P. 1
wang yu - bocah sakti - tamat - dewikz

wang yu - bocah sakti - tamat - dewikz

|Views: 1,448|Likes:
Dipublikasikan oleh Dicky Wizanajani r
Karya Wang Yu
Karya Wang Yu

More info:

Published by: Dicky Wizanajani r on Sep 14, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.

com/

Oleh : Wang Yu

Jilid 01 -- 1 -Itulah malam menyeramkan.........

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Awan gelap menutupi bulan sisir. Kilat berkeredepan, diselingi oleh bunyinya guntur seolah-olah malam itu bakal turun hujan besar. Dalam suasana yang seram itu, ada terdengar percakapan ini : "In-ji, malam ini cuaca jelek. Kita tak usah latihan ilmu silat." "Terserah pada Liok Sinshe. Juga bukankah sinshe lagi sakit ?" "Sungguh terang otakmu, In-ji. Kau bakat menjadi seorang pandai yang selain mengerti ilmu surat juga silat sekaligus ! Ha ha ha......." "Terima kasih. Semua ini atas didikan Liok sinshe." Percakapan ini keluar dari sebuah rumah tua yang mencil sendirian di atas jurang Tong-hong gay, sebelah barat gunung Hengsan di propinsi Ouwlam. Dalam rumah itu yang diterangi dengan dua batang lilin, cukup terang, tampak duduk menghadapi meja seorang anak kirakira umur 12 tahun tengah menulis. Tidak jauh dari padanya, diatas sebuah kursi malas, ada rebah seorang laki-laki dari usia pertengahan. Kepalanya diikat setangan dan pada kedua belah pilingannya ada ditempel koyo. Orang sakit itu yang dipanggil Liok Sinshe, tabib Liok, tiba-tiba bangun dari rebahannya, jalan menghampiri si anak kecil, duduk di bangku di depannya. Anak kecil itu hentikan tulisannya, bangkit dari duduknya,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mendekati Liok sinshe. "Sinshe lagi sakit, sebaiknya Sinshe rebahan saja." kata si anak dengan roman aleman. Liok Sinshe ketawa. Ia pegang kedua tangan si bocah, lalu ditarik dan dipeluk dengan rupa yang sangat menyayang. "In-ji..." bisiknya di telinga si anak. "Ya, Sinshe," jawabnya pelan. Hening sejenak........ Lama ditunggu, belum juga Liok Sinshe menyambung katakatanya. Lo In, si anak kecil menjadi heran. Lebih terperanjat pula di kala ia merasakan pipinya hangat. Itulah air, ketika ia meraba pipinya. Dengan pelan ia melepaskan diri dari peluknya Liok sinshe. Hatinya dirasakan mencelos ketika ia mengawasi Liok Sinshe bercucuran air mata. Tapi air mukanya tetap bersenyum halus. Senyuman penuh kesayangan, yang biasa Lo In hadapi sehari-hari selama ia berkumpul denganLiok Sinshe. "Liok Sinshe, kau kenapa ?" tanyanya cepat. "Anak In (In-ji)...." kaat Liok sinshe, tidak lampias suaranya, "Sebenarnya, malam ini ingin aku menuturkan suatu kisah......." Baru sampai di perkataan 'kisah', tiba-tiba saja Liok Sinshe meniup padam api lilin hingga dalam ruangan itu menjadi

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ gelap gulita. Segera terdengar menyambarnya beberapa senjata rahasia, disusul oleh suara ketawa : "Ha ha ha, Liok sinshe mau menutur kisah si bangsat Kwee Cu Gie ! Keluar ! Mari keluar Liok sinshe, kita bikin perhitungan hutang jiwa dua belas tahun yang lampau. Ha ha ha, Kwee Cu Gie...... !" Liok Sinshe dan Lo In saat itu sembunyi di bawah meja hingga terhindar dari serentetan serangan senjata rahasia musuh yang dilepas dari jendela. Dalam keadaan biasa, musuh tidak mudah menyatroni rumahnya, membokong dengan senjata rahasia. Malam itu rupanya Liok sinshe dipengaruhi oleh cuaca buruk, membikin kupingnya yang biasanya tajam menjadi puntul. "In-ji," bisik Liok sinshe, "Yang datang itu Siauwsan Ngo-ok. Mereka punya piauw yang direndam racun yang dinamai 'Ngotok piauw', sangat berbahaya. Juga mereka sangat kejam dan telengas, maka itu, kalau sebentar aku keluar, harap kau lari selamatkan diri !" Si bocah tidak menjawab. Hanya ia pegangi kencang lengannya Liok sinshe seperti juga ia tidak ijinkan sinshe itu keluar. "Liok sinshe, lekas keluar. Apa kau takut ? Hmmm... malam ini kau harus bayar jiwanya Ngo-te. Kau sembunyi........" Tiba-tiba dari dalam rumah melesat satu tubuh keluar. Dalam sekejapan sudah berdiri berhadapan dengan si penantang yang tidak melanjutkan kata-katanya sampai di perkataan "sembunyikan......", saking kaget nampak kegesitannya orang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ itu. "Aku sudah ada disini, buat apa kau begini bawel ?" kata Liok sinshe jenaka. "Bagus, kau harus bayar jiwanya Ngo-te kami !" kata si penantang. "Kau ini aneh," sahut Liok sinshe. "Memangnya kau sudah linglung ?" Orang itu melengak dikatakan linglung. Liok Sinshe ketawa geli dalam hatinya, nampak orang itu melengak heran. "Sam-ok Cui Seng," menyambung Liok Sinshe, "aku hanya hutang satu jiwa. Kau masih ngerembengi minta ganti. Sedang kalian huta pada mereka yang anggauta keluarganya dibunuh, entah berapa puluh, tidak mau ambil pusing. Apa ini bukannya linglung perhitunganmu ? Ha ha ha........" Si Jahat ketiga, Cui Seng mendelu hatinya mendengar katakata Liok Sinshe, tajam menyindir atas kelakuan mereka yang jahat. "Sam-to, kekas beresi saja !" teriak Toa-ok Cui Peng (si Jahat no. 1). "Jangan kasih calon bangkai itu banyak omong !" sambung Jiok Cui Kin (si jahat ke-2). Liok Sinshe awas matanya, ia perhatikan sekitarnya. Nyata

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ selain empat musuhnya yang sudah mengurung, ia dapat lihat masih ada beberapa orang lagi yang berdiri sedikit jauh dari mereka. Kalau tadi ia bersenyum-senyum saja menghadapi empat lawannya, kini setelah dapat tahu musuhnya ada bawa bala bantuan, tampak ia kerutkan keningnya. "Pantas kalian berani datang, kalau kalian bawa bala bantuan" kata Liok Sinshe jenaka. Ia sama sekali tidak gentar kelihatannya. "Hm !" Toa-ok Cui Peng mendengus. "Kau takut ? Aku bisa kasih kelonggaran padamu. Nah, kau berlutut sekarang, mengangguk sepuluh kali dihadapan kami kemudian membunuh diri sendiri. Dengan demikian, kau dapat selamatkan kematianmu dengan tubuh utuh.........: "Kentut busuk !" memotong Liok Sinshe. "Dengan turutnya dua ekor imam busuk dan sebuah kepala gundul bau dalam keramaian malam ini, apa kalian kira aku tinggal lari ? Kalian salah hitung, Siauwsan Ngo-ok !" Suaranya Liok Sinshe dibikin nyaring ketika menyebutkan 'dua ekor imam busuk' dan 'sebuah kepala gundul', hingga orangorang yang bersangkutan mendelik matanya saking menahan amarahnya. Memang, malam itu kedatangan Siauwsan Ngo-ok (Lima orang jahat dari gunung Siauw san) dikawal oleh Tiat Cie Hweshio Hong Hui (si Hweshio Jari besi) dan Tui-Beng Kiam Siong Leng Tojin (si pedang Pengejar Jiwa) bersama adik

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ seperguruannya, Jin Leng Tojin yang bergelar Pek-houw-kiam atau si Pedang Macan Putih. Ketiga orang suci ini, ada jago-jago kelas satu dalam rimba persilatan. Cuma sayang sekali, mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang nyeleweng dari tujuan agama hingga menimbulkan kemarahan diantara jago-jago pembela keadilan. Diantaranya mereka bentrok dengan Liok Sinshe dimana telah terjadi pertarungan hebat. Kesudahannya mereka dapat dipecundangai. Sejak mana mereka menaruh dendaman hati, mereka meningkatkan kepandaiannya untuk mencari balas pada lawannya. Kawanan orang-orang jahat dari Siauwsan habis sabar mendengar kata-katanya Liok Sinshe. Mereka anggap orang terlalu menganggap enteng. Lekas juga Toa-ok Cui Peng hunus goloknya dan mulai buka penyerangan. Tadinya Liok Sinshe hendak melayani si Empat Jahat dengan tangan kosong, tapi melihat ada backingnya, tiga jago kelas berat, maka ia rubah niatnya semula. Maka begitu Toa-ok membabat goloknya mengarah leher, ia mendak berkelit. Ia tidak balas menyerang, sebaliknya ia lompat menerjang pada Su-ok (si Jahat ke-4) yang baru saja akan menghunus pedangnya. Gerakan Liok Sinshe gagal untuk merampas pedang Su-ok Cui Tie. Sebab barusan saja ulur tangannya, tiba-tiba goloknya Cui

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Seng menyelak, membacok untuk tolong saudaranya. Su-ok Cui Tie yang mencekal pedang dengan tangan kiri karena lengan kanannya kutung tempo hari ditabas pedangnya Liok Sinshe menjadi sangat gusar. Musuhnya mau merampas senjatanya. Sambil putar pedang, ia menyerang hebat membantu saudarasaudaranya yang mengepung Liok Sinshe. Ia sangat gemas pada musuhnya yang sudah membuat dirinya cacad. Nekad ia untuk menuntut balas. Dengan jurusnya 'Tong-cu-ci-louw' -- 'Bocah menunjukkan jalan', pedangnya menyambar ke arah tenggorokan orang. Hebat serangan ini karena dilakukan dengan cepat. Tapi Liok Sinshe ada lebih cepat pula, ia berkelit sambil memutar tubuh untuk terus lompat tinggi menghindarkan serangan Toa-ok Cui Peng yang menggunakan tipu 'Hui-hong-sauw-yap'--'Angin puyuh menyapu dedaunan'. Goloknya yang tajam dua muka, membabat kaki Liok Sinshe dari kiri ke kanan. Sungguh mengerikan. Kalau saja Liok Sinshe tidak sangat gesit, kakinya akan tertabas kuntung tanpa ampun lagi. Belum kakinya Liok Sinshe menginjak tanah, sudah datang serangan golok Sam-ok Cui Seng yang mengarah kaki lagi. Si jahat ketiga itu pikir kali ini ia tidak bakal luput goloknya membacok kai musuh sebab Liok Sinshe masih belum menginjakkan kakinya ditanah. Cara bagaimana ia dapat berkelit ? Tapi perhitungan Cui Seng meleset. Tampak tubuhnya Liok Sinshe berputar, berkelit tanpa menginjak tanah hingga ia

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ lolos dari bahaya. Suatu gerakan yang indah sekali yang dinamani 'Yan-cu-tengkong' atau 'Burung walet mumbul di udara' yang membuat empat lawannya menjadi melongo saking heran. Pikirnya, musuh begini liehai, apa mereka nanti berhasil menuntut balas untuk menuntut kematian saudaranya yang kelima ? Hanya sejenak mereka bersangsi, sebab mereka segera mengurung lagi. Liok Sinshe yang perhatikan gerak gerik orang, dapat tahu lawan-lawannya agak jeri untuk melangsungkan pertandingan. Inilah suatu keuntungan bagi lawan yang sudah unggul. Ia tertawa gelak-gelak, lalu berkata : "Kalian percuma mengepung aku. Hayo undang itu si kepala gundul bau dan dua imam busuk, bantu kalian mengerubuti aku !" "Sungguh temberang !" terdengar suaranya Tui-beng-kiam Siong Leng Tojin. "Undangan sudah datang, tidak baik kalau ditempuh. Mari, mari kita maju !" Ajakan itu disusul dengan majunya ia dalam kalangan pertempuran, diikuti oleh Pek-houw-kiam Jin Leng Tojin. "Ha ha ha ! Kwee Cu Gie, saat mampusmu sudah diambang pintu. Masih bersikap jumawa ? Ha ha ha h...!" teriak si Hweshio (pendeta) Jari Besi Hong Hui sambil jalan mengikuti di belakang dua imam kawannya. Di lain saat, tampak Liok Sinshe sudah dikepung oleh tujuh musuhnya. "Liok Sinshe," kata Siong Leng Tojin, suaranya mengejeki,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kau mau tinggalkan pesan apa, sebelum berangkat mati ?" Liok Sinshe tidak menjawab, ia hanya kerutkan keningnya. Otaknya bekerja, pikirnya, menghadapi Siauw San Ngo-ok, meskipun dengan tangan kosong tidak menjadi soal baginya. Tapi sekarang ia harus menggempur tujuh musuh, tiga diantaranya ada jago-jago keals berat. Tanpa senjata bagaimana ia dapat melayani mereka ? Diantara empat pengepungnya tadi, Ji-ok Cui Kin kelihatan agak jeri terhadapnya. Sedang senjata pedangnya itulah yang paling tajam diantara senjata-senjata saudaranya. Mungkinkah karena kakinya tinggal sebelah, sebab dahulu dikutungi olehnya hingga ia tidak dapat leluasa bergerak ? Bagaimanapun, pikir Liok Sinshe, ia harus waspada terhadap Ji-ok yang cara melepas piauw beracunnya paling pandai diantara saudara-saudaranya yang lain. Matanya melirik pada Ji-ok yang berdiri di samping kirinya Toa-ok. "Bagaimana ?" tegur Siong Leng Tojin, sikapnya jumawa. "Memang aku mau tinggalkan pesanan," sahut Liok Sinshe. "Nah, lekas bicara !" girang Siong Leng Tojin. "Sebentar, kalau tanganmu putus, harap kau jadi orang baik selanjutnya......" Liok Sinshe berkata seraya tersenyum. "Sret !" tiba-tiba Siong Leng Tojin menghunus pedangnya. "Kurang ajar, kau berani main gila ? Rasakan pedangku ini ?"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ teriak Siong Leng Tojin, hatinya panas. Ingin sekali ia tabas tubuhnya Liok Sinshe kutung dua. "Eh, nanti dahulu !" kata Liok Sinshe, sambil berkelit dari tikaman pedang Siong Leng Tojin, "Aku masih belum bicara habis." "Manusia hina, tak usah kau banyak pernik !" teriak Siong Leng Tojin penuh kemurkaan. Serangannya pun dilakukan saling susul tidak memberikan ketika kepada lawannya yang melayani ia dengan tangan kosong. Liok Sinshe berlaku tenang, meskipun kelihatannya ia repot menghindari serangan lawan yang bertubi-tubi. Dengan mengandalkan kegesitannya, Liok Sinshe melayani Siong Leng Tojin. Dalam tempo singkat saja, pertempuran sudah berjalan tiga puluh jurus tetapi Siong Leng Tojin masih belum bisa berbuat apa-apa atas lawannya yang bertangan kosong. Diam-diam ia kagumi ilmu entengi tubuh musuh yang sampai sebegitu jauh ia belum dapat menyentuh walaupun hanya bajunya saja. Kenapa yang lain-lain berdiri diam saja, tidak datang mengeroyok ? Itu ada sebabnya. Siong Leng Tojin orangnya sangat temberang, memandang rendah siapa juga. Ia anggap dirinya adalah jago pedang nomor wahid di dunia. Apalagi sekrang ilmu pedangnya sudah meningkat, sejak pada dua belas tahun yang lalu dipecundangi Liok Sinshe. Ia

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ anggap sekarang Liok Sinshe sudah bukan tandingannya lagi. Maka ketika Siauw-san Ngo-ok minta bantuannya, ia majukan satu syarat ialah kalau ia bertempur dengan Liok Sinshe, yang lainnya berdiri menonton saja dahulu sampai ia kasih kode "turun tangan", barulah dilakukan pengeroyokan. Imam sombong ini ingin menjatuhkan Liok Sinshe dengan kepandaiannya sendiri. Kalau tadi ia mendesak lawannya, selewatnya tiga puluh jurus, pelan-pelan ia berbalik kedesak hingga si Pedang Pengejar Jiwa jadi kelabakan. Melihat si iman sudah kedesak, kawan-kawannya ingin lantas turun tangan. Tapi masih juga belum dapat tanda dari Siong Leng Tojin. Sampai kemudian terdengar suara 'prang !', pedangnya si imam jatuh ke tanah, sedang Liok Sinshe lompat mundur jumpalitan dengan gerakan 'Kera tua jatuh dari pohon'. "Maaf Tui-beng-kiam !" kata Liok Sinshe seraya kedua tangannya diangkat menyoja kepada Siong Leng Tojin yang saat itu berdiri bagaikan patung. Tak dapat ia berkata-kata, hanya matanya saja melotot mengawasi musuhnya. Semua orang tercengang dengan kesudahan pertempuran itu. Meskipun sudah terdesak, tidak semudah itu Siong Leng Tojin dijatuhkan lawannya. Ini karena salahnya sendiri. Adatnya yang berangasan tak dapat mengendalikan kemarahannya, ingin cepat-cepat ia menjatuhkan lawannya. Ia menggunakan jurusnya yang paling baharu, 'Ouw in hoan hui' --'Awan hitam bergulung-gulung', pedangnya dibulang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ baling cepat ke arah muka lawan untuk membuat mata orang kabur penglihatannya, kemudian menusuk laksana kilat ke arah tenggorokan. Sudah berapa banyak ia bikin terjungkal lawannya dengan ilmu pedangnya ini. Tapi menghadapi Liok Sinshe ia mesti bayar mahal. Liok Sinshe ada terlalu gesit, hebat ilmu entengi tubuhnya, penglihatannya tidak jadi kabur oleh bulang baling pedangnya. Maka ketika pedang menikam ke arah tenggorokannya, dengan sebat Liok Sinshe berkelit sambil lompat nyamping ke kiri, akan dari mana sebelum Tui-bengkiam sempat menarik pulang pedangnya yang mendapat sasaran kosong, dua jari tangan kiri Liok Sinshe dengan totokan 'hong-bun-hiat', menotok jalan darah di bagian pundak lawan hingga si imam gemetaran tangannya dan dengan sendirinya, pedangnya juga jatuh ke tanah. Dengan angkat kedua tangan, Liok Sinshe bersoja pada Siong Leng Tojin, sebenarnya Liok Sinshe ingin mengadakan perdamaian, pemusuhan sebaiknya disudahi saja, jangan ditarik panjang berlarut-larut tidak habisnya. Pikirnya, jagonya yang paling lihay sudah ia jatuhkan yang lainnya pasti akan menurut dan hentikan nafsunya untuk menuntut balas. Tapi sebelum ia membuka suara lebih jauh, tiba-tiba ia rasakan ada angin menyambar dari belakang. Cepat ia buang diri ke kanan, sambil bergulingan ia menyelamatkan diri dari serangan piauw beracun Ji-ok Cui Kin yang datang saling susul, dibarengi oleh teriakan Pek-houw-kiam Jin Leng Tojin, "Turun tangan ! Semua maju, habiskan jiwa keparat itu !" Mereka ramai-ramai memburu Liok Sinshe yang bergulingan. Dengan beberapa lompatan enteng, mereka sudah datang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dekat dan hujani tubuh lawan alot itu dengan bacokan, tusukan dan kemplangan. Sementara itu........ Awan gelap dari setadian, kini semakin gelap dan..... turunlah hujan besar. Orang-orang jahat itu tidak hiraukan lebatnya turun hujan, mereka bernapsu besar untuk menghabiskan jiwa musuhnya. Apalagi, musuhnya itu kini sudah mandi darah, lengan kirinya sudah kena kebacok, mereka jadi beringas ! Ia kumpul tenaganya, kemudian melejit bangun. Dengan gerakan 'Elang lapar menyambar kelinci', ia menerjang pada Ji-ok Cui Kin yang berada paling dekat padanya. Cepat Ji-ok Cui Kin menyambut dengan pedangnya. Tapi ia kalah cepat sebab Liok Sinshe punya dua jari dari tangan tangan kiri sudah menotok dengan totokan 'thian-ki-hiat', jalan darah di iga kanannya, sedang pedangnya pun lantas pindah tangan Liok Sinshe. Bagaikan harimau tumbuh sayap, Liok Sinshe sudah menyerang musuh-musuhnya tanpa ampun lagi. Ia naik pitam melihat kekejaman dan ketelengasan kawanan jahat itu ketika menghujani ia dengan berbagai senjata. Pedangnya berkelebatan di antara sinar kilat dan lebatnya hujan. Segera juga terdengar jeritan saling susul, Ji-ok Cui Kin lehernya kesabat pedang, hampir putus, Sam-ok Cui Seng rebah dengan kaki kanannya kutung, Pek-houw-kiam Jin Leng

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tojin terkulai, mendeprok di tanah, pundak kanannya berlumuran darah. Hanya ketinggalan tiga musuhnya, Tiat Cie Hweshio, Toa-ok Cui Peng dan Su-ok Cui Tie. Mereka ciut nyalinya, nampak kawan-kawannya rubuh saling susul sedang Tui-beng-kiam Siong Leng Tojin masih dalam keadaan tertotok, tak bisa diharapkan bantuannya. Hampir berbareng muncul dalam pikiran mereka, "Lari, paling selamat !" Demikian, mereka bertempur sambil melihat kesempatan. Dalam keadaan murka hingga kecerdasannya meningkat, Liok Sinshe sebenarnya tidak sukar untuk menjatuhkan tiga musuhnya. Sayang, dari lukanya di lengan kiri, muka dan punggung banyak mengeluarkan darah membuat ia letih dan tenaganya menurun banyak, kegesitannya pun dengan sendirinya agak kurang. Untung musuh-musuhnya tidak perhatikan itu. Mereka hanya memikirkan 'jalan lari' saja hingga perlawanan mereka juga tidak sepenuh tenaga. Meskipun sudah lelah, Liok Sinshe ingin takluki tiga musuhnya itu. Demikian, ketika goloknya Toa-ok Cui Peng membacok, ia tidak menangkis, hanya elakan pundaknya yang diarah. Berbareng dengan itu, pedangnya meluncur ke muka lawan dengan gerakan 'Giok li tek hoa' -- 'Bidadari petik kembang'. Satu jurus yang lihay sekali sebab sebelum Toa-ok Cui Peng dapat selamatkan mukanya, hidungnya copot kena disentak ujung pedang. Ia berkaok-kaok sambil tangan kirinya menekap

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ hidungnya yang gerumpung lumuran darah. Si hweshio Jari Besi merasa tidak ungkulan layani musuhnya yang lihai. Ia coba angkat kaki, tapi ia juga tidak luput dikasih persen tanda mata, kupingnya yang kiri di papas pedangnya Lok Sinshe. Su-ok Cui Tie dari pada ia turut lari, malah jadi lemas kakinya dan jatuh duduk. Matanya meram, mulutnya kemak-kemik seperti yang memohon Malaikat Elmaut tidak mencabut jiwanya. Sesaat kemudian ia raba lehernya, masih utuh. Ia heran, lalu membuka matanya. Kiranya Liok Sinshe sudah tidak ada disitu, ia sedang menguber si Hweshio Jari Besi yang lari ke tepi jurang. Tiat Ci Hweshio berlarian di tepi jurang dikejar dari belakang oleh Liok Sinshe. Keduanya menggunakan lari cepat (enteng tubuh). Hujan sementara itu masih turun dengan lebatnya. "Kepala gundul bau, apa kau bisa naik ke la..... Ayo !" Tiba-tiba saja Liok Sinshe berteriak, tubuhnya menyusul rubuh dan......... tergelincir masuk ke dalam jurang yang curam. Tiat Cie Hweshio heran, lalu hentikan larinya, balik menghampiri tempat dimana Liok Sinshe berteriak dan jatuh ke dalam jurang. Ia lihat jurang ada demikian dalam, diukur dari sudut ketika ia dengan kawan-kawannya mendaki Tonghong-gay, ia yakin Liok Sinshe pasti menemui ajalnya. Girang bukan main hatinya si Hweshio Jari Besi.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Hahaha !! Hahaha !" ia tertawa gelak-gelak sendirian seperti orang gila. "Hai, kepala gundul ! Kau jangan girang dahulu.....!" tiba-tiba suara orang menyelusup ke dalam kupingnya. Mungkinkah itu ada setannya Liok Sinshe ? Tiba-tiba bayangan berkelebat, keluar dari balik pohon. Tiat Cie Hweshio makin ketakutan, tubuhnya menggigil seperti yang diserang penyakit malaria. Hujan mulai berhenti, cuaca agak terang tapi suasana tetap sunyi menyeramkan dalam daerah pegunungan itu. Si kepala gundul makin menggigil, kapan pundaknya berasa ada yang tepuk dari belakang, ketakutannya meningkat dan si Hweshio Jari Besi bisa jatuh semaput kalau ia tidak mendengar suara ketawa terkekeh-kekeh, seraya berkata : "Hweshio pecundang, kau ketakutan ?" "Ah, Kim Popo, kau bikin aku kaget setengah mati. Hahaha !" tertawa si kepala gundul sambil putar tubuhnya, menghadapi orang yang jail tadi. "Apa kalian lupa dengan pesanku ?" tanya Kim Popo. Sejenak Tiat-ci Hweshio mengingat-ingat, "Ah, benar-benar aku harus mati. Aku lupa benar akan pesan Kim Popo", katanya sambil tepuk-tepuk pahanya. "Coba kalau kalian tidak mengabaikan pesanku, siang-siang si

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ keparat itu sudah menjadi makanannya kawanan ular dibawah jurang. Hihihi......." Kim Popo temberang. Adalah ketika mendamaikan pengeroyokan atas dirinya Liok Sinshe, Kim Popo diminta bantuannya juga. Ia bersedia membantu, tapi tidak mau terang-terangan menggempur Liok Sinshe, hanya dengan cara gelap ia akan menghajar musuh. Kim Popo memang ada satu nenek jagoan. Selain ilmu silatnya tinggi, orang takuti senjata rahasia beracunnya yang dinamai "touw-kut-tok-ciam' atau jarum berbisa menembus tulang' yang jarang gagal mengambil korban diwaktu ia menggunakannya. Jarum itu disimpan dalam satu bungbung mungil, ada alat rahasianya yang membikin jarum melesat. Keluarnya tidak satu-satu, tapi lima batang sekaligus, mengarah bagian tubuh si korban, atas, tengah, bawah, kiri dan kanan, hingga korbannya sukar meloloskan diri. Asal usulnya Kim Popo tidak seorang yang tahu, sekalipun siauw San Ngo-ok yang menjadi anak-anak angkatnya. Tentang cara bagaimana si Lima Jahat bisa jadi anak-anak angkatnya Kim Popo, akan dituturkan di sebelah belakang cerita ini. Kelupaan akan pesan Kim Popo sebenarnya si Hweshio Jari Besi ngebohong. Tui-beng-kiam Siong Leng Tojin, sewaktu mereka mendaki jurang Tong-hong-gay mengajari kawan-kawannya jangan meladeni pesan Kim Popo memancing Liok Sinshe ke tempat sembunyinya si nenek yang hendak membokong. Katanya itu tidak perlu, malah akan merendahkan derajat

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mereka yang sudah ada nama dalam kalangan kang-ouw. Dengan mereka bertujuh, sudah cukup untuk membinasakan Liok SInshe, malah dianggap kelebihan oleh imam itu, kapan ia ingat dirinya sendiri punya kepandaian sudah meningkat banyak. Tidak tahunya mereka dibikin kucar kacir dan Liok Sinshe binasa ditangannya si nenek tua yang membokong dengan jarum jahatnya. Liok Sinshe lihai, tidak mudah ia kena dibokong orang. Kalau saja saat itu turunnya hujan tidak mengganggu pendengarannya yang tajam. Tiat Ci Hweshio ajak Kim Popo untuk melihat kawankawannya. Sesampainya di tempat pertempuran tadi, tampak Siong Leng Tojin dan Su-ok Cui Tie tengah repot menolongi kawan-kawannya yang luka. Si imam mukanya merah, bahkan malu ketika menyambut kedatangannya Kim Popo. "Maafkan, aku sudah berlaku ceroboh, melupakan pesan Popo." Siong Leng Tojin sembari angkat tangannya memberi hormat. "Kalau tidak, tidak sampai kejadian begini," ia menyambung, matanya mengawasi kepada korban-korban yang pada rebah sambil keluarkan rintihannya, menahan rasa sakit. Tui-beng-kiam Siong Leng Tojin belum lama ia dapat membebaskan dirinya dari totokan Liok Sinshe, setelah berkali-kali ia memeras tenaga dalamnya. "Tidak apa, ini barangkali sudah takdir." sahut Kim Popo acuh tak acuh.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tui-beng-kiam dalam hatinya mendongkol melihat sikap sombong si nenek tua. Tiba-tiba Su-ok Cui Tie menghampiri Kim Popo, di depan siapa ia tekuk lututnya berkata : "Popo, sakit hati ini laksana dalamnya lautan, kalau Popo tidak tolong balaskan, bagaimana kami......." "Anak tolol !" potong Kim Popo. "Apa yang dibalas ? Musuhmu sudah mampus masuk ke jurang, sekarang barangkali tubuhnya tengah dikerubuti oleh ular-ular penghuni disitu. Hihihi !" Kaget Su-ok Cui Tie mendengar kabar itu sampai ia lompat bangun dari berlututnya. "Apa ini benar ?" ia cepat menanya. Siong Leng Tojin pun turut kaget, tidak terkecuali Toa-ok Cui Peng dan Jin Leng Tojin yang sedang merintih-rintih. "Kalau tidak percaya, kau tanya saja si kepala gundul !" jawab Kim Popo, sikapnya bangga sambil menunjuk kepada si Hweshio Jari Besi. Mereka lalu minta keterangan kepada si Hweshio, lalu ia menuturkan ketika ia diuber-uber Liok Sinshe hampir kecandak, tiba-tiba ia dengar musuh berteriak dan tubuhnya roboh tergelincir ke jurang, akibat bokongan Kim Popo dengan senjata rahasianya yang lihai. Semua jadi kegirangan, Siong Leng Tojin sambil bersenyum

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ berkata, "Dengan mampusnya si keparat itu, kerugian kita sekarang ini sudah dibayar lunas. Hahaha !" Disamping kegirangan dan rasa puas dari kawanan penjahat itu, ada yang menceles hatinya dan mengucurkan air mata mendengar berita kematiannya Liok Sinshe. Siapa gerangan orang itu ? Itulah si bocah Lo In yang saat itu mencuri dengar dibelakang sebuah batu besar, dimana ia mengumpat, menonton pertandingan yang menegangkan hatinya, Liok Sinshe dikeroyok orang banyak. Menggunakan kesempatan orang tidak memperhatikan dirinya, karena perhatian kawanan penjahat itu tengah dipusatkan pada Liok Sinshe, diam-diam Lo In sudah menyelinap di balik batu besar dimana dengan aman ia sembunyi. Dengan begitu, Lo In sudah tidak menurut nasehatnya Liok Sinshe supaya ia lari untuk menyelamatkan dirinya. Anak ini besar nyalinya. Ia sebenarnya ingin membantu Liok Sinshe, melihat orang dikeroyok. Tapi mengingat kepandaiannya masih rendah, terpaksa ia harus menahan napsu amarahnya. Lo In sudah kegirangan melihat Liok Sinshe menjatuhkan musuh-musuhnya satu per satu. Hampir ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya, kalau ia tidak ingat akan pesanan Liok Sinshe supaya ia kabur untuk menyelamatkan diri.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lo In tidak melihat dengan mata sendiri bagaimana Liok SInshe dirobohkan musuhnya dan tergelincir masuk ke dalam jurang sebab letak tempat kejadian itu ada jauh dari ia dan juga teraling oleh pohon-pohon. Meskipun ia menangis, ia masih sangsikan kebinasaannya Liok Sinshe. "Ah, dia lihai. Tidak mungkin dia binasa cuma tergelincir saja ke dalam jurang." pikir si bocah yang percaya akan kepandaian Liok SInshe. Sama dengan pikiran Lo In, terdengar Siong Leng Tojin menanya, "Popo, dia sangat lihai, mungkinkah dia menemukan ajalnya ?' "Hehehe !" Kim Popo ketawa. "Dia boleh lihai tapi racun jarum mautku, dalam tempo satu jam akan antar dia menghadap Giam-lo-ong !" Giam-lo-ong dimaksudkan adalah raja akherat. Kata-kata Kim Popo membuat Lo In kembali sedih. Air matanya yang barusan sudah berhenti, kembali mengucur. Suatu kedukaan yang belum pernah ia alami. Liok Sinshe ada terlalu baik, ramah, sangat memperhatikan sekali paanya. Sejak ia mengetahui dirinya tak berayah ibu, ia pandang Liok Sinshe adalah pelindungnya, sebagai gantinya orang tua. Sementara itu angin pegunungan meniup agak keras. Baru sekarang Lo In sadar, bahwa pakaiannya basah kuyup. Ia merasa kedinginan, tapi ia tidak menggubrisnya. Ia ingin

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menyaksikan lebih jauh tindak tanduknya kawanan jahat itu. Untuk memberikan pertolongan lebih jauh, korban-korbah pedangnya Liok Sinshe diangkut masuk ke dalam rumah. Suok Cui Tie segera pasang lilin penerangan. Dalam pemeriksaan, Ji-ok Cui Kin sudah mati dengan leher hampir putus. Entah dengan Sam-ok Cui Seng yang keadaannya tidak sadarkan diri akibat terlalu banyak mengeluarkan darah dari kaki kanannya yang tertebas buntung. Pek-houw-kiam Jin Leng Tojin masih merintih, sambungan tulang pundaknya yang kanan putus hingga selanjutnya ia tak dapat gunakan lengan kanannya ini. Toa-ok Cui Peng amat berduka, Siong Leng Tojin kertak gigi, menampak pemandangan yang mengharukan itu. Sebaliknya, Kim Popo acuh tak acuh sikapnya. Rupanya ia mendongkol pada Siong Leng Tojin yang tak mau perhatikan pesannya sehingga terjadi mala petaka itu. "Hei, kemana dia ?" berkata Siong Leng Tojin tiba-tiba, agak kaget romannya. "Siapa ?" tanya Su-ok Cui TIe. "Si bocah ! Hayo, lekas cari !" sahut Tui-beng-kiam, seraya ia sendiri lantas bertindak melakukan penggeledahan. Sementara orang repot mencari Lo In, adalah Kim Popo menggeledah orang punya laci, meja, rak, buku-buku, kopor dan lain-lain. Kim Popo seperti lagi mencari sesuatu barang.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Siong Leng Tojin merasa heran, lalu menanya, "Popo, kau lagi cari apa ?" "Urusanku aku urus sendiri, urusanmu kau urus sendiri. Buat apa banyak tanya !" sahut Kim Popo, suaranya tidak enak didengar. Siong Leng Tojin cuma bisa nyengir. Dalam hatinya ia amat mendongkol, pikirnya, "Nenek gila. Kau terlalu menghina ! Tunggu, ada satu tempo, aku bikin kau tahu rasa kelihayannya Tui-beng-kiam !" Ia kemudian keluar untuk hindarkan bentrokan dengan Kim Popo, pura-pura turut kawan-kawannya mencari Lo In sebab di dalam rumah anak itu tidak diketemukan. Kim Popo memang memandang rendah pada siapa juga, bukan hanya pada Siong Leng Tojin seorang. Adatnya aneh, cepat amrah, sedang kata-katanya kasar. Orang yang tidak mengimbangi adatnya, bicara beberapa patah dengannya, akan lantas merasa dihinakan dan menaruh dendam hati. Kim Popo aduk-aduk lagi apa yang sudah diperiksa waktu Siong Leng Tojin sudah keluar. Rupanya ia penasaran barang yang dicari belum diketemukan. "Celaka !" katanya perlahan, alisnya berdiri, marah rupanya. "Tidak mungkin bangsat itu bawa ke dalam jurang !" ia meneruskan berkata-kata sendirian.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Itulah Kim Popo yang kelihatannya putus asa, tak menemui barang yang dicari. Lalu ia jalan keluar, akan dari depan pintu dengan beberapa kali lompatan saja ia sudah menghilang meninggalkan rumah Liok Sinshe. Apa sebenarnya yang dicari oleh Kim Popo ? Ini, kejadian pada lima tahun yang lampau. Pada hari itu lepas lohor, cuaca agak mendung. Liok Sinshe jalan terburu-buru, habis mencari akar-akaran obat di sekitar Siauw-san, kuatir nanti keburu turun hujan. Ketika ia lewati pohon cemara yang besar, tiba-tiba ia merandek. Ia berdiri sejenak sambil pasang kuping. Ia dengar suara beradunya senjata, seperti ada orang yang tengah bertempur. Setelah memperhatikan sekian lama, lalu ia menghampiri tepi jurang, tidak jauh dari ia berdiri barusan. Ia melongok ke bawah, tampak sebuah lembah datar dimana ada kelihatan dua orang sedang bertempur seru. Dengan menggunakan ilmu entengi tubuhnya, ia lompat ke bawah mendekati tempat pertempuran untuk menyelidiki siapa mereka yang bertempur itu. Kiranya mereka itu ada satu nenek dan satu kakek. Si nenek menggunakan tongkat sebagai senjatanya, sedang si kakek bersenjata sebilah pedang panjang. Kenapa mereka jadi bertempur, itulah ia ingin tahu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tapi tidak menanti lama, Liok Sinshe lantas mendengar si kakek buka suara, "Apa kau sudah tidak kenal persaudaraan ?" katanya, seperti yang sudah kewalahan. "Hm !" mendengus si nenek. "Baru ada persaudaraan kalau kau serahkan barang itu !" "Itu toh bukannya hakmu ?" kata lagi si kakek. "Aku tidak perduli punya siapa, barang itu harus aku punyai !" teriak si nenek. "Ah, kau benar-benar telengas !" si kakek mengeluh. Kelihatannya ia mulai keteter, permainan pedangnya mulai kalut hingga si nenek dapat kesempatan untuk merangsek lawannya dengan serangan-serangan tongkatnya yang hebat. Melihat gelagat jelek, si kakek mecari kesempatan untuk angkat kaki. Pada saat si nenek menusuk dengan tongkatnya, si kakek menyampok, kakinya menjejak tanah akan lompat mundur, kemudian putar tubuh dan ............ lari. "Hm ! mau lari ? Lebih sukar lolos dari Kim Popo dari pada naik ke langit !" si nenek berseru, tangannya merogoh sakunya, kemudian dari tangan tangan itu melesat senjata rahasianya, lima jarum beracun menyambar berbareng. Segera teriakan ngeri terdengar, si kakek roboh ditanah, pedangnya terlempar jauh, sementara itu Kim Popo sudah berdiri di depannya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ -- 2 -"Kau mau lari dari tanganku ? Hm !" mengejek Kim Popo. "Tidak rela aku mati ditanganmu, perempuan jahat !" memaki si kakek. "Kau berani maki aku ? Nih, rasai........" sambil angkat tongkatnya hendak dipukulkan pada batok kepala orang. "Tring !" tiba-tiba terdengar suara. Tongkat besinya Kim Popo terdorong nyamping, mengemplang tanah hingga berhamburan. Selamatlah batok kepala si kakek dengan kejadian ini, tadinya ia sudah meremkan matanya untuk terima kematian. Sebaliknya Kim Popo bukan main marahnya, ia berteriak seperti orang gila, "Manusia usilan, siapa kau, lekas unjuk diri di depan Popo !" "Aku disini, Popo." Kim Popo dengar suara di belakangnya. Kaget ia, cepat ia putar tubuhnya. Di depannya tampak seorang laki-laki dengan usia kurang lebih empat puluh tahun. Mukanya putih, cakap, di atas alis kirinya ada codet sebesar jari kelingking. Rupanya bekas barang tajam mampir disitu. "Kau yang barusan main-main ?" tanya Kim Popo gemas. "Benar," sahut orang itu, sambil soja mulutnya bersenyum. "Siapa kau ?" tanya lagi Kim Popo, sikapnya galak, tangannya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sudah siap dengan tongkat besinya untuk menghajar orang usilan yang berdiri di depannya. "Aku yang rendah si orang she Liok," sahutnya tenang. Kiranya Liok Sinshe yang menolok si kakek dari bahaya pecah kepalanya. "Binatang !" teriak Kim Popo kalap. "Terimalah hadiah ini dari Popo !" Mulutnya berkata, tongkat besinya bekerja. Ia menyerang lawannya tidak tanggung-tanggung. Dengan tipu 'Tay-san-ap-teng' -- 'Gunung Agung menimpa kepala', ia kemplang batok kepala orang dengan tongkat besinya. Tapi bukan main terkejutnya si nenek. Serangannya gagal, musuhnya menghilang dari depannya. Ia celigukan mencari, panas hatinya. "Aku disini, Popo," suara halus terdengar di belakangnya. Kaget Kim Popo. Pikirnya, setan barangkali orang ini, yang bisa menghilang. Ia penasaran, tongkat besinya sudah banyak makan korban. Masa sekarang ia mesti jatuh dalam segebrakan saja ? Ia harus jaga nama, jangan sampai dikalahkan. Sebenarnya, Kim Popo sudha harus tahu diri. Ia sudah kalah jauh. Kalau lawan memang kejam, ditepuk jalan darah di bebokongnya, ia mesti terkulai jatuh duduk. Dasar Kim Popo bandel, ia masih mau nekad-nekadan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dengan jurusnya "In-li-yu-liong' atau 'Naga melayang di awan', sambil berputar tubuh, tongkatnya menyabat ke belakang mengarah iga orang. Serangan ini dilakukan dengan cepat, lincah. Tapi Liok Sinshe lebih cepat dna gesit akan lompat tinggi, mundur satu tombak. Melihat kembali sasarannya menghilang bagai setan, Kim Popo gemas. Ia lompat menyerang lagi, tongkatnya menyodok ke arah perut. Liok Sinshe berkelit sambil geser kaki kanannya, tangan kanannya berbareng menepuk tongkat yang nyelonong lewat. Tergetar lengannya Kim Popo. Ia rasakan nyeri. Hampirhampir terlepas tongkat dari cekalannya, itulah tepukan Liok Sinshe yang menggunakan tenaga dalamnya. Cepat Kim Popo empos tenaga dalamnya, untuk menghilangkan rasa nyeri. "Hehe, binatang kau, boleh jgua !" kata si nenek, seraya kerjakan lagi tongkatnya. Kali ini hendak nenamu ke arah dada. Liok Sinshe bersenyum, ia tidak berkelit, sebaliknya ketika ujung tongkat hampir sampai sasarannya, tiba-tiba ia mengebut dengan lengan bajunya yang kanan, dari bawah ke atas. Liok Sinshe hanya gunakan tenaganya tiga bagian, tapi sudah cukup membuat tongkatnya si nenek hampir terlepas lagi dari cekalannya. Angin kebutan lengan baju dirasakan si nenek menumbuk dadanya sampai rasanya susah bernapas, lengannya juga kembali dirasakan nyeri. Lawan terlalu alot, sudah seharusnya Kim Popo terima kalah.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Namun, dasar si nenek keras kepala. Ia masih mau coba dengan serangannya yang terakhir. Tampak ia melemparkan tongkatnya, matanya mendelik seram, rambutnya yang kasar hampir pada berdiri, rupanya ia sedang mengerahkan lwekang (tenaga dalam). Kemudian, kedua tangannya yang kurus macam cakar bebek diangkat, tampak kukunya seperti memanjang. Benar-benar dalam sikapnya yang menyeramkan itu, Kim Popo bisa membikin anak kecil yang melihatnya menjerit nangis dan jatuh pingsan. Liok Sinshe air mukanya tetap bersenyum-senyum, tapi ia waspada akan serangan lawan yang hebat dengan pengerahan tenaga dalam sepenuhnya. Si kakek yang rebah di tanah empas empis, masih sempat membuka matanya, kaget bukan main ia melihat si nenek kerahkan tenaganya untuk melakukan serangan maut. "Awas !" teriaknya kepada Liok Sinshe. Berbareng dengan perkataan "Awas !", Kim Popo sudah menerjang sambil berseru menyeramkan, "Binatang, aku akan adu jiwa denganmu !" Dengan gerakan 'Beng-houw-pok-ye' -- "Harimau liar menerkam kambing', ia lompat menerjang musuhnya. Kedua tangannya mencengkeram kepada lawan, dadanya Liok Sinshe pasti remuk oleh karenanya kalau serangan itu menemui sasarannya. Si orang she Liok tidak takut. Ia bergerak sedikit, kedua tangannya diulur untuk menyambuti. Ia gunakan tenaganya empat bagian yang keras untuk lawan keras. Kim Popo tahu juga bahaya. Cepat ia tarik pulang kedua tangannya untuk

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mencegah bentrokan. Ia tidak mau tangannya bentrok dengan tangan musuh yang unggul banyak tenaga dalamnya. Serangannya berganti, tangan kanannya diputar lalu dua jarinya, telunjuk dan tengah bagaikan kilat nyelonong hendak mengorek sepasang mata lawannya. Namun, Liok Sinshe sekarang tidak mau kasih si nenek banyak tingkah lagi. Sambil elakkan kepalanya ke kanan, tangan kirinya bekerja. Jarinya menyentil dua jari si nenek di bagian jalan darah tiong-ciong dan siang-yang. Segera terdengar jeritan melengking, mengalun di sekitar lembah itu. Itulah jeritan Kim Popo yang kesakitan, jari telunjuknya kena disentil. Ia rasakan sakit sekali menyelusup ke ulu hati, panas rasanya. Berbareng dengan melengking jeritannya, kakinya menjejak tanah, lompat ke belakang, menjauhkan diri dari lawannya, kemudian berkata, "Binatang, lain kali kita jumpa lagi." Setelah mengucap demikian, Kim Popo putar tubuhnya. Dengan beberapa lompatan tubuhnya sudah menghilang dari pemandangan. Oleh karena jeri terhadap kelihaiannya Liok Sinshe, maka ketika Kim Popo diminta bantuannya oleh Siauw-san Ngo-ok dan kawan-kawannya untuk mengeroyok si orang she Liok, ia tidak mau menempur orang dengan berterang, hanya bersedia membantu dengan jarum mautnya, membokong dari tempat sembunyi. Tidak ia sangka bahwa rencananya itu dibikin kacau oleh si imam sombong Siong Leng Tojin.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kenapa dalam pertempuran satu sama satu tadi dengan Liok Sinshe si nenek tidak menggunakan jarum mautnya ? Meskipun keras kepala, Kim Popo punya perhitungan akan untung rugi. Demikian ia lihat musuh sangat lihai, juga tidak mencelakakan dirinya, ia sangsi untuk menggunakan senjata mautnya. Pikirnya kalau ia berhasil, tidak jadi soal. Tapi kalau gagal, apakah Liok Sinshe tidak jadi naik pitam ? Ia sadar, kalau mau dengan mudah Liok Sinshe dapat ambil jiwanya bagaikan orang yang membalik tangannya. Kalau si nenek tinggalkan perkataan 'lain kali kita jumpa pula', itulah hanya untuk tolong mukanya dari perasaan malu. Liok Sinshe melambaikan tangannya dengan senyum dikulum, ketika Kim Popo ambil 'selamat berpisah', kemudian putar tubuhnya menghampiri si kakek dalam keadaan dekat mati. Terkejut Liok Sinshe ketika memeriksa si kakek, dua jarum beracun sudah menembusi bagian pundak dan bebokongnya. Pada bagian-bagain itu sudah jadi hitam, menjalar ke bagian lagin dari tubuhnya, mungkin racun jarum sudah menembusi tulang. Ketika Liok Sinshe celentangi si kakek, sesudah periksa bebokongnya, kepalanya rebah dilengannya. Keadaannya sudah payah. Matanya meram terus. Liok Sinshe terharu melihatnya. "Kejam...." Liok Sinshe kata dalam hatinya. Ingin ia menolongi si kakek, namun apa daya ? Racun jahat sudah menjadi satu dengan darahnya. Tapi bagaimana pun juga, ia ingin coba dengan obat pilnya yang mustajab. Taruh kata si korban tak dapat tertolong jiwanya, ia masih akan dapat keterangan tentang siapa dirinya si kakek, manakala ia dapat menyadarkannya dengan pertolongan obatnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ketika tangannya hendak merogoh sakunya, tiba-tiba matanya si kakek dibuka. Liok Sinshe kegirangan. "Terima kasih atas pertolonganmu." berkata si kakek, suaranya lemah. "Kau siapa, lotiang ?" tanya Liok Sinshe. "Kau kenal dengan Kwee Cu Gie ?" kakek itu tidak menjawab pertanyaan Liok Sinshe, ia balik menanya malah. Liok Sinshe kerutkan keningnya. "Dia ada satu tayhiap." kata si kakek lagi, tidak menanti jawabannya Liok Sinshe. "Dia seharusnya memiliki barang mustika yang kubawa. Tolong kau kasihkan ini padanya." Tangan kanannya digerakin, maksudnya hendak merogoh kantongnya. Tapi sia-sia ia gerakan karena tangan itu sudah lumpuh. "Kau siapa, lotiang ?" Liok Sinshe ulangi pertanyaannya. "Aku....aku... She Kong..... ah....." kepalanya lantas saja terkulai. Liok Sinshe terharu menyaksikan kematiannya si kakek she Kong, air matanya mengembang. Pikirnya, si kakek ini menyebut nama Kwee Cu Gie, dimana ia kenal Kwee Cu Gie ? Barang apakah yang hendak dihadiahkan kepada Kwee Cu Gie ?

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pelan-pelan tangannya Liok Sinshe merogoh kantongnya si kakek. Ia keluarkan isinya. Tidak ada apa-apa selain perak hancur dan sebuah buku kecil yang sudah kumal. Kapan ia baca kalimat di buku itu, tertulis empat huruf yang sudah banyak luntur. 'Tiam hiat pit koat', terkejut hatinya Liok Sinshe. "Tiam hiat pit koat......' katanya, tidak tegas. "Dari mana si kakek dapatkan buku yang sangat berharga itu ?" ia menanya pada dirinya sendiri. Liok Sinshe bengong sejenak. Kembali dalam benaknya muncul pertanyaan, "Ada hubungan apa dia dengan Kwee Cu Gie ? Begitu sangat dia menghargakan si orang she Kwee, dengan suka rela ia menghadiahkan buku pelajaran ilmu menotok jalan darah, suatu buku 'Tiam hiat' yang menjadi rebutan masa itu dalam Bu-lim (dunia persilatan). Dan apa hubungannya si nenek dan si kakek, mengingat si kakek dalam kewalahan bertempur ada mengucapkan kata-kata, 'Apa kau sudah tidak kenal persaudaraan ? Siapa Kim Popo ? Ia tersadar dalam renungannya, ketika ia meraba si kakek tubuhnya sudah mulai dingin. Cepat ia masukkan ke sakunya buku mungil itu, uang perak ancur ia masukkan pula ke dalam kantongnya si kakek. Setelah mana, dengan menggunakan pedangnya almarhum ia mulai menggali lubang, ke dalam mana di lain saat mayatnya si orang she Kong dimasukkan dan dikubur rapi. Liok Sinshe gantung pedang si kakek di pinggangnya. Pikirnya, pelan-pelan ia mau selidiki si kakek dan akan mengembalikannya. Sebelum angkat kaki, ia soja depan kuburan si kakek, mulutnya kemak kemik, entah apa yang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dikatakannya. Setelah mana, ia mendengak. Lihat cuaca memburuk dan segera akan turun hujan kelihatannya. Ia lalu gerakan kakinya untuk dengan ilmu entengi tubuh 'Pat pou kan siam' atau 'Delapan tindak mengejar tenggeret', ia meninggalkan tempat itu. Liok Sinshe tidak tahu kalau gerak geriknya diintip orang. Itulah Kim Popo yang balik lagi dengan diam-diam. Ia penasaran untuk dapatkan barang dari tangan si kakek diganggu orang. Lari belum jauh, ia putar tubuhnya kembali ke tempat tadi. Cuma ia tidak berani datang dekat. Diatas, dari jarak beberapa tombak, ia memasang mata atas gerak gerik Liok Sinshe. Gusar bukan main si nenek di waktu melihat Liok Sinshe memegang buku yang bentuknya mungil yang kemudian dimasukkan ke dalam sakunya. Itulah justru barang yang ia arah dari si kakek. Sekarang barang itu sudah berada di tangan orang lihai. Bagaimana ia dapat mengambilnya pulang ? Dari marah ia menjadi lesu, hanya melongo mengawasi orang berlalu dengan ilmu entengi tubuh. Untuk menyusul, menguntit, ilmu entengi tubuhnya dibawah Liok Sinshe. Dengan perasaan sakit hati, ia turun ke bawah untuk ambil pulang tongkatnya kembali. Mulutnya bergerak-gerak dan matanya melotot pada kuburannya si kakek seolah-olah ia sedang mencaci maki si orang she Kong. Saking gemas malah, ia sudah kemplang tiga kali kuburannya si kakek, akan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kemudian dengan uring-uringan ia berlalu dari tempat itu. Belum berapa jauh, ia rasakan hujan mulai gerimis. Ia cepati jalannya untuk mencari tempat meneduh. Dari kejauhan, jalannya ke selatan. Ia melihat ada bangunan rumah berhala. Ia lari ke sana, untuk meneduh, menyingkir dari serangan hujan besar yang saat itu sudah mulai turun dengan lebatnya. Ketika ia datang dekat, hatinya merasa heran melihat rumah berhala itu dijaga oleh banyak orang yang bersenjata tajam. Orang yang keluar masuk juga pada bawa senjata masingmasing. Ada apa gerangan disitu. Ia jalan terus ke sana, sampai tiba-tiba ada yang menegur dibalik satu pohon, "Hei, nenek tua, kau mau kemana ?" Kim Popo menoleh, dilihatnya ada dua orang bermuka bengis tengah mengawasi kepadanya. Kim Popo yang adatnya aneh, cepat marah, menjadi tidak senang. "Apa mentang-mentang kalian bawa golok, begini caranya menegur seorang tua ?' sahutn si nenek, tidak enak dilihat mukanya yang kehujanan. Dua orang jaga itu, yang satu tinggi kurus, temannya gemuk pendek berewokan. "Kita tanya benar-benar, bolehnya dia marah. Hahaha !" kata si gemuk pada kawannya. "Hmm !" mendengus Kim Popo. Matanya pelototi si gemuk, kakinya bergerak. Ia mau jalan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ terus, tapi si kurus menghadang cepat-cepat. "Nenek tua, kau jangan tidak tahu diri !" bentaknya, seraya goloknya dilintangkan di depan Kim Popo, menghalangi untuk berjalan. "Trang !" segera terdengar golok di kemplang tongkat. "Aiyoo !" si kurus berteriak, sambil tangan kirinya memegangi lengan kanannya yang dirasakan sakit bukan main, goloknya jatuh nancap di tanah. Ia merintih teraduh-aduh, mukanya pucat mengawasi Kim Popo yang tampak tertawa terkokohkokoh. Si gemuk bengong sejenak, melihat kawannya dikerjai si nenek. Dengan gusar ia menyerang Kim Popo dengan goloknya. Sayang, tenaganya besar tapi tidak ada 'isi' (pandai silat). Maka satu tangkisa keras dari tongkatnya Kim Popo cukup bikin ia berkaok-kaok persis macam kawannya tadi. Lengannya gemetaran, sakitnya bukan main nyelusup ke jantung. Si nenek setelah mendupak si gemuk, sampai meloso mencium lumpur, lalu angkat kaki pergi. Melihat itu, si kurus masih sempat kasih tanda 'bahaya' pada kawan-kawannya dengan suitannya. Sebentar saja dari balik beberapa pohon keluar orang-orang jaga dengan golok terhunus, mencegat jalannya Kim Popo. "Kurang ajar !" maki Kim Popo dalam hatinya. "Kalian kalau tidak dikasih hajaran, memang tidak kenal kelihaian aku si nenek." Lalu dengan ilmu entengi tubuh, ia kelit sana sini dari bacokan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ orang-orang yang merintangi jalannya. Tongkatnya yang berat enam puluh kati berkelebatan diantara hujan lebat. Teriakanteriakan mengerikan terdengar saling susul dari orang-orang yang menjadi korban tongkatnya yang berat itu. Banyak korban jatuh, sedang si nenek dengan seenaknya jalan berlenggang menghampiri kuil yang dijaga ketat. Orangorang jeri melihat si nenek demikian lihai, maka mereka pada minggir dan di lain saat si nenek sudah ada dalam kuil. Tapi, sebelum ia bertindak lebih jauh, dari jurusan pintu, satu orang tinggi besar menghadang di depannya. "Hehe ! Masih ada juga yang minta dikemplang !" jengek Kim Popo. "Kau boleh bertingkah di antara orang-orang kami yang tidak berguna, tapi di depanku, hmm !" kata si orang tinggi besar, sikapnya jumawa. Kim Popo sebal melihat tingkahnya. "Jadi, kau mau apa ?" bentaknya keras. Sementara menanya, matanya Kim Popo jelalatan melihat ke sekitar ruangan. Kiranya kuil itu adalah rumah berhala tua, rupanya sudah tidak diurus lagi karena disana sini tampak banyak rusak dan bocor. Sejauh yang dapat ia lihat, di sebelah dalam ada duduk dua orang menghadapi meja, satu bermuka berewokan, tengah mengusap-usap brewoknya yang tebal, satunya lagi bermuka bengis, berhidung panjang. Di samping dan belakang mereka ada berdiri beberapa orang dengan senjata di tangan masing-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ masing, siap untuk digunakan. Di depan mereka ada dua orang tengah berlutut dengan masing-masing kedua tangannya di ikat ke belakang. Entahlah, apa yang sudah terjadi. Tapi dari pemandangannya, Kim Popo dapat menduga bahwa si berewokan dan si hidung panjang tengah memeriksa dua orang yang berlutut dengan tangan ditelikung. Si orang tinggi besar yang mencegat Kim Popo tertawa gelakgelak, sebelum menjawab pertanyaan Kim Popo yang menantang. "Nenek tua, kau kenali aku siapa ?" ia malah balik menanya. "Di lihat romanmu, kau ini bukan orang baik-baik". jengek Kim Popo ketus. "Nenek celaka !" teriak si tinggi besar. "Buka matamu dan kenali, aku ada sam-taunia dari gunung Siauw-san !" Dengan menyebut 'sam-taunia (pemimpin ketiga) dari Siauwsan' si orang tinggi besar kira orang akan jadi kaget, tubuhnya gemeteran karena itulah Sam-ok Cui Seng, si Jahat ketiga yang tersohor paling bengis dan telengas diantara si Lima Jahat dari Siauwsan (Siauwsan Ngo-ok). Sam-ok Cui Seng ternyata salah hitung. Si nenek bukan gemetaran, sebaliknya tertawa terpingkalpingkal. Mendelu bukan main hatinya Sam-ok Cui Seng.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Apa yang kau ketawai, nenek gendeng ?" bentaknya. "Tepat dugaanku, kau ini orang jahat !" sahutnya kontan. Sam-ok Cui Seng tidak tahan meluap amarahnya. Dengan 'Elang lapar menyambar kelinci', ia menubruk Kim Popo. Tangan kanannya mencengkeram dada, sedang tangan kiri bekerja untuk merebut tongkat si nenek. Cepat gerakan itu dilakukan Sam-ok Cui Seng hanya sayang ia kalah cepat. Bukan saja tongkat si nenek gagal direbut, malah kepalanya hampir pecah digaplok tangan Kim Popo yang keras, kalau saja ia tidak keburu mengelakkan kepalanya. Sam-ok Cui Seng terkejut serangannya gagal, malah kepalanya hampir digempur pecah. Ia lompat mundur, mengawasi si nenek yang ketawa haha hihi. Sambil menunjuk dengan tongkatnya, Kim Popo berkata, "Badanmu memang tinggi besar, menyeramkan tapi tidak ada 'isi'. Buat main-main dengan Kim Popo, kau bukan tandinganku. Lekas kumpulkan saudara-saudaramu untuk mengerubuti aku !" Bukan main gusarnya Sam-ok Cui Seng ditantang demikian. Pikirnya, mungkin barusan ia kurang cepat gerakannya lantaran terlalu enteng memandang lawan. Ia penasaran, cuma sangsi kalau ia lawan si nenek dengan tangan kosong. Maka itu ia mencabut goloknya, berkata,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Jangan temberang. Lihat golok !" Perkataan Sam-ok Cui Seng disusul dengan satu sabatan golok pada pinggang. Kim Popo ketawa terkekeh-kekeh sambil tubuhnya dengan enteng lompat tinggi mengelakkan serangan, terputar sebentaran baru turun menginjak lantai lagi. Sam-ok Cui Seng merangsek, goloknya menyerang bertubi-tubi. Ia mainkan ilmu goloknya 'Ngo-houw-toan-bun-to' atau 'Lima macan menjaga pintu'. Tidak ia memberi kesempatan untuk Kim Popo perbaiki posisinya. Tapi pengalaman bertempur, Kim Popo jauh diatas Sam-ok Cui Seng. Ilmu goloknya 'Lima macan menjaga pintu' yang belum tamat, mana dapat membuat susah pada si nenek kosen yang menggunakan ilmu entengi tubuhnya baik sekali. Kim Popo ingin mencoba tenaga dalamnya si Jahat ketiga. Golok lawan yang mengarah dadanya, ia kelit nyamping ke kanan, dari mana tongkatnya digeraki menangkis golok dari bawah ke atas dengan tipu "Lutung hitam petik buah'. "Trang !" terdengar suara bentrokan dua senjata, goloknya Sam-ok Cui Seng terlempar jauh ke atas kemudain turun lagi menghajar lantai, sehingga menerbitkan suara keras. Sam-ok Cui Seng tampak berdiri menjublak, lengannya yang barusan mencekal golok gemetaran, sakit bukan main. Matanya melotot mengawasi Kim Popo yang tengah terkekehkekeh tertawa. Sekonyong-konyong si nenek merasa ada angin menyambar dari belakang.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ia duga akan datangnya senjata rahasia. Cepat ia lompat nyamping ke kiri. Benar saja, itulah piauw beracun yang dilepas oleh Ji-ok Cui Kin. Kalau si nenek selamat dari piauw beracun, adalah orangnya Siauwsan Ngo-ok yang berdiri di depan Kim Popo menjerit dan jatuh rubuh. Ia terkena senjata piauwnya Ji-ok Cui Kin tepat sekali, tidak ampun lagi, ia roboh tidak berapa lama. Tubuhnya berkelojotan dan rohnya segera terbang. Berbareng dengan dilepas senjata rahasianya, Ji-ok Cui Kin enjot tubuhnya melesat, tancap kaki didepannya Kim Popo yang barusan saja memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang melepas senjata rahasia tadi. "Nenek tua !" bentak Ji-ok Cui Kin gusar. "Kau datang menhina kami, apa maksudmu ? Apa kau kira mudah keluar dari kuil ini setelah kau mengacau ?" Kim Popo awasi orang di depannya. Ternyata ia tidak lain adalah si hidung panjang yang duduk berduaan dengan si berewokan di sebelah dalam. Ia berdiri diatas sebelah kakinya yang kanan karena kaki kirinya kutung sebatas dengkul. "Kau yang melepaskan piauw barusan ?" tanya Kim Popo, keningnya mengkerut. "Tidak salah !" sahut Ji-ok sambil menepuk-nepuk dadanya. "Bagus !" teriak Kim Popo, tongkatnya berbareng diangkat untuk mengemplang batok kepala Ji-ok Cui Kin, tetapi Ji-ok cepat menangkis dengan pedangnya. Dua senjata saling bentur hingga meletikkan bunga-bunga api.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "He he, boleh juga tenagamu," kata Kim Popo ketika melihat pedang lawannya masih tetap tercekal ditangannya. "Sambutlah ini !" si nenek melanjutkan kata-katanya seraya gerakkan tongkatnya menyodok ke arah punya 'gudang makanan' (perut), menuju jalan darah "Liong-kek-hiat'. Ji-ok Cui Kin tidak takut. Ketika ujung tongkat sampai ia mengegos, pedangnya dipakai menekan. Kemudian diserosotin untuk memapas tangan yang mencekal senjata berat itu. Inilah gerakan yang dinamai 'Tok coa poan cu' atau 'Ular berbisa melilit tiang', satu jurus yang berbahaya sekali bagi lawannya, ialah akan terpapasnya tangannya. Melihat gelagat jelek, Kim Popo cepat tarik pulang tongkatnya, lompat ke samping kiri musuhnya, akan dari mana tongkatnya bekerja menotok pada jalan darah di iga. Serangan ini dilakukan cepat sekali hingga Ji-ok Cui Kin gugup untuk menangkisnya. Dalam bahaya dia. Tapi ada bintang penolong yang datang tiba-tiba. Itulah Toa-ok Cui Ping, si berewok tadi yang menolongi saudaranya menangkis tongkat Kim Popo dengan goloknya. Sementara itu Ji-ok Cui Kin sudah lompat menjauhkan diri. Kim Popo marah, alisnya berdiri. Ia penasaran sekali pada orang yang sudah gagalkan serangannya yang hampir berhasil Ia mengawasi Toa-ok dengan roman yang geregetan sekali. Maka tidak banyak omong lagi, ia angkat tongkatnya menyerang si berewok. "Tahan !" kata Toa-ok Cui Peng sambil berkelit dari serangan dan lompat mundur empat tindak.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Binatang, kau mau omong apa lagi ?" bentak Kim Popo kasar. Toa-ok Cui Peng angkat tanganya bersoja, katanya, "Maafkan, aku Cui Peng kurang hormat. Tapi tolong jelaskan apa sebab kau orang tua datang mengacau disini ?" "Aku mengacau ? Hm ! Kau tanya orang-orangmu sendiri tanpa sebab sudah datang mengeroyok padaku, memangnya aku orang apa ?" jawab si nenek mendongkol. Cui Peng dapat memahami duduknya kejadian. Memang kesalahan dipihaknya, orang-orangnya suka berlaku sewenang-wenang dan perbuatan meraka justru kali ini 'kena batunya' menemui si nenek kosen. Ia tidak menjawab si nenek yang balik menanya, sebaliknya ia berkata lagi, "Aku mengagumi kepandaianmu, orang tua ! Untuk menyingkat waktu, bagaimana kalau pertempuran dengan senjata dirubah dengan pertaruhan ?" "Kau mau bertaruh apa ?" tanya Kim Popo, suaranya tidak sekasar tadi. Rupanya ia measa si berewokan ini, meskipun kelihatannya bengis kasar, tiap pertanyaannya diucapkan dengan sopan santun. "Begini saja," sahut Cui Peng, "kita bertaruh dalam dua babak. Kalau aku menang, kau harus meninggalkan kuil ini tanpa syarat." "Kalau aku yang menang ?" Kim Popo memotong pembicaraan orang yang belum habis. "Kalau yang yang menangi, kami tiga saudara akan berlutut di

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ depanmu dan angkat kau orang tua menjadi ibu angkat kami. Akur !" sahut Cui Peng ketawa. Si nenek termenung sebentar. "Baiklah, bagaimana caranya bertaruh ?" Kim Popo menanya. "Babak pertama, kita masing-masing menghadapi batu besar. Siapa yang memukul lebih patah pada batunya masingmasing, dialah yang menang." menerangkan Toa-ok Cui Peng. Dan babak yang kedua, kita masing-masing menghadapi dua batang besi. Siapa yang dapat menekuk atau mematahkan, dia yang menang." Kim Popo kembali temenung. Ia tidak sadar bahwa ia tengah diliciki oleh Toa-ok Cui Peng. Si berewok memang ada ahli 'Gwakang' (tenaga luar) disamping ia mempelajari juga lwekang (tenaga dalam). Ia sangat andalkan tenaganya yang seperti raksasa. Pikirnya, si nenek yang kurus kering seperti yang kurang makan itu, pasti dengan mudah dikalahkan olehnya. Si berewok sangat licin. Ia tahu kepandaiannya Kim Popo ada di atas mereka tiga saudara dan bila si nenek dikerubuti, belum tentu mereka akan peroleh kemenangan. Pikirnya dari pada buang tempo, malah bisa-bisa mendapat celaka, lebih baik si nenek ia ajak bertaruhan untuk jurusan yang ia andalkan, yang ia percaya seratus persen Kim Popo akan tergelincir kalah hingga ia boleh angkat kaki dari kuil itu tanpa adu senjata lagi. Setelah termenung, Kim Popo berkata lagi, "Kalau kau kalah, tak usah ganti berbahasa pakai ibu segala, cukup kau orang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ memanggil 'Popo' (nenek) saja." "Bagus, kami menurut saja kau orang tua punya kemauan." jawab Cui Peng merendah sambil anggukan kepala. "Nah, kau unjukkan dimana barangnya yang hendak digunakan sebagai sasaran bertaruh." tanya Kim Popo. "Oh, itu ada di belakang kuil ini. Mari turut aku ke sana !" sahut Cui Peng. Berbareng ia berjalan diikuti oleh dua saudaranya Ji-ok Cui Kin dan Sam-ok Cui Seng, sedang Su-ok Cui Tie ada di markas besarnya, gunung Siauw-san, tidak ikut hadir dalam keramaian dalam kuil tua itu. Kim Popo turut dari belakang. Kemudian yang lain-lainnya, jagoan dibawahnya Siauw-san Ngo-ok menyusul mengikuti. Mereka kegirangan akan menyaksikan keramaian yang bakal dilihat. Sesampainya dibelakang ruangan kuil, Toa-ok dengan muka bersenyum ramah mengunjukan pada Kim Popo dimana letaknya dua barang yang bakal dipakai sasaran itu. Tampak di depan agak sebelah kiri, ada dua buah batu besar sepelukan orang. Entah berapa ratus kati beratnya. Di sebelah kanannya di satu pojokan, ada menyandar dua batang besi dari ukuran tengah dua dim dan panjangnya kurang lebih dua setengah meter. Setelah mengawasi sejenak, si nenek tampak kerutkan keningnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Matanya Toa-ok yang awas, dapat melihat perubahan ini. Dalam hatinya amat kegirangan. Sebab dengan mengunjuk sikap demikian, kelihatannya si nenek tidak mungkin akan menang dalam pertaruhannya. "Bagaimana, apakah kita boleh mulai ?" tanya si berewok. "Boleh saja, kau boleh mulai. Tapi tunggu dahulu." kata Kim Popo seraya berjalan menghampiri dua batu besar bakal sasaran itu. Ia memeriksa sambil pegang-pegang. Benarbenar batu itu kelihatannya alot. Lalu ia jalan menghampiri dua batang besi yang merupakan toya besar. Juga disini ia pegang-pegang barang itu dan memeriksa dengan teliti. Mulutnya kemak kemik seperti ada yang dikatakan tapi tidak kedengaran oleh siapa pun juga disitu. Makin kegirangan Toa-ok melihat gerak geriknya si nenek. "Marilah kita mulai." kata si berewok sambil maju menghampiri satu diantara dua batu besar itu. "Jangan sungkan, kau boleh mulai !" kata Kim Popo yang melihat Toa-ok unjuk laga seperti yang pasti akan dapat memukul belah batu itu. "Baiklah," sahutnya. Lalu dikerahkanlah tenaga luar. Kecuali Kim Popo yang sikapnya acuh tak acuh, semua orang yang ada menyaksikan disitu dan tegang hatinya, masingmasing kuatir kepala pemimpinnya gagal dalam pertaruhannya. Setelah mengerahkan tenaganya, tampak Toa-ok Cui Peng mengangkat tangannya yang kanan, dibeber

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ macam golok lalu dengan tiba-tiba tubuhnya mendak, tangannya membacok. Segera terdengar suara terbelahnya batu. Batu besar itu terbelah dua. Di susul oleh sorak ramai, gegap gempita dan seruan "Hidup pemimpin kita !". Kemudian Toa-ok Cui Peng jalan menghampiri para penonton dengan roman tertawa-tawa. Disambut oleh orang-orangnya sambil tampik sorak ramai. "Bagus." memuji Kim Popo. "Toa-taunia, hampir kau bikin aku jeri dan terima kalah. Kalau hatiku tidak mendesak untuk cobacoba." "Ah, kau terlalu merendah, orang tua." sahut Cui Peng ketawa. Kim Popo pun tertawa. Lalu ia minta salah seorang pegangi tongkatnya. Ia sendiri jalannya mendekati batu besar bagian sasarannya. Setelah datang dekat, ia berdiri sejenak lalu berpaling ke arah orang banyak. Kepalanya manggut-manggut lalu entah bagaimana ia bergerak, tangannya yang kanan tiba-tiba menggaplok batu besar itu. Terdengar suara gemuruh, batu itu ternyata hancur berantakan. Orang banyak jadi terkesima melihatnya. Mereka sangat tertegun sampai lupa bersorak sorai. Suasana menjadi sunyi sebentaran sampai kemudian Toa-ok Cui Peng yang juga terbelalak matanya keheranan sudah bisa menghilangkan rasa cemasnya dan dengan muka tertawa, ia menyambut Kim Popo yang sudah balik lagi ke tempat orang banyak berkumpul.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Orang tua, kau hebat sekali ! Kali ini kau menang. Marilah kita mulai dengan babak yang kedua." si berewok menantang seraya menghampiri dua lonjoran besi berat yang menyandar di tembok. Ia ambil satu antaranya. Besi yang berat itu ditangannya seolah-olah bambu saja entengnya. Ia putar-putar sebentar lalu berkata pada Kim Popo, "Bolehkah aku mulai, orang tua ?" Kim Popo manggut. "Kau boleh mulai, Toa-taunia." Ia menyilahkan. Toa-ok Cui Peng gunakan dengkulnya sebagai penahan besi. Tenaganya dikerahkan pada kedua tangannya dan dengkul, lalu...... besi lonjoran itu pelan-pelan melengkung dan mulai jadi bundar. Kembali terdengar tampik sorak riuh rendah dan ucapan bersemangat "Hidup pemimpin kita" beberapa kali. Malah ada yang berjingkrakan kegirangan. Ji-ok dan Sam-ok berseri-seri mengawasi Kim Popo yang tengah mengerutkan keningnya. Pikir mereka, kali ini Toakonya bakal menang hingga stand menjadi seri 1-1. Setelah melengkung hampir bundar, besi itu dilemparkan oleh Toa-ok Cui Peng dan ia kembali ke rombongannya, mukanya tersungging senyuman puas. Ia kemudian berkata pada Kim Popo, "Silahkan orang tua !" Si nenek tanpa dipersilahkan kedua kalinya, ia sudah lantas menghampiri besi berat itu. Ia pegang kemudian diputar-putar seperti Toa-ok tadi berbuat. Setelah mana, ia pegang dengan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kedua tangannya. Ia timbang-timbang, akan sebentar lagi orang lihat besi itu dilemparkan ke atas dengan kedua tangannya, terputar sebentar kemudian jatuh turun dalam keadaan melintang. Inilah ada suatu demonstrasi yang mempersonakan. Penonton tidak tahu apa yang akan dilakukan Kim Popp atas besi yang berat itu, yang jatuh turun dengan melintang. Toa-ok Cui Peng dengan dua saudaranya saling mengawasi, mata seperti saling menanya. Tidak menanti lama keputusan, sebab tiba-tiba si nenek berseru keras. Sambil lompat memapaki besi yang jatuh turun, lengan kanannya menghajar keras persis di tengah-tengah lonjoran besi itu. "Peletak !" terdengar suara barang patah. Itulah toya besar yang patah jadi dua turun jatuh ke tanah. Kali ini, saking heran dan gembiranya menyaksikan kepandaiannya Kim Popo yang istimewa, penonton bersorak riuh. Teriakan terdengar, "Hidup, hidup......." "Hidup Popo !" Toa-ok tambahkan teriakan kawan-kawannya yang kelihatan ragu-ragu untuk menyebutkan "Popo". Maka, setelah diberi contoh, lalu teriakan "Hidup Popo, hidup Popo" menggema dalam ruangan di belakang kuil tua itu yang tidak seberapa besarnya. Kini dengan hati rela, Siauw-san Ngo-ok menyerah kalah. Ketika Kim Popo balik ke tempat rombongan, tanpa ditegur, Toa-ok dan dua saudaranya yang lain telah menekuk lututnya sambil menyebut, "Popo, anak-anakmu memberi hormat dan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mengucapkan selamat panjang umur !" "Bangunlah Toa..... eh, anak-anak. Aku paling tidak suka banyak peradatan !" kata Kim Popo yang menyilakan anakanak angkatnya bangun dari berlututnya. Demikianlah ada kejadian cara bagaimana Siauw-san Ngo-ok menjadi anak-anak angkatnya dari Kim Popo. Toa-ok Cui Peng dan saudara-saudaranya kegirangan mendapat ibu angkat yang demikian kosen. Segera mereka menyuruh orang-orangnya menyiapkan satu meja makanan untuk mereka berpesta pora menghormati Kim Popo. Ketika rombongan kembali masuk ke ruangan dalam pula, Kim Popo dapatkan dua orang yang ditelikung tangannya masih ada. Ia lalu minta keterangan dari Toa-ok, siapa mereka itu. Kiranya mereka itu ada dua orang piauwsu dari Sam Seng Piauw Kiok di kota Tongkwan propinsi Siamsay. Satu perusahaan pengawalan barang yang sangat terkenal, karena pengiriman-pengiriman yang diurus oleh Sam Seng Piauw Kok hampir belum pernah gagal atau mendapat halangan di jalanan. Kim Popo tampak kerutkan keningnya setelah mendengar keterangan Toa-ok Cui Peng. Kemudian mengawasi kedua piauwsu yang berlutut sambil tundukan kepala. "Hehe, kenapa si orang she Liong pakai dua orang tidak berguna begini ?" kata Kim Popo, suaranya pelan tapi cukup kedengaran oleh dua piauwsu itu. Berbareng mereka angkat kepalanya, mengawasi pada si

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ nenek. "Kami sudah kena ditawan. mau dibunuh, boleh bunuh. Untuk apa banyak rewel ?" berkata satu diantara piauwsu itu yang mukanya persegi. Kawannya yang jenggotnya jarang, sambil tertawa sini berkata, "Tanpa perangkap belum tentu dapat merobohkan kami berdua !" "Kau bernama apa ?" tanya Kim Popo kepada si muka persegi. "Aku bernama Liok Tek Kim. Belum pernah aku menukar nama !" sahutnya. "Dan kau ?" tanya Kim Popo pada si jenggot jarang. "Aku Tan Kim Tie." jawabnya gagah. "Kau pernah apa dengan Liong Seng, pemimpin dari Sam Seng Piauw Kiok ?" si nenek tanya Liong Tek Kim. "Aku adalah keponakannya." sahutnya singkat. "Bagus." kata Kim Popo. "Sekarang bagaimana kehendak kau orang ?" "Sudah kukatakan, mau bunuh boleh bunuh. Tak usah banyak cingcong !" sahut si muka persegi, suaranya keras, hatinya tidak gentar. "Hehe." Kim Popo tertawa. "Anak-anakku, merdekakan dua

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ orang ini." Toa-ok dan saudara-saudaranya melenggak mendengar katakata Kim Popo. Tidak kecuali dengan dua orang tawanan yang ditelikung tangannya. "Tapi......ah, Popo........" kata Sam-ok Cui Seng gugup. "Merdekakan !" potong si nenek. "Aku bilang merdekakan harus turut !" Sam-ok Cui Seng melirik pada saudara tuanya seperti minta pendapat. Toa-ok Cui Peng mengedipkan matanya, kepalanya manggut sedikit, suatu pertanda saudara ketiga itu bolhe lakukan perintah si nenek. Tanpa sangsi, Sam-ok Cui Seng perintahkan orang-orangnya untuk memerdekakan dua orang tawanannya. Sekejapan saja tangan mereka sudah merdeka, tapi mereka masih tetap berlutut. "Bangun !" kata Kim Popo. "Kenapa kalian masih tetap berlutut ?' Dua piauwsu itu tidak menyahut, hanya keduanya pada tundukkan kepala. Kim Popo heran. Ketika diselidiknya, kiranya mereka sudah tidak dapat bangkit dari berlututnya karena dengkul masingmasing lemas akibat hajaran (siksaan) pada kakinya dipaksa mereka berlutut oleh Sam-ok Cui Seng. Kim Popo kerutkan keningnya. Kemudian ia suruh orang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ periksa lukanya dan diberi obat lalu diangkut ke lain ruangan dimana mereka direbahkan dan diberi pertolongan lebih jauh. "Apa memangnya Popo kenal dengan Liong Seng, pemimpin dari Sam Seng Piauw Kiok ?" tanya Toa-ok Cui Peng setelah dua piauwsu itu digotong ke lain ruangan. Kim Popo anggukan kepalanya. "Orang she Liong itu yang bergelar Tiat-gee (Si Kerbau Besi), selain ilmu silatnya lihai, dia juga ada seorang yang peramah." menutur si nenek. "Luhur budinya, suka tolong orang yang dalam kesusahan hingga dia sangat dihormati oleh lawan dan kawan. Pun pergaulannya ada sangat luas, banyak kawan-kawan atau sahabat-sahabatnya yang berkepandaian tingi di kalangan putih maupun hitam (baik dan jahat) hingga Piauw kioknya mendapat banyak kemajuan.........' "Dia toh tidak punya hubungan penting dengan Popo." memotong Sam-ok Cui Seng tidak sabaran. Rupanya ia masih menyesal dua tawanannya dimerdekakan. Kim Popo pelototi matanya pada si jahat ketiga itu. Toa-ok dilain pihak mengedipi saudaranya, hingga Cui Seng tundukkan kepala. "Aku belum bicara habis, kau sudah main potong saja !" kata Kim Popo, suaranya kaku. "Aku paling tidak suka orang potong bicaraku !" -- 3 -Si nenek yang adatnya cepat ngambul dan cepat marah,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ hampir tidak mau melanjutkan penuturannya kalau tidak Toaok yang membujuknya dengan sabar. Kiranya si nenek itu hutang budi pada Tiat-gu Liong Seng yang memberikan pertolongan di waktu ia sakit dalam sebuah hotel di Tongkwan. Si Kerbau Besi bukan saja menolong dalam hal keuangan dan pengobatan, malah dengan ramah tamah mengundang ia tinggal dalam rumahnya yang besar untuk beristirahat sampai ia sehat dan segar benar, baharu dilepaskan ia merantau lagi. Dilihat romannya yang jelek dan keriputan, ditaksir usianya Kim Popo sudah dekat mencapai tujuh puluh tahun. Namun, sebenarnya ia baharu lima puluhan. Kenapa kelihatannya jadi begitu tua, itu ada sebabnya. Mukanya yang bagus cantik telah berubah jelek keriputan akibat ia masak obat beracun yang tiba-tiba meledak menyambar ke mukanya. Mendengar ceritanya Kim Popo, Toa-ok Cui Peng manggutmanggut kepalanya. Ia merasa bertindak keliru dengan merampas barang-barang antarannya Sam Seng Piauw Kiok di bawah pimpinannya Tiatgu Liong Seng yang mulia hatinya. Di samping jeri menghadapi pembalasannya si Kerbau Besi yang banyak kawannya yang lihai, juga Ketua dari si Lima Jahat itu merasa segan pada ibu angkatnya. Maka barangbarang rampasan dikembalikan pada Liok Tek Kim dan Tan Kim Tie dengan tidak kurang suatu apa.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dua piauwsu itu mengucapkan terima kasih terutama pada Kim Popo sebab dengan datangnya si nenek itu telah membuat perubahan yang mereka tidak sangka-sangka. Ketika Liong Tek Kim menanya hal hubungannya si nenek dengan pemimpinnya, Kim Popo hanya ketawa haha hihi saja, akan kemudian ia berkata juga, "Tak usah banyak tanya. Kau nanti akan dapat tahu dari si Kerbau Besi kalau kau sudah kembali di Tongkwan." Liong Tek Kim tidak berani banyak tanya pula. Maka ia lalu siapkan orang-orangnya untuk berangkat lebih jauh, ke tempat barang-barang kiriman itu dialamatkan. Ia dan kawannya masih belum bisa jalan atau naik kuda karena kakinya masih lumpuh. Maka terpaksa ikut naik dalam kereta piauw yang mereka kawal. Sementara itu, hujan lebat pun sudah berhenti. Kim Popo diundang Toa-ok Cui Peng sama-sama pulang ke markasnya di Siauw san, tapi Kim Popo menolak dengan alasan bahwa ia masih banyak urusan yang perlu diselesaikan dan berjanji begitu sudah ada ketikanya, ia akan datang ke sana menyambang anak-anak angkatnya. Demikianlah, setelah menjamu Kim Popo sebagai kehormatan menjadi ibu angkat Siauw-san Ngo-ok, maka mereka telah berpisahan satu dengan lain. Mari kita lihat Lo In, si bocah yang dicari oleh Siong Leng Tojin dan kawan-kawannya yang dianggap ada bibit bencana kalau tidak dibinasakan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ketika Siong Leng Tojin ingat Lo In, si bocah itu waktu sedang mengintip jendela. Cepat-cepat ia jauhkan diri waktu ia dengar dirinya akan dicari di sebelah luar, menyelingkar dibaliknya sebuah pohon besar. Pemeriksaan dilakukan sangat teliti, bukan saja diatas pohonpohon karena di duga Lo In ngumpat di atas pohon, juga batu besar itu, dibelakang mana Lo In pernah mengumpat telah diselidiki dengan seksama. "Untung aku sudah tidak sembunyi disitu." kata Lo In dalam hati kecilnya, waktu melihat batu besar itu diperiksa keras. Hasilnya mereka laporkan pada Siong Leng Tojin, tak dapat mencari Lo In setelah uber-uberan dicari. Setelah mayat Ji-ok Cui Kin ditanam, mereka lalu meninggalkan tempat itu pada esok paginya terang tanah. Toa-ok jalan sambil panggul tubuhnya Sam-ok Cui Seng yang kutung kaki kanannya. Mereka tidak memusingkan kemana perginya Kim Popo sebab mereka masing-masing sudah tahu adatnya si nenek yang angin-anginan, setiap waktu ia pergi tak pernah memberitahukan bahwa ia akan pergi ke mana. Setelah keadaan aman, barulah Lo In berani memasuki rumahnya. Tampak olehnya, keadaan dalam rumah morat marit, bekas diaduk-aduk kawanan penjahat, hatinya bukan main sedihnya. Lo In dijatuhkan diri di kursi malas, yang biasa Liok Sinshe

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ rebahan, otaknya berputar, memikirkan hidupnya yang seterusnya tanpa orang melindungi dirinya. Air matanya mengembeng, sakit hatinya, tangannya dikepalkan. "Aku akan membalas dendam akan kematiannya Liok Sinshe !" ia berkata sendirian, matanya beringas dan tangannya dikepal-kepalkan. Lucu kelihatannya kalau anak kecil lagi lagi. Kapan ia ingat akan nasehat Liok Sinshe bahwa ia harus berlaku tenang jika menghadapi sesuatu urusan, biar bagaimana besar pun, maka amarahnya menjadi reda. Sebagai gantinya, kembali ia menangis, menangis terisakisak. Lo In terkenang pada masa lampau, lima tahun berselang hidup terlunta-lunta diantara anak-anak gembel di kota Lamkoan. Pada hari itu tengah bermain-main di pekarangan kuil Thian-ong-sie. Tiba-tiba pundaknya ada yang tepuk. Ketika ia menoleh, tampak seorang laki-laki berparas cakap menatap kepadanya. Di atas alis kirinya ada tanda codet seperti bekas barang tajam. Senyumannya yang menawan, telah menarik sekali hatinya. Itulah orang yang belakangan ia kenal sebagai Liok Sinshe, yang telah angkat ia dari dunia gelandangan menjadi seorang anak yang cerdas tangkas, yang melindungi dan mencintainya sebagai ganti ayahnya. Masih berbayang saat itu, mula-mula ia ketika ia bertemu Liok Sinshe.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Anak, apa kau sudah makan ?" tanyanya Liok Sinshe diwaktu itu. Lo In menggelengkan kepala. "Apa mau makan ?" tanya Liok Sinshe. Lo In mengangguk. "Mari ikut aku !" kata Liok Sinshe berbareng tangannya Lo In dipegang, diajak berlalu dari situ untuk kemudian mereka memasuki sebuah rumah makan. Lo In menurut disuruh duduk diatas bangku yang kitari meja makan. Setelah pesan makanan, Liok Sinshe berkata lagi pada Lo In, "Anak, kau begini kurus." Lo In tidak menjawab. Kepalanya nunduk, mengawasi bajunya yang kumel dan robek disana sini. "Ayah dan ibumu ada dimana ?" tanya Liok Sinshe memancing si bocah bicara. Lo In geleng kepala. "Akut idak tahu ayah dan ibu dimana." sahutnya kemudian. Sementara itu, pelayan sudah siapkan hidangan di atas meja. Lo In awasi makanan di depannya. Ia menelan ludah, mengilar dia rupanya. Liok Sinshe memperhatikan anak gembel itu, kurus dan pucat

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mukanya. Pakaiannya compang camping, hatinya merasa sangat kasihan. "Mari kita makan !" mengajak Liok Sinshe seraya mulai pegang sumpitnya. Lo In tidak perlu diundang dua kali, sebab segera ia pegang sumpit dan mulai cobai makanan yang barusan membuat ia menelan ludah saking kepingin cicipi. Ia makan banyak, malah dua kai ia minta tambah nasi. Liok Sinshe ketawa menampak perbuatan Lo In yang lucu, simpati serta gerakannya ada cekatan sekali. "Eh, namamu siapa ?" tanya Liok Sinshe. "Namaku In, orang bila aku she Lo" jawabnya, mulutnya penuh nasi. Geli hatinya Liok Sinshe melihat Lo In yang gembul makannya. "Bagus," kata Liok Sinshe. "Kau mau ikut aku ?" "Kemana ?" Lo In balik menanya. "Kemana saja." sahut Liok Sinshe. "Kita jalan-jalan melihatlihat keramaian kota diberbagai tempat." Lo In meletakkan sumpitnya, mengawasi sebentar pada orang didepannya. "Mau, aku mau !" katanya kegirangan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Demikian, sejak itu Lo In ikut mengembara dengan Liok Sinshe ke berbagai tempat, kemudian menetap diatas jurang Tong-hong-gay. Melebihi dari dugaannya sendiri, Liok Sinshe lihat kecerdikan dan ketajaman otaknya Lo In ada luar biasa. Tiap pelajaran baik surat maupun ilmu silat, belum pernah diulang sampai tiga empat kali. Paling banyak dua kali sudah cukup, ini juga kalau ruwet. Lo In ternyata ada satu anak yang jenaka, banyak menghibur hatinya Liok Sinshe dikala dalam kesunyian merenungkan nasibnya yang terumbang ambing. Semakin Lo In tambah umur, Liok Sinshe tampaknya semakin sayang pada si bocah hingga Lo In dapat mewariskan kepandaiannya Liok Sinshe salam ilmu surat dan ilmu silat yang lihai. Sayang ia masih anak-anak hingga belum dapat digembleng tenaga dalamnya, kalau tidak, ia sudah selihai Liok Sinshe, malah ada kemungkinan ia lebih gesir dan cepat lagi. Meskipun demikian, pelan-pelan Liok Sinshe memulai dengan gemblengannya tenaga dalam (lwekang). Dimulai ketika umurnya Lo In meningkat sepuluh tahun. Maka ketika ada penyerbuan dari Siauw-san Ngo-ok dengan kawan-kawannya itu adalah dikala Lo In baru dapat gemblengan lwekang dua tahun lamanya. Sebenarnya Lo In ingin membantu Liok Sinshe waktu dikerubuti. Cuma saja, selain ia ragu-ragu akan kepandaiannya sendiri, yang terutama ia takuti Liok Sinshe

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tegur dan marahi padanya, tidak menurut perintah untuk lari menyelamatkan diri. Maka juga ia tinggal mengintip nonton saja pertarungan seru itu. Ia perhatikan betul gerak gerik Liok Sinshe mempraktekkan kepandaian yang telah diajarkan padanya. Inilah yang membangkitkan nyalinya jadi besar, untuk dalam usia yang masih anak-anak kelak ia dapat menjatuhkan lawanlawan dari penolongnya (Liok Sinshe). Sekarang Liok Sinshe sudah tidak ada lagi dalam dunia, kemana Lo In harus pergi ? Apakah ia tinggal tetap saja di atas jurang Tong-hong-gay untuk meyakinkan ilmu tenaga dalamnya lebih jauh ? Pusing kepalanya Lo In memikirkan itu semua. Tiba-tiba ia rasakan perutnya bergeruyukan minta makan. "Kurang ajar, orang sedang kesusahan, ada-ada saja !" ia berkata sendirian, menyesalkan perutnya yang menyelak diantara alunan ngelamunnya. Sambil berkata begitu, Lo In bangkit dari duduknya, masuk ke ruang belakang untuk cari makanan. Sebentar lagi tampak ia sudah pegang satu potong besar kue. Sambil mengganyang ransum kering itu ia berjalan keluar. Maksud Lo In mau duduk ngelamun di atas kursi malasnya Liok Sinshe tapi sekonyong-konyong ia merandak jalan dan berdiri terpaku seperti ada apa-apa yang tiba-tiba mundul dalam ingatannya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Matahari pagi sudah mulai naik tinggi, sementara Lo In berdiri terpaku. "Tidak, tidak. Aku tidak percaya dia mati !" ia menggumam. Lo In tidak jadi menghampiri kursi malas. Sebaliknya, ia putar tubuhnya dan jalan mendekati peti obat-obatan. Ia periksa di dalamnya sudah berantakan. Rupaynya peti itu tidak menjadi kekecualian diaduk-aduk oleh Kim Popo yang mencari buku ilmu menotok jalan darah, Tiam-hiat Pit-koat. Meskipun berantakan, botol-botol kecil yang terisi obat-obat pil dan puder (bubuk) tidak sampai berceceran, semuanya masih utuh. Lalu ia ambil botol-botol terisi obat itu, semuanya ada enam botol, dimasukkan ke dalam kantongnya. Sebelum Lo In bertindak, tangannya yang kanan dimasukkan pula ke dalam sakunya dari mana ia keluarkan dua botol yang berisi pil dan puder. Tangannya diangkat tinggi-tinggi, matanya memandang tajam pada dua botol itu. Tiba-tiba ia berteriak kegirangan, "Hidup, hidup. Dia masih hidup. Ha ha ha !" Tampak si bocah berjingkrakan seperti orang gila. Apakah Lo In sudah hilang ingatannya ? Apa ia sudah jadi gila mendadak ? Kalau tidak, kenapa ia berjingkrakan sekonyongkonyong ? Tidak, Lo In tidak gila. Saking girangnya, setelah ia berpikir bahwa Liok Sinshe akan ketolongan dengan dua rupa obat ditangannya tadi, maka ia jadi berjingkrak-jingkrak. Maklumlah anak masih kecil yang kegirangannya meluap-luap. Di lain saat, kelihatan ia sudah berlari-larian menuju ke tepi

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ jurang. Tapi di tengah jalan tiba-tiba ia rem larinya, lalu putar tubuh dan balik kembali. Benar-benar lucu kelakuannya si bocah Lo In. Apa maunya Lo In balik lagi ? Oh, kiranya ia balik ke rumahnya mengambil pedangnya Liok Sinshe yang disimpan rapi di balik pintu. Itu adalah satu pedang pendek, hanya kira-kira dua kaki panjangnya ketika Lo In hunus dari sarungnya. Pedang itu tidak mengkilap sinarnya, seperti kebanyakan pedang-pedang dari jago-jago Sungai Telaga (kang-ouw), hanya kebiru-biruan kalau terkena sinar matahari. Bentuknya tidak menarik, hingga pantas sekali kalau ia menjadi penghuni dalam sarung yang sudah kumel. Entah sudah berapa puluh tahun pedang itu dipakai oleh Liok Sinshe dalam hidupnya malang melintang dalam dunia Sungai Telaga. Siong Leng Tojin dan kawan-kawannya ketika melewatkan sang malam dalam rumah itu dengan pintu terpentang. Coba kalau ketika itu, pintu itu ditutup. Pasti senjata tajam Liok Sinshe akan dibeslag, meskipun bentuknya jelek, demikian pandangan Lo In si bocah. "Kenapa Liok Sinshe pakai pedang beginian ?" tanya Lo In pada dirinya sendiri, seraya membulak balik memeriksa. Ia baru pertama kali melihat senjatanya Liok Sinshe, selama ia ikuti penolongnya itu. Yang menarik hatinya si bocah adalah bobotnya pedang itu enteng sekali, maka ia memasuki pula ke dalam sarungnya, ia gantung di pinggangnya lalu jalan mundar mandir dengan sikap perwira. Sok aksi anak itu, tapi lucu laga lagunya dasar anak-anak.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sayang Liok Sinshe tidak ada. Coba ada, tentu akan terpingkal-pingkal melihat Lo In dalam gayanya sendiri menjual aksi. Lo In dilain saat sudah berada diluar rumah, dengan di pinggangnya menyandang pedang. Bocah itu dalam usia meningkat dua belas tahun, tubuhnya kurus dan lebih tinggi dari anak-anak biasa dalam usia pantarannya. Maka, kelihatan pantas sekali pedang warisan Liok Sinshe itu tergantung di pinggangnya yang ceking. Ia berdiri sejenak di depan rumah. Matanya memandang ke sekitarnya, kemudian gerakin kakinya melangkah. Ternyata kali ini ia bukannya lari ke tepi jurang, hanya ia lari menghampiri batu besar yang semalam ia pakai sembunyikan diri. Di depan batu mana kira-kira satu tindak jauhnya, ia hunus pedangnya lalu jongkok untuk menggali tanah. Sebentar lagi, ditangannya sudah terpegang satu kotak persegi empat dari ukuran empat cun dan tinggi dua cun. Setelah dipandang, ia mau masukkan barang itu ke dalam sakunya tapi berbarang pada saat itu ia kaget dan lompat mundur mendengar suara orang ketawa di balik batu. "Hi hi hi ! Anak kecil, serahkan barang itu pada nenekmu." demikian Lo In dengar orang berkata, segera berkelebat tubuh dari balik batu, siapa ternyata ada si nenek jelek Kim Popo. Lo In kenali si nenek yang mengaku membokong Liok Sinshe. Amarahnya timbul seketika. "Nenek jahat, kau mau apa ?" tegurnya kasar. "Begini caranya kau sambut nenekmu ?" kata Kim Popo

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ seraya tertawa haha-hihi. "Mana aku ada punya nenek jahat sepertimu." ejek Lo In. "Jangan banyak cakap, bocah ! Lekas serahkan barang ditanganmu !" teriak si nenek. Kelihatannya marah bila dikatakan nenek jahat. "Kau mau ini ?" Lo In tanya sambil angkat kotak tadi ditangannya. "Mari kasih aku." Kim Popo sambil sodorkan tangannya untuk menjambret. Lo In tarik pulang tangannya. "Hmm ! Nenek jahat, tidak semudah itu !" katanya. Kim Popo rada-rada heran melihat jambretannya gagal. Sebab menurut pendapatnya, ia sudah bergerak cepat. Tapi si bocah kelihatan lebih cepat pula menarik tangannya. Ia penasaran. Ia lompat menubruk untuk merampas barang ditangannya Lo In, tapi untuk kedua kalinya ia dibuat gregetan karena Lo In sudah dapat berkelit dengan manis dari terkaman. "Bocah ini licin seperti si tabib busuk. Aku tidak boleh sungkan-sungkan lagi !" dmeikian pikirnya Kim Popo dalam hati. Segera ia gunakan tipu Ki ong pek touw atau elang lapar menyambar kelinci, dua tangannya yang berkuku runcing menyambar berbareng mencengkeram dada Lo In. Satu jurus yang agak ganas untuk digunakan terhadap anak kecil. Namun si nenek tidak memikir ke situ, ia hanya ingin menyingkat waktu, barang yang diingini itu lekas pindah dalam

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tangannya. Lo In tahu bahayanya serangan itu, tapi ia tidak takut. Pikirnya denagn ia majukan dua tangan menangkis, keras lawan keras, rasanya serangan si nenek dapat dipatahkan. Tapi Lo In lupa memperhitungkan bahwa tenaga dalamnya kalah jauh di banding dengan si nenek. Maka tidak heran ia segera rasakan kelalaiannya, ketika tangannya bentrok dengan tangan si nenek, ia rasakan dadanya tergentar dan tubuhnya terlempar jumpalitan sampai sepuluh tindak. Cepat Lo In bangun tapi dadanya dirasakan masih sesak. Si nenek, sementara itu sudah lompat maju, berdiri di depannya. "Bocah bau, kau rasakan nenekmu punya lihai,ya ?" katanya dengan suara menjengeki. Lo In tidak berani menjawab sebab ia tengah coba memeras tenaga dalamnya untuk mendorong pergi rasa sesak dalam dadanya. Begitu ia rasakan enak dadanya, tiba-tiba ia rasakan tangannya dicekal orang. "Keluarkan hayo keluarkan barang itu !" perintah Kim Popo. Tangannya si nenek yang mencekal tangannya dirasakan Lo In seperti sepitan besi. Lo In mengawasi Kim Popo dengan sorot mata benci. Melihat anak kecil itu membandel, Kim Popo tidak sabaran. "Kau masih belum mau keluarkan ?" katanya. Tangannya dipakai memencet lebih keras hingga butiran-butiran keringat

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ pada merembes keluar dari lubang-lubang tubuhnya Lo In, saking ia menahan sakit. Bandel dan keras kepala anak itu. Ia lebih suka menahan rasa sakit dari pada menangis keluarkan air mata. Matanya menyala seperti berapi, tapi meluanpnya napsu membunuh ini hanya sejenak sebab segera tampak ia kalem lagi. Pelanpelan ia merogoh sakunya dan dikeluarkan kotak yang barusan ia gali. "Nenek jahat, tuh kau boleh gegares !" kata Lo In kasar sambil melemparkan kotak yang dipegangnya. Kim Popo lepaskan cekalannya lalu memungut barang yang ia impi-impikan itu ialah buku mungil 'Tiam-hiat Pit-koat' di dalam kotak itu. "Hehe, akhirnya kau menyerah juga bocah !" kata si nenek sambil coba buka kotak tadi tapi susah terbuka seperti ada kuncinya. "Hahaha !" kedengaran Lo In tertawa tiba-tiba. "Kau ketawai apa ? Lekas serahkan anak kuncinya !" bentak si nenek. "Hahaha !" kembali Lo In tertawa. Kim Popo naik pitam. "Binatang cilik, kau main gila........!" bentaknya. "Kau kira hanya kita berdua disini ?" potong Lo In, air mukanya bersenyum.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kim Popo sudah siap menyerang Lo In tapi hatinya gentar mendengar kata-katanya si bocah, memotong bicaranya. "Memangnya ada siapa lagi ?" ia menanya. "Masih ada yang belum mati dibokong olehmu. Hahaha, si nenek jahat kena perangkap." Lo In tertawa terbahak-bahak hingga menimbulkan rasa takut si nenek meningkat. Pikirnya, apa benar Liok Sinshe tidak mati ? Celaka ia kalau benar-benar mereka menggunakan perangkap. Liok Sinshe sudah pasti tak dapat mengampuni perbuatannya yang telengas membokong orang. Melihat Kim Popo seperti yang ketakutan, menengok sana sini sambil memegangi kotak lebih erat, seolah-olah yang takut dirampas orang. Lo In berkata pula, "Nenek jahat. Kau masih tunggu apa lagi. Tidak mau lepaskan kotak ditanganmu itu ?" "Kau mau mempermainkan aku ? Kau membokong orang. Apa Liok Sinshe tidak akan menagih ?" sahut Lo In dan ia tekankan suaranya menjadi keras diwaktu menyebut 'Liok Sinshe'. Justru tekanan suara 'Liok Sinshe' itu yang membikin semangatnya Kim Popo hampir terbang seketika. Maka lantas saja ia geraki kakinya melompat kabur. Sebelum jauh, Lo In yang jail sudah ambil batu kecil dan disentilkannya, jitu mengenakan sasaran diarah atas sedikit dari kibulnya hingga dirasakan sangat sakit. Dan ini dianggap Kim Popo ada Liok Sinshe yang melakukannya hingga ia lari lebih kencang lagi. Lo In tertawa geli menyaksikan Kim Popo lari terbirit-birit ketakutan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sebenarnya tidak ada Liok Sinshe. Si nenek hanya takut bayangannya sendiri saja lari ketakutan. Tadi, ketika dipencet tangannya oleh Kim Popo, Lo In menyala matanya seperti yang mengeluarkan apai, napsu dari pembunuhan. Tapi hanya sejenak ia sudah jadi sabar lagi. Itulah ia ingat akan pesan Liok Sinshe yang berkata kepadanya, "Anak In, jika kau menghadapi sesuatu yang genting, harus berlaku tenang. Sebab ketenangan yang menimbulkan jalan pemecahan !" Kata-kata Liok Sinshe ini yang mengiang ditelinganya waktu itu hingga dari meluap amarahnya ia menjadi kalem dengan tiba-tiba. Dan kemudian timbul dalam otaknya yang cerdik suatu pikiran yang baik untuk menggertak si nenek lari tunggang langgang dengan cuma menyebut namanya Liok Sinshe. Kejadian itu ialah begitu mudah si nenek kena digertak, sungguh diluar dugaan Lo In. Sebab ia tidak tahu memang si nenek jeri betul-betul pada Liok Sinshe sebagai akibat kesudahannya pertempuran pada lima tahun berselang dimana Kim Popo dipecundangi dengan sangat mudahnya ketika si nenek hendak merampas buku rahasia ilmu menotok jalan darah 'Tiam-hiat Pit-koat' dari tangannya si kakek she Kong. Lo In kemudian menghampiri pedangnya yang menggeletak ditanah lalu memungutnya, disorong lagi di pinggangnya yang ceking. Kali ini ia tidak balik ke rumahnya hanya memutar tubuh lari ke jurusan tepi jurang. Ia berlari-larian di tepi jurang yang curam itu sampai kemudian ia berhenti disuatu tempat yang ada bekas-bekas seperti disitulah Liok Sinshe sudah tergelincir masuk ke dalam jurang.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ia melongok ke bawah. Benar-benar jurang sangat curam. Entah berapa dalamnya dan didasarnya yang merupakan lembah, apa tidak ada banyak binatang buasnya. Tapi Lo In adalah lanak yang besar nyalinya. Ia tidak takut. Ia lebih perhatikan keselamatan Liok Sinshe dari pada bahaya yang bisa mengancam pada dirinya sendiri. Dengan berani Lo In merosot turun sambil memegangi pada akar-akar rotan yang tumbuh merembet di sana sini. Pelanpelan ia terus turun ke bawah. Dengan kepandaian entengi tubuh ajarannya Liok Sinshe, ia lompat sana sini dan akhirnya sampai juga ia pada tujuannya, di dasarnya jurang. Ia celigukan ke sekitarnya. Ia dapatkan banyak pepohonan yang rindang. Mendengak ke atas, tampak tebing jurang ada sangat curam. "Bagaimana aku bisa naik ke atas nanti ?" tanyanya pada diri sendiri, melihat tepi jurang ada demikian tinggi kelihatan dari sebelah bawah. Tapi Lo In tidak mau ambil pusing hal kembali naik keatas. Yang penting ia harus mencari Liok Sinshe. Tapi dimana ia harus mencarinya ? Lekas ia gerakin kakinya, mulai mencari Liok Sinshe, orang yang sangat cintai. Pikirnya, bagaimana pun ia harus ketemukan tubuhnya Liok Sinshe, baik dalam keadaan selamat maupun sudah mati. Kita balik sebentar, melihat Kim Popo yang lari tunggang langgang ketakutan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Setelah lari jauh, ia berhenti di bawah sebuah pohon besar yang rindang daunnya, dimana ia meneduh dengan adem, menyingkir dari terik panasnya matahari yang waktu itu tengah mencorong menerangi jagat. Ia taruh tongkatnya yang berat disampingnya. Lewat sesaat ia duduk, lantas tangan kirinya merogoh kantongnya. Dikeluarkan kotak yang ia rampas dari tangan Lo In. Mukanya berseri-seri, rupanya ia sangat puas dengan pekerjaannya yang berhasil. Entah terbuat dari apa, kotak itu kelihatannya sangat kuat tapi bobotnya enteng sekali. Ia periksa dengan seksama, karena kotak itu tak dapat dibuka, ia lantas dapatkan ada sebuah lubang kecil. Pikirnya, disinilah ada lubang kuncinya. Harus ia dapatkan anak kuncinya. Kalau tidak, cara bagaimana ia bisa membukanya. Di samping kegirangan, ia mendongkol dan penasaran. Ia coba membukanya dengan paksa tapi bagaimana juga kotak tak dapat dibuka. "Sialan !" ia mengeluh. "Dengan begini aku mesti kerja lagi untuk dapatkan anak kuncinya." ia meneruskan kata-katanya sambil membanting kotak itu sekerasnya. Justru dibanting, kotak itu menjadi terbuka sendirinya. Dari dalam lompat keluar sebuah buku yang bentuknya mungil. Matanya Kim Popo terbelalak saking heran. Ia tertegun sejenak. Karena ini, ia terlambat mengambil buku yang diimpi-impikan sebab lain tangan sudah mencomotnya lebih dahulu. Itulah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tangan orang yang lompat dari atas pohon, dengan sebat sekali sudah dahului Kim Popo mencomot buku mungil yang mencelat keluar dari kotaknya. Kim Popo tercengang oleh karenanya. Kapan ia mengawasi orang di depannya, kiranya ia ada satu thauto (pendeta yang piara rambut panjang) bermuka bengis. Dua anting-anting besar yang menghias di telinganya berkerincingan kalau ia geleng-geleng kepalanya, ramai kedengarannya. Si nenek menjadi sangat gusar. "Binatang, kau berani rampas barangku ?" ia membentak sambil lompat menubruk si thauto untuk merampas pulang buku yang dicomot si thauto tadi. Tapi tubrukannyaKim Popo kecele sebab dengan elakan badannya sedikit saja, Kim Popo telah menubruk angin. Gesit sekali caranya si thauto bergerak. Tentu saja Kim Popo yang adatnya angin-anginan, marahnya menjadi-jadi. "Binatang, kembalikan barangku ! Kalau tidak, hmm !" bentak Kim Popo, hatinya penasaran barusan tubrukannya gagal. "Kau ingin dapat pulang barangmu, harus tanya dulu orangku." sahut si thauto. Kim Popo kertak gigi, meskipun giginya sudah sisa tidak seberapa lagi. "Mana dia orangmu ?" bentaknya sengit.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ini dianya..... ha ha !" sahut si thauto seraya unjuk dua kepalannya yang besar, mirip buah kelapa kata bohongnya. "Bagus !" kata Kim Popo mendelu, dadanya dirasakan hampir meledak. "Siapa bilang jelek ?" menggoda si thauto. Rupanya orang jenaka juga. Habis sabarnya Kim Popo, matanya mendelik hingga romannya tambah jelek. "Binatang, lihat seranganku !" serunya, sambil menerjang dengan tipu pukulan 'Hui heng tong lay' -- 'Angin taufan menghembus dari Timur', kepalan tangan kanannya mengarah dada disusul dengan tangan kirinya menyamber orang punya iga kanan. Cepat serangan saling susul ini datangnya tapi si thauto tidak gugup. Tangannya yang besar dibuka untuk menangkap kepalang lawan, sedang iga kanannya yang diarah dibiarkan saja menjadi sasaran totokan jarinya Kim Popo. "Aiyoo !" teriak si nenek tiba-tiba sambil lompat mundur. Si thauto tidak balas menyerang, hanya berdiri sambil terbahak-bahak ketawa mengawasi Kim Popo yang teraduhaduh seraya tangan kanannya memegangi dua jari tangan kirinya yang barusan dipakai menotok. Dengan tipu pukulan 'Angin taufan menghembus dari Timur', Kim Popo ingin sekali gebrak saja menjatuhkan si thauto yang kurang ajar. Ketika kepalannya hendak disambut dengan tangan si thauto yang besar, ia melihat bahaya, maka ia cepat

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tarik pulang. Tapi tangan kirinya ia teruskan nyelonong ke iga musuh. Pikirnya, si thauto tidak membuat penjagaan pada bagian ini, sudah pasti totokannya akan berhasil membikin lawannya terkulai rubuh. Tapi kesudahannya ada lain, si nenek telah menelan pil pahit. Dua jarinya yang dipakai menotok iga musuh dirasakan seperti menotok tiang besi, sakitnya bukan main sampai menyusup di ulu hati. Melihat serangannya gagal, maka cepat ia lompat mundur sambil berteriak "Aiyoo !", saking tak tahan menahan sakitnya. Tapi Kim Popo, dasar si nenek bandel. Kalau hanya begitu saja ia sudah mesti jadi pecundang, maka sebentar lagi setelah ia memeras tenaga dalamnya buat usir rasa sakit tadi, segera ia kembali lakukan penyerangan. "Hahaha, nenek jelek !" goda si thauto. "Masih berani melawan ?" "Kiramu mukamu bagus ?" sahutnya menjerit saking mendongkol. Kata-katanya Kim Popo disusul dengan serangan gesit. Ia keluarkan ilmu entengi tubuhnya untuk melayani si thauto yang bertubuh tinggi besar. Pikirnya, si thauto rupanya ada punya ilmu 'tiang-pou-san' (ilmu kebal). Tubuhnya keras laksana besi, maka ia harus mencari kelemahannya yaitu dibagian matanya. Demikian, setelah bertempur sepuluh jurus, Kim Popo gunakan kepalannya yang kiri pura-pura menjotos ke arah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ perut, sedang sasarannya yang sebenarnya adalah sepasang matanya lawan. dua jari tangan kanannya, telunjuk dan tengah dengan sebat meluncur akan mengorek sepasang biji mata si thauto. Serangannya ini yang dinamai 'Lo wan tou ko' atau 'Lutung tua mencuri buah'. Cepat sih memang cepat gerakannya Kim Popo, cuma sayang, kembali ia dapat kerugian. Kepalan kirinya yang purapura menjotos kena ditangkap tangan si thauto, sedang dua jari tangan kanannya belum sampai pada sasarannya, ia rasakan tenaga dorongan yang keras pada kepalannya yang kena dipegang lawan. Tenaga dorongan itu benar-benar hebat sampai ia perpelanting dan jungkir balik ke belakang. Di lain saat, ketika ia sudah dapat tancap pula kakinya ditanah, ia rasakan sekujur tubuhnya gemetaran dan dadanya sesak. Untung lwekangnya cukup tinggi hingga tidak sampai mendapat luka di dalam. Meskipun demikian, nyalinya ciut seketika. Untuk melawan lagi si thauto jagoan itu, pikirnya tidak mungkin. Maka setelah ia rasakan badannya kembali normal, ia lantas saja putar tubuhnya dan lari. Persis seperti tempo hari ia tunggang langgang dipecundangi Liok Sinshe. "Haha, nenek jelek, kau mau lari !" Kim Popo dengar suaranya si thauto. Berbareng dengan ditutup kata-katanya, tampak si thauto geleng-geleng kepalanya. Sepasang antingnya segera melesat berbareng menyusul Kim Popo. Si nenek hanya berkaok satu kali lantas kelihatan tubuhnya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ terkulai dan mendeprok di tanah. Seluruh tubuhnya dirasakan lemas. Kiranya, sepasang anting-anting dikedua telinganya itu adalah senjata rahasianya si thauto. Sungguh lihai senjata rahasia itu. Cuma dengan geleng-geleng saja, sepasang anting-anting itu meleset laksana kilat hingga membuat Kim Popo semaput jatuh di tanah. Tidak mudah menggunakan senjata rahasia yang aneh itu kalau lwekang pemiliknya tidak tinggi. Sebab barang itu baru dapat melesat dari kuping di dorong oleh tenaga dalam yang istimewa. Si thauto tertawa gelak-gelak melihat si nenek sudah tidak berdaya. Ketika matanya melirik ke tanah, ia melihat kotak tempat buku menarik perhatiannya. Maka ia lantas pungut dan diperiksa. Kemudian rogoh sakunya, keluarkan itu buku mungil, dipaskan dalam kotak. Tiba-tiba kotak itu menutup seketika hingga si thauto kaget bukan main. Entah bagaimana rupanya ada alat rahasianya yang ketekan. Maka kotak itu otomatis menutup buku yang ditaruh di dalamnya. Si thauto dari kaget menjadi ketawa girang melihat kemujijatan kotak dapat menutup sendiri. Maka ia lalu masukan kotak itu ke dalam sakunya. Pikirnya, pada suatu kesempatan ia akan membukannya nanti. Setelah mana ia menghampiri Kim Popo, memungut sepasang anting-antingnya yang jatuh tidak jauh dari si nenek dan dipakainya kembali. Thauto itu bengis romannya, menakuti tapi orangnya benarbenar jenaka.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Nenek bagus, bagaimana sekarang ?" ia menanya dengan senyum dikulum. Ia godai Kim Popo tidak lagi ia menyebut 'nenek jelek' tapi diganti jadi 'nenek bagus'. Enak kedengarannya tapi tidak enak berkumandang ditelinganya si nenek. Anggapnya ia telah disindir, maka matanya jadi mendelik. "Sudah aku berlaku murah barusan, tidak mengambil jiwamu, apa kau masih kurang terima ?" berkata si thauto. "Hmm ! Murah hati !" menggerutu Kim Popo. "Memang," berkata lagi si thauto. "Kalau aku berlaku kejam, barusan anting-antingku mengarah pada jalan darah kematian di bebokongmu. Apa ini aku sudah tidak berlaku murah ?" "Hmm !" mendengus si nenek. "AKu Kim Popo tidak rela dijatuhkan oleh lawan dengan jalan membokong." "Habis kau mau apa ? tanya si thauto, geli hatinya nampak orang kepala batu. "Kalau kau berani, merdekakan aku sekarang !" sahutnya ketus. "Jadi ? Kau mau bertempur lagi ?" tanya lagi si thauto. "Tidak ! Saat ini aku terima kalah. Tapi lihat, tiga tahun lagi akan kucari kau untuk menetapkan siapa unggul !" sahut Kim Popo tengik laganya. Si thauto tertawa terbahak-bahak lalu tanpa menghiraukan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kim Popo yang masih duduk mendeprok, ia tinggal pergi. "Binatang, kau mau siksa aku dengan cara begini !" teriak Kim Popo, matanya terbelalak keheranan melihat dengan begitu saja meninggalkan dirinya. "Lagi dua jam totokan pada jalan darahmu akan hilang sendirinya. Kau nenek bandel, mesti dihukum dijemur dipanasnya matahari dua jam. Hahaha !" demikian terdengar kata-kata si thauto, meskipun sudah jalan jauh kedengarannya tegas sekali kuping Kim Popo hingga ia jadi terkejut. Pikirnya, thauto itu hebat sekali tenaga dalamnya sampai bisa mengirim suara dari jauh. Terpaksa Kim Popo, si bandel, mesti menanti dua jam dibawah panasnya matahari untuk mendapat kebebasannya..... Kita kembali kepada Lo In yang tengah mencari Liok Sinshe di lembah dari jurang Tong-hong-gay. Dengan hati-hati ia mencari dipinggir-pinggiran lalu pelanpelan sedikit ke tengah, tapi belum juga ia dapatkan tandatanda yang mengunjuk dimana adanya Liok Sinshe. Kadangkadang ia mendongak ke atas mengawasi diantara tebingtebing dengan pengharapan matanya akan bentrok dengan gerakan sesuatu disana. Tapi sia-sia saja pengharapannya, malah cuaca pelan-pelan tanpa disadari sudah mulai gelap. Bermula Lo In kebingungan, bagaimana ia dapat naik pula ke atas, sedang hari sudah berubah menjadi malam ? Tapi belakangan hatinya menjadi senang.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lo In tidak memikirkan untuk kembali ke rumahnya lagi. Yang penting, ia harus cari terus Liok Sinshe sampai dapat diketemukan. Untuk mengisi perutnya yang lapar, Lo In sudah banyak petik buah-buahan dimasukkan dalam perutnya. Ia rasakan lebih segar dan nyaman perutnya diisi buah-buahan dari pada diisi kue atau nasi. Untuk menghindarkan gangguan dari binatang buas maka malam itu Lo In tidur diatasnya sebuah pohon yang banyak cabang dahannya. Di atas dahan yang merupakan pembaringan baru, mana Lo In dapat cepat-cepat pulas. Pikirannya melayang-layang, mengingat-ingat tempat-tempat yang dijelajahinya dalam menemui Liok Sinshe, ia harus mencari suatu tempat yagn aman. Dimana ia bisa bersemedhi setiap malam untuk meyakinkan tenaga dalamnya. Sebagai satu anak yagn bernyali besar Lo In merasa penasaran Kim Popo yang sudah memencet tangannya sampai ia mengeluarkan keringat dingin. (Bersambung) Jilid 02 Pikirnya, nanti suatu waktu kalau lwekangnya sudah mahir ia akan cari si nenek buat diajak berkelahi lagi. Sebenarnya Lo In belum tentu kalah kalau ia layani si nenek dengan kegesitanya, jangan mengadu tenaga. Yang membuat ia pecundang adalah karena ia coba-coba adu tenaga dengan Kim Popo, yang sudah tentu bukan tandingannya. Dalam keadaan tiduran, kupingnya tiba-tiba mendengar suara

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ gedebukan, datangnya dari sebelah selatan. Suara apa itu ? Ia pasang telinganya lagi, saban kira 1-2 menit ia degnar suara gedebukan itu. Di dorong oleh perasaan ingin tahu, ia turun dari atas pohon. Pelan-pelan ia hampiri tempat dimana ada suara gedebukan tadi. Setelah jalan beberapa lama, suara gedebukan itu makin nyata. Rupanya jaraknya sudah tidak jauh lagi. Maka Lo In rada cepatin jalannya. Segera dari kejauhan ia nampak seperti ada dua sinar menyorot ke arahnya. "Apa itu ?" tanyanya pada diri sendiri. Ia menduga akan binatang macan. Sebab menurut Liok Sinshe, matanya macan suka mencorong kalau diwaktu malam. Hati Lo In tabah, nyalinya besar, ia tidak takut. Ia menghampiri lebih dekat. Kiranya itu bukannya macan hanya seekor burung yang luar biasa besarnya, tengah kebut-kebutkan sayapnya ke tanah. Suaran gedebukan itu tiada lain dari pada sayapnya si burung tadi yang dihantamkan ke tanah. Lo In terus mengintip, ingin tahu apa maunya si burung yang besar luar biasa itu mengebut-ngebutkan sayapnya ke tanah. Ia ingat, kalau ia sedang main di tepi jurang sering melihat ada burung yang luar biasa besarnya melayang-layang diatas lembah. "Apakah bukan dianya ini ? " tanya Lo In pada dirinya sendiri. Menurut katanya Liok Sinshe, burung sebesar itu

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ adalah burung rajawali yang biasa jinak dimiliki orang pandai yang menyepi tinggalnya di pegunungan. Malah Liok Sinshe namakan burung itu 'Kim-tiauw' atau 'Rajawali Emas' karena patuk dan kedua kakinya kekuning-kuningan seperti emas yang Liok Sinshe dapat lihat sendiri dari dekat pada suatu hari ia sedang mencari daun obat-obatan di lembah itu. Apa dia itu benar Kim-tiauw. Ingin Lo In menyaksikan dari dekat, tapi tak dapat ia lakukan itu. Sayapnya yang memukulmukul tanah bukan saja menerbitkan suara gedebukan tapi juga menerbitkan angin keras menderu. Kalau Lo In berani datang dekat, sekali dikibas sama sayapnya, pasti tubuhnya akan melayang entah berapa jauhnya. Setelah memperhatikan agak lama, Lo In berpendapat si rajawali hanya mengibaskan sayapnya yang kanan saja, sedang yang kiri diam saja. Ia seperti mau terbang tapi tak bisa kalau cuma satu sayap. Pikir Lo In tentu rajawali ini mendapat luka parah pada sayap kirinya. Hatinya merasa kasihan, ingin ia periksa lukanya. Tapi bagaimana mendekatinya ? Otaknya lantas bekerja mencari akal. Matanya memandang ke sekitarnya tapi agaknya ia cemas tidak melihat jalan untuk pemecahan. Sebenrar lagi, setelah ia tundukkan kepala ia menengadah melihat keadaan diatasnya si rajawali. Tiba-tiba mulutnya bersenyum, rupanya ia sudah dapat akal untuk mendekati si rajawali yang dalam kesukaran. Bagaimana ? Dengan gunakan gerakan ilmu entengi tubuh 'Burung walet tembusi mega', ia enjot tubuhnya mencelat dan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ di lain detik sudah tampak ia berloncatan dari satu dahan ke lain dahan pohon. Dalam tempo pendek saja, ia sudah berada di atas pohon yang dekat sekali pada si burung rajawali. Si burung rajawali sama sekali engan kalau ada orang yang datang dekatinya. Ia masih sibuk gedebukan dengan sayapnya yang kanan. Lo In menunggu sampai sayap itu berhenti dikebaskan, pada saat mana enteng sekali tubuhnya melayang dan mencolok di punggungnya si rajawali yang ketika sadar ada orang menyerang, ia sudah tidak berdaya karena jalan darah di bagian sayap dan lehernya sudah kena ditotok oleh si bocah yang besar nyalinya.

Ketika itu sayapnya yang kanan berhenti mengebas-ngebas sedang lehernya sudah menjadi kaku, tak dapat digeraki hingga ia tak dapat mematuk lawan yang berada di atas pungggungnya. Hanya sinar matanya saja mencorong seperti yang sedang gusar sekali. Meskipun mendapat kesukaran karena beratnya sayap si rajawali, juga dibawah sayapnya terdapat lukanya yang berat, Lo In dengan gembira sudah dapat mengobati lukanya itu memakai obatnya Liok Sinshe yang amat mustajab. Selain obat bubuk ditabur di tempat luka, juga Lo In paksa si rajawali menelan pilnya, setelah berkutatan lama ia membuka patuknya. "Tiauw-heng" kata si bocah pada si rajawali. "Aku ini temanmu, jangan takut. Maaf, kalau aku sudah berbuat sedikit

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kasar menolong kamu !" Gerak gerik Lo In lucu. Ia memanggil 'Tiauw-heng' atau 'Kanda rajawali' kepada si burung garuda yang tinggal membisu saja. Kuatir totokannya kurang kuat hingga si rajawali dapat geraki pula sayapnya, yang menyebabkan lukanya tidak bisa rapat, maka Lo In memberikan pula beberapa totokan sehingga betul-betul tenaganya si burung garuda menjadi lumpuh. Lukanya si rajawali ternyata kena panah beracun. Untung tenaganya si burung garuda sangat kuat hingga menjalarnya racun berjalan dengan perlahan dan keburu mendapat obatnya Liok Sinshe yang mustajab. Kalau saja sampai menanti besoknya lagi, terang jiwanya si rajawali tak akan ketolongan. Entah siapa yang begitu kejam melepaskan panah beracunnya. Lo In malam itu tidak jadi nginap di atas pohon yang banyak dahannya, yang ia tinggalkan. Sebaliknya ia tidur diatas pohon, tidak jauh dari mendekamnya si rajawali. Diam-diam ia siap sedia menghadapi kemungkinan datangnya orang jahat yang hendak mencelakakan si rajawali. Tapi syukur sampai hari sudah terang tanah, tidak ada kejadian apa-apa. Lo In merosot turun dari atas pohon. Ia lihat si rajawali tengah memejamkan matanya. Rupanya ia juga bisa tidur karena tidak merasakan sakit lagi pada sayapnya yang kiri. Matanya dibuka ketika ia mendengar Lo In berkata, "Tiauw-heng, kau

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ diam-diam saja mengaso. Tunggu aku akan mencari makanan untuk kau makan." Ia berkata sambil anggukan kepalanya seperti yang memberi hormat kepada saudara yang tuaan. Ah, benar-benar lucu kelakuannya Lo In. Kemudian ia putar tubuh dan meninggalkan tempat itu. Berkat kepandaiannya menyentil dengan batu kecil, maka dalam tempo pendek saja Lo In sudah dapat menyentil jatuh tiga ekor ayam hutan. Ketiga ekor ayam itu hendak ia bawa ke tempatnya. Pikirnya, Tiauw-heng tentu gembul makannya, tidak cukup kalau hanya 2-3 ekor ayam saja. Maka ia lalu mencari pula ayam di lain tempat dan segera ia sudah dapatkan lagi. Empat dari lima ekor ayam itu, Lo In taruh di depannya si rajawali, sedang yang seekor ia potong dan bersihkan dalam selokan jernih, karena air gunung mengalir disitu. Kemudian ia nyalakan api dan memanggang hasil buruannya. Sambil panggang ayam, matanya Lo In memandang pada si rajawali yang tinggal melotot saja mengawasi empat ekor ayam yang ada di depannya. Ia tak dapat kerjakan patuknya untuk menerkam hidangan didepannya itu sebab lehernya masih belum bisa digeraki karena pengaruh totokan Lo In. "Tiauw-heng." kata Lo In seraya bersenyum. "Kau tunggu sebentar. Kita nanti makan sama-sama. Bukankah itu ada lebih menyenangkan sebagai tanda terjalinnya persahabatan diantara kita ?"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Si rajawali yang diajak bicara hanya matanya saja yang melotot sebagai jawaban, tapi kali ini sinarnya tidak bermusuhan. Setelah beres memanggang ayamnya, Lo In mendekati si rajawali. "Tiauw-heng, kau jangan marah. Lantaran aku ingin menolong jiwamu maka terpaksa dalam dua tiga hari ini aku bikin kau tidak berdaya. Kau sabarlah !" berkata Lo In sambil kemudian dengan sebat ia menotok bebas lehernya si rajawali berbareng ia lompat mundur takut dipatuk. Rupanya burung itu memahami akan kebaikan hatinya si anak kecil sebab ia tidak perhatikan Lo In lompat tapi terus saja ia gasak empat ekor burung itu satu persatu hingga dalam sekejapan saja telah hilang lenyap dalam perutnya. Lo In tertawa ngakak melihat kecepatan si rajawali memindahkan empat ekor ayam ke dalam perutnya. Hari itu usaha Lo In tidak memberikan hasil dalam mencari Liok Sinshe. Pada hari ketiga, ia datang dengan roman lesu mendekati si rajawali yang sekarang menjadi jinak. Barani ia memeluk lehernya dan menciumi patuknya yang indah seperti emas. "Tiauw-heng, aku mencari Liok Sinshe." ia kata pada si rajawali. "Apa kau lihat dia ada dimana ?" Seperti yang mengerti akan kata-kata manusia, burung itu geleng kepalanya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lo In makin sayang pada burung itu yang rupanya mengerti akan omongan orang. Setelah menggelendoti tubuhnya burung yang seperti raksasa itu, Lo In ingat akan kewajibannya untuk memeriksa lukanya. "Tiauw-heng, mari aku periksa lukamu." ia berkata seraya dengan sebatnya ia menyingkap sayap burung itu, dibawah mana ada terdapat lukanya yang parah. Lo In kerutkan keningnya. "Kau masih belum dapat geraki sayapmu yang terluka, Tiauwheng." katanya. Sementara itu, ia keluarkan obatnya dan mulai beri obat baru pada luka si rajawali, patuknya Lo In buka dengan tangannya yang kecil untuk dimasukan pil mujarabnya. Sungguh heran, burung itu menurut saja, jinak sekali dan pasrah apa yang diperbuat Lo In. Rupanya ia mengerti akan kebaikan orang. "Tiauw-heng, mulai saat kita ketemu, aku sudah tahu kau akan menjadi teman sebagai gantinya Liok Sinshe. Maka selanjutnya, harap kau selalu jangan meninggalkan aku, ya !" berkata Lo In sambil mengelus-elus sayapnya si rajawali. Burung itu angguk-anggukkan kepalanya, matanya merem melek, girang rupanya ia diusap-usap Lo In dengan kesayangan. Pada hari keenam si rajawali sudah sembuh benar-benar dari luka parahnya. Ia sudah dapat geraki kedua sayapnya seperti sedia kala. Setelah terbang beberapa putaran, ia turun di

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ depan Lo In lalu mendekam dan kepalanya dianggukanggukkan seperti yang menghaturkan terima kasih atas pertolongannya si bocah. Lo In dapat memahami gerak gerik si burung garuda, maka sambil menubruk dan menciumi ia berbisik, "Tiauw-heng, kita sudah jadi saudara. Tak usah kau mengucap terima kasih segala." Tangannya mengelus-elus kepalanya si rajawali, ketika ia mau mengusap-usap patuknya tiba-tiba Lo In merasa heran. Dari matanya burung itu ada melelehkan air mata. Entahlah, kenapa burung itu menangis. Lo In terharu, bukan karena apa. Ia hanya terkenang akan dirinya Liok Sinshe. Dimanakah adanya penolong itu. Apakah dia masih hidup atau sudah mati ? Sebab sudah hampir seminggu ia mencari jejaknya belum juga berhasil menemuinya. Siapakah Liok Sinshe itu ? Apa dia Kwee Cu Gie ? Siapakah Kwee Cu Gie itu ? Dimana adanya kedua orang tuanya ? Mati sudah atau masih ada dalam dunia ini ? Kenapa Liok Sinshe begitu sayang dan memperhatikan dirinya begitu rupa ? Apa hubungan ia dengan Liok Sinshe ? Pusing Lo In memikirkannya itu semua. Malah jadi bertambah sedih hingga saling peluk dengan si rajawali, menangis sampai terdengar suaranya Lo In terisak-isak.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sang burung, rupanya ingin menghibur Lo In. Kemudian ia mementang sayapnya akan terbang ke atas pohonjauh disana, terpisah dari Lo In. Lo In yang cerdik mengerti maksudnya si rajawali. Maka ia juga telah berhenti menangis, ia gosok air matanya dengan tangan bajunya. Dalam hari-hari berikutnya dalam usaha mencari Liok Sinshe, Lo In dikawal oleh si rajawali. Senang hati Lo In. Sering ia ajak si rajawali bercanda. Hari-hari demikian mereka bergaul, hingga keakrabannya meningkat. Sering atau hampir saban hari, tampak Lo In pesiar di atas lembah sambil menunggang rajawali yang merupakan kapal terbangnya. Dasar anak-anak menghadapi apa yang baru, lupa pada yang lama. Ditemani si burung raksasa, Lo In merasa aman. Betah ia tinggal dalam lembah itu, lupa pulang ke rumahnya di atas jurang Tong-hong-gay yang sebenarnya ia bisa pergi ke sana dengan mudah dengan menunggang kapal udaranya 'si rajawai'. Soal makanan Lo In tidak kekurangan, mau ikan ia dapat di sungai-sungai kecil yang banyak terdapat disitu. Mau daging ayam, kelinci, babi, mudah sekali ia dapat. Cuma tinggal perintah si rajawali yang pergi menangkapnya. Tapi Lo In lebih senang makan buah-buahan yang terdapat

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ disitu. Ia rasakan badannya lebih segar dan nyaman dari pada makan ikan dan daging. Yang lucu, Lo In sudah dapat tundukkan kawanan kera liar dalam lembah itu. Mereka kelihatan sangat berterima kasih dan menganggap Lo In sbagai rajanya. Dengan begitu, Lo In bertambah banyak kawan. Bagaimana Lo In dapat tundukkan kawanan kera liar, kecil besar ? Itulah kejadian pada suatu hari ketika cuaca mendung. Selagi ia tiduran celentang di bawah sebuah pohon, tiba-tiba ia dikurung oleh kawanan monyet liar, bukan satu dua tapi adalah puluhan hingga ia merasa amat heran. Lo In bangkit, duduk, sambil kedua tangannya memeluk kedua dengkulnya yang ditekuk. Kepalanya menunduk seolah-olah yang tidak memperhatikan dirinya tengah dikurung oleh kawanan monyet galak. Suara cetcowetan yang ramai dari kawanan monyet itu tidak dihiraukan oleh Lo In. Terus saja ia berpura-pura mati ular. Kelihatannya kera-kera itu amat gusar pada si bocah. Bisa dilihat dari sikap dan gerakan mereka yang keluarkan suara 'her ! her !' sambil mulutnya nyengir-nyengir menakuti. Entahlah, kenapa mereka demikian benci pada Lo In. Mungkinkah karena perbuatannya Lo In ? Untuk melatih ginkang (ilmu entengi tubuh), Lo In saban hari melatih diri dengan mencelat sana sini di atas pohon. Gesit luar biasa hingga mengalahkan jauh dari kepandaian kera-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kera yang ada disitu. Rupanya hal inilah yang menyebabkan kawanan kera itu membenci Lo In. Mereka yang bermula merasa kagum melihat kegesitannya Lo In, belakangan merasa mengeri dan anggap Lo In adalah suatu saingan berat dalam dunianya. Lama juga sudah Lo In perhatikan sikap permusuhan dari mereka itu. Tapi Lo In tidak memperdulikan sampai pada saat itu baharu berasa bahwa dirinya benar-benar dibenci. Tapi Lo In tidak takut. Pikirnya kawanan kera itu tak dapat membuat susah dirinya. Ia mau lihat apa mereka bisa bikin terhadapnya. Tak perlu ia minta bantuan si rajawali yang dengan sayap raksasanya, sekali mengebas saja membuat puluhan kera itu akan sungsang sumbel dan terbang kemana tahu. Ia mau taklukan kawanan kera itu dengan usahanya sendiri. Dua yang paling besar diantara kawanan monyet itu, perdengarkan cetcewetannya lebih keras. Rupanya berupa bentakan-bentakan, memerintah pada kawan-kawannya untuk segera menggempur Lo In yang tinggal anteng-anteng saja. Memang dua kera besar itu adalah yang paling pandai dalam hal meloncat dari satu ke lain cabang pohon. Kawankawannya mengagumi kepandaiannya itu. Merekalah yang paling menaruh dendam pada Lo In, yang dianggap saingan alot. Meskipun bentak-bentakannya makin keras, kawanan kera itu

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ masih belum berani menerjang Lo In. Rupanya mereka jeri sebab Lo In ada backingnya si rajawali. Mereka sambil cetcowetan, celigukan sana sini seakan-akan mengamat-amati apakah si burung raksasa ada di sekitar situ mengawal si bocah. Si rajawali ternyata tidak ada. Memang tidak ada. Ia lagi terbang ke lain tempat untuk mencari makanan. Hatinya kawanan kera liar itu rupanya jadi berani, sebab suara 'hor, hor !' dari dua pimpinannya paling akhir dibarengi dengan menyerbunya mereka. Yang diserbu tiba-tiba saja lenyap dari pandangan mereka. Terdengar ramai-ramai suara cetcowetan kawanan kera itu. Sambil kepalanya pada mendongak ke atas dimana mereka lihat Lo In sedang bercokol di atas dahan sambil ketawaketawa. Kiranya diwaktu kawanan monyet itu melakukan penyerbuan serentak, dengan gerakan 'Walet terbang menembusi awan', tubuhnya Lo In mencelat ke atas, mencelok diatasnya sebatang dahan pohon, dimana si bocah sambil uncanguncang kaki mentertawakan lawan-lawannya yang ribut cetcowetan di sebelah bawah. Hanya dua tahun Lo In mendapat gemblengan tenaga dalam dari Liok Sinshe, ia sudah memanfaatkan sebaik-baiknya dalam latihan ginkeng (entengi tubuh), cukup untuk melayani kawanan kera yang menyerang dirinya dengan penuh kebencian.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Degnan dikepalai oleh dua monyet besar tadi, kawanan monyet itu segera juga pada menaiki pohon, lelompatan mengepung Lo In yang segera unjuk kegesitannya untuk meloloskan diri dari kepungan mereka. Tampak Lo In loncat ke atas sebatang dahan yang lebih tinggi. Selag ia terbahak-bahak ketawa, sembari kedua tangannya bertepuk-tepuk keras menggodai kawanan monyet yang mengubar dirinya, tiba-tiba terdengar suara 'hor ! hor !' agaknya keras dan lebih bengis di atas kepalanya. Ketika ia mendongak, kiranya diatasnya ada dua kera lebih besar lagi dari dua kera besar tadi, yang ia lihat menjadi pemimpinnya. Itulah sepasang orang utan hitam legam, lengannya besarbesar, matanya tajam mengawasi Lo In seraya perdengarkan suara 'hor ! hor !' menakutkan. Diam-diam Lo In perhatikan, rupanya dua orang utan itu suami istri. Yang lelaki kepalanya hampir botak, yang perempuan matanya tertutup satu disebelah kiri, sedang dibelakangnya ada menggemblok anaknya, mulutnya ramai cetcewetan. Lo In hendak enjot tubuhnya menyingkir, tapi sudah terlambat. Si orang utan yang lelaki menyambar dari atas dan tepat dapat mencekal lengan Lo In. Sakit rasanya cekalan si orang utan, lebih-lebih Lo In kaget, tenaganya seperti lenyap oleh pengaruh cekalan itu hingga ia tak dapat berkutik. Celaka, pikirnya, apa ia bakalan mati ditangannya si orang utan ?

