Anda di halaman 1dari 2

Arah Kebijakan Kurikulum Masa Depan (Analisis Kebijakan Kurikulum 2013) Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari

tingkat pendidikannya. Karena di dalam pendidikan terjadi proses perubahan pola pikir yang nanti akan melahirkan pola sikap dari obyek pendidikan tersebut. Kita lihat sistem pendidikan di Indonesia belum stabil. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa pergantian kurikulum pendidikan semenjak kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat, Indonesia sudah 9 kali melakukan pergantian kurikulum. Mulai dari kurikulum 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004 (KBK), 2006 (KTSP), hingga Kurikulum 2013. Menurut Menteri Pendidikan, Muhammad Nuh, kurikulum 2013 adalah jawaban untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia hadapi perubahan dunia. Sejumlah hal yang menjadi alasan pengembangan Kurikulum 2013 adalah : a. Perubahan proses pembelajaran [dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu] dan proses penilaian [dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output] memerlukan penambahan jam pelajaran b. Kecenderungan akhir-akhir ini banyak negara menambah jam pelajaran KIPP dan MELT di AS, Korea Selatan. c. Perbandingan dengan negara-negara lain menunjukkan jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat. d. Walaupun pembelajaran di Finlandia relatif singkat, tetapi didukung dengan pembelajaran tutorial. Orientasi pengembangan kurikulum 2013 adalah tercapainya kompetensi yang berimbang antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan, disamping cara pembelajarannya yang holistik dan menyenangkan. Perubahan yang paling berdasar adalah nantinya pendidikan akan berbasis science dan tidak berbasis hafalan lagi. Jika kita melihat sekilas perubahan-perubahan kurikulum seperti yang dipaparkan sebelumnya maka kita dengan bangga akan berkata bahwa kurikulum 2013 adalah suatu bentuk inovasi pendidikan di tanah air. Sebagian kalangan guru menilai proyek perubahan kurikulum 2013 ini adalah adanya partai politik yang bermain dalam proyek kurikulum. Terlepas dari itu semua Kebijakan yang dinilai sepihak ini mempunyai maksud untuk waktu jangka panjang. Dari semua perkara di atas, hanya ada satu pertanyaan yang paling mendasar yaitu : Mengapa perubahan kurikulum di Indonesia dari periode ke periode hampir tidak pernah mampu menciptakan perbaikan yang mendasar dan bersifat signifikan? Jawaban dan alasannya kemungkinan besar adalah meliputi indikasi sebagai berikut : 1. Sebelum dilakukan perubahan kurikulum, tidak dilakukan kajian yang benar-benar komprehensif dan bersifat menyeluruh dengan memperhatikan aneka aspek serta melibatkan para pihak yang terkait sehingga kajian mampu menyentuh akar masalah dan tidak hanya mengupas gejala/fenomenanya saja. 2. Penetapan atau pengambilan keputusan tentang perubahan kurikulum seringkali lebih berorientasi pada kebijakan secara politik sehingga terkesan ganti menteri ganti kebijakan, dan tidak berdasarkan masalah hakiki dan alasan esensial yang seharusnya menjadi pertimbangan utama. 3. Kesalahan paradigma dan asumsi umum di Indonesia bahwa kurikulum hampir selalu dipandang sebagai titik sentral penyebab atau biang keladi atas kegagalan sistem pendidikan dan implementasinya. Kita lupa bahwa banyak faktor atau unsur lain yang bersifat menjadi agen penentu atas keberhasilan dalam implementasi suatu sistem pendidikan

4. Implementasi setiap kurikulum pada periode tertentu, tidak pernah terlaksana secara tuntas dan tidak diadakan evaluasi secara mendalam untuk mengetahui tingkat efektivitasnya. 5. Perubahan kurikulum dipaksakan berdasarkan otoritas birokratik. Artinya bahwa perubahan kurikulum cenderung top-down (dari pemegang kekuasaan/otoritas), bukan kolaboratif (melibatkan saran/ masukan dan kajian dari aneka pihak yang berkepentingan misalnya para praktisi dan pakar pendidikan, para peneliti bidang pendidikan, masyarakat yang peduli terhadap dunia pendidikan, para pelaku dunia industri dan usaha atau lembaga/instansi terkait, dll).