Anda di halaman 1dari 14

Harun Nasution :Teolog Pembaharu

Oleh : T. Bahrun

A. Pendahuluan

Menela’ah teologi pasti selalu mengajak kita harus kembali keawal

permulaan tumbuhnya sifat kritis umat Islam, terutama yang menyangkut

kepemimpinan dan legalitasnya menurut al quran dan sunnah.

Sikap kritis tersebut telah melahirkan berbagai aliran teologi yang

merupakan dampak dari ketidak puasan beberapa kalangan terhadap hasil tahkim

yang disepakati antara pihak Ali dan Muawiyah, hadirnya berbagai gerakan,

seperti Khawarij, kemudian dalam perjalanannya muncul kelompok Murjia’ah,

Mu’tazilah, Kadariah dan Jabariah dengan ciri dan kekhasan pemikiran teologi

mereka masing-masing.

Muncul berbagai aliran teologi dalam Islam, selain merupakan tuntutan

pada saat itu, juga dikarenakan ketidak puasan terhadap berbagai aliran yang telah

ada, namun hal yang menjadi persoalan atau polemik yang berkembang tetap

tentang persoalan yang sama, meliputi; Kekuasan dan kehendak Tuhan, Keadilan

Tuhan, Perbuatan tuhan, takdir dan Sunnatullah.

Harun Nasution yang merupakan seorang tokoh cendikiawan yang

memiliki pengaruh besar dalam Perkembangan Pemikiran Teologi Islam di

Indonesia, ia dalam beberapa karyanya memaparkan tentang apa dan bagaimana

Teologi Islam, secara langsung Harun Nasution tidak menciptakan corak teologi,

akan tetapi ia mencoba menerapkan dan mengkomunikasikan pemikiran teologi

yang pernah ada, dan merelepansi-kannya dengan perkembangan umat Islam kini.

1
B. Pembahasan

1. Biografi Singkat Harun Nasution

a. Keluarga

Harun Nasution lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara pada tanggal 23

September 1919. Dia adalah anak keempat dari lima bersaudara, Ayahnya adalah

seorang agamawan dan pedagang bernama Jabbar Ahmad, sedangkan ibunya juga

dari kalangan ulama yang berasal dari mandailing, selain dari itu ibunya juga

pernah bermukin dimekah dengan sendirinya, memiliki pemahaman yang baik

tentang agama, pasti akan mampu mendidik Harun dengan baik dalam keluarga

disamping ayahnya yang juga seorang ulama1.

b. Pendidikan

Pendidikan formal pertamanya adalah HIS (1934), dan modern islamietische

kweekschol di bukit tinggi (1937), kemudian ia meneruskan ke unversitas al

Azhar di cairo sampai memperoleh Ahliyah (1940), dan Candidat dari fakultas

Ushuluddin (1942). Di mesir selain kuliah di Kairo ia juga memasuki Universitas

Amerika Kairo, pendidikan agama pertama (nonformal) diperoleh dari kedua

orang tuanya juga pendidikan bahasa arab2.

Dimasa kecil Harun telah menunjukkan sikap kritisnya terutama terhadap

pemahaman lama yang telah berkembang dan apa yang diajarkan orang tuannya

1
Syaiful Muzani. Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof. Dr.
Harun Nasution. (Mizan. Bandung. 1995). hlm. 7
2
Nurcholis Madjid et. Teologi islam rasional apresiasi terhadap wacana
dan praksis harun nasution.cet.III( Jakarta : ciputat Press,2005).h.4.

2
harun beranggapan terlalu dogmatis, literalis dan fatalis, sehingga harun dianggap

‘sesat’ oleh orang tuanya dan untuk mengembalikan pemahan harun nasution

sebagaimana mestinya maka orang tuanya mengirimkan harun ke mekah untuk

belajar agama, harun nasution kecil merasa tidak pernah puas terhadap materi

pelajaran yang pernah ia dapatkan, dikarenakan disekolah tidak diberikan

kesempatan untuk bertanya ‘mengapa’ sehingga dia merasa pendidikan agama

yang ia dapatkan sangat kaku.

