Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Kata remaja berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence). Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Dengan adanya masa transisi ini, tentunya remaja akan mengalami berbagai perubahan, baik itu fisik, social, emosional dan psikologis. Untuk mengetahui tentang perubahan ini, penulis berkeinginan untuk mengetahui tentang perubahan-perubahan yang dialami selama masa remaja. 1.2.Tujuan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang : a. Perubahan anatomi pada remaja. b. Perubahan fisiologi pada remaja. c. Perubahan psikis pada remaja. d. Perubahan social pada remaja. e. Perubahan emosi pada remaja. f. Perubahan social pada remaja. g. Masalah dan penyakit pada reproduksi remaja.

BAB II KEPUSTAKAAN

Kata remaja berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence). Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa. Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan. Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001). Masa remaja adalah masa transisi antara masa anak dan dewasa, dimana terjadi pacu tumbuh (growth spurt), timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapainya 2

fertilitas dan terjadi perubahan-perubahan psikologik serta kognitif (Soetjiningsih, 2010). Menurut Soetjiningsih (2010) berdasarkan umur kronologis dan berbagai kepentingan, terdapat berbagai definisi tentang remaja, yaitu: 1. Pada buku-buku pediatri, remaja pada umumnya didefinisikan dengan mereka yang telah berumur 10-18 tahun bagi anak perempuan dan 12-20 tahun bagi anak laki-laki. 2. Menurut undang-undang No 4 tahun 1979 remaja adalah individu yang belum mencapai 21 tahun dan belum menikah. 3. Menurut undang-undang Perburuhan, anak dianggap remaja apabila telah mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat untuk tinggal. 4. Menurut UU Perkawinan No 1 tahun 1974, anak dianggap sudah remaja apabila cukup matang untuk menikah, yaitu umur 16 untuk anak perempuan dan 19 tahun untuk anak laki-laki. 5. Menurut WHO, remaja bila anak telah mencapai umur 10-18 tahun. Dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati tahapan berikut: Masa remaja awal/dini (Early adolescence): umur 11-13 tahun Masa remaja pertengahan (Middle adolescence): umur 14-16 tahun Masa remaja lanjut (Late adolescence): umur 17-20 tahun

2.1

Perubahan anatomi remaja A. Pengertian Pertumbuhan Fisik Pertumbuhan adalah suatu proses perubahan fisiologis yang bersifat progresif

dan kontinu dan berlangsung dalam periode tertentu. Perubahan ini bersifat kuantitatif dan berkisar hanya pada aspek-aspek fisik individu. Pertumbuhan itu meliputi perubahan progresif yang bersifat internal maupun eksternal. Perubahan internal antara lain, meliputi perubahan ukuran alat pencernaan makanan, bertambahnya besar dan berat jantung dan paru-paru, serta bertambah sempurnanya sistem kelenjar endokrin dan berbagai jaringan tubuh. Adapun perubahan eksternal meliputi bertambahnya tinggi badan, bertambahnya lingkar tubuh, perbandingan ukuran panjang dan lebar tubuh, ukuran besarnya organ seks, dan munculnya atau tumbuhnya tanda-tanda kelamin sekunder. Sebelum mulai pacu tumbuh, remaja putri tumbuh dengan kecepatan 5,5 cm/ tahun (4-7,5 cm). Sekitar 2 tahun setelah mulai pacu tumbuh, remaja perempuan mencapai PHV (peak height velocity) dengan kecepatan sekitar 8cm/tahun (6-10,5

cm). Kecepatan maksimal dicapai 6-12 bulan sebelum menarche dan ini dipertahankan hanya untuk beberapa bulan. Kemudian kecepatan pertumbuhan linier mengalami deselerasi untuk 2 tahun berikutnya atau lebih, keadaan ini sesuai dengan TKS4 (Tingkat Kematangan Seksual 4). Gambaran yang paling dini dan penting dari pertumbuhan tulang pada remaja perempuan adalah pertumbuhan pada lebar panggul selama pubertas. Pertumbuhan pelvis dan panggul (diukur pada diameter bi-iliacal) secara kuantitatif hampir sama dengan remaja laki-laki. Tetapi, karena pertumbuhan remaja perempuan lebih kecil pada berbagai dimensi tubuhnya, maka lebar panggul tampak tidak proporsional (tampak lebih besar) daripada remaja laki-laki (Soetjiningsih, 2010). Pertumbuhan berat dan tinggi badan juga mengikuti perkembangan kematangan seksual remaja. Anak remaja putri mengalami pacu tumbuh (penambahan TB dan BB dengan cepat) sebelum timbulnya tanda seks sekunder, pada usia rata-rata 8-9 tahun, sedangkan menarche terjadi rata-rata pada usia 12 tahun. Pada anak remaja putra, pacu tumbuh mulai terjadi sedikit lebih lambat pada usia sekitar 10-11 tahun, sedangkan perubahan suara terjadi pada usia 13 tahun. Penyebab terjadi makin awalnya tanda-tanda pertumbuhan ini diperkirakan karena faktor gizi yang semakin baik, rangsangan dari lingkungan, iklim, dan faktor sosioekonomi. Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas adalah akibat meningkatnya kadar hormone kelamin (sex hormones) yang diproduksi gonad dan kelenjar adrenal. Kelenjar ini dirangsang oleh hormone gonadotropin dari kelenjar hipofisis, yang distimulasi oleh rangsangan hormone GNRH dari hypothalamus, yang baru dilepaskan setelah tercapai kematangan tubuh anak. 1. Ciri-Ciri Remaja Awal a. Terjadi pertumbuhan fisik yang pesat b. Dalam jangka 3-4 tahun anak bertumbuh hingga tingginya hampir menyamai tinggi ortu. c. Pertumbuhan anggota badan dan otot-otot sering tidak seimbang. Pada lakilaki mulai memperlihatkan penonjolan otot-otot pada dada, lengan, paha dan betis. Pada wanita mulai menunjukkan mekar tubuh yang membedakannya dengan tubuh kanak-kanak. d. Dalam hal kecepatan pertumbuhan, terutama nampak jelas dalam usia 12-14 tahun remaja putri bertumbuh demikian cepat meninggalkan pertumbuhan remaja pria. Dalam masa pertumbuhan ini baik remaja pria maupun remaja wanita cenderung ke arah memanjang dibanding melebar. e. Kematangan kelenjar seks pada usia 11/12 th 14/15 th. Biasanya pertumbuhan itu lebih cepat pada remaja putri dibanding remaja putra. 4