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tengah hatinya berkuatir, sekonyong-konyong terdengar suaranya si rajawali dari jauh tengah mendatangi hingga ia jadi sangat kegirangan. Rupanya si orang utan sudah kenali suaranya si rajawali, tahu juga Lo In ada kawannya, maka ia jadi ketakutan. Dengan sendirinya, cekalannya yang melumpuhkan itu terlepas. Ia lompat pula ke atas, ajak bininya ikut lari. Angin seperti menderu kedengarannya ketika si rajawali sampai dengan kebasan sayapnya. Ia mencelok disatu dahan dekat Lo In. Saking berat badannya membuat pohon sampai tergetar rasanya. "Tiauw-heng, syukur kau datang. Kalau lambat sedikit saja, aku kena dicelakai si orang utan !" Lo In berkata pada kawannya. Seperti yang mengerti, si rajawali tampak beringas romannya ketika mendengar ada makhluk yang mau bikin celaka kawannya. Lo In berbareng lompat mendekati si rajawali, ia usap-usap sayapnya. Tiba-tiba Lo In mendengar suara teriakan. Matanya yang awas segera dapat lihat si orang utan yang perempuan terpeleset jatuh. Ia sendiri dapat tolong dirinya karena sudah menjambret cabang pohon. Tapi anaknya, dalam kaget sudah melepaskan cekelan pada leheer ibunya hingga tidak ampun lagi anak orang utan itu meluncur jatuh terbanting di tanah dan pingsan. Dalam ketakutannya atas kedatangan si rajawali, dua orang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ utan itu sudah terbirit-birit lari, lompat dari satu ke lain cabang pohon. Rupanya yang perempuan kurang hati-hati memilih cabang pohon, maka ketika ia loncat ke cabang yang lapuk, ia kaget. Cepat lompat lagi ke lain cabang cuma saja saking gugupnya ia terpeleset dan menjerit ketika terpelanting. Yang lelaki berada beberapa tindak disebelah depan, ia kaget bukan main mendengar jeritan sang istri. Cepat ia putar tubuhnya tapi sudah tak dapat menolong anaknya yang terpelanting jatuh dari gendongan ibunya. Mulutnya cetcowetan ramai. Bersama istrinya, ia cepat-cepat turun ke bawah, lari menghampiri anaknya yang sudah tidak sadarkan diri. Sang ibu menubruk anaknya sambil menggoyang-goyang tubuh si orang utan kecil, mulutnya cetcowetan menangis. Segera banyak monyet-monyet yang datang merubung. Lo In yang melihat dan menyaksikan kejadian yang hebat itu, tidak tega hatinya. Entahlah, bagaimana keadaannya si anak orang utan itu. "Tiauw-heng, mari kita tolong dia." ia berkata pada si rajawali. Berbareng, ia geraki kakinya berloncatan ke bawah yang diikuti oleh si rajawali. Dengan hanya sekali kibasan sayapnya sudah sampai ditempat banyak kera berkumpul. Lo In tidak tahu bagaimana caranya memberi pertolongan. Sebab kalau ia dengan begitu saja datang dekat, tentu tidak dapat dipahami maksud baiknya. Apa lagi si orang utan sudah pernah memencet lengannya, tentu kedatangan Lo In dianggap akan menuntut balas, menggunakan kesempatan ketika mereka

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sedang kesusahan anaknya mendapat kecelakaan. Baik juga tongkrongan si rajawali dibuat jeri oleh kawanan kera itu. Ketika rajawali itu sampai, mendahului Lo In. Kawanan monyet itu sudah simpang siur lari. Malah dua orang utan itu, saking ketakutannya sudah lupa akan anaknya dan lari terbirit-birit. Anak orang utan itu jadi ditinggalkan sendirian. Lo In girang menampak kejadian itu diluar perhitungannya. Cepat ia dekati si anak orang utan, ia periksa, meraba-raba dadanya, pegang nadinya. Lucu, persis lagaknya seorang tabib. Ini, Lo In bukannya menjual aksi. Kelakuan ini meniru Liok Sinshe jika si tabib Liok diundang untuk mengobati orang sakit, ia suka turut dan menyaksikan caranya Liok Sinshe berbuat atas dirinya si pasien. Lo In girang karena si orang utan kecil tidak putus jiwanya. Ia hanya tidak berkutik karena pingsan, kaget jatuh dari tempat yang demikian tinggi. Kelakuan Lo In itu disaksikan oleh banyak kera dari kejauhan, terutama oleh dua orang utan dengan penuh rasa kuatir, apakah anaknya akan dibunuh mati Lo In. Buat merebut anaknya dari tangan Lo In, mereka tak berani lakukan, melihat si rajawali tengah mendekam didekatnya. Melihat keadaan anak orang utan itu berat juga, tak dapat disembuhkan dengan seketika, maka ia lalu angkat tubuhnya,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ diempo lantas menghampiri si rajawali, ke atas punggung Lo In loncat. "Tiauw-heng, mari kita pergi !" kata Lo In. Berbareng si rajawali bangkit lalu mengebaskan kedua sayapnya akan kemudian terbang mumbul. Tinggal dua orang utan itu berteriak-teriak dengan cara dia sendiri. Rupanya mereka sangat gusar pada Lo In yang sudah merampas anaknya. Lo In ditempatnya sebuah gubuk yang dibangun diatas sebuah pohon besar. Memakan waktu juga menolong anak orang utan itu. Sebab anak orang utan itu kecuali mendapat luka dalam, juga tangannya yang sebelah kiri keseleo yang perlu ditolong dengan jalan mengurut tiap hari tiga kali. Selang empat hari, Lo In sudah bikin anak orang utan itu sembuh benar. Ia kelihatan suka pada Lo In yagn tadinya ditakuti. Dalam tempo empat hari mereka berkumpul, anak orang utan itu menjadi jinak, sering menggelendoti Lo In. Mulutnya cetcowetan seakan-akan mengajak bercakap-cakap. Tapi sayang Lo In tidak mengerti akan percakapannya. Meskipun begitu, Lo In suka pada anak orang utan itu. Sering ia ajak main, diajak bercakap dengan gerakan mulut dan tangan. Gembira kelihatannya anak orang utan itu. Pada hari yang keenam, Lo In berkata pada si anak orang utan, "Adikku, hari ini kau harus pulang menemui ayah ibumu. Harap selanjutnya kau akan menjadi sahabatku yang baik

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ seperti aku punya Tiauw-heng." Sambil berkata, Lo In empo anak orang itu lalu keluar dari gubuknya. Dengan sekali suitan, segera kapal udaranya sudah datang. Dengan menumpang si rajawali, Lo In pergi ke tempat dimana ia telah dikeroyok kawanan monyet liar. Sesampainya disana, ia dapatkan keadaan sepi. Cuma ada beberapa kera yang lelompatan sana sini. Melihat Lo In datang dengan mengempo anak orang utan, monyet-monyet itu menjadi heran rupanya. Tapi sebentar lagi, tampak mereka datang lagi membawa kawan-kawannya. Diantaranya tampak itu sepasang orang utan. Mereka tidak berani datang dekat pada Lo In karena si rajawali mendekam di dekatnya. Bagaimana pun, dua orang utan itu terbelalak matanya melihat Lo In tengah mengempo anaknya yang cetcowetan menciumi pipinya si bocah. Lo In dapat melihat pada mereka, maka cepat ia turunkan anak orang utan itu dari empoannya sambil berkata, "Adikku, pergi kau ketemui ayah bundamu !" Lo In sambil menunjukkan kejurusan orang utan yang berada diatas pohon, yang tengah keheran-heranan mengawasi kejadian itu. Anak orang utan itu melihat ke jurusan yang ditunjuk oleh Lo In. Ia melihat pada ayah bundanya. Cepat ia lari sambil mulutnya cetcowetan. Sang ibu bapak juga tidak tinggal diam. Mereka loncat-loncat turun dari pohon dan memapaki anaknya yang lantas diempo oleh si ibu, diciumi dengan penuh

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kesayangan. Dalam empoan ibunya, sang anak cetcowetan sambil menunjuk-nunjuk kejurusan Lo In. Rupanya ia sedang bercerita tentang pertolongan yang diberikan Lo In dan kebaikannya si bocah hingga kelihatannya si ibu merasa sangat gegetun sekali, sedang si ayah angguk-anggukkan kepalanya yang botak. Lo In menyaksikan itu semua dengan bersenyum. Kemudian putar tubuhnya menyamperi si rajawali, loncat ke punggungnya. "Mari kita pergi, Tiauw-heng !" katanya sambil tepok pundaknya si rajawali. Sebentar saja, Lo In sudah ada di udara bersama kapal terbangnya. Meskipun binatang, kawanan kera itu tahu akan kebaikan orang. Maka sejak itu, mereka telah menghapuskan kebenciannya dan tidak berani mengganggu lagi Lo In yang semula dianggap saingan alot. Malah yang lucu, sejak itu, Lo In boleh dikata tak usah susahsusah mencari buah-buahan lagi untuk makannya. Karena setiap pagi, ia dapatkan banyak buah-buahan berserakan di bawah pohon diatas mana ia tidur. Rupanya ini ada kiriman dari kawanan keras yang merasa berterima kasih, anak rajanya sudah ditolongi. Bebuahan itu ditaruh berserakan. Rupanya kera-kera itu takuti si rajawali. Maka seenaknya saja mereka melemparkan dan lari pergi. Lo In memahami ini, maka kepada rajawalinya ia memesan supaya ia tidak ganggu kera-kera yang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mengantarkan bebuahan itu. Kawanan kera itu belakangan jadi berani karena melihat si rajawali tidak apa-apa. Maka buah-buah yang diantarnya, mereka tumpuk dengan rapih. Malah ada yang berani naik di pohon dan meletakan buahnya di depan gubuknya Lo In. Lo In terharu melihat kecintaannya kawanan kera itu. Maka terjalinlah persahabatan diantara kawanan kera itu dengan Lo In. Dalam pertemuan pertama dua orang utan, seperti manusia, mereka berlutut dihadapan Lo In sambil manggut-manggut. Di sampingnya ada anaknya yang juga turut berlutut. Mereka sangat berterima kasih atas pertolongannya Lo In sehingga anaknya selamat dari cengkeraman maut. Lo In ketawa. "Toa-hek, Ji-hek dan adikku," kata Lo In. "Kita orang sendiri, tak usah banyak pakai peradatan. Kalian bangunlah. Selanjutnya kita menjadi sahabat saling tolong !" Seperti yang mengerti omongan Lo In, mereka semua bangkit. Lo In tatkala itu duduk diatas sebuah batu, tengah menikmati mengalirnya air sungai, dalam mana banyak terdapat ikan-ikan yang sedang main-main. Lo In memanggil Toa-hek (si hitam kesatu) dan Ji-hek (si hitam kedua) kepada dua orang utan itu adalah panggilan dari keakraban persahabatan. Toa-hek dan Ji-hek serta anaknya menghampiri Lo In. Toa-hek mengusap-usap tangan, Ji-hek mengusap-usap pipi,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sementara Siauw-hek (si kecil) lompat kepangkuan Lo In sambil cowet-cowetan ngomong dalam bahasanya sendiri. Lo In suka dan sayang pada Siauw-hek, maka ia elus-elus kepalanya, sambil katanya, "Siauw-hek, kau lekas gede. Nanti bisa bantu aku mencari Liok Sinshe." Sejak itulah mereka bergaul rapat. Supaya pergaulannya lebih leluasa lagi, maka pelan-pelan Lo In ada pelajari gerak gerik dan suaranya kera-kera diwaktu mereka berloncatan di pohon-pohon sambil cetcowetan. Berkat kecerdasan otaknya yang luar biasa, ia dapat kemajuan banyak dalam bahasa monyet, meskipun tidak seluruhnya. Cukup dengan membuka mulutnya, cowet-cowet, ia dapat memerintahkan kera-kera yang diajak bicara olehnya untuk melaksanakan titahnya dengan baik. Kawanan kera itu semakin menghargai dan menjunjung tinggi Lo In. Boleh dikatakan ia adalah raja monyet, karena tiap titahnya dilaksanakan dengan kontan. Dengan adanya Toa-hek sebagai teman berlatih, lwekangnya Lo In meningkat. Kalau mula-mula satu kali pegang saja Lo In tak dapat berontak dari cekalan Toa-hek, pelan-pelan tangannya makin kuat hingga dari kewalahan Toa-hek menjadi pecundang. Dalam latihan tenaga, jangan bicara ilmu silat, sudah tentu Lo In ada di pihak unggul. Girang hatinya Lo In dengan kemajuan yang diluar perhitungannya itu. Maka pada suatu hari si rajawali ia ajak berlatih. "Tiauw-heng, tenagamu sangat hebat. Aku ingin sepertimu. Coba, mari kita berlatih !" Lo In menantang.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Mari !" si bocah mengundang lagi ketika melihat si rajawali tinggal diam mendekam saja. Ia pasang kuda-kuda untuk menerima serangan si rajawali. Sesudah kedap kedip matanya, si burung raksasa pelangpelan bangkit. Ketika Lo In menyambar dengan tangannya yang kuat sekarang, pikirnya, si rajawali tak kuat menahan serangannya. Tapi si bocah salah hitung. Sebab cuma sekali kebas saja dengan sayap kirinya, Lo In terdampar oleh angin kebasan hingga ia jatuh duduk. "Itu hebat, Tiauw-heng." ia berkata sambil nyengir dan rasakan pantatnya sakit juga bekas jatuh barusan. "Kau pelan-pelan dahulu. Jangan terlalu kuat mengebaskan sayapmu !" Lo In bicara seperti saja terhadap seorang partner, kawan selatihan. Tapi si burung raksasa seperti yang mengerti akan maksud Lo In. Benar saja kebasan yang selanjutnya dilakukan perlahan. Lo In menjadi girang. Sejak itu ia terus ajak si rajawali berlatih. Saban hari tenaganya Lo In meningkat an kegesitannya bertambah. Maka setelah lewat dua bulan, betul-betul luar biasa tenaga dalamnya si bocah. Ia sudah dapat menahan kebasan sayap si burung raksasa yang bagaimana keras juga. Hal mana membuat si rajawali juga merasa heran kelihatannya. Lo In bangga dengan latihannya. Ia kira semua itu dari tenaganya yang meningkat demikian hebatnya. Tapi ia tidak sadar bahwa tenaga dalamnya itu bisa demikian kokoh

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ lantaran ia memakan buah Jit-goat-ko atau 'Buah bulan matahari' yang ia dapatkan diantara buah-buah yang diantar oleh kawan-kawannya. Buah itu bentuknya mungil, tidak besar, hanya sebesar telur angsa. Warnanya separuh merah dan separuh putih. Kapan buah itu dibelah, segera menyiarkan bau harum yang lama sekali memenuhi hidung. Kalau disedot, rasanya nyaman dan segar seluruh badannya. Ini baharu harumnya saja, apalagi buahnya kalau dimakan rasanya lezat sekali. Tenggorokan yang dilewati oleh buah itu, selama lima menit terus menerus akan mengeluarkan hawa wangi yang menyegarkan. Seluruh badan rasanya kaku sejenak tapi kemudian tangkas lagi. Tindakan berubah menjadi enteng, sedang tenaga entah dari mana sudah berlipat tambahnya. Buah itu Lo In dapatkan dua biji. Entah dari mana sang kera dapatkan ini, dua-duanya ia sikat habis setelah ia rasakan bagaimana harum dan enaknya buah itu, dimasukkan ke mulut lewat tenggorokannya. Di permulaan cerita dilukiskan bagaimana girang dan bangga Liok Sinshe menampak kecerdasannya Lo In. Si bocah bukan saja sudah mewariskan semua kepandaian Liok Sinshe yang dicatat dalam otaknya, juga rahasia dari ilmu menotok jalan darah yang terdapat dalam buku 'Tiam-hiat Pit-koat' sudah jadi miliknya Lo In. Anak kecil itu tinggal memerlukan gemblengan tenaga alam yang sempurna, lantas ia akan berubah menjadi satu pendekar yang sukar menemui tandingan. Tapi peryakinan lwekang (tenaga dalam) yang sempurna bukannya gampang. Itu harus meminta bukan satu dua tahun tempo, tapi makan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ puluhan tahun. Meskipun demikian, Liok Sinshe yakin, dalam bimbingannya dalam waktu tidak sampai sepuluh tahun, ia bisa bikin Lo In menjadi jago tak terkalahkan. -- 5 -Hanya sayang sekali, Liok Sinshe yang mengasuh Lo In sampai setengah jalan, baru saja ia menggembleng lwekang Lo In dua tahun lamanya, tiba-tiba ada bencana dengan kedatangannya Siauw-san Ngo-ok dan kawan-kawannya. Liok Sinshe jatuh tergelincir ke dalam jurang yang jejaknya tak dapat diketemukan oleh Lo In yang berusaha mencarinya siang malam. Setelah dapat menahan kibasan sayap si rajawali yang demikian dahsyatnya, diam-diam Lo In merasa sangat geregetan. Ia sendiri merasa tenaga dalamnya ada hebat, tidak berani ia balas menyerang pada burung kesayangannya, kuatir nanti si rajawali terluka oleh karenanya. Sekarang, siapa yang ia dapat ajak berlatih setelah si burung raksasa tak berdaya menghadapi ia ? Pada suatu malam, ia keluar dari gubuknya. Tidak lagi ia leloncatan dari satu ke lain dahan pohon untuk turun ke bawah, meniru si burung raksasa. Benar-benar hebat ilmu entengi tubuhnya. Bagaimana ia dapat demikian hebat ginkangnya ? Inilah justru menjadi pertanyaan yang sampai sebegitu jauh belum dapat dijawab olehnya sendiri. Tidak jauh dari situ ada terdapat satu lapangan, cukup besar untuk berlatih silat. Di sekitarnya banyak tumbuh pohon, tinggi dan rendah, tidak rata. Dan ini semua bagi Lo In merupakan lapangan untuk melatih ginkangnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Di bawah terangnya sang rembulan, Lo In tampak melatih ilmu silatnya ajaran Liok Sinshe dengan tangan kosong mula-mula. Pukulan-pukulannya ternyata luar biasa, semua menerbitkan angin menderu. Kapan ia tujukan pukulannya ke atas, cabangcabang pohon yang jaraknya dua tombak pada bergoyang dan daun-daunnya pada berjatuhan ke tanah. Gerakannya gesit luar biasa hingga yang tak melihat dengan mata kepala sendiri tentu akan tidak percaya Lo In mempunyai tenaga yang sempurna dan ilmu silat yang aneh-aneh melihat usianya baru masuk empat belas tahun. Lo In tidak merasa kalau ia dalam lembah itu diam-diam sudah melewatkan waktunya hampir 2 tahun. Pantas badannya makin tinggi, sedang romannya makin nyata kecakapannya. Sayang pakaiannya mulai compang camping. Maklumlah ia masuk ke dalam lembah itu tak membawa bekal pakaian. Jadi ia tiap hari mengenakan pakaian itu-itu juga. Setelah berlatih dengan tangan kosong, Lo In ganti berlatih dengan pedangnya, juga tidak kurang hebatnya. Kalau tak dapat dikatakan lebih hebat dan seram pula. Kecepatan memainkan pedang yang bobotnya sangat enteng, menimbulkan angin santar. Suaranya 'bat bet bat bet', bisa membuat musuh yang menghadapinya ciut nyalinya. Berhenti berlatih, Lo In duduk termenung di atas rumput. Ia masih penasaran, lalu bangkit dari duduknya menghampiri sebuah pohon siong (cemara) yang ukuran bulat batangnya sebesar betis orang gemuk. Ia pasang kuda-kudanya lalu kerahkan lwekangnya. Tampak seperti menghembus hawa putih dari embun-embunannya. Ia berdiri kira-kira satu tombak

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dari pohon yagn mau dibuat sasarannya. Setelah merasa cukup kekuatan untuk menyerang, kedua tangannya digeraki berbareng, diulur ke depan. Angin menghembus keluar hebat bukan main. Segera terdengar suara 'krak !'. Disana, pohon siong yang dipakai sasaran, kelihatan tumbang. Tidak dapat menahan serangan Lo In yang dahsyat itu. Lo In berdiri bengong. Ia kagum akan tenaganya sendiri, berbareng ia menanya dirinya sendiri, dari mana mendapat tenaga yang luar biasa itu. "Celaka." katanya dalam hati kecilnya. "Tenagaku begini dahsyat, aku tidak boleh sembarangan pukul orang !" Sebentar lagi ia akan meninggalkan tempat. Lo In kira tidak ada yang lihat perbuatannya. Tidak tahunya, diam-diam sambil mendekam di atas dahan pohon, si rajawali menonton ia tengah berlatih silat dan matanya si burung terbelalak kagum menyaksikan Lo In memukul tumbang pohon siong. Sampai dibawah pohon, dengan gerakan 'walet terbang menembusi awan', ilmu entengi tubuh yang paling ia suka, Lo In sebentar saja sudah ada didalam gubuknya lagi. Bulak balik ia di pembaringannya. Tidak bisa tidur memikirkan akan keanehan tenaganya yang luar biasa. Tiba-tiba berkelebat dalam benaknya tentang 'Jit-goat-ko', buah mujizat yagn ia makan demikian harum dan lezat rasanya. Pikirnya, apakah oleh karena makan itu ? Ia kemudian merasa sangsi lagi sebab setelah ia makan buah itu, ia lantas rasakan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ perubahan aneh dalam tubuhnya, enteng dan gesit dirasakan tubuhnya, tenaganya pun meningkat entah berapa puluh kali karean si burung raksasa kontan pada hari-hari berikutnya tidak berdaya menghadapi ia berlatih. Dari mana kawanan kera itu dapatkan buah ajaib itu ? Maka pada keesokan harinya, ia lantas kumpulkan kawankawan keranya. Ia majukan pertanyaan, siapa diantaranya yang membawakan buah yang bentuknya macam telur angsa dan warnanya merah putih. Lo In gunakan bahasa monyet menanyakannya hingga puluhan monyet yang hadir dalam pertemuan itu pada cetcowetan ramai. Rupanya satu dengan lainnya pada saling bertanya. Tidak lama, satu kera yang berpotongan kecil tapi gesit, lompat ke depan Lo In, berlutut sambil anggukanggukkan kepala. Lo In girang melihatnya. "Pek-gan, jadi kau yang membawakannya untukku ?" ia menanya seraya mengeluselus kepalanya si kera. Pek-gan, kera itu dipanggil Lo In, artinya 'Mata Putih'. Ia ada satu kera jantan yang bertubuh kecil, tapi kegesitannya melebihi kawan-kawannya. Dua matanya putih seperti mata yang terbalik, tapi ia melihat terang sebagaimana biasa. Malah ada keistimewaannya, dengan sepasang matanya yang aneh itu, pada malam hari gelap ia dapat melihat tegas terang bagaikan siang hari. Ia mempunyai teman yang hampir sama gesit dan cerdasnya dengan dia. Kera ini kepalanya putih dan lebih jangkung sedikit, tapi kurusnya sama. Ia dipanggil 'Pek-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tauw' oleh Lo In, artinya 'Kepala Putih'. Dua kera ini paling disayang oleh Lo In karena gayanya yang lucu dan sering bikin ketawa, baik dalam percakapan maupun dalam kelakuannya. Hingga bagi Lo In, mereka itu ada dua penghibur yagn menyenangkan. Lain dari itu, dalam soal mengantar buah-buahan mereka tidak sembarangan asal petik saja. Selalu mereka pilih buah-buah yang istimewa untuk dipersembahkanpada junjungannya. Oleh karenanya Lo In sangat menghargakan mereka. Pek-gan senang kepalanya diusap-usap Lo In, matanya melirik bangga pada kawan-kawannya. "Pek-gan, coba kau terangkan dari mana kau dapatnya. Apa kau masih bisa dapatkan pula beberapa buah untukku ?" demikian kata Lo In dalam bahasa kera. Pek-gan geleng-geleng kepala. Mulutnya kemudian cetcowetan sambil tangannya menunjuk-nunjuk. Rupanya ia sedang cerita menuturkan pengalamannya. Lo In mengerti cerita Pek-gan. Kiranya buah mujizat itu si kera dapatkan pada satu tebing yang curam disebelah barat mereka sedang berkumpul. Pohonnya hanya mengeluarkan dua buah. Malah setelah dipetik buahnya, pohon itu lantas layu, daun-daunnya pada kuncup. "Tidak apa." kata Lo In. "Lain kali kau boleh bawakan lagi buah-buah lain yang sama baiknya. Nah, kau boleh kumpul lagi dengan teman-temanmu !" Lo In sambil tepuk-tepuk pundaknya si kera.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Berbareng dengan ini, tiba-tiba Lo In dan kawanan kera menjadi kaget mendengar suara monyet berteriak-teriak minta tolong Lo In dan yang lain-lain pasang kuping untuk menegasi dari mana datangnya suara minta tolong itu. "Ah, itu suaranya Ji-hek !" kata Lo In sambil lompat dari duduknya. Terus ia gunakan ilmu entengi tubuhnya, memburu ke selatan. Semua kera paling kalut, masing-masing gunakan kecepatan lari menyusul Lo In. Sedang si rajawali juga tidak ketinggalan, pentang sayapnya dan terbang mendahului Lo In. Lo In tidak minta 'kapal terbangnya' stop dahulu untuk membawa dia, sebab ia tahu Ji-hek lebih perlu lekas ditolong, jikalau ia mendengar teriakannya yang menyayatkan hati. Ketika Lo In sampai disatu lapangan terbuka, ia lihat rajawalinya sedang bertempur dengan manusia, entah siapa dia. Tidak jauh dari mereka bertempur, tampak menggeletak Toa-hek, tengah dipeluki oleh Ji-hek sambil berteriak-teriak menangis minta pertolongan. Cepat Lo In menghampiri Ji-hek. Melihat Lo In datang, Ji-hek kegirangan. Mulutnya ramai menceritakan apa yang sudah terjadi. Kiranya Toa-hek sudah bertempur dengan orang yang sekarang lagi bertempur dengansi rajawali. Dalam keadaan tidak waspada, Toa-hek sudah dirubuhkan dengan senjata beracun.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lo In tidak perhatikan Ji-hek nyerocos cetcowetan. Ia terus saja memeriksa lukanya Toa-hek. Keadaannya parah juga, matanya meram saja ! Lo In girang sebab Toa-hek tidak terancam bahaya kematian karena lukanya. Cepat ia bersihkan darah di pundaknya Toa-hek. Dengan tangan bajunya lalu keluarkan obatnya, dioleskannya, sedang pil mustajabnya dimasukkan ke dalam mulutnya Toa-hek. Mustajab benar obatnya Lo In, warisan Liok Sinshe. Karena tidak lama setelah obat berjalan dalam perut dan pundaknya, Toa-hek sudah dapat membuka matanya dan merintih pelanpelan. Melihat Toa-hek sudah tertolong, maka Lo In bangun berdiri menyaksikan pertempuran si garuda dengan lawannya. Ia perhatikan musuhnya si garuda ternyata adalah seorang tua dengan hidung bengkok seperti patuk burung kakaktua, mulutnya lebar, jidatnya jantuk. Entah ada tanda apanya lagi di mukanya sebab hanya itu saja yang dapat dilihat dari kejauhan oleh Lo In. Ternyata orang tua itu ada punya lwekang hebat juga. Sebab samberan si rajawali terus dapat ditolak mundur. Tampak si rajawali napsu benar hendak membinasakan musuhnya. Angin pukulan si orang tua, seolah-olah tidak dihiraukan. Ia terus menyambar musuhnya sambil perdengarkan pekikan yang gusar sekali. Entah ada permusuhan apa si rajawali begitu marahnya. Lo In lihat, orang tua itu mulai keteter. Ia mulai gunakan senjata rahasianya. Ser ! Ser ! Lo In dengar suaranya senjata rahasia si orang tua menyambar pada si rajawali. Tapi sampai

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sebegitu jauh dengan kebasan sayapnya, saban kali senjata rahasianya si orang tua dapat dijatuhkan. Lo In kuatir akan keselamatan burung kesayangannya. Maka ia lalu bersuit, si rajawali masih bernapsu bertempur. Suitan tanda memanggil Lo In seperti juga ia tidak mendengarnya. Tapi, ketika suitan yang kedua nadanya agak keras, membuat si rajawali tak dapat membandal panggilan tuannya. Ia putar tubuh dan terbang menghampiri Lo In. Sementara itu, si orang tua sudah memburu datang. Kiranya dia itu seorang tua dari usia kira-kira 50 tahun. Selain tanda-tanda yag Lo In dapat lihat terlebih dahulu, ia saksikan lagi, orang tuaitu mulutnya dan giginya omping. Entah tinggal berapa giginya, yang terang di sebelah depannya, atas bawah sudah sungsang sumbel. Segera Lo In dan si orang tua sudah berhadap-hadapan, kira satu tombak jauhnya. Sambil menunjuk dengan jarinya, si orang tua berkata pada Lo In, "Em ! Jadi kau ini tuannya si burung celaka itu ?" Lo In merasa tidak senang burungnya dikatai 'si burung celaka'. "Lotiang (orang tua), kau sudah celakai Toa-hek, lantas kau mau celakai juga aku punya Tiauw-heng, apa maksudmu ?" Lo In balik menanya tanpa menjawab pertanyaan orang yang diajukan lebih dahulu. "Aku tidak peduli kau punya Toa-hek, Tiauw-heng, Sam-heng,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ apa hek apa heng kek ! Asal aku mau bunuh, tidak ada orang yang berani rintangi !" si orang tua nyerocos, kasar betul. Suaranya nyaring macam gembreng pecah. Lo In mendongkol hatinya. Tapi ia tidak berani kurang ajar. Ia tetap berlaku sopan terhadap orang asing itu. Selama hampir dua tahun dalam lembah, hari itu, Lo In untuk yang pertama kalinya ketemu lagi dengan manusia. Di samping ia suka berlaku jail, mengocok orang, juga perangainya halus dan ingin bersahabat sama siapa juga. "Jadi lotiang masih marah sekarang ?" tanyanya. Matanya si orang asing mendelik. "Aku mau bunuh orang utan dan burung busukmu. Kau mau apa ?" bentaknya. Lo In kedip-kedipkan matanya, seperti yang ketakutan. "Lotiang, kau sebenarnya siapa ? Apa namamu ?" tanya Lo In tenang. "Hahaha." si orang asing ketawa, seraya tepuk-tepuk dadanya. "Tidak perlu kau tahu siapa aku sebab kau masih bocah. Tapi tidak apa aku sebutkan supaya mati merem. Hahaha, aku ini Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng dari Coa-kok !" Lo In tidak kaget si orang asing sebutkan namanya, sekaligus dengan gelarnya 'Toan Bilo-mo' atau 'Si Iblis Alis Buntung'. Yang membikin ia heran, Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng macam orang edan. Apa dia setengah atau memang betul-betul sinting ? Lo In tanya dirinya sendiri.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kalau orang baik-baik, tidak semestinya ia menyebutkan namanya yang seram sambil tepuk-tepuk dada dihadapan seorang anak kecil seperti Lo In. Sebab Lo In belum tahu apaapa dengan dunia Kang-ouw. Yang lebih aneh pula, Siauw Cu Leng pakai mengatakan 'supaya kau mati merem' segala, apakah maksudnya ? Apa ia mau bunuh juga Lo In ? Ini pun menjadi pertanyaan dalam hatinya si bocah. Lo In memandang mukanya si iblis, benar-benar saja kedua alisnya pendek (kuntugn), cuma setengah dari alisnya orang biasa. Setelah menyebutkan nama dan gelarnya, Siauw Cu Leng jalan mau menghampiri Toa-hek sehingga Toa-hek mengerang gusar sedang Ji-hek tampak siap sedia buat menjaga kalau suaminya diserang. "Hei, kau mau apa ?" tanya Lo In. "Ah, kau anak bau, tau apa !" sahut Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng seraya mengebaskan lengan bajunya. Dari mana mengembus angin keras, menyerang Lo In. Si Iblis Alis Buntung berdiri heran melihat Lo In tidak apa-apa. Si bocah tinggal tetap berdiri ditempatnya. Biasanya, kalau orang akan jungkir balik, apalagi ini anak kecil yang dikebas, kenapa dia diam saja ? Demikian tanya si iblis dalam hatinya. Apa kurang kencang kebasannya ? Maka ia lalu mengebas sekali lagi dengan lwekan ditambah menjadi 7 bagian, tapi...... Lo In masih berdiri ditempatnya sambil bersenyum geli.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Rupanya ia masih merasa lucu atas kelakuan si iblis. Memang, kalau anak kecil biasanya yang dikebut pasti akan jungkir balik dan mungkin jatuh pingsan. Tapi kali ini Lo In yang dikebas, tidak bisa mempan sebab tenaga dalam Lo In ada diatasnya si Iblis Alis Buntung. "Silahkan, kau mau bunuh Toa-hek ?" tanya Lo In ketika melihat si iblis berdiri tertegun. Sebagai tokoh iblis yang ditakuti sepak terjangnya, tentu saja Siauw Cu Leng tidak mengira dapat dijatuhkan demikian mudah oleh satu anak kecil yang masih ingusan, kata hati kecilnya. Ia lalu lompat menerjang, menghajar Lo In dengan kedua tangannya yang menghembuskan angin besar. Debu dan tanah berterbangan saking hebatnya dilanggar angin serangan Siauw Cu Leng. Tapi Lo In sudah menghilang dari depannya. Bukan main kagetnya, cepat ia putar tubuhnya. Dilihat Lo In sudah berada dibelakangnya sambil anteng-anteng saja menggendong tangan. "Tanah tidak berdosa kau hajar begitu bengis, lotiang !" Lo In kata dengan jenaka. Malu bukan main si Iblis Alis Buntung diejek si bocah, naik pitam dia. "Bagus, kau jaga pukulan mautku !" teriaknya nyaring. Pukulan yang dikerahkan dengan tenaga maksimum kalau kena tubuh Lo In bisa hancur lebur berkeping-keping, tapi lagi-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ lagi pukulan si iblis cuma bisa menghajar tanah sebab Lo In sudah bisa menghilang lagi kemana tahu. "Anak busuk, kau berani permainkan aku, Toan Bilo-mo ?" bentaknya sambil celigukan, matanya mencari bayangan Lo In. SI iblis benar heran. Entah bagaimana Lo In bergerak sebab tahu-tahu ia hanya menghajar tanah lagi. Ia marah-marah hanya untuk menyimpan mukanya dari perasaan malu sebab sebenarnya telah takut bukan main dalam menghadapi si bocah punya kegesitan yang seperti setan saja bisa menghilang. Pikirnya, kalau tidak siang-siang angkat kaki, ia bisa susah. Ia tahu bahwa saat itu Lo in berada di samping kirinya. Ia bukan menyerang lagi, hanya ia lompat ke depan dan angkat kaki terbirit-birit lari. Lo In tidak mau tanam bibit permusuhan, makanya ia tadi hanya lawan si iblis dengan kelincahannya saja mengelakkan serangan-serangan. Ketika si iblis melarikan diri, ia hanya ketawa, tidak mengejar. Tapi tidak demikian dengan si rajawali, begitu meliaht Siauw Cu Leng lompat lari, ia juga gerakan sayapnya menyerang dari atas. Cakarnya yang bagaikan baja, nyaris mencomot hilang kepalanya si iblis, kalau Siauw Cu Leng tidak menggunakan tipu 'Keledai malas bergulingan diatas rumput', akan kemudian disusul dengan gerakan 'Lo hie ta teng' atau 'Ikan gabus meletik', untuk ia terus melarikan diri. Lo In tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan pertunjukan itu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ ia tidak ijinkan si rajawali mengejar terus lawannya karena ia tahu orang itu sangat licik hingga mungkin burung kesayangannya nanti bisa dapat celaka oleh senjata rahasianya yang berbisa. Oleh karenanya ia lalu memperdengarkan suitannya memanggil si rajawali untuk terbang pulang. Tampak burung kesayangannya unjuk roman bengis dan penasaran. "Tiauw-heng, kau kenapa begitu marah pada dia ?" tanya Lo In seraya elus-elus sayapnya, sebagaimana biasa unjuk kesayangannya. Si rajawali tidak geleng atau anggukkan kepalanya, dia diam saja. Lo In mengerti burung kesayangannya sedang marah. Seketika itu ia ingat akan kejadian si burung raksasa menderita luka, ia terkena anak panah beracun. Maka cepat ia pungut anak panah yang barusan menancap dipundaknya Toa-hek. Ketika ia perhatikan dengan seksama, lantas ia mengerti bahwa yang memanah si rajawali adalah si Iblis Alis Buntung. Pantesan burung kesayangannya begitu marah pada Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng. "Tidak apa, lain kali kita ketemu, kita akan kasih hajaran padanya." menghibur Lo In pada burung garudanya. Si rajawali kali ini, mendengar Lo In mengucapkan kata-katanya telah memanggutkan kepalanya. Kenapa Toa-hek bertempur dengan Toan Bilo-mo Siauw Cu

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Leng ? Itu adalah kebetulan kesompokan di jalanan. Ketika Siauw Cu Leng sedang jalan lewati pohon, tiba-tiba ada bayangan lompat dari atas. Ia kaget, cepat balik tubuhnya dan ia lantas berhadapan denga Toa hek sebab bayangan tadi memang Toa-hek yang barusan turun dari pohon. Sebenarnya, kalau Siauw Cu Leng tidak timbul niatan ingin menaluki si orang utan, ia teruskan jalannya, tentu tidak akan ada kejadian apa-apa, sebab Toa-hek juga tidak perdulikannya. Apa mau, Siauw Cu Leng ketarik dengan tubuhnya Toa-hek yang tegap dan kokoh kuat. Pikirnya, kalau ia bisa taluki orang utan ini dan dijadikan pembantunya, ada baiknya juga untuk disuruh-suruh. Segera ia datang mendekati, ia mulai mengganggu, mengundang kemarahan Toa-hek. Ia berhasil sebab Toa-hek lantas kedengaran menggerang gusar. Dengan gerakan 'Hek houw tam jiauw' atau 'Macan hitam mencengkeram', ia lompat menerjang. Tangan kanannya menyambar lengan kiri Toa-hek, sedang tangan kiri, dengan dua jarinya meluncur mau menotok 'hongbun-hiat', jalan darah di pundak kanan si orang utan. Inilah gerakan yang dilakukan dengan cepat. Pikirnya, dalam segebrakan itu ia akan bikin lawan tidak berdaya. Tapi perhitungan Siauw Cu Leng ternyata keliru sebab Toa-hek segera elakkan lengannya yang hendak dicekal sedang tangan kiri si iblis yang hendak menotok pundak sudah kena ditangkis keras sekali hingga si iblis lompat mundur saking kaget dan kesakitan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Apa mungkin monyet ini bisa ilmu silat ?" ia menanya dirinya sendiri, sambil matanya mengawasi Toa-hek. Tapi si orang utan yang sudah marah, tak mengasih kesempatan untuk Siauw Cu Leng banyak menanya-nanya dalam hatinya karena segera ia menyerang dengan tangannya yang gede berbulu dan kepaksa si iblis harus keluarkan kegesitannya untuk menyelamatkan diri. Ia rada ngeri untuk kasih tangannya bentrok lagi dengan tangan Toa-hek sebab barusan ketika ditangkis, ia rasakan tangannya seperti ditangkis sepotong besi sampai ia rasakan kesemputan tangannya. Sebaliknya, ia mau menggunakan lwekang, menggempur rubuh Toa-hek, hatinya tidka mengirakan karena ia ingin taluki si orang utan, bukannya hendak membunuhnya. Jadi, bagaimana ia harus berbuat ? Dalam berkelit sana sini, menghindarkan sambarang tangan Toa-hek, si iblis putar otaknya mencari jalan merobohkan Toa-hek. Ia dapat jalan rupanya sebab sebentar kemudian ia lompat keluar dari pertempuran, lari dikejar oleh Toa-hek. Siauw Cu Leng menyelinap dibalik sebuah pohon besar hampir dua pelukan, disini dia ajak Toa-hek main petak, berputar ia disini sampai kemudian ia berada dibelakang si orang utan. Diam-diam ia keluarkan panah beraacunnya, terdengar Toa-hek menjerit roboh karena pundaknya kena dilanggar senjata rahasia si iblis. Siauw Cu Leng kegirangan. Tapi baru saja dengan terbahakbahak ia ketawa seraya mendekati Toa-hek, dari atas pohon

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menyambar satu bayangan. Untung ia awas. Cepat berkelit selamatkan diri dari serangan. "Bangsat pembokong !" bentaknya sambil memandang orang yang membokong tadi. Ia terkejut juga sebab yang menyerang dirinya bukanlah manusia, tapi orang utan lagi, orang utan betina. Memang Jihek yang datang hendak menolong suaminya yang terancam bahaya. Segera mukanya si iblis berubah. Napsu membunuhnya tampak dari romannya yang beringas. Ia kerahkan lwekangnya, maksudnya hendak menghajar Ji-hek dengan sekali pukul saja. Tapi pada saat Ji-hek terancam bahaya, tiba-tiba terdengar suara si rajawali mendatangi, bagaikan kapal terbang yang hendak mendarat saja, si burung raksasa menyambar Siauw Cu Leng. Pohon dimana si iblis berdiri ada merintangi si rajawali menyambar dengan leluasa. Maka ia serempet Siauw Cu Leng dengan sayapnya hingga si iblis terpental bergulingan, sebelum ia berdaya untuk menyelamatkan dirinya. Ia bergulingan menjauhi pohon kemudian ia lompat bangun, lebih jauh lagi jaraknya dari pohon yang membuat si rajawali tidak leluasa. Maka dengan enak saja Kim-tiauw permainkan Siauw Cu Leng dengan kebasan sayap dan cakaran kedua kakinya yang tajam-tajam. Tapi Siauw Cu Leng ada satu tokoh iblis yang sudah terkenal dalam kalangan Kang-ouw. Maka tidak mudah si rajawali mencomot kepalanya yang saban kali hampir tercakar sebab ketika si iblis dapat memperbaiki posisinya, segera juga serangan-serangan si rajawali di balas dengan serangan tangan yang menghembuskan angin santar. Itulah Pek-kong-ciang, pukulan udara kosong yang digunakan Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Si rajawali dengan demikian terus ketahuan tiap menyambarnya. Pertarungan dilakukan hebat sekali sebab si rajawali yang kenali musuhnya yang telah melukai ia, kelihatannya sangat bernapsu sekali hendak mencakar dan mematuk binasa musuhnya itu. Siauw Cu Leng menggempur dengan hati-hati, ia pun sudah siapkan panah beracunnya untuk merobohkan si rajawali. Justru ia sudah siap, tiba-tiba terdengar suitannya Lo In. Suitan pertama si rajawali belaga pilon, tapi suitan kedua yang nadanya agak keras, membuat si rajawali tak dapat meremehkan panggilan tuannya dan ia putar tubuh melayang balik menyampari Lo In. Siauw Cu Leng menyesal sekali ia terlambat melepas panah beracunnya karena gara-gara suitan Lo In. Oleh karena itu juga, maka Siauw Cu Leng sudah mendatangi Lo In dan marah-marah di depan si bocah seperti orang gila. Tapi kesudahannya ia kena dipecundangi si jago kecil dengan hanya menggunakan kegesitan entengi tubuhnya saja. Toa-hek sangat berterima kasih atas pertolongan Lo In. Tiba-tiba ia jatuhkan diri, menyembah di depan si jago cilik. "Kau terlalu menghargai aku, Toa-hek. Bangunlah !" berkata Lo In sambil tepuk-tepuk pundaknya Toa-hek. Lo In berjaln pulang dengan diiringi oleh tentara keranya. Dalam perjalanan, Lo In berpikir mungin dalam lembah itu bukan ia sendiri manusia yang menjadi penghuninya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Munculnya si Iblis Alis Buntung sudah tentu ada kawankawannya pula yang turut dengannya. Berpendapat bahwa disekitarnya lembah mesti ada orang-orang lainnya pula yang tinggal, maka dalam hatinya jago cilik kita ingin ia ketemukan mereka itu untuk menanyakan keterangan kalau-kalau diantaranya ada yang mengetahui tentang jejaknya Liok Sinshe. Meskipun hampir dua tahun sudah, Lo In menjadi penghuni lembah, belum pernah ia melupakan Liok Sinshe. Tiap hari ia masih terus mencari jejaknya Liok Sinshe. Malah tentara keranya dikerahkan untuk membantu mencarinya. Ia sangat mencintai Liok Sinshe yang ia anggap sebagai pengganti orang tuanya, yang ia tidak tahu siapa dan dimana adanya sekarang. Tiga hari sejak kejadian diatas, Lo In dengan sendirian coba melakukan pemeriksaan disekitarnya tempat dengan pengharapan ia akan bertemu dengan orang yang ia dapat ajak bicara. Ia menerobos sana menerobos sini, diantara pepohonan yang lebat sampai akhirnya ia mendekati satu rimba bambu. Tidak jauh dari sini, ia lihat ada sebuah sungai kecil. Ia datang mendekati, duduk ditepinya untuk melepaskan lelah. Belum lama ia duduk, terbawa oleh silirannya angin, sayupsayup ia seperti mendengar ada orang yang merintih. Ia kaget kapan ia tegasi, rintihan itu keluar dari jalanan masuk ke rimba bambu tadi. Siapakah gerangan yang merintih itu ? Dalam hatinya, ia girang dapat menemukan manusia disitu, tetapi juga kuatir bahwa ia akan terlambat dapat menolong orang yang dalam

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kesulitan itu sebab dari suara rintihannya, orang itu seperti mendapat luka berat. Dengan beberapa kali lompatan saja, Lo In sudha masuk ke dalam rimba bambu. Di pinggiran jalan ia nampak ada satu nenek yang sedang rebah merintih. Ia datang mendekati, ia pegang lengannya si nenek dari belakang sebab si nenek sedang rebah miring. "Kau kenapa, Popo ?" tanya Lo In. Lo In menduga si nenek bisa silat sebab dari dandanannya ada lain dari kebanyakan nenek-nenek. Juga ia lihat, tidak jauh dari si nenek, ada kedapatan sepotong besi, panjang tiga kaki. Rupanya potongan besi itu yang merupakan toya pendek, ada gegumamnya si nenek yang roboh merintih. Merasa lengannya dipegang orang, si nenek berbalik dan memandang Lo In. "Oh, anak." sahutnya. "Aku terluka berat oleh itu anjing keparat !" Paras mukanya si nenek kelihatan seperti yang marah dan penasaran. "Siapa yang lukai Popo ?" tanya Lo In. "Ah, kalau diceritakan, gemas sekali aku pada si keparat ! Aku hanya kalah sejurus saja, apa mau betisku kena ditendang oleh tendangan geledeknya hingga aku rubuh tidak ampun

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ lagi. Untung dia tidak barengi mengemplang kepalaku dengan toyaku yang dia rampas. Kalau sampai begitu, celaka aku si nenek sekarang sudah mampus !" demikian si nenek menutur. Ia tidak menjawab langsung pertanyaan Lo In. Si nenek sambil bercerita, sembari bangkit dari rebahnya dan duduk. Lalu gulung kaki celananya yang kanan. "Nih, kau lihat. Bukankah orang itu amat kejam ?" si nenek sambung bicaranya sambil menunjuk pada lukanya. Lo In lihat, benar saja betisnya matang biru akibat tendangan lawannya. "Siapa yagn lukai Popo ?" Lo In ulangi pertanyaannya tadi. Si nenek mengawasi Lo In sebentar, lalu berkata, "Ah, kau masih kecil. Barangkali kau belum kenal dia. Dia itu ada satu iblis kejam. Namanya Siauw Cu Leng dengan gelarnya si 'Iblis Alis Buntung'. Anak, sebaiknya kau tolong aku dari pada kau tanyakan orang yang mencelakai aku sebab toh kau tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalaskan sakit hatiku si nenek !" Lo In hanya mendehem. Lalu ia segera mau periksa lukanya si nenek, tapi ia urungkan ketika si nenek berkata lagi, "Eh, tunggu dulu. Kau tentu mau tahu juga aku berhantam dengan si iblis, bukan ?" Lo In hanya manggutkan kepala. "Lantarannya ia menuduh aku sudah menemukan buah 'Jitgoat-ko' dan aku sudah memakannya sendiri." kata pula si nenek.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Apa buah 'Jit-goat-ko' itu ?" tanya Lo In. "Jit-goat-ko," sahut si nenek. "Bentuknya mungil sebesar telur angsa, warnanya merah putih. Siapa makan ini, tubuhnya akan kuat luar biasa. Kalau yang pandai silat, lwekangnya meningkat. Makan satu seperti tambahan tenaga dalam dari latihan 5 tahun. Makan dua sebagai berlatih 10 tahun. Siapa yang dapat makan buah ini, rejekinya besar. Mana aku si nenek punya itu rejeki dapatkan buah yang demikian, tapi difitnah oleh si jahat itu sampai aku rasakan semaput betisku ditendang olehnya. Baik, nanti ada satu waktu, aku akan bikin perhitungan padanya. Ia tak nanti lolos dari pembalasanku !" Sementara si nenek nyerocos cerita, Lo In diam-diam merasa terkejut dalam hatinya. Ia tidak sangka buah 'Jit-goat-ko' ada demikian besar khasiatnya. Pantas dia makan dua buah itu, tenaganya tambah entah berapa puluh lipat hingga ia bikin tidak berkutik Toa-hek dan si rajawali, dua teman dalam latihannya. Kalau begitu, pikirnya, tenaganya meningkat seperti juga ia berlatih sepuluh tahun sudah lwekangnya. Parasnya si bocah yang terkejut, tidak lepas dari matanya si nenek yang berkilat sebentaran, lalu berkata pada Lo In, "Anak, coba kau tolong periksa lukaku. Aku rasakan sangat sakit !" Lo In menurut, ia tekuk lututnya dan memeriksa luka si nenek. Tiba-tiba terdengar suara 'buk !' disusul oleh jeritan 'aiyoo !' dari Lo In berbareng badan si bocah lantas rebah terkulai. Kiranya Lo In kena dibokong si nenek. Ia kena perangkap sebab si nenek sebenarnya bukan terluka. Betisnya yang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ matang biru hanya buatannya sendiri dengan mengerahkan tenaga dalamnya, disalurkan ke betisnya hingga timbullah itu tanda seperti yang benar kena ditendang orang. Lo In masih kecil, belum kenal kecurangan manusia. Ia masih belum berpengalaman dalam rimba persilatan yang banyak akal-akal busuk yang dilakukan orang-orang jahat. Ia percaya saja akan obrolannya si nenek. Ketika ia tekuk lutut, nunduk untuk periksa luka yang dikatakan si nenek jahat, tiba-tiba dengan kejam si nenek membokong Lo In dengan tenaga sepenuhnya. Tentu saja Lo In yang tidak berjaga-jaga, sekali digebuk ia jatuh setelah mengeluarkan jeritan 'Aiyoo !' yang mengenaskan. "Hehehe !" si nenek tertawa terkekeh-kekeh sambil bangkit dari duduknya dan mengawasi korbannya yang rebah tengkurup, tidak sadarkan diri. "Bagus !" tiba-tiba terdengar suara orang dari gerombolan pohon bambu, berbareng orangnya muncul. Siapa, ternyata bukan lain orang adalah Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng sambil ketawa-ketawa datang menghampiri. "Anak bau !" katanya sambil menendang tubuhnya Lo In hingga terpental bergulingan setombak jauhnya. "Rasakan gempuran tangan ciciku !" si iblis menyerang gemas seraya memburu dan hendak menendang lagi. "Tahan !" kedengaran si nenek menyetop niatnya Siauw Cu Leng yang gemas sekali pada Lo In yang pernah bikin ia lari terbirit-birit.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Siauw Cu Leng tidak jadi menendang. Ia jadi uring-uringan, ia berkata, "Anak bau ini, buat apa ditinggal hidup ? Mampusi saja, habis perkara !" Si nenek goyang-goyang tangannya sambil jalan menghampiri. Dekat tubuh Lo In, ia jongkok mengawasi parasnya si bocah yang cakap tengah telentang dengan tidak ingat orang, mungkin napasnya sudah berhenti. Pelan-pelan tangannya si nenek ditempelkan pada dadanya Lo In. Ia dapatkan Lo In masih bernapas meskipun sangat perlahan. Kembali ia mengawasi pada paras Lo In lalu menghela napas, "Musti anak ini turunannya dia........." ia berkata perlahan, tapi cukup nyata bagi telinganya Siauw Cu Leng. Si Iblis Alis Buntung juga turut jongkok. Sambil turut mengawasi si bocah yang seolah-olah sudah tidak ada napasnya, Siauw Cu Leng menanya, "Siapa yang kau maksudkan, cici ?" "Dia..........dia........" sahtu si nenek bengong. "Oh, aku tahu. Dia si orang she........." Siauw Cu Leng kata lagi. Ia tak dapat meneruskan kata-katanya karena si nenek tiba-tiba menaruh telunjuk di mulut, bersuara "sstt !" Siauw Cu Leng celingukan sebab tanda dari kakaknya itu menandakan ada orang yang mengintai. Tapi ia tidak lihat apa-apa kecuali dua monyet kecil yang sedang lelompatan di pohon bambu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Yang satu kelihatan kepalanya putih sedang yang pendekan matanya putih. Dua monyet itu kelihatan lucu sekali. Setelah lama memperhatikan, mereka itu tidak mendengar gerakan apa-apa lagi, maka Siauw Cu Leng sambil ketawa berkata, "Ah, cici. Hanya dua binatang itu saja yang mengagetkan kita." sambil ia menunjuk pada dua kera yang seenaknya saja bermain lompat-lompatan saling kejar, malah terkadang sampai mendekati mereka dengan aksinya masingmasing yang lucu. Siapa si nenek itu ? Ia bernama entah siapa, tapi ia terkenal dalam kalangan kang-ouw dengan nama Ang Hoa Lobo atau si nenek Kembang Merah. Rupanya nama ini diambil dari kebiasaannya, pada rambutnya suka dicantum kembang yang warnanya merah. Kepandaiannya jauh diatas Siauw Cu Leng. Namanya saja si iblis Siauw cu Leng memanggil cici (kakak). Tapi sebenarnya mereka itu sudah menjadi laki bini diluar kawin. Ang Hoa Lobo 'jago racun', disamping kepandaian silatnya tinggi hingga Siauw Cu Leng yang biasa tidak takuti siapa juga, ia tunduk terhadap bininya diluar kawin itu. Ia pun juga mempunyai panah beracun buatang Ang Hoa Lobo. Demikian, tatkala mengetahui bahwa kecurigaannya tidak beralasan, makan Ang Hoa Lobo suruh Siauw Cu Leng pondong Lo In untuk dibawa pergi dari tempat itu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Siauw Cu Leng benci pada Lo In tapi ia tak dapat menolak perintah sang ratu. Terpaksa dengan uring-uringan ia angkat si bocah, terus dipanggul di pundaknya. Ang Hoa dan Kim Popo, jadi sudah dua-dua nenek yang muncul dalam cerita. Sekarang, mari kita melihat perjalanan Kim Popo dan asal usul dua nenek itu. Kim Popo setelah dijemur selama dua jam dibawah terik panasnya matahari, barulah dengan sendirinya totokan si thauto bebas. Di samping sangat gusar, ia rasakan tenggorokannya sangat kering. Cepat ia bangkit lalu menghampiri tongkatnya dan dipungutnya. Ia meneduh sebentar di bawah pohon kemudian ia mencari air, kalau-kalau didekat situ ada kali kecil yang jernih airnya. Keinginannya Kim Popo kesampaian, sebab tidak lama ia jalan, ia menemui sebuah kali kecil yang airnya jernih bagaikan kaca, keluar dari mata-mata air dari pegunungan. Kegirangan dia sampai di tepi kali, ia rebahkan diri tengkurap, tangan kanannya dipakai menyendok air. Dengan napsu, ia minum sekenyangnya. Ia cuci muka dan cacapi kepalanya yang barusan kena dijemur panasnya matahari. Ia rasakan adem sekali ketika merasakan air kali itu meresap di kepalanya. "Hahaha ! Dia ada disini !" tiba-tiba Kim Popo dibikin kaget oleh suara laki-laki dari belakangnya. Cepat ia bergulingan untuk menyelamatkan diri dari serangan gelap kemudian dengan gerakan 'Ikan gabus meletik', di lain saat ia sudah tancap kakinya berdiri sambil pegangn kencang tongkatnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ia menduga si thauto yagn datang lagi. Maka ia sudah siap untuk menempur musuhnya dengan mati-matian. Tapi ketika ia mengawasi orang yang tertawa tadi, amarahnya dengan seketika lenyap dan malah ia ikut ketawa dan berkata : "Koko, kau bikin kaget orang saja. Mengapa sih suka jail begitu ?" Tidak biasanya Kim Popo keluarkan suara dengan nada begitu empuk dan halus. Kiranya orang itu ada 'kenalan lama' dari Kim Popo. "Adik Kim, kau dari mana ?" tanya orang laki-laki itu. "Kau sendiri, datang dari mana dan mau kemana ?" balik tanya Kim Popo sambil melirikkan matanya. "Ah, adik Kim. Kau belum jawab pertanyaanku." kata lagi orang laki-laki itu sambil jalan menghampiri dekat pada si nenek. "Aku..... aku, eh......... kau........." sahut Kim Popo, agak gugup suaranya. Laki-laki itu telah mencekal tangannya Kim Popo yang kurus, dengan tangan kanan ia mencekal, sedang tangan kirinya memegang lengan kanan si nenek sehingga si nenek coba berontak dari cekalan dan pegangan si lelaki sambil mengucapkan kata-kata yang gugup tadi. Berontaknya Kim Popo hanya 'aksi' atau pura-pura saja. Sebab iahanya sebentaran saja beraksi demikian. Selanjutnya ia jinak, antapkan perbuatannya si laki-laki tadi sambil tundukkan kepala seperti anak dara yang malu-malu kucing.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Orang akan merasa geli dan lucu, melihat adegan yang 'luar biasa' itu. Kim Popo yang terkenal dengan adatnya yang angin-anginan dan kepala batu, eh, bolehnya begini jinak pada lelaki yang dihadapinya malah mengunjuk aksi manja aleman, bagaikan anak perawan usia sweet-seventeen. Siapakah lelaki itu ? Siapa Kim Popo itu ? Marilah kita menuturkan 'kisah roman' dari mereka yang cukup menarik. Di sebelah barat kota Hoa-im dalam provinsi Siamcay, ada tinggal bekas piauwsu (pengawal antaran barang) bernama Kong Tek Liang. Ia terkenal dengan ilmu tongkatnya yang dinamai 'Thian-lo Sin-kuay-hoat' atau 'Ilmu silat tongkat sakti jatuh dari langit', terdiri dari 6 jalan dan masing-masing jalan ada mempunyai 8 jurus, sama sekali jadi 48 jurus. Dengan kepandaiannya ini, ia banyak taluki penjegal-penjegal atau perampok-perampok besar, dalam perjalanan mengawal barang-barang antaran. Ketika ia masih jadi piauwsu, sehingga namanya terkenal dengan julukan Sin-kuay piauwsu atau Piauwsu Tongkat Sakti. Setelah berusia tua, ia dengan sendirinya mengundurkan diri dan menetap di sebelah barat kota Hoa-im. Kong Tek Liang mempunyai anak perempuan bernama Kong Kim Nio, yang sangat dimanjakan karena ia hanya puteri satusatunya. Di samping Kong Kim Nio, si Piauwsu Tongkat Sakti

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mempunyai dua murid bernama Siauw Cu Leng dan The Sam. Kim Nio ada berparas cantik menarik hingga Siauw Cu Leng dan The Sam tergila-gila oleh kejelitaannya Kim Nio. Siauw Cu Leng parasnya cakap tapi sifatnya licik dan agak ceriwis. Sebaliknya The Sam, meskipun kalah cakap dari Siauw Cu Leng, ia lebih pandai dalam merayu si dara. Hatinya Kim Nio lebih mendoyong pada The Sam, pergaulan mereka pun menjadi lebih erat oleh karenanya. Pada suatu hari, Kim Nio duduk berduaan dengan The Sam beromong-omong dalam sebuah taman bunga yang terdapat dipekaranagn rumah Kong Tek Liang yang lebar luas. Mereka begitu asyiknya ngobrol sampai tak disadari dua tangan mereka saling pegang. "Adik Kim," terdengar suara The Sam berkata dengan suara perlahan. "Mungkinkah kita bisa jadi kawan seumur hidup ?" "Kenapa tak mungkin, koko ?" sahut Kim Nio dengan mukanya bersemu merah sebab seketika itu ia merasakan pegangan tangannya The Sam makin erat dan duduknya menggeser lebih dekat lagi. "Aku kuatir kau tidak menjadi milikku, adik Kim." kata The Sam, suaranyaagak gemetar. "Kenapa kau memikir begitu, koko ?" tanya Kim Nio seraya tarik tangannya yang dipegang erat-erat oleh The Sam. Tapi The Sam tidak mau melepaskan tangan yang ditarik pulang itu, malah ia menggunakan dua tangan menggenggam,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ seolah-olah takut tangan si gadis yang lemas halus laksana kapas itu terlepas. Kim Nio juga tidak memaksa, ia antapkan tangannya dalam genggaman kedua tangan The Sam yang kuat. Hatinya tiba-tiba memukul melihat The Sam duduknya makin menggeser saja merapati tubuhnya. "Adik Kim........" kata The Sam, suaranya hampir tidak kedengaran. "Kenapa, koko ?" tanya Kim Nio terkejut, melihat gerak gerik The Sam. Anak muda itu mengawasi parasnya si nona, dari sela-sela matanya The Sam menetes air mata turun mengalir di kedua pipinya. "Kau kenapa, koko ?" Kim Nio ulangi pertanyaannya, heran melihat The Sam menangis. "Aku mencintai kau, tapi aku akan kehilangan kau......." sahut The Sam. Ia menangis, seperti anak kecil. -- 6 -Kim Nio makin heran. Sambil tarik lepas tangannya dari genggaman The Sam, ia berkata, "Koko, kau omonglah yang jelas. Jangan kau menangis tidak karuan, membuat aku jadi menghadapi teka teki." "Adik Kim, boleh aku bicara terus terang ?" tanya The Sam setelah menyusut air matanya. "Kenapa tidak boleh." sahut Kim Nio. "Kau ceritalah dengan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tenang." "Adik Kim, aku bakal kehilangan kau sebab kau sudah ditunangi dengan Suheng Siauw Cu Leng dan...." sampai disini bicara The Sam mandek karena dipotong oleh Kim Nio. "Dari mana kau tahu ini ?" Kim Nio memotong, seraya bangkit dari duduknya, berjingkrak saking kaget. "Suhu yang ceritakan ini padaku." sahut The Sam. "Kenapa ayah tidak cerita tentang ini padaku ? Aku heran !" kata Kim Nio. "Dengan pertunangan ini, hilanglah pengharapanku. Bukankah itu berarti aku akan kehilangan kau, adik Kim ?" The Sam berkata lagi sambil tundukkan kepala. Kim Nio melihat si pemuda yang putus harapan, merasa amat kasihan. Hatinya, meskipun suka pada kecakapan Siauw Cu Leng, sebanding kalau menjadi suami istri, tapi ia tak dapat melupai Ji suhengnya (kakak kedua dalam perguruan), yang ia cintai dengan hati murni. Sebagai tanda bahwa ia lebih mesra terhadap The Sam, terbukti dari panggilannya. Ia seharusnya memanggil Ji-suheng pada The Sam tapi ia hanya memanggil 'koko' saja. Sebab pikir Kim Nio, panggilan ini ada lebih mesra kedengarannya. Tangang Kim Nio yang halus tiba-tiba diangkat lalu memegang dagu The Sam, diangkat hingga dua pasang mata bertemu pandangan. "Koko, kau jangan kuatir. Aku akan menjadi

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ milikmu......." kata Kim Nio menghibur, mulutnya yang mungil menyungging senyuman yang tak dapat dilupakan oleh si pemuda yang kuatir kisah cintanya akan menjadi tamat. Tampak The Sam pun bersenyum setelah mendengar katakata Kim Nio. Badannya tiba-tiba bergerak maju dan dilain saat tampak Kim Nio sudah berada dalam rangkulannya The Sam, jinak sekali kelihatannya. The Sam mencium pipi kanannya Kim Nio perlahan sambil berbisik, "Adik Kim......" "Ya....... koko........." sahut Kim Nio sambil merasakan ciuman hangat dalam pelukan kekasih yang ia sangat cintai. "Adik Kim, boleh aku menciummu lagi ?" bisik The Sam lagi. Kim Nio hanya manggut, bersenyum dan segera ia merasakan ciuman hangat di pipi kirinya. Keduanya saling peluk dengan penuh kasih. "Ha ha ha !" sekonyong-konyong terdengar suara ketawa mengejek. Dua makhluk yang sedang asyik dalam lautan asmara terkejut, melepaskan pelukannya dan masing-masing lompat menjauhkan diri satu sama lainnya. Di situ tambah satu orang ialah Siauw Cu Leng. Dengan suara sinis, Siauw Cu Leng berkata, "Bagus, bagus ya, perbuatan bagus !" Kim Nio berdiri tercengang, sedang The Sam tundukkan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kepala seakan-akan persakitan yang merasa bersalah. Tampak Kim Nio tekap mukanya dengan kedua tangannya, ia menangis saking malunya lalu lari masuk ke dalam rumah. "The Sam !" bentak Siauw Cu Leng kasar. "Apa kau tidak tahu adik Kim sudha menjadi milikku ? Apa kau belaga pilon dengan perkataan suhu ?" The Sam tidak menyahut, ia hanya tundukkan kepalanya. Siauw Cu Leng sebenarnya bukanlah dengan sengaja mengintip perbuatan mereka, tapi secara kebetulan saja. Ketika ia ke belakang, ia masuk ke taman bunga mau memetik sekuntum bunga untuk dihadiahkan pada Kim Nio, apabila sebentar sore pertunangan mereka diberitahukan pada si jelita oleh suhunya. Kong Tek Liang mengambil keputusan Siauw Cu Leng sebagai mantunya berdasarkan perhitungan bahwa Siauw Cu Leng cakap parasnya, pintar mengambil hati sang suhu, juga dengannya ada hubungan famili. Ibunya Siauw Cu Leng ada adik piauwnya yang menikah dengan orang she Siauw. Atas permufakatan kedua orang tua, ialah Kong Tek Liang dan ibunya Siauw Cu Leng, bapaknya sudah mati, mereka setuju merangkapkan jodoh anak-anaknya. Kepada Kim Nio sendiri, Kong Tek Liang belum memberi tahukan tentang pertunangan itu karena Sin-kuay Piauwsu mau mencari kesempatan yang baik sehingga anaknya tidak menjadi terkejut. Kong Tek Loang tahu bahwa anaknya ada lebih mencintai The Sam, maka dengan perlahan ia

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ merenggangkan dahulu pergaulannya kedua orang muda itu. Kepada The Sam ia sudah beritahukan. Maksudnya supaya The sam mengundurkan diri karena Kim Nio sudah menjadi miliknya Siauw Cu Leng. Si orang tua tidak mengira, bukannya The Sam mundur, malah makin merapat hubungannya hingga terjadi adegan yang dipergoki Siauw Cu Leng. Siauw Cu Leng yang pergoki bakal istrinya dipeluki orang, bukan main marahnya. Ia sudah lantas mau menerjang dan gebuk mampus The Sam, tapi ia takut salah pukul sehingga bukannya The Sam yang terpukul tetapi malah tunangannya. Maka ia hanya perdengarkan suara ketawanya yang bernada mengejek. Sekarang mereka hanya berduaan saja, makin meluap kegemasan Siauw Cu Leng. "Bangsat she The, kau terlalu kurang ajar !" teriaknya. "Berani kau merebut bakal istriku ? Nih, rasain !" Berbareng ia menerjang. Kepalanya The Sam menjadi sasaran dengan gerakan "Tok pek Hoasan' atau 'Menggempur gunung Hoasan'. Serangan dilakukan dengan cepat luar biasa, dibarengi dengan hawa amarah yang meluap-luap. Tidak heran kalau kepalanya The Sam yang sedang nunduk bisa berantakan otaknya kalau saja pukulan Siauw Cu Leng mengenakan sasarannya. The Sam tahu datangnya bahaya, cepat ia kelit ke kanan. "Tahan !" serunya. Siauw Cu Leng tarik pulagn tenaganya yang mengenakan sasaran kosong. Lalu dengan mata melotot menanya, "Kau

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mau bicara apa lagi ? Terima sajalah kematianmu ini hari !" Berbareng dengan itu ia juga sudah lantas mau menyerang lagi. "Kau adalah suheng dan aku adalah sute. Tidak seharusnya bila kakak adik mesti berkelahi. Maka haraplah suheng suka bersabar." kata The Sam seraya mengelakan tubuhnya, berkelit sana sini untuk menghindari serangan Siauw Cu Leng yang dilancarkan bertubi-tubi. "Hmm !" mendengus Siauw Cu Leng sambil serangannya tidak ia hentikan. "Maaf suheng kalau aku kurang ajar !" kata The Sam seraya kali ini, ia tidak mau mengalah terus terusan. Dua saudara dalam seperguruan itu jadi saling gasak dengan serunya. Dalam tempo pendek saja, sudah lewat 28 jurus. Siauw Cu Leng sangat penasaran untuk dapat menjatuhkan saudara mudanya. Dua saudara itu, sebenarnya kepandaiannya tidak berimbang. Dengan kata lain dapat dikatakan Siauw Cu Leng selangkah lebih unggul sebagai saudara tua. Tapi oleh karena Siauw Cu Leng berkelahinya dengan bernapsu, maka ia telah menelan pil pahit dari The Sam. Sehingga terbitlah suatu kejadian. Ketika ia menggunai tipu 'Hiu hi lian po' atau 'Ikan cucut menerjang gelombang'. Kepalan kirinya menjotos muka, sedang tangan kanannya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dengan dua jarinya meluncur menotok 'hoa kay hiat', jalan darah di pundak kiri The Sam. Serangan cepat itu dilakukan hampir berbareng, tapi The Sam juga tidak kurang cepatnya untuk menyelamatkan diri. Tangan kanan menangkis jotosan ke muka sambil kelit miring ke kiri berbareng ia menyambar lengan kanan lawan yang hendak menotok pundaknya. Ia menggennak sejenak, kemudian tangannya membalik, menghajar dada Siauw Cu Leng yang terjerunuk ke depan. Ini adalah jurus 'Sin-chiu Pa-houw' atau 'Tangan sakit menggempur macan', jurus keempat dari jalan kelima dari 'Thian Lo Sin-kuay-hoat', ilmu silat tongkat sakti yang menjadi kebanggaannya Sin-koay Piauwsu Kong Tek Liang. Telak hajaran The Sam didadanya Siauw Cu Leng sehingga ia rubuh seketika setelah mengeluarkan jeritan ngeri, dari mulutnya kontan menyemburkan darah panas dan ia jatuh pingsan. The Sam jadi ketakutan. Ia bukannya datang menolong, angkut sang suheng ke dalam rumah untuk minta pertolongan suhunya, sebaliknya ia malah angkat kaki dari situ untuk melenyapkan diri. Siauw Cu Leng menggeletak dengan tak sadarkan diri. Kong Tek Liang yang barusan pulang habis menamu ke rumah temannya, diberitahukan oleh Kim Nio, dua suhengnya tengah berkelahi. Lantas buru-buru melihat ke belakang dengan maksud mau memisahkan, tapi sudah terlambat. Disitu ia hanya dapatkan Siauw Cu Leng terlentang pingsan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ berlumuran darah. Bukan main kagetnya sang guru. Cepat-cepat ia memberikan pertolongannya setelah memeriksa lukanya di dada, ia pondong murid kepalanya itu dibawa masuk ke rumah. Kim Nio mengikuti dari belakang sambil menangis sesenggukan. Si Tongkat Sakti marah-marah dan mengeluarkan ancaman hendak menghukum The Sam tapi sejak itu tidak kelihatan pula mata hidungnya sang murid, apalagi pulang ke rumah. Hal mana sangat mendukakan hatinya Kim Nio. Karena kejadian itu, karena gara-garanya Kim Nio, maka sang ayah bertindak bengis menghukum Kim Nio disuruh merawati dirinya Siauw Cu Leng sampai sembuh. Mau tidak mau Kim Nio menurut, tidak berani ia membangkang. Apalagi ia mengingat tiada orang lain yang dapat merawati Siauw Cu Leng, selain ia berdua ayahnya yang sudah lanjut usianya. Dalam perawatan, Kim Nio bersungguh-sungguh sebab ia merasa berdosa. Ia yang menyebabkan luka parahnya sang suheng. Maka dengan berangsur-angsur Siauw Cu Leng mulai sembuh dari luka parahnya. Di waktu sakit tak dapat bangun, Siauw Cu Leng sering ditolong Kim Nio, mengangkat bangun dari tidurnya untuk minum obat. Pun sering membantu ayahnya mengurut-urut jalan darahnya sang suheng supaya lancar lagi. Dengan sering bersentuhan badan dan mata pandang memandang,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ hatinya Kim Nio pelan-pelan terpikat juga pada Siauw Cu Leng, lupa ia pada The Sam yang sekarang entah ada dimana. Sering Kim Nio menemani sang suheng duduk di tepi pembaringannya, kasak kusuk mengobrol ketawa-tawa. Dari memegang jari terus ia memegang tangan, lalu ke lengan. Kim Nio antapkan tangan nakal si ceriwis, malah ia bersenyum. Tapi alangkah kagetnya, tiba-tiba Siauw Cu Leng meniup padam api lilin. Kim Nio rasakan tangannya ditarik hingga ia terjerunuk menubruk badannya si bangor di atas pembaringan. Kim Nio berontak tapi sudah terlambat, dua tangan yang kuat telah memeluk dirinya. Kim Nio memberontak, tapi tidak berdaya karena ciuman si ceriwis Siauw Cu Leng yang bertubi-tubi membuat badannya jadi lemas tak bertulang. "Adik Kim,... oh...' "Suheng.... ah...." Hanya kata-kata ini yang terdengar sejenak dari lubang kunci pintu kamar Siauw Cu Leng, sayup-sayup kedengarannya seperti terbawa hembusannya angin. Itulah kisah pada suatu malam, dimana si Tongkat Sakti Kong Tek Liang tidak ada di rumah, lagi main tio-ki (catur Tionghoa) di rumah tetangganya. Masih terdengar suaranya Kim Nio, sayup-sayup jauh disana, tapi tegas : "Jangan suheng, jangan........"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lantas sang malam pun menjadi sunyi senyap....... Sejak itu, dua minggu kemudian dalam rumah Sinkuay Piauwsu Kong Tek Liang diadakan keramaian, pesta pernikahan Kim Nio, puteri tunggalnya dengan Siauw Cu Leng. Banyak kawan-kawannya Kong Tek Liang yang datang meramaikan pesta itu. Diantara tetamunya yang kelihatan sangat dihormati adalah Teng Siu bersama anak perempuannya bernama Teng Goat Go yang tinggal di sebelah selatan rumahnya Kong Tek Liang. Melihat dirinya dihormati lebih dari tetamu yang lainnya, Teng Siu tampaknya amat angkuh, seakan-akan ia tidak memandang mata pada banyak tetamu yang hadir dalam pesta itu. Maka, untuk mereka yang gampang tersinggung hatinya, tidak mau mendekatinya, kuatir nanti terbit urusan yang tidak diingini. Sebenarnya, memang Teng Siu orang takuti. Ditakuti bukan kepandaian ilmu silatnya yang tinggi atau ia seorang hartawan besar, ia disungkani kawan dan lawan karena 'racun'nya. Ia sangat mahir membuat racun hingga dalam kalangan 'hitam' (kawanan penjahat), ia sangat dihormati karena banyak diantara kawanan jahat itu yang membuat senjata rahasianya dengan bisa yang diperoleh dari Teng Siu. Dalam kalangan jahat, orang hanya kenal nama julukannya Hoa-im, si orang beracun dari Hoa-im. Anak perempuannya, Goat Go yang umurnya 24 tahun sebaya dengan Kim Nio, sudah mewarisi kepandaiannya sang ayah.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dengan Kim Nio, Goat Go kenal baik sebab teman dalam satu sekolahan. Meskipun parasnya cantik, Goat Go hatinya tidak cantik. Jelus, gampang mengiri. Maka tidak heran kalau ia mengiri pada Kim Nio yang dapatkan Siauw Cu Leng sebagai suami yang ganteng. Seperti juga dengan Kim Nio, Goat Go siang-siang sudah kehilangan ibu, meninggal dunia pada waktu ia berusia 8 tahun. Ia hidup bersama ayah dan Twa-ienya (kakak perempuan ibunya) yang menggantikan sang ibu yang sudah berada di alam baka. Goat Go lebih dimanja oleh orang tuanya dibandingkan dengan Kim Nio, kemerdekaannya tidak dikekang. Ia boleh pergi melancong seharian atau satu malaman tidak pernah ditegur oleh ayahnya, yang percaya penuh Goat Go bisa jaga diri sendiri. Begitulah, ketika ia habis pulang dari undangan, otaknya bekerja untuk mencari pasangan yang lebih cakap dari suaminya Kim Nio. Ia memang cantik menarik, banyak pemuda yang incar dirinya tapi tidak berani majukan lamaran karena pengaruh sang ayah yang termashur biasanya. Juga disekitar kampungnya, Goat Go tidak menemui orang yang secakap suami Kim Nio. Mana ia mau ladeni mereka yang mengincar dirinya. Ia justru ingin cari orang yang lebih cakap dan ganteng dari Siauw Cu Leng.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Teng Siu tidak memikirkan akan jodohnya sang puteri. Ia hanya menyerahkan atas pilihan anaknya, ia hanya akur saja. Pikirnya, ini demi keberuntungna anak tunggalnya. Pada suatu hari, selagi Goat Go ngelayap, ia mampir dalam sebuah rumah makan hendak mengisi perutnya yang lapar. Sikapnya galak betul, main bentak saja kepada pelayan yang melayaninya. Tapi si pelayan melayani ia dengan ramah tamah, meskipun dibentak-bentak. Ini karena si pelayan, siang-siang sudah mendapat bisikan dari majikannya supaya melayani si nona dengan baik dan manis budi meskipun si nona berlaku galak kepadanya. Majikan rumah makan itu sudah tahu ketika Goat Go masuk, ia kenali itu ada puterinya Hoa-im Tok-jin, maka cepat-cepat ia bisiki pelayan yang hendak melayaninya supaya layani dengan baik sehingga tidak terbit onar. Meskipun si pemilik rumah makan sudah atur demikian rapih, toh terjadi juga keonaran, tak dapat dicegah. Sebabnya, Goat Go marah-marah lantaran si pelayan salah membawakan santapan yang ia pesan. Makanan itu semestinya dibawa ke meja seorang tamu anak muda yang duduk di pojok, tapi ia salah bawa ke mejanya si nona. Rupanya ia sangat bingung karena dipesan lekas-lekas membawa makanan pesanannya si nona. Dalam marahnya, Goat Go angkat mangkok sayur yang masih mengepul panas lalu disiramkan ke mukanya si pelayan. Siapa, sudah tentu saja menjadi gelagapan dan berteriak-teriak kepanasan mukanya. Para tamu menjadi tercengang melihat perbuatannya Goat Go. Mereka yang kenali si nona, pada membayar uang makannya di tempat kasir dan ngeloyor pergi. Sedang tamu-tamu yang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ datang dari lain tempat pada berdiri dari bangkunya mengawasi Goat Go. Mereka sangat tidak senang melihat kelakuan si nona yang demikian keterlaluan. Termasuk si anak muda yang duduk di pojok, yang sayurnya disiramkan ke muka si pelayan. Merasa tidak puas, ia datang menghampiri ke tempat Goat Go yang saat itu sedang terpingkal-pingkal ketawai si pelayan yang gelagapan kepanasan mukanya, sambil kedua tangannya dipakai menekap muka. Sambil tolak si pelayan minggir, anak muda itu maju mendekati Goat Go berkata, "Cici, perbuatanmu sangat keliwatan !" Si nona heran ada orang berani menegur kelakuannya. Ia angkat kepalanya memandang. Kiranya yang menegur itu seorang anak muda, dandanannya sebagai pelajar, di punggungnya ada terselip sebatang pedang pendek. Pengawakannya tinggi kurus, gagah dan cakap tampangnya, mengalahkan kecakapan Siauw Cu Leng dalam pandangan Goat Go yang tengah mencari pasangan. Diam-diam ia tertegun memandang si anak muda. Pikirnya, pemuda itulah yang pantas menjadi pasangan dirinya. Tapi Goat Go wataknya tinggi hati, tidak senang ada orang tegur dirinya. Maka setelah mengerutkan keningnya, ia bangkit dari duduknya, menghadapi si anak muda. "Habis kau mau apa ?" ia jawab teguran si anak muda. "Pelayan itu tidak berbuat kesalahan beasr, kenapa kau sampai berbuat yang begitu keliwatan ?" kata si pemuda lagi.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ia, habis kau mau apa ?" tantang si nona. Tidak marah dia, mukanya tampak berseri-seri seakan-akan pandang remeh pada anak muda di depannya. Si anak muda tidak takut, tapi si pemilik rumah makan sebaliknya yang ketakutan setengah mati. Meskipun takut, ia coba maju dan ingin melerai antara dua muda mudi yang kelihatannya hendak bergerak. "Sudah, sudah." katanya. "Kejadian itu tidak berarti, untuk apa ditarik panjang. Sudah, sudahlah..........." sambil ajukan diri, hendak memisahkan. "Plak !" tiba-tiba terdengar suara, kiranya itu tangannya si nona yang mampir ke pipinya si pemilik rumah makan. "Jangan coba melerai, aku tidak suka cecongormu muncul diantara kita !" bentak si gadis, matanya melotot gusar. Sambil menekan pipinya yang panas bekas tamparan si nona, pemilik rumah makan itu mundur teratur. Hanya matanya saja kedap kedip sambil meringis-ringis kesakitan. Kelakuan mana mengelitik urat ketawa Goat Go sebab ketika itu ia tertawa cekikikan sambil matanya melirik pada si anak muda. Dalam keadaan tertegun, si anak muda dengar Goat Go berkata : "Apa kau juga ingin rasakan ini ?" seraya unjuk telapak tangannya yang putih halus. "Cobalah !" sahut si anak muda, dingin suaranya. Goat Go memang kepingin usap muka orang yang cakap, sekarang ada jalan untuk ia berbuat demikian. Maka dalam girangnya, seketika ia lantas angkat tangannya dipakai

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menampar pipinya si anak muda. Tapi..... tampaknya bukan mengenakan pipi orang, sebaliknya angin yagn ditampar olehnya sebab si anak muda dengan otomatis sudah berkelit. Merah mukanya si nona, bukan main malu dia. Maka di lain saat ia sudah menampar lagi, malah ia gunakan tipu 'Thian lie hun hoa' atau 'Bidadari sebarkan kembang', bukan satu tapi dengan dua tangan ia menampar kalang kabut ke mukanya si anak muda. Sayang gerakannya meskipun cepat, si pemuda malah lebih cepat menghindarkan hujan tamparan itu. Akhirnya Goat Go berhenti sendiri. Kiranya barusan ia hanya menampari angin tok, sebab si anak muda siang-siang sudah jauhkan diri dan berdiri di depannya dengan muka tersungging senyuman ejek. Goat Go jadi kalap melihat si anak muda mentertawai dirinya. "Kau berani permainkan nonamu, hmm ! Kau lihat !" bentaknya, berbareng ia depak terpental bangku di dekatnya, meja ia terbaliki lalu lompat pada si pemuda. Tangan kanannya di ulur ke arah dada lawan hendak mencengkeram sedang tangan kirinya dengan kecepatan kilat menyambar pada 'thian-ki-hiat', jalan darah di iga kanan. Serangan ini dilakukan dengan berbareng, ganas kelihatannya tapi si anak muda tinggal kalem saja. Ia menunggu datangnya serangan, begitu tangan kanan Goat Go hampir sampai di dada, tangan kirinya si pemuda sudah siap untuk menyambuti. Sementara tangan kanan si nona kena dicekal, adalah tangan kirinya yang hendak menotok jalan darah di iga kena ditekan ke bawah. Goat Go merasa sesak dadanya menahan tekanan si anak

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ muda yang dibarengi dengan sebagian tenaga dalam. Si anak muda menggunakan gerakan 'Sian-jin tian chiu' -'Sang Dewa mementang kedua lengannya', untuk menyambuti serangannya Tong Goat Go yang hebat. Si nona berontak-berontak untuk meloloskan kedua lengannya yang sudah kena dicekal si anak muda. Tapi bagaimana pun ia keluarkan tenaga sepenuhnya, tetap tangannya tak dapat diloloskan dari cekalan lawan yang makin lama makin sakit rasanya. Rupanya anak muda ini mau kasih sedikit hajaran pada Goat Go yang tengik lagaknya, keterlaluan perbuatannya. Lwekang si pemuda rupanya tinggi sebab sebentar kemudian kelihatan Goat Go sudah tak berkutik. Itulah pengaruhnya lwekang (tenaga dalam) yang disalurkan ke tangannya yang mencekal tangan si nona yang membuat Goat Go merasakan lumpuh badannya. Matanya si nona menatap si anak muda. "Kau mau apakan kau, setan ?" tanyanya. Ia sudah tidak meronta-ronta lagi, sudah menyerah kalah tampaknya. "Aku mau kau ganti kerugian apa yang sudah kau rusakkan dan uang obat untuk si pelayan yang kau siram mukanya dengan sayur !" sahut si anak muda. "Baik." kata Goat Go tanpa banyak pikir lagi.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Si pemuda tertegun. Ia tidak menyangka urusan begitu gampang, si nona mau menerima permintaannya. Dalam tercengangnya, ia masih terus mencekali kedua tangannya si nona. "Kau masih belum mau melepaskan tanganku ?" Goat Go tegur, suaranya halus dan ramah, membuat si anak muda gelagapan dan buru-buru saja ia lepaskannya. Tampak muka si anak muda bersemu merah saking jengah. Setelah terlepas kedua tangannya, si nona urut-urut. Rupanya ia masih merasa sakit bekas cekalan tadi. Tenaganya yang barusan dirasakan lumpuh, sekarang sudah balik kembali. Hatinya girang, ia tidak mendendam karena ia memang naksir pada si anak muda. Pikirnya, anak muda ini selain berparas cakap juga berkepandaian tinggi. Mau cari siapa lagi kalau bukan dia, dijadikan jodohnya ? Memikir sikapnya Goat Go gampang berubah, mengherankan semua orang termasuk si pemilik rumah makan yang masih merasakan pipinya panas bekas tamparan si nona tadi. "Mari kita ke kasir." mengajak Goat Go pada si anak muda. "Cici, kau baik betul." kata si anak muda tanpa merasa. "Memang aku tidak sakit." sahutnya bersenyum sambil melirik tajam. Si anak muda kembali tertegun. Pikirnya, anak dara ini benarbenar aneh kelakuannya. Tadi ia begitu marah, beringas, tapi

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sekarang begitu ramah dan ketawa, malah bisa melucu lagi. Anak siapakah dia ? Lirikannya tajam menusuk pusat asmaranya. Anak muda itu mesem mendengar jawaban Goat Go yang lucu. Ia mengikuti dari belakang si nona, tapi belum sampai di tempat kasir untuk membikin perhitungan, si pemilik rumah makan sudah datang menyongsong. Katanya, "Kionghi, kionghi !" sambil angkat tangannya menyoja kepada kedua anak muda itu. Perbuatannya mana membuat mereka jadi heran. "Apanya yang hendak kau beri selamat ?" tanya Goat Go. "Oh itu, kalian sekarang sudah akur lagi. Maka aku mengucapkan kionghi kepada kalian." jawabnya seraya ketawa haha hehe. "Oh, begitu."kata Goat Go. "Sekarang mari kita hitung berapa kerugian yang sudah aku bikin rusak serta itu uang obat untuk pelayanmu." "Tidak apa, tidak apa, itu tak usah." kata si pemilik rumah makan sambil goyang-goyang tangannya. "Itu perkara kecil, buat apa mesti diganti." Tapi Goat Go tidak meladeni kata-kata merendah si pemilik rumah makan, ia kedok kantongnya, keluarkan uang perakan hancur, lalu ditaruh diatas meja. "Cukup ?' tanyanya sambil mengawasi si pemilik rumah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ makan. Mengingat urusan akan berlarut-larut nanti, maka si pemilik rumah makan terima saja penggantian si nona tanpa menyebut 'tak usah' lagi. Ia hanya kata, "Cukup, cukup. Sudah kelebihan malah." Setelah selesai berurusan, Goat Go putar tubuhnya lalu menghadapi si anak muda yang berdiri di belakangnya. Ia ketawa manis, berkata, "Bagaimanan ? Kau puas sekarang ?" Si pemuda anggukkan kepalanya. "Kau belum makan, bukan ?" tanya si nona lagi. Belum si anak muda menjawab, Goat Go sudah tarik tangannya diajak duduk menghadapi satu meja yang agak dipojok. Si nona teriaki pelayan, pesan makanan untuk dua orang, katanya, "Lekas siapkan makanan enak untuk kita makan !" Makanan disiapkan dengan ekstra cepat oleh kok (tukang masak). Di lain saat, kelihatan dua muda mudi itu sudah kerjakan sumpitnya mendahar hidangannya. Kalau si gadis ketawaketawa dan banyak bicara, tetapi si pemuda tinggal membisu saja. Sejenak tadi si pemuda membisu saja, rupanya pikirannya masih terpengaruh oleh laga lagunya Goat Go yang benarbenar aneh menurut pendapatnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Hei, kau berubah jadi orang bisu ?" menegur si nona, ketawa manis sambil ujung sumpitnya dipakai mencolek hidung si anak muda. Pemuda itu kaget, cepat mengelak hingga sang sumpit si nona tak usah berkenalan dengan hidungnya yang mungil. Ia tertawa, katanya, "Cici, benar-benar aku dibikin heran oleh kelakuanmu." "Herannya kenapa ?" tanya si nona, matanya melirik tajam. Kembali pusat asmara si pemuda tertusuk oleh lirikannya. "Barusan aku lihat kau bengis seperti Li-giam-ong (Ratu akherat)." kata si pemuda. "Sekarang kau berubah sebagai Tian-li (bidadari) cantik dan ramah tamah........." "Stop !" memotong Goat Go sambil mulutnya mengunyah daging bebek panggang, tangannya yang memegang sumpit diangkat digoyang-goyangkan. Ketika daging bebek panggang sudah lewat ditenggorokannya, ia meneruskan kata-katanya : "Kau bisa juga melucu, hi ! Dari mana kau belajar ? Hi hi hi......." Anak muda itu tertawa, kini ia tertawa terbahak-bahak. Goat Go tidak kesepian lagi karena si pemuda mulai kembali dengan kegembiraannya. Mereka dapat tertawa-tawa gembira dalam rumah makan yang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sekarang sudah kosong ditinggalkan oleh para tamu. Hanya pemilik rumah dan para pelayannya yang menonton adegan lucu, aneh sebab tadinya musuh sekarang mereka menjadi sahabat seperti juga sahabat lama. Ketika mereka habis makan, Goat Go bangkit hendak membayar uang santapannya tapi dicegah oleh si pemuda, berkata : "Cici, kali ini aku yang bayar. Tadi kau sudah rogoh kantong untuk mengganti kerugian. Apa salahnya kalau sekarang aku yang membayar makanan, bukan ?" Goat Go hanya tersenyum manis. "Terima kasih" ucapannya halus. Setelah membayar makanan, si pemuda balik lagi ke tempat duduknya. Ia mengajak si nona berlalu. "Eh, nanti dulu." kata si nona seraya pegang tangan si anak muda yang lemas seperti juga tangannya sendiri yang halus. "Ada urusan apa ?" tanya si pemuda. "Aku duduk dahulu." si gadis menyuruh orang duduk, yang segera diturut. "Lama kita mengobrol dan ketawa-ketawa tapi belum kita mengetahui nama masing-masing. Siapa sebenarnya kau, adik ?" menanya Goat Go. "Aku she Kwee, nama Cu Gie." sahut si anak muda.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Dan umurmu ?" tanya Goat Go lagi. "Tahun ini aku masuk 21 tahun." sahut Kwee Cu Gie. "Pantesan kau panggil aku cici. Kalau begitu memang benar aku ada lebih tua 3 tahun dari kau, adik Gie." berkata si nona. Goat Go berkata seraya ketawa manis, melirik tajam dengan ujung matanya. Lagi-lagi Kwee Cu Gie dibuat bergoyang pusat asmaranya, karena lirikan tajam si gadis. Tapi ia ada satu pemuda sopan, tidak berani ia kurang ajar meskipun Goat Go, si berandalan mengasih kesempatan Kwee Cu Gie untuk berbuat demikian. "Sekarang kau hendak kemana ?" tanya Goat Go. "Aku mau mencari pamanku." sahutnya. "Adik Gie, bagaimana kalau kau mampir dahulu di rumahku ?" mengundang si gadis. "Terima kasih. Aku sangat kesusu. Lain kali saja kita bertemu pula." jawabnya. "Kalau begitu, baiklah. Cuma jangan lupa, kalau kau datang ke sini cari aku ya !" memesan Goat Go, blak-blakan ia berkata, tak pakai malu-malu lagi. Kwee Cu Gie yang sopan santun merasa heran si nona memesan demikian kepada seorang lelaki yang barusan saja dikenal olehnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Goat Go memahami pikirannya si anak muda, maka lalu berkata, "Adik Gie, aku bukannya gadis pingitan. Aku sangat bebas, maka jangan heran kalau aku bicara blak-blakan. Apa yang aku pikir dan lantas keluarkan." Kwee Cu Gie anggukkan kepalanya. "Nah, sampai disini saja kita berpisahan." kata si pemuda kemudian. "Bagus, selamat jalan adik Gie." sahut Goat Go. Sedikit pun kelihatannya ia tidak merasa berat dengan perpisahan itu. Tapi setelah Kwee Cu Gie berlalu dari sampingnya, ia menjadi sedih sendirinya. Pilu rasa hatinya berpisahan dengan orang yang dicintainya. Entah kapan mereka dapat bertemu pula. Ia menyesal, tadi tidak ia tanyakan nama pamannya si anak muda itu siapa namanya dan dimana tempat kediamannya. Dengan mengetahui alamatnya, bisalah ia susul Kwee cu Gie kesana buat diajak makan-makan lagi dan tertawa-tawa menghibur hati. Goat Go pulang dengan perasaan lesu, seperti orang yang kehilangan sesuatu. Di lain pihak, Kwee Cu Gie juga mengenangkan dirinya si gadis. Pikirnya, gadis itu kecantikannya tidak mengecewakan, dapat menggoncangkan jantung orang yang melihat, ketawanya yang manis dan lirikannya yang mantap dalam pusat asmara. Tapi sayang dalam sifarnya yang berandalan itu ada tersembunyi kegenitan yang seakan-akan mengundang untuk berbuat kurang ajar terhadapnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kwee Cu Gie menghela napas sambil melanjutkan perjalanannya. Hari sudah sore, tidak keburu ia mencari pamannya. Maka pada malam harinya ia menginap dalam sebuah rumah penginapan di kota Hoa-im. Keesokan harinya, setelah tanya-tanya orang, ia sampai di depan rumah yang terkurung tembok disekitarnya. Ia mengetok-ngetok pintu rumah dengan gelang besi yang tergantung di pintu. Rupanya memang ini diperuntukkan bagi tetamu memanggil orang di sebelah dalam. Tidak lama ia menanti, sebentar kemudian pintu dibuka. Satu pelayan perempuan muncul didepannya dan menanyakan ada urusan apa, siapa yang dicari. Kwee Cu Gie kasih tahu maksud kedatangannya hendak menemui tuan rumah. Si pelayan segera masuk ke dalam setelah memesan Kwee Cu Gie untuk menunggu sebentar. Tidak lama si pelayan keluar lagi dan mengundang Kwee Cu Gie masuk. Ia diantar ke dalam satu ruangan tengah dan disuruh duduk menanti, sebentar lagi tuan rumah akan muncul menemuinya. Kwee Cu Gie menunggu. Lama juga belum kelihatan muncul tuan rumah. Ia jadi kesal, maka ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri satu pigura yang melukiskan pemandangan di suatu pegunungan dimana ada berkeliaran banyak binatang buas. Asyik ia memandangi pigur itu hingga tidak merasa kalau dibelakangnya sekarang ada muncul satu orang.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ia menjadi kaget ketika sekonyong-konyong kedua matanya disekap oleh dua tangan dari belakangnya. Cepat, ia mau nglitik orang dibelakangnya itu, kalau ia tidak tahu bahwa yang memegang tangan yang halus lemas, disusul oleh suara empuk merayu, berkata, "Adik Gie, kau toh datang juga ke rumahku......" Kwee Cu Gie cepat putar tubuhnya dan... itulah Goat Go yang berdiri di depannya, bersenyum memikat hati. (Bersambung)

Jilid 03 Anak muda itu tercengang sebentaran. Belum sempat ia menanya, Goat Go sudah tarik tangannya si anak muda. "Mari kita duduk-duduk kongkouw !" katanya. Ruangan itu perabotannya cukup mewah, pigura-pigura dengan lukisan indah tergantung pada dinding-dinding sehingga menarik selera tetamu, pot-pot kembang diatur rapi sekali, siliran angin yang masuk dari jendela meniup harumnya, mewangi masuk ke hidung. Goat Go ajak Kwee Cu Gie duduk di atas bangku panjang yang beralaskan bahan yang empuk, yang ditempatkan di bawah jendela yang menghadap ke taman bunga. "Adik Gie, " kata Goat Go, setelah mereka pada duduk. "Sekarang aku tahu asal usulmu. Kau bukankah anaknya bibi San dari Hoay-siang."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kwee Cu Gie ketawa. "Kau benar, cici" sahutnya. "Di mana adanya paman Siu ? Aku ingin lekas sampaikan pemberian selamat ibuku dan menanya keselamatannya." "Sabar adik Gie." kaat Goat Go. "Segera ayah akan keluar, dia sekarang masih repot dengan pekerjaannya. Terpaksa Kwee Cu Gie layani si nona kong kouw. Sudah tentu ngobrolnya urusan famili diantara mereka. Goat Go berkali-kali menyatakan ia ingin ketemu bibinya (ibu Kwee Cu Gie). Katanya, sejak ibunya meninggal, ia tidak pernah ketemu lagi dengan ibunya Kwee Cu Gie yang pindah ke Hoay-siang dari Hoa-im. Kiranya ibu Kwee Cu Gie itu ada saudara piauw dari Teng Siu, ayahnya Goat Go bernama Thio Leng San yang menikah dengan Bian-ciang Kwee Eng Siang, salah satu jago terkemuka dalam kalangan kang-ouw. Ketika masih di Hoa-im, meskipun ada tersangkut famili, Kwee Eng Siang tidak suka bergaul dengan Teng Siu. Ia tidak suka akan pergaulannya Teng Siu dengan orang-orang dari kalangan tidak benar terutama ia benci akan kepandaiannya Teng Siu membuat racun dipakai membantu orang-orang jahat. Pernah Eng Siang satu kali menasehati Teng Siu untuk jangan bergaul dengan kawanan penjahat dan kepandaiannya membuat racun sebaiknya disalurkan untuk kebaikan menolong orang saki. Tapi nasehat Eng Siang tidak digubris, malah selanjutnya perbuatannya makin mencolok di mata Eng Siang.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Untuk menghindarkan bentrokan diantara famili sendiri, maka Eng Siang ajak istrinya pindah ke Hoay-siang, suatu kota dimana ia dilahirkan. Pada waktu kepindahan itu, Kwee Cu Gie baru berumur lima tahun. Demikian, sewaktu mengobrol Goat Go mencoba menarik hatinya Kwee Cu Gie dengan aksi genitnya. Tiap sebentar ia pegang tangan si pemuda, mengasi lowongan untuk si pemuda berbuat kurang ajar terhadap dirinya. Tapi pancingannya itu ternyata tidak berhasilm, malah dari berani melayani bicara, kelihatannya Kwee Cu Gie menjadi takut melihat kegenitan Teng Goat Go. Si nona jadi tidak sabaran, kenapa sang korban begini alot. Ia mengundang saudara piauw itu untuk minum arak yang barusan dibawakan oleh pelayannya. Untuk membuat cici piauwnya senang, Kwee Cu Gie tidak menolak. Tapi ketika ia minum baru tiga sloki, ia rasakan matanya berkunang-kunang. Matanya pun dirasakan seperti mau mengantuk. Seketika ia tak dapat menahan badannya lagi. Ia rubuh celentang di atas bangku panjang yang didudukinya. "Hihihi, Cu Gie." kedengaran Goat Go ketawa, waktu melihat korbannya rubuh. Pipi Goat Go kemerah-merahan karena pengaruh arak yang diminum barusan membuat si nona kelihatan tambahcanti dan menggiurkan. Cuma sayang kecantikannya ini dibikin suram oleh perbuatannya yang tidak bagus.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Goat Go bangkit dari duduknya, menghampiri si pemuda yang sudah tidur nyenyak tampaknya. Ia tak dapat menahan rindu hatinya yang meluap seketika. Maka ia lantas menubruk, memeluk Cu Gie dan mencium pipinya. "Plak ! Plak !" tiba-tiba terdengar suara pipi ditampar. Ternyata pipi yang ditampar itu adalah pipinya si nona Goat Go yang segera melepaskan pelukannya dan lompat mundur seraya pegangi kedua pipinya yang panas bekas tamparan serta ia rasakan ada giginya yang rontok. "Anak kurang ajar !" bentkanya. "Kau berani tampar aku ?" berbareng ia menerjang Cu Gie yang tengah mencelat bangun dari rebahnya. Sambil memutar tubuh, Cu Gie sambuti serangan Goat Go. Tangan kanan si nona kena dipegang, dipelintir hingga Goat Go berkaok-kaok kesakitan menangis. Ketika Goat Go terima kabar dari pelayannya ada satu tama muda cakap mencari ayahnya, lantas ia menduga akan dirinya Kwee Cu Gie yang datang. Ia mengintip ketika Cu Gie diajak masuk oleh pelayan. Benar saja ia lihat si pemuda yang dirindukannya. Ia tidak jadi mengabarkan pada ayahnya yang waktu itu sedan dalam kamar laboratoriumnya memasak obat. Pikirnya, ia akan layani sendiri dahulu, belakangan baru diberitahukan pada ayahnya. Tidak lupa ia siapkan arak yang dicampuri beng-han-ye semacam obat tidur, maksudnya kalau dengan kecantikan dan kegenitannya ia tak berhasil menjaring si anak muda, ia mau bikin Cu Gie menjadi mabuk dan tertidur dan selanjutnya ia boleh buat sesukanya atas tubuhnya Cu Gie. Ia pesan pelayannya untuk membawakan arak dan sedikit

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ hidangan keluar kalau mereka sedang asyik bercakap-cakap. Ia menggunakan tempat arak yang mempunyai dua aliran, yaitu suatu aliran untuk arak biasa dan satu aliran lagi untuk arak yang dicampuri obat tidur. Caranya Goat Go untuk menjaring korbannya memang amat rapih. Tapi ia tidak memperhitungkan bahwa Cu Gie ada jago muda yang lihai. Ketika Cu Gie merasakan gejala tidak baik dari pengaruh arak, segera ia gunakan lwekangnya yang tinggi untuk mendesak arak yang diminumnya itu keluar dari lubang-lubang peluh (keringat). Ia pura-pura seperti benar-benar ia kena pengaruhnya arak. Setelah melenggut sejenak, ia rubuhkan dirinya di atas bangku panjang yang didudukinya itu. Ketika merasa dirinya dipeluk dan diciumi Goat Go, bukannya ia menyambut dengan mesra, sebaliknya ia menjadi marah. Bau harum dari tubuhnya Goat Go yang menembus ke dalam lubang hidungnya tidak ia hiraukan, tangannya segera melayang dan menampar keras juga sampai giginya si nona ada beberapa yang rontok. Selagi mencoba bangun, ia tahu dirinya diserang Goat Go. Dengan sekali badannya berputar, ia sudah dapat menyambuti serangan si nona dan tangannya Goat Go kena dicekal, dipelintir hingga nona genit itu jadi berkaok-kaok kesakitan. Cu Gie wataknya halus. Kalau tadi ia menampar itu dilakukan saking tak dapat menahan marahnya. Kini marahnya sudah hilang. Melihat Goat Go berkaok-kaok kesakitan, ia lepaskan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tangannya sambil berkata, "Cici, perbuatanmu bikin aku jadi lupa ! Harap perbuatanmu ini kau tidak ulangi lagi !" berbareng Cu Gie putar tubuhnya. Dengan beberapa lompatan saja ia sudah berada di pintu pekarangan. Goat Go melenggak. Cepat ia memburu, ia hendak memanggil balik tapi tak dapat keluar suara dari mulutnya. Ia malu. Ia hanya menyaksikan si anak muda melenyapkan diri di balik pintu pekarangan. Sambil membetulkan pakaian dan rambutnya yang kusut, Goat Go bantingkan diri diatas bangku panjang tadi yang membuat riwayatnya tak terlupakan olehnya sampai kemudian ia merubah dirinya menjadi Ang Hoa Lobo, si Nenek Bunga Merah. Di lain pihak, Kim Nio tidak kenal apa artinya 'bisa'. Ia diajari oleh Goat Go sampai pandai tapi kemudian rusak mukanya karean hembusan obat yang dimasak sehingga ia belakangan berubah menjadi Kim Popo. Setelah mukanya jadi jelek tidak karuan, Siauw Cu Leng yang cakap telah meninggalkannya, ikut Goat Go. Belakangan nona Goat Go juga mukanya rusak akibat racun. Buat bikin Siauw cu Leng tidak meninggalkan dirinya, Goat Go sudah gasak mukanya si cakap dengan 'bisa; sehingga lebih jelek dari mukanya Goat Go. Si 'Arjuna' tidak laku lagi di kalangan perempuan baik-baik. Oleh karenanya ia sangat setia pada Ang Hoa Lobo alias Teng Goat Go, puteri kesayangan dari Hoa-im Tok-jin Teng Siu. Kisah cinta 'segitiga' antara Kim Popo alias Kim Nio, Siauw Cu Leng si Arjuna dan Ang Hoa Lobo alias Teng Goat Go, ramai dan menarik untuk ditutukan dan ini kita akan ceritakan di sebelah belakang.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sekarang, mari kita balik kepada Kim Popo yang bersua kembali dengan The Sam yang menjadi 'idaman hatinya' di waktu Kim Nio belum berubah menjadi Kim Popo. The Sam ketika kabur dari rumah perguruannya karena sudah memukul parah Siauw Cu Leng yang menjadi suhengnya, ia terus berkelana di kalangan kang-ouw (Sungai Telaga) mencari pengalaman. Ia beruntung ketemu dengan salah seorang Tojin (imam). Ia mengajarkan ilmu 'Thong-pie-kong' -'ilmu lengan sakti', ialah kalau lengan kanan diulur memanjang sementara lengan kirinya mengkeret pendek. Dengan kepandaiannya ini, ia dapat menjagoi meskipun sering kali juga ia kena dipecundangi lawannya. The Sam sudah lama tidak ketemu muka dengan Kim Popo sejak ia kabut dari rumah perguruan baru sekarang ia berjumpa pula. Ia kenali Kim Popo sebagai bekas ia punya Kim Nio adalah dari suaranya dan potongan tubuhnya yang selama ini tak dapat dilupakan olehnya. Ia tahu, memang Kim Popo bukannya Kim Nio dahulu yang cantik menarik. Sekarang mukanya sudah rusak. Ini ia dapat tahu dari kenalan-kenalannya yang dahulu tinggalnya tidak berjauhan dari rumah si Tongkat Sakti Kong Tek Liang. Ia merasa kasihan atas nasib bekas kekasihnya. Ia mencari-cari, sampai hari itu dengan secara kebetulan ia ketemukan bekas 'darlingnya' sedang minum air selokan. Setelah memperhatikan lebih tegas, baharulah ia berani ketawa dibelakangnya Kim Popo yang tengah minum air kali dan cacapi kepalanya supaya adem. "Mari kita ngobrol di bawah pohon itu." kata The Sam seraya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tuntun tangannya Kim Popo yang jinak sekali bagai mana kucing peliharaan. Di bawah pohon mereka ngobrol saling menuturkan pengalamannya masing-masing sambil ketawa riang gembira. Inilah mungkin kejadian yang pertama kali dialami si nenek sejak Kim Popo meninggalkan rumahnya di Hoa-im. "Koko, aku sekarang sudah jelek begini, apakah kau masih mencintai aku ?" kata Kim Popo setelah sejenak percakapan mereka terhenti. "Adik Kim." sahut The Sam, suaranya mengasihi hingga membuat Kim Popo terkenang akan masa lampau diwaktu berkasih-kasihan di taman bunga. "Kau terlalu memandang rendah akan cintaku. Meskipun mukamu sudah rusak, aku tetap mencintaimu !" sambung The Sam. Merasa lega hatinya Kim Popo mendengar kata-kata itu. Menyesal ia tidak dapat hidup bersuami istri dengan The Sam. Kalau tidak, tidaklah ia mengalami penghidupan yang gagal total seperti sekarang ini. Kim Popo tundukkan kepala lalu menatap wajahnya The Sam, tersenyum ia tapi sudah tentu senyumannya 'senyuman istimewa' karena giginya sudah tinggal beberapa buah saja. Terdengar di lain saat Kim Popo menghela napas. "Ya, sang tempo sudah membuat kita sama-sama tua." kata Kim Popo, sauranya berubah. "Tak perlu kita berdendang asmara lagi. Mari kita bicarakan urusan penting !"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ The Sam melongo mendengar kata-kata Kim Popo. Ia tidak menyangka perubahan sikap si nenek akan begitu cepat. Ia menanya, "Urusan apa yang kau maksudkan penting, adik Kim ?" Kim Popo lalu menceritakan bahwa barusan ia kehilangan barang berharga dirampas oleh si thauto beranting-anting emas. Ia amat penasaran. Sebab selain barangnya yang penting kena dirampas, juga ia sudah kena dijemur 2 jam lamanya. "Ah, kau berurusan dengan dia ?" tanya The Sam, romannya seperti yang terkejut. "Memangnya kenapa, siapa dia sih ?" balik menanya Kim Popo. "Ah, adik Kim." sahut The Sam. "Dia sangat lihai. Orang tidak tahu siapa namanya, tapi orang kenal julukannya Kim Wan Thauto (Thauto beranting-anting emas). Dia bukan saja lihai ilmu silatnya tapi senjata rahasianya di kedua telinganya. Kalau sudah dilepas, tiada seorang pun korbannya yang dapat lolos dari sasarannya." The Sam cerita benar. Senjata rahasia "Kim-wan' dari si thauto ada sangat hebat sebab dilepas dengan tenaga dalam. Sampai dimana tingginya lwekan si thauto dapat diukur dari kepandaiannya melepas senjata rahasia itu. Dan ia dapat kendalikan yaitu bisa enteng, bisa setengah berat dan berat waktu ia menghajar orang. Pukulan enteng seperti yang dibikin terkulai Kim Popo, setengah berat bikin orang terus pingsan,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ yang berat bisa bikin korbannya terus tidak bangun lagi alias jiwanya melayang untuk menghadap Giam-lo-ong (Raj Akhirat). "Dia begitu lihai....." Kim Popo menghela napas. "Habislah pengharapanku untuk dapat merebut barangku yang sangat penting itu." "Barang apa sebenarnya yang dirampas Kim-wan Thauto ?" tanya The Sam. "Barang itu adalah menjadi rebutan oleh kalangan bu-lim (rimba persilatan) pada dewasa ini." menerangkan Kim Popo. "Apakah itu ?" The Sam ingin tahu. "Barang itu adalah sebuah buku mungil yang bernama 'Thiamhiat Pit-koat', pelajaran ilmu menotok jalan darah yang luar biasa pentingnya bagi setiap dunia persilatan." kata Kim Popo. The Sam kerutkan keningnya, ia tundukkan kepala, berpikir, lalu menanya, "Sampai begitu penting, bukankah setiap orang yang pandai ilmu silat dapat menotok lawan dengan baik ?" "Kau jangan meremehkan 'Thiam-hiat Pit-koat'. Ia dikarang oleh satu ahli totok kenamaan, The Leng Tong namanya, orang dari propinsi Shoatang. Pada jamannya yaitu 80 tahun berselang, The Leng Tong tidak menemukan tandingan dalam ilmu totokan jalan darah. Banyak orang kepingin berguru padanya tapi dia tolak. Dia tidak mau menerima murid. Hanya dia ada lepas kata kalau dia sudah tidak ada dalam dunia, di belakang hari orang akan menemui bukunya yang dinamai 'Thiam-hiat', kalau orang itu memang berjodoh untuk menjadi

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ muridnya. Kau tidak tahu, koko. Buku itu memuat tiga macam ilmu totokan. Kecuali pelajaran menotok jalan darah menggunakan satu sampai dua jari dari dekat, dalam bukunya ada disebut menotok dari jauh dengan menyentil batu kecil dan kebasan tangan baju. Malah, yang penting, totokan The Leng Tong dapat dikendalikan berat entengnya dengan jitu sekali." demikian Kim Popo menutur. "Aha, aku juga orang she The, siapa tahu ada jodoh mendapatkan buku itu." kata The Sam kegirangan sambil tepuk-tepuk pahanya. "Bagaimana kau bisa bilang begitu ?" tanya Kim Popo heran. "Aku she The dan Leng Tong juga she The. Kita sama-sama she The. Tidak mustahil kalau barangnya The Leng Tong diwariskan padaku, bukan ?" sahut The Sam. Ia menutup kata-katanya sambil terus tarik tangannya si nenek diajak pergi. "Mari kita susul Kim-wan Thauto !" ia mengajak Kim Popo. "Kau bilang Kim-wan Thauto lihai. Bagaimana kau dapat merebut kembali 'Thiam-hiat Pit-koat' dari tangannya ?" tanya Kim Popo sangsi. "Ah, itu urusan belakangan. Mari kita susul nanti dia keburu sudah jalan jauh, sukar kita mencarinya." sahut The Sam. Ia pun, berbareng gerakan kakinya mengajak Kim Popo berlalu dari situ.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kim Popo tak dapat berbuat apa-apa lagi kecuali mengikuti bekas kekasihnya itu. Malah diam-diam hatinya merasa girang The Sam sudah mau bantu ia merebut pulang buku pelajaran ilmu menotok itu. Apa The Sam berhasil atau tidak, pikirnya, itu bagaimana nanti saja. Ia percaya bekas kekasihnya itu sudah mempunyai akal untuk merebut kembali buku mungil itu, bila dilihat The Sam demikian napsu mengajak ia menyusul Kim-wan Thauto. Kita tinggalkan dahulu Kim Popo dan The Sam yang menyusul Kim wan Thauto. Kita balik kepada Lo In, bagaimana si bocah itu, apakah dia binasa akibat gebukan Ang Hoa Lobo yang dilakukan dengan sepenuh tenaga ? Lo In dibawa masuk ke dalam sebuah rumah yang dibangun dari bambu dengan separuh batu. Cukup besar rumah itu dan mempunyai pekarangan depan belakang. Lo In diletakkan di sebuah bale-bale dengan kasar sekali oleh Siauw Cu Leng yang sangat membenci bocah itu. Keadaan Lo In masih belum sadarkan diri. Kenapa Ang Hoa Lobo begitu kejam menghajar bebokong anak kecil dengan menggunakan tenaga penuh ? Itu ada sebabnya. Siauw Cu Leng ketika pulang habis dipecundangi oleh Lo In telah mengadu pada Ang Hoa Lobo tentang munculnya satu bocah luar biasa. Ia telah dipecundangi dengan hanya kegesitan saja, malahan pukulan gunturnya yang menghancurkan batu gunung tidak mempan dihadapkan pada si bocah.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ang Hoa Lobo tertawa terkekeh mendengar penuturannya si Iblis Buntung, yang alisnya dibuntungi oleh Ang Hoa Lobo. "Sama anak kecil kau kalah, bagaimana kau hadapi anak gede ?" kata Ang Hoa Lobo seraya mentertawakan Siauw Cu Leng. "Kau tidak tahu, cici." sahut Siauw Cu Leng. "Setelah aku rubuh, dia menantang, katanya : 'Iblis gila, kau boleh datangkan iblis temanmu. Biar segerobak aku tidak takut !' Nah, ini 'kan satu hinaan bagi kita. Mana boleh anak yang masih ingusan diumbar ngaco begitu." Siauw Cu Leng mulai menghasut, ketika melihat Ang Hoa Lobo tidak mau meladeni pengaduannya. Mendengar katakata si Iblis Alis Buntung, tampak Ang Hoa Lobo kerutkan alisnya, "Apakah benar kata-katamu ?" tanyanya kemudian. "Kenapa tidak benar ? Memangnya aku mau ambil untung dari perkataanku yang tidak benar ? Aku bicara yang benar, buat apa timbulkan yang tidak betul !" nyerocos Siauw Cu Leng, mukanya kelihatan sungguh-sungguh. "Anak bandel. Masa dia berani omong besar ?" kata si nenek, mulai marah dia. Siauw Cu Leng lalu cerita, Lo In selain kepandainnya hebat juga mempunya tentara kera dan burung rajawali. Kalau tidak dibokong, jangan harap bisa menowelnya, apalagi untuk menangkapnya. Dia mesti sudah makan buah JJit-goat-go, kalau tidak tentu tidak begitu hebat. Disebutnya buah Jit-goat-go, mendadak saja Ang Hoa Lobo

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ berjingkrak. Sudah lama ia mendengar akan khasiatnya buah itu. Maka juga ia sudah mencari dari satu ke lain gunung. Sekarang, buah itu sudah dimakan si anak kecil. Dimana ia bisa dapatkan pula dalam daerah pegunungan disitu yang sangat luas ? Ia benci kepada orang yang sudah mendahului ia memakan buah yang ia idam-idamkan. Maka setelah berjingkrak, ia berkata pada Siauw Cu Leng, "Dimana kita bisa menemui dia ?" "Tidak, tidak bisa kita menemui dia begitu saja. Dia luar biasa kepandaiannya, apalagi dia mempunyai rajawali dan tentara keranya yang melindungi." "Habis, bagaimana ?" tanya si nenek, jeri juga mendengar kata-kata si iblis. "Dia mesti dibokong. Kita harus mengatur perangkap, yang dia tidak curiga sama sekali. Asal sudah ada kesempatan, kau harus menghajar dia sepenuh tenaga. Sebab tanpa tenaga penuh mana dia bisa rubuh karena dia sudah makan buah Jitgoat-go, tenaga dalamnya tentu bukan main hebatnya !" demikian Siauw Cu Leng mengajukan usulnya yang kejam. Tapi memang si iblis benar. Tidak mudah Lo In ditakluki dengan cuma mengadu silat. Sebab anak itu sudah lihai sekali ditambah dengan tentara kera dan rajawalinya. Si nenek percaya akan kata-katanya sang suami diluar kawin. Maka mereka lalu berdamai soal pasang perangkap dalam menangkap si bocah. Begitulah, hari itu rupanya Lo In dilanggar apes (sial). Maka ia

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sudah masuk perangkap yang diatur oleh Ang Hoa Lobo dan Siauw Cu Leng. Untung Lo In tenaga dalamnya sudah hebat berkat makan buah Jit-goat-go, kalau saja kejadian itu sebelum ia makan buah, bisa celaka 2 x 13. Pasti isi perutnya ambrol dan nyawanya melayang seketika menerima pukulan hebat dari Ang Hoa Lobo. Ia hanya merasakan dadanya sesak tiba-tiba, tubuhnya dirasakan lumpuh. Maka ia rubuh pingsan setelah mengeluarkan jeritan. Juga Lo In masih untung jiwanya tidak sampai melayang karena Ang Hoa Lobo menyetop tendangan Siauw Cu Leng yang kedua kali. Kalau sampai kakinya si iblis bekerja, rasanya Lo In sudah tidak bernyawa ketika itu. Si Iblis Alis Buntung sangat benci Lo In, tentu tendangannya yang kedua kali jauh lebih berat dari yang pertama, yang cuma terpental tidak seberapa jauh. Ketika meletakkan Lo In dibale-bale, Siauw Cu Leng dapat lihat pedang pendek di pinggang si bocah, lalu diloloskan kemudian diserahkan pada Ang Hoa Lobo sambil berkata, "Ini, kepunyaan dia." Ang Hoa Lobo menyambuti, lalu dihunus pedang pendek yang bobotnya sangat enteng itu lalu diperiksa. Di atas badan pedang tidak ada apa-apanya yang aneh, tapi ketika diselidiki gagangnya, Ang Hoa Lobo dapat melihat huruf-huruf kecil yang berbunyi, 'Kwee Cu Gie Toan-kiam' atau 'Pedang pendek kepunyaan Kwee Cu Gie'. "Betul, betul punya dia ?' tanya Siau Cu Leng yang sedari tadi mengawasi Ang Hoa Lobo memeriksa pedang pendek itu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Si nenek tidak menjawab, ia hanya angguk-anggukkan kepala atas pertanyaan si orang she Siauw. Si Iblis kelihatannya agak cemburuan juga melihat si nenek yang begitu kesemsem memandangi pedang ditangannya. "Hm ! Dia keturunannya...." Ang Hoa Lobo tiba-tiba menggerutu sendirian setlah lama ia memandangi pedang ditangannya. "Dia keturunannya, buat apa dikasih hidup. Mampusi saja !" kata Siauw Cu Leng mendengar Ang Hoa Lobo menggerutu sendirian. "Jangan, aku ada jalan." sahut Ang Hoa Lobo. "Jalan bagaimana ?" tanya Siauw Cu Leng tidak sabaran kelihatannya. "Kita bikin rusak mukanya." jawab si nenek. "Bagus ! Mari kita mulai." kata Siauw Cu Leng. Ia main cara kilat saja berurusan dengan Ang Hoa Lobo sebab si nenek sering berubah-ubah pikirannya. Ia mendesak karena ingin lekas-lekas apa yang Ang Hoa Lobo kata, segera dilaksanakan. Ia seperti membenci sampai tujuh turunan Lo In saja. Siauw Cu Leng mengambil pisau, bersiap-siap untuk merusak mukanya Lo In. "Bukan begitu caranya." kata Ang Hoa Lobo seraya goyanggoyang tangannya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Habis, kau mau pakai apa ?" tanya Siauw Cu Leng. Ang Hoa Lobo tidak menjawab. Sebaliknya dari kantongnya ia keluarkan sebungkus obat. "Ambil air !" ia memerintah Siauw Cu Leng. Segera permintaan si nenek dipenuhi. Si iblis mengambil air dalam gelas. Ang Hoa Lobo menyambuti. Air dalam gelas itu ia buang ke lantai sampai tinggal seperluanya, lalu obat yang berupa bubuk berwarna hitam ia masukkan dalam gelas, diaduk kira satu menit. Kemudian ia suruh Siauw Cu Leng ambil sobekan kain. Ketika barang yang diminta diberikan, ia lalu robek seperlunya untuk digunakan sebagai kuas. Obat hitam itu ia polesi pada bagian muka Lo In, dari jidat terus sampai ke dagu. Hanya bagian leher dan kuping tidak diganggu. Sebentar saja muka Lo In yang putih cakap berubah menjadi hitam legam seperti Zwarte Piet (si Piet Hitam, kacung Sinterklas). Setelah selesai, tiba-tiba si nenek berkakakan ketawa. "Nah, inilah pembalasanku ! Aku mau lihat, tanpa diundang dia akan datang berlutut dihadapanku untuk minta-minta dikasihani !" ia berkata bangga. Siauw Cu Leng bingung. Apa yang si nenek sebenarnya maksudkan dengan kata-katanya. Ia lalu menanya, "Apa yang kau maksudkan dengan kata-katamu, cici ?" "Hehehe !" Ang Hoa Lobo ketawa. "Aku bikin anaknya begini.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kalau bapakanya tahu tentu dia bakal mencari aku. Dia tentu datang berlutut dihadapanku untuk minta obat pemusnahnya, jangan sampai anaknya yang cakap ini mempunyai dua muka. Baru sekarang Siauw Cu Leng mengerti maksudnya si nenek. Kiranya Ang Hoa Lobo hendak membikin malu Kwee Cu Gie. Dengan bikin wajah Lo In berubah hitam, Kwee Cu Gie pasti mengerti siapa punya perbuatan. Orang she Kwee itu tentu akan mencari Ang Hoa Lobo untuk menolong anaknya, minta belas kasihannya si nenek supaya Ang Hoa Lobo mengembalikan wajah anaknya pada keadaan semula. Ang Hoa Lobo alias Teng Goat Go sampai saat itu masih merasa penasaran pada Kwee Cu Gie yang sudah menampar pipinya dua kali sehingga beberapa giginya pada rontok dan sekarang ia sudah ompong ! "Sekarang kita mau apakan dia ?' tanya Siauw Cu Leng. "Masukan jadi satu dengan si sundal cilik." sahut Ang Hoa Lobo. Siauw Cu Leng sangsi tampaknya, ia berdiri saja menjublek. "Kau masih belum mau bawa dia pergi, mau tunggu apa ?" si nenek membentak. "Tapi cici, tapi....... " si iblis terhenti bicaranya ketika si nenek Kembang Merah memotong. "Tapi, tapi apa ? Lekas kerjakan !" "Aku kuatir kejadian selanjutnya." jawab si Iblis Alis Buntung,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ ia beranikan hati mendebat Ang Hoa Lobo. "Binatang kecil ini sangat hebat tenaga dalamnya. Sebentar kalau dia sudah siuman, apakah dia tidak ngamuk ?" "Ngamuk ? Hehehe !" si Nenek Kembang Merah ketawa. "Sudah tidak ambrol isi perutnya menahan pukulanku, sudah bagus. Mau ngamuk ? Hmm ! Aku mau lihat. Lekas kerjakan perintahku, jangan banyak cing cong !" Siauw Cu Leng tak berani banyak kata. Ia lalu angkat tubuhnya Lo In, dipondong di bawa ke kamar belakang. Ke dalam mana, tubuhnya Lo In menggelinding karena diletakkan oleh Siauw Cu Leng separuh dilemparkan. "Iblis, kau bawa masuk apa kesini ?" bentak seorang anak perempuan kecil yang ada dalam kamar itu ketika melihat pintu kamar dibukan dan tubuh Lo In diletakkan di lantai separuh dilemparkan. Sambil menutup pintu kamar lagi, Siauw Cu Leng menjawab, "Sundal cilik, kau tak usah kesepian lagi. Sekarang ditemani si setan cilik ! Hahaha !" Si iblis berkata-kata sambil meninggalkan kamar itu yang merupakan kamar tahanan rupanya. Memang, kamar itu boleh disebut kamar tahanan sebab dalam kamar itu ada disekap seorang gadis cilik umur kira-kira belum 15 tahun. Jadi lebih tua dari Lo In yang usianya baru memasuki tahun ke-14. Dalam ruangan itu yang lumayan juga lebarnya, mendapat penerangan dari sela jeruji-jeruji jendela kecil yang kokoh dan kuat dari bambu pilihan. Tidak ada perabotan didalam situ kecuali bale-bale yang muat 2 orang serta bangku dan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mejanya yang sudah reyot. Tampak si nona kecil berdiri tertegun melihat 'tamu' datang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Rambutnya si dara cilik yang dikepang dua tampak sudah awut-awutan, romannya lesu dan pucat tapi tidak mempengaruhi air mukanya yang jernih, ramai dengan senyum dikulum. Pelan-pelan ia jalan menghampiri tubuhnya Lo In. Ia jongkok disampingnya lalu memandang parasnya Lo In. Hatinya merasa geli, ia ketawa melihat mukanya Lo In yang hitam legam. Di usap-usap pipi Lo In, kemudian melihat pada tangannya yang barusan dipakai meraba. Oh, kenapa tidak hitam ? Ia menduga, tadinya wajah hitam itu disengaja si bocah dengan mengolesi mukanya dengan arang hitam legam. Selama itu, Lo In tidak berkutik. Di goyang-goyang badannya, tapi Lo In tetap tak sadarkan diri. Mulai curiga hatinya si dara cilik, lalu ia tekuk lututnya, lengkungkan badannya, telinganya di pasang di atas dada Lo In. Ia dapatkan si bocah masih ada napasnya. Ia periksa keadaan Lo In lebih jauh, keculai mukanya hitam, tidak kedapatan tanda-tanda bekas dianiaya. Ketika ia gerakkan kakinya hendak jongkok pula, tiba-tiba ia rasakan kakinya lemas dan jatuh ke depan diatas tubuhnya Lo In. Selagi ia berusaha hendak bangun, tiba-tiba ia mendengar suara dari sebelah luar kamar, "Eng Lian, kau masih tetap membandel ? Lihat itu setan cilik contohnya ! Selain aku tidak kasih makan kau, juga aku akan bikin mukamu yang cantik jadi berubah hitam seperti si setan cilik ! Hehehe......."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dara cilik itu yang ternyata bernama Eng Lian kenali suaranya Ang Hoa Lobo yang berkata-kata tadi. Tampak ia menggertak giginya, tangannya yang kecil mungil mengepal keras, rupanya ia sangat marah. Sekarang ia mengerti, yang membuat wajah anak itu hitam adalah si Nenek Kembang Merah. "Siapa yang mau berurusan denganmu, nenek jahat !" sahut Eng Lian kemudian. "Hehe ! Bagus, baru tiga hari aku hukum kau tidak makan. Kalau kau masih tetap membandel, hemm ! Aku kasih tempo tiga hari lagi untuk kau pikir-pikir. Kalau sampai temponya kau masih tetap membandel, jangan salahkan si nenek bila berbuat kejam Pikirkanlah !" demikian si nenek mengancam. Eng Lian tidak mau ladeni Ang Hoa Lobo sampai nenek itu meninggalkan kamar itu, tidak terdapat jawaban dari sebelah dalam. Si dara cilik sudah tiga hari dihukum tidak makan oleh Ang Hoa Lobo, pantasan kakinya lemas. Dalam bingung, apa yang akan ia buat menghadapi Lo In yang masih pingsan, sedang perutnya sudah sangat lapar, tiba-tiba Eng Lian dibikin terkejut dengan diceploskannya benda-benda bundar melalui sela-sela jeruji jendela. Ia merayap menghampiri salah satu benda itu, kiranya itu ada buah-buah yang diceploskan dari sebelah luar. Siapa yang mengirimnya ? Matanya mengawasi ke jurusan jendela, ia melihat ada dua ekor kera disana, sedang repot menceplosceploskan buah-buahan. Dalam herannya, ia ingin mendekati dua kera itu tapi ia tak dapat bangun karena kakinya amat

