Anda di halaman 1dari 7

Kegagalan Isolasi Padat pada Jaringan Transmisi

Ir. R. Wahyudi1, Eko Nurhadi Satrio AMd.2, Andry Asriady AMd.2, Risky Ervani AMd. 2
2 1 Dosen Jurusan Teknik Elektro Sistem Tenaga Mahasiswa Lintas Jalur S1 Jurusan Teknik Elektro Sistem Tenaga Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111

Email : andry.044@gmail.com,

en.satrio@gmail.com, richkey8@gmail.com

Abstrak - Isolasi listrik merupakan bagian penting dari sistem penyaluran tenaga listrik. Performa dari sistem penyaluran tenaga listrik sangatlah bergantung pada performa isolasinya. Kegagalan pada isolasi peralatan listrik dapat mengakibatkan rusaknya peralatan dan menyebabkan padamnya sistem tenaga listrik. Kegagalan isolasi tidak terjadi secara tiba-tiba, dimana lama waktu prosesnya didahului oleh penurunan nilai isolasi akibat pengaruh internal maupun eksternal peralatan (internal stress and external stress). Kegagalan isolasi bisa terjadi karena beberapa factor yang membuat nilai isolasinya menurun. Isolator harus mempunyai kekuatan mekanik yang tinggi seperti memiliki kekuatan dielektrik yang tinggi, mempunyai nilai resistivitas yang tinggi untuk memperkecil arus bocor yang terjadi, tidak mudah keropos dan tahan terhadap masuknya gas-gas ataupun cairan-cairan ke dalam bahan isolator, Tidak dipengaruhi oleh perubahan suhu.

Kata kunci : isolator, kegagalan isolasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Listrik sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tanpa listrik manusia sulit untuk menjalankan kegiatan sehari-hari dengan baik, sebab hampir semua yang dikerjakan membutuhkan listrik. Gangguan-gangguan sebisa mungkin harus diminimalisir dengan baik. Demi terjaganya kontiuitas penyaluran listrik dari pembangkit sampai ke konsumen. Karena dengan terkendalanya penyaluran listrik ke konsumen bisa menghambat kegiatan kegiatan yang sangat membutuhkan listrik terutama industry, mall maupun rumah tangga. Salah satu yang penting dari penyaluran listrik adalah isolasi, Walaupun biaya untuk isolasi hanyalah bagian kecil dari biaya sistem penyaluran tenaga listrik,

performa dari sistem penyaluran tenaga listrik sangatlah bergantung pada performa isolasinya. Kegagalan pada isolasi peralatan listrik dapat mengakibatkan rusaknya peralatan dan menyebabkan padamnya sistem tenaga listrik. Kegagalan isolasi tidak terjadi secara tiba-tiba, dimana lama waktu prosesnya didahului oleh penurunan nilai isolasi akibat pengaruh internal maupun eksternal peralatan (internal stress and external stress). Pengecekan dan perawatan secara berkala pada isolasi dapat mendeteksi laju proses ini sebagai dasar tindak lanjut pencegahan terjadinya kegagalan isolasi sehingga menjamin kontinyuitas penyaluran tenaga listrik. Isolator sendiri sebelum digunakan di jaringan transmisi harus dilakukan uji kelayakan agar memenuhi syarat yang telah ditentukan. Meliputi kekuatan dari bahan yang di pakai, resistansinya maupun daya

tahan saat terjadi perubahan suhu. Isolator harus memenuhi standart yang di tentukan supaya bisa meminimalisir kegagalan isolasi yang bias berakibat terganggunya penyaluran energy listrik dari pembangkit sampai ke konsumen. BAB II BAHASAN 2.1. Karakteristik Elektrik Isolator terdiri dari bahan isolasi yang diapit oleh elektroda-elektroda. Dengan demikian, maka isolator terdiri dari sejumlah kapasitansi. Karena kapasitansi ini, maka distribusi tegangan pada sebuah rentengan isolator menjadi tidak seragam. Potensial pada ujung yang terkena tegangan (ujung yang memegang kawat penghantar) adalah paling besar. Karakteristik elektrik suatu isolator dinilai dari tegangan flashover yang terdiri dari tegangan-tegangan flashover frekuensi rendah, impuls dan tembus merusak (puncture). Menurut standar IEC besarnya gelombang impuls standar adalah 1,2 x 50ms. Karakteristik impuls terbagi atas polaritas positif dan negatif. Biasanya, tegangan dengan polaritas positif yang dipakai (memberikan nilai flashover lebih rendah). Untuk polaritas positif, tegangan flashover basah dan kering sama. Tegangan tembus (puncture) merupakan tembus yang menyebabkan perusakan bahan isolasinya. Sedangkan perusakan bagian isolator yang disebabkan oleh pemanasan lebih tidak dikategorikan sebagai puncture.

