Anda di halaman 1dari 25

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Rumah adat merupakan rumah tradisional yang pada suatu daerah memiliki ciri khas tersendiri sehingga membuatnya berbeda dari rumah adat yang lain. Rumah adat yang terdapat di Kampung Naga termasuk dalam rumah adat Sunda. Saat ini keberadaan rumah adat Sunda sudah jarang ditemukan, terutama di kota-kota besar di Jawa Barat. Akan tetapi, rumah adat Sunda ini masih dapat ditemukan di Kampung Naga. Kampung Naga merupakan kampung adat yang terletak di daerah Sunda Priangan, tepatnya berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Letaknya sekitar 40 km atau 1 jam perjalanan darat dari Kota Tasikmalaya ke arah Barat menuju Kabupaten Garut. Pada Kampung Naga ini, masyarakatnya masih memegang teguh dan melestarikan adat Sunda, terutama pada bangunan rumah tinggalnya. Dilihat dari bentuk rumah, konstruksi dan bahan bangunan, letak dan arah rumah, terdapat keunikan tersendiri, Karena itulah sangat penting untuk mempelajari bangunan rumah tinggal di Kampung Naga. Dalam laporan ini, akan mengungkap tipologi bangunan rumah adat Sunda yang ada di Kampung Naga, pembagian ruang yang terdapat dalam bangunan rumah tinggal, konstruksi serta bahan bangunan dan elemen pendukung lain yang terdapat pada bangunan rumah tinggal di Kampung Naga. 1.2. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1.2.1. Tujuan a. Menjelaskan tipologi bangunan rumah tinggal di Kampung Naga. b. Menjelaskan fungsi, pembagian ruang, konstruksi dan bahan bangunan serta elemen pendukung yang terdapat pada bangunan rumah tinggal di Kampung Naga. Manfaat a. Mengetahui dan memahami perihal bangunan rumah tinggal di Kampung Naga. b. Mengetahui mengenai fungsi, pembagian ruang, konstruksi dan bahan bangunan serta elemen pendukung yang terdapat pada bangunan rumah tinggal di Kampung Naga.

1.2.2.

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA 1.3. Metode Pengumpulan Data dan Analisa Penulisan 1.3.1. MetodePengumpulan Data Pengumpulan data dalam laporan ini dilakukan dengan berbagai cara, yaitu : a. Survei Lapangan Survey di lapangan digunakan untuk melakukan pengamatan langsung terhada objek bangunan rumah tinggal di Kampung Naga. Selain itu juga digunakan untuk wawancara dengan responden yang ada di objek penelitian. b. Studi Pustaka Mengumpulkan dan mempelajari data dan teori yang berkaitan dengan bangunan rumah tinggal, khususnya rumah adat Sunda, melalui studi pustaka (buku, makalah, jurnal) agar dapat digunakan sebagai acuan dalam proses analisis sekaligus menunjang kelengkapan isi laporan yang disusun. c. Browsing Internet Browsing internet agar lebih memudahkan untuk mendapatkan data-data yang tidak didapatkan pada studi pustaka. Metode Analisa Data-data yang diperoleh dari hasil survey lapangan, literature dan browsing internet dianalisis secara deskriptif analitis dari segi tipologi, fungsi, pembagian ruang, konstruksi dan bahan bangunan serta elemen pendukung yang terdapat pada bangunan rumah tinggal di Kampung Naga.

1.3.2.

1.4.

Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN Terdiri atas latar belakang masalah, tujuan dan manfaat penulisan, metode pengumpulan data dan analisa penulisan serta sistematika penulisan. KAJIAN PUSTAKA, Berisi teori dan penjelasan mengenai pengertian arsitektur tradisional, arsitektur tradisional Indonesia serta arsitektur tradisional Sunda meliputi definisi ruang, tipologi dan konstruksi bangunan dalam rumah adat Sunda. DATA Berisi data tinjauan umum Kampung Naga dan bangunan rumah tinggal di Kampung Naga. ANALISA Berisi analisa tipologi bangunan, pembagian ruang, struktur, konstruksi dan bahan bangunan serta elemen pendukung pada bangunan rumah tinggal di Kampung Naga. KESIMPULAN Berisi kesimpulan dari keseluruhan laporan.

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Arsitektur Tradisional 2.1.1. Pengertian Arsitektur Tradisional Kata arsitektur dalam bahasa Yunani:arche: dan Tektoon, Arche berarti yang asli, yang utama, yang awal. Sedangkan Tektoon menunjuk yang berdiri kokoh, tidak roboh, stabil dan sebagainya. Jadi dalam pengertiannya yang semula arsitektur1 dapat diartikan sebagai suatu cara asli untuk membangun secara kokoh. Tradisional 2 adalah sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun. Sedangkan menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat ada 3 wujud kebudayaan, yaitu: a. Wujud idewal/Adat tata kelakuan. b. Wujud kelakuan aktifitas/sistim sosial. c. Wujud fisik/konkrit. Sesuai dengan uraian tersebut,arsitekturtradisionalmerupakan arsitektur perwujudan bentuk ruang dan fisik menempatkan dirinya pada kebudayaan fisik yang konkrit dan merupakan suatu pencerminan wujud/jaman tertentu yang mempunyai ciri-ciri khas dan asli dari daerah tersebut, dan sudah menyatu secara seimbang, serasi dan selaras dengan masyarakat, adat istiadat dan lingkungannya. Arsitektur Tradisional Indonesia3 Arsitektur Tradisional Indonesia adalah arsitektur tradisional yang ada di Indonesia. Karena Indonesia merupakan negara kepulauan, maka terdapat beriburibu suku bangsa dengan segala adat istiadat dan kebudayaannya masing-masing. Secara garis besar, arsitektur tradisional Indonesia mempunyai ciri khas sebagai berikut : a. Terdiri dari tiga macam bangunan : Bangunan di atas tanah Bangunan berpanggung Bangunan di atas air b. Berdasarkan fungsinya dapat di bedakan atas 2 macam : Bangunan sakral Bangunan profane/tempat tinggal c. Berdasarkan alam lingkungannya dapat di bedakan atas 3 macam : Bangunan pesisir pantai Bangunan daerah peralihan Bangunan daerah pedalaman/pegunungan

2.1.2.

