Anda di halaman 1dari 10

Nama Kelompok Anggota

: Kelompok 2 : Katiti Nursetya Rizky Herdianti Dite Yuni Rosita Iyos Rosida Winda Fitriani Eva Fauzyah Rahmah

(F1I011020) (F1I011008) (F1I011041) (F1I011004) (F1I011030) (F1I011032)

Peluang dan Tantangan Regionalisme di Asia Timur

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Paska terjadinya Perang Dunia II, Hubungan antar negara mulai mengenal konsep baru, yaitu regionalisme. Regionalisme adalah ketika beberapa negara yang ada didalam suatu kawasan yang memiliki latar belakang budaya yang sama, sejarah yang sama, dan kebiasaan yang sama, melakukan suatu kerjasama baik dalam bidang ekonomi, keamanan, maupun sosial budaya. Negara-negara terutama di Eropa mulai melakukan kerjasama dan membuat suatu kerjasama untuk mengembalikan kekuatan ekonominya, karena negara-negara tersebut berpikir bahwa ketika mereka mencoba memulihkan perekonomiannya sendiri maka akan memakan waktu yang lama bagi negara-negara tersebut untuk mengembalikan perekonomian negaranya. Untuk itu mereka membuat suatu institusi internasional. Dewasa ini, telah banyak kawasan-kawasan di dunia yang melakukan kerjasama regional. Di kawasan Eropa yaitu Uni Eropa, di Amerika Latin yaitu MERCOSUR, di Asia Tenggara yaitu ASEAN, dan masih banyak lagi.

Satu hal yang menarik adalah kawasan di Asia Timur. Asia Timur seperti kita ketahui merupakan kawasan dengan perekonomian yang kuat sehingga memperkuat dominasinya di kawasan Asia. Di dalam kawasan Asia Timur terdapat negara-negara yang memiliki sejarah peradaban yang besar dan unik. Sehingga negara-negara yang berada di kawasan tersebut tidak melakukan suatu kerjasama regional dalam tatanan klasik. Negara-negara di Asia Timur tidak melakukan kerjasama regional di kawasan Asia Timur, akan tetapi mereka melakukan kerjasama regional dengan Institusi Internasional yang berada dekat dengan mereka dimana mereka memiliki kepentingan nasional yang cukup kuat di kawasan tersebut. Di dalam paper ini penulis akan memaparkan bagaimana peluang dan tantangan kerjasama regional Negara-Negara di Asia Timur, terutama di dalam APEC (Asia Pacific Economic Community), ARF (Asian Regional Forum), dan ASEAN + 3 (Association of South East Asian Nation ditambah Jepang, Korea Selatan, dan Cina).

B.

Rumusan Masalah Bagaimana peluang dan tantangan negara-negara di Asia Timur dalam

melakukan kerjasama regional?

PEMBAHASAN Dewasa ini kerjasama regional atau kerjasama kawasan dilakukan di dalam bentuk-bentuk yang baru, seperti yang dilakukan di kawasan Asia Timur. Untuk itu kita perlu mengetahui terlebih dahulu perkembangan dari pengertian regionalisme. Ian Clark (1997) mengatakan bahwa kerjasama regional merupakan sebuah konsep yang telah cukup lama ada. Konsep tersebut muncul sejak abad 19, ketika Perang Dunia I dan II terjadi. Saat itu terjadi instabilitas terutama dalam bidang ekonomi dan politik oleh karena itu baik Perang Dunia I maupun Perang Dunia II membawa trauma bagi negara-negara yang terlibat. Edward dan Helen