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ lemas. Dua kera itu, sudah tentu pembaca dapat menebaknya siapa. Sebab mereka tidak lain adalah Pek-gan dan Pek-tauw, si monyet mata putih dan kepala putih yang menjadi kesayangannya Lo In. Mereka melihat tuannya dibawa masuk ke dalam rumah itu terus mengintip akan segala tindak tanduknya Siauw Cu Leng dengan Ang Hoa Lobo. Setelah tahu yang Lo In ditempatkan dalam kamar belakang, mereka lantas mencari buah-buahan di sekitar tempat itu untuk dipersembahkan kepada majikannya. Tapi mereka tidak tahu kalau Lo In dalam keadaan pingsan. Mereka hanya mengira bahwa majikannya itu sedang tidur nyenyak. Eng Lian dapat pungut salah satu buah dan dimakannya. Ia rasakan manis dan enak. Ia lalu makan lagi beberapa buah untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Benar-benar ia rasakan buah-buah yang dimakan istimewa. Kecuali manis dan lezat, setelah masuk ke dalam perut telah menimbulkan reaksi tubuh menjadi segar dan kuat. Bukan main girangnya Eng Lian ketika ia tahu kakinya sudah dapat digerakkan lagi dengan leluasa. Ia lantas kumpulkan buah-buah itu supaya nanti jangan sampai ketahuan oleh dua iblis yang hendak merongrongnya. Hari berikutnya, Eng Lian repot menerima kiriman dari Pekgan dan Pek-tauw. Lucu laga lagunya dua kera itu hingga Eng Lian merasa suka dan sayang. Ia sendiri tidak mengerti kenapa dua monyet itu begitu baik mau mengirimkan buahbuahan kepadanya yang dalam kesukaran. Ia belum tahu

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kalau dua kera itu mengirim buah-buahan bukan untuk dia tapi untuk majikannya, Lo In, yang Eng Lian tidak tahu anak itu siapa namanya dan datang dari mana. Sambil melahap buah semacam jambu, Eng Lian memandangi wajah Lo In. Pikirnya, anak ini parasnya cakap sayang dibuat hitam oleh si nenek jahat. Apakah warna hitam yang melekat itu nanti dapat dicuci dan parasnya anak cakap itu kembali pada asalnya ? Ia tanya pada dirinya sendiri. Tiba-tiba ia dibikin kegirangan melihat Lo In pelan-pelan telah membuka matanya. Saking girangnya sampai ia lempar buah yang dimakannya dan tangannya yang kecil halus memegang pipinya Lo In, menanya, "Oh, adik, aku sudah siuman ? Enak betul tidurmu." Lucu kelakuannya Eng Lian. Ia kira Lo In tidur nyenyak. Ia tidak tahu kalau Lo In menderita pukulan dahsyat. Lo In heran, matanya kecap kecip memandang Eng Lian. Pikirnya, apakah ia sedang ngimpi atau sudah berada di lain dunia ? Kenapa ada anak perempuan disampingnya ? Ia angkat tangan kanannya, jari telunjuknya dimasukkan dalam mulutnya, digigit, au, tentu saja ia berjengkit kesakitan. "Hi hi hi.... anak tolol. Kenapa menggigit jari sendiri ?" Eng Lian ketawa, melihat Lo In kesakitan menggigit jarinya barusan. "Kau siapa, cici ?" tanya Lo In, lemah suaranya. "Aku Eng Lian, kau sendiri siapa ?" balik menanya si dara cilik, lucu lagaknya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Oh, enci Lian......." Lo In terus bungkam. "Hei, hei, kenapa kau tidak sebutkan namamu ?" kata Eng Lian seraya menggoyang-goyang lengan Lo In yang tatkala itu sudah mau meramkan matanya lagi. Lo In kembali membuka matanya, ia tersenyum mengawasi si nona cilik. "Apa sih yang dilihat ?" kata Eng Lian ketika mereka beradu pandangan sambil mencibirkan bibirnya yang mungil. "Enci Lian, aku ini berada dimana ?" tanya Lo In, tidak melayani orang mencibirkan bibirnya. "Dalam kamar tahanan." sahut Eng Lian singkat, dongkol rupanya dia. Lo In terkejut. Ia coba gerakkan badannya untuk bangun, tapi belum bisa. Sebab seluruh badannya dirasakan lemas. Tenaga raksasanya entah pergi kemana. Ia heran, kemana perginya tenaganya yang dahsyat. Lantas dia ingat akan kejadian ketika bertemu dengan si nenek di rimba bambu. Bagaimana ia dibokong. Pikirnya, mungkin gebukan si nenek yang menyebabkan hilang tenaganya. Buktinya, ia peras tenaga dalamnya, bukannya berhasil malah bobokongnya dirasakan sakit bekas gebukan si nenek. "Jahat..........." ia menggerendeng, perlahan suaranya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Perlahan suaranya tapi menusuk telinga Eng Lian. Mukanya lantas cemberut. "Jahat, jahat, siapa jahat, hah !" tangannya berbareng mau menampar. "Tahan !" kata Lo In cepat ketika pipinya hendak ditampar si dara cilik. "Enci Lian, aku bukan maksudkan kau jahat." sambung Lo In. Eng Lian ketawa, sambil tarik pulang tangannya. "Habis, siapa yang kau maksudkan ? Sebab disini tidak ada orang lain kecuali kita berdua." katanya. Lo In anggap dirinya lucu. Oh, bolehlah ketemu ini dara cilik yang lebih lucu dan aneh adatnya. Seketika juga Lo In merasa suka berteman dengan Eng Lian, maka sambil bersenyum ia berkata, "Enci Lian, yang aku maksudkan adalah nenek itu dengan kembang merah disanggulnya." "Oh, dianya ?" kata Eng Lian sambil leletkan lidahnya. "Ya." sahut Lo In. "Dimana dia sekarang ? Aku dibokong olehnya, digebuk dari belakang sampai rasanya semaput. Untung aku tak sampai mati." "Eh, mengapa sampai begitu ? Mengapa, kenapa ?" Eng Lian minta Lo In tuturkan. Lo In lantas ceritakan kejadian di rimba bambu ketika ia hendak menolongi si nenek, tidak tahunya ia kena masuk perangkap. Eng Lian yang mendengari cerita Lo In merasa panas hatinya kepada Ang Hoa Lobo yang kejam. Di samping itu ia merasa

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ simpati pada Lo In, anak yang berhati mulia menjadi korban dari tangan telengas. "Dia, si nenek itu memang jahat. Dia ada disini, dibantu oleh si kakak jelek Siauw Cu Leng yang julukannya Toan Bi-lomo." menerangkan Eng Lian. "oh, iblis itu juga ada disini ?" tanya Lo In terkejut. Eng Lian anggukkan kepalanya. -- 8 -Tadinya, Lo In tidak mengerti apa salahnya dia digebuk oleh si Nenek Kembang Merah ? Padahal baru saja ia berjumpa dengan maksud baik hendak memberikan pertolongan tapi bukan terima kasih ia dapat dari si nenek, malah gebukan yang membikin isi perutnya berantakan, untung tenaga dalamnya cukup dahsyat. Sekarang, ia mendengar cerita Eng Lian, si Iblis Alis Buntung itu adalah konconya Ang Hoa Lobo, lantas ia mengerti duduknya urusan. Tentu gara-gara mulut si iblis yang tajam menghasut sehingga si nenek menurunkan tangan telengas atas dirinya. "Enci Lian, anak si......" Lo In hendak menanya tapi sudah dipotong oleh si dara cilik, katanya, "Makan dahulu ini. Perutmu tentu sudah minta diisi !" sambil menjejalkan sebagian buah yang tengah ia lahap ke mulut Lo In. Terpaksa Lo In mengganyangnya. Seketika hatinya terkesiap, karena buah itulah yang biasa ia makan kiriman dari dua

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ keranya yang sangat disayang. Maka ia lalu menanya, "Enci Lian, kau dapat dari mana buah ini ?" sambil unjukkan sepotong buah yang belum habis ia makan. "Entahlah. Ada dua malaikat berupa kera yang mengantarkan ke sini. " jawab Eng Lian. Gembira dia sebab sekarang ia tidak usah memikirkan lagi akan kelaparan. "Oh, itu adalah Pek-gan dan Pek-tauw." kata Lo In. "Betul, betul. Yang satu berkepala putih, yang lainnya sepasang matanya yang putih. Kera siapakah mereka itu, apa kau tahu ?" Eng Lian cerita. "Mereka ada teman-teman baikku." sahut Lo In. Eng Lian terbelalak matanya, heran mendengar Lo In mengatakan dua kera itu ada teman baiknya lalu minta Lo In cerita bagaimana ia bisa bersahabat dengan dua kera yang pandai itu. Lo In tidak berkeberatan. Sebelumnya ia perkenalkan dahulu namanya Lo In, lalu menuturkan perjalanan hidupnya dari anak jembel sampai mengerti surat dan ilmu silat atas pimpinan Liok Sinshe. Ia turun ke dalam jurang mencari Liok Sinshe yang jatuh dibokong musuh, bagaimana ia hidup dalam lembah itu bersama-sama dengan si rajawali yang ia sembuhkan dari lukanya, bagaimana ia taklukan kawanan monyet lantaran menolong Siauw-hek. Eng Lian yang hatinya sangat tertarik oleh penuturan Lo In tidak memotong ceritanya Lo In. Ia sangat kagumi si bocah yang luar biasa dan besar rejekinya sampai dapat makan buah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ 'Jit-goat-ko.'. "Adik In," kata Eng Lian, setelah mendengar habis cerita Lo In. "Kau ada satu bocah luar biasa. Bukan mustahil kau nanti jadi terkenal dan orang menyebut kau 'sinlong', bocah sakti. Hihihi......" "Mudah-mudahan," sahut Lo In membanyol. "Dengan doa restumu, kata-katamu tadi akan menjadi kenyataan." Si dara cilik mesem manis. Setelah menutur, Lo In coba gerakkan badannya. Ternyata masih belum dapat bergerak sebagaimana mestinya. Ia sudah pegal rebah saja maka ia minta si dara cilik bantu ia untuk dapat duduk. Eng Lian tidak berkeberatan. Ia bantu sampai Lo In dapat duduk betul. "Terima kasih, enci Lian." kata Lo In. "Terima kasih kembali." sahut si dara cilik jenaka. Lo In makin girang hatinya ia memperoleh teman yang lebih jenaka dari dirinya. "Enci Lian." kata Lo In. "Aku sudah bercerita tentang perjalanan hidupku. Sekarang giliranmu cerita bukan ?" "Tentu, tentu, adikku manis." sahut Eng Lian melucu. "Aku hidup bersama......." "Hei, Eng Lian. Kau jangan banyak ngobrol. Bagaimana, kau menyerah tidak ?" tiba-tiba terdengar kata-kata dari sebelah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ luar kamar hingga ceritanya si dara cilik terhenti seketika. Si Nenek Kembang Merah yang memotong kata-kata Eng Lian tadi. Mendongkol hatinya si dara cilik, kelihatan dari romannya yang merengut, tangannya dikepal-kepal gergetan, lucu kelihatannya sampai Lo In tak dapat menahan ketawanya terbahak-bahak. "Kau ketawai apa, bocah ?" bentak Eng Lian. Tangannya diangkat mau menampar Lo In tapi tidak jadi ketika ia melihat Lo In tempelkan satu jari dimulutnya seraya tangan kirinya digoyang-goyang. Heran Eng Lian melihat lagaknya Lo In, ia menanya, "Memangnya ada apa sih ?" "Tidak apa-apa." sahut Lo In. "Cuma aku lihat enci makin marah jadi makin ber....... au !" Lo In berjengit karena perkataannya belum putus, tangan si dara cilik yang mungil nyelonong ke pipinya, tidak menampar hanya mencubit hingga Lo In kesakitan. "Rasakan, ya !" kata Eng Lian sambil cekikikan tertawa melihat Lo in pegangi pipinya yang kesakitan. "Hei, Eng Lian, kau dengar tidak ?" bentak suara Ang Hoa Lobo. "Janji tiga hari belum sampai, kenapa kau minta putusan sekarang ?" sahut Eng Lian, suaranya lantang berani.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Hehe.... jadi aku mesti tunggu ?" si nenek ketawa. "Ya, tunggu saja. Sampai pada waktunya, aku beri putusan !" kata Eng Lian. Lantas terdengar suara kakinya si nenek berlalu. Kiranya Siauw Cu Leng yang menggosok-gosok si nenek supaya mendesak Eng Lian. Ia mencuri dengar percakapan Eng Lian dan Lo In, lantas usulkan pada si nenek kembang merah supaya lekas mendesak Eng Lian berikan keputusannya. Ia menyatakan kekuatirannya akan Lo In yang sudah siuman dari pingsannya, nanti membikin susah mereka. Si nenek tidak kuatiri. "Mengapa kamu harus takut dengan anak sambal itu ?" Ang Hoa Lobo berkata pada Siauw Cu Leng. "Tenaga dalamnya sudah musnah, berani dia main gila pada kita ?" Ang Hoa Lobo percaya benar masa pukulan mautnya yang sudah memusnahkan tenaga dalamnya Lo In. Ini memang benar sebab Lo In rasakan tenaga raksasanya hilang lenyap meskipun ia sudah coba berkali-kali untuk dikumpulkan. Yang penting, pikir Ang Hoa Lobo adalah Eng Lian yang harus didesak supaya memberitahukan rahasia pelajaran yang ia perlukan. Setelah Ang Hoa Lobo berlalu, Lo In menanya kepada Eng Lian, "Enci janjikan apa sama dia ? Apa dia mau ?" Eng Lian lantas cerita pada Lo In hal kedatangannya Ang Hoa

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lobo dan Siauw Cu Leng, sekalian menutur tentang dirinya dalam rumah itu. Si dara cilik ternyata ada dari keluarga Oey, menurut keterangannya. Ia hidup bersama ayah dan ibunya bertiga dalam desa Tengong chung, sebelah barat kota Gukwan di bawah kaki gunung Hengsan. Sampai umur 7 tahun Eng Lian ikut ibunya di Tengong-chung, sering pindah dari satu dusun ke dusun lain di pegunungan sebab ayahnya mempunyai hobi (kesukaan) memelihara ular dan akhirnya mereka menetap di lembah itu sudah 4 tahun lamanya. Pada kira-kira hampir 2 tahun yang lalu, pernah keluarga Oey kedatangan seorang tamu yang mengaku she Tan, entah namanya siapa. Tapi menurut ibunya, tamu itu biasa dipanggil Tan Sianseng. Tamu she Tan itu sangat baik pada ibunya, sering mengajak omong sambil ketawa-ketawa, malah bukan jarang mereka kedapatan suka kasak kusuk berduaan saja. Tapi ayahnya sama sekali tidak menaruh cemburu, malah kelihatannya seperti yang sangat menghormati pada tamu she Tan itu. Terhadap Eng Lian, tamu itu juga sangat sayang dan mencintai sebagai pada anaknya sendiri. Dua minggu lamanya tamu itu menginap dalam rumahnya tetapi kemudian menghilang, berbareng juga menghilang ibunya Eng Lian. Si dara cilik tentu saja menangis ditinggalkan ibunya, tapi sang ayah menghibur. Kata ayah, ibu pergi dengan Tan Sianseng buat satu urusan penting dan tidak lama pun akan kembali. Tapi sampai sekarang sang ibu belum kelihatan mata

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ hidungnya muncul kembali. Sampai disini Eng Lian menutur, ia menangis hingga Lo In yang merasa dirinya piatu menjadi turut terharu dan turut mengalirkan air mata. Sambil menyusut air matanya dengan tangan baju, Eng Lian melanjutkan ceritanya. "Dua minggu yang lalu kita kedatangan dua iblis yang sekarang ada disini. Katanya numpang menginap untuk melakuka penyelidikan dalam lembah." "Ayah tidak berkeberatan atas permintaan mereka, malah suak antar-antar mereka menjelajah tempat yang asing bagi mereka. Belakangan mereka lihat ayah banyak pelihara ular. Mereka heran lalu si nenek jahat minta ayah mengajarinya cara bagaimana dapat menjinaki atau menaluki ular. Ayah ketawa, ia bilang kepandaiannya tak dapat diturunkan lain orang kecuali pada anaknya yaitu aku." "Jadi, enci Lian pandai menaluki ular ?" menyelak Lo In yang sedari tadi mendengarkan saja penuturan si dara cilik. Eng Lian manggut. "Mereka tidak apa-apa permintaannya ditolak." menyambung Eng Lian dalam ceritanya. "Pada keesokan harinya, mereka mengajak lagi ayah untuk menjelajah pegunungan. Ayah tidka menolak sebab dia pun ingin menyelidiki ular-ular yang ada ditempat-tempat lain. Eh, tidak tahunya ketika mereka pulang, ayah ternyata tidak turut pulang. Sampai sekarang ayah hilang. Entah dimana dia adanya. Setelah ayah tidak ada, orang-orang jahat itu mendesak aku supaya aku turunkan pelajaran menaluki ular kepadanya." "Apa enci tidak tanya pada mereka, kemana ayahmu pergi ?" tanya Lo In disaat Eng Lian hentikan sebentar penuturannya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ karena ia menangis ketika sampai pada bagian menutur ayahnya tidak pulang. "Aku sudah tanya mereka. Tapi mereka bilang ayah pergi menyusul ibu dan tidak berapa hari juga akan pulang." menyambung Eng Lian. "Tadinya aku tak keberatan menurunkan kepandaianku menakluki ular tapi belakangan aku segan. Aku mogok mengasih pelajaran pada mereka karena si Nenek Kembang Merah itu sangat jahat. Telah membunuh aku punya Tok-gan Siancu." "Apa itu Tok-gan Siancu ?" menyela Lo In. "Tok-gan Siancu adalah ular kesayanganku, bermata satu, mempunyai empat sayap, besarnya sebesar betis orang gemuk." menerangkan Eng Lian. Tok-gan Siancu artinya Dewi Bermata Satu. Bagus juga Eng Lian kasi nama ular kesayangannya yang dua meter panjangnya. "Kenapa Tok-gan Siancu dibunuh nenek jahat itu ?" tanya Lo In. "Kejadian itu pada suatu sore, di waktu dia ajak aku melihat ular kesayanganku. Tiba-tiba Tok-gan Siancu beringas melihat si nenek, kepalanya bangun dari melingkarnya kemudian menyambar tangan si nenek yang sedang pegang jeruji kerangkeng dari bambu, menggigit tanganya itu hingga dia semalaman panas dingin tidak bisa tidur. Kalau dia tidak ketolongan oleh obatku, dia pasti melayang jiwanya. Tapi dia bukan terima kasih padaku, malah keesokan harinya, aku lihat aku punya Tok-gan Siancu sudah menjadi bangkai dalam

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kerangkengnya, dibunuh oleh si nenek jahat. Aku menangis atas kematiannya itu.........' Eng Lian bercerita sambil menangis, ingat dengan ular kesayangannya yang sangat jinak dan menjadi teman mainnya. Lo In menghibur Eng Lian, tapi diam-diam hatinya merasa gemas pada Ang Hoa Lobo yang sangat telengas itu. Pikirnya, ada satu waktu kalau tenaganya sudah pulih kembali, ia ingin memberi hajaran pada si nenek. Eng Lian selagi susut air matanya, tiba-tiba mendengar cetcowetan kunyuk di luar jendela. "Nah, itu teman-temanmu datang." ia kata pada Lo In. Lo In mengawasi ke jendela, ia lihat Pek-gan dan Pek-tauw sedang menurunkan kirimannya melalui sela-sela jeruji. Lo In perdengarkan suara cetcowetan juga hingga Eng Lian heran dan merasa lucu. "Hihi, dia juga bisa bicara monyet......." seraya menekap mulut Lo In, tapi cepat ia tarik pulang lagi tangannya itu ketika melihat matanya Lo In melotot padanya. Pikirnya, Lo In tentu sedang bicara serius dengan sang kera, makanya perbuatannya tadi dipelototi. Memang, Lo In sedang beri teguran Pek-gan dan Pek-tauw, kenapa dua kera itu tidak berusaha untuk menolong ia dalam kesusahan. Ia tegaskan si nenek dan si kakek bukan orang baik-baik, harus mereka waspada nanti dijebak oleh mereka. Seperti yang menerima salah, kedua kera itu membungkam mulutnya pada saat Lo In sedang cetcowetan mengomeli pada mereka.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tidak lama, setelah Lo In tutup mulutnya berhenti bicara, Pekgan dan Pek-tauw cetcowetan sebentar, manggut-manggut, lalu meninggalkan tempat itu. Setelah melihat Lo In mukanya tenang lagi, baharulah Eng Lian berani menanya, "Adik In, kau omong apa dengan dua temanmuitu ?" "Aku marah-marah, mereka sangat goblok, tidak berusaha mencari daya untuk menolong aku ! Rupanya mereka ketakutan dan lari pergi." menerangkan Lo In. "Pandai benar kau bercakap-cakap dalam bahasa monyet, adik In." memuji Eng Lian, mesem manis. "Kau lagi marahmarah, pantesan aku dipelototi. Coba sekarang matamu melototi aku, kalau aku tidak gasak mukamu, jangan panggil aku si Lian !" Dengan serentak Lo In tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Eng Lian, apalagi melihat si dara cilik ketika mengucapkan kata-kata paling belakang, sembari gulung tangan bajunya dan keluarkan kepalan tangannya yang bulat kecil mungil, diunjukan pada Lo In. Sepasang anak jenaka itu kelihatan cocok satu dengan lain, seolah-olah tidak menghiraukan kekejamannya si Nenek Kembang Merah dan si Iblis Alis Buntung. Ketika menjelang malam, dua orang jahat itu berunding. "Cici, lebih baik kita mampusi saja si setan kecil itu !" usul

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Siauw Cu Leng pada 'darlingnya', masih saja ketakutan dia terhadap Lo In. "Kau jangan aduk-aduk rencanaku, Cu Leng." sahut Ang Hoa Lobo. Siauw Cu Leng tidak setuju dengan rencanaya si Nenek Kembang Merah karena ia tahu kepandaiannya Kwee Cu Gie yang hebat. Nanti bukan Kwee Cu Gie yang berlutut tapi si nenek yang semaput berlutut di hadapan pendekar tersohor itu, pikir Siauw Cu Leng. Tapi ia tak mau menyatakan pikirannya itu pada Ang Hoa Lobo, kuatir si nenek marahmarah membuat hatinya tidak enak. Sebab si nenek kalau marah-marah bukan mulutnya saja yang nyap-nyap tapi tangannya suka nampar. Mereka terus kasak kuduk berunding, sementara sang malam sudah mulai sangat sunyi. "Tolong kau tuangkan air dicangkir untuk aku minum." memerintah si nenek pada kekasihnya. Siauw Cu Leng menurut, ia tuang air dari teko sebanyak 2 cangkir sebab yang satu lagi cangkir untuknya. Kemudian ia serahkan satu cangkir pada Ang Hoa Lobo. Ia ini menyambuti, lalu tempelkan ke mulut untuk dihirup isinya. Belum menghirup habis, tiba-tiba cangkir itu melesat ke jendela, dilontarkan oleh Ang Hoa Lobo sambil membentak, "Bangsat ! Kau berani mengintai ?" Menyusul suara cetcowetan di luar jendela. Kiranya si kepala putih yang cetcowetan itu. Ia kesakitan kupingnya yang kiri kena keserempet pinggiran cangkir yang dilontarkan Ang Hoa Lobo.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ah, itu kan hanya si kunyuk kecil, cici." kata Siauw Cu Leng mentertawakan Ang Hoa Lobo yang mengira didatangi musuh berat. "TIdak perduli, lekas kejar dan bunuh dia !" perintah Ang Hoa Lobo bengis. Siauw Cu Leng tak dapat membangkang perintah ratunya, meskipun dalam hati ia uring-uringan, terpaksa ia keluar untuk mengejar si kera. Tapi baru saja ia muncul di pintu tiba-tiba tangannya ada yang menyambar. Ia berkelit, selamatkan tangannya dari sambaran tadi. Kiranya yang menyambar tangannya itu adalah Ji-hek yang berdiri di depannya, sudah bersiap-siap untuk menyambar lagi tangan Siauw Cu Leng. Si Iblis Alis Buntung marah bukan main, ia kerahkan tenaganya untuk melancarkan pukulan maut pada Ji-hek. Tapi sebelum tangan jahatnya bergerak, diserang dari belakang oleh Siauw-hek yang sekarang sudah besar. Siauw Cu Leng cepat mengegos, kasih lewat serangan membokong itu. Kemudian ia maju menerjang pada Ji-hek, lagi-lagi serangannya kecandak karena saat itu lompat dua monyet kecil berbareng ke arahnya hendak memeluk lehernya. Kepaksa ia harus mengelak lagi dari serangan dua monyet tadi, hingga mereka ini tubruk angin. Lain-lain kawanan monyet datang mengurung hingga dari berani si Iblis Alis Buntung menjadi jeri melihat datangnya tentara monyet. Entah dari mana datangnya sebab tahu-tahu sekarang ia berhadapan ratusan monyet kecil dan besar, dibantu oleh Jihek dan Siauw-hek.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dimana adanya Toa-hek ? Si Iblis bertanya-tanya dalam hatinya yang jeri. Ia lalu berteriak-teriak minta bantuan Ang Hoa Lobo yang segera muncul dengan toya besinya yang berat. Ia melihat Siauw cu Leng tengah dikerubuti kawanan kera, bukan main marahnya. Ia putar toya besinya, maksudnya hendak menyerbu melepaskan 'darlingnya' dari kepungan tentara kera. Tetapi sebelum ia dapat bergerak, dari atas genteng rumah melayang satu tubuh. Itulah Toa-hek yang sudah lama menanti munculnya si nenek. Lengannya dirasakan sangat sakit kena dicekal Toa-hek hingga toya besinya jatuh sendiri. Tapi Ang Hoa Lobo bukannya si nenek kejam kalau hanya segebrakan saja dapat dikuasai Toa-hek. Seketika itu ia mengerahkan lwekangnya, mendorong cekalannya Toa-hek pada lengannya. Sekali berontak ia sudah lolos dari cekalan Toa-hek. Cepat ia pungut toyanya lalu menyerang pada si orang utan yang perdengarkan suara her ! her ! yang menakutkan. Ang Hoa Lobo tidak gentar dengan roman Toa-hek yang sedang gusar. Toyanya digeraki untuk menyodok perut Toa-hek. Tapi sodokannya lupu karena dengan manis si orang utan dapat menyelamatkan diri dengan berkelit lompat ke samping kiri si nenek akan dari mana lengan kanannya yang berbulu dipakai membentur toya Ang Hoa Lobo terus ditekan ke bawah. Inilah gerakan 'Kim ke tan tian ci' atau 'Ayam Emas geraki satu sayap' yang Lo In ajarkan kepada Toa-hek dalam latihannya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ternyata si gorila cerdik juga dan dapat mengingat diorakanya tipu silat istimewa itu. Cuma sayang ia kalah cerdas dengan Ang Hoa Lobo. Bukan toya si nenek dapat ia rebut, sebaliknya dadanya hampir ditembusi senjatanya Ang Hoa Lobo, kalau ia tidak cepat memutar tubuh untuk menyelamatkan diri dari sodokan maut itu. Ang Hoa Lobo gunakan tipu 'Hek liong lam cu' atau 'Naga hitam mencari mutiara' untuk memusnahkan tipu Toa-hek 'Ayam emas menggerakkan satu sayapnya'. Ketika toyanya ditekan ke bawah, ia tidak lantas tarik pulang, sebaliknya ia kerahkan tenaga dalamnya disalurkan ke toya yang membuat toya jadi sangat berat. Dalam heran, melihat toya tak dapat ditekan, Toa-hek terkejut waktu sekonyong-konyong si nenek ditarik pulang, kemudian dengan kecepatan kilat disodorkan ke arah dadanya. Untung ia dapat memutar tubuhnya untuk berkelit. Kalau tidak, celaka dia kepanggang toyanya si nenek. "Hehe, pintar juga kau." tertawa si nenek, sedang hatinya diam-diam merasa gegetun, kenapa gorila ini bisa ilmu silat. Ia lantas menduga akan Lo In yang ajarkan tentu. Segera ia sudah mulai menyerang pula pada Toa-hek yang ketika itu sudah memperbaiki posisinya. Manusia kontra binatang itu jadi bertempur seru. Selainnya memang latihan dan kecerdasan. Ang Hoa Lobo pun ada pakai senjata toya untuk mendesak lawannya yang bertangan kosong. Maka sudah tentu saja Toa-hek tak dapat mempertahankan perlawanannya. Belum 10 jurus, ia sudah patah perlawanannya. Toya si nenek sudah melanggar bahu kanannya, lantaran kurang cepat ia mengegosi serangan lawan. Untung sebelum si nenek menghajar lebih telak padanya, beberapa kunyuk yang melihat si gorila dalam

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ bahaya sudah lantas turun tangan mengerubuti sehingga Ang Hoa Lobo menjadi sangat repot. Si nenek putar toyanya yang menerbitkan angin menderuderu. Kawanan monyet itu melihat gelagat juga. Sementara Ang Hoa Lobo tengah memutar toyanya, mereka tidak berani datang menerjang, hanya menonton saja dari kejauhan. Menggunakan kesempatan itu, Ang Hoa Lobo sudah enjot tubuhnya, menyela ke arah Siauw Cu Leng yang sedang dikerubuti. Di sini Ang Hoa Lobo memutarkan pula toyanya untuk membubarkan kepungan atas kekasihnya sehingga kawanan monyet itu pada mundur melihat datangnya bahaya. Hanya Ji-hek dan Siauw-hek yang masih menempur Siauw Cu Leng yang sudah kehabisan 'bensin' kelihatannya. Napasnya tampak ngos-ngosan, keringat mengucur membuat pakaiannya basah kuyup. Ia merasa girang atas kedatangan Ang Hoa Lobo, dapat ia bernapas sedikit legaan, apalagi ia melihat Siauw-hek kena kehantam toyanya si nenek, menambahkan kegirangannya. Ia tinggalkan Ji-hek dan lompat mengubar Siauw-hek yang berkaok-kaok kesakitan, melarikan diri. Lebih baik barangkali kalau siauw Cu Leng tidak mengejar Siauw-hek sebab justru ia mengejar, ia telah mengalami kesulitan, hampir jiwanya melayang. Di saat ia sudah hampir menyandak si anak gorila, tahu-tahu dari atas pohon kedengaran suara 'bleber', itulah si rajawali yang pentang sayapnya menyambar pada Siauw Cu Leng. Bukan main kagetnya si Iblis Alis Buntung. Musuh alotnya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sudah muncul sedang tenaganya sudah hampir habis. Apa daya ? Ia jadi menghela napas lalu memeramkan matanya untuk terima nasib dicengkeram si rajawali yang kukunya runcing-runcing. Tengah ia berdiri sambil memeramkan matanya, tiba-tiba ia merasa dirinya disambar orang dan dibawa lari, dipanggul di atas pundak. Itulah Ang Hoa Lobo yang menolong kekasihnya dalam bahaya maut. Sambil memutar toyanya untuk melindungi diri, ia geraki kakinya sekuatnya untuk menyingkir dari sambaran-sambaran si rajawali yang amat ganas kelihatannya. Suara menderu-deru dan angin keras dari putaran toyanya si nenek membuat si rajawali tidak berani gegabah mendekatinya. Ia hanya menyambar-nyambar saja sambil keluarkan pekikan menyeramkan. Ang Hoa Lobo lama-lama merasa jeri untuk meladeni si burung raksasa yang makin lama makin beringas menerkamnya. Ia sembari lari dan memutar toya, matanya celigukan untuk mencari tempat perlindungan. Di sana, di sebelah depannya kira-kira sepuluh tombak, ia melihat ada rimba yang lebar dengan pohon-pohon, maka ia lari kesitu. Benar saja, ia dengan kekasihnya dapat menyelamatkan diri sebab untuk masuk mengejar ke dalam rimba itu, tak dapat dilakukan oleh si burung raksasa karena sukar ia mementang sayap, dirintangi oleh banyak cabang-cabang pohon. Si rajawali ketika melihat dua musuhnya dapat melenyapkan diri ke dalam rimba, ia melampiaskan marahnya dengan mengeluarkan pekikan-pekikan melengking seram. Siauw-hek sementara itu sudah balik pula berkumpul dengan ibu dan ayahnya, bersam-sama sekalian kawan-kawan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ monyetnya. Atas penunjukan Pek-gan dan Pek-tauw, Toa-hek sudah hampiri kamar belakang dimana Lo In dan Eng Lian ditahan. Dengan sekali pukul saja, pintu kamar sudah terpentang lebar. Toa-hek masuk ke dalam mencari Lo In. Eng Lian menjerit melihat datangnya si gorila, tanpa disadari ia sudah menubruk dan memeluki Lo In, ketakutan setengah mati. Badannya bergemetaran dalam pelukan Lo In hingga Lo In tidak tahan untuk tidak mentertawakan kelakuan sang kawan yang jenaka itu. Lo In usap-usap rambut kepala si dara cilik yang hitam jengat dan halus, yang saat itu tengah umpatkan mukanya di dada Lo In, seram melihat kedatangan Toa-hek. "Enci Lin, kau jangan takut. Mereka adalah kawan-kawan kita........" kata Lo In, suaranya halus sambil tangannya memegang dagu si dara supaya Eng Lian melihat pula pada si gorila. Eng Lian mendengar kata-kata Lo In memberanikan diri untuk memandang kepada si orang utan. Kali ini ia melihat, bukan atu tapi ada tiga orang utan yang sedang berlutut di hadapan Lo In. Terbelalak matanya Eng Lian, hatinya berdebar-debar. "Enci Lian, mereka adalah Toa-hek sekeluarga." Lo In memperkenalkan pada Eng Lian. Meskipun Lo In dalam penuturannya, ada menceritakan juga

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tentang tiga gorila ini, Eng Lian tidak dapat lepas dari perasaan takutnya karena sikapnya ketiga gorila itu benarbenar menyeramkan. "A......... aku takut In." sahut si dara cilik. "Kau jangan takut, nanti aku kenalkan." berbareng Lo In mulutnya cetcowetan bicara kepada Toa-hek sekeluarga. Betul-betul membuat Eng Lian heran sebab setelah Lo In bicara, ketiganya lalu bangkit dan mendekati si dara cilik untuk mengusap-usap lengan dan pipinya. Karena saking takutnya, Eng Lian lebih kencang memeluk Lo In, pipinya yang kanan merapat di dadanya Lo In, hanya sepasang matanya saja yang bundar jeli bundar, kedap kedip memandang pada tiga kawan Lo In. Ia rasakan bulu-bulu Ji-hek dan tangannya yang kasar mengusap-usap pipinya. Ia beranikan hati untuk menerima 'tanda persahabatan' itu malah makin lama usapan-usapan Ji-hek itu dirasakan makin meresap dalam hatinya, tanda kasih sayangnya seorang ibu. Maka pelan-pelan perasaan takutnya telah terusir pergi jauh. Eng Lian jadi tabah. Dasar anah jenaka dan berani, seketika itu juga berubah sikapnya. Ia balas mengusap-usap tangan Jihek seraya menjabat tangan Siauw-hel dan Toa-hek hingga ketiga kera itu berjingkrak kegirangan. Eng Lian kaget mereka berjingkrakan, dikira hendak menerkam dirinya. Tapi setelah Lo In memberi keterangan bahwa mereka itu kegirangan, si dara berubah sikap, membuat Eng Lian bersenyum manis dan angguk-anggukkan kepalanya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Toa-hek sekeluarga sebenarnya merasa heran wajah Lo In berubah hitam tapi mereka kenali suaranya. Lo In yang belum bisa jalan dipondong oleh Toa-hek, dibawa keluar dimana sudah ada ratusan kera yang menyambut, ramai cetcowetan yang dapat memekakkan telinga. Sangat kegirangan rupanya mereka dapatka 'rajanya' selamat. Malah si kera Mata Putih dan si Kepala Putih sudah datang mendekat Lo In untuk minta dielus-elus kepanya, rupanya mereka menagih jasanya yang sudah mengabarkan pada kawan-kawannya tentang Lo In terancam bahaya. Memang merekalah yang disuruh Lo In untuk mengabarkan dan mengatur penyerbuan dari tentara kera ke situ untuk membebaskan ia dan Eng Lian dari cengkeraman orang-orang jahat. Eng Lian kagum pada Lo In yang sudah dapat mengerahkan tentara keranya untuk mengusir Ang Hoa Lobo dan Siauw Cu Leng, dua manusia iblis kejam. Tiba-tiba terdengar pekikan si rajawali, sebentar saja burung raksasa itu sudah terbang mendatangi. Ia mendekam di depan Lo In yang sedang dalam pondongan Toa-hek, kepalanya manggut tiga kali. Lo In bersenyum, "Tiauw-heng, terima kasih kau sudah bantu mengusir orang-orang jahat itu, Bagaimana, kau baik-baik saja berpisah denganku beberapa hari ini ?" demikian Lo In berkata-kata kepada burung kesayangannya. Eng Lian yang mendengar kata-kata Lo In, hatinya ketawa geli. Pikirnya, masa bicara sama seekor burung seperti juga bicara dengan manusia, mana burung itu mengerti maksud

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ omongannya ? Tapi alangkah ia tercengang ketika melihat si rajawali mengangguk-anggukkan kepalanya dengan manja kelihatannya, ia gosok-gosokkan tubuhnya pada kepalanya. Lucuk lagak-lagaknya si burung raksasa hingga Eng Lian jadi ketawa, kali ini bukan dalam hatinya saja yang cekikian. Ia mendekati Lo In mencekal lengannya, lalu berkata, "Adik In, kau benar-benar hebat." jempolnya yang mungil pun berbareng diunjukkan hingga Lo In tertawa bangga. Lo In perlu merawat diri untuk memulihkan tenaga dalamnya, maka ia perintah tentara keranya termasuk si rajawali supaya berjaga-jaga di sekitar rumah itu, jangan kasih orang asing datang mengganggu. Dalam rumah Eng Lian, Lo In dirawat si dara cilik dengan penuh perhatian hingga si bocah merasa sangat berterima kasih pada kawan barunya itu. Lewat dua hari, Lo In tampak sudah dapat belajar jalan dipimpin oleh Eng Loan. Pada waktu mereka ngomongngomong di serambi belakang rumah, tiba-tiba Eng Lian seperti mengingati sesuatu. Seketika ia bangkit dari duduknya. Lo In cepat pegang tangan si dara cilik menanya, "Ada apa Enci Lian ?" "Tunggu !" sahut Eng Lian sambil lepaskan tangannya dari cekalan Lo In. Ia berjalan masuk ke dalam rumah dengan cepat. Tidak lama kemudian, ia muncul lagi dengan satu gelas ditangannya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ia mendekati Lo In dan berkata, "Adik In, aku mempunyai obat manjur untuk mengembalikan lwekangmu cuma aku takut kau tidak berani makan." Lo In ketawa, "Enci Lian, aku sangat berterima kasih kepadamu." sahut Lo In. "Jangan kata obat, racun juga kalau kau suruh aku makan, aku tidak akan menolak pemberianmu." Si dara cilik cekikikan ketawa mendengar kata-kata Lo In. "Anak tolol" katanya setelah ia habis ketawa. "Orang mau kasih obat kenapa jadi racun dibawa-bawa ? Memangnya aku si Nenek Kembang Merah ? Hihihi......." Lo In pun turut ketawa. "Mana obat itu ?" ia kemudian menanya. "Ini dia obat manjur yang tidak ada duanya." sahut Eng Lian seraya angsurkan gelas yang ada ditangannya tadi. Lo In menyambuti. Ia periksa isi gelas, ia dapatkan satu benda bundar sebesar telu ayam, warnanya meah tua direndam dengan arak putih. Tampaknya benda itu lunak sekali seakanakan telur ayam barusan dipecahkan. "Barang apa ini ?" tanya Lo In keheranan. "Kau makan dahulu, nanti baru aku ceritakan," sahut Eng Lian. Lo In dekati gelas pada hidungnya, ia terkejut, dari dalam gelas menyambar bau harum yang enak sekali. "Kau takut makan ?" tanya si dara cilik, mukanya kelihatan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ cemas. Lo In adalah seorang laki-laki, tidak mungkin ia menarik pulang apa yang sudah ia kaakan tadi pada Eng Lian, meskipun itu hanya bersifat main-main. Maka setelah ia nyengir sebentaran, ia lantas angkat gelas itu dan isinya sekali teguk saja lenyap lewat tenggorokannya. "Adik In, oh...kau...." Eng Lian menubruk, memeluk Lo In kegirangan, hampir ia menciumi pipi orang. Lo In gelagapan dipeluki Eng Lian dengan tiba-tiba, gelas yang dipegangnya itu hampir jatuh di lantai. "Kau kenapa, enci Lian ?" si bocah menanya. Sambil tangannya masih memegang kedua pundaknya Lo In, si dara cilik menatap parasnya si bodah, mukanya menyungging senyuman. Ia berkata, " Adik In, rejekimu besar senyuman. Kau akan sembuh, sembuh......segera !" "Enci Lian, bagaimana kau tahu aku bakalan sembuh segera ?" tanya Lo In. "Adik In, itu yang kau makan adalah lwetam dari Tok-gan Siancu, ular kesayanganku yang aku ambil setelah mati." menerangkan Eng Lian sambil duduk pula di tempat duduknya tadi. "Hanya lwetam ular, apalah artinya ?" kata Lo In tertawa. Lwetam artinya nyali, jadi Lo In sudah telan nyali ular.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kau tidak tahu khasiatnya." kata Eng Lian lagi. "Menurut kata ayahku, Tok-gan Siancu mempunyai lwetam yang tak ternilai. Cuma saja nyali itu tak dapat dimiliki begitu saja, misalnya dengan sengaja kita bunuh mati Tok-gan Siancu, lantas diambil nyalinya. Ini tidak akan ada khasiatnya. "Jadi, bagaimana semestinya ?" Lo In memotong tidak sabaran. "Adik In, kau dengar dulu aku cerita. Jangan kau potong." kata Eng Lian. Lo In nyengir. Kemudian Eng Lian meneruskan ceritanya, "Tok-gan Siancu harus marah dahulu dan lalu menggigit orang. Dengan begitu bisanya sudah buyar. Bisa itu terpusat pada nyalinya. Tok-gan Siancu sudah marah dan menggigit si jahat Nenek Kembang Merah, maka nyalinya sudah bersih dari racun. Justru ia kena dibunuh Ang Hoa Lobo, aku jadi ingat akan kata-kata ayahku. Maka aku cepat membelah perutnya, ambil nyalinya yang berharga itu sebelum aku kubur bangkainya. Nyali itu aku rendam dalam obat yang dapat mengawetkan. Pikirku akan aku berikan pada ayah apabila ia sudah pulang mencari ibu." "Habis, sekarang kau kasih nyali itu aku makan, ayahmu tidak kebagian, bagaimana kau nanti dapat mempertanggungjawabkan pada ayahmu ?" kata Lo In. Si dara cilik bersenyum. Ia berkata lagi, "Taruh kata ayahku pulang, dia juga belum tentu berani memakannya. Karena nyali yang kau makan itu baru dapat sebagai obat dan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menimbulkan khasiatnya kalau ia dimakan oleh orang yang lwekangnya tinggi sedang terluka parah. Khasiatnya untuk mengembalikan tenaganya yang lenyap dan menambahkannya berlipat ganda. Ini, entah benar atau tidak, aku sendiri belum pernah mengalami. Tapi lihatlah nanti reaksinya bagaimana setalah kau makan nyalinya Tok-gan Siancu." Lo In anggukkan kepala. Sementara itu ia rasakan badannya tiba-tiba panas. Ia minta si dara cilik untuk memimpinnya masuk. Ia ingin rebah diatas pembaringan. Eng Lian cepat memenuhi permintaannya. Belum lama Lo In rebah, tiba-tiba Eng Lian dibikin kaget oleh suara merintih Lo In. "Kau kenapa, adik In ?" Eng Lian menanya. "Panas, oh, panas aku rasakan sekujur badanku.........." Lo In berteriak. Eng Lian tidak tahu apa yang harus diperbuatnya ketika melihat Lo In sangat gelisah diatas bale-balenya, tak tahan merasakan menyerangnya hawa panas. Ia mau menghampiri, menjadi takut. Karena Lo In seperti yang sedang mengamuk. Ia takut kena jotosan kepalannya Lo In. Betul-betul bingung Eng Lian. Cuma mulutnya saja yang ramai menanyakan Lo In kenapa bisa jadi begitu. Tapi, ia tak dapat jawaban dari si bocah. Tiba-tiba ia ingat bahwa Lo In jadi begitu setelah makan nyalinya ular. Apakah itu yang menjadi gara-garanya ? Ia jadi takut sebab Lo In makan lwetam itu atas

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ anjurannya. Ia bukannya meracuni, memang dengan sungguhsungguh ia hendak menolong Lo In tapi kenyataannya sekarang jadi begini. Bagaimana ? Lima menit kira-kira Lo In bergelisahan. Tiba-tiba tubuhnya diam, tenang dan ia bisa tidur nyenyak. Entah kenapa bisa jadi begitu. Eng Lian segera mendekat Lo In lalu mencekal tangannya. Ia periksa sekujur badannya si bocah mandi keringat. Cepat ia ambil kain-kain tebal untuk menyekanya. Tak dapat Lo In dibanguni meskipun digoyang-goyang keras tubuhnya. Ia tidur sampai keesokan harinya baru mendusin membuat Eng Lian menangis ketakutan kalau-kalau si bocah mati. Sekarang melihat Lo In membuka matanya, Eng Lian ketawa, berhenti menangisnya. Sambil susut airmatanya, ia menanya, "Adik In, apa kau sudah baik ?" "Eh, kenapa kau tanya begitu ? Dan kenapa kau menangis, enci Lian ?" balik menanya Lo In yang menjadi keheranan nampak si dara cilik menangis. "Adik In, kau tidak tahu, aku ketakutan kau mati !" sahut si gadis cilik. Lalu Eng Lian tuturkan bagaimana Lo In dalam kegelisahannya mengamuk diatas bale-bale karena kepanasan, bagaimana si bocah terus tidur nyenyak sampai sekarang baru mendusin. Hal mana membikin Lo In kaget, lantas ia mencelat bangun. Begitu enteng ia mencelat, ketika ia tancapkan kakinya di lantai tidak perdengarkan suara apaapa seperti juga jatuhnya selembar daun.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Eng Lian terbelalak matanya, heran melihat Lo In dengan mendadak saja bisa gerak, badannya lompat mencelat dari tempat tidurnya yang sebenarnya untuk bangun saja ia harus mendapat pertolongan si dara cilik. Belum sempat ia menanya, tiba-tiba ia rasakan pinggangnya dicekal Lo In dan tubuhnya diapungkan, hampir saja kepalanya menyundul atap rumah kalau tidak cepat-cepat Lo In menyusul lompat dan tarik pulang si dara cilik dan dilain saat, Eng Lian jatuh dalam pelukan Lo In. "Enci Lian, kau adalah penolongku......." bisik Lo In seraya mencium pipinya si dara cilik hingga Eng Lian merasa panas mukanya. Tapi ia tidak mau berontak sebab dalam pelukan Lo In, ia merasa lebih aman. Tapi kemudian ia berontak juga sambil mencubit pipi si bocah, ia berkata : "Anak nakal. Kenapa kau bikin encimu kaget setengah mati barusan ?" "Ah, enci Lian, maafkan aku." sahut Lo In seraya melepaskan pelukannya. "Saking kegirangan aku, sampai lupa yang diapungkan itu ada enciku yang baik hati. Hahaha......" Mulutnya si nona menjebir, lucu tapi ia tidak mengatakan penyesalan apa-apa sebag memang juga hatinya turut girang dengan kembalinya lagi tenaga Lo In berkat pertolongan dari nyali ular kesayangannya, Tok-gan Siancu. Memang luar biasa khasiatnya nyali ular itu. Sebab Lo In merasakan bukan saja tenaga lamanya pulih kembali tapi juga

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ seperti bertambah, badannya dirasakan jauh lebih enteng dari pada sebelumnya. Selama Lo In dalam kegirangan, Eng Lian sering menatap wajahnya Lo In lama, hingga Lo In curiga. Ia menanya, "Ada apa yang heran diwajahku, enci Lian ?" "Itu, eh, itu.... tanda yang tidak bisa hilang." sahutnya. "Tanda apa, enci Lian ?" Lo In kata heran sebab sejak dahulu ia tidak punya tanda apa-apa diwajahnya yang cakap. "Itu tanda hitam diwajamu, adik In." sahut Eng Lian. "Kukira tadinya dengan makan nyali ular kesayanganku itu, sekaligus akan mengunjuk khasiatnya, menghilangkan tanda hitam pada wajahmu. Tapi kenyataannya....... masih saja ada." Sebelum Lo In membuka mulut menanya, Eng Liang sudah menuturkan bagaimana si Nenek Kembang Merah sudah membikin wajah Lo In menjadi hitam legam. Lo In terkejut, ia usap-usap keras pipinya yang hitam lalu pandang jari-jari tangannya yang dipakai mengusap-usap tadi. Ia tak dapat lihat ada tanda-tanda hitam. Jadi tanda hitam itu tak dapat dihapus. Ia pinjam kaca dari Eng Lian dan mengacai wajahnya. Benar saja mukanya hitam legam. Bukan main marahnya si bocah. "Kurang ajar itu nenek dekat mampus. Akan kau rasakan pembalasanku nanti........." "Ah, kau jangan marah, adik In." memotong Eng Lian. "Kita belum tahu betul dia jahat, membunuh orang misalnya, maka

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tak perlu kita balas membalas. Asal kita ketemu dia, dengan rela dia memberi obat pemusnahnya, kita bikin habis saja urusan. Dengan begitu tidak saling balsa membalas lagi. -- 9 -Lo In adatnya halus. Ia suak mengampuni siapa juga. Kalau barusan ia mengucapkan kata-kata mau membalas, itu didorong oleh hawa amarahnya yang muncul seketika. Maka waktu Eng Lian menasehatkan dengan kata-kata yang lemah lembut dan masuk dalam sanubarinya, ia angguk-anggukan kepalanya dan menyatakan penyesalannya. Dua anak itu suka membanyol, jenaka tapi pribadinya luhur. Cocok mereka itu menjadi teman yang akrab, di lembah yang jauh dari pergaulan manusia. Sampai disini kita tinggalkan Lo In dan Eng Lian. Mari kita lihat perjalanan Kim-wan Thauto. Setelah ia meninggalkan Kim Popo begitu saja dibawah terik panasnya matahari, selagi ia jalan tiba-tiba ia mendengar ada derap kaki kuda mendatangi dari belakangnya. Ketika ia menoleh, kiranya ada tiga penunggang kuda yang mendatangi ke arahnya. Entah siapa gerangan mereka itu. Mereka melarikan kudanya cukup kencang ketikan melewati ia. Ia dapat melihat wajahnya mereka itu. Yang satu, yang paling tua diantara mereka, usianya dikira 45 tahun, yang kedua 40 tahun dan yang muda ditaksir kurang lebih 20 tahun. yang pertama mukanya terang, tak berkumis, yang kedua mukanya hitam, piara kumis berewokan, yang muda parasnya cakap.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Si berewokan pada waktu lewati Kim-wan Thauto bepaling pada si thauto, matanya melotot mengawasi. Si thauto tidak senang dipelototi tanpa sebab, tapi sebelum ia menegur, orang yang berusia paling tua tadi kedengaran berkata pada si berewokan, "Samte, kau jangan cari urusan sebelum kita ketemu toako......" Kim wan Thauto lantas tidak dengar lagi apa yang mereka bicarakan kemudian karena kudanya dipecut lari makin kencang. Dengan menggunakan ilmu entengi tubuhnya, Kim Wan Thauto menyusul mereka. Sayang tak dapat menyusul karena mereka sudah jauh jaraknya, apalagi ketika sampai di satu tikungan, Kim Wan Thauto kehilangan jejak mereka. Kim Wan Thauto teruskan perjalanannya sambil menebaknebak dalam hatinya, siapakah mereka itu dan apa sebabnya tiba-tiba si berewokan pelototinya. Sebentar kemudian ia sampai di desa Kunhiang, satu desa yang besar juga dan ramah penduduknya. Diantaranya banyak orang-orang hartawan yang tinggal menetap disitu, pada membuka perusahaan. Kim Wan Thauto masuk ke sebuah rumah makan 'An Goan', dimana kedapatan banyak tamu dari dalam dan luar desa Kunhiang. Ia terus masuk mengambil tempat disuatu pojokan lalu pesan makanan pada pelayan yang menghampirinya. Sementara ia menunggu makanan disiapkan, ia memandang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ ke sekitarnya. Ia lihat ada satu tamu yang menghadapi meja besar sendiri saja, sedang meja besar demikian biasanya untuk para tamu dalam rombongan besar. Ia heran melihat tamu itu yang barusan ia lewati ketika memasuki rumah makan. Tamu itu mukanya persegi, jenggotnya macam jenggot kambing. Alisnya yang kanan hilang, rupanya bekas golok mampir pada bagian dekat alisnya itu, juga matanya meram. Tegasnya mata kanannya picak. Entah ia sedang menunggu siapa sebab sikapnya seperti ada yang ditunggu, tiap sebentar matanya mengawasi ke jurusan pintu masuk. Sebentar kemudian, sewaktu Kim Wan Thauto mulai dengan hidangannya, ia mendengar suara ramai orang bercakap di sebelah luar, pintu pun lantas terbuka, masuklah orang-orang yang ramai bercakap-cakap tadi. Mereka disambut oleh orang yang duduk sendirian tadi dengan kata-kata, "Wah, kenapa kalian datang lama benar ?" "Maaf toako, barusan kita diajak Kongcu untuk menemukan ayah Kongcu dahulu sehingga kita terlibat dalam arena percakapan, itulah yang bikin kita terlambat." kata seorang diantaranya yang berusaha masuk. Kim Wan Thauto terkejut sebab mereka itu tiada lain adalah tiga orang penunggang kuda yang ditemukannya di jalanan tadi. Anak muda yang bersama-sama menunggang kuda ternyata adalah anaknya Tan Wangwee, seorang hartawan yang cukup terkenal. Mereka bertiga memanggilnya Kongcu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tan Kongcu supaya dikenal baik oleh pemilik rumah makan termasuk pelayannya karena ia dengan kawan-kawannya mendapat pelayangan yang istimewa kelihatannya. Dari percakapan mereka, Kim Wan Thauto dapat mencuri dengar. Hatinya jadi terkejut juga sebab tiga orang itu tiada lain adalah Sucoan Sam-sat atau tiga algojo dari Sucoan yang terkenal kekejamannya di wilayah Sucoan. Tiga algojo itu mempunyai julukan masing-masing yang menyeramkan. Si toako bernama Puy Teng alias Giam-ong (Raja akherat), si jiko yaitu si muka terang namanya Teng Cong, julukannya Mo-jiauw atau si Cakar Setan, yang bontot si berewok yang melototi Kim Wan Thauto menamakan dirinya Sin-mo Lie Kui, si Iblis Sakti. Gelarannya si hebat-hebat, entahlah kepandaiannya tapi yang terang mereka terkenal dengan perbuatan yang suka sewenang-wenang dan buas. Tiga alogojo dari sucoan itu tidak bisa omong perlahan, mereka bercakap-cakap dengan berisik sehingga banyak orang yang ada di situ pada dapat curi pendapatan mereka, diantaranya tentu Kim Wan Thauto yang menaruh perhatian istimewa atas kedatangannya Sucoan Sam-sat ke desa itu. Kiranya mereka itu datang atas undangan Tan Wangwee, mereka spesial diundang oleh Tan Kongcu untuk membikin perhitungan dengan Liu Wangwee yang menuduh Tan Wangwee ada simpanan orang jahat dalam rumahnya. Kim Wan Thauto paling suka mencampuri urusan yang tidak adil, maka dalam hal Tan Wangwee dan Liu Wangwee, ia ingin

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tahu duduk perkaranya. Ia lebih percaya pada Liu Wangwee yang benar kalau melihat orang-orang undangan Tan Wangwee terdiri dari bajingan buas. Maka itu, ia harus cari tahu keadaannya Liu Wangwee, tapi dimana ? Ia masih asing dalam deast itu yang baru pertama kali ia datangi. Ia tidak kurang akal, sebab begitu kawanan jahat itu sudah bubaran dengan tidak memperhatikan dirinya yang duduk di pojokan, ia lantas panggil pelayan yang melayani ia untuk menanyakan keterangan dimana letak rumahnya Liu Wangwee. Cuaca sementara itu sudah mulai sore. Ia sewa kamar dalam rumah makan itu yang merupakan juga rumah penginapan. Ketika hari mulai gelap, ia bikin kunjungan ke rumahnya Liu Wangwee. Kiranya rumahnya si hartawa Liu itu sekitarnya dikurung rapat dengan pagar tembok. Tingginya kira-kira satu setengah tombak. Kim Wan Thauto tidak mau mengunjunginya dengan terang-terangan sebab kuatir tuan rumah nanti salah sangka atas kedatangannya yang tiba-tiba itu. Maka pikirnya lebih baik sebentar tengah malam saja ia kembali lagi bikin penyelidikan. Oleh karena itu ia lalu pulang ke hotelnya kembali. Setelah mengisi perutnya lebih dahulu, Kim Wan Thauto lalu masuk ke kamarnya. Sambil menunggu waktu, ia rebahan. Ketika ia merobah miring, tiba-tiba ia rasakan ada yang mengganjal. Lantas ingat

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ akan kotak yang ia rampas dari Kim Popo dalam kantongnya. Ia lalu merogoh keluarkan, ia main-mainkan ditangannya dan mencoba membukanya tapi kotak itu tak dapat dibuka. Ia girang tapi entah apa isinya buku mungil itu, tidak diketahuinya. Ia menyesal tak ditanyakan itu pada si nenek bandel. Ia kelihatannya tidak begitu menghargakan kotak itu, maka ditaruhnya di bawah bantal setelah beberapa lama dimainmainkannya. Ia kemudian bangun lagi dari rebahannya, ambil buku dari kantongnya lalu duduk membacanya sampai kemudian ia mendengar kentongan dua kali dipukul menandakan jam dua tengah malam. Pikirnya sudah waktunya ia lakukan penyelidikan. Seketika itu ia keluar dari kamar dengan mengambil jalan dari jendela supaya tidak mengganggu tamutamu yang nginap disitu dan bikin curiga pemilik hotel. Sebentar saja ia sudah sampai di dekat rumahnya Liu Wangwee. Tidak susah, dengan menggunakan ilmu entengi tubuh, ia sudah lompat melewati tembok pekarangan dari rumah hartawan Liu. Rumah itu ternyata berloteng. Pada tingkat satu, ia lihat masih terang. Apakah masih ada orang yang belum tidur ? Tanyanya pada diri sendiri. Ini kebetulan sekali, pikirnya. Lalu dengan menggunakan kepandaian memanjat, sebentar saja ia sudah sampai di loteng tingkat satu. Ia mengintai dari jendela. Ia lihat di dalamnya ada seorang lelaki yang kira-kira berusia lima puluhan tengah membaca buku, sedang disampingnya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ terdapat seorang gadis yang kira-kira berusia 18 tahun sedang duduk. Kim Wan Thauto lantas menduga akan Liu Wangwee, ketika ia mendengar si gadis berkata-kata, "Sudah malam ayah. Untuk apa urusan demikian dipikirkan." "Tapi anak Hiang." kata sang ayah. "Kau jangan meremehkan paman Tan." "Dia toh takut pada ayah, kenapa mesti dipikirkan ?" kata si gadis lagi. Lu Wangwee tarik napas sambil letakkan bukunya diatas meja, ia berkata lagi, "Anak Hiang, ayah sudah nasehatkan, kau jangan suka mengatakan apa-apa tentang paman Tan tapi kau seenaknya saja omong hingga jadi urusan sekarang. Bagaimana sebenarnya yang menjadi pokok lantaran, coba kau terangkan. Jangan pakai diumpat-umpatkan.: "Itulah pada suatu hari," sahut si gadi. "Ketika enci Ciok datang padaku membujuk aku supaya aku terima lamaran saudara misannya, si Kongcu ceriwis itu, dia ada menyebut bahwa kekayaan paman Tan jauh lebih kaya dari pada kita. Hatiku jadi panas dan meyemprot dia dengan kata, 'Tentu saja paman Tan lebih kaya lantaran pelihara maling dalam rumahnya !' Kata-kata ini rupanya disampaikan pada paman Tan sehingga ia menjadi marah, menegur ayah supaya minta maaf di depan umum. Aku yang salah, aku yang tanggung jawab, kenapa ayah dibawa-bawa ?" Si gadis ketika mengucapkan kata-kata yang paling belakang, kelihatan marah, menggertakkan giginya, gemas rupanya dia.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Terang si Ciok mesti adukan kata-katamu yang menyinggung itu." kata Liu Wangwee. "Karena buat dirinya juga tidak enak, kau mengatakan pamannya pelihara maling. Paman Tan sendiri, tidak berani padaku, tapi dia ada punya orang. Dia kasih tempo buat ayah menghaturkan maaf dalam tempo tiga hari. Kalau dalam tempo tersebut ayahmu tak memenuhi permintaannya, dia akan minta kawan-kawannya datang untuk menghajar ayah. Besok sudah hari ketiga, entah bagaimana nanti kejadiannya. Kabarnya paman Tan sudah mengundang kawan-kawannya dan sudah datang tadi siang." "Siapa yang dia datangkan ?" tanya si anak. "Kau mana tahu kekejaman paman Tan. Dia sudah datangkan bala bantuannya, tidak tanggung-tanggung ialah Sucoan Samsat yang tersohor sangat buas !" "Tiga algojo dari Sucoan......." menggumam si gadis. "Kalau ayah takut, biar saja nanti aku yang layani. Baru tiga algojo, meskipun dia datangkan selusin algojo juga aku tidak takut !" "Kau punya kepandaian apa ?" tanya si ayah, melengak heran. "Ayah nanti lihat saja." sahut sang anak. "Sekarang ayah masuk tidur saja, urusan diserahkan pada aku saja yang nanti menghadapinya." Liu Wangwee bingung. Bagaimana anaknya begini gagah ? Siapa yang dia bakal andalkan ? Dia sendiri yang menghadapinya, itu tak mungkin sebab ia tahu benar Bwee Hiang, anak gadisnya tidak punya kemampuan itu. Ilmu silatnya hanya ia yang ajari, bagaimana dia begitu besar hati

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ untuk menghadapi musuh berat ? Tapi untuk membuat anak gadisnya senang, ia pun menurut disuruh masuh tidur, diantar oleh Bwee Hiang. Kim Wan Thauto diam-diam memuji kegagahan si gadis. Ia pun angkat jempolnya. Tapi ketika ia mau angkat kaki dari situ, ia urungkan karena mendengar suara menangis sesenggukkan. Itulah Bwee Hiang, yang sudah balik lagi dari mengantarkan ayahnya masuk tidur. Ia duduk diatas kursi yang barusan diduduki ayahnya, menangsi sesenggukkan tanpa ada orang yang menghiburnya. "Aku yang sudah menerbitkan bencana, mengapa ayahku yang harus bertanggung jawab ? Oh, nasib........ibu...... ibu, kenapa kau sudah meninggalkan aku lebih dahulu ?" terdengar si gadis berkata-kata sendirian, ia sesambat pada ibunya yang sudah lama berada di alam baka. Kim Wan Thauto yang berhati baja, melihat adegan itu tak dapat mempertahankan kesedihannya. Ia diam-diam merasa terharu akan nasibnya Bwee Hiang. Kapan ia ingat lagi, ia jadi heran kenapa si gadis menangis begitu sedang tadi ia lihat tegas si gadis begitu gagah mengucapkan kata-katanya untuk tanggung sendiri semua urusan yang mengancam keluarga Liu. Apa benar si gadis mempunyai kepandaian tinggi untuk menghadapi Tiga Algojo dari Sucoan ? Sehingga Kim Wan Thauto masih ragu-ragu. Tapi bisa saja terjadi keanehan-keanehan, maka Kim Wan Thauto pikir biarlah ia nanti menonton saja apa yang akan dilakukan oleh si

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ gadis. Malah diam-diam ia berjanji akan membantu si gadis manakala dipandang perlu. Setelah berpikir demikian, maka ia lantas berlalu dari tempat mengintainya tanpa diketahui oleh si gadis yang masih menangis sesenggukkan. Pada hari esoknya, ada hari penghabisan dari ultimatum yang dikirimkan pada Liu Wangwee tapi oleh Tan Wangwee ditunggu-tunggu tidak ada kabar apa-apa dari pihak hartawan Liu sehingga Tan Wangwee menjadi amat mendongkol. Oleh karenanya ia lalu himpunkan kawan-kawannya yang diundang. Dalam desa kunhiang itu, diantara hartawan-hartawan yang paling menonjol adalah hartawan Liu. Ia mempunyai banyak pabrik tahu, tenun dan lain-lainnya dimana ia pakai banyak buruh sebagai pekerjanya. Dengan adanya mata pencaharian yang dibuka oleh hartawan Liu, maka tidak heran kalau desa kunhiang menjadi amat ramai. Buruh dari mana-mana pada datang minta pekerjaan pada perusahaannya Liu Wangwee. Kawan-kawannya hartawan Liu yang juga dikenal sebagai hartawan sangat menghormat Liu Wangwee karena ia ini meskipun kaya juga tidak sombong dan banyak menolong orang yang dapat kesusahan. Di antara kawan-kawan Liu Wangwee termasuk juga Tan Wangwee. Hartawan Tan memang terkenal kaya tapi tidak membuka perusahaan apa-apa. Orang tidak tahunya mendapat kekayaan dari mana tapi yang terang kekayaannya makin bertambah saja sejak anak-anaknya pulang dari tempat lain. Katanya baru tamat dari belajar silat dan pulang ke rumah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ untuk bantu usaha orang tua. Belum lama Tan Kongcu pulang dari perguruan, dalam desa kunhiang yang tadinya aman-aman saja, lantas jadi banyak maling. Hartawan-hartawan yag menetap dalam desat itu banyak dipreteli kekayaannya oleh maling-maling itu. Itu bukan maling biasa sebab semua itu dikerjakan oleh satu orang dan untuk kejadian itu orang desa kunhiang menaakan ia 'Huicat' atau 'Maling biasa terbang' karena tak dapat diselidiki jejaknya baik oleh korban-korbannya sendiri maupun oleh pihak yang berwajib. Yang herannya justru maling terbang itu mengincar hartawan-hartawan yang 'kaya' saja sebab yang tanggungtanggung tak pernah mendapat gangguan. Jadi keadaan tidak aman hanya dialami oleh mereka yang betul-betul hartawan. Liu Wangwee meskipun ia sendiri belum pernah mendapat gangguan, dengan sendirinya sebagai ketua kaum hartawan ia malu hati buat peluk tangan saja. Maka ia kumpulkan kawankawannya untuk berunding mencari jalan sampai mereka dapat mengamankan lagi desanya dari gangguan maling. Belum ada keputusan tentang daya apa dapat diambil untuk menangkap maling terbang itu, dua hari sejak diadakan rapat oleh Liu Wangwee, rumahnya sendiri telah didatangi si maling terbang itu. Ia sendiri tidak menghadapinya tapi gadisnya, Bwee Hiang, pada malam itu sudah bertempur seru dengan si maling terbang yang pakai topeng mukanya. Sudah menjadi kebiasaan Bwee Hiang, ia baharus masuk tidur kalau ayahnya terlebih dahulu ia antarkan masuk tidur. Maka ia tidur lebih larut (malam) dari ayahnya. Waktu barusan saja

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ ia bangkit dari duduknya hendak meninggalkan ruangan baca, kupingnya yang tajam seperti mendengar ada orang yang membuka jendela perlahan. Ia pura-pura tidak memperdulikan itu, terus saja ia jalan. Tapi ia tidak menuju ke kamarnya, tapi ia membelok ke satu gang yang dapat menembus keluar. Ia lantas dapat memergoki seorang yang sedang mengintip di jendela. Si nona segera menduga yang datang adalah maling terbang. Maka dengan tidak bersuara kakinya menotol lantai, tubuhnya yang langsing mencelat ke arah orang yang sedang mengintip tadi. "Maling terbang, akhirnya kau datang juga. " kata si gadis sekonyong-konyong. Bukan main kagetnya orang itu sebab segear ia berkelit ke kanan dengan gugup mengelak serangan Bwee Hiang yang membarengi kata-katanya tadi. Itulah kejadian di atas loteng tingkat satu. Si maling terbang tidak membalas serangan si gadis, hanya ia lompat ke atas genteng. Enteng sekali tubuhnya, menghampiri loteng tingkat dua. Ia mengira kegesitannya sudah tidak ada taranya, tapi bukan main kagetnya ketika ia barusan saja menginjak genteng terdengar pula suaranya Bwee Hiang, "Kau mau lari ? Hmm ! Tamu datang tidak disambut, itu tidak hormat !" Si maling lantas putar tubuhnya, sekarang ia berhadapan dengan si gadis yang tersenyum mengejek kepadanya. Sungguh ia tidak mengira, kalau Bwee Hiang dapat menandingi kegesitannya, malah kelihatan lebih gesit lagi.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bwee Hiang ketika jalan keluar hendak pergoki si maling, ia sudah sembat pedang yang biasa ia pakai dalam latihan dengan ayahnya. Dengan senjata itu ia tunjuk si maling sambil berkata, "Hui cat, kau tak akan lolos dari aku !" Si maling tidak menjawab, hanya ia lantas menghunus pedangnya. "bagus !" kata Bwee Hiang, "Mari kita main-main !" Kata-katanya ditutup dengan serangan pada dua jurusan. Pertama, ujung pedang si nona seperti menyerang tenggorokan, ketika si maling bertopeng menangkis, ia tarik pedangnya supaya jangan bentrok dengan senjata lawan, lantas diteruskan menusuk pada 'kiok-ti-hiat', jalan darah di bagian pundak kiri untuk sekalian menyontek tulang pundak orang. Gerakan ini dilakukan dengan cepat laksana kilat, salah satu jurus yang hebat dari Bwee Hoa Kim Hoat (Ilmu silat pedang kembang bwee) yang dinamai 'Hoa kay beng goat' atau 'Kembang mekar memandang rembulan'. Tapi si maling bertopeng cukup gesit. Melihat tangkisannya luput sebab pedang lawan cepat ditarik pulang, pundaknya yang di arah si nona ia elakkan dengan turunkan pundaknya sedikit hingga ujung pedang tak dapat sasarannya. "Aha, boleh juga !" kata Bwee Hiang melihat serangannya yang ditujukan pada dua arah luput semua. Berbareng, ia pun lantas menyerang pula dengan jurus-jurus yang mematikan. Pedangnya berkelebatan menyambar-nyambar ke arah jalan darah lawan sehingga merupakan tekanan yang berat bagi si

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ maling terbang. Apalagi pikirannya tidak mau melayani si nona lama-lama. Maka begitu ia mendapat lowongan, lantas enjot tubuhnya mencelat mundur ke tepi genteng rumah, dari mana dengan ilmu entengi tubuh ia loncat ke genteng rumah tingkat satu akan terus loncat ke bagian bawah, lari menghampiri tembok pekarangan. Tubuhnya enteng sekali diwaktu ia melompati tembok pekarangan rumah Liu Wangwee, dari mana ia teruskan larinya ke arah barat dan melenyapkan diri dalam sebuah rumah besar. Maling itu mengira dirinya tidak dikejar si nona karena beberapa kali ia menoleh ke belakang tidak nampak bayangan yang mengejar apalagi mendengar suaranya si nona. Tapi ia salah hitung. Ia boleh gesit dan dapat menghilang bagaikan setan kalau kepandaiannya itu dihadapkan pada orang biasa atau ilmu silatnya hanya ilmu silat pasaran saja. Tapi kali ini ia menghadapi Bwee Hiang yang kegesitannya cukup tinggi. Tentu saja jejaknya tak luput dari kuntitan si nona. Ketika ia menghilang dalam rumah besar tadi, tiba-tiba Bwee Hiang berdiri tertegun. Sebab rumah itu adalah rumah Tan Wangwee. Ia lantas menduga bahwa Tan Wangwee dalam rumahnya ada pelihara maling, makanya kekayaannya dengan tentu meningkat tanpa orang mengetahui dari mana sumbernya. Si gadis pulang lagi ke rumah. Pikirannya makin yakin bahwa Tan Wangwee telah pelihara maling. Maka ketika keesokan harinya ia ketemu ayahnya, lantas ia menceritakan pengalamannya semalam. Sang ayah terkejut juga mendengar cerita anaknya, lantas ia berkata, "Anak Hiang, kau sudah tahu rahasianya paman Tan, harap kau jaga mulutmu jangan sampai mengeluarkan kata-kata yang bisa menyinggungnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Paman Tan segan dan menghormatku karena dia tahu aku ada seorang yang dipandang tinggi oelh penduduk kunhiang dan dia tahu juga aku berkepandaian tidak rendah dalam ilmu silat. Tapi kalau kita membuat gara-gara menyinggung kehormatannya, dia tentu akan pandang lagi padaku. Dia dapat datangkan kawan-kawannya dari golongan jahat untuk menghadapi aku karena dia sendiri tidak berani untuk berurusan langsugn dengan aku. Ingat, anak Hiang !" Bwee Hiang mengiakan atas nasehat itu. Tapi ia lupa ketika Cok Ciok, teman mainnya yang menjadi keponakan Tan Wangwee membanggakan kekayaannya hartawan Tan di atas kekayaan keluarga Lu. Hatinya panas seketika dan mengatakan tentu saja Tan Wangwee lebih kaya karena dalam rumahnya ada pelihara maling. Kata-kata inilah yang menjadi 'urusan' sehingga Tan Wangwee mengundang Sucoan Sam-sat yang sangat kesohor kebuasannya untuk menghadapi Liu Wangwee. Dalam pertemuan dengan tamu-tamu undangannya, Tan Wangwee menanyakan pikiran mereka bagaimana mereka akan bertindak kalau sampai nanti malam masih belum terima kabar dari Liu Wangwee. Giam-ong Puy Teng dan Sin-mo Lie Kui ada orang-orang kasar, mereka tidak dapat mengeluarkan pikiran yang baik, maka diminta pikirannya Mo-jiauw Teng cong, si Cakar Setan yang banyak akalnya untuk mengusulkan sesuatu untuk kebaikannya Tan Wangwee. "Menurut pikiranku," kata Mo-jiauw Teng Cong, "Kalau nanti malam Liu Wangwee tidak kirim orang mengabarkan apa-apa kepada kita, sebaiknya kita datangi rumahnya untuk minta keputusan. Kalau dia lulusi permintaan Tan-heng yaitu bersedia untuk minta maaf dihadapan umum, kita bikin habis

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ saja urusan ini. Kalau tidak, baik nanti kita lihat gelagat bagaimana, kalau perlu kita gunakan kekerasan untuk menaklukinya." "Ah, kau terlalu bertele-tele." kata Puy Teng Toako dari Sucoan Sam-sat. "Kau benar Toako, jiko terlalu berliku-liku. Kita ambil jalan pendek saja, kalau nanti dia tidak mau meluluskan permintaan Tan-heng, kita habisi saja jiwanya !" Sin-mo Lie Kui menyatakan pikirannya. "Kita harus pakai jalan lunak dahulu, kalau bisa kita jangan sampai bertempur dengan dia." Mo-jiauw perkuatkan usulnya. "Memangnya Jie-te takut ?" tanya Puy Teng, si toako. "Hahaha......!" Sin-mo Lie Kui tertawa. "Biasanya Jiko paling berani, mengapa disini menghadapi Liu Wangwee saja jadi ketakutan ?" Tan Wangwee sementara itu tinggal membungkam. Begitu juga dengan Tan Kongcu, anaknya yang disuruh mengundang Sucoan Sam-sat. Mo-jiauw Teng Cong jadi serba salah. Si Cakar Setan memang ada sedikit jeri, seelah ia cari keterangan bahwa Liu Wangwee selainnya ia sendiri ilmu silatnya tidak renah, juga ada anak daranya yang membantu. Kabarnya hartawan Liu itu juga banyak mempunyai sahabat dalam Bu-lim.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Menurut pikirannya, lebih baik digunakan jalan damai saja. Keterangan yang ia dapat itu tidak ia beritahukan kepada dua kawannya karena kuatir ia dikatakan pengecut. Tapi akhirnya si Setan Sakti Lie Kui telah mengatakan juga hingga membuat ia jadi serba salah. Belum ia dapat menyatakan pikirannya lagi, tiba-tiba Tan Wangwee berkata, "Memang, untuk menaikkan pamornya Sucoan Sam-sat, lebih baik ambil jalan pendek saja." "Kau maksudkan apa jalan pendek itu ?" tanya Mo-jiauw Teng Cong. "Kalau Liu Wangwee tidak mau menurut perintahku, lebih baik jiwanya dihabiskan saja." jawab Tan Wangwee. Mo-jiauw Teng Cong kalah suara, maka selanjutnya ia membungkam. Demikianlah, ketika sang malam tiba belum juga diterima kabar apa-apa dari pihak hartawan Liu, maka tiga algojo dari Sucoan itu, diiringi oleh Tan Kongcu telah menyatroni rumahnya Liu Wangwee. Tan Wangwee sendirian tidak turut karena ia malu hati kalau sampai dirumahnya Liu Wangwee ia mesti tarik urat dengan tuan rumah. Di pekarangan rumah, kedatangan mereka disambut oleh Liu Wangwee sendiri. Tuan rumah kelihatan ramah tamah, sedang pihak tamu sangat sombong sikapnya. Tidak termasuk Mo-jiauw yang pandai menggunakan otaknya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ia melihat Liu Wangwee bertubuh sedang tingginya, agak gemuk, memelihara jenggot yang bagus ! Romannya berwibawa, keras wataknya meskipun kelihatannya ia sangat ramah tamah. Tamu-tamu diundang masuk ke ruangan tengah, dimana sudah disiapkan barang hidangan seperlunya. Rupanya hartawan Liu sudah menduga akan kedatangannya mereka, maka ia sudah suruh pelayan-pelayannya mengadakan meja perjamuan sederhana. Tan Kongcu dan Lie Kui yang lagaknya paling tengik. Terutama Tan Kongcu yang seolah-olah membanggakan para pahlawannya, amat menyebalkan tingkahnya. "Aku tidak melihat ayahmu turut datang, dimana dia, anak Sin ?" tanya Liu Wangwee pada Tan Kongcu ketika mereka sudah sama-sama ambil tempat duduk. Tan Kongcu pelototkan matanya sebelum ia menjawab pertanyaannya Liu Wangwee. Di waktu dalam keadaan biasa, dua keluarga (Liu dan Tan) ada baik satu dengan lain, malah Liu Wangwee tidak melarang Tan Kongcu sesudah masing-masing meningkat dewasa untuk datang ngomong-ngomong dengan Bwee Hiang, puterinya, karena Tan Kongcu teman sepermainan si nona di waktu mereka masih kecil. Jadi persahabatan keluarga Tan dan Liu itu sudah sejak lama. Apa mau sekarang terbit bentrokan yang sesungguhnya amat disayagnkan. Sebenarnya Tan Wangwee sendiri segan bentrokan dengan Liu Wangwee karena urusan tersebut

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ hanya persoalan kecil saja. Tetapi lantaran adanya hasutannya Tan Kongcu, anak muda itu sangat gemas pada Bwee Hiang yang menolak menjadi isterinya malah menghinanya bahwa dalam rumahnya ada pelihara maling. Panggilan Liu Wangwee pada Tan Kongcu biasa saj, memanggil namanya sebagai juga orang tua itu memanggil anaknya sendiri. Setelah pelototi Liu Wangwee, Tan Kongcu menjawab, "Ayah tidak perlu ketemu paman. Dia bilang kalau paman mau kasih kabar, katakan saja padaku." Jawaban yang amat kurang ajar, malah matanya pakai melotot segala. Tapi Liu Wangwee tidak jadi marah. Ia tetap sabar. "Anak Sin," kata Liu Wangwee. "Jawabanku singkat saja. Aku dapat mohon maaf pada ayahmu, tapi tidak dihadapan umum." "Hmm ! Justru ini kita tidak mau terima !" kata Liung Sin mendengus. "Habis, kau mau apa ?" tanya Liu Wangwee, jadi habis sabar rupanya melihat sikap yang tengik dari si anak muda ceriwis menurut Bwee Hiang. Melihat keadaan sudah mulai panas, Mo-jiauw Teng Cong menyela, "Liu Wangwee, kedatangan kami kesini adalah hendak mendamaikan urusan bukan hendak mencari ribut dengan keluarga saudara Liu. Aku pikir, sebaiknya saudara Liu mengalah saja dan suka memohon maaf di depan umum. Dengan begitu urusan menjadi beres." "Saudara ini siapa ?" tanya hartawan Liu yang pura-pura tidak

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tahu. "Mereka adalah Giam-ong Puy Teng." jawab Teng Cong seraya menunjuk pada saudara tuanya. "Aku sendiri bernama Teng Cong, sedang dia adalah Sin-mo Lie Kui. Kami bertiga, entah bagaimana anggapan orang dalam dunia Kangouw, telah mendapat julukan Su-coan Sam-sat. Julukan ini dilebihlebihi." Liu Wangwee angguk-anggukkan kepalanya sambil mengurut kumisnya yang panjang. "Jiko, untuk apa banyak omong. Lekas, bikin beres saja !" kata Sin-mo Lie Kui sambil matanya melotot pada Liu Wangwee. Hartawan Liu berlagak pilon atas sikapnya si berewok jahat. "Aku sudah katakan," kata Liu Wangwee. "Apakah saudara Teng tidak dengar jawabanku pada anak Sin barusan ?" "Brak !" tiba-tiba terdengar suara piring mangkok di atas meja beterbangan. Sayur pada tumpah berlelehan gara-gara Giamong Puy Teng yang menggebrak meja dengan telapak tangannya yang besar. "Kepala batu !" bentaknya pada tuan rumah. "Aku mau lihat kepandaian apa yang kau mau perlihatkan dihadapan Sucoan Sam-sat !" Teng Cong tidak setuju dengan kelakuan Sang Toako yang berangasan itu tapi perbuatannya sudah terjadi, maka ia tinggal menanti reaksi dari tuan rumah saja. Meskipun Liu Wangwee tidak senang akan kelakuannya si mata satu, ia masih bisa menahan sabar. Katanya, "Aku si tua

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tidak berguna lagi tapi untuk melayani kau seorang kasar, rasanya masih belum tentu !" "Kau berani sama Sucoan Sam-sat ?" bentak Puy Teng, marah dia. "Sucoan Sam-sat lain, tapi dengan kau, aku tidak tinggal lari !" sahut tuan rumah. Puy Teng bangkit dari duduknya. Ia tertawa gelak-gelak sambil katanya, "Mari, mari diluar kita coba." berbareng tubuhnya, enteng sekali, melesat ke arah pintu. Liu Wangwee tidak takut. Ia pun bangkit dari duduknya, lantas jalan keluar. Di pekarangan ia lihat Puy Teng sudah berdiri menanti. Tidak sampai tarik urat lagi, mereka telah berhadapan, lantas bergebrak. Teng Cong dan Lie Kui tidak berani datang mengeroyok Liu Wangwee karena mereka tahu akan adatnya sang toako. Kalau ia belum kalah belum mau dibantui saudarasaudaranya. Maka juga mereka tinggal menonton saja. Dua macan berkelahi, tentu saja sangat ramai. Liu Wangwee mainkan 'Bwee Hoa Ciang Hoat' atau 'Ilmu pukulan kembang bwee', sedang dipihaknya Giam-ong Puy Teng menggunakan 'Eng-jiauw-kang' atau 'Tenaga Kuku Garuda' untuk melayani lawan. Liu Wangwee mendesak lawannya dengan pukulan-pukulan halus tapi mantap, tapi dilayani dengan sambaran tangan yang keras berat oleh

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Giam-ong Puy Teng yang menggunakan ilmu pukulan Eng jiauw kang. Tidak kecewa Giam-ong Puy Teng sebagai toako dari Sucoan Sam-sat karena ilmu pukulannya itu saban-saban membuat lawannya tergetar. Dari berimbang, pelan-pelan tampak Liu Wangwee keteter. Liu Wangwee merasa cemas dengan kepandaiannya karena ia yakin bahwa ia bukan tandingannya Giam-ong Puy Teng. Dalam keadaan yang cemas itu, hatinya menjadi makin cemas ketika ia mendengar beradunya senjata dan melihat puterinya Bwee Hiang sudah bergebrak dengan Tan Kongcu. Ia menguatirkan keselamatan puterinya yang tersayang itu, maka perlawanan yang diberikan pada musuhnya tidak sebagaimana mestinya. Dalam keadaan bingung, tiba-tiba berkelebat tangannya Giam-ong Puy Teng hendak mencengkeram dadanya, ia geser kaki kirinya berkelit dari cengkerama ke arah dada, tapi ia lupa datangnya tangan kiri musuh yang menjambret pinggangnya. Tanpa ampun lagi ia terkulai roboh setelah menjerit perlahan. Giam-ong Puy teng telah menggunakan tipu pukulan 'Say pek sie' atau 'Terkaman singa' untuk mreobohkan lawannya. Jeritan Liu Wangwee diwaktu terkulai roboh disusul jeritan lain ialah jeritan Tan Kongcu yang tulang pundaknya kena disontek ujung pedang Bwee Hiang. Setelah merobohkan lawannya, Bwee Hiang lantas enjot tubuhnya mencelat ke arah tempat ayahnya bertempur. Tapi sudah terlambat karena ayahnya sudah roboh dan tidak bangun lagi. Alisnya si nona berdiri, saking gusarnya ia membentak Giam-ong Puy Teng, "Manusia jahat, kau apakan ayahku ? Aku akan adu jiwa denganmu !"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kata-katanya ditutup dengan serangan pedangnya yang tajam. Tapi Giam-ong Puy Teng bukannya Tan Kongcu sebab dengan satu elakan saja pedang si nona menemui sasaran kosong. Ketika ia tarik pulang pedangnya hendak menyerang lagi, di depannya sudah ganti orang. Itulah si berewok Lie Kui yang bengis. "Nona manis, kau jangan main-main dengan toakoku. Untung dia tidak biasa layani bangsa perempuan. Kalau tidak, hmm ! Jangan harap mukamu yang cantik akan tetap utuh !" Itulah kata-kata Sin-mo Lie Kui yang enak untuk si berewok sendiri tapi tidak enak untuk telinganya si nona. Tidak heran kalau Bwee Hiang menggerang disusul dengan serangan pedangnya ke arah orang punya jalanan makanan (kerongkongan) tapi si setan sakti sambil ketawa haha hehe berkelit, "Nona manis jangan galak-galak !" menggoda si muka berewok. Bwee Hiang makin meluap amarahnya, pedangnya menyambar-nyambar tapi si berewok hanya berkelit sana sini tanpa melakukan serangan membalas. Malah menggodainya makin menjadi membuat si nona tak dapat mengendalikan amarahnya. Ia menempur dengan serangan-serangan nekad, justru inilah kesempatan untuk si berewok berlaku ceriwis, coba ulurkan tangan untuk menyolek pipi yang putih dari Bwee Hiang. Untung Bwee Hiang masih awas, ia dapat menyelamatkan mukanya dari colokan Lie Kui yang kurang ajar. Ketika di lain saat si berewok mau menyolek lagi, ia babat tangan orang tersebut dengan pedangnya hingga si ceriwis amat kaget,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kalau tidak secepat kilat ia tarik pulag tangannya yang bangor. "Jangan kejam-kejam, nona," ia menggodai Bwee Hiang. (Bersambung) Jilid 04 Kepandaian si nona ketinggalan jauh dibandingkan dengan Sin-mo Lie Kui. Maka ia kena digocok sana sini hingga Tan Kongcu yang menonton di pinggiran menjadi tertawa terbahakbahak meliha si nona sudah mandi keringat meskipun ia sendiri waktu itu menderita rasa sakit bukan main pada luka dipundaknya karena barusan kena disontek pedangnya si nona yang tajam. "Nah, rasakan sekarang pembalasanku, digecek mampus kau oleh samko !" Tan Kongcu mengejeki si gadis yang sedang kepayahan. Lama-lama si nona menjadi lelah, kata-kata si Kongcu ceriwis menusuk hatinya, membuat hatinya sangat pedih. Pikirnya, daripada ia bakal terima hinaan orang-orang jahat itu, lebih baik ia ambil keputusan nekad. Bunuh diri ! Tiba-tiba si gadis melompat dari arena pertempuran, seraya berkata, "Tahan !" "Kau mau bicara apa, nona manis ?" tanya Lie Kui, haha hehe tertawa. Si nona tidak meladeni, hanya menubruk ayahnya yang menggeletak di tanah dengan napas empas empis. Ia girang ketika mendapat kenyataan ayahnya tidak putus jiwanya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ayah, legakan hatimu. Semua ini ada gara-garaku, maka aku yang akan bertanggung jawab." Setelah mengucapkan kata-katanya yang gagah itu, si nona tampak bangkit. Ia berdiri, pedangnya masih tercekal di tangannya, matanya mengawasi ke sekitarnya. Tampak olehnya Giam-ong Puy Teng dan kawan-kawannya tengah mengawasinya dengan senyuman masing-masing. "Tuan-tuan." tiba-tiba si nona berkata. "Ayahku tidak berdosa, kalian harus bebaskan ayahku. Akulah yang mengatakan dalam rumah paman Tan ada dipelihara maling. Maka sepantasnya aku yang bertanggung jawab dari itu, sebagai permohonan maaf, lihatlah sekarang aku lakukan..........." Kata-kata ini disusul dengan diangkatnya pedangnya dan akan ditebaskannya lehernya yang putih hingga kawanan jahat yang biasanya tidak berkedip membunuh orang, melihat kelakuan nekad si gadis telah pada menutup matanya, merasa ngeri. "Tring !" tiba-tiba terdengar suara batu kecil membentur pedang, segera juga pedangnya si nona terlepas dari cekalannya. Di susul oleh melayangnya sesosok tubuh dari atas sebuah pohon. Apakah Kim Wan Thauto yang datang menolong Bwee Hiang ? Bukan. Kim Wan Thauto memang mengumpat diatas genteng, menonton pertarungan yang terjadi di sebelah bawah. Ketika

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Liu Wangwee dirubuhkan, ia masih belum mau turun tangan untuk membantu sebab ia ingin melihat bagaimana tindakan Bwee Hiang lebih jauh mengingat kata-kata si nona dihadapan ayahnya. Ia ingin melihat apakah pedangnya si nona akan dapat mengusi tiga orang jahat itu. Tapi ia kecewa hatinya, nampak si nona dipermainkan oleh Lie Kui. Pikirnya, apakah si gadis hanya begitu saja kepandaiannya ? Melihat Bwee Hiang berlaku nekad, ia sudah siap akan menggoyangkan kepalanya, untuk melepaskan senjata anting-antingnya ke arah pedang si nona yang tengah diayunkan ke lehernya. Tapi ia jadi tercengang karena maksudnya sudah disusul orang lain. Dalam tertegunnya, ia mendengar orang yang barusan menolong Bwee Hiang tertawa gelak-gelak. Hatinya terkejut sebab suara tertawa itu seperti ia pernah mendengarnya tapi dimana ? Ia kumpul ingatannya tapi ia lupa dimana ia pernah dengar suara ketawa yang ia pernah kenal. Orang barusan melayang turun dari pohon, tampak menghampiri Bwee Hiang. Ia memungut pedang si nona yang seketika itu berdiri bagaikan patung. Matanya yang jeli mencilak mengawasi pada orang yang menolong dirinya. Orang itu tak tampak mukanya karena kepalanya terbungkus kerudung kain merah. "Kau siapa ?" tanya si nona seraya menerima kembali pedangnya yang diangsurkan oleh orang yang berkerudung merah. "Anak Hiang," kata si kerudung merah, tidak menjawab pertanyaan Bwee Hiang. "Dengan membunuh diri berarti kau

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ membunuh ayahmu. Sekarang lekas tolong ayahmu dan tamutamu ini serahkan aku yang melayani !" Bwee Hiang kaget, mengapa si kerudung merah memanggilnya 'anak Hiang'. Siapakah dia ? Tapi ia sekarang tidak dapat mengajukan pertanyaan karena ia lebih perlu lekas-lekas menolong ayahnya. Cepat ia bertindak menghampiri ayahnya dan lantas memeriksa luka sang ayah yang parah, dua tulang iganya patah. Sementara Sucon Sam-sat yang sedari tadi berdiri tertegun memperhatikan kedatangan si kerudung merah, lantas mengurung si orang asing. Mereka sadar bahwa yang datang niscaya seorang lawan yang alot. "Hmm !" mendengus si kerudung merah. "Liu Wangwee, apakah kurang hormat melayani para tamunya ? Biarlah aku yang menggantikannya........." "Siapa kau ?" bentak Sin-mo Lie Kui yang berangasan wataknya. "Kau panggil saja aku si kerudung merah, wakilnya Liu Wangwee." sahutnya. "Bagus, bagus. Hahaha !" kata Giam-ong Puy Teng seraya ketawa terbahak-bahak. "Hahaha............ hahaha......... !" si kerudung merah juga ikutikutan ketawa. Giam-ong Puy Teng mendelikkan matanya. "Kau tertawakan apa, setan !" bentaknya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Aku tertawakan kau." sahutnya kontan. "Kurang ajar, apa yang harus kau tertawakan ?" tanyanya agak heran. "Itu......... itu..............." sahut si kerudung merah sambil masih tertawa. "Itu, menurutmu aku bagus, kau mana tahu bahwa mukaku bagus sedang aku pakai kerudung." Ini merupakan jawaban yang 'olok-olok' sehingga menimbulkan amarahnya toako dari Sucoan Sam-sat menjadi lebih meluap. Sebelah matanya, yang tinggal satu, mendelik lagi lalu menyerang si kerudung merah dengan jurusnya yang paling diandalkan 'Eng Jiauw chiu' atau 'Cengkeraman cakar garuda', kedua tangannya diulur untuk mencengkeram dada. Gerakannya cepat, kalau kena dicengkeram, pasti melayang jiwa korbannya karena cengkeraman itu berisikan tenaga dalam yang dahsyat. Tapi si kerudung merah acuh tak acuh menghadapi serangan dahsyat itu. Ia menunggu sampai serangan datang, kedua tangannya dirangkap sejenak lalu diajukan ke depan, nyelusup diantara dua tangan lawan, mendadak dipentangkan secepat kilat sehingga dua tangan lawan yang mencengkeram dapat ditolak nyamping. Inilah gerakan 'Siang hong seng thian' atau 'Sepasang burung hong naik ke langit', jurus yang paling tepat untuk memusnahkan 'Eng jiauw chiu' lawan. Melihat serangannya gagal, cepat Giam-ong Puy Teng ganti tipu. Tampak tubuhnya terputar ke belakang lawan. Tangannya yang kanan diulur, mencengkeram bagian pinggang untuk membikin remuk tulang iga. Ini adalah gerakan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ istimewa dari Giam-ong Puy Teng yang dinamai 'Mo Lie jiauw chiu' atau "Cengkeraman Kuntilanak'. Berbareng ia berkata, "Terima nasib, sahabat !" Ia berkata demikian, menyangka seratus persen serangannya kali ini tak akan luput. Tapi diluar dugaannya sang lawan sudah mengelak dengan gesit sambil lompat satu tindak ke depan. Sebelum si kerudung merah berputar tubuh, Giam-ong Puy Teng sudah maju merangsak, ia menggempur batok kepala musuh dengan gaplokan yang dahsyat. Sayang bukannya si kerudung merah berantakan kepalanya, sebaliknya tampak Giam-ong Puy Teng terkulai roboh. Hal mana membuat dua saudaranya yang tengah menonton dengan kegirangan toakonya diatas angin menjadi keheranan. "Sudah cukup !" kata si kerudung merah sambil lompat menjauhi Giam-ong Puy Teng yang tubuhnya terkulai mendeprok di tanah. Kenapa Giam-ong Puy Teng ? Ketika si kerudung merah lompat satu tindak ke depan, berkelit dari serangan Giam-ong Puy Teng yang menggunakan tipu 'Cengkeraman Kuntilanak', ia rasakan dibelakangnya ada sambaran angin. Cepat ia mendek sambil memutar tubuhnya ke kiri. Dalam posisi ini, sehingga ia adanya lowongan pada iga kanan Giam-ong Puy Teng yang sedang angkat tangan kanannya untuk menggaplok kepala, enak saja dua jari tangan kiri si kerudung merah nyelonong ke jalan darah 'thian-coan-hiat'. Kontan si raja akherat menjadi terkulai roboh. Kejadian ini hanya beberapa detik saja. Saking cepatnya, maka tidak heran kalau dua saudaranya Giam-ong Puy Teng menjadi melongo keheranan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dari melongo keheranan, Sin-mo Lie Kui meluap amarahnya. Lantas saja menerjang si kerudung merah sambil berkata, "Setan, akan aku cuci kehormatan Sucoan Sam-sat !" "Dicuci juga bakalan kotor juga !" menggoda si kerudung merah seraya berkelit dari serangan Lie Kui yang menggunakan jurus 'Mo lie khoa keng' atau 'Kuntilanak berkaca'. Sambaran dua tangannya menghembuskan angin menderu. Biasanya dengan menggunakan serangan ini, Lie Kui dalam segebrakan dapat menjatuhkan musuhnya. Tapi kali ini ia salah hitung. Si kerudung merah lwekangnya sangat kuat. Malah si Setan Sakti tidak menjadi sakti karena kaget nampak musuhnya hilang dari depannya. Ia merasa dirinya gesit, dapat mempermainkan orang, tidak dinyana ia kalah jauh dari si kerudung merah. Bertarung baru lima jurus, lantas Mo-jiauw Teng Cong dapat menilai bahwa saudara mudanya tak dapat menandingi musuhnya. Ia heran kenapa si kerudung merah, tadi waktu menempur Giam-ong Puy Teng tidak memperlihatkan kegesitannya seperti sekarang ini menghadapi ia punya Samte. Melihat saudaranya hanya beberapa gebrakan saja sudah terdesak, ia tidak dapat berpeluk tangan untuk menonton. Maka si Cakar Setan seketika itu lantas menyerbu mengeroyok si kerudung merah yang tengah mempermainkan Lie Kui. Dengan turunnya si Cakar Setan, Lie Kui berharap segera diperoleh kemenangan dengan cepat sebab kepandaiannya sang Jiko atau si Cakar Setan ada lebih tingkat dari ia dan toakonya (Giam-ong Puy Teng). Sayang pengharapannya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ meleset sebab bukannya mempercepat kemenangan, tapi mempercepat kekalahan. "Bagus." tiba-tiba si kerudung merah berkata ketika ia elakkan cengkeraman Mo-jiauw Teng Cong yang ganas. Berbareng tampak ia mencelat ke atas untuk menghindari gencetan serangan dari dua arah, Mo-jiauw Teng Cong mencengkeram bagian atas perutnya seperti mau mengorek hati, sedang Sinmo Lie Kui menggempur pinggangnya. Tidak sampai menanti sang musuh menginjakkan kakinya ditanah lagi, Lie Kui siap dengan serangan susulan yang mematikan dengan tipu 'Hui hong tong lay' atau 'Angin taufan datang dari timur'. Tangannya diulur saling susul untuk menjambret kaki kanan lawan yang masih dalam keadaan terapung. Tapi kaki lawan seperti ada matanya, ia mengelak, turun sedikit lantas menotok ke arah jin-tiong-hiat di jidat si berewok. Ia hanya menjerit 'aiyoo !' lantas rubuh mendeprok. Totokan pada ujung sepatu ini, membawa efek pada Mo-jiauw Teng Cong. Tangan kanannya yang dibeber bagaikan golok dipakai untuk menebas kaki si kerudung merah yang masih terapung. Ujung sepatu yang barusan menotok jidatnya Lie Kui tampak berbalik lalu menyontek pergelangan tangan. Tepat sekali mengenakan jalan darah 'Yang-kok-hiat', hingga seketika itu Mo-jiauw Teng Cong merasakan lengannya kesemutan, hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya dan kontan ia pun roboh meniru Lie Kui. Gerakan yang dilakukan si kerudung merah memang luar biasa sukarnya. Dengan badan masih terapung, ujung sepatunya dapat menotok roboh dua lawan tangguh sekaligus, bukan suatu ilmu mengentengi tubuh yang mudah dilatih. Tanpa mempunyai lwekang sampai pada batas tertinggi, jangan harap dapat melatihnya. Pun, melatih ilmu demikian

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ akan meminta tempo puluhan tahun. Dalam kalangan Bu-lim, orang namakan tipu silat itu 'Siang hong ko hong', atau 'Sepasang hong terbang lewati puncak gunung'. Jarang terlihat di kalangan jago-jago dalam dunia Kangouw. Bahwa si kerudung merah dapat mendemonstrasikan ilmu yang langka itu, dapatlah diukur sampai dimana hebatnya lwekang orang itu. Oleh karenanya, maka Sucoan Sam-sat dengan sendirinya sudah menjadi ciut nyalinya. Tang Kongcu yang sangat ketakutan lantas angkat kaki meninggalkan kawan-kawannya. Tapi belum berapa langkah, ia rasakan ada angin berkesiur disampingnya dan tahu-tahu si kerudung merah sudah ada dihadapannya. Ia menggigil ketakutan, tubuhnya dirasakan lumpuh dan seketika itu juga dia jatuh duduk. "Mau lari ?" tegur si kerudung merah, suaranya halus tapi berwibawa. "Ampun tayhiap, ampuni aku........." Tan Kongcu meratap sambil tangannya menyoja-nyoja. "Kau yang menjadi biang keladi dari ini semua. Cara bagaimana yang kau hendaki untuk mengampuni kau, anak jahat !" kata si kerudung merah, suaranya agak bengis. Terkejut hatinya Tan Kongcu. Pikirnya, dari mana si kerudung merah dapat tahu bahwa dirinya menjadi biang keladi dari keonaran itu. Ketakutan ditambah kaget, tentu saja hatinya si pemuda jahat jadi terguncang keras dan setelah ia berkata, "Ampun, ampun

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tayhiap......" lantas saja tubuhnya terkulai dan jatuh pingsan. Tiga sudah rubuh karena totokan dan satu rubuh karena ketakutan, membuat si kerudung merah tertawa gelak-gelak sampai suaranya mendengung di angkasa hingga Kim Wan Thauto yang berada di atas genteng terpengaruh juga. Untuk tidak sampai diketahui oleh si kerudung merah yang lihai itu, Kim Wan Thauto dengan diam-diam sudah meninggalkan tempat sembunyinya, pulang ke hotelnya. Pada keesokan harinya ia berkemas-kemas untuk meninggalkan hotel. Ketika ia meraba ke bawah bantalnya dimana ia sesapkan kotak kecil mungilnya, kaget ia sebab kotak itu sudah tidak ada ditempatnya. Ia ingat betul ketika ia pulang dengan ambil jalan jendela, ia periksa pintu kamarnya masih tetap terkunci. Dari manakah datangnya penjahat yang sudah mencuri barangnya ? Ia periksa barang-barangnya yang lain, tidak ada yang kehilangan kecuali kotak kecil itu. Pikirnya, tentu orang sudah masuk dari jendela. Dari kenyataannya orang hanya mengarah kotak itu, jadi kotak mungil itu tentu sangat berharga. Tapi apa yang menjadi sebab kotak itu sangat dimaui ? Ini hanya merupakan pertanyaan saja bagi Kim Wan Thauto karena ia sendiri belum lihat isinya. Ia anggap kotak itu tidak penting baginya, maka ia tidak banyak ribut dalam hotel itu. Setelah ia membayar uang sewaan kamar dan makannya, lalu ia ngeloyor meninggalkan rumah makan An Goan untuk meneruskan kelananya. Balik kepada si kerudung merah. Setelah merobohkan Sucoan Sam-sat dan si Kongcu ceriwis, lalu ia menghampiri Bwee

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Hiang yang sedang repot menolongi ayahnya. Tadi si gadis, meskipun sedang repot menolongi ayahnya, dapat menyaksikan juga bagaimana si kerudung merah menjatuhkan lawannya satu demi satu. Dalam hatinya merasa amat kagum atas kepandaian tersebut. Entah siapa dia itu, kenpa memanggil dia 'anak Hiang', apakah dia mempunyai hubungan keluarga dengan ayahnya ? Demikian dalam hatinya menanya-nanya akan halnya si kerudung merah. Ketika si kerudung merah jongkok mau periksa lukanya Liu Wangwee, si nona sudah siap untuk memajukan pertanyaan siapa adanya penolong itu, tapi tidak jadi karena penolong itu lantas berkata, "Anak Hiang, mari kita bawa ayahmu masuk ke dalam rumah. Ia perlu dengan pertolongan cepat." Tanpa menanti jawaban, si kerudung merah sudah memondong Liu Wangwee. Sampai di dalam rumah, para pelayan yang menggigil ketakutan, yang turut menyaksikan jalannya pertandingan barusan sudah menyambut tubuhnya Liu Wangwee untuk diletaki diatas pembaringan kecil dimana biasanya Liu Wangwee suka pakai untuk tidur siang. Hartawan Liu masih terus pingsan. Ketika diperiksa lukanya oleh si kerudung merah, ternyata dua tulang iganya patah. Si kerudung merah geleng-geleng kepala setelah melihat lukanya Liu Wangwee. Melihat itu Bwee Hiang menjadi ketakutan. "Apa luka ayah tak dapat disembuhkan ?" ia menanya pada tamu asing.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Dapat, cuma makan tempo lama." sahut si kerudung merah. "Asal sembuh kembali, tak perduli berapa lama, aku akan merawatnya." kata Bwee Hiang dengan hati lega. "Bagus, kau anak baik, anak Hiang." kata si kerudung merah pula. "Kau keliru berkata begitu." si nona bersenyum sedih. "Kenapa ?" tanya si kerudung merah. Heran ia mendengar kata-kata Bwee Hiang. "Aku anak puthauw (tidak berbakti) sebab akulah yang menjadi gara-gara hingga timbulnya kejadian seperti sekarang." jawab Bwee Hiang seraya menundukkan kepala dan dari kedua matanya yang bagus mengucur air mata. "Mari kita tolong ayahmu." si kerudung merah berkata, menyimpangkan kesedihannya si nona. Sementara itu, ia minta air kepada salah satu pelayan untuk membersihkan lukanya Liu Wangwee. Bwee Hiang usulkan untuk memanggil sinshe, tapi tamu asing itu menggoyangkan tangannya. "Tak usah, nanti aku obati sendiri ayahmu." ia berkata. Si nona percaya akan kepandaian orang tersebut. Ia hanya membantu saja apa yang ia dapat atas pekerjaan si bintang penolong untuk kesembuhan ayahnya. Malam harinya, Liu Wangwee kedengaran merintih. Seluruh

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tubuhnya terasa panas, sedang dibagian yang luka parah amat sakit. Tapi setelah diberi obat lagi oleh si kerudung merah, perlahan-lahan Liu Wangwee hilang rintihannya dan kemudian baru dapat pulas. Dijaga oleh Bwee Hiang yang tidak tidur baragn sekejap pun pada malam itu. Selama mana, sering ia tumpahkan air mata. Ia sangat menyesal telah menerbitkan bencana pada ayahnya. Pemberesan pada kawanan penjahat dilakukan sangat singkat oleh si kerudung merah. Setelha memberikan pertolongan pertama pada Liu Wangwee, ia keluar lagi dari rumah dan menghampiri korban-korban totokannya. "Untuk membuat kalian jangan penasaran, nah, mari kita bertempur lagi !" berbareng ia menyepak satu demi satu tubuhnya Sucoan Sam-sat. Giam-ong dan dua saudaranya segera juga bebas dari totokan. Mereka lompat berdiri mengawasi si kerudung merah. Hanya Tan Kongcu yang masih belum dibebaskan totokannya, yang dalam pingsan telah ditotok oleh si kerudung merah. Maksudnya supaya anak hartawan jahat itu tidak melarikan diri, sementara ia memberikan pertolongan kepada Liw Wangwee. Tiga algojo dari Sucon merasakan badannya segar kembali. Maka semangat berkelahinya juga lantas timbul dengan serentak. "Sahabat, kau buka kerudungmu kalau kau benar laki-laki !" kata Giam-ong Puy Teng.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Hahaha !" si kerudung merah tertawa. "Tidak ada yang istimewa di wajahku, buat apa kalian hendak mengenalinya ? Kalian terkenal sangat jahat, maka aku ingin memunahkan tenaga dalam masing-masing. Untuk membikin kalian jangan jadi penasaran, maka aku pun sudah membebaskan kalian dari totokan !" Mendengar itu, tiga jagoan dari Sucoan amat kaget. Belum pernah mereka sekaget saat itu. Tapi hati mereka angkuh karena percaya dengan tiga tenaga gabungan, mereka dapat mengalahkan si kerudung merah yang sangat sombong. Mo-jiauw Teng Cong yang pandai bicara dan banyak akalnya berkata, "Kami tidak bermusuhan dengan kau, kenapa kau hendak memusnahkan lwekang kami ?" Terdengar si kerudung merah tertawa, lalu berkata, "Memang, dengan aku pribadi kalian tidak bermusuhan tapi kalian sangat jahat dan banyak membunuh sesama manusia, tak pandang bulu, jahat atau baik. Kejahatan kalian sudah tak terkira, maka aku akan mewakili mereka yang sudah mati penasaran untuk menghukum kalian........." "Kentut !" memotong Sin-mo Lie Kui yang menjadi panas atas kata-kata si kerudung merah, sikapnya sudah hendak menyerang. "Jangan temberang, sahabat !" menyela Giam-ong Puy Teng. "Maksudmu hendak memusnahkan lwekang kami bertiga hanya merupakan impianmu saja. Ha ha ha.........." berbareng ia menerjang hendak menjambret kerudung lawan. Cuma sayang kepandaiannya di bawah si kerudung merah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sebab bukan saja kerudung orang luput menjambret, malah jari-jari tangannya kena disentil hingga ia merasakan kesakitan dan lantas lompat mundur lagi. Mo-jiauw Teng Cong, diantara tiga jagoan jahat itu yang percaya bahwa si kerudung merah akan buktikan katakatanya, sebenarnya mencoba mendamaikan urusan sehingga dapat dibereskan dengan menyenangkan. Tetapi usahanya selalu dibikin gagal oleh sikap dan kata-kata kedua saudaranya yang ingin selalu berkelahi sebagai keputusannya. Dengan suara kalem terdengar si kerudung merah berkata lagi, "Sebaiknya kalian bersiap-siap sebab temponya sudah dekat untuk aku musnahkan lwekang kalian. Lekas siap !" Dua orang berangasan, Giam-ong Puy Teng dan Sin-mo Lie Kui, begit kata 'siap!' meluncur dari mulutnya si kerudung merah, sudah lantas menerjang dengan jurus-jurusnya yang paling ganas untuk mengirim lawannya ke dunia lain. "Bukan kami tapi kau yang akan kami musnahkan lwekangnya !" bentak Giam-ong Puy Teng dengan suara menggelepar, saking marahnya dia. "Belum komplit kalau belum turun tiga-tiganya." menyindir si kerudung merah seraya mengelak sana sini menghindarkan serangan dua orang yang sudah kemasukan setan. Mo-jiauw Teng Cong yang berdiri dengan ragu-ragu, merasa tepat sekali kena sindiran si kerudung merah, maka hatinya pun panas seketika. "Jangan jumawa, sahabat !" ia kemudain berkata sambil terjun dalam arena pertempuran, mengeroyok si kerudung merah.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Hahaha, ini baru komplit !" katanya. Berbareng dengan perkataan 'komplit !' segera terdengar suara 'buk ! buk !' beberapa kali, disusul oleh jeritan saling susul dan........ di lain detik tampak Sucoan Sam-sat pada tergeletak sana sini. Sementara si kerudung merah tampak berdiri ketawa-ketawa. Ketiga jagoan jahat itu tidak melihat, entah bagaimana si kerudung merah bergerak, tahu-tahu merasakan punggungnya digebuk dua kali. Kontan rasa panas menyelusup ke ulu hati, kaki berbareng lumpuh hingga seketika itu tak tahan untuk mendeprok di tanah. Tapi hanya sebentaran saja hawa panas yang merupakan reaksi dari gebukan di punggung itu, sebab segera sudah pulih lagi kesegarannya. Mereka menjadi kegirangan, tapi tatkala mereka coba empos tenaga dalamnya, tiba-tiba 'plong....' hilang lenyap. Mereka mengerti bahwa tenaga dalam mereka sudah dimusnahkan oleh si kerudung merah. Mereka pada bangun berdiri sambil menundukkan kepala. "Kalian sangat jahat. Kalau watak demikian kalian masih belum mau buang, lain kali ketemu aku, terang aku tak bisa ampuni lagi. Nah, sekarang enyahlah kalian !" si kerudung merah mempersilahkan Sucoan Sam-sat meninggalkan tempat itu. Mereka ngeloyor pergi dengan tidak berani angkat kepala. Sungguh menyedihkan, Sucoan Sam-sat yang biasanya seenaknya membunuh orang seperti juga memotong rumput, kini sekaligus mendapat malu di desa Kunhiang. Apakah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mereka dapat memulihkan pula lwekangnya kemudian belajar lagi untuk menuntut balas kehinaan yang mereka telah alami hari itu, entahlah dibelakang hari. Yang terang, mereka malu untuk pulang ke rumahnya Tan Wangwee lagi. Langsung mereka pulang ke sarangnya di Sucoan. Setelah mereka pergi, si kerudung merah menghampiri Tan Kongcu dan membebaskan ia dari totokan. Ketika ia bangun berdiri, lantas mendengar si kerudung merah berkata, "Kau menjadi biang keladi keonaran, kau harus dihukum !" Tan Kongcu menggigil ketakutan, takut ilmu silatnya akan dimusnahkan. "Tapi mengingat kau tidak sejahat Sucoan Sam-sat, maka aku kasih kelonggaran. Nah, hunuslah pedangmu dan potong sebuah kupingmu !" menitah si kerudung merah. Tan Kongcu ragu-ragu sebab hilangnya kupingnya sebelah berarti mengurangi parasnya yang cakap, pikirnya. "Apa perlu aku yang harus turun tangan ?" si kerudung merah menegur, waktu melihat si kongcu ceriwis ragu-ragu. "Oh, tidak, tidak....." jawab Tan Kongcu gugup. Berbareng ia pun menghunus pedangnya untuk memotong sebelah kupingnya. Pada saat itu, Bwee Hiang datang menghampiri mereka. Sambil menunjuk pada si kongcu ceriwis, ia berkata, "Dialah sebagai maling terbang yang dicari. Kenapa diberi hukuman

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ begitu murah ?" matanya si gadis mengawasi si kerudung merah. "Bagaimana kau tahu dia si maling terbang ?" tanya si kerudung merah. "Aku dapat tahu dari ilmu silatnya ketika bertempur dengan aku." sahut Bwee Hiang. Si kerudung merah tertawa terbahak-bahak sehingga Tan Kongcu ketakutan setengah mati. Dalam hatinya, diam-diam ia memaki Bwee Hiang, "Perempuan sundel, kau bikin celaka aku. Tunggu nanti pembalasanku !" Setelah tertawa, si kerudung merah berkata pada Tan Kongcu, "Kalau begitu, satu kupingmu itu harus menggelinding di tanah !" Tan Kongcu mengerti, ia toh tak dapat membangkang. Maka ia kerjakan lagi pedangnya untuk menebas kutung kupingnya sehingga ia tak berkuping lagi. Dengan hilangnya kedua telinganya itu, kelihatannya ia sangat lucu. Bwee Hiang hampir-hampir tidak dapat menahan ketawanya, tapi ia tahan sebisanya supaya tidak melukai hatinya si kongcu ceriwis............ Mari kita lihat Lo In dan Eng Lian yang sudah lama kita tinggalkan. Lo In amat berterima kasih pada Eng Lian yang sudah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menolong memulihkan tenaga dalamnya dengan memberikan nyali ular kesayangannya. Sebaliknya Eng Lian girang, ia sudah dapat menolong adik Innya yang nakal. Dua anak itu kelihatan cocok satu dengan lain. Tiap hari mereka bermain-main disekitar rumahnya. Eng Lian melihat pakaian Lo In sudah compang camping, merasa tidak tega. Maka ia gunakan temponya untuk membuat pakaian Lo In dari pakaian ayahnya yang ia kecilkan hingga pas untuk dipakai si bocah. Pada suatu hari ketika Lo In keluar dari kamar dengan pakaian 'baru', tampak gagah benar. Maka ia berkata pada Eng Lian, "Enci Lian, buatanmu ini bagus betul. Coba lihat, gagah tidak aku dalam pakaian baru ?" Eng Lian memandang Lo In kemudian ketawa cekikikan mendengar kata-kata si bocah. "Anak kecil," katanya. "Aksi amat nih, pakai mau dipandang gagah segala." "Anak besar yang bikin, mana tidak jadi gagah dipakainya ?" sahut Lo In. Eng Lian monyongkan mulutnya yang mungil. Segera juga kedua bocah itu pada tertawa gembira, masing-masing senang dengan kejenakaan mereka. Oey Hoan Ciang atau ayahnya Eng Lian, ada memelihara puluhan ular di pekarangan rumahnya. Masing-masing dikurung dengan kerangkeng dari bambu. Bermacam-macam ular yang dapat dilihat Lo In ketika Eng Lian ajak si bocah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ melihat-lihat 'kebun binatangnya'. Pada suatu hari setelah lakukan inspeksi, dua anak itu pada duduk diserambi belakang rumah, dimana biasanya mereka suka duduk omong-omong. Tiba-tiba Lo In terdengar menghela napas. "Hei, kau kenapa ?" tanya Eng Lian kontan. Lo In tertawa mesem. "Aku menyayangkan ular-ular itu tinggal dalam kurungan." kata Lo In. "Coba mereka di.........." "Diapakan ?" memotong Eng Liang, seperti biasa, dia tukang potong omongan. "Dilepaskan aku maksudkan, enci Lian." sahutnya. "Hihihi, anak tolo." si dara cilik ketawa. "Kalau dilepas bukankah mereka tak bisa pulang lagi ? Kau ini ada-ada saja." "Enci Lian," kata Lo In serius. "Coba kalau kita lepas, selain kita tidak perlu memikirkan makanannya, juga bagi mereka akan sangat berterima kasih karena telah mendapat kebebasan." "Adik In, bagaimana sih. Mana ada ular bisa berterima kasih segala !" kata Eng Lian. Setelah menarik napas lagi, Lo In berkata, "Enci Lian, kau lihat kawanan keraku. Aku dapat menjinakkan mereka dengan kehalusan, mereka sangat setia kepadaku, apa yang aku mau, mereka lantas lakukan tanpa ragu-ragu."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Eng Lian diam, tapi otaknya bekerja. "Habis, bagaimana kehendakmu ?" tanyanya. "Ular hanya dapat mendesis, tapi tidak bisa omong." kata Lo In. "Menurut Liok Sinshe, ular dapat diperintah dengan suatu lagu dari tetabuhan. Misalnya kita menggunakan seruling sebagai alat untuk memerintah ular sengan sesuka kita. Aku lihat kamu menjinakkan ular hanya untuk dipelihara, tapi tidak dapat dibuat teman. Ini sayang sekali sebab kalau kita dapat membuat ular-ular sebagai kawan, sewaktu kita membutuhkan tenaganya, dapat kita minta pertolongannya. Ini, kau jangan pandang remeh, enci Lian." Si dara cilik angguk-anggukkan kepalanya. "Mulai sekarang, mari kita mencoba akan kata-katanya Liok Sinshe. Kalau benar ular-ular itu dapat ditundukkan dan diperintah dengan irama lagu, oh, sungguh suatu keuntungan besar bagi kita berdua sebab disamping kita sudah punya teman kawanan kera dan rajawali, juga kita dapat sahabat kawanan ular." demikian Lo In tambahkan. Eng Lian lantas saja bertepuk tangan. "Bagus, bagus." katanya girang. "Mari, kita sekarang mulai. Tapi, eh, dari mana kiat dapat alat tabuhannya ?" "Itu mudah. Kita coba dengan seruling saja." sahut Lo In. "Serulingnya dari mana ?" tanya si dara cilik. "Mari kita cari serulingnya." kata si bocah seraya pegang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tangan Eng Lian, diajak berlalu dari situ. Eng Lian mengikuti saja dituntun oleh Lo In. Tidak merasa janggal dia. Karena ini ada kebiasaan Lo In kalau mengajak encinya pergi main-main. Segera juga mereka sudah sampai di satu rimba bambu, dimana Lo In memperhatikan batang-batang pohon bambu yang baik untuk dipakai membuat seruling yang merdu suaranya. Sebentar kemudian, tampak ia mencabut pisau yang diselipkan di pinggangnya dan ia mulai memotong satu batang bambu yang dianggap akan memenuhi syarat untuk digunakan sebagai seruling. Mereka kemudian balik pula ke rumah, dimana dengan cepat Lo In membuat seruling, sedang Eng Lian hanya menonton saja si adik In bekerja. Setelah selesai, Lo In coba-coba meniupnya. Ternyata bikinannya tidak mengecewakan. Segera juga tiupannya Lo In berirama keras perlahan dan tinggi rendah. "Hihihi, adik In." Eng Lian ketawai Lo In. "Kau bisa meniup seruling, tapi mana bisa kau memerintah ular ? Hihihi...." Lo In tidak layani ejekan sang enci, ia terus meniupkan beberapa lagu dekat kurungan-kurungan ular. Ia mencoba pada satu ular yang sebesar lengan, panjangnya satu meter lebih. Beberapa lagu ia perdengarkan tapi ular itu tetap meringkuk, tidak menghiraukan Lo In yang sedang meniup mati-matian.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Eng Lian melihat itu, terpingkal-pingkal ia ketawai si bocah. "Aku juga sudah duga, mana dapat ular-ular diperintah dengan lagu. Ada-ada saja, eh, eh....." tiba-tiba si dara hentikan ejekannya ketika ia melihat dengan perlahan ular yang tidur tadi mengangkat kepalanya. Banyak lagu yang ada dalam otaknya Lo In, si bocah jadi kegirangan. Ia ganti berganti meniup lagunya sampai ia membuat sang ular terus berdansa dalam kurungannya. Hal mana membuat Eng Lian jadi berdiri terpaku sambil leletkan lidahnya, saking keheranan. Tiba-tiba Lo In hentikan tiupan serulingnya, lantas putar tubuhnya menghadap Eng Lian yang berdiri terpaku di belakangnya. "Bagaimana, enciku yang baik ?" Si dara cilik tidak lantas menyahut, ia hanya unjukkan jempolnya yang kecil mungil. "Adik In, luar biasa kau......." puji Eng Lian setelah ia sadar dari keheranannya melihat hasil yang gemilang dari percobaannya Lo In. Sambil menghampiri si dara cilik, Lo In berkata, "Selanjutnya, kita akan latih ular-ular yang ada disini sampai mereka bukan saja jinak tapi menurut perintah kita. Kalau sudah begitu, baharulah kita menjadi majikannya." "Kau benar-benar hebat, adik In."memuji si dara cilik sambil mencubit hangat pipi Lo In. Berkat kecerdasan dan kemauan yang sungguh-sungguh, Lo In berhasil dengan percobaannya menundukkan dan memerintah kawanan ular. Ular-ular yang ada dalam kurungan segera pada dilepaskan untuk mendapat kemerdekaannya. Mereka dapat dipanggil balik bila Lo In meniup serulingnya,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ malah bukan ular-ular yang tadinya dalam kurungan saja, malahan ular-ular lain yang terdapat disekitarnya pada datang dan menghadap kita punya jago cilik yang didampingi oleh ratu ciliknya. Bukan main girangnya Lo In dan Eng Lian melihat hasil usaha mereka. Lo In selainnya mendapat warisan ilmu silat dan surat, juga mendapat warisan dalam ilmu pengobatan dari Liok Sinshe. Tidak heran kalau ia sering mencari akar-akar pohon yang merupakan obat dan menciptakan obat pulung (pil) yang mustajab untuk menjaga kesehatan ia dan Eng Lian. Disamping itu, Eng Lian juga giat belajar silat dari Lo In, juga tidak ketinggalan belajar bahasa monyet hingga selanjutnya ia dapat bergaul leluasa dengan tentara monyet Lo In. Si burung garuda juga sudah jinak dengannya. Malah kalau tidak mereka berduaan naik si rajawali, Eng Lian juga suka pesiar sedirian. Ada pepatah yang membilang, 'Ada waktu berkumpul, tentu ada waktu berpisah'. Pepatah ini memang tidak salahnya, sebagaimana yang dialami oleh Lo In dan Eng Lian. Itulah pada suatu sore, Lo In melihat burung rajawalinya pulang dengan tidak membawa Eng Lian, sedang dua jam yang lalu ia lihat menunggang burung raksasanya sebagaimana biasa untuk pesiar di sekitar lembah itu. Lo In terkejut. Segera ia menghampiri burungnya yang sedang tundukkan kepalanya mendekam. Ia heran, lalu menanya, "Tauw-heng, kau bersama-sama lagi enci Eng Lian. Kemana dia pergi ?"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Burung itu diam saja, seolah-olah merasa bersalah. Lo In jadi bingung. Bagaimana dia bisa tahu sedang si rajawali tidak bisa bicara seperti manusia. Maka, ia cepat lompat ke punggung si burung raksasa, ia tepuk pundaknya sambil berkata, "Lekas, bawa aku ke tempat enciku !" Si rajawali lantas bangkit dan pentang sayapnya, segera terbang ke jurusan barat kemudian turun pada suatu tempat yang lebat dengan pepohonan. -- 11 -Lo In lompat turun dari punggung si rajawali kemudian melakukan pemeriksaan di sekitar tempat itu. Ia sampai pada satu tempat yang banyak tumbuh pohon bunga, tentu ia mendarat di sini. Cepat ia memeriksa, tampak olehnya ada satu pohon kembang yang berbunga bagus sekali. Ia menghampiri ke sana, tiba-tiba ia menjadi kaget tatkala matanya melihat di tanah ada berceceran darah. Apakah enci Lian dibunuh di sini ? Tanya ia dalam hati kecilnya. Ia jadi bingung dan sangat kuatir akan keselamatannya enci Liannya. Ia jongkok dan memeriksa lebih teliti, darah itu berceceran sampai pada jalanan masuk ke dalam rimba pohon. Ia mengikuti terus jejak darah yang dapat terlihat, sampai tibatiba ia sadar kalau dirinya sudah dikurung oleh tiga orang yang ia tidak kenal, belakangan menyusul lagi empat orang yang keluar dari semak-semak. Mereka itu rupanya jago-jago silat pilihan, semuanya pada membawa senjata tajam di pinggangnya masing-masing. Tiba-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tiba seorang, yang menjadi pemimpin rupanya, berkata, "Hehehe, aku heran. Kenapa Pangcu kirim kita begini banyak untuk membekuk satu anak hitam begini saja ?" Lo In mengawasi pada orang yang barusan berkata. Ia lihat orang itu kira-kira usia pertengahan, mukanya persegi tiga, hidungnya mancung, mulutnya ada sedikit tongos. "Kita mesti percaya pada kata-kata Pangcu. Jangan kita sembarangan memandang enteng, Cin-heng (saudara Cin)." terdengar yang lain berkata. "Aku sih bukannya sombong. Kalau hanya menghadapi segala bocah begini, sembari tiduran juga aku bisa menangkapnya. Ha ha ha !" kata lagi si pemimpin. Kecuali yang barusan kasih nasihat pada orang she Cin, yang lain-lainnya memang pada memandang rendah pada Lo In. Mengurung makin rapat, Lo In heran. Ia tidak kenal dengan mereka tapi sikapnya seperti yang memusuhi dirinya. "Para paman, kalian menghendaki apa dari aku ?" Lo In tanya, sekenanya saja. "Kami akan menangkapmu !" bentak salah satu diantaranya. "Aku tidak bersalah, kenapa mesti ditangkap ?" tanya Lo In. "Kau anaknya Kwee Cu Gie, bukan ?" balik tanya si pemimpin. "Siapa itu Kwee Cu Gie, aku tidak kenal." sahut Lo In kontan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Bocah hitam, kau mau main-main sama engkongmu !" si pemimpin berkata lagi. Berbareng ia menjambret tangan Lo In yang sedang memegang kembang. Tangan Lo In dapat dicekal, sambil pelintir ia berkata, "Anak hitam, mengakulah. Jangan....... Kau !" tiba-tiba ia berjengit sebab sekarang menjadi berbalik. Bukan tangan Lo In yang diplintir tapi tangan si orang kasar yang diplintir. Kawan-kawan lainnya menjadi kaget, melihat pemimpinnya hanya segebrakan saja sudah dapat dikuasai Lo In. Lo In salurkan sedikit tenaga dalam ke tangannya, segera tangan si pemimpin yang kena diplintir seperti kena strum listrik. Ia teraduh-aduh tanpa dapat melepaskan pegangan Lo In. Meskipun tangannya kecil, seakan-akan melengket. "Kalian kenapa diam saja ? Lekas maju semua !" teriak si pemimpin yang sudah jadi mandi peluh kena diplintir Lo In. Seperti baru sadar dari tidurnya, mereka lantas serentak menyerbu. Dua belas tangan menghajar berbareng. Itu bukan main hebatnya. Lo In bisa hancur lebur badannya. Tapi kenyataannya lain, ketika serangan serentak sampai, dengan kegesitannya laksana kilat, Lo In menghilang sambil melepaskan si pemimpin yang dijadikan temberang. Si pemimpin jadi berkuing-kuing seperti babi dipotong karena dihujani pukulan kawan-kawannya sendiri.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kaget mereka, bukan Lo In yang dihujani pukulan tapi kawannya sendiri. Cepat mereka mancari bayangan Lo In. Mereka lihat si anak kecil hitam berada tidak jauh dari mereka, sedang tenang-tenang saja bermain setangkai bunga. Mereka mulai jeri tapi tak dapat mereka abaikan perintah dari kepala perkumpulannya. Maka itu mereka maju pula berbareng untuk menangkap Lo In. "Kita tidak bermusuhan, kenapa kalian mau tangkap aku ?" tanya Lo In. "Perintah dari atasan tak dapat diabaikan." sahut satu diantaranya. "Kalian dari mana sebenarnya ?" tanya si bocah pula, tenangtenang saja. "Kami dari Ceng Gee Pang." sahut tiga orang hampir berbareng. "Untuk apa banyak cakap, lekas tangkap dia !" bentak si pemimpin. Perintah mana, sudah lantas dikerjakan. Enam orang mengurung Lo In. Tapi mereka sangat hati-hati, kuatir nanti bocah lolos lagi. "Sebetulnya aku ingin main-main dengan kalian, sayang temponya tidak ada. Karena aku mau mencari enci Lian." kata Lo In, tersenyum nakal. "Anak hitam, sebaiknya kau menyerah supaya tidak membuat