2. Ciri-Ciri Remaja Akhir a. Pertumbuhan fisik remaja relatif berkurang dengan kata lain tidak sepesat dalam masa remaja awal.Bagi remaja pria pada usia 20 th dan remaja wanita 18 th keadaan tinggi badan mengalami pertumbuhan yang lambat. b. Mengalami keadaan sempurna bagi beberapa aspek pertumbuhan dan menunjukkan kesiapan untuk memasuki masa dewasa awal. Seperti badan dan anggota badan menjadi berimbang, wajah yang simetris, bahu yang berimbang dengan pinggul. Saat ini, remaja mengalami perubahan fisik (dalam tinggi dan berat badan) lebih awal dan cepat berakhir daripada orang tuanya. Kecenderungan ini disebut trend secular. Sebagai contoh, seratus tahun yang lalu, remaja USA dan Eropa Barat mulai menstruasi sekitar usia 15 17 tahun, sekarang sekitar 12 14 tahun. Di tahun 1880, laki-laki mencapai tinggi badan sepenuhnya pada usia 23 24 tahun dan perempuan pada usia 19 20 tahun, sekarang laki-laki mencapai tinggi maksimum pada usia 18 20 dan perempuan pada usia 13 14 tahun. Trend secular terjadi sebagai akibat dari meningkatnya faktor kesehatan dan gizi, serta kondisi hidup yang lebih baik. Sebagai contoh, meningkatnya tingkat kecukupan gizi dan perawatan kesehatan, serta menurunnya angka kesakitan (morbiditas) di usia bayi dan kanak-kanak. B. Anatomi dan proses faalan alat kelamin pria Alat kelamin pria terdiri dari dua bagian, yaitu batang kemaluan (penis) dan kantung zakar (skrotum). Kantung zakar berisi dua buah zakar, sedangkan penis merupakan jaringan tubuh yang penuh dengan pembuluh-pembuluh darah. Pada waktu-waktu tertentu pembuluh-pembuluh darah itu dipenuhi/dialiri oleh darah sehingga penis mengalami ereksi. Sesudah darah surut kembali, pembuluh-pembuluh darah tersebut kosong lagi dan penis kembali dalam keadaan yang kecil dan lembek. Pada beberapa orang, penis ini tidak berereksi, karena darah tidak mampu mengaliri pembuluh-pembuluh darah dalam penis. Inilah yang dinamakan impotensi. Faktor penyebab impotensi adalah faktor penyebab fisik dan faktor kejiwaan. Tentu saja, penderita impotensi akan mengalami kesulitan dalam hubungan seks. Dalam hubungan dengan pendidikan seks, perlu dikemukakan bahwa impotensi psikis dapat disebabkan karena metode pendidikan seks yang salah, misalnya orang tua terlalu menakut-nakuti anak sehingga anak menjadi merasa takut terhadap seks, atau orang tua selalu marah dan jijik kalau melihat anak mereka berereksi, sehingga anak tidak bisa lagi berereksi lagi. Karena itu, pendidikan seks, seperti juga pendidikan lainnya, perlu didasari dengan sikap menerima, mau mengerti, jujur, dan mau berterus terang dari pihak pendidik.

Bagian dalam alat kelamin pria antara lain : 1. Testis, menghasilkan : a. Hormon-hormon testosteron dan androgen yang sudah diterangkan di atas. b. Spermatozoa, diproduksi dalam jumlaah ratusan juta. 2. Saluran Vas (Vas Deferens), yaitu yang menghubungkan tersedia dengan kelenjar prostat. Melalui saluran ini spermatozoa dipompa menuju kelenjar prostat untuk disimpan sementara. 3. Kelenjar prostat, yaitu tempat penyimpanan spermatozoa untuk sementara. Sementara disimpan, spermatozoa itu dicampur dengan zat cair yang dinamakan air mani. 4. Saluran kencing, yaitu tempat keluarnya air mani dalam keadaan penis berereksi. Dalam keadaan tidak berereksi, atau jika orang yang bersangkutan mau buang air kecil, maka urethra siap dilalui oleh air seni yang berasal dari kandung kencing. Jadi, saluran kencing bertugas ganda, yaitu sebagai saluran air mani dan saluran air seni. C. Anatomi dan proses faalan alat kelamin Berbeda dari alat kelamin pria, alat kelamin wanita sebagian besar terletak di dalam tubuh. Bagian-bagian yang terdapat diluar adalah sebagai berikut: 1. Bibir luar 2. Bibir dalam 3. Klitoris, yaitu bagian yang penuh dengan ujung-ujung syaraf sehingga sangat peka terhadap rangsangan/sentuhan. Sentuhan-sentuhan pada klitoris dapat menyebabkan terjadinya orgasme pada wanita. 4. Urethra yang dihubungkan dengan kandung kencing. 5. Liang senggama atau lubang kemaluan pada gadis-gadis yang belum menikah biasanya tertutup oleh selaput dara. Selanjutnya, bagian-bagian dalam alat kelamin wanita antara lain : 1. Liang senggama (vagina), mempunyai fungsi tiga macam, yaitu : a. Jalan keluar haid. b. Jalan masuk penis dalam senggama. c. Jalan keluar bayi waktu melahirkan. 2. Mulut rahim yang menghubungkan vagina dengan rahim. 3. Rahim. Pada dinding rahim ini disimpan dan dibesarkan sel telur yang sudah dibuahi sehingga menjadi bayi yang siap untuk dilahirkan. Dalam keadaan tidak hamil, dinding rahim ini rontok sebagian dan keluar bersama sel telur yang tidak dibuahi. 4. Saluran telur disebelah kanan dan kiri rahim. Ujung saluran ini mirip dengan tangan terbuka yang berjari sehingga memungkinkannya

menangkap sel telur yang dilepaskan dari indung telur. Sel telur yang tertangkap ini kemudian didorong oleh rambut-rambut halus yang terdapat dalam saluran falopii sehingga mencapai rahim. Dalam saluran ini pulalah biasanya terjadi pertemuan sel telur dengan spermatozoa sehingga terjadi pembuahan. 5. Indung telur yang menghasilkan hormon-hormon estrogen, progesteron, dan sel-sel telur. D. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pertumbuhan Fisik Ada sejumlah faktor yang memengaruhi pertumbuhan fisik individu, yaitu sebagai berikut. 1. Faktor internal Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu. Termasuk ke dalam faktor internal ini adalah sebagai berikut. a. Sifat jasmaniah yang diwariskan dari orang tuanya Anak yang ayah dan ibunya bertubuh tinggi cenderung lekas tinggi dibanding anak yang berasal dari orang tua yang bertubuh pendek. b. Kematangan Secara sepintas, pertumbuhan fisik seolah-olah seperti sudah direncanakan oleh faktor kematangan. Meskipun anak itu diberi makanan yang bergizi tinggi, tetapi kalau saat kematangan belum sampai, pertumbuhan akan tertunda. 2. Faktor eksternal Faktor eksternal ialah faktor yang berasal dari luar diri si anak. Termasuk ke dalam faktor eksternal adalah sebagai berikut. a. Kesehatan. Anak yang sering sakit-sakitan pertumbuhan fisiknya akan terhambat. b. Makanan Anak yang kurang gizi pertumbuhannya akan terhambat, sebaliknya yang cukup gizi pertumbuhannya pesat. c. Stimulasi lingkungan Individu yang tubuhnya sering dilatih untuk meningkatkan percepatan pertumbuhannya akan berbeda dengan yang tidak pernah mendapat latihan.