(1999) banyak negara-negara yang mengalami trauma akibat perang melakukan kerjasama ekonomi regional terutama untuk negara-negara di Eropa yang sekarang ini dikenal sebagai European Union. Ketidakstabilan ekonomi pasca Perang Dunia menjadi alasan yang rasional untuk melakukan kerjasama regional terutama bagi negara-negara di kawasab Eropa Utara. Kata regionalisme menurut Edward dan Helen (1999) didefinisikan sebagai kelompok negara yang berlokasi di satu kawasan geografis yang kurang lebih serupa. Hettne dan Soderbaun menambahkan bahwa kedekatan geografis tersebut harus memiliki persamaan budaya, adanya keterikatan sosial dan sejarah yang sama. Kerjasama ekonomi regional merupakan kerjasama ekonomi yang dilakukan dua atau lebih negara dalam suatu kawasan regional yang mengadakan berbagai kerjasama dalam bidang ekonomi dengan mengintegrasikan pasarnya. Anderson dan Norheim (1993 : 26) menambahkan bahwa didalam kerjasama regional juga mendorong terjadinya expansi budaya, agama, bahasa, maupun tingkat pembangunan suatu negara ke negara lain. New Regional Theory sendiri menjelaskan bagaimana apa saja faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan regionalisme, diantaranya adalah dukungan yang besar dari dalam kawasan (regional great power), adanya tingkat interaksi antar negara dalam kawasan, dan adanya rasa kepercayaan yang tinggi antar negara dalam kawasan. Ketiga faktor tersebutlah yang tidak dimiliki oleh negara-negara di kawasan Asia Timur sehingga sampai saat ini negara-negara di kawasan Asia Timur tidak memiliki kerjasama regional seperti kawasan lainnya. Namun begitu menurut Peter J. Katzenstein (1997 : 7) dewasa ini, regionalisme sudah tidak lagi secara sempit hanya mengenai wilayah, tetapi mengenai kerjasama yang dilakukan oleh satu atau dua lebih negara yang ingin melakukan suatu kerjasama baik secara politik maupun ekonomi dengan lebih terbuka. Kerjasama regional tidak lagi mencerminkan kerjasama antar wilayah saja. Oleh karena itu, dengan definisi kerjasama regional yang demikian, dapat dikatakan bahwa Asia Timur saat ini sedang melakukan bentuk baru dari regionalisme. Sisi lain sejarah peradaban besar di Asia Timur adalah peradaban Jepang dan Cina, dimana peradaban kedua negara tersebut memiliki sejarah yang rumit.

Masing-masing dari negara tersebut memiliki rasa primordialisme yang tinggi sehingga merasa masing-masing peradaban adalah peradaban terbaik. Belum lagi adanya fakta bahwa Jepang pernah melakukan agresi yang sangat kejam ke Cina pada tahun 1931-1945, saat itu Jepang melakukan pengeboman di Sanghai dan menjatuhkan banyak korban. Jepang juga pernah melakukan invasi ke Korea Selatan pada tahun 1592-1598. Latar belakang sejarah tersebut membuat negaranegara di Asia Timur menjadi sulit membentuk suatu institusi regional yang mewadahi kerjasama regional di kawasan Asia Timur seperti di kawasan lain. Kerjasama regional yang dilakukan oleh negara-negara di Asia Timur juga memiliki sejarah yang panjang. Sebelum terjadinya Perang Dunia I Kawasan Asia Timur menjadi ajang persaingan negara-negara besar untuk melakukan kolinialisasi. Kemudian, setelah negara-negara Eropa berhasil melakukan kolonialisme di Asia Timur . Inggris, Jerman, Belanda, dan Portugal merupakan beberapa negara yang ikut masuk ke dalam kawasan Asia dalam menjalankan misi imperialismenya. Bahkan sebagian besar kawasan asia timur jatuh ke tangan kolonial mulai dari Asia Tenggara hingga Cina. Sehingga sampai saat ini terjadi banyak intervensi barat di kawasan Asia Timur. Pada masa Perang Dingin terjadi konstelasi politik yang menarik di kawasan Asia Timur. Saat itu Amerika Serikat dan Uni Soviet sedang melakukan perang ideologi, di Korea Selatan sendiri Amerika Serikat berhasil, berbeda dengan Cina yang didominasi oleh pengaruh dari Uni Soviet walaupun dalam perkembangannya setelah perang dingin usai Cina banyak dipengaruhi oleh pemikiran barat terutama dalam bidang ekonominya. Di Jepang sendiri Amerika Serikat mendominasi terlebih ketika Jepang mendapat hukuman akibat perang keamanan Jepang menjadi sangat bergantung pada Amerika Serikat, sedangkan di Korea sendiri kedua ideologi tersebut berhasil membuat Korea Utara dan Korea Selatan terpecah. Korea Utara sendiri memilih untuk mengisolasi negaranya dari hubungan kerjasama dengan negara lain bahkan setelah Amerika Serikat memenangkan Perang Dingin. Ketika perang dingin usai, negara-negara di kawasan Asia Timur memiliki hubungan bilateral yang baik dengan Amerika Serikat, namun begitu bagi Cina

