua terlalu banyak mempersalahkan dorongan tersebut, anak dapat jadi terhambat secara seksual. Saat anak mendekati akhir tahun ketiga, mereka mampu untuk memulai akivitas motorik maupun intelektual. Apakah inisiatif diperkuat adalah tergantung pada berapa banyak kebebasan yang diberikan pada anak dan bagaimana baiknya keingintahuan intelektual mereka dipuaskan. Jika anak dibuat untuk merasa tidak mampu tentang perilaku atau minatnya, mereka mungkin keluar dari periode ini dengan rasa bersalah tentang aktivitas yang berasal dari inisiatif diri sendiri. Konflik di sekitar inisiatif dapat menghalangi

anak yang sedang berkembang untuk mengalami potensi sepenuhnya dan dapat menggangu perasaan ambisi meraka, yang berkembang selama stadium ini. Anak mampu untuk bergerak secara mandiri dan aktif pada akkhir stadium ini. bermain dengan teman sebayanya, anak belajar bagaimana untuk berinteraksi dengan orang lain. Jka fantasi yang agresif telah ditangani dengan tepat (tidak dihukum maupun didorong), anak mengembangkan rasa inisiatif dan ambisi. Pada akhir stadium inisiatif lawan bersalah, kesadaran anak (superego dari Freud) ditegakkan. Anak belajar tidak hanya bahwa terdapat batas-batas terhadap perilaku sandiwara seseorang (sebagai contoh, bahwa anak laki-laki tidak dapat tidur dengan ibunya) tetapi juga dorongan agresif dapat diekspresikan dalam cara yang konstruktif, seperti persaingan yang sehat, permainan, dan menggunakan mainan. Perkembangan suatu kesadaran menentukan sifat perasaan normal tentang benar dan salah. Tetapi hukuman yang berlebihan dapat membatasi imajinasi dan inisiatif anak. Anak yang mengembangkan superego yang terlalu kuat, anak dengan kualitas semua atau tidak sama sekali, dapat menuntut sebagai orang dewasa bahwa orang lain harus mamatuhi peraturan moral mereka dan dengan demikian, dapat menjadi berbahaya bagi dirinya sendiri dan orang lain. Jika krisis inisiatif diselesaikan dengan berhasil, rasa tanggung jawab, dapat diandalkan, dan disiplin diri berkembang.

Sadium 4. Industri lawan inferioritas (industry versus inferiority). (Usia 6-11 tahun) Stadium ini periode usia sekolah, selama anak mulai berperan serta di dalam program belajar yang tersusun. Stadium ini adalah ekuivalen dengan periode latensi dari Freud, di mana dorongan biologis adalah terhenti dan interaksi dengan teman sebaya adalah kuat. Di dalam semua kultural, anak mendapatkan instruksi formal pada usia kira-kira 6 tahun; di dalam kultur Barat, anak belajar untuk menjadi terpelajar dan teknis. Pada masyarakat lain, belajar dapat termasuk menjadi akrab dengan perkakas dan senjata. Industri, yaitu kemampuan untuk bekerja dan mendapatkan keterampilan dewasa, adalah kunci dari stadium ini. anak-anak belajar bahwa mereka mampu untuk membuat sesuatu dan yang paling penting adalah mampu untuk

menguasai dan menyelesaikan tugasnya. Jika ditekankan terlalu besar pada aturan-aturan, kaidah-kaidah, seharusnya dan semestinya, anak mengembangkan perasaan kewajiban secara berlebihan terhadap dorongan bekerj yang alamiah. Anak yang produktif belajar kenikmatan kompetisi kerja dan kebanggaan dalam melakukan sesuatu yang baik. Perasaan ketidakmampuan dan inferioritas, suatu hasil negatif yang potensial dari stadium ini, disebabkan oleh beberapa sumber: Anak-anak mungkin dibedakan dalam sekolah; anak-anak mungkin dikatakan bahwa mereka kurang cerdas; anak-anak mungkin dilindungi secara berlebihan di rumah atau sangat tergantung pada emosional keluarganya; anak-anak mungkin membandingkan dirinya sendiri tidak baik dengan orang tuanya yang berjenis kelamin sama. Guru yang baik dan orang tua yag baik yang mendorong anak ke nilai-nilai ketekunan dan produktivitas dan gigih dalam usaha yang sulit adalah benteng terhadap rasa inferioritas. Apabila Freud mendapatkan sebagian besar kesalahan atau pujian untuk perkembangan anak dalam tanggungan orang tua, Erikson menekankan situasi social yang sensitif dapat menetralkan sikap orang tua yang tidak mendukung. Sebaliknya, lingkungan sekolah yang mencemarkan atau tidak menguntungkan anak dapat menghilangkan harga diri anak, bahkan jika orang tuanya menghargai sikap ketekunan anaknya di rumah.