2.2

Perubahan fisiologi remaja Masa pubertas ditandai dengan terjadinya perubahan-perubahan fisik

(meliputi penampilan fisik seperti bentuk tubuh dan proporsi tubuh) dan fungsi fisiologis (kematangan organ-organ seksual). Perubahan fisik yang terjadi pada masa

pubertas ini merupakan peristiwa yang paling penting, berlangsung cepat, drastis, tidak beraturan dan bermuara dari perubahan pada sistem reproduksi. Hormonhormon mulai diproduksi dan mempengaruhi organ reproduksi untuk memulai siklus reproduksi serta mempengaruhi terjadinya perubahan tubuh. Perubahan tubuh ini disertai dengan perkembangan bertahap dari karakteristik seksual primer dan karakteristik seksual sekunder. Karakteristik seksual primer mencakup perkembangan organ-organ reproduksi, sedangkan karakteristik seksual sekunder mencakup perubahan dalam bentuk tubuh sesuai dengan jenis kelamin misalnya, pada remaja putri ditandai dengan menarche (menstruasi pertama), tumbuhnya rambut-rambut pubis, pembesaran buah dada, pinggul, sedangkan pada remaja putra mengalami pollutio (mimpi basah pertama), pembesaran suara, tumbuh rambut-rambut pubis, tumbuh rambut pada bagian tertentu seperti di dada, di kaki, kumis dan sebagainya. Pada wanita mulai berfungsi sistem reproduksi ditandai dengan datangnya menarche yang umumnya terjadi di usia 10-14 tahun. Pada pria adalah terjadinya ereksi, orgasme dan ejakulasi. Pubertas pada wanita terjadi antara usia 8-14 tahun, diawali dengan pertumbuhan payudara, dua sampai enam bulan kemudian tumbuh rambut kemaluan disusul rambut ketiak. Pubertas pada pria terjadi antara usia 12-14 tahun biasanya ditandai dengan pembesaran testis, disertai perubahan tekstur dan warna scrotum kemudian tumbuh rambut pada kemaluan bersamaan dengan membesarnya penis. Sekitar usia 14 tahun, perkembangan testis dan penis hampir sempurna, rambut ketiak muncul setelahnya. Organ genetalia eksterna pada wanita terdiri mons veneris, klitoris, labia mayora, labia minora, vestibula dan organ genetalia interna terdiri uterus, vagina, tuba fallopi dan ovarium. Pada pria organ genetalia eksterna terdiri dari penis, scrotum dan organ genetalia interna terdiri vasdeferens, vesikula seminalis dan kelenjar prostat. Semen atau cairan sperma dikeluarkan oleh kelenjar prostat, kelenjar prostat berbentuk melingkar uretra tepat di bawah kandung kemih. Pada awal pubertas ( usia 10 13 tahun ), penampilan genitalia eksterna sudah menyerupai wanita dewasa. Kelenjar Bartholine mulai menghasilkan lendir sebelum menarche. Panjang vagina sudah mencapai ukuran wanita dewasa yaitu 10 12 cm , konsistensi lebih lentur dengan mukosa yang menebal. Sekresi vagina menjadi asam dan lactobacillus muncul kembali. Fornix vagina sudah terbentuk sehingga servik terpisah dari puncak vagina. Corpus uteri tumbuh dengan cepat dan mencapai ukuran dua kali lipat dari servik. Ovarium sudah berada dalam panggul. Karakteristik seksual sekunder terlihat dan sering terjadi perubahan yang cepat selama periode premenarche lanjut. Bentuk tubuh sudah lebih bulat khususnya pada bagian bahu dan paha. Estrogen meningkatkan penimbunan lemak tubuh dan mengawali pertumbuhan stroma dan ductus payudara. Kadang-kadang terjadi leucorrhoe fisiologik.

Dalam

tubuh

kita

terdapat

kelenjar-kelenjar,

yaitu

alat-alat

yang

mengeluarkan zat-zat tertentu. Beberapa kelenjar yang berkaitan dengan pertumbuhan tubuh dan seks antara lain : 1. Kelenjar bawah otak (Pituitary) Kelenjar ini sangat kecil dan terletak disebuah rongga di bawah otak. Karena itulah kelenjar pituitary dinamakan juga kelenjar bawah otak. Kelenjar bawah otak ini penting sekali karena hormon-hormon yang dikeluarkannya memengaruhi kelenjar-kelenjar lain dalam tubuh. Karena itu kelenjar ini dinamakan juga kelenjar induk. Beberapa di antara hormon-hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar bawah otak berpengaruh pada seksualitas, yaitu : a. Hormon pertumbuhan yang memengaruhi pertumbuhan badan terutama pada masa remaja. Hormon ini merangsang tulang-tulang panjang sehingga tulang-tulang itu bertambah panjang dan anak yang bersangkutan bertambah tinggi. Pertumbuhan ini akan mencapai tingkat yang maksimal pada usia kurang lebih 18 tahun dan sejak itu seseorang tidak akan bertambah tinggi lagi. Kelainan pada hormon ini dapat membuat orang menjadi terlalu pendek atau terlalu jangkung. b. Hormon perangsang pada pria, yaitu hormon yang memengaruhi testis. Pada remaja, hormon perangsang pria ini merangsang testis sehingga testis memproduksi hormon testosteron dan androgen serta sel-sel benih lakilaki. c. Hormon pengendali pada wanita yang memengaruhi indung telur untuk memproduksi sel-sel telur dan hormon-hormon estrogen dan progesteron. Dalam keadaan hamil, hormon pengendali wanita ini yang juga berfungsi untuk mengatur haid menjadi berlebihan dan dibuang kedalam air seni. Karena itulah adanya kehamilan dapat diketahui melalui air seni. Perlu diketahui juga bahwa kelenjar bawah otak ini terletak dekat sekali dengan pusat berpikir pada otak, sehingga kalau orang sedang banyak pikiran atau sedang mengalami tekanan emosi yang berat, hormon wanita yang diproduksi juga akan terpengaruh. Itulah sebabnya haid kadang-kadang terganggu atau terlambat jika seorang wanita sedang banyak pikiran atau sedang terganggu emosinya. d. Hormon air susu yang memengaruhi kelenjar susu wanita di masa wanita itu sedang menyusui bayinya. 2. Testis Testis atau buah zakar ada dua buah, terletak dalam sebuah kantung yang tergantung dibawah penis. Testis memproduksi:

a. Hormon androgen dan testosteron yang sejak remaja menyebabkan tumbuhnya tanda-tanda kelaki-lakian pada orang yang bersangkutan, seperti kumis, jenggot, jakun, otot yang kuat, suara yang berat, bulu kemaluan, ketiak, dan sebagainya. Testosteron juga menyebabkan timbulnya birahi. Hormon androgen dibuat juga oleh kelenjar adrenal. Pada wanita, hormon testosteron dibuat juga dalam jumlah yang jauh lebih kecil oleh indung telur sehingga wanita juga mempunyai birahi. b. Benih laki-laki. Sejak remaja spermatozoa ini diproduksi beratus-ratus juta setiap harinya, sampai orang yang bersangkutan berusia lanjut. Benih-benih inilah, yang jika bertemu dengan ovum alam rahim wanita, akan membuahi telur itu sehingga terjadi kehamilan. 3. Indung telur Indung telur terletak di dalam rongga perut wanita di bagian bawah, di dekat rahim (uterus). Indung telur memperoduksi : a. Hormon progesteron, bertugas untuk mematangkan dan

mempersiapkan sel telur sehingga siap untuk dibuahi. Jika sel telur dibuahi, progesteron ini pulalah yang mengembangkannya lebih lanjut menjadi janin. b. Hormon estrogen, yaitu yang memengaruhi pertumbuhan sifat-sifat kewanitaan pada tubuh seseorang. Hormon ini juga mengatur daur/siklus haid. Hormon ini diproduksi antara usia awal-remaja sampai usia berhentinya haid. c. Sel telur, sudah terkadang dalam jumlah banyak di dalam indung telur, tetapi baru dimatangkan satu per satu sejak anak masuk usia remaja. Pada satu waktu tertentu sel telur yang sudah matang dilepas dari indung telur dan ditangkap oleh saluran telur untuk selanjutnya dibuahi oleh spermatozoa atau dikeluarkan bersama-sama haid.

