Anda di halaman 1dari 53

Pengertian Berat Badan Definisi

Pengertian Berat Badan

Berat badan adalah ukuran yang lazim atau sering dipakai untuk menilai keadaan suatu gizi manusia. Menurut Cipto Surono dalam Mabella 2000 : 10, mengatakan bahwa berat badan adalah ukuran tubuh dalam sisi beratnya yang ditimbang dalam keadaan berpakaian minimal tanpa perlengkapan apapun. Berat badan diukur dengan alat ukur berat badan dengan suatu satuan kilogram. Dengan mengetahui berat badan seseorang maka kita akan dapat memperkirakan tingkat kesehatan atau gizi seseorang. Berat badan dianjurkan untuk mengukur keadaan gizi karma :

Mudah dilihat perubahan dalam waktu singkat Memberikan gambaran keadaan gizi pada saat sekarang dan bila dilakukan secara periodik, yaitu sebulan sekali pada anak-anak akan dapat memberikan gambaran yang baik tentang pertumbuhan anak. Ketelitian pengukuran tidak dipengaruhi oleh keterampilan yang mengukur. Alat ukur mudah diperoleh

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan Beberapa yang mempengaruhi berat badan adalah salah satunya makanan dan minuman. Dalam sehari kita membutuhkan gizi lengkap seperti :

Karbohidrat Lemak Protein Vitamin dan mineral

3. Cara mencari ( mengukur ) berat badan Cara mencari atau mengukur berat badan seseorang adalah pertama-tama me-nolkan angka timbangan berat badan, selanjutnya siswa naik di atas timbangan tersebut kemudian kita lihat angka menujukkan berapa ditimbangan tersebut.
http://www.sarjanaku.com/2011/09/pengertian-berat-badan.html

Alat Ukur Massa dan Ketelitian


Leave a comment Alat ukur massa adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur massa suatu benda. Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai yaitu timbangan, neraca, dll. Biasanya orang awam susah membedakan antara massa dan berat.

Jenis -jenis neraca yang sering digunakan saat praktikum adalah neraca tiga lengan, seperti gambar diatas. Lengan paling belakang berskala 0 g 500 g, dengan skala terkecil 100 g, lengan di depannya berskala 0 g 100 g, dengan skala terkecil 10 g; dan lengan paling berskala 0 g 10 g, dengan skala terkecil 0,1 g. Selain itu ada juga neraca 2 lengan seperti gambar di bawah ini.

Massa benda yang diukur diletakkan pada salah satu piringan itu. Kemudian piringan yang lain diletakkan beberapa anak timbangan untuk membuat keseimbangan. Massa benda yang diukur sama dengan jumlah massa anak timbangan yang digunakan untuk membuat keseimbangan. Untuk lebih praktis mengukur massa suatu benda menggunakan timbangan digital yang lebih sensitif dan peka namun harganya relatif lebih mahal. gambar timbangan digital sebagai

berikut.

Selain itu ada banyak jenis neraca atau timbangan. Contohnya pada gambar ini.

Untuk ketelitian alat ukurnya tergantung dari setengah kali skala alat ukur terkecil yang dapat dibaca dari alat ukur yang digunakan.
http://nurhamsyahnyetz.wordpress.com/fisika-10/besaran-dan-satuan/pengukuran/alat-ukurmassa-dan-ketelitian/

PENGUKURAN SUHU BADAN Pengertian; Arti badan suhu adalah derajat panas yang dihasilkan oleh tubuh manusia sebagai keseimbangan pembakaran dalam tubuh dengan pengeluaran panas melalui

keringat,pernapasan,sisa-sisa pembuangan [eksresi] dan penyinaran [radiasi], hantaran [kondoksi ]dan convection [konveksi]. Tujuan; Tujuan mengukur panas badan adalah; Mengetahui suhu badan panas. Mengetahui adanya kelainan pada tubuh dipergunakan sebagai salah satu penyokong dalam membantu menentukan diagnosa. Mengetahui perkembangan penyakit. Pelaksanaan; Pengukuran panas badan dilaksanaan pada; Kepada setiap pasien barula Menurut peraturan rumah sakit, yang secara rutin 3 kali sehari. Sewaktu waktu bila pasien dalam keadaan demam. Sesudah menggigil atau atas intruksi dokter. Macam-macam thermometer: o Menurut penggunaanya: Thermometer badan.

Thermometer udara. o Menurut skala: Thermometer Celeius Thermometer Fahrenheit Thermometer Reamur o Menurut bentuk: Reservoir bulat panjang dengan tabung gelas kecil,untuk pengambilan suhu melaliu mulut [secara oral]. Reservoir bulat dengan gelas tabung gelas agar besar, untuk pengambilan suhu melalui pelepasan [secara rectal]. Reservoir bulat panjang dengan tabung gelas persegi gepeng, bundar, persegi , untuk pengambilan suhu melalui ketiak [secara axila]. Tempat untuk mengukur derajat suhu: Ketiak [axial] Mulut [kavum oris] Pelepasan [rectum]

PENGUKURAN SUHU AKSILA Pengertian : Mengukur suhu klien dengan menggunakan thermometer yang di tempatkan di aksi/ketiak. Tujuan : Mengetahui suhu tubuh klien untuk menentukan tindakan kesehatan dan membantu menentukan diagnosa. Keuntungan: Aman dan tidak mengganggu. Dapat digunakan dapat bayi baru lahir. Pelaksanaan: Menurut kebiasaan rumah sakit. Dimana tidak dapat dikerjakan pada bagaian tubuh lainnya. Nilai normal untuk suhu per aksila Orang dewasa adalah 35,8-37,3o C Bayi 36,8-37o C.

Tidak dapat digunakan pada : Pasien yang sangat kurus. Pasien yang luka / kudis diketiak, operasi pada mammae. MENGUKURAN SUHU ORAL Pengertian: Mengukur suhu tubuh klien dengan menggunakan mulut/oral. Tujuan: Mengetahui suhu tubuh klien untuk menentukan tindakan kesehatan dan membantu menentukan diagnosa. Keuntungan: Paling mudah dilakukan, nyaman, pembacaan hasil akurat. Nilai normal suhu per oral adalah 35,8-37,3o C Kontraindikasi : Klien tidak mampu menahan termometer di dalam mulut. Resiko tergigit oleh klien seperti bayi atau anak kecil. Klien bingung atau tidak sadar . Perbedaan oral . Trauma mulut atau wajah . Bernapas hanya dengan melalui mulut. Riwayat kejang-kejang. Gemetar kedinginan. PENGUKURAN SUHU REKTAL Pengertian: Mengukur suhu tubuh dengan menggunakan thermometeryang ditempatkan di thermometer yang ditempatkan di

rectal/anus/pelepasan. Tujuan: Mengetahui suhu tubuh klien untuk menentukan tindakan kesehatan dan membantu menentukan diagnosa. Kontraindikasi; Pembedahanatau gangguan pada rectal seperti pada tumor/hemoroid. Klien yang tidak dapat berposisi baik seperti mereka dengan traksi atau pada bayi baru lahir. Pada klien yang berpenyakit kelamin. Nilai normal suhu per rectal pada orang dewasa adalah :36,1-37oC

PENGUKURAN SUHU REKTAL Hari/Tanggal: NO A 1. URAIAN KEGIATAN PENILAIAN PERSIAPAN ALAT : Baki bersih : Termometer rektal/air raksa/elektrik siap pakai Vaselin/pelumas Kertas tisu bila perlu Nierbekken Larutan sabun/deinfektan,air bersih. Waskom dan tempatnya. Sarung tangan sekali pakai Alat tulis dan kertas dokumentasi. B. 1. 2. 3. PERSIAPAN KLIEN : Jelaskan prosedur pada klien. Posisi klien diatur senyaman mungkin. Perhatikan privasi pasien ( Pasang tirai atau penutup(gorden / pintu) C. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. PELAKSANAAN : Bawa alat ke dekat pasien. Mencuci tangan. Gunakan sarung tangan. Pasang tirai atau penutup (gorden/pintu)ruangan. Buka pakaian yang menutupi daerah anus. Atur posisi klien : Dewasa : Sims atau miring dan kaki sebelah atas ditekuk kearah perut. Bayi/ anak :tengkurap terlentang. Lumasi ujung thermometer dengan vaselin sekitar 2,5-3,5 cm untuk orang dewasa dan 1,2-2,5 cm NILAI 1 2 3 4

untuk bayi / anak-anak. 8. Buka anus dengan menaikkan gluteus atas dengan diri (untuk dewasa).jika bayi tengkurap ditempat tidur,regangkan kedua gluteus dengan jari-jari. 9. Minta klien untuk menarik napas dalam dan masukkan thermometer secara perlahan kedalam anus sekitar 3,5 cm pada orang dewasa dan 1,2-2,5 cm pada bayi /anak. 10. Pegang thermometer ditempat selama 2-3 menit (orang dewasa) dan 5 menit untuk anak-anak. 11. Keluarkan thermometer dengan hati-hati. 12. Bersihkan thermometer dengan kertas tissue halus dengan cara memutar dari ujung pentolan

thermometer.buang tissue kedalam nierbekken. 13. Baca tingkat air raksa. 14. Lap daerah anus untuk membersihkan pelumas atau feses dan rapikan klien. 15. Turunkan tingkat air raksa dalam skala awal. 16. Kembalikan thermometer pada tempatnya. 17. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan. D. 1. 2. 3. E. 1. 2. EVALUASI : Validasi perasaan klien Bersihkan dan kembalikan pada tempatnya. Cuci tangan. DOKUMENTASI : Catat hasil pemeriksaan dan sampaikan pada klien. Cantumksan hari,tanggal,waktu dan nama petugas yang melakukan tindakan. JUML AH

Keterangan : 4= Dilakukan sesuai prosedur.