Stadium 5. Identitas lawan difusi peran (identity versus role diffusion). (Usia 11 tahun sampai akhir masa remaja) Mengembangkan rasa identitas adalah tugas utama dari periode ini, yang bertepatan dengan masa pubertas dan masa remaja. Identitas didefinisikan sebagai karakteristik yang membentuk seseorang dan ke mana tujuan mereka. Identitas yang sehat dibangun pada keberhasilan mereka melewati stadium yang lebih awal. Bagaimana keberhasilan mereka mendapatkan kepercayaan, otonomi, inisiatif, dan industry mempunyai banyak pengaruh dengan perkembangan rasa identitas. Identifikasi dengan orang tua atau pengganti orang tua yang sehat mempermudah proses. Identitas berarti suatu rasa kekompakan inti dengan ide dan nilai-nilai kelompok sosial. Seorang remaja adalah suatu penundaan psikososial antara masa anak-anak dan masa remaja; selama penundaan tersebut, berbagai peranan diuji. Remaja mungkin melakukan beberapa kesalahan awal sebelum

memutuskan suatu pekerjaan atau dapat keluar dari sekolah, dan kembali di kemudian hari untuk menyelesaikan pendidikannya. Nilai moral mungkin berubah, tetapi akhirnya suatu sistem etika digabungkan ke dalam kerangka kerja organisasi logis. KRISIS IDENTITAS. Suatu krisis identitas terjadi pada akhir masa remaja. Erikson menyebutkan sebagai suatu krisis normatif, karena merupakan suatu peristiwa yang normal. Kegagalan untuk mengatasi stadium ini meninggalkan anak remaja tanpa identitas yang kokoh; orang menderita difusi identitas atau kebingungan peran, yang ditandai dengan tidak memiliki rasa percaya diri dan kebingungan tentang posisinya di dunia. Kebingungan peran (role confusion) dapat bermanifestasi dalam kelainan perilaku tertentu seperti melarikan diri, kriminalitas, dan psikosis yang jelas. Masalah dalam identitas jenis kelamin (gender identity) dan peranan seksual menjadi tampak pada saat ini. Anak remaja mungkin bertahan terhadap kebingungan peran dengan bergabung dalam kelompok kecil atau pemujaan atau dengan mengidentifikasi dengan pahlawan-pahlawan rakyat.

Stadium 6. Keintiman lawan absorpsi diri atau isolasi (intimacy versus self absorption or isolation). (Usia 21-40 tahun) Periode ini dimulai dari masa remaja akhir sampai masa usia pertengahan awal. Erikson menyatakan bahwa konflik psikososial yang penting dapat timbul selama stadium ini dan seperti pada stadium sebelumnya, keberhasilan atau kegagalan tergantung pada bagaimana baiknya dasar telah diletakkan dalam periode yang lebih awal dan bagaimana dewasa muda berinteraksi dengan lingkungan. Keintiman hubungan seksual, persahabatan, dan semua pergaulan yang dalam adalah tidak menakutkan dengan krisis identitas yang telah terpecahkan. Sebaliknya, orang yang mencapai tahun dewasa dalam keadaan kebingungan peran yang masih terjadi adalah tidak mampu untuk menjadi terlibat dalam hubungan yang kuat dan lama. Tanpa seorang teman atau pasangan perkawinan, seseorang dapat menjadi terabsorpsi dengan dirinya sendiri dan menuruti kata hatinya sendiri; sebagai akibanya, suatu perasaan terisolasi dapat tumbuh sampai proporsi yang berbahaya. Di dalam keintiman yang sesungguhnya terdapat hubungan satu sama lain. Kata tersebut mengingatkan stadium pertama dalam kehidupan. Jika anak

mencapai inisiatif dalam genitalitas, kenikmatan sensual pada anak-anak bergabung dengan ide orgasme genital, dan dewasa muda adalah mampu untuk bercinta dan membagi cinta dengan orang lain. Melalui krisis keintiman lawan isolasi, seseorang lebih mementingkan eksklusivitas ketergantungn yang lebih awal dan mendapatkan hubungan yang saling menguntungkan dengan kelompok sosial yang lebih luas dan bermacam-macam. Erikson mengutip pandangan Freud bahwa seseorang yang normal harus mampu mencintai dan bekerja (lieben und arbeiten). Demikian juga, Erikson percaya bahwa pekerjaan yang berarti, pemanfaatan waktu luang, dan reaksi di dalam hubungan yang penuh kasih sayang adalah impian.

