Anda di halaman 1dari 24

KEPERAWATAN DASAR KARDIOVASKULER II (KDKV II) PENYAKIT JANTUNG KORONER

diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Dasar Kardiovaskuler II

Oleh Ketua : Ahmad Badru Zaman

Sekertaris : Fiqi Ramadhan Nurjannah Bendahara: Arie Dhini Saputri Anggota Siti Maemunah Laela Anggraini M.Rizalillah M.Ali Aisyah Ulfa Novema Panji Aditya (tidak kerja)

Prodi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Tangerang

Kata Pengantar
Assalamualaikum Wr.Wb. Makalah ini berjudul Penyakit Jantung koroner ini dapat kami selesaikan dengan baik, sematamata atas rahmat Allah SWT. Oleh sebab itu kami mengucapkan puji syukur kepada-nya. Makalah ini di buat untuk melengkapi kegiatan mata kuliah Keperawatan Dasar Kardiovaskuler II (KDKV II) di Prodi S1 Keperawatan, Fakultas Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Tangerang. Penulisan Makalahini di mungkinkan adanya dukungan, bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu , kami mengucapkan terima kasih kepada : orang tua, ketua Prodi S1 Keperawatan, dan ibu dosen Keperawatan Dasar Kardiovaskuler II Saat menyusun makalah ini kami telah berupaya melakukan dengan sebaik-baiknya. Namun kami menyadari adanya kekurangan atau kesalahan yang tidak disengaja. Oleh karena itu kritik dan saran akan kami terima dengan rasa syukur. Semoga Makalah ini bermanfaat bagi pembaca. WasalamuAlaikum, Wr. Wb.

Tangerang, 07 Oktober 2013 Penyusun,

Daftar Isi
Halaman Judul .. 1 KataPengantar 2 Daftar Isi ....... 3 BAB 1 PENDAHULUAN.. 4 1.1 LatarBelakang..4 1.2 Perumusan Masalah4 1.3 Tujuan Penulisan 5 1.4 Manfaat...5 BAB II TINJAUAN KASUS6 2.1 Scanerio....6 2.2 Keyword...6 2.3 Pertanyaan6 BAB III PEMBAHASAN .7 3.1 Skema .7 3.2 Operasi coroner.. .8 3.2.1 Definisi Operasi Koroner...8 3.2.2 Kenapa Bisa Dilakukan Operasi Koroner..8 3.2.3 Setelah Operasi Bypass Koroner Apakah Bisa Seperti Sebelum Operasi.8 3.2.4 Resiko Apa Saja Pada Operasi Koroner9 3.3Apa Hubungannya Hipertensi dan DM pada Penyakit Jantung Koroner . 9 3.2.1 Hipertensi pada Penyakit Jantung Koroner...9 3.2.2 Diabetes Mellitus pada Penyakit Jantung Koroner....9 3.4 Pra,Intra Operasi Koroner. . 10 3.3.1 Bagaimana Persiapan Pra Operasi Koroner...10 3.3.2 Bagaimana Persiapan Intra Operasi Koroner....11 3.4 Bagaimana Tindakan Keperawatan dengan Pasien Ansietas........ 14 3.4.1 Tindakan Keperawatan dengan Pasien Ansietas Ringan...14 3.4.2 Tindakan Keperawatan dengan Pasien Ansietas Berat..14 BAB IV TINJAUAN TEORI.....15 4.1 Definisi Penyakit Jantung Koroner ..15 4.2 Etiologi Penyakit Jantung Koroner 15 4.3 Patofisiologi Penyakit Jantung Koroner.15 4.4 Manifestasi Klinik Penyakit Jantung Koroner16 4.5 Komplikasi Penyakit Jantung Koroner17 4.6 Pentalaksanaan Penyakit Jantung Koroner..17 4.7 Asuhan Keperawatan...19 BAB V PENUTUP ...23 5.2 Kesimpulan ... 23 5.3 Saran .. 23 DAFTAR PUSTAKA . 24

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Jantung merupakan salah satu organ vital dalam tubuh manusia yang terletak dalam mediastinum di antara kedua paru-paru. Dengan fungsinya untuk memompa darah ke seluruh bagian tubuh, jantung merupakan salah satu organ yang tidak pernah beristirahat. Hal ini dikarenakan, jantung mempunyai suatu sistem pembentukan rangsang tersendiri. Dalam keadaan fisiologis, pembentukan rangsang irama denyut jantung berawal dari nodus sinoatrial (nodus SA) dan menyebar ke serat otot lainnya sehingga menimbulkan kontraksi jantung. Menurut American heart asosiation, pada tahun 2004hampir seribu kematian di Amerika berkaitan dengan kardiovaskuler , sebanyak 35% dari semua kematian di Amerika Serikat tahun tersebut. Di Amerika Serikat dan Negara-negara Eropa, sepertiga hingga setengah kematian disebabkan oleh penyakit jantung dan 70% diantaranya disebabkan oleh jantung coroner. Di Indonesia, dari survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1993 terlihat kematian akibat penyakit kardiovaskuler mencapai 19,8% pada tahun 1998 meningkat menjadi 24,4%. Penyakit jantung coroner merupakan penyakit progresif akibat plak aterosklerosis yang mengalami erosi, fisur, atau rupture. Penyakit ini muncul dengan berbagai tampilan klinis dari yang asimtomatis, angina stabil maupun sindroma coroner akut sampai kematian jantung mendadak. Proses aterosklerosis merupakan dasar mekanisme utama timbulnya jantung coroner. Proses ini berlangsung menahun, progresif, secara diam-diam sehingga sulit untuk diketahui sebelum timbulnya gejala klinis. Aterosklerosis merupakan suatu proses penyakit yang bersifat multifaktorial karena banyak faktor-faktor yang ikut berperan dalam patogenesisnya yang disebut faktor resiko.
1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan,maka dalam penulisan ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Apa itu penyakit jantung koroner? 4

