Anda di halaman 1dari 6

Problem nasionalistik dan solusi dengan pisau analisis hasil pemikiran KH.

Hasyim
Asy’ari

abaz zahrotien

Kehidupan kebangsaan adalah kehidupan yang majemuk. Indonesia sebagai sebuah bangsa
tentunya juga akan mengalami hal yang sama, kemajemukan. Majemuk disini lebih diartikan
sebagai sekumpulan nilai seni dan budaya (peradaban) yang terakomodir dalam satu ruang
kolektif. Peradaban lebih akan bersentuhan dengan etnis dan suku bangsa tertentu yang tentunya
juga memiliki perbedaan dalam hal tradisi seni dan budaya. Disinilah letak kemajemukan yang
dimaksudkan.

Melihat banyaknya suku bangsa yang corak peradaban berbeda-beda, serta didukung dengan
sentimen etnis yang tinggi (sifat chauvinistik), anggapan bahwa peradaban sendiri yang paling
benar dan menutup diri dari kemajemukan berbangsa, maka ini akan menjadi bahaya laten
desintegrasi bangsa. Suku bangsa yang merasa tidak terakomodir dalam sistem nation-state
(dalam konsepsi Ernest Renan) maka akan lari dari entitas bangsa dan membuat entitas sendiri
sebagai entitas tandingan. Seperti layaknya sebuah sistem kolektif dalam ekosistem alam,
keberadaan bangsa akan lebih dipandang sebagai bumi yang berfungsi sebagai tempat
menampung kehidupan ekosistem alam yang ada didalamnya, oleh karena itu, fungsi bangsa
seharusnya mampu menampung aspirasi etnis secara keseluruhan dengan mengambil nilai dasar
etnis tersebut yang kemudian diterjemahkan dalam aturan konstitusional yang universal tanpa
mendiskreditkan salah satu diantara yang lainnya.

Sebagai sebuah bangsa, problem utama yang harus diselesaikan adalah bagaimana bangsa
mampu mengakomodir kemajemukan itu tadi dalam tata ruang yang setara. Penyetaraan dalam
tata sosio antropologis ini akan menimbulkan rasa safe to belonging terhadap entitas kebangsaan.
Dalam jangka panjang, safe to beloning inilah yang menjadi tolok ukur kekuatan suatu bangsa
dalam mempertahankan kesatuan dan keutuhan bangsa secara keseluruhan. Sederhananya, safe
to belonging adalah landasan dasar dari sikap nasionalisme.
Pertama, penulis hendak menyorot bagaimana proses entitasisasi suku bangsa dengan berbagai
perangkat peradabannya dengan melihat proses sejarah perjalanan suku bangsa tersebut dan
element vital yang menyatukannya sehingga dapat terbentuk negara bangsa Indonesia seperti
yang kita kenal saat ini.

Bahwa, jauh sebelum kemerdekaan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang terpecah antara satu
suku dengan suku yang lain, lebih spesifiknya lagi, antara satu kerajaan dengan kerajaan yang
lain. Persatuan antar kerajaan belum terlihat mampu menyatukan setiap element sosial yang ada.
Taruhlah misalnya keberhasilan Patih Gajah Mada pada era kepemimpinan raja Hayam Wuruk di
Majapahit, meskipun telah dapat menyatukan nusantara dibawah kepemimpinan Majapahit,
namun keberhasilan itu hanya sebatas pada kolonialisasi dan imperialisasi. Setelah berhasil
menyatukan nusantara yang ditandai dengan pemberian pajak negara (upeti) kepada majapahit
tidak kemudian didukung dengan kesamaan nasib, kesamaan pandangan dan memunculkan
musuh bersama sebagai elan vital entitasisasi suku bangsa.

Majapahit melalui patih Gajah Mada yang luar biasa kekuatan militernya, dalam hal melakukan
pendidikan sosial dan pengupayaan penyamaan pandangan publik (hegemoni, dalam bahasa
Antonio Gramschi) terhadap persoalan tertentu tidak mampu dilakukan. Dan kegagalan
Majapahit dalam hal inilah yang kemudian dalam etape sejarah selanjutnya justru menjadi
bumerang yang menghancurkan majapahit sendiri.

Majapahit tidak mampu mengakomodir aspirasi suku-suku bangsa yang berada dibawahnya,
tidak mampu mentradisikan budaya hegemonisasi dan pendidikan sosial. Dari problem dasar
inilah, pasca kematian Patih Gajah Mada dan mangkatnya Raja Hayam Wuruk Majapahit
mengalami kehancuran yang luar biasa. Yang ditekankan oleh Majapahit lebih pada sisi
imperialisme militeristik dibandingkan dengan imperialisme edukatif.