2.2. Karakteristik Mekanis Isolator harus memiliki kekuatan mekanis guna memikul beban mekanis penghantar yang diisolasikannya. Bahan isolasi, sebagai bagian utama sebuah isolator, mempunyai sifat sebagai besi cor, dengan kuat tekan (compressive strength) yang besar dan kuat tarik (tensile strength) yang lebih kecil, Untuk porselin, kuat 400900 kg/cm2, sedangkan kuat tekannya 10 kali lebih besar. Gaya tarik terhadap isolator yang telah dipasang relatif besar, sehingga kekuatan bahan isolasi dan bagian-bagian yang disemenkan padanya harus dibuat lebih besar dari kekuatan bagian-bagian logamnya. 2.3. Kegagalan Isolator Secara garis besar isolator tegangan tinggi mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi mekanik dan elektrik. Secara mekanik, isolator berfungsi untuk mendukung atau menahan konduktor pada tegangan tinggi, sedangkan secara elektrik isolator berfungsi sebagai pemisah, yaitu untuk mencegah mengalirnya arus dari penghantar ke tanah atau ke menara penopang saluran udara. Pada saluran transimisi atau distribusi kegagalan isolasi dapat disebabkan oleh halhal sebagai berikut: Isolator pecah, disebabkan pemuaian yang tidak merata dan konstraksi yang terjadi di dalam semen, baja, dan bahan porselin. Kegagalan ini juga bisa disebabkan pergantian musim yang mencolok dan pemanasan lebih. Bahan isolasi berlubang-lubang. Lubang terjadi karena bahan porselin diproses pada suhu rendah hingga mudah

menyerap air. Kejadian ini menurunkan kekuatan isolasi dan arus merembes melalui isolator. Ketidakmurnian bahan isolasi. Di tempat yang mengalami ketidakmurnian bahan isolasi pun akan terjadi kebocoran. Bahan tidak dapat mengkilap, sehingga air akan tetap tinggal padanya, lalu menyebabkan penimbunan debu dan kotoran membentuk lapisan yang bersifat menghantar dan memperpendek jarak rayap (creepage-distance). Tekanan secara mekanis, misalnya karena penumpukkan isolator. Jika bahannya kurang kuat dapat menyebabkan isolator pecah. Tembus dan lewat-denyar (flashover). Flashover, yaitu pelepasan muatan destruktif (bersifat merusak) yang melintasi pada seluruh bagian permukaan isolator. Pelepasan muatan ini disebabkan pembebanan medan listrik pada permukaan isolator melebihi harga ketahanan elektriknya. Flashover menimbulkan pemanasan dan ini dapat merusak isolator. Penyebabnya: pengotoran permukaan isolator, surja hubung dan surja petir. Sedangkan tembus (puncture) adalah pelepasan muatan disruptif pada bagian isolasi isolator, khusus terjadi pada isolasi padat saja.

udara. Kegagalan intrinsik merupakan bentuk kegagalan yang paling sederhana. Melalui eksperimen, kuat dielektrik terbesar diperoleh ketika seluruh pengaruh luar sudah diisolasi dan harganya hanya bergantung pada struktur material dan suhu. Kekuatan listrik maksimum adalah 15 MV/cm untuk polyvinyl-alcohol pada suhu 196oC. Kekuatan maksimum biasanya berkisar antara 5 MV/cm dan 10 MV/cm. 2.3.2. Kegagalan Elektromekanik Kegagalan elektromekanik adalah kegagalan yang disebabkan oleh adanya perbedaan polaritas antara elektroda yang mengapit zat isolasi padat sehingga timbul tekanan listrik pada bahan tersebut. Tekanan listrik yang terjadi menimbulkan tekanan mekanik yang menyebabkan timbulnya tarik menarik antara kedua elektroda tersebut. Pada tegangan 106 volt/cm menimbulkan tekanan mekanik 2 s.d 6 kg/cm2. Tekanan atau tarikan mekanis ini berupa gaya yang bekerja pada zat padat berhubungan dengan Modulus Young : .......(1)