YB. Mangunwijaya, 1992 dalam Juhana KBBI 3 Laporan KKL Angkatan 2009 JAFT UNDIP
2

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA d. Berdasarkan iklimnya, mempunyai ciri-ciri : Bangunan tropis, Indonesia hanya mengenal 2 musim yaitu musim hujan dan kemarau. Bahan bangunanya dari kayu,rotan,bambu,ijuk,dan sebagainya. Karena di Indonesia kaya akan hasil hutan, pertanian dan perkebunan, maka bangunan tradisional Indonesia pada umumnya menggunakan bahanbahan yang mudah di peroleh dari alam sekitarnya. e. Bentuk bangunan Dipengaruhi oleh alam lingkungan serta adat istiadat setempat, agama/kepercayaan, serta ornamen yang ada sering merupakan simbol falsafah hidupnya. 2.2. Arsitektur Tradisional Sunda 2.2.1. Definisi Ruang Menurut Masyarakat Sunda Masyarakat Sunda dengan adat dan kepercayaannya telah menciptakan hubungan yang kompleks dengan alam dan wadah disekitarnya. Wadah disini dapat didefinisikan secara tersirat maupun tersurat. Beberapa hubungan wadah dan kebiasaan masyarakat Sunda dapat dilihat sebagai berikut : Pola penempatan ruang4 Konsep penempatan ruang yang dikenal oleh masyarakat Sunda secara umum dibagi menjadi 3, yaitu berdasarkan elemen, orientasi, dan mitos. Dalam perkembangannya, ada 3 istilah yang dikenal oleh masyarakat Sunda dalam penempatan ruang : a. Lemah Cai Penempatan dengan konsep ini memiliki makna bahwa kampung/ruang membutuhkan dua elemen sebagai syarat berdirinya suatu pemukiman, yaitu lemah (tanah) yang layak huni dan layak dijadikan lading, serta cai (air) yang tersedia, misalnya mata air atau bolang, untuk menghidupi tanah dan manusia. b. Luhur Hadap Konsep yang menyakini bahwa yang di luhur (di atas) dinilao lebih tinggi nilainya, sebagai contoh kepala (ada di luhur) lebih tinggi nilainya dari pada kaki (ada di hadap), dalm penerapannya dapat dilihat Rumah Kuncen/Rumah Penjaga Kampung/Rumah Bumi Ageung yang terletak di daerah tinggi. c. Wadah Eusi Dapat dimaknai bahwa setiap tempat selalu menjadi suatu wadah sekaligus eusi atau kekuatan supranatural. Walaupun eusi selalu butuh wadah. Dapat dicontohkan sebagai batu-hideung diletakan di tengah kampung, hutan keramat tempat ular besar bersarang dll.

Laporan KKL Angkatan 2009 JAFT UNDIP

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA d. Kaca Kaca Konsep kacakaca dipahami sebagai batas antar ketinggian tempat, perbedaan material tempat, atau benda yang diletakkan pada tempat tertentu sebagai symbol dari dua arah yang berbeda. Area tertentu kampung sering diberi batas spasial seperti kacakaca kulon dan kacakaca wetan. Konsep ini juga dipahami sebagai cara melihat penciptaan wadah fisik. Bagaimana menyambung dua material baik yang berbeda atau sama dalam satu rumah lebih dipandang penting dari pada material itu sendiri. 2.2.2. Tipologi Bangunan Dalam Rumah Adat Sunda Tipologi bangunan rumah adat Sunda dibagi menjadi beberapa tipe bangunan, bentuk atap dan segi perletakan pintu masuk (entrance). Tipologi bangunan rumah adat Sunda dibagi menjadi 2 tipe bangunan5, yaitu : a. Tipe rumah untuk keteduhan, banyak tersebar di daerah-daerah datar dan pantai di Jawa Barat, ciri-ciri bangunan untuk keteduhan ini adalah :

Lantai rumah langsung beralaskan tanah Di sekeliling rumah terdapat serambi yang member keteduhan inti rumah. Serambi depan dapat berbentuk pendopo dengan bubungan atap yang terpisah Inti rumah terbagi menjadi beberapa ruanhan yang simetris kiri dan kanan yang digunakan sebagai tempat menerima tamu serta kamar tidur keluarga Bentuk atapnya, umumnya pelana atau limas yang merupakan pengaruh dari bentuk atap rumah tradisional Jawa Bahan bangunan untuk dinding terbuat dari kayu atau bamboo dengan atap terbuat dari daung alang-alang atau daun enau. Tetapi sekarang banyak warga yang memakai batu-bata untuk dinding dan genting untuk atap

Badudu (1982:44-46) - Badudu, J.S., dkk. 1982. Tipe Rumah Tradisional Khas Sunda di Jawa Barat. Bandung : ITB Fakultas Teknik Arsitektur.