Berkaca dari kritik sejarah Majapahit, bahwa Indonesia hari ini juga akan mengalami hal yang
sama, apabila Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara tidak mampu mengakomodir
kepentingan suku-suku bangsa yang ada dibawahnya maka desintegrasi adalah efek domino yang
tidak terelakkan, ini perlu diwaspadai mengingat bahaya laten ini dapat muncul sewaktu-waktu.
Ambillah contoh misalnya, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Republik Maluku Selatan (RMS),
Republik Papua Merdeka (RPM) adalah upaya desintegrasi yang muncul ditengah-tengah
kehidupan berbangsa kita hari ini.

Analisis dasar dari problem desintegrasi itu adalah karena suku bangsa dengan segala
peradabannya merasa tidak terakomodir atau didiskreditkan dalam tatanan kebangsaan, mereka
tidak mendapatkan prosi yang sama dengan suku bangsa lain yang dominan atau secara geografis
dekat dengan titik sentral pemerintahan.

Aceh misalnya, Provinsi yang juga mendapat anugerah sebagai daerah istimewa sejak zaman
dahulu telah menjadi Serambi Makkah, yakni suku bangsa yang menganut Islam sebagai pranata
sosioantropologis dan ideologi mereka. Hal yang mereka inginkan adalah, bagaimana Indonesia
mampu menjadi negara yang lebih religius dengan asumsi logisnya Indonesia sebagai negara
muslim terbesar di Indonesia.

Atau RMS dan RPM, kedua kelompok desintegral ini lebih memberikan alasan pada sektor
ekonomi dan sosial, bahwa mereka tidak pernah mendapatkan pelayanan publik yang setara
dengan masyarakat lain yang berada dekat secara geografis dengan Ibu Kota Negara.
Pendiskreditan secara sosial dan ekonomi inilah yang membuat mereka melakukan
pemberontakan1.

Dari gambaran diatas, dapat disimpulkan secara ringkas bahwa persoalan kebangsaan hari ini
adalah desintegrasi bangsa dan fasilitas kepentingan suku bangsa dengan segala peradabannya.

Kembali pada term pokok tentang pemikiran KH. Hasyim Asy’ari. Baiklah setelah persoalan
dasarnya telah diketahui, selanjutnya kita analisis dari berbagai perspektif dan pada tahap
akhirnya, kita gunakan hasil ijtihad pemikiran KH. Hasyim Asy’ari untuk mencari problem
solving atas persoalan dasar tersebut yang bersifat universal dan lunak (dapat diterima oleh
semua pihak).

Penulis dalam hal ini akan kembali menyuplik maqalah KH. Hasyim Asy’ari,

“Manusia harus saling berhubungan untuk membawa kebaikan dan kemakmuran


serta menghindari bencana dan malapetaka. Jadi, persatuan dan menunjukan

1
Keterangan ini didapatkan dari perbincangan dengan ketua umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
Maluku Utara pada Kongres XVI di Batam Kepulauan Riau, 23 Maret 2008.
keharmonisan dalam suatu permasalahan dibutuhkan untuk memelihara hidup. Hal
ini juga akan memperkuat tali cinta. Eksistensi persatuan dan kejujuran menjamin
kebijaksanaan dan membawa hasil yang positif. Ia memegang peranan penting untuk
menyebarkan kemakmuran dalam suatu negara, mengembangkan status sosial,
memajukan dan menguatkan pemerintahan, dan terbukti menjadi alat dalam
mencapai kesempurnaan. Salah satu dari banyak tujuan persatuan adalah
menyebarkan kebajikan yang menjadi asas utama dalam merealisasikan seluruh
gagasan.”2

KH. Hasyim Asy’ari, berkaca dari maqlah tersebut, sangat mendambakan adanya persatuan dan
kesatuan antara etnis. Bahwa persatuan menurut belau adalah solusi pertama dan utama dalam
menyikapi problem kebangsaan. Dengan adanya persatuan maka tidak akan ada yang
menganggap bahwa dirinya (etnisnya) yang paling benar dan yang lain (etnis lain) salah. Tidak
ada justifikasi benar salah dalam menyikapi kemajemukan berbangsa, semua benar dan semua
salah. Intinya, persoalan budaya, agama, seni, tradisi dan bebagai produk sosial lainnya tidak
perlu ditarik ke ruang publik dan menjadi bahan perdebatan yang sengit, tidak dipernekankan
oleh beliau menjustifikasi kebenaran salah satu golongan dan mengkafirkan golongan yang lain
yang tidak sepaham dengannya.

Persatuan dan kesatuan yang digambarkan oleh beliau adalah persatuan dan kesatuan yang tetap
menghargai kearifan lokal. Bahkan, kearifan lokal tersebut justru menjadi tolok ukur
keberhasilan suatu kelompok apabila mampu menjadi booming dalam persatuan itu. Tidak ada
kebenaran mutlak dan tidak ada kesalahan fatal. Persatuan adalah mengambil nilai dasar dan
menciptakan hukum konstitusional yang universal dan mampu diterima disemua pihak.