khususnya mulai menerapkan good neighborhood policy setelah terjadinya tragedi Tiananmen. Dengan demikian Cina lebih fokus untuk melakukan kerjasama terutama dengan ASEAN, mengingat 50% jumlah penduduk dunia tinggal di Asia sehingga Asia menjadi pasar yang baik bagi Cina (Yasuhiro, 2009:2). Ditambahkan oleh Yushiro dalam tulisannya yang berjudul International Relations of east asia in Transition, and ASEAN, China, the United States and japan, bahwa negara-negara di kawasan Asia Timur mengalami transisi dalam hubungan internasionalnya dengan perubahan kebijakan yang mereka buat setelah perang dingin usai. Cina mulai menerapkan kebijakan luar negerinya terutama untuk kerjasama luar negeri di bidang ekonomi dan keamanan dengan mulai menggabungkan diri dalam multinational framework seperti ARF, kemudian berpartisipasi dalam ARF third working session pada bulan Juli 1996 dimana Cina mengumumkan New Security Concept (NSC) yang fokus pada dialog, konsultasi dan negosiasi dalam penyelesaian masalah dan menjaga kedamaian. China juga aktif dalam pembentukan Shanghai Cooperation Organization dan Six-Party talks on the Korean peninsula (Yasuhiro, 2009:4). Cina juga mempererat

hubungannnya dengan US terkait dengan Global War on Terrorism. Korea juga melakukan hal yang sama, Korea mengalami perubahanperubahan dalam hubungan luar negerinya. Korea utara dan korea selatan mendaftarkan dirinya dalam PBB. Korea selatan juga memulai hubungan formalnya denga uni soviet pada tahun 1990 dan dengan China tahun 1992. Pembentukan APEC pada tahun 1993 juga menandai babak baru dalam hubungan luar negeri negara-negara di asia, dimana Asia timur juga masuk kedalamnya (Yasuhiro, 2008:180). Kerjasama di bidang keamanan terutama terjadi saat diselenggarakannya the Shangri-la Dialogue yaitu sebuah forum pertahanan. Forum tersebut merupakan forum keamanan tahunan antar pemerintah yang dilaksanakan oleh sebuah lembaga think tank independen, International Institute for Strategic Studies (IISS) yang dihadiri oleh Menteri-Menteri Pertahanan, Kepala Pemerintahan dan Kepala Staf Mmiliter negara-negara Asia-Pasifik. Pertama kali

dilaksanakan pada tahun 2002 dan jumlah negara anggota yang tercatat terakhir sebanyak 28 negara yang mengikuti atau berpartisipasi dalam forum ini. Selain itu, forum ini juga memiliki kontribusi terhadap peningkatan diplomasi pertahanan negara-negara anggotanya. Andrew Tan juga mengatakan bahwa trend modernisasi dapat dilihat dari meningkatnya kecanggihan teknologi, sumber daya yang semakin beragam, pengenalan kapabilitas baru, penekanan pada