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA b. Tipe bangunan untuk kehangatan, tersebar di daerah bukit dan pegunungan, khususnya di daerah Sunda Priangan, ciri-ciri bangunan untuk kehangatan ini adalah :

Rumah memiliki bentuk yang kompak. Dengan serambi kecil yang terbuka, ruang inti lebih serin tidak terbagi. Dapur termasuk sebagai ruang berkumpul keluarga Rumah dibangun di atas umpak atau rumah panggung dengan tinggi 40-60 cm Rumah inti ada bangunan lumbung padi (leuit), kandang ternak, pendopo menumbuk padi, kolam ikan (balong) dan bagi orang berada juga memiliki bangunan mushola kecil, di dekat kolam ikan Bahan bangunannya secara tradisional terbuat dari kayu atau bamboo sebagai bhan kerangka dan dinding. Untuk atap pada umumnya digunakan ijuk

Selain dari segi tipologi bangunan, rumah adat Sunda dapat dilihat dari segi bentuk atapnya dan segi perletakan pintu masuk (entrance). Dari segi bentuk atapnya rumah adat Sunda dibagi menjadi 5 bentuk atap6, diantaranya : a. Suhunan Lurus (Suhunan Jolopong) Dalam bahasa Sunda, istilah Jolopong memiliki arti tergolek lurus. Bentuk atap shunan lurus adalah bentuk atap pelana. Kedua bidang atap dipisahkan oleh jalur suhunan yang terletak di bagian tengahnya. Bentuk atap suhunan lurus merupakakn bentuk dasar atap rumah adat Sunda, bentuk atap ini hamper seluruh rumah adat Sunda di perkampungan Jawa Barat menggunakannya.

Muanas, dkk (1984:29-35) - Muanas, D., dkk, 1984. Arsitektur Tradisional Daerah Jawa Barat. Bandung : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Barat.

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA b. Togo Anjing (Tagog Anjing) Bentuk atap ini bidang atap pertamanya lebih lebar disbanding dengan bidang atap lainnya yang keduanya merupakan penutup ruangan. Pada umumnya sisi bawah tidak disangga oleh tian. Biadang atap yang sempit ini hanya sekedar penutup agar cahaya matahari atau air hujan tidak langsung menyemburi ruangan dalam bagian depan. Ruangan-ruangan berada di bawah bagian atap belakang. Atap depan hanya berfungsi sebagai penutup atap teras saja. c. Badak Heauy Bangunan dengan atap bentuk bada heauy sangat mirip dengan bentuk atap togo anjing/tagog anjing. Perbedaannya hanya pada bidang atap belakang. Bidang atap ini langsung lurus ke atas melewati batang suhunan sedikit. Bidang atap yang melewati suhunan ini dinamakan rambu. d. Parahu Kumureb Bentuk atap ini memiliki 4 buah bidang atap menyerupai bentuk atap limasan. Sepasang bidang atap sama luasny, berbentuk trapezium sama kaki. Letak kedua bidang atap ini sebelah menyebelah dan dibatasi oleh garis suhunan yang merupakan sisi bersama. Jenis atap parahu kumureb ini banyak digunakan sebagai atap pada rumah adat Sunda. Bentk atap ini disebut bentuk atap jubleg nangkup (lesung yang menelungkup). e. Julang Ngapak Bentuk atap julang ngapak adalah bentuk atap yang melebar di kedua sisi bidang atapnya. Jika dilihat tampak depan, bentuk atap rumah menyerupai sayap burung julang yang sedang merentang sayapnya. Bentuk atap ini memiliki 4 buah bidang atap, 2 bidang pertama merupakan bidang yang menurun dari arah garis suhunan, 2 bidang lainnya merupakan kelanjutan (atap tambahan) dari bidang-bidang itu dengan membentuk sudut tumpul pada garis pertemuan antara kedua bidang atap. Bidang atap tambahan dari masingmasing sisi bidang atap itu Nampak lebih landai dari bidang atap utama. Kedua atap yang langai ini disebut leang-leang. 7

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA Sedangkan dari segi penempatan pintu masuknya (entrance)7 rumah adat Sunda dibagi atas : a. Buka Palayu (menghadap ke bagian panjangnya)

Istilah buka palayu untuk menunjukkan letak pintu muka dari rumah tersebut menghadap ke arah salah satu sisi dari bidang atapnya. Dengan demikian, jika dilihar dari arah muka rumah, tampak dengan jelas ke seluruh garis suhunan yang melintang dari kiri ke kakan. Pada umumnya, rumah dengan gaya buka palayu didirikan atas dasar keinginan dari pemiliknya, untuk menghadapkan keseluruhan bentuk bangunan dan atapnya kea rah jalan yang ada di depan rumahnya. Letak pintu buka palayu pada umumnya menggunakan bentuk atap perahu tengkureb (perahu kumureb) dan atap suhunan lurus (suhunan jolopong). b. Buka Pongpok (menghadap ke bagian pendeknya)

Sama halnya dengan buka palayu, rumah dengan gaya buka pongpok didirikan atas dasar keinginan pemiliknya untuk menghadapkan pintu muka kea rah jalan. Rumah buka pongpok adalah rumah yangmemiliki pintu masuk pada arah yang pendek, keseluruhan batang suhunan tersebut tidak Nampak sama sekali. Yang Nampak terlihat ialah bidang atap segitiga dari rumah tersebut. 2.2.3. Konstruksi Bangunan Dalam Rumah Adat Sunda8 Struktur dan konstruksi rumah tradisional, khususnya rumah tradisional Sunda, merupakan sebuah rumah panggung sama seperti rumahrumah tradisional lainnya yang ada di Indonesia. Bentuk rumah panggung ini bertujuan untuk menghindari masalahmasalah dari lingkungan yang bisa mengancam penghuninya (basaurangsunda.blogspot.com). Secara tidak langsung, pemilihan bahan dan penyelesaian konstruksi pada rumah tradisional menerapkan prinsip-prinsip arsitektur tropis.

