Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Dalam aliran psikoanalisis dari Sigmund Freud, mekanisme pertahanan

ego adalah strategi psikologis yang dilakukan seseorang, sekelompok orang, atau bahkan suatu bangsa untuk berhadapan dengan kenyataan dan mempertahankan citra-diri. Orang yang sehat biasa menggunakan berbagai mekanisme pertahanan selama hidupnya. Mekanisme tersebut menjadi patologis bila penggunaannya secara terus menerus membuat seseorang berperilaku maladaptif sehingga kesehatan fisik dan/atau mental orang itu turut terpengaruhi. Kegunaan mekanisme pertahan ego adalah untuk melindungi pikiran/diri/ego dari kecemasan, sanksi sosial atau untuk menjadi tempat "mengungsi" dari situasi yang tidak sanggup untuk dihadapi. Mekanisme pertahanan dilakukan oleh ego sebagai salah satu bagian dalam struktur kepribadian menurut psikoanalisis Freud selain id, dan super ego. Mekanisme tersebut diperlukan saat impuls-impuls dari id mengalami konflik satu sama lain, atau impuls itu mengalami konflik dengan nilai dan kepercayaan dalam super ego, atau bila ada ancaman dari luar yang dihadapi ego. Faktor penyebab perlunya dilakukan mekanisme pertahanan adalah kecemasan. Bila kecemasan sudah membuat seseorang merasa sangat terganggu, maka ego perlu menerapkan mekanisme pertahanan untuk melindungi individu. Rasa bersalah dan malu sering menyertai perasaan cemas. Kecemasan dirasakan sebagai peningkatan ketegangan fisik dan mental. Perasaan demikian akan terdorong untuk bertindak defensif terhadap apa yang dianggap

membahayakannya. Penggunaan mekanisme pertahanan dilakukan dengan membelokan impuls id ke dalam bentuk yang bisa diterima, atau dengan tanpa disadari menghambat impuls tersebut.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian Mekanisme pertahanan ego Menurut Sigmund Freud, Mekanisme Pertahanan Ego (MPE) bersumber dari bawah sadar (unconscious) yang digunakan Ego untuk mengurangi konflik antara dunia internal seseorang dengan realitas eksternal. Fungsi pertama dan utama defense mechanism adalah untuk mempertahankan diri dalam menghadapi realitas eksternal yang penuh tantangan. Bila realitas eksternal menuntut terlalu banyak, melebihi kapasitas diri untuk mengatasinya, maka kepribadian akan mengaktifkan defense mechanism. Begitu pula sebaliknya, bila hasrat dan dorongan dari dalam diri terlalu kuat, dan bila dorongan itu akan mengancam keharmonisan relasi individu dengan realitas eksternal, maka defense mechanism akan diaktifkan untuk meredamnya. Freud menggunakan istilah mekanisme pertahanan ego untuk menunjukkan proses tak sadar yang melindungi individu dari kecemasan melalui

pemutarbalikan kenyataan. Pada dasarnya strategi-strategi ini tidak mengubah kondisi objektif bahaya. MPE hanya mengubah cara individu mempersepsi atau memikirkan masalah itu. Dalam teori psikoanalitik yang dikemukakan Freud, istilah mekanisme pertahanan ego cenderung dikonotasikan negatif. Mekanisme ini dianggap maladaptif dan patologis. Namun, setelah berkembangnya ego psychology, konsepsi mengenai MPE telah berubah. Menurut teori ini, ego defense merupakan mekanisme psikis yang kita perlukan untuk adaptif dengan realitas eksternal. Bila individu menggunakan defense mechanism secara efektif dan sesuai dengan tahapan perkembangannya, maka dikatakan individu tersebut menggunakan defense mechanism yang matang. Bila individu menggunakan defense mechanism yang tidak efektif dan tidak sesuai dengan tahapan perkembangannya, dikatakan individu tersebut menggunakan defense mechanism yang tidak matang, atau bahkan archaic (primitif).(1) Seperti yang telah dikemukakan di atas, defense mechanism adalah mekanisme pertahanan yang diperankan oleh Ego. Ego adalah salah satu dari tiga struktural kehidupan manusia yang dikemukakan Sigmund Freud dalam teori