Banyak karya Harun yang menggambarkan pemikiranya tentang islam,

selain dalam bentuk buku juga dalam bentuk tulisan-tulisan dalam jurnal dan

majalah-majalah, sebuah makalahnya yang komprehensif memuat pemikiranya

tentang islam adalah ketika ia masih duduk di bangku kuliah McGill. Beberapa

karyanya dalam bentuk Buku diantaranya adalah:3

1. Muhammad Abduh dan teologi rasional Mu’tazilah.

Ini merupakan Desertasinya di McGill university, Canada. Tasis akhir dari

buku ini menyebutkan bahwa corak pemikiran teologi yang dikembangkan

Abduh, sangat dipengaruhi oleh Teologi Mu’tazilah, Harun berpandangan

pemikiran seperti ini harus dikembangkan di dunia Islam.

2. Islam Rasional: Gagasan dan pemikiran Prof.Dr.Harun Nasution.

Buku ini merupakan hasil dari tulisan-tulisannya dalam berbagai kesempatan

yang kemudian disusun menjadi sebuah buku, buku ini membahas tentang

3
Muhammad arifin Teologi Rasional (Studi analisis terhadap Pemikiran
Teologi Harun Nasution),Cet.I.(Banda aceh.Ar-Raniry Press:2008). Hal.20-21.

3
permasalahan social dipandang dari sudut Islam secara tidak langsung juga

buku ini menjelaskan bahwa islam begitu respon dengan perkembangan zaman

dan masyarakat kontentporer.

3. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya.

Dalam buku ini Harun menjelaskan bahwa Islam itu begitu luwes serta mampu

menjawab tantangan zaman dan Islam tidak hanya dapat di pahami dari satu

aspek. sejarah Islam telah mencatat berbagai interpretasi dari berbagai zaman

juga berbagai problem masyarakat.

4. Teologi Islam, Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan.

Buku ini membahas tentang pemikiran teologi yang pernah lahir dan

berkembang dalam Islam juga penjelasan berbagai aspek Teologi menurut

aliran-aliran tersebut.

5. Filsafat dan Mistisme dalam Islam.

Sengaja buku ini diberi judul dengan Mistisme dalam Islam karena Harun ingin

buku ini mendapat sambutan dari khalayak terhadap isinya pada dasarnya isi

buku ini juga membahas tentang Tasauf dan kronologis lahirnya dalam Islam.

C. Teologi Pembaharuan versi Harun Nasution.

Berbicara tentang teologi tentunya kita sedang berbicara minimal

menyangkut empat hal diantaranya adalah ; kekuasaan, kehendak mutlak tuhan,

keadilan tuhan, perbuatan tuhan dan yang terakhir adalah takdir dan sunnatullah.

4
Pembahasan-pembahasan yang pernah mengemuka dalam Islam, terutama

pada awal-awalnya, lebih disebabkan oleh keadaan ketidak puasan sekelompok

masyarakat muslim, terhadap proses tahkim atau albitrase, ekses dari keadaan

inilah yang telah memaksa golongan tertentu untuk mengunakan logika dan

pembenaran perbuatan, pandangannya dengan menggunakan alqur’an serta

menghukum kelompok diluar mereka, perseteruan penjang ini telah melahirkan

berbagai kelompok dan sekte-sekte dengan pemikiran dan pendangan-pandangan

mereka yang khas. Diantara kelompok-kelompok4 itu adalah :

a. Khawarij

Khawarij adalah kelompok pertama pada mulanya khawarij

mempersoalkan tentang Imamah tetapi pada akhirnya tidak lagi mempersoalkan

tentang Imamah akan tetapi mereka telah memasuki persoalan teologi dimana

Khawarij mempertanyakan tentang siapakah yang disebut mukmin dan siapa pula

yang disebut dengan Kufr dan siapa pula yang masih dalam Islam dan tidak,

karena menurut Khawarij orang yang melakukan dosa besar dapat dianggap kufr.