2.3

Perubahan psikis remaja

1. Remaja Awal a. Ketidakstabilan keadaan perasaan dan emosi Pada masa ini, remaja mengalami badai dan topan dalam kehidupan perasaan dan emosinya. Keadaan semacam ini sering disebut strom and stress. Remaja sesekali sangat bergairah dalam bekerja tiba-tiba berganti lesu, kegembiraan yang meledak bertukar rasa sedih yang sangat, rasa percaya diri berganti rasa ragu-ragu yang berlebihan, termasuk ketidaktentuan dalam menentukan citacita dan menentukan hal-hal yang lain.

10

b. Status remaja awal yang membingungkan Status mereka tidak hanya sulit ditentukan, tetapi juga membingungkan. Perlakuan orang tua terhadap mereka sering berganti-ganti. Orang tua ragu memberikan tanggungjawab dengan alasn mereka masih kanak-kanak. Tetapi saat mereka bertingkah kekanak-kanakan, mereka mendapat teguran sebagai orang dewasa. Karena itu, mereka bingung akan status mereka. c. Banyak masalah yang dihadapi remaja Remaja awal sebagai individu yang banyak mengalami masalah dalam kehidupannya. Hal ini dikarenakan mereka lebih mengutamakan

emosionalitas sehingga kurang mampu menerima pendapat orang lain yang bertentangan dengan pendapatnya. Faktor ini disebabkan karena mereka menganggap bahwa dirinya lebih mampu daripada orang tua. 2. Remaja Akhir Pada masa ini terjadi proses penyempurnaan pertumbuhan fisik dan perkembagngan psikis. a. Stabilitas mulai timbul dan meningkat Stabilitas mulai timbul dan meningkat dalam aspek psikis. Demikian pula stabil dalam minat-minatnya; pemilihan sekolah, jabatan, pakaian, pergaulan dengan sesame ataupun lain jenis. Mereka mulai menunjukkan kemantapan serta tidak mudah berubah pendirian. Proses menjadi stabil ini akan lebih cepat apabila orang tua berperan dengan lebih demokratis. b. Citra diri dan sikap pandang yang lebih realistis Disini remaja mulai menilai dirinya sebagaimana adanya (apa adanya), menghargai miliknya, keluarganya dan orang lain seperti sesungguhnya. c. Menghadapi masalahnya secara lebih matang Hal ini disebabkan oleh karena kemampuan piker remaja akhir yang telah lebih sempurna dan ditunjang oleh sikap pandangan yang lebih realistis. d. Perasaan menjadi lebih tenang e. Mereka tidak lagi menampakkan gejala-gejala strom and stress sehingga muncullah suatu ketenangan dalam diri mereka. Memasuki masa remaja yang diawali dengan terjadinya kematangan seksual, maka remaja akan dihadapkan pada keadaan yang memerlukan penyesuaian untuk dapat menerima perubahan-perubahan yang terjadi. Kematangan seksual dan terjadinya perubahan bentuk tubuh sangat berpengaruh pada kehidupan kejiwaan remaja. Datangnya menarche dapat menimbulkan reaksi positif maupun negatif bagi 11 keadaan

remaja perempuan. Apabila mereka sudah dipersiapkan dan mendapat informasi tentang akan datangnya menstruasi maka mereka tidak akan mengalami kecemasan dan reaksi negatif lainnya, tetapi bila mereka kurang memperoleh informasi maka akan merasakan pengalaman yang negatif. Kematangan seksual yang terlalu cepat atau lambat juga dapat mempengaruhi kehidupan psikososialnya, yaitu status mereka di dalam kelompok sebayanya. Anak perempuan yang lebih dahulu mengalami kematangan seksual akan merasa bahwa dirinya terlalu besar bila berada di kelompok teman sekelasnya, sementara teman-teman perempuan yang lainnya masih dapat merasakan kebersamaan dengan kelompok baik laki-laki ataupun perempuan. Terjadinya kematangan seksual pada remaja perempuan juga mengakibatkan remaja mulai tertarik terhadap anatomi fisiologi tubuhnya, mulai muncul kecemasankecemasan dan pertanyaan-pertanyaan seputar menstruasi, ukuran buah dada dan lain sebagainya. Pada saat itu mereka mulai memperhatikan tubuhnya dan penampilan dirinya dan sering membandingkan dirinya dengan orang lain, selain tertarik kepada dirinya, juga mulai muncul perasaan tertarik kepada teman sebayanya yang

berlawanan jenis, walaupun masih disembunyikan, karena mereka menyadari masih terlalu kecil untuk berpacaran (Marheni, 2010). Di masa remaja selain terjadi perubahan jasmani dan fungsi tubuh, juga terjadi perubahan pada aspek kejiwaan dan kehidupan sosial. Perubahan bentuk tubuh pada remaja dapat menimbulkan kecemasan ataupun bangga karena mereka sudah mulai dewasa. Seseorang jika dirinya sudah memasuki masa remaja perasaan-perasaan yang tidak ditemukan pada masa anak mulai berkembang misalnya mulai tertarik dengan lawan jenis (Widjanarko, 1993 dalam Iryanti, 2003). Ketika memasuki masa pubertas, setiap anak telah mempunyai sistem kepribadian yang merupakan pembentukan dari perkembangan selama ini. Di luar sistem kepribadian anak seperti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi, pengaruh media massa, keluarga, sekolah, teman sebaya, budaya, agama, nilai dan norma masyarakat tidak dapat diabaikan dalam proses pembentukan kepribadian tersebut. Pada masa remaja, seringkali berbagai faktor penunjang ini dapat saling mendukung dan dapat saling berbenturan nilai. Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak, (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood senang luar biasa ke sedih luar biasa, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.

12

Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain yag membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-image). Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata. Dari beberapa dimensi perubahan yang terjadi pada remaja seperti yang telah dijelaskan diatas maka terdapat kemungkinan

penyimpangan perilaku yang mengundang resiko pada masa remaja misalnya seperti penggunaan alcohol, tembakau dan zat lainnya, serta aktivitas pergaulan seksual yang membahayakan. alasan perilaku yang mengundang resiko adalah bermacam macam dan berhubungan dengan rasa takut, dianggap tidak cakap, perlu untuk menegaskan identitas maskulin dan dinamika kelompok seperti tekanan teman sebaya.