Dengan rumus Stark dan Garton : .....(2)

2.3.1. Kegagalan Asasi (Intrinsik) Kegagalan asasi (intrinsik) adalah kegagalan yang disebabkan oleh jenis dan suhu bahan dengan menghilangkan pengaruh luar seperti tekanan, bahan elektroda, ketidakmurnian, kantong-kantong

Jika kekuatan asasi (intrinsik) tidak tercapai pada d0/d= 0.6 maka zat isolasi akan gagal bila tegangan V dinaikkan lagi. Jadi kekuatan listrik maksimumnya adalah : .....(3)

Dimana : F : gaya yang bekerja pada zat padat D L : pertambahan panjang zat padat L : panjang zat padat A : pertambahan zat yang dikenai gaya d0 : tebal zat padat sebelum dikenai tegangan V d : tebal setelah dikenai tegangan V e0 /er : permitivitas 2.3.3. Kegagalan Streamer Kegagalan streamer adalah kegagalan yang terjadi sesudah suatu banjiran (avalance). Sebuah elektron yang memasuki band conduction di katoda akan bergerak menuju anoda dibawah pengaruh medan memperoleh energi antara benturan dan kehilangan energi pada waktu membentur. Jika lintasan bebas cukup panjang maka tambahan energi yang diperoleh melebihi pengionisasi latis (latice). Akibatnya dihasilkan tambahan elektron pada saat terjadi benturan. Jika suatu tegangan V dikenakan terhadap elektroda bola, maka pada media yang berdekatan (gas atau udara) timbul tegangan. Karena gas mempunyai permitivitas lebih rendah dari zat padat sehingga gas akan mengalami tekanan listrik yang besar. Akibatnya gas tersebut akan mengalami kegagalan sebelum zat padat mencapai kekuatan asasinya. Karena kegagalan tersebut maka akan jatuh sebuah muatan pada permukaan zat padat sehingga medan yang tadinya seragam akan terganggu. Bentuk muatan pada ujung pelepasan ini dalam keadaan tertentu dapat menimbulkan medan lokal yang cukup tinggi (sekitar 10 MV/cm). Karena medan

ini melebihi kekuatan intrinsik maka akan terjadi kegagalan pada zat padat. Proses kegagalan ini terjadi sedikit demi sedikit yang dapat menyebabkan kegagalan total. 2.3.4. Kegagalan Erosi Pada pembuatan suatu isolasi dari kabel bawah tanah dan alat lainnya kadangkadang tidak sempurna, sehingga sering terdapat rongga dalam isolasi. Rongga ini berisi udara atau benda lain, yang mempunyai kekuatan medan atau kekuatan dielektrik yang berbeda dengan kekuatan dielektrik dari bahan isolasi. Bila rongga berisi udara maka akan terdapat konsentrasi medan listrik. Karena itu, pada nilai tegangan normal kekuatan medan pada rongga dapat bernilai melebihi kekuatan kegagalan, sehingga dapat menyebabkan terjadinya kegagalan. Kekuatan medan dalam rongga ditentukan oleh perbandingan dari permitivitas dan bentuk rongga. Pada setiap pelepasan muatan terjadilah panas, dan lama kelamaan muka dari rongga akan terjadi karbonisasi dan dapat merusak susunan kimia isolasi dan terjadinya erosi Kegagalan Erosi, adalah kegagalan yang disebabkan zat isolasi padat tidak sempurna, karena adanya lubang-lubang atau rongga dalam bahan isolasi padat tersebut. Lubang/rongga akan terisi oleh gas atau cairan yang kekuatan gagalnya lebih kecil dari kekuatan zat padat. Gambar kegagalan isolasi dan rangkaian ekivalennya ditunjukkan oleh gambar dibawah ini :