perlindungan sumber daya alam, khususnya sumber daya maritim dan tren perlombaan akuisisi senjata. Adapun faktor penggerak dan penyebab Asia Tenggara melakukan modernisasi militer, Richard A. Bitzinger menggambarkannya dengan faktor penggerak (driver) dan faktor yang memampukan (enabler). Faktor penggerak adalah adanya ketegangan regional, kebutuhan proyeksi kekuatan baru, pergeseran aktivitas AS ke Asia dan semakin meningkatnya kehadiran China di Laut China Selatan. Sedangkan faktor yang memampukan (enabler) Asia melakukan modernisasi militernya adalah meningkatnya anggaran pertahanan negara-negara ini dan sisis penawaran ekonomi yaitu pasar pembeli untuk persenjataan. Tan mengungkapkan bahwa penyebab pembangunan kekuatan bersenjata di kawasan ini adalah pertumbuhan ekonomi, kewajiban pengawasan dan perlindungan ZEE, ketegangan antar negara di kawasan, keamanan dalam negeri, meluasnya cakupan keamanan regional, pasar pembeli, gengsi dalam menjaga kehormatan/kewibawaan, faktor politik domestik dan korupsi. ASEAN Defence Ministerial Meeting pada dasarnya difokuskan pada bagaimana mewujudkan kondisi keamanan kawasan yang lebih stabil dan damai sehingga negara-negara lainnya di dunia bisa datang ke ASEAN dengan aman. Kerja sama praktis seperti kerja sama regional hingga penyelesaian sengketa di Laut Cina Selatan. Termasuk di dalamnya keamanan maritim dengan merealisasikan code of conduct (kode etik) yang jelas di antara negara-negara anggota ASEAN. Soal keamanan dan terorisme juga menjadi agenda utama. Selain itu, ASEAN Defence Ministers Meeting (ADMM) diperluas dengan melibatkan kerjasama delapan negara mitra, yakni Amerika Serikat, Rusia, RRT, Jepang, Korea Selatan, India,

Australia, dan Selandia Baru. Akan ada lima wilayah kerjasama ADMM plus 8 ini. Sekarang ini, kerjasama regional Asia Timur telah berfokus pada cara-cara untuk memperluas perdagangan antar daerah yang meliputi: pembentukan Perjanjian Perdagangan Regional/Regional Trade Agreements (RTA) dalam bentuk Perjanjian Perdagangan Bebas/Free Trade Agreements (FTA) dan Perjanjian Kemitraan Ekonomi/ Economic Partnership Agreements (EPA). Kecenderungan regionalisme telah menciptakan artian regional yang mendalam dan artian global yang signifikan (Harvey dan Lee, 2002). Jepang, Korea dan Cina dianggap sebagai aktor kunci dalam mewujudkan hal ini di Asia Timur. Diakui sebagai para pelaku utama ekonomi dunia, Jepang, Cina dan Korea diasumsikan memiliki tanggung jawab yang berat bagi kesejahteraan ekonomi di kawasan Asia Timur. Hal ini sangat jelas bahwa regionalisme Asia Timur tidak dapat dipraktikkan tanpa dukungan dari negara-negara ekonomi kuat ini. Sayangnya, kurangnya pengaturan kelembagaan di antara negara-negara raksasa ini telah menghambat efek kesejahteraan secara keseluruhan bagi masyarakat Asia Timur. Pendorong dibentuknya hubungan Cina-Jepang-Korea (CJK) saat ini adalah pasar yang dalam artian tertentu tidak lagi cukup; yang harus didampingi dengan regionalisme. Fokus utama dari regionalisme ini adalah untuk membuat negaranegara ini tumbuh bersama sehingga dapat menyebar eksternalitas positif di seluruh wilayah Asia Timur. Dalam jangka panjang diharapkan CJK akan memimpin regionalisme di Asia Timur. Hari ini, ekspor memimpin pertumbuhan secara keseluruhan di Asia Timur. Namun, penting untuk dicatat bahwa fase penyesuaian Jepang terhadap keseimbangan jangka panjang cukup lambat dibandingkan Korea dan Cina. Hal ini bisa menjadi batu sandungan dalam membentuk regionalisme di Asia Timur. Salah satu tugas tersulit adalah tentang membuat negara-negara ini bergerak bersama dalam fase yang sama, yang merupakan alasan perlunya keberlangsungan regionalisme. Dalam jangka pendek, terjadi sebuah kompetisi persaingan antara Cina dan ASEAN. Namun, dalam jangka panjang regionalisme diharapkan akan mengakomodasi pertumbuhan ekspor untuk Asia Timur secara keseluruhan.