3=Dilakukan tapi perlu perhatian. 2=Dilakukan tapi tidak sesuai prosedur. 1=tidak dilakukan Read more: Makalah: Pengukuran suhu tubuh http://nandarnurse.blogspot.com/2012/01/makalah-pengukuran-suhutubuh.html#ixzz2fkrtqqHl Under Creative Commons License: Attribution Follow us: nHandar on Facebook
http://nandarnurse.blogspot.com/2012/01/makalah-pengukuran-suhu-tubuh.html#axzz2fjYOIbwG

Kapasitas Panas dan Panas Spesifik

Sifat-sifat air yang memberikan definisi asal dari kalori adalah banyaknya perubahan temperatur yang dialami air waktu mengambil atau melepaskan sejumlah panas. Istilah umum untuk sifat ini disebut kapasitas panas yang didefinisikan sebagai jumlah panas yang diperlukan untuk mengubah temperatur suatu benda sebesar 10C. Kapasitas panas bersifat ekstensif yang berarti bahwa jumlahnya tergantung dari besar sampel. Misalnya untuk menaikkan suhu 1 g air sebesar 10C diperlukan 4,18 J (1 kal), tapi untuk menaikkan suhu 100 g air sebesar 10C diperlukan energi 100 kali lebih banyak yaitu 418 J. Sehingga 1 g sampel mempunyai kapasitas panas sebesar 4,18 J/0C sedangkan 100 g sampel 418J/0C. Sifat intensif berhubungan dengan kapasitas panas adalah kalor jenis (panas spesifik) yang didefinisikan sebagai jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 g zat sebesar 10C. Untuk air, panas spesifiknya adalah 4,18 Jg-1C-1. Kebanyakan zat mempunyai panas spesifik yang lebih kecil dari air. Misalnya besi, panas spesifiknya hanya 0,452 J g-1 0C-1. Berarti lebih sedikit panas diperlukan untuk memanaskan besi 1 g sebesar 10C daripada air atau juga dapat diartikan bahwa jumlah panas yang akan menaikkan suhu 1 g besi lebih besar dari pada menaikkan suhu 1 g air. Besarnya panas spesifik untuk air disebabkan karena adanya sedikit pengaruh dari laut terhadap cuaca. Pada musim dingin air laut lebih lambat menjadi dingin dari daratan sehingga udara yang bergerak dari laut ke darat lebih panas daripada udara dari darat ke laut. Demikian juga dalam musim panas, air laut lebih lambat menjadi panas daripada daratan. Rumus : q = m.c. t Keterangan : q = jumlah kalor (Joule)

m = massa zat (gram) t = perubahan suhu takhir - tawal) c = kalor jenis


Kalorimetri

Kalorimetri Pengukuran perubahan energi dalam reaksi kimia Perubahan energi dalam reaksi kimia selalu dapat dibuat sebagai panas, sebab itu lebih tepat bila istilahnya disebut panas reaksi. Alat yang dipakai untuk mengukur panas reaksi disebut kalorimeter (sebetulnya kalori meter, walaupun diketahui sekarang panas lebih sering dinyatakan dalam joule daripada kalori). Ada beberapa macam bentuk dari alat ini, salah satu dinamakan Kalorimeter Bomb yang diperlihatkan pada gambar diatas. Kalorimeter semacam ini biasanya dipakai untuk mempelajari reaksi eksotermik, yang tak akan berjalan bila tidak dipanaskan, misalnya reaksi pembakaran dari CH4 dengan O2 atau reaksi antara H2 dan O2. Alatnya terdiri dari wadah yang terbuat dari baja yang kuat (bombnya) dimana pereaksi ditempatkan. Bomb tersebut dimasukkan pada bak yang berisolasi dan diberi pengaduk serta termometer. Suhu mula-mula dari bak diukur kemudian reaksi dijalankan dengan cara menyalakan pemanas kawat kecil yang berada di dalam bomb. Panas yang dikeluarkan oleh reaksi diabsorpsi oleh bomb dan bak menyebabkan temperatur alat naik. Dari perubahan suhu dan kapasitas panas alat yang telah diukur maka jumlah panas yang diberikan oleh reaksi dapat dihitung.
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_x/kapasitas-panas-panas-spesifik-dankalorimetri/

Home About Me Jual Suplemen Otak SagePlus Privacy Policy Contact Me

METABOLISME ENERGI
Posted on | July 20, 2012 | No Comments

METABOLISME ENERGI A.1. METABOLISME BASAL DAN ANGKA METABOLISME

Pengertian metabolisme meliputi setiap proses kimiawi yang terjadi di dalam badan. Proses ini tentu saja menyangkut proses pembentukan dan penggunaan energi. Karena itu tingkat aktifitas metabolisme seseorang dapat dinilai dengan melihat besarnya energi yang digunakan yang dapat dilihat dari besarnya panas yang dilepaskan oleh badan atau besarnya pemakaian oksigen. Derajat metabolisme seseorang sangat dipengaruhi oleh aktifitas atau kerja dari orang yang bersangkutan. Karena aktifitas kerja sangat bervariasi maka diperlukan suatu keadaan standard dimana dengan demikian tingkat metabolisme seseorang dapat dinilai dan dibandingkan. Keadaan ini adalah keadaan basal. Yang disebut keadaan basal ialah suatu keadaan jaga (tidak tidur) tetapi orang yang bersaangkutan dalam keadaan istirahat fisik maupun mental yang berada dalam linkungan yang bersuhu nyaman. Jadi pada saat itu tidak ada pekerjaan luar (external work) yang dilakukan, selain itu diperlukan keadaan post absortive yaitu untuk bebas dari pengaruh SDA. Syarat untuk mendapatkan keadaan basal: Yang paling baik adalah bila pemeriksaan silakukan pagi hari waktu subjek (orang yang akan diperiksa) baru bangun tidur, belum melakukan aktivitas apa-apa. Tetapi keadaan ini tidak selalu dapat dilaksanakan, oleh karena itu untuk mendekati keadaan basal ini maka sebelum pemeriksaan aktivitas subjek sangat dibatasi dan diperlukan istirahat terlebih dahulu selama minimal jam. 1. Pemeriksaan dilakukan subjek dalam keadaan tiduran. 2. Istirahat pada suasana tenang. 3. Ruangan dalam batas suhu nyaman. 4. 10-12 jam terakhir subjek tidak makan, boleh minum air tawar. 5. Malam hari sebelum pemeriksaan subjek dapat tidur nyenyak dan cukup waktu. 6. 2 hari terakhir (48 jam) tidak makan banyak protein. 7. Pada waktu pemeriksaan subjek harus bebas dari pengaruh obat-obatan. Besarnya metabolisme basal dapat dinyatakan dalam satuan KJ/m2/jam atau kcal/m2 luas permukaan badan/jam. Basal Metabolic Rate ( B.M.R. )

Yang dimaksud dengan Basal Metabolic Rate pada hakekatnya ialah produksi panas per satuan waktu pada orang yang dalam keadaan basal. Untuk klinik, dimana diperlukan membandingkan metabolisme basal seseorang dengan angka normalnya, maka hasil pengukuran metabolisme basal dinyatakan dalam besarnya penyimpangan metabolisme basal seseorang dari harga standar kelompoknya, dinyatakan dalam persen. Penyimpangan dapat positif atau negatif. Dari 2 daftar nilai Metabolisme Basal ( Aub du Bois dan Fleisch ) kini banyak digunakan adalah harga standar Fleisch. A.2. Metabolisme Kerja

Pada waktu kerja maka di samping keperluan basal diperlukan tenaga ekstra untuk melakukan kerja tersebut. Besarnya tenaga ekstra tentu saja tergantung dari beratnya pekerjaan yang dilakukan. Pada percobaan ini akan diukur besarnya metabolic rate pada waktu kerja. B. Tujuan
1. Menghitung dan menyimpulkan besar metabolisme basal dan metabolisme kerja orang coba. 2. Menghitung dan membahas BMR dengan rumus Reed:

BMR = 0.75 {(frekuensi nadi) + 0.74 (tekanan nadi)} 72 3. Mempelajari pengaruh faktor-faktor fisiologis yang tidak mempengaruhi pengukuran BMR. 4. Mempelajari mengapa perlu juga dihitung BMR dan bukan hanya Metabolic Rate saja. C.
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

SARANA
Alat spirometer Alat pencatat suhu ruangan Alat pencatat tekanan udara (barometer) Pipa mulut (mouth piece) dan penjepit hidung Timbangan dan pengukur tinggi badan Tabel nomogram Aub du Bois Cermin kecil Beban Metronom

10. Tempat tidur 11. Tensimeter D. TATA KERJA

D.1. PEMERIKSAAN METABOLISME BASAL

1. Pemeriksaan secara tak langsung dilakukan dengan menggunakan alat spirometer. Spirometer termasuk jenis kalorinmeter tertutup. CO2 dalam pemeriksaan ini dihilangkan dengan pengikatan gas CO2 oleh soda lime. Penurunan tabung sungkup dari awal menunjukkan besarnya pemakaian oksigen. 2. Persiapan orang coba ( Ingat kenyataannya orang coba tidak dalam keadaan basal ). 1. Catat : nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, pekerjaan. 2. Hitung luas badan orang tersebut dengan mengukur tinggi dan berat badan, selanjutnya dengan menggunakan Nomogram dari Aub Du Bois (lihat lampiran 5) dicari luas badannya. 3. Suruh orang coba istirahat berbaring tenang minimal setengah jam. 1. Persiapan alat-alat : 2. Catat suhu ruangan dan tekanan udara yang terbaca pada barometer. 3. Spirometer

Cari kran pengisi oksigen, isilah; bilas 2-3 kali. Perhatikan kran pada ujung pipa napas yang mula-mula harus tertutup. Pasang kertas pada drum tromol. Isi tinta penulis jika perlu. Siapkan pipa mulut (mouth piece) yang telah disterilkan dangan cara merebus. Hubungkan arus listrik dan periksalah jalannya tromol.