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kami jadi berabe dan tubuhmu kesakitan karena hujanan kepalan kami !" berkata salah satu diantara orang yang mengepung Lo In. "Kalian tak dapat menangkap aku." menantang si bocah. "Jangan sombong, anak kecil !" terdengar jawaban. Sementara itu pengurungan makin diperketat, kira-kira jaraknya satu meter lebih. "Kalau kalian tidak percaya, nah, lihatlah !" kata si bocah. Lo In berkata begitu, jarak mengepung makin rapat. Setelah itu berbareng mereka menubruk dan menyangka si bocah akan tertangkap. Tapi sebelum maksud mereka kesampaian, tapak Lo In meremas-remas kembang ditangannya lalu sambil memutar tubuhnya ia meniup kembang ditangannya hingga berserabutan terbang mengarah ke hiat-to (jalan darah) di jidat, leher, pundak dan lain-lainnya. Kontan enam orang yang mengepung pada lemas kakinya karena kena ditotok oleh lembaran-lembaran kembang tadi. Sementara itu Lo in sudah tidak ada bayangannya lagi dihadapan mereka. Karena totokan dengan kembang itu hanya totokan main-main saja dari Lo In, maka hanya beberapa menit saja mereka lumpuh. Selanjutnya mereka sudah dapat bangun pula dan segar kembali sebagaimana biasa.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Melihat kawan-kawannya dirobohkan dengan hanya tiupan kembang yang diremas, membuat Cin Lian Hin si pemimpin menjadi melongo terpaku ditempatnya. Ia geleng-geleng kepala. Pikirnya, apa bisa jadi ada seseorang bocah yang mempunyai tenaga dalam begitu hebat, susah diukur ? "Hahaha, Cin-heng." tiba-tiba diantara mereka ada yang ketawa terpingkal-pingkal. "Hei, Kek Kim. Kau tertawakan apa ?" tanya Cin Lian Hin. "Aku tertawakan kau, Cin heng. Kau bilang, kau mau ganda dia sembari tiduran, nah sekarang apa buktinya ? Malah kita bertujuh diganda olehnya seperti memeram mata saja. Aaha !" kembali Kek Kim tertawa seenaknya. Cin Lian Hin merah seluruh mukanya, saking jengahnya. Untuk tidak sampai jadi berkelahi dianara kawan sendiri, beberapa orang menyela untuk simpangkan pembicaraan itu hingga dua orang itu tidak sampai adu kepalan. Mereka tidak ungkulan mencari Lo In, maka pulanglah mereka untuk memberi laporan kepada Pancu (ketua perserikatan) mereka. Sampai cuaca menjadi gelap, Lo In masih juga belum dapat menemukan Eng Lian. Hatinya sangat kuatir akan keselamatan si dara cilik, melihat darah berceceran. Ia menyesal tadi tak menanyakan tentang enci Lian kepada salah satu orang yang mengeroyok mereka, lantas terburu-buru untuk mencarinya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lo In pulang dengan lesu, badannya sangat lemas ketika ia turun dari punggungnya si garuda. Keadaan mana dilihat oleh si burung raksasa dengan mengembang air matanya, rupanya ia turut berduka atas kehilangan Eng Lian. Esok paginya, Lo In kumpulkan tentara keranya, diperintah untuk mencari Eng Lian sementara ia sendiri dengan naik si rajawali mencari disekitar lembah, tapi jejak Eng Lian tak dapat dijumpai oleh si bocah. Diam-diam ia menangis kehilangan enci Liannya. Ketika dua tiga hari dicari disekitar lembah enci Eng Lian tidak diketemukan, pada hari yang keempat, Lo In mencari sampai cuaca remang-remang gelap. Ketika ia mau pulang, tiba-tiba dalam pikirannya berkelebat pikiran apakah boleh jadi Eng Lian sudah dibawa naik ke atas ? Mungkin si dara cilik ada di atas Tong-hong-gay. Pikirnya, apa salahnya ia coba-coba naik ke atas sekalian melongok rumahnya dahulu, bagaimana keadaannya sekarang ini. Ia tepuk-tepuk burung raksasanya untuk terbang tinggi, ke atas puncak jurang. Si rajawali merasa heran. Tidak sari-sarinya sang tuan kecil menyuruh dia terbang sampai ke atas puncak. Tapi ia terbang sampai ke atas puncak, tapi ia terbang dengan semangat karena ia tahu Lo In hendak mencari Eng Lian. Sampai di atas cuaca sudah gelap, cuma diterangi oleh bulan sisir yang tenggelam timbul diantara awan yang menutupinya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Melihat itu, Lo In jadi terkenang akan kejadian hampir dua tahun berselang ketika ia berdiam dengan Liok Sinshe di puncak jurang itu. Ia turun dari 'kapal terbangnya', menyuruh si rajawali menantikan disitu saja, jangan ikut ia yang hendak mencari bekas rumahnya. Sampai di tempat yang dituju, Lo In merasa heran sebab rumahnya lain dari dahulu. Kalau tadinya sudah tua, sekarang bagus mentereng, malahan dijaga oleh beberapa pengawal yang bersenjata tajam. Siapakah yang menjadi penghuni baru dari bekas rumahnya itu ? Lampu-lampu di sana sini tampak sudah dipasang hingga cukup terang di sekitar rumah itu. Ingin Lo In menghampiri rumah itu tapi kuatir orang nanti salah anggapan dan menghinanya. Jalan paling baik, pikirnya, ia mengintip dengan diam-diam saja ke dalam rumah itu. Siapa tahu ia dapat kabar halnya enci Eng Lian yang hilang. Dengan ginkangnya (ilmu entengi tubuh) yang sudah diukur, dapat sekejap saja Lo In sudah berada di atas genteng rumah tanpa diketahui oleh pengawal-pengawal. Dari sini Lo In tidak dapat melihat ke ruangan dalam karena gentengnya dilapis dari sebelah bawah. Rupanya disengaja dibuat begitu kekar supaya tidak ada orang yang mencuri dengar apa yang dibicarakan dalam ruangan. Terpaksa Lo In turun lagi ke bawah. Dua orang jaga hanya nampak berkesiurnya angin tapi tak

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ melihat adanya bayangan orang, tidak tahu Lo In datang mendekati mereka. Dua orang penjaga itu, tengah duduk membelakangi pohon, yang satu pendek, satu lagi kurus. "Menurut Cin Lian Hin, calon Tongcu dari cabang Ceng Gie Pang disini dengan membawa enam pilihannya sudah menemukan bocah yang diinginkan oleh Pangcu." demikian Lo In mendengar si pendek berkata pada temannya. "Habis, apa yang sudah ditangkap ?" tanya si kurus. "Katanya mukanya hitam legam, cuma kuping dan lehernya saja putih." "Heran, masa calon Tocu (pemimpin) bisa dipermainkan, apalagi dibantu oleh enam orang pilihan yang memperkuat perserikatan kita." Demikian Lo In mendengar pembicaraan dua pengawal itu. Selagi ia sangsi, kenapa ia mau ditangkap, lantas mendengar pula si kurus menanya pada kawannya, "Hei, Lao Can, kenapa sih anak kecil itu mau ditangkap ?' "Mana aku tahu." sahut si pendek. "Cuma aku dengar, dia itu anaknya Kwee Cu Gie. Siapa Kwee Cu Gie dan kenapa anaknya mau ditangkap, aku tidak tahu." "Itu Cin Lian Hin dan kawan-kawannya hanya gentong nasi saja. Masa anak kecil saja tidak bisa menangkap. Coba kalau aku yang disuruh, aku bekuk saja batang lehernya sampai dia

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ terampun-ampun. Hahaha !" membual si kurus, seraya bangkit mau meninggalkan kawannya yang masih duduk. Tiba-tiba ia rasakan batang lehernya seperti ada yang menepuk. Sakit rasanya sampai ia meringis-ringis. Sambil berbalik, ia tegur temannya, "Hei, Lao Can. Kau jangan main-main, sakit tuh. Main tepuk belakang batang lehar orang, tidak ada kira-kiranya !" "Siapa yang menepuk batang lehermu ?" tanya si pendek sambil bangkit dan mau ngeloyor meninggalkan si kurus. Mendadak ia rasakan telinganya seperti disentil, sakit bukan main. Ia lantas berbalik dan marah-marah menegur si kurus. "Kenapa kau menyentil telingaku ?" "Siapa yang menyentil telingamu ?" si kurus melotot. Dua-dua kelihatan mendongkol. Tapi mengingat akan kewajiban meronda sudah waktunya, mereka ngeloyor jalan. Belum dua tindak mereka berlalu, tiba-tiba keduany berseru, "au !" Si kurus pegangi belakang lehernya, sedang si pendek pegangi telinganya. Panas rasanya pada bagian yang dipegangnya itu. Berbareng mereka putar tubuh dan berhadapan. Masing-masing matanya saling mendelik. "Betul-betul kau bikin penasaran orang, pendek !" kata si kurus, katanya marah. "Kau juga bikin penasaran orang," sahut si pendek. "Kau tepuk pundakku lagi !"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kau sentil kupingku lagi !" Mereka bertengkar dan akhirnya berkelahi. Masing-masing tidak mau mengaku salah. Memang mereka tidak bersalah sebab yang menyebabkan itu adalah Lo In. Dengan gunakan kegesitannya, saban-saban menyelingkar di balik pohon, Lo In godai dua pengawal itu. Ia menepuk belakang lehernya si kurus, kemudian menyentil kuping si pendek, akhirnya mereka adu kepalan. Jail benar si bocah. setelah orang berkelahi, ia nonton dengan bertepuk tangan. Tanpa disadari bahwa hal itu akan menimbulkan kecurigaan. Dan ini pun telah terjadi, si kurus dan si pendek yang tengah berkelahi saling jotos, lantas saja hentikan perkelahiannya, mengawasi Lo In yang sedang bertepuk tangan. "Hei, dari mana datangnya ini bocah bermuka hitam ?" pikir mereka. Lantas mereka ingat akan penuturannya Cin Lian Hin. Inilah rupanya si anak kecil yang dikatakan lihai. Mereka tidak melihat adanya kelebihan dari si bocah sehingga ia sangat ditakuti, girang hatinya, masing-masing ingin menangkap Lo In. Kalau mereka dapat tangkap si bocah, berarti satu jasa besar dan tidak mustahil bila mereka dinaiki pangkatnya. Terdorong oleh rasa serakah, dua pengawal itu lantas main mata satu sama lain untuk kerja sama menangkap Lo In. "Anak kecil, kau siapa ?" tanya si kurus. "Aku adalah aku, buat apa kau tanya." sahut Lo In jenaka.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Anak sambel, apa kau tidak tahu masuk ke sini dilarang ?" bentak si pendek. Siapa yang berani melarang aku datang untuk main-main disini ?" Lo In balik menanya. Kembali dua pengawal itu main mata, segera tangan kiri Lo In sudah kena disambar si pendek sedang si kurus berbareng menyekal tangan kanannya. Mereka kegirangan dapat menangkap Lo In. "Anak kecil, mari ikut kami menghadap Hupancu." berkata si kurus sambil tarik tangan Lo In. Dengan bangga mereka sudah giring Lo In. Kawan-kawannya pada merasa heran melihat si kurus dan si pendek menggusur satu bocah bermuka hitam. Anak siapa itu, berani mati datang ke situ yang terjaga keras. Tidak mudah untuk menghadap Hu-pangcu (wakil ketua) sebab harus melalui beberapa ruangan yang dijaga kuat. Lo In menjadi benar-benar pangling (tidak mengenali) bekas rumahnya, diperbesar dan menjadi mewah itu. Ia jinak sekali dituntun si pendek dan kurus untuk dihadapkan kepada Hupangcu. Sampai di ruangan tempatnya Hu-pangcu, Lo In lihat ruangan itu diperaboti indah sekali. Entah berapa banyak Ceng Gee Pang (Golongan Gigi Hijau) mengeluarkan duit untuk memperindah ruangan itu. Lo In lihat kira-kira ada 20 orang tengah mengadakan rapat menghadapi meja panjang. Ditengah-tengahnya ada seorang dengan muka lonjong dan kumis pendek, usianya kira-kira di

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ bawah lima puluh tahun. Tubuhnya agak kegemuk-gemukan, pakaiannya dari sutra yang mahal harganya. Lo In menduga orang itu tentu Hu-pangcu dari Ceng Gee Pang. Diantara yang hadir dalam rapat itu terdapat calon Tocu Cin Lian Hin bersama kawannya yang menangkap Lo In. Ketika melihat si bocah bermuka hitam dibawa masuk, mereka amat terkejut. Ada juga yang kucak-kucak matanya, tidak percaya bahwa Lo In begitu mudah dapat ditangkap oleh dua tukang rondanya. "Apakah dia anaknya yang mempermainkan kalian ?" tanya Hu-pangcu kepada Cin Lian Hin dan kawan-kawannya. "Belum pasti." sahut Cin Lian Hin. "Tak semudah itu dia dapat ditangkap." Hu-pangcu tersenyum tidak enak sebab dalam senyuman itu seolah-olah mengandung sindiran kepada Cin Lian Hin dengan kawan-kawannya tidak becus menangkap seorang bocah saja. Kalau Hu-pangcu itu dapat anggapan remeh pada Lo In, tidaklah heran sebab si bocah menurut saja dibentak-benatk dan dijoroki oleh si pendek dan si kurus yang membawanya menghadap si wakil ketua. Si pendek dan si kurus setelah melaporkan bagaimana mereka dapat menangkap si anak kecil, lalu majukan Lo In untuk diperiksa.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Anak kecil, apakah maksud kau untuk masuk kemari ?" tanya Hu-pangcu, suaranya tidak bengis. "Aku mau mencari enci Lian." sahut Lo In. "Siapa itu enci Lian ?' tanya Hu-pangcu. "Dia adalah enciku, teman karibku." Lo In menerangkan. "Apa kau yang permainkan dia dengan kawan-kawannya ?" Hu-pangcu tanya lagi, seraya jarinya menunjuk pada Cin Lian Hin. Lo In mengawasi si orang she Cin sebentar, "Kau tanya saja pada dia." sahutnya. Si wakil ketua melengak. Pikirnya bocah ini sikapnya acuh tak acuh, menjawab pertanyaan seenaknya saja, hatinya menjadi tidak senang. Matanya tiba-tiba bersinar mengawasi si pendek dan si kurus. Mereka ketakutan dan gelapan. Mereka tahu kesalahannya, barusan lupa menyuruh Lo In berlutut untuk menghadap wakil ketua. Cepat mereka dekati Lo In. Masing-masing pada pegang lengan Lo In dijoroki supaya berlutut. Hampir berbareng mereka membentak, "Berlutut !" Waktu itu para hadirin termasuk Hu-pangcu terkejut dan katanya terbelalak. Mengapa mereka ? Mereka melihat ada yang berlutut tapi

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ bukannya Lo In malahan dua pengawal yang menjoroki Lo In sambil berseru 'berlutut !' yang berlutut. Itulah Lo In yang mendemonstrasikan kelincahannya. Waktu si bocah dipegang lengannya dan dibentak disuruh berlutut, ia geraki sedikit badannya, lolos dari pegangan si pendek dan si kurus lalu berjongkok. Kedua tangannya dipentang untuk menotok hiat-to di dengkul yang membuat pengawal itu terkulai dan berlutut, sedang Lo In sudah lantas berdiri. Gerakan Lo In sangat cepat laksana kilat. Hanya beberapa detik saja terjadi sehingga banyak diantara hadirin yang tidak tahu bagaimana Lo In bergerak. Hanya Hu-pangcu yagn melihat tegas, bagaimana dua pengawalnya dirubuhkan dengan satu gerakan kilat dari si bocah. Waktu Lo In dapat ditangkap oleh si pendek dan si kurus itu hanya atas kemauan Lo In. Pikirnya, dengan membiarkan dirinya ditangkap dan dibawa menghadap pemimpin, ia bisa dapat tahu keadaan di dalam dan siapa yang kepalai Golongan Gigi Hijau yang hendak menangkap dirinya. SI bocah gesit luar biasa, tetapi belum tentu lwekangnya luar biasa. Kalau nampak usianya yang masih begitu muda, belum masuk hitungan jago muda. Pikiran itu muncul diantara para hadirin, diantaranya ada satu yang mukanya kekuning-kuningan yang bernama Gouw Li Lit bangkit dari duduknya, datang menghampiri Lo In sambil

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ ketawa-ketawa, "Anak kecil, kau hebat !" katanya sambil menepuk pundaknya si bocah dengan tenaga lima bagian. Pikirnya, sekali tepuk si bocah akan terkulai sedikitnya, kalau tidak sampai tergetar jantungnya pasti copot. Tidak disangka, kalau tepukannya itu membawa akibat yang memalukan. Ialah, telapak tangannya yang menepuk, ia rasakan seperti menepuk kapas atas pundaknya Lo In, malah tangannya tak dapat diangkat dari pundaknya Lo In seakan-akan menempel saja. Kaget bukan main Gouw Li Lit, apalagi ketika Lo In menyalurkan lwekangnya ke pundak orang she Gouw itu hampir menjerit kesakitan dan rasa linu sekujur badannya seketika. Waktu Lo In goyang sedikit pundaknya, tangan Gouw Li Lit terlepas dan terdorong sempoyongan, hampir jatuh duduk kalau ia tidak gunakan 'cian kin tui' atau ilmu memberatkan bada seribu kati untuk menahan tubuhnya. Gouw Li Lit pucat mukanya, merasa sangat penasaran dirubuhkan hanya segebrakan saja oleh bocah yang barusan lepas netek. Ia ada satu ahli Gwakang (tenaga luar) yang oleh kawan dan lawan disegani. Dimana ia taruh muka bila hanya begitu saja dapat keok sama anak kecil. Tidak heran kalau ia jadi sangat gusar. Matanya mendelik pada Lo In dan berkata, "Anak kecil, mari kita adu kepandaian !" "Aku tidak ada tempo, aku hendak mencari enci Lian." sahut Lo In. Penerangan dalam ruangan itu cukup, dipasang beberapa lilin, diantaranya ada empat lilin yang besar ditancap dibelakang meja rapat. Gouw Li Lit mendekati Lo In, "Aku tidak rela dengan gebraka

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tadi. Maka marilah kita adu kepandaian." menantang Gouw Li Lit sambil pasang kuda-kuda. Melihat lagaknya orang she Gouw, Lo In jadi ketawa. "Aku tidak mau berkelahi, kenapa kau memaksa ?" katanya seraya masih ketawa. Lo In ketawa sebenarnya wajar karena merasa lucu melihat tingkahnya si orang she Gouw. Tapi ketawanya si bocah justru dianggap satu hinaan oleh Gouw Li Lit. "Aku ketawa apa, bocah !" bentaknya lalu disusul dengan serangan hebat menggunakan tenaga penuh. Angin pukulannya sampai menderu, segera terdengar suara 'brak !'. Itulah meja yang berantakan terkena angin pukulannya. Lo In tatkala itu berdiri tidak jauh dari meja yang hancur tadi. Kalau serangan Gouw Li Lit itu mengenakan sasarannya, pasti si anak kecil remuk tulang-tulangnya. Baikna saja ia sudah menghilang dan sodorkan meja sebagai wakilnya. Para hadirin jadi tegang. Mereka tahu si orang she Gouw kalau sudah kalap, untuk mencuci kehormatannya, jalan satusatunya adalah menghancurkan tubuh Lo In. Hanya sayang, si anak kecil terlalu gesit untuk lantas menghilang dari hadapan Gouw Li Lit yang saban kali menyerang dengan tenaga maksimum. "Bocah hitam !" teriak Gouw Li Lit kalap. "Kau jangan menghilang kayak setan. Kalau berani sambuti seranganku !" Kelihatannya ia kewalahan dilawan dengan kegesitan Lo In. Maka ia berteriak kalap tadi. Ia berteriak sambil membarengi

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dengan serangan dahsyat. "Aku tidak mau berkelahi, kau paksa juga. Nah, baiklah aku sambuti !" Lo In sambuti seenaknya saja, tanpa pasang kudakuda segala. Gouw Li Lit girang teriakannya tidak sia-sia. Seketika ia menyerang dengan jurus yang mematikan, sepasang kepalannya yang segede kepala bayi, menyambar ke arah dada Lo In. Ini adalah tipu 'sian coa touw sin' atau 'Sepasang ular muntahkan bisanya'. Satu jurus yang ganas, mengerikan, apalagi itu ditujukan kepada Lo In anak kecil. Tidak heran kalau para hadirin menjadi amat kaget dan kuatir akan keselamatan si bocah. Tapi Lo In tenang-tenang saja, malah ia masih bisa ketawa ketika pukulan sampai. Ia tidak berkelit menghilang, sebaliknya ia papaki sepasang kepalan lawan dengan satu sampokan tangan kiri, keras lawan keras. Lucu kelihatannya sebab dua lengan yang segede anak ditangkis oleh satu tangan yang kecil halus. Menurut teori, akan patahlah tangan yang kecil itu. Tapi prakteknya, setelah bentrokan keras, Gouw Li Lit tarik pulang sepasang lengannya dengan susah payah seperti yang terlepas dari sambungan pundaknya, wajahnya meringis-ringis kesakitan, jantungnya tergetar seperti mau copot saja rasanya. Sementara si bocah hanya berdiri senyum-senyum saja melihat sang lawan lompat mundur dengan muka pucat dan meringis-ringis. Lo In telah gunakan gerakan 'Tan cian cui tah' atau 'Dengan satu tangan mendorong pagoda', satu tangkisan keras yang mengandung tenaga dalam yang dahsyat untuk memunahkan serangan Gouw Li Lit yang ganas.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Para hadirin hampir tak percaya dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan adegan yang langka dalam dunia persilatan (Bu lim) seperti yang diperlihatkan oleh si anak kecil berwajah hitam. "Hek-bin Sin-tong........" menggumam Hu-pangcu dari Ceng Gee Pang saking kagum ia melihat kepandaian Lo In. Meskipun perlahan Hu-pangcu itu menggumam tetapi terdengar nyata di telinga para hadirin yang mempunyai lwekan tinggi. Mereka pada menoleh pada Hu-pangcu, seraya dalam hatinya masing-masing pada berkata, "Pantas anak hitam ini mendapat julukan 'Hek-bin Sin-tong' dari mulutnya Hu-pangcu Ceng Gee Pang. Belakangan hari telah membuat namanya Lo In populer dengan julukan itu dalam dunia Kangouw. Diantara para jagoan yang hadir dalam rapat itu adalah Gouw Li Lit yang paling menonjol kepandaiannya. Sekarang si orang she Gouw sudah dikalahkan dengan begitu mudah, siapa lagi yang berani maju ? Hu-pangcu, meskipun jeri hatinya merasa tidak puas kalau tempatnya diacak-acak oleh anak kecil. Maka seketika itu lantas memberi tanda pada para hadirin untuk mengepung Lo In. Mereka bangun dengan serentak dari masing-masing tempat duduknya, memburu Lo In. Si bocah kaget juga. Sebelum ia buka mulut menanyakan sebabnya mereka datang mengeroyok, ia dibikin repot oleh

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ hujan kepalan dan tangan dibeber menabas bagaikan golok tajam. Terpaksa Lo In keluarkan ilmu entengi tubuh ajaran Liok Sinshe yang dinamai 'Bu eng bu seng sin hoat' atau 'Ilmu sakti tidak bayangan tiada suara', yang ia yakinkan dengan mahir betul. Dengan kepandaian meringankan tubuh yang sakti itu, membuat jagoan-jagoan yang mengeroyok saban-saban tubruk angin. Sungguh lucu kalau menyaksikan adegan itu. Kawanan jagoan seakan-akan merupakan kawanan serigala yang kelaparan berebut menangkap mangsanya, tapi sang korban saban-saban menghilang dari hadapannya. Bukannya jarang, satu sama lain saling beradu tangan, beradu tubuh dan berbenturan kepala disebabkan berbarengan mereka menubruk mangsanya. Tapi sang mangsa telah hilang lenyap seperti masuk dalam rumah atau naik ke langit saja. Dalam sengitnya mereka mengepung Lo In, sampai tak menyadari bahwa saat itu ada seorang tamu sudah lama menonton mereka sedang uber-uberan. "Hahaha ! Ang Ban Ie, kau menjadi anak kecil lagi ? ha ha ha......... !" Inilah suara si tamu, keras berwibawa sehingga semua orang hentikan uber-uberannya. Mereka tidak tahu kemana si bocah menghilangnya, tapi mereka lebih perlukan menghadapi tamu yang baru datang itu. Rupanya mereka kenal baik pada tamu yang datang itu sebab semuanya kelihatan pada menunjuk muka tegang. Tamu itu ada seorang tua dengan muka bersih, pakaiannya pun perlente, dari mana menunjukkan bahwa si tamu itu bukan orang dari tingkatan rendah.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tamu itu memang tiada lain adalah Pangcu dari Ceng Gee Pang. Melihat ketuanya yang datang, segera Ang Ban Ie, si wakil ketua lekas menghampiri memberi hormat. Ia berkata, "Toako, mengapa malam-malam kau datang kemari ? Tentu ada urusan penting yang hendak dibicarakan dengan aku." Pangcu dari Ceng Gee Pang itu ada saudara cintong dari Ang Ban Ie, namanay Ang Ban Teng. Ia lihai menggunakan senjata rahasia bentuk panah yang direndam dalam obat, bukannya racun tapi istimewa kerjanya. Panah itu asal menancap pada tubuh korbannya, kalau menemui darah lantas menjadi lumer dan sang korban akan menggigil kedinginan. Kaki tangan tak dapat digerakkan seperti membeku untuk sepuluh menit lamanya. Entahlah, Ang Bang Teng menggunakan bahan obat apa untuk senjata panahnya yang istimewa itu, tapi yang terang namanya terkenal dengan Soa-cian Ang atau Ang si Panah Salju. "Terang kalau tidak ada urusan penting, tak aku datang malam-malam kesini." jawab Ang Ban Teng, si Panah Salju sembari jalan menghampiri meja rapat dan lantas duduk di meja kepala, di dampingi oleh Ang Ban Ie, si wakil ketua. Orang-orang pada berkumpul lagi mengitari meja rapat dengan dalam hatinya masing-masing pada menanya urusan penting apa yang dibawa Pangcu itu. "Hiante," kata Soat-cian Ang. "Kenapa kalian mengeroyok anak kecil tadi ? Apakah tidak malu nanti diketahui oleh rekanrekan dalam kalangan Kangouw ?"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ang Ban Ie ketawa, tapi ketawanya tentu saja tidak wajar. Ia merasa malu dengan teguran saudara tuanya. Meskipun begitu, ia harus membela diri agar jangan terlalu dipersalahkan. Ia berkata, "Soalnya bocah itu anaknya Kwee Cu Gie. Bukankah Siong Leng Totiang ada minta bantuan kita, diwaktu kita hendak menempati tempat ini supaya kita membantunya untuk menangkap anaknya Kwee Cu Gie ?' Soat-cian Ang kerukan keningnya. "Dari mana kau tahu bocah itu anaknya Kwee Cu Gie ?" Pada sepuluh hari yagn lalu kita ada kedatangan Ang Hoa Lobo dengan Toan-bi Lomo Siauw Cu Leng." jawab Ang Ban Ie. "Hah ! Dua iblis itu datang kemari?" tanya Soat-cian Ang, terkejut dia. "Betul," sahut Hu-pangcu Ang Ban Ie. "Si nenek mengatakan bahwa dibawah jurang ada satu lembah dimana ada tinggal seorang anak kecil yang mempunyai tentara kera dan burung raksasa. Aku jadi ingat akan pesan Siong Leng Totiang supaya kita membantunya. Maka aku lalu menanya pada si nenek, apakah anak itu bukannya anak Kwee Cu Gie. Ang Hoa Lobo manggut. Ang Hoa Lobo kata anak itu lihai, harus dipancing meninggalkan tentara kera dan burung raksasanya, baru ada harapan ditangkap degnan menggunakan banyak orang kuat kita. Kalau diserangnya, ia kata jangan banyak harap dapat menangkap si bocah karena tentara kera dan burung rajawalinya, ada pelindung yang sangat kuat......." "Lalu kau kirim orang untuk memancing dia, bukan ?"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ memotong Soat-cian Ang. "Betul," melanjutkan Ang Ban Ie. "Aku sudah kirim tujuh orang kuat kesana dikepalai oleh Cin Lian Hian. Inilah Tocu kita untuk cabang disini." Ang Ben Ie menunjuk Cin Lian Hin memperkenalkan kepada Pangcunya. Soat-cin Ang manggut-manggut. "Teruskan, hayo teruskan ceritamu." katanya. "Cin hiante dan kawan-kawan tak usah memancing lagi si anak kecil meninggalkan sarangnya." melanjutkan Ang Ban Ie. Karena dalam perjalanan ke sana dia sudah bertemu dengan anak yang dimaksud, yang mencari kawannya yang bernama Eng Lian. Rupanya Cin hiante terlalu memandang enteng pada si anak kecil, karena bukan saja anak yang diarah tak dapt ditangkap, malah Cin hiante dengan enam kawannya kena dirobohkan dengan memalukan sekali." Selanjutnya Ang Ban Ie menuturkan bagaimana Cin Lian Hin dan kawan-kawan dipecundangi oleh Lo In dan tentang kedatangannya si bocah malam itu ke markas mereka malammalam untuk mencari temannya hingga menjadi adu kepandaian dengan Gouw Li Lit disusul dengan pengeroyokan ramai-ramai oleh mereka. Soat-jian Ang angguk-anggukkan kepalanya, sembari urut-urut kumisnya. Diam-diam ia merasa kaget mendengar penuturannya Ang Ban Ie. "Anaknya sudah begitu hebat, bagaimana dengan bapaknya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ ?" terdengar si Pangcu bergumam. Kiranya gumaman Ang Ban Teng dapat didengar tegas oleh para hadirin yang kepandaian lwekangnya tidak rendah. "Pangcu maksudkan siapa bapaknya ?" tanya Gouw Li Lit tibatiba. "Aku tidak tahu apa bapaknya si anak kecil itu masih hidup atau sudah mati. Sebab menurut Siong Leng Totiang, Kwee Cu Gie yang menyaru jadi Liok Sinshe ada dua tahun yang lampau sudah mati masuk jurang dibokong oleh Kim Popo." menerangkan Soat-cian Ang. "Lalu bagaimana pikiran Toako ?" tanya Ang Ban Ie. "Kemarin dulu, aku ada kedatangan sobatku. dia itu ada Liu In Ciang, yang kini terkenal dengan nama Liu Wangwee di desa Kunhiang." menutur Soat-jian Ang. "Dalam omong-omong dia menceritakan pengalamannya pada satu setengah tahun yang lalu dia didatangi Sucoan Sam-sat........" "Apa Pangcu bilang ? Sucoan Sam-sat ?" memotong Gouw Li Lit. Ia kaget rupanya. "Benar." sahut Soat-cain Ang. "Siapa tidak kenal dengan tiga algojo dari Sucon itu. Rata-rata orang persilatan pernah mendengar tentang mereka itu." "Mereka datang ada urusan apa dengan Liu Wangwee ?" menyela Ang Ban Ie. "Sucoan Sam-sat datang atas undangannya Tan Kong Ceng, salah satu hartawan di Kunhiang. Entah ada urusan apa yang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menyebang Liu In Ciang dan Tan Kong Ceng bentrok hingga hartawan Tan mengundang tiga algojo dari sucoan. Tapi yang penting untuk kita adalah keterangan sobatku itu. Katanya dalam pertempuran dengan Giam-ong Puy Teng, Liu In Ciang dapat dirobohkan dengan mendapat luka parah, dua tulang iganya patah. Anak gadisnya, Bwee Hiang, dalam putus harapan hendak menebas kuntung lehernya, tiba-tiba pedangnya terpental jatuh dari cekalannya karena benturan batu kecil yang dilepas dari jurusan pohon, dari mana telah turun melayang sesosok tubuh, ialah si kerudung merah..........." "Siapa itu si kerudung merah ?" menyela beberapa hadirin hampir berbareng. "Hahaha !" tertawa Soat-cian Ang. "Si kerudung merah adalah bintang penolong dari sobatku itu. Dia bukan saja melabrak Sucoan Sam-sat satu demi satu, malah belakangan disuruh maju berbareng tapi mereka tidak ungkulan menghadapi si kerudung merah. Lwekang dari tiga penjahat itu telah dimusnahkan dan diancam apabila mereka tidak bisa rubah adatnya dan belakangan hari ketemu lagi dengannya, si kerudung merah akan mengambil jiwanya." Sampai disini menutur, kelihatan Soat-cian Ang gembira, air mukanya berseri-seri sambil elus-elus janggutnya. Atas desakan hadirin ia menutur lagi, "Liu Wangwee diobati olehnya sampai sembuh. Ketika ditanyai siapa adanya si kerudung merah, selalu dia menyimpangkan pertanyaan hingga sobatku tidak tahu siapa dia sebenarnya. Tapi yang terang, ilmu silatnya luar biasa. Sekali gebrak, ia bikin lawannya mati kutu mendeprok di tanah. Dia meninggalkan rumah sobatku, menghibur supaya hartawan Liu jangan memikirkan lagi si tiga

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ algojo karena dia sudah musnahkan ilmu silatnya dan mereka tidak berani datang lagi. Tapi perhitungan itu rupanya meleset sebab Sucoan Sam-sat bukan merubah kelakuannya, sebaliknya mereka minta pertolongan gurunya, Thie-tauw-eng Ie Jie Lo (si Garuda Kepala Besi). "Gurunya sendiri tidak sanggup memulihkan tenaga dalam mereka. Untung ada supeknya, Hong-hwe-liong Siang Hong Sin, dapat menolongnya meskipun perlahan-lahan. Sekarang kepandaian mereka sudah pulih. Setelah mendapat petunjuk dari guru dan supeknya, kabarnya Sucoan Sam-sat sudah keluar lagi dari sarangnya mencari si kerudung merah. Tapi sudah beberapa bulan dicari belum dapat dijumpai dimana adanya si kerudung merah. Sahabatku, Liu In Ciang menjadi gelisah. Karena tak dapat menemukan musuhnya maka mereka akan datang pula ke Kunhiang untuk menghancurkan keluarga Liu. Liu Wangwee sendiri tidak mohon pertolongan apa-apa padaku, cuma aku sebagai sobatnya, mana dapat tinggal peluk tangan menonton Liu In Ciang menghadapi bahaya maut." Semua yang hadir tidak membuka suara apa-apa setelah mendengar penuturannya san Pangcu sampai kemudian Hupangcu, Ang Ban Ie yang memecahkan kesunyian. "Jadi apakah kita akan ikut campur tangan dalam urusan Liu Wangwee ?" Soat-cian Ang angguk-anggukkan kepala. Kembali keadaan menjadi sunyi. "Untuk menolong Liu Wangwee adalah wajar." kata Gouw Li Lit. "Sebab Liu In Ciang ada sahabat Pangcu. Cuma saja,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ bagaimana kita harus menghadapinya itu tiga algojo dari Sucoan yang tersohor sangat ganas ?" "Justru dalam hal ini aku datang kemari untuk berunding. Bagaimana pikiran saudara-saudara sekalian ?" berkata Soatcian Ang sambil perhatikan wajah hadirin satu demi satu. Ia mengharap ada pikiran baik keluar dari salah satu diantaranya. Mereka berunding, mencari jalan keluar. Sementara itu soal si anak kecil sudah tidak disinggungsinggung lagi oleh mereka. Apa lagi sang Pangcu tidak menanyakan soalnya lebih jauh. Perhatian sekarang jauh dipusatkan kepada soal mencari jalan untuk menolong Liu Wangwee yang terancam bahaya. Dimana si bocah mengumpat ? Kiranya ia mengumpat di bawah meja rapat yang ditutup dengan kain merah. Enak saja ia diam-diam disitu mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh mereka. Kembali dalam benak Lo In timbul pertanyaan : Siapakah dirinya ? Anak siapa, apakah Kwee Cu Gie benar ayahnya ? Dimana ibunya ? Liok Sinshe dikatakan menyamar, diam diatas jurang Tonghong-gay, apakah benar ia Kwee Cu Gie, kenapa dia tidak omong bahwa dia adalah anaknya ? Semua telah membikin pusing kepalanya si bocah lagi. Memikir dalam ruangan itu ia tidak mempunyai kepentingan pula, maka diam-diam tanpa disadari oleh para hadirin yang tengah memusatkan perhatiannya kepada urusan Liu Wangwee, Lo In sudah bisa menyingkir dari ruangan itu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dengan menggunakan kepandaiannya meringankan tubuh, tidak seorang pun dapat melihat ia berlalu kecuali berkesiurnya angin disamping para penjaga. Sebentar lagi Lo In sudah menghampiri burung raksasanya yang menantikannya dengan penuh khawatir. Mari kita lihat keadaan Eng Lian. Sore itu Eng Lian naik garudanya sendirian, pesiar diatas lembah. Ketika si rajawali melayang rendah, tiba-tiba burung raksasa itu nampak berkelebatnya seekor kelinci. Otomatis ia menyambar ke bawah, tapi sang korban sudah lari bersembunyi diantara pohon bunga-bungaan. Melihat banyak pohon kembang, Eng Lian sangat tertarik hatinya. Ia tepuk-tepuk pundaknya si burung raksasa sambil berkata, "Tiauw-heng, kau turun disini, aku nanti tangkapkan kelinci untukmu." Si dara cilik dari tadi terpingkal-pingkal ketawai burungnya yang gagal menyambar mangsanya. Ia ingin menolong tangkapi si kelinci yang menyusup diantara pohon-pohon yang merintangi si rajawali mementang sayapnya. Si burung raksasa lantas mendarat. Eng Lian dengan gembira lompat turun dari bebekong si rajawali kemudian ia lari menyusup diantara pohon-pohon kembang. Lagaknya seperti yang mengubar kelinci tapi sebenarnya ia hendak memetika kembang-kembang yang harum semerbak memenuhi hidung. Senang sekali Eng Lian berada diantara bunga-bunga. Tangannya repot memetik sana sini, memilih bunga yang bagus-bagus untuk dibawa pulang. "Sayang adik In tidak turut,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kalau tidak, oh, bagaimana gembiranya kita memetik kembang yang harum mewangi ini." ia berkata-kata sendiri. "Selamat bertemu lagi nona Lian........" tiba-tiba si dara cilik mendengar orang berkata dari belakangnya hingga ia cepat menoleh dengan kaget. Kiranya yang berkata-kata tadi adalah Ang Hoa Lobo, kenalan lama yang Eng Lian sangat benci. Sambil cemberut, ia menanya : "Nenek jahat mau apa ?" "Hehehe !" si nenek ketawa kering. "Bagaimana kau bisa katakan aku jahat ?" "Memang kau jahat." sahut Eng Lian berani. "Kau sudah pukul adik In sampai luka berat, kemudian kau hukum aku tidak makan beberapa hari. Apa itu tidak jahat ?" "Aku toh belum gebuk mati si bocah, belum hukum mati kamu, masih belum terhitung jahat, bukan ?" bantah si Nenek Kembang Merah seraya haha hihi ketawa. "Hmm !" si dara cilik mendengus. Mendongkol dia mendengar alasan si nenek. "Aku datang hendak menyambut kau, Eng Lian." kata si nenek. "Menyambut aku ?" si nona cilik menanya heran. "Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan kau, untuk apa kau menyambut aku ?" "Hubungan kita masih ada. Sebegitu jauh, kau masih tetap

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ membandel tidak ajarkan menjinaki ular." sahut si nenek ketawa. --12-Si dara cilik geleng kepala. "Aku tidak mau ajarkan kau." katanya. "Kenapa ?" Ang Hoa Lobo menanya heran. "Kalau kau sudah dapat menjinaki ular, nanti kau akan lebih jahat lagi." sahut si dara cilik. "Tidak, tidak. Aku berjanji akan menjadi orang baik, kalau kau sudah ajarkan menjinaki ular." si nenek cepat menyahut. "Soalnya ditempatku Coa-kok (Lembah Ular) disana ada banyak kawanan ular, aku mau bikin kawanan ular itu takluk padaku, lain tidak." Si nona kerutkan alisnya yang lentik, ia berpikir rupanya. "Nona Lian, aku hanya minta kau ajari aku. Setelah mana aku tak akan mengganggu lagi kau." Ang Hoa Lobo berjanji. Kembali si nona tidak menjawab. Ia berpikir, memang paling baik kalau si nenek tidak datang mengganggu ia dan Lo In punya ketentraman. Apalagi si nenek berjanji akan menjadi orang baik. Tidak ada salahnya kalau ia mengajari si nenek menjinaki ular. Setelah mengambil keputusan, ia berkata, "Baiklah, mari ikut aku."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Si nona berkata seraya geraki kakinya hendak berlalu dari situ, menghampiri si rajawali yang menunggu jauh di sana. Ang Hoa Lobo sudah tentu saja tidak bersedia mengikuti si nona karena disana ada si rajawali yang kalau melihat dia dengan Siauw Cu Leng akan beringas dan mengajak bertempur. Maka itu ia lalu berkata, "Nona Lian, sebaiknya kita jangan ke rumahmu. Kau ikut aku saja ke Coa-kok." Si nona putar tubuhnya. "Mana bisa begitu, adik In sedang menunggui aku." sahutnya seraya lari hendak lari meninggalkan Ang Hoa Lobo. Lari belum jauh, tiba-tiba ia dicegat oleh Siauw Cu Leng. "Hahaha ! Dara cilik, kau mau lari kemana ?" bentaknya kasar. "Kakek jahat, kau jangan merintangi aku !" semprot Eng Lian. Si nona coba hindarkan sambaran tangan Siauw Cu Leng, tapi ia ada satu gadis cilik yang baru saja belajar silat. Mana dapat ia lolos dari si Iblis Alis Buntung yang kasar dan kejam. Maka sambaran tangan yang kedua kali sudah dapat menangkap pergelanagan tangan si nona cilik hingga ia menjerit karena pegangan si Iblis Alis Buntung seperti jepitan besi rasanya. Si dara cilik berontak-rontak tidak menolong. "Eng Lian sebaiknya jangan kau menolak undangan kami. Hei, Cu Leng, jangan kau kurang ajar pada guru cilik kita !" kata Ang Hoa Lobo melihat Toan-bi Lo-mo memencet tangan si nona kecil dengan keras hingga menjerit kesakitan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Siauw Cu Leng menurut. Ia longgarkan pegangannya. Si rajawali yang menunggu majikannya jauh dari situ, bukannya tidak mendengar jeritan nonanya. Ia hanya mengebas-ngebaskan sayapnya saja. Untuk terbang masuk ke tempatnya Eng Lian tak dapat ia lakukan karena banyak rintangan cabang pohon untuk sayapnya bebas bergerak. Tidak heran, ia kelihatan sangat gelisah sebab suara jeritan Eng Lian itu ada satu tanda si dara cilik dalam bahaya. Setelah lama ia nantikan nonanya belum kelihatan muncul, maka terpaksa ia pulang untuk memberitahukan pada Lo In. Di lain pihak, Eng Lian sudah kena ditotok oleh Siauw Cu Leng dan dibawa pergi dari situ. Belum berapa tindak mereka berlalu, telah berjumpa dengan Cin Lian Hin dan enam kawannya. Ang Hoa Lobo berkata pada Cin Lian Hin, "Ini ada cara yang kebetulan. Tak usah kalian memancing lagi si bocah keluar dari sarangnya, kalian tunggu saja disini. Pasti si bocah akan datang kemari untuk mencari temannya." Cin Lian Hin sangat kegirangan. Pikiranya memang hal itu sangat baik, tidak berabe lagi harus memancing Lo In keluar dari sarangnya yang banyak teman kawanan kera. Sementara itu, atas perintah si nenek, Siauw Cu Leng sudah tangkap seekor kelinci, ia potong dan daranya dibikin berceceran dari mulai pohon kembang di mana Eng Lian berdiri sampai sejauh bisa darah sang kelinci dapat dikucurkan. Jadi darah yang berceceran yang Lo In jumpai itu bukannya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ darah Eng Lian tapi darahnya sang kelinci liar yang nasibnya lagi sial ketemu Siauw Cu Leng. Ang Hoa Lobo senang dapatkan Eng Lian. Ia bawa ke sarangnya, Coa-kok yang sukar didatangi orang karena di lembah itu kesohor banyak ularnya. Di sana Eng Lian dibujuk lagi oleh Ang Hoa Lobo, dijanjikan ia akan dibebaskan dan diantarkan kepada Lo In kalau ia sudah turunkan ajaran menakluki kawanan ular. SI dara cilik dapat dibujuk, tanpa banyak pikir ia lantas berikan pelajaran pada Ang Hoa Lobo. Hatinya sudah kepingin buru-buru ketemu Lo In lagi. Ia kuatirkan putus asa mencari dirinya yang diculik oleh si Nenek Kembang Merah. Kalau ia sudah menurukan pelajaran menakluki ular kepada Ang Hoa Lobo, pikirnya, ia akan mendapat kebebasannya dan segera dapat pulang ke rumahnya bertemu pula dengan adiknya. Dasar anak kecil, masih belum tahu kecurangannya manusia. Eng Lian kena dikibuli Ang Hoa Lobo sebab setelah si nenek dapat ilmu menakluki ular bukan saja kebebasannya si dara cilik tidak diberikan, malah Eng Lian dipakai alat untuk keuntungannya Ang Hoa Lobo dan gula-gulanya (Siauw Cu Leng). "Popo." kata Eng Lian pada suatu hari. Ia sekarang memanggil popo atas usul si nenek sebab katanya diantara mereka tidak ada permusuhan dan malah dengan panggilan yang halus itu, kedengarannya lebih mesra dan lebih dekat hubungan keluarga. "Aku sudah turunkan pelajaran menakluki ular, kapan aku dibebaskan dan ketemu lagi denan adik In ? Dia tentu sudah menunggu-nunggu aku dengan tidak sabaran."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ang Hoa Lobo tertawa ramah. Katanya, "Oh, besok ada hari baik. Tanggal 7 bulan 7, aku akan antarkan kau kembali ke rumahmu dan ketemu lagi dengan Lo In." Eng Lian senang mendapat jawaban itu. Ia menubruk Ang Hoa Lobo, memeluk dengan mesra, katanya berbisik, "Popo, kau sangat baik......." Si nenek mengelus-elus rambut kepalanya Lian. "Anak Lian," katanya, "Besok ada hari berpisahan kita. Maka sebentar malam sebaiknya aku mengadakan sedikit perjamuan untuk memberi selamat jalan padamu. Sebab belum tahu kapan kia bisa ketemu lagi." "Oh, tidak Popo. Nanti aku dengan adik In akan menyambangi kau disini. Jangna lupa, kalau adik In kemari, kau mau juga akan memberi obat pemunah pada mukanya adik In yang hitam supaya ia dapat kembali pada wajahnya yang asli." demikian si dara cilik nyerocos, tampaknya ia sangat manja. Ang Hoa Lobo mendengar kata-kata Eng Lian anggukanggukkan kepalanya. "Tentu, itu jangan kau minta juga aku akan sembuhkan muka anak In." sahutnya ramah. Hatinya si dara cilik makin girang. Pada malamnya lantas diadakan perjamuan sederhana. Eng Lian yang tidak biasa minum arak, ia hanya disuguhi teh saja. Teh yang wangi dan menyegarkan badannya. Maka ia beberapa kali meneguk isi cangkir yang saban kali disilahkan minum oleh Ang Hoa Lobo.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Si nenek dan Siauw Cu Leng dengan gembira menemani pesta perpisahan itu. Setelah beberapa cangkir teh masuk dalam perutnya Eng Lian, si dara cilik tiba-tiba menguap beberapa kali lantas bangkit dari duduknya sambil berkata, "Aku sudah ngantuk, biarlah aku tidur lebih dahulu........." Baru saja ia mengucapkan 'dahulu........' lantas roboh terkulai, dengkulnya dirasakan lemas. Lantas saja ia tidur di lantai, lupa akan keadaan disekitarnya. "Hehehe !" terdengar Ang Hoa Lobo ketawa seram. "Hebat obatmu, cici !" memuji si Iblis Alis Buntung. "Ini baru tidur saja. Sebentar kalau dia sudah siuman, kau boleh lihat bagaimana pengaruh obatku yang kuberikan padanya. He he he......" si nenek berkata sangat bangga tampaknya. Eng Lian diantapkan saja tidur di lantai, sementara Ang Hoa Lobo teruskan makan minumnya bersama Siauw Cu Leng dengan gembira. Kira-kira 1 jam sudah berlalu, tampak si gadis cilik mulai mendusin. Eng Lian kucak-kucak matanya kemudian bangkit dari rebahnya. Matanya yang jeli halus kini berubah jadi beringas seperti kerasukan setan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Hi...hi....hi...........hihihi.........!" tiba-tiba Eng Lian ketawa menyeramkan. "Bagaimana ?" Ang Hoa Lobo tanya Siauw Cu Leng yang saat itu jadi bengong melihat kelakuan Eng Lian. "Begini !" sahut si Iblis Alis Buntung seraya mengacungkan jempolnya. Beringas sikapnya Eng Lian, menakutkan. Matanya terus mengawasi Ang Hoa Lobo, tapi yang diawasi tinggal tenangtenang saja, malah ketawa ramah. Tiba-tiba........ Eng Lian berteriak keras, lalu menubruk si nenek. Kedua tangannya diangkat hendak mencengkeram muka si nenek. Tapi dengan mudah kedua tangan si dara cilik dipegangnya, lalu berkata, "Eng Lian, jangan kurang ajar kepada suhu. Lekas berlutut !" Sungguh mengherankan. Kata-kata Ang Hoa Lobo diturut dengan serentak. Eng Lian jatuhkan dirinya berlutut, sambil mengucap 'Suhu'. Toan Bi Lo-mo Siauw Cu Leng hanya mendengar dari Ang Hoa Lobo bahwa 'istrinya' itu mempunyai satu kepandaian mengherankan. Ia belum mau percaya sebab kalau belum melihat buktinya. Sekarang dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan kepandaian istimewa dari Ang Hoa Lobo. Diamdiam bulu tengkuknya dirasakan pada berdiri, seram, makin takut ia pada si nenek. "Cu Leng." si nenek berkata pada si Iblis Alis Buntung yang saat itu kelihatan duduk termangu-mangu. "Inilah kepandaian

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ yang diwariskan oleh suhuku, Lambay Mo Lie kepadaku, murid tunggalnya. Obat itu dinamai 'Cian jit su su hun' (Obat bubuk mematikan ingatan seribu hari). Siapa yang minum akan membuat lupa siapa dirinya dan kejadian-kejadian yang lampau, dia hanya mempunyai ingatan ada punya suhu, kepada siapa dia harus setia dan menurut segala perintahnya. "Sekarang bagaimana kita harus berbuat atas dirinya ?" tanya Siauw Cu Leng. "Eng Lian ada punya sepasang ular kecil." kata si nenek. "Warnanya kekuning-kuningan seperti emas. Ditaruh dalam sebuh bumbung mungil yang dia bawa-bawa dibadannya. Kalau aku tanya kenapa sepasang ular itu tidak dia lepas, katanya untuk menjaga dirinya. Dia ada seorang lemah, tidak pandai silat. Kalau ada orang hendak berbuat jahat padanya, dia dapat melepaskan ularnya untuk menggigit. Siapa yang kena digigit oleh ular emasnya itu akan keracunan dan dalam tempo setengah jam, kalau tak mendapat obat pemusnahnya bakal mati dan tubuhnya lumer menjadi air tanpa bekas.........' "Ah, sampai begitu hebatnya ?" menyela Siauw Cu Leng, ketakutan dia. "Itu aku belum buktikan sendiri. Mungkin omongannya tidak salah. Katanya sepasang ular itu adalah pemberian ayahnya dengan pesan kalau tidak keliwat terpaksa jangan dilepaskan untuk membunuh orang. Makanya sampai sebegitu jauh dia simpan saja sepasang ular emas itu dalam bumbung di badannya. "Aku tidak melihat dia kasih makan ularnya." kata Siauw Cu Leng.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Sepasang ular itu bisa tiga bulan berturut-turut tidak makan." menerangkan Ang Hoa Lobo. "Ini aku tahu dari Eng Lia. Makanannya apa, aku sendiri tidak tahu sebab si Lian tidak mau mengatakan padaku." "Kalau sepasang ular itu begitu jahat, paling baik kita rampas saja dari padanya, kita bunuh mati. Jadi tidak membahayakan kita." usul Siauw Cu Leng. "Jangan, jangan." sahut Ang Hoa Lobo seraya goyang-goyang tangan. "Mati atau hidup sepasang ular itu bagi kita tidak penting." "Kalau begitu, bagaimana kalau kita takluki dia dan dijadikan alat untuk kita. " usul Siauw Cu Leng bernapsu. "Tidak bisa." sahut si nenek. "Sepasang ular itu tak dapat ditakluki oleh kita kecuali oleh Eng Lian yang menjadi majikannya. Juga tidak akan membahayakan pada kita karena dalam keadaan tidak sadar, Eng Lian tentu akan menjadi alat kita yang dapat kita gunakan untuk membunuh musuh-musuh kita. Ini bukannya baik ?" Siauw Cu Leng ketawa nyengir. "Eng Lian selain punya senjata ampuh itu, juga punya senjata lainnya yang tidak kurang ampuhnya." menerangkan Ang Hoa Lobo. "Senjata apa, cici ?" tanya Siauw Cu Leng. "Setelah makan obatku, pikirannya menjadi linglung, gigitan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ giginya akan membuat orang yang digigitnya akan kepanasan seperti dibakar jantungnya dalam tempo lima menit setelah mana si korban akan sembuh kembali tapi ingatannya lantas berubah dan tunduk kepada Eng Lian, dapat diperintah sesukanya Eng Lian....." "Ah, cici....... aku takut ! Kalau orang yang digigit Egn Lian itu dapat diperintah Eng Lian. Bagaimana kalau Eng Lian perintah orang menghajar kita ?" "Tua bangka tolol !" jengek si nenek ketawa. "Mana bisa Eng Lian suruh hajar kita sebab Eng Lian ada di bawah pengaruh kita." Siauw Cu Leng membungkam. Sementara itu, Eng Lian tinggal berlutut di depan Ang Hoa Lobo bagaikan patung. "Sekarang Eng Lian sudah tidak ingat lagi akan dirinya. Perlu dia mendapat pelayan-pelayan untuk melayaninya. Sebab mana aku yang menjadi suhunya melayani dia mandi, makan, temani kongkow segala. Dia harus mempunyai banyak pelayan." Ang Hoa Lobo utarakan pikirannya. "Habis, dari mana kita cari pelayan begitu banyak ?" tanya Siauw Cu Leng, garuk-garuk kepala. "Culik. Kenapa kau tidak bisa culik anak gadis orang ?" bentak si nenek. Si Iblis Alis Buntung ketawa nyengir. Memang jalan yang paling mudah untuk mendapati pelayan-pelayan Eng Lian

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ harus menculik gadis-gadis orang. Demikian, dengan menggunakan kepandaiannya yang tinggi, Ang Hoa Lobo dan Siauw Cu Leng dalam beberapa hari saja sudah dapat menculik banyak gadis-gadis dan anak lelaki yang berusia tanggung sebaya dengan Eng Lian. Semuanya dicekoki obat oleh Ang Hoa Lobo supaya ingatannya masingmasing lenyap. Apa yang dipikirkan mereka hanya punya 1 suhu (guru) pada siapa haru setia dan menurut segala perintahnya. Yang mereka anggap suhunya adalah Eng Lian, bukannya Ang Hoa Lobo sebab si nenek sudah menjadi suhunya Eng Lian. Tegasnya Ang Hoa Lobo menjadi sucow (kakek guru) dari itu sekian banyak wanita dan pria tanggung. Senang bukan main hatinya Ang Hoa Lobo melihat muridnya Eng Lian dan cucu muridnya demikian banyak. Tentu saja ada meminta biaya besar untuk mengongkosi mereka. Dari mana di dapat biaya untuk itu ? Gampang. Suruh saja si Iblis Alis Buntung mencuri atau membegal, maka biaya didapatkan dengan mudahnya. Dalam sedikit tempo saja, Eng Lian berubah menjadi ratu tanpa mahkota. Semua dayang-dayang yang menjadi pengiringnya berseragam sutra putih yang tipis, pakai ikat kepala juga dari sutra putih tertaneap sekuntum bunga dari sutra merah. Sebaliknya, pria pakaiannya dari sutra kuning menyolok, ikat kepalanya juga dari sutra kuning, tertancap sekuntum bunga dari sutra merah seperti para wanita. Ang Hoa Lobo namakan prajuritnya ini Ang Hoa Kun atau Pasukan Kembang Merah, simbol (tanda) yang si nenek paling

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ suka. Eng Lian berpakaian sutra tipis kuning keemas-emasan, lapisnya dari sutra warna dadu sangat tipis hingga tubuhnya yang halus putih berbayang. Ikat kepalanya dari sutra putih dengan burung-burungan tengah mematuk setangkai bunga merah. Kalau kepalanya Eng Lian bergerak, burung-burungan itu angguk-anggukan karena dipasangi per. Indah sekali dan menarik perhatian. Para dayang, kecuali sutra tipis warna putih yang merupakan pakaian luar, di bagian dalam tubuhnya dibungkus oleh sutra biru ekstra tipis yang ketat hingga tubuhnya yang putih seperti tercetak, menggiurkan, merangsang napsu lelaki yang gampang goyah imannya. Sungguh jempol Ang Hoa Lobo menciptakan mode pakaian yang merangsang napsu birahi. Rupanya si nenek sudah mempunyai tujuan tertentu menciptakan mode pakaian istimewa ini, yang membuat Siauw Cu Leng bengong dan telan ludah. Ang Hoa Lobo diam-diam bukannya tidak tahu Siauw Cu Leng yang ceriwis mengiler sampai telan ludah untuk 'cicipi' salah satu bidadari bikinan itu. Tapi ia pura-pura tidak tahu. Ia mau kasih hajar pada suami diluar kawin itu supaya kapok atas perbuatannya yang nyeleweng. Begitulah telah terjadi. Sore itu Siauw Cu Leng berusaha pulang dari bepergiannya. Ia dapatkan Ang Hoa Lobo dan Eng Lian tidak ada ditempatnya. Ia mencari-cari tak terdapat di sekitar rumah. Diam-diam ia sudah dekati salah satu dayangnya Eng Lian yang bernama Cui Sian yang waktu itu sudah benahi pakaiannya Eng Lian yang habis tukaran. Cui

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sian ketawa-ketawa diajak ngobrol oleh Siauw Cu Leng. Sudah tentu ketawanya tidak wajar, linglung, tak tahu dimana dirinya berada. Memandang tubuhnya Cui Sian yang seperti tercetak dibalik pakaiannya yang gerombongan tipis, bukan main ngilernya si ceriwis Siauw Cu Leng. Pikirnya ini ada ketika baik, kenapa dia tak mau gunakan ? Apalagi melihat keadaannya Cui Sian seperti yang hilang ingatannya, apa ia bisa bikin kalau dia perkosa atas dirinya ? Napsu birahinya timbul dengan serentak, tak dapat ia mengendalikannya. Ia maju lebih dekat, menyambar tangan orang yang putih halus. Cui Sian hanya tertawa haha hihi seraya berontakberontak melepaskan tangannya dari cekalan Siauw Cu Leng. "Cui Sian, mari kita main." berkata Siauw Cu Leng berbareng ia memeluk dan mencium pipi Cui Sian. Beradunya tubuh yang hangat membuat Siauw Cu Leng seperti kalap. Ia pondong si nona hendak dikerjai di atas pembaringan tapi........'Aiyoo !'. Sekonyong-konyong Siauw Cu Leng berjengkit, serentak ia melepaskan pondongannya dan tubuhnya Cui Sian terbanting di lantai. "Hihihihi........." si nona ketawa seraya lari keluar dari kamar Eng Lian. Kenapa Siauw Cu Leng ? Itu hasil dari pekerjaan yang tidak sopan. Ia memondong Cui Sian dengan maksud keji tapi sebelum napsu jahatnya kesampaian, lengannya sudah kena digigit oleh Cui Sian. Bekas gigitan sakit bukan main sehingga mengeluarkan teriakan 'Aiyoo !' dan lepaskan tubuh si nona dari pondongannya. Seketika itu ia terkulai roboh, hawa panas dirasakan meluap ke jantungnya seperti dibakar. Ia menjeritjerit beberapa kali kemudian tenang lagi dan dapat berdiri pula sebagaimana biasa, hanya.... ingatannya hilang. Keadaannya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tidak beda seperti korban-korban lainnya yang kena dicekoki obatnya Ang Hoa Lobo. Siauw Cu Leng tidak sadar dimana dirinya berada. Perlahanlahan ia jalan dan berkumpul dengan golongan pria dari Ang Hoa Kun. Korban dari obatnya Ang Hoa Lobo yang istimewa memang benar hilang ingatannya, tidak ingat lagi keadaan dirinya siapa. Tapi dapat diajak ngobrol, bersenda gurau, ketawaketawa apabila yang diobrolkan dapat mengitik urat ketawa seperti juga keadaannya ada normal. Dia tidak akan digigit kalau salah satu dari 3 bagian dari anggautanya tidak kesentuh. Tiga bagian anggauta penting itu adalah jidat, buah dada dan perut. Kalau salah satu bagian ini kena kesentuh, kontan si korban akan sadar bahwa dirinya dalam bahaya. Lantas saja menggigit macam anjing gila menularkan racun. Giginya nancap pada bagian daging yang digigit, menimbulkan hawa panas nyelusup ke jantung seperti dibakar tapi hanya sebentaran. Kemudian si korban gigitan normal lagi cuma saja penyakit hilang ingatannya menular dan ia keadaannya akan seperti yang menggigitnya. Tiada seorang pun yang dapat tahu rahasia tiga bagian anggauta yang tak dapat disentuh ini kecuali Ang Hoa Lobo yang mewarisi ilmu sakti dari Lamhay Mo Lie. Buah dadanya Cui San yang bulat menonjol membikin napsu iblisnya Siauw Cu Leng melonjak, tak dapat ia melewatkan kesempatan baik pikirnya. Diwaktu memondong Cui Sian ia sudah mencium buah dada si nona dan.... karena sentuhan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mulut pada buah dada menyebabkan Cui Sian sadar akan bahaya mengancam dirinya, otomatis seketika itu ia menggigit lengannya si ceriwis sehingga menjerit kesakitan. "Hehehe........." tertawa Ang Hoa Lobo ketika ia pulang melihat keadaannya Siauw Cu Leng yang jadi hilang ingatannya. Ia tidak mengenali istrinya, hanya ia memberi hormat pada Eng Lian seperti kawan-kawannya yang lain. "Inilah ada satu hukuman bagi orang yang menyeleweng. Cu Leng, Cu Leng, sampai kapan tabiatmu yang buruk itu bisa dibuang ? Hehehe........" Siauw Cu Leng seperti tidak mendengar kata-kata Ang Hoa Lobo, ia diam saja. Si nenek lalu membisiki kupingnya Eng Lian, segera ia berkata, "Siapa diantara kalian yang diganggu oleh Yaya ? Maju ke depan !" Saat itu Eng Lian sudah duduk diatas kursi kebesarannya, didampingi oleh Ang Hoa Lobo dan dikitari oleh dayangdayangnya yang cantik-cantik. Eng Lian berkata pada dayangdayangnya yang berkumpul disitu. Tanpa Eng Lian mengucapkan kedua kalinya, segera tampak satu dara muncul tampil ke depan ialah Cui Sian. Ia ini berlutut di depan Eng Lian. Ang Hoa Lobo perhatikan pakaian Cui Sian, ternyata ada yang sobek pada bagian buah dadanya. Si nenek manggut-manggut melihat itu. Ia sudah lantas menduga sobeknya baju si nona pada bagian buah dadanya adalah kerjaan tangan nakal dari Siauw Cu Leng.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Setelah hilang ingatannya, Eng Lian merubah panggilannya kecuali pada si Nenek Kembang Merah sudah ia panggil Popo (nenek), kepada Siauw Cu Leng ia panggil Yaya (kakek atau engkong) yang biasanya si dara cilik panggil si nenek dan si kakek jahat. "Cu Leng, atas kelakuanmu yang ceriwis, aku hukum kau untuk beberapa lamanya menjadi anggauta Ang-hoa kun !" berkata si nenek. Siauw Cu Leng tinggal membisu saja. Ang Hoa Lobo lupa bahwa Siauw Cu Leng tak dapa menangkap omongannya kecuali omongan itu keluar dari mulutnya Eng Lian sebab Eng Lianlah dalam benaknya ada ia punya suhu. Kapan Ang Hoa Lobo ingat akan keadaan itu, maka ia suruh Eng Lian yang bicara pada Siauw Cu Leng dan sekarang si kakek ceriwis kelihatan pucat mukanya, ia maju ke depan dan jatuhkan diri berlutut di depan Eng Lian sambil manggutmanggut dia berkata, "Hamba terima salah, mohon Siancu punya belas kasihan." Lucu kelakuan Siauw Cu Leng hingga Ang Hoa Lobo yang melihatnya tertawa terpingkal-pingkal. Setelah mana, tiba-tiba hatinya merasa menyesal. Pikirnya jelek, Siauw Cu Leng ada lakinya dan teman diajak berunding. Kalau sekarang ia ditinggal begitu, hilang ingatannya, dengan siapa dia dapat bicara untuk mendamaikan cita-citanya lebih jauh. Lantaran berpikir demikian, maka si nenek terpaksa mengembalikan pula ingatannya si kakek ceriwis, dikasih obat pemunahnya. Obat itu diaduk dengan air teh dalam sebuah mangkok, di depan siapa ia berkata, "Nah, kau minumlah ini !"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Siauw Cu Leng yang masih tetap berlutut tidak meladeni perintah Ang Hoa Lobo, hanya matanya saja mengawasi si nenek. Ang Hoa Lobo heran, tapi segera pikiran terangnya berkelebat. "Ah, dasar sudha jadi nenek, pelupa. Kenapa aku berbuat begini." ia berkata-kata sendirian sambil jalan menghampiri Eng Lian. "Anak Lian, kau suruh orangmu untuk kasih mangkok obat ini pada yayamu supaya diminum isinya." Ang Hoa Lobo kata pada Eng Lian seraya menyodorkan mangkok obat pada si dara cilik yang lantas menyambuti kemudian diserahkan pada salah satu dayangnya untuk melakukan perintahnya Ang Hoa Lobo. Kiranya si nenek kembali lupa bahwa anggauta-anggautanya Ang-hoa-kun hanya tunduk perintah Siancu (dewi) yang dianggap suhunya, lain orang jangan harap dapat memerintah meskipun Ang Hoa Lobo yang menjadi Sucownya (kakek guru). Mendengar perintah Siancu, maka Siauw Cu Leng tanpa raguragu sudah lenyap terima mangkok yang disodorkan padanya dan minum habis isinya. Sebentar lagi tampak ia menguap beberapa kali, lalu roboh dilantai dan tidur pulas sampai mengorok. Sementara itu Eng Lian sudah suruh Cui Sian bangun dari berlututnya dan disuruh tukar pakaiannya yang sobek. Cui Sian menurut lalu meninggalkan ruangan itu. Eng Lian ada memelihar sepasang ular kecil, warnanya keemas-emasa yang disimpan dalam sebuah bumbung kecil

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mungil, entah dari dahan apa bumbung itu dibuat, bobotnya enteng dan licin mengkilat. Sepasang ular itu panjangnya masing-masing hanya tiga cun (dim), gesit luar biasa. Kalau bumbung ditekan terbuka maka mereka segera mencelat keluar dan menyambar pada korbannya untuk menggigit. Racunnya sangat jahat karena korbannya dalam tempo setengah jam akan mati dan badannya lumer menjadi air tanpa meninggalkan bekas, kalau tidak keburu dapat obat pemusnahnya. Eng Lian tadinya tidak percaya demikian jahat bisa ular emasnya itu. Tapi setelah menyaksikan sendiri, ia meleletkan lidahnya. Itulah ia lihat pada waktu sepasang ular itu hendak diwariskan padanya oleh sang ayah. Maksudnya untuk menjaga dirinya. Pada saat itu telah dicoba sang ular disuruh menggigit ular besar yang panjangnya satu meter. Benar saja ular besar itu mati setelah kena digigit setengah jam lamanya, bangkainya lumer menjadi air. Sang ayah memesan kalau tidak sangat perlu, senjata ampuh itu jangan dikeluarkan karena akibatnya sangat mengerikan. Kepada Lo In ia masih belum mau ceritakan ia ada mempunyai senjata ampuh itu. Takut Lo In nanti melarang ia membawa-bawanya, sedang ia sangat sayang pada sepasang ular itu, seakan-akan jimatnya. Berdasarkan sepasang ular emas itu dan kebetulan Coa-kok (Lembah ular) ada menjadi tempat kediamannya, maka Ang Hoa Lobo telah memberi gelaran kepada Eng Lian, Kim Coa Siancu atau Dewi Ular Emas. Memang gelaran ini sangat tepat untuk Eng Lian karena si dara cilik adalah penakluk ular. Untuk membikin si dara cilik lebih ditakuti lagi namanya, disamping sudah punya kepandaian menakluki ular dan sepasang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ senjata ampuhnya ular emas, Ang Hoa Lobo dengan tidak mengenal capek, siang malam dia didik Eng Lian dengan ilmu silat, rahasia ilmu pedang dan pukulan tangan kosong yang hebat diturunkan semua pada si dara cilik hingga dalam tempo pendek Eng Lian sudah berubah dirinya dari gadis cilik yang lemah gemulai menjadi gadis cilik yang gesit dan tangkas. Tinggal menggembleng lwekangnya (tenaga dalam) saja, setelah mana Eng Lian dapat digolongkan sebagai jago kelas satu. Setelah siuman kembali, Siauw Cu Leng nampak dirinya tidur menggeletak di atas lantai, ia lantas ingat akan kesalahannya. Ia jadi ketakutan pada Ang Hoa Lobo. "Orang she Siauw." kata si nenek, setelah tertawa terkekehkekeh. "Masih ada nyali untuk berbuat yang bukan-bukan lagi nanti ? Kali ini aku mau ampunkan selembar jiwamu tapi lain kali, hmm !" Siauw Cu Leng malu, tidak berani ia angkat kepala. Ia masih tinggal duduk dilantai, kalau tidak Ang Hoa Lobo membentak, katanya, "Lekas bangun, atur pekerjaanmu sebagaimana biasa !" Siauw Cu Leng dengan roman lesu dan malu telah meninggalkan ruangan itu untuk berkumpul dengan 'Pasukan Kembang Merah' di lapangan latihan dimana ia biasa mengajar ilmu silat kepada mereka. Ang-hoa-kun bagian pria, mendapat didikan dari Siauw Cu Leng sedang buat bagian wanitanya dididik sendiri oleh Ang Hoa Lobo. Ketika hari pertama mendidik anak buahnya, si nenek pernah berkata pada Siauw Cu Leng. "Kita masing-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ masing mendidik orang-orang muda yang berbakat. Sampai dimana kepandaian mereka, kita tidak tahu. Tapi satu waktu nanti aku akan mengadakan pertemuan umum, dimana muridmuridmu akan dihadapkan dengan murid-muridku. Lihatlah siapa yang lebih jempol mendidiknya !" Karena sudah ada kata-kata demikian dari Ang Hoa Lobo, maka Siauw Cu Leng tidak berani alpakan kewajibannya dan mendidik orang-orangnya dengan sungguh-sungguh. Maka tidak heran kalau dalam sedikit waktu orang-orangnya menjadi pandai silat juga walau belum boleh dikatakan masuk kelas satu. Kata-kata Ang Hoa Lobo pada Siauw Cu Leng hanya sebagai anjuran pada si kakek ceriwis. Sebab umumnya anak murid Ang Hoa Lobo ada lebih tinggi ilmu silatnya karena dididik oleh orang yang pandai seperti Ang Hoa Lobo. Kepandaian Siauw Cu Leng kalah jauh dengan si nenek, apa lagi lwekang Ang Hoa Lobo ada sangat tinggi. Tidak sembarangan Ang Hoa Lobo maupun Siauw Cu Leng menculik anak-anak tanggung pria dan wanita. Mereka memilih hanya mereka yang dinilai berbakat untuk mendapat didikan ilmu silat, barulah diculik dibawa ke Coa-kok. Tidak heran kalau ada beberapa anak jago-jago silat kenamaan yang hilang lenyap diculik Ang Hoa Lobo atau Siauw Cu Leng sehingga orang tuanya menjadi gelagapan mencarinya. Adanya penculikan-penculikan itu telah menghebohkan kalangan Kangouw.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Jago-jago silat bergerak dengan serentak untuk mencari jejaknya si penculik. Sebenarnya perbuatan-perbuatan menculik dari kedua iblis itu susah dicari jejaknya kalau tidak si nenek yang 'sok' dengan kepopuleran nama. Pada belakangan ini, ia setelah menculik anak orang telah meninggalkan nama Kim Coa Siancu. Malah yang paling menghebohkan adalah kejadian dirumahnya Hekhouw Ma Liong, guru silat kenamaan di kota Lengkoan, Hokkian, dimana Ang Hoa Lobo membuat huru hara. Sudah beberapa hari memang Ang Hoa Lobo ada tinggal di kota Lengkoan untuk mencari gadis-gadis yang berbakat untuk menjadi pelayannya Eng Lian. Ia ada mengincar pada Ma Sian Bwee ialah gadisnya Hek-houw Ma Liong yang usianya hampir sebaya dengan Eng Lian. Sian Bwee tubuhnya kecil, gesit dan cerdik rupanya. Maka Ang Hoa Lobo sangat ketarik padanya. Untuk terangkan meminta langsung pada orang tuanya, sudah tentu tidak mungkin. Maka ia gunakan jalan sebagaimana biasa menculik anak orang dengan menggunakan obat pulas, tidak ada yang merintanginya. Tapi sekali ini perhitungan Ang Hoa Lobo meleset. Ma Liong bukan sembarangan guru silat, ia memang jago, murid kepala dari Siang-tauw-niauw Kam Eng Kim, Si Burung Kepala Dua yang terkenal dalam kalangan jago-jago silat propinsi Hokkian. Malam itu Ma Liong sedang berlatih dengan tiga orang muridnya, Mak Kian anaknya sendiri, Gouw Liu Pa dan Hoan Tek Huy. Tempat berlatih letaknya di pekarangan belakang rumah, cukup lebar hingga mereka berlatih dengan penuh semangat.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Cuaca malam itu tidak menentu, kadang-kadang terang dan kadang-kadang gelap disebabkan sang awan yang menutupi bulan muda baru nongol. Hek-houw Ma Liong yang tengah memberi petunjuk-petunjuk pada murid-muridnya, tiba-tiba bungkam mulutnya sambil matanya mengawasi ke jurusan loteng rumahnya. Sekilas ia merasa seperti melihat ada mencelat ke sana sesosok bayangan gesit luar biasa, sebentar saja sudah lenyap. Hatinya merasa tidak enak sebab diloteng sana ada tidur ia punya anak gadis, Sian Bwee, hanya ditemani oleh seorang pelayannya. Hek-houw Ma Liong menduga bayangan itu mungkin ada Cay-hoa-cat (maling tukang petik bunga), hatinya makin tidak enak akan keselamatan anak gadisnya. "Kalian teruskan berlatih, aku ada urusan sebentar." ia berkata tiba-tiba kepada ketiga muridnya berbareng ia sudah gerakkan badannya melesat ke bawah loteng, dari mana ia enjot tubuhnya untuk terus hinggap diatas melalui langkan. Perlahan-lahan ia menghampiri pintu kamar anaknya. Melalui lubang kunci, ia dapat lihat dalam kamar ada satu nenek sedang membungkus tubuh anaknya dengan kain sprei. Bukan main marahnya Hek-houw Ma Liong. Ia tendang pintu hingga terbuka dan lompat masuk menerjang si nenek yang tiada lain adalah Ang Hoa Lobo. Mendengar pintu ditendang terbuka, dari mana ada bayangan lompat menerjang dirinya, Ang Hoa Lobo cepat berkelit sambil lepaskan bungkusan yang saat itu sudah siap diangkat ke pundaknya. "Maling kurang ajar, kau berani ganggu keluarga Ma ?" demikian ada bentakan si Macan Hitam Ma Liong dalam

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ marahnya ketika ia menerjang masuk dalam kamar Sian Bwee. Ia menggunakan tipu 'Beng houw Pok yo' atau 'Harimau buas menubruk kambing', dua tangannya diulur mencengkeram kedua pundak si nenek untuk dengan sekaligus menarik copot lengan orang sebatas pundak. Satu serangan yang ganas karena si Macan Hitam Ma Liong sangat gusar kepada si nenek. Mungkin serangan Ma Liong yang ganas dan cepat itu berhasil kalau yang diserang itu bukannya Ang Hoa Lobo, si nenek yang sudah kawakan menggempur jago-jago silat dimana saja. Dengan sedikit menggeser badannya, Ang Hoa Lobo sudah dapat meluputkan diri dari serangan si Macan Hitam. Melihat serangannya gagal, si guru silat sudah menyerang lagi dengan gerakan 'Coa ong sim hiat' atau 'Ular mencari liang'. Ia merangsak, tangan kirinya menyambar perut sedang tangan kanannya berbareng nyelonong ke arah mata, dua jarinya hendak mengorek sepasang lampu lawan. Tentu saja Ang Hoa Lobo tidak ijinkan orang main-main dengan matanya. Tangan kanannya menekan ke bawah tangan Ma Liong yang menyambar perutnya sedang tangan kirinya menyentil dengan cepat sekali pada 'siang-yang-hiat', jalan darah di jari telunjuk lawan yang mau mengorek matanya. 'Nyer !' rasanya ketika telunjuknya kena disentil. Ma Liong rasakan kesemutan dan ngilu. Tapi ia ada jago silat yang keras kepala dan bandel, hanya sebentar saja ia sudah dapat membebaskan rasa kesemutan dan ngilu. "Nenek maling !" bentak Hek-houw Ma Liong gemas tapi agak jeri juga melihat si nenek sangat lihai. Dua serangannya yang dahsyat dapat dipatahkan dengan mudah, malah ia hampir

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dirobohkan dengan totokan 'siang-yang-hiat'. "Aku tidak bermusuhan dengan kau. Kenapa kau mau mencelakakan keluarga Ma ?" tanya Ma Liong. "Aku tidak pernah mencelakakan keluarga Ma, aku hanya mau ajak anak gadismu untuk menjadi pelayannya Kim Coa Siancu....." jawab Ang Hoa Lobo tenang-tenang. Tapi ia tak dapat meneruskan kata-katanya karena lantas dipotong oleh Ma Liong, "Hah ! Apa kau kata ? Kim Coa Siancu ? Siapa kau, apa kau Kim Coa Siancu sendiri ?" "He he he !" tertawa Ang Hoa Lobo yang melihat Hek-houw Ma Liong seperti yang ketakutan mendengar disebut Kim Coa Siancu. "Aku bukannya Kim Coa Sincu, tapi aku ada suruhannya saja. Kepandaianku amat rendah, beda jauh dengan majikan Kim Coa Siancu yang dapat pergi dan pulang dengan hanya berkesiur angin saja. Tak seorang pun dapat melihat bayangannya kalau dia memasuki rumah orang." (Bersambung) Jilid 05 Hek-houw Ma Liong terkejut. Pikirnya, orang suruhannya sudah begini lihai. Sudah terang si nenek tidak ngebohong kalau Kim Coa Siancu sendiri ada jauh lebih lihai dari padanya. Meskipun sangat jeri, ia tidak ingin kehilangan anak gadisnya. Begitu melihat Ang Hoa Lobo sudah menyentuh pula tubuh anak gadisnya, hendak diangkat. Lantas ia kalap. Ia terjang si nenek dengan pukulan maut, tapi Ang Hoa Lobo hanya geraki badannya sedikit, lantas tangan kanannya diulurkan untuk menangkis. 'Krak' segera terdengar satu suara, berbareng si Macan Hitam lompat mundur sambil pegangi tangan kirinya yang telah patah tulangnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tiba-tiba tiga sosok tubuh sudah menyerbu masuk. Mereka ternyata murid-muridnya Ma Liong. Si guru silat melihat kedatangan murid-muridnya bukannya girang malah ia jadi ketakutan karena ia sudah perhitungkan, mereka bukan tandingannya si nenek. Ia hendak membuka mulut mencegah tapi sudah terlambat karena Gouw Liu Pa yang berangasan sudah menerjang Ang Hoa Lobo dibantu oleh Hoan Tek Huy sedang Ma Kian menolong ayahnya yang dalam semaput kesakitan. Ang Hoa Lobo pikir tidak seharusnya ia membuang-buang waktu, maka ketika si berangasan Gouw Liu Pa mengulur tangannya ke arah dada, ia menyampok dengan tangan bajunya yang berisi lwekang. Tentu saja si berangasan tidak tahan. Kedua lengannya ia rasakan seperti copot. Si nenek susul dengan totokan ke iga kiri sehingga Gouw Liu Pa seketika itu juga roboh di lantai. Tek Huy melihat kawannya hanya segebrakan saja dirobohkan, hatinya panas lalu menerjang Ang Hoa Lobo. Si nenek berkelit ke samping, dari mana jarinya yang kurus diulur meluncur menotok 'ceng-leng'hiat' di lengan kanan Tek Huy sehingga merasakan lengan yang tertotok itu kesemutan dan ngilu kemudian ia pun roboh terkulai seperti Gouw Liu Pa. Ma Kian terkejut. Apa mau, sebelum ia turun tangan, dengan kegesitannya si nenek sudah mendahului si anak guru silat, menotok 'thian-ki-hiat' di iga kanan. Lantas Ma Kian juga roboh seperti teman-temannya. Serangan is nenek tak puas sampai disitu sebab segera menyusul si guru silat Ma Liong sendiri dibikin mendeprok di lantai karena totokan si nenek yang lihai.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Hehehe !" terdengar Ang Hoa Lobo tertawa ketika melihat musuh-musuhnya sudah dirobohkan semua. Ia menghampiri pembaringan Sian Bwee, membungkus tubuh si dara yang tak bergerak karena ditotok lalu diangkat lantas dipanggul dibawa pergi dari situ. "Aku hanya menotok tidak berat. Maka dalam tempo tidak lama kalian sudah bebas pula dari totokan. Hehehe....!" demikian si nenek meninggalkan kata-katanya ketika ia mau berjalan pergi membawa Sian Bwee. Si Macan Hitam Ma Liong dan ketiga muridnya hanya matanya saja dapat bergerak-gerak mengawasi si nenek, mulutnya tak dapat membuka suara untuk mencaci atau meminta belas kasihannya Ang Hoa Lobo supaya jangan membawa Sian Bwee. Adalah pada saat si nenek menginjakkan kakinya ditanah, barusan lompat dari atas genteng rumah tiba-tiba ia dibikin kaget dengan teguran dari belakangnya, "Jalan perlahan sedikit, orang tua. Jangan tergesa-gesa !" Ang Hoa Lobo cepat menoleh, kiranya yang berkata-kata tadi adalah seorang perempuan usia kira-kira 40 tahun. Mukanya bundar, alisnya lentik, tingginya sedang, cantik wanita itu, sedang ditangannya ada mencekal sebatang pedang yang siap untuk digunakan dimana perlu. "Kau siapa ?" tanya Ang Hoa Lobo. Wanita itu ketawa manis sebelum menjawab, "Aku adalah nyonya dari rumah ini." kemudian sahutnya, suaranya halus terang.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Oh, jadi kau ada nyonya Ma ?" tanya Ang Hoa Lobo pula. "Tidak salah, aku adalah nyonya Ma.' sahutnya. "Ingin aku menanyakan sebab apa kau orang tua mencari perkara dengan keluarga kami disini ?" "Heheheh !" tertawa Ang Hoa Lobo. "Soalnya aku mau membawa anak gadismu dirintangi oleh suamimu. Kalau tidak, tak akan aku menganggu ketentramanmu." Nyonya Ma bersenyum tawar. Alisnya tampak berkerut, "Meskipun kau sudah mengacau dalam rumahku, melukai suamiku dan menotok rubuh tiga muridnya, tidak aku tarik panjang. Kau boleh berlalu dengan tenang asal kau tinggalkan itu bungkusan yang digemblik dipunggungmu. Akur ?" kata si nyonya Ma. Diam-diam si nenek merasa heran. Ia mengawasi wanita cantik, pikirnya, bisa ada orang yang sikapnya begini tenang menghadapi musuh yang sudah timbulkan kerugian. Ucap katanya begitu merendah, seharusnya si nenek mengalah dan kembalikan bungkusan gede itu kepada nyonya Ma, tapi dasar watak si nenek mau unggul saja, tidak mau ia pulang dengan tangan kosong. Maka ia lalu menjawab, "Seharusnya aku menurut apa kau katakan, cuma dalam menjalankan perintah Kim Coa Siancu, siapa yang berani membantah ? Inilah yang menjadikan aku keberatan......." Ia tutup kata-katanya sambil putar tubuhnya, disusul dengan satu lompatan jauh untuk lantas meninggalkan si wanita cantik. Tapi niatnya si nenek tidak kesampaian sebab dibelakangnya lantas terdengar pula nyonya Ma berkata, "Kalau begitu, marilah kita main-main untuk menetapkan siapa

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ unggul !" Kapan Ang Hoa Lobo balik tubuhnya, lantas ia menghampiri nyonya Ma yang sudah siap dengan pedangnya. Melihat caranya si nyonya menyusul ia yang lari menggunakan ilmu larinya yang istimewa dengan mudah saja dapat membayangi dirinya, maka Ang Hoa Lobo menduga bahwa wanita ini bukannya lawanan empuk. Maka itu ia lalu turunkan bungkusannya yang berisi Sian Bwee kemudian menghadapi nyonya Ma, ia berkata, "Jika kau inin main-main, tidak ada halangannya kita mencoba beberapa jurus !" Toya besinya si nenek sudah disiapkan di tangan kanan. "Bagus !" kata nyonya Ma. "Nah, sambutlah seranganku !" ia menyambung tanpa ada tawar menawar lagi dalam hal siapa lebih dahulu menyerang. Rupanya nyonya Ma sangat mendongkol atas kelakuannya si nenek, meskipun sudah dilayani dengan kerendahan juga masih kepala batu saja. Dua jago betina segera sudah bertempur seru. Ilmu pedang nyonya Ma baik sekali hingga Ang Hoa Lobo berhati-hati melayaninya. Salah sedikit saja ia bisa dipecundangi dan habislah cita-citanya untuk membangun Ang-hoa-pay (Partai Kembang Merah). Maka itu si nenek Kembang merah melayani nyonya Ma dengan sungguhsungguh hingga pertarungan menjadi seru. Si wanita cantik (nyonya Ma) adalah puteri tunggal dari Siangtauw-niauw Kam Eng Kim, namanya Lian Eng dan mendapat julukan 'Lengkoan Giok-li' atau 'Wanita elok dari kota Lengkoan'. Selain kesohor kecantikannya, juga kesohor ilmu

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ pedangnya yang hebat. Maklumlah puteri tunggal dari si Burung Kepala Dua yang terkenal dalam propinsi Hokkian, semua kepandaiannya yang ada diturunkan pada Lian Eng sehingga si juwita dari Lengkoan itu menjadi jago betina yang belum menemukan tandingannya. Kepandaiannya itu ada setingkat lebih tinggi dari Hek-houw Ma Liong yang menjadi suaminya atau murid kepala dari Siang-tauw-niauw Kam Eng Kim. Pertempuran antara Lian Eng Kam dan Ang Hoa Lobo benarbenar ramai. Pedangnya Lian Eng berkelebatan mencari sasaran penting pada tubuh si nenek. Sebaliknya, Ang Hoa Lobo dengan toya besinya yang berat, berputaran dan toyanya menyambar-nyambar keluarkan suara menderu-deru. Diamdiam Lian Eng berpikir, orang suruhannya begini lihai, bagaimana dengan Kim Coa Siancu sendiri kalau menyatroni rumahnya ? Lengkoan Giok-li lalu merangsek. Pedangnya berputar sebentaran lalu dengan gerakan kilat ia menikam ke arah tenggorokan Ang Hoa Lobo. Ini ada gerakan 'Giok li touw kang' atau 'Wanita elok menyeberang sungai', salah satu jurus yang penting dari Liu-su Kian-hoat atau ilmu silat pohon Liu, yang menjadi kebanggaan ayahnya. Biasanya Lian Eng belum pernah gagal menggunakan tipu 'Giok li touw kang', tapi kali ini yang dihadapi adalah Ang Hoa Lobo. Terang tak semudah yang ia alami sebelumnya. Melihat pedang hendak menikam 'jalan makanan', si nenek menaiki badannya, toyanya dipegang dengan dua tangan dilintangi menangkis serangan, kaki kanannya berbareng bekerja menyapu kaki Lengkoan Giok-li. Ini adalah gerakan 'Liong

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ pang heng ouw' atau 'Toya naga melindungi telaga'. Melihat serangan gagal, malah kakinya hampir disapu si nenek, cepat Lian Eng ganti serangannya dengan 'Peng ouw se ie' atau 'Hujan gerimis ditengah telaga'. Pedangnya susul menyusul mengarah mta, tenggorokan, pundak dan sebagainya. Cepat gerakan pedang itu hingga kalau bukan Ang Hoa Lobo yang ilmu toyanya tinggi, siang-siang ia sudah dapat dirobohkan oleh si jago betina dari kota Lengkoan. Si nenek tahu bahayanya serangan musuh lalu memutar toyanya, dibarengi dengan suara ketawanya yang melengking, menggunakan tenaga dalamnya untuk membuat kacau pikiran musuhnya yang sedang hebat menyerang. Inilah salah satu jurus Ang Hoa Lobo yang paling ampuh yang dinamai 'Yu lim mo siauw' atau 'Di rimba sunyi iblis tertawa'. Benar saja, tipu silat si nenek membawa efek buruk bagi Lian Eng. Sebab seketika ia mendengar suara tertawa yang seram melengking, pemusatan pikirannya jadi terganggu. Hatinya tergetar oleh suara tawa Ang Hoa Lobo, serangannya jadi kacau. Kelemahan ini tidak disia-siakan oleh si nenek, toyanya yang berputar tadi berganti arah, nyelonong ke 'hoa-kay-hiat', jalan darah di bagian pundak kiri Lian Eng, kontan si wanita cantik terkulai roboh. Ia rasakan totokan ujung toya si nenek melumpuhkan lengan kirinya. Tangan kanannya masih mencekal pedang tapi tak dapat digerakkan karena kelumpuhan itu dari lengan kiri menjalar ke lengan kanan. Tidak heran kalau pedangnyajatuh dengan sendirinya dan ia mendeprok di tanah tak berdaya. "Hehehe !" tertawa si nenek. "Bagaimana nyonya Ma yang botoh ?"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ang Hoa Lobo berkata sambil bekerja, angkat dan panggul pula bungkusan gede yang terisi Sian Bwee. Setelah selesai dan tinggal berangkat, ia berkata pada Lian Eng, "Nyonya Ma, kau tak usah kuatir. Anakmu akan kupelihara seperti anak sendiri. Dia akan menjadi pelayannya Kim Coa Siancu. Belakangan hari, kalau berjumpa pula dengannya, kau akan kegirangan sebab ilmu silatnya akan berada diatas kalian suami istri. Nah, selamat tinggal........" Setelah melemparkan senyumannya yang tidak enak dilihat, si nenek meninggalkan nyonya Ma yang tidak berdaya. Lengkoan Giok-li mengawasi berlalunya Ang Hoa Lobo dengan berlinang-linang air mata. Ia sangat berduka dan penasaran anak gadisnya digondol orang tapi ia tak dapat menolongnya......... Sudah lama kita tinggalkan Kim Popo. Marilah kita lihat si nenek bandel dengan pacarnya The Sam. Bagaimana perbuatan mereka untuk dapat merebut kembali kotak yang berisi buku Tiam-hiat Pit-koat yang berada di tangan Kim Wan Thauto. Belum lama Kim Wan Thauto sampai di Kunhiang, mereka juga sudah datang menyusul dan dari kejauhan memperhatikan gerak gerik dari si Thauto beranting emas. Kim Popo tidak ambil tempat di rumah penginapan An Goan, dimana Kim Wan Thauto menginap. Ini untuk menjaga jangan sampai ia dikenali oleh Kim Wan Thauto sedang The Sam, ia suruh ambil di rumah penginapan An Goan untuk memperhatikan gerak gerik Thauto dimana bila ada kesempatan The Sam boleh turun tangan untuk merampas pulang kotak mungil berisi kitab pelajaran menotok jalan darah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ yang amat berharga. The Sam menurut perintah pacarnya. Tidak berani The Sam menghadapi Kim Wan Thauto dengan terang-terangan. Maka ia menunggu sampai si Thauto lenah, baru ia akan turun tangan. Pada malam kedua meliaht gerak gerik Kim Wan Thauto pada waktu makan malam, The Sam yang lihai matanya dapat menduga bahwa Kim Wan Thauto sedang menghadapi suatu urusan, pikirnya, pasti ia akan keluar lagi sebentar tengah malam. Ia sudah menduga pasti si Thauto akan ambil jalan dari jendela kamarnya. Supaya jangan bikin kaget orang, maka malam itu ia terus pasang mata ke jurusan jendelanya si pendeta rambut panjang. Benar lihai dugaannya sebab Kim Wan Thauto lewat tengah malam betul saja keluar melalui jendela kamarnya. Girang hatinya The Sam. Tidak lama si Thauto pergi, ia lantas masuk ke kamar Kim Wan Thauto melalui jendela tadi dimana ia menggeledah dan kegirangan menemukan barang yang diselipkan dibawah bantal. Barang itu ia masukkan ke kantongnya, kemudian meniup lilin yang ia pasang ketika ia masuk dalam kamar itu yang dalam keadaan gelap. Cepat ia keluar dari jendela dan dilain saat ia sudah berada dalam kamarnya sendiri. Setelah menyalakan lilin, ia duduk menghadapi meja. Dari sakunya ia keluarkan kotak kecil yang barusan ia sikat dari kamarnya Kim Wan Thauto. Ia pandang kotak mungil itu sekian lama lalu mencoba membukanya tapi tak dapat dibuka. Ia coba dan coba lagi,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kotak mungil itu tetap tak dapat dibuka. Setelah dipandang lagi barang itu untuk sesaat lamanya, tibatiba ia tertawa, "Hahaha ! Barng berharga memang sukar didapat, biarlah aku buka belakangan." Kemudian kotak itu ia letakkan diatas meja. Kembali ia memandangnya, tiba-tiba pikiran serakah timbul seketika. "Tidak, aku tidak akan serahkan barang ini pada Kim Nio. Aku harus miliki dulu. Bila aku sudah pandai meyakinkannya dan benar-benar dapat malang melintang dengan ilmu menotokku yang hebat, barulah aku akan menemui Kim Nio lagi. Waktu itu dia toh tidak akan memarahi aku lagi sebab aku sudah dapat membujuk dia dengan turunkan sedikit kepandaian menotokku kepadanya. Dia tentu sudah kegirangan dengan ilmu yang didapatkan dari Tiam-hiat Pit-koat. Hahaha......" demikian ia berkata-kata sendirian. Sebentar lagi tampak The Sam menguap beberapa kali, ngantuk dirasakan matanya. Lalu ia menghampiri pembaringan dan tidur nyenyak disana tanpa memperhatikan pula barang berharganya yang terletak diatas mejanya. Malah ia lupa untuk meniup padam api lilin, yang biasanya dipadamkan bila orang hendak masuk tidur. Dalam keadaan gelap, tiba-tiba sesosok tubuh telah masuk dalam kamar itu melalui jendela, kemudian cepat melompat keluar lagi. Pada keesokan harinya The Sam baru bangun setelah matahari naik tinggi. "Celaka, kenapa aku jadi kepulasan seperti orang mati !"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ berkata The Sam sembari turun dari pembaringan, menghampiri meja diatas mana ia taruh kota mungilnya. "Hah !" ia terkejut karena kotak berharga itu sudah tidak ada ditempatnya. Dengan gugup ia memeriksa, malah sampai di kolong mejanya, kalau-kalau kotak itu jatuh pikirnya. Tapi barang itu tak diketemuka, lenyap, hilang entah siapa yang ambil. Baru sekarang ia sadar akan keserakahan hatinya untuk memiliki kepandaian hebat tapi akhirnya gigit jari. Siapa yang ambil kotak berharga itu ? Apakah Kim Wan Thauto ? Bagaimana ia harus melaporkan pada Kim Nio akan kejadian itu ? Pikirnya, bagaimana juga ia harus menemui Kim Nio (dimaksudkan Kim Popo) supaya bisa berdamai. bagaimana baiknya untuk mendapatkan kembali barang berharga itu. Maka setelh ia cuci muka dan berpakaian rapi, lalu ia keluar dari hotel An Goan menuju ke hotel Hok Lai untuk menemui Kim Popo. Belum sampai ia bertindak mencari kamar Kim Popo, tiba-tiba ia dicegat oleh kuasa hotel yang berkata, "Aku ada titipan sepucuk surat untuk tuan, marilah ikut ke kantorku." si pemilik ajak The Sam ke kantornya. "Surat dari siapa ?" tanya The Sam. "Sebentar kalau tuan sudah lihat, tentu tahu surat itu dari siapa." sahutnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sebentar lagi mereka sudah berada dalam kamar hotel. Si kuasa hotel ambil surat dari dalam lacinya lalu diserahkan kepada The Sam. Ia tidak punya sahabat atau kenalan yang dapat mengadakan surat menyurat. Dari mana datangnya surat itu ? Tanyanya dalam hati kecilnya. Tapi bagaimana juga ia harus membuka dan membaca isinya, baru ketahuan siapa pengirimnya. Koko, Setelah aku sudah pandai meyakinkannya dan dapat malang melintang dengan ilmu menotokku yang hebat, barulah aku akan menemui kau lagi. Waktu itu, sebab aku sudah dapat membujuk kau dengan menurunkan sedikit kepandaian menotokku kepadamu. Kau tentu akan kegirangan dengan ilmu totok yang didapatkan dari Tiam-hiat Pit-koat. Hihihi...." Surat itu tidak ditandatangani tapi sudah terang sekali bagi The Sam bahwa surat itu ditulis oleh Kim Popo alias Kim Nio. Kata-katanya persis seperti yang dikatakan tadi malam, maka kotak kecil itu juga sudah tentu telah terbang bersama Kim Popo. Ia sesalkan dirinya yang tidak jujur. Sekarang ia kehilangan kotak berharga dan kehilangan juga Kim Nio, malah kehilangan juga kepercayaan sang pacar itu, bagaimana ia ada muka nanti bertemu lagi dengan Kim Popo ? Dalam keadaan lesu The Sam meninggalkan kantor hotel Hok Lay, tidak jadi mencari kamarnya Kim Popo sebab penghuninya sudah terbang tadi pagi-pagi sekali, menurut kuasa hotel.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Rupanya Kim Popo tidak percaya seratur persen atas kejujuran The Sam. Maka kalau The Sam membayangi Kim Wan Thauto, ia sendiri tidak tahu kalau dirinya dibayangi juga oleh Kim Popo. Kata-katanya yang diucapkan dalam kamarnya, semua terdengar tegas oleh Kim Popo yang mengintip dari jendela. "Kurang ajar ! Dia mau main gila denganku. Hmm !" diam-diam Kim Popo berkata dalam hati kecilnya. Kemudian dia menyulut hio obat pulas yang asapnya ia tiup masuk ke dalam kamar The Sam. Sebentar saja tampak The Sam mengantuk dan menguap beberapa kali, akan kemudian saking tidak tahan ia sudah banting dirinya di pembaringan dan tidur nyenyak, tidak menghiraukan kotak berharganya disikat Kim Popo. Sekarang kita kembali pada Liu Wangwee. Liu Wangwee sangat berterima kasih kepada si kerudung merah. Disamping itu, ia menyesal sekali tidak dapat mengetahui siapa adanya bintang penolongnya itu sampai pada saat si kerudung merah meninggalkan rumahnya. Dari suara bicara bintang penolongnya, seperti ia pernah mendengarnya cuma ia lupa dimana ia pernah mendengar suara itu. Meskipun ia coba kumpul ingatannya, tapi tetap luput untuk mengingatkan dimana ia pernah ketemu dengan orang yang suaranya tidak asing ditelinganya. Ingin sekali ia menjambret kerudung si kerudung merah tetapi sudah tentu keinginan itu tak dapat ia wujudkan karena perbuatan itu tentu tak sopan. Ia hanya boleh terhibur hatinya ketika si kerudung merah meninggalkan, memesannya, "Toako, kau jangan kuatirkan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ lagi kepada Sucoan Sam-sat karena mereka tentu tidak akan berani lagi datang kemari sedang bentrokan dengan Tan Kong Ceng sebaikanya diselesaikan saja agar tidak menanam permusuhan yang tidak ada gunanya." "Terima kasih atas nasihat Injin (tuan penolong),aku akan perhatikan betul-betul. Cuma saja....." Liu Wangwee tidak dapat menemukan kata-katanya, sebaliknya ia tersenyum kepada tamunya yang aneh itu. "Cuma saja apa, toako ?" tanya si kerudung merah. "Cuma saja aku menyesal tak dapat melihat wajah Injin." sahut Liu Wangwee. "Untuk apa melihat wajahku. Kita berkenalan cara begini saja sudah cukup." kata si kerudung merah, ia tertawa gelak-gelak. Liu Wangwee terkejut, suara tertawa itu seperti ia kenal baik tapi dimana ia pernah mendengarnya, siapa orangnya ? Maka dengan bernapsu berkata, "Injin, suara ketawamu aku kenal benar, hanya dimana aku pernah mendengarnya aku sudah lupa lagi. Dasar aku sudah tua, tukang pelupa !" "Toako kenal suara tawaku, itu sudah bagus." sahut si kerudung merah. "Sekarang belum waktunya aku memperkenalkan wajahku tapi ada suatu waktu, tentu aku akan datang pula untuk menyambangi toako dan disitulah toako nanti kenali siapa diriku." Liu Wangwee tidak memaksa si kerudung merah untuk memperkenalkan diri karena sudah jelas si bintang penolong sungkan berbuat demikian. Maka ia suruh seorang pelayan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ untuk panggil keluar nonanya, untuk kasih selamat jalan kepada bintang penolongnya yang hendak berangkat hari itu. Sebentar lagi tampak Bwee Hiang sudah keluar, lalu Liu Wangwee berkata pada gadisnya, "Anak Hiang, Injin akan berangkat hari ini juga. Lekas kau mengucapkan selamat jalan dan terima kasih." Bwee Hiang lantas berlutut dihadapan si kerudung merah yang sedang duduk di kursi. "Budi Injin sebesar gunung, entah dengan apa kami dari keluarga Liu dapat membalasnya. Moga-moga Thian akan melindungi Injin dalam perjalanan dengan tak kurang suatu apa pun. Bwee Hiang mengharap perpisahan ini hanya untuk sementara saja dan segera akan disusul oleh kunjungan Injin sehingga Bwee Hiang dapat melayani Injin lagi..." demikian si gadis mengucapkan kata-kata selamat berpisahnya, air matanya tampak bercucuran jatuh di lantai. Bwee Hiang sangat duka hatinya. Ia tidak menduga si kerudung merah akan meninggalkan mereka demikian cepatnya sebab hari kemarin ia duduk berkumpul dengan si bintang penolong, tidak ada omongan bahwa si kerudung merah akan berangkat hari ini. Dalam beberapa hari berkumpul, disamping si kerudung merah terus mengobati ayahnya, tamu asing itu sangat ramah terhadap dirinya. Ia dapat banyak petunjuk dalam hal ilmu silat maupun sastra, dan Bwee Hiang juga sangat hormat dalam pelayanannya sehingga si kerudung merah kelihatan betah tinggal dalam rumah Liu Wangwee. Sebagaimana dengan ayahnya, Bwee Hiang juga sudah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ berusaha memancing siapa dirinya si kerudung merah tapi tamu itu selalu kesampingkan omongan yang menyinggung tentang keadaan dirinya, maka Bwee Hiang tidak berani mendesak. Kini tiba-tiba ia mendengar si kerudung merah akan angkat kaki dari rumahnya, tentu saja si nona menjadi terkejut dan merasa sangat sedih. Seraya mengelus-elus rambut si nona, si kerudung merah berkata, "Anak Hiang, kau tak usah menangis. Kau lupa dengan peribahasa yang mengatakan, 'Tiap ada berkumpul. selalu ada berpisah'. Maka perpisahan ini semoga disusul dengan kunjunganku berikutnya. Kata-katamu ini tepat sekali. Nah, bangunlah nak !" Sementara Bwee Hiang bangkit dari berlututnya sambil menyusuti air matanya dengan saputangan berbareng si kerudung merah juga bangkit dari duduknya. Setelah angkat tangan menyoja pada Liu Wangwee, dengan tidak berkata apa-apa lagi ia putar tubuhnya dan meninggalkan ruangan itu dengan cepat sehingga Liu Wangwee tertegun ditempatnya melihat sikap tamunya yang aneh itu. Sebentar saja si kerudung merah sudah lenyap dari pandangan mereka. Sejak itu ayah dan anak itu berlatih keras dalam ilmu pukulan maupun pedang untuk berjaga-jaga kalau-kalau dari pihaknya Tan Kong Ceng mencari gara-gara pula. Dengan dapat beberapa petunjuk yang berharga dari si kerudung merah, dalam tempo pendek ilmu pedang Bwee

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Hiang sudah berubah jauh. Ia merasa girang akan kemajuannya itu tapi ia tidak pernah lupa untuk berterima kasih kepada tamu anehnya itu. Hari lewat dengan cepat laksana anak panah yang melesat dari busurnya. Tanpa terasa sudah satu tahun setengah dilewati sejak kunjungannya si kerudung merah. Ternyata si bintang penolong tidak kelihatan mata hidungnya pula. Tapi Liu Wangwee dan Bwee Hiang tentram hatinya karena ilmus ialtnya sudah banyak maju. Sementara itu desa Kunhiang pun sudah banyak berubah. Desa itu maju karena pabrik-pabrik disitu bertamah banyak. Penduduk makin banyak sehingga makin ramai desa itu, tentam dan aman. Hartawan Tan juga tidak mencari gara-gara pula kepada Liu Wangwee. Liu Wangwee mengira keadaan akan dinikmati terus dampai hari tuanya, tidak dikira pada suatu hari ia dibikin terkejut dengan adanya kabar yang tersiar bahwa Sucoan Samsat sudah kembali mengganas. Mereka sedang mencari si kerudung merah. Kabar yang mengagetkan Liu Wangwee adanya berita yang mengatakan bahwa Sucoan Sam-sat akan membakar dan menghancurkan desa Kunhiang kalau mereka tidak menemukan si kerudung merah. Mereka hendak melampiaskan angkara murkanya kepada desa Kunhiang sebagai gantinya si kerudung merah. Bingung hatinya Liu Wangwee bersama gadisnya. Kemana mencari si kerudung merah yang sampai sebegitu jauh tidak mengunjungi rumahnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tiba-tiba Liu Wangwee ingat akan sahabatnya yang tinggal dikota Gakwan, dibawah kaki gunung Hengsan, ialah Soatcian Ang Ban Teng, Pangcu dari Ceng Gee Pang. Pikirnya, Ceng Gee Pang ada mempunyai banyak anggauta, tersebar luas, siapa tahu dengan bantuan Pangcu dari Ceng Gee Pang, ia dapat berita dimana adanya si kerudung merah supaya dapat diberitahukan tentang maksud Sucoan Sam-sat mencarinya. Demikianlah, Liu Wangwee setelah memesan Bwee Hiang untuk berhati-hati dirumah, ia berangkat ke kota Gakwan menemui Ang Ban Teng dan minta pertolongan sahabat ini. Ang Ban Teng dan Liu Wangwee ada sahabat dari banyak tahun, maka pertemuan mereka sangat menggembirakan. Liu Wangwee tidak minta bantuan sang sahabat untuk menghadapi tiga algojo dari Sucoan, ia hanya minta bantuan supaya mendengar-dengar dimana adanya si kerudung merah. Ang Ban teng menjanjikan akan membantunya. Meskipun tidak diminta bantuan untuk menghadapi Sucoan Sam-sat, Ang Ban Teng tidak enak nampak sahabatnya menghadapi bencana, maka Pangcu dari Ceng Gee Pang itu sudah perlukan malam-malam mengunjungi markas cabangnya di atas jurang Tong-hong-gay seperti yang kita ceritakan disebelah atas. Sudah dua minggu lamanya sejak kunjungannya pada Ang Ban Teng, diam-diam Liu Wangwee merasa cemas hatinya karena belum mendapat berita apa-apa dari sahabat itu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pada suatu siang hari untuk menghibur diri dari kecemasannya, Liu Wangwee jalan-jalan disekitra desa dan akhirnya memasuki rumah makan An Goan dimana ia minta disediakan arak dan makanan sederhana untuk mengisi perutnya. Setelah ia menengak beberapa sloki araknya, tiba-tiba ia dibikin kaget oleh suara ramai-ramai diatas loteng. Ketika ia melihat ke loteng, saat itu satu anak kecil tengah dilemparkan oleh dua pelayan rumah makan melalui langkan. Liu Wangwee memeramkan matanya saking ngeri melihat adegan itu. Pikirnya, anak kecil dilempar dari atas loteng yang demikian tinggi, bagaimana jadinya kalau sebentar jatuh diatas lantai. Kalau tidak hancur, sedikitnya anak itu bakalan setengah mati keadaannya. Ketika ia membuka pula matanya, tiba-tiba ia berseru, "Eh...." Matanya terbelalak heran sebab anak kecil itu tampak lagi berdiri tidak kurang suatu apa, hanya kedua tangannya memegangi perutnya. Tampak dua pelayan yang melemparkan si bocah turun dan satu diantaranya yang dipanggil Lo-ji telah mendamprat. "Enak saja kau ngomong. Besok-besok sampai kapan kau akan membayarnya ? Memangnya uang sewa kamar disini boleh diulur-ulurkan ? Hmm ! Bocah, lebih baikkau sekarang pergi dari sini supaya jangan aku si Lo-ji menggebuki kau setengah mati. Hayu, pergi sana. Bocah tukang sikat !" "Aku bukan mau sikat uang sewaan kamar cuma aku mau minta tempo besok." kata si anak kecil.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lo-sam, kawannya Lo-ji menghampiri si bocah, katanya, "Sudah, sudah, hayo keluar. Jangan sampai Lo-ji turun tangan !" Lo-sam berkata sambil menjoroki si anak kecil hingga sempoyongan. Tamu-tamu rumah makan itu jadi pada menonton kejadian itu. Mereka lihat si anak kecil wajahnya hitam legam seperti pantat kuali, usianya kira-kira baru 14 tahun, cuma perawakannya ada tinggi kurus. Entah anak siapa dia, para tamu menanya dalam hatinya. Ada yang menanyakan pada Lo-ji, lalu menerangkan. "Aku tidak tahu dia anak siapa, hanya dia sudah menginap disini selama tiga malam. Ketika diminta uang sewa kamar dan makan, katanya besok, besok kapan ? Dia memang anak gembel yang kesasar ke sini rupanya." Lo-ji tutup kata-katanya sambil menghampiri si bocah yang belum mau pergi. Ia ulur tangannya dan menjoroki lagi sambil berkata, "Lekas keluar, aku tak ingin melihat cecongormu, tukang sikat !" Kembali si bocah sempoyongan, malah kali ini sampai terpelanting tapi ia cepat bangun lagi. Para tamu pada ketawa terbahak-bahak melihat kejadian itu. Hanya Liu Wangwee yang lihai matanya tidak turut ketawa. Sedari tadi, pada saat ia buka matanya melihat si bocah tidak

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ apa-apa dilempar dari atas loteng, hatinya merasa heran. Sekarang ia menyaksikan si anak kecil dijoroki sempoyongan sampai terpelanting lagi, tapi kakinya antap betul. Anak itu seperti mempunyai kepandaian yang disembunyikan. Melihat si bocah belum mau keluar, dua pelayan itu makin marah. Dua orang lalu menubruk mau menggusur si anak hitam dilempar keluar. Benar si bocah kena dicekal tapi waktu mau diseret tidak bergeming seperti nyangkut pada tiang besi. Tapi ini hanya sejenak saja, sebab lantas si bocah dapat diseretoleh dua pelayan itu. Dasar orang-orang dogol, pikirnya, barusan si bocah tidak bergeming diseret lantaran kurang keras gentaknya, maka mereka ulangi lagi, benar saja anak kecil itu kena diseret. "Tahan !" tiba-tiba Liu Wangwee berkata ketika melihat si bocah mau dilempar keluar. Dua pelayan itu hentikan niatnya melempar si anak kecil keluar. Mereka lihat ada orang menghampiri mereka, lantas mereka kenali itu adalah Liu Wangwee, ketua dari orang-orang kaya dalam desa itu. Dengan sangat hormat, mereka menanyakan apa maksudnya si hartawan mengucapkan kata 'Tahan !' yang mana dijawab oleh Liu Wangwee, "Kalian lepaskan anak ini, semua hutangnya aku yang tanggung !" Dua pelayan itu melengak. Tapi tidak berani membantah, maka seketika itu mereka melepaskan cekalannya hingga si anak kecil sekarang bebas.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Anak itu ketawa nyengir pada mereka, lalu membungkukkan badan memberi hormat pada Liu Wangwee, katanya, "Terima kasih atas kebaikan Lope." "Anak kurang ajar, Loya begitu kenapa dipanggil Lope ?" semprot Lo-ji mau ambil muka Liu Wangwee. Tapi hartawan Liu menggoyangkan tangannya, "Kalian sudah tidak ada urusan lagi, lekas layani tamu-tamu lainnya !" Lo-ji jadi bengong. Dikira bakal dipuji tapi kenyataannya menerima kata-kata pahit dari Liu Wangwee. Lo-ji dan Lo-sam pada ngeloyor pergi. "Anak, mari kita makan sama-sama." kata Liu Wangwee seraya tangannya diulur mencekal lengan si anak kecil diajak ke mejanya. Liu Wangwee minta pelayan tambah hidangan lagi. Setelah sama-sama sudah ambil tempat duduk, Liu Wangwee menanya, "Anak, namamu siapa ?" "Aku she Lo, nama In." sahut si anak kecil, yang memang Lo In adanya. "Aku ribut dengan pelayan itu lantaran......." "Sudah, sudah." memotong Liu Wangwee seraya goyanggoyang tangannya. "Urusan dengan mereka sudah aku bereskan, jadi tak usah kau sebut-sebut lagi. Aku hanya mau berkenalan dengan kau, sebenarnya kau anak siapa ?" Mendapat pertanyaan itu, Lo In tidak lantas menjawab. Ia

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kerutkan keningnya, berpikir apakah ia boleh mengaku ia anaknya Kwee Cu Giok ? Tidak bisa, sebab ia tidak kenal siapa Kwee Cu Giok itu. Anak Liok Sinshe juga tidak tepat sebab Liok Sinshe janya pelindungnya saja, ia jadi sangsi. "Anak, kau dapat kesulitan untuk menyebutkan nama orang tuamu ?" tanya Liu Wangwee yang melihat Lo In seperti yang ragu-ragu akan menyebutnya. "Oh, bukan, bukan." sahut Lo In gugup. "Aku sendiri tidak tahu aku anak siapa, maka aku jadi ragu-ragu untuk menjawabnya." Lo In berkata dengan malu-malu, sambil tundukkan kepalanya. Liu Wangwee ketawa. "Tidak apa, mari kita makan. Eh, barusan aku lihat kau memegangi perut saja, apa kau sakit ?" "Memang aku lagi sakit perut, tapi sekarang sudah baik." jawab Lo In. "Lantaran tubuhmu didorong-dorong tadi oleh dua orang dogol itu, rupanya perutmu terkojak-kojak hingga perutmu kabur sendirinya. Hahaha..." Liu Wangwee tertawa. Lo In turut tertawa. "Mari kita makan." mengundang hartawan Liu. Lo In tidak diundang untuk kedua kalinya, ia hantam saja makanan yang sudah tersedia di depannya. Sudah lama ia hanya makan buah-buahan saja, kini menghadapi makanan enak bukan main senangnya. Hampir kenyang, tiba-tiba ia ingat sesuatu dalam benaknya, maka seketika itu ia letakkan mangkok dan sumpitnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ia bengong, dari kedua matanya tampak ada mengembeng air mata. Liu Wangwee heran melihat kelakuannya Lo In, ia menanya, "Nak, kenapa ? Apa kau rasakan perutmu sakit lagi ?" Lo In geleng kepala. "Aku menghadapi makanan seenak ini, aku jadi ingat kepada seseorang yang pernah mengajak aku makan seperti Lope sekarang ini." kata Lo In seraya menyusut air matanya dengan tangan bajunya. "Siapa orang itu ?" tanya Liu Wangwee. "Lebih baik aku tidak menyebutkan namanya." sahut Lo In. "Sebab dengan menyebutkan namanya aku menjadi lebih sedih lagi." Liu Wangwee tidak menanya panjang. Ia hanya menghibur, "Orang baik memang selalu diingat orang, biarlah orang itu mendapat lindungan Thian. Anak, kau jangan sedih, sebaiknya kau makan terus dan lebih banyak." Mendengar hiburan Liu Wangwee, bukannya Lo In terhibur sebaliknya malah ia menangis tersedu-sedu hingga membuat tamu-tamu yang duduk disekitarnya menjadi heran. Liu Wangwee merasa tidak enak. "Nak, mari kita pulang. Di rumah ada enci yang dapat menghiburmu." Dengan serentak Lo In hentikan tangisnya yang terisak-isak ketika mendengar Liu Wangwee menyebutkan kata 'enci'. Ia ingat akan enci Eng Lian-nya. Apakah yang dimaksud oleh

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ orang tua didepannya ini ada enci Eng Lian-nya ? Lo In anggukkan kepalanya. Liu Wangwee heran melihat kelakuannya si anak hitam, apakah dia kurang waras ingatannya, tadi menangis tersedusedu sekarang berhenti menangis seraya mengangguk,a pa yang ia anggukkan ? Justru kelakuan Lo In yang ia anggap aneh itu yang membuat Liu Wangwee makin keras niatnya untuk mengetahui rahasia dirinya si bocah. Meskipun ditutup oleh wajahnya yang hitam, mata Lo In yang tajam bercahaya tidak bisa menutup matanya Liu Wangwee yang lihai. Orang tua itu menduga pasti si bocah ada berkepandaian sangat tinggi dilihat dari sorot matanya yang tajam luar biasa seakan-akan ada membungkus tenaga dalam yang dahsyat. Setelah membayar uang makanan, Liu Wangwee lantas ajak Lo In berlalu dari situ. "Kau mau ajak aku kemana, Lope ?' tanya Lo In seperti yang linglung. "mari kita pulang." sahut Liu Wangwee manis budi. "Pulang kemana ?" si bocah menanya heran. "Ke rumahku. Mari, disana kita bisa ngomong-ngomong dengan tiada yang ganggu." Liu Wangwee kata seraya tarik tangan Lo In. "Nanti dulu, aku mau ambil pakaianku sebentar." kata Lo In

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sambil terus lari naik tangga loteng masuk ke kamarnya. Sebentar lagi ia sudah turun lagi dengan membawa buntalan kecil. Liu Wangwee ketawa melihat kelakuan Lo In yang lucu. Dalam perjalanan, Lo In menanya, "Lope kata tadi di rumah ada enci ?" "Ya, benar ada enci. Di sana kau akan ketemu enci." sahut Liu Wangwee. Lo In kegirangan. Jalannya makin cepat hingga Liu Wangwee terheran-heran sebab ia sudah gunakan jalan cepat untuk mencoba meninggalkan si bocah, kenyataannya Lo In masih terus mengintil dalam jarang yang dekat sekali dengannya. -- 14 -Ketika sampai dirumah, Bwee Hiang heran melihat ayahnya membawa pulang satu anak berwajah hitam seperti pantat kuali. "Nah, ini encimu." kata Liu Wangwee memperkenalkan anak gadisnya pada si bocah. "Bukan, bukan, dia bukan enci Lianku." sahut si bocah mengawasi Bwee Hiang. "Siapa itu enci Lianmu ?" tanya Bwee Hiang, tersenyum manis. Lo In ketawa nyengir. Lucu kelihatannya hingga Bwee Hiang tertawa ngikik. "Anak Hiang, kau bawa masuk adikmu itu." kata Liu Wangwee dari sebelah dalam, yang sudah masuk lebih dahulu setelah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ memperkenalkan Bwee Hiang pada Lo In. "Adik, mari masuk." kata Bwee Hiang. "Ah, aku tidak mau. Tidak ada enci Lian, buat apa aku masuk." kata si bocah seraya mundur dan mau ngeloyor dari depan pintu masuk. "hei, kau mau kemana ? Mari masuk, di dalam nanti enci kasih makanan enak." membujuk Bwee Hiang seraya cekal tangannya Lo In ditarik masuk ke dalam. Lo In sudah mau bebaskan tangannya yang dicekal si gadis kalau ia tidak mendengar Bwee Hiang kata 'mau kasih makanan enak'. Ia ragu-ragu makanan enak apa yang akan diberikan padanya oleh enci yang baru dikenal itu. Lagian Bwee Hiang kelihatan ramah tamah meskipun tidak selincah enci Liannya, si bocah merasa malu hati. Maka ia menurut dituntun oleh Bwee Hiang dibawa masuk ke dalam rumah dimana Lo In dapat lihat perabotan dan perhiasan rumah itu sangat indah dan menarik perhatiannya. Dasar orang gunung, ia menanya ini itu pada Bwee Hiang, kapan ia melihat barang yang menarik hatinya. Si gadis sangat sabar, ia memberi keterangan dengan terang hingga Lo In menjadi girang. "Ini namanya apa ?" tanya Lo In pada Bwee Hiang seraya menunjuk sesuatu ketika ia dibawa ke ruang belakang. Bwee Hiang pintar, otaknya cerdas. Melihat Lo In laga lagunya seperti baru keluar dari pegunungan, maka ia selalu melayani

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ gerak geriknya supaya si bocah senang. Apalagi barusan dikisiki oleh ayahnya supaya ia perlakukan si bocah baik-baik karena bocah itu ada isinya. Maka Bwee Hiang menjaga hati-hati supaya tidak membikin hatinya si anak kecil kurang senang. Ketika ia ditanya Lo In sambil tersenyum ia menjawab, "Aku Bwee Hiang, dan kau, siapa namamu ?" "Aku she Lo nama In, enci Hiang." jawabnya seraya nyengir ketawa. Nyengir ketawa dalam wajah hitam macam pantat kuali, tentu saja kelihatannya lucu dan tak tahan Bwee Hiang untuk tidak tertawa. Ia ngikik ketawa sambil menekap mulutnya dengan tangannya yang halus putih. Lo In senang melihat teman barunya banyak ketawa. Pada Bwee Hiang ternyata Lo In lebih terlepas omongannya hingga diam-diam si gadis pun merasa suka pada anak hitam ini. Ditanya kenapa Lo In ribut dalam rumah makan, Lo In lantas saja nyerocos cerita. ia kata bukannya ia tidak mau bayar uang sewa kamar tapi lantaran uangnya kena dicopet orang, maka ia minta tempo besok. Apa mau pada hari yang dijanjikan ia sakit perut tidak bisa keluar hingga kembali berjanji besok. Tapi orang-orang rumah makan tidak mau mengerti dan mengusir dia seperti mengusir binatang. Untung ketemu sama Liu Wangwee dan membereskannya, kalau tidak entah bagaimana jadinya. "Orang usirmu seperti binatang, kenapa kau tidak melawan ?"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tany Bwee Hiang. "Aku anak kecil, mana bisa menang sama orang tua." sahut Lo In ketawa. "Kau bohong, ya. Kalau kau mau, mungkin dua orang dogol itu bukan tandinganmu." berkata lag si gadis yang hendak memancing Lo In. Lo In ketawa nyengir. "Enci Hiang bisa saja. Aku tidak pandai berkelahi. Bagaimana aku bisa menangkan dua orang tua itu" jawab Lo In kemudian. Si bocah suka dengan humor, maka laga lagunya sabansaban bikin Bwee Hiang ketawa ngikik hingga diam-diam si gadis merasa suka sama adik kecil ini. Omong-omong tidak terasa lagi hari sudah sore. Lo In permisi pada Bwee Hiang hendak berlalu, tapi si gadis menahan. "Nanti dulu, aku akan kabarkan pada ayah." katanya. "Jangan ganggu orang tua. Biarkan dia mengaso. Sebentar pun masih boleh enci sampaikan aku punya rasa hormat dan terima kasih padanya." berkata Lo In ketawa. "Adik kecil, kau jangan pergi dulu. Kalau aku pergi, aku nanti marah !" kata Bwee Hiang sambil bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam menemui ayahnya. Lo In tidak berani tinggalkan tempat itu, karena ia takut membuat marah Bwee Hiang yang ia pandang sebagai enci yang sangat baik padanya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Selagi menanti Bwee Hiang, pikirannya melayang pada Eng Lian. Dimana enci nakal itu sekarang berada, dimana ia harus mencaharinya ? Dalam keadaan ngelamun, tiba-tiba ia ditegur oleh Bwee Hiang, "Adik kecil, kau lagi ingati apa saja sampai terbengongbengong kulihat." Lo In seperti tersadar dari tidurnya, dengan gugup ia menjawab, "Tidak, oh tidak. Aku hanya memikiri dimana malam ini aku harus menginap. Aku tidak punya uang untuk membayar uang sewa penginapan, nanti diusir orang lagi." Bwee Hiang tersenyum, "Adik kecil kalau tidak, seharusnya kau tidur di pohon." si gadis berkata sambil ngikik ketawa. "Oh, kalau di lembah, oh, tidak, kalau.... kalau....." omongan Lo In jadi kacau. Ia kesalahan omong maka ia jadi gugup tidak karuan tapi Bwee Hiang yang cerdik sudah lantas dapat menangkap apa yang Lo In ingin maksudkan omongannya itu. "Nah, anak tukang ngebohong." ia berkata sambil jari telunjuknya menuding pada Lo In. "Ngomongnya saja sudah gaga gugu hihihi..." Mau tidak mau Lo In jadi ketawa melihat teman barunya bergaya lucu. "Begini, adik kecil." berkata lagi Bwee Hiang. "Ayah kata sedikitnya kau harus menjadi tamu kita seminggu lamanya, itu baru betul. Kau tidak boleh sekarang pergi dari sini sebab

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ ayah kata kalau kau paksa pergi artinya kau tidak memandang mata pada orang tua." Lo In jadi melengak mendengar kata-kata Bwee Hiang. "Habis, aku tidur dimana ?" tanyanya. "Di pohon, tuh !" jawab Bwee Hiang sembari jarinya telunjuknya menunjuk ke jurusan pohon, lucu gayanya hingga Lo In jadi tertawa terbahak-bahak. Senang Lo In dapatkan teman barunya yang jenaka, sekalipun tidak seperti Eng Lian yang kejenakaannya suka dibarengi dengan mencubit. Si bocah tidak ingat bahwa usia Eng Lian dan Bwee Hiang jauh bedanya. Eng Lian masih terhitung anak-anak sedang Bwee Hiang sudah masuk hitungan gadi yang sudah matang 'keluar pintu', mana bisa antara Eng Lian dan Bwee Hiang disamakan kelakuannya. Bwee Hiang demikian open pada Lo In selain sendirinya kena ketarik sama kejenakannya si bocah, adalah keinginan ayahnya supaya ia dapat mengetahui asal usulnya Lo In. Liu Wangwee percaya anak gadisnya yang cerdik dapat mengorek rahasia dirinya Lo In yang diduga menyembunyikan kepandaian sangat tinggi. Liu Wangwee curigai Lo In bukan anak sembarangan, siapa tahu bapaknya ada orang lihai yang dapat menolong ia dalam kesulitan menghadapi Sucoan Samsat. Matanya Liu Wangwee lihai. Memang betul Lo In hendak sembunyikan kepandaiannnya. Hanya sayang, dasar anak kecil 'sok aksi', dipancing-pancing akhirnya si bocah bercerita juga pada Bwee Hiang bahwasanya ia di lembah ada

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mempunyai kawan-kawan tentara kera, burung rajawali, gorila serta teman mainnya Eng Lian yang nakal jenaka. Perihal ia makan buah 'Jit-goat-ko' dan nyalinya Tok-gan Siancu tidak ia ceritakan pada si gadis. Bwee Hiang separuh percaya, setengah tidak. Tapi melihat Lo In bercerita sambil bergaya dan tangannya tidak bisa diam dan unjuk aksinya, mau tidak mau tiap sebentar si nona jadi cekikikan ketawa. Lo In girang dapat membikin teman barunya itu ketawa ngikik. Dengan pertemuan ini, membuat ia tidak begitu kehilangan atas lenyapnya Eng Lian. Keluarga Liu ada kaya raya, rumahnya besar bertingkat, dilingkari dengan pekarangan yang lebar dan luas. Malah dibelakang rumahnya ada satu tempat yang dinamakan 'rimba kecil', dimana orang bisa jalan-jalan cari angin seperti di Kebon Raja. Untuk mengurus rumah dan tanahnya yang luas itu, sudah tentu hartawan Liu ada memakai banyak pegawai dan pelayan. Bwee Hiang sendiri ada pakai dua pelayan yang ia beri nama sendiri Ling Ling dan Lan Lan yang berusia kirakira 15 dan 16 tahun. Bwee Hiang bukan gadis hartawan yang sombong dan angkuh, sebaliknya ia sangat ramah tamah sehingga dua pelayannya sangat suka dan setia padanya. Begitulah dengan bergaul sama Bwee Hiang yang diramaikan oleh Ling Ling dan Lan Lan, kelihatannya si bocah Lo In senang tinggal dalam rumahnya Liu Wangwee. Pada suatu sore, cuaca ada adem sekali. Tampak Lo In sedang mendongeng apa tahu, yang terang Bwee Hiang terpingkal-pingkal ketawa.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kalau mendengar dari mulutmu yang banyak omong, kukira kau hanya satu bocah tukang ngobrol saja, adik kecil." berkata Bwee Hiang setelah ia berhenti ketawa. Kiranya Lo In sedang mendongeng bagaimana ia dapat memerintah tentara keranya dengan bahasa monyet, perintah burung garudanya dengan hanya siulan saja, lompat tinggi ke atas pohon dengan hanay sekali gerakan saja, inilah rupanya yang membuat Bwee Hiang terpingkal-pingkal ketawa. Pantasan si gadis sama sekali tidak percaya. Pikirnya, bagaimana manusia bisa bercakap bahasa monyet, memerintah dan memanggil burung raksasa hanya dengan siulan saja. Maka juga, setelah ia terpingkal-pingkal ketawa ia mengatakan si bocah hanya pandai omong besar saja. Ia tidak kira justru kata-kata ini membuat si bocah penasaran. "Enci Hiang mau bukti ?" tanya si bocah dalam penasarannya. "Coba kau tangkan tuh burung gereja yang saling kejar di pohon !" sahut Bwee Hiang ketawa seraya jarinya menunjuk ke pohon. Lo In menoleh ke jurusan yang ditunjuk. Benar saja ada dua ekor burung gereja yang terbang saling kejar. Tanpa banyak omong si bocah dekati pohon, kemudian enjot tubuhnya ngapung ke atas pohon. Entah bagaimana ia menyergap, tahu-tahu dua ekor burung gereja itu sudah berada ditangannya dan dibawa lompat turun. Sambil ketawa-ketawa ia menghampiri Bwee Hiang, seketika itu sedang terbelalak keheranan melihat gerakan si bocah yang sangat gesit.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Nah, ini lihat, burung yang enci suruh tangkap." berkata si bocah seraya taruh dua ekor burung gereja itu ditelapakan tangan kirinya. Burung yang tadinya lincah, terbang dengan gesitnya, sekarang berada di telapak tangan si bocah kelihatannya jinak, hanya sayapnya mengebas-ngebas seperti mau terbang tapi tak dapat mereka pergi dari telapak tangan Lo In seakanakan sepasang kakinya pada melengket pada telapak tangan si bocah. Bwee Hiang lihat burung itu tampak gemetaran, seperti yang kedinginan. Ia heran, tapi ia lantas berkata, "Pantas tidak bisa terbang, burung-burung itu barusan kau pencet sih !" "Siapa yang pencet ? Nah, nih lihat !" berkata Lo In seraya ia lemparkan dua ekor burung itu ke udara. Lantas saja dua burung itu dapat bergerak bebas lagi, terbang gesit sekali seperti tadinya. Malah, kali ini mereka seperti yang ketakutan, sudah terbang jauh dari situ. Bwee Hiang tidak merasa heran. Ia kira si bocah tentu bisa main sulap dengan dua ekor burung gereja yang ditangkapnya tadi. Tapi untuk membikin si bocah jangan sampai kurang senang, maka ia berkata sambil unjukkan jempolnya, "Begini, kau benar hebat adik kecil. Kau ajari aku nanti, ya !" Lo In hanya ketawa, tapi diam-diam si bocah yang 'sok aksi' bangga dalam hatinya. Pada malam harinya, ketika Bwee Hiang omong-omong dengan ayahnya, sang ayah menanya : "Anak Hiang,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ bagaimana dengan usahamu, apa sudah berhasil ?" "Ah, itu anak tidak punya kepandaian apa-apa. Cuma omong kosong saja. Katanya ada punya teman kawanan kera dan ia bisa bahasa monyet. Hihihi...." jawab Bwee Hiang. Liu Wangwee kerutkan alisnya mendengar si putri menutur. Sebelum ia buka mulut menanya, Bwee Hiang sudah menyambung, "Tapi ayah, lompatannya ke atas pohon dan menangkap burung memang begini !" Bwee Hiang unjuk jempolnya. "Lompatan bagaimana, coba, coba kau tuturkan." mendesak sang ayah. Bwee Hiang lantas tuturkan bagaimana Lo In lompat ke pohon, tahu-tahu dua ekor burung gereja sudah kena ditangkapnya. Kemudian ditaruh ditelapak tangan dan burung-burung itu tak dapat terbang seolah-olah kedinginan. "Anak hitam itu mungkin hanya bisa sulap saja, yah. Tidak sebagaimana ayah duga ada menyembunyikan kepandaiannya...." kata Bwee Hiang menutup penuturannya. Tapi ia terhenti kata-katanya karena tiba-tiba ia dibikin kaget oleh kelakuan sang ayah yang sekonyong-konyong tertawa terbahak-bahak. "Oh, ayah ketawakan dia ? Memang juga lucu caranya menangkap burung dan ditaruh ditangannya, persis tukang sulap." menyambung Bwee Hiang, turut ketawa. "Anak tolol !" kata Liu Wangwee kepada puterinya, hingga sang puteri menjadi kaget karena tidak biasanya sang ayah mengatakan ia 'anak tolol'.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ayah, kenapa kau bilang aku tolol ?" ia menanya dengan penasaran. "Anak Hiang, itu bukannya ilmu sulap dari si bocah." menerangkan sang ayah dengan roman kegirangan. "Anak itu telah memperlihatkan 'Han ki bian kang', Ilmu tenaga lunak berhawa dingin, satu ilmu yang tak mudah dilatih kalau orangnya tidak punya lwekang yang dahsyat dalam tubuhnya. Hahaha, memang tidak meleset dugaanku. Dia satu anak yang luar biasa, harus kau baik-baik melayaninya dan coba-coba pancing kepandaian silatnya, anak Hiang." Bwee Hiang melongo mendengar kata-kata ayahnya. Pikirnya, kalau begitu si bocah benar bukannya main sulap seperti yang dikiranya. Entahlah, apa dia hanya punya kepandaian itu saja ? Maka ia girang ketika ayahnya menganjurkan buat ia coba-coba pancing kepandaiannya si bocah hitam dengan ilmu silat. Demikian pada suatu sore, Bwee Hiang ajak Lo In ke lapangan tempat berlatih. Belum lama mereka omong-omong, muncul Liu Wangwee menghampiri mereka. Mereka jadi ngobrol bertiga. Setelah beberapa lama Liu Wangwee berkata kepada anaknya, "Anak Hiang, cuaca begini baik, bagaimana kalau kita berlatih pedang ?" "Bagus, bagus !" kata sang anak sambil bertepuk tangan. "Eh, Ling Ling, coba kau ambilkan sepasang pedang yang biasa aku dan ayah pakai berlatih !" kata Bwee Hiang suruh