b. Murji’ah

Kelompok ini kembali menegaskan bahwa manusia yang berbuat dosa

besar tetap diakui sebagai mukmin bukan kafir, menyangkut dosa yang ia lakukan

mereka beranggapan itu adalah hak Tuhan untuk mengampuni atau tidak.

c. Mu’tazilah

4
Harun Nasution, Teologi Islam;Aliran-Aliran Dan Sejarah Analisa
Perbandingan,cet.V.(Jakarta : UI Press,1986)h.7.

5
Ini adalah golongan yang sangat luar biasa diyaman, mu’tazilah

menganggap bahwa orang yang melakukan dosa besar bukan Islam dan juga

bukan kafir tetapi orang-orang tersebut berada diantara mukmin dan kafir

sehingga mereka berpendapat bahwa diakhirat akan ada tempat diantara syurga

dan nereka untuk pelaku dosa besar populernya tempat tersebut dianamakan

al manzila bain al manzilatain.

d. Qadariah

Kelompok qadaria mengatakan bahwa tiap manusia bebas bertindak

menurut mereka sendiri tidak ada campur tangan Tuhan sehingga dalam bahasa

Ingris dikenal dengan istilah, Free will dan free act. Ini merupakan konsep

manusia menurut golongan Qadariah.

e. Jabariah

Jabariah memiliki ideology bahwa, manusia tidak memiliki hak dan

kemampuan sebagaimana yang dikemukakan oleh Qadariah, akan tetapi menurut

Jabariah bahwa segala tindakan dan prilaku manusia adalah paksaan dari tuhan,

sehingga mereka memiliki faham perdestinatian atau fatalism.

Apa yang menjadi dasar atau latar belakang bagi harun nasution, tentang

pentingnya perubahan konsep teologi yang dianut dan difahami oleh masyarakat

Indonesia saat ini, apakah konsep teologi yang umumnya diyakini oleh sebagian

besar umat islam Indonesia tidak relefan lagi atau bagaimana.

6
Dari beberapa karya Harun Nasution tentang pentingnya perubahan

pemahaman teologi umat Islam Indonesia adalah dikarenakan konsep teologi yang

umumnya difahami oleh masyarakat Indonesia telah menyebabkan masyarkat

Indonesia lemah dan malas dalam produktifitas, ini dikarenakan pemahaman

tentag konsep kekuasaan tuhan yang absuloth yang merupakan ajaran teologi

asya’ariyah, dengan alasan ini Harun Nasution mencoba mengubah pemahaman

ini dengan pendekatan teologi yang dikembangakan oleh golongan mu’tazilah,

dimana menurut golongan mu’tazilah bahwa manusia mempunyai kekuasan dan

kemampuan untuk memanfaatkan segala potensi yang dimilikinya dengan

menggunakan kemampuan fikir dan olah budi dengan alasan ini, diharapka

manusia Indonesia tidak berpangku tangan menerima nasib namun mencoba

meruabah nasib itu dengan usaha sungguh-sungguh, sebab manusia bisa berhasil

dengan kemampuannya yaitu kemampuan untuk berpikir dan berkarya5.

Gagasan Harun Nasution.

Dari segi pemikiran, gagasan Prof Harun tak lepas dari petualangan

panjangnya. Yang paling menonjol tentu saat ia menuntut ilmu di Makkah dan

Mesir. Di kedua negeri inilah, ia terkagum dengan pemikiran tokoh dan pembaru

Muhammad Abduh, terutama sekali tentang paham Mu'tazilah yang banyak

menganjurkan sikap-sikap qadariah. Di kemudian hari, Harun dikenal sebagai

intelektual Muslim yang banyak memperhatikan pembaharuan dalam Islam,

meliputi pemikiran teologi, filsafat, mistisisme (tasawuf), dan hukum (fikih) saja,

5
Muhammad Arifin, Teologi rasional”studi analisis terhadap pemikiran
harun nasution,(Banda Aceh, Arraniry press,2008),hal.40.