Gambar 2.1. Kegagalan Erosi dan Rangkaian

Gambar 2.2. Bentuk Gelombang Rongga Isolasi Ekivalen Padat

Gambar 2.3. Bentuk Gas dalam rongga saat mengalami kegagalan

Untuk t <<< d yang mecerminkan keadaan sebenarnya, bila rongga terisi gas, maka tegangan pada C1 adalah V1= e r. t/dt Va dimana : C1 : Kapasitansi rongga yang tebalnya t C2 :Kapasitansi rongga yang tebalnya d V1 :Tegangan pada rongga Va :Tegangan terminal Er :Permitivitas relatif zat isolasi padat Jika tegangan AC yang dikenakan tidak menghasilkan kegagalan, maka bentuk gelombang yang terjadi pada rongga adalah V1, tetapi jika V1 cukup besar, maka bisa terjadi kegagalan pada tegangan V1'. Pada saat terjadi lucutan dengan tegangan V1' maka pada rongga tersebut terjadi busur api. Busur api yang terjadi diiringi oleh jatuhnya tegangan sampai V1" dan mengalirnya arus. Busur api kemudian padam. Tegangan pada rongga naik lagi sampai terjadi kegagalan berikutnya pada tegangan V1'. Hal ini juga terjadi pada setengah gelombang (negatif) berikutnya. Rongga akan melucut pada waktu tegangan rongga mencapai -V1'. Pada waktu gas dalam rongga gagal, permukaan zat isolasi padat merupakan katoda anoda dengan bentuk yang ditunjukkan seperti berikut:

Benturan elektron pada anoda mengakibatkan terlepasnya ikatan kimiawi pada isolasi padat tersebut. Demikian pula pemboman katoda oleh ion-ion positif akan mengakibatkan kenaikan suhu yang menyebabkan ketidakstabilan termal, sehingga dinding zat padat lama kelamaan menjadi rusak, rongga menjadi semakin besar dan isolasi menjadi tipis. Hubungan antara tegangan lucutan dan umur dinyatakan dengan dimana : Vi : tegangan dimana mulai terjadi lucutan, Va : tegangan yang diterapkan n : nilai antara 3 dan 10 dan A adalah konstanta. 2.3.5. Kegagalan Bahan Isolasi Padat Dalam Praktek Terdapat beberapa jenis kegagalan yang tidak dapat dijelaskan baik dari kegagalan intrinsik maupun pada kegagalan termal, tetapi dalam kenyataannya, fenomena ini terjadi setelah tegangan operasi ditingkatkan dalam waktu yang lama. Kegagalan ini, misalnya adanya penjejakan karbon (tracking) pada material padat porselin, terutama pada keadaan kering yang menyebabkan terbentuknya

celah konduksi pada permukaan isolasi. Penjejakan ini berperan sebagai celah konduksi pada permukaan isolator yang mendorong terjadinya kegagalan bertahap di sepanjang permukaan isolator. Jenis kegagalan lainnya dalam kategori ini adalah kegagalan elektron-kimia yang disebabkan oleh transformasi kimiawi, seperti elektrolisis, pembentukan ozon, dan lainlain. Tambahan pula, kegagalan juga dapat terjadi dalam hal adanya pelepasan muatan sebagian (partial discharge) yang terbentuk karena adanya kantong udara di dalam isolator padat tersebut. Kegagalan jenis ini sangat penting diketahui, terutama penggunaan isolator kertas yang digunakan pada kabel dan kapasitor tegangan tinggi. 2.3.6. Kegagalan Kimia Dan Elektro-kimia Kehadiran udara dan gas lainnya menyebabkan bahan isolasi padat mangalami perubahan struktur secara kimiawi yang dapat berlanjut pada tekanan listrik secara terus menerus yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan isolasi. Beberapa reaksi kimia penting yang terjadi adalah : a) Oksidasi : Kehadiran udara atau oksigen, pada material padat seperti karet dan polyethilene mengalami oksidasi yang dapat meyebabkan keretakan pada permukaan isolator b) Hidrolisis : Ketika uap air dan embun muncul di atas permukaan suatu material padat, maka hidrolisis akan terjadi dan material tersebut dan menyebabkan material akan kehilangan atau berkurang sifat listrik maupun sifat mekanisnya. Hidrolisis biasanya

