Anda di halaman 1dari 16

PENGARUH SALINITAS TERHADAP PERKEMBANGAN COPEPODA SEBAGAI PEMANFAATAN PAKAN ALAMI

Fajar Nurcahya D.P 060710296P

Latar Belakang
Dalam industri pembenihan ikan laut dewasa ini, copepoda mulai banyak dimanfaatkan sebagai pakan alami untuk larva ikan karena selain mempunyai nilai nutrisi yang tinggi juga karena ukuran tubuh yang bervariasi sehingga sesuai tingkat perkembangan larva ikan. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa copepoda dapat meningkatkan pertumbuhan larva ikan laut yang lebih cepat dibandingkan rotifer dan Artemia (Lavens dan Sorgelos, 1996).Copepoda kaya akan protein, lemak, asam amino esensial yang dapat mempercepat pertumbuhan, meningkatkan daya tahan tubuh serta mencerahkan warna pada udang dan ikan

Perairan Indonesia kaya akan kehadiran berbagai copepoda, memiliki peluang besar untuk memilih pakan hidup yang unggul sebagai pakan alternatif pengganti Artemia yang saat ini harganya

jenis jenis atau kian

melambung. Hasil penelitian menyatakan bahwa copepoda dapat dikultur di air laut dengan salinitas 25-30 ppt (Lavens dan Sorgeloos, 1996). Menurut Anindiastuti dkk. (2002), untuk mengkultur copepoda pada skala laboratorium sebaiknya menggunakan air laut yang steril bersalinitas 25 ppt. Sementara itu copepoda di perairan umum dapat hidup pada salinitas antara 26,50 dan 35,67 ppt (Levinton, 1982 dalam Umar, 2002). Dengan demikian, salinitas yang optimum untuk perkembangan copepoda laut belum diketahui secara pasti.

Rumusan Masalah
Apakah salinitas perairan mempengaruhi perkembangan copepoda secara signifikan

Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap perkembangan copepoda dan untuk mengetahui salinitas yang optimal untuk perkembangan copepoda

Tinjauan Pustaka
Klasifikasi Kingdom Filum Subfilum Kelas Subkelas Ordo : Animalia : Arthtropoda : Crustacea : Maxillopoda : Copepoda : Harpaticoid Calanoid Cyclopoid

Morfologi Copepoda dewasa berukuran antara 1 dan 5 mm. Tubuh copepoda berbentuk silindrikonikal, dimana anterior lebih lebar. Bagian depan meliputi 2 bagian yakni cephalotoraks (kepala dengan toraks dan segmen toraks ke enam) dan abdomen yang lebih kecil dibandingkan cephalotoraks. Pada bagian kepala memiliki mata di bagian tengah dan antenna yang pada umumnya sangat panjang. Copepoda yang bersifat planktonik pada umumnya suspension feeders (Lavens dan Sorgeloos, 1996).

Kandungan Nutrisi
Copepoda memiliki kandungan protein yang tinggi (antara 44 dan 52%) dan struktur asam amino yang baik kecuali metionin dan histidin. Komposisi asam lemak dari copepoda bervariasi tergantung pakan yang diberikan selama kegiatan budidaya (Lavens dan Sorgeloos, 1996). Copepoda (copepodit dan copepoda dewasa) juga dipercaya memiliki level enzim pencernaan yang lebih tinggi dan berperan penting untuk menunjang kebutuhan nutrisi larva. Copepoda lebih cepat tercerna dan cepat melewati usus serta lebih bagus tercerna dibandingkan Artemia.

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS


Beberapa jenis ikan laut bernilai ekonomis tinggi Permintaan yang semakin meningkat Budidaya intensif Copepoda sebagai pakan alami yang baik untuk pertumbuhan larva ikan laut Diperlukan penelitian tentang copepoda Mencari salinitas yang optimal untuk prkembangan copepoda Menguasai teknik budidaya copepoda dan dapat mengoptimalkan perkembangan copepoda

Hipotesis Pertumbuhan optimal copepoda dipengaruhi oleh salinitas perairan

METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni hingga Agustus 2011 di laboratorium Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga.

Langkah Penelitian
Pengenceran Air Laut Untuk mendapatkan salinitas sesuai perlakuan maka dilakukan pengenceran. Pengenceran dilakukan berdasarkan rumus yang digunakan oleh Subandrio (1993 dalam Musdalipa, 2000) sebagai berikut : Sn = (S1 x V1) + (S2 x V2) V1 + V2 Dimana : Sn : Salinitas yang diinginkan, S1 : Salinitas air yang akan diencerkan, S2 : Salinitas air pengencer, V1 : Volume air yang akan diencerkan, V2 : Volume air pengencer.

Pemberian Pakan Pakan yang digunakan adalah pakan hidup dari jenis Chaetoceros dengan kepadatan 3 x 106 sel/mL. Frekuensi pemberian pakan dilakukan dua kali sehari yakni pagi (09.00) dan sore hari (16.00). Pemberian pakan dilakukan dengan cara menambahkan secara langsung kedalam wadah pemeliharaan copepoda. Selanjutnya bibit copepoda ditebar kedalam wadah pemeliharaan sebanyak 100 ekor/wadah. Pemberian pakan pada copepoda dilakukan setiap hari dengan kepadatan yang sama pada setiap wadah pemeliharaan yakni 3 x 106 sel/mL.

Penghitungan Kepadatan Copepoda Selama pemeliharaan berlangsung, dilakukan perhitungan jumlah individu. Perhitungan dilakukan dengan cara menyaring (memadatkan/memanen) air sampel sampai 1 mL dari setiap wadah perlakuan, selanjutnya dihitung dengan menggunakan sedwig rafter cell. Apabila air sampel terlalu padat copepodanya maka dilakukan pengenceran untuk mempermudah perhitungan. Perhitungan dilakukan tiap hari, yakni pada pagi hari sekitar pukul 09.00 setelah pemberian pakan. Perlakuan dan Rancangan Percobaan Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan setiap perlakuan masing-masing mempunyai 3 ulangan. Dengan demikian, penelitian ini terdiri atas 12 satuan percobaan. Sebagai perlakuan adalah perbedaan salinitas media, yaitu : A. 26 ppt B. 29 ppt C. 32 ppt D. 35 ppt.

Pertumbuhan populasi dihitung dengan menggunakan rumus Cushing (1968), sebagai berikut: N = Nt N0 Dimana : N = Pertumbuhan populasi Nt = Jumlah populasi pada waktu t (Individu/mL) N0 = Jumlah populasi awal (Individu/mL). Sebagai data penunjang selama penelitian berlangsung, dilakukan pengukuran beberapa parameter kualitas air meliputi: suhu, pH, oksigen terlarut dan amoniak. Suhu diukur dengan menggunakan thermometer, pH dengan pH meter, oksigen terlarut dengan DO meter dan amoniak dengan spektrofotometer. Suhu, pH dan oksigen terlarut diukur setiap hari yakni pada pagi hari (08.00) dan sore hari (16.00), sedangkan amoniak diukur pada awal dan akhir penelitian.