1. Ukur tekanan darah orang coba saat istirahat. 1. Jalannya pemeriksaan. 2. Setelah istirahat, menjelang pemeriksaan ukurlah suhu tubuh, frekuensi nadi, tekanan darah serta frekuensi pernapasan.

Pastikan keadaan jiwa betul-betul tenang.


1. Pasanglah pipa mulut pada orang coba, kemudian jepitlah hidungnya dengan penjepit hidung. Biarkan orang coba membiasakan diri dengan alatnya (masih bernapas dengan udara luar). 2. Setelah pernapasan teratur jalankan tromol pencatat, kemudian pada akhir ekspirasi bukalah kran pengatur aliran udara sehingga orang coba bernapas ke spirometer. 3. Periksalah, jangan sampai ada kebocoran gas melalui mulut, maupun hidung (lakukan dengan menggunakan cermin kecil). 4. Jangan lupa menghitung frekuensi nadi, frekuensi pernapasan pada pertengahan dan akhir percobaaan. 5. Catat suhu spirometer. Ini adalah suhu udara di dalam spirometer. 6. Lanjutkan percobaan sampai didapat grafik yang teratur, paling sedikit dalam 6 menit. 7. Setelah selesai bersihkan alat-alatnya. 8. Untuk menghitung pemakaian oksigen buatlah garis lurus yang mendekati titik ujung akhir ekspirasi dari grafik yang didapat. 1. Contoh penghitungan. 1. Laki-laki 21 tahun, T.B = 165 cm. B.B = 65 kg. 2. Ubahlah volume ATPS ke STDP.

Luas badan = 1,73 m2 ( sesuai Tabel Nomogram Aub Du Bois). b. Pemakaian oksigen selama 6 menit = 1,6 liter. Suhu spirometer = 27 o C dan barometer ruangan 763 mmHg.
(tekanan uap air jenuh pada 27 o C = 26,5 mmHg pada Tabel Tekanan Uap Air Jenuh). V1 P1 = V2 P2 T1 T2 V2 = P1 x T2 x V1 P2 T1

V2 = 763 26,5 x 273 x 1,6 liter = 1,41 liter 760 273+27


1. Pemakaian oksigen tiap jam = 60 min/6 min 1,41 = 10 1,41 = 14,1 liter. 2. Pada keadaan Post Absorptive ( satu liter O2setara dengan 4,825 kcal). 1. Metabolic Rate = 14,1 X 4,825 = 39,33 kcal/ m/ jam

1,73 Cara menghitung metabolisme basal (BMR) : Di dalam daftar Fleisch( lampiran 4) didapatkan bahwa untuk seseorang laki-laki berumur 21 tahun metabolisme standart adalah 39,5 kcal/m2 / jam. Jika pengukuran tersebut dilakukan dengan syarat basal, maka : BMR = 39,33 39,5 x 100% = -0,43 % (negative). 39,5 D.2. METABOLISME KERJA

Prosedur persiapan kerja dan pelaksanaan sama dengan pemeriksaan metabolisme basal (BMR) hanya saja selama pengukuran orang coba melakukan kerja dengan kedua tangannya menggenggam beban di kanan-kiri yang beratnya kurang lebih 500 gram kemudian orang coba meakukan gerakan fleksi lengan bawah sampai sudut sendi siku kurang lebih 900 lalu meluruskannya lagi dengan frekuensi 20 kali per menit ( ikuti irama metronom) selama 2 menit. Kemudia pengukuran oksigen tetap diteruskan sampai 6 menit atau lebih. Metabolisme orang kerja orang coba dihitung dengan cara seperti pemeriksaan pada metabolisme basal (BMR).

E.
Umur

HASIL
: Liza Ayu Wulandari
: 19 th.

v Nama orang coba

Jenis kelamin Suku Bangsa kakek Pihak ayah Pihak ibu Pekerjaan Tinggi Badan Berat Badan Luas Badan Suhu Tubuh Suhu Spirometer Tekanan Barometer Tekanan Uap Jenuh Tekanan Darah

: Perempuan

: Madura : Madura : Mahasiswa : 156 : 51 : 1,54 : 37,1 : 29 : 759 : 31,5 cm kg m2 C


o

mmHg mmHg

: 94 / 74 mmHg

E.1. Pemeriksaan Laju Metabolisme Istirahat (lampirkan hasil rekaman Grafik spirometer): Frekuensi Nadi

permulaan : 76 x / menit pertengahan : 88 x / menit akhir : 100 x / menit

Frekuensi Pernapasan

permulaan : 16 x / menit pertengahan : 20 x / menit akhir : 24 x / menit

Hitungan: Banyaknya pemakaian oksigen 6 menit = 1, 05 Liter ATPS Banyaknya pemakaian oksigen 1 jam P1 x T2 x VATPS = 10,5 Liter ATPS

VSTPD = P2 T1

= 760

759 31,5 x 273 + 29

273 x 1,05 Liter

= 0,908583 liter Pemakaian oksigen selama 1 jam istirahat = 9,08583 Liter STPD Metabolisme = volume O2 x 4, 825 kcal

= 9,08583 x 4,825 kcal = 43,83913 kcal/jam Luas badan = 1,54 m2 Metabolisme Rate = volume O2 x 4,825

Luas badan = 9,08583 x 4,825 1,54 = 28,46697 kcal/m2/jam Metabolisme baku Aub & Du Bois = 38,0 kcal/m2/jam

Beda = 28,46697 38,0 x 100% 38,0 = - 9,53303 x 100% 38,0 = 25,087 % (negative) Daftar Petugas/ Pelaksana 1. 2. Orang coba Pengamat : Dennis Disfrandita Y : Widyasworo Ratri : Phaleno : Liza Ayu Wulandari

a. denyut nadi b. pernapasan c. suhu

d. barometer 3. 4. 5. Pencatat Pembaca Grafik Pengolah data

: Aan Azwar : Meliana S : Eziah Ika L

a. BMR b. Kerja 6. Pimpinan

: Maslukhatun N : Siti Maimunah :

v Nama orang coba


Umur Jenis kelamin Suku Bangsa kakek Pihak ayah Pihak ibu Pekerjaan Tinggi Badan Berat Badan Luas Badan Suhu Tubuh Suhu Spirometer Tekanan Barometer Tekanan Uap Jenuh Tekanan Darah : Bali : Bali

: I Made Abdi Gunawan

: 19 th. : Laki-laki

: Mahasiswa : 178 : 59 : 1,73 : 37 : 29 : 759 : 31,5 cm kg m2 C


o

mmHg mmHg

: 108 / 66 mmHg

E.1. Pemeriksaan Laju Metabolisme Istirahat (lampirkan hasil rekaman Grafik spirometer): Frekuensi Nadi

permulaan : 84 x / menit pertengahan : 92 x / menit akhir : 100 x / menit

Frekuensi Pernapasan

permulaan : 28 x / menit pertengahan : 16 x / menit akhir : 12 x / menit

Hitungan: Banyaknya pemakaian oksigen 6 menit = 1, 8 Liter ATPS Banyaknya pemakaian oksigen 1 jam P1 x T2 x VATPS = 18 Liter ATPS

VSTPD = P2 T1 = 760 = 1,56 liter

759 31,5 x 273 + 29

273 x 1,8 Liter

Pemakaian oksigen selama 1 jam istirahat = 15,6 Liter STPD Metabolisme = volume O2 x 4, 825 kcal

= 15,6 x 4,825 kcal = 75,27 kcal/jam Luas badan = 1,73 m2 Metabolisme Rate = volume O2 x 4,825

Luas badan = 15,6 x 4,825 1,73 = 43,506 kcal/m2/jam Metabolisme baku Aub & Du Bois = 41,0 kcal/m2/jam

Beda = 43,506 41,0 x 100%

41,0 = 2,506 x 100% 35,5 = 6,12 % (positive) Daftar Petugas/ Pelaksana 1. 2. Orang coba Pengamat : Aan Azwar J : Widyasworo Ratri : Phaleno : Berry Harsono P. : Vindi Viciana : Danang Febrian S. : I Made Abdi Gunawan

a. denyut nadi b. pernapasan c. suhu d. barometer 3. 4. 5. Pencatat Pembaca Grafik Pengolah data

a. BMR b. Kerja 6. F. F.1 Pimpinan

: Maslukhatun N : Rizky Dharma P. :

PEMBAHASAN DISKUSI HASIL

Perhitungan volume dilakukan dengan menarik garis pada akhir ekspirasi (garis dibuat secara lurus dan di ambil rata-rata pada akhir eksperimen). METABOLISME BASAL Menurut kriteria, BMR normal berkisar antara -10 sehingga +15 dari metabolisme baku. Sedangkan penyimpangan yang terjadi pada praktikum ini adalah sebesar -25,818%. Penyimpangan ini tidak normal karena melebihi batas standart. Hal ini dikarenakan adanya kebocoran O2 luar dari mouth piece sehingga pada grafik terlihat kenaikan yang tidak wajar.