2. Bagaimana etiologi, patofisiologi dan manifestasi klinis dari penyakit jantung koroner? 3. Apa hubungannya Hipertensi dan DM pada PJK ? 4. Bagaimana pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan medis dan komplikasi dari penyakit jantung koroner? 5. Apa itu operasi coroner ? 6. Resiko operasi coroner ? 7. Bagaimana persiapan Pra dan intra operasi ? 8. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit jantung koroner? 9. Bagaimana peran perawat dalam menghadapi klien ansietas pada pjk? 1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui cara memberikan dan membuat asuhan keperawatan pada pasien penyakit janutng koroner dengan baik dan benar. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui definisi dari penyakit jantung coroner 2. Mengetahui etiologi dari penyakit jantung coroner 3. Mengetahui patofisiologi dari penyakit jantung coroner 4. Mengetahui manifestasi klinis dari penyakit jantung coroner 5. Mengetahui pemeriksaan penunjang penyakit jantung coroner 6. Mengetahui defisini operasi coroner 7. Mengatahui persiapan pra-intra operasi koroner 8. Mengetahui penatalaksanaan medis penyakit jantung koroner. 9. Mengetahui komplikasi dari penyakit jantung coroner dan operasi koroner

10. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit jantung koroner 1.4 Manfaat 1.4.1 Manfaat Teoritis 1. Bagi kelompok, makalah ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendalami pemahaman tentang konsep penyakit yang disebabkan karena penyakit jantung coroner. 2. Bagi pembaca, khususnya mahasiswa keperawatan dapat mengerti tentang konsep penyakit yang disebabkan karena penyakit jantung coroner yang sesuai dengan standart kesehatan demi meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan dapat dijadikan sebagai referensi untuk penelitian yang lebih lanjut. 1.4.2 Manfaat Praktis Mahasiswa keperawatan dapat memberikan asuhan keperawatan kepada pasien PJK dengan baik. 5

BAB II TINJAUAN KASUS

2.1 Scanerio Tn, A (65 thn) mempunyai riwayat penyakit hipertensi dan DM. berbadan gemuk. Klien dijadwalkan operasi coroner besok. Saat ini klien merasa cemas mengenai apa yang akan dipersiapkan terhadap dirinya. TD 150/90 mmHg, HR 90X/ menit, RR 24x/menit. Klien juga bertanya kepada perawat apa yang akan dialami saat operasi dan resiko apa yang dialami? 2.2 Keyword - Operasi coroner - Pra, intra operasi coroner 2.3 Pertanyaan 1. Operasi coroner - Apa pengertian dari operasi coroner? - Kenapa bisa dilakukan operasi coroner? - Resiko apa saja yang terjadi pada operasi coroner? 2. Apa hubungannya hipertensi dan DM dengan PJK? 3. Pra, intra, post operasi coroner - Bagaimana persiapan pra operasi coroner? - Bagaimana persiapan intra operasi coroner? 4. Bagaimana peran perawat dengan pasien ansietas (sesuai kasus)?

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Skema Hipertensi tingginya gradien tekanan yang harus dilawan oleh ventrikel kiri saat memompa darah . tekanan tinggi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan suplai kebutuhan oksigen jantung meningkat Diabetes menyebabkan factor risiko terhadap PJK yaitu bila kadar glucose darah naik terutama bila berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga gula darah (glukoosa) tersebut dapat menjadi pekat, dan ini mendorong terjadinya pengendapan atherosclerosis pada arteri koroner. Obesitas

PJK adalah akibat penyempitan/penyumbatan di dinding nadi koroner karena adanya endapan lemak dan kolesterol sehingga mengakibatkan suplaian darah ke jantung menjadi terganggu

Faktor penyebab Hipertensi Diabetes Obesitas Merokok Stress Kurang istirahat Malas gerak Riwayat Penyakit jantung keluarga Gejala PJK Nyeri di dada keringat dingin dan timbulnya rasa mual. Sesak napas Klaudiksio intermiten

Komplikasi Angina Henti jantung Komplikasi paru Perdarahan Gagal hati Komplikasi neurologis