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ pelayannya. Ling Ling lekas berlalu ambil barang yang diperlukan, sebentar lagi ia sudah ambilkan sepasang pedang pada nonanya. Satu batang pedang ia pegang sendiri, lainnya ia angsurkan kepada ayahnya. Sambil melirik pada Lo In yang tinggal tenang-tenang saja duduk. Bwee Hiang berkata, "Adik kecil, kau lihat encimu main pedang. Kau nonton disitu !" Liu Wangwee sementara itu sudah siap, ia mengedipkan matanya pada si gadis, satu tanda supaya Bwee Hiang berlatih benar-benar lalu serang menyerang dimulai. Perlahan mula-mulanya, tapi makin lama main seru. 'Bwee hoa kiam hoat' dimainkan dengan indah sekali, banyak jurus-jurus yang berbahaya diperlihatkan hingga sepasang pedang berkelebatan seakan-akan lihat sambaran. Ling Ling dan Lan Lan yang menyaksikan merasa sangat kagum dan bertepuk tangan beberapa kali. Sebaliknya, Lo In menonton acuh ta acuh kelihatannya. Sikap si bocah tak lolos dari matanya Liu Wangwee yang lihai. "Sudah, kita sampai disini saja." kata Liu Wangwee sambil lompat keluar dari arena pertempuran. Bwee Hiang juga merasa heran si bocah seperti yang tidak tertarik dengan latihan mereka yang sangat hebat. Terdengar Liu Wangwee menanya, "Anak In, apa kau tidak tertarik dengan latihan kami barusan ?" "Aku tidak bisa berkelahi seperti kalian, mana aku mengerti." sahutnya, nyengir ketawa.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Liu Wangwee menggelengkan kepala. Di luar tahunya Lo In, matanya mengedip pada gadisnya, disambut dengan manggutan oleh Bwee Hiang. "Anak In tidak bisa main pedang. Coba kau ajari anak Hiang. Aku ada urusan. Biarlah kalian berdua teruskan berlatih." berkata Liu Wangwee sambil terus bertindak meninggalkan Lo In dan Bwee Hiang. Bwee Hiang ambil tempat disampingnya Lo In. Ia berkata, "Adik kecil, mari aku ajari kau bermain pedang supaya jangan nanti dihina orang." sambil menarik tangannya Lo In diajak ke tengah lapangan. "Nah, ini pakai pedangku. Aku pakai pedang ayah." menyambung si nona seraya angsurkan pedangnya pada si bocah, sedang ia mengambil pedang Liu Wangwee yang diletakkan tidak jauh dari situ. "Ketika mereka sudah berhadapan, Lo In berkata, "Eh, barusan aku tidak ingat bagaimana kau mainkan pedangmu. Coba sekarang unjuk sekali lagi." Jengkel juga Bwee Hiang menghadapi anak yang cerewet ini, sembari putar pedangnya ia berkata, "Nah, ini lihat !" Bwee Hiang mainkan tipu-tipu silat 'Bwee hoa kiam hoat' atau 'Ilmu pedang kembang bwee'. ialah 'Bwee swat tiauw goat' atau 'Kembang bwee mekar menghadapi rembulan'. Pedang si nona menusuk ke depan, ke kanan dan ke kiri dengan cepat sekali. Kemudian disusul dengan tipu 'Bwee hiang boan wan' atau 'Harumnya bunga bwee memenuhi taman', salah satu jurus dari 'Bwee hoa kiam hoat' yang paling disukai oleh Bwee Hiang. Mungkin karena namanya 'bwee hiang' ada termasuk di dalamnya. Tampak Bwee Hiang bersemangat memainkan tipu

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ 'Bwee hiang boan wan', pedangnya menari-nari dengan indahnya, berkelebat laksana kilat, tubuhnya si nona yang tinggi seolah-olah tebungkus oleh sinar pedang yang dimainkan. Lo In kelihatan tersenyum-senyum. "Enci Hiang, hebat permainan pedangmu. Sayang aku tak dapat melayani kau. Aku ngeri melihat pedangmu menyambar-nyambar. Bisa-bisa leherku putus oleh.... eh, kau jangan main-main...." Berbareng si bocah menghilang dari hadapannya Bwee Hiang sehingga pedangnya Bwee Hiang menyabet angin. Matanya si gadis celingukan mencari Lo In sementara dua pelayannya Ling Ling dan Lan Lan pada mendekap mulutnya untuk menahan ketawa karena saat itu tampak Lo In berada di belakangnya Bwee Hiang sambil leletkan lidahnya dalam gayanya yang sangat lucu. Melihat Bwee Hiang celingukan mencari dirinya, Lo In berkata, "Enci Hiang, aku ada disini." Bwee Hiang cepat putar tubuhnya. Benar saja si nakal sudah ada dibelakangnya. "Setan kecil." kata Bwee Hiang, ketawa kegirangan. "Kau membohongi encimu, ya !" "Habis, leherku mau disabet pedang, siapa mau kasih." sahut Lo In melucu seraya pegangi lehernya hingga Bwee Hiang ngikik ketawa dibarengi oleh ketawanya Ling Ling dan Lan Lan. Ramailah saat itu pada ketawa. Apa sebenarnya sudah terjadi hingga Lo In kepaksa

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ memperlihatkan kepandaiannya yang istimewa ? Saat itu, Bwee Hiang sedang enaknya memainkan tipu silatnya 'Bwe hiang boan wan', ia mendengar si anak kecil nyerocos ngomong lantas berkelebat dalam benaknya untuk menyerang tiba-tiba pada si bocah dengan telengas. Kalau Lo In bisa silat, tentu ia akan berkelit dari serangannya. Sebaliknya kalau si bocah tak punya guru, paling-paling si anak kecil akan terluka batang lehernya. Mendapat pikiran bagus itu, maka selagi ia putar pedangnya, diam-diam ia balik mata pedangnya sehingga belakang saja yang ia gunakan membabatleher Lo In dengan jurus yang ampuh dan seperti kilat menyambar. Dalam kagetnya, otomatis keluar ilmu saktinya Lo In 'Bu eng bue seng' (tiada bayangan tiada suara), menghilang dari hadapannya Bwee Hiang sehingga si nona terperanjat. Pikirnya, hanya setan saja yang bisa menghilang demikian. Hatinya kegirangan sebab percobaannya berhasil. Ia tidak ragu-ragu lagi bahwa si bocah memang ada mempunyai kepandaian luar biasa seperti kata ayahnya. "Anak kecil, kau jangan suka gede bohong." kata Bwee Hiang sehabisnya ngikik ketawa. "Sekarang sudah ketahuan rahasia dirimu, kau mau bilang apa ?" Lo In ketawa nyengir. Tiba-tiba ia rasakan adanya angin menyambar dari belakangnya, tangannya yang kanan menyampok ke belakang lalu tangan kirinya diacungkan, kemudian tubuhnya berputar. Tahu-tahu dia sudah menggigti sebuah benda. Ia melihat si penyerang gelap lompat dari balik pohon mau melarikan diri. Benda yang digigit di mulutnya ia tiup sambil berkata, "Perlahan jalan, sahabat...."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Orang itu menjerit dan jatuh meloso, badannya menggigil kedinginan. Lo In sudah mau lompat menyusul tapi dari balik pohon-pohon kembali muncul lima orang yang memegat dan mengurungnya. Ternyata orang-oang itu hebat-hebat pengawakannya, tinggi besar dan bengis-bengis. Tapi Lo In tidak takut seperti biasa, ia menanya dengan tenang, "Para paman, aku tidak bermusuhan dengan kalian, kenapa kalian mau tangkap aku ?" "Hahaha !" tertawa seorang diantaranya, seraya usap-usap jenggotnya yang panjang. "Anak kecil, kau anaknya Kwee Cu Gie, bukan ?" "Aku tidak kenal siapa Kwee Cu Gie." kata Lo In tenang. "Tidak perduli kau anak Kwee Cu Gie atau bukan, kami harus tangkap sebab kau sudah membuat malu namanya Ceng Gee Pang !" kata lagi orang tadi. "Oh, jadi kalian adalah orang-orangnya Ceng Gee Pang ?" tanya Lo In. "Kalau benar, kau mau apa ?" "Aku sih cuma mau menanya saja." Lo In berkata sambil bejak-bejak benda ditangannya. Kiranya itu ada dua panah kecil yang barusan ia tangkap dengan tangannya dari si penyerang gelap. Lima orang yang mengurung si bocah terbelalak matanya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ karena mereka kenali panah kecil itu terbuat dari logam istimewa tapi diremas-remas Lo In si bocah seperti juga meremas tepung terigu. Dua panah itu hancur menjadi bubuk. "Maju semua !" bentak orang tadi yang berkata pada Lo In, menganjurkan kawan-kawannya mengepung rapat. Dengan rada-rada jeri mereka maju. "Aku hanya satu bocah. Kalau sebentar kalian kalah sama anak kecil, jangan salahkan aku berbuat kurang ajar, ya !" berkata Lo In, ketawa nyengir dia. Panas hatinya orang-orang yang mengepung si bocah. Masa mereka yang sudah tercatat namanya dikalangan Kangouw sebagai jago-jago kenamaan boleh diingusi oleh satu bocah yang belum lepas tetek, pikir masing-masing. "Anak sombong, lebih baik kau menyerah supaya dengan baik kita bawa kau ke pusat untuk dihadapkan kepada Pangcu." kata satu diantara lima orang itu. "Buat apa aku menghadap Pangcu kalian ?" kata si bocah acuh tak acuh. Kalau Lo In menghadapi lima jago itu dengan santai saja, sebaliknya Bwee Hiang dan dua orang pelayannya Ling Ling dan Lan Lan menjadi ketakutan. Mereka kuatirkan keselamatannya Lo In. Meskipun Bwee Hiang tahu barusan Lo In ada unjukkan kepandaiannya yang luar biasa, pikirnya, anak kecil menghadapi orang-orang gede yang sudah kawakan dalam kalangan kangouw, mana bisa menang ? Apalagi Bwee Hiang melihat semuanya pada membawa

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ senjata tajam yang menyeramkan. Ia diam-diam heran kenapa ada orang-orang masuk ke dalam rumahnya, sang ayah diam-diam saja ? Apakah ayahnya memang tidak ada di rumah ? Mungkinkah sang ayah keluar sebab tidak kelihatan muncul orang tua itu disitu justru keadaan sedang gentingnya. Bwee Hiang menjadi nekat. Ia lalu lompat menghampiri Lo In, katanya, "Adik kecil, kau jangan takut. Encimu datang membantu !" Lo In menoleh ke arah Bwee Hiang. "Enci Hiang, kau tenangtenang saja nonton. Lihat adikmua akan bikin semua paman ini tangkap angin." "Kentut !" memotong si orang yang berjenggot panjang. "Jangan jumawa, anak kecil. Lihat kami tangkap kau !" Berbareng ia ajak kawan-kawannya maju, kira-kira jaraknya empat langkalh lagi mereka mendekati Lo In, tiba-tiba si bocah ketawa terbahak-bahak lalu tubuhnya berputar seperti gasing, perlahan seperti asap tubuhnya naik ke atas hingga lima orang itu jadi heran dan matanya mengikuti tubuh Lo In yang ngapung seperti asap. Dalam tertegunnya tiba-tiba mereka rasakan dengkulnya pada terkulai roboh mendeprok ditanah dibarengi dengan jatuhnya sepotong baju dari udara. Kiranya yang mencolot ke udara tadi bukan tubuh Lo In, sebaliknya bajunya yang melayang ke udara bagaikan asap, sementara Lo In berbareng sudha jongkok dan lalu menotok 'leng-coanhiat' jalan darah di dengkul masing-masing lawannya. Sambil pakai lagi bajunya, Lo In jalan menghampiri Bwee

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Hiang yang saat itu berdiri terkesima di tempatnya. Ling Ling dan Lan Lan terbelalak matanya nampak kejadian yang mempesonakan di depannya, satu kejadian yang mungkin dilakukan hanya oleh tukang sulap kawakan dengan ilmu sihirnya, tapi tidak oleh si anak kecil seperti Lo In. Sungguh kejadian itu mengagumkan kepada yang melihatnya. Termasuk itu orang-orang kasar yang telah menjadi korban totokan Lo In. "Enci Hiang, kau mau apakan orang-orang jahat ini ?" tanya Lo In. Bwee Hiang masih belum hilang kesimanya, ia hanya memandang si bocah dengan air mata mengembeng saking girangnya ia menyaksikan ilmu sakti Lo In. "Kenapa kau menangis, enci Hiang ?" tanya Lo In kaget. "Oh, oh, adik kecil. Aku menangis saking kegirangan. Kau,kau...... selamat." "Sekarang enci mau apakan mereka itu ?" "Adik kecil, biarkan saja dahulu, tunggu ayah pu...." "Tahan, tahan !" terdengar suara dari kejauhan hingga si nona berhenti bicaranya. Kiranya yang datang itu adalah Liu Wangwee. Ketika is orang tua sampai pada mereka, Bwee Hiang cepat berkata, "Ayah, orang-orang ini....." "Tunggu, aku bicara dahulu." memotong Liu Wangwee.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Semua ada orang sendiri. Kejadian yang menegangkan barusan adalah gara-gara ayahmu." Bwee Hiang terkejut, "Ayah....." "Tunggu dahulu, aku belum bicara habis." kata Liu Wangwee. "Anak In, harap kau jangan marah, Semua ini ada aku yang atur. Aku lihat kau selalu mau umpatkan kepandaianmu yang sakti, membuat aku jadi tidak sabaran. Maka, kebetulan ada Pangcu datang dari Ceng Gee Pang dan orang-orangnya. Pangcu dari Ceng Gee Pang adalah sahabatku. Ketika aku ceritakan hal dirimu, dia kaget. Karena dia menduga pasti bahwa kau ada anak itu yang membuat repot cabangnya di Tong-hong-gay. Sahabatku ingin mencoba-coba dengan panah saljunya, dibantu oleh lima anak buahnya, ternyata percobaan mereka telah membuka kedokmua yang menyembunyikan kepandaian saktimu. Anak In, nanti aku akan ceritakan panjang lebar duduknya urusan. Sekarang aku perkenalkan kau dengan Ang Pangcu dari Ceng Gee Pang...." Berbareng maju satu orang, ternyata orang itu adalah si pembokong denan panah lihainya, hingga Lo In menjadi tertawa terbahak-bahak. Setelah Lo In ketawa puas, Soat-cian Ang berkata, "Siauwhiap (pendekar cilik), harap kau jangan marah. Barusan apa yang aku lakukan adalah hanya main-main saja. Tidak sebenarnya kami mau berbuat kurang ajar padamu." "Main-main tinggal main-main, paman." sahut Lo In, melucu dia. "Kalau aku tidak punya sedikit kepandaian, barusan aku sudah ditembusi oleh tiga panah tanganmu."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Semua orang jadi ketawa, begitu juga Bwee Hiang, Ling Ling an Lan Lan. Lega hatinya masing-masing, setelah tahu duduknya perkara. Lima orang yang masih mendeprok di tanah lalu dibebaskan dari totokan oleh Lo In. Mereka pada bangun serentak, salaman dengan si bocah, memohon maaf untuk kelakuannya yang barusan dibuat. Tapi Lo In sudah lantas berkata, "Para paman, kalian tidak bersalah. Malah yang harus minta maaf pada kalian yang sudah berbuat kurang ajar membikin kalian duduk ditanah sebentaran. Hahaha.... " Meskipun kata-kata Lo In membanyol sifatnya, tapi mereka merasa tersindir juga, tampak muka semuanya pada bersemu merah saking jengah. Dari musuh sekarang sudah menjadi teman, maka dengan gembira orang-orang pada masuk ke dalam untuk menyambung pembicaraan lebih jauh. Lo In yang tadinya hendak menyembunyikan kepandaiannya, sekarang sudah tidak bisa lagi. Rahasianya sudah bocor. Maksudnya menyembunyikan kepandaia, ia tidak mau cari urusan, kuatir ketahan perjalanannya mencari enci Liannya. Tidak tahunya ia ketemu dengan Liu Wangwee yang lihat matanya hingga rahasia dirinya jadi terbongkar. Soat-cian Ang bersama dengan lima orang pilihannya datang ke rumah Liu Wangwee untuk memberitahukan bahwa ia tidak mendapat kabar perihal si kerudung merah. Ia mau damaikan bagaimana baiknya nanti menghadapi Sucoan Sam-sat. Tibatiba ia mendengar si bocah hitam ada dirumahnya Liu Wangwee, membikian ia disamping kegirangan ingin juga

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mencoba-coba kepandaian si bocah yang dikatakan Hupangcu Ang Ban Ie si bocah boleh dijuluki 'Hek bin sin tong' atau 'si bocah sakti hitam'. Setelah sekarang ia menjajal kepandaiannya Lo In, barulah ia mau percaya memang anak itu sakti dalam ilmu silat. Tiga panahnya yang diarahkan dengan sungguh-sungguh malah disambut dengan tangan dan mulut. Itu adalah kepandaian luar biasa yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Malah yang membikin ia kaget adalah lima orangnya, bukan orang sembarangan, jago-jago pilihan sudha kena dikerjakan demikian mudahnya, membuat ia merasa takluk pada kepandaian si bocah. Dalam omong-omong, Liu Wangwee menyatakan kesulitannya pada Lo In bahwa ia akan disatroni oleh Sucoan Sam-sat sedang si kerudung merah yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang, malah diselidiki juga tidak ketahuan jejaknya ada dimana. "Mendengar namanya," kata Lo In. "Tiga algojo itu benarbenar seram. Entah kepandaiannya bagaimana, tapi kalau sepanjang aku masih ada disini, aku nanti coba-coba menghadapinya. Harap Lope jangan kuatir." Liu Wangwee saling pandang dengan Ang Ban Teng. "Memangnnya kau mau pergi dari sini, Siauw-hiap (pendekar cilik) ?" tanya Ang Ban Teng. "Jangan panggil Siauwhiap segala. Panggil saja aku anak In. Aku paling suka dengar, karena itu ada panggilannya Liok Sinshe." kata Lo In.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Baik, baik." sahut Ang Ban Teng cepat. "Aku selanjutnya akan panggil kau, anak In. Tapi kalau aku boleh tahu, siapa itu Liok Sinshe yang kau sebutkan ?" "Liok Sinshe ada seorang baik. Biarlah kita jangan omong tentang Liok Sinshe sebab nanti bikin aku menangis karena ingat kepadanya." kata Lo In, sedih tampaknya. Liu Wangwee dan Soat-cian Ang saling pandang nampak kelakuannya si bocah. "Anak In, kau mau kemana ?" tanya Soat-cian Ang, nampak Lo In bangkit dari duduknya dan mau ngeloyor keluar. Lo In balik tubuhnya, sambil ketawa nyengir ia menyahut. "Aku mau mencari enci Hiang." Rupanya si bocah tidak kerasan duduk berunding dengan orang-orang tua. Liu Wangwee kedipi matanya pada sahabatnya hingga Soatcian ANg tidak membuka mulut lagi. Mereka hanya mengawasi saja si bocah ngeloyor keluar. "Biarkan dia pergi pada Bwee Hiang. Anak itu selama disini kelihatan akur betul dengan puteriku. Aku percaya Bwee Hiang dapat menahan dia." kata Liu Wangwee pada Soat-cian Ang dan para hadirin lainnya. Soat-cian Ang anggukkan kepalanya. "Adatnya aneh tapi terang ia mempunyai kepandaian yang luar biasa sampai aku dan lima Hiocu pilihan digulingkan." menyatakan Pangcu dari

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ceng Gee Pang sambil melirik pada anak-anak buahnya. Lima Hiocu (pemimpin pusat) pada ketawa, tapi dalam hatinya merasa malu. Soat-cian Ang alihkan pembicaraan sekarang pada soal Sucoan Sam-sat. "Bagaimana sekarang pikiran toako ?" tanya Ang Ban Teng. "Bagaimana kau pikir tentang si bocah ?" balik menanya Liu Wangwee. "Anak itu berkepandaian tinggi. Hanya aku sangsikan pengalamannya bertempur dengan jago-jago kelas berat seperti Sucoan Sam-sat." menyatakan Soat-cin Ang. "Jadi bagaimana baiknya ?" Liu Wangwee seperti yang keputusan akal. "SUcoan Sam-sat adalah sangat ganas." menyatakan Soatcian Ang. "Kalau toako gagal majukan kita punya jago cilik, akibatnya mengerikan. Seluruh keluarga toako akan dibasmi olehnya. Ini justru yang aku sedang pikirkan." Liu Wangwee ketawa. Tapi ketawanya mengandung kecemasan. Ia rupanya dapat mengerti akan kekuatiran sahabatnya itu. Memang juga ia sangsikan Lo In nanti bisa tempur tiga algojo dari Sucoan yang buat itu tapi apa daya ? Keadaan sudah memaksa, si kerudung merah yang diharapharap kedatangannya kini ditumplek pada si bocah saja. Kalau toh Lo In tidak tahan mengusir tiga jagoan jahat dari Sucoan itu, apa boleh buat. Sudah nasibnya mesti hancur lebur

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dibawah keganasannya mereka. Cuma ia menyesal kalau dalam urusannya itu si bocah nanti kebawa-bawa membuang jiwa dengan percuma. APa nanti kata orang tuanya apabila mengetahui duduknya urusan bahwa jago cilik itu dibawabawa olehnya sehingga menemui kebinasaannya. Memikir kesitu, hartawan Liu menjadi lesu. Untuk beberapa saat dalam ruangan itu menjadi sunyi.

"Pangcu, bukankah kita akan ketamua Kian-san Ji-lo ?" nyeletuk salah satu Hiocu dari Ceng Gee Pang yang bernama Lie Goan Tay. "Aaa... " tiba-tiba Ang Ban Teng terkejut girang. "Kau benar Lie Hiocu. Aku sampai lupa akan kedatangan Kian-san Ji-lo. Ya, ya, betul toako."ia meneruskan kata-katanya pada Liu Wangwee. "Dalam dua hari ini Ceng Gee Pang akan kedatangan Kian-san Ji-lo, aku nanti coba untuk minta bantuannya. Asal mereka bersedia membantu, rasanya kita tak usah kuatirkan akan kedatangannya tiga orang jahat itu kemari." "Kian-san Ji-lo...." menggumam Liu Wangwee. "Bukankah toako juga kenal dengan Kian-san Ji-lo Cia Kie dan Cia Liang ? Dua orang tua dari Kian-san itu kepandaiannya susah diukur." Liu Wangwee anggukkan kepala. "Aku tidak kenal dengan dua orang tua dari gunung Kian-san (Kian-san Ji-lo)." katanya. "Hanya kau dengar sepak terjangnya dalam rimba persilatan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tidak menentu sehingga orang sangsi apakah mereka itu masuk kalangan Pek-to atau Hek-to. Liu Wangwee belum jelas benar apakah Kian-san Ji-lo itu masuk Pek-to (golongan ksatria) atau Hek-to (golongan jahat). "Mereka ada hubungan baik dengan suhuku." berkata Soatcian Ang. "Kalau aku minta bantuannya, rasanya mereka tentu mau terima." "Ya, kalau Hiante yang minta untuk memecahkan kesulitan Hiante sendiri rasanya mereka tidak menolak." menyatakan Liu Wangwee. "Tapi ini halnya menyangkut diriku, mana dapat mereka dimintakan bantuannya sedang aku tidak kenal kepada mereka ?" "Hahaha...." tertawa Soat-cian Ang. "Toako ini anggap aku seperti orang lain atau bagaimana ? Urusan toako sama juga ada urusanku, kenapa mesti dibedabedakan ?" Senang Liu Wangwee mendengar kata-kata sahabatnya itu, dengan siapa memang ia bersahabat rapat meskipu tidak angkat saudara. "Kalau begitu terserahlah untuk mana sebelumnya aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas perhatian Hiante." kata Liu Wangwee seraya bangkit dari duduknya dan angkat tangannya menyoja pada Ang Ban Teng hingga tergopoh-gopoh Soat-cian Ang berdiri untuk membalasnya. Ia

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ berkata, "Jangan seeji, toako." Demikian perundingan sudah didapat pemecahan. Kian-san Ji-lo atau dua orang tua dari gunung Kian-san, she Cia bernama Kie dan Liang, pendek saja. Sepak terjangnya disamping membuat kagum orang, juga membikin orang membenci mereka. Itulah karena perbuatannya yang murah hati dan kejam buas hingga orang tak dapat memastikan mereka masuk golongan baik atau jahat. Mereka ada hubungan baik dengan gurunya Soat-cian Ang, si panah salju ialah Ang Hui Kin, satu she dengan Soat-cian Ang, gelarnya 'Touw-kut-ciang' atau 'si pukulan menembus tulang', cukup kenamaan dalam kalangan Kangouw. Omong-omong dalam hal berkelana, Ang Hui Kin dapat tahu kalau dua sahabatnya ini bakal lewati kota Gakwan, maka Ang Hui Kin minta kalau dua orang tua itu lewat disana, sukalah mampir di pusat Ceng Gee Pang. Disana muridnya Ang Ban Teng menjadi Pangcu. Cia Kie dan Cia Leng terima baik undangan itu. Maka diamdiam Ang Hui Kin sudah mengabarkan pada Ang Ban Teng bakal kedatangannya dua orang tua itu ke Gakwan. Benar jgua, dua jago tua yang sepak terjangnya tak menentu itu datang di Gakwan, selewatnya dua hari dari kejadiankejadian yang diceritakan diatas. Kedatangan mereka sangat dihormatai sekali oleh Ang Ban Teng dan anak buahnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dalam omong-omong, Soat-cian Ang menceritakan tentang sahabatnya Liu Wangwee menghadapi kesuakaran akan disatroni Sucoan Sam-sat dan minta bantuannya dua orang tua itu untuk menjadi perantara suapaya urusan dapat didamaikan. Cia Kie kerutkan alisnya setelah mendengar penuturan Ang Ban Teng. "Untuk menjadi perantara, kami tidak keberatan." kata Cia Kie. "Cuma soalnya, apakah Sucoan Sam-sat dapat memahami atau tidak kami punya maksud baik ? Biasanya, tiga algojo itu suka bawa kemauannya sendiri, tidak ingin urusannya dicampuri orang lain. Inilah yang sulit. Akhirnya, tentu akan terjadi pertempuran." Ang Ban Teng terdiam. Lalu ia ceritakan tentang Sucoan Samsat yang dipecundangi si kerudung merah. Sebenarnya mereka ada mencari si kerudung merah tapi oelh karena orang yang dicari tak dapat diketemukan, maka Liu Wangwee yang akan dijadikan sasaran dari kekejamannya sebagai pembalasan sakit hati. "Memang aku dengar." Cia Liang kali ini yang bicara. "Pada waktu belakangan ini ada muncul satu pendekar dengan kerudung merah. Katanya ia selalu membuat kebaikan dalam sepak terjangnya sehingga orang sangat memujanya. Kami belum tahu siapa adanya dia dan ingin sekali kalau ketemu, kami juga akan coba-coba kepandaiannya yang hebat seperti dikatakan orang." -- 15 --

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lalu Ang Pangcu ceritakan halnya si bocah Lo In, bagaimana dia (Soat-cian Ang) dan lima Hiocunya dipecundangi si bocah secara yang mempesonakan. Dua orang tua itu diam-diam terkejut mendengar ceritanya Pangcu dari Ceng Gee Pang. "Ah, masa ada kejadian begitu ?" tanya Cia Liang, tidak percaya dia. "Memang, kalu tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tidak akan percaya dengan ceritaku barusan." kata Ang Ban Teng. "Nanti kedua Lo-suhu saksikan sendiri kepandaiannya yang luar biasa itu." Tadinya Kian-san Ji-lo mau menolak dengan halus permintaan bantuan Ang Bang Teng. Tapi setelah mendengar tentang adanya bocah hitam yang gaib kepandaiannya, maka mereka jadi rubah haluan. Ingin mereka menyaksikan kepandaiannya bocah sakti itu. Demikianlah, pada malam harinya dengan diantar oleh Ang Ban Teng, Kian-san Ji-lo telah bikin kunjungan pada Liu Wangwee, oleh siapa diterima dengan manis budi hormat hingga dua orang tua itu menjadi girang. Selain mereka bertiga, juga Ang Ban Teng ajak lima Hiocunya. Pikirnya, jikalau perlu mereka bisa dikerahkan tenaganya. Meskipun bulan muda, malam itu malamnya Sie-gww ce-cit (bulan 4 tanggal 7 Tionghoa), cuaca tampak terang. Sudah menjadi kebiasaan dari Liu Wangwee, kalau ada datang tamu yang menjadi kenalan baiknya, ia suka bawa tamunya itu ke taman bungan yang dikitari oleh banyak pohon besar dan tinggi yang terawat baik. Kali ini kedatangan Pangcu dari Ceng

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Gee Pang yang membawa serta Kian-san Ji-lo dan lima anak buahnya juga oleh Liu Wangwee dibawa ke taman tersebut. Disana, selain mereka menikmati hidangan yang mencocoki selera, juga menikmati harumnya bunga-bunga yang baru mekar dalam taman yang luas itu. Senang kelihatannya para tamu dibawa ke tempat ini. Mereka memuji Liu Wangwee yang dapat menciptakan taman sedemikian indah dan menariknya. Dalam omong-omong Kian-san Ji-lo matanya selalu melirik sana sini. Liu Wangwee diam-diam heran, tapi Ang Ang Teng lantas sudah dapat tebak maksud dua jago tua itu. Ia lantas berkata pada Liu Wangwee, "Toako, kedua Lo-suhu ini ingin berkenalan dengan anak In. Dimana dia sekarang ?" "Oh, begitu." sahut Liu Wangwee, tahu sekarang ia kenapa dari setadian dua jago tua itu larak lirik saja. "Nanti aku suruh panggil dia." Lantas Liu Wangwee suruh salah satu pelayannya untuk memanggil Lo In. Tidak lama pelayan itu datang kembali tapi tidak dengan Lo In. Ia berkata pada Liu Wangwee, "Loya, anak itu tidak ada ditempatnya." "Coba cari, tentu dia ada bersama Siocia." "Sudah kucari dan menanyakan pada Siocia. Katanya anak kecil itu sejak siang tadi keluar dan sampai sekarang belum kembali."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Liu Wangwee heran. Kemana perginya Lo In sebab biasanya anak itu hampir tidak berkisar dari samping puterinya. Lalu ia minta maaf kepada dua jago tua itu, katanya, "Harap kedua Lo-suhu dapat memaafkan, bocah itu katanya tidak ada." "Jangan seeji, Liu-heng." kat Cia Kie. "Kedatangan kami kemari memang pertama ingin belajar kenal dengan bocah sakti itu. Tapi biarlah, kalau dia tidak ada di rumah. Kami rupanya tidak berjodoh menemuinya." "Maksud kedua." menyambung Cia Liang, adiknya. "Adalah hendak mendamaikan urusan Liu-heng dengan Sucoan Samsat. Kami harap saja berjalan memuaskan dan...." Cia Leng berhenti bicaranya karena melihat ada satu pelayan yang berlarian datang menghampiri Liu Wangwee kepada siapa diserahkan sebatang pisau kecil dengan secarik kertas. Tanpa menanya lagi pada si pelayan, Liu Wangwee lantas baca surat itu diterangi rembulan. Tampak mukanya pucat setelah membaca. "Toako, ada urusan apa yang membuat kau kaget ?" tanya Ang Ban Teng. Liu Wangwee tidak menjawab, hanya serahkan secarik kertas itu kepada sahabatnya, siapa lalu menyambuti dan dibaca isinya. "Sucoan Sam-sat datang !" sekonyong-konyong Ang Ban Teng berteriak hingga membuat terkejut para hadirin seketika itu, tidak terkecuali Kian-san Ji-lo.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Inilah Lo-suhu, coba baca." kata Ang Ban Teng seraya menyerahkan secarik kertas itu kepada Cia Kie yang lalu membacanya. Surat itu hanya pendek saja bunyinya : "Liu In Ciang, meskipun kau minta bala bantuan dua tua bangka dari Kian-san, rumahmu toh akan kami hancurkan dan bakar habis. Serumah tanggamu tak ada satu jiwa yang kami tinggalkan ! Sucoan Sam-sat" "Hehehe !" tertawa Cia Kie. "Kami tidak bermusuhan dengan kalian, tapi kalau kalian anggap kami sebagai musuh, apa boleh buat. !" Kemudian ia berpaling pada Liu Wangwee yang masih tertegun ditempatnya. Ia berkata, "Liu-heng, mereka memasukkan nama kita berdua. Biarlah kami berdiri dibelakangmu. Jangan takut Liu-heng. Dan....." "Hahaha !" sekonyong-konyong kedengaran suara tawa dari balik gerombolan rumput alang-alang hingga bicaranya Cia Kie menjadi terhenti lalu berpaling ke jurusan orang tertawa tadi yang lantas muncul dan Liu Wangwee kenali itulah Sin-mo Lie Kui, si berewok ganas, saudara ketiga dari Sucoan Samsat. Terdengar kata-katanya menyambung ketawanya tadi. "Tua bangka, biarpun kalian berdua berdiri di belakangnya, percuma saja. Paling baik, kalau kalian tahu gelagat lantas enyah dari sini dan biarkan kami mengganas pada keluarga Liu !" Cia Kie dan Cia Liang bangkit dengan serentak. Yang disebut duluan berkata, "Kian-san Ji-lo belum pernah terbirit-birit lari oleh karena gertakan. Malah makin digertak mereka makin

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ nekad. Hahaha..." Tertawanya berhenti karena sebatang piauw menyambar pada tenggorokannya. "kau kirim barang rongsokan begini. Mana masuk hitungan jago Kangouw !" Cia Kie kata seraya tangannya diangkat dan piauw tahu-tahu sudah terjepit pada dua jarinya lalu dibuang begitu saja hingga membuat Lie Kui panas hatinya melihat senjata rahasianya dihina oleh Cia Kie. Melihat akan terjadi pertempuran ramai, maka semua orang pada mundur. Sedang pelayan-pelayan yang hatinya kecil sudah pada lari ketakutan. "Kau sambuti lagi ini !" teriak Lie Kui, berbareng tangannya saling susul hingga beberapa batang piauw menyambar dahsyat ke arahnya Cia Kie. Ta[i si orang she Cia tidak gentar. Dengan berkelit dan kebasan lengan bajunya yang gedombrongan, semua piauw Lie Kui kena dijatuhkan. Tidak heran kalau Lie Kui menjadi jengkel dan penasaran, cepat ia enjot tubuhnya lompat mendekati Cia Kie. Setelah berhadapan, si berewok obral makiannya pada Cia Kie sambil dua kepalannya bekerja saling susul menyerang toako dari Kian-san Ji-lo. Mereka jadi bertempur seru saling jotos, hebat sekali, sama-sama tandingan. Liu Wangwee merasa tidak enak hatinya. Belum apa-apanya, tamu barunya sudah bertarung dengan musuhnya yang ganas. Bagaimana kalau Cia Kie nanti mengalami celaka ?

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ai, kemana perginya si bocah perginya ? Demikian pikir Liu Wangwee yang menjadi kacau pikirannya memikirkan Lo In yang diharap tenaganya. Sementara itu perkelahian hebat berlangsung terus. Diamdiam tanpa diketahui oleh orang-orang disitu yang tengah memusatkan perhatiannya kepada mereka yang sedang bertempur, disitu sudah tambah dua orang yang bukanlain adalah Giam-ong Puy Teng dan si Cakar Setan Teng Cong. Mereka menyaksikan Sam-tenya berkelahi tenang-tenang saja, seolah-olah sudah memperhitungkan bahwa Cia Kie bukan tandingan Samtenya yang belakangan ini sudah dipale oleh gurunya. Lie Kui berkelahi bagaikan banteng ngamuk, pukulannya mendatangkan suara menderu-deru dan betul-betul saja Cia Kie keteter. Melihat gelagat jelek, Cia Liang adiknya sudah lantas nyerbu untuk bantu engkonya tapi si Raja Akherat Puy Teng sudah menghadang di hadapannya. "Jangan kesusu, sobat !" katanya. "Kalau mau main-main, jangan ganggu orang yang sedang enaknya berlatih. Mari aku layani kau !" Cia Liang gemas. Tanpa banyak cing-cong lagi ia sudah menerjang Puy Teng. Si Raja Akherat ganas pukulanpukulannya. Lwekangnya bertambah setelah dipale oleh gurunya, sebagai bekal untuk menuntut balas. Ia bersilat degan Mo-jiauw Sin-kang atau Tenaga sakti cengkeraman setan. Jurus-jurus yang digunakan sangat berbahaya sekali. Tangannya menjambret dan mencengkeram hingga dalam sedikit tempo saja Cia Liang menjadi kewalahan melayaninya. "Celaka !" kata Liu Wangwee dlam hatinya ketika melihat

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kedua penolongnya keteter. Bagaimana sekarang ? Dari takut, hatinya Liu Wangwee menjadi nekad. Seketika itu juga lompat ke dalam kalangan berkelahi hendak membantu Cia Liang yang sudah kepayahan. Perbuatan Liu Wangwee dicegat oleh Teng Cong hingga dua orang ini jadi bertempur. Liu Wangwee gunakan 'Bwee hoat Kun-hoat (Ilmu jotosan bunga bwee) untuk menggempur Mojiauw Teng Cong. Meskipun kelihatannya perlahan seranganserangannya tapi antap dan telak sekali mengarah sasarannya. Dalam beberapa bulan ini, ia berlatih tekun bersama puterinya. Maka telah didapat kemajuan yang baik sekali. Ia kelihatan bersilat lebih lincah dan cepat. Kalau tempo hari ketemu Teng Cong, saat itu Liu Wangwee sudah punya pukulan-pukulan seperti sekarang, mungkin dapat sama kuat kalau tidak sampai menang. Tapi sekarang dimana Mo-jiauw juga sudah mendapat pelajaran dari gurunya sebagai bekal untuk mencahari si kerudung merah, mau tidak mau Lin In Ciang harus mengakui pihak lawan ada lebih unggul. Teng Cong dari dahulu memang adalah setingkat lebih tinggi kepandaiannya dari dua saudaranya. Ia pun disayang oleh gurunya Thitouw-eng Ie Jie Lo atau Garuda Kepala Besi yang menciptakan ilmu pukulannya tersendiri yang dinamai 'Sin-mo Siang jiauw Ciang-hoat' atau 'Ilmu pukulan Sepasang Cakar Iblis Sakti'. Melayani Mo-jiauw Sin-kang dari Teng Cong yang lihai, sudah tentu Liu In Ciang alias Liu Wangwee bukan tandingannya. Hal mana membuat Pangcu dari Ceng Gee Pang yang menonton menjadi khawatir. Ia lalu mengedipkan pada lima anak buahnya. Tidak sampai dikedipi dua kali, mereka sudah sama mengerti sebab dengan serentak sudah menyerbu ke dalam

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ arena pertarungan sehingga adegan-adegan saling gempur dalam taman bunga itu menjadi ramai bukan main. Tiga orang lawan delapan orang, Sucoan Sam-sat tidak menjadi keder malah tampak makin bernapsu. Tubuhnya berkelebatan gesit sekali hingga lawan-lawannya saban-saban kebogehan serangannya tidak mendapat sasarannya. Sebentar lagi terdengar jeritan saling susul. Itu adalah jeritan tanda dari kesakitan. Tampak beberapa tubuh pada roboh tersungkur, terkulai atau mendeprok di tanah dengan sukar bangun pula. Mereka yang roboh itu adalah lima Hioucu bersama Pangcu dari Ceng Gee Pang, mereka kedengaran merintih kesakitan. Yang masih kuat bertempur tnggal Kiansan Ji-lo dengan tuan rumah. Tapi juga tidak lama sebab Cia Kie sudah dibikin mental tubuhnya kena tendangan Lie Kui, Cia Liang adiknya menyusul kena dicengkeram pundaknya oleh Giam-ong Puy Teng sedang Liu Wangwee tampak masih terus bertahan. Ini bukannya karena Liu Wangwee ilmu silatnya lebih tinggi dari Kian-san Ji-lo, yang sebenarnya kalau ia masih terus dapat bertahan adalah Teng Cong tidak sekejam dua saudaranya. Ia bermaksud mau bikin Liu Wangwee lelah dan roboh sendirinya, ia peras tenaga Liu Wangwee dengan kegesitannya lompat sana sini. Dalam keadaan sudah tinggal robohnya saja, tiba-tiba Liu Wangwee mendengar teriakan puterinya dari jauh yang barusan keluar dari rumahnya. Bwee Hiang barusan saja mendapat laporan dari salah satu pelayannya bahwa ayahnya terancam bahaya di taman bunga, berhantam dengan salah satu orang dari Sucoan Sam-sat. Ia cepat sembat pedangnya dan lari keluar. Tampak olehnya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sang ayah sudah lelah dan tinggal robohnya saja. Hatinya sedih bercampur gusar, ia berteriak, "Orang jahat, kau jangan lukai ayahku !" Dengan beberapa lompatan ia sudah sampai di taman bunga. Mo-jiauw Teng Cong lompat mundur ketika diserang Bwee Hiang dengan pedangnya. Berbareng tampak Liu Wangwee sudah jatuh duduk saking lelahnya karena barusan diperas tenaganya oleh si Ji-ko dari Sucoan Sam-sat. "Jangan melukai ayah ! Berani ganggu lagi, jangan sesalkan pedang nonamu tidak mengenal ampun !" kata si nona dengan gagah, ia berdiri di samping Liu Wangwee yang mengeletak empas-empis kecapaian. Kian-san Ji-lo dan yang lainnya sudah pada rebah malang melintang, dari mulutnya keluar rintihan kesakitan. Melihat kejadian itu semua, hatinya si nona sangat sakit. Ia menyesal orang kabarinya telah terlambat. Kalau tidak, tentu ia sudah keluar siang-siang membantu para tamu yang membantu ayahnya menempur si tiga algojo buas. "Ji-ko, serahkan dia padaku." kata Lie Kui yang kegirangan melihat si botoh dapat ia jumpai kembali. "Kalau sebentar kita basmi keluarga Liu, biar tinggalkan dia untuk aku. Hahaha....." Bwee Hiang kenali si berewok yang tempo hari kurang ajar terhadap dirinya. Matanya melotot gemas ke arah si ceriwis hingga Lie Kui kembali berkakakan ketawa. "Kau ketawai apa, orang jelek !" semprot si gadis.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kau jangan marah. Jelek-jelek aku bakal suamimu, bukan ?" goda Lie Kui. "Fui !" si gadis meludahi muka Lie Kui, saking gemasnya. Sin-mo Lie Kui keburu berkelit hingga mukanya tidak sampai berkenalan dengan ludah si nona. Ia tidak marah, malah dengan ketawa hahah hihi, ia menghampiri Bwee Hiang. Tangannya yang nakal diulur untuk mencolek pipi orang, tapi pedang si nona menyabet laksana kilat. Cepat ia tarik tangannya, kalau tidak, pasti tangan nakal itu akan kutung dan kutungannya pasti jatuh di tanah. "Nona manis, kau jangan galak-galak. Nanti aku cium kau di depan orang banyak !" Lie Kui mengancam dengan omongannya yang tidak enak di dengar untuk telinga si nona. "Tutup mulut kotormu !" bentak Bwee Hiang. Berbareng pedangnya dikasi kerja untuk menyerang si setan sakti. Pikirnya, ia sudah berlatih banyka dengan ayahnya, masa ia tidak bisa menabas si berewok yang memuakkan ini ? Ia tidak tahu bahwa Lie Kui juga sudah dapat kemajuan banyak, dibekali oleh gurunya. Serangan si nona meskipun bagus dan berbahaya, tidak ubahnya seperti dahulu ketika ia menghadapi Lie Kui. Ia hanya diganda dengan berkelit sana sini saja hingga diam-diam Bwee Hiang mengeluh kenapa dirinya goblok amat tidak bisa menjatuhkan Lie Kui. Si setan sakti sebaliknya merasakan bahwa ilmu pedang si nona sudah jauh berbeda dengan dahulu. Diam-diam ia amat

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ berterima kasih pada gurunya sebab kalau tidak kepandaiannya ditambah, sekarang menghadapi si nona, salah-salah lehernya bisa dibabat pedang yang menari-nari dengan sangat cepatnya. Bwee Hiang gunakan gurus serangan kesayangannya, ialah 'Bwee hiang boan-wan' (harumnya bunga bwee memenuhi taman), bagus sekali dimainkan oleh si gadis. Gerakan pedang menari-nari dengan indahnya. Menyabet ke kiri ke kanan, ke atas ke bawah dengan cepat sekali. Dengan itu ia coba mendesak si setan sakti tapi tidak bermanfaat. Lie Kui adalah lebih gesit dari dahulu. Malah sekarang lantaran agak kewalahan, selainnya berkelit sana sini, lengan bajunya sering dipakai menyampok pedang hingga serang si nona sering mencong dari sasarannya. Teng Cong dan Puy Teng ketawa bergelak-gelak melihat si bontot tengan permainkan si nona yang sudah jadi mandi keringat. Sebaliknya, Kian-san Ji-lo menonton dengan rasa penuh penasaran. Pangcu dari Ceng Gee Pang dengan lima anak buahnya merintih-rintih menahan sakit dari lukanya sedang Liu Wangwee keadaannya dalam sadar atau tidak, mengikuti jalannya pertempuran si gadis lawan si bontot dari Sucoan Sam-sat. Sebentar lagi, tampak si gadis menusuk dengan bernapsu. Inilah tindakan yang ditunggu-tunggu oleh Lie Kui. Dengan tipu 'Han mo tui ho' atau 'Setan kedinginan mengejar api', ia lihat pedang Bwee Hiang tangan bajunya dibarengi dengan kekuatan lwekang, ia menyentak hingga senjata itu terlepas dari cekalannya si gadis. Malah Bwee Hiang hampir

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ terhuyung-huyung menubruk si berewok kalau sja ia tidak cepat-cepat tancap kakinya dengan ilmu 'cian kin tui' yang membuat berat badannya seribu kati. Bwee Hiang berdiri terkesima. Putuslah semua harapannya. Tadinya ia berbesar hati dengan ilmu pedangnya yang hebat, ia dapat melindungi orang-orang yang kini rebah malang melintang. Kenyataannya, ilmu pedangnya meskipun meningkat berkat pengunjukkannya si kerudung merah, tidak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi si muka berewok. Ia lupa bahwa lwekannya kalah jauh dengan Lie Kui. Jago pedang tak dapat menjadi jago pedang yang kesohor jikalau ilmunya itu tidak dibarengi dengan lwekang yang tinggi. Seperti Bwee Hiang, ilmu pedangnya bukannya jelek, ia bisa bikin Lie Kui mandi keringat dan mungkin tertusuk salah satu anggotanya kalau saja lwekangnya Bwee Hiang sedikit sama dengan tenaga dalamnya si berewok. Bwee Hiang hanya merasa cemas, cemas karena latihannya kurang mahir pikirnya. Sayang, sebenarnya Bwee Hiang bisa menjadi jago betina kelas wahid sebab ia berbakat kalau saja ia mendapat didikan yang baik dari seorang berilmu dan melatih lwekangnya yang dahsyat untuk menghadapi jagojago kuat. Dalam putus asa dan hilang harapan, Bwee Hiang cuma bisa jongkok dan menubruk ayahnya, dipeluki sambil menangis. "Oh, ayah, anakmu yang celaka ini, yang membuat gara-gara ini semua. Oh, ayah, ayah....." ia menangis makin keras ketika sang ayah digoyang-goyang tubuhnya tinggal diam saja. Dasar orang buas, dengan tidak punya perasaan sedikitpun

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ melihat orang sedang bersedih. Sin-mo Lie Kui seraya menghampiri si nona, ia menggodai, "Nona manis, kalau aku Lie Kui tidak pandang kau ada calon istriku, siang-siang sudah aku cabut nyawamu. Sekarang jangan nangis, marilah ikut aku..........." "Tahan, tahan, aku datang....." terdengar orang berteriak, keluar dari pintu belakang rumah. Teriakan mana membikin Lie Kui tidak jadi mencekal lengan si botoh yang lemas halus. Dalam sekejapan saja lantas berdiri di depan Sucoan Sam-sat seorang anak berwajah hitam. Mereka tidak tahu bagaimana si bocah bergerak sebab tahu-tahu setelah terdengar teriakannya 'Tahan, tahan, aku datang........', orangnya sudah berdiri di hadapan mereka. Sudah tentu mereka tidak pandang mata pada Lo In yang hanya satu bocah mukanya hitam, lain tidak. Lie Kui tertawa, kapan melihat anak kecil itu wajahnya hitam. Ia berkata, "Anak kecil, pantas benar kalau kau jadi anak aku Lie-toaya (tuan besar Lie)." Lo In ketawa nyengir. "Sama-sama hitam, bagus sekali kalau kau pelayan dari aku Losiauwya (tuan kecil)". sahut Lo In. Matanya Lie Kui mendelik pada si bocah. "Hei, anak kecil. Lekas kau enyah dari sini !" kata Giam-ong Puy Teng nyaring. "Kenapa aku harus pergi ?" tanya Lo In. "Di sini bukan urusan anak kecil, semua urusan orang tua !"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sahut Puy Teng. Lo In tiba-tiba ketawa gelak-gelak. Meskipun suaranya tidak sekeras orang dewasa, tapi bagi telinga bukan main berisiknya hingga dirasakan pekak oleh karenanya. Sucoan Sam-sat bukan main kagetnya apabila merasakan suara ketawa itu selain menyelusup ke kuping memekakkan juga jantung rasa tergetar. Teng Cong yang sangat berhati-hati dalam segala hal lalu menanya pada si bocah, "Saudara kecil, apa maksudmu datang kemari ?" Matanya si bocah berkilat melihat ke sekitarnya, banyak orang bergeletakan rebah keluarkan rintihan sedang enci Hiangnya sedang menangis sesengukkan memeluki Liu Wangwee. "Enci Hiang, kau mengapa menangis ?" ia tanyai Bwee Hiang dan tidak meladeni pertanyaannya Mo-jiauw Teng Cong. "Adik kecil, kau terlambat datang. Oh, ayah, ayah sudah.........." Bwee Hiang tak dapat melampiaskan katakatanya. Karena sangat sedih, ia tersedu-sedu menangis sembari peluki tubuhnya Liu Wangwee dan digoyang-goyang, mulutnya tak hentinya memanggil : "ayah, ayah !" "Anak bau, kau bikin ribut saja !" bentak Lie Kui seraya tangannya yang segede apa tahu, digaploki ke kepala Lo In. Badannya si berewokan mendadak terputar sendiri karena saking kerasnya ia memukul, ia telah menggaplok angin sebab Lo In sudah lenyap dari hadapannya. Mo-jiauw Teng cong yang lihat gelagat jelek sudah lantas hendak mencegah Lie Kui berlaku kasar pada si bocah tapi

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ gagal akeran Giam-ong Puy Teng yang berangasan sudah turun tangan mencengkeram kedua pundak Lo In saat itu ada dibelakangnya Lie Kui. "Celaka !" pikir Mo-jiauw Teng Cong dalam hati kecilnya. Sebelum ia membuka mulut hendak mencegah toakonya berlaku kasar, tiba-tiba terdengar : plak ! plak ! tiga kali. Tubuhnya Giam-ong Puy Teng tampak terputar bagaikan gasing, seraya tangannya memegangi pipinya yang kena digampar oleh Lo In. Kesakitan bukan main dia, sebab giginya sampai pada rontok, malah kepalanya jadi keleyengan pusing karena tubuhnya terputar. Entah dibagaimanakan oleh si bocah nakal. Bwee Hiang sembari tersedu-sedu menangis, diam-diam ia perhatikan gerak gerik adik kecilnya. Melihat Lo In dalam segebrakan saja membuat dua jagoan yang kesohor kebuasannya menjadi pecundang, bukan main girangnya. Malah ia tertawa ngikik waktu nampak Giam-ong tubuhnya berputar macam gasing seraya memegangi pipinya yang bekas digampar si bocah. Melihat keadaan genting, Mo-jiauw Teng Cong tak dapat berpeluk tangan menonton. Segera ia melompat, maksudnya hendak membekuk Lo In yang berdiri membelakanginya. Adegan itu sangat menegangkan urat syaraf sampai-sampai Bwee Hiang menjerit saking ngerinya melihat si bocah dibokong. Tapi bukannya si bocah yang kena dibekuk, sebaliknya si Cakar Setan yang tersungkur dan ngusruk habis, mukanya mencium tanah. Terbelalak matanya si gadis. Ia hampir tidak percaya akan penglihatannya sebab Lo In tampaknya lenyap seperti asap

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ saja. Gerakannya bagaikan kilat, seantero tubuhnya seperti ada matanya, tidak mudah di bokong lawan. Giam-ong Puy Teng tampak roboh terkulai, setelah main gasing sebentaran. Ia rasakan kepalanya pusing benar, mulutnya berlumuran darah. Ketika ia semburkan ada tiga empat biji giginya yang ikut lompat keluar dengan darahnya. Lie Kui naik pitam. Goloknya yang berkilauan dihunus dari sarungnya. "Anak haram jadah ! Kau rasakan golok kakakmu !" bentaknya disusul dengan serangan membacok dari atas ke bawah kemudian dari samping kiri ke kanan dan sebaliknya, disusul dengan tikaman ke arah dada, dahsyat sekali. Cepat serangannya Lie Kui, bertubi-tubi. Tidak heran sebab ia menggunakan salah satu jurus yang paling ampuh dari 'Sinmo Siang jiauw Ciang-hoat' yang dinamai 'Han mo hoan sin' atau 'Setan kedinginan jungkir balik'. Cuma si berewokan merasa amat gegetun karena tiap tebasan, tikaman dan sontekan dari goloknya, seakan-akan menebas, menikam dan menyontek bayangan saja. Lo In di depannya bergerak terlalu gesit, meskipun melayani ia dengan tangan kosong. Mata Lie Kui serasa mabuk, nampak Lo In seperti menari-nari dengan lima bayangan, mengitari dirinya. Terpaksa ia membacok sana sini, serabutan saja. Untuk mengocok si berewokan itu, Lo In sudah gunakan gerakan 'Thian lie pian in', ialah 'Bidadari menari di awan'. Si bocah punya 'Bu ong sin kang' (tenaga sakti tanpa bayangan)

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ yagn sempurna, telah memungkinkan ia memerkan gerakan yang indah, lincah dan gesit laksana kilat dalam jurusnya 'Bidadari menari di awan' tubuhnya tampak bagaikan menarinari diikuti dengan lima bayangan. Karena ini si bontot dari Sucoan Sam-sat matanya menjadi mabuk. Bwee Hiang berhenti menangis. Ia terpesona dengan kepandaiannya si bocah sakti yang nakal, lupa ia kepada ayahnya yang barusan ia peluki dengan tangisan terisak-isak. Demikian mudah si bocah permainkan Lie Kui yang tinggi besar, kasar. Hatonya merasa puas. Pikirnya, "Aku sendiri tak dapat membalas si kurang ajar. Biarlah adik In yang tolong balaskan !" Dalam berpikir demikian, tiba-tiba ia menjerit, "Adik kecil, awas !" Berbareng dengan jeritan si gadis tampak Lo In jumpalitan. Ujung sepatunya yang kecil menotok jalan darah di pergelangan tangan kanan Lie Kui hingga goloknya terpental dan orangnya jatuh numprah. Badannya Lo In kemudian berputar, mencelat ke atas beberapa kali. Ketika si bocah berhenti bergerak, tampak ia berdiri dengan mulut menggigit pisau dah dua tangannya juga menggenggam pisau. Dari mana Lo In dapat tiga pisau dengan berbareng ? Itu ketika sedang gembiranya Bwee Hiang menonton si berewokan dipermainkan oleh adik kecilnya, tiba-tiba matanya yang awas melihat Mo-jiauw Teng Cong tengah mengayun tangannya melepaskan senjata rahasianya 'Thoat-beng-ciam' (Jarum pencabut nyawa) dan Giam-ong Puy Teng

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menyambitkan 'Hui-to' (pisau terbang). Mereka lepaskan senjata-senjata rahasianya dengan serentak dan saling susul hingga Bwee Hiang menjerit 'Adik kecil, awas !' dan hatinya ketakutan adik kecilnya mati dibokong oleh dua orang jahat itu. Mendengar tanda bahaya, si bocah lantas jungkir balik, ujung sepatunya menotok pergelangan Lie Kui hingga goloknya jatuh untuk hindarkan hujan jarum, badannya berputar mengebut dengan bajunya sedang sambaransambaran pisau terbang Giam-ong Puy Teng, ia punahkan dengan tubuhnya mencelat pergi datang beberapa kali. Dua pisau ia tangkap dan satu ia gigit hingga waktu ia tancap kaki pula ke tanha, tampak gayanya lucu sekali. Mulutnya yang menggigit pisau seperti ketawa, dua pisau yang dipegang kedua tangannya diacung-acungkan. Tapi hanya sejenak saja si bocah hitam bergaya lucu sebab kemudian pisau di tangan kiri ia lontarkan pada Lie Kui, mengarah kuping sebelah kiri hingga si berewokan menjerit dan memegang telinganya yang daunnya sudah copot. Pisau di mulut ia tiup, menyambar telinga Mo-jiauw Teng Cong sebelah kanan hingga ia pun menjerit, daun kupingnya mental jatuh di tanah. Tinggal pisau di tangan kanannya yang membuat Giam-ong Puy Teng menggigil ketakutan sebab saat itulah ada gilirannya. Si bocah dengan wajahnya yang hitam legam memandang toako dari Sucoan Sam-sat. Kemudian ia menengadah ke langit lalu tertawa gelak-gelak yang memekakkan telinga tiga algojo pecundang, setelah mana ia memandang pula Giamong Puy Teng dan berkata, "Kau ada paman jahat, biar hukuman begini saja !" Berbareng dengan kata-katanya, pisau ditangan kanannya juga sudah lantas meluncur ke arah mata kirinya. Pisau itu

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ meluncur cepat karena di dorong oleh kekuatan lwekang sehingga tahu-tahu sudah nancap pada matanya si raja akherat tanpa ia dapat berkelit lagi. Ia teraduh-aduh sambil pegangi matanya yang berlumuran darah. Sucoan Sam-sat rasakan hukuman yang mereka terima lebih berat dari si kerudung merah sebab dua daun kuping yang mental dari tempatnya tak dapat ditempel lagi dan matanya Giam-ong Puy Teng menjadi meram dua-duanya. Ia menjadi buta. Untuk mengeroyok Lo In, itu sudah tak mungkin. Si bocah kepandaiannya benar-benar mempesonakan. Belum pernah mereka saksikan jago silat yang mana juga, apalagi Lo In hanya satu anak kecil saja. Dengan memimpin toakonya yang sudah buta, Teng Cong dan Lie Kui berlalu meninggalkan tempat itu. Mereka ketakutan ditahan oleh Lo In tapi kenyataannya tidak demikian sebab si bocah sudah bertindak menghampiri Bwee Hiang, tidak menghiraukan lagi pada mereka. "Adik kecil, kau datang terlambat. Kemana saja kau pergi ?" tanya Bwee Hiang sambil deliki matanya, ia memarahi si adik kecil. Lo In hanya tertawa nyengir. Ia tidak ladeni enci Hiangnya. Sebaliknya, ia lantas jongkok untuk memeriksa keadaan Liu Wangwee. "Gara-gara kau adik kecil datang terlambat, ayah, ayah sudah....." Bwee Hiang kembali menangis sesenggukkan, seraya goyang-goyang tubuhnya Liu Wangwee.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bwee Hiang rupanya ngeri untuk mengatakan 'ayah sudah MATI', hanya sampai pada kata 'sudah' lantas ia nangis sesenggukan seperti anak kecil. "Enci Hiang, kenapa kau menangisi lope begini sedih ?" kata Lo In setelah si bocah memeriksa Liu Wangwee. Sambil menyeka air matanya dengan lengan baju, Bwee Hiang menyahut, "Kau bisa kata begitu tapi bagaimana aku tidak bisa menangis karena dia sudah pulang..... Oh, ayah, ayah, kau tega tinggalkan Bwee Hiang....." Bwee Hiang menangis keras, malah kali ini gegerungan. Lo In menjadi heran, dari heran ia jadi tertawa terbahak-bahak. Sudah menjadi wataknya rupanya, kalau Lo In menghadapi sesuatu yang akan meminta tenaganya, ia suka tertawa terbahak-bahak. Orang sedang kematian bapak, sedih bukan main. Menangis untuk melampiaskan kesedihan, tiba-tiba mendengar si bocah ketawa terbahak-bahak, sudah tentu si nona menjadi jengkel. Tak tahan meluapnya hawa amarah, maka seketika itu ia sudah lantas merangsang Lo In yang sedang jongkok di dekatnya. Ia ingin cekek mampus saja si bocah seketika itu sampai melupakan badannya bersentuhan dengan si bocah. Gemas ia hendak menggigit Lo In yang saat itu dengan sabar melayani tangan si nona yang saling susul hendak mencengkeram mukanya. Dua tangannya si nona sudah kena dipegangi Lo In, lalu Bwee Hiang gunakan mulutnya menggigit pipi si bocah muka hitam. Heran, Lo In tinggal antapkan saja pipinya digigit si nona.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lo In kelihatan seperti yang bercanda dengan Bwee Hiang, tapi sebaliknya si nona beringas hendak menerkamnya. Orang-orang yang melihat perbuatan Lo In pada mencela, diam-diam pada mengutuk kelakuan si bocah yang keterlaluan. Masa orang yang menangisi ayahnya yang mati ditertawakan, mereka tidak menyalahkan kalau si nona begitu marah. Malah, kalau mereka tidak sedang terluka, tentu dengan serentak turut mengganyang si bocah. Bwee Hiang rasakan menggigit pipinya Lo In bukannya menggigit daging tapi seperti menggigit kapas, lunak bukan main. Dalam sikapnya itu ia bukan menggigit, sebaliknya seperti ia menciumi si hitam. Ketika ia sadar atas kelakuannya yang tidak benar, ia rasakan dirinya sudah berada dalam pelukan Lo In. Ia berontak tapi tanpa hasil. Kedua tangan Lo In yang memeluk dirinya seperti besi seberat seribu kati, susah disingkirkan. Ia jadi jengah dengan sendirinya, selebar mukanya merah karena malu. Ketika mulutnya sudah siap hendak mencaci maki, tiba-tiba ia mendengar si bocah berkata, seperti berbisik di kupingnya, "Enci Hiang, jangan marah. Juga jangan menangis sebab Lope tidak apa-apa....." Bwee Hiang mendelik matanya, "Apa kau masih belum mau lepaskan encimu ?" Bwee Hiang menegur tatkala si bocah masih terus memeluki tubuhnya. Sambil ketawa haha hihi, Lo In lepaskan pelukannya. Kelakuan Lo In hanya bersifat main-main saja. Ia anggap Bwee Hiang seperti Eng Lian. Sebaliknya bagi Bwee Hiang yang sudah dewasa, merasa tidak enak Lo In perlakukan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dirinya demikian di depan orang banyak. Ketika ia hendak melampiaskan amarahnya via mulutnya, Lo In sudah mendahului berkata, "Enci Hiang, Lope hanya kehabisan tenaga. Dia tidak mati !" "Hah ! Masa ?" Bwee Hiang kaget tapi timbul harapannya. "Kau lihat, nanti adikmu tolong Lope." kata Lo In. Sambil berkata, tangan Lo In bekerja. Ia angkat tubuhnya Liu Wangwee supaya dikasih duduk, lalu berkata pada Bwee Hiang, "Kau bantu aku, enci Hiang. Kau pegangi tubuh Lope supaya dia dapat duduk tegak." Bwee Hiang cepat membantu, memegangi tubuhnya Liu Wangwee yang lemas dan hendak jatuh rebah lagi. Kemudian Lo In tempelkan tangan kirinya ke bokong si orang tua, tangan kanannya menempel di dada. Seperti strum mengalir, tenaga dalamnya Lo In yang dikerahkan, sudah nyusup membuka otot-otot yang mecet dan saluran-saluran darah yagn jalannya mampet. Dalam tempo tidak lama, kelihatan Liu Wangwee bergerak, kemudian menarik napas dan membuka matanya. Saking kegirangannya, Bwee Hiang lantas mau berteriak dan memeluk ayahnya tapi melihat Lo In geleng-geleng kepalanya, ia tidak berani sembarangan. Ia taat pada kewajibannya sampai si orang tua pulih kesegarannya. Ia melihat Lo In dan Bwee Hiang ada didekatnya. Si gadi tengah memegangi tubuhnya, sedang Lo In menempelkan telapakan tangannya di dada dan di bebokongnya. Liu Wangwee mengerti bahwa Lo In sedang menolong dirinya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dengan tenaga dalamnya yang dahsyat sebab ia rasakan hawa panas menyelusup dimana-mana dalam tubuhnya dan segera ia merasakan kesegarannya kembali. "Anak-anak, terima kasih atas pertolongan kalian." Liu Wangwee tiba-tiba berkata. Bwee Hiang memandang Lo In dan Lo In anggukkan kepalanya. Itu sebagai tanda si nona boleh bicara dengan ayahnya. Seketika si nona sudah menubruk ayahnya dan berkata sambil berlinang-linang air mata, "Ayah, kau sudah sembuh. Oh, untung ada adik kecil. Kalau tidak, entahlah bagaimana jadinya kita." Bwee Hiang berkata seraya menunjuk pada Lo In yang saat itu juga ia sudah hentikan pertolongannya pada Liu Wangwee yang sudah kembali kesehatannya. "Anak In, terima kasih. Kau anak baik. Semoga selamanya kau mendapat perlindungan dari Thian...." Liu Wangwee berkata, seraya ia bangkit dari duduknya dibantu oleh Bwee Hiang yang sangat kegirangan. Setelah melihat sang ayah dapat bergerak bebas, si nona lepaskan tangannya yang membantu Liu Wangwee untuk berdiri. Lalu ia rapihkan rambut kepalanya yang awut-awutan dan ketika ia merapihkan pakaiannya yang juga awut-awutan, matanya melirik pada Lo In yang mengangguk sambil ketawa. Bwee Hiang pelototi matanya sebentar, tapi ia pun ketawa mesem. Ia sadar sekarang, bahwa perbuatan Lo In barusan bukannya kelakuan kurang ajar. Itu hanya kelakuan dari seorang bocah nakal yang menganggap ia (Bwee Hiang) sebagai teman sebayanya memain.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kalaupun dimisalkan Lo In barusan main gila terhadap dirinya, si nona pun tidak merasa menyesal sebab pertolongan Lo In pada orang tuanya ada jauh lebih berharga dari kenakalannya si bocah barusan atas dirinya. Maka itu, barusan setelah pelototi Lo In, ia telah kasih senyum mesem memikat pada si bocah hitam. Liu Wangwee melihat Kian-san Ji-lo dan Pangcu beserta anak buahnya roboh malang melintang terluka karena mengganasnya Sucoan Sam-sat, hatinya sangat terharu. Sebab oleh karena hendak membantu dirinya, mereka telah menjadi korban. "Anak In, coba kau periksa lukanya para pamanmu itu. Barangkali kau dapat menolongnya." berkata itu Liu wangwee kepada Lo In. (Bersambung) Jilid 06 Si bocah menurut. Yang luka parah ternyata Cia Liang dari Kian-san Ji-lo, tulang sambungan pundak sebelah kiri remuk dicengkeram Giam-ong Puy Teng. Cian Kie sang engko tidak seberapa berat kena tendangan Lie Kui sedang Pangcu dan lima anak buahnya dari Ceng Gee Pang hanya luka-luka ringan. Mungkin karena takut, mereka tidak berani maju lagi dan pura-pura merintih kesakitan ketika mereka dirobohkan. Sementara Lo In memberi pertolongan kepada mereka yang terluka, Bwee Hiang di lain pihak sudah nyerocos menuturkan bagaimana Lo In menempur tiga jago jahat dari Sucoan dan merobohkannya satu persatu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Liu Wangwee ketika Lo In datang, ia sudah jatuh pingsan, tidak menonton pertempuran ramai itu. Maka sambil anggukanggukan kepala, diam-diam Liu Wangwee merasa sangat kagum akan kepandaian Li In yang sakti. "Hek-bin Sin-tong...." kedengaran ia menggumam setelah mendengar habis si nona bercerita. Ini adalah cetusan perkataan yang tanpa terasa dari bibirnya Liu Wangwee seperti juga kejadian dengan Hu-pangcu dari Ceng Gee Pang tempo hari. Julukan bagi Lo In ialah 'Hek-bin Sin-tong' atau 'Si bocah sakti berwajah hitam', sejak membuat kucar kacir Sucoan Sam-sat telah menjadi populer di kalangan Kangouw. Nama Hek-bin Sin-tong untuk Lo In dengan serentak telah menjadi terkenal. Seraya mengurut-urut jenggotnya, Liu Wangwee menarik napas tatkala Bwee Hiang habis menutur. Parasnya kelihatan sangat berduka, hingga Bwee Hiang jadi kaget. "Ayah, kau kenapa ?" tanya sang gadis penuh kuatir. "Aku menyesal anak In datang terlambat. Kalau tidak, tentu para pamanmu tidak sampai mengalami malapetaka seperti sekarang ini." jawab sang ayah lesu. "Aku juga tidak tahu kemana anak nakal itu sudah pergi. Coba aku nanti tanya padanya." kata Bwee Hiang seraya bertindak menghampiri si bocah yang sedang repot. Kiranya Lo In tidak boleh disalahkan. Sebab ia tidak tahu kalau pada malam ini bakal kedatangan Sucoan Sam-sat. Ia permisi pada Bwee Hiang untuk jalan-jalan keluar lantaran ada urusan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sendiri. Si bocah masih penasaran pada orang yang menggasak miliknya berupa bungkusan kecil. Uang ia tidak buat pikira. Yang ia sayangi obat-obatan yang ia bawa ada dalam bungkusan itu. Maksudnya ia keluar jalan-jalan, siapa tahu ia dapat pergoki orang yang menyikat barang miliknya itu. Dari siang ia kelayapan tanpa tujuan sampai pada saat cuaca remang-remang ia lihat ada seorang yang kebetulan kesamprokan dengannya seperti ketakutan dan menjauhkan diri. Orang yang potongannya kurus kecil tapi gesit. Romannya seperti kunyuk, ketawanya tidak enak dilihat. Lo In lantas curiga, mungkin orang ini yang sudah ambil buntelan kecilnya. Ia pura-pura tidak memperhatikan tapi diam-diam ia pasang mata kemana perginya orang itu. Lo In harus melewati beberapa lapangan dan tikungan untuk menguntit orang yang mencurigakan itu. Waktu sampai pada satu jalan yang menikung ke belakang sebuah kuil kecil, Lo In kehilangan jejak orang yang dikuntitnya. Ia merasa heran. Bagaimana orang itu bisa lolos dari kuntitannya. Pikirnya, tidak bisa salah. Orang itu tentu masuk ke dalam kuil di situ. Dasar anak bernyali besar, tanpa pikir dirinya bisa terjebak, Lo In sudah masuk dalam kuil itu. Di dalam ia disambut oleh Hweshio (pendeta) muda dari kira-kira berusia 18 tahun dan menanyakan pada Lo In, "Saudara kecil, ada urusan apa kau datang kemari ?" "Aku hendak sembahyang, suhu." sahutnya singkat, sedang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ matanya berkilat memperhatikan sekitarnya. Ia mengharap kalau-kalau dapat melihat orang yang dikuntitnya. Omongnya mau sembahyang tapi Lo In tidak maju ke tempat pemujaan, sebaliknya ia jalan sana sini melongok-longok mencari orang yang dicurigai. "Saudara kecil, kau cari apa ?" tanya si Hweshio mesem, rupanya sudah tahu apa yang diinginkan oleh si bocah. "Tidak, aku mau mencari orang. Apa suhu dapat lihat ada orang kurus kecil masuk ke sini barusan ?" Lo In balik menanya. "Bukankah saudara kecil hendak sembahyang ?" menanya lagi si Hweshio. "Sembahyang belakangan kalau aku sudah ketemu orang itu." sahutnya, nyengir. "Saudara kecil, tempat disini tidak boleh dipakai main-main !" kata si Hweshio. "Aku omong benar, bagaimana kau katakan main-main ?" "Tadi bilangnya mau sembahyang, sekarang mau cari orang. Apa itu bukannya main-main ?" "Kau keluarkan dulu orang itu, aku nanti sembahyang !" Si Hweshio jadi kurang senang, matanya mendelik. Ia angkat tangannya, menunjuk ke pintu sambil katanya, "Keluar, lekas keluar !"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kau suruh aku keluar, mudah saja. Asal kau sudah keluarkan orang yang sembunyi dalam kuilmu disini !" Panas hatinya si Hweshio. Si bocah diusir, bukannya menurut malah menantang ! "Aku Tong Seng, murid keempat dari Ceng Bian Hweshio. Belum pernah menemui tamu macam kau yang tidak tahu adat !" teriaknya sambil tepuk-tepuk dada. "Baru murid keempat, biar kau murid nomor wahid juga aku tidak takut. Asal kau masih membandel tidak mau keluarkan orang yang kucari !" sahut Lo In. Meluap amarahnya Tong Seng Hweshio. "Kau kira disini biasa sembunyikan maling ?" bentaknya berbareng tangannya melayang hendak menyekik batang leher Lo In. "Hehehe, kau mau berkelahi ?" kata Lo In, tangan si Hweshio yang melayang dapat ditangkapnya. Sekali sentak tubuh Tong Seng Hweshio terjerunuk ke depan, jidatnya membentur meja tepekong hingga kontan tambah daging. "Rampok ! Rampok !" teriaknya seraya pegangi jidatnya yang kesakitan. Lo In tenang-tenang saja meskipun dari berbagai jurusan pada bermunculan kawanan kepala gundul dengan masing-masing membawa gegaman pentungan kayu besar. Si bocah hitung kira-kira ada 15 orang yang muncul berbareng mendengar

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ teriakannya Tong Seng Hweshio tapi diantaranya tidak kelihatan orang yang dicari. Satu Hweshio yang usianya lebih tua dari Tong Seng tampak maju mendekat Lo In. Dengan bengis ia membentak, "Anak kecil, kau mau merampok di sini ?" "Buat apa aku merampok kuilmu yang tidak ada harganya." sahut Lo In. "Aku hanya mau minta orang yang kucari, kau keluarkan !" "Siapa yang kau cari ?" tanya si Hweshio. "Hehehe, kau juga mau main putar-putar ?" kata Lo In tidak senang. "Nih, main putar-putar !" bentak si Hweshio seraya pentungnya melayang mau mengepruk kepala Lo In. "Bagus !" kata Lo In, berbareng ia berkelit nyamping. Ketika pentungan lewat, kakinya maju, tangan kanannya dengan satu jari telunjuk menotok lengan si Hweshio jagoan yang menjerit seketika dan roboh terkulai. Semuanya menyerbu Lo In. Sesosok tubuh menjadi sasaran pentungan ramai-ramai hingga yang dijadikan sasaran menjadi berkuing-kuing seperti babi dipotong. Kiranya orang yang dihujani pentungan bukannya Lo In sebab si bocah sudah lenyap tanpa setahu mereka. Mereka celingukanmencari seraya minta maaf pada si Hweshio yang menjadi sasaran pentungan tadi. Siapa, ternyata ada Hong Seng, murid kepala dari Ceng Bian Hweshio dalam kuil itu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kemana itu anak anjing ?" teriak Hong Seng penuh kegusaran. Ia dapat bergerak bebas pula dari totokan Lo In sebab si bocah hanya menotok main-main saja. Mendengar ribut-ribut, Ceng Bian Hweshio keluar dari kamar semedhinya. Murid-muridnya repot melapor tentang munculnya bocah berwajah hitam membuat onar dalam kuil. Ketika ditanyaka apa sebabnya, Hong Seng lapor kalau si bocah hitam itu mencari jejaknya si kurus kecil. "Aku sudah katakan, kalian jangan suka campur dengan si Tangan panjang Ong Cit. Sebab satu waktu Ong Cit akan ketemu batunya. Benar ia pandai memindahkan milik orang dengan menggunakan kesebatan tanganya, tapi itu perbuatan tidak baik. Satu waktu bila ia diterjang sial bisa susah. Nah, buktinya sekarang, bagaimana ? Kuil kita menjadi kerembetrembet oleh perbuatannya Ong Cit." Kawanan Hweshio itu ada komplotannya Ong Cit. Mereka suka melindungi si Tangan Panjang dengan menyuruh Ong Cit melenyapkan diri dalam kuilnya sebab tidak ada orang berani carinya kalau ia sudah berada dalam kuil itu. Orang segan kepada Ceng Bian Hweshio yang menjadi kuil tersebut. Mereka begitu perlu melindungi si Tangan Panjang latnaran mereka sering mendapat bagian dari penghasilan yang diperoleh Ong Cit. Mendengar kata-kata gurunya, Hong Seng membela kawannya. Ia berkata, "Suhu, Ong Cit banyak membantu kuil kita. Apa suhu hendak pungkir kedermawanannya ? Orang sudah hinakan kuil kita, bukannya suhu mencari tahu siapa

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ orangnya, sebaliknya suhu marahi kita dan sesalkan bergaul dengan Ong CIt." Ceng Bian Hweshio juga bukannya pendeta suci. Maka ketika mendengar jawaban sang murid kepala, seketika itu menjadi gusar. "Mari kita cari anak hitam itu !" katanya seraya ajak anak muridnya untuk memeriksa seluruh kuil. Tapi Lo In tidak diketemukan, entah kemana bocah itu larinya. Ketika Hong Seng membuka sebuah kamar yang biasa dipakai untuk mengumpat oleh Ong cit, kaget bukan main si murid kepala dari Ceng Bian Hweshio. Dalam kamar itu tampak Ong Cit, dua daun kupingnya hilang, empat jari tangan kanannya sudah kuntung dan kuntungannya jatuh di lantai. Dari tangan dan kedua belah telinganya tampak berlumuran darah, bekas bekerjanya pisau tajam yang menggeletak tidak jauh dari si Tangan Panjang. Malah pisau itu pun miliknya Ong Cit. Si copet lihat dalam keadaan tidak bergerak karena kena ditotok terpaksa Hong Seng lapor pada gurunya untuk sekalian minta bantuan supaya membuka totokan. Ceng Bian Hweshio sudah lantas datang ke kamarnya Ong Cit. Ia geleng-geleng kepala nampak nasib yang dialami si Tangan lihai. Cepat ia bekerja untuk membuka totokan tapi sana sini ditepuk tubuhnya si copet lihai oleh si kepala kuil untuk membebaskan totokan tetap tak berhasil.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Hong Seng heran. Ceng Bian Hweshio malah lebih heran dan terkejut karena sebagai orang Kangouw kawakan ia tidak bisa membuka totokan orang. Bagaimana ia berusaha ternyata tidak peroleh hasilnya malah Ong Cit tiap sebentar berjengit kesakitan dan matanya mengucurkan air. Ia menangis dan matanya saja yang mencilak-cilak seolah-olah memohon supaya percobaa Ceng Bian Hweshio jangan diteruskan karena ia merasakan suatu siksaan ditepuk sana sini bagian anggautanya untuk mencari tempat membuka totokan. Ceng Bian Hweshio yang sudah banyak pengalaman dapat memahami keadaan si Tangan Panjang. Maka ia hentikan percobaannya. Ia berkata, "Biasanya totokan macam ini tidak sembarang orang bisa buka, berjalan dua jam lamanya dan si korban akhirnya bebas dengan sendirinya. Maka tunggu saja dua jam lagi, lihat bagaimana jadinya." Ceng Bian Hweshio berkata seraya ngeloyor keluar dari kamar. Tinggal Hong Seng dan kawan-kawannya pada menemani Ong Cit sambil menanti sang waktu lewat dua jam sebagaimana dikatakan oleh suhunya. Selama menemani, diam-diam mereka ketakutan kalau-kalau si bocah wajah hitam itu datang lagi menotok mereka dan menyiksa sebagaimana yang dialami si Tangan Panjang Ong Cit. Syukur-syukur si bocah tidak datang lagi dan mereka kegirangan. Ketika sudah lewat dua jam, benar saja totokan pada Ong Cit terbuka dengan sendirinya. Kini baru terdengar rintihan si Tangan Panjang yang kesakitan karena sepasang daun telinga dan empat jari di tangan kanannya dihilangkan orang dengan paksa.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Hong Seng sudah memberi obat pil bikinan Ceng Bian Hweshio untuk menahan rasa sakit dan obat bubuk untuk diborehkan pada bagian-bagian angguta yang terluka maka Ong Cit tidak sampai menderita kesakitan terus menerus. Menurut penuturan Ong Cit, ketika ia kesomplokan dengan Lo In, ia lihat matanya Lo In berkilat tajam menotok di jantungnya hingga berdebaran. Maka ia jadi ketakutan sebab menurut penuturan jago-jago persilatan kalau orang punya mata demikian berwibawa mempunyai lwekang (tenaga dalam) yang dahsyat. Tadinya ia tidak takuti Lo In ketika dalam rumah makan ia sambar bungkusa kecilnya yang saat itu si bocah tengah bicara dengan seorang pelayan, berdiri membelakangi bungkusannya. Tapi tadi, ketika ia kesomplokan dan pandangannya kebentrok dengan mata Lo In yang berkilat menusuk jantung, membuat ia jadi ketakutan. Sebagai copet yang lihai, ia tahu dirinya dikuntit Lo In. Maka pikirnya, jalan yang selamat adalah masuk ke dalam kuil Thian Ong Bio dimana ia banyak kawan yang dapat membantu melindungi dirinya. Setelah kasak kusuk dengan Tong Seng lalu ia masuk ke kamar biasa ia mengumpat tapi tidak urung ia dapat diketemukan oleh si bocah muka hitam. Tatkala mana ia sudah berlaku nekad dengan pisaunya yang tajam luar biasa, ia menerjang Lo In. "Hehe, mau melawan ?" si bocah berkata berbareng Ong Cit rasakan nadi tangannya yang memegang pisau kena disentil, kesemutan lemas, pisaunya dengan sendirinya jatuh ke lantai. Ia coba menerobos keluar tapi satu tendangan mengenai

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ pahanya membuat ia jatuh melongsor. Cepat ia bangun lagi tapi bukan untuk lari, sebaliknya ia lantas jatuhkan diri berlutut di depan Lo In untuk minta ampun. "Asal kau kembalikan barangku, aku nanti kasih kelonggaran." kata Lo In. "Ada, oh, ada. Aku tidak ganggu sedikit pun barang Siaoya." sahut Ong Cit. Setelah berkata, Ong Cit bangun dari berlututnya dan jalan menghampiri satu lemari kecil dimana ia keluarkan miliknya Lo In. "Inilah barang Siaoya." katanya seraya menyerahkan pada Lo In. Lo In menyambuti lalu periksa isinya, ternyata benar saja tidak diganggu. Uang yang jumlahnya tidak seberapa dan botol obat-obatan yang si copet tidak tahu obat apa membikin Ong Cit tidak bernafsu untuk mengganggunya. Makanya juga ia lantas simpan saja di dalam lemari kecil, spesial untuk menyimpan barang-barang rongsokkan (tidak berharga) dari hasil kerja tangan panjangnya. "Bagus." kata Lo In setelah memeriksa isi bungkusa kecilnya. "Nasibmu masih baik. Coba kau bikin hilang barangku. Sebagai gantinya aku bikin hancur batok kepalamu. Nah, ini kau lihat !" berbareng tangan Lo In diulur mengambil sebuah patung kecil diatas meja tidak jauh dari situ. Patung itu dikepal Lo In sejenak lalu setelah kepalannya dibuka, ia perlihatkan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ pada Ong Cit. Matanya Ong Cit terbelalak ketakutan, badannya menggigil seperti disambar penyakit malaria layaknya. Kembali ia tekuk lututnya dan minta-minta ampun. "Ampun, Siaoya, ampunilah selembar jiwaku........." ia meratap. Kiranya patung itu, meskipun kecil terbuat dari logam murni yang kuat. Di taruh dalam kamar itu, merupakan tepekongnya Ong Cit dalam pekerjaan jahatnya. Patung yang sekeras itu ternyata dalam genggamannya Lo In telah berubah menjadi tepung terigu. Sudah tentu saja Ong Cit menjadi ketakutan menyaksikan demikian dahsyatnya tenaga dalam si bocah wajah hitam. Setelah meniup berhamburan patung yang berubah menjadi tepung itu dari tangannya, Lo In berkata pada Ong Cit, "Kau jahat, suka bikin susah orang tapi tidak sejahat orang yang membunuh sesamanya. Maka aku kasih kelonggaran hukuman. Sekarang kau ambil pisau ini dan iris kedua daun telingamu !" Ong Cit gemetaran tubuhnya. Matanya memandang Lo In seperti yang mohon dikasihani tapi Lo In belagak pilon, malah katanya, "Lekas kerjakan !" Si Tangan Panjang tidak bisa berbuat apa-apa. Ia ambil pisaunya sendiri yang tadi jatuh di lantai, sambil kuatkan hati, ia mengiris dua daun telinganya satu demi satu. Darah mengetel jatuh dari telingan yang sudah kehilangan daunnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Melihat itu, hatinya Ong Cit terkesiap dan ia jatuh pingsan. Kapan ia siuman kembali, ia dapatkan dirinya tak dapat bergerak. Empat jari di tangan kanannya sudah berserakan di lantai bersama dua daun kupingnya. Mulutnya tak dapat bersuara untuk minta tolong karena urat gagunya sudah kena ditotok Lo In. Maka terpaksa ia menantikan orang datang membuka kamarnya saja. Mendengar penuturan Ong Cit, semua orang menjadi gentar terhadap si bocah wajah hitam. Mereka mengharap Lo In tidak mengulangi kedatangannya ke kuil mereka. Demikianlah, Lo In sambil bersiul-siul kegirangan mendapat pulang barangnya yang tak ternilai harganya. Ia berjalan pulang ke ruman Liu Wangwee. Justru tatkala itu Kian-san Jilo dan jago-jago dari Ceng Gee Pang sudah dirobohkan oleh Sucoan Sam-sat. Si botoh Bwee Hiang tengah dipermainkan oleh Lie Kui. Pelayan yang melihat si bocah pulang lantas memberikan laporannya. Kaget Lo In. Cepat ia lari ke taman bunga, dimana ia lihat enci Hiang sedang peluki tubuhnya Liu Wangwee yang dalam keadaan kehabisan tenaga. Kapan ia lihat Lie Kui hendak menganggu Bwee Hiang, mengulur tangan hendak memegang si nona, lantas ia berteriak : 'Tahan, tahan, aku datang.....!' dari kejauhan, sementara tubuhnya melesat seperti meluncurnya roket yang barusan dilepaskan, bagaimana si bocah bergerak tahu-tahu sudah muncul dihadapan mereka. Tidak mudah untuk memberi pertolongan kepada mereka yang menjadi korban keganasan Sucoan Sam-sat, apalagi Cia Liang yang remuk sambungan tulang pundaknya di

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ cengkeram Giam-ong Puy Teng. Untung, dengan secara kebetulan, Lo In sudah dapat kembali obat mustajabnya sehingga dapat menolong mereka dengan tidak usah ke sana sini mencari obat. Obat buatan Lo In, yang mewariskan kepandaian Liok Sinshe memang manjur sekali. Maka dalam tempo pendek korbankorban yang terluka karena keganasan Sucoan Sam-sat sudah dapat bergerak pula. Hal mana membikin Liu Wangwee jadi sangat kegirangan. Segera ia suruh Bwee Hiang supaya pelayan-pelayannya menyiapkan satu meja perjamuan untuk memberi selamat pada mereka, yang membantu dirinya dengan tidak sampai mengorbankan jiwanya. Dengan dipimpin oleh Liu Wangwee dan Pangcu dari Ceng Gee Pang, dilain saat para tamu sudah kelihatan pada memasuki rumahnya Liu Wangwee. Mereka diantar ke sebuah ruangan makan yang lebar luas dan diperaboti indah lengkap. Mereka kelihatan amat senang dapat memasuki ruangan yang mencocoki seleranya sehingga mereka pada melupakan apa yang sudah terjadi barusan dan rasa sakitnya kena dihajar oleh Sucoan Sam-sat. Sementara, Lo In tidak mau turut dengan mereka. Ia hanya menyusul Bwee Hiang yang pergi dari situ untuk menyampaikan perintah Liu Wangwee kepada para pelayan yang bertugas menyiapkan barang hidangan. "Kenapa kau ikuti aku ?" tanya Bwee Hiang. "Bukannya berkumpul dengan para paman. Siapa tahu mereka mau dengar ceritamu yang lucu-lucu. Hihihi...."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Aku tidak kerasan berkumpul dengan orang tua. Maka aku menyusul enci kemari." sahut si bocah. "Apa tidak boleh ?" "Bukannya tidak boleh, cumanya tidak pantas begitu saja meninggalkan mereka." "Tidak pantas dalam pandangan mereka, tidak jadi soal. Asal pantas dalam pandangan enci Hiang, aku sudah puas." Kata-kata Lo In mengingatkan Bwee Hiang pada kejadian, ia menciumi pipinya si bocah yang maksudnya mau gigit hancur dagingnya, tahu-tahu si bocah berbalik memeluki tubuhnya. Ingat kesitu, wajah si nona menjadi merah dan berkata, "Tidak pantas kelakuanmu barusan terhadap encimu. Malu ditonton banyak orang !" "Enci yang mulai, bagaimana bisa salahkan aku ?" "Hah ! Aku mulai apa ?" si gadis cepat menanya, kaget ia dituduh yang mulai. "Mencium pipiku, apakah itu bukan mulai dulu ? Maka lantas saja kalau aku main-main memeluk tubuh enci, bukan ? Hehehe... " Bwee Hiang pucat wajahnya lalu merah karena jengah. Pikirnya, kurang ajar bocah hitam ini. Tapinya memang alasannya tepat juga. Ia jadi membisu. Kemudian, ia gerakan kakinya lebih cepat meninggalkan Lo In dengan tidak berkatakata seperti yang sedang mendongkol. Sebelum ia bertindak jauh, tiba-tiba kupingnya mendengar Lo In berkata, "Baik, kau marah. Aku pun akan pergi dari sini !"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Terkejut si nona. Cepat ia balik tubuhnya dan lekas menghampiri Lo In. Sambil pegang tangan si bocah, dituntun, ia berkata, "Adik kecil, kau gampang ngambek ya ? Mari ikut encimu !" Lo In ketawa nyengir, sebaliknya si nona gondok. Cuma ia tidak berani berlaku kasar lagi pada si bocah, takut Lo In benar-benar pergi dari rumahnya. Kalau Lo In berlalu garagara ia (Bwee Hiang), pasti ia akan didamprat oleh ayahnya. Juga, andaikata diantara Sucoan Sam-sat ada yang balik lagi, siapa yang berani melayaninya ? Dalam bahaya, keluarga Liu, bagaimana dapat membiarkan si bocah pergi begitu saja ? Oleh sebab itu, maka Bwee Hiang sudah robah sikapnya yang mendongkol menjadi ramah seperti biasanya hingga Lo In senang hatinya. Demikian, tidak lama perjamuan sudah disiapkan. Lo In ada bersama-sama Bwee Hiang di ruangan belakang lagi ngomong-ngomong. Tiba-tiba muncul satu pelayan, berkata pada Bwee Hiang, "Siocia, loya suruh aku undang adik kecil turut serta dalam perjamuan !" "Nah, kau dapat kehormatan. Lekas pergi turut makan ke sana. Makanannya enak-enak, tentu kau dapat makan banyak." berkata Bwee Hiang pada Lo In, menggodai si bocah. "Brengsek !" Lo In menggerutu hingga Bwee Hiang menjadi heran. "Apanya yang brengsek, adik kecil ?" si nona lantas menanya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lo In tidak menjawab perkataan Bwee Hiang, sebaliknya ia berkata pada si pelayan, "Kau katakan pada Loya, aku tidak bisa ke sana, lagi tidak enak badan." "Hihihi..." Bwee Hiang tertawa ngikik, sambil tekap mulutnya. "Orangnya segar bugar dikatakan tidak enak badan. Kalau tidak enak badan iut, biasanya rebah di pembaringan. Ah, adik kecil, kau kenapa sih permainkan orang tua ?" Lo In ketawa nyengir. Kepalanya digeleng-gelengkan. "Aku tidak mau ke sana, kalau tidak bersama enci." ia berkata kemudian. Bwee Hiang melengak. "Kenapa mesti sama-sama encimu ke sana ?" ia menanya. "Kalau bersama enci, aku jadi punya teman ngobrol." sahut si bocah. Bwee Hiang memandang paa pelayannya yang saat itu tengah tersenyum-senyum melihat lagak lagunya dan kata-katanya si bocah yang serba lucu. "Kau katakan pada Loya apa yang dikatakan adik kecil barusan." Bwee Hiang berkata pada si pelayan yang sedang menanti keputusan. Pelayan itu lantas berlalu. Tak lama lagi ia kembali, katanya, "Loya minta adik kecil ke sana bersama-sama Siocia." "Nah, ini baru betul !" kata Lo In seraya bertepuk tangan kegirangan. Bwee Hiang jebirkan bibirnya yang mungil pada Lo In yang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kontan disambut dengan jebiran pula hingga si pelayan yang menyaksikan adegan itu tidak tahan untuk tidak ketawa cekikikan. Bwee Hiang tidak marah sebab ia tahu, memang kelakuan mereka waktu itu dapat mengitik urat ketawa. Si nona tak usah tukar pakaian lagi karena ia sekarang sudah berdandan rapih. Tadi, setelah ia pesan tukang masak untuk menyiapkan hidangan, ia sudah masuk ke kamarnya untuk menukar pakaian yang kotor dan awut-awutan. Rambutnya pun sudah rapih dibereskan oleh dua pelayannya Ling Ling dan Lan Lan. Waktu ia menemui Lo In pula, kecantikannya membuat kagum si bocah berbareng bau harum menusuk ke lubang hidungnya. Entah minyak wangi apa yang dipakai Bwee Hiang. Yang terang si bocah setelah menghirum bau harum itu merasakan dadanya lega dan segar. "Hebat enciku ini." ia berkata dalam hati kecilnya. Tidak berani ia mengatakan terang-terangan, nanti sang enci salah paham. Coba kalau Eng Lian yang ia hadapkan, sudah lantas mulutnya ramai memuji dan mungkin ia memeluk si dara harum sambil membisiki kata-kata pujian pada telinganya. Kalau dalam keadaan biasa, sudah tentu Liu Wangwee keberatan puterinya turut dalam perjamuan diantara orangorang lelaki yang bukan menjadi famili dekatnya. Tapi kali ini ia terpaksa karena Lo In tanpa Bwee Hiang biar bagaimana juga tak akan menghadiri perjamuan itu. LO In justru orang penting dimana Kian-san Ji-lo berkali-kali ada mengatakan keinginannya berkenalan dengan si bocah. Demikian ketika Lo In dan Bwee Hiang muncul, orang-orang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ pada bertepuk tangan. Malah Soat-cian Ang, Pangcu dari Ceng Gee Pang berseru, "Hidup, jago kecil kita." beberapa kali, disambut riuh oleh anak buahnya. Kian-san Ji-lo hanya ketawa ngekeh, kepalanya manggutmanggut. Segera perjamuan dimulai karena sekarang sudah komplit dengan hadirnya Lo In. Dalam omong-omong, Cia Kie berkata pada Lo In, "Siohiap, eh, anak In. Tiga manusai dari Sucoan itu sangat jahat. Kau telah memberi hukuman terlalu enteng pada mereka. Mereka jadi keenakan, malah mungkin akan menuntut balas !' Kian-san Ji-lo sudah dikisiki oleh Ang Ban Teng, kalau bicara dengan Lo In jangan menggunakan perkataan 'Siaohiap' sebab si bocah paling suka dipanggil 'anak In'. Ia menyatakan penyesalannya pada Lo In yang memberikan hukuman terlalu enteng pada Sucoan Sam-sat yang kesohor kebuasannya. "Paman-paman itu toh tidak membunuh orang." sahut Lo In acuh tak acuh. "Ha ha ha !" Cia Kie tertawa. "Anak In, kau masih kecil. Belum banyak mendengar dalam kalangan Kangouw orang ributi kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh mereka. Kau tahu anak In, mereka membunuh orang tanpa berkedip matanya. Entah sudah berapa banyak jiwa yang dikirimkan pada Giamlo-ong oleh mereka. Tapi yang terang, kalangan Pekto maupun Hekto pada mengutuk atas perbuatannya. Terbelalak matanya Lo In. Lucu tampaknya sepasang mata

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ yang bening dan berwibawa terdapat diantara wajahnya yang hitam legam. "Ah, masa sampai begitu ?" Lo In menanya, heran dia. "Seharusnya mereka itu dibasmi habis." menyela Cia Liang. "Apa dibasmi, paman maksudkan apa dibasmi ?" si bocah tidak mengerti. "Di basmi ialah dibunuh habis mereka itu." menegaskan Cia Liang, ketawa. "Mana bisa dibunuh, aku tidak biasa membunuh." Lo In ketawa nyengir. "Mereka datang ke sini mau membunuh keluarga Liu, tidak satu juga yang mereka mau kasih tinggal. Kenapa kita tidak mau bunuh habis mereka ?" tanya Cia Kie. Lo In geleng-geleng kepala. "Aku belum pernah bunuh orang." katanya lucu. Para hadirin jadi saling pandang melihat kelakuan si bocah. Bwee Hiang ingin menegur atas ketololan Lo In tapi ia tidak berani buka mulut dihadapan banyak orang tua. Hanya matanya saja mengawasi si bocah seolah-olah menyesalkan dengan kata-kata yang diucapkan Lo In. Tapi Lo In tidak dapat memahami isi hatinya si enci Hiang. Ia tinggal tenang-tenang saja. Ang Pangcu tidak sabaran. Ia lantas berkata, "Anak In, kalau mereka tidak dibasmi habis, dibunuh semua aku maksudkan,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mereka akan...." Kata-kata Ang Pancu tidak diteruskan karena ia kaget tiba-tiba melihat satu orangnya bernama Kang Kiat muncul diantar oleh satu pelayan. kang Kiat ada salah satu Tocu dari markas cabang Ceng Gee Pang di sebelah barat desa Kunhiang (tempatnya Liu Wangwee). Belum berapa lama dibangun, masih dibawah penilikan Hoan Hiocu dari pusat di Gakwan. Disana selainnya Kang Tocu, masih ada tiga Tocu lagi yang menjadi pemimpin cabang itu, dibantu oleh beberapa anak buahnya yang semuanya ada pandai silat. Ceng Gee Pang pada waktu belakangan ini mendapat kemajuan pesat, membangun cabang di beberapa tempat. Ang Ban Teng merasa sangat girang karena dalam pimpinannya Ceng Gee Pang mendapat banyak kemajuan. Melihat kedatangan Kang Kiat dengan air muka kusut dan bajunya berlepotan darah, dengan cepat Ang Ban Teng menaya, "Kang Tocu, kelihatannya ada kabar penting untukku. Ada apa ?" Setelah memberi hormat dan disuruh ambil tempat duduk oleh Liu Wangwee, Kang Tocu lalu menyampaikan kabar duka untuk Ceng Gee Pang. Kan Kiat menceritakan telah kedatangan dua orang itu malam, satu bermuka kelimis bersih dan satu lagi hitam berewokan bengis. Mereka menanyakan apa disitu ada pusat dari Ceng Gee Pang. Kang Kiat jawab bukan, hanya cabangnya saja yang baharu dibangun belum lama. Tiba-tiba ia dengar si

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ berewokan ketawa terbahak-bahak lalu berkata pada temannya, "Jiko, Ceng Gee Pang suah menjadi alatnya Liu In Ciang, mari kita bereskan !" Leng Tongcu yang berdiri tidak jauh dari Kang Kiat panas hatinya mendengar kata-kata si berewokan, lalu maju dan berkata, "Apa yang dibereskan ?" -- tangannya berbareng melayang hendak menggaplok kepala tamu yang tidak diundang itu. Tapi si berewokan yang bukan lain Lie KUi adanya, sudah lantas berkelit. Cepat bagaikan kilat tangannya diulurkan menepuk pundaknya Leng Tongcu yang tidak keburu mengelakkannya. Hanya menjerit sekali, Leng Tongcu sudah roboh tersungkur tidak bangun lagi. Kang Kiat melihat hal itu menjadi gusar. Ia sudah lantas mau menerjang Lie Kui tapi Ong Tocu sudah mendahului. Orang-orang Ceng Gee Pang beringas dan ramai-ramai mengeroyok si berewokan hitam tapi mereka diganda hanya dengan ketawa-ketawa saja, malah ketika Mo-jiauw Teng Cong, si muka kelimis turun tangan, segera terdengar beberapa jeritan ngeri dan orang-orang Ceng Gee Pang pada roboh dihajar dua tamu tidak diundang itu. Kemudian muncul orang-orang bersenjata dipimpin oleh Hoan Hiocu. Barangkali lebih baik kalau rombongan bersenjata tajam ini tidak muncul sebab akibatnya sangat mengerikan. Lie Kui dan Teng cong lantas merampas golok lawan, dengan senjata mana mereka mengganas. Teriakan-teriakan ngeri menyayatkan hati, kepala orang pating berjatuhan bagaikan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ buah kelapa yang berjatuhan dari pohonnya. Banjir darah disitu, malah Hoan Hiocu pun menjadi salah satu korbannya. Kepalanya menggelinding jatuh dilantai karena ditebas oleh Lie Kui. Kang Kiat yang masih sempat menyelamatkan diri, sudah lantas meninggalkan mereka yang sedang ngamuk dalam markasnya, lari ke rumahnya Liu Wangwee. Ia tahu Pangcunya ada disana untuk memberi laporan. Ang Pangcu mendengar kejadian yang menyedihkan itu sampai tidak bisa membuka mulut, saking sangat gusar dan jeri pada Sucoan Sam-sat. "Ang-hiante, bagaimana baiknya ini ?" Liu Wangwee berkata pada Ang Ban Teng. "Hahaha !" sekonyong-konyong Cia Kie ketawa. "Anak In, kalau kau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tentu kau mengatakan aku si kakek omong kosong. Nah, sekarang buktinya bagaimana ?" "Anak In, coba kau turut paman Ang pergi ke sana menengoknya." Liu Wangwee berkata pada si bocah yang acuh tak acuh mendengar hal itu. Mendengar kata-katanya Liu Wangwee, barulah ia seperti tersadar. Tapi ia tidak menyahut, sebaliknya ia memandan Bwee Hiang yang pucat wajahnya mendengar kabar jelek yang disampaikan oleh Kang Kiat. "Kau ikut paman Ang ke sana, adik kecil." berkata Bwee Hiang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ ketika si bocah tinggal diam saja duduk di kursinya. "Apa mesti encimu turut ke sana ?" Nada suaranya paling belakang agak keras, seperti teguran. "Anak In, turutlah kata-kata encimu." Liu Wangwee menganjurkan. Lo In tinggal diam saja. Liu Wangwee dan Bwee Hiang saling pandang nampak Lo In tidak bergerak dari duduknya. Mereka mengerti kalau tidak bersama Bwee Hiang, si bocah tidak mau pergi. Keadaan sudah demikian mendesak, Ang Pangcu kelihatan amat gelisah. Ia tidak punya nyali untuk pergi ke markas cabangnya tanpa Lo In, sebab percuma saja akan mengantarkan jiwa saja kepada Sucoan Sam-sat. Matanya mengawasi Liu Wangwee seperti memohon pertolongan. Liu Wangwee menjadi sangat tidak enak, maka ia lalu berkata pada puterinya, "Anak HInga, kau bawa pedangmu dan antarkan adik kecilmu kesana, ikut paman Ang." Bwee Hiang bangkit dari duduknya dan berlalu, diikuti oleh Lo In, seolah-olah yang tidak mau ketinggalan. Kemana Bwee Hiang pergi, ia harus ikut. Sungguh lucu lagaknya si bocah hitam. Sebenarnya bukan apa-apa kelakuannya Lo In itu, ia memang ketakutan kehilangan Bwee Hiang seperti ia sudah kehilangan Eng Lian. Sebentar lagi tampak Bwee Hiang sudah muncul kembali dengan pakaian ringkas, pedangnya disorong di pinggang. Di

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ belakangnya tampak Lo In mengintil. "Habis, kalau anak pergi, siapa yang temani ayah ?" tanya si gadis. Ia khawatir ayahnya ditinggal sendirian. "Legakan hatimu, kami disini akan menemani ayahmu." Cia Kie berkata tertawa. Lega hatinya si gadis, lalu ia bersama Lo In ikut Ang Pangcu dan Kang Kiat pergi ke markas cabang Ceng Gee Pang. Karena masing-masing dapat menggunakan jalan cepat, maka dalam tempo pendek saja mereka sudah sampai di tempat tujuan. Keadaan dalam markas cabang itu benar-benar mengerikan. Mayat tampak malang melintang, yang kuntung tangan, kaki, paha dan kepala terdapat di sana sini. Sunyi senyap, hanya terkadang seperti ada terdengar rintihan dari korban-korban yang belum mati. Sementara Lie Kui dan Teng cong yang diharapkan masih dapat dijumpai disitu, ternyata sudah tidak kelihatan mata hidungnya. Ang Pangcu nampak semua itu telah mengucurkan air mata, diikuti oleh lima Hiocunya. Bwee Hiang juga tidak dapat menahan rasa terharunya, ia menangis. Beberapa kali ia menyeka air mata dengan lengan bajunya. Lo In yang belum pernah melihat orang dibunuh demikian kejam, tampak geleng-geleng kepala. Pernah ia melihat orang terluka, berceceran darahnya, kejadian itu dua tahun yang lalu dimana Liok Sinshe mengamuk menghajar musuh-musuhnya. Di sini ia nampak bukan darah berceceran saja, tapi

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mengumpiang di sana sini, sedang kepala, tangan, kaki dan lain-lain anggota tubuh manusia berserakan mengerikan. Hatinya yang lemah tidak mau membunuh orang, tiba-tiba tergugah. Tangannya yang kecil dikepal-kepalkan, romannya sangat gusar. Ia menyesal tadi kenapa ia tidak membereskan jiwanya Sucoan Sam-sat. Kalau tidak, tentu ia tidak menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan seperti sekarang ini. Bwee Hiang melirik pada adik kecilnya, ia tahu bahwa Lo In sangat gusar. "Adik kecil," katanya. "Lantaran kau punya murah hati, nah kejadiannya begini. Kau lihat, bagaimana kejamnya Sucoan Sam-sat mengganas !" "Biarlah sekali lagi kita ketemu mereka, aku tak akan kasih ampun !" jawab si bocah seraya angguk-anggukkan kepalanya. Terkejut Bwee Hiang. Pikirnya, kenapa bocah ini mengatakan 'kita' ? Apakah dimaksudkan dia dengan ia (Bwee Hiang) yang kelak akan menghadapi Sucoan Sam-sat ? Ia tidak sempat memecahkan soal ganjil itu karena segera mendegnar Ang Pangcu berkata pada Lo In, "Anak In, inilah bukti dari perbuatan ganas Sucoan Sam-sat. Maka kalau belakang hari kau ketemu mereka, aku harap kau suka menghukum mereka yang setimpal dengan kebuasannya !" "Aku mengerti paman Ang. Semoga dalam perjalanan berkelana aku akan menjumpai mereka supaya para paman

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ yang mati sekarang toh akhirnya mendapat kepuasan di alam baka !" demikian si bocah berjanji. -- 17 -Kata-kata Lo In membuat Bwee Hiang ketawa girang sebab sudah terang si bocah sekarang sudah berubah pandangannya terhadap orang-orang jahat. Kelemahan hatinya berubah menjadi suatu keganasan. Yang paling girang adalah Ang Pangcu sebab ia percaya meskipun ia sendiri tidak bisa membalas kekejamannya Sucoan Sam-sat, sekarang ada si bocah sakit yang menyanggupinya. Mendengar kedatangannya ketua dari pusat, maka orangorang Ceng Gee Pang yang tadi pada lari menyembunyikan diri dari angkara murka Sucoan Sam-sat pada muncul dan memberikan pertolongan pada mereka yang belum tewas jiwanya. Atas perintahnya Pangcu, tempat itu dibersihkan dari mayat-mayat yang malang melintang. Ketika Kang Kiat berada jauh dari Bwee Hiang dan Lo In, Kang Tocu berkata pada Ang Pangcu, "Pangcu, kalau tadi kita tidak berkutat dulu membujuk si bocah muka hitam, kita pasti datang disini dalam waktunya. Kita masih bisa menjumpai dua orang jahat itu dan kita dapat menolong saudara-saudara kita, tidak sampai mengambil korban begini banyak !" "Kang Tocu." katanya. "Kau tidak tahu." Ang Pangcu ketawa. "Justru si bocah yang penting kita bawa ke sini. Apa dengan tenaga kita, dapat kita usir Sucoan Sam-sat ? Hmm ! Kau jangan mimpi. Bocah itu mempunyai kepandaian yang susah diukur, dialah yang telah mengusir pergi Sucoan Sam-at dari taman bungan Liu Wangwee, dimana kita berenam dan Kian-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ san Ji-lo sudah roboh tidak berdaya. Kalau tidak ada dia, sekarang, kau tentu tidak bisa berhadapan dengan Pangcumu........." "Ha ! Apa iya ?" memotong Kang Kiat, matanya terbelalak kurang percaya. Ang Pangcu hanya tersenyum melihat kelakuan Tocunya. Sementara itu ia sudah bertindak ke arah Bwee Hiang dan Lo In yang tengah ngomong-ngomong. Sebelum ia membuka mulut bicara, Bwee Hiang sudah mendahului, "Paman Ang, musuh sudah pergi. Sedang paman juga repot menghadapi para paman yang mati dan terluka. Maka sebaiknya aku dan adik In pulagn saja. Aku masih kuatirkan di rumah ada terjadi apa-apa yang tidak diingini !" Sebenarnya Ang Pangcu hendak menahan mereka tapi karena alasannya Bwee Hiang cukup teguh maka ia pun tidak bisa berkata apa-apa selain mengucap terima kasih pada Lo in dan si nona atas perhatiannya. "Aku harap saja di rumah tidak terjadi apa-apa, anak Hiang !" berkata Ang Pangcu ketika ia mengantar muda mudi itu keluar dari kantor cabangnya. Hanya diwaktu menyaksikan pemandangan yang mengerikan tadi, tampak Lo In seperti hatinya tergerak, gusar dan berubah kelemahan hatinya dengan ketegasan. Tapi waktu dalam perjalanan si bocah hanya biasa lagi saja. Riang gembira dan saban-saban menggodai enci Hiangnya supaya tertawa. Lo In senang hatinya, kalau melihat Bwee Hiang ngikiki ketawa karena kejenakaannya. Dalam perjalanan pulang ini juga

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ bukan sedikit Bwee Hiang dibikin ketawa ngikik oleh ucapan atau lagaknya si bocah. Kapan mereka sampai di rumah pula, Bwee Hiang berasa tidak enak hatinya. Ia tidak melihat ada pelayannya yang membukai pintu pekarangan. Malah pintu itu tidak terkunci, tidak biasanya demikian. Masuk ke dalam rumah, biasanya ia disambut oleh Ling Ling dan Lan Lang. Kali ini tidak kelihatan satu juga pelayannya itu. Kemana mereka sudah pergi ? Ia masuk lebih jauh ke ruangan dimana ayahnya dan Kian-san Jilo pasang omong di waktu ia meninggalkan rumah. Tidak tampak mereka disitu. "Adik kecil, mungkin ada kejadian hebat di sini !" kata Bwee Hiang. Hatinya sangat tegang, sedang Lo In terus mengintil di belakangnya si gadis. Bwee Hiang cepatkan tindakannya, menghampiri kamarnya. Ketika ia membuka pintu kamar, matanya terbelalak. Lo In tidak turut masuk ketika melihat Bwee Hiang tergesa-gesa masuk ke dalam kamarnya, ia menanti di luar sambil bersiulsiul. Bwee Hiang lihat Lan Lan menggeletak di lantai sudah tidak bernapas. Ia jongkok memeriksa. Terkejut ia ketika melihat pakaiannya si pelayang sobek sana sini seperti yang disobek orang. Kapan Bwee Hiang angkat pakaian yang menutupi tubuh si pelayan, kiranya Lan Lang sudah telanjang sehingga pusar ke bawah. Dari tanda-tanda yang mencurigakan, Bwee Hiang duga Lan Lan dibunuh setelah diperkosa. Tidak terdapat tanda penganiayaan. Rupanya Lan Lan dibunuh dengan totokan maut.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bwee Hiang ngeri. Ia menekap mulutnya. Kemudia ia buka tekapan tangannya, ia memandang ke pembaringannya. "Hei, kenapa ada orang lagi tidur ?" ia menanya pada dirinya sendiri. Cepat ia bangkit dari jongkoknya lantas menghampiri orang yang seperti tertidur dengan pakai selimut. "Kurang ajar, siapa berani tidur di pembaringanku ?" bentak Bwee Hiang seraya ia menyingkap selimut yang dipakai menutup kepala orang yang lagi tidur. "Ah, Ling Ling !" teriaknya ketika ia mengenali wajah orang yang tidur. Pada wajahnya Ling Ling yang cantik tampak sepasang mata yang melotot penasaran. Meskipun merasa ngeri melihat wajahnya si pelayan, Bwee Hiang masih sempat membuka selimut yang menutupi tubuh. "Aiyaaa !" Bwee Hiang mengeluarkan teriakan tertahan, seraya ia mundur setelah menutupi pula selimut tadi yang menutupi tubuhnya Ling Ling. Apakah yang membikin si nona sangat kaget ? Kiranya, ketika selimut dibuka, tampak tubuh Ling Ling telanjang bulat. Sepasang buah dadanya yang montok sudah dikupas orang hingga rata. Kemana sepasang buah dadanya itu ? Sedang tangan kirinya, 3 dim diatas nadi berlumur darah, tertabas kutung oleh senjata tajam. Bwee hiang tak tahan menghadapi dua adegan di depannya, maka ia berteriak, "Adik kecil, adik kecil, lekas kau masuk !" Lo In terkejut mendengar panggilan Bwee Hiang seperti yang ketakutan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sekali lompat ia sudah berada di dalam mendekati Bwee Hiang yang berdiri gemetaran di tepi pembaringan di atas mana ada terlentang mayatnya Ling Ling. Ketika Lo In sudah berada di dekatnya, Bwee Hiang tak tahan dengan goncangan hatinya maka ia roboh terkulai dan akan mendeprok di lantai kalau tidak keburu Lo In datang menyangga. "Enci Hiang, enci Hiang !" memanggil si bocah ketika melihat si nona lemas badannya dan kedua matanya tertutup. Apa yang sudah terjadi ? Tanyanya dalam hati. Sementara matanya melirik ke bawah, ia melihat tubuhnya Lan Lan yang terkapar tak berkutik. Cepat Lo In pondong Bwee Hiang dan diletakkan di atas satu dipan, tidak jauh dari pembaringan. Meskipun biasanya Lo In sangat tenang, kali ini kelihatan ia gugup juga. Cepat si bocah menghampiri Lan Lan yang menggeletak di lantai. kapan ia membuka baju yang sobek sana sini yang menutupi tubuhnya Lan Lan, tampak Lan Lan telanjang bagian bawahnya. Cepat ia menutupi pula Lan lan, lalu meraba tangan si pelayan diperiksa urat nadinya. Kiranya Lan Lan sudah tidak bernyawa. Ia geleng-geleng kepala tampaknya ia merasa kasihan pada si pelayan yang bernasib malang itu. Ia mengerti bahwa Lan lan mati karena totokan jahat pada jalan darah. Lo In jadi termenung sejenak dalam keadaan berjongkok. Kapan matanya kemudian melirik ke pembaringan, ia lihat ada sesosok tubuh yang ditutupi selimut seluruhnya. Cepat ia

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ bangkit dan menghampiri. Perlahan-lahan ia membuka selimut yang menutupi. Kaget ia karena itulah Ling Ling yang ketawanya manis dan mukanya botoh, sekarang sudah jadi mayat dengan mata melotot. Dalam terkejutnya, ia menyingkap terus selimut yang menutupi tubuh Ling Ling. Bukan main gusarnya Lo In nampak sepasang buah dadanya si pelayan yang cantik dikupas orang. Berbayang di matanya si bocah, kapan Ling Ling turut tertawa ngikik, sepasang buah dadanya yang bulat menonjol seperti turut bergoyang. Pikir si bocah, Ling Ling toh sudah jadi mayat. Apa halangannya kalau ia diperiksa lebih jauh tanda-tanda kekejaman manusia atas dirinya si pelayan. Maka, ia sudah menyingkap terus selimut dan.... hatinya terkesiap kapan melihat tangan kirinya si Ling Ling dekat pergelangan terkutung mengeluarkan banyak darah. Kekejaman itu sedikitnya dengan pedang, kalau tidak dengan golok dikerjainya. Lo In sambil bergidik. Ia bergidik dan bulu tengkuknya dirasakan berdiri. Bukannya takut tapi meluap kegusarannya yang belum pernah ia alami sebelumnya. Cepat-cepat ia menutupi pula tubuhnya Ling Ling dengan selimutnya. Lo In tampak berdiri bengong. Pikirnya, apakah mungkin ada manusia demikian kejam merusak anggauta tubuh si Ling Ling yang botoh mungil ? Tapi bukti sudah ada, bagaimana juga Lo In dapat melupakan kekejamannya manusia jahat dalam dunia yang lebar ini. Kalau tadi ia acuh tak acuh meskipun sudah menyaksikan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kekejaman dalam markas cabang Ceng Gee Pang, sekarang setelah menyaksikan Ling Ling dan Lan Lang menjadi korban keganasan manusia jahat, maka hatinya benar-benar menjadi sadar bahwa seharusnya ia membasmi kejahatan untuk menolong si lemah. Tiba-tiba ia teringat akan Liu Wangwee, maka seketika itu ia lompat keluar kamar. Saban beberapa tindak ia jalan, ia menemukan mayat para pelayan yang mengerikan. Ia tidak ada tempo untuk memeriksa satu demi satu. Yang penting ia mau cari Liu Wangwee, orang tua yang telah perlakukan dirinya sangat baik. Setelah ia berputar-putar mencari, tidak juga ia menemukan si orang tua. Akhirnya ia sampai ke taman bunga, dimana belum lama berselang ada dilakukan pertempuran dengan Sucoan Sam-sat. Di sini ia telah menemui mayatnya Cia Kie terkapar dengan leher hampir putus, tidak jauh darinya terlihat mayatnya Cia Liang terlentang dengan kepala sudah terpisah. Cemas hatinya Lo In, sebab Liu Wangwee masih juga belum diketemukan. Ia berdiri bengong. Tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap seperti ada suara rintihan dalam gerombolan alang-alang. Dengan beberapa lompatan ia sudah sampai disana, ia menerobos masuk dan kemudian keluar lagi dengan sesosok tubuh dipanggul di atas pundaknya. Itulah Liu Wangwee yang keadaannya sudah hampir mati. Lo In letaki orang tua yang bernasib buruk di tempat terbuka.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dengan meminjam penerangan rembulan, Lo In periksa keadaannya si orang tua. Si bocah cepat menotok beberapa bagian jalan darah untuk menghentikan darah yang keluar tidak hentinya dari luka-luka di bagian muka, bahu dan kedua tangannya yang sudah menjadi buntung. Keadaan lukanya si hartawan sangat parah. Lo In putus harapan untuk merampas jiwanya dari malaikat elmaut. Meskipun demikian, ia coba keluarkan obatnya yang manjur untuk menolongnya. Dalam repotnya, tiba-tiba ia dibikin kaget oleh Bwee Hiang yang menubruk ayahnya dan menangis menggerung-gerung. Bwee Hiang ketika mendusin dari pingsannya, ia tidak melihat adik kecilnya dalam kamar. Ia lantas menduga Lo In tentu sedang mencari ayahnya. Cepat ia bangun dan lari keluar. Ia tidak perdulikan mayat-mayat para pelayannya yang malang melintang ia ketemukan. Terus ia mencari Lo In sampai ia jumpai si bocah sedang memberikan pertolongan pada ayahnya di taman bunga. Bukan main takutnya si gadis tampak keadaan ayahnya sudah sangat payah. Ia memeluki sambil menangis, tangannya meraba-raba wajah si orang tua yang sudah mandi darah. Dengan jari-jarinya yang halus, si nona beberapa kali coba melekkan matanya Liu Wangwee yang meram saja seperti sudah mati. Putus harapan si nona, ia menangis makin menjadi. "Enci Hiang." tiba-tiba si gadis mendengar adik kecilnya berkata halus. "Lope tidak dapat ditolong hanya dengan tangisan saja. Maka tenangkanlah hati enci dan marilah kita

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sama-sama menolongnya." Bwee Hiang seperti tersadar mendengar kata-kata si bocah. Ia melepaskan pelukannya sambil masih terisak-isak ia menyusuti air matanya. "Adik kecil, bagaimana ini..........?" si gadis kebingungan, tangisnya belum berhenti. "Tenang, enci Hiang." menghibur Lo In. "Jiwa ada di tangan Thian (Tuhan). Kita manusia harus pasrah kepada nasib, asal kita sudah menolong dengan sebisanya kepada Lope. Coba aku periksa lagi keadaannya." Lo In berkata sambil tangannya mengangkat tubuhnya Liu Wangwee hendak di pondong, di bawa pergi dari situ. Tiba-tiba matanya Liu Wangwee yang barusan meram saja tampak dibuka, sebelum badannya terangkat oleh Lo In. Si bocah tersenyum kepadanya. Bwee Hiang lihat itu, mukanya mendekati wajah si orang tua. Katanya, "Ayah, oh, ayah......" Si orang tua tersenyum. Terdengar ia berkata, "Anak Hiang, anak Hiang. Selanjutnya kau harus akur-akur dengan adik kecilmu. Eh, anak In." Liu Wangwee teruskan kata-katanya pada si bocah. "Tolong kau jaga encimu. Biarlah kalian hi...." Sampai disitu kata-kata Liu Wangwee terputus berbareng jiwanya juga sudah pergi. Kepalanya teklok dengan sendirinya. Lo In menghela napas. Liu Wangwee mati dengan disangga tangannya. Suatu kematian yang mengharukan, setelah meninggalkan pesa pada putri kesayangannya dan si bocah wajah hitam.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sementara itu, setelah mendengar pesan sang ayah kemudian melihat ayahnya menutup mata, Bwee Hiang tidak tahan dengan getaran hati yang sangat sedih dan putus harapan. Maka ia tidak bisa menangis, sebaliknya, ia jatuh pingsan........ Sampai disini kita melihat pada Eng Lian. Seperti diceritakan di sebelah atas, Eng Lian setelah dicekoki 'Cian jit su su hun' atau 'Obat bubuk mematikan ingatan seribu hari', ingatannya sudah berubah dan menjadi lupa kepada segala kejadian yang sudah-sudah. Si bocah Lo In sudah tidak ada dalam alam pikirannya lagi. Ia hanya ingat Ang Hoa Lobo ada suhunya dan kepada siapa ia harus bersetia dan menurut. Meskipun demikian, obat itu tidak mengganggu alam pikirannya yang cerdik, lincah dan gayanya yang lucu. Ang Hoa Lobo sangat kegirangan setelah menguasai Eng Lian. Cita-citanya yang besar untuk mendirikan partay baru, segera kesampaian dengan bantuannya Siauw Cu Leng. Ang Hoa Pay (Partay Bunga Merah) telah terbentuk dan perlahan-lahan dikenal di kalangan Kangouw. Akan tetapi orang tak dapat menemukan dimana pusat atau cabangnya Partay Bunga Merah itu. Orang hanya dengar perkumpulan baru itu dikepalakan oleh satu nona muda yang menamakan dirinya Kim Coa Siancu atau Dewi Ular Emas. Kabarnya Kim Coa Siancu ada sangat lihai, pergi dan datang tak kelihatan bayangannya, menakjubkan dan membuat jagojago rimba persilatan (Bulim) menjadi khawatir akan sepak terjangnya partai baru itu. Apakah partai itu berhaluan baik atau jahat. Tapi yang terang, belakangan ini banyak terjadi penculikan anak-anak tanggung usianya, menimbulkan kegemparan karena diketahui penculikan-penculikan itu

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dilakukan oleh Kim Coa Siancu. Eng Lian yang sudah berubah dirinya menjadi Kim Coa Siancu memang juga berkepandaian lihai. Ia bukan saja dapat didikan serius dari Ang Hoa Lobo tapi juga disayang oleh Sucouwnya ialah Lamhay Mo Lie atau 'Si Iblis wanita dari lautan kidul (selatan)' yang kepandaiannya susah diukur. Lamhay Mo Lie yang melihat Eng Lian ada berbakat jempolan, tidak ragu-ragu lagi ia mendidik si dara cilik dengan luar bisa. Lwekangnya Eng Lian dahsyat oleh karena emposan dari obat-obat gaib Lamhay Mo Lie. Dalam tempo pendek atau tidak sampai dua tahun, dari satu dara kecil yang lemah, Eng Lian berubah menjadi si 'Jelita 17 tahun' yang tegap, cantik luar biasa dan kepandaiannya sangat tinggi. Memang tidak dilebih-lebihkan kalau Ang Hoa Lobo suka membual bahwa Kim Coa Siancu ada seorang yang hebat kepandaiannya sebab memang demikian kenyataannya si dara cilik di bawah didikan langsung dari Lamhay Mo Lie. Sepanjang muncul Kim Coa Siancu yang memimpin Ang Hoa Pay, ada juga beberapa orang kuat yang dapat menyelidiki dimana tempatnya partai baru itu. Tapi Coa-kok (lembah ular) adalah sangat berbahaya untuk dikunjungi, maka ada sedikit orang yang berani menempuh bahaya untuk pergi ke sana. Diantara yang sedikit orang yagn berani menempuh bahaya terhitung Siang-tauw niauw Kam Eng Kim, puteri dan mantunya (Lengkoan Giok Lie Kam Lian Eng dan Hek-houw Ma Liong). Mereka sangat penasaran dengan diculiknya Ma Sian Bwee, cucu dan puteri kesayangannya mereka. Setelah Ma Sian Bwee diculik Ang Hoa Lobo, dengan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ bercucuran air mata Kam Lian Eng melapor pada ayahnya, si Burung Kepala Dua Kam Eng Kim. Mendengar laporan yang mengagetkan itu, bukan main marahnya si Burung Kepala Dua. Sambil menggebrak meja ia mencaci si nenek yang menculiknya, ia tidak tahu siapa namanya si nenek culik itu. Hanya ia tahu si nenek adalah suruhannya Kim Coa Siancu sebagaimana diterangkan oleh Lengkoan Giok-Lie Kam Lian Eng. Sejak itu, penyelidikan dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk mengetahui dimana tempatnya Kim Coa Siancu itu. Sampai beberapa lama dia berusaha, akhirnya dapat juga keterangan yang dingini oleh mereka. "Coa-kok letaknya ada di sebelah utara barat gunung Hengsan." menyatakan Ma Liong dalam membicarakan soal menolong anaknya. "Jauh tentunya dari tempat kita." kata sang isteri, Lengkoan Giok Lie. "Jauh tidak menjadi soal." menyela Kam Eng Kim. "Yang dipikirkan tempat itu merupakan lembah yang banyak ular jahatnya. Banyak orang bilang yang memasuki lembah itu, bisa masuk tidak bisa keluar lagi." "Apa benar sampai begitu bahayanya, ayah ?" tanya Lengkoan Giok-lie. "Aku sendiri belum tahu ke sana, bagaimana aku tahu ?" jawab sang ayah. "Biar bagaimana, kita tidak tega anak Bwee diantapkan begitu

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ saja !" Ma Liong menyatakan kecemasannya. Kam Eng Kim dan puterinya membungkam. Tampak si Burung Kepala Dua mengurut-urut jenggotnya yang panjang. "Memang begitu." katanya. "Tidak perduli ada gunung golok di sana, kita harus pergi untuk menolong Sian Bwee !" si jago tua meneruskan, bersemangat dia. "Kapan kita berangkat ?" Lengkoan Giok-lie juga bersemangat. Ma Liong melirik pada mertuanya, tidak berkata apa-apa. "Nanti aku tanyakan dahulu pada sahabatku Louw Bin Cie, apa dia bersedia untuk mengikuti kita atau tidak." Kam Eng Kim menyatakan. "Bagus." kata Ma Liong. "Kalau Louw Su-siok turut, kita dapat tambah tenaga yang sangat berarti. Dia kepandaiannya menggunakan sepasang pedang, tiada yang dapat menandinginya !" Ma Liong kelihatan kegirangan mendengar Louw Bin Cie akan diajak dalam kepergiannya itu. Tidak heran ia kegirangan karena Louw Bin Cie ada tersohor kepandaiannya bersilat dengan sepasang pedangnya. Dua pedang yang digunakan olehnya bukan pedang dari ukuran biasa, tapi pendek. Dari ujung pedang samapi di ujung gagangnya kira-kira panjang dua kaki. Pedang biasa, tajam hanya satu muka. Tapi pedang Louw Bin Cie ada dua muka, depan belakang. Kepandaiannya menggunakan sepasang pedang itu, membuat

