Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN OBSERVASI DAN WAWANCARA PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Oleh : Vanessa Khiat Sandra Yunita / 5120065 / 5120067

Reisqita Vadika / 5120068 Ivada Pustakasari / 5120070 Made Restu K. / 5120125

I.

Gambaran Obyek Amatan Penelitian dilakukan pada matakuiah Psikologi Faal I di PD 2.3 pada hari Selasa pukul 10.40-12.25 WIB. Peneliti mengobservasi mahasiswa dan dosen. Matakuliah tersebut diikuti 65 orang mahasiswa yang dibimbing oleh dua orang dosen dan satu orang asisten mahasiswa. Pada setiap pertemuan dalam

matakuliah ini, selalu terdapat sekelompok mahasiswa yang maju ke depan kelas untuk mempresentasikan bahan belajar. Sedangkan dua orang dosen yang membimbing duduk di daerah paling belakang kelas bersama asisten. Ketika terdapat sekelompok mahasiswa yang maju ke depan kelas untuk presentasi, mahasiswa lainnya duduk mendengarkan apa yang dipresentasikan. Namun tidak jarang, kelas menjadi agak gaduh oleh suara-suara mahasiswa yang seharusnya mendengarkan. Beberapa mahasiswa juga terkadang tampak sibuk sendiri dan tidak menyimak dengan baik apa yang disampaikan oleh mahasiswa yang sedang presentasi di depan kelas. Bila kondisi kegaduhan dalam kelas sudah mulai menggangu, dosen biasanya langsung bersuara meminta mahasiswa yang duduk mendengarkan bisa menjaga ketenangan dan bisa menyimak materi yang sedang disampaikan oleh mahasiwa yang sedang presentasi. Setiap akhir dari presentasi, salah seorang atau kedua dosen biasanya

memberi komentar. Komentar tersebut bisa mengenai bagaimana bahan tersebut disajikan, masalah kelengkapan materi yang disampaikan, atau juga merevisi kesalahan yang dibuat oleh mahasiswa, baik kesalahan penulisan, kesalahan bahan yang disampaikan, dan lain-lain. Tidak jarang kedua dosen tersebut menanyakan suatu materi atau kejelasan suatu materi kepada mahasiswa yang presentasi apabila ada yang kurang jelas, dan apabila mahasiswa yang di depan tidak mampu menjawab maka dosen tersebut mencoba menanyakan kembali kepada mahasiswa yang duduk menyimak. Apabila tidak ada yang bisa menjawab atau kurang lengkap, barulah dosen tersebut menjelaskan. Ketika dosen menjelaskan, kelas menjadi hening dan kondusif. Sebagian besar mahasiswa, yang ketika mahasiswa lain menjelaskan juga kurang memperhatikan, langsung memperhatikan ketika dosen menjelaskan.

II.

Hasil Amatan Hasil observasi peneliti mengenai kondisi manajemen kelas yang terjadi di matakuliah Psikologi Faal I adalah dosen menggunakan sistem Student Center

Learning (SCL ). Di awal mata kuliah, disampaikan bahwa matakuliah ini akan dibawakan oleh para mahasiswa sendiri, yaitu dengan cara membagi mahasiswa ke dalam 13 kelompok yang masing-masing berisi lima orang anggota kelompok. Masing-masing kelompok kemudian diberi tugas untuk menjelaskan bagianbagian dari materi di semester ini. Mereka diwajibkan untuk mengemas presentasi mereka selengkap dan semenarik mungkin. Untuk mempersiapkan presentasi mereka, para mahasiwa diberi fasilitas untuk bisa tutor langsung kepada dosen, atau jika tidak mahasiswa dapat memanfaatkan jam asistensi yang telah disediakan bersama asisten mahasiswa. Mahasiswa yang tidak presentasi pun mau tidak mau harus mendengarkan, dengan mendengarkan akan memudahkan mereka untuk mengerti materi, apalagi materi yang sama akan diulang sampai dengan 3-4 kelompok. Apabila mereka tidak mendengarkan maka mereka harus berusaha belajar sendiri, karena dosen tidak akan menerangkan materi ini lagi karena semua materi dianggap telah disampaikan oleh mahasiswa. Dosen memiliki keterampilan dalam withness yang baik, namun acuh. Selama tidak terlalu menggangu (misal seperti bermain handphone) maka dosen tidak akan menegur, namun apabila ramai dosen akan menegur. Dosen tidak melakukan overlapping di dalam proses belajar, ketika proses presentasi berlangsung dosen segera memperhatikan dengan saksama materi yang disampaikan oleh mahasiwa pembawa materi. Kedua orang dosen matakuliah tersebut sudah mampu