psikoanalitiknya. Dua komponen lainnya adalah Id dan Superego. Ketiga struktur ini memiliki fungsi dan tugas masing- masing. Dalam teori itu dikemukakan, Id adalah struktur kepribadian yang orisinil, bersifat impulsif dan paling primitif. Pada mulanya, yang ada adalah Id. Id terletak di ketidaksadaran, sehingga tidak bersentuhan langsung dengan realitas. Oleh karena itu, Id dikenal dengan istilah pleasure principal. Pleasure principal berprinsip pada kesenangan dan berusaha menghindari rasa sakit. Id-lah yang memunculkan berbagai hasrat dan dorongan dasar yang kemudian menggerakkan tingkah laku. Dua dorongan dasar yang utama adalah dorongan seksual dan dorongan agresi. Ada kesan bahwa Id berisi segala sesuatu yang buruk dalam diri manusia. Sesungguhnya tidak demikian. Dorongan dan hasrat dari Id, yakni seksualitas dan agresivitas menjadi baik atau buruk, tergantung dari pengarahan yang dilakukan. Struktur kepribadian yang bertugas mengarahkan berbagai dorongan Id agar tidak bertentangan dengan realitas eksternal adalah Ego. Ego merupakan komponen kepribadian yang bertugas sebagai eksekutor. Sistem kerjanya memakai prinsip realistic karena struktur keperibadian ini memang bersentuhan langsung dengan realitas eksternal. Ego mengatur interaksi dan transaksi antara dunia internal individu dengan realiitas eksternal. Untuk melaksanakan tugas itu. Ego memiliki tiga fungsi, yaitu reality testing, identify dan defense mechanism. Reality testing adalah kemampuan utama Ego, yaitu untuk mempersepsi realitas. Kemudian Ego akan menyesuaikan diri sedemikian rupa agar dapat menguasai realitas tersebut. Identify adalah fondasi kepribadian. Identitas terbentuk sejak awal kehidupan, mengalami krisis di masa remaja, dan terus berkembang dalam perjalanan hidupnya. Pembentukan identitas terjadi melalui interaksi individu dengan orang- orang yang penting dalam kehidupannya. Superego merupakan kekuatan moral dan etik dari kepribadian. Superego merupakan struktur kepribadian (bagian dari dunia internal) yang mewakili nilainilai realitas eksternal. Superego memakai prinsip idealistic (idealistic principle), yakni mengejar hal- hal yang bersifat moralitas. Superego mendorong individu untuk mematuhi nilai- nilai yang berlaku di realitas eksternal. Hal ini dilakukan untuk menghindari konflik antara individu dengan realitas eksternal. Superego diibaratkan sebagai polisi internal yang mendorong kita untuk tidak melanggar

nilai dan norma yang berlaku dalam realitas eksternal, dengan atau tanpa orang lain yang mengawasi. B. Klasifikasi Mekanisme Pertahanan Ego Berdasarkan buku Dinamika Kepribadian (Arif, 2006), mekanisme pertahanan ego dikelompokkan menjadi tiga (1), yakni:

a. Mekanisme Pertahanan Ego yang Tergolong Matang (Mature) 1. Sublimasi Sublimasi adalah mekanisme yang mengubah atau mentrasformasikan dorongan- dorongan primitif, baik dorongan seksual dan agresi, menjadi dorongan yang sesuai dengan norma dan budaya yang berlaku di realitas eksternal. Misalnya: dorongan seksual diubah menjadi dorongan kreatif untuk menghasilkan karya seni; dorongan agresi diubah menjadi daya juang untuk mencapai suatu tujuan.

2. Kompensasi Kompensasi merupakan upaya untuk mengatasi suatu kekurangan dalam suatu bidang dengan cara mengupayakan kelebihan di bidang lain. Misalnya: seseorang yang tidak memiliki prestasi akademik yang baik memiliki prestasi olahraga yang sangat baik.

3. Supresi Supresi merupakan satu- satunya mekanisme pertahanan ego yang dilakukan secara sadar. Supresi merupakan upaya peredaman kembali suatu dorongan libidinal (dorongan Id) yang berpotensi konflik dengan realitas eksternal. Peredaman dorongan ini dianggap telah melalui suatu pertimbangan rasional. Contoh: salah seorang teman Anto menyinggung dan membangkitkan amarah dan dorongan agresinya. Namun, Anto meredam kembali dorongan untuk bertindak agresi secara impulsif karena akan mengakibatkan dampak

yang serius pada relasi saya dengannya. Kemudian, Anto memilih untuk mengungkapkan perasaan secara asertif di waktu yang lebih tepat.

