Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN NIFAS PATOLOGIS

Nifas adalah masa yang dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alatalat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas ini berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Saifuddin dalam Astuti, 2009). Pada masa ini terjadi bebrapa perubahan, baik itu perubahan yang normal maupun yang patologis. Perubahan yang petologis dapat menjadi masalah bagi ibu masa nifas. Ada 5 masalah utama dalam masa nifas, yaitu: perdarahan post partum sekunder, febris puerpuralis, mastitis, perlukaan jalan lahir, depresi pst partum.

A. PERDARAHAN POST PARTUM Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih dari 500-600ml selama 24 jam setelah bayi lahir. Termasuk perdarahan karena retensio plasenta. Perdarahan pasca partum adalah perdarahan pervaginam yang melebihi 500ml setelah bersalin.(Acuan Nasional Bahan Ajar Neonatal:2002).

1. Perdarahan Post Partum Primer: Perdarahan post partum primer adalah perdarahan lebih dari 500 ml dalam waktu 24 jam pertama pasca persalinan. Etiologi : a. Atonia uteri dan b. Sisa plasenta ( 80%) c. Laserasi jalan lahir (20% ) d. Gangguan faal pembekuan darah pasca solusio plasenta Faktor resiko : a. Partus lama b. Overdistensi uterus ( hidramnion , kehamilan kembar, makrosomia ) c. Perdarahan antepartum d. Pasca induksi oksitosin atau MgSO4 e. Korioamnionitis f. Mioma uteri

g. Anaesthesia

Penatalaksanaan : Perdarahan kala III ( plasenta belum lahir ) Masase fundus uterus untuk memicu kontraksi uterus disertai dengan tarikan talipusat terkendali. Bila perdarahan terus terjadi meskipun uterus telah berkontraksi dengan baik, periksa kemungkinan laserasi jalan lahir atau ruptura uteri, bila plasenta belum dapat dilahirkan , lakukan plasenta manuil

Bila setelah dilahirkan terlihat tidak lengkap maka harus dilakukan eksplorasi cavum uteri atau kuretase Perdarahan post partum primer ( true HPP ) 1. Periksa apakah plasenta lengkap 2. Masase fundus uteri 3. Pasang infuse RL dan berikan uterotonik ( oksitosin , methergin atau misoprostol ) 4. Bila perdarahan > 1 L pertimbangkan tranfusi 5. Periksa faktor pembekuan darah 6. Bila kontraksi uterus baik dan perdarahan terus terjadi , periksa kembali kemungkinan adanya laserasi jalan lahir 7. Bila perdarahan terus berlangsung , lakukan kompresi bimanual 8. Bila perdarahan terus berlangsung , pertimbangkan ligasi arteri hipogastrika

2. Post Partum Sekunder Dalam Manuaba (2004) disebutkan bahwa perdarahan post partum sekunder adalah perdarahan post partum yang terjadi setelah 24 jam pertama. Etiologi: a. Sisa plasenta b. Luka robekan jalan lahir yang terbuka kembali c. Kemungkinan gangguan pembekuan darah

Gejala klinis: a. Perdarahan berkelanjutan yang menyimpang dari partum pengeluaran lokia normal b. Dapat terjadi perdarahan cukup banyak disertai syok c. Dapat disertai infeksi, nadi cepat, temperature tinggi d. Uterus subinvolusi dengan penurunan tidak sesuai masa puerperium e. Kontraksi masih lembek, nyeri tekan Pemeriksaan fisik: a. Pemeriksaan dalam serviks terbuka, teraba sisa plasenta b. Pemeriksaan penunjang laboratorium lengkap dan USG

Penanganan perdarahan post partum sekunder: 1. Perdarahan karena sisa plasenta Lakukan kuretase, untuk menghilangkan sumber perdarahannya Persiapan pasang infuse dan tranfusi darah, lakukan pemeriksaan laboratorium, profilaksis dengan memberikan antibiotic dan antipiretik 2. Perdarahan karena perlukaan jalan lahir Dilakukan evaluasi dan menjahit kembali 3. Perdarahan karena gangguan pembekuan darah Perbaikan faktor pembekuan darah Berikan trombosit