melakukan group focus, hal ini tampak dalam menjelaskan materi yang kurang jelas atau kurang tepat, dosen tidak langsung menjelaskan melainkan menanyakan kembali kepada mahasiswa yang melakukan presentasi atau mahasiswa yang menyimak presentasi. Selain itu, dosen juga mampu menerapkan movement management dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan dosen dalam menggerakan kelompokkelompok presentasi yang ada sesuai dengan urutan dan tidak melompat-lompat. Meski demikian, dosen juga tetap menyesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa. Jika ada kelompok yang terpaksa harus maju duluan sebelum giliran atau urutannya karena ada keperluan mendesak, maka dosen akan mempersilakan kelompok tersebut maju terlebih dahulu atas persetujuan kelompok lainnya. Kedua orang dosen yang mengajar matakuliah Psikologi Faal I tersebut sangat menguasai materi kuliah. Hal ini tampak dari kejelian dosen terhadap kesalahan kecil yang dilakukan oleh pembawa materi. Misalnya, kesalahan penulisan

terhadap isitilah tertentu, selain itu kesalahan juga terhadap penyampaian materi. Selain itu, semua pertanyaan mahasiswa mampu dijawab dengan baik dan maksimal oleh kedua orang dosen tersebut. Ketika mahasiswa mengalami kesulitan dalam materi yang dijelaskan presentasi yang berlangsung, dosen akan kembali menerangkan. Dan penjelasan dari dosen sangatlah jelas dan sangat mudah dipahami, sehingga mahasiswa dapat dengan cepat menangkap materi yang disampaikan. Hal ini tampak dari beberapa mahasiswa yang langsung menggangguk-anggukan kepala dan tidak mengajukan pertanyaan mengenai apa yang telah diterangkan oleh dosen ketika mereka diberi kesempatan kembali. Jika ada mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam memahami pembelajaran, dosen biasanya menjelaskan menggunkan gambar-gambar, menulis di papan, atau juga menggunakan ilustrasi-ilustrasi. Dosen matakuliah ini biasanya bertanya dengan cara menanyakan apa ada yang bisa membantu menjelaskan mengenai sebuah materi. Pertanyaan ini ditujukan kepada seluruh mahasiswa di dalam kelas, tidak hanya kepada mahasiswa tertentu. Biasanya ditujukan khusus kepada mahasiswa yang membawakan materi presentasi, apabila jawaban dirasa salah dan masih kurang lengkap maka dosen segera menanyakan kepada mahasiswa lainnya. Dan apabila jawaban kurang sesuai, dosen akan menanggapi dengan cara, pertama mengatakan jawaban itu masih salah atau kurang tepat, baru kemudian setelah itu dosen menjelaskan jawaban yang tepat. Kedua orang dosen matakuliah tersebut sangat hangat dan antusias. Hal ini terlihat dari cara dosen berkomunikasi dengan mahasiswa yang begitu akrab, bisa tertawa terhadap gurauan mahasiswa ketika mereka sedang presentasi. Selain itu juga antusias, setiap presentasi selalu mereka simak dengan baik, mereka selalu berusaha memberi feedback terhadap presentasi yang dilakukan. Hal-hal yang didapat oleh peneliti dari wawancara yang kami lakukan dengan salah seorang dosen adalah yang pertama mengenai pengajaran efektif. Tujuan dari dosen bertanya adalah untuk mengecek pemahaman siswa, dan tanda untuk dosen sendiri apa perluy menjelaskan ulang. Namun dosen mengatakan dengan metode pembelajaran Psikologi Faal I yang demikian, apabila mahasiwa yang presentasi melalui proses tutor dengan baik seharusnya apa yang dipresentasikan bisa matang dan clear. Selanjutnya tujuan dosen memberi tugas yaitu presentasi yaitu selain untuk SCL selain itu juga untuk mendorong mahasiswa menguasai

ilmu dan materi. Dosen memilih metode pembelajaran SCL dengan prinsip seorang belajar dengan individu akan menumbuhkan rasa ingin tahu yang besar. Berikutnya yang berkaitan dengan perencanaan pengajaran yaitu yang pertama mengenai cara dosen membuat rencana pengajaran. Dosen membuat rencana pengajaran di awal semester dengan cara melihat apakah mahasiswa konsisten atau tidak dengan sistem TCL. Hal-hal yang dimasukkan ke dalam rancangan pembelajaran adalah materi, metode, kedalaman materi, bentuk evaluasi, presentase penilaian, peraturan kelas, serta tujuan pembelajaran. Dan yang terakhir yang berkaitan dengan evaluasi hasil belajar adalah mengenai bagaimana cara dosen membuat evaluasi hasil belajar. Evaluasi hasil belajar dilakukan dengan cara akhir tiap chapter akan diadakan kuis selain itu diadakan UTS dan UAS. Cara mengukurnya dengan kuantitatif dan kualitatif. Kuantitatif melalui kuis. Sedangkan kualitatif melalui tes indikator penguasaan materi, daya serap, perbaikan presentasi. Yang menjadi pertimbangan cara mengevaluasi seperti ini adalah melalui kuantitatif maka pengembangan lebih baik (nilai mutlak), sedangkan kualitatif untuk memberi evaluasi dan feedback.Selain evaluasi belajar, dosen juga mengadakan evaluasi terhadap cara mengajar mereka melalui ISO, saran dan kritik. Hal ini dilakukan setiap pertengahan semester dan akhir semester.