terjadi pada material padat seperti kertas, kain dan beberapa material seluler akan mengalami perubahan sifat kimiawi yang sangat cepat. Perubahan kimia (hidrolisis) juga terjadi pada material padat lainnya seperti plastik (polyethilene) yang menyebabkan penurunan umur pakai dari material tersebut (aging). c) Aksi Kimiawi. Meskipun tidak terdapat medan listrik yang tinggi, namun peningkatan penurunan sifat kimia pada material isolasi dapat menyebabkan terjadinya berbagai proses ketidakstabilan kimiawi karena adanya temperatur yang tinggi, oksidasi maupun terbentuknya ozon. Meskipun material isolasi padat digunakan pada berbagai kepentingan penggunaan dan kondisi yang berbeda, reaksi kimia akan terjadi pada berbagai material yang dapat mendorong terjadinya penurunan sifat listrik maupun sifat mekanis yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya kegagalan isolasi. Efek elektro-kimia dan penurunan sifat kimia material dapat diperkecil dengan cara mengkaji lebih mendalam dan melakukan pengujian material secara lebih berhati-hati. Isolatornya yang terbuat dari bahan glass (campuran sodium) harus dihindarkan dari keadaan udara lembab dan basah, sebab sodium dapat menyebabkan keadaan menjadi tidak stabil, sehingga soda yang dilepaskan ke permukaan

akan menimbulkan pembentukan suatu alkali kuat yang akan menyebabkan penurunan sifat material secara menyeluruh. 2.3.7. Kegagalan Tracking Dan Treeing Jika suatu bahan isolasi padat diterapkan tekanan listrik dalam jangka waktu yang lama maka akan mengalami kegagalan. Secara umum, terdapat dua gejala yang dapat diamati pada material tersebut, yaitu: a) Adanya bagian konduksi pada permukaan isolator. b) Suatu mekanisme yang bekerja yang menyebabkan arus bocor melalui bagiankonduksi yang pada akhirnya mendorongke arah pembentukan suatu percikan (discharge). Percikan yang terjadi akan menyebar selama proses penjejakan karbon (tracking) dan membentuk cabangcabang yang menyerupai pohon (pepohonan) yang dikenal dengan istilah treeting. Fenomena pepohonan listrik (treeing) dapat dijelaskan dengan menggunakan sebuah spesimen (conducting film) yang diletakkan di antara dua elektroda. Dalam prakteknya, spesimen tersebut diberikan suatu cairan pelembab kemudian diterapkan tegangan, dan dalam waktu tertentu pada permukaan spesimen akan mengalami kekeringan. Pada saat yang sama terjadi percikan yang dapat menyebabkan kerusakan pada permukaan material. Pada material padat seperti kertas, akan terbentuk karbonisasi di daerah terjadinya percikan api, dan selanjutnya karbonisasi yang terbentuk akan bertindak

sebagai saluran konduksi permanen yang kemudiannya dapat meningkatkan tekanan yang berlebihan. Proses ini adalah merupakan proses kumulatif, dan isolator mengalami kegagalan akibat terjadinya jembatan karbon diantara elektroda. Fenomena ini dikenal dengan istilah tracking. BAB III KESIMPULAN Kegagalan isolasi tidak terjadi secara tiba-tiba, dimana lama waktu prosesnya didahului oleh penurunan nilai isolasi akibat pengaruh internal maupun eksternal peralatan (internal stress and external stress). Performa dari sistem penyaluran tenaga listrik sangatlah bergantung pada performa isolasinya. Kegagalan pada isolasi peralatan listrik dapat mengakibatkan rusaknya peralatan dan menyebabkan padamnya sistem tenaga listrik. DAFTAR PUSTAKA [1] Mustamin dan Manjang. S Karakteristik Isolator Polimer Tegangan Tinggi Dibawah Penuaan Tekanan Iklim Tropis Buatan yang Dipercepat. Universitas Hasanudin. 2010. [2] Rinaldi. I Isolasi Tegangan Tinggi. http://irwanrinaldi.blogspot.com diakses pada 20 Oktober 2013. [3] Ruzdi A. Putu, Kegagalan bahan Isolasi Teknik Elektro Universitas Udayana. 2009. [4] Wirawan.M.A dan Purnomo. A, Sifat Isolasi dan Proses Kegagalan Bahan Isolasi Padat Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2010.