Komplikasi perdarahan post partum sekunder 1. Trauma tindakan, khususnya kuretase 2. Infeksi berkelanjutan 3. Syok irreversible

Tata laksana perdarahan post partum sekunder

B. FEBRIS PUERPERALIS Menurut Manuaba (2004) febris puerperalis adalah infeksi post partum dengan meningkatnya temperature di atas 38C tanpa mengikutsertakan hari pertama. Menurut Krisnadi (2005), infeksi nifas adalah infeksi jalan lahir pascapersalinan, biasanya dari endometrium bekas insersi plasenta. Demam nifas juga disebut morbiditas nifas dan merupakan indeks kejadian infeksi nifas. Demam dalam nifas selain oleh infeksi nifas juga dapat disebabkan oleh pielitis, infeksi jalan pernafasan, malaria, dan tifus.

1. Faktor predisposisi Faktor umum anemia sebelum persalinan, gizi rendah, sudah terdapat infeksi saat hamil

Faktor post partum perdarahan, luka jalan lahir, tindakan operasi vaginal, plasenta rest

2. Gejala klinis a. Infeksi lokal Tempat: perineum, vulva, vagina, dan serviks Sistitis Temperature dan nadi dapat meningkat

b. Endometritis Uterus mengalami subinvolusi, lembek, dan nyeri Lokia bertambah dan berbau

c. Penyebaran lebih lanjut Bentuk

1) Salpingitis-ooforitis, atau tuboovarial abses 2) Selulitis pervika dan tromboflebitis 3) Peritonitis sampai terjadi sepsis Gambaran klinis

1) Tampak sakit, lokia bertambah bau 2) Nyeri seluruh abdomen, uterus subinvolusi lembek dan nyeri d. Plegmasia alba dollen Merupakan bentuk dari phlebitis interna sehingga menimbulkan gejala klinis sebagai berikut: Bendungan aliran limfe sehingga menimbulkan edema Plebitisnya memendung aliran darah sehingga vena membesar tampak berwarna biru Edema dan bendungan darah menekan serat syaraf sehingga terasa nyeri Dengan demikian, namanya plegmasia alba dollen yang artinya

pembengkakan, warna pucat, dan terasa nyeri Dengan konsep early mobilization, plegmasia alba dollen sudah jarang dikumpai Penatalaksanaannya: Istirahat untuk menghindari kemungkinan emboli Kaku ditinggikan Dapat diberikan pendingin Pengobatannya: antibiotic, analgesic, mempertimbangkan pemberian heparia untuk mempercepat hemolisis trombosisnya 3. Prognosis Dapat diatasi dengan pengobatan adekuat

Kematian karena febris puerperalis jarang terjadi

4. Penanganan febris puerperalis

C. MASTITIS Mekanisme pengeluaran ASi berlangsung setelah 2-3 hari estrogen plasenta berkurang sampai menghilang sehingga hambatan sekresi prolaktin (pituitary lactogenic hormon) menyebabkan pembentukan ASI yang dituangkan ke dalam asinus kelenjar mamae. Untuk dapat mengeluarkan ASi diperlukan isapan bayi yang akan menimbulkan reflex menuju hipofise posterior. Untuk itu keluarlah oksitosin sehingga terjadi kontraksi mioepitel sekitar asinus dan suktus alveoli.