4. Humor Melalui humor, seseorang dapat mengubah penghayatan akan suatu peristiwa yang tidak menyenangkan menjadi menyenangkan. Humor juga dapat berfungsi menyalurkan agresivitas tanpa bersifat destruktif. Misalnya: menertawakan diri sendiri ketika apa yang dikehendaki tidak tercapai. b. Mekanisme Pertahanan Ego yang Tergolong Tidak Matang (Immature) 1. Represi Represi adalah upaya meredam suatu dorongan libidinal yang berpotensi konflik dengan realitas eksternal. Yang membedakannya dengan supresi adalah represi dilakukan tanpa membiarkannya sadar terlebih dahulu. Oleh karena dorongan yang diredam ini tidak melalui kesadaran, orang yang bersangkutan tidak mungkin mengolahnya secara rasional. Contoh: seseorang yang kurang asertif mungkin akan lebih sering mengggunakan represi untuk meredam kemarahan dan agresivitanya ketika ia tidak berani menolak hal- hal yang tidak disukainya. Dari luar kelihatan sabar, tetapi diketidaksadarannya dipenuhi gejolak amarah. Dibutuhkan energi psikis yang lebih besar untuk melakukan represi dibandingkan dengan supresi. Hal ini dapat menyebabkan kepribadian melemah. Saat kepribadian semakin lemah, represi yang dilakukan semakin tidak efektif. Dorongan yang hendak diredam seringkali lolos dengan berbagai cara. Misalnya: fenoma slip of the tongue, yaitu ketika suatu ucapan yang netral menjadi agresif ataupun porno. Fenomena latah juga termasuk di dalamnya. Orang yang sungguh- sungguh latah akan mengucapkan kata- kata porno saat ia latah.

2. Proyeksi Proyeksi merupakan mekanisme di mana seseorang secara psikis menolak dan mengeluarkan bagian diri yang tidak dikehendakinya. Bagian yang
5

tidak dikehendaki ini tampil pada orang lain. Orang yang melakukan proyeksi tidak dapat mengenali tampilan yang dilihatnya pada orang lain sebagai bagian dari dirinya. Contoh: seseorang yang tidak mengenal hasrat seksual yang bergejolak dalam dirinya akan melihat kebanyakan bertingkah laku porno. orang lain berpikir dan

3. Introyeksi Mekanisme ini dilakukan dengan cara mengambil alih suatu ciri kepribadian yang ditemukannya pada orang lain. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan struktur kepribadian pada orang yang bersangkutan. Contoh: dalam beberapa organisasi tertentu, senior sering memberikan tekanan psikis yang sangat berat kepada anggota baru. Dalam kondisi stress berat, anggota baru tersebut akan lebih mudah mengintroyeksikan tindakan seniornya ini. Untuk perlindungan diri, para anggota baru tersebut mengubah salah satu struktur kepribadiannya, serupa dengan senior yang menyiksanya.

4. Reaksi Formasi Reaksi formasi merupakan suatu upaya melakukan hal yang sebaliknya untuk melawan suatu dorongan internal yang dapat menimbulkan konflik. Contoh: seorang yang memiliki hasrat seksual yang tinggi berlaku seolaholah dia sangat membenci segala sesuatu yang berbau seks.

5. Undoing Undoing adalah upaya simbolik untuk membatalkan suatu impuls yang telah terwujud menjadi tingkah laku. Hal ini biasanya dilakukan dengan melakukan ritual tertentu. Contoh: seseorang tidak dapat menahan diri untuk melakukan masturbasi. Kemudian dia menyesal dan melakukan upaya untuk membersihkan pelanggaran yang dia lakukan dengan suatu ritual, misalnya mandi dan

mencuci tangan. Hal ini akan berulang kali dilakukannya bila dia mengulang perbuatan masturbasi.

6. Rasionalisasi Rasionalisasi adalah upaya mendistorsikan persepsinya akan suatu realitas. Pikiran akan memberikan alasan- alasan yang kelihatannya masuk akal. Hal ini dilakukan agar suatu kenyataan yang semula berbahaya dan dapat mengguncang kepribadiannya, menjadi lebih mudah diterima. Misalnya: bagi seorang yang self-esteemnya rapuh, penolakan cinta dari lawan jenis akan mengguncang kepribadiannya. Orang yang bersangkutan kemudian melakukan rasionalisasi dengan mendistorsikan kenyataan. Dia beranggapan bahwa lawan jenis tersebut menolaknya karena merasa tidak layak untuk menjadi kekasihnya.