Indikasi Operasi - Operasi bypass (CABG)

3.2 Operasi coroner 3.2.1 Apa pengertian dari operasi coroner? Coronary Artery Bypass Graft (CABG) merupakan salah satu penanganan intervensi dari penyakit Jantung Koroner (PJK), dengan cara membuat saluran baru melewati arteri koroner yang mengalami penyempitan atau penyumbatan (Feriyawati, 2005). Coronary artery bypass grafting (CABG) merupakan tandur alih pintas arteri koroner ( Graf, H. Huon. 2005. Lecture Notes Kardiologi. Jakarta: Erlangga ). Coronary Artery Bypass Grafting, atau Operasi CABG, adalah teknik yang menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh yang lain untuk memintas (melakukan bypass) arteri yang menghalangi pemasokan darah ke jantung. CABG bertujuan untuk membuat rute dan saluran baru pada arteri yang terbendung sehingga oksigen dan nutrisi dapat mencapai otot jantung. Yang di maksud pra bedah adalah periode sejak di ambilnya keputusan bedah sampai dengan pengiriman pasieen ke ruang bedah Operasi bypass koroner yaitu membuat pembuluh darah baru yang diambil dari kaki atau arteri mammaria interna atau arteri radialis disambungkan dari aorta ke pembuluh darah koroner yang normal (melewati bagian yang sempit). Resiko operasi bypass ini tergantung keadaan sebelum operasi operasi seperti umur, gangguan pompa jantung (Ejection Fraction) dan kondisi jantung lainnya 3.2.2 Kenapa bisa dilakukan operasi coroner? Indikasi operasi CABG adalah pada angina klas III atau IV atau left main stenosis.

Orang-orang yang mengalami serangan jantung bisa saja masuk indikasi operasi bila masih ada angina pektoris setelah makan obat-obat jantung atau ada komplikasi lain seperti gangguan katub mitral dan Ruptur Septum Ventrikel (VSD).

3.2.3

Setelah operasi bypass coroner apakah bisa seperti sebelum operasi ? Untuk itu harus dilakukan kontrol terhadap faktor resiko seperti : Tidak boleh merokok. Hipertensi dikontrol DM dikontrol Olah raga / aktifitas Diet rendah cholestrol dan banyak makan sayuran dan buah-buahan Harus melakukan relaxasi : Mengembangkan hobi / kesenangan dan musik

Program rehabilitasi

pasca operasi jantung dapat menanamkan kepercayaan

diri

kembali sehingga bisa beraktifitas

seperti sedia kala. Umumnya bekerja kembali

setelah operasi jantung lebih kurang 2 bulan. Olah raga setelah 3 bulan. Stir mobil setelah 2 bulan dan lain-lain. 3.2.4 Resiko apa saja yang terjadi pada operasi coroner? a) Pada Pre Operasi 1. Angina (atau yang sesuai dengan angina) 2. Kecemasan berat yang memerlukan obat antiolitik (pengurang kecemasan) 3. Henti jantung b) Pada Post Operasi Komplikasi jantung, yaitu gagal jantung kongesif, infark miokardium, henti jantung, disritmia. Komplikasi paru, yaitu edema paru, emboli paru, efusi pleura, pneumo atau hematotoraks, gagal napas, sindrom distress napas dewasa. Perdarahan Komplikasi neurologis, yaitu cedera serebrovaskuler, emboli udara. Nyeri Gagal ginjal, akut atau kronis Ketidakseimbangan elektrolit Gagal hati Koagulopati Infeksi, sepsis

3.3 Apa hubungannya hipertensi dan DM dengan PJK? 3.3.1 Hipertensi dengan PJK Penyakit Jantung koroner terjadi karena berbAgai faktor, diantaranya adalah karena penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi. Hipertensi menyebabkan otot jantung bekerja sangat keras untuk memompa darah keseluruh tubuh, sehingga mengakibatkan jantung mengalami kecapekan atau istilahnya gangguan. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus tanpa ada penaganan khusus maka otot-otot jantung akan rusak dan jantung tidak bisa berfungsi dengan baik, sehingga mengakibatkan penyakit jantung khusunya penyakit jantung coroner 3.3.2 Diabetes dengan PJK Diabetes menyebabkan factor risiko terhadap PJK yaitu bila kadar glucose darah naik terutama bila berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga gula darah (glukoosa) tersebut dapat menjadi pekat, dan ini mendorong terjadinya pengendapan atherosclerosis pada arteri koroner. Pasien dengan diabetes cenderung mengalami gangguan jantung pada usia yang masih muda. Diabetes yang tidak terkontrol dengan kadar glukosa yang tinggi dalam darah cenderung menaikan kadar kolesterol.