Dalam artian menciptakan integrasi di Asia Timur, ada kebutuhan untuk mengatur mekanisme kelembagaan yang lebih formal untuk perdagangan. Hal ini menjadi masuk akal bagi negara-negara saling bergantung tersebut di wilayah untuk melembagakan proses integrasi ini secara de facto melalui pembentukan pengaturan regional (Kawai, 2005). Pertumbuhan yang signifikan dari pasar Cina, Jepang dan Korea bagi ASEAN-4 akan kemudian berfungsi sebagai dasar bagi Single Wide FTA di Asia Timur. Pekerjaan rumah berikutnya adalah untuk membentuk EAR kedepannya. Menggunakan uji konvergensi, ditemukan bahwa ada masa depan bagi EAR. Temuan kuat seperti ini akan menciptakan pandangan optimis bagi EAR. Namun mengetahui masa depan saja tidak cukup, kita masih perlu mencari tahu jalan yang jelas untuk mencapai masa depan tersebut. Infrastruktur fisik yang baik, tata pemerintahan, inflasi, kebijakan perpajakan yang kompetitif, ukuran pasar yang cukup dan trend industrialisasi merupakan faktor utama yang menjadi dasar fondasi pembangun EAR. EAR akan memungkinkan wilayah ini untuk menghadapi tantangan globalisasi di masa depan dan tetap kompetitif di kancah internasional. Sebuah Asia Timur yang terintegrasi akan menuntun pada kemajuan skala perekonomian dan

pengembangan jaringan produksi yang lebih lengkap. Lebih jauh lagi, Chia (2007) menyatakan bahwa EAR bisa membantu perekonomian yang kurang berkembang dari Asia Timur yang jika sebaliknya terjadi, perekonomian di wilayah ini diperkirakan akan semakin terpinggirkan karena mereka tidak memiliki daya tarik pasar yang cukup besar dan kurangnya sumber daya negosiasi. Banyak penelitian yang mengungkapkan karakteristik perkembangan kerjasama regional Asia Timur dalam fokus perdagangan dan ekonomi, dari sudut pandang tiga elemen politik yang memfasilitasi pembangunan institusi regional dengan berkaca pada pengalaman Uni Eropa. Elemen politik yang pertama adalah ketika pemerintah bersedia untuk mengompromikan kedaulatan dan otonomi politik mereka demi kerjasama regional. Kedua, hasil dalam menciptakan mekanisme terhadap mereka yang dianggap lemah di dalam kawasan Asia Timur dapat di kompromikan. Elemen yang ketiga adalah penjelasan rinci

mengenai anggota mana saja yang akan mendapat keuntungan dari mekanisme yang telah dibangun.

PENUTUP Kesimpulan Berbagai latar belakang tersebutlah yang kemudian menjadi hambatan jika kawasan tersebut ingin melakukan kerjasama regional kawasan. Namun begitu, negara-negara tersebut tetap melakukan kerjasama regional di kawasan lain seperti yang sudah dijelaskan yaitu di ASEAN + 3 dalam kerjasama ekonomi, dan ARF dalam kerjasama keamanan. Selain itu konsep kerjasama regional seperti ini juga dapat menjadi peluang-peluang tersendiri bagi Asia Timur terutama dalam memasarkan produknya ke wilayah Asia Tenggara, dan memperkuat dominasinya di kawasan Asia.

Daftar Pustaka Website Fisip10.web.unair.ac.id/artikel_detail47775Masyarakat%20Budaya%20Politik%2 0Asia%20TimurInternational%20Relations%20in%20East%20Asia.html, diakses pada 24 November 2013, pukul : 20.45. http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=5655, diakses pada 24 November 2013, pukul : 22.45. Buku, Jurnal, dan Artikel Anderson, Kym, and Hege Norheim. 1993. History , Geography, and Regional Economic Integration. In Regional Integration and the Global Trading System , edited by Kym Anderson and Richard Blackhurst, 19 51. London: Harvester Wheatsheaf. Katzenstein, Peter J. 1997a. Introduction: Asian Regionalism in Comparative Perspective. In Network Power: Japan and Asia, edited by Peter J. Katzenstein and Takashi Shiraishi, 1 44. Ithaca, N.Y .: Cornell University Press. Yasuhiro, Yamada, 2009, International Relations of East Asia in Transition, and ASEA, China, the United States and Japan, Osaka: Osaka university Forum on China., pp 1-10. Yasuhiro, Yamada, 2008, Changing Faces of East Asian International Relations and the U.S.-China-Japan triangular relations. Osaka: Osaka university., pp 179-188