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ namanya Louw Bin Cie terkenal dengan julukan Sian-jin Siang-kiam Louw Bin Jie atau 'Si Sepasang Pedang Dewa' dan dengan kepandaiannya ini bukan sedikit jago-jago silat yang menjadi pecundang. Malah di kalangan Hekto (jahat) namanya sangat ditakuti. Dengan Kam Eng Kim, si Sepasang Pedang Dewa ada bersahabat baik, lebih-lebih dari saudara putusan perut. Maka ketika Louw Bin Cie mendapat kabar hal diculiknya Sian Bwee, dia juga sangat gusar. Sian Bwee ada satu anak perempuan yang berbakat untuk belajar ilmu silat. Maka Louw Bin Cie sering memberi beberapa petunjuk dan pandangan kepada si dara cilik sebagai cucunya juga, karena atas perintah Kam Eng Kim, kepadanya Sian Bwee ada memanggil Yaya (engkong atau kakek). Demikian, ketika ditanya pikirannya, Louw Bin Cie tidak pikirpikir lagi. Ia sudah lantas menyanggupi untuk pergi bersamasama dengan Kam Eng Kim ke Coa-kok. "Aku ingin lihat, Kim Coa Siancu itu macam bagaimana. Apakah dia ada mempunyai tangan delapan sampai orang ketakutan kepadanya ? Hmm !" Louw Bin Cie menyatakan kesengitannya ketika Kam Eng Kim mengatakan si Dewi Ular Emas ada sangat lihai ilmu silatnya, disamping juga ada pembantunya yang lihai-lihai. Pada keesokan harinya, genap satu setengah tahun Sian Bwee menghilang. Ma Liong dan isteri dengan dikawal oleh dua jago tua Kam Eng Kiam dan Louw Bin cie, mereka melakukan perjalanan ke lembah ular dimana ada bersemayam Kim Coa Siancu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dalam perjalanan kesana, mereka dapat kesukaran mencari keterangan. Waktu jarak tempat yang dituju masih jauh, mereka masih dapat petunjuk dari orang dimana letaknya Coa-kok. Tapi makin mendekat ke tempat tujuan, makin sukar mereka dapat keterangan. Orang-orang yang ditanyai kebanyakan menggeleng kepala, mengatakan tidak tahu. Lengkoan Giok-lie coba gunakan pengaruh uang, menyogok, supaya orang mau kasih petunjuk tetapi tidak ada yang mau terima. Mereka jadi heran. "Kalau begitu jalannya, bagaimana kita cari sarangnya Kiam Coa Siancu ?" tiba-tiba Kam Eng Kiam mengutarakan pikirannya. Ma Liong dan isterinya hanya memandang si jago tua, hanya diam saja. Rupanya mereka satu pikiran. Memang sukar untuk mencari sarangnya Kim Coa Siancu, manakala tidak mendapat petunjuk dari orang-orang yang berdekatan dengan Coa-kok. Louw Bin Cie juga terdiam di tempat berdirinya. Setelah semuanya membisu untuk beberapa lama, tiba-tiba Louw Bin Cie berkata, "Mari ikut aku. Di sana ada orang yang akan menolong kita." Louw Bin Cie berkata sambil tangannya menunjuk ke jurusandepan, nyamping ke kiri hingga kawan-kawannya menjadi heran, "Memangnya siapa ada tinggal disana ?" tanya Kam Eng Kim pada sahabatnya. "Aku kira toako tentu kenal orangnya manakala sudah jumpa." jawabnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Louw Bin Cie tidak menerangkan siapa adanya orang itu, hanya ia terus memimpin orang-orangnya dengan jalan lebih dahulu menuju ke arah yang barusan ia tunjuk sehingga Kam Eng Kim sungkan untuk menanya lebih jauh. Tidak lama mereka jalan, segera menemukan sebuah rumah sederhana dikurung oleh pagar bambu sekitarnya. Mereka sampai didekatnya, tiba-tiba dibikin kaget oleh anjing yang menyalak. Gonggongan anjing itu keras dan galak. Rupanya anjing jantan sebab kemudian disusul menyalaknya anjing lain yang tidak begitu galak, anjing betina rupanya. Sebentar lagi tampak muncul seorang wanita yang berusia pertengahan, melihatnya, Louw Bin Cie menyapa, "Thio Jiso (enso kedua), apa kau baik-baik saja ? Sungguh girang aku dapat melihat kau lagi." Wanita tadi memandang ke jurusan Louw Bin Cie, "Eh, kau yang datang Louw-ji (si Louw kedua). Sungguh tidak disangkasangka." kata si wanita seraya menghampiri pintu pekarangan, berbareng mulutnya ramai melarang anjing-anjingnya menyalak. "Mari, mari masuk. Kau bawa banyak teman ?" kata si wanita lagi seraya membuka pintu pekarangan, menyilahkan tamutamunya masuk. "Bagaimana, apa toako ada di rumah ?" tanya Louw Bin Cie sambil terus berjalan mengikuti si Thio Jiso, nyonya rumah rupanya. Si wanita yang dipanggil Thio Jiso tidak menyahut, hanya jalannya dipercepat dan masuk lebih dahulu ke dalam rumah.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sebentar lagi tampak muncul lagi wanita lain. Lian Eng yang melihat merasa bingung sebab wanita itu romannya hampir sama dengan yang tadi, hanya sedikit tuaan. Tapi kalau dilihat sepintas lalu, orang bisa keliru dan menyangka wanita yang baru muncul itu yang tadi juga. "Selamat datang, selamat datang !" menyambut si wanita yang barusan muncul. "Thio Toaso, bagaimana kau baik-baik saja ?" kata Louw Bin Cie sambil angkat tangannya menyoja si nyonya dan diturut oleh yang lain. Lian Eng bingung Louw Bin Jie memanggil Jiso dan Toaso (enso kedua dan kesatu). Apa tuan rumah punya dua isteri ? Tanya hati kecilnya. Lengkoan Giok-lie tak usah lama-lama menebak dalam hatinya karena ia segera diperkenalkan kepada tuan rumah dan dua wanita tadi. Dan benar saja dua wanita itu adalah isterinya tuan rumah. Mereka itu Sian Kin dan Sian Lian, orang she Kho, keduanya adalah isteri dari Kim to Thio Tiat, si Golok Emas yang pada 10 tahun berselang terkenal namanya sebagai guru silat di kota Hokciu (Hokkian). Sian Kin dan Sian Lin adalah sepasang dara kembar dari puteri hartawan Kho di kota Hokciu yang bersama-sama mencintai Thio Tiat gara-gara belajar silat. Thio Tiat tidak memilih-milih lagi, ia sikat sekaligus kedua-duanya menjadi istrinya. Matanya Thio Tiat benar-benar lihai sebab dua isterinya memang benar isteri-isteri yang pantas mendapat cinta sang suami.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Karena mereka betul-betul setia dan merawat suaminya dengan baik. Satu sama lain bisa akur, tidak main iri-irian seperti biasanya bila satu suami dengan dua istri bila dijadikan satu (srumah) pasti cakar-cakaran. Tetapi mereka dapat hidup dengan bahagia. Belakangan Thio Tiat merasa bosan dengan penghidupan di kota, maka ia sudah ajak dua istrinya menyepi di tempat pegunungan, yang ditinggali sekarang, ialah dusun Cit-sengtin, termasuk wilayah Coa-kok juga. Thio Tiat dengan Louw Bin Cie adalah teman baik dari kecil. Malah ketika si guru silat bercinta-cintaan dengan sepasang dara kembar, ia tahu juga. Malah sering menggodai mereka. Pada waktu itu ia sering mendapat pesanan Sian Kin dan Sian Lin, bukannya suatu hadiah tapi pesanan cubit karena si dara jengkel digodai. Thio Tiat hanya ketawa terbahak-bahak dapat melihat Louw Bin Cie teraduh-aduh terima cubitan Sian Lin yang lebih galak dari encinya. Louw Bin Cie dipanggil Louw-ji karena masih ada engkonya yang dipanggil Louwtoa (si Louw kesatu atau tua) yang bernama Bin Gie, yang juga mengenali sepasang dara itu tapi tidak suka bersenda gurau seperti Louw Bin Cie. Demikian pertemuan antara Thio Tiat dan Louw Bin Cie, sungguh-sungguh menggirangkan kedua pihak karena sejak si orang she Thio menyepi di kampungnya situ, belum pernah ketemu lagi dengan teman sepermainan di waktu masih kecil itu. Louw Bin Cie mengenalkan Kam Eng Kim dan lain-lainnya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ pada Thio Tiat dimana Thio Tiat memberi sambutannya indah dan sopan hingga menyenangkan para tamunya. Siang-tauwniauw Kam Eng Kiam memang kenal dengan Thio Tiat tapi hanya kenal nama saja. Begitu juga sebaliknya dengan Thio Tiat. Tapi sekarang, begitu berani, kelihatan mereka cocok dan dapat mengobrol banyak. Demikian, dilain pihak Lian Eng pun dapat mengobrol dengan gembira dengan dua nyonya rumahnya, yang ternyata suka ngomong. Tidak hentinya dua nyonya rumah itu menghujani Lian Eng dengan rupa-rupa pertanyaan tentang keadaan di kota sekarang ini. Lengkoan Giok-lie tidak keberatan untuk menceritakan perubahan-perubahan yang ia tahu sehingga dua nyonya itu kelihatannya merasa senang. Selama mereka bercakap-cakap, tak terasa cuaca mulai gelap. Dengan ramah tamah, tuan dan nyonya rumah mengundang mereka untuk melewatkan sang malam dalam rumah itu saja. Para tamu tidak melihat alasan untuk menolak. Apalagi urusan yang penting hendak ditanyakan belum dilakukan. Maka itu mereka dengan baik telah menerima undangan untuk menginap dalam rumah Thio Tiat. Nyonya rumah telah menyediakan hidangan sekedarnya tapi cukup lezat dimakan oleh para tamu dan semuanya pada mengatakan banyak terima kasih. Pada mulanya, di waktu omong-omong dengan perlahanlahan Louw Bin Cie timbulkan persoalan Kim Coa Siancu. Waktu mendengar disebutnya Kim Coa Siancu, otomatis, tampak wajah Thio Tiat dan dua istrinya menjadi pucat.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tapi Thio Tiat dapat menguasai getaran jantungnya yang kaget. "Sebaiknya jangan kita bicarakan soal itu." katanya, perlahan suaranya. Ma Liong tidak puas. Ia lantas ceritakan tentang diculiknya Sian Bwee dan maksud mereka lewat di Cit-sen-tin adalah hendak menyatroni sarangnya Kim Coa Siancu di Coa-kok. Hanya menyesal sekali, tidak ada seorang yang dapat memberi petunjuk yang jelas untuk pergi ke sana. Mendengar itu, Thio Tiat saling pandang dengan kedua istrinya. "Urusan kalian memang hebat." kata Sian Lin tiba-tiba. "Dalam hal lain mungkin kita dengan lantas dapat membantu tapi dalam itu, maaf saja." "Kenapa begitu ?" tanya Kam Eng Kim, tidak puas dia. "Dalam wilayah di sini, ada satu pantangan untuk orang menyebut apa-apa mengenai dirinya, apalagi petunjuk seperti yang kalian ingini." berkata lagi Sian Lin, wajahnya sudah pucat ketakutan. Thio Tiat dan Sian Kin juga kelihatan gelisah. "Hahaha !" terdengar Kam Eng Kim tertawa. "Kalian tidak berani kasih tahu, kami juga tak berani lama-lama tinggal disini. Nah, marilah kita pergi !" ia bangkit dari duduknya mengajak kawan-kawannya berlalu dari rumah itu, malam-malam itu juga.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ayah, kau jangan bawa adat yang bukan-bukan !" berkata Lian Eng yang merasa jengkel dengan kelakuan sang ayah yang tidak benar. "Apa kau bilang ? Bukan-bukan ? Hmm !" tidakk senang ia ditegur anaknya. "Orang sudah begitu baik terhadap kita, masa dibalas dengan kelakuan yang demikian tidak sopan ?" berkata lagi Lien Eng, berani ia menyela ayahnya. "Kau, kau, anak apa ! Tidak punya isi perut. Orang sudah ketakutan masih mau ngotot lagi. Mereka boleh takut pada si sundal Kim Coa Sian....." berbareng api lilin yang sengaja dipasang dua batang telah menjadi padam. "Hihihi....." kedengaran suara ketawa wanita di sebelah luar, perlahan suara ketawa itu tapi menusuk ke telinga orang yang ada disitu. Thio Tiat dan dua istrinya saling peluk ketakutan sementara Ma Liong dan Liang Eng juga jeri hatinya, hanya Louw Bin Cie yang besar hatinya. Dengan sekali lompat ia sudah berada di luar pintu. Di sana si orang she Louw hanya melihat seperti segulungan asap ketiup angin pergi, pergi tidak kelihatan ditelan kegelapan sang malam. Louw Bin Cie sebenarnya hendak mencegat larinya si wanita yang ketawa tadi tapi sudah terlambat. Wanita itu sudah lenyap seperti asap bergulung-gulung. Si orang she Louw hanya bisa menghela napas dengan mendongkol. Ketika ia masuk lagi ke dalam, api lilin penerangan sudah dipasang lagi. Mendadak Lian Eng menjerit

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ melihat ayahnya sedang duduk menyender di kursi dengan kedua matanya tertutup. Waktu Thio Tiat dan dua istrinya mendekati, mereka menjadi menggigil seperti yang merian, "Kim...... Kim..... Coa.... Sian.....cu.....!" kata-kata ini molor keluar dari bibirnya sian Lin seraya tangannya menunjuk pada jidatnya Kam Eng Kim dimana terdapat goresan seperti gambar ular kecil tengah meloget-loget jalan. "Ayah, ayah........." Lian Eng bangkit dari duduknya hendak menubruk ayahnya, tapi cepat dihalangi oleh Sian Lian hingga mereka jadi berkutatan. Lian Eng berontak hendak menghampiri ayahnya sedang Sian Lian bertahan menghalanginya. Segera Sian Kin sudah turun tangan juga, katanya, "Nona Eng, kau dengar dulu omonganku. Sabar, satu sudah hilang, masa harus yang lain menyusul ?" Ma Liong dan Louw Bin Cie heran mendengar kata-kata Sian Kin. Sementara itu, Lian Eng juga sudah menjadi tenang. Tidak lagi ia berontak untuk memeluk ayahnya yang sudah jadi mayat. Ia ingin mendengar penjelasan Sian Kin, yang lalu berkata lagi, "Nona Eng, kalau adikku barusan mencegah kau menubruk ayahmu adalah demi keselamatanmu. Kam Lo-enghiong setelah mendapat totokan maut dari Siancu, badannya menjadi beracun. Kalau kena diraba, orang yang merabanya akan ikut ia ke alam baka. Inilah yang dapat kuterangkan. Harap kau tidak menjadi kecil hati. Sekarang paling baik kita urus jenasah ayahmu baik-baik. Mau ditanam disini boleh saja,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mau di bawa pulang, itu terserah." Lengkoan Giok-lie mendengar perkataan Sian Kin, berdiri bulu kuduknya. Seram dia, hatinya berdebar keras, ketakutan. Matanya saling pandang dengan suaminya. Ma Liong ragu-ragu akan Sian Kin, maka ia tinggal membisu saja, tak dapat ia memberi putusan. Sang istri paham dengan sikapnya sang suami, maka dari takut ia juga menjadi raguragu atas keterangannya Sian Kin. Louw Bin Cie juga masih tidak percaya, masa sampai begitu ampuh totokan si Dewi Ular Emas. Dapatkan ia menyimpan bisa di dalam tubuhnya sang korban ? Melihat sikap mereka, kuatir salah satu antaranya nanti nekad mencoba-coba meraba mayatnya Kam Eng Kiam, maka si Jiso (Sian Lin) berkata, "Kalian mungkin tidak percaya akan katakata enciku. Nanti aku kasih bukti !" berbareng ia berlalu dari situ masuk ke belakang. Tidak lama ia kembali dengan membawa seekor anak anjing yang masih kecil hingga para tamu menjadi heran. "Nah, lihat, aku korbankan makhluk yang tidak berdosa !" katanya berbareng ia pegang kepalanya si anjing kecil, mukanya ditempelkam pada pipinya Kam Eng Kim, lalu dilepaskan dengan cepat hingga si anak anjing jatuh di lantai. Ia tidak berkuing-kuing lari mencari ibunya, sebaliknya, begitu badannya menyentuh lantai, tampak ia berkelejetan seperti makan racun layaknya. Sebentar kemudian terdengar suara 'Ngik' hanya sekali dan anjing kecil itu melayang jiwanya dan tubuhnya sudah tak bergerak lagi.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lian Eng lompat menubruk Ma Liong. Ia memeluk suaminya dengan ketakutan bukan main. Ma Liong pun tergetar hatinya, tapi tidak ketakutan seperti Lian Eng. Louw Bin Cie dilain pihak, tampak angguk-anggukkan kepalanya. Hatinya cemas tercampur terharu. Ia cemas karena gara-gara ia yang membawanya ke rumah Thio Tiat sehingga Kam Eng Kim menemukan kematian konyol, terharu kehilangan si Burung Kepada Dua yang tidak sedikit tahun menjadi sahabatnya. Ia jadi berdiri menjublek. Sekonyong-konyong Lian Eng melepaskan pelukan dari suaminya lalu menghampiri Sian Lin, di dekapnya Lian Eng jatuhkan diri berlutut sambil berkata, "Lin koukou, kau adalah Injinku, terimalah hormatku dan aku mohon maaf atas kelakuanku barusan yang tidak benar." air matanya tampak bercucuran. Koukou artinya bibi dan Injin (tuan penolong). Melihat kelakuan Lengkoan Giok-lie, Sian Lin mengelus-elus rambut si juwita dari kota Lengkoan, "Anak Eng. Kita orang sendiri, tak usah banyak peradatan. Nah, bangunlah !" Sian Lin menyilakan si nyonya muda bangun. Mengingat nanti berabe diperjalanan kalau mayatnya Kam Eng Kim di bawa pulang, maka atas kemauan Lin Eng sendiri, mayat Kam Eng Kim dikubur di Cit-seng-tin. Mayat itu dibungkus dengan kain tebal dan selimut supaya tubuhnya yang beracun tidak sampai teraba oleh orang yang menggotongnya ke dalam liang kubur. Lian Eng mengucurkan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ banyak air mata, menyaksikan penguburan jenasah ayahnya yang kesohor itu hanya disaksikan oleh ia sendiri, sang mantu Ma Liong, sahabatnya Louw Bin Cie serta Thio Tiat dan dua nyonya yang mulia hatinya. Coba kematian Siang-tauw-niauw Kam Eng Kim kejadian di tempatnya sendiri, sudah tentu banyak yang datang melayat dan penguburan dilakukan dengan ramai sekali dengan diantar oleh banyak kawankawannya dalam dunia Kangouw. Setelah selesai membereskan penguburan jenasah ayahnya, Lian Eng ajak kawan-kawannya untuk meneruskan perjalanan. Kepada tuan rumah dan dua nyonya rumah, Lengkoan Giok-lie mengucapkan banyak terima kasih. Malahan ia mau tinggalkan uang untuk ongkos selama mereka tinggal disitu, akan tetapi ditolak oleh tuan dan nyonya rumah yang manis budi. Dalam perjalanan, mereka mampir disebuah rumah makan An Seng untuk melepaskan lelah dan mengisi perut. Mengingat akan nasehat dua nyonya Thio Tiat bahwa ada pantangan bagi orang-orang yang tinggal di wilayah dekat Lembah Ular menyebutkan nama Kim Coa Siancu atau menyinggungnyinggung soalnya, maka Lian Eng dan dua kawannya tak berani dengan terang-terangan berbicara mengenai soal Kim Coa Siancu lagi. Mereka kini tahu akan kelihaiannya si Dewi Ular Emas. Meskipun demikian, diam-diam Lian Eng ada mengandung maksud bahwa suatu waktu ia mesti menemui Kim Coa Siancu untuk menentukan siapa unggul. Tapi hal ini ia tidak dapat lakukan sekarang. Pikirnya, ia akan belajar atau memperdalam ilmu silatnya lagi, setelah mana ia baru akan mencari Kim Coa Siancu yang telah menculik puterinya dan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ membunuh ayahnya. Dalam rumah makan itu mereka kasak kusuk untuk mengambil keputusan, apakah perjalanan baik diteruskan atau baik pulang saja. Louw Bin Cie tidak berkata apa-apa sebab ia memang hanya sebagai pengantar saja. Putusannya sudah tentu ada pada Ma Liong dan istrinya yang mempunyai kepentingan dalam hal itu. "Diteruskan juga percuma, kita hanya akan mengantarkan jiwa saja." Ma Liong menyatakan pikirannya. "Sebaiknya kita pulang saja dahulu untuk berdamai dengan orang-orang tua dirumah, untuk meminta nasehatnya bagaimana kita harus berbuat menghadapi musuh yang sangat tangguh." Louw Bin Cie pikir, itulah jalan paling baik. Maka Lian Eng pun tidak bisa membantah dan mereka sekarang telah putar haluan untuk balik kembali saja. Tidak jauh dari meja makan mereka, tampak ada 4 orang, juga sedang makan dengan bernapsu. Mereka ketawa geli dalam hati melihat satu diantaranya yang bermuka merah dan gendut pendek, makannya sangat gembul. Beberapa kali telah tambah nasi dalam mangkoknya tapi masih belum juga kelihatan merasa kenyang. "Tan-heng, aku kuatir perutmu nanti kembung seperti balon !" kawannya bermuka putih menggodai si gendut yang makan tanpa batas. "Hahaha !" si gendut tertawa seraya letakkan mangkok dan sumpitnya di meja, mulutnya masih penuh dengan nasi. Setelah menelan habis nasi di mulutnya, ia meneruskan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ berkata, "Perjalanan kita ke Coa-kok harus melewati banyak tempat sepi. Maka aku harus bekal makanan dalam perutku supaya tidak kelaparan di jalan. Hahaha !" Si gendut tertawa seraya tepuk-tepuk perutnya. Louw Bin Cie terkejut mendengar kata si gendut. Pikirnya, kalau begitu 4 orang yang sedang makan itu bermaksud hendak pergi ke lembah ular. Apa maksud mereka ke sana ? Apa ada urusan yang sama dengan urusannya Ma Liong ? Louw Bin Cie saling berpandangan dengan Ma Liong serta istrinya. Si Sepasang Pedang Dewa Louw Bin Cie ingin mencari tahu, kalau benar mereka ada bertujuan sama, baik sekali kalau diajak menjadi teman seperjalanan. Ketika ia mau bangkit dari duduknya, tiba-tiba ia mendengar seorang lain yang memakai kumis berkata pada si gemuk, "Tan-heng, jangan-jangan belum sampai disana bekal dalam perutmu itu sudah digerembengi orang............ Hehehe !" Si gemuk ketawa, "Aku Tan Thiat Ga, datang kemari mengantar dia, aku punya toako." berkata si gemuk seraya menunjuk orang di depannya yang berperawakan jangkung. "Kalau aku si orang she Tan tidak punya 'isi', mana berani begitu gegabah mengantar orang ke tempat yang seram !" Maksud si gemuk 'isi' itu artinya 'punya kepandaian silat'. Tapi temannya, si kumis berlagak pilon dengan arti yang sebenarnya, ia menggodai, katanya, "Tentu saja ada isi, ialah isi perut. Hahahaha...."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Semua orang ketawa kecuali si jangkuk yang kelihatannya sedari tadi bermuram durja saja. Thiat Gu rupanya seorang yang jenaka diantara mereka, maka kawannya suka menggodainya. Sebab kemudian dengan gayanya yang lucu ia berkata lagi pada si kumis seraya mengusap-usap perutnya, kepalanya nunduk memandang perutnya yang seperti balon ditiup, katanya, "Lie-heng, isi ini penuh dengan lwekang (tenaga dalam) yang dahsyat. Siapa berani raba isinya ? Hmm ! Jago-jago temanku, jungkir balik dengan iniku !" si gemuk perlihatkan kepalannya. Lalu meneruskan, "Di sini aku mau coba si dara jelita yang disohorkan berkepandaian sangat tinggi !" "Siapa itu dara jelita, Tan-heng ?" tanya si kumis seraya menahan tertawa. "Hehehe...." kepalanya mendongak. "Itulah Kim Coa Sian...... !" Baru saja menyebut 'Kim Coa Sian...', belum 'cu'-nya keucapkan, badan si gemuk tiba-tiba gemetaran dan jatuh ke lantai bersama bangku yang didudukinya. Semua orang kaget, apa lagi kawan-kawannya yang serentak turun tangan menolong temannya yang diserang penyakit ayan, pikir mereka. "Hi hi hi..... !" terdengar suara ketawa wanita di sebelah luar. -- 18 -Suara ketawa itu tidak diperhatikan oleh kawan-kawannya Tiat Gu yang sedang repot menolong si gemuk yang kelenger

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dengan tiba-tiba itu. Tapi bagi Louw Bin Cie dengan kawankawannya, tertawa wanita itu mereka kenal baik. Itulah Kim Coa Siancu, berkata dalam hati masing-masing. Tidak berani mereka mengucapkan dengan terang-terangan karena takut mati konyol seperti Siang-tauw-niauw Kam Eng Kim dan si gemuk yang barusan mereka saksikan menemui ajalnya. Louw Bin Cie hanya dapat berpandangan dengan dua kawannya. Sementara itu Tiat Gu yang digoyang-goyang lengannya tetap tidak sadarkan diri. Si jangkung, toakonya si gemuk lalu ulur tangannya meraba pipi dan dahinya sang kawan. Tiba-tiba ia bergemetaran dan jatuh meloso di lantai. Berkelejatan sebentar seperti anak anjing beberapa malam yang lalu Lian Eng saksikan, lantas si jangkung tidak berkutik lagi. Melihat si jangkung keracunan gara-gara meraba pipi si gemuk, maka dua kawannya yang lain ketakutan, tidak berani meraba tubuh sang kawan. Apalagi si kumis yang barusan menggoyang-goyang lengan si gemuk, bukan main ia ketakutan. Ia tidak apa-apa menggoyang-goyang lengan si gemuk lantaran lengan si korban ketutupan lengan baju. Coba bila tidak, pasti si kumis yang direnggut duluan jiwanya oleh racun dahsyat dari Kim Coa Siancu. Keadaan waktu itu menjadi panik, para tamu yang takut tentang hal itu sebentar saja sudah padalari keluar kecuali tamu-tamu yang datang dari luar tempat tidak mengerti akan kematiannya si gemuk dan si jangkung. Penduduk disitu sudah lantas tahu bahwa si gemuk mendapat hadiah 'Bu-im In-coa' atau 'Cap ular tanpa suara', senjata rahasia Kim Coa Siancu yang menggemparkan. Pada dahi si gemuk tampak goresan gambar ular yang sedang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ melegot-legot jalan. Entah macam apa bentuknya senjata rahasia dari Kim Coa Siancu, tiada orang yang tahu. Orang-orang hanya tahu korban-korban yang kena sasarannya akan gemetaran sebentar dan kemudian lantas mati. Pada jidat si korban akan diketemukan satu goresan gambar ular kecil yang jalan melegot-legot. Berdasar inilah rupanya orang menamakan senjata yang ampuh dari Kim Coa Siancu 'Bu-im In-coan' atau 'Cap ular tanpa suara'. Si muka putih dan si kumis mengeluarkan banyak uang juga untuk mengubur jenazah kedua kawannya karena mereka tak dapat melakukannya sendiri tapi harus minta bantuannya beberapa penduduk disitu yang sudah biasa menguburkan korban-korban dari Kim Coa Siancu sehingga tidak sampai keracunan. Louw Bin Cie dan dua kawannya tidak menyaksikan penguburan itu karena mereka sudah lantas melakukan perjalanan pulang. Meskipun sudah kawakan dalam dunia Kangouw, Louw Bin Cie menyaksikan kejadian yang sehebat dilakukan Kim Coa Siancu, diam-diam keberaniannya menjadi kecut untuk menghadapi Kim Coa Siancu. Ia ingin buru-buru pulang untuk berunding dengan kawan-kawannya yang lebih tua tentang halnya Kim Coa Siancu. Ketika matahari mendoyon ke sebelah barat, si Sepasang Pedang Dewa Louw Bin Cie dan dua kawannya menjadi kebingungan karena sudah kesasar jalan. Hari sudah mendekati sore, bagaimana mereka nanti dapat tempat

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ pemondokan sebab disitu jalan-jalan yang dilewati boleh dikata hanya hutan-hutan yang sepi saja. Di depan sana, tiba-tiba Lian Eng nampak ada satu kebun bunga. Ia memang paling suka pada kembang-kembang, maka seketika itu ia cepatkan jalannya meninggalkan kawankawannya. Ia tidak mengira bahwa disana sudah ada seorang gadis tengah memetik bunga-bungan yang indah seraya dari mulutnya terdengar suara nyanyian yang amat merdu kedengarannya. "Hm, siapa anak dara ditengah-tengah hutan ini ?" Lian Eng menanya pada dirinya sendiri seraya teruskan jalannya mendekati si anak dara yang tengah asyik memetik bunga. Lengkoan Giok-lie menggunakan ilmu entengi tubuh maka juga si gadis jelita tadi tidak mengetahui kalau dirinya ada yang dekati. "Adik manis, kau sendirian saja memetik kembang ?" tiba-tiba ia menegur si gadis yang kelihatan kaget dan hentikan menyanyinya. Ka[an ia menoleh pada Lengkoan Giok-lie, si Lengkoan Gioklie menjadi sangat terperanjat hatinya. "Eh, kau, kau ada disini, anak Bwe..." tiba-tiba mulutnya nyonya Ma tercetus ucapan aneh. Aneh untuk si gadis sebab ia tidak kenal sama wanita di depannya. "Siapa yang kau maksudkan dengan anak Bwee ?" ia lantas

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menanya. "Eh, apa kau bukan anak Bwee ?" Lengkoan Giok-lie menegasi berbareng hatinya rada sangsi karena reaksi dari si gadis di luar dugaannya. Gadis itu geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Lengkoan Giok-lie. Lian Eng menjadi penasaran, ia datang lebih dekat dan mengawasi wajah gadis itu. Ia lihat si gadis pengawakannya agak berubah, lebih jangkung dan lebih botoh dari Sian Bwee anaknya satu setengah tahun yang lalu. Pikirnya, perubahan itu wajar karena satu setengah tahu ia tidak ketemu anaknya itu. Ibu mana sih yang tidak mengenali anaknya, maka juga Lian Eng sudah berkata pula, "Tidak salah, kau adalah Sian Bwee anakku. Kalau buka, siapa ada orang tuamu, adik manis ?" "Hihihi..... bibi ini lucu. Aku jadi anakmu, aku sudah keliru. Aku bernama Cui Sian bukannya Sian Bwee !" si gadis menyangkal seraya terus memetik bunganya, tidak memperdulikan Lian ENg yang haus akan cintanya sang puteri yang hilang ! Sementara itu Ma Liong, suaminya sudah datang mendekati isterinya yang sedang terpaku, tercengang mendapat perlakuan dari si gadis yang ia kira anaknya. "Engko Liong, coba kau lihat siapa dia." kata Lian Eng ketika mengetahui suaminya ada didepannya. "Eh, nona. Coba kau lihat siapa ini." Lian Eng kata pada si gadis yang sedang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ membelakangi mereka, asyik memetik bunga. Si gadis menolah kepada mereka. Ma Liong terkesiap hatinya nampak wajah si gadis tapi dia sangsi sebab gadis yang dilihatnya ini pengawakannya lebih jangkung dan lebih botoh dari anaknya Sian Bwee yang hilang. "Adik Eng, anak ini mirip dengan anak kita." akhirnya ia berkata juga. Liang Eng tidak menyahuti kata-katanya sang suami tapi ia gapaikan tangannya pada Louw Bin Cie yang berdiri sedikit jauh dari mereka, si Sepasang Pedang Dewa dengan segera lantas datang menghampiri. "Louw susiok (paman), coba kau lihat, siapa gadis itu." kata Lian Eng. Louw Bin Cie memandang pada gadis yang asyik memetik bunga, "Hei, nona, coba kau berpaling sebentar !" katanya pada si gadis. Si nona menoleh dan melemparkan senyuman manis. "Ah, dialah Sian Bwee." kataya setelah melihat tegas roman muka si gadis. "Nah, bagaimana pendapatmu ?" Lian Eng menanya suaminya. Ma Liong juga memang menduga gadis itu adalah anaknya hanya ia ragu-ragu karena perbedaan perawakan si gadis itu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Mendengar perkataan sang isteri dan ucapan Louw Bin Cie, mau tidak mau ia harus akui bahwa gadis di depannya itu ada puterinya yang hilang. Maka ia lantas maju mendekati dan berkata, "Anak Sian, apakah kau sudah lupa kepada ayah bundamu ? Kau disini sendirian, mari kita pulang !" "Hihihi...." si gadis ketawa empuk. "Pulang ? Pulang kemana ? Aku tidak bisa meninggalkan suhu, lagian aku tidak kenal kalian !" si gadis berbareng angkat kaki hendak meninggalkan mereka. "Tunggu !" kata Lian Eng, agak bengis suaranya. Si gadis hentikan tindakannya. Ia agak kaget, wanita ini main bentak, pikirnya. "Kau mau apa ? Aku tidak ada urusan dengan kau. Kenapa kau tetap juga mengaku aku sebagai anakmu ? Hihihi, adaada saja." Lian Eng dan dua kawannya seketika mempunyai satu anggapan baha gadis di depannya ini memang Sian Bwee adanya, cuma saja ingatannya sudah tidak waras, memungkiri ayah bundanya sendiri. Maka mendengar kata-kata Cui Sian, Louw Bin Cie saling pandang bertiga. Dengan satu tanda kedipan dari Lian Eng, segera juga Ma Liong bergerak hendak menangkap Cui Sian. Pikrinya, dengan sekali jambret tangan Cui Sian sudah dapat dicekal olehnya sebab dalam gerakannya ia gunakan tipu 'Sianjin hian chiu' atau 'Sang Dewa perlihatkan tangan', salah satu jurus dari 'Liu su ciang hoat' (Ilmu pukulan pohon Liu) yang menjadi kebanggaan dalam perguruannya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tangan kiri di dada untuk menjaga serangan membalik, tangan kanan menyambar tangan si gadis. Ma Liong sangsi kalau Cui Sian bukan puterinya dan pandai silat, maka ia sudah gunakan tipu itu. Tapi sebaliknya sang isteri, Lian Eng menganggap perbuatan sang suami itu terlalu kasar terhadap anak sendiri. Meskipun kelihatannya tidak berjaga-jaga, tangannya yang halus terancam bakal kena dicekal Ma Liong, si gadis waspada juga. Begitu tangan Ma Liong menyambar, segera ia tarik sedikit tangannya sehingga sambaran tangan Ma Liong hanya menangkap angin. "Hihihi..." Cui Sian ketawa, seraya lari dari situ. Ma Liong terbelalak matanya, Lian Eng terpaku ditempatnya dan Louw Bin Cie manggut-manggut kepalanya. Kenapa ? Ma Liong suami isteri dan Louw Bin Cie bukannya heran atas kegesitannya si gadis, hanya mereka kenali Cui Sian menyelamatkan tangannya dari sambaran Ma Liong adalah jurus 'Thian lie kay tay' atau "Bidadari meloloskan sabuk'. Suatu gerakan yang khusus untuk mengelakkan tipu 'Sian jin hian ciu' dari ilmu silat 'Liu su ciang hoat'. Dengan begitu, Cui Sian itu benar-benar adalah Sian Bwee, puterinya yang hilang itu. Lian Eng tidak sabaran setelah mendapat bukti ini, maka ia sudah lompat menyusul sebelum Cui Sian pergi jauh, "Anak Bwee, kau mau kemana ?" ia memanggil. Cui Sian tidak meladeni, ia terus lari seperti yang ketakutan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tiba-tiba ia hentikan larinya dan kebingungan karena di depannya sudah ada Ma Liong yang mencegat. Ia tidak kekurangan akal, lantas ia belik ke kanan, lari menghampiri sebuah pohon besar seraya berteriak-teriak minta tolong. Tapi sebelum ia sampai ke pohon yang dituju, tiba-tiba muncul Louw Bin Cie dari balik sebuah pohon yang terus mencekal tangan si gadis sehingga tidak berkutik meskipun Cui Sian berontak-rontak keras untuk melepaskan tangannya. Tidak lama lagi, sudah sampai Ma Liong dan Lian Eng kesitu. Lian Eng peluk Cui Sian seraya mengelus-elus rambutnya, "Anak Bwee, kau benar-benar adalah puteriku yang hilang. Apa kau tidak kenali aku, ibumu ?" berkata Lian Eng dengan penuh kesayangan. Tapi si gadis terus berontak-rontak, mulutnya ribut tidak mengakui Lian Eng dan Ma Liong sebagai ayah ibunya, hingga suami isteri itu kewalahan. "Mari kita bawa dengan paksa saja." Ma Liong mengusulkna. "Nanti setelah di rumah, kita pikir bagaimana baiknya mengobati pikirannya yang ngawur." Louw Bin Cie setuju dengan usul itu. Tiada ada lain jalan dari pada demikian, maka Lian Eng juga jadi mufakat dan seketika itu juga, Ma Liong sudah gunakan jarinya menotok jalan darah si gadis yang membuat ia tidak berontak-rontak dan gampang diangkutnya. Tiba-tiba mereka mendengar suara, "hihihi!". Suara ketawa wanita yang sangat dikenal oleh mereka. "Kim Coa Siancu..." ucap mereka dalam hati masing-masing. Ma Liong dan Lian Eng tanpa disadari sudah menggigil

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tubuhnya. Louw Bin Cie masih dapat menahan getaran jantungnya, ia tidak demikian jeri seperti Ma Liong suami isteri. Ia pasrah kepada nasib apabila senjata rahasianya Kim Coa Siancu ialah 'Buim In-coa' mengambil jiwanya seketika itu. Mereka sudah pada memeramkan matanya untuk menerima kematian. Tapi lama ditunggu, kiranya tidak ada apa-apa yang menakutkan sebab disana tidak jauh dari pohon besar tampak seorang dara manis yang umurnya sebaya dengan Cui Sian lagi ketawa-tawa manis ke arahnya. Kapan Lian Eng perhatikan si dara manis yang sedang jalan mendatangi, ia lihat, gadis itu benar-benar sangat cantik. Terpesona ia oleh kecantikan gadis itu. Kecantikannya sendiri yang sampai mendapat julukan Lengkoan Giok-lie atau si Jelita dari kota Lengkoan, ia merasa belum menemui tandingan, sekarang ia menjumpai nona di depannya sungguh menakjubkan hatinya. Dalam pakaian serba tipis yang menggiurkan, burungburungan yang bergerak-gerak memain pada ikat kepalanya yang pantas sekali, sungguh nona ini pantas menjadi satu ratu yang dipuja dalam suatu negera. Demikian mempesonakan wajahnya si dara manis, hingga Lian Eng tanpa merasa dari bibirnya telah berkata, "Nona, kau sangat cantik....." tatkala si dara manis sudah berhadapan dengan Lengkoan Giok-lie. "Terima kasih atas pujianmu." suaranya ramah dan meresap di hati.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Cui Sian sementara itu masih tetap dikuasai oleh Ma Liong dan isterinya. Ketika melihat yang datang itu lantas saja Cui Sian berkata, "Siancu, mereka hendak membawa aku. Katanya aku adalah anak mereka. Tolong Siancu supaya dapat mengusir mereka yang mengganggu kesenangan kita !" Lenkoan Giok-lie dan dua kawannya menjadi terkejut. Kiranya dara manis itu adalah Kim Coa Siancu yang ditakuti bagaikan hantu. Mereka kira tadinya Kim Coa Siancu itu adalah satu wanita yang berwajah jelek menakuti dengan jari-jarinya yang berkuku panjang-panjang runcing menyeramkan. Tidak tahunya, ia hanya satu dara manis dari usia yang sebaya dengan Sian Bwee dan cantik sekali. Lian Eng memberanikan hati apalagi melihat Kim Coa Siancu tidak ada apa-apanya yang harus ditakuti dan seram. Ia berkata, "Mohon Siancu punya kemurahan supaya anakku ini dikembalikan ingatannya dan mengenali ayah bundanya lagi." Kim Coa Siancu tertawa manis. "Dari mana kau tahu CUi Sian adalah puteri kalian ? Bagaimana kalian dapat mengenalinya ?" tanya Kim Coa Siancu. "Aku yang menjadi ibunya, mana tak bisa mengenali anaknya. Juga ayahnya dan Yayanya (dimaksudkan Louw Bin Cie) pasti mengenalinya." "Orang bisa saja keliru kecuali bila ada buktinya." "Bukti apa yang Siancu maksudkan ?" menyela Ma Liong.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kalian mengatakan Cui Sian adalah anak kalian, tapi apa buktinya ?" sahut si Dewi Ular Emas. Lengkoan Giok-lie dan suaminya merenungkan apa yang dimaksud oleh Kim Coa Siancu. Akhirnya Lengkoan Giok-lie dapat tahu maksud si Dewi Ular Emas, lalu katanya :"Aku dapat buktikan bahwa pada jidat puteriku ada satu andeng-andeng kecil. Sepintas lalu memang tidak kelihatan. Tapi kalau diperhatikan tampak nyata." "Bagus." kata Kim Coa Siancu. "Coba kau unjukkan padaku, dimana adanya andeng-andeng itu pada jidatnya Cui Sian. Kalau benar ada, tentu Cui Sian adalah anak kalian." "Baik !" sahut Lian Eng hampir berbareng dengan Ma Liong. Lengkoan GIok-lie lantas pegang kepala Cui Sian dan memeriksa. Bukan main girangnya sebab tanda yang dimaksudkan itu memang ada diatas jidat Cui Sian. "Siancu, ini dia...." kata Lengkoan Giok-lie seraya dengan jarinya ia tekan andeng-andeng paa jidat si gadis. Karena jidatnya kena disentuh, otomatis Cui Sian beringas dan tangannya si wanita cantik dari kota Lengkoan kena digigit seketika. Cui Sian berbareng berontak dan lari kepada Kim Coa Siancu sambil ketawa hi hi hi.... Cui Sian merasa dirinya aman disampingnya Kim Coa Siancu. Sementara Ma Liong dan Louw Bin Cie berdiri bengong

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ melihat kejadian itu. Kim Coa Siancu telah berkata, "Nah, lihat buktinya !" Apa yang dimaksudkan 'Nah, lihat buktinya' oleh Kim Coa Siancu, Ma Liong dan Louw Bin Cie tidak paham tapi yang terang bahwa dengan sekonyong-konyong setelah digigit Cui Sian, Lengkoan Giok-lie telah tertawa Hi hi hi..., berbareng gerakan kakinya lari pada Kim Coa Siancu. Pikirannya Lengkoan Giok-lie sudah berubah sekarang, berubah dalam alam pikiran untuk Kim Coa Sianculah adanya suhunya dan pelindungnya. Ia sudah tidak mengenali Ma Liong lagi sebagai suaminya, apalagi kepada Louw Bin Cie. Ma Liong jadi kebingungan. Anak belum dapat ditarik pulang, sekarang isterinya lagi ikut pihak sana. Dalam tertegunnya itu, Ma Liong dengar kata-kata Louw Bin Cie, "Lekas tarik pulang isterimu sebelum dikuasai orang !" Ma Liong tiba-tiba menjadi nekad. Ia lompat dan menyambar tangan isterinya. Tapi sang isteri berkelit seperti Cui Sian barusan menggunakan gerak 'Bidadari loloskan sabuknya', hingga Ma Liong menjadi sangat cemas. "Adik Eng, ingat mari kita pulang !" kata Ma Liong seraya kembali ia lakukan percobaannya untuk menjambret tangan Lengkoan Giok-lie. Lagi-lagi Ma Liong jambret angin, malah diluar dugaannya, sang isteri telah menyerangnya dengan jurus yang sangat berbahaya. Coba kalau ia tidak siap sedia dengan kemungkinan itu, tentu kena dihajar oleh Lengkoan Giok-lie.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Pulang ? Pulang kemana ? Aku tidak kenal dengan kau !" bentak Lengkoan Giok-lie, sambil maju menyerang Ma Liong lagi. "Adik Eng, ingat, kau adalah istriku." kata Ma Liong sambil menangkis serangan-serangan Lengkoan Giok-lie yang hebat. "Susiok !" teriak Ma Liong. "Kau jangan diam saja, lekas bantu aku !" Mendengar teriakan Ma Liong, Louw Bin Cie seperti yang baru tersadar dari tidurnya. Ia sudah lantas maju untuk bantu menangkap Lengkoan Giok-lie. Pertempuran menjadi seru. Lengkoan Giok-lie dikerubuti dua orang yang kepandaiannya sudah terkenal dalam kalangan Kangouw. Kim Coa Siancu dan Cui Sian hanya menonton saja, tidak begitu menaruh perhatian kelihatannya. Rupanya mereka hanya menunggu bagaimana kesudahannya pertempuran sengit itu. Lengkoan Giok-lie tampak beringas menempur dua lawannya. Karena kalah unggul, akhirnya Lian Eng menjadi kewalahan dan kena disergap oleh Louw BIn Cie. Lengkoan Giok-lie masih terus berontak-rontak. Tidak enak Louw Bin Cie pikir, saat itu ia memeluki istri orang, maka ia teriaki Ma Liong, "Lekas, lekas kau gantikan aku !" Dengan cepat Ma Liong menggantikan yang masih terus

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ meronta-ronta, "Jahanam, kau tidak mau lepaskan nyonyamu !" ia semprot Ma Long hingga sang suami jadi kebingungan. "Adik Eng, kau toh ada istriku. Bagaimana kau maki aku jahanam ?" kata Ma Liong sambil pererat pelukannya, kuatir sang isteri terlepas lagi. "Kau dua orang jahat, bagaimana mau menghina nyonyamu ?" semprot Lian Eng, sepasang matanya beringas menakutkan. Ma Liong hanya saling pandang dengan Louw Bin Cie. Louw Bin Cie gerak-gerakkan tangannya, mengasih isyarat pada Ma Liong. Si Macam Hitam Ma Liong mengira sang paman menyuruh ia menotok jalan darah isterinya supaya jangan ia berontak-rontak terus-terusan. Dalam keadaan tertotok, meskipun pikirannya sudah berubah, Lengkoan Gioklie mudah diangkut pulang. Tapi bagaimana ? Dua tangannya dipakai memeluki Lian Eng. Bagaimana mungkin dengan satu tangan ia bisa kuasai Lian Eng sedang dengan satu tangan lain dapat menotok Lengkoan Giok-lie ? Tapi ia tidak kekurangan akal rupanya, tangan kanannya yang memeluk Lian Eng digeser pindah ke atas, maksudnya hendak menotok 'tee-hiat' (jalan darah dibawah tetek) tapi justru tiba-tiba Lian Eng berontak, jari yang hendak menotok 'tee-hiat' tadi, sesudah menyentuh buah dadanya Lengkoan Giok-lie, otomatis si cantik dari kota Lengkoan itu menggigit lengan Ma Liong hingga Ma Liong jadi kesakitan dan berbareng dengan Lengkoan GIok-lie yang terlepas dari pelukannya, ia lari menghampiri Kim Coa Siancu seraya ketawa hihihi !

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tampak Ma Liong berdiri kesakitan digigit Lengkoan Giok-lie tadi. "Liong-jie, kau kenapa ?" tanya Louw Bin Cie seraya menghampiri pada Ma Liong. "Siapa kau ?" bentak Ma Liong tiba-tiba hingga Louw Bin Cie sangat kaget. "Aku adalah kau punya susiok." sahut Louw Bin ie terang. "Susiok ? Siapa susiok ?" kata Ma Liong, matanya beringas. Louw Bin Cie mengerti bahwa Ma Liong juga sudah ketularan berubah pikirannya seperti istrinya tadi. Tapi toh ia mau coba juga, katanya, "Liong-jie, ingat ! Kau kena dikerjai orang. Ingat, lekas ingat !" Ma Liong bukannya mengingatkan malah ia jadi marah pada Louw Bin Cie. "Pergi kau ! Aku tidak kenal denganmu !" bentaknya kasar. Berbareng ia juga sudah jalan menghampiri Kim Coa Siancu yang memandang Louw Bin Cie dengan senyuman manis mempesonakan. "Bagaimana, paman ?" tanyanya pada Louw Bin Cie. Louw Bin Cie jadi serba salah. Ia mau marah salah, tidak marah memang ia tahu sudah dipermainkan oleh Kim Coa Siancu. Perlahan dari jeri hatinya menjadi nekad. Pikirnya, ia tempo hari meninggalkan kampung halaman dengan empat orang, masa sekarang ia harus pulang dengan sendirian. "Siancu." katanya dengan hati mantap setelah ia berhadapan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dengan Kim Coa Siancu yang tatkala itu sudah hendak berlalu meninggalkan tempat itu, diiringi oleh Cui Sian, Ma Liong dengan istrinya, "Kau adalah satu Dewi yang sangat dipuja. Tidak seharusnya kau berlaku kejam...." "Aku kejam apa ?" memotong Kim Coa Siancu. "Setelah merampas anaknya, masa sekarang kau mau kuasai juga ayah bundanya ? Itu suatu perbuatan yang tidak betul, masuk hitungan kejam." berkata si orang she Louw berani. "Orang she Louw," Kim Coa Siancu ketawa manis. "Kalau aku tidak pandang kau orang baik yang belum pernah berbuat kejahatan, siang-siang aku sudah ambil jiwamu." kata si Dewi Ular Emas. "Bagus." sahut Louw Bin Cie. "Kau sudah menghargai aku, tapi aku juga tidak akan angkat kaki dari sini sebelum aku adu jiwa dengan kau." Berbareng dengan kata-katanya, Louw Bin Cie sudah mencabut dua belah pedangnya. Pikirnya, ia kesohor kepanaiannya dengan sepasang pedangnya yang aneh, belum pernah dipecundangi musuh, masa menghadapi satu gadis cilik saja ia mesti terima takluk sebelum bertempur ? Sungguh hatinya yan berani tidak mau terima. "Siancu." katanya lagi. "Dengan sepasang pedangku ini, akan aku adu jiwa denganmu. Mari, marilah kita menetapkan siapa unggul !"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kim Coa Siancu yang sedari tadi menonton saja laga lagunya Louw Bin Cie yang sudah nekad, tiba-tiba ia tertawa. Suaranya kali ini melengking menusuk telinga hingga Louw Bin Cie kalau tidak merasa malu, saat itu ia sudah kepingin angkat tangannya untuk menutupi kupingnya yang sakit seperti ditusuk-tusuk. Setelah berhenti tertawa, Kim Coa Siancu memandang Louw Bin Cie. "Kau mau berkelahi ?" tanyanya halus, bukan satu bentakan. "Ya !" sahut Louw Bin Cie singkat. "Sudah siap ?" Kim Coa Siancu menggoda. "Sudah siap ?" Kim Coa Siancu menggoda. "Ya !" sahut Louw Bin Cie gemas. Berbareng ia mulai menyerang, tidak menanti Kim Coa Siancu bersiap-siap dahulu. Pikirnya, dengan secara tidak menduga-duga serangannya akan berhasil. Tapi ia tidak mengira bahwa Kim Coa Siancu tidak boleh dipandang enteng. Demikian ketika sepasang pedangnya menusuk berbareng ke arah dada, tiba-tiba tangan kiri Louw CIn Bie kesemutan dan pedang jatuh dengan sendirinya. Saat itu Louw Bin Cie hanya lihat Kim Coa Siancu bergerak sedikit tangannya, berkelebat menyentil jalan darah pada nadi tangan kirinya. Louw Bin Cie bukan jago kampungan, sentilah Kim Coa Siancu pada nadinya hanya membuat jatuh satu pedangnya tidak sampai membuat ia jatuh terkulai oleh pengaruh totokan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Boleh juga, ya !" berkata Kim COa Siancu seraya berkelit dari serangan susulan Louw Bin Cie yang hebat sebab si orang she Louw sudah menggunakan tipu yang sukar dielakan yang dinamai 'Beng goat Kiam eng' atau 'Bayangan pedang diterang bulan'. Ujung pedang seperti menusuk dada tapi sebenarnya yang diarah adalah 'jalanan nasi' (tenggorokan). Cepat laksana kilat gerakan ini dilakukan, maklumlah Louw Bin Cie adalah jago pedang maka julukannya juga 'Sian-jin Siang-kiam', si Sepasang Pedang Dewa. Tapi.... terbelalak sepasang matanya si Sepasang Pedang Dewa ketika melihat ujung pedangnya bukan menusuk tenggorokan tapi nancap diantara dua jari mungil si Dewi Ular Emas, wajahnya si elok bersenyum manis ke arahnya. Louw Bin Cie kerahkan tenaga dalamnya untuk menarik pulang pedangnya yang dijepit dua jarinya Kim Coa Siancu tapi meskipun ia berdegingan, tidak dapat ia tarik lolos dari jepitan jari lawan. Kaget si Sepasang Pedang Dewa, peluh bercucuan di seluruh tubuhnya. "Mari, kita jangan terlalu lama main-main !" berkata Kim Coa Siancu berbareng terdengar suara 'pletak !'. Itu adalah suara patahnya pedang Louw Bin Cie hingga si jago pedang hanya memegangi pedang buntung di tangannya sambil berdiri menjublek, tidak tahu apa yang ia harus berbuat saking kagetnya. Pedang Louw Bin Cie bukan sembarangan pedang. Dibuat dari baja pilihan, meskipun pendek, bobotnya berat juga. Bukan sedikit menemui senjata lawan yang lebih besar dan berat, pedangnya dapat memapas kuntung. Tapi sekarang,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sekarang ditangannya Kim Coa Siancu hanya ujungnya saja dijepit oleh dua jarinya yang halus mungil, sekali dikutik, pedang sudah patah persis pada tengah-tengahnya. SAmpai dimana tenaga alam Kim Coa Sianvu, benar-benar susah diukur. Oleh karenanya si Sepasang Pedang Dewa menjadi menjublek, tidak tahu apa yang ia harus bikin saat itu. Kepalanya nunduk dengan perasaan kagum. "Hi hi hi !" suara ketawa yang membuat si Sepasang Pedang Dewa tersadar dari kekagetannya. Cepat ia angkat mukanya, kiranya suara ketawa itu sudah berada di tempat jauh. Kim Coa Siancu sudah tidak ada pula disitu, berbareng Cui Sian alias Sian Bwee dengan ayah bundanya sekali, sudah tidak kelihatan mata hidungnya. Louw Bin Cie hanya bisa menghela napas beberapa kali dengan putus harapan. Ia lalu membongkoki badannya, memungut pedangnya yang jatuh tadi. Perlahan-lahan ia bertindak meninggalkan tempat itu dengan penuh teka teki akan kelihaian Kim Coa Siancu yang muda belia dan cantik luar biasa. Beberapa lie ia jalan tanpa merasa, tiba-tiba ia melihat jauh di depan seperti ada dua orang sedang meneduh di bawah pohon, yang satu tengah berdiri, yang lainnya tengah duduk, dua-dua kelihatan menyandar pada batang pohon. Louw Bin Cie kegirangan akan menemui dua orang ditempat yang sepi itu. Pikirnya, dapatkah mereka ia buat teman kongkouw (ngomong) dalam perjalanan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ia cepatkan jalannya. Beberapa tindak lagi mendekati dua orang itu, ia lantas hendak membuka mulut menyapa tapi katakatanya urung meluncur dari bibirnya karena matanya tiba-tiba jadi terbelalak kaget. Kiranya orang-orang yang menyandar itu bukan seperti biasanya menyandar melepaskan lelah, keduanya tertusuk dengan pedang. Yang menyandar sambil berdiri adalah seorang yang masih muda, dadanya tertusuk pedang hingga menembus ke batang pohon, sementara yang satunya lagi adalah wanita muda, lehernya disate pedang menembus pohon. Mata keduanya melotot gusar seakan-akan kematian mereka itu penasaran. Meskipun si Sepasang Pedang Dewa banyak pengalamannya bertempur, kematian-kematian seperti yang ia saksikan sekarang adalah wajar. Tapi mengingat bahwa kematian mereka ini bukan dari perkelahian tapi akibat keganasan Kim Coa Siancu, membuat hatinya tergetar setelah melihat tanda goresan Cap Ular Kecil yang berlegot-legot jalan pada jidatnya si korban masing-masing. Suatu tanda cap yang menakutkan bagi siapa yang melihatnya. Siapakah korban-korban itu ? Louw Bin Cie tidak berani memeriksa kantong baju mereka, untuk mendapatkan petunjuk siapa sebenarnya mereka itu. Ia takut akan keracunan dan menemui kematian konyol. Kembali Louw Bin Cie melihat lagi akan sepak terjangnya Kim Coa Siancu. Sebenarnya menurut hatinya yang tidak tega, Louw Bin Cie ingin gulung tangan baju bantu mengubur dua mayat itu tapi mengingat bahanyanya racun Kim Coa Siancu. Ia urungkan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ niatnya, ia lalu meneruskan perjalanannya sambil menghela napas. Baru kali ini si Sepasang Pedang Dewa banyak keluarkan elahan napas dalam perjalanan. Biasanya ia paling gembira dan nyalinya besar, meskipun dalam perjalanan menempuh bahaya. Belum berapa lama Louw Bin Cie berjalan, kembali ia menemukan sesosok tubuh yang sedang celentang. Ketika ia datang mendekati, kaget bukan main sebab orang itu adalah si muka putih, temannya si gemuk yang tampak sudah jadi mayat dengan tanda goresan Cap Ular pada jidatnya. Kemana perginya si kumisan, temannya si gemuk yang satunya lagi ? Demikian tanya Louw Bin Cie dalam hati kecilnya. Louw Bin Cie makin jeri hatinya. Tak ada tempo ia untuk memeriksa tubuh si muka putih yang sudah jadi mayat, ia lantas teruskan perjalanannya. Ingin cepat-cepat ia sampai di rumah untuk mendongeng kepada kawan-kawan halnya si Dewi Ular Emas yang hebat dan menggemparkan sepak terjangnya. Pikirnya, yang penting ia harus lekas-lekas keluar dari daerah berbahaya yang termasuk wilayah Coa-kok supaya jangan sampai menemukan kematian konyol. Akhirnya ia sampai juga di Tong-pek-cun, satu dusun yang ramai dan banyak penduduknya, terletak di luar wilayah berbahaya dari Lembah Ular. Hatinya Louw Bin Cie baru merasa lega. Ia mamir pada sebuah rumah makan 'Ce-lamtiam' yang kesohor dengan arak wanginya. Banyak orang dari lain tempat datang, kebanyakan pada masuk dalam rumah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ makan itu. Maka tidak heran kalau sabah hari rumah makan itu penuh dengan tamu-tamu, kalau tidak dari luar dudun, tentu yang datang makan dari dalam dusun itu sendiri. Sedang enaknya Louw Bin Cie mencicipi makanan lezat dan arak wangi sebagai pengantarnya, tiba-tiba matanya melihat pada seorang tamu yang barusan masuk. Ia kenali itulah si kumis teman si gemuk. Ia ingin dapat beromong-omong dengan si kumis, mengerti teman-temannya yang telah gugur dan maksud mereka ke Lembah Ular. Dengan cara kebetulan, si kumis kehabisan tempat dan datang makan satu meja dengan Louw Bin Cie. Mereka lalu berkenalan, sementara menunggu hidangan si kumis yang perawakan kecil kurusm memperkenalkan namanya Tiong Kiat she Lie asalah dari propinsi Kwitang. Louw Bin Cie terkejut. Pikirnya, apa bukan dianya ? Lantas ia menanya, "Lie-heng ini bukannya Kengcu Kim-kauw cian yang menggemparkan Kwitang ?" Kengcu Kim-kauw-cian artinya 'Si Gunting Emas dari kota Kengcu'. "Ah, itu hanyalah nama kosong saja." sahut Lie Tiong Kiat merendah. "Aku sendiri tidak punya kepandaian apa-apa tapi teman-teman Kangouw main sembarangan memberi julukan 'si Gunting Emas', sungguh berkelebihan." Louw Bin Cie terkejut mendengar namanya Lie Tiong Kiat yang bergelar di Gunting Emas, lantaran mendengar sepak terjangnya si Gunting Emas yang hebat dan pantas dapat pujian. Ia menindas si jahat menolong si lemah. Di samping

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ ilmu silatnya tinggi, tubuhnya enteng seperti jatuhnya selembar daun kalau ia lompat dari atas menginjak tanah, tidak ada suaranya. Lompat tingginya melebihi kepandaian jago-jago silat kelas satu, khusus ia namakan ilmu entengi tubuhnya itu 'Kim cian coan in' atau 'Panah emas tembusi mega'. "Sepantasnyalah kalau orang memberikan julukan kau demikian." kata Louw Bin Cie seraya manggut-manggut kepalanya, air mukanya tersenyum ramah. "Nama saudara Louw juga sangat santar terdengar di telingaku. Maka aku girang sekali dapat berkenalan dengan saudara." si Gunting Emas balas memuji. (Bersambung) Jilid 07 Letak meja mereka makan di satu pojokan, agak jauh dari meja tamu lain. Maka dengan leluasa mereka dapat membicarakan soal-soal yang rahasia, asal tidak keras-keras bicaranya. Demikian, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Louw Bin Cie untuk menanyakan halnya si Gunting Emas datang ke Lembah Ular. Lie Tiong Kiat kaget Louw Bin Cie timbulkan soal Kim Coa Siancu. Mengingat ia sudah berada di luar wilayah Lembah Ular, tidak ada halangan untuk berbicara dengan Louw Bin Cie mengenai halnya Kim Coa Siancu. Ia menanya, "Dari mana saudara tahu halnya aku ke Coa-kok ?"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ketika kawan saudara yang gemuk itu menemui ajalnya, aku juga beserta kawan-kawan berada di sana menyaksikan." sahut Louw Bin Cie. "Louw-heng kata bersama-sama kawan, sekarang kawankawanmu ada dimana ?" tanya Lie Tiong Kiat. Ia heran Louw Bin Cie hanya sendirian tapi menyebutkan ada kawankawannya. "Lie-heng jangan kaget." sahut Louw bin Cie. "Seperti dengan kau, aku juga sudah kehilangan kawan-kawan dalam perjalanan." "Juga dibunuh Kim Coa Siancu ?' tanya Lie Tiong Kiat. "Satu yang di bunuh, sedang yang lain pada mengikuti si Dewi Ular Emas." "He, bagaimana bisa begitu ?" Louw Bin Cie menghela napas. Lalu ia ceritakan terbunuhnya Siang-tauw-niauw Kam Eng Kim, pertemuannya dengan Cui Sian yang dikenali Lengkoan Giok-lie dan Ma Liong sebagai puterinya yang hilang diculik. Kemudian muncul Kim Coa Siancu, Lengkoan Giok-lie digigit Cui Sian dan ingatannya menjadi berubah dan lalu menggigit Ma Liong sehingga suaminya ini pun menjadi berubah pikirannya dan mengikuti si Dewi Ular Emas dengan kesukaan sendiri. Kemudian ia sendiri maju, nekad untuk menempur Kim Coa Siancu tapi kesudahannya dipecundangi dengan cara yang memalukan sekali. Si Gunting Emas Lie Tiong Kiat manggut-manggut, kemudian

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ terdengar ia menghela napas. Atas permintaan Louw Bin Cie, si Gunting Emas lalu menuturkan riwayat perjalanannya ke Lembah Ular yang ia tidak sangka-sangka akan berbahaya sekali. Pada suatu malam gelap dan hujan turun dengan rintik-rintik. Keadaannya sunyi senyap dan hawanya dingin membuat orang tidur nyenyak berselimut tebal. Pada saat itu, Tan Eng Sian (si jangkung teman si gemuk) barusan saja pulang dari rumah kawannya yang tinggal di luar kota Hokcu dimana ia menginap dua malam untuk memberi pertolongan kepada anak temannya yang dapat sakit. Tan Eng Siang selainnya terkenal pandai silat, juga pandai obat-obatan. Maka tidak jarang ia mendapat undangan sahabat atau kenalan yang anggota keluarganya dalam sakit untuk diminta pertolongannya. Tatkala ia samapi di halaman rumahnya, tiba-tiba ia dibikin kaget oleh berkelebatnya bayangan keluar dari jendela rumahnya. Ia tidak tahu bayangan siapa yang merupakan asap menghilang ditelan kegelapan, yang terang ia mendengar suara seram, "Hihihi..." sehingga ia kaget dan menduga bayangan tadi manusia yang masuk ke dalam rumahnya. Tan Eng Sian tergopoh-gopoh menggedor pintu yang segera dibukai oleh seorang pelayan laki-laki tau yang sudah bongkok. "Siapa yang masuk barusan ?" tanya Eng Sian cepat.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Tidak ada yang masuk kemari," sahut si kakek bongkok. Eng Sian tidak sempat memajukan pertanyaan lebih jauh karena hatinya penuh dengan kekuatiran rupanya sebab sikapnya amat gugup. Cepat ia pergi ke kamarnya. Ternyata kamar dikunci dari sebelah dalam. Ia heran sebab tidak biasanya sang istri tidur dengan pintu kamar terkunci. Sebab menurut kata istrinya sebaiknya pintu kamar jangan dikunci, kalau ada apa-apa gampang keluarnya. Ini ada alasan yang janggal tapi karena ia sangat mencintai istrinya ialah istri kedua yang baru dua tahun ia nikah, karena istri pertamanya meninggal dunia pada lima tahun berselang, ia tidak keberatan dengan usulnya itu. Tapi kenyataannya sekarang dikunci dari sebelah dalam ? Kenapa ? Ah, tentu perbuatan orang jahat yang merupakan bayangan tadi, pikirnya. Dalam keadaan mendesak, diliputi oleh kekuatiran, tidak ada jalan lain Tan Eng Sian mendobrak pintu kamar dengan paksa karena sang isteri yang dipanggilpanggil beberapa lamanya belum juga membuka pintu kamarnya. Waktu sang pintu sudah terpentang, sekali lompat Tan Eng Sian sudah berada di dalam kamar. Matanya terbelalak ketika ia melihat ke atas pembaringannya. Ia tampak berdiri menjublek dengan wajah gusar, matanya tidak berkedip memandang ke arah pembaringan dimana isterinya tampak rebah celentang dalam pakaian hawa (telanjang) sedang di sisinya ada seorang lelaki yang memeluk sang isteri dalam pakaian adam. Adegan dua orang telanjang bulat inilah yang membuat Tan Eng Sian berdiri menjublek dengan mata

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ terbelalak. Dari sangat gusar, Eng Sian menjadi heran sebab dua manusia yang main-main pat-pat gulipat itu tidak bergerak, apalagi lompat ketakutan dan pakai pakaiannya kembali. Ketika Tan Eng Sian mendekati dengan kegusaran yang meluap-luap, ternyata dua manusia mesum itu sudah tidak ada napasnya. Jiwanya telah melayang, entah sejak kapan. Cepat Tan Eng Sian periksa, ternyata mereka tidak terluka apa-apa. Kapan diselidiki lebih tegas, kiranya mereka itu telah ditotok urat kematiannya dalam keadaan telanjang bulat seperti yang dihadapi ia sekarang. Saking gemasnya tiba-tiba tangan Tan Eng Sian menyambar saling susul dan dua manusia mesum itu dilain saat tubuhnya sudah pada pindah ke lantai, sedikitpun tidak mengeluarkan kesakitan meskipun terbanting keras karena memang dua manusia menjijikan itu sudah tidak bernapas lagi. Eng Sian lalu keluar, ia berteriak memanggil si bongkok. Meskipun suaranya keras dan diulang-ulang, tidak kelihatan si bongkok datang menghampiri. "Kemana si bongkok perginya, apa dia sudah mampus ?" berkata Tan Eng Sian dalam marahnya seraya kakinya bertindak ke kamar si bongkok. Di situ tidak ada orangnya, makin meluap amarahya Tan Eng Sian. Ia pergi ke belakang berteriak-teriak memanggil pelayan-pelayannya yang lain tidak ada kelihatan muncul satu juga.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Si kakek bongkok itu Eng Sian belum jelas benar asal usulnya. Ia menemukan si bongkok di halaman kuil 'Malaikat Bumi', ketika ia mengantar Loan Giok, isterinya sembahyang membayar kaul penyakitnya supaya sembuh. Si bongkok dengan roman yang mengharukan soja-soja minta pekerjaan pada Eng Sian suami isteri untuk pekerjaan apa saja ia mau terima asal dapat makan katanya. Atas usulnya Loan Giok yang merasa kasihan pada si kakek bongkok, ia telah diterima bekerja untuk membikin bersih kebun di pekarangan sebab kebetulan tukan kebunnya Eng Sian berhenti pada dua hari yang lalu. Melihat kecerdikannya si kakek bongkok setelah satu minggu tinggal pada keluarga Tan Eng Sian sudah percayakan padanya untuk menjaga pintu di waktu malam sebab Eng Sian sering bepergian. Tuan rumah puas dengan pekerjaan si bongkok, ia sangat cekatan dan gesit. Kalau Eng Sian pulang malam, menggedor rumahnya tidak sampai diulangi berkalikali, si bongkok sudah lantas membukainya. Sudah jangka dua minggu si bongkok bekerja pada Tan Eng Sian. Melihat bujang-bujangnya tidak muncul, si bongkok juga kemana tahu, Eng Sian lari masuk lagi, menghampiri satu pojokan dalam ruangan tengah rumahnya dimana terdapat sebuah lemari cukup besar dan berta, tapi untuk Eng Sian tidak menjadi halangan, ketika ia menggeser lemari itu kelihatan enteng dapat dikisarkan. Terkejut Eng Sian seketika, mukanya tampak pucat melihat lubang rahasia tempat menyimpan hartanya sudah dibongkar

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ orang. Tiada seorang yang tahu tempat menyimpan harta itu dibawahnya lemari kecuali Loan GIok isterinya. Maka itu, lantas saja ia mencurigai isterinya. Tapi bagaimana ia menegur dan tanya Loan Giok karena sang isteri sudah tidak bernyawa lagi ? Sejak ia masuk ke dalam rumah tadi, yang ia kuatir adalah lubang rahasia itu karena di dalamnya ada tersimpan satu kalung lehe dari batu giok (kumala) tertabur berlian yang ia dapat miliki dari Gouw Tiang Su saudara angkatnya dengan mempertaruhkan jiwanya. Gouw Tiang Su adalah satu maling terbang yang licin, entah dari mana ia dapat menyikat kalung kumala sangat berharga itu. Ketika ia memperlihatkan hasilnya itu kepada Tan Eng Sian, lantas timbul dalam hatinya si orang she Tan yang serakah untuk memiliki barang-barang berharga. Ketika diminta, malah mau dibeli dengan uang, barang itu tak diberikan oleh Gouw Tiang Su, maka Eng Sian terpaksa menggunakan kekerasan untuk memilikinya. Dalam perkelahian yang sangat seru, Eng Sian hampir celaka kalau tidak ada orang ketiga yang datang menyela. Ialah seorang muda dari usia tiga puluhan, mukanya tampan, namanya Coan Sim, she Tan sama dengan Eng Sian yang telah bantu mengerubuti Gouw Tiang Su hingga ia kewalahan dan akhirnya ia menyerah, barangnya dirampas oleh Tan Eng Sian. Karena kejadian itu maka Coan Sim sering-sering suka datang bertamu ke rumah Eng Sian yang disambut dengan manis budi dan ramah oleh tuan dan nyonya rumah. Loan Giok ketika ikut Tan Eng Sian sudah janda, ditinggal mati

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ oleh suaminya yang menjadi sahabar Eng Sian. Ia ambil Loan Giok terdorong oleh perasaan kasihan. Tatkala mana usia Loan Giok bukan muda lagi, sudah 45, lebih tua 4 tahun dari Eng Sian. Tapi lantaran Loan Giok bisa merawat diri, wajahnya tetap segar seperti juga wanita yang baru berusia 30an. Wajahnya yang hitam manis botoh, kalau tertawa memincuk jantung membuat Eng Sian yang sudah lama bujangan, tidak punya pilihan lain selain mengambil Loan Giok sebagai istrinya untuk menyambung kebahagiaan sampai di hari tuanya. Memang benar Loan Giok ada seorang istri yang baik, tidak genit dan mencintai suaminya hingga selama itu Eng Sian merasa puas dengan pelayanan Loan Giok. Kebahagiaan yang diharap sampai tua oleh Eng Sian suami isteri ternyata tak dapat terlaksana. Manusia boleh mengharap, tapi guratan nasib tak dapat dielakkan. Demikian awan mendung telah muncul memayungi keluarga Tan ialah dengan munculnya Coan Sim, bintang penolong Eng Sian ketika menghadapi Gouw Tiang Su. Coan Sim tampan wajahnya, tapi hatinya busuk. Tukang mempermainkan anak isteri orang degnan ketampanannya sebagai modal. Ia tidak punya pekerjaan, sehari-harinya hanya luntang lantung saja. Kalau ia bisa berlaku royal dalam hidupnya yang workloss itu karena berkat dari tante girang yang membantunya. Pada sore itu dimana Tan Eng Sian sedang keluar, Coan Sim dapat kesempatan ngobrol dengan Loan Giok. Nyonya untuk

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ rumah pandang Coan Sim adalah pemuda sopan santun. Memang demikian ia membawa kelakuannya di depan Tan Eng Sian dan Loan Giok apabila sedang omong-omong. Maka Loan Giok tidak berkeberatan menemani Coan Sim mengobrol, malah si pemuda dapat suguhan hidangan enak berupa kue-kue dan teh hangat sebagai kawan dalam menikmati pasang omong. Dalam omong-omong, bukan sekali dua kali mereka beradu pandangan hingga Loan Giok sering tundukkan kepala, hatinya tergetar karena pandangan tajam dari matanya si anak muda tampan. Sebaliknya, Coan Sim makin tergiur memandang calon tante girang didepannya yang hitam manis dengan senyum memikat. Dari omong-omong sopan lantas melantur kepada kata-kata melantur, itulah Coan Sim yang mulai keluarkan aksi merayunya. Ia berkata, "Siapa tidak jadi kegirangan omongomong dengan Tan-hujin yang sangat cantik...." Tan-hujin artinya nyonya Tan. "Saudara Tan, kau omong berlebihan." sahut Loan Giok seraya angkat kepalanya dari menunduk marusan karena tikaman mata lihai si anak muda. Coan Sim ketawa. Ia kata lagi, "Selama aku ingat belum pernah aku memuji siapa juga kecuali pada hujin yang memang aku kagumi kecantikannya...." Berdebar hatinya Loan Giok. Belum pernah ia mendengar kata-kata yang dapat membanggakan sanubarinya seperti yang ia dengar dari mulut Coan Sim yang seolah-olah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ bunyinya musik mengalun di telinganya. Ia diam saja. Sampai Coan Sim berkata lagi, "Kecantikan hupjan diatas dari segala gadis cantik dari umur 17 keatas. Hahaha, ini bukannya bohong. Aku berani bersumpah. Gerakan hujin diwaktu jalan, diwaktu duduk, dilengkapi oleh senyuman manis memikat, siapa yang akan tidak gugur imannya ?" "Aha, saudara ini suka main-main. Aku sudah menjadi nenek dan...." "Itu hanyalah pikiran hujin." Coan Sim cepat memotong sebelum Loan Giok melanjutkan kata-katanya. "Usia tidak menjadi ukuran, kalau memang wajah sendiri memang cantik dipandangan orang." Mau tidak mau, Lok Giok yang biasanya tidak genit, menjadi berubah mendadak sontak mendengar rayuan Coan Sim yang dahsyat itu. Dari suaminya yang dulu maupun yang sekarang, belum pernah Loan Giok mendengar pujian tentang kecantikan dirinya apalagi yang demikian muluk seperti yang ia dengar dari mulutnya si anak muda yang tampan. Waktu ia melirik pada wajah si pemuda yang tengah berseri-seri ke arahnya, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tersenyum membalas, kemudian dengan lagak manja ia berkata, "Apa iya ?" "Siapa yang membohongi hujin ?" si anak muda kata, romannya serius. "Baiklah, aku akan kasih hadiah...." kata si nyonya rumah.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Berbareng ia bangkit dari duduknya, entah mau kemana. Coan Sim juga cepat bangkit, ia menghadang. Dengan berani ia pegang kedua lengan Loan Giok, ia menarik dan mendekap badan Loan Giok di dadanya. Dua tubuh bersentuhan hangat, tergetar hatinya Loan Giok. Ia coba berontak, susah terlepas dari pelukannya Coan Sim. Ketika ia angkat mukanya mendongak, tahu-tahu mulurnya sudah ditekan bibirnya Coan Sim. Dari berontak ia menjadi jinak. Hanya tangan kirinya mengikuti tangan kanan Con sim yang mulai galak dan berkeliaran meraba buah dada yang jadi berombak dan lainlain anggota tubuh sampai si nyonya bergemetaran ketika tangan nakal Coan SIm sampai pada bagian yang hanya oleh tangan suami yang syah bagian itu boleh disentuh. "Ah, kau. Jangan disini...." kata Loan Giok perlahan, tangannya yang kanan berbareng mendorong dada si pemuda hingga ia terlepas dari pelukan Coan Sim yang ceriwis kemudian jalan tanpa menoleh lagi. Coan Sim kesima sebentaran tapi ia segera mengikuti si nyonya. Ia sudah dapat menduga maksudnya si nyonya dan benar saja ia telah dibawa ke kamarnya. Girang seperti menemui gunung emas, ketika Coan Sim sudah berada dalam kamar si tante girang. Terdengar dari sebelah luar suaranya Loan Giok. "Ah, kau begini nakal terhadap nenek-nenek. Hihihi....." "Nenek-nenek justru yang bisa main... ma..."sahut Coan Sim terputus. Berbareng terdengar suara pintu didorong terbuka, seorang kakek bongkok masuk ke dalam dengan pisau ditangannya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dua manusia mesum itu terbelalak kaget. Loan Giok sembat selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. "Kakek gila, kenapa kau berani masuk ke kamar nyonyamu !" semprot Loan Giok. Coan Sim yang memang punya kepandaian silat sudah segera hendak melompat menerkam si kakek, ia tidak takut orang ada bawa pisau tajam. Sayang, sebelum ia bergerak si bongkok sudah sampai dan menotok 'thian ki hiat', jalan darah pada iga kanannya hingga ia terkulai di ranjang dalam keadaan tidak berpakaian. Loan Giok menjadi ketakutan, mukanya pucat seperti kehabisan darah. "Hehehe, jangan takut !" kata si bongkok. "Asal kau mau katakan dimana disimpannya kalung kumala, aku tidak akan apa-apakan kau dan lelaki jahanam ini !" sambil menunjuk pada Coan Sim yang tidak berkutik. Loan Giok memang menyayangi kalung kumala berharga itu seperti juga dengan Eng Sian suaminya. Tapi dalam keadaan yang genting itu dimana jiwanya tentu lebih pentind dari pada kalung kumala, maka ia lantas berkata, "Kau cari di bawah lemari yang terletak dipojokan dari ruang tengah !" "Bagus ! Kau tunggu sampai aku ketemukan barang itu. Kalau kau bohong, awas !" mengancam si bongkok seraya putar tubuhnya jalan kelua dan pintu ia kunci dari sebelah luar

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ hingga Loan Giok tidak bisa keluar menggunakan kesempatan si kakek lagi pergi. Loan Giok menangis lalu bangkit memeriksa keadaan Coan Sim yang hanya sepasang matanya saja berputar, badannya sendiri tak dapat digerakkan. "Oh, kau kenapa jadi begini ?" tanya si nyonya Tan seraya menggoyang-goyang tubuh si pemuda yang diam saja. Nyonya Tan tidak tahu kalau Coan Sim kena ditotok. Tante girang tidak jadi girang menghadapi kegawatan pada saat itu. Sebagai nyonya yang tidak genit dan memang baik kelakuannya, Loan Giok menangis menyesalkan kelakuannya yang tidak benar. Ia telah khilap seketika, pada saat mendengar rayuan asmara dari si pemuda tampan tapi busuk hatinya. Apa daya sekarang ? Ia hanya mengharap belas kasihan si kakek bongkok, sebentar bila ia sudah kembali. Ia tahu bahwa si bongkok tidak akan gagal mencari kalung kumala. Sebentar lagi ia mendengar pintu di buka, si kakek tampak berjalan masuk sambil ketawa-ketawa. Tapi ketika sampai tidak jauh dari tepi pembaringan, Loan Giok kaget melihat sikapnya berubah bengis. Ia ketakutan, hampir ia selimuti kepalanya sekali kalau tiak keburu mendengar si kakek berkata, "Tan-hujin terima kasih. Ini !" berbareng ia kodok sakunya dan keluarkan kalung kumala dan diperlihatkan pada Loan Giok. "Bagus, kau bawalah !" sahut nyonya Tan, hatinya agak lega

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ karena si bongkok tidak sebengis tadi malah suaranya pun enak didengar. Pikirnya, ada harapan ia. Tapi tiba-tiba ia terkejut ketika si bongkok datang lebih dekat ke tepi pembaringan dan cenderungkan badannya, tangannya diulur seperti hendak memegang tubuhnya. Ia memeramkan matanya, ia pasrah pada nasib kalau sampai si kakek hendak memperkosa dirinya asal jiwanya dikasih hidup. Kiranya si bongkok bukannya hendak memeluk Loan Giok yang sudah siap menyerahkan diri, sebaliknya ia menototk urat kematian Loan GIok yang seketika itu si tante girang berkelejetan sebentaran dan napasnya pun lantas putus. Coan Sim melihat kejadian itu menjadi ketakutan. Tidak lama sebab ia juga lantas menyusul arwahnya si nyonya hitam manis yang belum jauh meninggalkannya. Setelah membereskan si pemuda mesum, si bongkok singkap selimut yang menutupi tubuh Loan Giok kemudian angkat badannya Coan Sim yang sudah jadi mayat, di gabrukan ke tubuhnya Loan Giok hingga keadaannya seperti yang saling peluk dalam keadaanya yang tidak genah dipandang untuk mereka yang beriman teguh. Demikian, si bongkoklah yang membereskan dua manusia mesum itu, sekarang kemana si kakek bongkok dengan kalung kumalanya ? Eng Sian berdiri terpaku sekian lama tatkala menyaksikan lubang rahasia penyimpanan hartanya sudah dibongkar orang. Ia jongkok lalau memeriksa, benar saja kalung kumalanya sudah terbang.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Hehehe ! " Sekonyong-konyong terdengar suara ketawa dibelakangnya. Cepat Tan Eng Sian balik tubuhnya, kiranya yang ketawa itu tiada lain adalah si bongkok yang dicari-cari. Eng Sian bangun dari jongkoknya lantas menghajar si bongkok dengan dua kepalannya tapi ia menghajar angin karena si bongkok sudah berkelit dengan lincahnya. Malah Eng Sian menjadi kaget sebab si bongkok sekarang sudah tidak bongkok pula badannya. "Kau.... kau, siapa sebenarnya ?" Eng Sian menanya gugup. "Hehehe, kau mau tahu siapa aku ? Aku adalah Kut-nia Huima Sie Toan Leng !" di kakek memperkenalkan namanya sehingga tergetar hatinya Eng Sian. Tan Eng Siang kaget karena Kut-nia Hui-ma atau 'Si Kuda Terbang dari Bukit Tulang' Sie Toan Leng adalah begal tunggal yang malang melintang di sekitar pegunungan Kiansan. Wataknya angin-anginan hingga orang bisa serba salah menghadapinya, kalau bukan kawan karibnya yang biasa galang gulung dengannya. "Kenapa kau menjadi orang bongkok dan nyelusup ke rumahku ?" tanya Eng Sian. "Kalau tidak ada kepentingan, mana si Kuda Terbang mau merendah menjadi orang bongkok segala !" jawabnya, seenaknya saja kelihatannya. "Jadi, kau yang curi kalung kumala dalam rumahku ?" "Tepat dugaanmu, saudara Tan."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kau yang bunuh dua manusia hina itu dalam kamar ?" "Kau menebak jitu sekali, saudara Tan." "Aku tidak perduli dengan dua manusia hina itu, tapi kalung kumala itu. Hm ! Apabila kau tidak kembalikan, jangan harap kau bisa keluar dari rumahku !" Sie Toan Leng tiba-tiba tertawa terbahak-bahak hingga Tan Eng Sian heran. "Kau mentertawakan apa ? Memangnya aku tidak bisa buktikan ucapanku barusan ?" "Aku tertawa bukannya tertawakan kau." sahut si Kuda Terbang. "Aku tertawa karena kedogolanku hingga barang yang sudah ada di tangan bisa hilang dirampas orang. Saudara Tan, kau paham akan kata-kataku ini ?" Tan Eng Sian melongo. Ia belum dapat menangkap betul apa maksud kata-kata Sie Toan Leng barusan, maka ia lalu minta ketegasan. "Setelah aku membereskan dua manusia terkutuk itu, aku keluar kamar dan kuncikan mereka dari luar. Pikirku, kalau kau pulang aakn dapat pergoki bagaimana tidak setianya istrimu dan kawan mudamu itu." demikian Kut-nia Hui-ma Sie Toan Leng bercerita kepada Tan Eng Sian. "Lalu, terus, terus bagaimana dengan kalung kumala itu." mendesak Eng Sian tidak sabaran.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ketika aku jalan sampai di pertengahan rumah, aku masih sempat mengodok keluar dari sakuku kalung kumala itu untuk aku memandangnya sekali lagi. Sekonyong-konyong aku rasakan ada angin dingin berkesiur disampingku. Aku kaget. Sebelum aku tahu apa-apa kalung kumala itu sudah pindah tangan. Kaget dan gusar saat itu, lantas aku melihat di depanku gadis cantik tersenyum ke arahku." "Kalung kumala tampak ada ditangannya yang putih halus. Aku merasa gegetun, cara bagaimana ia dapat merampas barang itu dari tanganku tanpa merasa apa-apa. Apakah dia satu setan gentayangan ? Tapi kupikir di dunia mana ada setan, maka aku lantas membentak, 'Anal sambel, kau berani permainkan kakekmu ? Lekas kembalikan barang yang ditanganmu itu !' Dia tidak menyahut hanya ketawa manis saja." "Aku si Kuda Terbang, mana ketarik dengan senyuman wanita cantik. Hatiku lebih ketarik oleh kalung kumala yang dengan susah payang aku dapatkan. Maka seketika itu aku membentak lagi, 'Kau berani permainkan kakekmu !' Berbareng aku pun maju untuk menyerang dan merampas pulang kalung kumala. Tapi.... ia hanya mengebas perlahan dengan lengan bajunya ke arahku, tiba-tiba aku rasakan serangkum angin menerjang sangat kuat sekali hingga tindakanku tertahan oleh karenanya. Aku heran, kukerahkan tenaga dalam dan maju terus. Si jelita kembali mengebas dengan lengan bajunya, kali ini agak kerasan dikit tapi cukup membuat aku terpelanting hingga dahiku tambah daging karena kebentur pinggir meja. Sialan, pikirku. Amarahku jadi meluap. Berbareng terdengar suara ketawa 'Hihihi..'. Gadis itu sudah menghilang dari pandanganku, lenyap bersama dengan kalung kumala...." Demikian si Kuda Terbang menutup

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ ceritanya. Tan Eng Siang berdiri termangu-mangu mendengar si Kuda Terbang ceritanya. Ia menghela napas. Apa daya ? Pikirnya kalau kalung kumala itu masih ada pada Sie Toan Leng, biarpun ia harus mengadu jiwa, ia akan berusaha untuk merampas pulang barangnya. Tapi sekarang, putuslah harapannya. Bagaimana ia bisa menghadapi lawan, sedang si Kuda Terbang sendiri yang kepandaiannya sangat tinggi, hanya dikebas sekali sudah terpelanting. Kut-nia Hui-ma Sie Toan Leng lalu ngeloyor pergi. "Tunggu." kata Tang Eng Sian tiba-tiba. "Kau mau apa lagi ? Barangmu toh sudah tidak ada padaku, apa kau tidak percaya ?" berkata si Kuda Terbang seraya ketawa. "Bukan itu maksudku." sahut Tan Eng Sian. "Aku hanya mau tahu apa kau kenal gadis yang datang kesini itu ?" "Mana aku tahu, sebab kenal wajahnya juga baru pada saat itu." "Sebagai begal tunggal, kau harus tahu !" Si Kuda Terbang termenung sebentar.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Eh," katanya sekonyong-konyong seperti yang teringat sesuatu, telunjuknya ditekankan pada jidatnya. Ia meneruskan, katanya : "Sekarang aku ingat. Menurut katanya kawan-kawanku yang suka tinggal suara ketawa berbareng orangnya menghilang adalah Kim Coa Siancu dari Coa-kok !" "Kim Coa Siancu...." menggumam Tan Eng Sian. Ia pun pernah dengar tentang munculnya Kim Coa Siancu yang melakukan penculikan beberapa lama berselang. Menurut berita, datang dan perginya hantu itu ada menakjubkan seakan-akan bagaikan asap yang lenyap ketiup angin. Tiada seorang pun yang pernah mempergoki wajahnya. Ia sendiri menduga hantu itu romannya menakutkan luar biasa, maka kepandaiannya ada sangat tinggi. Kalau seperti yang dikatakan sekarang oleh si Kuda Terbang, dia hanya ada satu gadis cantik saja, ia sangsi apakah dia itu ada Kim Coa Siancu yang dihebohkan dalam kalangan Kangouw ? "Kim Coa Siancu sangat lihai." si Kuda Terbang berkata lagi. "Datang dan perginya hanya seperti bayangan. Aku belum yakin ada manusia demikian lihai tapi setelah sekarang aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mau tidak mau aku harus mengakui memang Kim Coa Siancu ada begini !" berbareng ia menunjukkan jempolnya. Tan Eng Sian cemas hatinya. Pikirnya, bagaimana ia bisa dapat pulang barangnya yang sangat berharga itu di tangan seorang yang sangat lihai ? "Kalung kumala itu ada sangat berharga, bagaimana kau pikir ?" tanya Eng Sian.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Aku tahu, kalau tidak, bagaimana aku berusaha untuk memilikinya ?" Tan Eng Sian manggut-manggut. "Sekarang." katanya. "Kalung kumala ada di tangan Kim Coa Siancu, apakah kau tidak ada niat untuk merebutnya kembali ?" "Itu bukan pekerjaan mudah." sahut si Kuda Terbang. "Aku harus runding dulu dengan teman-temanku, tentang bagaimana baiknya." "Bagus ! Marilah kita berlomba, siapa yang dapat merampas pulang lebih dulu." "Baiklah !" sahut si Kuda Terbang, berbareng ia pun lantas ngeloyor dari situ. Tan Eng Sian pun lantas bekerja, mengubur mayatnya Loan Giok dan Coan Sim dengan diam-diam di belakang rumahnya yang terdapat kebun yang rindang. Dengan begitu, maka Tan Eng Sian tidak perlu lagi berurusan dengna yang berwajib. Kalung kumala yang menjadi rebutan itu, kecuali harganya sukar dinilai, juga mempunyai khasiat untuk kesehatan. Siapa yang pakai kalung itu, katanya tidak akan didatangi penyakit dan badan akan selalu merasa sehat dan segar. Bagaimana Kut-nia Hui-ma Sie Toan Leng dapat tahu adanya kalung kumala itu dirumahnya Tan Eng Sian, sebabnya karena Gouw Tiang Su yang memberitahukan padanya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kalau digunakan kekerasan, si Kuda Terbang menyangsikan kepandaiannya. Maka si Kuda Terbang berpikiran menggunakan jalan halus yaitu menjadi pembantu Tan Eng Sian, dalam rumah diam-diam ia menyelidiki dimana disimpannya barang permata itu. Tuakng kebun Tan Eng Sian, ia sogok suruh berhenti bekerja. Maka dengan mudah si Kuda Tebang diterima bekerja di rumahnya keluarga Tan. Sudah dua minggu ia lakukan penyelidikan dengan sabar, tidak juga ia berhasil. Kebetulan Tan Eng Sian tidak ada dirumah, ia pergoki nyonya rumah sedang main gila dengan Coan Sim. Menggunakan kesempatan ini, ia berhasil menggertak Loan Giok dan menemukan barang permata yagn dicarinya sekian lama. Tapi dasar bukan miliknya, tiba-tiba muncul Kim Coa Siancu. Barang yang sudah ada ditangannya dipindah tangan oleh Kim Coa Siancu dengan demikian mudahnya. Kim Coa Siancu datang ke rumahnya Eng Sian pun bermaksud hendak memiliki kalung kumala karena tertarik dengan khasiatnya untuk kesehatan. Kiranya barang itu sebenarnya adalah milik seorang pangeran Boan yang ternama. Lantaran kehilangan barangnya itu, ia telah membuat pengumuman. Barang siapa yang dapat mengembalikan kalung kumala itu akan diberi hadiah besar atau pangkat dalam pemerintahan. Rupanya pangeran itu sangat berpengaruh, maka dengan mudah dapat menjanjikan pangkat pada siapa yang dapat mengembalikan barangnya yang sangat berharga itu. Kim Coa Siancu dapat tahu hal kalung kumala itu berdasarkan pada pengumuman itu. Tan Eng Sian adalah jago silat ulung, banyak pengalamannya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dan banyak kenalannya. Seperti katanya si Kuda Terbang Sie Toan Leng, pikirnya, memang tidak mudah dengan sendirian saja berurusan dengan Kim Coa Siancu. Maka itu, ia sudah kumpul kawan-kawannya yang dianggap paling akrab dan dapat mengawal menyatroni Lembah Ular. Keputusan Tan Eng Sian pergi dengan diantar oleh tiga orang kawannya. Lembah ular belum dapat dicari, Tan Eng Sian sudah harus menyerahkan jiwanya dalam perjalanan sebagaimana yang sudah diceritakan di atas. Demikian Kim-kauw-cian Lie Tiong Kiat menutur pada Louw Bin Cie. Kita kembali pada Lo In yagn tinggal dalam rumahnya Liu Wangwee. Melihat Bwee Hiang berubah menjadi pendiam dan selalu berduka sejak ayahnya meninggal dunia, membuat Lo In menjadi tidak betah lama-lama dalam rumah orang hartawan itu. Wataknya paling suka bergembira, tidak memusingkan hal yang dihadapi, apalagi untuk urusan yang sudah lewat. Makanya, ia paling cocok dengang Eng Lian. Tapi kemana perginya enci Lian ? Lo In sering-sering menanya pada dirinya sendiri. Mengingat bahwa dia keluar lembah, meninggalkan rajawali dan kawan-kawan keranya disebabkan untuk mencari Eng Lia, maka dalam pikirannya kini selalu berbayang Eng Lian yang lincah jenaka.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pada suatu sore ia berkata pada Bwee Hiang : "Enci Hiang, sudah lama aku berada disini. Maka besok pagi aku akan teruskan perjalanan mencari enci Lian. Harap enci Hiang baikbaik saja di rumah sampai aku sudah menemui enci Lian. Tentu akan datang pula kemari untuk menyambangmu lagi." Bwee Hiang terkejut mendengar kata-kata Lo In yagn tidak diduga-duganya. "Adik kecil, apa kau tega meninggalkan encimu begitu saja ?" ia menanya. "Semua urusan sudah beres, tidak halangannya kalau aku meninggalkan enci sekarang. Aku toh sudah janji akan kembali kalau nanti sudah menemui enci Lian." "Tapi bukan itu yang kumaksudkan." "Habis, aku harus berbuat bagaimana ?" "Sucoan Sam-sat adalah musuh besarku." kata Bwee Hiang, romannya beringas ketika ia menyebutkan 'Sucoan Sam-sat', ia meneruskan, "Hutang darah pada keluarga Liu harus aku tagih berikut dengan bunganya !" "Nah, tagihlah ! Mudah saja, bukan ?" kata Lo In wajar, bukan melucu. "Adik kecil, kau kelewatan...." Bwee Hiang tiba-tiba menutup mukanya dan menangis. Lo In menjadi heran. Ia berkata, "Enci Hiang, kau jangan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menangis. Aku jadi tidak enak melihatnya." "Adik kecil, kau tahu aku tidak berdaya terhadap mereka." kata Bwee Hiang seraya susut air matanya dan terisak-isak. "Aku harus belajar kepandaian lagi, baru aku akan mencari mereka. Dengan kedua tanganku akan kubereskan jiwa mereka !" "Oh, mau tambah kepandaian ? Mudah saja. Cari guru yang pandai dan belajar sungguh-sungguh, bukankah itu jalan yang paling baik. Untuk apa enci menangis ?" "Adik kecil, kau sungguh kelewatan terhadap encimu...." si gadis menangis makin menjadi, ia sangat menyesalkan Lo In. "Enci Hiang, jangan menangis. Apa salahnya omonganku yang barusan ?" Bwee Hiang tundukkan kepala seraya masih terisak-isak menangis. Lo In kebingungan karena kata-katanya disalahkan. Ia menanya, "Habis, bagaimana aku harus berbuat supaya hati enci senang ?" "Adik kecil." sahut Bwee Hiang sambil menyusut air matanya. "Kepandaianmu di atas jago silat yang mana juga, kenapa kau begitu pelit untuk mengajarkan satu dua jurus pada encimu untuk bekal bagiku untuk menuntut balas ?" "Hehehe, jadi enci mau angkat aku jadi guru ?" Bwee Hiang mengangguk, ketawa mesem ia melihat lagak si bocah yang lucu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Mana bisa begitu." Lo In kata. "Usia enci jauh lebih banyak dariku, bagaimana aku lebih muda boleh menjadi gurumu. Hahaha...." Lo In tertawa terbahak-bahak. Bwee Hiang jengkel. Ia merasa seperti dipermainkan si bocah saja, suaranya agak kaku ketika ia berkata, "Adik kecil, kalau kau tiadk mau ajari encimu, aku juga tidak hendak memaksa !" "Bukan begitu, aku masih kecil masa harus jadi guru ?" "Tak usah main guru-guruan, kalau kau mau ajari encimu !" "Hehehe, enci marah ya ?" Lo In menggodai si gadis yang sedang cemberut. "Memang, memang aku marah !" sahutnya kaku. "Senang aku melihatnya kalau enci Hiang marah !" Gemas hatinya Bwee Hiang mendengar ucapan Lo In. "Bagus, kau mau suruh aku mati kejengkelan, bocah !" bentak Bwee Hiang. Lo In ketakutan melihat enci Hiang benar-benar marah. "Enci Hiang, kau jangan marah." kata Lo In cepat melihat gelagat jelek. "Hm, kau senang melihat aku marah, kenapa sekarang suruh aku jangan marah ?" "Bukan lantaran itu, enci Hiang !"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Habis, lantaran apa kau senang ?" "Lantaran wajah enci, makin marah kelihatan makin cantik. Aduh !" Lo In tiba-tiba mengaduh karena tangan Bwee Hiang yang lemas halus tiba-tiba menyambar kupingnya, dipuntir agak keras. "Nah, rasakan hadian dari mulut bocormu !" kata Bwee Hiang. Ketawa si gadis karena serangan mendadaknya berhasil menemui sasarannya. Lo In sudah sangat lihai. Sebeanrnya, tidak semudah yang dipikirkan Bwee Hiang, si bocah kena dijewer kupingnya. Ia melihat gerakan si gadis tapi ia antapkan supaya si gadis merasa senang, malah ia berteriak mengaduh lagi sehingga benar-beanr membuat Bwee Hiang merasa puas dengan hasil gerakannya yang tiba-tiba. Lo In pura-pura kesakitan, kedua tangannya memegangi telinganya yang dipuntir tadi, dengan gerak griknya yang lucu ia berkata, "Enci Hiang, kau betul kejam. Masa kuping orang dipuntir hampir copot ? Sakit tuh !" Mau tidak mau Bwee Hiang jadi ngikik ketawa geli. Sejak itulah Bwee Hiang belajar kepandaian pada Lo In. Selama bergaul dengan Lo In, Bwee Hiang dapat menyelami watak si bocah yang selalu bergembira, seakan-akan dalam alam pikirannya tidak ada kata-kata 'sedih' atau 'duka'. Ia senang bersenda gurau, ketawa-ketawa riang, bersentuhan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ badan saking sengitnya bercanda. Semua itu terjadi karena wataknya yang polos, bukan timbul karena kelakuan kurang ajar yang disengaja. Bwee Hiang yang sudah 'matang' dalam usia dewasa, mulamula merasa jengah mengimbangi gerak gerik Lo In, ketakutan kepada kedua tangannya dipegang, ditarik untuk diajak berjoget di lantai ruangan atau dilapangan berlatih, tapi belakangan setelah menyelami watak polos dari si bocah, ia tidak ragu-ragu lagi untuk menyerah di ajak bergembira ria oleh Lo In. Berpegangan tangan dan bersentuhan badan, sudah tidak menjadi soal lagi bagi si gadis. Lantaran ini juga, si bocah jadi betah berkumpul dengan Bwee Hiang. -- 20 -Eng Lian untuk sementara seperti terlupa saja dalam alam pikirannya Lo In karena Bwee Hiang dapat diajak bermain seperti juga si bocah bermain-main dengan si dara cilik yang sekarang sudah berubah nama menjadi Kim Coa Siancu yang menyeramkan sepak terjangnya. Bwee Hiang adalah gadis berbakat, cerdas otaknya untuk memahami sesuatu pelajaran terutama dalam hal ilmu silat, yang ia rindukan mendapat kepandaian tinggi untuk dengan tangannya sendiri ia dapat menuntut balas kepada musuhmusuhnya. Di bawah didikan si 'guru cilik', dalam tempo pendek kepandaiannya Bwee Hiang meningkat berlipat kali, lwekangnya hebat hingga jurus 'Bwee hiang boan wan' atau 'Harumnya bunga bwee memenuhi taman' yang si nona paling suka mainkan menjadi sangat lihai. Pedangnya yang menari-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ nari diisi dengan tenaga dalam yang kuat, membuat senjata itu menyambar-nyambar laksana kilat cepatnya mengarah tempat-tempat yang berbahaya di tubuh lawan. Kenyataan ini Bwee Hiang rasakan ketika berlatih dengan Lo In. Si 'guru cilik' minta supaya si gadis menyerang dengan sungguh-sungguh seperti menghadapi musuh yang sungguhan, ia lalu mainkan jurus 'Bwee hiang boan wan' yang hebat luar biasa hingga ketika latihan dihentikan, tampak si gadis air mukanya menyungging senyum puas. Bwee Hiang tadinya seorang gadis yang keras hati, agak angkuh. Maklumlah puterinya seorang hartawan. Tidak mudah untuk mengundang ketawanya yang mahal. Tapi, malah ia kenal si bocah berwajah hitam, malah belakangan pergaulannya makin rapat dengan guru angkatnya Lo In sebagai 'guru ciliknya', dalam tempo satu setengah tahun si gadis menjadi berubah segala-galanya. Kepandaian silatnya meningkat berlipat ganda, wataknya juga jadi ketularan watak Lo In yang selalu bergembira ria. Setelah Lo In merasa Bwee Hiang sudah dapat dilepas dalam suatu pertarungan kelas wahid, untuk mencari pengalaman, si bocah usulkan untuk Bwee Hiang ikut berkelana dengannya dalam dunia Kangouw. Ia sendiri tidak tahu bagaimana sebenarnya yang dinamai dunia Kangouw, tapi tujuan pertamanya adalah hendak mencari tahu halnya Eng Lian, entah dimana enci Liannya itu sekarang. Ketika mendengar usulnya Lo In, cepat Bwee Hiang menyahut, "Memang aku sedang pikirkan untuk keluar cari pengalaman, kebetulan kau membuka jalan. Mari, kapan kita berangkat, adik kecil ?"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Bagaimana dengan rumah yang begini besar dan pabrikpabrik kalau enci tinggalkan ?" balik menanya Lo In yang menaruh perhatian juga rupanya selama ia diam satu tahun lebih dengan Bwee Hiang. "Adik Hiang, kau perhatikan juga soal rumah dan pabrikku, itu bagus." berkata Bwee Hiang. "Semua itu mudah saja aku atur. Nanti aku angkat pamanku Liue Keng Sin menjadi kuasa penuh untuk mengurusnya. "Kalau begitu." sahut Lo In ketawa, "Kapan saja enci sudah bereskan urusan, sehingga boleh kita berangkat." Bwee Hiang setuju. Pada malamnya si nona mengajak Liu Keng Sin berunding, ternyata ia tidak keberatan diserahi pertanggungan jawab yang besar sebab memang sejak Liu Wangwee mati, ia meamng sudah diserahi kuasa atas semua kekayaan hartawan Liu. Setelah membereskan urusannya, Bwee Hiang pada hari berikutnya telah mengajak Lo In berangkat untuk berkelana. "Bagus !" Lo In kegirangan. "Mari kita berangkat !" kata Lon In, nampak Bwee Hiang sudah berdandan rapi, ketawa nyengir ke arah si gadis. "Apa yang kau ketawai, anak kecil ?" tegur Bwee Hiang. "Kau kelihatan lebih... eh, eh, jangan...." Lo In terputus omongannya karena dengan serentak tangannya si noan kelihatan berkelebat hendak menjewer kupingnya tatkala ia mengatakan 'lebih'...

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bwee Hiang seolah-olah sudah tahu kemana arahnya katakata nakal si bocah. "Tahu takut kok !" Bwee Hiang kata, ketawa manis. "Sejak tempo hari telingaku dipuntir." kata Lo In, "Sampai sekarang rasanya masih meresap dalam jantung. He he he...." Kata-kata si bocah dengan sewajarnya, tidak mengandung apa-apa tapi Bwee Hiang tanpa merasa wajahnya berubah semu merah sehingga ia mau cekikikan tidak jadi. Si gadis artikan kata-kata Lo In seperti yang hendak membilang,"Jiwamu adalah tanda kasih yang kusimpan dalam hari sampai sekarang." Cuma si bocah memakai kata-kata yang tidak langsung hingga arti sebenarnya tersembunyi di dalamnya. Lo In sekarang sudah gede, umurnya sudah 16 tahun, tidak bisa disamakan dengan 2 tahun berselang dalam usia 14 tahun kata-katanya ngawur, demikian pikirnya Bwee Hiang. Apakah si bocah dalam perjalanan nanti kurang ajar terhadapnya ? Ia jadi ragu-ragu untuk berangkat. "Enci Hiang." berkata Lo In. "Dalam perjalanan kita ini, kalau kita menemui hotel, kita pesan 2 kamar. Kalau kebetulan kita nginap di hutan, aku nanti tidur di pohon dan kau dibawahnya. Bukankah ini menyenangkan perjalanan kita ?" Bwee Hiang tercengang, "Baik, baik, bagus..." sahut Bwee Hiang ngawur. Ia agak gugup dalam menghilangkan kecurigaannya tadi.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kiranya ia curiga tanpa beralasan. Si bocah ada demikian sopan, dengan dalih apa ia menuduh si bocah akan berbuat sesuatu yang kurang ajar terhadapnya. Kata-kata Lo In itu membuat kesangsian Bwee Hiang tersapu pergi tanpa bekas. Dengan gembira ia mengajak si bocah mulai meninggalkan rumahnya. Ketika sampai di pintu pekarangan, tiba-tiba Bwee Hiang merandek dan memandang si bocah dengan senyumannya yang manis. "Masih ada yang ketinggalan ?" tanya Lo In. "Bukan itu." sahut Bwee Hiang. "Aku lihat kau tidak membekal senjata. Bagaimana nanti kalu kita ketemu orang jahat ?" Lo In tertawa terbahak-bahak. Katanya, "Enci Hiang, kau masih sangsikan aku si bocah dengan tangan kosong dapat menundukkan lawan ?" "Bukan tidak percaya." sahut Bwee Hiang. "Paling baik kalau kau membawa senjata. Aku pikir pedang adalah benda yang paling mudah untuk dibawa-bawa. Bagaimana kalau kau bawa pedang ayahku ?' Lo In geleng kepala. Bwee Hiang tahu Lo In kepala batu juga, maka ia tidak memaksa dan ia berkata, "Kalau begitu, mari kita berangkat !"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bwee Hiang berkata seraya gerakkan kakinya diikuti oleh Lo In yang segera sudah berada disisinya untuk diajak omongomong. Seperti burung yang terlepas dari kurungan, tampak Bwee Hiang amat gembira melakukan perjalanan berkelana. Perjalanan mereka sangat menarik perhatian umum yang berlalu lalang lantaran wajah mereka yang sangat menyolok perbedaannya. Bwee Hiang yang cantik lemah gemulai sedang Lo In wajahnya hitam legam kelihatannya lucu. Kalau banyak yang lalu lalang sering tersenyum memandang ke arah mereka, hanya yang memperhatikannya Bwee Hiang sedang Lo In acuh tak acuh dengan perasaan heran mereka. Biasanya kalau apa-apa yang ganjil suka mendapat gangguan, begitulah terjadi dengan perjalanan muda mudi itu yang belum lama meninggalkan kampungnya. Ketika 2 lie lagi sampai di dusun Suyang-tin, Lo In dan Bwee Hiang telah kesamprokan dengan rombongan pemuda berandal. Kira-kira ada lima belas orang, mereka smeua pada membekal senjata tajam. Ada yang membawa pedang, golok dan sebagainya. Rupanya mereka barusan habis latihan ilmu silat. Ketika mereka melewati Lo In dan Bwee Hiang, satu diantara dari mereka yang kepalanya gundul nyeletuk, "Sayang, gadis begitu cantik dikawal oleh satu bocah hitam. Coba yang temani aku, tentu akan lebih pantas ! Hahaha...."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ciang Hong, kau jangan suka usilan !" mencegah temannya yang jalan di belakang, rupanya adalah pemimpin rombongan. Pemuda yang dipanggil Ciang Hong menoleh ke belakang, bukan ke arah si pemimpin ia memandang tetapi ke arah Bwee Hiang yang kebetulan mengawasinya. Matanya mengedipi Bwee Hiang hingga si gadis menjadi mendongkol. Memang sejak mendengar kata-kata Ciang Hong tadi si gadis sudah gusar, sekarang ia melihat sikap pemuda tersebut yang makin kurang ajar, bukan main marahnya. Si gadis meludah, tanda muak melihat lagaknya Ciang Hong. Melihat itu, Ciang Hong tidak senang. Ia keluar dari rombongannya yang sedang jalan, menghampiri Bwee Hiang yang seketika itu juga sudah sampai di depannya sebab memang sama-sama mau ke dusun Suyangtin. "Kau meludah untuk apa, hah !" bentak Ciang Hong, tangannya berbareng nyelonong mau menyolek wajah Bwee Hiang yang cantik. Bwee Hiang tidak banyak cakap. Begitu tangan si ceriwis sampai, kepalanya mengelak sedikit berbareng tangan Ciang Hong ditangkap. Cukup dengan satu sentakan si ceriwis nyelonong nyungsep dalam gerombolan rumput alang-alang di tepi jalan. Kawan-kawannya Ciang Hoang hentikan jalannya melihat Ciang Hong sekali gebrak dipecundangi si gadis. Sebentar lagi mereka lihat Ciang Hong sudah keluar lagi dari gerombolan alang-alang. Dengan gusar ia membentak, "Kau berani

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menghina Tong-sinoya ? aduh ! aduh !... " omongnya ditutup dengan kata-kata mengaduh. Kiranya Tong Ciang Hong kena dua tamparan dari Bwee Hiang hingga beberapa giginya rontok dan mulutnya berlumuran darah. Ketika ia semprotkan, tiga buah giginya ikut lompat keluar dibarengi dengan darah. "Kau berani kurang ajar pada nonamu ? Hmm ! Itulah bagiannya...." kata Bwee Hiang dengan gusar. "Adik kecil, mari kita jalan !" Ia mengajak Lo In yang tinggal menonton saja bagaimana sang enci menghajar orang yang iseng mulutnya. "Perlahan jalan !" tiba-tiba Bwee Hiang mendengar orang berkata di belakangnya. Ketika ia menoleh kiranya adalah teman Ciang Hong yang berdiri di depannya sambil ketawa haha hihi macam monyet kena terasi. "Oo, kau mau bela kawanmu itu ? Hmm !" kata Bwee Hiang. "Terang aku musti bela kawanku, aku mau lihat kau bisa pergi dari sini atau tidak !" Si gadis sangat mendongkol, matanya melirik pada Lo In tapi si bocah diam saja. Ia hanya kedipkan matanya seperti menganjurkan 'lawan'. Lo In memang sengaja tidak mau turun tangan, mau melihat bagaimana kemajuan si gadis selama dididik olehnya. Sang kawan mengerti akan maksud si bocah wajah hitam.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Nah, marilah kita berkelahi !" si gadis kemudian menantang. Pemuda itu tidak sungkan-sungkan lagi. Ia keluarkan tipu silatnya 'Burung elang menyambar kelici'. Dua tangannya dipentang bagaikan kilat menyambar ia menubruk Bwee Hiang tapi si gadis sudah lenyap dari pandangannya. Tahu-tahu ia rasakan pinggulnya ditendang dari belakang hingga ia jatuh ngeyungsep, mukanya memakan tanah jalanan yang banyak batu kerikilnya. Kawan lainnya datang memburu, juga dengan sekali tarikan tangan, lawan Bwee Hiang sudah mengaduh-aduh kesakitan, berkutatan dalam gerombolan rumput alang-alang kemana barusan tubuhnya si gundul nyungsep. Melihat si nona ada demikian tangkas, kawan-kawannya yang lain datang mengeroyok. "Jangan, enci Hiang." berkata Lo In ketika ia melihat si gadis hendak menghunus pedangnya hingga ia masukkan lagi. Ia mengerti sang kawan menyuruh ia lawan banyak orang itu dengan tangan kosong. Bwee Hiang gunakan ajaran Lo In menggunakan 'Bu eng sin kang' (Tenaga sakti tanpa bayangan), bagi Bwee Hiang sudah kelebihan untuk melayani 15 pemuda yang mengeroyok dirinya, meskipun diantara mereka ada yang menggunakan senjata, membokong dirinya. Tubuhnya si nona berputaran hingga kawanan pengeroyok tak dapat menyentuh meskipun ujung bajunya saja. Saban-saban bila mereka kira si nona tak bisa lolos dari

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ jambretan atau pukulan, dengan mendadak si nona seperti menghilang, tahu-tahu sudah ada di belakangnya. Tidak heran, kalau mereka berkelahi sambil berteriak-teriak mengutuk Bwee Hiang hingga si nona merasa tidak enak mendengar caci maki mereka. Lo In kuatir enci Hiangnya melakukan pembunuhan, melihat si gadis beringasan, maka ia berseru, "Cukup, enci Hiang !" Lantas, beberapa kali si nona berkelebat. Maka 15 pemuda berandalan itu semuanya rebah kena ditusuk oleh Bwee Hiang. Sambil berseri-seri si nona menghampiri si bocah wajah hitam sambil menarik tangannya, ia berkata, "Adik kecil, mari kita jalan. Aku kuatir disini aku bisa membunuh orang !" Lo In memahami hati si gadis yang amat mendongkol kepada mereka yang mengeroyoknya karena sudah mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar oleh si gadis. Maka begitu tangannya ditarik diajak jalan, Lo In sudah lantas saja mengikuti tanpa banyak rewel. Dalam perjalanan Bwee Hiang berkata, "Adik kecil, ajaranmu hebat benar ! Hihihi, sekali gebrakan sudah menjatuhkan 15 orang !" "Jangan bangga dulu enci Hiang. Mereka itu adalah jago kelas tiga, paling banyak kelas dua. Belum dapat diukur kepandaian enci. Eh, enci Hiang !" Tiba-tiba si bocah mendorong Bwee Hiang ke samping hingga si gadis terhuyung-huyung. Kurang ajar, pikir Bwee Hiang. Kenapa si bocah main-main

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ begini, mendorong orang sampai terhuyung-huyung. Ketika ia menoleh, Lo In sedang berhadapan dengan satu kakek yang jenggot dan rambutnya sudah pada putih semua. Ia mendengar Lo In berkata, "Kakek tua, tidak seharusnya kau membokong orang. Kalau kau mempunyai kepandaian, boleh tantang enciku terang-terangan !" Bwee Hiang kaget mendengar kata-kata Lo In. Kalau begitu, barusan Lo In bukan main-main mendorong dirinya sampai terhuyung-huyung. Ia berbuat demikian untuk menyelamatkan dirinya dari bokongan jahat. kakek tua itu membokong dengan senjata apa ? tanya Bwee Hiang dalam hatinya. Matanya mengawasi ke batang pohon sebab tadi mereka sedang jalan enak-enak menuju ke arah pohon. Ia lihat disitu tertancap sebatang panah kecil sampai hampir amblas semua. Rupanya senjata itu dilepas dengan kekuatan besar sampai menancap demikian rupa. Bwee Hiang bergidik. Di samping itu ia merasa bersyukur atas pertolongan adik kecilnya. Sekarang ia memandang ke arah si pembokong. Tiba-tiba ia menjadi gusar lalu menghampiri Lo In yang sedang bertengkar dengan si kakek. "Adik kecil, dia membokong aku barusan ?" tanyanya lantas. Lo In menganggukkan kepalanya. "Hehehe, kakek tua. Kau mau berkelahi denganku ?" tanya Bwee Hiang. Si kakek tua hanya mengawasi si nona dengan roman bengis. "Kalau mau berkelahi, sebutkan dahulu apa lantarannya." si

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ gadis kata dengan tawar. "Itu sudah dikatakan." menyela Lo In. "Enci sudah bikin sungsang sumbel anak muridnya maka dia jadi mendendam hati padamu dan dia mencoba membokongmu !" "Hei, kakek tua kalau begitu kau adalah kakek pengecut !" jengek Bwee Hiang. "Kau punya kepandaian apa hendak melawan aku ?" tanya si kakek. "Hihihi... !" Bwee Hiang tertawa. "Kau tentu tidak punya isi apaapa makanya kau membokong. Kalau benar-benar satu lakilaki, kau harus berani lawan aku dengan berhadapan muka !" Panas hatinya si kakek dikatakan tidak punya isi apa-apa, maka ia tepuk-tepuk dadanya sambil berkata, "Aku Kie Giok Tong, jago kenamaan dalam dusun Suyangtin, siapa dalam dusun ini yang tidak kenal namaku yang kesohor sebagai guru silat !" "Hihihi." tertawa Bwee Hiang, ia menggodai, "Jago kampungan hanya terkenal di dalam kampung saja dan kesukaannya membokong orang lantaran tidak sanggup menghadapinya sendiri. Cis, tidak tahu malu !" Meluap amarahnya Kie Giok Tong. Tanpa banyak cakap lagi, seketika ia sudah menyerang Bwee Hiang hingga mereka jadi bertempur. Baru bertempur lima jurus, Kie Giok Tong sudah empas empis kepayahan. Lo In jadi ketawa geli, kasihan ia

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ melihat si kakek hanya dipermainkan oleh Bwee Hiang, ia lantas berkata, "Enci Hiang cukup !", berbareng Kie Giok Tong sudah ditotok roboh oleh si nona. Rupanya kata 'cukup' yang meluncur dari bibirnya Lo In seakan-akan kode untuk Bwee Hiang mengakhiri pertempuran dengan satu kemenangan. "Adik kecil," kata Bwee Hiang ketika ia datang dekat pada Lo In. "Brengsek kampung ini kakek sudah hampir mampus masih mau gerembengi ilmu silatku !" "Hus ! Jangan omong kasar begitu." Lo In kata sambil ketawa geli. "Mari kita jalan !" Bwee Hiang mengajak adik kecilnya. Kie Giok Tong hanya bisa mengawasi berlalunya dua muda mudi itu tanpa dapat bergerak dari mendeprok dari tanah. Kakek she Kie itu memang jagoan dalam dusun Suyangtin. Di waktu mudanya ia bekerja pada salah satu Piauw kiok (perusahaan pengawalan barang) ke kota Gukwan, namanya lumayan juga terkenal sebagai Piauwsu (pengawal antaran barang). Sudah lima belas tahun ia tinggal di Suyangtin, pada sepuluh tahun belakangan ia membuka perguruan silat dan menerima banyak murid. Pernah datang dua tiga orang yang pandai silat ke dusun Suyangtin dan bergebrak dengannya, tidak satu yang dapat menjatuhkan dirinya. Oleh karenanya Kie Giok Tong menjadi bangga dengan kepandaiannya itu. Ia mengira bahwa kepandaian silatnya sudah sangat tinggi, ia tidak mengira

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ bahwa kepandaian orang-orang yang mencobanya hanya jago kampungan saja. Kini ia dipermainkan oleh hanya satu gadis yang pantas menjadi jujurnya, malah umurnya kurang lebih dua puluh tahun, pedih rasa hatinya, ia tidak puas dijatuhkan si gadis, ia tidak puas dijatuhkan si gadis meskipun kekalahannya itu adalah wajar. Ia coba empos tenaga dalamnya untuk membebaskan totokan, girang ia ketika dapat kenyataan tiba-tia ia sudah bisa gerakan pula kaki tangannya seperti biasa. Ia merasa bahwa lwekangnya sangat sempurna dengan mudah ia dapat membebaskan diri dari totokan tapi ia tidak tahu, kalau totokan Bwee Hiang hanya totokan main-main saja ajaran Lo In yang dinamai 'Poan ban tiam hiat' atau 'Totokan setengah iseng' yang si bocah dapatkan dari buku 'Tiam-hiat Pit-koat'. Barusan saja ia bangkit dari mendeproknya, Kie Giok Tong sudah dikerubungi anak muridnya yang juga sudah bebas dari totokan Bwee Hiang. "Gadis itu sangat lihai." berkata Kie Giok Tong setelah ia menghela napas. "Suhu, apa tidak baik kita kumpulkan para paman untuk bikin perhitungan dengan wanita liar itu ?" usul pemuda yang menjadi kepala rombongan pemuda bergajul yang sudah dikasih 'rasa' oleh Bwee Hiang. Kie Giok Tong anggukkan kepalanya, "Tapi, dimana para

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ pamanmu sekarang ?" ia menanya. Sebelum Kie Giok Tong mendapat jawaban tiba-tiba ia melihat ada 4 orang yang berlari-larian ke arahnya. Si kakek mengawasi, ia berkata kepada pemuda yang mengajukan usu yang ternyata adalah murid kepalanya beranam Cia Kim Seng. "Kim Seng, kebetulan. Nah, tuh lihat para pamanmu sudah datang." Sebentar kemudian 4 orang tadi sudah sampai. Mereka adalah saudara-saudara angkat dari Kie Giok Tong dan mereka menamakan dirinya 'Suyangtin Ngo-houw' atau 'Lima harimau dari Suyangting'. Seram juga kedengarannya, memang juga menyeramkan bagi penduduk Suyangtin, mereka sangat menghormati Lima Harimau itu. Suyangtin Ngo-houw tidak jahta, mereka sebagai pelindung dari dusun, hanya tabiatnya agak sombong. Maklumlah jago-jago silat kampungan, kalau merasa dirinya jagoan sudah lantas perlihatkan keangkuhannya di hadapan penduduk yang lemah. "Toako, aku mendapat kabar kau dengan keponakan murid mendapat kesusahan dari seorang wanita liar, apa benar ?" tanya salah seorang saudara angkat Kie Giok Tong yang bernama Tan Him yang termasuk nomor tiga dari Lima Harimau. "Kabar itu tidak salah." sahut Kie Giok Tong. "Dari siapa Samte dapat kabar itu ?" balik menanya si kakek she Kie. "Dari si A Kong yang lari dengan napas tersengal-sengal mengabarkan padaku." sahut Tan Him. "Aku terkejut mendengar ada orang yang coba-coba tarik kumis harimau, segera aku beritaku pada jiko, sute dan ngote. Maka kami

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ berempat lanas menyusul kemari. Dimana sekarang adanya wanita liar itu ?" "Samte." kata Kie Giok Tong seraya geleng-geleng kepala. "Aku belum pernah menemukan tandingan sejak aku berkelana di dunia Kangouw maupun tinggal dalam kampung kita disini. Kalian semua toh tahu, bukan ? Tapi kali ini aku ketemu gadis liar itu, cuma dalam lima jurus saja aku dijatuhkan. Benar-benar aku merasa sangat penasaran !" Terkejut hati empat saudaranya. Mreka mendengar si jago tua dirobohkan dalam tempo lima jurus, itu hebat sekali ! Kie Giok Tong, meskipun usianya sudah lanjut sangat alot kalau bertempur, napasnya panjang dan sangat tangkas. Mereka sering saksikan manakala mereka sedang berlatih sialt. "Gadis itu sangat lincah, serangan-seranganku yang mematikan dielakkan dengan berkelit ke sana sini. Coba kalian pikir, apakah ini tidak menjengkelkan ? Dalam sengit, aku keluarkan serangan dengan tipu 'Kim Liong seng thian' (Naga emas naik ke langit) yang seperti kalian tahu, jurus ini sangatlah ampuh untuk menjatuhkan lawan, tapi.... tiba-tiba kurasakan kesemutan ketika dia menowel pundak kananku. Kiranya towelan itu bukan sembarang towel sebab dari kesemutan aku jadi lemas dan jatuh terduduk di tanah. Dia telah menotok lo-ji-hiat, halan darah di pundak kanan. Syukur lwekangku tinggi hingga aku dapat membebaskan totokan kejinya itu..." Demikian si kakek menutur, tampak ia sangat bangga ketika mengatakan lwekangnya sangat tinggi dapat membebaskan totokan Bwee Hiang. Dasar jago kampungan, seperti katak (kodok) di dalam tempurung yang tidak bisa menilai kepandaian orang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ seberapa tingginya, hanya menyangka lwekannya yang hebat. Ia tidak insyaf bahwa Bwee Hiang sudah bermurah hati kepadanya, hanya menotok secara main-main saja. "Memang, kalau bukan toako memiliki tenaga dalam yang tinggi, tidak mudah membebaskan diri dari totokan jahat !" memuji Song Cie Liang, jiko dari Lima Harimau hingga si kakek she Kie senang mendengarnya. Tinggal Cia Kim Seng saling berpandangan dengan kawankawannya. Mereka heran si kakek mengatakan dengan menggunakan lwekangnya dapat membebaskan totokan orang sedang apa yang mereka alami, totokan itu bebas dengan sendirinya, tidak lama setelah mereka dirobohkan oleh Bwee Hiang. Tapi karena mereka percaya akan kepandaiannya sang Suhu (guru) maka mereka juga tidak mau mengatakan apa-apa. "Sekarang, kemana perginya wanita liar itu ?" tanya Teng Hauw, si nomor empat dari Lima Harimau. "Aku kira mereka belum pergi jauh dari kampung kita." sahut Kie Giok Tong. "Mereka, toako kata ? Apa gadis itu ada temannya ?" Tan Him menanya. "Ya, satu bocah berwajah hitam bagai pantat kuali." sahut si kakek. "Cuma satu bocah, apa artinya. Mari kita susul !" mengajak Song Cie Liang.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Rombongan pemuda bergajulan itu sekarang ditambah dengan Suhu dan empat pamannya pergi menyusul. Mereka besar hatinya sebab dengan tambahan tenaga yang sanat berarti itu mereka harap dapat membalas hinaan yang mereka derita. Baru saja mereka hendak berangkat, tiba-tiba melihat seorang anak tanggung berlari-lari ke arah mereka. Cepat juga lari anak itu. "Itulah si A Kong yang datang !" kata Tan Him Yang lain-lainnya juga sudah segera kenali si A Kong, anak tanggung yang biasa dipakai sebagai mata-mata oleh Suyangtin Ngo-houw. Anak itu cerdik dan gesit, maka ia sangat disayang oleh Lima Harimau dari Suyangtin. "A Kong, kau datang tergopoh-gopoh. Ada kabar penting apa hendak disampaikan pada kami ?" tanya Kie Giok Tong setelah anak itu sudah berada di depan mereka. Dengan masih sengal-sengal napasnya, A Kong menyahut, "Toa-loya sekarang ada di rumah makan An Hok sedang makan minum bersama si bocah muka hitam !" "Bagus, kerja kau baik sekali A Kong." memuji Kie Giok Tong. Senang kelihatannya anak itu mendapat pujian toako dari Lima Harimau. Kie Giok Tong lantas berunding dengan empat saudaranya. "Kalau kita ramai-ramai masuk ke dalam rumah makan, kita

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sebagai pengacau." Kie Giok Tong menyatakan pada saudarasaudaranya. "Bagaimana kalau kita memencar ?" "Maksud toako bagaimana ?" tanya Song Cie Liang, si Jiko. "Kita saja berlima yang masuk, sedang Kim Seng dan saudara-saudaranya boleh menunggu di sebelah luar. Kalau sampai terjadi keributan dengan lawan, kita pancing lawan keluar. Di situ kita keroyok ramai-ramai, bukankah ini bagus ?" "Bagus, bagus, kita turut pikiran toako." memuji Tan Him. Sesampainya di sana, Ngo-houw lihat si gadis sedang ketawaketawa gembira dengan si bocah muka hitam. Diam-diam mereka nyelusup masuk dan ambil meja sedikit jauh dari meja dimana Lo In dan Bwee Hiang tengah menikmati barang hidangannya. Mereka terus menerus pasang mata pada dua tamu dari luar dusun Suyangtin itu. Diam-diam empat saudaranya Kie Giok Tong memandang enteng pada Bwee Hiang yang kelihatannya tidak ada apaapanya yang harus ditakuti. Romannya yang cantik menyinarkan welas asih malah. Bagaimana seorang dara yang lemah gemulai itu dapat memiliki kepandaian yang hebat sehingga toakonya dalam lima jurus sudah digulingkan ? "Enci Hiang, kau lihat kelihaian aku." tiba-tiba Ngo-houw mendengar Lo In berkata pada Bwee Hiang. Mereka lihat, berbareng dengan kata-katanya, si bocah muka hitam tangannya memegang poci arak. Mulut poci ditegakki ke atas.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Mau apa dia ?" tanya Ng-houw dalam hatinya masing-masing. Belum sempat mereka menduga apa-apa, sekonyongkonyong mereka lihat meluncur keluar arak dari dalam poci, naik ke atas kira dua kaki tingginya. Arak itu diatas dapat bertahan dua menit lamanya sehingga arak itu tidak jatuh diatas meja. Setelah itu, arak itu nyerosot masuk lagi ke mulut poci, tidak ada setetes pun yang berlumuran jatuh di atas meja. Itu suatu pertunjukkan yang tidak mudah sebab hanya dengan lwekang yang sudah sempurna saja, dapat dilakukan. Lo In unjuk kepandaian ini bukan hendak membanggakan kepandaiannya, hanya hendak membikin ngeri Suyangtin Nghouw tanpa kekerasan. Diam-diam Lo In sudah tahu kedatangannya Kie Giok Tong bersama empat temannya, maka ia kisiki Bwee Hiang untuk belaga pilon akan kehadiran mereka dan Lo In menjatakan ia hendak tundukkan mereka dengan kepandaiannya yang istimewa. Dasar dogol, lima jago kampungan itu benar kagum melihat caranya Lo In bermain arak tapi mereka mengira bahwa si bocah wajah hitam itu hanya pandai main bersulap saja, lain tidak ! Sebentar Lo In kasih pertunjukan kedua. Ia pegang mangkok kosong, lalu diangkat ke atas. Pantat mangkok ia sanggah dengan sumpit, tahu-tahu mangkok sudah terputar, sebentar naik sebentar turun tapi tak lolos dari sebatang sumpit yang ada di tangannya Lo In. Ini juga suatu pertunjukan lwekang yang dahsyat. Sebaliknya juga, ini dianggap oleh kawanan dogol itu si bocah hanya main sulap saja. Sedang mereka hendak ketawa berkakakan, tibatiba matanya pada terbelalak kaget ke arahnya Lo In.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Saat itulah yang membuat mereka kagum bukan main. Lo In setelah bikin mangkok berputar turun naik disanggah oleh sebatang sumpitnya, tiba-tiba tangan kirinya menyambuti mangkok yang turun berbareng sumpit di tangan kanannya melesat ke atas. Terdengar suara 'ngik !' disusul dengan jatuhnya suatu benda dari atas. Kiranya yang jatuh itu adalah seekor tikus yang jatuh dari bubungan rumah, tubuhnya sudah terbidik oleh sumpitnya Lo In yang barusan meluncur ke atas, sumpit itu telah jatuh dibawah berbareng dengan badannya si tikus yang bernasib malang. Kejadian ini bukan permainan sulap tapi satu kepandaian yang luar biasa hingga Lima Harimau termangu-mangu duduk di tempatnya. Mereka tidak bisa mengatakan si bocah main sulap lagi karena dengan mata kepala mereka sendiri mereka menyaksikan kepandaian yang luar biasa, yang baru pernah mereka melihat dalam seumurnya mereka. Terdengar suara tempik sorak dari para tamu yang melihat kejadian itu. "Toako," kata Tan Him, perlahan suaranya. "Selembar rambutnya saja pun, kita tak dapat mengganggunya." Kie Giok Tong angguk-anggukan kepalanya, yang lainnya tinggal membisu. Meskipun adatnya angkuh, tinggi hati, si kakek orang she Kie orangnya suka bersahabat. Ia menghormati kepandaian orang yang ia kagumi, maka juga selama ia jadi Piauwsu banyak orang-orang gagah yang menjadi sahabat baiknya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kini ia melihat kepandaian si bocah yang luar biasa, ingin ia mengikat persahabatan. Karena timbulnya pikirani tu, maka Kie Giok Tong bangkit dari duduknya, jalan menghampiri meja Lo In dimana ia menjura kepada muda mudi itu, sambil berkata, "Siao-hiap dan Li-hiap, terima hormatku, si kakek yang punya mata tapi tidak melihat !" Bwee Hiang masih cekikikan ketawa dan mengagumi kepandaian adik kecilnya, tiba-tiba Kie Giok Tong menghampiri. Ia mengira si kakek akan cari urusan lagi. Ia berhenti ketawa dan siap sedia tapi tidak tahunya si kakek menjura memberi hormat hingga ia dan Lo In jadi tergopohgopoh membalas hormatnya si orang tua. Lo In tidak banyak omong, maka Bwee Hiang yang mewakili bicara, "Lo-enghiong (jago tua), jangan begini merendah. Karena kami berdua yang muda menjadi tidak enak oleh kehormatan Lo-enghiong yang berlebihan. Mari, mari duduk makan sama-sama kami !" Kie Giok Tong tidak merendah lagi, ia lantas turut duduk di meja Lo In dan Bwee Hiang. Sebelum membuka suara, ia menoleh kepada empat saudaranya, tangannya menggapai. Sebentar lagi mereka sudah datang menghampiri. Dengan sendirinya mereka pada mengambil kursi dan duduk mengitari meja makan Lo In. Bwee Hiang girang melihat taktik Lo In berhasil baik, dapat dengan halus menundukkan Lima Harimau dari Suyangting. Bwee Hiang teriaki pelayan, minta tambah hidangan untuk lima orang yang baru datang. Mereka mula-mula menampik, tapi Bwee Hiang dengan ramah berkata, "Ini adalah pertemuan kita yang menggirangkan. Tidak baik kalau kalian

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lo-enghiong menampik undangan kami yang muda." Melihat si nona demikian ramah dan kata-katanya diucapkan dengan tulus hati, maka Kie Giok Tong dan kawan-kawan menjadi malu hati, lantas pada menghaturkan terima kasih atas undangan manis budi dari si gadis yang semula dipandang musuh alias si gadis liar. Mereka segera berkenalan satu dengan lain. Bwee Hiang tidak bicara sewajarnya tentang siapa dirinya, ia hanya mengaku dengan Lo In adalah kakak beradik dan dalam perjalan merantau yag kebetulan melewati di dusun itu. Kie Giok Tong minta maaf untuk kelakuan sendiri dan anak muridnya yang kurang ajar. "Ah, itu hanya kejadian biasa." kata si nona merendah. "Kalau tidak didahului dengan perkelahian, mana bisa kita jadi bersahabat seperti sekarang ini ?" Lima Harimau itu makin menghormat kepada si nona yang bisa bicara merendah dan menunjukan pribadinya yang luhur. Lo In selama itu hanya tertawa nyengir saja, tidak turut bicara. Kie Giok Tong yang merasa kagum pada si bocah, telah membuka mulutnya menanya : "Aku, si kakek merasa kagum atas kepandaian Siaohiap, sekarang Siaohiap sudah umur berapa ?" "Tahun ini aku masuh..... eh, tunggu !" berbareng tubuh Lo In melesat ke arah pintu, menyusul seorang Thauto yang sedang jalan keluar.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Thauto itu selain membawa buntelan kecil, juga ada menyelipkan sebilah pedang pendek di bebokongnya. Bwee Hiang kaget melihat kelakuan si adik kecil, cepat ia menyusul keluar diikuti oleh Lima Harimau dibelakangnya. Bwee Hiang lihat jauh disana, disuatu lapangan tampak Lo In sedang berhadapan dengan si Thauto. Ia menyusul ke sana, juga Lima Harimau tidak mau ketinggalan mereka dibelakang si nona. Mereka kepingin tahu, ada urusan apa dengan begitu tergopoh-gopoh si bocah hitam menyusul si Thauto. Di sana mereka menyaksikan Lo In sedang bertengkar dengan si pendeta rambut panjang. Terdengar Lo In berkata, "Aku tidak perduli kau dapat dari siapa, tapi itu adalah pedangku. Kau harus mengembalikan pada pemiliknya !" Si Thauto yang tiada lain adalah Kim Wan Thauto tertawa bergelak-gelak mendengar ucapan Lo In, setelah itu ia berkata, "Anak kecil, jangan kau cari urusan dengan aku. Pedang orang lain diakui pedang sendiri, belajar dari mana kau hendak memiliki barang orang ? Kau ngimpi barangkali ?" "Pedang pendek itu kepunyaan orang yang kuhormati, mana aku tidak bisa mengenalinya !" "Dengan bukti apa kau mengatakan pedang itu adalah milikmu ?" Lo In jadi kebingungan sebab ia memang tidak perhatikan betul tanda-tanda yang ada pada pedang pendek Liok Sin-she