3.4 Pra-Intra Operasi coroner 3.4.1 Bagaimana persiapan pra operasi coroner? Persiapan Pra Bedah Pasien kooperatif Persiapan mental dan fisik Tidak terjadi komplikasi Hasil yang didapat merupakan perbandingan antara pra & pasca bedah Persiapan Pra Bedah Umum Pengkajian : Wawancara pasien / keluarga Riwayat perawatan Pengkajian fisik Pengkajian keseimbangan cairan & elektrolit Pengkajian sistem tubuh Hal-hal Perlu di Intervensi Pada Pra Bedah 1. Orientasi ruangan 2. Memberikan penjelasan mengenai prosedur pra bedah Informasi tentang pembedahan & anasthesi Prosedur tata tertib pra bedah Pencegahan komplikasi 3. Pengkajian data dasar 4. Tes diagnostik 5. Propilaxis pra bedah 6. Mengecek persiapan pasien yang lain Faktor Resiko Pembedahan yang Perlu di kaji & Intervensinya 1. Kegemukan 2. Usia lanjut / anak 3. Dehidrasi / malnutrisi 4. Adanya penyakit lain DM Sistem pernafasan Sistem ginjal / hati Riwayat Obat obatan yang di dapat Diuretik depresi pernafasan dan gangguan elektrolit Antidepresan, Antikonvulsan, Antidisritmia efek hipotensi akibat anasthesi Antibiotik tertentu dpt menurunkan impul saraf, paralisis respirastorik Antikuagulansia meningkatkan perdarahan Antihipertensi syok krn tensi turun Steroid menurunkan respon thd stres Persiapan Sehari Sebelum Pembedahan Dewasa 1. Persiapan administrasi 2. Persiapan fisik : - Kulit - Gastrointestinal puasa 8 10 jam - Kenyamanan/istirahat obat penenang 3. Laboratorium lengkap Darah dari PMI - PRC : 1000 cc (15 20 cc/ kg BB)

10

4.

5.

6.

7.

8.

- FFP : 1000 cc (15 25 cc/ kg BB) - Trombosit : 5 Unit Pemeriksaan penunjang : - co Gigi - THT, - Paru paru Hasil pemeriksaan, - Kateterisasi (PTCA), - Echocardiograpi, - Treadmill, - Foto Thorax, dll Persiapan Mental Menyiapkan pasien secara mental siap menjalani operasi, menghilangkan kegelisahan menghadapi operasi, yaitu melalui cara wawancara dengan dokter bedah dan kardialog tentang indikasi operasi, keuntungan operasi, komplikasi operasi dan resiko operasi. Diterangkan juga hal-hal yang akan dialami atau akan dikerjakan dikamar operasi dan ICU maupun alat yang akan dipasang, juga termasuk puasa, rasa sakit pada daerah operasi dan kapan drain dicabut. Obat - obatan - Semua obat-obatan antikoagulan harus dihentikan 1 minggu sebelum operasi ( minimal 3 hari sebelum operasi ). - Aspirin dan obat sejenis dihentikan 1 minggu sebelum operasi. - Digitalis dan diuretic dihentikan 1 hari sebelum operasi. - Antidiabetik diteruskan dan bila perlu dikonversi dengan insulin injeksi selama operasi. - Obat-obatan jantung diteruskan sampai hari operasi. - Antibiotika hanya diberikan untuk propilaksis dan diberikan waktu induksi anestesi dikamar operasi, hanya diperlukan test kulit sebelum operasi untuk mengetahui apakah ada alergi atau tidak. Persiapan Hari Operasi - Observasi / monitor vital sign - Cek GIT Puasa & pengosongan - Mandi dengan sabun bethadin - Ganti gaun bersih - EKG lengkap - Cek obat obatan yg sudah dihentikan & diminum sampai hr op - Cek apakah ada perhiasan, gigi palsu, kaca mata yg masih terpakai - Kelengkapan pengisian dokumentasi keperawatan - Menyediakan waktu berdoa - Siap ke kamar operasi Bagaimana Persiapan Intra Operasi Coroner?

3.4.2

Setelah pesien diputuskan opersi, maka persiapan harus dilakukan, yaitu persiapan fisik maupun persiapan mental. Untuk persiapan fisik, hal-hal yang harus diperhatikan ialah persiapan kulit,gastrointestinal,persiapan untuk anastesi, kenyamanan dan istirahat pasien, serta obat-obatan yang digunakan. Sedangkan persiapan mental,sangat tergantung pada dukungan dari keluarga. Tugas perawat bedah disini adalah dapat memberikan informasi yang jelas pada pasien. Meliputi anatomi dasar dan kondisi penyakit pasien.prosedur operasi sebatas

11

kopetensi yang diberikan, pemeriksaan diagnostic penuniang, peraturan-peraturan dari tim bedah, keadaan di ruang operasi, jenis syarat operasi dan ruang tunggu bagi keluarga pasien. Hal ini dilakukan pada saat perawat bedah melakukan kuniungan sebelum pasien dioperasi. PENGKAJIAN PASIEN PADA SAAT DIKAMAR OPERASI Observasi tingkat kesadaran pasien Observasi emosi pasien Observasi aktivitas Cek obat yang digunakan Observasi pernafasan pasien Riwayat penyakit, keluarga, kebiasaan hidup Cek obat yang digunakan Observasi tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu Observasi kulit: warna, turgor, suhu, keutuhan