7. Isolasi Isolasi merupakan suatu cara untuk meredam suatu aspek yang dianggap paling berbahaya. Akibatnya, kepribadian menghayati pengalaman tersebut secara parsial tidak utuh. Seorang yang harmonis dengan realitas eksternal dapat menghayati pengalaman hidupnya secara utuh. Keutuhan itu dapat dilihat dari aspek kognitif (pikiran), afektif (perasaan) dan konatif (tingkah laku). Misalnya: ketika seorang mendapat bonus gaji, orang tersebut akan memikirkan hal- hal yang menyenangkan. Perasaan akan gembira dan wajahnya berseri- seri pada hari itu. Pada orang yang melakukan isolasi, contoh: seseorang yang tidak sanggup menerima kenyataan bahwa orang yang paling dikasihinya meninggal tidak merasa sedih dan tidak menunjukkan kesedihan. Yang ada hanyalah perasaan hampa.

Sesungguhnya kesedihan yang dialami orang tersebut sangat besar, lebih besar dari yang sanggup ditanggungnya sehingga ia memendamnya. Hal ini tidak sehat karena akan mengganggu kepribadian di masa yang akan datang.

8. Intelektualisasi Mekanisme ini terlalu menonjolkan aspek inteleknya secara berlebihan. Tujuannya untuk mengkompensasi bagian kepribadian lain yang kurang. Contoh: seorang yang kurang terampil menjalin relasi sosial yang hangat dengan orang lain, memperlihatkan upaya yang terlalu besar untuk menonjolkan kepintarannya.

9. Displacement Displacement dilakukan dengan cara mengganti objek yang menjadi sasaran kemarahan. Misal: seseorang sangat marah terhadap atasannya karena penghinaan yang dilakukan sang atasan. Namun, karena tidak mungkin melampiaskan kemarahannya, dia mengalihkan dorongan tersebut kepada orang lain. Misalnya kepada bawahannya yang mungkin hanya melakukan kesalahan kecil.

10. Denial Denial merupakan suatu mekanisme dengan menyangkal bahwa suatu peristiwa sungguh- sungguh terjadi. Hal ini dilakukan karena tidak sanggup menerima kenyataan tersebut.

11. Regresi Regresi artinya mundur secara mental dari suatu tahap perkembangan. Hal ini dilakukan karena seseorang tidak sanggup atau mengalami kesulitan untuk maju ke tahap perkembangan selanjutnya. Misalnya: seorang bapak paruh baya yang tidak merasa dengan dirinya yang semakin tua, kembali ke fase phallic. Sehingga ia akan menunjukkan kegenitan dan seductiveness. c. Mekanisme Pertahanan Ego yang Tergolong Primitif (Archaic) 1. Splitting Splitting adalah mekanisme yang dilakukan bayi untuk memudahkannya menangani berbagai pengalaman yang dialaminya. Splitting membagi
8

suatu objek atau pengalaman menjadi dua, yakni baik dan buruk. Mekanisme ini tidak mampu melihat daerah abu- abu di antaranya. Secara primitif, hal yang menyenangkan akan dihayati baik sedangkan yang tidak menyenangkan akan dihayati tidak baik. Semakin tumbuh dan kepribadian semakin matang, spiltting jarang dilakukan. Mekanisme

pertahanan ini biasanya dilakukan oleh orang dengan gangguan mental yang berat.

2. Projective Identification Defense mechanism ini jarang ditemui pada kepribadian yang cukup matang. Mekanisme ini akan lebih sering ditemukan dalam kepribadian yang sangat terganggu, misalnya pada pasien skizofrenia.

3. Primitive Idealization Mekanisme ini dilakukan untuk mempertahankan harga diri mendasarnya (basic self- esteem) ketika mengalami ancaman. Hal ini dilakukan dengan mengidealisasikan orang lain dan kemudian mengembangkan kesatuan dengan orang tersebut. Orang yang diidealisasikan akan dipandang sepenuhnya memiliki nilai- nilai positif dan tidak memiliki nilai- nilai negatif sama sekali. Fantasi kesatuan dengan orang tersebut akan membantu menambal harga diri yang terluka. Contoh: seseorang perempuan yang semasa kecilnya tidak pernah

mendapat kasih sayang dari orangtua, kemudian mengidealisasikan suaminya. Suaminya dianggap sangat sempurna walaupun kenyataannya sangat kontras dengan idealisasinya tersebut.

4. Omnipotence Arti omnipotence adalah maha kuasa. Orang yang menggunakan mekanisme ini menganggap dirinya maha kuasa dan mampu melakukan apapun juga, tidak takut atau kuatir pada apapun juga. Mekanisme ini biasanya dilakukan oleh bayi pada fase oral.