III.

Analisis Student Centered Learning (SCL) merupakan proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (mahasiswa). Dengan demikian, peserta didik mendapatkan kesempatan dan fasilitas untuk dapat menggali sendiri

pengetahuannya guna memperoleh pemahaman yang mendalam. Melalui penerapan pembelajaran yang demikian, diharapkan agar peserta didik dapat berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran, selalu ditantang untuk dapat berpikir kritis, mampu menganalisa dan dapat menemukan pemecahan atas masalahnya sendiri (Karsen, 2008). Berdasarkan teori tersebut, dapat dibenarkan jika pada kelas yang menjadi obyek amatan diterapkan sistem pembelajaran SCL. Hal ini tampak pada bergesernya peran dosen selaku pengajar menjadi fasilitator, sehingga menjadikan mahasiswa sebagai fokus utamanya. Dari hasil amatan, terlihat bahwa mahasiswa tidak lagi bergantung kepada dosen melainkan kepada dirinya sendiri dan

mendapat keleluasaan (autonomi) untuk menjadi pribadi yang mandiri, serta mampu bersaing dalam mengembangkan keterampilan akademik masing-masing. Selain itu, model pembelajaran Student Centered Learning (SCL) menjadikan mahasiswa lebih aktif dalam proses belajar (Pannen, 1999). Hal ini juga terjadi dalam kelas obyek amatan. Mahasiswa, baik yang menyajikan presentasi maupun yang menyimak, masing-masing memiliki tanggung jawab dan berinisiatif untuk mengenali kebutuhan belajarnya. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan dosen untuk mendapatkan pengetahuan, justru mereka tertantang untuk menemukan sumber-sumber informasi yang lebih luas guna menjawab pertanyaan dan memiliki kompetensi untuk mempresentasikan pengetahuannya berdasarkan kebutuhannya dengan sumber-sumber belajar. Karsen (2008) menyatakan beberapa karakteristik dari pendekatan SCL yang menyangkut aspek dari pengajar, antara lain: 1. Pengajar berperan sebagai penunjang, dalam hal ini bertugas sebagai perantara pembelajaran yang membantu mengarahkan peserta didik, dan apabila perlu ikut dalam membantu siswa dalam mengembangkan materi yang ada. 2. Pengajar berwawasan luas dan bersifat terbuka terhadap masukan maupun kritikan yang membangun bagi peserta didiknya. Hal ini sejalan dengan yang tampak pada kelas obyek amatan, yaitu dosen juga tetap memfasilitasi proses pembelajaran sebagai mitra atau pendamping bagi mahasiswa dalam proses pembelajarannya. Selaku fasilitator, dosen mampu membantu siswa menciptakan rasa nyaman dalam proses pembelajaran sehingga siswa memiliki keberanian untuk menggungkapkan atau mendiskusikan perasaan dan keyakinannya sehingga pada akhirnya proses belajar-mengajar dapat berlangsung sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah dibuat.

IV.

Simpulan Berdasarkan teori-teori yang digunakan dalam menganalisis model

pembelajaran yang diterapkan di kelas obyek amatan, hasil amatan dan analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sistem pembelajaran yang diterapkan oleh dosen pada mahasiswa di kelas tersebut sudah sesuai dengan dasar teori model pembelajaran Student Centered Learning (SCL). Akan tetapi, masih ada ketidaksesuaian yang terjadi yaitu, beberapa mahasiswa masih tampak pasif seperti dalam model pembelajaran Teacher Centered Learning (TCL).

V.

Saran/Rekomendasi

Daftar Pustaka Siswono, Karsen M. (2008). Student Centered Learning: Kunci Keberhasil ELearning. dalam Rosa, P.H.P., dkk (eds.) Makalah-Makalah Sistem Informasi. Bandung: Informatika Pannen, Paulina et al. , 2001. Teaching in Higher Education. Jakarta: Directorate General of Higher Education Ministry of National Education.