7
hingga masalah segi kehidupan kaum Muslim. Ada dua obsesi Harun yang paling

menonjol. Pertama, bagaimana membawa umat Islam Indonesia ke arah

rasionalitas. Kedua, terkait dengan yang pertama, bagaimana agar di kalangan

umat Islam Indonesia tumbuh pengakuan atas kapasitas manusiackadariah6.

Kekuasaan dan Kehendak Mutlak Tuhan

Tentang hal ini Harun mambagikan menjadi dua corak dalam teologi yang

pertama adalah mereka yang menganggap bahwa akal mempunyai daya yang

amat besar dan manusia bebas serta berkuasa atas kehendak dan perbuatannya,

sehingga kekuasaan dan kehendak tuhan tidak lagi mutlak, kedua adalah mereka

yang beranggapan bahwa akal manusia memiliki keterbatasan maka tuhan

memiliki kekuasaan dan kehendak mutlak atas diri manusia7.

Kelompok yang mengatakan bahwa manusia mempunyai kekuasaan atas

dirinya, ini dilatar belakangi oleh pandangan golongan Mu’tazilah, golongan ini

beraggapan bahwa setelah tuhan memeberikan kekuasaan pada manusia dalam

menentukan kemauan dan kebebasannya, maka tuhan membatasi diriNya. selain

itu menurut kaum Mu’tazilah bahwasanya tuhan tidak bisa lagi berbuat semena-

mena ia terikat dengan norma-norma keadilan, yang apabila ia melanggar maka

tuhan dianggap tidak adil terhadap manusia, kekuasaan dan kehendak tuhan juga

6
www.bumibebas.com.harun-nasution-pembangun-fondasi-islam.html
7
Muhammad arifin Teologi Rasional (Studi analisis terhadap Pemikiran

Teologi Harun Nasution),Cet.I.(Banda aceh.Ar-Raniry Press:2008). Hal.27

8
dibatasi oleh kewajiban-kewajiban tuhan terhadap manusia yang bersifat

sunnatullah karena tiap sesuatu memilki hukum alamnya.8

Kemudian yang kedua adalah kaum asy’ariyah yang mengatakan bahwa

tuhan memiliki sifat yang absoluth yang tidak bisa diganggu gugat atas segala

kehendakNya dan tidak ada yang dapat menentukan apa yang boleh dan apa yang

tidak dilakukan tuhan, meskipun perbuatan itu dipandang tidak adil dan dhalim

bagi manusia.

Dalam hal ini asy’ariyah lebih dekat dengan paham Jabariah (fatalism)

daripada qadariah (Free well), untuk menjelaskan tentang hubungan tentang

hubungan perbuatan manusia dengan kehendak dan kekuasaan mutlak tuhan

asy’ariyah memakai tiori Katsab dimana manusia berusaha namun hasilnya tetap

ditentuka tuhan. dari tiori ini manusia tidak mempunyai pengaruh yang efektif

dalam perbuatannya.

Harun sering menyatakan bahwa salah satu sebab kemunduran umat Islam

Indonesia adalah akibat dominasi Asy'arisme yang sangat bersifat Jabariah (terlalu

menyerah pada takdir). Untuk itu, dalam berbagai tulisannya Harun selalu

menghubungkan akal dengan wahyu, dan lebih tajam lagi melihat fungsi akal itu

dalam pandangan Alquran yang demikian penting dan bebas. Harun memang

sangat tersosialisasi dalam tradisi intelektual dan akademis kosmopolitan (Barat).