2.4

Perubahan social remaja Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman

sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar. Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991). Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991). A. Pola Interaksi Remaja-Orang tua Sesuai dengan tahap perkembangannya, interaksi remaja dengan orang tua memiliki kekhasan tersendiri. Jersild, Brook, dan Brook (1998) mengatakan bahwa

13

interaksi antara remaja dengan orang tua dapat digambarkan sebagai drama tiga tindakan. Drama tindakan pertama, interaksi remaja dengan orang tua berlangsung sebagaimana yang terjadi pada interkasi antara masa anak-anak dengan orang tua. Mereka memiliki ketergantungan kepada orang tua dan mereka sangat dipengaruhi oleh orang tua. Namun, remaja sudah mulai semakin menyadari keberadaan dirinya sebagai pribadi daripada masa-masa sebelumnya. Drama tindakan kedua, disebut dengan istlah perjuangan untuk emansipasi. Pada masa ini, remaja juga memiliki perjuangan yang kuat untuk membebaskan dirinya dari ketergantungan dengan orang tuanya sebagaimana pada masa anak-anak untuk mencapai status dewasa. Dengan demikian, ketika berinteraksi dengan orang tua, remaja mulai berusaha meninggalkan kemanjaan dirinya dengan orang tua dan semakin bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Akibatnya, mereka seringkali mengalami pergolakan dan konflik ketika berinteraksi dengan orang tua. Drama tindakan ketiga, remaja berusaha menempatkan dirinya berteman denga orang dewasa dan berinteraksi secara lancar dengan mereka. Namun, usaha remaja ini seringkali masih memperoleh hambatan yang disebabkan oleh pengaruh dari orang tua yang sebenarnya masih belum bisa melepas anak remajanya secara penuh. Akibatnya, remaja seringkali menentang gagasan-gagasan dan sikap orang tuanya. B. Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja a. Berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan akan pergaulan. b. Adanya upaya memilih nilai-nilai sosial. c. Meningkatnya ketertarikan pada lawan jenis. d. Mulai cenderung memilih karier tertentu. C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Hubungan Sosial a. Lingkungan keluarga. Ada sejumlah faktor dari dalam keluarga yang sangat dibutuhkan oleh anak dalam proses perkembangan sosialnya, yaitu kebutuhan akan rasa aman, dihargai, disayangi, diterima, dan kebebasan untuk menyatakan diri. Rasa aman meliputi perasaan aman secara material dan mental. Perasaan aman secara material berarti pemenuhan kebutuhan pakaian, makanan, dan sarana lain yang diperlukan sejauh tidak berlebihan dan tidak berada di luar kemampuan orang tua. Perasaan aman secara mental berarti pemenuhan oleh orang tua berupa perlindungan emosional, menjauhkan ketegangan,

membantu dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, dan memberikan bantuan dalam menstabilkan emosinya.

14

b. Lingkungan sekolah Sebagaimana dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah juga dituntut menciptakan iklim kehidupan sekolah yang kondusif bagi perkembangan sosial remaja. Kondusif tidaknya iklim kehidupan sekolah bagi perkembangan hubungan sosial remaja tersimpul dalam interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, keteladanan perilaku guru, etos keahlian atau kualitas guru yang ditampilkan dalam melaksanakan tugas profesinalnya sehingga dapat menjadi model bagi siswa yang tumbuh remaja. Hadir atau tidaknya faktor-faktor tersebut secara favourable dapat memengaruhi perkembangan hubungan sosial remaja, meskipun disadari pula bahwa sekolah bukanlah satusatunya faktor penentu. c. Lingkungan masyarakat Bentuk-bentuk perilaku sosial merupakan hasil tiruan dan adaptasi dari pengaruh kenyataan sosial yang ada. Kebudayaan kita menyimpan potensi legitimasi anggota masyarakat untuk menampilkan perilaku sosial yang kurang baik dengan berbagai dalih, yang sah maupun yang terelakkan.

2.5

Perubahan emosi remaja Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi

yang tinggi. Masa remaja awal perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi sosial, emosinya bersifat negatif dan temperamental (mudah tersinggung, marah, atau mudah sedih dan murung. Sedangkan remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinyakembangan emosi yang tinggi. Hurlock (Dalam Syamsu Yusuf.2002:196) mengmukakan bahwa remaja usia 14 tahun seringkali mudah marah, mudah terangsang, dan emosinya cenderung meledak-ledak, tidak berusaha mengendalikan perasaannya. Sebaliknya, remaja 16 tahun mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai keprihatinan. Jadi, adanya badai dan tekanan periode ini berkurang menjelang berakhirnya awal masa remaja. Mencapai kematangan emosional merupakan tugas yang sulit bagi remaja. Proses pencapainnya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional

lingkungannya, terutama lingkungan keluarga dan kelompok teman sebaya. Apabila lingkungan tersebut cukup kondusif, dalam arti kondinya diwarnai oleh hubungan harmonis, saling mempercayai, saling menghargai, dan penuh tanggung jawab, maka remaja cenderung dapat mencapai kematanagn emosionalnya. Sebaliknya, apabila kurang dipersiapkan untuk memahami peran-perannya dan kurang mendapatkan 15

perhatian dan kasih sayang dari orang tua atau teman sebayanya, mereka cenderung akan mengalami kecemasan, tertekan, dan ketidaknyamanan emosional. Dalam menghadapi ketidaknyamanan emosional tersebut, tidak sedikit remaja yang mereaksinya secara depensif, sebagai upaya untuk melindungi kelemahan dirinya. Reaksi itu tampil dalam tingkah laku malajusment), seperti, (1) agresif, melawan, keras kepala, bertengkar, berkelahi, dan senang mengganggu, dan (2) melarikan diri dari kenyataan: melamun, pendiam, senang menyendiri, dan menyalahgunakan narkoba. Pertumbuhan fisik, terutama organ-organ seksual mempengaruhi emosi atau perasaan dan dorongan baru yang dialami sebelumnya seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis. Seseorang individu dalam merespon sesuatu lebih banyak diarahkan oleh penalaran dan pertimbanganpertimbangan objektif. Akan tetapi pada saat-saat tertentu di dalam kehidupannya, dorongan emosional banyak campur tangan dan mempengaruhi pemikiran-pemikiran dan tingkah lakunya. Oleh karena itu, untuk memahami remaja, memang perlu mengetahui apa yang dilakukan dan dipikirkan. Di samping itu hal yang lebih penting untuk diketahui adalah apa yang mereka rasakan. Makin banyak guru BK dapat memahami dunia remaja seperti apa yang mereka alami, makin perlu kita melihat ke dalam kehidupan emosionalnya dan memahami perasan-perasaannya, baik perasaaan tentang dirinya sendiri maupun orang lain. Gejala-gejala emosional seperti marah, takut, bangga dan rasa malu, cinta dan benci, harapan-harapan dan rasa putus asa, perlu dicermati dan dipahami dengan baik. a. Pengertian emosi Banyak definisi mengenai emosi yang dikemukakan oleh para ahli. Istilah emosi menurut Daniel Goleman (1995) yang merujuk pada makna yang paling harfiah yang diambil dari Oxford English Dictionary yang memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Lebih lanjut, Daniel Goleman mengatakan bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sementara itu, Chaplin (1989) dalam Dictionary of Psychology

mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan-perubahan perilaku. Chaplin (1989) membedakan emosi dengan perasaan, dan dia mendefinisikan perasaan adalah pengalaman disadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaan jasmaniah.