Selain itu, dalam percobaan ini BMR yang diperoleh tingkat validitasnya masih rendah.Karena ada beberapa syarat yang tidak terpenuhi untuk mencapai keadaan basal, seperti:

Mahasiswa coba melakukan aktivitas berat sebelum percobaan Mahasiswa coba kurang tidur dengan nyenyak Selama 12 Jam terakhir, mahasiswa coba masih melakukan aktivitas makan Banyaknya orang di sekitar mahasiswa coba sehingga suasana tenang atau suhu nyaman tidak tercapai Fisik dan mental mahasiswa coba tidak dalam keadaan istirahat

Salah satu indikasi dalam keadaan basal dari orang coba adalah frekwensi pernafasan yang kurang normal. Frekwensi pernafasan normal 12-18 kali / menit. Jika mahasiswa coba dalam keadaan basal dan harga BMR kurang dari harga standart normal maka orang coba tesebut mempunyai metabolisme rendah. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi BMR yaitu umur, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, luas permukaan tubuh, dll. semakin tua umur seseorang, BMR makin rendah BMR pria > BMR wanita BMR Caucasian > BMR cina, india

semakin tinggi suhu, BMR semakin tinggi (kenaikan 1C akan menaikkan BMR sebesar 14) Dalam keadaan basal, energi yang digunakan hanya untuk melangsungkan metabolisme dalam rangka mempertahankan hidup, sehingga walaupun tingkat aktivitas minimum, jumlah energi yang dibutuhkan tidak akan mencapai nol. Faktor fisiologis yang dapat mempengaruhi BMR : a. Kerja Di mana pada kontraksi maksimal singkat pada satu otot akan melepas panas 100 x saat istirahat. b. SDA Dimana setelah makan, laju metabolisme tubuh basal akan meningkat c. Umur Dimana semakin tua, laju metabolisme tubuh makin menurun. d. Hormon thyroid Dimana tiroxyn yang disekresikan berfungsi untuk meningkatkan aktifitas reaksi kimia dalam tubuh.

e. Penyakit Dimana mekanisme tubuh melakukan pelawanan terhadap penyakit dapat meningkatkan metabolisme f. Malnutrisi Kecepatan metabolisme menurun karena tidak adanya zat makanan yang dibutuhkan oleh sel. g. Kadar epinefrin dan norepinefrin Dimana semakin banyak metabolisme tubuh semakin meningkat

METABOLISME KERJA
Kita mungkin menduga bahwa metabolisme rate dalam keadaan kerja lebih besar dibandingkan pada waktu istirahat. Tetapi kenyataanya hal yang terjadi adalah sebaliknya. Pemakaian oksigen pada saat pemulihan lebih besar daripada saat melakukan kerja. Sesudah kerja, orang akan terus bernapas dengan kuat dan memakai oksigen dalam jumlah yang berlebihan selama beberapa menit dan kadang-kadang selama 1 jam sesudahnya. Jumlah oksigen yang berlebihan ini dipakai untuk :
1. Mengubah AMP dan ADP. Mengubah asam laktat yang disimpan selama kerja menjadi glukosa kembali. 2. Menjadi ATP. 3. Mengubah kembaii kreatin dan fosfat menjadi fosfokreatin. 4. Untuk mengembalikan kembaii konsentrasi normal, ikatan oksigen dengan hemoglobin dan mioglobin. 5. Untuk meningkatkan konsentrasi oksigen dalam paru sehingga mencapai tingkat normal. Pemakaian oksigen dalam jumlah berlebihan setelah kerja disebut hutang oksigen.

V. KESIMPULAN
1. Basal metabolisme rate menunjukkan besarnya energi metabolisme untuk mempertahankan hidup. 2. BMR adalah produksi panas per satuan waktu pada orang dalam keadaan basal. 3. Energi yang digunakan untuk metabolisme kerja lebih tinggi daripada metabolisme basal. 4. Metabolisme rate ketika pemulihan lebih besar daripada metabolisme kerja karena adanya hutang oksigen.

VI. KEPUSTAKAAN
1. Ganong, W.F. 1999. Review of Medical Physiology. Ed. 19. Jakarta: EGC 2. Guyton, A, C. 1997. Fisiologi Kedokteran. Ed. 9. Jakarta: EGC 3. Patton, Fuchs, Fille, Scher, Sliner, Textbook Of Physiology, 21st edition, Wb Saunders Company, Philadelphia. 4. Hawk and Bergem. Practical Physiological Chemistry. 10th edition. New York:

Blackston

Jika anda bergelut dibidang olahraga anda pasti tahu apa itu Vo2Max. Namun bagi beberapa kalangan yang masih awam mengenai Vo2Max pastilah bingung apa itu Vo2Max, Bagaimana cara mengukurnya dsb. VO2 max adalah volume maksimal O2 yang diproses oleh tubuh manusia pada saat melakukan kegiatan yang intensif. Volume O2 max ini adalah suatu tingkatan kemampuan tubuh yang dinyatakan dalam liter per menit atau milliliter/menit/kg berat badan. Setiap sel dalam tubuh manusia membutuhkan oksigen untuk mengubah energi makanan menjadi ATP (Adenosine Triphosphate) yang siap dipakai untuk kerja tiap sel yang paling sedikit mengkonsumsi oksigen adalah otot dalam keadaan istrahat. Sel otot yang berkontraksi membutuhkan banyak ATP. Akibatnya otot yang dipakai dalam latihan membutuhkan lebih banyak oksigen dan menghasilkan CO2. Kebutuhan akan Oksigen dan menghasilkan CO2 dapat diukur melalui pernafasan kita. Dengan mengukur jumlah oksigen yang dipakai selama latihan, kita mengetahui jumlah oksigen yang dipakai oleh otot yang bekerja. Makin tinggi jumlah otot yang dipakai maka makin tinggi pula intensitas kerja otot. Tingkat Kebugaran dapat diukur dari volume Anda dalam mengkonsumsi oksigen saat latihan pada volume dan kapasitas maksimum. Kelelahan atlet yang dirasakan akan menyebabkan turunnya konsentrasi sehingga tanpa konsentrasi yang prima terhadap suatu permainan, sudah hampir dipastikan kegagalan yang akan diterima. Cepat atau lambatnya kelelahan oleh seorang atlet dapat diperkirakan dari kapasitas aerobik atlet yang kurang baik. Kapasitas aerobik menunjukkan kapasitas maksimal oksigen yang dipergunakan oleh tubuh (VO2Max). Dan seperti kita tahu, oksigen merupakan bahan bakar tubuh kita. Oksigen dibutuhkan oleh otot dalam melakukan setiap aktivitas berat maupun ringan. Dan semakin banyak oksigen yang diasup/diserap oleh tubuh menunjukkan semakin baik kinerja otot dalam bekerja sehingga zat sisa-sisa yang menyebabkan kelelahan jumlahnya akan semakin sedikit. VO2Max diukur dalam banyaknya oksigen dalam liter per menit (l/min) atau banyaknya oksigen dalam mililiter per berat badan dalam kilogram per menit (ml/kg/min). Tentu, semakin tinggi VO2 max, seorang atlet yang bersangkutan juga akan memiliki daya tahan dan stamina yang istimewa. Bagaimana mengukur VO2 max ? Sebagai pertimbangan dalam mengukur VO2 max adalah tes harus diciptakan demikian rupa sehingga tekanan pada pasokan oksigen ke otot jantung harus berlangsung maksimal. Kegiatan fisik yang memenuhi criteria ini harus:

melibatkan minimal 50 % dari total masa otot. Aktivitas yang memenuhi criteria ini adalah lari, bersepeda, mendayung. Cara yang paling umum dilakukan dengan lari di Treadmill, yang bisa diatur kecepatan dari sudut inklinasinya Lamanya tes harus menjamin terjadinya kerja jantung maksimal. Umumnya berlangsung 6 sampai 12 menit.

Salah satu cara untuk mengukur Vo2Max adalah metode Cooper Test , metode ini cukup sederhana. Dimana atlet melakukan lari/jalan selama 12 menit pada lintasan lari sepanjang 400 meter. Setelah waktu habis jarak yang dicapai oleh atlet tersebut dicatat. Rumus sederhana untuk mengetahui VO2Maxnya adalah : Jarak yang ditempuh dalam meter 504.9) / 44.73. Contoh : Dio melaksanakan Cooper Test dengan lari selama 12 menit, jarak yang dicapai (2600 meter 504.9) dibagi 44.73 = 46.83881 mls/kg/min. atau memakai tes Harvard Step Test Tes ini adalah pengukuran yang paling tua untuk mengetahui kemampuan aerobik yang dibuat oleh Brouha pada tahun 1943. Ada beberapa istilah seperti kemampuan jantung-paru, daya tahan jantung-paru, aerobic power, cardiovascular endurance, cardiorespiration endurance, dan kebugaran aerobik yang mempunyai arti yang kira-kira sama. Penelitian ini dilakukan di Universitas Harvard, USA, jadi nama tes ini dimulai dengan nama Harvard. Inti dari pelaksanaan tes ini adalah dengan cara naik turun bangku selama 5 (lima) menit. Pelaksanaan: 1. Tinggi bangku 20 feet (50 cm) 2. Irama langkah pada waktu naik turun bangku (NTB) adalah 30 langkah per menit, jadi 1 (satu) langkah setiap 2 (dua) detik 3. 1 (satu) langkah terdiri dari 4 (empat) gerakan/hitungan:

Hitungan 1 : Salah satu kaki diangkat (boleh kanan atau kiri terlebih dahulu tetapi konsisten), kemudian menginjak bangku. (Asumsi kaki kanan) Hitungan 2 : Kaki kiri diangkat lalu berdiri tegak di atas bangku Hitungan 3 : Kaki yang pertama menginjak bangku pada hitungan 1 (asumsi kaki kanan) diturunkan kembali ke lantai Hitungan 4 : Kaki kiri diturunkan kembali ke lantai untuk berdiri tegak seperti sikap semula

4. Ganti langkah diperbolehkan tetapi tidak lebih dari 3 (tiga) kali 5. Supaya irama langkah ajeg/stabil, maka digunakan alat metronome 6. NTB dilakukan selama 5 (lima) menit. Saat aba-aba stop, tubuh harus dalam keadaan tegak. Kemudian duduk dibangku tersebut dengan santai selama 1 (satu) menit 7. Hitung denyut nadi (DN) orang coba (testi) selama 30 detik. Dicatat sebagai DN 1 8. 30 detik kemudian hitung kembali DN testi selama 30 detik. Dicatat sebagai DN 2 9. 30 detik kemudian hitung kembali DN testi selama 30 detik. Dicatat sebagai DN 3 10. Setelah mendapatkan DN 1, DN 2, DN 3, maka data tersebut dimasukan kedalam rumus Indeks kebugaran yang selanjutnya dikonversikan sesuai rumus yang dipilih 11. Apabila testi tidak kuat melakukan NTB selama 5 (lima) menit, maka waktu lama NTB tersebut dicatat, lalu DN-nya diukur/dihitung sesuai dengan petunjuk pengambilan DN tersebut Indeks Kebugaran Rumus Panjang: Durasi NTB (detik) x 100/2 (DN 1+DN 2+DN 3) Indeks Kebugaran Kategori Kebugaran