Tapi, sesungguhnya hampir sepenuhnya dia mewarisi dasar-dasar pemikiran Islam

abad pertengahan. Penguasaannya yang mendalam terhadap pemikiran-pemikiran

8
Harun Nasution Muhammad abduh dan teologi rasional mu’tazilah.
(Jakarta: UI.Press,1987),h.84.

9
para filsuf Islam, termasuk pengetahuannya yang luas terhadap dunia tasawuf,

membuat ia dapat merumuskan konsep yang akurat tentang terapinya untuk

membangun masyarakat Muslim Indonesia. Ia selalu mengatakan bahwa

kebangkitan umat Islam tidak hanya ditandai dengan emosi keagamaan yang

meluap-luap, tapi harus berdasarkan pemikiran yang dalam, menyeluruh, dan

filosofisnterhadapnagamahIslamgitufsendiri.

Semua itu dia buktikan dengan mewujudkan tiga langkah, yang kerap

disebut sebagai ''Gebrakan Harun''. Gebrakan pertama, dia meletakkan

pemahaman yang mendasar dan menyeluruh terhadap Islam. Menurutnya, dalam

Islam terdapat dua kelompok ajaran. Ajaran pertama bersifat absolut dan mutlak

benar, universal, kekal, tidak berubah, dan tidak boleh diubah. Ajaran yang

terdapat dalam Alquran dan Hadis mutawatir berada dalam kelompok ini. Kedua,

bersifat absolut, namun relatif, tidak universal, tidak kekal, berubah dan boleh

diubah. Ajaran yang dihasilkan melalui ijtihad para ulama berada dalam kelompok

ini. Dalam ajaran Islam, lanjutnya seperti ditulis dalam Islam Rasional (Mizan),

yang maksum atau terpelihara dari kesalahan hanyalah Nabi Muhammad SAW.

Karena itu, kebenaran hasil ijtihad para ulama bersifat relatif dan bisa direformasi.

Menurutnya, kedinamisan suatu agama justru ditentukan oleh sedikit banyaknya

kelompok pertama itu. Semakin sedikit kelompok ajaran pertama, semakin

lincahlah agama tersebut menghadapi tantangan zaman dan sebaliknya.

Kenyataannya,katanHarun,mjumlahmpertamamsedikit.

Gebrakan kedua dilakukan saat dia menjabat Rektor IAIN Syarif

Hidayatullah Jakarta, 1973 (kini Universitas Islam negeri/UIN). Saat itu, secara

10
revolusioner dia merombak kurikulum IAIN seluruh Indonesia. Pengantar ilmu

agama dimasukkan dengan harapan akan mengubah pandangan mahasiswa.

Demikian pula filsafat, tasawuf, ilmu kalam, tauhid, sosiologi, dan metodologi

riset. Menurut dia, kurikulum IAIN yang selama ini berorientasi fikih harus

diubah karena hal itu membuat pikiran mahasiswa jumud. Sedang gebrakan

ketiga, bersama menteri agama Harun mengusahakan berdirinya Fakultas

Pascasarjana pada 1982. Menurutnya, di Indonesia belum ada organisasi sosial

yang berprestasi melakukan pimpinan umat Islam masa depan. Baginya pimpinan

harus rasional, mengerti Islam secara komprehensif, tahu tentang ilmu agama, dan

menguasai filsafat. Filsafat, ujarnya, sangat penting untuk mengetahui pengertian

ilmu secara umum. Pimpinan seperti itulah yang diharapkannya lahir dari Fakultas

Pascasarjana. Dampak dari usaha Harun sungguh luar biasa.

Berbagai gagasan Harun yang dikenal amat menjunjung tinggi rasionalitas

dan metode ilmiah itu, tak sedikit kalangan menuduhnya sebagai pelopor gerakan

mu'tazilah dan salah seorang penyokong sekularisme di Indonesia. Ini jelas

terlihat dari karyanya berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. walau

demikian, Harun tetap melaju membumikan Islam. Menurut Nurcholish Madjid,

Harun telah memberikan sumbangan nyata bagi bangsa Indonesia dalam hal

menumbuhkan ''tradisi intelektual'' yang dirintis di IAIN Jakarta, dan kemudian

menghasilkan suatu gejala umum bahwa doktrin bukan sebagai taken for granted,

justru di saat doktrin itu sudah mapan. Dia mempertanyakan relevansi doktrin itu

kepada sejarah, bagaimana kaitannya dulu dan sebagainya. Inilah yang

menghasilkan suatu kemampuan tertentu yang secara teknis disebut learning

11
capacity. Harun, lanjut Cak Nur, telah berhasil menciptakan intellectual capacity