5. Manic Defense Mekanisme pertahanan ego ini dikembangkan oleh Melanie Klein. Menurut Klein, setiap orang memiliki dua posisi mental. Pertama adalah paranoid- schizoid position, di mana seseorang merasa terpisah dari orang lain. Dia tida dapat menghargai sepenuhnya keberadaan orang lain. Orang lain dipandang sebagai objek- bukan subjek. Orang lain dipandang sebagai ancaman bagi diri atau sarana pemuas kebutuhan semata. Posisi kedua adalah depressive position, yaitu ketika seorang sepenuhnya menyadari keberadaan orang lain dan memiliki ketergantungan terhadap mereka. Memandang orang lain sebagai subjek yang juga memiliki perasaan dan pengalaman- pengalaman manusiawi yang serupa. Menurut Klein, kita beralih dari satu posisi ke posisi yang lain. Saat berada dalam posisi paranoid-skizoid kita cenderung menyakiti orang, baik dengan tindakan aktual maupun khayalan. Saat berada dalam posisi depresi, kita menyadari bahwa kita telah menyakiti orang lain. Kesadaran ini perasaan bersalah dan takut kehilangan orang tersebut. Pada manic defense, seseorang menyangkal bahwa ia sangat tergantung pada orang yang dilukainya. Ia menyangkal takut kehilangan orang tersebut atau menyangkal telah melakukan hal yang merugikan orang tersebut. mekanisme manic defense bersikukuh pada fantasi bahwa ia akan tetap bahagia seorang diri dan tidak membutuhkan orang lain. C. Proses Munculnya Mekanisme Pertahanan Ego Energi Id akan meningkat ketika ada rangsangan (impuls) sehingga menimbulkan ketegangan atau pengalaman yang tidak enak dan menguasai Ego agar bertindak secara kongkrit dalam memenuhi rangsangan tersebut sesegera mungkin. Di sisi lain Super ego berusaha untuk menetang dan menguasai Ego agar tidak memenuhi Hasrat dari Id karena tidak sesuai dengan konsepsi Ideal. Dorongan Id yang primitif tersebut bersifat laten pada alam bawah sadar sehingga tidak akan mengendor selama tidak memiliki objek pemuas. Pada taraf-taraf tertentu dorongan ini bisa menjadi distruktif dengan penyimpanganmenimbulkan

penyimpangan perilaku.

10

Ego berdiri di tengah-tengah kekuatan dahsyat kebutuhan biologis dan norma. Ketika terjadi konflik di antara kekuatan-kekuatan ini, ego merasa terjepit dan terancam, serta merasa seolah-olah akan lenyap dan tidak berdaya digilas kedua kekuatan tersebut. Perasaan terjepit dan terancam ini disebut kecemasan (anxiety), sebagai tanda bagi ego bahwa sedang berada dalam bahaya dan berusaha tetap bertahan.

11

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa mekanisme pertahanan ego merupakan strategi psikologis (ego) yang bersifat spesifik dan tidak disadari untuk menghindari ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan. Sifat yang dimiliki oleh mekanisme yaitu: 1. 2. 3. Bersifat spesifik Tidak disadari Usaha untuk beradaptaasi yang digunakan untuk menyelesaikan konflik dan memberikan kelegaan (relief) terhadap kecemasan Menurut Komalasari (2011: 71) mekanisme pertahanan ego memiliki dua karakteristik, yaitu: 1. 2. Menyangkal realitas Mengganti realitas

B. Saran Identitas terbentuk sejak awal kehidupan, mengalami krisis di masa remaja, dan terus berkembang dalam perjalanan hidupnya. Pembentukan identitas terjadi melalui interaksi individu dengan orang- orang yang penting dalam kehidupannya.

12

DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. 2009. Theories and Techniques of Counseling. 8th Edition. USA: Thomson Brooks/Cole. Komalasari, Gantina, dkk. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: Indeks Kaplan H I,Sadock B J,Grebb J A. Gangguan Kepribadian. In: I Made Wiguna S,eds. Sinopsis Psikiatri Jilid 2. Tangerang: Bina Rupa Aksara Inc; 2010:258-290. Maramis, W F. Catatan Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press; 1998. Kaplan H I,Sadock B J,Grebb J A. Tanda dan Gejala Penyakit Psikiatrik. In: I Made Wiguna S, eds. Sinopsis Psikiatri Jilid 1. Tangerang: Bina Rupa Aksara Inc; 2010:466-480.

13