< 55 Jelek 55-64 Kurang dari rata-rata 65-79 Rata-rata 80-89 Baik 90 Baik sekali Rumus Pendek: Durasi NTB (detik) x 100/(5,5 x DN 1) Indeks Kebugaran Kategori Kebugaran < 50 Jelek 50-80 Rata-rata >80 Baik Disamping dari kedua tes diatas, beberapa cara untuk mengetahui kapasitas VO2Max, seperti : 2.4km Run Test Astrand 6 minute Cycle test VO2max test on a static bike Balke VO2max test suitable for endurance sports Conconi test Multistage Fitness Test or Bleep test VO2max test for endurance sports Treadmill VO2max test VO2max test VO2max from non-exercise data VO2max test http://zudine.wordpress.com/tag/cara-menghitung/
Pengukuran Volume Darah

Jika kita mengukur volume plasma dengan menggunakan metode yang dijelaskan di atas, maka volume darah juga dapat dihitung jika kita mengetahui hematokrit, yaitu fraksi volume darah total yang terdiri dari sel-sel, dengan menggunakan persamaan berikut:

Volume darah total = Volume plasma 1 Hematokrit

Contoh: jika volume plasma ialah 3,0 liter dan hematokrit adalah 0,40, maka kemudian volume darah total dapat dihitung sebagai berikut: 3_liter 1,0 - 0,4 = 5,0 liter

http://doktermuda-indonesia.blogspot.com/2012/04/pengukuran-volume-darah.html
Sistem Kardiovaskuler Menghitung Denyut Nadi Dan Cardiac Output (Co)

A.

Tujuan

1. 2.

Mengukur denyut nadi atau pulsus pada arteri radialis Menghitung cardiac output (CO)

B. -

Alat dan bahan Jam ( stopwatch) Tally counter

C.

Cara kerja Langkah pertama Langkah kedua

Langkah ketiga

D.

Tabulasi data Denyut nadi No Nama Umur Sebelum lari 1 2 3 4 5 6 7 ummah Arini Ana Meita Nuryanti Aulia Elfa Total 20 20 20 20 20 19 20 74 85 85 81 74 71 75 545 Setelah lari 100 100 130 89 100 122 121 762

rata-rata standar deviasi

77,8571 5,72796

108,857 15,2581

E.

Pembahasan Pada praktikum kali ini tentang menghitung denyut nasi (pulsus) dan cardiac output (CO). Cara kerja yang praktikan lakukan adalah menempelkan ketiga jari pada pergelangan tangan diatas arteri radialis dengan sedikit menekan kemudian kurangi tekanan tersebut sampai terasakan denyut nadi, menghitung banyaknya denyut nadi dalam setiap menit, banyaknya denyut nadi permenit yang merupakan manifestasi frekuansi denyut jantung permenit ( heart rate = HR ). Kemudian melakukan kegiatan olahraga (lari, naik turun tangga) kurang lebih selama 10 menit, melakukan pengukuran denyut nadi seperti langkah pertama, membandingkan data hasil pengukuran pertamadengan data hasil pengukuran kedua, dengan menggunakan uji t student memakai program spss. Setelah itu menghitung cardiac output dengan rumus : cardiac output (CO)=HR x SV. Denyut nadi (pulsus) dapat dirasakan melalui pembuluh darah superfisial seperti arteri radialis. Pulsus merupakan manifestasi dari kontraksi jantung. Efek Windkessel yaitu aorta akan mengembang jika ventrikel berkontraksi sehingga darah dari ventrikel dapat tertampung dalam aorta dan diteruskan ke arteri. Arteri mempunyai daya komplians (perenggangan) yang sangat tinggi. Denyut jantung adalah jumlah denyut jantung per unit waktu, biasanya dinyatakan sebagai denyut per menit (bpm). Denyut jantung dapat bervariasi sesuai dengan kebutuhan tubuh untuk menyerap oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida perubahan, seperti selama latihan atau tidur. Pengukuran denyut jantung digunakan oleh profesional medis untuk membantu dalam diagnosis dan pelacakan kondisi medis. Ia juga digunakan oleh individu, seperti atlet, yang tertarik dalam memonitor detak jantung mereka untuk mendapatkan efisiensi maksimum dari pelatihan mereka. Gelombang R untuk interval gelombang R (RR interval) adalah kebalikan dari denyut jantung. Pengukuran Detak jantung diukur dengan mencari denyut nadi tubuh. Ini denyut nadi dapat diukur pada setiap titik pada tubuh dimana pulsasi arteri adalah ditransmisikan ke permukaan dengan menekan dengan indeks dan jari tengah; sering dikompresi terhadap struktur yang mendasari seperti tulang. thumb tidak boleh digunakan untuk mengukur denyut jantung orang lain, sebagai pulsa kuat dapat mengganggu membedakan situs pulsasi. Kemungkinan untuk mengukur detak jantung adalah:

1. 2. 3. 4. 5.

Aspek ventral pergelangan tangan pada sisi ibu jari (arteri radial). Arteri ulnaris Leher (arteri carotid). Bagian dalam siku, atau di bawah otot bisep (arteri branchial). Pangkal paha (arteri femoralis)

6. 7. 8. 9.

Di balik malleolus medialis pada kaki (arteri tibialis posterior). Tengah dorsal kaki (dorsalis pedis) Belakang lutut (arteri poplitea) Selama perut (aorta abdominalis).

10. Dada (puncak dari jantung), yang bisa dirasakan dengan tangan atau jari seseorang. Namun, dimungkinkan untuk auscultate jantung dengan menggunakan stetoskop 11. Candi (arteri temporal superfisial). 12. Tepi lateral (arteri wajah) mandibula. Pada naracoba, denyut jantung diukur pada daerah pergelangan tangan atau daerah arteri radialis. Pada percobaan ini, praktikan menggunakan dua parameter yaitu sebelum melakukan aktivitas berlari dan setelah melakukan aktivitas berlari. Berikut adalah hasil dari percobaan : Naracoba 1 : Frekuensi denyut jantung sebelum melakukan aktivitas sebesar 74 denyut per menit. Setelah melakukan aktivitas lari selama 10 menit adalah 100 denyut permenit. Naracoba 2 : Frekuensi denyut jantung sebelum melakukan aktivitas sebesar 85 denyut per menit. Setelah melakukan aktivitas lari selama 10 menit adalah 100 denyut permenit. Naracoba 3 : Frekuensi denyut jantung sebelum melakukan aktivitas sebesar 85 denyut per menit. Setelah melakukan aktivitas lari selama 10 menit adalah 130 denyut permenit. Naracoba 4 : Frekuensi denyut jantung sebelum melakukan aktivitas sebesar 81 denyut per menit. Setelah melakukan aktivitas lari selama 10 menit adalah 89 denyut permenit. Naracoba 5 : Frekuensi denyut jantung sebelum melakukan aktivitas sebesar 74 denyut per menit. Setelah melakukan aktivitas lari selama 10 menit adalah 100 denyut permenit. Naracoba 6 : Frekuensi denyut jantung sebelum melakukan aktivitas sebesar 71 denyut per menit. Setelah melakukan aktivitas lari selama 10 menit adalah 122 denyut permenit. Naracoba 7 : Frekuensi denyut jantung sebelum melakukan aktivitas sebesar 75 denyut per menit. Setelah melakukan aktivitas lari selama 10 menit adalah 121 denyut permenit.

Pada semua naracoba, frekuensi denyut jantung sebelum dan sesudah aktivitas lari mengalami peningkatan. Hal ini bisa terjadi karena jantung senantiasa akan berusaha mengkompensasi kebutuhan sel. Sel akan bekerja lebih keras ketika kerja yang yang dilakukan naracoba meningkat. Salah satu bahan baku yang digunakan sel untuk memproduksi energi adalah oksigen. Sehingga ketika sistem kerja sel meningkat, oksigen yang dibutuhkan pun semakin banyak. Sehingga jantung akan meningkatkan denyutnya untuk mempercepat aliran darah yang membawa oksigen sampai ke sel-sel yang membutuhkan. Berdasarkan uji t student dengan menggunakan SPSS,dengan alfa = 5% dan df = 6 signifikasinya 0,03 berarti sangat signifikan. Berarti terdapat perbedaan denyut jantung yang nyata antara sebelum dan sesudah lari. Frekuensi denyut jantung (heart rate, HR) yaitu banyaknya denyut jantung permenit. Stroke volum (SV) yaitu volume satu kali pompa jantung yang merupakan volume akhir diastole dikurangi volume akhir sistole. Volume akhir diastole tergantung : renggangan (kompalins), tekanan mendorong (filling pressure) vena cava. Cardiac output (CO) adalah banyak darah yang dipompa selama satu menit. Cardiac output merupakan hasil kali sroke volume dengan frekuensi denyut jantung. Cardiac output merupakan hasil kali antara stroke volume (volume sekuncup) dengan frekuensi denyut jantung permenit. Stroke volume yaitu volume darah yang dipompa oleh jantung dalam sekali pompa, rata-rata untuk orang dewasa 70 ml. Cardiac output adalah volume darah yang dipompa oleh jantung, khususnya oleh ventrikel kiri atau kanan dalam interval waktu satu menit. CO dapat diukur dengan berbagai cara, untuk dm3/min misalnya (1 dm3 sama 1000 cm3 atau 1 liter). Q adalah jumlah gabungan selanjutnya output dari ventrikel kanan dan output dari ventrikel kiri selama fase sistole jantung. Rata-rata istirahat curah jantung akan 5,6 L / min untuk laki-laki manusia dan 4,9 L / min untuk perempuan. Fungsi jantung adalah untuk transportasi darah untuk memberikan oksigen, nutrisi dan bahan kimia ke sel-sel tubuh untuk menjamin kelangsungan hidup mereka dan fungsi yang tepat dan untuk menghilangkan limbah selular. Karena jantung adalah 'permintaan pompa' a, yang memompa darah apa pun yang datang kembali ke dalamnya dari sistem vena, maka secara efektif jumlah darah kembali ke jantung yang menentukan berapa banyak jantung memompa darah keluar (Q). Hal ini, pada gilirannya, terutama dikendalikan oleh permintaan oksigen oleh sel-sel tubuh dan kapasitansi dari sistem arterio-vena. Jika tubuh memiliki kebutuhan metabolisme oksigen yang tinggi maka arus metabolik-dikontrol melalui jaringan meningkat, yang mengarah ke aliran darah yang lebih besar kembali ke jantung Ketika Q peningkatan individu yang sehat tetapi terlatih, sebagian besar dari peningkatan ini dapat dikaitkan dengan peningkatan denyut jantung (HR). Perubahan postur tubuh, meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik, dan penurunan aktivitas sistem saraf parasimpatis juga dapat meningkatkan curah jantung. HR dapat bervariasi dengan faktor sekitar 3, antara 60 dan 180 denyut per menit, sedangkan stroke volume (SV) dapat bervariasi antara 70 dan 120 ml. Berikut adalah data perhitungan Cardiac output (CO) sebelum dan setelah melakukan aktivitas : Denyut nadi Nama Umur Sebelum lari Setelah lari Co sebelum