sekaligus learning capacity.9

Setelah lama tidak mendapat kritikan, gagasan pembaruan Islam yang

dicetuskan Harun Nasution kali ini mendapatkan kritik tajam. Kritik tajam itu

disampaikan oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MPhil. dalam acara tasyakkur dan

pidato ilmiah atas gelar doktornya dalam bidang pemikiran Islam di International

Institute of Islamic Thought and Civilization- International Islamic University

Malaysia (ISTAC-IIUM), Menurut Hamid, banyak persoalan yang perlu

diklarifikasi seputar gagasan Harun Nasution mencanangkan gagasan

rasionalisasi. Gagasan ini dikembangkan dalam studi Islam di seluruh IAIN.

Harun mencanangkan gagasannya itu setelah ia menyelesaikan doktornya di

Institute of Islamic Studies McGill, Kanada dengan thesis berjudul Posisi Akal

dalam Pemikiran Teologi Muhammad Abduh.

Hanya sayangnya ia mengangkat kembali doktrin teologis Mu’tazilah dan

mengecilkan doktrin teologi Ash’ariyyah.“Tapi pemikirannya baru pada tingkat

gagasan dan tidak berupa konsep-konsep baru. Asumsinya bahwa Mu’tazilah

adalah teologi yang berhasil membawa Islam ketingkat peradaban yang tinggi

tidak terbukti dalam sejarah,” kata Hamid, putra kesembilan pendiri Pondok

Pesantren Gontor.

Ia menegaskan, tokoh sekularisme itu menempuh cara itu karena mereka

tidak melakukan penelitian dengan cermat antara tradisi Islam dan barat, ada yang

9
Prof. Dr. Harun Nasution, Neo Mu’tazilah dan Paham Inkar Sunnah di
Indonesia « Ibnuramadan.wordpress.com.htm

12
secara gegabah misalnya menyatakan, bahwa Barat maju karena mengambil

pemikiran Ibnu Rusyd dan umat Islam mundur karena mengambil pemikiran al-

Ghazali. Padahal, kata Hamid, David Hume dan Malebanche justru mengambil

pemikiran al-Ghazali yang menyatakan, bahwa hukum kausalitas tidak pasti,

tetapi membuang unsur ketuhanannya. Masalah ini dibahas panjang lebar dalam

disertasi Hamid yang berjudul Al-Ghazali’s Concept of Causality.10

D. Kesimpulan

Harun Nasution merupakan seorang tokoh pembaharuan pemikiran

teologi islam di Indonesia dan ia juga mengeangnggap bahwa hanya dengan

menggunakan rasionalitas masyarakat islam Indonesia dapat bergerak maju dan

dinamis serta mampu bersaing dengan bangsa lain.selain itu juga harun nasution

merupakan pelopor pemikiran rasionalitas di Indonesia.

Pemikiran teologi Harun Nasution merupakan gambaran dari pemikiran

gurunya yaitu Muhammad abduh yang merupakan seorang tokoh yang sangat

berpengaruh dalam teologi.

10
www.eramuslim.com/news/nas.

13
Daftar Pustaka

Nurcholis Madjid et. Teologi islam rasional apresiasi terhadap

wacana dan praksis harun nasution.cet.III( Jakarta : ciputat Press,2005)

Muhammad arifin Teologi Rasional (Studi analisis terhadap

Pemikiran Teologi Harun Nasution),Cet.I.(Banda aceh.Ar-Raniry

Press:2008)

www.bumibebas.com.harun-nasution-pembangun-fondasi-

islam.html

Ibnuramadan.wordpress.com.htm.Prof. Dr. Harun Nasution, Neo

Mu’tazilah dan Paham Inkar Sunnah di Indonesia «

14