Muanas, dkk, 1984:29-35 - Muanas, D., dkk, 1984. Arsitektur Tradisional Daerah Jawa Barat. Bandung : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Barat. 8 Laporan KKL Angkatan 2009 JAFT UNDIP

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA a. Pondasi Bentuk pondasi rumah tradisional Sunda mirip dengan pondasi umpak yang dipakai untuk rumahrumah tradisional jaman sekarang. Perbedaan yang dapat dilihat dari pondasi rumah tradisional Sunda dengan pondasi umpak yang sering dipakai sekarang adalah bentuk pondasi yang unik yaitu kolom bangunan hanya diletakan di atas sebuah batu datar yang sudah terbentuk di alam. Tujuan pembuatan pondasi seperti ini adalah untuk menghindari keretakan atau pada kolom bangunan pada saat terjadi gempa, sedangkan bentuk lantai panggung bertujuan untuk memungkinkan sirkulasi udara dari bawah lantai dapat berjalan baik, sehingga kemungkinan terjadi kelembaban pada lantai bangunan dapat dihindari. b. Lantai Lantai rumah tradisional Sunda terbuat dari pelupuh (bambu yang sudah dibelah). Alasan pembuatan lantai dari pelupuh adalah seperti yang telah dijelaskan di atas yaitu agar udara yang melewati kolong rumah dapat masuk ke ruangruang, selain itu dengan mengunakan lantai bambu, tingkat kelembaban di dalam rumah jugah akan berkurang, mengingat ketinggian lantai rumah tradisional Sunda tidak seperti rumah tradisional lain pada umumnya yaitu berkisar antara 50 60 meter dari permukaan tanah. c. Dinding, Pintu dan Jendela Dinding bangunan terbuat dari anyaman bambu yang dapat dilewati udara, jendela yang selalu terbuka dan hanya ditutupi kisi-kisi bambu maka udara dapat bebas masuk dalam ruangan, sehingga suhu didalam ruangan tidak panas. Dinding yang ringan terbuat dari anyaman bambu yang dapat menyerap dan mencegah terjadinya panas akibat radiasi matahari sore hari. d. Konstruksi Dinding Dan Detail Selain itu ada juga pintu dan jendela yang mempunyai daun pintu dan daun jendela tunggal. Materialnya terbuat dari kisi kisi bambu yang dapat ditembus oleh udara, hal ini membuat suasana di dalam rumah tetap nyaman. e. Plafon Plafon selain sebagai penghias langit langit rumah juga berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan barang. Kerangka plafon terbuat dari susunan bambu bulat, dan di atasnya diletakan pelupuh sebagai bahan penutup plafon. f. Atap Atap dari rumah Sunda terbuat dari ijuk, alasan pemilihan ijuk sebagai material atap karena ijuk merupakan material yang dapat menyerap panas dengan baik sehingga tidak menimbulkan suasana gerah di dalam rumah. Tritisan pada sisi depan rumah mempunyai panjang 2 meter. Hal ini membuat dinding bangunan tidak langsung terkena cahaya matahari sehingga dinding sebagai penyekat tidak panas dan ruang di dalamnya tetap dingin. 9

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA BAB III DATA 3.1. Tinjauan Umum Kampung Naga 3.1.1. Sejarah Kampung Naga9 Kampung Naga merupakan sebuah kampung adat yang masih lestari. Masyarakatnya masih memegang adat tradisi nenek moyang mereka. Mereka menolak intervensi dari pihak luar jika hal itu mencampuri dan merusak kelestarian kampung tersebut. Namun, asal mula kampung ini sendiri tidak memiliki titik terang. Tak ada kejelasan sejarah, kapan dan siapa pendiri serta apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung dengan budaya yang masih kuat ini. Warga kampung Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah "Pareum Obor". Pareum jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu mati, gelap. Dan obor itu sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Jika diterjemahkan secara singkat yaitu, Matinya penerangan. Hal ini berkaitan dengan sejarah kampung naga itu sendiri. Mereka tidak mengetahui asal-usul kampungnya. Masyarakat kampung naga menceritakan bahwa hal ini disebabkan oleh terbakarnya arsip/ sejarah mereka pada saat pembakaran kampung naga oleh Organisasi DI/TII Kartosoewiryo. Pada saat itu, DI/TII menginginkan terciptanya negara Islam di Indonesia. Kampung Naga yang saat itu lebih mendukung Soekarno dan kurang simpatik dengan niat Organisasi tersebut. Oleh karena itu, DI/TII yang tidak mendapatkan simpati warga Kampung Naga membumihanguskan perkampungan tersebut pada tahun 1956. Adapun beberapa versi sejarah yang diceritakan oleh beberapa sumber diantaranya, pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga. Namun masyarakat kampung Naga sendiri tidak meyakini kebenaran versi sejarah tersebut, sebab karena adanya "pareumeun obor" tadi. Versi sejarah yang lain mengatakan konon pada masa Kerajaan Galunggung di abad 15-16, lembah Kampung Naga adalah tempat persembunyian Singaparna yang diyakini sebagai leluhur masyarakat Naga. Singaparna-putera bungsu Prabu Rajadipuntang, Raja terakhir Kerajaan Galunggung-ditugaskan menjaga pusaka kerajaan dari incaran para pemberontak. Untuk itu ia mewarisi ilmu kebodohan dari ayahnya. Dengan bekalnya, Singaparna di harapkan dapat bersembunyi