ummah

20

74

100

5180

Arini Ana

20 20

85 85

100 130

5950 5950

Meita Nuryanti Aulia Elfa

20 20 19 20

81 74 71 75

89 100 122 121

5670 5180 4970 5250

Nilai CO didapat dari perkalian frekuensi denyut jantung per menit dengan srtoke volum. Stroke volume rata-rata manusia adalah 70 ml. Pada saat sebelum melakukan aktivitas berlari, besarnya cardiac output pada semua naracoba lebih dari 4.9 L atau lebih dari batas minimal bagi perempuan normal. Setelah melakukan aktivitas lari nilai cardiac output meningkat seiring dengan peningkatan denyut jantung

F. -

Kesimpulan Pada semua naracoba, frekuensi denyut jantung sebelum dan sesudah aktivitas lari mengalami peningkatan. Frekuensi denyut nadi sebelum aktvitas lari antara 70-85 denyut permenit dan frekuensi denyut nadi setelah aktivitas lari sekitar 89-130 denyut permenit. Pada saat sebelum melakukan aktivitas berlari, besarnya cardiac output pada semua naracoba lebih dari 4.9 L atau lebih dari batas minimal bagi perempuan normal. Setelah melakukan aktivitas lari nilai cardiac output meningkat seiring dengan peningkatan denyut jantung.

G.

Daftar pustaka Nurcahyo, Heru. 2008. Fisiologi Hewan Dasar. Yogyakarta : FMIPA UNY Nyanyu Syamsiar Nangsan. 1988. Pengantar Fisiologi Manusia. Jakarta : Depdikbud.

http://loligoana.blogspot.com/2012/05/sistem-kardiovaskuler-menghitung-denyut.html

Pengukuran Tekanan Darah dan Interpretasinya


Posted on July 20, 2012 by Nunung Firda Istiqomah 0 Definisi Tekanan Darah Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding arteri. Tekanan ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti curah jantung, ketegangan arteri, dan volume, laju serta kekentalan (viskositas) darah. Tekanan darah terjadi akibat fenomena siklis. Tekanan puncak terjadi saat ventrikel berkontraksi yang disebut tekanan sistolik. Sedangkan tekanan terendah terjadi saat jantung beristirahat yang disebut tekanan diastolik. Tekanan darah digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan diastolic dengan nilai dewasa normalnya berkisar dari 100/60 sampai 140/90. Rata-rata tekanan darah normal biasanya 120/80. Pengukuran Tekanan Darah

Tekanan darah dapat diukur secara langsung atau tidak langsung. Pada metode langsung, kateter arteri dimasukkan langsung ke dalam arteri. Pengukuran tidak langsung dilakukan dengan sfigmomanometer dan stetoskop. Sfigmomanometer atau tensimeter dikenalkan pertama kali oleh dr. Nikolai Korotkov, seorang ahli bedah Rusia, lebih dari 100 tahun yang lalu. Sejak itu,sphygmomanometer air raksa telah digunakan sebagai standar emas pengukuran tekanan darah oleh para dokter. Tensimeter atau sphygmomanometer pada awalnya menggunakan raksa sebagai pengisi alat ukur ini. Sekarang, kesadaran akan masalah konservasi lingkungan meningkat dan penggunaan dari air raksa telah menjadi perhatian seluruh dunia. Bagaimanapun, sphygmomanometer air raksa masih digunakan sehari-hari bahkan di banyak negara modern. Para dokter tidak meragukan untuk menempatkan kepercayaan mereka kepada tensimeter air raksa ini. Sphygmomanometer terdiri dari sebuah pompa, sumbat udara yang dapat diputar, kantong karet yang terbungkus kain, dan pembaca tekanan, yang bisa berupa jarum mirip jarum stopwatch atau air raksa.

Sfigmomanometer tersusun atas manset yang dapat dikembangkan dan alat pengukur tekanan yang berhubungan dengan rongga dalam manset. Alat ini dikalibrasi sedemikian rupa sehingga tekanan yang terbaca pada manometer sesuai dengan tekanan dalam millimeter air raksa yang dihantarkan oleh arteri brakialis. Agar sphygmomanometer masih dapat digunakan untuk mengukur tekanan darah dengan baik, perlu dilakukan kalibrasi. Cara melakukan kalibrasi yang sederhana adalah sebagi berikut: 1. Sebelum dipakai, air raksa harus selalu tetap berada pada level angka nol (0 mmHg). 2. Pompa manset sampai 200mmHg kemudian tutup katup buang rapat-rapat. Setelah beberapa menit, pembacaan mestinya tidak turun lebih dari 2mmHg ( ke 198mmHg). Disini kita melihat apakah ada bagian yang bocor. 3. Laju Penurunan kecepatan dari 200mmHg ke 0 mmHg harus 1 detik, dengan cara melepas selang dari tabung kontainer air raksa. 4. Jika kecepatan turunnya air raksa di sphygmomanometer lebih dari 1 detik, berarti harus diperhatikan keandalan dari sphygmomanometer tersebut. Karena jika kecepatan penurunan terlalu lambat, akan mudah untuk terjadi kesalahan dalam menilai. Biasanya tekanan darah sistolic pasien akan terlalu tinggi (tampilan) bukan hasil sebenarnya. Begitu juga dengan diastolik. Penurunan raksa yang lambat ini dapat disebabkan oleh keadaan berikut: 1. Saringan yang mampet karena dipakai terlalu lama 2. Tabung kaca kotor (air raksa oksidasi) 3. Udara atau debu di air raksa Alasan yang pertama mudah kelihatan. Ada dua saringan dalam setiap sphygmomanometer air raksa yaitu di lubang tabung kaca dan tendon. Saringan di atas tabung kaca dapat menjadi tersumbat dengan mudah. Ketika air raksa menyentuh saringan, akan terjadi kelebihan tekanan. Penanganan yang tidak baik setelah dipakai yaitu membiarkan air raksa di tabung kaca dan tidak kembali ke tabung air raksa. Alasan yang kedua berkaitan dengan fakta bahwa air raksa adalah suatu logam berat dan berisi material yang tidak murni. Keadaan ini menyebabkan dalam waktu yang lama akan mengotori tabung gelas/kaca. Akibatnya gerakan raksa saat turun terhambat. Alasan yang ketiga adalah masuknya gelembung udara. Ini disebabkan oleh cara penanganan yang tidak sesuai dari sphygmomanometer air raksa. Debu dapat masuk lewat udara. Memindahkan sphygmomanometer air raksa tanpa mengunci air raksa kembali ke kontainer dan meninggalkan klep membuka dapat menghasilkan suatu gelembung udara di air raksa. Tensimeter bebas air raksa/ jarum Mengingat bahwa air raksa merupakan logam berat yang berbahaya, maka sekarang sudah banyak beredar Sphygmomanometer yang tidak menggunakan raksa contohnya UM-101 A & Medical Mercury-Free Sphygmomanometer. Pertimbangan banyak dokter dan perawat yang beralih ke UM-101 A & Medical Mercury-Free Sphygmomanometer adalah: 1. Akurat, konsisten inovatif design.

2. Bebas Mercury /air raksa : aman untuk pasien, diri sendiri, staff dan lingkungan. 3. Tidak ada perasaan cemas menggunakan sphygmomanometer. 4. Mercury-Free Sphygmomanometer mempunyai cara kerja yang sama dengan tensimeter air raksa.

Gambar 1. Sfigmomanometer Raksa

Gambar 2. Sfigmomanometer Jarum 1. Tentukan ukuran manset Pengukuran tekanan darah yang akurat tergantung pemakaian manset yang sesuai bagi pasien. Bila manset terlalu besar untuk lengan pasien, seperti pada anak-anak, maka pembacaannya akan lebih rendah dari tekanan sebenarnya. Bila manset terlalu kecil, misalnya pada penggunaan manset ukuran standar pada pasien obes, maka pembacaan tekanan akan lebih tinggi disbanding tekanan sebenarnya. Maka diproduksi berbagai ukuran manset untuk berbagai ukuran lingkar lengan. TABEL 1. UKURAN-UKURAN MANSET YANG TERSEDIA Dl PASARAN UNTUK EVALUASI PENGUKURAN TEKANAN DARAH Jenis Manset Neonatus Bayi Anak Dewasa Lengan besar Paha Lebar kantong karet (cm) 2.5 4.0 4.0 6.0 7.5 9.0 11.5 -13.0 14.0 -150 18.0 -19.0 Panjang kantong karet (cm) 5.0 9.0 11.5 -18.0 17.0 19.0 22.0 26.0 30.5 33.0 36.0 38.0

Gambar 3. Manset Sfigmomanometer 2. Pasang manset dengan benar. Pasang manset dengan membalutkannya dengan kencang dan lembut pada lengan atas, dan balon manset harus berada di tengah atas arteri brakialis.

