Anda di halaman 1dari 2

Salah satu perintah Allah Taala dalam ayat di atas adalah perintah kepada para hamba-Nya untuk taat

kepada peraturan pemerintah. Misal : Seorang pengendara motor mentaati segala bentuk peraturan lalu lintas (misalnya dengan mengenakan helm, membawa SIM lengkap dengan STNK-nya, dan mentaati rambu dan lampu lalu lintas dan lain-lain) dengan niat tulus mengamalkan firman Allah taala tersebut, yaitu mentaati peraturan pemerintah, maka ini akan dinilai oleh Allah taala sebagai amalan ibadah dan upaya pendekatan diri kepada Allah taala. Contoh lain : Bekerja Mencari Nafkah Allah Taala berfirman, Dan kewajiban ayah adalah memberi makan dan pakaian kepada istri dengan cara yang maruf. (QS. Al Baqarah : 233) Salah satu perintah Islam kepada para suami adalah perintah bekerja mencari nafkah untuk istri dan anaknya. Seseorang suami yang bekerja membanting tulang dengan niat tulus ikhlas mengamalkan firman Allah taala di atas, dengan maksud agar dirinya dan keluarganya bisa hidup dan bisa melaksanakan ibadah kepada Allah Taala, maka perbuatannya itu bernilai ibadah kepada Allah taala dan Allah menjajikan pahala baginya.

Subhaanallah, terlalu banyak jika diuraikan jenis ibadah satu per satu di sini. Semoga Allah Taala berkenan menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, sehingga kita bisa memahami mana saja perkara ibadah yang Allah cintai, dan yang lebih penting lagi adalah agar kita bisa mengamalkannya di kehidupan kita sehari-hari, sehingga kita bisa menjadikan seluruh hidup kita ini bernilai ibadah di sisi Allah Taala.

Buletin Mingguan hmte


EDISI KE-5, 17 MEI 2013

Seputar kehidupan islam

Kata Mutiara Hari ini!!


Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad.
(Imam Al Ghazali). Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan dan pengetahuan, sesungguhnya kesempurnaan milik Allah.

Luasnya Makna Ibadah


Allah Taala berfirman (yang artinya), Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (QS. Adz-Dzariyat : 56). Jangan Terlalu Sempit Memahami Ibadah Sebagian orang bertanya dengan maksud meragukan penjelasan ayat di atas. Apa benar kita diciptakan untuk beribadah saja? Lalu apa kita harus sholat terus sepanjang hidup kita? Atau bersujud terus melewati hari-hari kita? Allah Taala tidak mungkin salah dalam berfirman. Begitu juga dengan penjelasan para ulama tentang ayat di atas bukanlah suatu penjelasan yang keliru. Hal yang harus diluruskan adalah pandangan dan pemahaman kita dalam memaknai kata ibadah. Ibadah bukan hanya sholat, zakat, puasa dan haji semata. Ibnu Taimiyah rahimahullahu mendefinisikan makna ibadah dengan definisi yang sangat bagus. Beliau berkata, ibadah adalah segala perkara yang dicintai oleh Allah Taala, baik berupa perkataan ataupun perbuatan, yang nampak (dzahir) ataupun yang tidak nampak (bathin). Bekali diri dengan Ilmu Bagaimana cara mengetahui bahwa perkara ini dicintai Allah Taala atau tidak? Bagaimana membedakan bahwa perkara itu mendatangkan keridhaan-Nya atau justru mengundang murka-Nya? Inilah hikmah mengapa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan tegas memerintahkan umatnya untuk belajar, mencari ilmu, mempelajari tentang agamanya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Menuntut ilmu agama adalah perkara yang wajib bagi setiap muslim (HR. Ibnu Majah, shahih). Tujuan utamanya adalah agar seorang hamba bisa mengetahui mana perkaraperkara yang dicintai oleh Allah Taala yang kemudian bisa dia amalkan, dan dia bisa mengetahui mana perkara yangannya.

Dewan Redaksi
Pelindung Penanggung Jawab Pimpinan Redaksi : Pembina HMTE : Ketua HMTE, Ka. Dept. Keagamaan HMTE, Ka. Div. Media Syiar : Angga P (085 624 011 732)|Rizal N (085 721 936 593)

Kritik dan saran yang membangun amat kami harapkan

HARAP JANGAN MENINGGALKAN BULETIN DI SEKITARAN MASJID

HARAP TIDAK DIBACA KETIKA KHOTIB NAIK MIMBAR

yang wajib bagi setiap muslim (HR. Ibnu Majah, shahih). Tujuan utamanya adalah agar seorang hamba bisa mengetahui mana perkara-perkara yang dicintai oleh Allah Taala yang kemudian bisa dia amalkan, dan dia bisa mengetahui mana perkara yang dimurkai oleh Allah yang kemudian dia bisa meninggalkannya. Kaidah dalam Mendefinisikan Ibadah Hukum suatu perbuatan di dalam agama Islam ada lima, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Secara asalnya, ibadah dalam agama islam hanya dengan dua bentuk pengamalan saja, yaitu : 1. Mengerjakan perkara yang wajib atau mengerjakan perkara yang sunnah, contohnya adalah seseorang mengerjakan sholat baik yang sholat wajib atau sunnah, berpuasa baik puasa yang wajib atau sunnah dll, 2. Meninggalkan perkara yang haram atau meninggalkan perkarayang makruh, contohnya adalah seseorang meninggalkan kesyirikan, menjauhi perbuatan zina, menjauhi minum khamr dll. Adapun semata-mata perkara mubah pada dasarnya tidak bisa dijadikan sebagai ibadah. Perkara yang sifatnya mubah hukumnya relatif, mengikuti niat dan tujuan dari pelakunya.