http://aristastar21.wordpress.com/makalah-kebudayaan-masyarakat-kampung-naga-2/

10

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA mengelabui musuh agar pusaka tetap aman. Dipilih-nyalah suatu lahan di kaki bukit, ditepi sungai Ciwulan, tersembunyi dikelilingi bukit-bukit. Di tempat itu Singaparna membangun per-mukiman untuk melanjutkan kehidupannya.Lahan yang strategis itu bagaikan tersembunyi di tempat yang terang. Sungai, mata air, hutan, lahan subur serta aliran udara yang menyediakan semuanya yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan permukiman. Lahan dari kampung naga ini sendiri berada di lereng gunung yang terjal dan tersembunyi dari luar sehingga penggunaan teknologi yang digunakan dalam pembangunan rumah maupun lahan menggunakan system sengkedan dan bahan-bahan alam yang berada di sekitarnya sehingga antara semuanya memiliki satu kesatuan dan saling terikat juga tidak merusak alam sekitarnya , hal itu di karenakan hukum adat yang di pegang oleh masyarakat Naga sangat di jaga dan yang memimpin dari kesemuanya itu adalah seorang kuncen yang dipercaya oleh masyarakat untuk memimpin mereka. 3.1.2. Lokasi dan Topografi10 Kampung ini secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Ci Wulan (Kali Wulan) yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut. Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26 kilometer. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok ( Sunda: sengked) sampai ke tepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai kedalam Kampung Naga. Menurut data dari Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali.

10

http://id.wikipedia.org/wiki/Kampung_Naga 11

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA 3.2. Bangunan Rumah Tinggal di Kampung Naga Rumah dan bangunan di Kampung Naga berjumlah 113 buah, tertata rapi dalam pola mengelompok dan tanah lapang di tengah. Rumah harus menghadap kesebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur.

Tanah lapang merupakan pusat aktivitas sosial dan ritual masyarakat, sekaligus tempat orientasi. Di sekitarnya ada masjid, balai pertemuan dan beberapa rumah penduduk. Di tempat yang lebih tinggi, sebelah barat kampung, terdapat Bumi Ageung dan rumah kuncen (kepala adat). Semua bangunan diletakkan memanjang ke arah barat timur, sehingga kampung seakan terlihat menghadap ke sungai Ciwulan yang berfungsi sebagai area servis penduduk. Dekat sungai, dalam kampung, terdapat kolam2 (balong) dan beberapa pancuran air.

3.2.1.

Fungsi Bangunan Rumah Tinggal di Kampung Naga Fungsi utama dari bangunan rumah dikampung ini adalah sebagai ruang beristirahat serta untuk bersosialisasi bersama keluarga. Hunian masyarakat Naga berbentuk rumah panggung dengan kolong setinggi 40-60 cm dari tanah. Selain untuk pengatur suhu dan kelembaban, kolong difungsikan sebagai tempat penyimpanan alat pertanian, kayu bakar serta kandang ternak. Rumah- rumah 12

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA persegi panjang ini ditata secara teratur di atas tanah berkontur berbentuk teras2 yang diperkuat dengan sengked/turap batu. Bentuk rumah panggung terkait kepercayaan warga Naga bahwa dunia terbagi menjadi dunia bawah, tengah dan atas. Dunia tengah melambangkan pusat alam semesta dengan manusia sebagai pusatnya. Tempat tinggal manusia di tengah, dengan tiang sebagai penopang yang tak boleh menyentuh tanah, sehingga diletakkan di atas tatapakan/ umpak batu. 3.2.2. Ruang pada Bangunan Rumah Tinggal di Kampung Naga Pada dasarnya rumah di Kampung Naga terdiri 3 bagian ; muka (hareup), tengah (tengah imah) dan belakang. Bagian depan berupa teras/ emper, tempat menerima tamu yang dicapai dengan menaiki gelodog (tangga). Bagian tengah adalah ruangan besar tempat keluarga serta tamu berkumpul ketika acara selamatan. Di sebelahnya, pangkeng/ enggon (kamar tidur), yang kadang hanya berupa area kosong, tanpa penyekat atau pintu, di sudut ruang tengah. Dapur dan padaringan/ goah (tempat penyimpanan beras) terletak di bagian depan berdampingan dengan ruang tamu, tempat yang diperuntukkan khusus untuk kegiatan kaum perempuan. Rumah tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, misalnya kursi, meja, dan tempat tidur. Rumah tidak boleh mempunyai daun pintu di dua arah berlawanan. Karena menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rizki yang masuk kedalam rumah melaui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang daun pintu, mereka selalu menghindari memasang daun pintu yang sejajar dalam satu garis lurus.

Namun berbeda dengan fungsi rumah secara umum, rumah di Kampung Naga tidak digunakan untuk mandi. Hal ini dikarenakan menurut Adat Kampung Naga kamar mandi adalah bagian kotor dan tidak diperbolehkan berada di dalam rumah atau disekitar rumah yang dianggap area bersih bahkan ada beberapa tempat di dalam desa yang dianggap suci, untuk menghindari area bersih dan ataupun suci ini tercampur dengan bagian kotor maka letak kamar mandi harus diluar tanah adat. Begitu juga dengan kolam dan kandang ternak berada di luar tanah adat.

13

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA 3.2.3. Bentuk dan Konstruksi Bangunan Rumah Tinggal di Kampung Naga Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah harus menghadap kesebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedung (gedong).

Jenis konstruksi dan atap yang digunakan sangat genial dalam memecahkan masalah iklim setempat. Struktur tiang dan umpak membuat bangunan adaptif terhadap gempa dan kontur tanah. Umpak juga mencegah tiang kayu lapuk terkena kelembaban tanah dan serangan serangga tanah. Ventilasi diatur agar rumah tetap kering dan sejuk, mengimbangi kondisi iklim tropis. Bentuk atap pelana rumah adat Kampung Naga disebut suhunan panjang atau suhunan julang ngapak (bila sisi rumah ditambah sosompang) dan terbuat dari ijuk. Selain kedap air, atap juga menjaga kehangatan rumah saat malam, karena teritis antar rumah yang nyaris bersentuhan itu membentuk lorong yang mengurangi masuknya angin. Berdasar kepercayaan bahwa manusia tak boleh menentang kodrat alam, maka pada ujung timur dan barat atap, sesuai arah edar matahari, diletakkan dekorasi cagak gunting atau capit hurang untuk menghindari mala petaka.