Di samping itu, oksitosin akan merangsang pula uterus sehingga mengalami involusi dan ibu merasakan kontraksi saat memberikan ASI. Hambatan dalam pengeluaran ASI ketika bayi mengisap menimbulkan perlukaan dan memberikan peluang untuk terjadinya infeksi mamae mastitis. 1. Penyebab bacteria mastitis Penyebab dominan bacteria mastitis adalah Staphylococcus aureus. Bakteri ini dapat masuk melalui perlukaan putting susu, limfogen, atau hematogen. Bahaya yang paling penting diperhatikan adalah pembentukan abses mamae yang memerlukan tindakan bedah dengan jalan insisi 2. Gejala klinis abses mamae a. Panas badan meningkat b. Warna kulit tampak mengkilat kmerahan c. Terasa sakit d. Pemeriksaan akan teraba: tumor kisterus-dengan undulasi atau padat, nyeri tekan, terasa panas 3. Penatalaksanaan mastitis

Dalam Astuti (2009) penatalaksanaan mastitis yaitu: jangan berhenti menyusui, teruskan dengan mulai menyusui atau dipompa, jangan di masase, istirahat, kompres dengan air hangat/dingin, minum obat antibiotic dan analgetik.

D. TROMBOEMBOLI 1. Definisi Tromboemboli berasal dari kata thrombus dan emboli. Thrombus adalah kumpulan darah terutama trombosit dan fibrin dengan terperangkapnya jalur selular yang sering menyebabkan obstruksi pada akhir pembentukannya. Tromboemboli

adalah obstruksi pembuluh darah dengan bahan thrombus yang dibawa oleh darah dari tempat asal untuk menyumbat statis vena pada ekstremitas bawah yang disebabkan oleh melemahnya dinding pembuluh darah dan penekanan vena-vena utama akibat pembesaran uterus. Meskipun system pembekuan darah kembali ke tingkat normal sebelum kehamilan 3 minggu setelah persalinan resiko terjadi thrombosis tetap berlanjut 4-5 minggu setelah persalinan. 2. Klasifikasi a. Trombosis vena superficial (TVS) Lebih sering diderita oleh wanita dengan varises & kejadiannya tidak dipengaruhi oleh intervensi obstetric yang traumatik. Biasanya disertai peradangan sehingga disebut tromboplebitis, yaaitu dibagi 2: Pelviotrombophlebitis: mengenai vena dinding uterus dan ligamentum latum, yaitu vena vesika, vena uterina dan hipogastrik Trombophlebitis femoralis: mengenai vena-vena pada tungkai, vena femoralis, popliteal dan vena savena b. Trombosus vena dalam (TVD) Sangat dipengaruhi oleh intervensi obstetric yang traumatic, sbg contoh kejadiannya meningkat menjadi 1,8-3& setelah tindakan bedah caesar c. Emboli paru (EP) 15-20% penderita TVD yang tidak tertangani dengan baik akan mengalami emboli paru dan 12-15% dari jumlah tersebut akan berakibat fatal 3. Etiologi Terjadinya tromboemboli melibatkan 3 faktor yang berhubungan, yaitu: a. Perubahan koagulasi Pada saat persalinan, faktor pembekuan V, VII dan X kadarnya akan meningkat 2x lipat dan tetap tinggi di masa nifas. Plasenta dan cairan amnion merupakan sumber dari tromboplastin jaringan (faktor III). Pengeluaran semua material dalam persalinan & akan merangsang jalur ekskresi pembekuan darah. b. Statis vna, terjadi karena: Terjadi penurunan secara bertahap aliran darah vena dari kai ke paha Obstruksi bermakna & vena kava akibat penekanan uterus yang semakin membesar Dilatasi vena panggul Kemungkinan terjadinya disfungsi pada katub vena 4. Faktor yang mempengaruhi Faktor resiko umum terjadinya tromboemboli:

Tromboemboli herediter (mutasi faktor) Riwayat tromboemboli sebelumnya Peenggunaan katub jantung artificial Fibrilasi atrial Sindroma anti fosfolipid Faktor resiko khusus yang meningkatkan kecenderungan tromboemboli: Bedah SC Usia lanjut bumil Persepsi estrogen Side cell disease Riwayat trombophlebitis sebelumnya Penyakit jantung Faktor resiko penting: Merokok Preeklamsia Persalinan lama Anemia Perdarahan 5. Manifestasi klinis Manifestasi klinis yang disebut dengan plegmasia alba doleris yaitu berupa edema tungkai dan paha Disertai rasa nyeri yg hebat Sianosis local Demam 6. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan invasive (venografi) gold standard untuk diagnosis TVD b. Pemeriksaan non invasive (compression ultrasound: CUS, impedance peltysi mografi: IPG dan magnetic resonance venogravy: MRV) Jika hasil pemeriksaan non invasive ini negative sedangan secara klinis tetap patut di duga IVD, maka: a. USG dan USG dopler secara akurat dapat mengidentifikasitr thrombosis vena proksimal b. CT scan dipertimbangkan sebagai pemeriksaan yg akurat & mengidentifikasi TVD panggul & abdomen c. Angiografi paru merupakan gold standard untuk diagnose EP laktasi dengan preparat Imobilitas yg lama Obesitas Multipara Varises Infeksi nifas Infeksi maternal & insufisiensi vena kronik

7. Penatalaksanaan a. Thrombosis ringan, khususnya di vena-vena di bawah permukaan diatasi dengan: Istirahatkan, kai agak tinggi Pemberian antitrombus Jika peradangan berikan antibiotic Segera setelah nyeri hilanh dianjurkan utk mulai berjalan b. Pelviotrombophlebitis Rawat inap: tirah baring c. Trombophlebitis femoralis Perawatan kai Terapi medic: antibiotic & analgesic Ibu tidak boleh menyusui d. TVD Stoking untuk menekan Terapi antikoagulan, warfarin Pemberian analgesic

E. DEPRESI POST PARTUM 1. Postpartum Blues Postpartum blues sering dikenal dengan baby blues. Kondisi ini mempengaruhi 50-75% ibu setelah proses melahirkan. Ibu yang mengalami babyblues ini seringkali menangis secara terus menerus tanpa sebab yang pasti dan mengalami kecemasan. Keadaan ini berlangsung pada minggu pertama setelah melahirkan. Meskipun pengalaman ini tidak menyenangkan, namun biasanya kondisi ini akan kembali normal setelah 2 minggu tanpa penanganan khusus. Jadi yang dibutuhkan adalah menentramkan dan membantu ibu baru ini mengasuh bayi dan melakukan pekerjaan rumah (Roswiyani P. Zahra). Gejala Postpartum blues Gejala postpartum blues (Novak dan Broom, 1999, dalam Amalia

Rahmandani,2007) yaitu suatu keadaan yang tidak dapat dijelaskan, merasa sedih, mudah tersinggung, gangguan pada nafsu makan dan tidur. Selanjutnya dengan kata lain, ciri-ciri postpartum blues menurut Young dan Ehrhardt (Strong dan Devault, 1989, dalam Amalia Rahmandani,2007) diantaranya:

a. Perubahan keadaan dan suasana hati ibu yang bergantian dan sulit diprediksi seperti menangis, kelelahan, mudah tersinggung, kadang-kadang mengalami kebingungan ringan atau mudah lupa. b. Pola tidur yang tidak teratur karena kebutuhan bayi yang baru dilahirkannya, ketidaknyamanan karena kelahiran anak, dan perasaan asing terhadap lingkungan tempat bersalin. c. Merasa kesepian, jauh dari keluarga, menyalahkan diri sendiri karena suasana hati yang terus berubah-ubah. d. Kehilangan kontrol terhadap kehidupannya karena ketergantungan bayi yang baru dilahirkannya.