Pemeriksaan diagnose : EKG: untuk mengetahui disaritmia Chest x-ray Hasil laboratarium: darah lengkap, koagulasi, elektrolit, urium, kreatinan, BUN, HbsAg Kateterisasi Echo

Tindakan perawatan saat menerima pasien di ruang persiapan Melakukan serah terima dengan perawat ruangan Memperkenalkan diri dan anggota tim kepada pasien Mengecek identitas pasien dengan memanggil namanya Memberikan surport kepada pasien Informasikan kepada pasien tentang tindakan yang akan dilakukan seperti ganti baju, pemasangan infuse, kanulasi arteri dan pemasangan lead EKG - Mendampingi pasien saat memberikan premedikasi - Menciptakan situasi yang tenang - Yakinkan pasien tidak menggunakan gigi palsu, perhiasan, kontak lensa dan alat bantu dengar - Membawa pasien keruang operasi Perawatan intra operasi - Airway (jalan nafas) Persiapkan alat untuk mempertahankan Airway antara lain: guedel, laringoskop, ETT berbagai ukuran, system hisab lender - Breathing (pernafasan) persiapan alat untuk terapi O2 antara lain: kanula, sungup, bagging dan ventilator - Circulation (sirkulasi)

12

Pemasangan EKG, sering digunakan lead II untuk memantau dinding miokard bagian inferior dan V5 untuk antero lateral Kanulasi arteri dipasang untuk memantau tekanan arteri dan analisa gas darah Pemasangan CVP untuk pemberian darah autologus dan infuse kontinu serta obatobatan yang perlu diberikan Temperature: sering digunakan nasofaringeal ataurektal untuk mengevaluasi status pasien dari cooling dan rewarning, tingkat proteksi miokard, adekutnya perfusi perifer dan hipertermi malignaPada beberapa sentra sering dipasang elektro encephalogram untuk memantau kejadian akut seperti eskemia/injuri ota Pemberian obat-obatan: untuk anstesi dengan tujuan tidak sadar, amnesia, analgesia, relaksasi otak dan menurunkan respons stress, sedang obat lain seperti inotropik, kronotropik, antiaritmia, diuretic, anti hipertensi, anti kuagulan dan kuagulan juga perlu DefibrillatorAlat ini disiapkan untuk mengantisipasi aritmia yang mengancam jiwa Deathermi Dalam melakukan pemasangan ground pad harus disesuaikan dengan ukuran untuk mencegahpanas yang terlalu tinggi pada tempat pemasangan Posisi pasien dimeja operasi Mengatur pasien tergantung dari prosedur operasi yang akan dilakukan. Hal yang perlu diperhatikan: posisi harus fisiologis, system muskulosketal harus terlindung, lokasi operasi mudah terjangkau, mudah dikaji oleh anastesi,beri perlindungan pada bagian yang tertekan (kepala, sacrum, scapula, siku, dan tumit) Persiapan lain: TEE (Trans Esophogeal Echocardiography)Untuk melihat pergerakan jantung, fungsi katup, fungsi miokard, aliran pirau intrardiak, udara diruang jantung,serta efektif tidaknya venting. Kemudian perlu diantisipasi untuk persiapan pemasangan IABP (Intra Aortic Ballon Pump).

Menjaga tindakan asepsis Kondisi asepsis dicapai dengan: cuci tangan, melakukan proparasi kulit dan drapping. Menggunakan gaun dan sarung tangan yang steril. Prinsip prinsip Operatif 1. Prinsip kesehatan dan baju operasi Kesehatan yang baik sangat penting untuk setiap orang dalam ruang operasi. Sehingga keadaan pilek, sakit tenggorok, infeksi kulit, merupakan sumber organisme patogenik yang harus dilaporkan; Hanya baju ruang operasi yang bersih dan dibenarkan oleh institusi yang diperbolehkan, tidak dapat dipakai di luar ruang operasi; Masker dipakai sepanjang waktu di ruang operasi yang meminimalkan kontaminasi melalui udara, menutup seluruh hidung dan mulut, tetapi tidak mengganggu pernafasan, bicara atau penglihatan, menyatu dan nyaman; Tutup kepala secara menyeluruh menutup rambut (kepala dan garis leher termasuk cambang) sehingga helai rambut, jepitan rambut, penjepit, ketombe dan debu tidak jatuh ke dalam daerah steril;