14

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA BAB IV ANALISA 4.1. Tipologi Bangunan Rumah Tinggal di Kampung Naga

Rumah tinggal di kampung naga termasuk dalam kategori rumah untuk kehangatan, yaitu tipe rumah yang biasanya tersebar di daerah bukit dan pegunungan, khususnya di daerah Sunda Priangan, ciri-ciri bangunan untuk kehangatan ini adalah : a. Rumah memiliki bentuk yang kompak, dengan serambi kecil yang terbuka, ruang inti lebih sering tidak terbagi, dapur termasuk sebagai ruang berkumpul keluarga. b. Rumah dibangun di atas umpak atau rumah panggung dengan tinggi 40-60 cm. c. Rumah inti ada bangunan lumbung padi (leuit), kandang ternak, pendopo menumbuk padi, kolam ikan (balong). d. Bahan bangunannya secara tradisional terbuat dari kayu atau bambu sebagai bahan kerangka dn dinding, untuk atap rumah pada umumnya menggunakan ijuk. Berdasarkan kategori bentuk atap

Bentuk atap bangunan rumah tinggal di kampung naga ini termasuk dalam tipe julang ngapak karena bentuk dasar rumah berbentuk empat persegi panjang, dengan bubungan arah memanjang, dalam bahasa sunda disebut suhunan panjang. Istilahnjulang ngapak sudah dikenal oleh masyarakat Sunda sejak waktu lampau. Bentuk atap julang ngapak adalah bentuk atap yang melebar di kedua bidang sisi atapnya.

15

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA Berdasarkan perletakan entrance

Bangunan rumah tinggal di Kampung Naga ini termasuk dalam jenis Buka Palayu (menghadap ke bagian panjang). Istilah buka palayu digunakan untuk menunjukkan letak pintu dari rumah tersebut menghadap ke arah salah satu sisi dari bidang atapnya. Dengan demikian, jika dilihat dari arah muka rumah, tampak dengan jelas keseluruhan garis suhunan yang melintang dari sisi kiri ke kanan. Dari paparan di atas, dapat dikatan bahwa Kampung Naga memiliki tipologi bangunan yang sama antara rumah satu dengan rumah lainnya, walaupun ukuran bangunannya berbeda tetapi tetap memiliki tampak bangunan yang sama. Bahan bangunan yang digunakan pada rumah adat di Kampung Naga menggunakan bahan bangunan yang didapatkan langsung dari alam seperti kayu dan bambu. Berdasarkan pengamatan pada bentuk atap, rumah di Kampung Naga menggunakan atap julang ngapak dengan setengah leang-leang karena letak rumah yan gsaling berhimpitan dengan kemiringan atap yang landai. Atap julang ngapak sering digunakan di daerah Sunda Priangan, sebagai bentuk atap yang dominan di Kampung Naga. Bentuk, jenis, dan material rumah semuanya merupakan ketentuan adat. Penyimpangan dari ketentuan ini merupakan sesuatu hal yang sulit diterima oleh setiap warga masyarakat Kampung Naga, karena takut berakibat buruk apabila melanggarnya. Terkecuali bagi mereka yang sudah keluar dari Kampung Naga, hal ini tidak menjadi sesuatu hal yang dipantang apabila mereka ingin membangun rumah seperti layaknya masyarakat luas yang ada di luar Kampung Naga.

4.2.

Ruang pada Bangunan Rumah Tinggal di Kampung Naga Rumah-rumah di Kampung Naga merupakan jenis rumah panggung dengan ketinggian kolong 40-50 sentimeter. Jenis rumah ini sebetulnya merupakan jenis rumah tradisional yang biasa dijumpai di daerah-daerah pedesaan Priangan, akan tetapi dewasa ini boleh dikatakan telah langka akibat tergeser oleh jenis rumah gedung, yang mengikuti perkembangan jaman dan seni bangunan yang banyak kita temui di Kota-kota. Fungsi dan peranan sosial rumah bagi masyarakat Kampung Naga bukan sekedar tempat bernaung dari teriknya panas matahari dan derasnya air hujan serta tempat tidur belaka, melainkan tempat kegiatan seluruh keluarga, tempat berputarnya siklus kehidupan individu dalam keluarga. Karena itu masalah rumah tidak dapat dipisahkan dengan aspekaspek kepercayaan dan pandangan masyarakat terhadap alam semesta secara keseluruhan (aspek kosmologi). 16

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA Menurut Suhamihardja dan Sariyun (Dasim Budimansyah; 1994:104) bahwa rumah di Kampung Naga di bagi menjadi tiga daerah (ruang), yaitu daerah bagian depan, bagian tengah, dan bagian belakang. Pembagian daerah seperti itu berhubungan dengan fungsinya masing-masing, yaitu antara daerah netral, daerah pria, dan daerah wanita.