Faktor yang Berpengaruh Terhadap Terjadinya Postpartum Blues Menurut Amalia Rahmandani, 2007, factor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya postpartum blues dapat dikategorikan menjadi 3 kelompok, yaitu: 1. Faktor Biologis Faktor Hormonal, yaitu terjadinya perubahan kadar sejumlah hormon dalam tubuh ibu pasca persalinan secara tiba-tiba dalam jumlah yang besar, yaitu progesteron, estrogen, kelenjar tiroid, endorfin, estradiol, cortisol, dan prolaktin yang menimbulkan reaksi afektif tertentu. Faktor Kelelahan Fisik, yaitu kelelahan fisik akibat proses persalinan yang baru dilaluinya, dehidrasi, kehilangan banyak darah, atau faktor fisik lain yang dapat menurunkan stamina ibu. Faktor Kesehatan, seperti sejarah premenstrual syndrome. 2. Faktor Psikologis a. Faktor Kepribadian, yaitu: Wanita yang menilai dirinya lebih maskulin. Wanita perfeksionis dengan pengharapan yang tidak realistis dan selalu berusaha menyenangkan orang lain. Ibu dengan harga diri yang rendah. Wanita yang mudah mengalami kecemasan, ketakutan akan tugas dan terjadinya depresi selama kehamilan. b. Karakteristik lain individu, yaitu: Ibu primipara (melahirkan anak pertama). Ibu yang berusia remaja. 3. Faktor Sosial a. Respon terhadap kehamilan dan persalinan, yaitu:

Kehamilan yang tidak diinginkan. Perasaan bingung antara penerimaan dan penolakan terhadap peran baru sebagai ibu. Tidak ada pengalaman dalam pengasuhan anak. b. Kenyataan persalinan yang tidak sesuai dengan harapan, yaitu: Kesibukan mengurus bayi dan perasaan ibu yang merasa tidak mampu atau khawatir akan tanggung jawab barunya sebagai ibu. Perasaan kecewa dengan keadaan fisik dirinya juga bayinya. c. Keadaan sosial ekonomi, yaitu: Wanita yang harus kembali bekerja setelah melahirkan. Keadaan sosial ekonomi yang tidak mendukung. d. Dukungan Sosial, yaitu: Ketegangan dalam hubungan pernikahan dan keluarga. Penyesuaian sosial yang buruk. Kurangnya dukungan dari suami dan orang-orang sekitar. Wanita yang tidak bersuami.

2. Postpartum Depression Postpartum depression merupakan kondisi yang lebih serius dari babyblues dan mempengaruhi satu dari 10 ibu baru. Individu yang sebelumnya telah memiliki depresi akan meningkatkan resiko postpartum depression sebesar 30%. Ibu dengan postpartum depression akan mengalami perasaan sedih dan emosi yang meningkat atau merasa tertekan, menjadi sensitif, lelah, perasaan bersalah, cemas, dan ketidakmampuan untuk merawat diri dan merawat bayi. Penyebab Menurut Rosenberg et al (2003), dalam Roswiyani P. Zahra, factor biologis yang menjadi penyebab DPM meliputi: 1. Depresi dan kecemasan selama kehamilan 2. Memiliki sejarah keluarga yang depresi 3. Mengalami babyblues yang tidak teratasi selama 2 minggu 4. Mengalami premenstrual syndrome yang cukup parah 5. Disfungsi kelenjar tiroid 6. Masalah kesuburan 7. Pernah mengalami keguguran/aborsi Kemudian pada factor psikologis meliputi