13

Sepatu sebaiknya nyaman dan menyangga. Bakiak, sepatu tenis, sandal dan bot tidak diperbolehkan sebab tidak aman dan sulit dibersihkan. Sepatu dibungkus dengan penutup sepatu sekali pakai atau kanvas; Bahaya kesehatan dikontrol dengan pemantauan internal dari ruang operasi meliputi analisis sampel dari sapuan terhadap agens infeksius dan toksik. Selain itu, kebijakan dan prosedur keselamatan untuk laser dan radiasi di ruang operasi telah ditegakkan. 2. Prinsip Asepsis Perioperatif Pencegahan komplikasi pasien, termasuk melindungi pasien dari operasi; Ruang operasi terletak di bagian rumah sakit yang bebas dari bahay seperti partikel, debu, polutan lain yang mengkontaminasi, radiasi, dan kebisingan; Bahaya listrik, alat konduktifitas, pintu keluar darurat yang bebas hambatan, dan gudang peralatan dan gas-gas anesthesia diperiksa secara periodik.
3.5 Bagaimana tindakan perawat dengan pasien ansietas (sesuai kasus)? 3.5.1 Tindakan keperawatan dengan ansietas ringan. 1. Bina hubungan saling percaya - Dengar dan hangat dengan responsive - Beri waktu kepada klien untuk berespon - Beri dukungan untuk ekspresi diri 2. Perawat menyadari dan mengenal ansietasnya sendiri - Kenali perasaan sendiri - Kenali sikap dan prilaku perawat yang berdampak negative pada klien - Bersama klien menggali perilaku dan respon sehingga dapat belajar dan berkembang 3. Bantu klien mengenal ansietasnya - Bantu klien mengekspresikan perasaan - Bantu klien menghubungkan perilaku dengan perasaan klien - Memvalidasi kesimpulan dan asumsi - Pertanyaan terbuka 4. Memperluas kesadaran berkembangnya ansietas - Bantu klien menghubungkan situasi dan interaksi yang menimbulkan ansietas - Bantu klien meninjau kembali penilaian klien terhadap stressor yang dirasa mengancam dan menimbulkan konflik - Mengaitkan pengalaman saat ini dengan pengalaman masa lalu 5. Bantu klien mempelajari koping baru - Menggali pengalaman klien terhadap ansietas sebelumnya - Tunjukkan akibat negative koping yang saat ini - Dorong klien untuk mencoba koping adaptif yang lalu - Memusatkan tanggung jawab perubahan pada klien - Terima peran aktif klien. Mengaitkan hubungan sebab akibat keadaan ansietasnya - Bantu klien menyusun kembali tujuan modifikasi prilaku - Anjurkan penggunaan koping yang baru 3.5.2 Tindakan Keperawatan dengn ansietas berat 1. Bina hubungan saling percaya dan terbuka - Dengarkan keluhan - Dukung untuk menceritakan perasaan

14

2.

3.

4.

5.

- Jawab pertanyaan secara logis - Menerima tanpa pamrih - Hargai pribadi klien Sadari dan control perasaaan diri perawat - Bersikap terbuka sesuai perasaan - Terima perasaan positive maupun negative termasuk perkembangan ansietas - Menggali penyebab ansietas - Pahami perasaan diri secara terapeutik Yakinkan klien tentang manfaat mekanisme koping yang bersikap melindungi dan tidak memfokuskan diri pada prilaku maladaptive - Terima dan dukung klien - Tidak menentang klien - Nyatakan perawat bisa memahami tetapi tidak memfokuskan rasa tersebut - Beri umpan balik terhadap pprilaku - Stressor - Dampak stressor dan sumber koping - Dukung ide kesehatan fisik berhubungan dengan kesehatan mental - Batasi prilaku maladaptive dengan cara suportif Identifikasi dan mencoba menurunkan situasi yang menimbulkan ansietas - Sikap tenang - Lingkungan tenang - Batasi kontak dengan klien lain - Identifikasi dan modifikasi hal yang menimbulkan cemas - Terapi fisik : mandi air hangat, pijat Anjurkan untuk melakukan aktifitas diluar yang menarik - Share aktifitas yang sering dilakukan - Latihan fisik - Buat rencana harian - Libatkan keluarga dan support system

15

BAB 3 TINJAUAN TEORI 4.1 PENGERTIAN Jantung coroner adalah gangguan yang terjadi pada jantung akibat suplai darah kejantung yang melalui arteri coroner terhambat. Kondisi ini terjadi karena arteri coroner (pembuluh darah dijantung yang berfungsi yang menyuplai makanan dan oksigen bagi sel-sel jantung) tersumbat atau mengalami pembyempitan karena endapan lemak yang menutup didinding arteri (disebut juga dengan plak) proses penumpukkan lemak dipembuluh arteri ini disebut arterosklerosis dan bisa terjadi pembuluh arteri lainnya, tidak hanya pada arteri coroner.