meninggalkan perkara makruh/haram maka perkara mubah tersebut akan berpahala dan dinilai sebagai sebuah ibadah. 2. Apabila dia niatkan perkara mubah tersebut untuk membantu mengerjakan perkara haram atau membantu meninggalkan perkara wajib maka pelaku perkara mubah tersebut akan berhak mendapatkan dosa. 3. Apabila ketika mengerjakan perbuatan mubah seseorang tidak memiliki tujuan dan maksud apapun, melainkan hanya sebatas perbuatan mubah itu saja dan tidak ada tujuan dan maksud lainnya, maka pelaku perbuatan mubah tersebut tidak berhak mendapatkan pahala dan tidak pula mendapat dosa. Hal ini akan lebih jelas jika disertai dengan contoh, misalnya adalah perbuatan makan. Makan adalah perkara yang mubah. Seseorang tatkala makan, jika dia berniat mengamalkan perintah Allah Taala dalam firman-Nya (yang artinya), Dan makanlah dan minumlah kalian (QS. Al Araaf : 31). Dan dia berniat agar badannya sehat dan kuat untuk bisa mengerjakan sholat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya, maka perbutan makannya tadi bernilai ibadah. Sedangkan orang yang makan yang berniat untuk bisa memiliki badan yang kuat dan kemudian bisa mendzalimi (misal: memukuli) orang-orang di sekitarnya dengan kekuatannya, atau bisa kuat mencuri, atau bisa berzina maka perbuatan makannya tadi dihitung n

sebagai dosa. Adapun orang yang makan berniat sebatas kebiasaan dan hanya untuk mengobati rasa laparnya semata, maka yang dia dapatkan adalah apa yang dia inginkan tersebut, yaitu rasa kenyang (tidak mendapatkan dosa dan tidak pula pahala). Penting !!! Ibadah : Aktifitas yang Harus Benar Niat dan Tata Caranya Ibadah adalah perpaduan benarnya amalan dzahir dan benarnya amalan bathin. Amalan dzahir yang benar adalah amalan yang sesuai dengan perintah Allah Taala dan mencocoki tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Amalan bathin yang benar adalah ikhlas semata-mata ibadah tersebut untuk Allah Taala dan mengharapkan pahala dari Allah Taala. Perkara niat merupakan perkara yang teramat penting untuk dibahas. Inilah rahasia mengapa Islam sangat perhatian terhadap pembahasan niat, di atas pembahasan tentang perkara agama yang lainnya. Niat ada di dalam hati, tidak nampak secara dzahir, namun meskipun tidak nampak, niat sangat menentukan balasan yang akan diterima. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda Setiap amalan manusia tergantung dengan niatnya, dan setiap manusia (akan mendapatkan balasan dari Allah) sesuai dengan apa yang dia niatkan (Muttafaqun alaihi) Ibadah itu luas, namun tetap perlu ditegaskan bahwa tata cara ibadah yang pokok yang bersifat ritual tidak boleh sembarangan, meskipun niatnya baik dan benar.

dan benar. Ternyata niat yang baik saja tidaklah cukup, harus disertai dengan amalan yang benar, yaitu sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, harus ada dalilnya dari Al Quran atau dari Hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang shahih. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang beramal (ibadah) dengan amalan yang tidak ada petunjuknya dari kami, maka amalan tersebut akan tertolak (tidak diterima sebagai ibadah)(HR. Muslim) Contoh ibadah pokok yang tidak boleh sembarangan : Berzikir Ketika seseorang mau berpergian, ia terbiasa membaca surat Al Fatihah sebanyak 3 kali. Berzikir pada dasarnya adalah sesuatu yang disyariatkan. Akan tetapi, menentukan bacaan tertentu seperti di atas, yakni membaca Al Fatihah 3 kali setiap akan berpergian, membutuhkan dalil khusus dan tidak boleh sembarangan. Tidak boleh pula beralasan yang penting niatnya baik. Karena ibadah pokok yang bersifat ritual harus sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan. Contoh perbuatan bernilai ibadah : Naik kendaraan Allah taala berfirman (yang artinya), Hai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul, dan kepada Ulil Amri (pemerintah) kalian (QS An Nisa : 59)

1. Apabila dia niatkan untuk membantu mengerjakan perkara wajib/sunnah atau membantu meninggalkan perkara mubah 2 makruh/haram maka perkara SINERGI DEPARTEMEN KEAGAMAAN HMTE tersebut akan berpahala dan dinilai sebagai sebuah ibadah.

SINERGI DEPARTEMEN KEAGAMAAN HMTE