16

Definisi lain menyatakan bahwa emosi adalah suatu respon terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus. Respons demikian terjadi baik terhadap perangsang-perangsang eksternal maupun internal. Menurut Daniel Goleman, sesungguhnya ada ratusan emosi bersama dengan variasi, campuran, mutasi, dan nuansanya sehingga makna yang dikandungnya lebih banyak, lebih kompleks, dan lebih halus daripada kata dan definisi yang digunakan untuk menjelaskan emosi. Pengertian emosi menurut Crow & Crow (Dalam Sunarto.2002:149) adalah An emotion is on affective experience that accompanies generalized inner adjusment and mental and physiological stirredup states in the individual, and that shows it self in his evert behavior Jadi emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dari fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Emosi adalah warna afektif yang kuat yang dan ditandai oleh perubahanperubahan fisik. Pada saat terjadi emosi seringkali terjadi perubahan-perubahan pada fisik antara lain: 1) Reaksi elektris pada kulit: meningkat bila terpesona. 2) Peredaran darah: bertambah cepat bila marah. 3) Denyut jantung: bertambah cepat bila terkejut. 4) Pernapasan: bernapas panjang kalau kecewa. 5) Pupil mata: membesar bila marah. 6) Liur: mengering kalau takut atau tegang.

7) Bulu roma: berdiri kalau takut. 8) Pencernaan: mencret kalu tegang. 9) Otot: ketegangan dan ketakutan menyebabkan otot menegang atau bergetar

(tremor). 10) Komposisi darah: akan berubah karena emosional yang menyebabkan kelenjar lebih aktif. Meskipun emosi itu sedemikian kompleksnya, namun Daniel Goleman mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu sebagai berikut.

17

1. Amarah, di dalamnya meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan, dan kebencian patologis. 2. Kesedihan, di dalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi. 3. Rasa takut, di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali, sedih, waspada, tidak tenang, ngeri, kecut, panik, dan fobia. 4. Kenikmatan, di dalamnya meliputi penerimaan bahagia, gembira, ringan puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, terpesona, puas, rasa terpenuhi, girang, senang sekali, dan mania. 5. Cinta, di dalamnya meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih sayang. 6. Terkejut, di dalamnya meliputi terkesiap, takjub dan terpana. 7. Jengkel, di dalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka dan mau muntah. 8. Malu, di dalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hati hancur lebur. b. Karakteristik perkembangan emosi. Masa remaja sering dianggap sebagai periode badai dan topan, yaitu s uatu masa di mana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena mereka berada di bawah tekanan sosial dan mereka menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu. Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan, namun sebagian besar mengalami

ketidakstabilan emosi dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi usaha penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru. Jenis emosi yang umum dihadapi remaja adalah cinta, kasih sayang, gembira, amarah, takut, cemas, cemburu, sedih, danlain-lain. Emosi cinta atau kasih sayang merupakan hal penting dalam kehidupan remaja dalam kapasitasnya untuk mencintai orang lain dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Kemampuan untuk menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberi. Remaja membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya. Karena alasan inilah maka sikap menentang mereka, menyalahkan mereka secara langsung, mengolokolok mereka, adanya perhatian terhadap lawan jenisnya, merupakan tindakan yang kurang bijaksana. Remaja akan hidup bahagia apabila mendapatkan cinta dari orang lain. Kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta menjadi sangat penting walaupun kebutuhan akan perasaan itu disembunyikan secara rapi. Para remaja yang 18

berontak secara terang-terangan, nakal, dan mempunyai sikap membangkang dan permusuhan yang besar, kemungkinannya disebabkan oleh kurangnya rasa cinta dan dicintai yang tidak disadari. Remaja akan mengalami rasa gembira apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan diterima sebagai sahabat, atau bila ia jatuh cinta cintanya mendapat sambutan oleh yang dicintai. Selanjutnya, remaja akan marah apabila mereka mendapat hambatan yang menyebabkan kehilangan kendali terhadap rasa marah. Rasa marah akan terus berlanjut pemunculannya apabila minat, rencana, dan tindakannya dirintangi. 1. Periode praremaja Selama periode ini terjadi gejala-gejala yang hampir sama antara remaja pria maupun remaja wanita. Perubahan fisik belum tampak jelas, tetapi pada remaja putri biasanya memperlihatkan penambahan berat badan yang cepat sehingga mereka merasa gemuk. Gerakan-gerakan mereka mulai menjadi kaku. Perubahan ini disertai sifat kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan respons mereka biasanya berlebihan sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng, tetapi juga cepat merasa senang atau bahkan meledak-ledak, 2. Periode remaja awal Selama periode ini perkembangan fisik yang semakin tampak adalah perubahan fungsi alat kelamin. Karena perubahan alat kelamin semakin nyata, remaja seringkali mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan-perubahan itu. Akibatnya, tidak jarang mereka

cenderung menyendiri sehingga merasa terasing, kurang perhatian dari orang lain, atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau memperdulikannya. Kontrol terhadap dirinya bertambah sulit dan mereka cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar untuk meyakinkan dunia sekitarnya. Perilaku seperti ini sesungguhnya terjadi karena adanya kecemasan terhadap dirinya sendiri sehingga muncul dalam reaksi yang kadang-kadang tidak wajar. 3. Periode remaja tengah Tanggung jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh remaja yaitu mampu memikul sendiri juga menjadi masalah tersendiri bagi mereka. Karena tuntutan peningkatan tanggung jawab tidak hanya datang dari orang tua atau anggota keluarganya tetapi juga dari masyarakat sekitarnya. Tidak jarang masyarakat juga menjadi masalah bagi remaja. Melihat fenomena yang sering terjadi di masyarakat yang seringkali juga menunjukkan adanya kontradiksi dengan nilai-nilai moral yang mereka ketahui, tidak jarang remaja mulai meragukan tentang apa yang disebut baik atau buruk. Akibatnya, remaja seringkali ingin membentuk nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar, baik, dan pantas untuk dikembangkan dikalangan mereka sendiri.

19

Lebih-lebih jika orang tua atau orang dewasa di sekitarnya ingin memaksakan nilai-nilainya agar dipatuhi oleh remaja tanpa disertai dengan alasan yang masuk akal menurut mereka. 4. Periode remaja akhir Selama periode ini remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunjukkan pemikiran, sikap, perilaku yang semakin dewasa. Oleh sebab itu, orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka. Interaksi dengan orang tua juga menjadi lebih lancar dan bagus karena mereka sudah memiliki kebebasan penuh serta emosinya pun mulai stabil. Pilihan arah hidup sudah semakin jelas dan mulai mampu mengambil pilihan dan keputusan tentang arah hidupnya secara lebih bijaksana meskipun belum bisa secara penuh. Mereka juga mulai memilih cara-cara hidup yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap dirinya sendiri, orang tua, dan masyarakat. c. Ciri-ciri emosional remaja . Ciri emosional remaja dibagi menjadi dua yaitu usia 12-15 tahun dan usia 15 18 tahun. Ciri-ciri emosional remaja berusia 12-15 tahun adalah sebagai berikut: 1) Pada usia ini seorang siswa/anak cenderung banyak murung dan tidak dapat

diterka. Sebagian kemurungan sebagai akibat dari perubahan-perubahan biologis dalam hubungannya dengan kematangan seksual dan sebagian karena

kebingungannya dalam menghadapi apakah ia masih sebagai anak-anak atau sebagai seorang dewasa. 2) Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri. 3) Ledakan-ledakan kemarahan bisa terjadi akibat dari kombinasi ketegangan

psikologis, ketidakstabilan biologis, dan kelelahan karena bekerja terlalu keras atau pola makan yang tidak tepat atau tidur yang tidak cukup. 4) Remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan

pendapatnya sendiri yang disebabkan kurangnya rasa percaya diri. 5) Remaja mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara lebih objektif

dan mungkin menjadi marah apabila mereka ditipu degan gaya guru yang bersikap serba tahu. Sedangkan ciri emosional remaja usia 15 18 tahu adalah: 1) Pemberontakan remaja merupakan pernyataan-pernyataan ekspresi dari

perubahan yang universal dari masa kanak-kanak ke dewasa.