a. Daerah netral, merupakan daerah pusat yang terletak di tengah, yaitu antara daerah muka dengan belakang. Daerah ini, atau lazim disebut tengah imah, dapat di pergunakan bersama-sama, baik pria maupun wanita. Karena sifatnya yang netral upacara-upacara selamatan biasanya dilakukan di ruang tengah ini. Selain tengah imah, yang merupakan daerah netral juga adalah kamar tidur atau pangkeng. Walaupun demikian fungsi kamar tidur berbeda dengan tengah imah, anak-anak misalnya, tidak boleh bermain di dalamnya. b. Daerah depan, meskipun diperuntukkan bagi pria (daerah pria), namun kadangkadang juga wanita boleh duduk di bagian ini. Tamu umumnya diterima di daerah ini. Tamu dalam bahasa Sunda tatamu, harus ditata dan dijamu, artinya harus dihormati. Cara memberikan penghormatan tersebut ialah dengan cara menempatkan tamu di muka. Karena itu tamu harus di terima di ruang muka. c. Bagian belakang, merupakan daerah wanita. Pada bagian ini terdapat goah dan dapur. Goah atau disebut juga padaringan merupakan daerah khusus wanita, lakilaki dilarang memasukinya. Fungsi goah atau padaringan adalah tempat menyimpan beras atau padi. Yang mengambil beras dari padaringan hanya wanita, laki-laki dilarang melakukanya. Goah dapat diletakan di dua tempat, yaitu sebelah Timur atau Barat. Dapur juga merupakan daerah wanita. Di tempat inilah wanita memasak untuk keperluan makan keluarga.

4.3.

Struktur, Konstruksi dan Bahan Bangunan pada Bangunan Rumah Tinggal di Kampung Naga Bagi masyarakat Kampung Naga, hunian mereka memiliki keunikan struktur tersendiri dengan bangunan lainnya. Ciri khas rumah tinggal mereka yaitu bangunannya yang berbentuk persegi panjang, dengan ukuran denah yang relative kecil dengan umpak sebagai struktur utama bangunan. Rumah tidak menggunakan dinding bata, melainkan dengan material bambu atau kayu. Ciri khas lain dari hunian masyarakat Kampung Naga yaitu terdapat glodog atau teras kecil pada bagian depan bangunan. 17

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang yang diganti tiap 7 tahun sekali apabila sudah rusak, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah harus menghadap kesebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Material bahan bangunannya adalah kayu albasiah yang banyak tumbuh disekitar kampung naga. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni karena harus menggunakan bahan-bahan alami tidak boleh menggunakan bahan kimia. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedung (gedong).

18

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA Struktur berkaitan dengan pemahaman anatomi bangunan, yang dikategorikan dalam dua kategori, yaitu sub-structure dan upper-structure. Berikut ini adalah struktur bangunan rumah tinggal di Kampung Naga :

a. Sub-structure Pondasi umpak batu kali Struktur bagian bawah bangunan berupa landasan utama berdirinya sebuah bangunan yang dikenal dengan istilah pondasi. Pondasi pada bangunan rumah tinggal menggunakan batu kali yang dipasang berdiri secara vertical.

19

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA Terdapat 2 cara pemasangan umpak ini pada bangunan, yaitu apabila menggunakan batu kali yang utuh maka kolom bangunan menerus muncul sekitar 30 cm di bawah balok, sedangkan untuk batu yang telah dipahat berbentuk kotak memanjang dibuat lebih tinggi sekitar 40 cm dan langsung menopang balok bangunan, sehingga kolom bangunan tidak muncul di bawah panggung.

Alasan digunakannya pondasi batu agar kayu sebagai material utama dalam bangunan tidak dimakan rayap dan tetap awet dalam jangka waktu lama. Hal ini memnunjukkan bahwa masyarakat Kampung Naga telah mengenal teknologi sederhana dalam membangun, namun tetap memperhatikan keselarasan dengan alam dengan menggunakan material batu. Kolong di bawah bangunan dimungkinkan untuk aliran udara. Batu pondasi/tatapakan, ada dua jenis tatapakan, yaitu tatapakan jangkung dengan permukaan atas 20cx20cm dan permukaan bawah 25x25cm, dan tatapakan buleud (bundar). Gaya berat rumah tersalur ke dalam tanah melalui banyak titik tatapakan, yaitu 5 titik disisi panjang (palayu) dan 4 titik di sisi pendek (pongpok). Struktur lantai. Golodog, merupakan ruang peralihan sebelum masuk ke dalam rumah, terbuat dari kayu atau bambu dengan bentuk persegi panjang. Ketinggiannya tergantung pada pondasi, sehingga dapat mempunyai 1 atau 2 undakan.

Lantai, material asli dari lantai rumah menggunakan bambu yang telah dibuka dan diratakan, disebut lantai palupuh, kemudian disusun memanjang di atas rangka panggung yang juga terbuat dari kayu, bambu yang digunakan untuk palupuh adalah jenis awi surat berdiameter 20 cm. 20

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA

Namun dalam perkembangannya, lantai pada bangunan-bangunan rumah menggunakan lantai papan kayu memanjang, lebarnya 15-20 cm yang diletakkan di atas rangka panggung kayu. Papan tersebut dipakukan pada rangka-rangka di bawahnya, berbeda dengan lantai bambu yang hanya dijepit pada masing-masing ujung pertemuan dengan dinding bangunan. Saat ini lantai palupuh masih sering digunakan pada bagian dapur.