4.2 ETIOLOGI Penyakit Jantung Koroner pada mulanya disebabkan oleh penumpukan lemak pada dinding dalam pembuluh darah jantung (pembuluh koroner), dan hal ini lama kelamaan diikuti oleh berbagai proses seperti penimbunan jarinrangan ikat, perkapuran, pembekuan darah, yang kesemuanya akan mempersempit atau menyumbat pembuluh darah tersebut. Hal ini akan mengakibatkan otot jantung di daerah tersebut mengalami kekurangan aliran darah dan dapat menimbulkan berbagai akibat yang cukup serius, dari Angina Pectoris (nyeri dada) sampai Infark Jantung, yang dalam masyarakat di kenal dengan serangan jantung yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Beberapa faktor resiko terpenting penyakit jantung koroner : 1. Kadar kolesterol total dan LDL tinggi. 2. Kadar kolesterol ADL rendah 3. Hipertensi 4. Merokok 5. Diabetes mellitus 6. Kegemukan 7. Riwayat penyakit jantung dalam keluarga 8. Stress

16

4.3 PATOFISIOLOGI

4.4 MANIFESTASI KLINIK a) Sesak nafas mulai dengan nafas yang terasa pendek sewaktu melakukan aktifitas yang cukup berat yang biasanya tak menimbulkan keluhan. Makin lama sesak makin bertambah, sekalipun melakukan aktifitas ringan b) Klaudikasio intermiten, suatu perasaan nyeri dan keram di ekstremitas bawah, terjadi selama atau setelah olahraga peka terhadap rasa dingin. c) Perubahan warna kulit d) Nyeri dada kiri seperti di tusuk-tusuk atau di iris-iris menjalar ke lengan kiri e) Nyeri dada serupa dengan angina tetapi lebih intensif dan lama serta tidak sepenuhnya hilang dengan istirahat ataupun pemberian nitrogliserin f) Dada rasa tertekan seperti di tindih benda berat, rasa tercekik g) Rasa nyeri kadang di daerah epigastrium dan bisa menjalar ke punggung h) Rasa nyeri hebat sekali sehingga penderita gelisah, takut, berkeringat dingin dan lemas.

17

4.5 KOMPLIKASI Pada Pre Operasi 1. Angina (atau yang sesuai dengan angina) 2. Kecemasan berat yang memerlukan obat antiolitik (pengurang kecemasan) 3. Henti jantung

4.6 PENATALAKSANAAN a) Pre Operasi Tujuan utama mencakup: 1. Pengurangan ketakutan 2. Mempelajari mengenai prosedur pembedahan 3. Tidak adanya komplikasi Persiapan penderita Pre Operasi 1.Persiapan Mental Menyiapkan pasien secara mental siap menjalani operasi, menghilangkan kegelisahan menghadapi operasi, yaitu melalui cara wawancara dengan dokter bedah dan kardialog tentang indikasi operasi, keuntungan operasi, komplikasi operasi dan resiko operasi. Diterangkan juga hal-hal yang akan dialami atau akan dikerjakan dikamar operasi dan ICU maupun alat yang akan dipasang, juga termasuk puasa, rasa sakit pada daerah operasi dan kapan drain dicabut. 2.Persiapan Medikal a. Obat-obatan Semua obat-obatan antikoagulan harus dihentikan 1 minggu sebelum operasi ( minimal 3 hari sebelum operasi ). Aspirin dan obat sejenis dihentikan 1 minggu sebelum operasi. Digitalis dan diuretic dihentikan 1 hari sebelum operasi. Antidiabetik diteruskan dan bila perlu dikonversi dengan insulin injeksi selama operasi. Obat-obatan jantung diteruskan sampai hari operasi. Antibiotika hanya diberikan untuk propilaksis dan diberikan waktu induksi anestesi dikamar operasi, hanya diperlukan test kulit sebelum operasi untuk mengetahui apakah ada alergi atau tidak.

18

b. Laboratorium 1 hari sebelum operasi antara lain : Hematologi lengkap + hemostasis LFT Ureum, creatinine Gula darah Urine lengkap Enzime CK dan CKMB untuk CABG Hb S Ag Gas darah

Bila ada kelainan hemostasis atau factor pembekuan harus diselidiki penyebabnya dan bila perlu operasi ditunda sampai ada kepastian bahwa kelainan tersebut tidak akan menyebabkan perdarahan pasca bedah. c. Persiapan Darah untuk Operasi Permintaan darah ke PMI terdiri dari: Packad cell Frash Frozen Plasma Trombosit : 750 cc : 1000 cc : 3 unit

Permintaan darah ke PMI minimal 1 hari sebelum melakukan operasi. d. Mencari Infeksi Fokal Dicari gigi berlobang atau tonsillitis kronis dan dikonsultasikan ke bagian THT dan gigi. Kelainan kulit seperti dermatitis dan furunkolosis atau bisul harus diobati terlebih dahulu dan tidak dalam masa inkubasi atau infeksi penyakit menular. e. Fisioterapi Dada Berguna untuk melatih dan meningkatkan fungsi paru selama di ICU dan untuk mengajarkan bagaimana caranya mengeluarkan sputum. Bila menderita asthma dan penyakit paru obstruktif menahun (PPOM) maka fisioterapi harus lebih intensif dikerjakan dan kadang-kadang spirometri juga membantu untuk melihat kelainan yang dihadapi. Jika diperlukan, konsultasikan ke dokter mengenai problem tersebut f. Perawatan sebelum operasi Perawatan sebelum operasi ini merupakan persiapan yang matang dari poliklinik maka perawatan sebelum operasi dapat diperpendek misalnya 1-2 hari sebelum operasi. Bertujuan untuk mempersiapkan mental pasien dan menghindari kebosanan di Rumah Sakit.