Gambar 4. Letak Arteri Brakialis

Gambar 5. Pemasangan Manset 3. Posisikan klien dengan benar

Gambar 6. Posisi Klien Saat Pengukuran Tekanan Darah

4. Pompa manset hingga mengembang Pompa manset hingga mengembang, tekanan dalam manset dinaikkan sampai denyut brakial atau radial menghilang. Hilangnya denyutan menunjukkan bahwa tekanan sistolik darah telah dilampaui dan arteri brakialis telah tertutup. Manset dikembangkan lagi sebesar 20 30 mm Hg di atas titik hilangnya denyutan radial. Manset kemudian dikempiskan perlahan, dan dilakukan pembacaan auskultasi maupun palpasi. Dengan auskultsasi kita dapat mengukur tekanan sistolik dan diastolik dengan lebih akurat.

Gambar 7. Intepretasi Denyutan 5. Auskultasi Tekanan Darah

Ujung stetoskop yang berbentuk corong atau diafragma diletakkan pada arteri brakialis, tepat di bawah lipatan siku (rongga antekubital), yang merupakan titik di mana arteri brakialis muncul di antara kedua kaput otot biseps. Manset dikempiskan dengan kecepatan 2 3 mm Hg per detik, sementara kita mendengar awitan bunyi berdetak, yang menunjukkan tekanan darah sistolik. Bunyi tersebut dikenal sebagai bunyi Korotkoff, terjadi bersamaan dengan detak jantung, dan akan terus terdengar dari arteri brakhialis samapai tekanan darah dalam manset turun di bawah tekanan diastolic. Pada titik tersebut, bunyi akan menghilang. Dalam praktek sebenarnya, bunyi menjadi lebih sember (karakternya berubah) saat diastolic tercapai dan kemudian menghilang sekitar 10 mm Hg di bawah tekanan diastolik. Hilangnya bunyi sangat dekat dengan tekanan diastolik yang sebenarnya. Bila terdapat lebih dari 10 mm Hg antara bunyi sember dan saat hilangnya, maka tekanan darah dicatat sebagai tekanan tripartite, mis. 120/80/60, yang menunjukkan bahwa bunyi menjadi sember pada 80 mm Hg dan menghilang pada 60 mm Hg. Kadang kadang, terjadi penghilangan sementara saat mengauskultasi tekanan darah. Penghilangan ini dinamakan gap auskulatori. Misalnya, bunyi Korotkoff terdengar pada 170 mm Hg, menghilang pada 150 mm Hg, kembali pada 130 mm Hg, dan menghilang pada 90 mmHg. Pasien tersebut menderita gap auskultori sebanyak 20 poin. Hal ini biasa terjadi pada pasien dengan tekanan darah tinggi atau stenosis aorta berat (penyempitan muara katup antara ventrikel kiri dan aorta, menurunkan aliran darah ke aorta).

Gambar 8. Auskultasi Tekanan Darah 6. Palpasi Tekanan Darah

Sama saja dengan prosedur yang diterangkan di atas. Ketika manset dikempiskan,arteri brakialis atau radialis diraba. Pembacaan dimana teraba lagi denyutan adalah tekanan sistolik. Palpasi dilakukan bila tekanan darah sulit didengarkan. Tetapi, dengan palpasi, tekanan diastolic tidak dapat ditentukan dengan akurat.

Gambar 9. Palpasi Tekanan Darah Rentang Nilai Tekanan Darah 1. Pada Anak

Umur Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg) Neonatal 2-6 tahun 7 tahun 75-105 80-110 85-120 45-75 50-80 50-80 8 tahun 9 tahun 10 tahun 90-120 90-120 95-130 55-85 55-85 60-85 11 tahun 12 tahun 13 95-135 95-135 100-140 60-85 60-85 60-90 tahun 14 tahun 105-140 65-90 Tabel 2. Rentang Nilai Tekanan Darah pada Anak

2. Pada Dewasa

Gambar 10. Rentang Nilai Tekanan Darah pada Dewasa

Gambar 11. Chart Manajemen Hipertensi

1.

Definisi Hipertensi

Hipertensi adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan curah jantung dan/atau kenaikan pertahanan perifer (Soemantri dan Nugroho, 2006). Menurut The Joint National Commitee of Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of The Blood Pressure (2004) dikatakan hipertensi jik atekanan darah sistolik yang lebih besar atau sama dengan 140 mmHg atau peningkatan tekanan darah diastolik yang lebih besar atau sama dengan 90mmHg. Umumnya tekanan darah normal seseorang 120 mmHg/80 mmHg. Hasil pemeriksaan tersebut dilakukan 2 atau lebih pemeriksaan dan dirata-rata.

Gambar 12. Komplikasi Hipertensi

Gambar 13. Manajemen Hipertensi

Gambar 14. Terapi Hipertensi http://nunungfirdaistiqomah.wordpress.com/2012/07/20/pengukuran-tekanan-darah-daninterpretasinya/ HEART RATE Sering kali timbul pertanyaan saat berolah raga, apakah saya berolah raga terlalu ringan, sehingga tidak ada gunanya? Apakah saya berolah raga terlalu berat, sehingga malahan berbahaya bagi diri saya, ataukah saya olah raga pada intensitas yang tepat, sehingga membawa manfaat yang maksimal bagi tubuh dari kegiatan olah raga saya ini?

Salah satu ukuran untuk menentukan ketepatan intensitas kegiatan olah raga adalah denyut/detak jantung per menit atau heart rate per minutes. Untuk mendapatkan manfaat dari kegiatan fisik, kita perlu malakukan intensitas olah raga yang tepat (tidak terlalu ringan, maupun tidak terlalu keras, sehingga terlalu cepat capek). Ada suatu cara sederhana yang dilakukan untuk menentukan intensitas kegiatan fisik yang tepat tanpa mengukur detak jantung, misalnya ketika kita masih bisa berbicara atau bernyanyi dengan baik selagi berjalan,maka ini artinya kita masih melakukan kegiatan fisik yang terlalu ringan. atau kebalikannya kalau kita terlalu terengah-engah sehingga harus berhenti untuk mengambil nafas panjang, maka ini artinya kita melakukankegiatan olah raga terlalu keras. Ada beberapa istilah yang berhubungan dengan heart rate ini:

Heart rate adalah jumlah detak jantung per satuan waktu, biasanya dinyatakan dalam denyut per menit atau beats per minute (bpm). Detak jantung bervariasi,tergantung pada kebutuhan tubuh untuk menyerap Oksigen dan mengeluarkan CO2 dalam berbagai keadaan, misalnya saat olah raga atau tidur. Resting heart rate/Heart Rate Istirahat adalah jumlah detak jantung seseorang pada saat istirahat. Saat paling tepat untuk mengukur heart rate Istirahat ini adalah saat bangun tidur di pagi hari, sesudah tidur malam yang nyenyak . Angka kisaran

heart rate istirahat antara 60 80 detak tiap menit . Resting heart rate biasanya semakin besar sejalan dengan pertambahan usia, dan biasanya seseorang yang banyak berolah raga memiliki detak jantung istirahat yang lebih rendah. Detak jantung istirahat/ Resting heart rate ini merupakan salah satu parameter untuk menentukan training target heart rate. Dari pengukuran yang saya lakukan pada diri saya pada hari Jumat 17 Juni 2011,resting heart rate saya sebesar 60 bpm (Beats per minutes)

Heart Rate Max = 220 Usia. Contoh: Usia= 47 tahun, maka Heart Rate maximum = 220 47 = 173 Target Heart Rate (THR), atau Pelatihan Heart Rate, adalah rentang detak jantung yang diinginkan dicapai selama latihan aerobik yang memungkinkan jantung dan paru-paru seseorang untuk menerima manfaat paling banyak dari latihan. Kisaran teoritis ini bervariasi berdasarkan kondisi fisik seseorang, jenis kelamin, dan pelatihan sebelumnya. Di bawah ini adalah dua cara untuk menghitung seseorang Target Heart Rate. Dalam masing-masing metode, ada unsur yang disebut intensitas yang dinyatakan sebagai persentase. THR dapat dihitung dengan menggunakan kisaran 50% -85% intensitas. Namun, sangat penting untuk menurunkan suatu max HR akurat untuk memastikan perhitungan ini adalah bermakna . Dalam melakukan olah raga, sebaiknya kita lakukan berjenjang, sebagai contoh ketika kita baru saja memulai suatu kegiatan olah raga kembali setelah lama beristirahat, kita mulai dari target zone yang paling rendah (zone 50%) untuk kegiatan dalam beberapa minggu pertama. Setelah itu secara berjenjang naik ke target yang lebih tinggi (zone 75%). Dan sesudah 6 minggu atau lebih melakukan kegiatan olah raga yang rutin, naik ke target hearh rate zone 85% dari heart rate maksimal kita.