Alasan penggunaan bambu pada bagian dapur adalah karena aktifitas ibu-ibu di Kampung Naga lebih banyak berada di dapur, jadi apabila ada air tumpah pada saat melakukan kegaitan di dapur, air itu bisa langsung jatuh ke tanah melalui rongga-rongga pada lantai bambu (palupuh) tersebut. Sehingga lantai terebut tidak cepat membusuk. Selain itu seluruh kegiatan makan dalam rumah di Kampung Naga berada di dapur, sehingga apabila sudah selesai makan, sisa-sisa makanan tersebut bisa langsung disapukan hingga jatuh ke tanah melalui rongga-rongga pada lantai bambu (palupuh) tersebut, dan dengan tujuan agar bisa menjadi makanan untuk ayam-ayam yang berada di bawah rumah. b. Upper-Structure Tiang/tihang/sasaka, terbuat dari kayu albasia yang dipotong 10x10 cm. Supaya lebih awet, tiang dan bahan kayu lain direndam dalam lumpur minimal 40 hari, dibersihkan dan dijemur. Untuk menghindari kelembaban dari tanah, tiang/tihang tidak diletakkan langsung di atas tanah melainkan diberi alas batu yang disebut tatapakan. Dinding, mempunyai rangka dari kayu albasia berukuran 5x10 cm, untuk penutupnya digunakan anyaman sasag, anyaman bilik dan papan kayu. Jenis bambu yang digunakan untuk dinding adalah bambu awi (awi tali). Sebelum digunakan, semua bahan bambu dijemur terlebih dahulu untuk meningkatkan keawetannya. 21

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA

Pintu, lebarnya sekitar 70 cm dengan ketinggian 170 cm. Umumnya dibuat dari kayu dengan tebal 4 cm. Khusus untuk pintu dapur diwajibkan menggunakan anyaman sasag vertikal dan digantung rempah-rempah serta ketupat yang di maksudkan untuk menolak bala (musibah). Pintu sasag pada dapur lebih transparan sehingga tingkat privasinya kurang, namun dari segi keamanan pintu ini efektif, karena orang dari luar akan mudah mengetahui jika terjadi kebakaran. Jendela, terbuat dari kayu suren atau albasia, ukurannya berkisar antara 40x60 xm atau 50x70 cm. Jendela pada bangunan di Kampung Naga hanya boleh dibuka ke satu arah. Atap/hareup, berbentuk sulah nyandah dengan penutup atap berupa daun eurih yaitu sebangsa ilalang atau daun tepus yang ditutupi oleh ijuk. Bahan ini memungkinkan pergantian udara ke dalam rumah melalui atap. Masyarakat menganggap bahwa menggunakan genteng adalah tabu, oleh karena itu atap menggunakan bahan ijuk. Daun tepus di biarkan terbuka berbentuk lembaran dan saling dikaitkan satu dengan yang lain (ditali), kemudian jika daun-daun tepus tersebut telah membentang membentuk lembaran yang besar barulah ditumpuk dengan ijuk hitam. Untuk saluran drainase di Kampung Naga ini, air hujan yang jatuh dari tritisan/atap langsung dialirkan melalui jalan yang ada di depan dan belakang rumah. Jadi selain sebagai sirkulasi dan akses menuju rumah, jalan ini juga digunakan sebagai saluran drainase untuk mengalirkan air ke sungai. 22

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA 4.4. Elemen Pendukung a. Tanduk

Bagian unik dari rumah tradisional di Kampung Naga adalah tanduknya yang memberikan symbol budaya masyarakat sunda. Dari segi arsitektural, tanduk ini berfungsi menyalurkan air agar tidak merembes ke dalam para (langit-langit rumah). Tanduk ini selalu ada di setiap rumah, karena merupakan cirri dari rumah kampung naga. Tetapi karena dimakan waktu, banyak rumah yang sudah tidak memiliki tanduk. b. Penerangan

Penerangan rumah di kampong naga masih menggunakan petromax. Hal ini dikarenakan belum menerima listrik dan masih menggunakan accu. Petromax ada dua jenis yaitu yang besar dan yang kecil. Jika di dalam rumah sedang melakukan kegiatan yang membutuhkan penerangan, pasti menggunakan petromax yang besar. Dan pada saat ingin tidur dan sudah tidk melakukan kegiatan lagi, lampu petromax diganti yang kecil. c. Ornament Rumah di kampung naga memiliki satu kebiasaan menaruh sesajen yang di gantung di pintu depan rumah. Mereka percaya bahwa sesajen ini akan mendatangkan kedamaian dan rejeki pada keluarganya.

23

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA d. Perabotan Rumah tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, misalnya kursi, meja, dan tempat tidur. Rumah tidak boleh mempunyai daun pintu di dua arah berlawanan. Karena menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rejeki yang masuk kedalam rumah melaui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang daun pintu, mereka selalu menghindari memasang daun pintu yang sejajar dalam satu garis. e. Tanda Angin. Seluruh bangunan rumah memiliki ciri yaitu berupa tanda angin. Tanda ini digantung di pintu depan. Menurut Bapak Ucu ini tanda ini berguna untuk menolak bala atau menolak sesuatu yang buruk/musibah bagi penghuni rumah. Tanda angin yang dipajang di depan rumah berasal dari tumbuh-tumbuhan yang didapatkan dengan beberapa syarat ritual dan dari beberapa tempat.

24

BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI KAMPUNG NAGA BAB V KESIMPULAN

Berdasarkan data dan analisa yang telah diuraikan dapat ditarik kesimpulan bahwa warga Kampung Naga sangat menjaga tradisi dan kepercayaan yang mereka anut termasuk dalam membangun rumah. Tipologi bangunan pada rumah-rumah di Kampung Naga memiliki tampak yang sama meskipun luas rumah yang satu dengan lainnya berbeda. Sedangkankan tata ruang pada rumah Kampung Naga terbilang unik yaitu dengan penempatan kamar mandi, kolam, serta kandang hewan ternak diluar area rumah. Rumah- rumah pada kampung naga juga memiliki filosofi yang unik yaitu kaki sebagai pondasi, badan sebagai bangunan tengah, dan kepala sebagai atap dengan menggunakan material bahan bangunan yang dari alam disekitar tempat tinggal mereka seperti bamboo untuk lantai dan dinding, kayu untuk rangka bangunan, ijuk untuk atap, serta penggunaan pondasi umpak yang terbuat dari batu kali. Sehingga rumah tinggal Kampung Naga dapat digolongkan sebagai rumah yang ramah lingkungan.

25