20

2)

Banyak remaja yang mengalami konflik dengan orang tuanya. Mereka

mengharapkan simpati dan nasihat orang tua atau guru. 3) Remaja usia ini sering melamun, memikirkan masa depan mereka. Banyak di

antara mereka terlalu tinggi menafsir kemampuan mereka sendiri dan merasa berpeluang besar untuk memasuki pekerjaan atau jabatan tertentu. d. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja. Hurlock mengemukakan bahwa perkembangan emosi tegantung pada faktor kematangan dan faktor belajar (Dalam Sunarto.2002:156). Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal kehidupan tidak berarti tidak ada, reaksi tersebut mungkin akan muncul di kemudian hari, dengan berfungsinya sistem endoktrin. Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti, memperhatikan satu rangsangan dalam jangka waktu yang lebih lama dan menimbulkan emosi terarah pada suatu objek. Demikian pula kemampuan mengingat mempengaruhi reaksi emosional. Dengan demikian, anak-anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada usia yang lebih muda. 1. Perubahan jasmani Perubahan jasmani yang ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan yang angat cepat dari anggota tubuh. Pada taraf permulaan pertumbuhan ini hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan psotur tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan tubuh ini sering mempunyai akibat yang tak terduga pada perkembangan emosi remaja. Tidak semua remaja dapat menerima perubahan kondisi tubuh seperti itu, lebih-lebih jika perubahan itu menyangkut perubahan kulit yang menjadi kasar dan penuh jerawat. Hormon-hormon tertentu mulai berfungsi sejalan dengan perkembangan alat kelaminnya sehingga dapat menyebabkan rangsangan di dalam tubuh remeja dan seringkali menimbulkan masalah dalam perkembangan emosinya. 2. Perubahan pola interaksi dengan orang tua Pola asuh orang tua terhadap anak, termasuk remaja, sangat bervariasi. Ada yang pola asuhnya menurut apa yang dianggap terbaik menurut dirinya sendiri saja sehingga ada yang bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada juga yang penuh cinta kasih. Perbedaan pola asuh orang tua seperti ini dapat berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan emosi remaja. Cara memberikan hukuman misalnya, kalau dulu anak dipukul karena nakal, pada masa remaja cara semacam itu

21

justru dapat menimbulkan ketegangan yang lebih besar antara remaja dengan orang tuanya. Pemberontakan terhadap orang tua menunjukkan bahwa mereka berada dalam konflik dan ingin melepaskan diri dari pengawasan orang tua. Mereka tidak merasa puas kalau tidak pernah sama sekali menunjukkan perlawanan terhadap orang tua karena ingin menunjukkan seberapa jauh dirinya telah berhasil menjadi orang yang lebih dewasa. Jika mereka berhasil dalam perlawanan terhadap orang tua sehingga menjadi marah, meeka pun belum merasa puas karena orang tua tidak menunjukkan pengertian yang mereka inginkan. Keadaan semacam ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi remaja. 3. Perubahan interaksi dengan teman sebaya Remaja seringkali membangun interaksi sesama teman sebayanya secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama dengan membentuk semacam geng. Interaksi antaranggota dalam suatu kelompok geng biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan solidaritas yang sangat tinggi. Pembentukan kelompok dalam bentuk geng seperti ini sebaiknya diusahakan terjadi pada masa remaja awal karena biasanya bertujuan positif, yaitu untuk memenuhi minat mereka bersama. Usahakan dapat menghindarkan pembentukan kelompok secarra geng itu ketika sudah memasuki remaja tengah atau remaja akhir. Pada masa ini para anggotanya biasanya membutuhkan teman-teman untuk melawan otoritas atau melakukan perbuatan yang tidak baik atau bahkan kejahatan bersama. Faktor yang sering menimbulkan masalah emosi pada masa ini adalah hubungan cinta dengan teman lawan jenis. Pada masa remaja tengah, biasanya remaja benar-benar mulai jatuh cinta dengan lawan jenisnya. Gangguan emosional mendalam dapat terjadi ketikaa cinta remaja tidak terjawab atau karena pemutusan hubungan cinta dari satu pihak sehingga dapat menimbulkan kecemasan bagi orang tua dan bagi remaja itu sendiri. 4. Perubahan pandangan luar Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan konflik-konflik emosional dalam diri remaja, yaitu sebagai berikut. a. Sikap dunia luar terhadap remaja sering tidak konsisten. Kadang-kadang mereka di anggap sudah dewasa, tetapi mereka tidak mendapat kebebasan penuh atau peran yang wajar sebagaimana orang dewasa. Seringkali mereka masih dianggap anak kecil sehingga menimbulkan kejengkelan pada diri remaja. Kejengkelan yang mendalam dapat berubah menjadi tingkah laku emosional.

22

b. Dunia luar atau masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk remaja laki-laki dan perempuan. Kalau remaja laki-laki memiliki banyak teman perempuan, mereka mendapat predikat populer dan mendatangkan kebanggaan. Sebaliknya, apabila remaja putri mempunyai banyak teman laki-laki sering dianggap tidak baik atau bahkan mendapat predikat yang kurang baik. Penerapan nilai yang berbeda semacam ini jika tidak disertai dengan pemberian pengertian secara bijaksana dapat menyebabkan remaja bertingkah laku emosional. c. Seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab, yaitu dengan cara melibatkan remaja tersebut ke dalam kegiatan-kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar nilai-nilai moral.

5. Perubahan Interaksi dengan Sekolah Dalam pembaruan, para remaja sering terbentur pada nilai-nilai yang tidak dapat mereka terima atau yang sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai yang menarik bagi mereka. Pada saat itu, timbullah idealisme untuk mengubah lingkungannya. Idealisme seperti ini tentunya tidak boleh diremehkan dengan anggapan bahwa semuanya akan muncul jika mereka sudah dewasa. Sebab, idealisme yang dikecewakan dapat berkembang menjadi tingkah laku emosional yang destruktif. Sebaliknya, kalau remaja berhasil diberikan penyaluran yang positif untuk mengembangkan idealismenya akan sangat bermanfaat bagi perkembangan mereka sampai memasuki masa dewasa.