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sampai hilang digondol Siauw Cu Leng. Melihat Lo In termangu-mangu, Kim Wan Thauto berkata, "Tanpa bisa mengunjuk bukti, mana aku mau mengembalikan padamu, anak kecil !" "Tidak, aku mesti dapat kembali." sahutnya tegas. "Dengan apa kau bisa dapat kembali barangmu ?" "Dengan kepandaianku !" Kim Wan Thauto gelak-gelak ketawa. "Anak kecil, dengan kepandaianmu tersebut tadi dalam rumah makan, hendak kau merampas pedangku ? Hm ! Jangan harap !' "Betul kau tidak mau mengembalikannya dengan baik ?" Diam-diam Kim Wan Thauto waspada menghadapi bocah hitam ini karena Lo In bukan bocah sembarangan. Bila melihat lwekang (tenaga dalam) yang dipertunjuki tadi di dalam rumah makan. Tadinya ia mau mengeloyor diam-diam, tidak tahunya Lo In matanya lihai lantas mengenali kalau Kim Wan Thauto di bebokongnya membawa pedang Liok Sinshe. Lama memang Lo In memikirkan pedang itu. Ia percaya pedang pendek itu diambil Siauw Cu Leng ketika ia sedang pingsan di bokong oleh Ang Hoa Lobo. Di samping mencari Eng Lian, juga ia saban-saban pasang mata pada siapa yang dijumpainya, kalau-kalau ia mendapat lihat ada orang yang membawa pedangnya itu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dengan cara kebetulan matanya yang lihai dapat melihat barang itu ada di punggungnya Kim Wan Thauto yang tengah berjalan keluar dari rumah makan. Seketika itu ia enjot tubuhnya melesat, menyusul si Thauto. Maksud Lo In tidak mau mencari urusan, asal pedang sudah dikembalikan, urusan sudah selesai. Ia tidak kira bahwa yang diajak urusan adalah Kim Wan Thauto, bukannya jago sembarangan yang dapat digertak dengan permainannya tadi. Melihat si bocah bertindak maju, Kim Wan Thauto sudah siap sedia. "Thauto kesasar, kau lihat tuan kecilmu ambil pedang !" berbareng ia menyerang pendeta rambut panjang. Kim Wan Thauto memang sudah siap, ia mendorong dengan tangannya, menggunakan lwekang 5 bagian. Tampak Lo In terpental jumpalitan. Tapi hanya sekejap saja, si bocah sudah ada lagi di hadapannya hingga ia mau ketawa terbahak-bahak tidak jadi. Sekali lagi Lo In menerjang, kali ini Kim Wan Thauto mengibas dengan bajunya, menggunakan lwekan tujuh bagian. Tampak si bocah berputar tubuhnya kemudian berjumpalitan hingga Kim Wan Thauto tidak tahan untuk tidak tertawa terbaha-bahak. Kepalanya sampai mendongak ke atas saking enaknya ketawa. Sekonyong-konyong ia rasakan ada angin berkesiur disisinya. Ketika ia sadar kena diakali si bocah, tapi sudah terlambat sebab Lo In sambil ketawa nyengir tampak sedang acungkan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ pedang pendek yang barusan masih menyelip di bebokongnya. "Terima kasih atas kebaikan hatimu untuk mengembalikan pedangku." kata si bocah dengna gayanya yang lucu. Kim Wan Thauto cepat meraba punggungnya, memang pedang sudah tidak ada ditempatnya. Bukan main gusarnya, pikirnya, masa anak kecil ini begitu hebat kepandaiannya ? Sebagai jago kawakan, ia tidak rela dipermainkan anak kecil. Maka seketika itu ia membentak, "Bocah hitam, kalau kau tidak kembalikan pedang itu, jangan sesalkan Hudyamu (Budhamu) berlaku kasar terhadap anak kecil !" "Untuk dapat pulang, mudah saja. Asal kau unjuk kepandaian !" sahut Lo In, lalu putar tubuhnya dan lari kepada Bwee Hiang. Kim Wan Thauto marah bukan main, lantas kepalanya digelengkan. Sekaligus dua anting-antingnya melesat dari kedua telinganya, saling susul menyambar ke arah jalan darah Lo In di pundak dan tengkuk. "Adik kecil, awas !" teriak Bwee Hiang melihat senjata rahasia anting-anting Kim Wan Thauto sudah mendekati sasarannya. Si gadis sampai memeramkan matanya karena ngeri adik kecilnya akan roboh dihajar anting-antingnya si Thauto yang gede. Di saat ia memeramkan matanya, berbareng ia dengar suara 'tring ! tring !' dua kali. Ketika ia membuka matanya lagi, ia lihat adik kecilnya tengah tersenyum-senyum ke arah Kim Wan Thauto yang berdiri terpaku di tempatnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lo In sangat lihai, tidak semudah yang dikira Kim Wan Thauto si bocah akan kena dibokong meskipun senjata rahasia anting-anting emas Kim Wan Thauto belum pernah luput mengarah sasarannya. Ketika Bwee Hiang berteriak, Lo In sudah membalik tubuhnya. Dengan pedang Liok Sinshe, ia hajar dua anting-anting Kim Wan Thauto hingga keduanya jatuh ditanah, setelah mengeluarkan suara 'tring ! tring!' dua kali. Kalau Bwee Hiang merasa bersyukur adik kecilnya selamat, adalah Kim Wan Thauto di lain pihak merah padam mukanya, saking gusar rupanya. "Masih ada lagi ?" Lo In ngeledek Kim Wan Thauto. "Bocah hitam, kau jangan bangga dulu !" sahut Kim Wan Thauto seraya merogoh sakunya, kemudian ia mengayunkan tangannya. Lima anting-anting emas menyambar berbareng laksana kilat cepatnya, mengarah sasaran atas, tengah, bawah dan di kanan kiri. Disinilah adanya keistimewaan Kim Wan Thauto melepas senjata rahasianya sebab lawan yang diserang dari lima jurusan sangatlah sukar untuk meluputkan dirinya sehingga tanpa ada salah satu dari lima senjata rahasia itu yang mengenakan sasarannya. Lo In mengerti serangan lawan sangat berbahaya, ia keluarkan ilmu saktinya 'Bu im sin kang', badannya berputar bagaikan asap bergulung naik ke atas hingga Kim Wan Thauto terkejut menyaksikan keanehan itu. Tidak lama, ia melihat Lo In sudah berdiri ketawa ke arahnya. Ia berkata, "Taysu, terima kasih atas pemberian anting-anting emasmu !" Lo In berkata

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ seraya dari tangan bajunya ia keluarkan lima anting-anting emas Kim Wan Thauto yang barusan dilontarkan kepada si bocah. Kim Wan Thauto berdiri melongo.... Sebagai orang Kangouw kawakan, Kim Wan Thauto tahu akan itu peribahasa, "Ksatria harus tahu pada saat maju dan pada waktu mundur", pepatah tersebut adalah suatu nasehat yang baik. Mengingat ini, Kim Wan Thauto jadi menghela napas. -- 21 -Tidak sampai menunggu Lo In membuka mulut lagi, ia sudah menghampiri si bocah di depannya. Ia angkat tangannya bersoja, katanya, "Siao-hiap, kau menang ! Kau adalah orang pertama yang membuka mataku bahwa orang pandai masih ada yang lebih pandai. Aku mengira tadinya tidak sukar aku menemukan tandingan, tidak tahunya, menghadapi kau Siaohiap aku tidak berkutik. Hahaha... !" Berbareng dengan menutup kata-katanya, Kim Wan Thauto telah jatuhkan diri berlutut sehingga Lo In repot dan menyingkir ke samping, serta katanya, "Taysu, kau jangan bikin diriku lekas tua dengan caramu begini." Kemudian ia tepuk-tepuk pundak orang perlahan tapi diamdiam ia gunakan lwekangnya untuk bikin si Thauto bangun dari berlututnya. Kim Wan Thauto tahu Lo In tengah mengerahkan tenaganya, ia juga kerahkan tenaga dalamnya untuk bertahan. Tapi akhirnya ia mesti mengakui keunggulan Lo In dalam tenaga dalam. Maka ia pun tidak berani mencobacoba terus. Segera ia bangkir dari berlututnya dan berkata,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Siaohiap, aku ingin mengucapkan sesuatu padamu. Aku harap kau akan menerima baik !" "Dalam urusan apa itu, Taysu ?" tanya si bocah. "Caramu yang luar biasa memusnahkan serangan dari tujuh anting-anting emasku, membuat aku sangat kagum ! Aku sudah lepas kata, barang siapa yang bisa meluputkan diri dari serangan senjata rahasiaku ialah yang berupa tujuh antinganting emas, orang itu akan aku angkat menjadi guruku. Aku sangka bahwa guru itu pastilah orang yang lebih tua dariku, tidak tahunya malahan sebaliknya adalah seorang anak kecil. Siaohiap, kau jangan menolak kalau sekarang aku harus memenuhi sumpahku...." Berbareng Kim Wan Thauto kembali hendak tekuk lututnya, tapi Lo In keburu mencegah. Ia berkata, "Taysu, kau adalah jago kelas wahid dalam Kangouw, sukar menemukan tandingan. Untuk perkara kecil saja masa harus berlaku begini merendah terhadap aku si bocah. Kalau Taysu punya senjata rahasia yang lihat dapat aku punahkan, ituhanya dengan cara kebetulan saja, lantaran Taysu tidak sungguh-sungguh melepasnya dan menaruh kasihan kepada aku masih anak kecil." "Tidak, tidak. Memang aku menyerah kalah padamu." sahut Kim Wan Thauto. Si pendeta yang memelihara rambut panjang adalah satu pendeta yang jujur dan belum pernah menarik kembali apa yang ia sudah katakana, maka ia merasa tidak enak kalau ia tarik kembali kata-kata yang ia sudah keluarkan dari bibirnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Maka, ia sudah mendesak supaya Lo In suka terima ia menjadi muridnya, ia berjanji akan setia kepada si bocah. Sebaliknya, Lo In terus menolak. Melihat mereka tarik urat, yang satu ingin diterima jadi murid dan yang lain menolak, dengan tiada ada keputusan sama sekali, Bwee Hiang lalu campur tangan. Dengan air muka berseri-seri ia datang menghampiri, kepada Kim Wan Thauto si gadis memberi hormat serta berkata, "Kalau kalian tidak keberatan, bagaimana kalau aku majukan diri sebagai orang perantara untuk memutuskan urusan kalian ?" "Bagus, bagus !" kata Kim Wan Thauto mendahului Lo In yang hendak membuka mulutnya berbicara hingga si bocah muka hitam urung berkata dan anggukkan kepalanya saja seperti tanda bahwa ia pun mufakat dengan turun tangannya Bwee Hiang. Lo In percaya kecerdikan sang enci. Dengan keputusannya Bwee Hiang pasti akan disetujui oleh mereka kedua pihak. "Dari pembicaraan Taysu," Bwee Hiang mulai. "Aku memuji Taysu adalah seorang yang jujur, tidak ingin memungkiri janji. Tapi mendengar alasan adik In juga benar, masa ia harus punya murid Taysu, lebih pantas bila adik In menjadi muridnya Taysu. Ini baru pantas....." "Tapi Liehiap...." memotong Kim Wan Thauto, terputus, karena si nona goyang-goyang tangannya. "Aku belum habis bicara, harap Taysu jangan memotong dulu." kata Bwee Hiang.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Jadi dua-duanya ada punya alasan kuat." berkata si nona meneruskan. "Sekarang begini saja. Taysu mengagumi adik In, sedagn adik In juga sangat menghargai Taysu. Bagaimana kalau angkat saudara saja.....?" "Bagus, bagus !" Lo In tiba-tiba memotong bicaranya si gadis. Saking kegirangan, setuju dengan enci Hiangnya, Lo In sampai bertepuk tangan. Sebaliknya Kim Wan Thauto kerutkan keningnya. Agaknya mereka kurang menyetujui putusan Bwee Hiang sebab menyeleweng kepada sumpahnya. Si gadis yang cerdik sudah lantas dapat menyelami pikiran si Thauto yagn kurang setuju. Maka ia lantas berkata pula, "Seorang murid setia, selalu akan bikin gurunya senang. Maka, apa salahnya kalau Taysu menerima keputusan yang disenangi adik In agar adik In hatinya merasa senang. Apa ini bukan sama saja Taysu sebagai seorang murid telah membuat senang pada gurunya ? Aku kira dengan keputusan kalian angkat saudara, tidak menyimpang dari maksud Taysu yang sebenarnya." Mendengar si gadis demikian fasih ucapan katanya dan teguh alasannya, Kim Wan Thauto angguk-anggukkan kepalanya dan kemudia ia tertawa ke arah Bwee Hiang hingga si gadis kegirangan melihat usahanya akan berhasil. "Liehiap, kau sungguh pandai membuka pikiran orang yang bodoh." memuji Kim Wan Thauto. "Aku senang, kalau kau juga termasuk dalam upacara angkat saudara. Harap kau jangan menolak !" Bwe Hiang kaget. Ia tidak mengira si Thauto akan bawa-bawa juga dirinya. Tapi ia tidak keberatan untuk angkat saudara

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dengan Kim Wan Thauto yang ia lihat pendeta itu benar mukanya bengis tapi orangnya jujur dan termasuk salah satu ksatria di kalangan jago-jago silat budiman. Malah dengan mempunyai saudara angkat macam Kim Wan Thauto, untuknya ada satu keuntungan, tenaganya dapat dipakai membantu dalam usahanya menuntut balas kepada Sucoan Sam-sat. Memikir demikian, maka wajah Bwee Hiang berseri-seri. Ia berkata, "Terima kasih Taysu. Sungguh tidak kukira kau sangat menghargakan aku yang rendah." Kim Wan Thauto kegirangan bahwa si nona tidak menolak. Demikian selanjutnya tiga orang itu telah angkat saudara dalam upacara sederhana disaksikan oleh Lima Harimau dan anak-anak muridnya mereka yang jumlahnya bukan sedikit. Kim Wan Thauto dipanggil 'Toako' oleh Bwee Hiang dan Lo In sedang pada dua anak tersebut, atas permintaan mereka, Kim Wan Thauto memanggil anak Hiang dan anak In, yang sederhana saja. Si Thauto rambut panjang senang juga dapat memanggil 'anak' pada si gadis dan si bocah, karena mereka itu memang pantas menjadi anaknya Kim Wan Thauto. Lima macan dari Suyangtin sangat menghormati tiga orang tamu itu, terutama kepada Lo In yang mereka anggap adalah 'Bocah Sakti' yang tidak ada duanya. Kepandaiannya sukar diukur. Mereka merasakan penglihatannya seolah-olah kabut ketika menyaksikan tubuh Lo In tiba-tiba berputar-putar dan seperti asap bergulung-gulung, tahu-tahu setelah si bocah tersenyum ke arah Kim Wan Thauto dari lengan bajunya mengeluarkan lima senjata rahasia anting-anting emas dari si pendeta yang dilontarkan dengan tenaga lwekang yang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dahsyatnya bukan main. Mereka berlomba mengundang Lo In dan dua saudaranya untuk menginap di rumahnya. Tapi Bwee Hiang tidak mau membuat berabe mereka maka dengan manis budi undangan itu ditolak hingga tidak punya alasan lagi mereka untuk mendesak terus. Meskipun demikian, mereka mengundang untuk mampir bertemu ke rumah masing-masing selama Lo In dan dua saudaranya ada di Suyangtin. Hal ini tidak ditampik oleh Bwee Hiang dan dua saudaranya, demi untuk menyenangkan pada hati mereka. Atas pilihan Bwee Hiang, tiga saudara itu mondok di hotel Hok An, suatu rumah penginapan yang sangat bersih dalam dusun Suyangtin. Dalam omong-omong, sebelumnya masuk tidur, Kim Wan Thauto berkata pada Bwee Hiang, "Anak Hiang, aku masih belum bisa lupakan wajahmu pada tiga tahun yang lalu." Bwee Hiang heran. Ia lantas menanya, "Bagaimana toako bisa kenali wajahku ? Apa memang toako sudah kenal sebelum kita angkat saudara ? Aku sendiri lupa. Harap toako tidak kecil hati kalau adikmu pelupa." "Anak Hiang, aku kenal tanpa berkenalan tapi kukenali wajahmu di atas loteng pertama dari rumahmu.'' Bwee Hiang terkejut. Sepasang matanya yang jernih halus memandang pada Kim Wan Thauto tidak berkedip. Kata-kata si toako betul-betul mengagetkan hatinya karena katanya mengenali wajahnya adalah dari jendela kamar di atas loteng pertama.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Toako, kau jangan bikin aku bertanya-tanya. Lekas ceritakan apa yang sudah terjadi pada saat itu." berkata Bwee Hiang kemudian. Melihat adik angkatnya tidak sabaran seperti cacing kena abu, maka Kim Wan Thauto lantas bercerita bagaimana ia telah melakukan penyelidikan dalam rumah Liu Wangwee untuk mendapat keterangan tentang kedatangannya Sucoan Samsat. Ia mendengar tentang percakapan Bwee Hiang dengan ayahnya dalam kamar kemudian ia bertekad akan membantu Liu Wangwee akan tetapi kenyataannya bahwa bantuannya tidak diperlukan dengan turun tangannya si kerudung merah. Dituturkan dengan jelas pada Bwee Hiang, hingga si nona yang tidak memotong pembicaraan orang, mendengarkan semua itu tanpa terasa telah mengucurkan air mata. "Anak Hiang." kata Kim Wan Thauto, kaget ia melihat adik angkatnya menangis. "Kau kenapa menangis ? Apa penuturanku melukai hatimu karena aku tidak turun tangan membantu keluargamu ? Kepandaian si kerudung merah sudah lebih dari cukup. Untuk apa aku membikin berabe dia dengan memunculkan diri pada saat itu ?" Bwee Hiang geleng-geleng kepala, seraya menyusut air matanya yang berlinang-linang. "Toako, bukan begitu duduknya." berkata si nona, masih sesenggukan. Lo In pun jadi kaget, enci Hiangnya tiba-tiba menangis. "Enci Hiang, kau kenapa ? Barusan toako cerita, tiba-tiba saja

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kau menangis." Lo In menanya sang enci yang sedang sedih saja. Bwee Hiang tidak menjawab Lo In, hanya berkata pula kepada Kim Wan Thauto. "Toako, bukan begitu duduknya. Sebetulnya aku sangat berterima kasih atas perhatianmu hendak menolong keluargaku. Yang aku sedihkan adalah cerita toako itu membuat aku terkenang pada ayahku almarhum." "Hah ? Ayahmu sudah meninggal dunia ? Sakit apa ?" tanya Kim Wan Thauto otomatis. "Toako, kau tidak tahu." sahut Bwee Hiang, tersenyum sedih. "Ayahku bukannya mati karena sakit tapi dibunuh oleh Sucoan Sam-sat. Ah, toako....." Bwee Hiang putus bicaranya karena ia tidak tahan dengan kesedihannya, ia menangis lagi. Agak keras sekarang hingga Kim Wan Thauto dan Lo In kebingungan kalau-kalau tangisan itu dapat mengganggu penghuni kamar lainnya sehingga bisa membikin orang-orang pada keluar untuk menanyakan ada urusan apa sampai menangis begitu sedih. Kim Wan Thauto dan Lo In bergiliran menghibur Bwee Hiang. Si gadis cepat terhibur rupanya sebab kemudian ia hentikan tangisnya lalu menceritakan pada Kim Wan Thauto tentang keganasannya Sucoan Sam-sat yang membunuh seisi rumahnya termasuk Kian-san Ji-lo, setelah pada sebelumnya mereka kena dihajar oleh Lo In. Mereka telah mengganas juga dalam markas cabang Ceng Gee Pang sehingga banyak

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ meminta korban jiwa. Kim Wan Thauto sangat gusar mendengar laporan Bwee Hiang. "Aku dapat kabar tentang kebuasannya Sucoan Sam-sat, akan tetapi tidak mengira sampai begitu kejam dan menganggap jiwa manusia seperti jiwa kecoak !" kata Kim Wan Thauto, seraya giginya kedengaran berkeretak, menahan amarahnya. "Toako," kata Bwee Hiang. "Kita sudah angkat saudara. Maka dalam halnya Sucoan Sam-sat, aku mengharap sekali bantuan toako dalam usahaku menuntut balas." "Anak Hiang, meskipun kita belum angkat saudara, aku juga akan membantu kau sebisa-bisanya untuk membasmi orangorang jahat itu !" jawab Kim Wan Thauto tegas. Diam-diam Bwee Hiang merasa sangat berterima kasih atas janji Kim Wan Thauto. "Sayang anak In pada waktu itu tidak membinasakan saja kawanan jahat itu." Kim Wan Thauto menyatakan sangat menyesalkan. "Adik In masih terlalu kecil, belum sampai berpikiran ke situ. Apalagi memang dia berhati lemah untuk bertindak kejam !" kata Bwee Hiang sambil melirik pada Lo In yang tidak campur dalam percakapan mereka berdua. Lo In hanya nyengir ketawa melihat Bwee Hiang melirik kepadanya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ya, memang anak In masih kecil." sahut Kim Wan Thauto ketawa. "Sebagai jago kecil berkelana dalam dunia Kangouw, nanti dia akan bertambah pengalaman dan mempunyai pandangan terhadap orang-orang yang jahat dan licik. Maka itu anak In, kau harus waspada menjaga diri." "Terima kasih atas nasihat toako." kata Lo In, tertawa nyengir. "Tapi, anak In." Kim Wan Thauto berkata lagi, matanya memandang wajah Lo In yang hitam legam. "Aku lihat wajahmu tidak semestinya hitam, cara bagaimana kau memoles wajahmu jadi hitam begini ?" "Panjang untuk diceritakan, toako." sahut Lo In. "Tapi sekarang aku minta toako dulu bercerita bagaimana toako dapatkan pedang pendekku itu ?" "Sebenarnya aku mau minta adikku dulu bercerita, tapi tidak apalah. Biar toakomu mengisahkan satu kejadian yang lucu." Selanjutnya Kim Wan Thauto mengisahkan dari mana ia dapatkan pedang pendek. Pada suatu hari menjelang sore, hujan turun dengan lebat. Kim Wan Thauto dalam perjalanan mengunjungi salah satu sahabatnya, kebingungan tidak menemui rumah untuk meneduh, untuk menyingkir dari serangan hujan lebat. Dengan menggunakan ilmu jalan cepat, sekira dua lie maju ke depan, tiba-tiba ia menemukan satu kuil rusak. Ke dalam kuil itu ia masuk. Lumayan juga dapat menyingkir dari serangan hujan lebat meski pun di sana sini tampak kuil itu pada bocor gentengnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Rupanya kuil itu sudah lama ditinggalkan penghuninya tapi masih ada towie (taplak meja) rombeng yang panjang sampai menutupi kolong meja, diatasnya terdapat sebuah tepekong yang lagi duduk bersila. Pikirnya kalau ia masuk ke kolong meja itu, baik juga. Sebab tidak kedinginan dari hembusan angin yang masuk ke dalam rumah berhala itu yang hampir tidak berpintu. Setelah berpikir ia lalu masuk ke kolong meja tadi. Benar saja di kolong itu ia merasa agak hangat juga. Belum lama ia rebahan, tiba-tiba ia mendengar seperti ada orang yang masuk ke dalam kuil itu. Ia lalu mengintip melalui lubang dari towie yang rombeng. Ia lihat yang datang itu adalah seorang laki-laki berperawakan tinggi kurus, mukanya tidak enak dilihat saking jeleknya. Di bebokongnya ia menggendong sebuah bungkusan besar. Entah apa isinya buntelan besar itu. Ketika si orang jelek tadi sudah berada di dalam, ia lalu gubraki di atas lantai buntelan yang digendongnya lalu ia gibrik-gibriki bajunya yang basah kuyup kehujanan. "Kurang ajar, tadi terang benderang, eh, mendadak turun hujan besar. Dasar anak sialan !" orang itu berkata-kata sendirian sambil perlahan-lahan membuka buntelan besar tadi. Kiranya isinya adalah sesosok tubuh yang tidak berkutik. Waktu Kim Wan Thauto menegasi kiranya ia adalah satu anak muda yang cakap, putih, mirip seorang perempuan. Ia rupanya telah ditotok pingsan sebab pipinya yang halus

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ diusap-usap ke sana kemari oleh si wajah jelek, anak muda itu tinggal diam saja. "Sungguh sayang kau dijelmakan sebagai seorang lelaki. Kalau kau perempuan yang sekarang jatuh di tanganku ? Hmm !" demikian si jelek berkata-kata sendirian. Entah apa maksudnya kata-kata itu tapi bagi Kim Wan Thauto sudah lantas menduga bahwa orang jelek itu bukan orang baik-baik, tentu anak muda itu kena diculik olehnya. Ia terus mengintip. Ia melihat si jelek membuka totokan si anak muda yang sebentar kemudian telah dapat membuka matanya. Melihat wajah si jelek, anak muda itu kerutkan alisnya. "Aku tidak kenal kau siapa, asal kau kembalikan aku ke rumah orang tuaku, urusan dapat habis sampai disini saja. Tapi, kalau sebaliknya ? Hmm!" kata si anak muda, seperti mengancam si orang jelek. "Hmm ! Apa hmm ! Apa kau kira aku takut kepada ayahmu Kong Tek Cong ?" si orang jelek kata dengan suara kasar. Kim Wan Thauto terkejut mendengar disebutnya Kong Tek Cong ialah sahabatnya yang ia hendak kunjungi. Kalau begitu, pikirnya, anak muda ini tentu putera sahabatnya yang dipanggil Liang Hin. "Ayahku adalah Chungcu (ketua kampung) dari Pek-in-chung, mempunyai banyak sahabat-sahabat dalam kalangan Kangouw." kata si anak muda. "Kalau kau tidak takuti ayahku, kau juga harus memikirkan kepada sahabat-sahabatnya yang tentu tidak akan tinggal dima atas perbuatanmu menculik aku."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kong Tek Cong memang Chungcu dari Pek-in-chung (Kampung awan putih di Kang-say). Namanya sangat terkenal dalam kalangan Kangouw. Bukan karena ilmu silatnya dihargakan tapi juga sebagai seorang kaya raya, wataknya sangat ramah dan tangannya mudah untuk menolong sesamanya yang dapat kesusahan. Bukan sedikit jago Kangouw yang mendapat pertolongannya apabila dalam perjalanan mendapat kesukaran uang misalnya. Tidak heran kalau Kong Tek Cong mendapat banyak sahabat. Ketika mendengar Liang Hin menyebut-nyebut kawankawannya Kong Teng Cong, si wajah jelek bukannya takut malah tertawa terbahak-bahak, katanya, "Siapa tidak kenal padaku Toan Bi Lomo yang malang melintang tanpa menemui tandingan. Biarpun ayahmu mengumpulkan semua kawankawannya, aku juga tidak takut. Apalagi mereka berani datang ke Coa-kok, aku tanggung semuanya akan dibasmi habis !" Liang Hin tersenyum sinis mendengar kata-kata si muka jelek yang tiada lain adalah Siauw Cu Leng dengan gelarnya Toan Bi Lomo (si Iblis Alis Buntung). Dalam usahanya menculik anak-anak muda tanggung, ternyata ia berani juga menculik anaknya Kong Tek Cong yang sangat terkenal namanya. "Kau benar-benar tidak mau membebaskan Siaoyamu ?" menegaskan Liang Hin. "Kau jangan mimpi, anak muda ! Hahaha .. !" berbareng ia mendak disusul dengan suara 'siuutt' yang memancarkan sinar seperti kembang api lewat kira-kira dua dim diatas rambut kepalanya hingga ia menjadi sangat kaget.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kiranya itu senjata rahasia dari Pek-in-chung yang dinamai 'Pek in hwee cian' atau 'Panah api awan putih', senjata rahasia yang khusus dibuat oleh Kong Tek Cong untuk digunakan oleh orang-orangnya untuk melindungi Pek-in-chung. Panah api itu apabila dilepas dari busurnya akan mengeluarkan suara menyiut keras lantas dalam perjalanan menuju sasarannya tiba-tiba memancarkan sinar seperti kembang api yang biasa dipasang oleh anak-anak. Orangorang Kangouw yang melihat sinar yang tiba-tiba memencar dari panah api itu lantas mengenali, itu adalah senjata rahasia dari Pek-in-chung yang sangat terkenal. Kalau mengenai sasarannya, panah api itu akan membakar pakaian si korban dan menghanguskan bagian tubuh yang ditujunya. Siauw Cu Leng cukup lihai. Begitu ia mendengar suara menyiut lantas ia kenali akan senjata rahasia dari Pek-inchung, sayang ia tak dapat lolos dari mencarnya api. Rambutnya sebagian sudah kena kebakar hingga ia repot untuk mematikan dengan lengan bajunya. Dalam kerepotan itu, segera menyusul dua tiga panah api lagi. Tapi karena ia sudah bersedia, semuanya dapat dikebas jatuh dengan tangan bajunya. "Bangsat kurang ajar !" ia berteriak. Tapi sebelum ia membuka mulut besar, segera di depannya sudah ada tiga orang tinggi besar dengan golok di tangan. "Kau berani memaki 'bangsat kurang ajar' ? Sungguh menyebalkan ! Perbuatanmu yang sangat kurang ajar, bangsat penculik !" memaki salah satu diantaranya yang menjadi

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ pemimpin dari tiga orang itu rupanya. "Tan siokhu (paman), dia..... dia..... " Liang Hin tak dapat meneruskan kata-katanya karena dengan sebat Siauw Cu Leng sudah menotoknya roboh mendeprok di lantai. Kim Wan Thauto yang terus menonton, ia kenali tiga orang yang datang itu adalah tiga saudara angkat dari Kong Tek Cong yang bernama Nio Him, Tan Nie Ciang dan Lie Kim Giok. Mereka empat saudara terkenal dengan julukan 'Pek-in Su-kiat' atau 'Empat jago dari kampung Awan Putih'. Sepak terjangnya mendapat pujian rakyat karena mereka menolong yang lemah, merintangi yang kuat. Banyak perbuatan yang sewenang-wenang dapat dibereskan oleh mereka dengan adil. Yang tadi memaki Siauw Cu Leng adalah Tan Nie Ciang. Mendapat balasan makian, Siauw Cu Leng marah. Ia berkata, "Baru kalian tiga orang, biarpun Pek-in Su-kiat turun sekaligus, aku Toan Bi Lomo tidak takut !" Berbareng dengan kata-katanya Siauw Cu Leng sudah sambar tubuhnya Liang Hin untuk lantas dibawa melompat kabur. Tapi Kim Giok yang menjaga di pintu sudah lantas menghadang. "Mau lari ?" jengeknya. "Turunkan Kong Kongcu lalu berlutut minta ampun, baru kami nanti memberikan pertimbangan !" "Kentut busuk !" teriak Siauw Cu Leng gusar. "Lihat kakekmu nanti akan bikin kalian kocar kacir, tidak ada jalan untuk umpatkan diri !"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dengan pundak kiri memanggul tubuh Liang Hin, tangan kanannya sempat mencabut pedang pendek. Ia berkata pula, "Hayo, maju semua !" Tan Nie Ciang tahu lawannya lihai tapi masa dikerubuti tiga lawan ia dapat pertahankan diri, apalagi berkelahi sambil memanggul tubuh orang ? Memikir kesitu, maka Tan Nie Ciang maju paling dulu. Ia membentak, "Orang jahat, jangan tembereng. Lihat aku orang she Tan akan ambil kepalamu !" Berbareng Tan Nie Ciang bulang baling goloknya yang tajam, tiba-tiba ia menyerang membabat pinggang lawan. Ini suatu gerakan yang dinamai 'Ki houw pok yo' atau 'macan kelaparan menerkam kambing', tidak gampang dikelit oleh pihak lawan untuk gerakan yang cepat dan ganas itu sehingga telah membuat nama Tan Nie Ciang naik. Sayang ketemu Siauw Cu Leng yang gesit. Toan Bi Lomo tidak mau menangkis dengan pedangnya yang pendek dan bobotnya sangat enteng, kuatir pedangnya tidak tahan kebentur pedang lawan yang berat. Maka begitu datang golok mengarah pinggang, cepat ia berkelit dengan lompat setindak ke belakang hingga sabetan golok lewat depan perutnya hanya dua dim saja. Berbareng ia bertindak maju, sebelum musuh mengambil posisinya, pedangnya diputar terus ditikamkan ke arah tenggorokan. Ini suatu tipu 'Tong cu ci louw' atau 'Bocah menunjukkan jalanan', suatu serangan yang tiba-tiba dilakukan. Mula-mula pedang diputar untuk membingungkan lawan kemudian menikam dengan tiba-tiba ke arah tenggorokan. Untung Tan Nie Ciang juga bukan jago kemarin, ia sudah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ berpengalaman. Dengan tipu 'Kim ke pa tauw' atau 'Ayam Emas goyang kepala', kepalanya dimiringkan ke kiri kemudian dengan badan separuh jongkok, goloknya menikam 'gudang makanan' (perut) Siauw Cu Leng. Dengan tangkas Toan Bi Lomo menjejakkan kakinya lompat ke atas, menghindari serangan. Tan Nie Ciang merangsek, ia tidak mau kasih lawannya untuk perbaiki posisinya tapi Siauw Cu Leng bukan Toan Bi Lomo kalau tidak berdaya dengan rangsekan Tan Nie Ciang. Ia turun dari atas dengan pedang pendeknya diputar untuk mematahkan serangan susulan Tan Nie Ciang. Dua senjata beradu keras hingga menimbulkan bunga-bunga api, tampak golok Tan Nie Ciang kuntung sepuluh dim dari ujungnya hingga Tan Nie Ciang sangat terkejut. Nio Him dan Kim Giok hanya menonton saja. Mereka percaya Tan Nie Ciang dapat mengalahkan Siauw Cu Leng karena ia berkelahi sambil memanggul tubuh Liang Hin. Tapi kenyataannya beban di atas pundaknya tidak menjadi rintangan bagi Siauw Cu Leng bergerak leluasa melayani Tan Nie Ciang. Melihat keunggulan Siauw Cu Leng barulah dua saudara itu bergerak. Tapi sebelum mengeroyok, tiba-tiba mereka mendengar beradunya senjata dan goloknya Tan Nie Ciang tertabas kuntung hingga mereka sangat kaget. Toan Bi Lomo kaget. Ia tidak mengira pedang pendek yang bobotnya enteng itu dapat menabas kutung goloknya Tan Nie Ciang yang kasar dan berat. Sudah beberapa kali ia menyingkirkan dari beradunya senjata. Kalau barusan mesti

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ beradu juga, itu ia lakukan dengan terpaksa sebab waktu turun dari lompatnya ia papaki golok Tan Nie Ciang. Kini ia tahu pedang pendeknya sangat ampuh, maka hatinya jadi besar. Ia tidak ragu-ragu lagi untuk mengadu senjata. Hasilnya juga kelihatan dengan gemilang sebab Nio Him dan Kim Giok, satu demi satu goloknya pun dibikin kutung oleh pedang pendeknya hingga mereka tidak berdaya, mereka hanya melihat Siauw Cu Leng melesat keluar kuil. Mereka tidak berkutik untuk mencegah Toan Bi Lomo. Karena dengan senjata mereka sudah dikalahkan, bagaimana dengan tangan kosong mereka dapat merintangi Siauw Cu Leng ? Dengan girang si Iblis Alis Buntung sudah kabur. Hujan pun sudah berhenti, dengan tindakan cepat ia meninggalkan kuil. Hatinya kegirangan mempunyai pedang pusaka yang ampuh. "Perlahan jalan, sahabat !" tiba-tiba ia mendengar suara orang berkata dibelakangnya hingga ia menjadi kaget. Cepat ia putar tubuhnya berbalik. Cepat ia putar tubuhnya berbalik. Ia lihat orang yang menegur itu, barusan keluar dari balik pohon begitu ia melewatinya. Ia ternyata adalah Thauto..... Memang tiada lain orang itu adalah Kim Wan Thauto. Kenapa Kim Wan Thauto dengan mendadak saja ada dibalik pohon ? Bukankah ia tadi mengintip dibalik towie yang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ rombeng ? Kiranya, waktu melihat tiga orangnya Pek-in-chung dirobohkan, Kim Wan Thauto tidak lantas muncul diantara mereka tapi sudah menyingkir dan keluar dari pintu samping. Ia cegat Siauw Cu Leng diduga akan mengambil jalan itu. Kim Wan Thauto merasa tidak leluasa kalau sampai terjadi perkelahian dengan seru dalam kuil itu, kurang lebar. Maka ia berusaha untuk cegat Siauw Cu Leng dijalanan, dimana terdapat lapangan rumput yang luas untuk bertempur menggunakan kepandaian kelas wahid. Itulah sebabnya maka tiba-tiba Kim Wan Thauto sudah ada dibalik pohon. Waktu melihat dihadapannya ada seorang pendeta yang berambut panjang dan kedua telinganya memakai antinganting emas, lantas Siauw Cu Leng kenali bahwa dihadapannya itu tentu adalah Kim Wan Thauto yang terkenal dengan senjata rahasia anting-anting emasnya yang sukar dihindarkan. "Hehehe !" tertawa Siauw Cu Leng. "Juga Taysu hendak ikut campur dalam urusanku ? Seorang yang saleh tidak seharusnya mencampuri urusan orang lain, maka ada lebih baik kalau Taysu mundur saja, maka diantara kita selanjutnya tidak apa-apa." "Bagus." sahut Kim Wan Thauto. "Aku juga mengharap diantara kita tidak ada apa-apa, asal kau suka turunkan Kong Kongcu yang ada dipundakmu itu !" "Dengan hak apa kau suruh aku turunkan milikku ?" tanya Toan Bi Lomo. "Sudah tentu aku ada berhak, hak sebagai pamannya Lian

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Hin. Kong Tek Cong adalah sahabat baikku !" "Taysu, jangan kau ngaco belo disini. Aku tidak percaya kalau Kong Tek Cong mempunyai sahabat sepertimu !" Siauw Cu Leng sudah mulai kasar dalam ucapan katanya tapi Kim Wan Thauto masih bersabar. Ia berkata lagi, "Bukan aku saja menjadi sahabat Kong Tek Cong, Chungcu dari Pek-inchung, juga Hweeshio dan Tojin banyak yang bersahabat degnannya karena Kong Chungcu adalah seorang yang baik dan berbudi luhur." "Persetan dengan berbudi luhur. Pendeknya, kau minggir. Kalau tidak ? Hmm !" "Hmm ! Aku baru minggir kalau kau turunkan Kong Kongcu dari pundakmu !" Siauw Cu Leng hanya mendengar saja tentang kegagahannya Kim Wan Thauto tapi dia sendiri belum pernah ketemu atau membenturnya, maka ia sangsi bahwa omongan orang belum tentu benar karena ia belum mencobanya. Seraya tertawa tawar ia berkata, "Aku tahu kau adalah Kim Wan Thauto, tapi sikapmu sekarang ini membikin aku hilang sabar. Orang lain boleh takut padamu, tapi aku Toan Bi Lomo tidak nanti jeri menghadapi kau. Asal berani kau rintangi perbuatanku, tahu sendiri !" "Hahaha !" terdengar Kim Wan Thauto tertawa terbahakbahak. "Kau tertawakan apa, Thauto linglung !" bentak Siauw Cu Leng.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Mari kita menetapkan, kau atau aku yang linglung !" menantang Kim Wan Tahuto. Toan Bi Lomo berpikir. Menghadapi tiga orang dari Pek-in-chung adalah lawanan enteng meskipun ia melayani dengan memanggul Lian Hin dipundaknya tapi menghadapi Kim Wan Thauto yang namanya sudah termasyur, bagaimana ia bisa samakan dengan melawan orang-orang dari Pek-in-chung ? Maka ia lantas turunkan Liang Hin dari pundaknya. Setelah itu, ia menghadapi Kim Wan Thauto yang sudah siap sedia, ia berkata, "Apa kau kira kau Siauw Cu Leng takut padamu ?" "Siapa bilang kau takut padaku ? Aku hanya hendak mainmain dengan kau untuk menetapkan siapa yang linglung seperti kau kata tadi !" sahut Kim Wan Thauto dengan senyum mengejek hingga si Iblis Alis Buntung menjadi marah. "Thauto kesasar, kau lihat aku bikin kau sungsang sumbel hanya 10 jurus saja hingga untuk lari pun kau tidak ada jalan !" kata Siauw Cu Leng temberang. "Bagus, marilah kita mulai !" tantang Kim Wan Thauto. Segera juga kelihatan mereka sudah mulai bergebrak seru. Berkelahi dengan tangan kosong meminta lebih banyak tenaga lwekang untuk merobohkan lawan dengan pukulanpukulan berat, banyak tipu-tipu silat yang membahayakan lawan diperlihatkan oleh kedua pihak hingga pertempuran menjadi ramai. Sambaran tangan yang mengandung tenaga

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dalam, dahsyat sekali hingga tanah basah berterbangan. Suara menderu-deru terdengar disebabkan oleh angin pukulan, malah tanah banyak yang ambrol berlubang kena sasaran angin pukulan mereka. Nio Him dan dua saudaranya yang juga sudah datang kesitu sangat mengagumkan ilmu pukulan dari kedua lawan yang bertarung itu. Baik Siauw Cu Leng maupun pihak Kim Wan Thauto, sama-sama tangkas dan gesit menyerang lawan. Lwekang dari kedua pihak pun berimbang hingga sukar mengatakan siapa diantaranya yang akan bakal jadi pecundang. Diam-diam Siauw Cu Leng mengakui ketangguhan lawan, sebaliknya Kim Wan Thauto juga tidak mengira kalau si Iblis Alis Buntung ini mempunyai kepandaian yang hebat. Pikirnya, ia harus hati-hati melayaninya sebab salah tindak sedikit saja ia bakal dikalahkan oleh Toan Bi Lomo, dimana ia harus taruh muka untuk namanya yang sudah kesohor dikalangan Kangouw. Barusan hujan berhenti, maka lapangan rumput agak licin. Kedua pihak merasa kuatir akan kuda-kudanya gempur karena tanah licin. Oleh sebab itu masing-masing berlaku sangat hatihati untuk menjaga diri jangan sampai dijatuhkan lawan. Serangan-serangan Siauw Cu Leng sangat hebat. Ia seakanakan tidak mengasih kesempatan untuk musuhnya bergerak leluasa melayani pukulan-pukulannya yang ampuh. Kim Wan Thauto berpikir selama ia bertempur, musuh sangat tangkas, permainan silatnya juga bagus, kelihatan tidak ada lowongan yang lemah. Pikirnya, ia harus menggunakan akal

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ untuk menjatuhkan musuh. Kalau tadi Kim Wan Thauto membungkam saja, sekarang ia mengoceh, katanya, "Toan Bi Lomo, apa janjimu barusan ? Hmm ! Dengan kepandaianmu begini saja masih mau banyak laga ? Sekarang sudah berapa jurus ? Aku masih belum sungsang sumbel !" Selagi enaknya ia mencecar musuhnya, tiba-tiba ia dengar Kim Wan Thauto mengolok-olok, hatinya tidak enak. Ia tidak menyahuti ocehan lawan. "Dalam tempo sepuluh jurus, untuk lari pun aku tidak mempunyai maksud." jengek Kim Wan Thauto pula seraya berkelit dari serangan lawan. "Tapi buktinya sudah tiga puluh jurus kau masih belum apa-apanya. Kesombonganmu ini kau boleh bawa dalam impianmu saja, Toan Bi Lomo ! Hahaha, tidak kena bukan ?" Kim Wan Thauto menggoda sambil berkelit. (Bersambung) Jilid 08 Toan Bi Lomo keluarkan suara di hidung. Ia benci pada lawan yang mulutnya bawel ini. "Kau kira aku tidak bisa merobohkan kau, Thauto kesasap !" bentaknya gusar. "Kalau bisa, nah» robohkanlah ! Kenapa mesti menunggununggu lama ?" "Kau lihat sebentar, aku bikin kau terpelanting mampus "

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Jangan pakai sebentar, sekarang saja |" goda Kim Wan Thauto ketawa. Panas hatinya Siauw Cu Leng, ia pephebat serangannya hingga Kim Wan Thauto keteter, ia main mundur saja. Dalam napsunya karena olok-olok dari Kim Wan Thauto, Toan Bi Lomo telah gunakan jurus Yap-tee-chong-tho (Di bawah daun sembunyikan buah tho), tangan kirinya menyolok mata sebagai pancingan» sepangan sebenarnya adalah dengan tangan kanan menotok Hoa-kap-hiat (jalan darah dibagian dada), dua serangan saling susul yang membuat lawan kelabakan. Namun Kim Wan Thauto sudah kawakan dalam pertempuran, tidak mudah ia dibikin terjungkal oleh jurus Yaptee-chong-tho. Tampak ia kerahkan ilmu kebalnya Tiat-pouwsan di bagian dada sedang serangan ke arah mata ia kelit dengan bagus sekali. "Aduhh !" terdengar Toan Bi Lomo mengaduh ketika jarinya menyentuh dada Kim Wan Thauto yang seperti papan besi kerasnya. Cepat ia menarik pulang tangannya tapi agak terlambat, jarinya Kim Wan Thauto berbareng menyentil keras pada nadinya hingga badan Siauw Cu Leng gemetaran sambil lompat mundur. Kim Wan Thauto telah menggunakan gerak tipu Tiat-iekoan-jit atau 'Baju besi menutup matahari', suatu gerakan yang berhasil memunahkan tipu Yap-tee-cong-tho dari Siauw Cu Leng. Sekarang si Iblis Alis Buntung tidak berani menyerang lagi, ia berdiri menjublek seraya kerahkan lweekangnya untuk mengusir rasa kesemutan di nadinya yang barusan kena disentil oleh Kim Wan Thauto.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Bagaimana, apa masih mau diteruskan ?" Kim Wan Thauto mengejek. "Baiklah, kali ini kau menang- Sampai lain kali kita jumpa pula !" jawab Siauw Cu Leng seraya putar tubuhnya berlalu. "Tunggu !" seru Kim Wan Thauto ketika baru saja si Iblis Alis Buntung melangkah berapa tindak hendak berlalu hingga ia hentikan melangkahnya dan putar kembali tubuhnya, ia menanya, "Apa kau masih penasaran terhadap orang yang sudah mengaku kalah ? Kau jangan terlalu menghina, ada satu waktu kita akan berjumpa pula !" "Bukan itu maksudku." sahut Kim Wan Thauto. "Habis, kau mau apa ?" tanya Siauw Cu Leng gusar. "Kong Kongcu sudah aku tinggalkan, kau mau apalagi gerembengi aku mau berlalu ?" "Tinggalkan pedang yagn tergantung dipinggangmu l'" sahut Kim Wan Thauto tertawa. "Pedang ini tidak ada sangkutannya dengan kau, kenapa kau mau merampas milik orang ? Betul-betul kau tidak tahu malu !" Kim Wan Thauto tertawa gelak-gelak. "siapa bilang tidak ada sangkutannya ? Pedang itu ada milik sahabatku, bagaimana kau kata tidak ada sangkutannya 7" kata Kim Wan Thauto. Terkejut hatinya si Iblis Alis Buntung. Pedang itu ada miliknya Kwee Cu Gie, kalau si Thauto kenali ada milik sahabatnya, terang si Thauto ada hubungan erat dengan Kwee Cu Gie. Namun si Iblis Alis Buntung orangnya bandel

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dan licik, maka ia juga tertawa terbahak-bahak menyaingi tertawanya Kim Wan Thauto. "Kenapa kau tertawa ?" tanya Kim wan Thauto heran"Aku tertawakan kau, sembarangan saja mengakui pedang orang." sahut Siauw Cu Leng. "Kalau pedang ini pedang sahabatmu, apa buktinya ?" "Toan Bi Lomo, kau jangan banyak tanya, kau lihat saja pada gagang pedang ada goresan nama pemiliknya." "Siapa pemiliknya, coba kau sebutkan !" "Hahah, kau masih mau banyak tanya lagi- Pada goresan itu ada disebut namanya Kwee Cu Gie bukan ?" Kaget Toan Bi Lomo, memang pada gagang pedang itu tertatah namanya Kwee Cu Gie. Ternyata Kim Wan Thauto lihai mengenali pedang kawan. Ia dapat mengenali pedang itu ketika Toan Bi Lomo menangkis golok Tan Nie Ciang yang kontan terpapas kutung, kemudian dengan beruntun golok Nio Him dan Kim Giok juga telah dibikin buntung oleh pedang pendek yang tajam itu. Dalam dunia KangoUw pada masa itu hanya pedang pendek Kwee Cu Gie Tayhiap yang dapat memapas golok kutung. Suatu keanehan sebenarnya sebab pedang pendek itu selainnya pendek juga bobotnya sangat enteng tapi bisa membikin kutung golok yang bobotnya sangat berat. Siauw cu Leng tak dapat memungkiri apa yang dikatakan oleh Kim Wan Thauto.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Cuma saja, seperti dikatakan, ia sangat licik. Setelah tidak ada jalan untuk memungkiri kata-kata Kim Wan Thauto, ia lalu mencari jalan untuk meloloskan diri kabur dari situ dengan Pedang masih miliknya. Maka diwaktu melihat Kim Wan Thauto sedang gelak-gelak ketauia, mentertawkan dirinya yang tidak bisa memberi jawaban, segera ia tidak sia-siakan ketika itu. ia enjot tubuhnya kabur. Namun belum lama lari atau terdengar dibelakangnya ada suara benda bergemerincing menyusul kemudian ia rasakan iga kanan dan pundak kirinya kesemutan, menyusul tubuhnya terkulai jatuh ditanah. Kiranya Kim Wan Thauto ketika melihat lawannya kabur, segera ia gelengkan kepalanya. Dua senjata rahasia antingantingnya melesat saling susul menyambar pada jalan darah Tay-it-hiat dan Seng-hong-hiat hingga si Iblis Alis Buntung harus mengakui kelihaiannya si Thauto beranting emas- Ia sangat gusar harus menerima kekalahannya yang kedua kali dari lawannya. "Toan Bi Lomo, aku tidak mengira kalau ada demikian licik !" menyindir Kim Wan Thauto ketika ia meloloskan pedang dari pinggangnya Siauw Cu Leng. Si Iblis Alis Buntung hanya mendengus gusar. Setelah pedang berada ditangannya, Kim Wan Thauto telah memungut kembali anting-antingnya yang jatuh tidak jauh dari siauw Cu Leng dan dikenakannya pula ditelinganya. "Aku tidak punya permusuhan apa-apa dengan kau, maka kau boleh pergi !" kata Kim Wan Thauto seraya kakinya menyepak pada pinggul Siauw Cu Leng yang seketika itu

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ bebas dari totokan anting-anting dan ia ngeloyor pergi setelah melemparkan muka asem pada Kim Wan Thauto. Kim Wan Thauto memeriksa pedang pendek itu. Ternyata memang ada tertulis pada gagang pedang 'Kwee Cu Gie Toan Kiam' (pedang pendek dari Kwee Cu Gie), pedang sahabatnya. Diam-diam Kim Wan Thauto merasa heran kenapa pedang si pendekar Besar bisa jatuh ditangannya Siauw Cu Leng. Sedangnya ia mengagumi pedang pendek itu, tiba-tiba ia dengar opang berkata, "Paman, aku sangat berterima kasih sekali atas pertolonganmu----11 Ketika Kim Wan Thauto berpaling, kiranya yang berkata itu ada Kong Liang Hin, puteranya Kong Tek Cong sahabatnya. Anak muda itu telah dibebaskan oleh Tan Nie Ciang ketika si Iblis Alis Buntung telah dirobohkan oleh Kim Wan Thauto. Begitu melihat Siauw Cu Leng sudah pergi, maka pemuda itu sudah menghampiri Kim Wan Thauto yang tengah mengagumi pedang sahabatnya. "Anak Hin, apa kau sudah lupa pada pamanmu ?" tanya Kim Wan Thauto ketauia. Kong Liang Hin heran, ia lantas menatap wajah orang. "Ah, kau... kau., paman Auw-yang..." Kong Liang Hin kenali seraya menubruk pada si Thayto dan matanya berkaca-kaca menangis dalam dekapannya si Thauto. "Anak Hin, bagaimana dengan ayahmu ?*" tanya Kim Wan Thauto.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ayah baik-baik saja tapi selalu ia mengharap paman pulang ke kampung halaman." sahut Kong Liang Hin sepaya menyeka air matanya. Kong Liang Hin menangis karena ia rindu kepada Kim Wan Thauto yang sudah lama berpisah dan baru waktu itu mereka ketemu kembali. Kim Wan Thauto dengan Kong Tek Cong ada sahabat baik, malah telah angkat saudara. Ia bertempat tinggal di Pek-in-chung juga dan sering berkunjung ke rumahnya Kong Tek Cong dimana Liang Hin yang masih kecil suka diberi petunjuk-petunjuk hal ilmu silat dan Liang Hin Pandang Kim Wan Thauto seperti orang tuanya sendiri. Mereka bergaul akrab jikalau Kim Wan Thauto sedang ada dikampungnya. Ia paling suka merantau. Kalau sudah meninggalkan kampung halamannya 2-3 tahun baru kembali- Ketika ia meninggalkan kampungnya belakangan ini, ternyata sampai 5 tahun tidak kelihatan ia pulang hingga menimbulkan keraguraguan dalam hatinya Tong Tek Cong kalau Kim Wan Thauto itu telah meninggal dunia dalam perantauan. Tidak heran Kong Liang Hin tidak kenalai Kim Wan Thauto sebab waktu si Thauto belum menjadi pendeta, ia masih menjadi pendekar dengan nama Auw-yang Siang Gie. Dalam perantauan ia telah ketemu dengan seorang Thauto jagoan ialah Tek Kim Thauto, dengan siapa Auw-yang Siang Gie telah bertempur untuk menjajal masing-masing punya ilmu silat siapa lebih tinggi.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Itulah sebagai kesudahan pertandingan hal ilmu silat, dalam mana Auw-yang Siang Gie selalu mau lebih unggul saja. Dalam pertempuran itu yang memakan waktu sampai 20n jurus, Auw-yang Siang Gie telah dikalahkan Tek Kim Thauto- Sejak mana Auw-yang Siang Gie mengaku kalah pada Tek Kim Thauto. Tek Kim Thauto ada seorang baik, ia suka memberi petunjuk-petunjuk kepada Auw-yang Siang Gie hingga yang tersebut belakangan menjadi sangat berterima kasih sekali. Belakangan, atas maunya sendiri Auw-yang Siang Gie yang tidak berkeluarga telah masuk menjadi Thauto. Untuk membuat tali perhubungan lebih erat pula, Auw-yang Siang Gie telah angkat saudara dengan Tek Kim Thauto. Setelah angkat saudara, Tek Kim Thauto telah menurunkan banyak ilmu silat yang Auw-yang Siang Gie belum tahu. Maka kepandaiannya Auw-yang Siang Gie menjadi hebat, ia menggunakan nama Kim Wan Thauto atau pendeta berantinganting emas dalam dunia Kangouw. Oleh karena ilmu silatnya tinggi, maka sebentar saja namanya Kim Wan Thauto telah naik tinggi dan namanya Auui-yang Siang Gie telah lenyap"Paman Auw-yang, kenapa kau sekarang menjadi pendeta ?" tanya Kong Liang Hin. "Panjang untuk diceritakan, anak Hin. Nanti, kalau aku sudah ketemu dengan ayahmu, akan kuceritakan perjalanan paman." sahut Kim Wan Thauto. Nio Him, Tan Nie Ciang dan Lie Kim Giok juga sudah datang dan mengunjuk hormat kepada si Thauto. Mereka menyatakan tidak mengenali kalau Kim Wan Thauto adalah Auui-yang Siang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Gie dan menanyakan sejak kapan menjadi Thauto. Kim Wan Thauto berjanji akan menceritakan riwayatnya manakala sudah jumpa dengan Kong Chungcu dari Pek-in-chung. Demikian, mereka telah pulang ramai-ramai ke Pek-inchung, dimana Kim Wan Tnauto telah disambut dengan gembira sekali oleh Tong Tek Cong dan keluarga. Begitulah ada penuturannya Kim Wan Thauto kepada Lo In dan Bwee Hiang"Sekarang aku sudah menutur, maka tinggal giliranmu adik In menuturkan riwayat perjalananmu sampai muka yang cakap menjadi hitam legam begitu. Hahaha...." Kim Wan Thauto berkelakar hingga Bwee Hiang juga turut ketawa. Lo In lalu menuturkan riwayatnya ialah dari anak jembel menjadi anak yang mempunyai kepandaian silat yang tinggi berkat didikannya Liok Sinshe. Ia ceritakan bagaimana Liok Sinshe sayang padanya seperti juga anak sendiri. Kalau Liok Sinshe sedang mencari daun obat-obatan tidak pernah ia ditinggal sendirian. Selalu ia diajak pergi sana sini dengan ilmu meringankan tubuh. Ia sangat mengagumi kepandaiannya Liok Sinshe yang telah loncat dari satu ke lain tebing yang curam dengan menggendol dirinya. Lo In tuturkan cara bagaimana Liok Sinshe jatuh ke dalam jurang karena dibokong oleh jarum mautnya Kim Popo, bagaimana ia mencari-cari Liok Sinshe dalam lembah sampai menjadi sahabat dengan si burung rajawali, kemudian kawanan kera juga telah menjadi teman-temannya. Ia kena dibokong oleh Ang Hoa Lobo dan dipoles hitam wajahnya, lwekangnya hampir musnah kalau tidak mendapat pertolongan dari wetam Tokgan Siancu, ular

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kesayangannya Eng Lian. pedang pendek kepunyaan Liok Sinshe ia bawa, mungkin dimiliki Siauw Cu Leng sebab ia tidak melihat lagi pedang itu. Dengan Eng Lian ia bergaul akrab, begitu juga dengan kawanan monyet dan gorila sampai ia dapat berbicara bahasa monyet dan pandai meniup seruling memanggil dan menakluki ular. panjang lebar Lo In cerita pada Kim Wan Thauto sampai pada kejadian ia menempur Sucoan Sam-sat dan memberi didikan ilmu silat kepada Bwee Hiang. Setelah Lo In menutur, terdengar Kim Wan Thauto menghela napas. "Liok Sinshe itu pasti ada ayahmu, Kwee Cu Gie Tayhiap, anak In." berkata Kim Wan Thauto. "Aku belum pernah menyaksikan kepandaian lompat dari satu ke lain tebing begitu mahir seperti Liok Sinshe, kecuali kepandaian yang dimiliki oleh Kwee Cu Gie. Ia ada satu Tayhiap yang sangat dihormati kawan tapi ditakuti oleh lawan. Karena sepak terjangnya yang melindungi si lemah menumpas si kuat jahat, maka ia banyak musuhnya dalam kalangan jahat. Mungkin ia pakai nama Liok Sinshe sebagai nama samaran. Ia mengumpatkan dirinya dari musuhnya yang ingin menuntut balas." "Kalau Liok Sinshe ada Kwee Cu Gie, ayahku, kenapa dia tidak mengaku bahwa dia ada ayahku ? Sudah sekian tahun kami berkumpul." tanya Lo In ragu-ragu"Mesti ada sesuatu hal yang membuat dia Perlu untuk sementara tidak menjelaskan dirinya siapa, anak in. Kau jangan cemas dan menyesalkan, nanti kapan kau satu waktu ketemu dengannya lagi kau boleh menanyakan."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Liok Sinshe sudah mati, mana dapat kau ketemu pula dengannya ?" "Ia berkepandaian tinggi, aku tidak percaya dia mati begitu saja." "Ya, aku juga meragukan akan kematiannya Liok Sinshe." sahut Lo In. "Ia sangat tinggi kepandaiannya. Untuk jatuh ke dalam jurang saja tidak mungkin dia sampai binasa, hanya yang aku khawatirkan adalah jarum beracunnya si nenek." "Jarum beracun Kim Popo juga tidak bisa berbuat banyak terhadapnya. Kau percaya, anak In, ia tidak mati dan satu waktu akan jumpa pula dengan kau !" Lo In kegirangan meskipun hatinya agak ragu-ragu. Ia menundukkan kepalanya, ketika ia angkat pula tampak air mata menggenang diteiakupan matanya, ia menangis. "Adik kecil, kenapa kau menangis ?" tanya Bwee Hiang kaget. "Tidak apa-apa." sahut Lo in ketawa terpaksa. "Anak In, kau memikirkan apa sampai menangis ?" tanya Kim Wan Thauto. "Aku ingat kepada Liok Sinshe." sahutnya. "Omong-omong tentang dirinya, aku jadi ingat kebaikannya terhadap diriku----" "Adik kecil, kenapa kau sampai begitu berduka ? Orang baik selalu mendapat perlindungannya Thian, maka ada satu temPo kau akan ketemu lagi dengan Liok Sinshe." menghibur Buiee Hiang dengan suara empuk menyayang.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lo In ketauia nyengir. Dasar wataknya si bocah yang aneh, maka ketika Kim Wan Thauto bantu menghiburnya, kedukaan Lo in lantas lenyap tanpa bekas. "Malam sudah larut, sebaiknya anak Hiang masuk tidur." tiba-tiba Kim Wan Thauto menyatakan pikirannya. "Aku masih belum ngantuk." sahut si nona ketawa"Ah, matamu sudah ngantuk. pergi sana tidur. Biar adik kecilmu aku yang jagai, tidak nanti dia hilang-..." Kim Wan Thauto berkelakar. Bwee Hiang jebikan bibirnya hingga Kim Wan Thauto ketawa terbahak-bahak. Memang si nona sudah ngantuk, melihat adik kecilnya menangis ia jadi tidak tega meninggalkannya. Sekarang ia didesak untuk masuk tidur, ia lantas bangkit dari duduknya dan ngeloyor ke kamarnya. Buiee Hiang ambil kamar sendiri, sedang Lo In tidur samasama dengan Kim Wan Thauto. Setelah si nona pergi, Kim Wan Thauto berkata paa Lo In, "Anak In, kau bawa-bawa anak orang kaya merantau, apa tidak takut mendapat kesulitan di jalanan 7" "Toako maksudkan enci Hiang ?" L0 In balik menanya. "Ya, ia ada satu Siocia, kepandaiannya biasa saja aku lihat." "Toako, kau jangan pandang rendah pada enci Hiang."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ah, dia bisa apa ? Tempo hari dia dipemainkan oleh si setan hitam dapi Sucoan Sarrrsat, hampir-hampir dia dapat malu kalau tidak keburu si kerudung merah turun tangan." "Oh, itu kejadian dulu-" sahut Lo In. "Lain dulu lain sekarang, enci Hiang dulu dan sekacang kepandaiannya beda seperti langit dan bumi. Toako tidak tahu- ' "Apa iya ?" Kim Wan Thauto menanya heran. "Kalau toako tidak percaya, boleh saksikan kalau enci Hiang nanti bergebrak !" Kim Wan Thauto masih meragukan akan keterangan Lo In tapi ia tidak kata apa-apa. Setelah omong-omong pula urusan yang tidak mengenai jalannya cerita, Kim Wan Thauto ajak adik kecilnya masuk tidur. Kita melihat pada Bwee Hiang, apakah si nona tidur pulas ? Kiranya Bwee Hiang masih belum pulas, pikirannya melayang-layang, ia jengkel kepada adik kecilnya yang masih belum dapat menilai kepandaiannya sampai dimana karena beberapa orang yang ia pecundangi si adik kecil ada orangorang dari kelas 3 dan paling atas kelas 2. Kapan ia ketemu dengan lawan kelas 1 ? Ia tanya hati kecilnya. Girang hatinya mana kala ia dapat merobohkan jago kelas 1 di depan adik kecilnya, tentu ia bakal mendapat pujian. Sementara itu matanya sudah mulai mengajak tidur. Barusan saja ia mau pulas, tiba-tiba ia mendengar sesuatu yang mencurigakan. Dengan pura-pura pulas, ia perhatikan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sekitarnya kamar. Ia kaget nampak ada seorang tinggi besar sudah berada dalam kamarnya tengah duduk di kursi. "Apa maunya dia tanya Bwee Hiang dalam hatinya. Ia urungkan niatnya mau menegur orang itu ketika ia nampak orang tinggi besar bangkit dari kursinya dan jalan menghampiri pembaringannya. Ia telah menyingkap kelambu dan mengawasi kepada Bwee Hiang yang tidur agak miring ke depan. Si nona lihat orang itu ada memakai topeng hingga ia tidak mengenali macam apa parasnya si orang jahat yang masuk ke dalam kamarnya itu. Hatinya Bwee hiang berdebaran nampak orang itu telah mengulurkan tangannya hendak menjamah lengannya yang halus putih. Tapi entah kenapa ketika hampir menyentuh lengan yang lunak itu, tiba-tiba tangannya ditarik pulang. Bwee Hiang masih diam saja, mau lihat lagaknya orang itu lebih jauh. Sebentar lagi kelambu telah disingkap begitu rupa sehingga seluruh badannya orang itu berada dalam kelambu. Baru saat itu Bwee Hiang agak jeri, orang akan berbuat kurang ajar atas dirinya. Tiba-tiba saja orang itu telah menyergap si nona yang sedang tidur. Tapi alangkah kagetnya ia melihat yang disergap telah menghilang dan tahu-tahu sudah ada dibawah tempat tidur. Bwee Hiang sangat gesit. Begitu oran merangkul dirinya, ia sudah menggelinding menggunakan ilmu 'Kimlun-hoan-sin' atau 'Roda emas menggelinding' jaran Lo In untuk menyelamatkan diri dari terkaman musuh yang dilakukan sekonyong-konyong.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Manusia jahat, kau berani ganggu nonamu sedang tidur ?" bentak Bwee Hiang. Kakinya berbareng menjejak betis orang itu hingga keluarkan rintihan tertahan saking menahan sakit. Orang itu lantas berbalik dan menguber Bwee Hiang yang sementara itu dengan gerakan 'Hui-niauw-cut-lim' atau 'Burung terbang keluar hutan', enteng sekali badannya sudah melesat keluar dari jendela. Gesit orang tinggi besar itu. Melihat korbannya kabur sudah lantas menyusul keluar dari jendela, dimana Bwee Hiang telah menanti padanya. Ternyata Bwee Hiang tidak lari, ia segan berkelahi dalam kamar yang sempit makanya ia keluar dan menantang berkelahi di luar. "Heheh, binatang. Kau berani gila pada nonamu ?" bentak Bwee Hiang ketika mereka sudah berhadapan. "Nona, aku datang hendak menemani kau tidur, kenapa kau jadi marah-marah ?" orang itu menyahut dengan suara Parau. "Fui !" Bwee Hiang meludah. "Berani kurang ajar terhadap nonamu, kau harus tanggung akibatnya ! Nah, jagalah serangan nonamu !" berbareng Buiee Hiang menyerang dengan pukulan yang hebat sekali hingga orang itu lompat mundur untuk mengelakkan serangan dahsyat si nona. Kedua orang itu jadi bertempur seru. Bwee Hiang baru mendapat lawan alot. Ia senang menghadapinya. Sayang waktu itu tidak ada Lo In. Pikirnya, kalau ada pasti akan menambah kegembiraannya berkelahi dengan musuh tangguh itu. Orang itu telah mengeluarkan satu jurus yang aneh, membingungkan lawan. Ia seperti hendak mencengkeram

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dada namun kapan lengannya dekat sampai sasaran telah berubah, tangannya dipentang merangkul berbareng menotok hiat~to (jalan darah) di lengan lawan untuk melumpuhkan perlawanan musuh. Inilah ada gerakan yang dinamai Hekhouw-lok-siaUui (Harimau hitam ketawa), satu gerak tipu yang berbahaya sekali bagi musuhnya kalau kena diterkam olehnya sebab sang musuh akan lumpuh seketika karena lengannya kena ditotok. Untuk serangan yang hebat itu, Bwee Hiang gunakan jurus 'Pa-ong-gie-kah' atau "Couw Pa Ong meloloskan jubahnya' untuk menyelamatkan diri. Pertempuran berjalan terus dengan ramai sekali. Tiba-tiba orang itu memutar tangan kanannya disusul oleh tangan kirinya yang seperti kilat cepatnya telah nyelonong hendak mengorek sepasang lentera si nona. Buiee Hiang kaget sepasang matanya hendak dicopoti. Segera ia gunakan 'Kim-kee-yau-tauw' atau 'Ayam emas menggoyangkan kepalanya'. Tampak kepalanya bergoyang dan sodokan tangan lawan ke arah matanya dapat dikelit dengan indahnyaSayang saat itu hanya mereka berdua saja rupanya yang bertarung. Kalau ada penontonnya pasti akan bersorak-sorak melihat kedua lauian itu sama tangguhnya. Orang itu heran saban-saban serangannya tidak mendapat sasarannya. Ia lihat si nona sangat gesit, tidak mudah dipecundangi cepat-cepat. Opang itu penasara, ia merangsek dengan nekad. Lantaran sangat bernapsunya ia mengalahkan lauian, maka telah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menimbulkan kekalahannya, ia menggunakan gerak tipu 'Haytee-lo-got' atau 'Di dasar laut meraup rembulan', tangan kanannya seperti menyerang dada, tahu-tahu tangan kirinya yang menyerang rusuk- Buiee Hiang kaget tapi ia tidak gugup. Ia gunakan tipu 'Nelayan melintangi perahu' untuk menyelamatkan dirinya. Namun ia tidak begitu saja. Ia balas menyerang dengan kecepatan kilat. Dua jarinya dari tangan kiri yang halus lunak namun seperti dua batang besi telah nyelonong ke ketiak orang itu, sebelum yang tersebut belakangan perbaiki posisinya. Tidak ampun lagi orang itu merasakan kesemutan di ketiaknya, hingga ia berdiri bagaikan patung karena ;senghoat-hiat'nya telah kena ditotok jitu sekali. "Hahahaha, binatang. Kau sekarang mau apa ?" jengek Bwee Hiang ketika melihat musuhnya mudah tidak berkutik"Sekarang baru rasakan lihainya nonamu, ya." Buiee Hiang menghampiri. Baru saja ia melangkah belum jauh atau ia dibikin kaget oleh menyambarnya sebuah benda yang menempel di pipinya, kiranya itu hanya selembar daun kecil. Meskipun demikian cukup bikin nona kita jadi marah, ia mendongak ke atas Pohon dan membentak, "Manusia kurang ajar, kalau kau berani, turun ! Terimalah hukuman dari nonamu !" Baru saja si nona menutup perkataannya atau sesosok bayangan melayang turun dari atas pohon. Bwee Hiang gugup melihat orang demikian gesit sebab tahu~tahu ia sudah kena dirangkul. Ia meronta-ronta sambil memaki-maki. "Enci Hiang, inilah adik kecilmu. Apa kau tidak kenali ?" terdengar suara berbisik di telinganya si nona. Kapan ia putar

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tubuh berbalik, memang yang merangkul ia adalah si bocah. "Adik kecil, kau bikin encimu penasaran l' kata si nona seraya tangannya mencubit keras hingga Lo In berteriak kesakitan. "Anak nakal, itulah bagiannya... hihihi..." tertawa Buiee Hiang. Si nona lanjutkan niatnya menghampiri musuhnya yang sudah tidak berdaya. "Tahan !" kata Lo In hingga Buiee Hiang hentikan jalannya. "Kau mau apa campur-campurA urusanku, adik kecil ?" tanya Bwee Hiang. "Siapa bilang itu ada urusan enci sendiri, aku juga harus turut campur !" "Kau mau bikin encimu dongkol karena jengkel ?" 'Bukan begitu, urusan enci ada urusanku juga." "Tapi aku tidak mau diganggu. Orang itu sangat kurang ajar, aku harus kasih hajaran. Sekalipun aku tidak sampai membunuhnya-" "Jangan, jangan sampai begitu marahnya." "Kenapa tidak boleh marah ?" "Itulah ada orang kita sendiri____" Bwee Hiang tidak percaya. "Orang kita siapa ? Kalau orang kita, kenapa dia begitu kurang ajar pada encimu. Dia mengganggu ketika encimu barusan mau pulas, maka tidak boleh tidak dia harus dikasih hajaran ! "

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lo In ketawa gelak-gelak hingga Bwee Hiang menjadi heran. 'Enci Hiang, kau tidak percaya ia ada orang kita sendiri ?" tanya Lo In. 'Aku tidak percaya, biarkan aku menghukum padanya |" 'Kau akan menyesal sebab dia ada lebih tua dari kita !" 'perduli amat, asal dia kurang ajar biarpun lebih tua 10 kali lipat, aku tidak taku !" 'Nah, pergilah urusan dengannya." kata Lo In. Bwee Hiang menghampiri orang itu, kemudian dengan sekali renggut saja topengnya orang itu telah lenyap dari wajahnya. "Kau, eh, kau.... toako ?" berkata Bwee Hiang ketika kenali 0rang itu. Orang itu hanya bersenyum, tidak menyahut lantaran sudah ditotok lumpuh. Cepat Bui^e Hiang membebaskan orang itu dari totokan. "Anak Hiang, maafkan padaku yang tidak mengenal aturan____" kata orang itu. "Tapi toako, kenapa kau berbuat yang tidak benar ?" tanya si gadis heran. "Itulah anak Hiang, aku didorong oleh perasaan tidak percaya, kau sekarang sudah hebat kepandaiannya menurut anak In, maka aku sudah mencoba-coba menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Aku sengaja mengolok-olok supaya kau marah dan mengeluarkan kepandaianmu yang hebat. Aku sekarang percaya bahwa anak Hiang kepandaiannya jauh diatas dari dahulu ketika ketemu si bontot dari Sucoan Samsat."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Nah, aku bilang apa, bukannya orang sendiri ?" nyeletuk Lo In ketawa. Bwee Hiang paham akan maksud dari Kim Wan Thauto, orang tinggi besar bertopeng yang tadi bertempur dengannya mati-matina, maka ia pun jadi tertawa cekikikanKiranya itulah Kim Wan Thauto yang menggoda Bwee Hiang. Bwee Hiang dikatakan jempol kepandaiannya, telah meragukan hatinya Kim Wan Thauto. Maka ketika ia melihat Lo In sudah pulas, ia diam-diam telah copoti anting-antingnya dan menyaru sebagai opang biasa, tidak lupa ia mengenakan topeng supaya tidak dikenali oleh Bwee Hiang. Ia kira Lo In tidak tahu tapi si bocah diam-diam telah mengikuti gerak geriknya. Kalau ia ada mengucapkan kata-kata yang agak janggal, itulah maksud Kim Wan Thauto supaya si nona meluap amarahnya dan mengeluarkan kepandaiannya yang tinggi. Ia kira tadinya dapat menjatuhkan Bwee Hiang dengan mudah, tapi kenyataannya ia berusaha dengan sia-sia malah akhirnya ia yang kena dijatuhkan oleh si nonaSungguh memalukan bila mengingat kepandaiannya sendiri. Namun, ia tidak jadi penasaran terhadap Bwee Hiang yang menjadi adiknya sekarang. Demikian, 3 saudara itu sambil ketawa-ketawa telah balik pula ke kamarnya masing-masing-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pada keesokan harinya Kim Wan Thauto dan 2 adiknya telah diundang makan-makan oleh Suyangtin Ngo-houwPerjamuan itu diadakan bergiliran oleh Lima Harimau dari Suyangtin. Hari itu giliran pertama dirumahnya Kie Giok tong, yang berjalan dengan sangat menggembirakan. Keesokan harinya dirumahnya Song Cie Liang, Jiko dari Ngo Houw- Kemudian di rumahnya Tan Him, Samko dari Ngo Houw dan ketika pada gilirannya Teng Hauw, Sie-ko dari Ngo Houw ada terjadi urusan. Itulah Kim Wan Thauto yang timbulkan urusan. Si Thauto beranting-anting emas melihat romannya Teng Hauw ada murung saja sejak pada perjamuan pertama di rumahnya Kie Giok Tong, membikin hatinya kurang senang. Ia menganggap barangkali Teng Hauw tidak senang kepada mereka, tiga suadara mendapat perlakuan yang begitu hormat. Maka dalam perjamuan di rumahnya, melihat tuan rumah tetap murung, ia telah menyatakan tidak senangnya. "Kami berkumpul makan-makan, bukannya kami mintaminta. Tapi atas undangan kalian. Maka aku tidak mengerti melihat sikapnya Teng-heng yang selalu murung seolah-olah yang tidak senang menjamu kepada kami orang...." "Oh, bukan, bukan begitu...." Teng Hauw mencegat perkataan Kim Wan Thauto. Ia tidak bisa meneruskan kata-katanya karena ia kurang bisa bicara, maka Kie Giok Tong yang telah menalangi ia bicara. Katanya, "Taysu, bukannya lantaran itu. Teng-siete kelihatan tidak gembira lantaran ia punya kesukarannya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sendiri yang tak dapat diutarakan kepada orang lain. Harap Taysu jangan salah mengerti." "Kesukaran bukannya tidak bisa diatasi, asal orang mau berdamai. Kalian menghormati kami orang, tandanya ada taruh kepercayaan. Kenapa kesukarannya Teng-heng tidak suka diberitahukan kepada kami orang ? Siapa tahu kami dapat menolong dan meringankan kesukarannya Teng-heng." Ngo Houw bungkam mendengar perkataan Kim Wan Thauto yang beralasan-Mereka saling lihati dengan tiada satu yang berani buka suara. Teng Hauui gelisah kelihatannya. Ia ingin mengutarakan apa-apa namun ia tidak pandai merangkai perkataan, ia hanya mengawasi saja saban-saban kepada Kie Giok T°ng. Melihat demikian, Kim Wan Thauto bangkit dari duduknya, ia berkata, "Kalau kalian tidak suka menaruh kepercayaan kepada kami orang, biarlah kami mohon diri saja. Anak in dan Hiang, mari kita berangkat !" Lima Harimau terkejut. Mereka tampak gugup menahan kepergiannya Kim Wan Thauto. "Taysu, harap sabar dulu." kata Kie Giok Tong. "Duduk dulu, kami tidak ingin membuat tamu-tamunya yang terhormat menjadi penasaran." Kim Wan Thauto dan dua saudaranya pada duduk pula. "Toako." kata Teng Hauw pada Kie Giok T0ng. "Kau ceritakan saja kepada Taysu tentang kesukaranku sUpaya dia jangan salah mengerti."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kie Giok Tong anggukkan kepalanya. "Taysu, sebenarnya urusan ini ada rahasia. Tidak boleh diketahui oleh orang dari luar dusun sebab akibatnya ada sangat hebat bagi orang yang mengetahui." berkata Kie Giok Tong yang masih ragu-ragu untuk menuturkan kesukaran Teng Hauw. "Aku dan dua saudaraku tidak takut akan akibatnya. Maka Kie-heng boleh ceritakan saja, rahasia apa yang tak boleh diketahui oleh orang dari luar dusun." "Hari ini sudah tanggal 13. Lagi 3 hari sudah tanggal 16 dan pada hari itulah Siete akan kehilangan puteri tunggalnya, maka siapa yang tidak jadi murung ?" menerangkan Kie Giok Tong yang tidak ada ujung pangkalnya hingga Kim Wan Thauto dan dua saudaranya menjadi bengong. Sukar menangkapnya apa yang dimaksudkan oleh si orang she Kie. Bwee Hiang meraba-raba, setelah ketawa ia berkata, "Tanggal 16 ada hari baik. Hari itulah puteri paman Teng menemukan hari baiknya ketemu jodoh. Maka, urusan perkawinan adalah lumrah. Kenapa harus dibuat duka oleh paman Teng ?" "Oh, bukan, bukan itu...." kata Teng Hauw lalu ia minta supaya Kie Giok Tong cerita yang terang kepada para tamunya. "Bukan begitu duduknya urusan, nona Hiang." kata Kie Giok Tong. "Kalau bukan perkawinan, habis apa ?" tanya Bwee Hiang kepingin tahu. "Bukan perkawinan yang lazim tapi ini persembahan kepada Thoat Beng Mo Siauw yang setiap bulan tanggal 16

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ harus dikirimi sajian seorang gadis jelita____" kata Kie Giok Tong. Kim Wan Thauto yang tidak paham dengan ceritanya Kie Giok Tong minta si orang she Kie menutur dengan rapi supaya urusan dapat dipertimbangkan. Kie Giok Tong meskipun dipengaruhi oleh perasaan takut telah menuturkan juga suatu kisah yang menarik yang telah terjadi dalam dusun Suyangtin— 23 — Kira-kira enam bulan berselang, dalam dusun Suyangtin yang aman telah terjadi kegemparan dengan munculnya satu iblis jahat yang menamakan dirinya Thoat Beng Mo Siauw (si Hantu Ketawa pencabut Jiwa). Munculnya iblis itu telah menggelisahkan penduduk kampung, malah yang berwajib juga tidak dapat mengatasi gangguan itu. Sebenarnya yang berwajib banyak menggantungkan pekerjaannya kepada Suyangtin Ngo Houw (Lima Harimau) yang besar pengaruhnya. Maka dalam hal urusan si Hantu Ketauia juga mereka telah menyerahkan bagaimana baiknya diatur oleh Lima HarimauYang sangat ganas perbuatannya si Hantu Ketauia, ia telah membikin air minum dari sumur maupun sungai telah beracun dan penduduk yang meminumnya telah mati konyol. Binatangbinatang piaraan pada mati keracunan apabila si Hantu Ketawa sedang marah. Berhubung dengan mana Suyangtin Ngo Houw telah berunding untuk mengadakan kompromi dengan Thoat Beng Mo Siauui. Si Hantu Ketauia tidak munculkan diri, hanya mengirim wakilnya untuk mengadakan perdamaian.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dalam perdamaian itu telah diterima baik suatu keputusan, ialah setiap tanggal 16 penduduk Suyangting harus menyerahkan seorang gadis jelita kepada Thoat Beng Mo Siauw. Penduduk banyak yang tidak rela dengan keputusan itu sebab mereka sayang anak gadisnya dikorbankan kepada si Hantu Ketawa. Mereka banyak yang pada pindah ke lain dusun. Namun, hari ini pindah, besokannya mereka sudah balik pula menjadi mayat, terdapat di masing-masing pekarangan rumahnya yang ditinggalkan. Lantaran mana, maka penduduk menjadi jeri untuk meninggalkan Suyangtin dan terima nasib anak gadisnya akan dijadikan sajiannya si Hantu Ketawa. Untuk tidak membikin penduduk jadi iri-irian, maka Suyangtin Ngo Houw juga mau berkorban, ialah pada setiap pemilihan gadis yang akan dijadikan korban ada termasuk juga satu gadisnya diantara Lima Harimau. Kalau diundi misalnya jatuh pada nasibnya dari puteri Lima Harimau, maka apa boleh buat disajikannya dengan rela. Pemilihan gadis-gadis itu biasanya dilakukan tanggal 10 setiap bulan. Gadis-gadis tidak turut dalam undian, hanya orang tuanya saja yang maju supaya gadis-gadis itu tidak langsung menjadi kaget karena nasibnya yang malangThoat Beng Mo Siayui itu seperti yang tahu gadis mana bulan ini akan dijadikan mangsa-Sebab kalau diganti dengan lain gadis, orang tua gadis yang bersangkutan bakal mati konyol dalam rumahnya- Oleh karena itu, maka tidak berani

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ satu juga yang coba-coba menukarkan gadisnya dengan lain gadis manakala sudah sampai temponya disajikan. Pernah ada kejadian ke dusun Suyangting ada dua pendekar yang menamakan dirinya 'Siamsay Jie Liong' atau 'Dua Naga dari Siamsay'. Mereka ada sepasang pendekar kenamaan dalam kalangan Kangouw yang kebetulan lewat. Mereka tidak puas dengan perbuatannya si Hantu Ketawa. Maka mereka sudah tawarkan diri untuk membunuh iblis kejam itu. Mereka telah berdamai denga Suyangting Ngo Houw. "Kami penduduk Suyangtin sangat berterima kasih kedua enghiong suka buang tempo guna menumpas kejahatan dari si Hantu Ketawa." menyatakan Kie Giok Tong ketika menjamu kedua orang gagah itu. "Cuma saja sebelum enghiong berdua pergi ke sana hapus dipertimbangkan dulu bahayanya. Thoat Beng Mo Siauw ada sangat tinggi kepandaiannya dan banyak anak buahnya. Kalau kita salah tangan bukannya berhasil dalam usaha, sebaliknya akan mengalami nasib yang tidak diinginkan." "Legakan hatimu, paman." menghibur Seng Liong, yang tua dari Dua Naga. "Kami berdua sudah biasa menumpas kejahatan demikian. Maka dalam halnya Thoat Beng Mo Siauw juga rasanya tidak akan gagal usaha kami." "Manusia jahat begitu, kalau lama-lama dikasih hidup lebihlebih menyusahkan kepada rakyat. Maka selekasnya kami akan bekerja." menimpali Keng Liong, saudara mudanya. Kie Giok Tong manggut-manggut tapi dalam hatinya meragukan itikad baik dari Dua Naga dari Siamsay itu. Meragukan bukan apa-apa takut mereka mati konyol. Sebab

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sebelum mereka sudah pernah ada tiga orang gagah yang datang kesitu dan menawarkan tenaganya untuk membasmi Thoat Beng Mo Siauw. penghabisannya bukan si Hantu Ketawa yang mati, malah mereka bertiga kedapatan mayatnya di pinggir dusun Suyangtin. Meskipun dengan samar-samar Kie Giok Tong coba menahan, ternyata Siamsay Jie Liong tak dapat dirubah niatnya. Terpaksa Kie Giok Tong dan sudara-saudaranya merestui kePergiannya. Kie Giok Tong berkata, "Atas nama penduduk dari Suyangtin, kami berlima mendoakan kepada Jiwie-enghiong supaya berhasil dalam menumpas si Hantu Ketawa dan balik kembali ke Suyangtin dengan selamat. Harap Jiwie berhati-hati l'" jiwie-enghiong (kedua orang gagah). Berangkatlah hari itu kedua orang gagah itu ke Pek-kut-nia (Bukit Tualng putih), sarangnya Thoat Beng Mo Siauw. Lima Harimau telah mendoakan dengan sujud supaya pekerjaan mulianya Siamsay Jie Liong itu berhasil memuaskan. BeSokan harinya tidak ada kabar apa-apa dari mereka. Pada lusanya orang melaporkan kepada Suyangtin Ngo Houw telah kedapatan mayatnya dua orang gagah itu di pinggiran dusun. Keadaannya sungguh mengerikan sebab kedua kepalanya hampir terpisah dari masing-masing lehernya. Itulah menunjukkan kekejamannya dari Thoat Beng Mo Siauw. Suyangtin Ngo Houw hanya bisa menghela napas. Mereka telah menyuruh beberapa orang kampung untuk mengurus mayatnya dua orang gagah itu guna ditanam baikbaik serta disembahyangi.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pada malamnya, Lima Harimau itu telah membikin pertemuan untuk membicarakan urusan Thoat Beng Mo Siauw. Pertemuan itu diadakan di rumahnya Tan Him, orang ketiga dari Lima Harimau, dalam ruangan dari sebuah bangunan yang spesial dibangun untuk mengadakan rapat. Bangunan itu pernahnya di sebelah belakang rumah besar dari Tan Him, diperaboti lengkap dengan kursi meja dan pigura-pigura indah sebagai pajangan. Sebagai penerangan telah dipasang lilin-lilin besar dan kecil. Lima Harimau dari Suyangting itu semuanya orang-orang hartawan yang menetap disitu dari lain tempatHidupnya mereka boleh dikatakan mewah dan senang. Malam itu angin meniup tidak menentu, kadang-kadang besar dan kadang-kadang sepoi-sepoi saja. Manakala sang bayu sedang meniup kencang keadaan menjadi berisik dikarenakan cabang-cabang pohon beradu satu dengan lain dan daun-daunnya pada berguguran rontok. "Toako." tiba-tiba Song Cie Liang, orang kedua dari Ngo Houw berkata. "Kita sudah mendapat gelaran Lima Harimau, sudah lama kita menjagoi dan dihormati oleh penduduk. Sekarang dengan adanya Thoat Beng Mo Siauw, benar-benar pengaruh kita seperti tertindih dan lenyap. Kepercayaan penduduk kepada kita seakan-akan telah buyar....." "Memang sungguh menyebalkan perbuatannya Thoat Beng Mo Siauw itu." sahut Kie Giok Tong

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dengan suara gusar- "Habis, apa kita bisa bikin karena memang kita tak punya kemampuan mengatasi pengaruhnya si Hantu Ketawa." "Apa kita tidak bisa mencari seorang jago yang benar-benar dapat mengalahkan si Hantu Ketauia ?" Tan Him menyatakan pikirannya. "Aku rela keluar uang untuk membiayai jago-jago yang benar-benar dapat menumpas si Hantu Ketawa." "Thoat Beng Mo Siauw sangat tinggi kepandaiannya, sukar diukur. Maka sulit sekali kita mencari orang-orang yang dapat menandingi kepandaiannya. Menurut kabar, kecuali dia sendiri berkepandaian tinggi masih ada anak buahnya yang hebat kepandaiannya, entahlah siapa mereka itu." menyatakan Cia sin Eng si nomor lima dari Lima Harimau. Tampak mereka tidak dapat mengambil keputusan, maka keadaan menjadi sepi dan masing-masing putar otak untuk mencari daya upaya bagaimana baiknya untuk mengatasi pengaruh Thoat Beng Mo Siauw yang membuat gurem pengaruhnya Suyangtin Ngo Houw. Sementara itu terdengar di sebelah luar angin meniup kencang dan mengeluarkan suara menderu-deru. Entah bagaimana tiba-tiba saja, semua lilin penerangan telah menjadi padam hingga Lima Harimau itu menjadi ketakutan. "Hahaha..... hahaha---- !" terdengar suara parau ketawa di sebelah luar. Itulah suara ketawa yang belum pernah mereka dengar, menyeramkan sekali mengiang di telinga masing-masing. Mareka menduga akan datangnya si Hantu Ketawa.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tak usah mereka menduga-duga. Memang juga yang datang itu ada si Hantu Ketawa yang lantas berkata setelah tertawa terbahak-bahak, keras nyaring, "Suyangtin Ngo Houw, aku Thoat Beng Mo Siauw sudah ada di depan pintu. Kenapa kalian tidak lekas mengunjuk hormat ? Lekas keluar menemukan majikanmu !" Namanya saja Lima Harimau, namun mereka gemetaran badannya tatkala itu dipanggil oleh si Hantu Ketawa. Sungguh lucu sekali. Sebelum keluar mereka mengintip dulu, ingin mengetahui bagaimana romannya Thoat Beng Mo Siauw yang menyeramkan itu. Wujudnya si Hantu ketawa memang benar-benar seperti Hantu. Rambutnya riap-riap seperti Thauto (pendeta piara rambut panjang), wajahnya bengis dengan hidung bengkok dan gigi bercaling, sedang matanya melesak ke dalam, namun telah mengeluarkan cahaya yang berpengaruh. Itulah menandakan bahwa lwekangnya si Hantu Ketawa sangat tinggi. Dengan wajah demikian dan diiringi oleh suara ketawanya yang parau menyeramkan, betul-betul telah membuat Lima Harimau itu nyalinya berubah menjadi Lima Tikus. Masing-masing badannya menggigil seperti yang kedinginan. Thoat Beng Mo Siauw tampak berdiri sambil memondong seorang wanita kecil langsing, entah wanita siapa itu. Keadaannya tidak berkutik dalam pelukan si Hantu KetawaRupanya ia telah kena ditotok.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Suyangtin Ngo HoUw> apa kalian tidak Punya nyali untuk ketemu Thoat Ben Mo Siauw ?" tepdenar si Hantu Ketawa berkata pula dengan suara yang nyaring sekali. "Toako, mari kita keluar !" mengajak Song Cie Liang yang lebih berani hatinya. Kie Giok Tong dan lain-lainnya menurut. "Hahaha.____. hahaha----!" tertawa Thoat Beng Mo Siauw ketika melihat Suyangting Ngo Houw pada keluar dari rumah. "Bagus, kalian menurut perintah Mo-ong." Si Hantu Ketawa bahasakan dirinya Mo-ong (Raja Iblis). "Malam ini Mo-ong datang ada perintah apa untuk kami orang ?" Kie Giok Tong berkata, memberanikan diri. "Hahaha....... hahaha-" ketawa si Hantu Ketawa. "Mo-ong datang untuk memperkenalkan diri dan kasih peringatan kepada kalian supaya lain kali harus hati-hati. Jangan ceritakan urusan hybunan Suyangtin dengan Mo-ong kepada orang luar. Kalau kalian tidak Perhatikan perintah Mo-ong ini, awas ! Jangan sesalkan kalau Mo-ong marah dan bikin ludes seisi dusun Suyangting !" "Menurut perintah» menurut perintah Mo-ong.... I" jawab Kie Giok Tong seraya manggut-manggut diikuti oleh saudarasaudaranya yang lain.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Bagus, bagus !" kata si Hantu Ketawa. "Untuk kelakuan kalian yang sudah telah berhubungan dengan Siam-say Jie Liong sebenarnya Mo-ong harus mengasih hukuman kepada kalian, tapi tidak apa. Mo-ong hanya ambil ini saja dari rumahnya Tan Him. Hei, Tan Him, kau lihat ini siapa ?" Tan Him terkejut dipanggil Thoat Beng Mo Siauw. Ia cepat melihat kepada wanita yang diunjukkan si Hantu KetawaKaget bukan main Tan Him. Ia kenali wanita itu ada budaknya yang baru berumur 15 tahun- Ia bernama Hiang Tin, pelayan dari puterinya. Ia sangat disayang karena anak itu menurut sekali- Malah ada ingatan Tan Him dan isterinya, angkat ia menjadi anak angkatnya. Sayang, sebelum matannya Tan Him dan nyonya terkabul, anak itu sekarang sudah menjadi korbannya si Hantu KetawaSedih hatinya tan Him hingga keluar air mata. Ia memberanikan hati maju ke depan dan berlutut di depan si Hantu Ketawa, katanya, "Mo-ong, harap Mo-ong punya murah hati supaya membebaskan budakku itu..." "Hahaha........ hahaha.....!" Thoat Beng Mo Siauw ketawa. "Sekali wanita jatuh ke tangan Mo-ong, tidak akan terlepas pula !" Tan Him sangat sayang kepada Hiang Tin, mendengar jawaban si Hantu Ketawa ia menjadi nekad- Dengan jurus Kie~eng-pok-toUw atau 'Elang lapar menyambar kelinci', Tan Him coba rampas Hiang Tin dari pond0ngan Thoat Beng Mo Siauw.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tentu saja percobaan Tan Him gagal sebab dengan satu kebasan tangan baju saja Tan Him terpukul mundurMelihat Tan Him berlaku nekad, saudara-saudaranya yang lain pun ikut-ikutan nekad. Mereka dengan serempak menerjang pada si Hantu Ketawa. "Hahaha____ hahaha----!" Thoat Beng Mo Siauw ketawa gelak-gelak melihat Lima Harimau bergerak menerjang kepadanya. Kemudian badannya berkelebat, entah bagaimana ia geraki tangannya tahu-tahu semua harimau telah jatuh duduk dengan pundaknya dirasakan kesemutan. Rupanya kena ditotok oleh si Hantu Ketawa. Hebat kepanaiannya si Hantu Ketawa. Dalam segebrakan saja sudah menjatuhkan Suyangtin Ngo Houw yang kepandaiannya lumayan juga. "Untuk kelakuan kalian yang kurang ajar sebenarnya Moong hendak menghukum mati. Tapi biarlah kali ini Mo-ong kasih ampun. Kalau lain kali berani lagi kurang ajar di depan Mo-ong, jangan harap kalian dapat hidup lama !" Kie Giok Tong dan saudara-saudaranya tidak bisa kata apa-apa. Memang mereka tak dapat berkata apa-apa karena kena ditotok. Mereka hanya mengawasi berlalunya si Hantu Ketawa dengan membawa Hiang Tin. Lama juga mereka harus menanti totokan si Hantu Ketawa bebas dengan sendirinya. Mereka jengkel bukan main kena dijatuhkan demikian mudah oleh si Hantu Ketawa. Untung mereka tidak tersiksa lama karena tiba-tiba ada datang dua bintang Penolong.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Mereka itu ada dua kakek yang wajah dan potongan badannya sama, rupanya mereka saudara kembar. Mereka telah membebaskan totokan Thoat Beng Mo Siauw hingga Kie Giok Tong dan kawan-kawan menjadi sangat berterima kasih kepada dua kakek itu. Mereka perkenalkan diri sebagai Siam-say Ji~lo (Dua orang tua dari Siam-say), gurunya Siam-say Jie Liong yang telah tewas ditangannya Thoat Beng Mo Siauw. Girang hatinya Suyangtin Ngo Houw dapat bertemu dengan gurunya Siam-say Jie Liong. Sepasang kakek kembar itu diundang masuk ke dalam bangunan tempat berapat dimana Kie Giok Tong dan kawankawan menjadi kaget karena melihat sekarang penerangan lilin telah menjadi terang kembali. Entah siapa yang telah memasangnya kembali. Kie Giok Tong dan kawan-kawan tidak sempat memperhatikan itu karena kegirangan atas kedatangannya Siam-say Jie-lo. Mereka mengharap kalaukalau sepasang kakek itu dapat mengatasi kepandaiannya Thoat Beng Mo Siauw. Sangat hormat memperlakukan dirinya sepasang kakek itu. Siamsay Jie-lo memperkenalkan namanya Lim Teng dan Lim Keng, dua saudara kembar. "Kedatangan Jiwie Lim-heng sungguh tidak kebetulan, kalau siangan sedikit pasti akan ketemu dengan si Hantu Ketawa yang telah membunuh mati Siamsay Jie Liong." berkata Kie Giok Tong seraya menghela napas. Dua kakek ini menyatakan menyesalnya. "Kami datang kemari menyusul dua murid kami-" berkata Lim Teng. Mereka ada jago-jago muda yagn kepandaiannya lumayan juga. Cuma

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kalau dihadapi kepada si Hantu Ketawa sudah tentu bukan tandingannya. Maka itu, ketika kami mendengar mereka hendak menyatroni sarangnya si Hantu Ketawa, lekas-lekas kami menyusul ke sini. Tapi siapa tahu kedatangan kami sudah terlambat dan dua muridku itu telah mati di tangannya si Hantu Ketawa yang kejam !" "Baik juga kalau Jiwie hendak menyambangi kuburannya Siamsay Jie Liong." kata Kie Giok Tong. "Akan kami antarkan Jiwie ke sana." "Terima kasih Kie-heng. Besok akan kami berziarah ke sana." sahut Lim Teng. Sebetulnya Kie Giok Tong dan saudara-saudaranya takut membicarakan halnya Thoat Beng Mo Siauw yang telah mengancam kepada mereka. Namun mereka sangat penasaran sekali, maka mereka tidak sungkan-sungkan membicarakan halnya si Hantu Ketawa kepada Siamsay Jielo dan menunjukkan sarangnya di Pek-kut-nia. Mereka ceritakan kekejaman si Hantu Ketawa dan untuknya setiap tanggal 16, penduduk harus menyediakan satu gadis cantik- Sampai waktu itu sudah ada 4 gadis cantik yang telah disajikan kepada Thoat Beng Mo Siauw, tidak terhitung Hiang Tin, budaknya Tan Him yang cantik dan baru saja umurnya 15 tahun. Siamsay Jie-lo geleng-geleng kepala mendengar kekejaman si Hantu Ketawa. "Manusia jahat itu memang pantas dibasmi. Sayang muridku yang paling benci sama kejahatan demikian tidak bisa menahan napsunya. Coba kalau dapat menunggu beberapa

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ hari disini, kita bisa bersama-sama pergi ke sana membasminya." kata Lim Teng. "Bagaimana kalau kita sama-sama kesana ?" tanya Lim Keng kepada Kie Giok Tong dan saudara-saudaranya, yang mana dijawab dengan gelengan kepala oleh mereka. "Bukannya kami tidak mau bersama-sama Jiwie kesana, lantaran kami telah terima ancaman keras dari si Hantu Ketawa. Kalau kami muncul terang-terangan dengan Jiwie, amarahnya si Hantu Ketawa jadi meluao. Kalau kita dapat mengatasi kepandaiannya yang hebat itu, tidak apa. Tapi kalau umpamanya pihak kita gagal, habislah serumah tangga kami. Maka itu, harap Jiwie tidak menjadi kecil hati." demikian Kie Giok Tong mewakili saudara-saudaranya menjawab ajakannya Lim Keng. "Tidak apa, tidak apa." menyelak Lim Teng. "Kami berdua juga sudah cukup ke sana untuk menuntut balas murid-murid kami yang telah dibinasakan." Pasang omong telah dilakukan lebih jauh dengan kurang gembira. Besokannya dua kakek itu ziarah ke makamnya Siamsay Jie Liong. Mereka senang melihat kuburan dua muridnya diatur baik, untuk mana mereka menghaturkan terima kasih kepada Kie Giok Tong dengan saudara-saudaranya. "Kie-heng dan saudara-saudara sekalian demikian memperhatikan kepada kuburan dari dua murid kami. Sungguh kami harus membilang banyak-banyak terima kasih-" kata Lim Teng.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Itulah ada kehalusan dari kami, menghormat kepada mereka yang telah berkorban untuk keamanannya Suyangtin..." jawab Kie Giok Tong merendahPada hari itu juga Siamsay Jie-lo telah pamitan kepada Kie Giok Tong dkk untuk mereka menyatroni Pek-kut-niaKie Giok Tong dkk telah memberi nasehat supaya mereka berhati-hati karena disana bukan saja si Hantu Ketauia yang kepandaiannya sangat tinggi» tapi masih ada lagi anak buahnya yang berkepandaian tinggi-tinggi. Lim Teng dan saudaranya mengucapkan terima kasih atas semua nasehat itu. Perjaianan ke Pek-kut-nia tidak semudah yang diduga sebab dua kakek she Lim itu harus menempuh perjalanan yang bulak biluk dan hanya dengan pertolongan dari tukang cari kayu baru dapat mendekati Pek-kut-nia• Sebagai jago Kangouui kapakan, Siamsay Jie-lo ada sangat hati-hati dalam menempuh perjalanannya. Maka tidak sampai mereka masuk dalam jebakan musuh. Meskipun demikian, mereka harus melewati beberapa rintangan yagn diatur oleh si Hantu Ketauia sebelumnya mereka dapat bertemu dengan Thoat Beng Mo Siauw. Dengan mengandalkan kepandaiannya yang tinggi, Siamsay Jie-lo dapat menyisihkan rintangan-rintangan yagn kuat dan akhirnya bisa juga ketemu dengan Thoat Beng Mo Siauw. "Hahaha.--. hahaha..... !" si Hantu «etawa gelak-gelak ketawa ketika berhadapan dengan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dua kakek she Lim itu. 'Tamu-tamu datang harus disambut ! Mari kita menyambutnya ! ' Si Hantu Ketauia telah mengajak dua jago yang menjadi kaki tangannya untuk menghadapi Siamsay Jie-lo. "Jiuii datang menghadap Mo-ong ada urusan apa ?" tanya si Hantu Ketawa. Sepasang kakek kembar itu tidak menyahut» hanya hidungnya mendengus. "Hahaha..... hahaha \" ketauia Thoat Beng Mo Siauui. "Di depan Mo-ong mau banyak lagak ? Betul-betul Jiwi tidak tahu bakalan mampus I" "Belum tentu kami yang mampus, mungkin kau sudah dekat ajalnya !" jauiab Lim Keng mendahului saudaranya menjawab kata-kata si Hantu Ketauia yang menghina itu. "Kalian mau apa menghadap M0-ong ? Kenapa kalian bikin susah kepada orang-orangku dan diantaranya ada yang mati karena perbuatan kalian ?" "Hehehe, ada yang mati sudah wajar karena mereka tidak tahu diri menghalang-halangi perjalanan kami. Sekarang, kami hendak minta ganti jiwa atas kematian dari kedua murid kami yang mati ditangan kau \" berkata Lim Teng lantang. "Hahaha.____ hahaha ! Ganti jiwa ? Ganti jiwa untuk siapa ?" tanya si Hantu Ketawa. "Ganti jiwa untuk dUa murid kami yang kau sudah binasakan !" sahut Lim Teng.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Hahaha... hahaha... ! Ganti jiwa buat apa ? Kalian sudah membunuh-bunuhi beberapa orang kami. flpa tidak cukup untuk dipakai ganti jiwa ?" "Hm ! flku minta jiwamu, Setan Ketawa \" bentak Lim Teng"Hahaha____ hahaha. | Mana orang, lekas tangkap dua bangsat ini !" srunya kepada orang-orangnya. Dengan segera yang dipanggil sudah datang serentak. Ternyata mereka terdiri dari orang-orang yang berbadan kuat dan bengis-bengis wajahnya. Mereka rupanya khusus digunakan diwaktu menggertak orang. Sepasang kakek itu tidak keder kelihatannya, karena mereka ketawa dengan tenang-tenang saja melihat dirinya dikurung. Hanay tangannya masing-masing siap mencabut pedang"Kalian sudah berada dalam lubang macan, berani banyak lagak ?" bentak Thoat Beng Mo Siauw yang kemudian gelakgelak ketawaRupanya gelaran Thoat Beng Mo Siauw tepat benar untuknya sebab setiap perkataannya kalau tidak didahului dengan ketauia gelak-gelaknya, adalah buntutnya disusul oleh ketauianya yang menyeramkan. "Setan Ketauia !11 bentak Lim Teng. "Setelah kami datang kemari, tidak akan meninggalkan tempatmu sebelum membawa kepalamu !"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Uladuh» hebat benar nyalinya orang ini. Siapa kalian ?" tanyanya, disusul oleh ketawa seramnya. "Kau kenali sebelum mampus ! Kami berdua ada orang she Lim dan mendapat gelaran Siamsay Jie-lo dari dunia sungai telaga (Kang-Ouw). Hari ini Siamsay Jie-lo datang kemari hendak mengambil kepalanya si Setan Ketawa." "Hahaha---- hahaha... ! Mana orang, lekas tangkap mereka !" serunya, disusul oleh menyerbunya kira-kira 10 orang ke arah Siamsay Jie-lo. Sepasang kakek itu sudah siap sedia. Maka ketika melihat gelagat tidak baik, sudah lantas pada mencabut pedang masing-masing. Pertempuran segera terjadi dengan seru sekali, dua iauian sepuluh. Ternyata Siam-say Jie-lo bukan nama kosong. Mereka telah kasih lihat ilmu pedangnya yang hebat sekali, menusuk ke kiri dan kanan tanpa ampun lagi membikin orang-orang yang mengerubuti menjerit kena dilanggar pedang. Melihat 10 orang mengeroyok masih belum dapat menangkap Siamsay Jie-lo, Thoat Beng Mo Siauui perintahkan 2 orang kuat di kiri dan kanannya untuk turun tangan membantu. Dengan turunnya dua orang kuat itu, telah membikin repot pada sepasang kakek itu. Thoat Beng Mo Siauw tampak duduk diatas mimbar dengan ketawa berkakakan melihat sepasang kakek dari Siamsay itu dikeroyok anak buahnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sungguh hebat perlawanan dari Siamsay Jie-lo. Cuma saja mereka dikeroyok oleh orang-orang pilihan dari si Hantu Ketawa. Maka Pelan-pelan kelihatan mereka keteter dan main mundur saja bertempurnya. Dilihat jalannya pertandingan demikian, Thoat Beng Mo Siauw sudah meramalkan lnO persen kemenangan ada dipihaknya, meskipun sepasang kakek itu sangat tangkas bertempurnya. Makin gencar ketawanya si Hantu Ketawa melihata anak buahnya mendesak lawannya. Namun dilain saat si Hantu dibuat terbelalak matanya ketika melihat sepasang kakek itu merubah cara bersilatnya dan balas menyerang kepada lawannya dengan nekad sekali. flda beberapa orang yang roboh kena ditusuk pedangnya si kakek dan merintih kesakitan. Sepasang kakek itu tambah semangat melihat banyak lawannya yang dirobohkan. Tapi mereka kaget sekali ketika mendengar Thoat Beng Mo Siauw bersiul nyaring dan 10 orang pula telah muncul menggantikan mreka yang sudah kepayahan mengeroyok Siamsay Jie-lo. Tentu saja Siamsay Jie_lo jadi kewalahanDiam-diam mereka mengeluh harus melayani tenaga baru. Namun mereka ada tokoh-tokoh kelas satu, tidak gampanggampang mundur. Mereka telah pertunjukkan kepandaiannya hebat sekali sehingga orang-0rang baru terpukul mundu dan ada beberapa orang yang roboh karena disambar pedangnya sepasang kakek jagoan itu. "Hahaha.... hahaha... ! Semua mundur !." seru Thoat Beng Mo Siauw nyaring.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Seruan itu berpengaruh benar sebab dengan serentak mereka pada lompat mundur dari kalangan Pertempuran. Kenapa si Hantu Ketawa meneriaki orang-orangnya mundur ? Itulah karena ia melihat tidak ada gunanya orangorangnya itu, mereka tidak bisa merobohkan sepasang kakek dari Siamsay. Ia hendak maju sendiri melayani dua kakek jagoan itu. Seruan si Hantu Ketauia untuk orang-orangnya mundur membikin sepasang kakek itu heran. Meskipun ada beberapa orang yang dirobohkan, tetap mereka sebenarnya ada diatas angin dan lambat laun dapat membikin mereka (kedua kakek) ambruk sendiri perlawanannya karena kelelahan bertempur. "Hahaha...... hahaha.... !" ketauia Thoat Beng Mo Siauui setelah orang-orangnya pada mundur. "Kalian bukankah menghendaki kepalaku ? Mari kita main-main beberapa jurus. Kalau kalian menang dengan rela aku hadiahkan kepalaku. Sebaliknya, kalau kalian kalah sudah tentu aku juga menghendaki kepala kalian. Ini toh pantas bukan ?" Lim Teng marah betul. Ia menyahut, "Hal itu untuk apa dikatakan pula ? Kalau tidak kami yang mati, kau yang mampus ! Mari kita menentukan siapa kuat \" "Hahaha____ hahaha ! Mana golok 7" kata si Hantu Ketauia. Sebentar saja orangnya telah menyerahkan golok besar yang biasa dipakai oleh si Hantu Ketawa. Dilihat dari besarnya golok, pasti bobotnya ada sangat berat dan dalam tangannya Thoat Beng Mo Siauw, senjata itu dicekal seperti mencekal

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ golok-golokan dari kayu saja entengnya. Sungguh hebat tenaganya si Hantu Ketauia. Mau tidak mau telah membuat kedua kakek itu mengeluh juga dalam hatinya. Setelah mengebaskan goloknya beberapa kali sehingga mengeluarkan suara mengaung, Thoat Beng Mo Siauw berkata, "Sahabat-sahabat, marilah kita mulai !" Siamsay Jie-lo sangat benci pada si Hantu Ketawa. Tidak heran kalau dengan tidak banyak cakap mereka telah menyerang dengan berbareng kepada lawannya. Mereka bertempur dengan ramai sekali disaksikan oleh banyak penonton, ialah anak buahnya si Hantu Ketawa. Masing-masing bersorak membatu semangat untuk cukongnya. Thoat Beng Mo Siauw telah mainkan goloknya dengan tenang sekali, hal mana menunjukkan bahwa si Hantu Ketawa bukannya orang kuat sembarangan. Kalau tadi dikeroyok oleh belasan orang, Siamsay Jie-lo masih dapat bernapas dan balas menyerang merobohkan lawannya, kali ini menempur si Hantu Ketauia seorang beratnya bukan main. Pedang mereka tak dapat dipakai membentur goloknya si Hantu Ketauia yang sangat berat bobotnya. Maka saban-saban mereka mengelakan beradunya senjata. Hal mana sebenarnya ada satu kerugian untuk mereka. Dengan begitu, bebaslah golok si Hantu Ketawa menyerang sana sini.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Benar-benar si Hantu Ketawa sangat lihai. Beberapa serangan maut dari Siamsay Jie-lo semuanya dapat dipunahkan dengan seenaknya saja. Meskipun berkali-kali mereka dapat elakkan pedangnya jangan sampai beradu dengan goloknya si Hantu Ketawa, akhirnya toh bentrok juga dan pedang Lim Teng terlepas dari cekaiannya, ia rasakan ngilu sekali tangannya. Di lain pihak Lim Keng yang hendak menolongi saudaranya juga pedangnya dibikin terbang oleh si Hantu Ketawa sampai badannya Lim Keng gemetaran menahan rasa ngilu di seluruh badannya. Mereka berdiri bengong mengawasi kepada Th0at Beng Mo Siauw yang berdiri dengan ketawanya yang menyeramkan. Tampik sorak riuh rendah kedengaran nebat sekali memuji kemenangan Thoat Beng Mo Siauw, sementara Siamsay Jielo hanya berdiri dengan tundukkan kepala. Orang-orangnya si Hantu Ketauia tanpa mendapat perintah lagi sudah menubruk Pada Siamsay Jie-lo dan masing-masing kedua tangannya ditelikung dengan tali yang kuat. Mereka dengan galak menggampar dan menendangi sepasang kakek pecundang itu. Mendapat Perlakuan yang sangat menghina itu, Siamsay Jie-lo tidak bisa membalas. Mereka terima nasib dirinya diperhina oleh orang-orangnya Thoat Beng Mo Siauw. "Kalian memasuki mereka ke dalam tahanan \" memerintah si Hantu Ketauia, sebagaimana biasa kata-katanya itu telah disusul oleh ketawanya yang menyeramkan-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Mereka dijebloskan ke dalam tahanan yang sangat buruk keadaannya. Kalau lama-lama mereka ditahan disitu, mungkin akan mati konyol tidak tahan dengan baunya yang memuakkan. Apa yang menyiarkan bau busuk itu ? Entahlah. Tapi yang terang bagi Siamsay Jie-lo kamar tahanan itu akan mengundang penyakit dan mereka akan mati konyol. Sedih hatinya dua jagoan kolot itu- Tapi apa mau dikata. Mereka sudah bertekad bulat untuk membalas kematian sang murid. Tapi gagal dan akhirnya mereka harus menerima penghinaan yang belum pernah mereka alami. Pada waktu sore mereka menerima ransum makanan yang jelek sekali, lebih jelek dari makanan binatang babi. Tentu saja mereka tak dapat makan. Rasanya, meskipun mereka dikasih makanan enak juga tak dapat mereka makan karena keadaan dalam kamar tahanan yang buruk dan bau itu. Bagaimana orang dapat makan dengan bebas kalau disampingnya ada bau busuk yang menusuk hidung ? "Koko, apa kita harus terima nasib begini saja ?" tanya Lim Keng, sang adik. Lim Teng menghela napas panjang. "Saban hari kita terima makanan tapi kita tidak makan. Terang lama-lama kita akan mati kelaparan." berkata pula Lim Keng. "Sebisanya kita pertahankan hidup kita untuk belakang kali melakukan pembalasan kepada si Hantu Ketawa-" "Pembalasan..." menggumam Lim Teng"Ya, pembalasan- Apa kok mau bikin habis saja sakit hati kita dan dua murid kita yang telah mendahului kita

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Adik Keng, soal mati hidup kita dalam kamar tahanan ini masih suatu pertanyaan. Bagaimana kau memikirkan pembalasan ?" kata sang kakak dengan lesu. Lim Teng kelihatannya sudah putus harapan, sebaliknya dengan adiknya masih ingin hidup dan melakukan pembalasan untuk sakit hati yang mereka telah alamkan. Lim Keng membujuk keras untuk bikin saudara tuanya tidak putus harapan dan semangatnya terbangun. Ia berhasil sebab pada hari-hari berikutnya Lim Teng mau juga menelan beberapa suap makanan jelek yang disajikan untuk mereka. Itu hanya sekedar untuk menahan jangan mereka mati kelaparan. Satu minggu mereka disekap dalam tahanan itu sampai badannya kurus, namun semangatnya hidup. Mereka yakin akhirnya mereka akan dapat keluar dari kamar tahanan yang busuk itu untuk kemudian melakukan pembalasan kepada si Hantu Ketauia. Sebenarnya itu ada pengharapan kosong. Tidak mungkin mereka dibebaskan dari kamar tahanan yang buruk itu kemudian melakukan pembalasan. Yang lebih mungkin adalah mereka lambat laun habis tenaganya dan mati konyol- Tapi, sang nasib maunya lain. Pengharapan mereka seakan-akan telah dikaburkan. Demikian pada suatu hari mereka telah dikeluarkan dari kamar tahanan yang buruk itu dibawa menghadap pada Thoat Beng Mo Siauw. Tampak si Hantu Ketawa duduk diapit oleh dua jagoan yang menjadi kaki tangannya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Keren sekali kalau melihat Thoat Beng Mo Siauw duduk dikursi kebesarannya, apalagi saban-saban terdengar suara ketawanya yang menyeramkan bulu badanDi depan si Hantu Ketawa, Siamsay Jie-lo disuruh berlutut. Namun mereka membantah hingga kepaksa lututnya digedor sama pentungan yang membuat akhirny mereka berlutut juga diluar keinginannya. "Hahaha____. hahaha.... ! Siamsay Jie-lo, sudah satu minggu kalian mendekam dalam kamar tahanan. Bagaimana kalian rasakan ? Enak tidur, senang bergerak ?" Siamsay Jie-lo tidak menyahut, hanya menundukkan kepalanya saja. "Hahaha..... hahaha..... ! Siamsay Jie-lo, Mo-ong mau kasih jalan hidup asal kalian suka menjadi pembantu Mo-on, bagaimana ?" Lim Teng dan Lim Keng saling awasi satu dengan lain sejenak, baru Lim jeng menyahut, "Asal Mo-ong suka kasih kebebasan pada kami» mau disuruh apa juga kami akan menurut perintah Mo-ong !" "Hahaha-... hahaha.-...! Bagus, bagus, mulai sekarang kalian dibebaskan dan menjadi pembantu Mo-ong. Asal kalian dapat menunjukkan jasa dalam Pekerjaan kalian pasti Mo-ong tidak akan melupakan !"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Atas perintah Thoat Beng Mo Siauw, orangnya telah membebaskan Siamsay Jie-lo dari ikatan tangannya. Kemudian lututnya yang dibikin lemas barusan oleh pentungan telah diobati dan mulai hari itu Siamsay Jie-lo telah menjadi orangnya Thoat Beng Mo Siauw, sehari-hari galang gulung dengan kawanan penjahat. Siamsay Jie-lo mau menjadi budaknya si Hantu Ketauia bukannya ingin hidup senang. Mereka mau merendah lantaran ingin membebaskan diri dari pengaruh si raja iblis. Pikirnya, kalau mereka menolak tawaran si Hantu Ketawa, terang mereka akan dijebloskan pula dalam tahanan yang buruk itu, sampai kapan mereka dapat merdeka ? Sebaliknya kalau terima tawaran, keuntungan bagi mereka menemukan banyak kans untuk dapat melarikan diri dan mewujudkan cita-citanya menuntut balas pada Thoat Beng Mo Siauw yang gagah perkasa itu. Siamsay jie-lo selalu diintip gerak geriknya oleh mata-mata dari si Hantu Ketawa, namun mereka bisa bawa diri sehingga lama-lama kecurigaan atas dirinya menjadi lunak. Hampir saban minggu orangnya telah membawakan perempuan cantik untuk Thoat Beng Mo siauw bersenang-senang. Wanita-wanita yang menjadi korbannya itu hanya seminggu ditangannya si raja iblis kemudian dioperkan kepada orang-orangnya yang disayang. Terutama kaki tangannya yang diandalkan, sering mendapat hadiah lebih dahulu dari yang lainnyaMalah Siamsay Jie-lo juga pernah ditawari wanita bekas kaki tangannya si raja iblis, akan tetapi dengan halus mereka

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ men0lak dengan alasan mereka sudah tua, tidak suka plesiran dengan orang perempuan. penghidupan dalam kekuasaan Thoat Beng Mo Siauw sebenarnya memuakkan dalam ukuran hidupnya dua kakek dari Siamsay itu. Namun mereka tak dapat berbuat apa-apa sebab masih belum ada kesempatan untuk angkat kaki dari situ. Wanita-wanita yang menjadi korbannya Thoat Beng Mo Siauw ada juga yang bunuh diri setelah dinodai tapi kebanyakan mereka pada temahai hidup dan rela menjadi bola bundar dioper ke sana sini sehingga tabiatnya berubah menjadi genit dan merupakan wanita 'p' yagn sangat memuakkan. Pada suatu hari, menggunakan kesempatan Thoat Beng Mo Siauw sedang keluar dengan beberapa jagoannya, Siamsay Jie-lo telah angkat kaki dari situ. Namun Perbuatannya telah diketahui oleh mata-mata si Hantu Ketawa hingga terjadi pengepungan ramai. Siamsay Jjie-lo telah mengamuk dan membunuh banyak orangnya Thoat Beng Mo Siauw, namun mereka tidak bisa lolos dari kepungan sehingga mereka jadi nekad dan mengamuk mati-matian. Dengan badan berlumuran darah, mereka telah dikejar oleh orang-orangnya si Hantu Ketauia. Untuk menolong diri, dua kakek itu gunakan ginkangnya. Benar lawannya dapat ditinggalkan, namun keadaan mereka sangat payah. Di perjalanan Lim Keng tealh ambruk kecapean- Kepaksa Lim Teng menolongi adiknya duu sebelum meneruskan kaburnya. Hatinya sangat gelisah,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ khawatir musuh keburu sampai dan mereka bakal mendapat penghinaan yang bukan-bukan nanti. "Koko, adikmu sudah tidak berguna lagi. Kau lekas lari selamatkan diri. Di belakang kali kau dapat menuntut balas dan adikmu di tempat baka juga akan merasa senang.----" demikian Lim Keng telah berkata kepada kakaknya. "Tidak, kau harus hidup dan sama-sama nanti datang kembali menuntut balas ! ' menghibur kakaknya dengan berlinang-linang air mata. Lim Keng bersenyum, "Sejak muda kita berkumpul samasama, berkelana sama-sama dan dalam menghadapi suka duka kita selalu bersama, tapi kali ini, aku harap kau tidak bersama aku. Relakan kepergianku, pulang menemui murid kita yang telah mendahului kita....." Lim Teng menangis seperti anak kecil mendengar perkataan adiknya. Makin gelisah hatinya karena sebentar lagi, musuh akan sudah sampai disitu. Benar saja, begitu Lim Keng menarik napasnya yang penghabisan, tampak banyak musuh mendatangi. Kepaksa Lim Teng meninggalkan mayatnya sang adik, ia kabur seperti kesetanan sehingga orang-orangnya Thoat Beng Mo Siauw tak dapat menangkapnya. Mereka hanya boleh merasa puas dengan mayatnya Lim Keng yang mereka bawa pulang ke markas untuk dipakai bukti nanti Thoat Beng Mo Siauw kembali dari kepergiannya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lim Teng dengan susah payah sampai juga di Suyangtin. Orang yang melihat padanya telah melaporkan kepada lima harimau yang segera pada datang menyambut Lim Teng yang pakaiannya penuh darah, badannya banyak mendapat lukaluka. Keadaannya payah benar. Maka ketika berjumpa dengan Lima Harimau telah roboh terkulai saking lelahnya dan seluruh badannya lemas terlalu banyak mengeluarkan darah. Kie Giok Tong perintah orang-orangnya untuk menggotong Lim Teng ke rumahnya, dimana Lom Teng ditolong sebagaimana mestinya. Keadaannya jago tua itu sangat gawat, namun ia masih daPat menceritakan pengalamannya kepada Kie Giok Tong dkk dengan sangat jelasPada keesokan harinya Lim Teng telah menutup mata. Kasihan, ia dapat meloloskan diri dengan meninggalkan mayatnya sang adik, maksudnya belakang kali ia akan membawa banyak teman untuk membalas sakit hati kepada Thoat Beng Mo Siauw. Tapi kenyataannya tak dapat ia berbuat apa-apa yang dicita-citakan karena badannya tidak mengijinkan dan telah melepaskan napasnya yang penghabisan di rumahnya Kie Giok Tong. Lima Harimau sangat berduka atas kematiannya Siamsay Jie-lo seperti juga kematiannya Siarrrsay Jie Liong (Dua naga dari Siamsay). — 24 — Sejak itu tidak ada kejadian pula ada orang-orang gagah yang datang dengan niat menumpas kejahatannya Thoat Beng Mo Siauw. Suyangtin dapat mengalami keadaan aman dan tentram, sebegitu lama penduduk memenuhkan peraturan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ yang ditetapkan oleh Thoat Beng Mo Siauw ialah saban tanggal 16 dikirim seorang gadis yang cantik jelita untuk si Raja Iblis. Pada bulan itu adalah bulan keenam, dimana pilihan gadisgadis telah jatuh kepada puterinya Teng Houw dari Suyangtin Ng0-H0uw. Puterinya Teng Houw ada putri tunggal bernama Leng Siong, umurnya baru 17 tahun, wajahnya cantik sekaliOleh karena menghadapi kehilangan puterinya pada tanggal 16 yang akan datang, maka mukanya Teng Houw selalu bermuram durja, sangat duka akan kehilangan puteri tunggalnyaMalah Leng Siong sendiri sekarang tengah menangis saja, tidak mau dijadikan sajian Thoat Beng Mo Siauw. Demikian ada penuturan Kie Giok Tong kepada Kim Wan Thauto, Lo In dan Bwee Hiang, baru tahu sekarang duduknya perkara. Maka Kim Wan Thauto telah minta maaf untuk sikapnya barusan yang kasar. "Kelakuan Taysu mana bisa disalahkan. Memang sebagai sahabat baik Taysu pun ingin tahu duduknya urusan supaya dapat membantu memecahkannya, bukan ?" berkata Kie Giok Tong dengan muka berseri-seri, puas dapat menceritakan halnya Thoat Beng Mo SiaUui kepada Kim Wan Thauto dan dua saudaranya hingga Kim Wan Thauto tidak menaruh curiga pula kepada Suyangtin Ngo HouwPenuturan itu sangat menarik sekali hatinya Bwee HiangPikirnya, "Thoat Beng Mo Siauw sangat jahat, banyak meminta korban uiantia baik-baik- Kalau tidak buru-buru dibasmi pasti akan menyusahkan pada kaum perempuan. Sebaiknya aku berdamai dengan adik kecil, biar aku yang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ gantikan Leng Siong dan adik kecil yang antar aku ke sana. Kita berdua akan basmi kawanan jahat itu... Matanya Bwee Hiang mengawasi kepada adik kecilnya, disambut oleh L o In dengan menyeringai ketawa. Bwee Hiang sudah hendak membuka mulut menyatakan pikirannya, namun sudah didahului oleh Kim Wan Thauto yang berkata, "Kesulitan yang dihadapi oleh Teng-heng bukannya tidak bisa diatasi, cuma entahlah orangnya yang kita bisa andalkan suka atau tidak campur urusan ini." Kie Giok Tong terkejut. Ia menanya, "Orangnya siapa yang Taysu maksudkan ?" Kim Wan Thauto tidak menjawab hanya ia ketauia ke arahnya Lo in. Sekarang Kie Giok Tong mengerti akan kata-kata Kim Wan Thauto tadi. Orang yang diandalkan itu adalah si Bocah Sakti. "Kalau anak In suka menolong Teng-heng, urusan akan beres sudah." kata si Thauto. "Biarlah adik kecil dengan aku kesana..." menyela Bwee Hiang. "Nah, ini baru betul." kata Kim Wan Thauto. "flnak In tidak bisa bekerja betul tanpa anak Hiang yang mendorongnya. Hahaha.... bagus, bagus____" Bwee Hiang dan Lo In saling pandang dengan pikiran masing-masing. "Taysu, kau mau atur bagaimana ?" tanya Kie Giok Tong kepingin tahu-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Aku mau atur begini." jawab Kim Wan Thauto. "flnak Hiang gantikan kedudukannya nona Leng Siong, sedang anak In yang mengantarnya. Sampai di pek-kut-nia ketemu si Hantu Ketawa, terserah pada pertimbangan dua anak itu. Aku rasa dengan anak in dan Hiang kesana urusan Thoat Beng Mo Siauui akan selesai sudah. Ia akan tinggal namanya saja. Aku Percaya anak in dapat mengatasi kepandaiannya yang dikatakan hebat." Kie Giok Tong saling lihati diantara saudara-saudaranya. Teng HaUui ragu-ragu untuk menerima tawaran itu. Ia masih meragukan kepandaiannya Lo In yang masih anak-anak dan Bwee Hiang satu gadis cantik yang tidak ada apa-apanya yang ditakuti, ia khawatir dua anak itu akan menjadi korbannya si Hantu Ketawa yang kejam. Kalau sampai kejadian demikian, bagaimana ia dapat mempertanggungjawabkan kepada orang tuannya dua anak itu ? Sementara Teng Hauui dalam ragu-ragu, tiba-tiba Bwee Hiang berkata, "Paman Teng, apa kau tidak keberatan ajak aku menemui adik Leng Siong ?" "Tentu, tentu, masa aku keberatan. Mari ikut aku nona Hiang." kata Teng Hauw. Bwee Hiang kedipkan mata kepada Lo In, seakan-akan kode suruh si bocah menunggu padanya. Lo In hanya ketawa nyengir melihat enci Hiangnya ikut Teng Hauw masuk ke dalam, tapi lekas juga ia kaget sebab dengan perginya sang enci ia jadi kesepian. Ia paling ogah kumpul-kumpul dengan orang-orang tua.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bwee Hiang sementara itu sudah masuk dan menemui nyonya Teng yang sedan berada di kamarnya sang puteri. Leng Siong sendiri tenah menangis sambil memeluki bantal. Teng Hauw memperkenalkan Bwee Hiang kepada istrinya dan sebaliknya, kedua wanita itu saling merendah. Teng Hauw keluar lagi menemui tamu-tamu yang lainnya. "Anak Siong, kau jangan menangis saja. Lihat nih enci Hiang datang menjenguk kau. Lekas bangun, malu ihh menangis saja ada tamu !" kata sang ibu kepada puterinya. Leng Siong kaget. Ia lempar bantal yang dipeluki menangis tadi, lalu bangun dari pembaringannya menemui Bwee Hiang. Nona Bwee Hiang lihat Leng Siong sangat cantik hanya sayang kedua matanya pada bengul, rupanya saking kebanyakan menagnis- Segera dua wanita itu berjabatan tangan memperkenalkan diri, Bwee Hiang berkelakar, " Adik Leng Siong, kau sangat cantik. Cuma kedua matamu itu pada bengkak, jelek ihh !" "Enci Hiang, kau bisa saja, orang jelek dikatakan cantik." "Kalau gadis cantik macam adik Siong dikatakan jelek, gadis yang bagaimana yang boleh dikatakan cantik 7" "Gadis itu toh sudah ada disini....." sahut Leng Siong ketawa mesem. "Siapa 7" tanya Bwee Hiang kepingin tahu. "Enci Hiang sendiri..-" sahut Leng Siong ketauia cekikikan, lupa barusan ia menangis terus-terusan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Buiee Hiang tertegun sebentar. Pikirnya, anak ini pandai benar membaliki duduknya urusan dan suka berkelakarSungguh sayang kalau dijadikan mangsanya si Hantu Ketauia. "Bagus, kau pandai memutar duduknya urusan." kata Buiee Hiang ketauiaLeng Siong ajak Buiee Hiang duduk bersama diatas kursi panjang. Ibunya Leng Siong masih duduk di tempatnya tadi- Ia merasa suka kepada Bwee Hiang yang begitu bertemu dengan anaknya sudah lantas seperti teman akrab saja. "Adik Siong." kata Bwee Hiang. "Sebenarnya aku ingin bertemu dengan kau, mau lihat keadaan kita berimbang atau tidak. Sebab aku akan menggantikan kau menjadi korbannya si Hantu Ketawa....." "Enci Hiang !•" potong Leng Siong kaget. "Apa kau bilang ? Kau mau menggantikan aku menjadi mangsanya si Hantu Ketawa ? Oh, jangan, jangan- Aku tidak mau orang berkorban untuk kepentinganku. Biarlah aku yang tanggung sendiri......" Legn Siong berkata sambil menangis sesenggukan. Nyonya Teng sangat kasihan kepada anaknya yang telah putus asa"Anak Siong, encimu bukan betul-betul menjadi korbannya si Hantu Ketawa. Ia hanya menggantikan kau untuk ke sana membasmi si orang jahat itu......" menghibur Nyonya Teng.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Leng Siong terkejut. Rambutnya yang riap-riaP ia angkat dan menatap wajahnya Bwee Hiang. "Enci." katanya. "Enci mau kesana membasmi si Hantu Ketauia 7 Ah, tidak mungkin. Kau secantik ini pergi ke sana sendirian, sama saja kau mengantarkan jiwa." "Hihihi...-" Bwee Hiang tertawa ngikik. "Kenapa kau tertawa, enci Hiang ?" tanya Leng Siong heran. "Aku mentertawakan kau, adik Siong." sahut Bwee Hiang. "Kau tertawakan aku, kenapa ?" tanya si gadis. "Aku kesana bukannya sendirian, ada adikku yang kepandaiannya begini !" kata Bwee Hiang sambil acungkan jempolnya. "Adikmu 7 Apa kepandaiannya lebih atas dari si Hantu Ketawa ?" "Sudah tentu, adikku kepandaiannya susah diukur, pendeknya kalau ia yang turun tangan, jangan hanya satu Hantu Ketawa, biarpun ada sepuluh Hantu Ketauia pasti ia akan tangkap semuanya. Hihihi "Enci Hiang, kau jangan berkelakar untuk urusan kosong !" kata Nona Teng. "Kenapa aku berkelakar dalam urusan kosong, apa memangnya aku dapat keuntungan 7" Leng Siong membenarkan jawaban Bwee Hiang. Ia merasa barusan telah kesalahan omong dan khawatir menyinggung hatinya sang teman baharu. Maka lantas berkata, "Enci Hiang, kau jangan marah. Barusan akan kesalahan omong. Adikmu itu tentu cakap romannya sebab kau sendiri begini cantik...."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bwee Hiang terpingkal-pingkal ketawa mendengar adik kecilnya dikatakan cakap-"Enci, kenpa kau tertawa begitu enaknya 7" "Tidak apa-apa- Aku ketawa geli barusan kau mengatakan adikku cakap." Memangnya adikmu itu berwajah jelek ?" Ah, tidak- Cukup menarik kalau kau nanti melihatnya." Enci Hiang, apa dia ada disini ?" Ada. Kau mau berkenalan dengannya ?" Tentu. Sebab dia mau menolong diriku dari cengkeraman si Hantu Ketawa." "Baiklah, nanti aku panggil dia masuk." Bwee Hiang permisi pada nyonya Teng keluar sebentar memanggil adik kecilnya. Ketika Bwee Hiang sudah berlalu, buru-buru nyonya Teng berkata, "Anak Si0ng, mereka segera akan datang. Mana boleh pertemuan dilakukan di dalam kamar ini. Maka itu, lekas dandan sedikit dan menyambutnya mereka di ruangan tengah." Sang ibu berkata sambil bangkit dari duduknya dan keluar. Leng Siong pikir kata-kata ibunya tadi memang benar, maka dengan terburu-buru ia bersolek dan tukaran pakaian akan kemudian keluar menanti di ruangan tengah bersama ibunya. Benar saja tidak lama Bwee Hiang dan Lo in masuk diantar oleh pelayan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Leng Siong kaget melihat Lo In wajahnya hitam lega. Lebih kaget lagi ketika ia diperkenalkan oleh Bwee Hiang, tiba-tiba saja Lo in menubruk padanya sambil berkata, "Enci Eng Lian, kau ada disini ? Hm, diam-diam kau mengumpat disini ya, membuat adikmu mencari setengah mati. Hahaha.-.-" Lo In memeluk Leng Siong dengan keras hingga si nona meronta-ronta minta tolong pada ibunya dan Buiee Hiang. Ibunya Leng Siong menjadi kesima melihat adegan itu, sedang Bwee Hiang juga sangat heran dengan tiba-tiba saja adik kecilnya merangkul Leng Siong dan mengatakan si nona ada enci Eng Liannya. Setelah hilang tertegunnya, Buiee Hiang cepat menarik tangannya Lo In dan berkata, "Adik kecil, kau jangan membikin maiu orang. Itu bukan enci Lianmu, dia ada puterinya paman Teng. Hayo lepaskan pelukanmu !" Lo in dengan perlahan-lahan melepaskan pelukannya, "Apa benar kau bukan enci Lianku ?" kata Lo In seraya menatap wajah Leng Siong yang kemerah-merahan jengah dipeluki oleh laki-laki yang barusan saja dikenal. "Aku bukannya enci l_ianmu..." sahut Leng Siong seraya merapihkan pakaiannya yang kusut dan ambil tempat duduk tidak jauh dari Bwee Hiang. Napasnya masih terengah-engah, barusan mengerahkan tenaganya habis-habisan untuk meloloskan diri dari pelukan Lo In, si bocah wajah hitam yang kesalahan menerka orang. Lo In masih ragu-ragu atas keterangan Leng Siong, maka ia mengamat-amati lagi wajah si nona yang cantik jelita hingga si nona menjadi kemalu-maluan diawasi terus-terusan oleh Lo In.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bwee Hiang di lain pihak merasa tidak enak hatinya atas kelakuan Lo In tadi. "Adik kecil." tegurnya. "Lain kali jangan suka sembrono. Kau lihat dulu yang tegas, gadis yang dihadapi ada enci Lianmu apa bukan. Jangan main rangkul saja..." Bwee Hiang menegur sambil tertawa terkekeh-kekeh, hatinya tiba-tiba jadi geli mengingat kesembronoan Lo in tadi sehingga Leng Siong menjadi ketakutan setengah mati. "Aku masih penasaran, enci Hiang- Coba kau tolong periksa, apa diatas alisnya yang sebelah kiri ada tanda tai lalat tidak ?" memohon Lo In pada Bwee Hiang. Bwee Hiang menurut. Ia minta periksa alisnya Leng Siong yang sebelah kiri tapi tidak ada kedapatan tai lalat yang dimaksudkan Lo In"Adik kecil, benar-benar ia bukan enci Lianmu. Tanda tai lalat dialisnya tidak ada." Lo In manggutkan kepalanya. Dengan sopan ia bersoja meminta maaf kepada Leng Siong, juga kepada ibunya yang masih diam saja kesima. Nyonya Teng lihat Lo In, meskipun sifatnya agak liar namun kelihatannya ia ada anak yang polos dan jujup, maka kelakuannya tadi terhadap Leng Siong bukannya tidak ada sebabnya-Maka ia lalu minta keterangan sedikit pada Lo In tentang Eng Lian. Lo In menutupkan tentang pengawakan dan wajahnya Eng Lian persis sama dengan Leng Siong, hanya itu tanda tai lalat saja tidak ada pada Leng Siong. Ia sangat merindukan enci