KH. Hasyim Asy’ari memandang, persatuan dan kesatuan berbangsa hanya akan didapatkan
apabila masing-masing suku bangsa atau etnis tertentu bersikap terbuka dan menerima
keberadaan suku bangsa atau etnis yang lain dalam ruang sosial tanpa menjadikan nilai dasarnya
sebagai bahan perdebatan dan pertentangan.

2
Kholid O. Santosa, “Manusia di Panggung Sejarah – Pemikiran dan Gerakan Tokoh-tokoh Islam”, sega
Arsy, bandung , 2007, hal. 30
Sikap KH. Hasyim Asy’ari dalam menolak disahkannya Jakarta Charter setelah menerima
utusan dari suku bangsa Bali dan Minahasa yang merasa didiskreditkan dalam Piagam Jakarta
tersebut adalah bukti nyata bahwa beliau menerima perbedaan sebagai rahmat. Jakarta Charter
yang berisi Wajib Menjalankan Syari’at Islam Bagi Para Pemeluknya sebagai konstitusi dasar
negara, sumber dari segala sumber hukum jelas-jelas mendiskreditkan suku Minahasa yang
mayoritas beragama Kristen dan Bali yang merupakan pulau Dewata dengan agama Hindu
sebagai agama terbesar.

Upaya untuk memformalkan syari’at islam dalam jurisprudensi hukum konstitusional adalah
jelas-jelas mendiskreditkan etnis dan golongan lain yang berada dibawah payung kebangsaan.
Yang perlu dipahami lebih dalam adalah bahwa Indonesia dibangun dengan kemajemukan dalam
setiap hal. Perbedaan-perbedaan dalam berbangsa adalah keniscayaan yang tidak bisa dipungkiri
dan merupakan hal-hal yang pada setiap sisi sebenarnya menjadi elan vital dalam perkembangan
kebangsaan. Berangkat dari hal ini, agaknya tidak salah ketika para founding fathers negara kita
memilih bhineka tunggal ika sebagai jargon kebangsaan negara Indonesia.

Formalisasi Syari’at Islam yang diisyaratkan dalam Jakarta Charter akan membuat warga
bangsa Indonesia yang beragama non muslim seperti Minahasa yang mayoritas Kristen, Bali
dengan Hindu-nya, Papua yang juga Kristen, serta penganut Budha, Katolik dan Konghucu yang
menyebar di seluruh wilayah Indonesia akan merasa seperti tidak dianggap dan tidak menjadi
bagian yang integral dalam kesatuan berbangsa.

Disinilah letak ketepatan Pancasila sebagai dasar Ideologi negara, pancasila mampu menerima
semua elemen bangsa dengan setara tanpa mendiskreditkan salah satu diantara yang lainnya. Dan
inipula yang membuat bangsa indonesia bertahan sampai hari ini. Kurang lebih demikian
pemahaman penulis terhadap sikap politik KH. Hasyim Asy’ari mengenai penolakan Jakarta
Charter dan penerimaan pancasila sebagai dasar Ideologi negara.

Selanjutnya, setelah Indonesia sebagai bangsa yang mewadahi semua golongan dengan
seperangkat peradabannya, problem yang harus ditemukan pemecahannya adalah tentang
bagaimana strategi berhubungan, pola komunikasi, pola sosiotransformatif, cara bercengkrama
lintas etnis dan adat yang kental dengan nunasa kearifan lokalnya. Ini akan menjadi persoalan
yang serius, karena ini dalam jangka panjang apabila tidak ditemukan pemecahannya akan
menjadi bumerang dan bahaya laten yang dapat terpecah suatu waktu.

KH. Hasyim Asy’ari menemukan solusinya dengan mengambil prinsip dasar ajaran ahlus
sunnah wal jama’ah yakni sebagai berikut:

1. Tawazun

2. Tasammuh

3. Ta’adul

Tawazun adalah keseimbangan dalam menyikapi persoalan multikulturalisme, bahwa dalam


memberikan penyikapan tidak memberatkan salah satu etnis atau golongan dan tidak
mendiskreditkan golongan yang lain. Keseimbangan perlu diterapkan dalam pola komunikasi
lintas etnis supaya tidak menjadi pertentangan yang mendalam antara satu golongan dengan
golongan yang lain.

Sementara tasamuh adalah memilih sikap moderat dalam berdiri diantara banyaknya golongan
yang muncul di negara kita. Kemoderatan dalam bersikap akan menimbulkan suasana yang
harmonis dan familiar sehingga kerukunan dalam perbedaan yang bersatu dalam kesatuan
berbangsa.

Ta’adul adalah bersikap adil. Dalam berkomunikasi dengan antar golongan keadilan perlu
diterapkan seabgai element yang bersentuhan langsung dengan sikap tawazun. Selanjutnya,
apabila ketiga hal tersebut dilakukan dalam pola komunikasi lintas golongan maka tidak akan
ada pertentangan antar golongan dan antar suku bangsa seperti yang terjadi di Kalimantan, Poso
dan wilayah lain yang rawan dengan konflik mengatasnamakan etnis dan golongan.