Mas Rosyid dan Ade Sebagai contoh, seseorang yang berusia 47 tahun, maka Heart Rate maksimalnya adalah: 220-usia = 220-47 = 173 (umur 47, estimasi max HR sebagai 220 umur): 65% intensitas: (220 (umur = 47)) * 0.65=173*0.65=112 bpm

85% intensitas: (220 (umur = 47)) * 0,85=173*0.85=147 bpm Metode Karvonen Metode Karvonen menggunakan Resting Heart Rate (HR istirahat) untuk menghitung Target Heart Rate (THR): THR = ((HR max HR Israhat) % Intensitas) + HR istirahat Contoh seseorang dengan maks HR 173 dan istirahat HR 60: 50% intensitas: ((173-60) 0.50) + 60 = 113 * 0.50 + 60 = 56.50 + 60 = 116.50 bpm 85% intensitas: ((173-60) 0.85) + 60 = 113 * 0.85 +60 =96.05 + 60 = 156.05 bpm Metode Zoladz Sebuah alternatif dengan metode Karvonen adalah metode Zoladz, yang berasal zona latihan dengan mengurangi nilai dari max HR. THR = HR max Adjuster 5 bpm

Zona 1 Adjuster = 50 bpm Zona 2 Adjuster = 40 bpm Zona 3 Adjuster = 30 bpm Zona 4 Adjuster = 20 bpm Zona 5 Adjuster = 10 bpm

Contoh untuk seseorang dengan maks HR 173:


Zona 1 (latihan mudah): 173-50 + 5 antara 118 128 bpm Zona 4 (latihan berat) : 173-20 + 5 antara 148 158 bpm

Sumber:

http://www.news-medical.net/health/Target-Heart-Rate-(Indonesian).aspx http://www.americanheart.org/presenter.jhtml?identifier=4736 http://en.wikipedia.org/wiki/Heart_rate http://www.news-medical.net/health/Target-Heart-Rate-(Indonesian).aspx

http://pvadi.wordpress.com/2011/06/16/heart-ratedetak-jantung/ Sering kali kita melihat orang yang memilki kecepatan pernapasan dan kedalaman pernapaan berbeda antara yang satu dengan lainnya. Alat untuk mengukur kapasitas paru menggunakan alat Spirometer. Spirometer adalah suatu piranti untuk mengukur volume udara yang diilhami dan yang berakhir oleh paru-paru. Ini merupakan suatu ketepatan tekanan diferensial transducer untuk pengukuran laju alir pernapasan. Dalam pengukuran kapasitas paru dikenal beberapa istilah, seperti : 1. Vital Capasity (VC) / Kapasitas Vital

adalah volume udara maksimum yang dapat dikeluarkan seseorang setelah mengisi paruparunya secara maksimum. 2. Forced Vital Capasity (FVC) adalah volume udara maksimum yang dapat dimasukkan dalam paru-paru, dan secara paksa serta cepat mengeluarkannya semaksimum mungkin. 3. Forced Expiratory Volume in First Second (FEV1) adalah volume udara yang dikeluarkan pada detile pertama dimulai dengan hembusan nafas kuat pada pernafasan penuh. Pengukuran Kapasitas paru, disebut : 1. Normal, bila : a. FVC 70% dan FEV1 80% b. Rasio FEV1 / FVC : 75-80% 2. Tidak normal, bila : a. Obstructive b. Restructive : FVC < 70% c. Combination : FVC < 70% dan FEV1 < 80% Sebagian daripada volume statis daripada paru-paru dapat diukur dengan spirometer yaitu: tidal volume dan kapasitas vital (vital capacity). Tidal volume adalah volume pernapasan normal yaitu dengan menghembuskan udara ekspirasi biasa ke dalam spirometer setelah inspirasi biasa. Kapasitas vital adalah volume ekspirasi maksimal setelah inspirasi maksimal (Siregar, 2002). Walaupun ekspirasi sudah maksimal, tetapi masih tetap ada udara yang tersisa dalam paru-paru disebut volume residu (residual volume). Volume udara dalam paru-paru setelah ekspirasi normal disebut kapasitas residu fungsional (Functional Residual capacity). Kedua volume paru-paru yang terakhir ini tidak dapat diukur dengan spirometer. Volume ini dapat diukur dengan menggunakan tekhnik pengenceran gas (gas dilution) atau dengan Pletismograf. Kapasitas paru-paru (Total Lung Capacity) adalah kapasitas vital + volume residu (Siregar, 2002). Respirasi abnormal ini mempunyai karekteristik yaitu kekuatan kecepatan ekspirasi yang lambat (FEV1/FVC lambat). Ini terjadi pada orang yang asma atatu empisemia, peningkatan voume residu dan residu fungsional kapasitas dan penurunan kapasitas vital adalah hal yang paling mudah dilihat. Pada seseorang yang mengalami penyakit ini volume parunya sama dengan orang normal. Contohnya: asma, bronchitis, dan emfisema (Odhemila, 2008). Penyakit restriktif ditandai dengan kondisi lebih nyata oleh reduksi pada kapasitas total paru. Ventilasi restriktif mungkin disebabkan kerusakan pulmonary, fibrosi pulmo (kaku abnormal, non komplikasi paru), atau karena nonpulmo deficit, mencakup kelemahan otot : FEV1 < 80%

pernapasan, kelumpuhan, dan kelainan bentuk atau kekakuan dari dinding dada (Odhemila,2008). Pada tes pulmonari, individu yang mengalami ventilasi restriktif memiliki penurunan kapasitas total paru, penurunan residu fungsional, dan penurunan residu pulmonal. Ketika kekuatan kapasitas vital (FVC) mungkin sangat turun, kekuatan volume ekspirasinya pada waktu satu detik dibagi dengan kekuatan kapasitas vital (FEV1/FVC) biasanya normal atau meningkat dari normal yang seharusnya mengalami penurunan karena tekanan keelastisan paru menurun (Odhemila,2008).

Karena tekanan pleura drop memaksa paru menjadii nflamasi, kedalaman pernapasan pada orang yang mengalami restriktif berbda dibandingkan pada orang yang normal, dan meraka mengakhiri pernapasan dengan pernapasan dangkal dan cepat (Odhemila,2008). KAPASITAS PARU

Sering kali kita melihat orang yang memilki kecepatan pernapasan dan kedalaman pernapaan berbeda antara yang satu dengan lainnya. Alat untuk mengukur kapasitas paru menggunakan alat Spirometer. Spirometer adalah suatu piranti untuk mengukur volume udara yang diilhami dan yang berakhir oleh paru-paru. Ini merupakan suatu ketepatan tekanan diferensial transducer untuk pengukuran laju alir pernapasan. Dalam pengukuran kapasitas paru dikenal beberapa istilah, seperti : 1. Vital Capasity (VC) / Kapasitas Vital adalah volume udara maksimum yang dapat dikeluarkan seseorang setelah mengisi paruparunya secara maksimum. 2. Forced Vital Capasity (FVC) adalah volume udara maksimum yang dapat dimasukkan dalam paru-paru, dan secara paksa serta cepat mengeluarkannya semaksimum mungkin. 3. Forced Expiratory Volume in First Second (FEV1) adalah volume udara yang dikeluarkan pada detile pertama dimulai dengan hembusan nafas kuat pada pernafasan penuh. Pengukuran Kapasitas paru, disebut : 1. Normal, bila : a. FVC 70% dan FEV1 80% b. Rasio FEV1 / FVC : 75-80% 2. Tidak normal, bila : a. Obstructive b. Restructive : FVC < 70% c. Combination : FVC < 70% dan FEV1 < 80% : FEV1 < 80%

Sebagian daripada volume statis daripada paru-paru dapat diukur dengan spirometer yaitu: tidal volume dan kapasitas vital (vital capacity). Tidal volume adalah volume pernapasan normal yaitu dengan menghembuskan udara ekspirasi biasa ke dalam spirometer setelah inspirasi biasa. Kapasitas vital adalah volume ekspirasi maksimal setelah inspirasi maksimal (Siregar, 2002). Walaupun ekspirasi sudah maksimal, tetapi masih tetap ada udara yang tersisa dalam paru-paru disebut volume residu (residual volume). Volume udara dalam paru-paru setelah ekspirasi normal disebut kapasitas residu fungsional (Functional Residual capacity). Kedua volume paru-paru yang terakhir ini tidak dapat diukur dengan spirometer. Volume ini dapat diukur dengan menggunakan tekhnik pengenceran gas (gas dilution) atau dengan Pletismograf. Kapasitas paru-paru (Total Lung Capacity) adalah kapasitas vital + volume residu (Siregar, 2002). Respirasi abnormal ini mempunyai karekteristik yaitu kekuatan kecepatan ekspirasi yang lambat (FEV1/FVC lambat). Ini terjadi pada orang yang asma atatu empisemia, peningkatan voume residu dan residu fungsional kapasitas dan penurunan kapasitas vital adalah hal yang paling mudah dilihat. Pada seseorang yang mengalami penyakit ini volume parunya sama dengan orang normal. Contohnya: asma, bronchitis, dan emfisema (Odhemila, 2008). Penyakit restriktif ditandai dengan kondisi lebih nyata oleh reduksi pada kapasitas total paru. Ventilasi restriktif mungkin disebabkan kerusakan pulmonary, fibrosi pulmo (kaku abnormal, non komplikasi paru), atau karena nonpulmo deficit, mencakup kelemahan otot pernapasan, kelumpuhan, dan kelainan bentuk atau kekakuan dari dinding dada (Odhemila,2008). Pada tes pulmonari, individu yang mengalami ventilasi restriktif memiliki penurunan kapasitas total paru, penurunan residu fungsional, dan penurunan residu pulmonal. Ketika kekuatan kapasitas vital (FVC) mungkin sangat turun, kekuatan volume ekspirasinya pada waktu satu detik dibagi dengan kekuatan kapasitas vital (FEV1/FVC) biasanya normal atau meningkat dari normal yang seharusnya mengalami penurunan karena tekanan keelastisan paru menurun (Odhemila,2008).

Karena tekanan pleura drop memaksa paru menjadii nflamasi, kedalaman pernapasan pada orang yang mengalami restriktif berbda dibandingkan pada orang yang normal, dan meraka mengakhiri pernapasan dengan pernapasan dangkal dan cepat (Odhemila,2008). http://catatan-siwulan.blogspot.com/2012/01/cara-pengukuran-kapasitas-paru_08.html

http://blogkesehatan.net/metabolisme-energi/

Anda mungkin juga menyukai