2.6

Masalah dan penyakit pada reproduksi remaja Kuatnya norma sosial yang menganggap seksualitas adalah tabu akan

berdampak pada kuatnya penolakan terhadap usulan agar pendidikan seksualitas terintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan. Sekalipun sejak reformasi bergulir hal ini telah diupayakan oleh sejumlah pihak seperti organisasi-organisasi non pemerintah (NGO), dan juga pemerintah sendiri (khususnya Departemen Pendidikan Nasional), untuk memasukkan seksualitas dalam mata pelajaran Pendidikan Reproduksi Remaja; namun hal ini belum sepenuhnya mampu mengatasi problem riil yang dihadapi remaja. Faktanya, masalah terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi masih banyak dihadapi oleh remaja. Masalah-masalah tersebut antara lain : 1. Perkosaan. Kejahatan perkosaan ini biasanya banyak sekali modusnya. Korbannya tidak hanya remaja perempuan, tetapi juga laki-laki (sodomi). Remaja perempuan

23

rentan mengalami perkosaan oleh sang pacar, karena dibujuk dengan alasan untuk menunjukkan bukti cinta. 2. Free sex. Seks bebas ini dilakukan dengan pasangan atau pacar yang berganti-ganti. Seks bebas pada remaja ini (di bawah usia 17 tahun) secara medis selain dapat memperbesar kemungkinan terkena infeksi menular seksual dan virus HIV (Human Immuno Deficiency Virus), juga dapat merangsang tumbuhnya sel kanker pada rahim remaja perempuan. Sebab, pada remaja perempuan usia 12-17 tahun mengalami perubahan aktif pada sel dalam mulut rahimnya. Selain itu, seks bebas biasanya juga dibarengi dengan penggunaan obatobatan terlarang di kalangan remaja. Sehingga hal ini akan semakin memperparah persoalan yang dihadapi remaja terkait kesehatan reproduksi ini. 3. Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Hubungan seks pranikah di kalangan remaja didasari pula oleh mitos-mitos seputar masalah seksualitas. Misalnya saja, mitos berhubungan seksual dengan pacar merupakan bukti cinta. Atau, mitos bahwa berhubungan seksual hanya sekali tidak akan menyebabkan kehamilan. Padahal hubungan seks sekalipun hanya sekali juga dapat menyebabkan kehamilan selama si remaja perempuan dalam masa subur. 4. Aborsi. Aborsi merupakan keluarnya embrio atau janin dalam kandungan sebelum waktunya. Aborsi pada remaja terkait KTD biasanya tergolong dalam kategori aborsi provokatus, atau pengguguran kandungan yang sengaja dilakukan. Namun begitu, ada juga yang keguguran terjadi secara alamiah atau aborsi spontan. Hal ini terjadi karena berbagai hal antara lain karena kondisi si remaja perempuan yang mengalami KTD umumnya tertekan secara psikologis, karena secara psikososial ia belum siap menjalani kehamilan. Kondisi psikologis yang tidak sehat ini akan berdampak pula pada kesehatan fisik yang tidak menunjang untuk melangsungkan kehamilan. 5. Perkawinan dan kehamilan dini. Nikah dini ini, khususnya terjadi di pedesaan. Di beberapa daerah, dominasi orang tua biasanya masih kuat dalam menentukan perkawinan anak dalam hal ini remaja perempuan. Alasan terjadinya pernikahan dini adalah pergaulan bebas seperti hamil di luar pernikahan dan alasan ekonomi. Remaja yang menikah dini, baik secara fisik maupun biologis belum cukup matang untuk memiliki anak sehingga rentan menyebabkan kematian anak dan ibu pada saat melahirkan. Perempuan dengan usia kurang dari 20 tahun yang menjalani

24

kehamilan sering mengalami kekurangan gizi dan anemia. Gejala ini berkaitan dengan distribusi makanan yang tidak merata, antara janin dan ibu yang masih dalam tahap proses pertumbuhan. 6. IMS (Infeksi Menular Seksual) atau PMS (Penyakit Menular Seksual), dan HIV/AIDS. IMS ini sering disebut juga penyakit kelamin atau penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Sebab IMS dan HIV sebagian besar menular melalui hubungan seksual baik melalui vagina, mulut, maupun dubur. Untuk HIV sendiri bisa menular dengan transfusi darah dan dari ibu kepada janin yang dikandungnya. Dampak yang ditimbulkannya juga sangat besar sekali, mulai dari gangguan organ reproduksi, keguguran, kemandulan, kanker leher rahim, hingga cacat pada bayi dan kematian.

25

BAB III PENUTUP

3.1.

Kesimpulan Pertumbuhan adalah suatu proses perubahan fisiologis yang bersifat progresif

dan kontinu dan berlangsung dalam periode tertentu. Ada sejumlah faktor yang memengaruhi pertumbuhan fisik individu, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dalam tubuh kita terdapat kelenjar-kelenjar, yaitu alat-alat yang mengeluarkan zat-zat tertentu. Beberapa kelenjar yang berkaitan dengan pertumbuhan tubuh dan seks antara lain : kelenjar bawah otak (Pituitary), testis, indung telur. Perubahan psikis remaja dibedakan menjadi perubahan psikis remaja awal dan remaja akhir. Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Faktorfaktor yang mempengaruhi perkembangan hubungan sosial antara lain lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dari fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Karakteristik perkembangan emosi dibedakan menjadi periode praremaja, periode remaja awal, periode remaja tengah, periode remaja akhir. Masalah dan penyakit pada reproduksi remaja antara lain perkosaan, free sex, kehamilan tidak diinginkan (KTD), aborsi, perkawinan dan kehamilan dini, dan IMS (Infeksi Menular Seksual) atau PMS (Penyakit Menular Seksual), dan HIV/AIDS. 3.2. Saran Dengan mengetahui berbagai perubahan yang dialami remaja dalam berbagai aspek, hendaknya berbagai pihak dapat mengkondisikan lingkungan yang kondusif untuk melejitkan potensi yang dimiliki oleh remaja.

26

DAFTAR PUSTAKA
1. Sarlito W. Sarwono. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Pers. 2011. 2. Mohammad Ali dan Mohammad Asrori. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Bumi Aksara. 2011. 3. Bambang widjanarko dalam http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/11/ginekologi-anak-dan-remaja.html . Di unduh pada 12 Februari 2013 pukul 17:00:00 WIB. 4. Fauziah Betty R dalam http://faizahbettyrahayuningsih.blogspot.com/2010/12/pendidikan-kesehatanreproduksi-sehat.html. Di unduh pada 12 Februari 2013 pukul 17:00:00 WIB. 5. Galih rosy dalam http://rosy46nelli.wordpress.com/2009/11/29/perkembangan-danpertumbuhan-pada-masa-remaja/. Di unduh pada 12 Februari 2013 pukul 17:00:00 WIB. 6. Wiwan S. Koban dkk dalam http://rumahbelajarpsikologi.com/index2.php?option=com_content&do_pdf= 1&id=101. Di unduh pada 12 Februari 2013 pukul 17:00:00 WIB. 7. Author dalam http://kajianpsikologi.guru-indonesia.net/artikel_detail20035.html. Di unduh pada 12 Februari 2013 pukul 17:00:00 WIB.

27