Stadium 7. Generativitas lawan stagnasi (generativity versus stagnation) (usia 40 65 tahun) Selama dasawarsa yang terentang dalam tahun-tahun paruh baya, orang dewasa memilih antara generativitas dan stagnasi. Generativitas bukan hanya mempermasalahkan sesorang memiliki atau membesarkan anak-anak tetapi juga termasuk minat yang vital terhadap lingkungan di luar rumah dalam membentuk dan memimpin generasi yang akan datang atau memperbaiki masyarakat. Orang yang tanpa anak dapat bersifat generatif jika mereka mengembangkan rasa altruism (mementingkan kepentingan orang lain) dan kreativitas. Tetapi sebagian besar orang, jika mampu, ingin melanjutkan kepribadian dan energinya dalam menghasilkan dan perawatan keturunannya. Tetapi, menginginkan atau memiliki anak, tidak memastikan generativitas. Orang tua harus mencapai identitasnya sendiri secara berhasil untuk dapat benar-benar generatif. Orang dewasa yang tidak mempunyai minat dalam memimpin atau membentuk generasi yang mendatang kemungkinan mencari secara obsesif keintiman yang tidak benar-benar intim. Orang tersebut kemungkinan menikah dan bahkan menghasilkan anak-anak tetapi semuanya dalam suatu kepompong masalah diri sendiri dan isolasi. Orang tesebut memanjakan dirinya sendiri seakan-akan mereka adalah anak-nak dan menjadi asik dengan dirinya sendiri. Sebenarnya, orang tua yang tidak benar-benar yakin bahwa kehidupan didalam lingkungan tertentu adalah bermanfaat mungkin menemukan bahwa

anak-anak mereka menyerap pesan tersebut hanya terlalu banyak, hasilnya adalah tidak mempunyai cucu-cucu. Stagnasi adalah suatu keadaan mandul. Ketidakmampuan untuk mengatasi tidak adanya kreativitas adalah berbahaya karena orang tidak mampu untuk menerima pada akhirnya tidak ada ide bahwa kematian adalah bagian yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan.

Stadium 8. Integritas vs keputusasaan dan isolasi (lebih dari usia 65 tahun) Usia tua dalah stadium ke-8 dari siklus kehidupan Erikson. Stadium digambarkan sebagai konflik antara integritas (rasa kepuasan yang dirasakan seseorang sebagai pencerminan kehidupan yang produktif) dan keputusasaan (rasa bahwa kehidupan mempunyai sedikit tujuan atau arti). Masa dewasa akhir dapat merupakan suatu periode kesenangan suatu waktu untuk bersenangsenang dengan cucu, untuk mengingat usaha besar seseorang, dan kemungkinan untuk melihat buah yang dihasilkan seseorang digunakan secara baik oleh generasi yang lebih muda. Integritas memungkinkan penerimaan tempat di dalam siklus kehidupan pengetahuan bahwa kehidupan seseorang adalah tanggung jawabnya sendiri. Terdapat suatu penerimaan tentang siapa dan dimana orangtua seseorang dan pengertian bagaimana mereka menjalani kehidupannya. Tanpa keyakinan bahwa kehidupan seseorang telah berarti dan seseorang telah meberikan sumbangan, baik dengan menghasilkan anak-anak yang senang atau dengan memberi pada generasi selanjutnya, orang lanjut usia merasa takut akan kematian dan mempunyai rasa putus asa atau muak. Orang yang membenci orang lain atau orang yang merendahkan orang lain berada dalam keadaan putus asa. Beberapa waktu yang lalu, Erikson menulis tentang masalah orang yang berusia di atas 85 tahun yang harus menyeimbangkan otonomi dengan kebutuhan nyata untuk pertolongan (sebagai contoh, bantuan fisik dan ekonomi) setiap orang harus mengenali bahwa menjadi orang tua memerlukan persiapan yang aktif, yang harus dimulai pada stadium kehidupan yang lebih awal. Karena masyarakat belum disiapkan untuk memenuhi kebutuhan orang yang sangat lanjut usia, tanggung jawab terbesar tetap di tangan individu.

Di dalam kata-kata kesimpulan tentang stadium ini dalam childhood and society, Erikson menulis hal berikut ini : anak-anak yang sehat tidak akan merasa takut akan kehidupan jika orangtuanya mempunyai integritas yang cukup untuk tidak merasa takut mati.