19

4.7 ASUHAN KEPERAWATN 1. PENGKAJIAN FOKUS a. DEMOGRAFI

Biodata pasien yang meliputi : 1) a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) 2) a) b) c) d) e) f) Identitas pasien Nama Umur Jenis Kelamin Agama Status perkawinan Pendidikan Pekerjaan Tanggal Masuk No. Register Diagnosa medis Penanggung jawab Nama Umur Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Hubungan dengan pasien

b. RIWAYAT KESEHATAN Pengkajian harus lengkap dan didokumentasikan dengan baik karena merupakan landasan sebagai pembanding post operasi. Melakukan anamnesa mengenai riwayat kesehatan sekarang, riwayat kesehatan lalu dan riwayat kesehatan keluarga. Serta mengamati simtomatologi pasien tentang adanya nyeri dada, hipertensi, berdebar-debar, sianosis, dispneu, nyeri tungkai, edema dan mengeksplorasi mengenai terapi obat-obatan, penggunaan obat, alkohol dan tembakau. c. 1) DATA FOKUS TERKAIT PERUBAHAN FUNGSI DAN PEMERIKSAAN FISIK Pre Operasi

Dilakukan pemeriksaan fisik lengkap yang meliputi: a) Keadaan umum dan tingkah laku b) Tanda-tanda vital.

20

c) Status nutrisi dan cairan, berat dan tinggi badan. d) Inspeksi dan palpasi jantung, menentukan titik impuls maksimal (PMI = poit of maximal impulse), pulsasi abnormal, thrill. e) Auskultasi jantung, mencatat frekuensi nadi, irama, dan kualitasnya, snap, klik, murmur, friction rub f) Tekanan vena jugularis. g) Denyut nadi perifer. h) Edema perifer.

d. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1) a) 2) a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) l) m) Pre Operasi Kateterisasi Jantung Post Operasi Hemoglobin/ hematrokit Pemeriksaan koagulasi Elektrolit GDA Nadi Oksimetri BUN/ kreatinin Amilase Glukosa Enzim jantung/ isoenzim Foto dada EKG Angiografi jantung Pemeriksaan nuklir

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN a) Pre Operasi 1) Cemas berhubungan dengan prosedur pembedahan , hasil pembedahan yang belum jelas,

dan takut akan kehilangan keadaan sehat. 2) Kurangnya pengetahuan mengenai prosedur pembedahan dan perjalanan post operasi.

21

3. FOKUS INTERVENSI DAN RASIONAL a) Pre Operasi

Dx:Cemas sehubungan dengan prosedur pembedahan , hasil pembedahan yang belum jelas, dan takut akan kehilangan keadaan sehat Intervensi Keperawatan Mengurangi Kecemasan 1. Rasional Pasien dan keluarga diberi kesempatan untuk mengekspresikan ketakutannya. 2. Diskusi ketakutan pasien

Dx:Kurangnya pengetahuan mengenai prosedur pembedahan dan perjalanan post operasi. Intervensi Keperawatan Penyuluhan pasien dan pertimbangan perawatan 1. dirumah 2. 3. Rasional Penyuluhan didasarkan pada kebutuhan yang telah dikaji Menginformasikan mengenai persiapan fisik Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang

diajukan oleh pasien

22

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Coronary Artery Bypass Graft (CABG) merupakan salah satu penanganan intervensi dari penyakit Jantung Koroner (PJK), dengan cara membuat saluran baru melewati arteri koroner yang mengalami penyempitan atau penyumbatan (Feriyawati, 2005). Jantung coroner adalah gangguan yang terjadi pada jantung akibat suplai darah kejantung yang melalui arteri coroner terhambat. Kondisi ini terjadi karena arteri coroner (pembuluh darah dijantung yang berfungsi yang menyuplai makanan dan oksigen bagi sel-sel jantung) tersumbat atau mengalami pembyempitan karena endapan lemak yang menutup didinding arteri (disebut juga dengan plak) proses penumpukkan lemak dipembuluh arteri ini disebut arterosklerosis dan bisa terjadi pembuluh arteri lainnya, tidak hanya pada arteri coroner.

5.2 Saran

Penulis menyarankan kepada pembaca agar lebih mengetahui tanda dan gejala hyperthyroid, askep hyperthyroid dan cara pencegahannya.

23

DAFTAR PUSTAKA Doenges, M.E. 2000. Rencana Asuhan keperawatan; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC Smeltzer, SC & Bare, BG. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Volume 2. Jakarta. EGC Ruhyanudin, Faqih.2007.AsuhanKeperawatan pada klien dangan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Jakarta:Salemba Medika Graf, H. Huon. 2005. Lecture Notes Kardiologi. Jakarta: Erlangga Feriyawati, L. 2005. CABG dengan Menggunakan Vena Saphenous, Arteri Mammaria Interna dan Arteri Radialis. FK USU, diperoleh dari library.usu.ac.id/ download/ fk/06001193.pdf di unduh tanggal, 12 Pebruari 2010

24