1. Distress psikologis, seperti kritik terhadap diri sendiri dan pemikiran tentang bunuh diri 2. Stress yang berhubungan dengan peran sebagai ibu, seperti memikirkan bayi, stress pengasuhan bayi, perasaan tidak adekuat menjadi orang tua 3. Sejarah masa kecil ibu, seperti kekerasan fisik emosi/seksual pada masa kecil, kehidupan keluarga yang tidak harmonis/tidak memuaskan, kehamilan yang tidak diharapkan, dan stress selama kehamilan dan kelahiran bayi 4. Kebahagiaan/ketidakbahagiaan pernikahan juga merupakan factor psikologis yang dapat menyebabkan DPM. Jika pernikahan tidak bahagia atau hubungan dengan pasangan kurang bahagia seperti gangguan hubungan dengan suami selama periode kehamilan, komunikasi terhambat, kurangnya afeksi, perbedaan niali atau ketidaksesuaian keinginan, maka terdapat kecenderungan ibu mengalami DPM. Tanda dan Gejala Gejala postpartum depression meliputi rentang gejala ringan hingga parah yang muncul secara mendadak atau bertahap, sejak beberapa hari setelah melahirkan bahkan hingga setahun setelah melahirkan. Gejala postpartum depression/Depresi Pasca Melahirkan/DPM antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Sikap mudah tersinggung Perasaan sedih Hilang harapan Tidak berdaya Mood swings Ingin menyakiti orang lain (termasuk bayinya, diri sendiri, ataupun suami) Kurang peduli terhadap bayinya sendiri atau sebaliknya Kurang mampu merawat diri sendiri Enggan melakukan aktivitas yang menyenangkan

10. Motivasi menurun 11. Enggan bersosialisasi 12. Sulit mengambil keputusan Sedangkan simtom/gejala fisik yang biasanya muncul antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Cepat merasa lelah Mengalami gangguan tidur dan selera makan Sakit kepala atau dada Sesak nafas Mual muntah Jantung berdebar cepat

(Natinal Mental Health, 2003, dalam Roswiyani P. Zahra)

Upaya Mengatasi Postpssrtum Depression Menurut Ntional Mental Health Asspciation (2003) dalam Roswiyani P. Zahra, upaya mengatasi depresi pasca melahirkan dapat dilakukan dengan cara (a) menghindari ibu dari perubahan besar dalam kehidupannya, (b) menyarankan ibu untuk mengikuti aktivitas kebugaran jasmani, (c) membantu ibu dalam mempersiapkan makanan bergizi dan seimbang, (d) membantu ibu membuat janji pertemuan dengan tenaga medis. Hikmah (2004) mengemukakan bahwa penanggulangan yang dapat diberikan untuk ibu dan memperbaiki hubungan ibu-bayi, serta kepada bayinya adalah: (a) relaksasi sederhana, seperti relaksasi olahraga, renang, senam, dsb. (b) terapi kognitif, yaitu merubah pikiran-pikirang negatif yang mempengaruhi kondisi ibu dan menghilangkannya. Membantu pemecahan masalah dengan mengarahkan atau memberi alternatif pemecahan terhadap permasalahan yang tengah dialami. (c) komunikasi, yaitu melatih penderita untuk memperbaiki komunikasinya dengan suami dan anggota keluarganya lainnya. (d) melakukan humor agar membuat penderita lebih nyaman. (e) bila gangguan yang diderita cukup berat dan ibu tidak menyusui, dapat diberi obat antidepresan.

3. Postpartum Psychosis Kondisi ini merupakan bentuk postpartum depression yang parah dan membutuhkan penanganan medis segera. Kondisi ini jarang terjadi, dan

mempengaruhi 1 dari 1000 perempuan yang melahirkan. Gejalanya muncul secara cepat lelah setelah melahirkan dan berlangsung antara beberapa minggu hingga beberapa bulan. Gejalanya meliputi: agitasi yang amat kuat, perilaku yang menunjukkan kebingungan, perasaan hilang harapan dan malu, insomnia, paranoia, delusi, halusinasi, hiperaktif, bicara cepat, dan mania (Roswiyani P. Zahra).

Daftar Pustaka

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid 1 Obstetri fisiologi, Obstetri Patologi. Jakarta: EGC. Krisnadi, Sofie. 2005. Obstetri Patologi ilmu kesehatan Reproduksi Edisi 2 FK Universitas Padjadjaran. Jakarta: EGC. Manuaba, Ida. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC. Prawirohardjo, Sarwono. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo. Joseph, H. K dan Nugroho. 2010. Catatan Kuliah Ginekologi dan Obstetri (Obsgyn). Yogayakarta: Nuha Medika.