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Liannya yang sudah lama berpisahan, makanya tadi tanpa sengaja ia telah merangkul Leng Siong yang disangkanya ada enci Liannya. Nyonya Teng angguk-anggukkan kepalanya. Diam-diam hatinya bergoncang mendengar penutupan Lo In. Ia ingat sesuatu yang ia tidak bisa jelaskan di depan anak-anak muda itu. Setelah ia omong-omong sebentar, lantas meninggalkan 3 anak muda itu duduk kongkouw dengan asyiknya. Lo In sudah melupakan kejadian barusan, sedang Leng Siong juga dapat memahami kesalahan Lo In yang tidak disengaja. Ia malah sekarang suka kepada si bocah nakal yang bisa berkelakar dan mengitik urat ketauia. Di lain pihak, Kim wan Thauto sudah merancangkan maksudnya ialah Bwee Hiang duduk dalam tandu, di gotong oleh dua orang diantaranya Lo in satu ikut menggotong- Bwee Hiang akan diantar ke Pek-kut~nia dipersembahkan kepada Thoat Beng Mo Siauw. Lima Harimau semuanya sudah mufakat, hanya tinggal tunggu waktunya saja tanal 16. Pada keesokan harinya Bwee Hiang dan Lo In dibawa ke Giok Lie Teng (Peseban Bidadari) oleh Leng Siong, dimana mereka bercakap-cakap dengan gembira. Kemudian Leng Siong ajak dua kawannya untuk melihat-lihat kebonnya yang luas. Dalam perjalanan Bwee Hiang menggodai Leng Siong, katanya : "Adik Siong, tepat nama beseban ini dengan orangnya yang suka datang menangin disitu-"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Enci maksudkan bagaimana ?" tanya Leng Siong. "Nama beseban bidadari, tepat benar sebab kau sendiri seperti bidadari, adik Siong !" jawab Bwee Hiang ketawa ngikik. "Enci Hiang, kau bisa saja-..." kata Leng Siong, tangannya diulur mencubit. "Aduh ! Kenapa aku mencubit aku, adik Siong. Kalau mau mencubit, cubitlah tuh adik kecil !" kata Bwee Hiang seraya monyongkan mulutnya ke arah Lo In. Lo In ketawa menyeringai, "Mana enci Leng Siong berani mencubit aku, dia takut dirangkul !" L o In berkelakar. Leng Siong kemerah-merahan wajahnya, matanya menatap Lo In dengan gergetan. Terkejut hatinya Lo in melihat Leng Siong dalam sikap gergetan itu, sebab Persis ia melihat Eng Lian kalau ia sedang godai dan si nona penasaran menatap padanya dengan sorot mata dan sikap seperti Leng Siong sekarang. Segera juga mereka beradu Pandangan di luar tahunya Bwee Hiang, keduanya terkejut dan pada melengoskan pandangannya. Leng Siong menundukkan kepala sedang Lo In pikirannya melayang-layang kepada enci Liannya. Bwee Hiang yang memecahkan kesunyian, ia berkata, "Mari kita duduk-duduk di bawah pohon itu yang teduh !" Lo In mengiyakan, ia hanya mengikuti saja kemananya kedua gadis jelita itu- Di lain saat mereka telah duduk-duduk mengangin.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Selama kongkouw, matanya Lo in ketarik oleh banyak kera yang pada lelompatan dari satu ke lain cabang. Pikirannya melayang-layang ke lembah Tong-hong-gay dimana ia berkawan dengan kawanan kera dan si rajawali kapal terbangnya. Lo In meninggalkan dua gadis yang sedang asyik kongkouw itu dan menghampiri kawanan kera. Ia disambut dengan har har dan wajah yang menakuti dari kawanan monyet. Mereka seperti tidak senang didekati Lo In. Namun setelah Lo in bicara dalam bahasanya, kawanan monyet itu menjadi jinak dan berkumpul merubung si Bocah Sakti. Lo In minta kawanan monyet itu tolong mencarikan buahbuahan yang lezat untuk ia dan kawan-kawannya makan. Kawanan monyet itu kegirangan dan berjanji akan mencarikan buah-buahan yang dimaksudkan, setelah mana kawanan kera itu telah bubaran lari serabutan ke beberapa jurusan dengan masing-masing keluarkan suara cetcowetan yang ramai sekali. Ketika Lo In putar tubuhnya hendak kembali, dibelakangnya sudah ada Bwee Hiang dan Leng Siong sedang berdiri mentertawakan kepadanya. 'Adik kecil, sungguh lucu sekali kau bicara barusan dengan kawanan kera. Apakah mereka mengerti dengan bicaramu itu 7 Hihihi---- " tertawa Bwee Hiang. Leng Siong ikut ketawa dan Lo In hanya ketawa nyengir. "Kau katakan apa kepada mereka sehingga mereka pada bubaran tumpang siur ?" tanya Bwee

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Hiang kepada Lo In ketika melihat adik kecilnya hanya ketauia nyengir saja. "Aku suruh mereka mencarikan bebuahan yang lezat untuk kita makan." sahut Lo In. "Bagus." kata Bwee Hiang. "Encimu mau lihat, aPa benar mereka nanti membawakan bebuahan yang dimaksud. Rasanya kawanan kera itu hanya main-main saja dengan kau, adik Kecil." "Kau lihat saja nanti, enci Hiang." sahut Lo In. Mereka kembali ke bawah pohon tadi, dimana mereka meneruskan ngobrolnya"Adik Leng Siong, adik kecil ini katanya pandai meniup seruling mengundang ular. Apa kau tidak ingin mendengarnya 7" Leng Siong melirik pada Lo In dengan senyumnya yang memikat-"APa benar, adik kecil ?" tanya Leng Siong. "Bohong, enci Hiang hanya seenaknya saja berkata." sahut Lo In"Adik kecil, kau jangan bohongi lagi enci Leng Siong." bantah Bwee Hiang. Lo In tidak menyahut, ia hanya ketawa nyengir. "Adik kecil, sebagai tandanya persahabatan, apa salahnya kau perdengarkan suara serulingmu untuk aku dengar." berkata Leng Siong.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Hayo, jangan malas- Kalau nona rumah suruh, jangan bandel !" menyela Bwee Hiang. Lo In kewalahan didesak kedua gadis jelita itu. Maka ia mencabut serulingnya dan ia mulai meniupnya dengan lagulagu gembira. Kedua gadis itu pikirannya melayang-layang mengikuti irama lagu gembira, tampak wajahnya berseri-seri. Kapan irama lagu membiluk pada lagu yang tegang, berubahlah wajah kedua gadis itu menjadi tegang dan serius sekali. Yang paling hebat, kapan irama lagu seruling Lo In sampai pada lagu yang sedih, dirasakan oleh kedua gadis itu seperti hatinya disayat dan sangat sedih, maka berlinanglinanglah air mata mereka. Ingin mereka menyetop Lo In meniup serulingnya, namun merek tidak berdaya karena terbawa oleh ayunan lagu sedih mencengkeram hatinya. Sampai terisak-isak kedengaran mereka menangis mendengar irama lagu sedih dari seruling si bocah nakal. Tiba-tiba suara seruling dihentikan, lenyaplah lagu sedih itu- Tampak kedua gadis itu telah menyeka masing-masing matanya yang penuh dengan air kesedihan. "Sungguh hebat adik kecil kita !" memuji Buiee Hiang dikala kegembiraannya telah balik kembali. Leng Siong sementara itu telah mengawasi kepada Lo in yang tidak menjawab pujiannya Bwee Hiang, malah menundukkan kepalanya seperti yang menangis. "Adik kecil, kau kenapa ?" tanya Leng Siong, melihat Lo In diam saja.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lo In pelan-pelan angkat kepalanya dan memandang Leng Siong. "Aku terkenang kepada enci Lian, entahlah sekarang dia ada dimana." sahut si bocah seraya menyeka air matanya yang berkaca-kacaLeng Siong tundukkan kepalanya tatkala matanya Lo In mengawasi saja pada wajahnya yang mirip Eng Lian. "Kau ada begitu Perhatikan enci Lianmu. Pasti ada satu waktu Tuhan akan pertemukan kau dengannya- Tak usah kau sedihkan- Enci Lianmu pasti dalam selamat____" menghibur Leng Siong yang merasa sangat kasihan kepada Lo in. "Biasanya adik kecil tidak cengeng kalau ingat akan enci Liannya. Entahlah sejak dia melihat wajah adik Leng Siong, sebentar-sebentar keingatan saja dengan enci Liannya." nyeletuk Bwee Hiang sambil ketawa. Leng Siong semu-semu merah wajah mendengar perkataan Bwee Hiang. Bwee Hiang perhatikan perubahan Leng Siong yang rada kikuk, maka ia alihkan pembicaraan, katanya, "Adik kecil, lagu serulingmu hanya membuat orang sedih saja. Tidak ada hasilnya apa-apa." "Siapa bilang tidak ada hasilnya ?" sahut Lo In.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kau kata, dengan lagu serulingmu akan dapat mengundang kawanan ular. ' kata Bwee Hiang-Kalau itu apa ?" sahut Lo In sambil menunjuk ke depan. Bwee Hiang dan Leng Siong memandang ke arah yang diunjuk oleh Lo In. Tiba-tiba saja matanya kedua gadis itu terbelalak ketakutan. Memang benar, tidak jauh dari mereka ada berkumpul banyak ular kecil besar. Ada yang angkat kepalanya dan menjulurkan lidanya, ada yang lugat legot seperti yang berjoget, entah dari mana datangnya ular yang jumlanya hitung ratusanBukan saja kawanan ular itu hanya berkumpul di sebelah depan, tapi tampak disekitarnya juga hingga Lo in dan dua gadis itu terkurung di tengah-tengah. "Habis, bagaimana ini ?" keluh Leng Siong yang ketakutan. "Nah, biarkan enci Leng Siong dikawani kawanan ular. Aku dan enci Hiang bisa keluar dari kepungan mereka !" Lo In menakut-nakuti si gadis yang sedang ketakutan. Bwee Hiagn ketauia ngikik. "Enci Hiang, kau jangan ketawa saja." tegur Leng Hiong rada keras suaranya, rupanya ia jengkel. "Carilah daya supaya aku dapat keluar dari sini." "Kau jangan takut, adik Leng Siong-" menghibur Bwee Hiang- "Disini ada jago cilik kita, apanya yang ditakuti 7" "Aku tidak berdaya menghadapi bagitu banyak ular. Bagaimana enci Hiang kata demikian ?" kata Lo In seperti yang putus asa.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Leng Siong yang tidak tahu sampai dimana kepandaiannya Lo in telah menangis. "Adik kecil, kau mau suruh encimu dimakan ular ?" kata Leng Siong sesenggukan menangis. "Biarlah, sebelum kau dimakan ular akan kucakar dulu mukamu yang hitam legam untuk melampiaskan penasaranku. Uh, uh, uh... "Leng Siong menangis. Leng Siong mendekati Lo In dengan maksud mencakar mukanya si bocah. "Adik kecil, kau jangan godai enci Lianmu !" tegur Bwee Hiang ketawa. Bwee Hiang sengaja menyebut namanya Eng Lian agar si bocah muka hitam hentikan menggodai Leng Siong yang benar-benar ketakutan melihat ular yang jumlahnya ratusan itu. Benar saja Lo In terkejut. Ia ingat seketika itu pada enci Liannya, dipandangnya wajah Leng Siong yang cantik sedang menangis. Seraya Pegangi tangan Leng Siong yang hendak mencakar mukanya, L0 in berkata, "Enci Leng Siong, kau jangan takut. flku ada disini, keselamatanmu aku jamin...." Lo In mencekal tangan yang halus lunak itu seraya matanya mengawasi Leng Siong hingga si nona kembali pelongoskan mukanya dan menunduk kemalu-maluan. Pikirnya, "Anak hitam ini sudah tergila-gila sama enci Liannya. Makanya selalu mengawasi saja wajahku yang mirip enci Liannya. Lama-lama apa dia tidak menyulitkan diriku ?" Tengah ia berpikir demikian, tiba-tiba dibikin kaget oleh suara ketawa gelak-gelak dari luar lingkaran ular. Entah dari

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mana datangnya sudah ada kira-kira dua belas orang yang berdiri sambil tertawa ke arah mereka. "Enci Hiang, itulah lawanmu. Lekas sambut ke sana !" Lo In menganjurkan Bwee Hiang yang berdiri tertegun melihat ada banyak orang laki-laki muncul dengan tiba-tiba. Buiee Hiang paling gembira kalau disuruh bertempur. Maka dengan tidak mengatakan apa-apa, ia enjot tubuhnya mencelat melewati lingkaran ular dan tahu-tahu ia sudah ada di depan dua belas laki-laki tadi. Dengan gagah ia menegur, "Kalian siapa datang mengganggu kesenangan nonamu ? Lekas kasih tahu, supaya nonamu jangan kesalahan tangan membunuh orang yang tidak bernama !" Seorang diantara dua belas orang itu rupanya menjadi pemimpinnya telah maju ke depan dan berkata, "Nona manis, aku Hek-liong Gouw Cin mendapat perintah untuk menangkap kalian. Maka kau jangan bikin Perlawanan. Menyerah saja, karena dengan membikin perlawanan kau bisa dapat susah dikeroyok kami ramai-ramai." Bwee Hiang tertawa cekikikan. "Kalian bangsa gentong nasi mau bikin susah pada nonamu ? Hm ! Kalian jangan ngimpi ! Mari, aku mau lihat kau orang macam aPa berani mengacau disini !" Bwee Hiang seorang gadis cantik dan lemah gemulai, tidak disangka-sangka oleh Hek-liong Gouw Cin, si Naga Hitam, berani menentang kepada mereka. Dalam gusarnya ia membentak, "Budak liar, apa Bouui toaya tidak mampu tangkap kau ?" Gouw Cin berkata seraya menyerang pada si n0na.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kepandaian Bwee Hiang sekarang sudah hebat. Ia bukan Bwee Hiang di jaman SuCoan Sanrsat menyerbu ke rumahnya Liu Ulangwee. Ia sekarang mendapat pelajaran tinggi dari guru kecilnya (Lo In)• Maka tidak heran kalau hanya dengan gepaki saja sedikit badannya serangan si Naga Hitam menemukan sasaran kosong. Si orang she Gouw heran. Kembali ia menyerang, sia-sia saja. Malah entah bagaimana si nona bergerak tahu-tahu ia sudah kena ditampar dua kali sehingga terputar. Bwee Hiang ketawa ngikik melihat musuhnya terputar ditampar olehnya. Sementara itu kawan-kawannya GoUw Cin tidak tinggal diam. Dengan serentak mereka menyerbu dan mengurung Buiee Hiang ditengah-tengah. Si nona tidak gentar, apalagi ia tahu dibelakangnya ada guru ciliknya. Semangatnya menyala dikeroyok banyak orangIa gunakan ginkangnya untuk berkelit dari seranganserangan orang jahat itu. Di lain pihak, Leng Siong sangat mengagumi kepandaiannya Buiee Hiang yang bisa melesat tubuhnya melebati lingkaran ular dan kini si nona sudah bertempur. Ketika pandangannya beralih kepada Lo In, si nona terkejut melihat ada dua orang yang mendekati Lo In hendak membokong. Ia menjerit, "Adik In, awas !" Saking ngeri Leng Siong pejamkan matanya. Ia menduga adik kecil itu remuk kepalanya digempur oleh dua orang jahat yang berbadan tinggi besar. Leng Siong mencelos hatinya mendengar suara jeritan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pelan-pelan ia membuka matanya, kiranya yang menjerit tadi bukannya Lo In, hanya kedua lawannya yang telah hancur kepalanya dibenturkan satu dengan lain oleh jago cilik kita. Sebelum Leng Siong menjerit kasih tahu ada bahaya, Lo In sudah tahu bahwa ada dua orang hendakmembokong dirinya. Maka dengan menggunakan kegesitannya ia berhasil mencekuk dua orang itu lalu diadukan kepalanya hingga hancur berantakan. "Adik kecil, kau tidak apa-apa ?" tanya Leng Siong cemas. Lo In hanya ketawa nyengir, berbareng ia jumput sebuah batu kecil. Begitu batu itu melesat ke atas, terdengar jeritan orang dari atas pohon, menyusul badannya telah jatuh persis di depan Leng Siong hingga si nona menjadi sangat kaget. "Adik kecil !" serunya ketakutan. Orang itu tidak berkutik karena kena ditotok oleh batu kecil tadi. Namun di tangannya ada memegang senjata rahasia yang dekat meledak. Leng Siong barusan saja memanggil adik kecil, Lo in dengan gesit telah menyambar si nona ditarik dalam pelukannya. Leng Siong kaget dan meponta-ronta dapi pelukan Lo In, ia mengira si anak kecil mau main gila terhadapnya. "Adik kecil, kau jangan begini terhadapku. Aku bukannya Eng Lian..." keluhnyaBerbareng terdengar suara 'Dar \' keras sekali hingga tanah dimana Leng Siong duduk tadi menjadi berlubang. Si nona leietkan lidahnya nampak kejadian itu, ia menatap wajahnya Lo In yang ketawa kepadanya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Adik kecil, oh, kau sudah menyelamatkan encimu...." kata Leng Siong seraya sesapkan kepalanya di dada Lo In yang kecil. Sekarang si nona baru tahu maksud baik dari Lo In. Maka ia sangat berterima kasih dan tidak meronta lagi, malah ia sesapkan kepalanya di dada si jago cilik dengan roman yang manja. "Enci Leng Siong, kau cantik seperti enci Lian..." bisik Lo In ditelinga si gadis, sedang tangannya mengusap-usap rambutnya kepalanya si nona yang hitam jengat. "Apa iya, adik kecil... ?" sahut Leng Siong perlahan, kepalanya mendongak menatap Lo In yang mengagumi kecantikannya- Untuk pertama kalinya tergetar hatinya Leng Siong beradu pandangannya dengan si bocah muka hitam. Leng Siong senang dalam dekapannya L0 In, ia ingin itu berjalan iama-iamaan namun keadaan ada sangat gawat. Buiee Hiang perlu mendapat bantuan meskipun sudah ada beberapa kawan yang dirobohkan dengan totokan. "Mari kita liihat enci Hiang !" kata Lo In seraya meraih Leng Siong dan dengan sekali enjot saja tubuhnya melayang bersama Leng Siong melewati batas lingkaran ular yang sedang berkumpul- Dengan Leng Siong masih dalam p0nd0ngannya, L0 in telah membantu Buiee Hiang menendang mental dua orang baru yagn mau mengeroyok si nona. Dua orang itu tubuhnya mental jatuh Persis diantara kumpulan ular. Dengan enak saja mereka telah dilahap oleh kawanan ular yang sedang lapar rupanya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Enci Hiang, cukup ! seru Lo InItulah ada seruan merupakan kode untuk Bwee Hiang mengakhiri perkelahiannya. Sementara Leng Siong barusan saja diturunkan oleh Lo In, Bwee Hiang telah selesaikan Pertempurannya. Semua musuhnya dirobohkan dengan totokan. Hebat kepandaiannya si nona hingga Leng Siong melongo dibuatnya. Lo In telah menotok bebas Hek-liong Gouw Cin dan menanya, ia dengan kawan-kawannya itu suruhan siapa telah datang kesitu. Belum si Naga Hitam menjawab, tampak Kim Ulan Thauto dan Suyangtin Ngo Houui jalan mendatangi hingga pemeriksaan Lo In serahkan pada si Thauto. Si Naga Hitam membandel tidak mau mengaku siapa yang suruh dirinya hingga Kim Wan Thauto kewalahan. Pemeriksaan ketunda berhubung dengan datangnya segerombolan kera yang pada membaca bebuahan. Kim Wan Thauto dan Suyangtin Ngo Houui heran begitu banyak kera dari mana datang. Lo In kasih mengerti pada mereka bahwa kawanan kera itu hendak mempersembahkan barang bawaannya yang diminta olehnya. Kim Wan Thauto terbahak-bahak ketawa mendengar perkataan Lo In. Lo In membilang terima kasih pada kawanan kera dan minta mereka bubar.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ramai mereka cetcowetan lari serabutan mendapat perintah dari Lo In. "Toako, para paman, enci Hiang dan Leng Siong, mari kita makan antaran mereka !" berkata Lo In seraya ia sendiri menjumput sebuah dan dimakannya. Ternyata bebuahan antaran kawanan kera itu sangat lezat rasanay, semua orang pada memuji terutama Bwee Hiang dan Leng Siong yang bergantian mengangkat jempolnya memuji kepada Lo In yang bisa memerintah kawanan kera. "Itu ada banyak ular dari mana datangnya, anak in ?" tanya Kim Wan Thauto. "Adik kecil yang memanggil dengan serulingnya." menyela Buiee Hiang ketawa. "Sebaiknya mereka disuruh pulang lagi saja, anak in !" kata Kim Wan Thaut0 yang melihat Leng Siong dan Suyangtin Ngo Houw kelihatannya ketakutanLo In menurut perintah. Ia keluarkan serulingnya dan meniupnya sebuah lagu yang empuk kedengarannya tapi berwibawa seakan-akan perintah- Selagi orang mengagumi tiupan seruling si bocah, kawanan ular itu perlahan-lahan telah menggelesar pada pergi dari situ. Kim Wan Thauto dan Suyangtin Ngo Houw sangat mengagumi kepandaiannya si bocah-Pemeriksaan dilanjutkan kepada Hek-liong Goyw cin. |_egn Siong minta permisi untuk pulang lebih dahulu karena kepalanya pusing katanya barusan menyaksikan kejadiankejadian yang mengagetkan dan baru pernah ia alami.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kim Wan Thauto dan lain-lain tidak keberatan si nona berlalu. Malah Buiee Hiang berkata, "Sebaiknya memang kau kembali lebih dahulu. Pemeriksaan disniakan makan waktu. Ha^aP kau jangan keterusan kaget, nanti bisa bikin kau sakit." Leng Siong bersenyum- Setelah melemparkan lirikan yang berarti kepada Lo In, si nona telah meninggalkan mereka pulang ke rumahnya. Gouw Cin baharu mau mengaku setelah tidak tahan disiksa oleh totokan yang menimbulkan seluruh badannya dirasakan sakit seperti digigiti oleh ribuan semut. "fliyoo... !" tiba-tiba Gouw Cin menjerit. Tubuhnya kontan terkulai roboh sebelumnya ia memberi pengakuan siaPa yang telah meberi pengakuan siapa yang telah menyuruh ia dan kawan-kawan datang mengacau ke situ. Kim Wan Thauto Periksa keadaan Gouw Cin, ternyata Gouw Cin telah mati dihajar oleh senjata rahasia yang membuat hangus dan bolong pada bagian bawah dari teteknya yang sebelah kiri. Senjata rahasia apa itu demikian lihainya ? Tiba-tiba Kim Wan Thauto kaget dan menggumam, "Apa senjatanya Tui Hun Lolo ?" Meskipun menggumamnya tidak keras tapi terdengar oleh Kie Giok Tong dan kawan-kawan. "Siapa ? Taysu tadi kata Tui Hun Lolo ?" tanya Kie Giok Tong kaget. Tui Hun Lolo ada satu wanita yang belum berapa tua usianya, dibawah 50 tahun namun suka berpakaian neneknenek dan senang dipanggil nenek (lolo). Sebenarnya ia masih memiliki kecantikan yang dapat menggiurkan lelaki

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ yang rakus. Nama aslinya Siang Niang Niang tapi lebih dikenal dengan nama Tui Hun Lolo atau si 'Nenek pengejar roh'. Senjata rahasianya 'Siauw'sim'hwe'cian' atau 'Panah api membakar hati' ada sangat lihai, apabila mengenakan sasarannya sang korban tidak ketolongan jiwanya. "Anak In, kemana dia anak In ?" tiba-tiba Kim Wan Thauto ingat pada si bocah. Ternyata Lo In sudah tidak ada diantara mereka, begitu juga dengan Bwee Hiang. Mereka menduga Lo In dan Bwee Hiang sama-sama mengejar si penjahat yang melepas senjata rahasia tadi dan merengut jiwanya Hek-liong Gouw Cin. Khawatir di rumah ada timbul malapetaka, maka Kim Wan Thauto ajak kawan-kawannya melihat. Tapi ternyata di rumah tidak ada kejadian apa-apa. Nyonya Teng ditanyakan halnya Lo In dan Bwee Hiang barangkali ada lihat, telah geleng kepalanya dan ia hanya lihat anaknya pulang dan masuk kamarnya karena kepalanya pusing. Kapan Kim Wan Thauto ajak teman-temannya melihat pula orang-orang jahat yang telah roboh ditotok, untuk kekagetannya mereka tidak dapatkan mereka ada ditempatnya tadi. Mereka semuanya sudah ditolong oleh kawannya sebab sudah pada kabur tidak meninggalkan bekas. Kita melihat Lo In. Si jago kecil telah mengejar penjahat diikuti oleh Bwee Hiang. Namun Bwee Hiang yang ginkangnya kalah, jauh ketinggalan oleh adik kecilnya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lo In tiba-tiba merandek kehilangan jejak penjahat yang dikejarnya, ia menyesal tapi masih penasaran kalau ilmu meringankan tubuhnya kalah oleh si penjahat. Oleh sebab mana ia berputar-putar disitu mencarinya. Tiba-tiba ia mendengar suara senjata beradu, seperti ada orang yang sedagn bertempur- Ia lantas melakukan penyelidikan, kiranya yang bertempur itu ada seorang laki-laki tinggi besar dengan wajah menyeramkan melawan seorang wanita lemah gemulai berpakaian tipis. Kaget Lo In kapan ia tegasi wanita itu wajahnya persis Leng Siong. Apakah Leng Siong yang sedang bertempur ? tanya hati kecilnya. "Hantu Ketawa, kau hari in ketemu Kim coa Siancu. Berarti lelakonmu yang jahat sudah tamat dan kau tak dapat ketawa lagi. Hihihi----" Terkejut hatinya Lo In sebab suara empuk itu ada suaranya Eng Lian atau Leng Siong. Namun dari lagaknya yang nakal berandalan Lo In menduga akan Eng Lian yang sedang berhadapan dengan si Hanu Ketawa yang ia baru lihat romannya. "Siancu, kau sudah sampai di Pek-kut-nia. Untuk apa kita bertarung, lebih baik kau ikut aku untuk bersenangsenang......" kata si Hantu Ketawa, tertawa gelak-gelak. "Kurang ajar, kau berani omong kotor di depan nonamu ?" bentak si wanita yang ternyata ada Kim Coa Siancu, si Dewi Ular Emas yang ditakuti dikalangan Kangouw. Si Hantu Ketawa haha hehe dan perhatiannya dibikin kabur oleh pakaian si Dewi Ular yang serba tipis menggiurkan. Lantaran mana ia jadi alpa dan kena dipencundangi, Ia kena ditotok jalan darahnya hingga tidak bisa berkutik.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kim Coa Siancu tertawa cekikikan melihat lawannya dikalahkan. "Enci Eng Lian, akhirnya aku kutemukan juga kau di sini......" tiba-tiba Kim coa Siancu kaget dalam ketawa cekikikannya mendengar orang berkata kepadanya. Ketika ia berpaling ternyata orang yang berkata-kata tadi ada seorang bocah bermuka hitamKim Coa Siancu geli melihat wajah Lo in yang hitam seperti pantat kuali. "Hei, anak hitam. Kau mau apa datang kemari ?" tegurnya. "Masa kau tidak kenali sama adik In-mu ?" balas menanya Lo In. "Siapa itu adik in, aku tidak kenal ! Kenapa kau panggil aku enci Eng Lian» apa kau tidak keliru lihat orang ? Hm, anak hitam... lekas kau menyingkir kesana sebelum Siancu marah lantaran kau mau campur-campur urusannya." Lo in bukannya takut malah mengulurkan tangannya hendak mencekal tangan yang halus macam kapas itu- Kim Coa Siancu berkelit dan membentak, "Bocah hitam, kau mau mampus berani kurang ajar kepada Siancu ?" "Siancu tinggal Siancu. Tapi di depanku kau adalah enci Lian-ku." jawab Lo In. Kim c°a Siancu heran. "Adik kecil." katanya. "Aku bukan enci Lian_mu, aku adalah Kim Coa Siancu dari Ang H0a pay di Coa-kok !"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kim Coa Siancu harap si bocah ketakutan mendengar disebut nama Ang Hoa Pay dan C0a-kok (lembah ular) yang seram itu, tapi untuk keheranannya si bocah malah haha hihi mendekati kepadanya dan berkata : "Enci Lian, kau jangan bikin adikmu penasaran. Lama aku mencarinya, sekarang sudah ketemu kau memungkiri namamu Eng Lian." "Adik kecil, memang aku bukannya Eng Lian \" menegaskan Kim Coa Siancu. Lo In jengkel maka tiba-tiba saja ia merangkul hingga Kim Coa Siancu menjadi kelabakan. Siancu menggunakan kepandaiannya yang tinggi meloloskan diri dari rangkulan si bocah. Dalam gusar Siancu menyerang Lo In dengan hebat. Tapi Lo in tidak membalas, ia hanya gunakan ginkangnya yang ampuh untuk bikin Siancu lelah. Watakanya yang nakal timbul, Kim Coa Siancu ditouiel telinganya dan dicolek pipinya oleh Lo In hingga Siancu menjerit-jerit mapan. "Enci Lian." kata Lo In. "Selama kau belum mau mengaku ada enci Lian-ku, akan kubikin kau marah tidak bisa dan menangis juga tidak bisa...." (Bersambung) Jilid 09 Baru saja ia akan meneruskan kata-katanya, tiba-tiba ia ingat sesuatu. Tetapi belum selesai ingatannya, tiba-tiba ia melihat ada dua sinar keemas-emasan melesat dari lengan bajunya si cantik. Untung ia sempat mengebas dengan tangan bajunya. Sinar emas itu jatuh di tanah dan ia lihat ternyata

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ adalah dua ekor ular kecil yang warnanya kekuning-kuningan. Itulah Kim Coa (ular Emas), senjata ampuh dari Kim Coa Siancu. Melihat senjata ampuhnya dapat dipunahkan, Kim Coa siancu tidak punya pilihan dari pada lari menyingkir dari si Bocah Sakti. Ginkangnya hebat, akan tetapi ia kecele sebab tiba-tiba ia rasakan- ada angin dingin lewat disampingnya, tahu-tahu Lo In sudah menghadang di depannya. "Kau mau main gila barusan ?" tegur Lo In dengan marah. Barusan ketika ia teringat sesuatu sehingga bicaranya terputus karena ia ingat bahwa kata-katanya Kim Coa Siancu rada janggal. Tidak pernah Eng Lian memanggilnya 'adik kecil', tetapi biasanya 'adik In'. Pikirnya mungkin wanita di depannya ini bukan enci Liannya. Ia waspada, maka ketika sepasang ular emasnya Kim Coa Siancu melesat dari lengan baju Siancu, Lo In sudah siap dan mengebaskan tangan bajunya hingga tidak sampai digigit oleh ular jahat itu. Seperti diketahui, ular emasnya Kim Coa Siancu (Eng Lian) sangat berbisa apabila memagut ular. Dalam tempo setengah jam tubuh si korban akan lumer dan menjadi air, lenyap tanpa bekas, syukur juga jago cilik kita dapat menyelamatkan dirinya, berkat kelihaiannya menghadapi sesuatu bahaya. "Bocah hitam Kau terlalu menghinaku " menjerit Kim Coa siancu, saking gemas ia pada Lo In yang merintangi kemerdekaannya. "siapa yang menghinamu ?" tanya Lo In heran.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Tadi kau menowel telingaku, kemudian mencolek pipiku, bukankah itu suatu hinaan? Hm Bocah, kau sekarang menang " si Dewi ular emas berkata sengit. "Hahaha " Lo In tertawa terbahak-bahak. "Bocah hitam gila, kau tertawakan apa ?" bentak Kim Coa siancu. "Perbuatan saja seperti yang kau katakan adalah wajar diantara aku dan enci Lianku. Karena enci Eng Lian adalah teman mainku. Tapi kalau kau bukan enci Lianku, baiklah aku minta maaf sekarang " si bocah menjura lalu memutar tubuh untuk meninggalkan tempat itu. Tapi belum berapa tindak ia pergi, tiba-tiba ia mendengar bentakan Kim Coa siancu: "TUnggu " Lo In merandek, "Kau mau apa la.....gi....?" terputus kata-kata Lo In karena berbareng tubuhnya berbalik, ia mendak untuk mengelakkan sinar berkeredep dari tangannya Kim Coa siancu yang menuju ke arah jidatnya, Itulah Bu im in coa (Cap ular tanpa suara), senjata rahasia yang paling ditakuti dikalangan Bulim. Gesit luar biasa jago cilik kita, setelah mendak lalu enjot tubuhnya melesat ke depan si Dewi ular emas. Baru saja ia hendak memaki Kim Coa siancu, si Dewi ular emas membentak sambil kebutkan setangan mungilnya, "Anak kecil, tidurlah "

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lo In berbareng merasa kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang setelah menghirup bau harum dari setangan Kim Coa siancu yang barusan dikebaskan. Di lain saat tampak Lo In telah roboh terlentang di tanah, tidak ingat lagi akan keadaan disekitarnya"Hihihi—" tertawa Kim Coa siancu. "Akhirnya kau dapat roboh juga, bocah hitam " ia berkatakata sendirian. Lalu ia keluarkan satu kotak kecil dari lengan bajunya, berjongkok dan kotak itu ia taruh di tanah- sebentar kemudian tampak dua sinar emas melompat masuk dalam kotak kecil itu. Kiranya yang lompat masuk tadi adalah sepasang ular emas Kim Coa siancu yang tadi kena dikebas jatuh di tanah oleh Lo In. Kotak kecil itu adalah tempatnya Kim-coa (ular emas). Apabila ditaruh ditanah, tutupnya dibuka, dari dalam kotak akan mengeluarkan bau harum yang menarik selera ular emas itu untuk masuk ke dalamnya. Maka, bila Kim Coa siancu kehilangan ular emasnya, ia taruh saja kotaknya ditanah, lantas sepasang ular itu akan masuk kembali ke kotak itu. Bau harum dari dalam kotak itu seakan-akan besi berani yang dapat menyedot ular sebagai besinya. setelah ular kesayangannya sudah masuk lagi ke dalam kotak- la simpan pula dibalik lengan bajunya. Lalu ia bangkit dari jongkoknya dan akan meninggalkan tempat itu, tetapi tibatiba ia ingat dengan si Hantu Ketawa yang telah tidak berkutik lagi. " Hantu Ketawa." kata Kim coa siancu, cekikikan ketawa.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Sekarang kau sudah tidak bisa ketawa, bukan? Kedosaanmu sudah melewati batas. Maka daripada kau nanti mengganas lagi, lebih baik aku kirim kau ke akherat saja " setelah berkata demikian, si Dewi ular emas angkat lengannya dan tiba-tiba melesat dua sinar emas menyambar tubuhnnya si Hantu Ketawa yang tentu tak dapat menangkis karena dalam keadaan tidak berdaya, sepasang ular itu telah menggigitnya hingga tubuh si Hantu Ketawa tampak bergemetaran. Kim Coa siancu lalu mendekat kotak kecilnya pada Kim-coa dan hanya sekejap saja ular emas itu sudah menyambar masuk lagi dalam rumahnya (kotak). Kemudian kota itu disimpan pula dalam lengan bajunya. "Wanita kejam " tiba-tiba Kim Coa siancu mendengar bentakan seseorang tidak jauh Ketika ia menoleh, kiranya ia sudah dikurung oleh musuhnya yang tidak kurang dari 20 orang. Entah siapa diantaranya yang membentaknya tadiMereka itu perawakannya tidak sama, ada yang kurus, gemuk, pendek dan lain-lain hingga lucu kelihatannya- Tapi rata-rata mukanya bengis-bengis, semuanya mengenakan pakaian serba hitam. "siapa yang memaki aku tadi ?" tanya Kim Coa siancu, tidak senang dia. "Wanita jahat, kau sudah mencelakakan pemimpin kami " teriak satu diantaranya, yang bukan lain adalah yang memaki Kim Coa siancu tadi- Perawakannya tinggi besar. "oo, kau-—" berbareng lengan baju si Dewi ular emas mengebas ke arah orang tadi, yang ketika itu baru akan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ bertindak ke depan. Tidak ampun lagi, ia sudah terdorong mundur oleh anginnya lengan baju. Malah ia merasa sesak dadanya dan jatuh terduduk dengan mata mendelik"Siapa lagi, h ayo maju " tantangan Kim Coa siancu. Melihat pemimpinnya dalam segebrakan saja sudah dirobohkan, maka yang lain-lainnya yang mengurung si Dewi ular emas kelihatannya jeri juga. Tapi mereka berpikir bahwa wanita di depannya ini hanyalah wanita lemah gemulai dan sendirian lagi. Mana mungkin dia dapat melawan mereka yang jumlahnya begitu banyak-Lantaran berpikir demikian, maka mereka ramai-ramai menyerbu ke arah Kim Coa siancu tapi sambil tertawa hihihihi si Dewi ular emas telah permainkan mereka. Tampak tubuhnya yang menggiurkan berputaran dikepung oleh banyak orang. Melihat tubuh yang ceking langsing dan menggiurkan dibalik pakaiannya yang sangat tipis, orang banyak itu yang sebagian besar adalah penjahat-penjahat yang doyan pelesiran sudah tentu mengeroyok tidak sungguh-sungguhMereka lebih mementingkan melihat gerakan tubuh yang menggiurkan itu sebagai tontonannya daripada buru-buru menangkapnya"Kawanan gentong nasi " tiba-tiba terdengar teriakan seseorang diantara rombongan-rombongan yang baru datang. "Kalian bukan bekerja tapi menonton sampai kapan perempuan maling ini dapat dibekuk ? Hayo, kita maju " Kiranya pendatang baru itu semuanya bergegaman senjata tajam yang dikepalai oleh seorang yang bermuka hijau, yang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ barusan membentak kawan-kawannya sebagai gentong nasi. Terdengar ia menyerukan kepada mereka yang mengepung dengan tangan kosong, "mundur semua ambil senjata Kepung wanita liar ini jangan kasih lo......" Kata-katanya si muka hijau terputus sebab dia tiba-tiba terkulai roboh- yang disusul juga oleh beberapa orang yang juga roboh terkulai dengan tidak sempat mengeluarkan teriakan lagi. Teman-temannya ketakutan, lantas pada mundur. Mereka tampak lebih penting menolong kawan daripada datang mengeroyok si nona yang ganas mengayunkan senjata rahasia tanpa suara. sementara itu yang lain, yang masih bengong bertambah kaget melihat kawan-kawan yang memberikan pertolongan pada yang mati pada bergelimpangan roboh saling susul, Itulah bukti keganasannya senjata rahasia Bu im in coa1, ialah Cap ular Tanpa suara yang dapat merembet korban lebih banyak- Dan bahkan semua manusia bila memegang tubuh korbannya. Kim Coa siancu yang sedang tertawa cekikikan melihat banyak korban berjatuhan akibat senjata rahasianya, tiba-tiba dibikin kaget oleh benda yang memercikan api yang melewatinya kira-kira lima cun (dim) dari dadanya yang putih halus. "Hehehe" suara ketawa dari seorang perempuan terdengar menyusul. Belum Kim Coan siancu hilang kagetnya, dihadapannya sudah berdiri seorang nenek tua. Terkejut si Dewi ular emas. "Tui Hun Lolo..." ia menggumam.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kau kenali juga aku, gadis cilik" kata si nenek tua yang tiada lain adalah Tui Hun Lolo. Kemudian ia menghadap ke arah Lo In yang sedang tengkurap, ia menggapai sambil berkata, "Anak hitam, kau kemari " Entah bagaimana Lo In bergerak, sekali mencelat dari tengkurapnya tahu-tahu sudah ada di depan Kim Coa siancu dan Tui Hun Lolo. "Heheh, kau punya kepandaian juga, h e " tertawa Tui Hun Lolo. si Dewi ular Emas sangat kaget, Ia mengawasi si bocah hitam dengan mata mendelong penuh tanda tanya, Ia tidak mengira si bocah dapat tahan dengan kebasan setangan ajaibnya, yang biasanya paling sedikit orang harus pingsan setengah jam kalau kena dikebas oleh setangan ajaibnya. Kini si bocah muka hitam dalam tempo sebentaran saja sudah bisa bangun lagi, betul-betul menakjubkan kepandaiannya. Kim Coa siancu belum habis mengerti dengan ilmu apa si bocah dapat memusnahkan pengaruh setangan ajaibnya, tibatiba ia mendengar Tui Hun Lolo berkata lagi kepada Lo In, "Kau tadi yang merintangi jarum mautku ?" Lo In ketawa nyengir, Ia tidak menjawab, hanya anggukkan kepalanya. "Dengan senjata rahasia apa kau dapat memusnahkan serangan jarumku ?" "Hanya dengan batu kerikil saja."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Bohong, mana bisa kau memusnahkan senjata jarumku yang lihai dengan hanya memakai sebuah batu kecil saja " Kembali si bocah ketawa haha hihi, "Itu terserah pada nenek " sahutnya. Kalau Tui Hun Lolo merasa sangat gemas pada bocah di depannya ini, sebaliknya Kim Coa siancu sangat bersyukur kepada Lo In. Bahwa tadi, percikan bunga api lima cun di depan dadanya itu adalah jarum mautnya si nenek yang kena dibentur batu kecil Lo In. Dengan mana berarti si bocah muka hitam telah menyelamatkan dirinya (Kim Coa siancu). Kini Kim Coa siancu memandang Lo In dengan perasaan penuh terima kasih. "siancu " bentak Tui Hun Lolo. "Keluarkan obat pemunahmu untuk menolong si Hantu Ketawa. Lekas, lambat sedikit jiwanya bakal melayang " Kim Coa siancu bersenyum sinis. Katanya, "Buat apa orang jahat ditolong, lebih lekas mati tentu ada lebih baik, untuk di alam baka dia mempertanggungkan dosadosanya.- Dia sangat jahat, siapa pun tidak mau menolong si Hantu Ketawa...." "Kau berani membangkang perintah si nenek ?" memotong Tui Hun Lolo. "Kenapa aku tidak berani ?" sahut Kim Coa siancu, lantang suaranya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kematian sudah di depan mata, masih berani main gila sama Tui Hun Lolo ?" "Belum tentu, nenek tua Mungkin kau yang menghadapi kematian" Bukan main marah Tui Hun kena diejek oleh gadis semuda Kim Coa siancu. Lawan-lawan tuanya tidak berani seperti si Dewi ular emas, menantang dengan tidak berkedip mata sedikitpun. Kalau tidak ada isinya, pikir Tui Hun Lolo, tentu si Dewi Ular Emas tidak bakal begitu berani menantang, Ia harus waspada menghadapinya. Apalagi ia melihat mayat bergelimpangan, korban dari keganasan si Dewi ular Esmas, gadis cilik itu bukan lawan empuk juga disampingnya kelihatan ada si bocah berwajah hitam yang kepandaiannya entah berapa tingginya. Tapi bagi hantu wanita yang pernah malang melintang tidak takut langit dan bumi, mana mau ia mengalah kepada dua bocah yang bau pupur dikepalanya aja masih belum hilang "Siancu, kau membantah keinginanku. Marilah kita menetapkan siapa yang unggul" tantangnya seraya lompat ke tempat yang lebar. senjata pentunganny a yang berupa tongkat sudah ia siapkan. Akan tetapi ketika melihat Kim Coa siancu tidak membawa apa-apa, sambil melemparkan pentungannya ke samping, ia berkata, "Baik, marilah kita main-main dengan tangan kosong " si Dewi ular Emas ketawa ngikik. Katanya,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ " Nenek tua, kau mau berkelahi ?" Tuii Hun Lolo melengak ditanya demikian. "Meskpun sudah nenek-nenek, belum tentu kau yang muda dapat menjatuhkannya " ucapnya jumawa. Tidak biasanya Tui Hun Lolo bicara dengan tenang dan agak ramah, tetapi karena ia masih tetap kuatir akan kepandaian lawan. Dia begitu muda, paling-paling masih berumur 17-tahun, bagaimana dia bisa jadi siancu kalau tidak punya kepandaian yang diandalkan? Apalagi ia mendengar orang cerita, munculnya Kim Coa siancu telah mengguncangkan rimba persilatan, maka ia tidak berani sembarangan bertindak terhadap lawan yang muda belia ini. " Kalau begitu, baiklah, aku majukan adikku dulu." sahut Kim Coa siancu ketawa. si nenek melengak. sedang Lo In juga bingung si Dewi ular Emas berkata demikian. Apa maksudnya Kim Coa siancu itu ? Belum sempat Lo In menanya, ia sudah mendengar Kim Coa siancu berkata kepadanya, "Adik kecil, kau talangi encimu main-main dengan ini nenek yang tersohor tukang mengejar roh, kau berani ?" Kim Coa siancu berkata sambil bersenyum ke arahnya. hingga Lo In kaget sebab senyuman memikat dari si Dewi ular emas adalah persis senyuman enci Liannya. Tanpa disadari si bocah nyeletuk, "Untuk enci Lian, menghadapi siapa juga aku berani" si Dewi ular emas melengak heran.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kembali dia memanggil aku enci Lian, apa memang aku ini ada enci Liannya ? siapa sebenarnya aku ini ?" Kim Coa siancu menanya pada dirinya sendiri Pikirnya, biarlah ia menyaru seperti eng Lian sehingga si bocah mau diadukan dengan si nenek jahat, Ia percaya -100 persen Lo In pasti akan menang. "Adik kecil, hayo lawan. Kau mesti menang. Kalau kalah nanti enci Lianmu marah-Hajar dia biar terkuing-kuing " berkata Kim Coa siancu, cekikikan ia ketawa. Tui Hun Lolo melotot matanya, hatinya panas bagaikan dibakar. "Jangan menghina, gadis liar" bentaknya marah"Meskipun kalian berdua mengerubuti, aku si nenek tua tidak akan takut" "Aduh sombongnya " si Dewi ular emas menggodai"satu lawan satu masih belum tentu, mau dilawan dua lagiHihihi—-" berrbareng ia berkelit dari serangan Tui Hun Lolo yang sudah tak dapat mengendalikan panas hatinya, sambil berkelit, Kim Coa siancu lari ke belakang Lo In. "Adik kecil, hayo maju Apa kau tunggu encimu marah ?" kata si Dewi ular emas. Lo In jadi kebingungan. Persis benar, ketawa, senyuman dan suaranya seperti Eng Lian. Akan tetapi kenapa kalau Eng Lian memanggil ia 'adik kecil' ? Belum pernah ia, ia selalu dengar dipanggil "adik In" oleh enci Liannya dengan mesra.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tapi melihat Kim Coa siancu benar-benar tidak mau berkelahi, sepertijuga menganggap enteng dirinya, Lo In jadi kewalahan, Ia berkata, " N enek tua, mari aku yang layani. Enciku baru turun, kalau aku sudah dikalahkan " Tui Hun Lolo yang sedang gemas pada Kim Coa siancu, ia hentikan ubernya pada si Dewi Ular emas. Ia menatap si bocah wajah hitam. "oo, kau jadi tukang pukulnya ? Baik, marilah maju, sini" menantang Tui Hun Lolo. Lo In tidak gentar dengan tantangan si nenek, ia maju mendekati Tui Hun Lolo. "Bagus, bagus. Ini baru betul-betul adikku yang manis " kata Kim Coa siancu seraya bertepuk tangan macam anak kecil. Kembali Lo In merasa heran dengan kelakuannya si Dewi ular emas sebab kata-kata yang keluar dari bibirnya Kim Coa siancu persis seperti perkataan enci Eng Liannya yang ia sangat ingin menjumpainya. Tapi, Kim Coa siancu ini apakah encinya atau bukan, urusan belakangan, sekarang ia harus melayani si nenek yang ia duga kepandaiannya tidak rendah, sebab julukannya saja si 'Nenek pengejar roh'Kedengarannya sudah seram "silahkan menyerang " Lo In mengundang pada Tui Hun Lolo. "Awas " seru Tui Hun Lolo, tubuhnya berkelebat dan menyerang dengan tipu pukulan 'ok miao pok cie' (Kucing

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ galak menubruk tikus) - serangan dilakukan dengan sekonyong-konyong sebelum lawan mengambil posisi, si nenek pikir dengan menggunakan jurus "ok miao pok cie' si anak kecil tentu tida ada jalan untuk lari. Ia kira Lo In adalah tikus jinak dan ia sendiri adalah kucing galaknya. Tidak tahunya, si bocah wajah hitam belum kena disergap, siangsiang sudah lenyap dari hadapannya. Entah bagaimana si bocah bergerak tapi yang terang, mata Tui Hun Lolo yang sangat lihai mendadak seperti lamur menghadapi Lo In. Cepat ia putar tubuh, segera ia melihat Lo In dengan tersenyum-senyum ke arahnya. Panas hati Tui Hun Lolo, kembali ia menerjang tetapi kembali ia kehilangan Lo In. Pikirnya, bocah ini tidak boleh di kasih hati. Maka ia keluarkan Tui-hun-ciang-hoat1 (Ilmu pukulan mengejar roh) ciptaannya sendiri yang meliputi 50 jurus yang hebat-hebat. Tui-hun-ciang-hoat1 ini memang lihai, spesial diciptakan oleh Tui Hun Lolo untuk berkelahi jarak jauh dengan menggunakan sambaran-sambaran anginpukulan yang disertai Iwekang. Dengan menggunakan 'Tui-hun-ciang-hoat', maka serangan-serangan si nenek juga berubah sangat dahsyat. Angin pukulannya membuat debu-debu dan pasir beterbangan. Malah ada pohon-pohon yang tumbuh di dekatnya pada tumbang, tidak tahan dengan anginpukulan Tui Hun Lolo yang sedang unjuk kesaktiannya. Belum pernah Tui Hun Lolo gagal dengan Ilmu Pukulan Mengejar Roh ciptaannya sendiri itu. Akan tetapi menghadapi si bocah wajah hitam, ia kewalahan sendiri. Tui Hun Lolo

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ hanya menggempur tapi yang digempur saban-saban lolos dari gempurannya yang maha dahsyat. Tak dapat dibayangkan kalau Lo In kena digempur oleh tenaga sakti Tui Hun Lolo, entah kemana tubuhnya akan terbang melayang. Lo In tidak mau kurang ajar terhadap orang tua yang sepantasnya menjadi neneknya, Ia tidak mau membalas serangan si nenek, Ia hanya lawan dengan kegesitan tubuhnya, bagaikan kilat cepatnya. "Anak kurang ajar Kau berani permainkan nenekmu Hmm " menggerang Tai Hun Lolo, berbareng ia perhebat seranganserangannya. Kim Coa siancu yang menonton dari jauh karena kalau dekat-dekat takut kesambar angin pukulan Tui Hun Lolo, tampak melelerkan lidahnya, Ia merasa kuatir kalau-kalaus si bocah nanti salah tindak sehingga menjadi mangsa dari tenaga sakti si nenek. Tapi, melihat kelincahan Lo In yang dengan tenang mempermainkan si nenek, ia jadi tersenyum manis. Puas hatinya karena kalau ia yang melayani si nenek, mungkin siang-siang sudah dibikin terbang tubuhnya entah kemana perginya. Melihat Tui Hun Lolo sudah mulai gelisah karena saban pukulannya tidak mengenakan sasarannya, Lo In mulai keluarkan jurus jurus dari Bu eng sin kang yang membikin si nenek kebingungan. Mula-mula Lo In gunakan jurus Thian lie pian in (Bidadari menari di dalam awan), lincah dan gesit gerakannya, yang membikin Tui Hun Lolo gelabakan. Ia nampak seperti ada enam Lo In. yang mana diantaranya Lo In, ia sendiri tidak tahu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ oleh karenanya, maka gempurannya jadi serabutan saja, bukan main dahsyatnya. Tapi hasilnya ? Nfhil Lo In lalu merubah jurusnya dengan 'Hui hong soan tah', ialah 'Angin puyuh mengitari pagoda', gerakan ini justru lebih mencemaskan si nenek yang sudah keriputan. Ia melihat seperti ada enam Lo In yang mengitari dirinya, berputaran perlahan, makin lama makin cepat sehingga mata si nenek berkunang-kunang dan tanpa disadarinya tubuhnya juga ikutikut berputar, makin lama makin cepat laksana gasing terlepas dari talinya. Kim Coa siancu sampai termangu-mangu menyaksikan adegan yang hebat itu. Bocah hitam ini sangat hebat kepandaiannya- Pikirnya, alangkah baiknya kalau dia bisa ditarik menjadi kawan dalam Ang Hoa Pay- Kepandaiannya yang menakjubkan, apakah ada dipunyai oleh sucouwnya Lam Hay Mo Lie ? Ia bertanya-tanya dalam hati sendiri-sementara Kim Coa siancu tengah melamun, adalah pertempuran sudah berhentiLo In tampak ketawa menyeringai kepada Tui Hun Lolo yang pada saat itu tengah mendeprok di tanah, tengkurep seperti anak kecil disusul dengan muntah-muntah"Hei, si nenek itu menangis " Kim Coa siancu keheranheranan dalam hatinyasetelah merasakan pusingnya hilangan, Tui Hun Lolo tidak lantas bangkit dari deprokannya.- Hanya ia berkata, "Bocah hitam, kau durhaka mempermainkan satu nenek tua, diajak berputaran sampai pusing dan muntah-muntah."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "sebenarnya aku tidak mau bikin Popo seperti ini." kata Lo In. "Tapi kenapa kau bikin aku seperti ini ?" Lo In menyeringai, "Lantaran Popo (nenek) tadi menyerang begitu ganas. Aku tidak punya lain pilihan selain bikin Popo jatuh duduk dan muntah-muntah sebagai gantinya serangan balasanku Hahaha " Dasar anak kecil tidak punya pikiran, bukannya menolong si nenek yang tengkurep mendeprok di tanah, ini malah ketawa terbahak-bahak. Lucunya Lo In malah ngajakin berkelahi lagi, katanya, "Popo, bagaimana, masih mau diteruskan ?" Tui Hun Lolo deliki matanya. "ya, kali ini kau menang, bocah hitam " sahutnya kemudian, tekanan suaranya tidak enak didengar. "Jadi, bagaimana ?" tanya Lo In, tidak mengerti ia akan kata-kata Tui Hun Lolo. "Aku menyerah kalah, buat apa bertempur lagi " bentak Tui Hun Lolo. Lo In ketawa nyengir, baru sekarang ia mengerti kata-kata si nenek tadisementara itu, si nenek sudah bangkit dari deprokannya danjalan menghampiri si Hantu Ketawa yang ternyata sudah

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tidak bernyawa lagi dan tubuhnya sudah mulai lumer jadi air akibat gigitan sepasang ular emasnya Kim Coa siancusi nenek menghela napas menyaksikan kematian konyol dari si Hantu Ketawa. "Kim Coa siancu...." ia menggumam. Berbareng ia ingat sesuatu, lantas ia celingukan tapi Kim Coa siancu yang dicari oleh matanya sudah tidak ada di tempat itu, entah sejak kapan perginya. Melihat si nenek celingukan, Lo In juga mengikuti seraya berseru, "Enci Lian, enci Lian, kau dimana ?" Kiranya Kim Coa siancu sudah lama pergi karena tidak terdengar ia menyahut, maupun bayangannya si Dewi ular emas yang cantik jelita. Lo In mencari sana sini tapi Kim Coa siancu tetap tak diketemukan. si bocah menjaid lesu. Kepalanya mendongak ke angkasa, tampak olehnya bulan sisir sudah mulai terbungkus oleh sang awan yang agak gelap. Menggunakan ginkangnya yang tiada taranya, Lo In dilain saat sudah ada pula di kampung su yang ting, dimana ia disambut oleh Kim Wan Thauto dan Kie Giok tong serta sekalian saudara-saudaranya. Lo In tidak melihat Bwee Hiang, ia lalu menanya pada Kim Wan Thauto, "Toako, enci Hiang tidak ada- Dimana dia ?" "Hah " Kim Wan Thauto kaget"Bukankah bersama-sama anak In tadi ?"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Celaka " seru Lo In. "Tentu dia kesasarjalan " "Sekarang bagaimana ?" Kim Wan Thauto kebingungan. "Nanti aku cari dia-" sahut Lo In. segera ia hendak pergi lagi tapi Kim Wan Thauto menahan si bocah untuk menanyakan tentang kepergiannya barusan. "sayang toako tidak nonton." kata Lo In ketawa nyengir. "Aku ketemu Kim Coa siancu. Entah, siapa itu Kim...." "Nanti dulu-" memotong Kim Wan Thauto kaget"Kim Co siancu kau bilang ?" "ya, Kim Coa siancu- Apa toako kenal dengan dia ?" tanya Lo In. "Aku tidak kenal tapi aku pernah dengar, orangnya cantik sekali ya ?" sahut Kim Wan ThautoLo In ketawa, kepalanya manggut. "Kau berkelahi dengannya ?" tanya Kim Wan ThautoLo In anggukkan kepala- Ia berkata, "Kim Coa siancu romannya persis enci Lianku. Entahlah, sebab dia tidak mengaku dirinya adalah teman mainku." Kim Wan Thauto mesem. Pikirnya, anak ini kepandaiannya susah diukur. Tapi sifat kekanak-kanakannya belum hilang, Itu wajar sebab Lo In baru masih hitungan -10 tahun usianya,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ maka omongan-omongannya tentu lebih banyak kekanakkanakan. "Anak In, bagaimana kau bisa lolos dari tangan Kim Coa siancu ?" tanya Kim Wan Thauto ketika melihat si bocah mulai lesu ingat sama enci Liannya. Lo In semangat ditanya demikian, Ia lalu menutur panjang lebar pertarungannya dengan si Dewi ular emas. orang-orang yang mendengar merasa ngeri ketika mendengar si Dewi ular Emas mau ambil jiwa Lo In dengan ular emasnya dan senjata rahasianya Bu im in coa, yang menggetarkan rimba persilatan. "Minum dulu, minum dulu " menyela Kie Giok Tong kepada si bocah yang sedang gembira menutur pertemuannya dengan si Dewi ular emas. "Eh, siauhiap belum makan." menyambung Kie Giok Tong, lantas ia minta tuan rumah menyuruh orangnya menyediakan makanan untuk Lo In. setelah mengisi kenyang perutnya, Lo In meneruskan ceritanya, "siancu sudah tidak bisa menang melawanku tetapi bila ia menggunakan senjata ajaibnya untuk merobohakn aku, benar dia berhasil merobohkan aku. Tapi hanya sebentaran saja aku mabuk karena setangannya karena pada saat aku roboh, aku sadar bahwa siancu sudah berlaku licik. Maka aku kerahkan Iwekangku untuk mengusir pergi hawa ngantuk- Aku pura-pura tidur tengkurup, tapi mataku waspada- Aku ingin tahu apa yang Kim Coa siancu berbuat lebih jauh- Dia menghampiri si Hantu Ketawa yang rebah tak berdaya kena totokannya, setelah ngomel, siancu keluarkan sepasang ular emasnya dan disuruh menggigit tubuhnya si Hantu Ketawa. Kesudahannya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tubuh si Hantu Ketawa lumer jadi air. Dan juga, ada datangnya Tui Hun Lolo........" "Hee, Tui Hun Lolo juga ada waktu itu, anak In ?" menyela Kim Wan Thauto" ya, justru siancu sedang lengah, si nenek membokongnya dengan jarum api membakar api. untung aku lihat. Dengan sebuah batu kerikik aku menyentil jarumnya, luput mengarah sasaran. Tiga-tiga jarumnya aku bikin jatuh hingga si nenek marah-marah- Dia menantang siancu mula-mula tapi siancu tidak mau ladeni dan majukan aku hingga akhirnya si nenek berkelahi dengan aku- Hahaha " setelah ketawa, Lo In lanjutkan ceritanya bagaimana ia menjatuhkan si nenek dengan menggunakan kepandaiannya Bu im sin kang1, semua yang mendengar pada kagum, termasuk Kim Wan Thauto yang biarpun sudah kawakan dalam dunia Kangouw"sst Ada orang datang " tiba-tiba Lo In berkata perlahan tapi tegas berkumandang di telinga mereka yang sedang ramai bicara, memuji-muji si bocah wajah hitam yang telah menjatuhkan Kim Coa siancu dan bikin Tui Hun Lolo semaput. Kaget mereka mendengar perkataan Lo In. segera suasana menjadi sunyi, hati mereka berdebaran kecuali Lo In yang nyalinya besar. "Tamu diatas genteng, lekas turun Mari kita bicara " berkata Lo in. ...

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Hihihi-..." kedengaran suara tertawa seorang wanita di atas genteng. "Kim Coa siancu...." kata Kim Wan Thauto perlahan, ia punjeri kelihatannya. Entah bagaimana Lo In menggunakan kepandaiannya sebab tubuhnya yang sedang enak duduk di kursi tahu-tahu sudah mencelat ke atas, genteng pada pecah ditumbuk kepala dan badannya lolos keluar. Di atas genteng rumah ia celingukan. Matanya yang lihai dapat melihat berkelebatnya bayangan ke arah selatan, Ia mengerahkan ilmu entengi tubuhnya untuk menguber. sebentar saja, ia sudah kehilangan bayangan tadi. Dan waktu ia sudah sampai di dekat paseban bidadari, Lo In sangat heran sebab ia lihat betul bayangan itu lari kejurusan Giok Lie Teng. Tetapi kenapa tidak kedapatan disitu ? Lo In berdiri termangu-mangu. "Adik kecil, adik kecil. Mana cnci Bwee Hiang " tiba-tiba Lo In dengar orang memanggilnya dari jurusan kali kecil di bawah jembatan yang menghubungi ke paseban bidadaroLo In lekas menoleh- Kiranya Leng siong yang sedang jalan mendatangi ke arahnya" "Heheh, kau ada disini ?" kata Lo In, ketawa agak tidak wajar. "ya, tadi siang kepalaku pusing maka aku tiduran sebentar. Ketika aku mendusin aku tanya ibu, apa kau dan enci Hiang ada cari aku. Kata ibu, kau dengan enci Hiang sedang pergi mengubar orang jahat. Aku kaget dan kuatir. setelah makan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ malam, aku lantas masuk kamar. Tapi hatiku tidak enak saja memikirkan kalian, maka aku datang kesini untuk menghibur hati yang penuh kuatir......." "Terima kasih, terima kasih-" memotong Lo In, suaranya agak mengejek"Kau kenapa adik kecil ? Kenapa kau datang sendiri, kemana enci Hiang ?" tanya nona Teng. Lo In tidak menyahut, tapi ia mengawasi roman muka Leng siong dengan tajam hingga Leng siong melengos kemaluan. sambil menunduk, Leng siong berkata lagi, "Adik kecil, mana enci Hiang ?¦ "Enci Bwee Hiang ? Mari kita bicara " berbareng ia sambar pinggang si nona, dibawa mencelat terbang ke atas Giok Lie Teng. Kaget setengah mati Leng siong, dengan tiba-tiba saja siadik kecil menyambar pinggangnya dan diajak terbang ke Giok Lie Teng. "Adik kecil, kenapa kau main-main begini ?" tanya Leng siong, waktu diturunkan dalam paseban mukanya semu merah karena jengah dipeluki si bocah muka hitam. Leng siong tidak anggap si bocah kurang ajar, sebaliknya, kelakuan Lo In itu dianggap satu demonstrasi untuk memperlihatkan kepandaiannya- Lo In adalah penolongnya dari cengkeraman si Hantu Ketawa- Kalau ia dipeluk dan dibawa terbang seperti tadi, ia anggap perbuatannya Lo In itu tidak janggal, malah menyenangkan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dalam senangnya, tiba-tiba ia dibikin kaget oleh pertanyaan Lo In. "Enci Leng Siong, apakah kau adalah Kim Coa siancu dari Ang Hoa Pay ?" "Adik kecil, kau bilang apa ?" tanya Leng siong setelah tenangkan hatinya. "Kau adalah Kim Coa siancu dari Ang Hoa Pay." "Hei, siapa itu Kim Coa siancu ?" "Kau jangan berpura-pura, enci Leng siong " "Adik kecil, kau omong apa jangan sembarang tuduh. Aku tidak kenal siapa itu Kim Coa siancu. Dengar juga baru-baru baru sekarang ini...." "Kau mau mengaku atau tidak ? Aku belum pernah marah, tapi kalau kau permainkan aku, kau tahu sendiri " "siapa mau permainkan kau? Adik kecil, jangan sembarang tuduh " "Brak" tiba-tiba suara meja pecah berantakan kena tepukan Lo In yang sedang gusar. Leng siong menjadi ketakutan. "Kau, kau...." ia berkata gugup. "Hehe, tidak mau mengaku ?" berbareng Lo In menyergap. Tubuh orang dipeluk dan digoncang-goncang sambil katanya, "Kau bukan enci Leng siong, juga bukan Kim Coa siancu, tapi.........kau adalah enci Lianku. Hahaha.... "

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Leng siong yang didekati Lo In biasanya merasa aman. Kini melihat kelakuan si bocah seperti kerasukan setan, menjadi ketakutan dan mau menangis. "Enci Lian, kau tidak mau mengaku. Tahu sendiri akan kucubit kau sebagai hukuman dari adik In-mu..." "Adik kecil, kau keliru menerka orang, jangan begini kasar " kata Leng siong serta meronta-ronta dari pelukan Lo In. Meronta-ronta percuma. Pelukan Lo In yang kerasukan setan rupanya, mana bisa terlepas demikian mudah- Malah si bocah telah buktikan ancamannya. Ia berkata, "Enci Lian, karena adikmu sudah habis sabar, jangan marah ya—." terus saja ia mencubit pipi Leng siong hingga Leng siong berteriak kesakitan. Dari takut, Leng siong menjadi marah diperlakukan kasar demikian oleh Lo In. "hei, bocah gila Kau mau apakan diriku ? Meskipun kau mampus juga, aku tidak akan mengaku sebab aku bukan enci Lianmu " Lo In tertegun. Apa betul gadis di depannya ini Leng siong adanya ? Apakah bukan Kim Coa siancu yang berkepandaian tinggi ? Ia jadi sangsi. Kalau Kim Coa siancu sudah tentu akan melawan terhadap kelakuannya kurang sopan itu. sehingga ia sangat kebingungan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dalam kebingungan dan agak malu dengan kelakuannya barusan, tiba-tiba ia mendengar orang berkata di bawah peseban, "Hihihi, bocah hitam tidak punya malu,peluki gadis orang ditengah malam...." Putus kata-katanya dan orang itu sudah lantas mau lompat pergi tapi terlambat-seperti kilat menyambar, tahu-tahu Lo In sudah ada dihadapannya- "Hehehe, Kim Coa siancu- selamat datang " berkata Lo In, ketawa menyeringai-orang itu memang benar Kim Coa siancu. Tadinya, rupanya Kim Coa siancu mau menggodai Lo In. Tapi ia tidak tahu Lo In kepandaiannya luar biasa, Ia bukan Bocah sakti kalau dapat diingusi si Dewi ular Emas demikian mudah- oleh karenanya, kata-kata Lo In seperti tidak masuk ke telinganya karena saat itu ia kesima nampak kepandaian si bocah yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Dalam kesima ia jadi tersenyum manis ke arah Lo In yang menghadang di depannya. "Enci Eng Lian, ah, kau menyaru jadi Kim Coa siancu " tibatiba Lo In berseru, menyusul. Dengan kecepatan kilat tangannya menyambar tangan si cantik yang lunak, halus. Kim Coa siancu tidak berkelit, ia kasih tangannya dipegang erat oleh si bocah wajah hitam, malah ia jadi cekikikan ketawa. Lo In tergetar hatinya, itu persis suara ketawa Eng Lian "Enci Lian, sudah kupegang sekarang. Kau tidak bisa lolos lagi " kata Lo In dengan gembira sekali. Kim Coa siancu memandang Lo In seraya tersenyum. Tampak ia merasa kasihan pada si bocah wajah hitam yang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mencari enci Eng Liannya seperti orang gila. Pikirnya, kalau dirinya ada si gadis yang dicarinya, senang sekali ia punya kawan si bocah yang kepandaiannya sukar diukur. Malah ada baiknya sekali, kalau Lo In dijadikan pembantunya untuk mengepalai Ang Hoa Pay. "Adik kecil, mari kita bicara." tiba-tiba Kim Coa siancu berkata. "Bagus, nah bicaralah enci Lian." sahut Lo In, senang hatinya. "Tidak disini, adik kecil." "Dimana ?" "Nah, disana " sahut si Dewi ular emas, seraya menunjuk kepeseban. "Baiklah, mari kita ke sana." kata Lo In. "Kau masih belum mau lepasi tangan encimu ?" Kim Coa siancu menegur seraya deliki matanya yang jeli. "Aku takut, aku takut...." kata Lo In seraya dengan perlahan melepaskan tangan si nona yang ia pegang erat-erat seperti ketakutan orang kabur saja. "Kau takut orang lari, bukan ?" tanya Kim Coa sincu, ketawa manis. Lo In tidak menjawab, hanya anggukanggukkan kepalanya. "Kau jangan kuatir adik kecil, siancu belum pernah menipu orang. Kalau tok aku dapat lari, bisa apa ? Di tanganmu, siapa yang bisa melarikan diri ?" si Dewi ular emas memuji si bocah hingga Lo In menjadi sangat bangga.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dengan menggunakan ilmu entengi tubuh, dalam sekejap saja Kim Coa siancu dan Lo In sudah ada dalam peseban, dimana tampak Leng siong sedang menangis tersedu-sedu. Ketika Lo In dan Kim Coa siancu melayang ke atas peseban, mereka menginjakkan kakinya diatas lantai dengan tidak menerbitkan suara sehingga Leng siong yang sedang tunduk menangis tidak tahu kalau dua orang itu sudah berada di dekatnya. Melihat nona Teng menangis dengan sedihnya, Lo In jadi sangat menyesal atas kelakuannya yang kasar tadi pada enci Leng siong. Mukanya kalau tidak hitam, pasti akan kentara sekali berubah merah saking jengah. Ketika diam-diam ia beradu pandang dengan Kim Coa siancu yang akhirnya tersenyum ke arahnya sambil matanya melirik pada Leng siong seakan-akan menyesalkan menangisnya gadis itu garagara perbuatannya tadi- sebelum si bocah minta maaf pada Leng siong, Kim Coa siancu sudah mendahului berkata dibelakang Leng siong, "Adik, kau jangan menangis. Adik kecil salah paham maka sudah perlakukan kau dengan kasar tadi " Leng siong terkejut mendengar dengan tiba-tiba saja ada orang berkata dibelakangnya. Dengan masih terisak-isak ia menoleh. Lebih-lebih terkejut dia karena ia melihat gadis didepannya itu seperti juga dirinya sedang berkata. Wanita itu mirip betul dengan roman mukanya, malah perawakannya juga hampir sama, kecil, langsing menggiurkan. Dalam pakaian yang serba tipis, wajah dan rambut kepala yang terawat baik, malah kelihatan Kim Coa siancu ada lebih cantik dari dirinya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Enci, kau siapa ?" tanya Leng siong, setelah hilang kagetnya. Kim Coa siancu tersenyum. "Kalau aku tidak salah dengar dari adik kecil tadi, kau ini adalah adik Leng siong, bukan ?" sahut Kim Coa siancu, tidak menjawab apa yang ditanyakan Leng siong. "ya, betul. Kau sendiri siapa, enci ?" mengulangi Leng siong bertanya. sementara itu, Leng siong sudah bangkit berdiri berhadapan dengan si Dewi ular emas yang juga merasa terheran-heran gadis di depannya ini ada duplikat dari dirinya. Pikirnya, apa bisa jadi dalam dunia ini ada hal demikian yang kebetulan sekali ? untuk sejenak ia belum bisa menjawab pertanyaannya Leng siong. Dua orang itu jadi pada berdiri bagaikan patung saiing berhadapan. Lo In yang nampak adegan itu jadi kegirangan, Ia bertepuk tangan, katanya : "sama, sama, siapa pun tak dapat membedakan enci Leng siong dan mana Lian eh, enci Lian, enciku yang kucari-cari baru ketemu sekarang...." Hampir berbareng, dua gadis jelita itu melirikkan matanya yang tajam halus ke arah Lo In. Keduanya berbareng tersenyum melihat lagak si bocah yang lucu. "Celaka " seru Lo In. "Aku berhadapan dengan dua enciku yang manis...."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ngaco " bentak Kim Coa siancu, tetapi mukanya tersenyum manis. sementara Leng siong telah menekap mulutnya dan ketawa ngikik melihat Lo In dengan lucunya telah melelerkan lidahnya ketika mendengar bentakan Kim Coa siancu. Akhirnya tigatiganya pada ketawa dengan gembira. Leng siong yang tadi merasa sangat sedih diperlakukan dengan kasar oleh Lo In, sekarang dapat ketawa enak- Ia sendiri tidak tahu kemana perginya kesedihannya itu. "Enci." kata Leng siong, setelah mereka berhenti ketawa. "AKu berhadapan dengan kau seperti juga aku lagi berkaca." "sama, pikiranmu sama denganku- Kenapa kita berdua bisa mirip sekali satu sama lain ? Betul-betul sangat mengherankan " jawab Kim Coa siancu bersenyum"Mari, mari kita duduk omong-omong." mengundang Leng siong gembira. Kim Coa siancu dan Lo In mengikuti Leng siong ambil tempat duduk-Ketika mereka sudah pada duduk, Leng siong berkata, "sayang mejanya tidak ada, barusan kena digempur adik kecil-" matanya melirik pada Lo In. Lo In jadijengah- Tapi hatinya sebentaran sebab ia lantas berkata pada si gadis, "jangan gusar enci Leng siong, aku pun merasa menyesal sudah unjuk kelakuan yang tidak genah itu"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Sudahlah-" menyela Kim Coa siancu"Kita bercakap-cakap toh tidak memerlukan meja sebab tidak ada hidangan yang untuk disikat masuk ke dalam perut." Nona Teng geli dalam hatinya mendengar kata-kata Kim Coa siancu yang lucu. "Enci, kau masih belum menjawab pertanyaanku-" kata Leng siong. "Apa itu ?" tanya Kim Coa siancu. "Kau ini siapa sebenarnya ?" "oo, aku Kim Coa siancu." "Kim Coa siancu ?" Leng siong menegasi dengan mata terbelalak"Jadi kau, kau yang dimaksud oleh adik kecil ?" "Betul, adik siong." sahut Kim Coa siancu. "Kita berdua dicurigai oleh adik kecil itu (sambil menunjuk Lo In) bahwa kita adalah enci Eng Liannya. Hihi, memang lucu dia, main menerka sembarangan saja " "Memang, dia sembarangan terka saja, membikin orang penasaran. Malah barusan dia mencubit pipiku sampai matang biru, aku jadi menangis. Ah, malu juga aku barusan menangis, orang sudah gede menangis, jelek bukan ?" kata Leng siong sambil matanya melirik pada Lo In.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Adik kecil, kita bukan enci Eng Lianmu. sekarang kau mau apa ?" tanya Kim Coa siancu seraya memandang si bocah dengan ketawa. Lo In ketawa nyengir, Ia menjawab, "Enci Leng siong boleh bilang dia bukan enci Eng Lianku, tapi kau, mana bisa mungkin ?" "Aku ?" tanya Kim Coa siancu kaget. "Apa tandanya kau menerka aku ?" "Itu kan mudah saja." sahut Lo In. "Dekat alismu yang kiri ada tai lalat. Ini tak dapat membohongi aku. Hahaha...." Tanpa disadari tangannya Kim Coa siancu diangkat untuk mengusut tanda yang dikatakan Lo In. Ia memang tahu, memang ada tanda dekat alisnya tapi bagaimana si bocah tahu, kalau ia baru kenal belum lama saja ? oleh karena dalam paseban itu hanya diterangi oleh sinar rembulan yang remang-remang, maka Leng siong tidak dapat melihat tanda pada alisnya Kim Coa siancu. Hanya hatinya berdebaran, pikirnya, gadis di depannya ini tentu Eng Lian adanya, tapi kenapa masih mungkir saja ? setelah sekian lama dalam kesunyian, tiba-tiba Kim Coa Siancu berkata, "Dari mana kau tahu aku mempunyai tanda dekat alisku ?" "Lhooo.....ini kan pertanyaan aneh ? Mana aku tidak dapat tahu, kalau kau memang ada teman mainku di lemah Tong-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ hong-gay." sahut Lo In ketawa nyengir. Disebutnya Tonghong-gay, sekilas seperti Kim Coa siancu ingat tapi lantas terlupa lagi. Begitulah ada mujizatnya obat "Ciat-jit-su-su-hun" (obat bubuk mematikan ingatan seribu hari) dari Ang Hoa Lobo, warisan dari Lam Hay Mo Lie. Tampak Kim Coa siancu duduk termenung-menung. Leng siong melihat si Dewi ular seperti merenungkan tempo yang lalu, ia sudah mau buka suara, hanya Lo In telah mendahului berkata, "Enci Lian, kau tentu belum lupa ketika kita bersama-sama naik di atas punggung rajawali, pesiar diatas lembah, bagaimana kita main-main dengan kawanan kera kita, aku meniup seruling menaklukan kawanan ular, ketika kau ngambek memukul remuk buah semangka karena jengkel aku malas antar kau menangkap ikan. coba kau ingatkan semua itu " Kim Coa siancu termenung-menung saja, seperti yang coba mengumpulkan ingatannya yang sudah lalu tapi luput untuk dapat mengingatkan lagi. sambil tersenyum, ia berkata pada Lo In, "Adik kecil, barangkali kau keliru kenali orang, sebab apa yang kau katakan tadi, sama sekali aku tidak ingat." "Baik, sekarang aku mau tanya. Apa kau masih ingat ketika kau memberikan nyali TOk gan siancu, ular kesayangan kepadaku untuk mengobati aku yang terluka parah ? Coba kau ingat-ingat lagi " kata Lo In dengan sabar. Kembali Kim Coa siancu kerjakan pikirannya yang sehat, juga sia-sia saja.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Aku tidak ingat. Tapi kenapa kau terluka parah ?" tanya si Dewi ular Emas. "Lantaran aku terlalu jujur, mau menolong si nenek, tidak tahunya si nenek sangat jahat. Dia membokong aku ketika aku mau periksa lukanya." "siapa si nenek jahat itu ?" "Pada rambut kepalanya biasa ia cantumkan kembang merah- Maka ia dipanggil Ang Hoa Lobo- Dia sangat jahatMalah sebelum aku kenal dengan kau, enci Lian, dia sudah menghukum kau kelaparan beberapa hari....." "Hei, kau bilang Ang Hoa Lobo ?" memotong Kim Coa siancu, kaget dia"ya, Ang Hoa Lobo, si nenek jahat itu " sahut Lo In. Kim Coa siancu cemberut mukanya, hingga Lo In menjadi heran. setelah deliki matanya pada si bocah, si Dewi ular emas berkata, "Anak hitam, kau jangan sembarangan menyebut-nyebut nama guruku, sekali lagi kau menyebut nama guruku. aku adu jiwa denganmu " Lo In jadi kebingungan mendengar kata-katanya si Dewi ular emas. Kenapa enci Eng Liannya menjadi murid si nenek jahat ? Bukankah Eng Lian pun juga membenci Ang Hoa Lobo ? begitu setia Eng Lian pada Ang Hoa Lobo sehingga ia dilarang menyebutkan nama Ang Hoa Lobo- Pikirnya, pasti

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dibalik kehilangan ingatannya enci Liannya ini ada sesuatu yang tidak beres. Ia tahu kalau ia mengatakan 'Ang Hoa Lobo' si Dewi ular emas akan menyerang ia karena tidak suka nama gurunya disebut-sebut. Tapi Lo In tidak takut. Malah ia ingin tahu bagaimana kesudahannya kalau ia mengatakan nama Ang Hoa Lobo lagi di depan Kim Coa siancu yang terus tidak mau kenal kepadanya. "Enci Eng Lian." kata Lo In. "Biasanya aku suka mengalah kepadamu. Tapi sekarang melihat kelakuanmu yang aneh, maaf saja kalau adikmu tidak dengar ancamanmu tadi- Aku maksudkan Ang Hoa Lobo itu adalah satu nenek jahat. Ang Hoa Lo....." Putus kata-kata Lo In karena tiba-tiba saja Kim Coa siancu menyerangnya dengan beringas. Ia kelihatan marah betul pada Lo In. sambil menyerang ia membentak. "Anak hitam, kau berani menyebut nama guruku lagi Rasakan ini" Ganas betul serangan si Dewi ular emas tapi dengan kalem dapat dilayani oleh Lo In. Dalam paseban itu, mereka jadi bertempur seru. Leng siong jadi ketakutan, Ia tadinya mengira dengan munculnya Kim Coa siancu urusan akan menjadi beres dan Lo In dapat menemukan enci Liannya. Tidak disangka urusan malah menjadi ruwet. Mereka telah bertempur mati-matian.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Untuk melerai mereka, tentu saja mustahil bagi Leng siong. Maka ia menjerit-jerit saja, katanya, "Enci, jangan berkelahi- Adik kecil, kau harus mengalahEh, enci, jangan pukul dia" Ramai teriakan mulut Leng siong. serabutan ia mengatakan sambil menjerit, melihat saban-saban Kim Coa siancu menyerang Lo In dengan tenaga penuh hingga tiang paseban tergetar kena angin pukulannya. Tiba-tiba Kim Coa siancu melesat dari paseban, melayang turun ke bawah"Anak hitam Mari, mari sini" ia menantang Lo In, "Dalam paseban tidak leluasa kita bertempur Mari disini lebih lega " Lo In juga sudah melayang turun dari paseban. " Kalau mau bela si nenek jahat Ang Hoa Lobo, boleh keluarkan kepandaianmu ajarannya di depan aku orang she Lo " kata Lo In tatkala ia sudah berada di depan si Dewi ular Emas yang wajahnya sekarang berubah menyeramkan. Kecantikan si Dewi ular emas menjadi lenyap seketika, rambutnya riap-riapan menakutkan, giginya terdengar berkeretekan, saking gemas pada Lo In yang kembali menyebut nama gurunya, malah memaki-makiHebat serangan-serangan Kim Coa siancu- Rupanya ia hendak membuktikan, memang ia akan adu jiwa dengan Lo In bila si bocah menyebut nama gurunya sekali lagi. serangan hebat hanya dilakukan dari sepihak saja, ialah oleh Kim Coa

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ siancu. sedang Lo In hanya mengegos dan berkelit, tidak membalas menyerang. Meskipun demikian. tampaknya mereka benar-benar seperti sedang adu jiwa. Leng siong menonton di atas tribun (paseban). Ia tidak bisa berdaya apa-apa untuk melerai dua orang yang sedang berkelahi- selain menjerit-jerit sampai suaranya serak, Ia pun menangis sambil banting-banting kaki- Ia menyesal tidak punya kepandaian silat yang lebih tinggi dari mereka. Kalau tidak, sudah sedari tadi ia turun tangan memisahkan dua orang yang sedang bergebrak itu. Meskipun ia hanya mengegos dan berkelit, diam-diam Lo In waspada juga kalau-kalau si Dewi ular emas nanti nekad dan mengeluarkan senjata rahasianya, sengaja Lo In tidak mau permainkan Kim Coa siancu, tidak seperti biasanya ia lenyap darl pandangan lawan dan tahu-tahu ada di belakang orang, Ia melayani si Dewi ular emas dengan sungguh-sungguh, ia punya tujuan tertentu ialah ingin membikin lawan lemas dengan sendirinya karena sudah mengerahkan tenaganya melewati batas untuk mengumbar nafsu amarahnya yang meluap-luap. Tiba-tiba Kim Coa siancu hentikan serangannya, sambil menyingkap rambutnya yang meriap ke mukanya, ia berkata, "Kenapa kau tidak balas menyerang ?" Lo In ketawa nyengir, "Aku toh bukan berkelahi dengan musuh-" sahut Lo In. "Jadi, kaupandang apa aku ini?" tanya Kim Coa siancu. "Kau adalah enci Lianku. Habis aku pandang apa lagi?"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Em Aku adalah siancu dari Ang Hoa Pay, bukan enci Lianmu " "orang boleh mengatakan kau adalah siancu dari Ang Hoa Pay tapi di pandanganku, kau adalah enci Lianku " Kim Coa siancu kewalahan, saban-saban Lo In menyebut dirinya Eng Lian, bukan siancu yang tersohor namanya dari Ang Hoa Pay. Betul-betul anak hitam ini sudah gila barang kali, pikir Kim Coa siancu, sembari matanya melotot mengawasi si bocah. Lo In tidak gubris sikap si Dewi ular Emas. Ia percaya, akhirnya ia bikin ingatan sang enci kembali pada asalnya, Ia menduga enci Eng Liannya ini sudah dikasih obat yang ia tak tahu sehingga ingatannya berubah menjadi lupa dengan kejadian yang sudah-sudah-Dugaannya si bocah tepat benar, hanya ia tidak tahu obat apa namanya yang begitu mujizat untuk menguasai Eng Lian yang biasanya sangat benci pada Ang Hoa Lobo"Berani sekarang kau menyebut nama guruku lagi ?" tanya Kim Coa siancu, suaranya agak ramah, mukanya juga sudah mulai tersenyum"Kenapa tidak berani ?" sahut Lo In, heran juga ia mendengar pertanyaan si gadis"Coba kau katakan, kalau kau ber...." Putus kata-katanya Kim Coa siancu lantaran dibikin lagi meluap amarahnya ketika Lo In memotong, katanya, "Ang Hoa Lobo, Ang Hoa Lobo, nenek jahat "

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Anak hitam kurang ajar Kau berani? " berbareng serangan dahsyat telah diulangi lagi. Angin sambaran tangannya Kim Coa Siancu sampai berbunyi siutsiut saking hebatnya ia menggunakan Iwekangnya untuk menggempur si bocah hitam yang bandel tiada taranya-Potpot kembang, bangunan tembok perhiasan yang ada disapu oleh angin pukulan Kim Coa siancu. Lo In diam-diam berpikir, gadis di depannya ini betul-betul sudah jadi gila. Tapi ia yakin benar si gadis jelita adalah enci Eng Liannya. Bagaimana pun, ia harus menolong sang enci yang diperalat oleh Ang Hoa Lobo, si nenek jahat. Tapi bagaimana akalnya ? Sembari menangkis dan berkelit dari serangan si Dewi ular Emas, diam-diam Lo In mencari cara untuk menolong Eng Lian dari kehilangan ingatannya. Tiba-tiba ia ingat sesuatu. Romannya berubah kegirangan. Entah apa yang diingat si bocah yang mendadak membuat Romannya berubah kegirangan. Sementara itu Kim Coa Siancu sudah lelah dengan sendirinya karena semua serangan hebat yang meminta banyak tenaga sia-sia saja, tidak ada hasilnya. Lo In masih terus melayani dengan penuh kesabaran. yang membikin si Dewi ular Emas tidak mengerti, kenapa serangan yang begitu dahsyat tidak dibalas oleh Lo In. Ia ingin menyerang dengan Bu im in coa ialah senjata rahasia Cap ular Tanpa suara, tapi si bocah tidak berdosa besar. Bagaimana ia bisa berlaku kejam membunuh orang yang tidak berdosa besar ? Pikirnya ia mesti ganti taktik berkelahinya, kalau tidak la akan lemas sendiri, menggempur lawan dengan tenaga penuh

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tapi tidak berhasil. Baru ia memikir akan ganti taktik, ia mendengar si bocah berkata, "Enci Lian, apa kau masih belum mau menyerah pada adikmu ?" "Siapa enci Lianmu ?" bentak Kim Coa Siancu. Sekaligus ia menyerang dengan tenaga penuh lagi sampai pohon di depannya bergoyang-goyang, akan tetapi si bocah mendadak sudah lenyap dari hadapannya. " Celaka " seru Kim Coa siancu, nampak si bocah ganti taktik, Hatinya berdebaran, kuatir dirinya akan dipermainkan Lo In seperti yang dialami oleh Tui Hun Lolo. Baru ia memikir ke situ, tiba-tiba ia merasa kupingnya ditowel dari belakang, Ia berbalik cepat tapi Lo In lebih cepat lagi memutar ke belakangnya, sekarang, pipinya kena dicolekColek bukan sembarang colek seperti lagunya Titik sandora. "Anak hitam kurang ajar amat hah " teriak Kim Coa siancu, parasnya semu merah karena dicolek pipinya oleh si nakal. "Enci Lian, kalau kau belum mau menyerah kalah, jangan sesalkan adikmu berlaku keterlaluan." kata Lo In sembari ketawa haha hihi di belakang si gadis. Panas hatinya Kim Coa siancu, sambil memutar tubuh ia membentak,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Nih, rasakan" laksana kilat menyambar Bu im in coa lepas dari tangannya si Dewi ular Emas, senjata rahasia yang sangat ganas. Kalau sudah keluar senjata rahasia Cap ular itu adalah tanda bahwa pemiliknya sudah sangat marah- Tadi, Kim Coa siancu sebenarnya tidak mau gunakan senjata dahsyatnya itu, akan tetapi ketika merasa dirinya dipermainkan Lo In dengan sangat kurang ajar dengan menowel kuping dan mencolek pipinya, ia jadi merubah niatannya. Tanpa banyak pikir lagi ia sudah gunakan senjata rahasianya itu. Hanya mengkredep remang-remang melesatnya Bu im in coa, orang yang tiada sangka itu adalah senjata rahasia yang sangat berbahaya. Cuma saja Kim Coa siancu ketemu Lo In, Hek-bin-sin-tong atau si Bocah sakti Muka Hitam yang kepandaiannya susah diukur- Maka berapa banyak juga senjata ganasnya itu dilepas, tak akan dapat menemukan sasarannya hingga Kim Coa siancu sangat cemas hatinyaMakin ia ngawur melepas senjata rahasianya, makin sering pipinya kena dicolek Lo In. saking jengkel Kim Coa siancu kepingin menangis digodai Lo In. Habis daya dia- Akhirnya ia berdiri menjublek kecapaian. Lo Injuga sudah hentikan 'olok-olokannya'- sekarang ia berada di depan si Dewi ular Emas sambil cengar cengir ketawa"Menyebalkan anak hitam ini " kata Kim Coa siancu dalam hatinyasenyumannya yang manis memikat sudah lenyap entah kemana tahu, sebaliknya mukanya cemberut memandang pada Lo In. bernas betul dia, kepingin dia mencengkeram

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ berantakan muka si bocah hitam. Tapi apa daya ? Tenaga sudah habis, senjata rahasia yang sangat ampuh sudah diobral habis, hanya tinggal sepasang ular kesayangannya.- Ia tidak berani sembarangan melepaskan sepasang ular emasnya, takut kena dibunuh oleh Lo In jika ia serangannya luput dari sasarannya. Dalam kebingungan, tiba-tiba ia rasakan dirinya dipelukItulah si bocah nakal Lo In yang memeluk erat dirinya. "Bocah gila, kau berani menghina siancu " bentaknya, seraya ia berontak hendak loloskan tubuhnya. Ini sebenarnya adalah taktik Lo In, yang membuat ia bersenyum kegirangan tadiBiasanya kalau Eng Lian dalam olok-olok kena dipeluk, si nona suka mencubit keras-keras lengannya. Pada waktu demikian ia tidak menggunakan Iwekang, dibiarkan cubitannya si nona supaya cubitannya mempunyai bekas matang biru, dengan maksud untuk menyenangkan hatinya Eng Lian. Ia bukannya mau kurang ajar, tapi perbuatan itu sering membikin lawannya seram kalau tidak mengetahui tabiatnya yang polos jujur. Begitulah Lo In mau pancing Kim Coa siancu supaya mengaku bahwa dirinya adalah enci Eng Liannya yang dicari, Ia mengharap cubitannya si nona, tapi... "Aduuuh " sekonyong-konyong si bocah berteriak mengaduh karena dengan tiba-tiba Kim Coa siancu menggigit sekerasnya hingga gigitannya si nona tertanam pada daging lengannya-Lo In dan mulut si nona belepotan darah sewaktu ia melepaskan gigitannya. Tinggal si bocah kesakitan teraduh-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ aduh seraya pegangi tangannya dan semetar itu pelukan pada tubuhnya Kim Coa siancu juga dilepaskan. Lo In tidak semudah itu dapat digigit dagingnya. Kalau si bocah gunakan Bian-kang (tenaga lunak), maka Kim Coa siancu bakal bukan menggigit daging tapi menggigit kapas rasanya. Tetapi karena Lo In sedang tiada siaga sehingga gigitan siancu itu yang tak disangka-sangka tak dapat dihindari. Tidak heran kalau Lo In teraduh-aduh. salahnya sendiri. Mau mancing cubotan akhirnya kena gigitan. Kenapa Kim Coa siancu menggigit kaya anjing gila ? Karena ketika ia meronta-ronta, buah dadanya kena ketekan. otomatis timbul reaksi seperti tempo hari Toan Bi Lomo siauw Cu Leng mau permainkan cuisian, tetapi belum berhasil sudah kena digigit hingga hilang ingatannya dan lupa akan dirinya siapa, seperti orang linglung. Apakah Lo In juga akan jatuh dibawah pengaruhnya Kim Coa siancu seperti Lengkoan Giok Lie dan Hek houw Ma Liong tempo hari ? Entahlah, sebab sampai sebegitu jauh si bocah sakti hanya mengusap-usap lengannya yang kesakitan sambil matanya mengawasi si Dewi ular emas yang cekikikan ketawa. Nona Teng dari atas paseban yang sudah berhenti menjerit-jerit merasa sangat lucu menyaksikan adegan yang terjadi di bawah paseban. nampak Lo In digigit oleh Kim Coa siancu teraduh-aduh dan si nona cekikikan ketawa, Leng siong juga menekap mulutnya yang mungil untuk menahan ketawa gelinya. setelah cekikikan ketawa enak, Kim Coa siancu berkata pada Lo In,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Anak Hitam, enak ya kena siancu gigit. Makanya, jadi orang jangan kurang a...." Tiba-tiba saja Kim Coa siancu terputus omongannya, sedang tubuhnya terkulai roboh hingga Lo In kaget dan cepat menyangganya hingga si nona tidak sampai jatuh ke tanah. Kembali siancu dalam pelukan Lo In, si nakal. Kali ini Lo In tidak nakal, malah kaget ia sebab Kim Coa siancu matanya mendelik terbalik seperti yang kesurupan, "Enci Lian, enci Lian, kau kenapa ?" tanya Lo In sambil goyang-goyang tangannya Kim Coa siancu. Tidak tahu ia apa yang harus diperbuatnya untuk menolong siancu. "Enci Leng siong kemari " teriak Lo In ketika melihat Kim Coa siancu keadaannya menguatirkan dalam pelukannya. Leng Siong mendengar panggilan Lo In lantas mau turun dari paseban tapi tidak jadi sebab melihat Lo In sudah melayang bagaikan burung membawa Kim Coa siancu dan menclok di paseban. Lo In rebahkan Kim Coa siancu di atas bangku panjang. "Enci Leng siong, lekas tolong dia " kata Lo In gugup, seraya tangannya mengoyang-goyang pipinya Kim Coa siancu yang sedang tidak sadarkan diri Leng siong sudah datang dekat, "Enci Lian, enci Lian...." si nona memanggil, ketularan panggila Lo In kepada Kim Coa siancu. si Dewi ular Emas tidak ingat orang, Ia rebah dalam pingsan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ yang membuat Lo In dan Leng siong menjadi sangat kaget, nampak mulutnya si Dewi ular Emas mengeluarkan busa, sedang matanya mendelik ketakutan. "ai, enci Lian, kau kenapa ? uh... uh... uh...." Leng siong menangis seraya peluki tubuhnya Kim Coa siancu yang mulutnya berbusa dan matanya mendelik menakutkan. Tapi Leng siong tidak takut, malah tangannya yang halus dipakai mengusap-usap mukanya Kim Coa siancu, mulutnya kemak kemik berdoa memohon supaya matanya siancu jangan mendelik saja. Benar saja permohonannya terkabul sebab dengan perlahan-lahan si Dewi ular emas telah memeramkan matanya. Mulutnya yang sudah dibersihkan dari busanya oleh Leng siong, tampak menyungging senyuman seakan-akan sedang mengimpi dalam enak tidur. "Adik kecil, kenapa kau diam saja, bukan memanggil Taysu datang kemari ?" tegur Leng siong ketika melihat Lo In berdiri mematung di dekatnya. seperti yang baru sadar, Lo In mengiakan lalu angkat kaki hendak berlalu tapi tak jadi sebab Kim Wan Thauto dengan diiringi Lima Harimau sudah kelihatan mendatangi. Dari jauh Lo In sudah berteriak. "Toako, toako, lekas kemari " Kim Wan Thauto terkejut mendengar panggilan Lo In, maka dengan dua tiga lompatan saja ia sudah meninggalkan suyangtin Ngo Houw kemudian dengan satu enjotan enteng, tubuhnya sudah berada di paseban. "Anak In, ada apa ?" tanyanya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tapi Lo In tidak menjawab hanya lari menghampiri Kim Coa siancu yang rebah diatas bangku panjang dimana kelihatann Leng siong dengan menangis. "Ai, ada apa dengan anak Hiang ?" berkata Kim Wan Thauto seraya datang dekat pada bangku diatas mana ada rebah sesosok tubuh wanita. Kurang begitu terang keadaan disitu Maklum, sang rembulan saban-saban digodai oleh melayangnya bayangan gelap hingga saban-saban ia ketutupan. Kim Wan Thauto berdebaran hatinya, ia lalu menanya, "Anak In, kenapa dengan anak Hiang ?" "Toako, dia bukan......bukan enci Hiang." sahut Lo In rada gugup, " Habis siapa ?" tanya Kim Wan Thauto seraya datang lebih dekat untuk mengenali, Ia memandang pada wajah Kim coa siancu, ia tidak kenal. Wajahnya sangat cantik, lebih cantik dari Bwee Hiang. Cuma pakaiannya agak janggal. serba tipis, takpantas dipakai oleh wanita-wanita sopan. Kapan ia tegasi lagi wajah si Dewi ular emas, tiba-tiba Kim Wan Thauto terkejut, juga Teng Hauw yang sudah ada disitu menyaksikan hatinya berdebaran. "Hai, mukanya mirip benar dengan Leng siong " kata Kim Wan Thauto"Ya, seperti pinang dibelah dua." menimpali Teng Hauw yang sedari tadi memang mau berkata akan tetapi telah didahului oleh Kim Wan Thauto-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Siapa dia, anak In ?" tanya Kim Wan ThautoDasar anak nakal, bukannya menjawab malah ia berbalik menanya, "Coba terka siapa dia, toako ?" "Kim Coa siancu....." nyeletuk Leng siong dikala Kim Wan Thauto mau mengatakan tidak kenal. "Kim Coa siancu ?" Kim Wan Thauto mengulangi dengan kaget, "ya, betul katanya enci Leng siong." menetapkan Lo In. "Bagaimana dia bisa jadi begini ?" tanya Kim Wan Thauto heran. Lo In dan Leng siong bergilir bercerita secara ringkas. "sebaiknya siancu dibawa ke dalam rumah untuk kita periksa lebih jauh-" kata Kim Wan Thauto yang segera dibenarkan oleh orang banyak. "sekarang, cara bagaimana membawanya siancu ke sana ?" Leng siong tentu tidak kuat, maka Kim Wan Thauto melirik pada Lo In, katanya, "Anak In, kau yang bawa dia ke rumah-Hayo, lekas kerjakan" ia pun lantas bertindak mendahului yang lainnya, disusul oleh Leng siong dan Lo In yang memondong Kim Coa siancuDi lain detik mereka sudah ada dalam rumah Teng HouwKim Coa siancu direbahkan di atas sebuah dipan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kim Wan Thauto aad tahu juga dalam urusan pengobatan, maka ia lalu memeriksa nadinya Kim Coa siancu yang masih terus seperti orang pulas. "Celaka, kenapa aku tolol benar " tiba-tiba Lo In berkata seraya ketuk kepalanya sendiri ketika melihat Kim Wan Thauto memeriksa nadinya si nona. "Kenapa kau bilang begitu, anak In ?" tanya Kim Wan Thauto"Ah, tidak apa-apa-" sahutnya, sebenarnya ia mau mengatakan kenapa ia lupa tadi tidak memeriksa nadinya Kim Coa siancu. sedang ia tahu banyak dalam urusan pengobatan, warisannya Liok sinshe- Ia mau menerangkan terus terang apa maksudnya ia berkata "celaka" tadi tapi ia malu. Maka ketika ditanya Kim Wan Thauto, ia hanya kata tidak apa-apa. Kim Wan Thauto menerukan pemeriksaannya. "Ah, siancu tidak apa-apa. Cuma barusan terlalu banyak mengeluarkan tenaga, badannya jadi sangat letih dan jatuh pingsan. Anak In, kau keterlaluan menggodai orang sampai siancu kepayahan. Kalau dia kenapa-kenapa siapa yang harus bertanggung jawab ? Kau, bukan ? Dia toh enci Lianmu kau bilang " berkata Kim Wan Thauto pada Lo In, ia menegur halus. Lo In diam saja- Ia merasa salah rupanya sebab biasanya ia paling cepat menangkis kata-kata orang- Memang, ia sendiri menyesal. Tahu begini akibatnya, terang ia tidak akan lakukan. Kalau enci Eng Liannya sampai tidak bisa ketolongan jiwanya, siapa yang akan menanggung sedih ? Bukankah dirinya sendiri yang menderita ?

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dalam tergesa-gesanya, tiba-tiba ia mendengar Kim Wan Thauto menanya, "Anak In, bagaimana dengan anak Hiang ? sampai sekarang dia belum kelihatan pulang " Lo In seperti tersadar, "ya, betul. Kemana perginya enci Hiang ? Biar aku pergi cari-" kata si bocah, kakinya juga sudah lantas digeraki untuk berlalu dari situ. Kemana ia harus mencari si nona, ia tidak tahu. Ia hanya menuruti saja kemana kakinya membawa dirinya. sambil mengikuti kakinya membawa dirinya, pikiran Lo In selalu melayang pada Kim Coa siancu. Pikirnya, apakah sekarang dia sudah mendusin ? Apa tidak mendapat kesulitan apa-apa dengan pingsannya yang mendadak? Ia jadi kebingungan sendiri karena ia bertugas mencari Bwee Hiang sedang hatinya kecantol oleh Kim Coa siancu di rumahnya Teng Hauw. Entah kemana perginya Bwee Hiang sebab dicari sampai dekat pagi, belum dapat diketemukan jejaknya. Lo In balik ke suyang tin. Ketika berjumpa dengan Kim Wan Thauto yang sudah bangun pagi-pagi, Lo In ditanya bagaimana hasilnya mencari Bwee Hiang. Lo In hanya angkat pundak- Katanya, " Aku sudah menggunakan ginkang ke sana sini mencari tapi enci Hiang tidak ketemu." Kim Wan Thauto menghela napas mendapat jawaban itu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Sekarang bagaimana tindakanmu, anak In ?" tanya Kim Wan Thauto"Kita berunding saja bagaimana baiknya, toako Bagaimana dengan keadaan siancu ? Apa dia sudah siuman dari pingsannya ketika aku pergi?" "Belum tapi tidak apa-apa keadaannya-" "Apa toako yakin benar siancu tidak apa-apa ?" Kim Wan Thauto tersenyum- Ia lihat Lo In agak gelisah, ia menghibur, "Kau jangan kuatir, anak In. Mungkin sekarang siancu sudah mendusin." "Dimana dia sekarang ?" tanya Lo In cepat. "Dia tidur bersama-sama dengan Leng siong." sahut Kim Wan ThautoLo In anggukkan kepala- Romannya tidak demikian tegang lagi- Tapi diam-diam ia mengharap akan kemunculannya Kim Coa siancu pada saat itu di depannyaKita tinggalkan dahulu Lo In yang menantikan kemunculannya Kim Coa siancu dan marilah kita melihat pada Bwee Hiang. Kemana sebenarnya si nona sudah pergi ? Ia menyusul Lo In dengan sia-sia saja, sebab ginkangnya kalah jauh-Hatinya merasa cemas tatkala tak dapat menyusul adik kecilnya. "Kemana adik kecil sudah pergi ?" tanya dalam hatinya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Untuk meneruskan larinya menyusul Lo In, hatinya kuatir nanti ia akan kesasar jalan. Pikirnya, ada lebih baik kembali saja ke suyangtin. Disana ia menantikan baliknya Lo In. Ia tidak kuatir adik kecilnya dapat bahaya karena ia percaya 100 persen adik kecilnya ada sangat cerdik dan tinggi kepandaiannya. Ia putar tubuhnya hendak kembali, tapi kemana ia harus ambil jalan ? Ia jadi kebingungan kehilangan jalan kembali. Maklumlah ia dibesarkan dalam rumah mewah sebagai anak gadis seorang kaya raya. Kecuali berkunjung kepada sanak Iamili, belum pernah ia bertindak jauh dari rumahnya. Kini ia berada di pegunungan yang sunyi, jalan sendirian di waktu malam demikian, rasa takut telah mencekau hatinya, oleh karenanya, ia lari sebisa-bisanya saja, tak tahu kemana tujuannya tapi dalam hati diam-diam ia berdoa supaya kakinya membawa kejalan yang betul kembali ke suyangtin. "sayang aku tidak membawa pedang." katanya dalam hati. "Kalau tidak, dapatlah pedang itu dipakai kawan dalam kesunyian malam ini." Baru saja ia mengingatkan akan pedangnya yang ketinggalan di suyangtin, tiba-tiba terdengar suara bentakan, "Berhenti " Berbareng berlompatan keluar tiga orang gerombolan yang mukanya bertopeng. Bwee Hiang kaget mendengar bentakan itu, ditambah lagi dirinya dihadang oleh lima orang, semua wajahnya pada memakai topeng hitam. Tiga orang tadi yang melompat keluar dari gerombolan pun sudah tiba di situ, jadi

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ ada 5 orang yang mengurung si nona dalam ketakutan, Ia tabahkan hatinya, menanya, "Kalian ada urusan apa menghadang dalam perjalananku ?" "Urusan sudah tentu ada, makanya tadi aku suruh kau berhenti, hahaha " sahut orang yang membentak tadiBwee Hiang tidak senang melihat orang berlaku kurang ajar, sebelum ia menyemprot dengan kata-kata tajam, ia didahului oleh salah satu gerombolan yang lain, katanya, "Nona manis, kau dari mana dan mau kemana ? Malammalam keluyuran, kukira kau adalah setan wanita yang gentayangan dipegunungan....." "Tutup bacotmu " bentak Bwee Hiang memotong bicara orang. "Aduh, galak betul ya " menimbrung yang lainnya. "Galak sih memang galak, cuma..." "Cuma apa ? Coba katakan, cuma apa ?" "Cuma seorang wanita, apa perlunya galak-galak, hahaha " "Wanita... dan wanita itu ada dua macam." "Ah, kau ini ada-ada saja, dua macam bagaimana sih ?" "Dua macam Ada wanita jelek- ada wanita.... ehm, yang ini sih-— " Demikian, 5 orang itu saling sahutan berkata membuat si nona tak punya kesempatan untuk menyemprotkan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ amarahnya- tapi, ketika orang mengatakan ada "5 macam wanita", kegusarannya sudah luber dari takaran. Tanpa pakai kata-kata lagi, kepalannya langsung berbicara hingga seorang diantaranya yang paling ceriwis dan paling depan berdirinya sudah kena bogem mentah si nona dan kontan terpelanting beberapa tindak hingga Bwee Hiang ketawa ngikik melihat orang merangkak-rangkak dengan susahnya hendak bangun lagi"Hei, kau berani pukul kami punya Lak-ko? Aduh...." Kembali orang yang berteriak itu jadi makanan kepalan si nona. Ia terpelanting seperti temannya barusan. "Hehehe, kau jagoan betul nona," kata seorang yang lain, yang maju ke depan. Kepadanya Bwee Hiang juga mau kasih hajaran. Kepalannya melayang seperti tadi, tapi ia kecele karena orang itu sudah dapat bekelit dengan bagus, sambil katanya, "Lakko dan Jiko kau bisa sesukamu, tapi terhadap aku Citko dari 'sip sam siao mo', hehe " Disekitar pegunungan Pek-kut-nia memang sudah lama ada muncul kawanan pemuda yang kerjanya mengganggu ketentraman penduduk- Mereka berkeluyuran di waktu malam untuk mencari mangsanya, sedang di waktu siang mereka dijadikan malam untuk tidur seharian. Kawanan pemuda itu umur yang paling tua antara 21 tahun dan paling muda 25 tahun, semuanya ada 13 orang yang mereka namakan 'Sip sam siao mo' atau " 13 Iblis cilik', semuanya ada berkepandaian silat.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lucunya cara mereka merunutkan kepandaian masingmasing. Biasanya orang runutkan yang atasan ada lebih pandai dari yang bawahan, akan tetapi "Siao sam siao mo' lain dari yang lain. Mereka pakai sistem ganjil ialah nomor 1 paling tinggi kepandaiannya, lalu ke-3, ke-5 dan seterusnya.Jadi yang nomor 3,4 dan lain-lainnya yang nomor genap kepandaiannya lebih rendahan dari nomor ganjil. Entahlah, apa maknanya mereka atur demikian. Akan tetapi yang terang, perbuatan-perbuatan mereka ada menyusahkan pada penduduk di sekitarnya, sudah masuk pengaduan pada yang berwajib tentang adanya gangguan itu dan oleh yang berwajib sudah dikirim beberapa orang untuk mengatasinya, tapi hasilnya nihil. Bukan saja yang berwajib kewalahan, malah ada beberapa orangnya yang tidak pulang kembali dan mayatnya kedapatan busuk di tengah jalan, oleh karenanya, yang berwajib belakangan ini 'belagak pilon' saja terhadap gangguan dari 'sip sam siao mo', meskipun banyak pengaduan yang diterimanya dari banyak penduduk. Lain kelucuan adalah cara 'sip sam siao mo' dalam cara saling memanggil, tidak ada perkataan 'te' (adik), hanya yang dipakai 'ko' (kakak), umpanya si toako (kakak yang tua) memanggil pada saudaranya yang ke-3, mestinya samte (adik ketiga), ia memanggil samko (kakak ketiga). Nama-nama aslinya sudah mereka hapus hingga orang yang kenal dengan mereka juga memanggil sama seperti mereka sebut dalam persaudaraannya. Bwee Hiang melihat serangannya gagal, ia jadi heran juga. Tapi ia tidak takut, malah ia ketawa ngikik ketika mendengar si Citko perkenalkan dirinya dari 'sip sam sio mo' dengan bangga.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "hei, kenapa kau tertawa ?" tanya Citko heran. "Aku tertawakan kau barusan menyebut 'Sip sam siao mo'. Kurang pantas nama ini bagi kalian, masa dipanggil iblis cilik. Kalau iblis itu biasanya orang yang sudah tua atau kakekkakek." "Hehehe, tahu juga si manis." kata Citko ketawa. Entah bagaimana tampangnya saat itu sebab ia memakai topeng. "Kalau pakai nama yang pantas, tak usah berabe pakai topeng segala." berkata Bwee Hiang, sedikltpun ia tidak unjukkan roman takut pada mereka. "Coba kau sebutkan nama apa yang pantas untuk kami orang " kata Citko. "oo, mudah saja. Cuma apa hadiahnya kalau aku kasih nama yang bagus ?" "Hadiahnya mudah saja, kami tidak akan perlakukan kasar padamu." "Maksudmu ?" Bwee Hiang menegas. "Kalau kau kami tangkap, tak akan diperlakukan kasar "sahut Citko. Kawan-kawan citko semua pada bergembira mendengar tanya jawab si gadis dan citko, terutama yang menarik perhatian mereka adalah gayanya si gadis dan romannya yang cantik. "Bagus," kata Bwee Hiang. "Sekarang aku namakan...."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Lekas kau sebutkan nona manis," Citko makin 'empuk' suaranya. Rupanya mengira si gadis ada 'sir' (naksir) kepadanya, ia maju satu tindak mendekati. "Sebagai gantinya 'Sip sam siao mo', kau pakai 'Sip sam siao kay', hihihi......" "Kurang ajar" bentak Citko, marah betul dia. Kiranya si nona ganti nama 'Sip sam siao mo' menjadi 'Sip sam siao kay' atau artinya '13 pengemis cilik' sehingga membuat Citko iadi sangat marah. Bwee Hiang sih benar-benar keterlaluan, masa nama yang ganteng '13 iblis cilik' diganti jadi '13 tukang ngemis', tidak heran kalau omongannya menerbitkan kemurkaan bukan saja pada Citko, tapi juga pada lain-lain saudaranya. "Kau menghina, berani kau menghina 'sip sam sio ma' ? Hm Rasakan ini" kata Citko berbareng ia ulur tangannya menjotos ke muka si nona. Bwee Hiang tidak menangkis, hanya ia berkelit ke kiri Tangan tangannya berbareng menyambar kepalan citko Tapi Citko tahu adanya bahaya, cepat tarik pulang kepalannya. Kaki kirinya digeser maju dengan menggunakan tipu 'Siao khauw tek ko' (Anak monyet petik buah), dengan kurang ajar tangan kirinya diulur hendak mencomot buah dada si nona. Tapi sebelum tangan sampai pada sasaran, dengan manis Bwee Hiang mengelak, berbareng tangan kanannya yang dibeber telah telah memotong dari samping. "Aiyoo " teriak citko karena lengan tangannya yang nakal yang hendak gerayangi tetek orang kena dibacok oleh tangan Bwee Hiang yang keras.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Citko berteriak sambil lompat mundur kesakitan, Ia merasa lengannya seperti terkutung disabat golok- bukan main sakitnya. Matanya melotot mengawasi sigadis yang tersenyum-senyum mengejek kepadanya. Mengetahui musuh-musuhnya hendak berlaku kurang ajar atas dirinya, maka Bwee Hiang rubah taktik berkelahinya. Ketika ia diserbu oleh anak-anak muda berandalan itu, ia hanya menggunakan kegesitannya hingga maksud mereka untuk menangkap si nona saban-saban kecele.Jangankan orangnya ketangkap, sedang ujung baju si nona saja, mereka tidak bisa sentuh. Sekarang mereka baru tahu kalau si nona kepandaiannya jauh lebih tinggi dari mereka. Tak dapat mereka melakukan pengepungan begitu saja, perlu meminta bantuan senjatanya. Bwee Hiang melihat gerakan mereka yang pada mencabut senjata. Bagaimana ? Apa ia juga perlu pakai senjata atau lawan terus dengan tangan kosong ? sayang Lo In tidak ada disampingnya. Kalau si bocah wajah hitam itu ada disampingnya, tentu dapat menilai lawan punya kepandaian tinggi rendahnya. Untuk membikin dirinya lebih aman, memang perlu ia pegang senjata. Dimana ia bisa dapatkan itu? Matanya melirik pada Citko yang masih berdiri bagaikan patung. Dengan satu lompatan gesit, sebelum Citko bergerak, tahu-tahu pedangnya sudah pindah di tangan si nona, bukan main gusarnya dia"Jangan kasih lolos wanita liar itu Hayo terus tangkap dia, hidup atau mati " Citko teriaki kawan-kawannya dengan sengit.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Hihihi-.. mau tangkap nonamu? Tanya dulu pada kawan saya " kata si nona. Citko dan saudara-saudaranya kaget mendengar si nona menyebutkan 'kawan saya', kalau begitu si nona ada membawa kawan, citko membentak. "Mana kawanmu ? Lekas suruh turun ke sini berkelahi" "Ini kawanku" sahut si nona ketawa seraya acungkan pedang yang dapat dirampas dari Citko. Meluap amarahnya Citko dan kawan-kawannya. "serbu serbu " mereka saling berteriak keras hingga kesunyian sang malam untuk beberapa detik lenyap. Kalau dengan tangan kosong Bwee Hiang tidak gentar, apalagi sekarang ia menggunakan pedang. Terang hatinya makin mantap. setelah terdengar treng treng trong beberapa kali, lalu disusul dengan jeritan mereka yang terluka, dalam tempo sedikit saja si nona sudah merobohkan 6 orang diantara 8 orangnya 'Sip sam siao mo'. Restan 2 orang itu adalah Citko dan jiko yang melihat gelagat tidak menguntungkan, sudah lantas undurkan diri dari pengeroyokannya atas dirinya si gadis jagoan. Tampak Bwee Hiang berdiri tersenyum-senyum mengawasi korban-korbannya yang rebah malang melintang. Kemudian ia menghampiri Citko danjiko yang tak dapat melarikan diri karena kakinya lemas.Jiko yang paling ketakutan dihampiri si nona.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Pedangmu boleh juga. Mari kasihkan sarungnya sekali." kata Bwee Hiang pada Citko dengan roman sungguhsungguhcitko tidak menyahut, ia hanya mendengus dan buang mukaTiba-tiba ia rasakan ada berkelebat bayangan di dekatnyaKetika ia mengawasi lagi ke arah si gadis, tampak Bwee Hiang sedang berseri-seri sambil memasukkan pedang ke dalam sarungnya. Citko cepat raba pinggangnya, ternyata sarung pedang sudah tidak ada lagi di tempatnya, sudah ada di sana, di tangannya si nona. sambil menggantung pedang di pinggangnya, Bwee Hiang berkata, " Nona mu belum tahu sampai dimana kejahatan kalian, maka untuk sementara kau ampunkan dulu. Kapan nanti aku dengar kejahatan kalian yang bukan-bukan, tentu akan aku datangi sarang kalian dan mengubrak-abriknya " Bwee Hiang tutup perkataannya dengan memutar tubuh hendak meninggalkan tempat itu. Belum berapa jauh ia bertindak, tiba-tiba ia merasakan ada angin ke arahnya, cepat ia mendak dan tangan bajunya mengebas ke belakang. "Aiyoo " terdengar teriak Citko dan tubuhnya roboh untuk tak bangun lagi. "Hihi, mau main senjata gelap ?" kata si nona dengan suara tawar. Citko diam-diam sangat gemas pada Bwee Hiang. Tidak rela ia dikalahkan si nona. Maka, tatkala Bwee Hiang bertindak

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ belum jauh, ia sudah keluarkan senjata pelurunya sebesar telur ayam. Ia memang pandai mainkan senjata rahasia demikian, dapat melepaskan saling susul. Biasanya ia sangat bangga dengan kepandaiannya itu. Tapi kali ini kena batunya. Apa boleh buat ia ketemu Bwee Hiang murid jago cilik kita Lo In. Tidak sembarangan dapat dibokong orang. Demikian, ketika peluru datang dekat, di kebas balik oleh tangan bajunya si nona sehingga tepat mengenakan tenggorokannya Citko. Ini yang disebut senjata makan tuan, sebab Citko roboh terus melayang jiwanya. Jiko nampak saudaranya yang ke-7 roboh dihajar pelurunya sendiri menjadi sangat sedih, berbareng ia juga takut terhadap Bwee Hiang, Ketika ia hampiri si nona badannya menggigil, malah saking takutnya ia roboh pingsan. "Hm sebegini saja nyalinya orang sip sam siao mo ?" Bwee Hiang mendengus ketika melihatjiko roboh pingsan sebelum ditanya olehnya. Ia kemudian mendekati yang lain-lainnya, yang pada rebah terluka dan merintih-rintih- semua nyalinya pada ciut, malah ada yang minta-minta ampun ketakutan di bunuh. Bwee Hiang pikir, orang-orang itu semua hanya 'gentong nasi' alias tidak berguna, maka ia lalu tinggal pergi. Ia gunakan jalan cepat. Belum berapa lama ia ingat sesuatu, lantas merandek dan kemudian putar tubuhnya balik lagi ke tempat tadi. Ternyata disanan sudah tidak ada orangorangnya 'Sip sam siao mo'. Ia banting-banting kaki, menyesal atas ketololannya. Kiranya ia balik lagi hendak menanyakan jalan ke jurusan Suyangtin, harus ambil jalanan yang sebelah mana. Dengan lesu ia bertindak pergi.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Di pinggir-pinggir jalanan banyak gerombolan rumput alang-alang dan pohon-pohon lebat, sangatlah menyeramkan di waktu malam. Maka iajalan dengan waspada. Tiba-tiba kupingnya mendengar keresekan, seperti orang jalan diantara gerombolan alang-alang, Ia jalan terus belagak pilon. "Nona manis, mau kemana ?" tiba-tiba orang bertanya. Berbareng Bwee Hiang diserang dari dua jurusan kiri dan kanan- oleh dua orang yang juga mengenakan topeng. Mereka sangat gesit. Tapi Bwee Hiang lebih gesit lagi sebab serangan mereka tanpa hasil. Si nona sudah enjot tubuhnya melayang ke depan kira-kira dua tombak, di mana ia tancap kaki seraya melolos pedangnya. Dua orang tadi ternyata punya keberanian untuk menghadapi si gadis. Ternyata mereka bukan termasuk rombongan citko tadi yang sudah dikasih hajaran dan terampun-ampun. Ketika mereka datang dekat, Bwee Hiang membentak, "Manusia hina, kalian mau bikin susah nenekmu " "Hahaha " satu diantaranya tertawa terbahak-bahak, suaranya macam gembreng pecah, tidak enak di dengar, "samko dan Kiuko sudah sampai, alamat jelek untukmu " samko dan Kiuko ialah si nomor 3 dan nomor 9 yang terkenal paling tinggi kepandaian silatnya maupun ilmu entengi tubuhnya diantara ke 13 iblis cilik itu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kalau mereka berkata dengan temberang barusan, memang wajar sebab banyak korbannya yang ketemu 3 orang itu belum pernah dapat meloloskan dirinya"Hehe, dari 'Sip sam siao mo' lagi ? " si gadis menjengak"Tidak salah, nona manis-" sahut Kiuko, seraya cengar cengir tertawa- Entah bagaimana roman mukanya pada saat itu lantaran ketutupan topeng. "Kiuko, jangan banyak cakap. Bekuk saja buat dihadapkan pada toako " kata samko. "Enak saja kau buka mulut, memangnya nonamu anak ayam mudah dibekuk ?" si nona berkata sambil mendengus. "Hahaha " tertawa samko, suaranya lebih keras dari Kiuko tadi -"Boleh maju sekaligus dua-duanya " tantang Bwee Hiang. "Wah, jagoan juga ya " mengejek samko "Memang jagoan, kalau tidak, mana bisa Citko roboh ditangannya " kata Kiuko. "citko kalian sudah menunggu kalian dalam perjalanan. Lekas maju, supaya bisa sama-sama menghadap Giam-lo-ong Mari lekas "Bwee Hiang menggapai dengan pedangnya. samko dan Kiuko marah ditantang si nona dengan jumawa. si nomor 9 yang tidak sabaran, lantas menyerang dengan sepasang golok pendeknya. Trang Trang terdengar beradunya senjata. Bwee Hiang dengan pedangnya menangkis ke kanan dan ke kiri dari

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ serangan goloknya Kiuko. Tangkisan disertai Iwekang hingga Kiuko tergetar dan lompat mundur. Ia merasakan sakit kedua belah tangannya, hampir-hampir dua goloknya terlepas dari cekalannya. "samko, maju " teriaknya seraya kembali menyerang. Benar-benar samko tidak tinggal diam. Ia maju membantui kawannya dengan senjata ruyung hingga Bwee Hiang dikeroyok berdua. Pertempuran berjalan seru. Dengan pedangnya si nona kasih perlawanan tangkas dan lincah, tidak mengasih kesempatan untuk dua lawannya menyerang dengan leluasa. "Jangan kasih lolos budak liar ini, Kiuko " kata samko. "Tentu saja. Lolos berarti kita tak dapat muka dari toako" sahutnya. "Budak ini wajahnya memang pantas buat jadi istri toako kita " "Ah, samko lihai juga matanya ya." "Toako tentu kegirangan sebab gantinya yang mati, lebih cantik," "Akur saja. Tentu kita dapat muka dan dapat hadiah dari toako" Bwee Hiang diam-diam menjadi gusar mendengar ucap kata dua orang itu. Ia mengerti dirinya mau ditangkap hidup,hidup untuk dijadikan istri ketuanya yang telah kematian

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ istrinya. Ketika samko hendak membuka mulut lagi, Bwee Hiang mendahului berkata, "Akan kuselot mulut bocormu Lihat.... " Berbareng Bwee Hiang gunakan jurus ilmu pedang kesayangannya ialah 'Bwee hiang boan wan' atau "Harumnya bunga bwee memenuhi taman". Dalam tempo pendek saja dua lawannya telah terdesak mundur berulang-ulang. "Angin keras, burung hong terbang " tiba-tiba samko berkata pada kawannya. Itu adalah kata-kata rahasia dari 'Sip sam siao mo' yang berarti "Lawan alot, lekas lari1". Kode yang umum diantara kawanan pemuda bergajul itu. Maka ketika mendengar itu Kiuko sudah lantas siap-siap menunggu kesempatan untuk angkat kaki"Nona manis, kami tidak ada tempo untuk melayani kau" berkata samko, berbareng ia melompat ke samping kanan dan Kiuko ke samping kiri lantas mereka lari dengan berpencar. "Hm Mau lari?" bentak Bwee Hiang. Tapi ia kebingungan karena harus menguber lawan yang mana diantaranya, mereka larinya terpencarjustru Bwee Hiang dalam sangsi, dua lawan yang ilmu entengi tubuhnya tidak rendah, sudah menghilang di telah kegelapan. setelah berdiri termangu-mangu sejenak, Bwee Hiang lanjutkan perjalanannya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lari belum berapa lama, tiba-tiba ia merandek mendengar ada orang memanggil, "Nona manis, nona manis, aku ada disini" Kapan Bwee Hiang menoleh ke arah orang yang memanggil, kiranya Kiuko yang sedang berdiri kira-kira sejarak tiga-empat tombak jauhnya. Bwee Hiang tidak mau kasih hati, ia cepat menguber tapi Kiuko sudah lari siang-siang dari tempat berdirinya. Entah berapa lama Bwee Hiang menguber masuk keluar diantara pepohonan, Kiuko masih belum kecandakjuga. Akhirnya ia hentikan larinya dan jalan perlahan-lahan dengan pengharapan ada orang yang datang pula mengganggu tapi ternyata tidak ada apa-apa lagi sampai cuaca mulai terang. Entah dimana sekarang dirinya berada, pikirnya paling perlu ia mencari rumah orang atau kedai makanan untuk menanyakan jalan sembari mengisi perutnya yang sudah berkeruyukan kepingin diisi"Ha, disana ada rumah-" ia berkata dalam hatinya tatkala melihat dari kejauhan ada satu rumah, entah rumah siapa ituBwee Hiang cepati jalannya, di lain detik ia sudah ada disana. Kiranya disitu terdapat 3-4 rumah, satu sama lain jaraknya agak berjauhan. Di waktu pagi-pagi begitu, rupanya penghuni-penghuni rumah malas bangun. Makanya belum ada orang satu pun yang kelihatan di pekarangan rumah. Bwee Hiang dengan perlahan menghampiri sebuah rumah diantaranya. Ketika ia hendak mengetuk pintu, tiba-tiba ia

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mendengar percakapan di sebelah dalam, Ia tidak jadi mengetuk pintu, hanya pasang kuping untuk mendengar apa yang dipercakapkan. Kiranya yang bercakap-cakap itu adalah suami istri. "Kita punya dua anak lelaki, bukannya menjadi kebanggaan orang tua, malah belakangan ini kelakuannya menjengkelkan saja." kata sang suami seraya menghela napas. Lalu melanjutkan, "sia-sia saja aku mendidik mereka dalam ilmu silat sebab mereka gunakan pada jalan yang salah- Bukannya aku mendoakan, tapi satu waktu mereka akan menemui bencana atas perbuatannya itu-" "Kau ini orang tua apa-" terdengar istrinya memotong. "Bukannya mendoakan anak-anak hidup selamat senang, ini malah sebaliknya, mendoakan anak-anak mendapat bencana. Macam apa kau sebagai orang tua ?" "Aku sudah katakan, bukannya aku ingin menyumpahnya, hanya satu waktu mereka pasti akan menemukan bencana karena perbuatannya yang tidak benar." bantah sang suami, sang istri terdiam mendengar perkataan suaminya. "Bukannya membantu orang tua berburu binatang sebagai nafkahnya, malah masuk perkumpulan. Kalau perkumpulan yang tujuannya benar, tidak apa. Ini malah masuk perkumpulan yang tidak benar. Apa nama perkumpulan itu, kau tahu ?" kembali terdengar lelaki bicara. "Tentu saja aku tahu." sahut istrinya. "Apa ?" menanya sang suami, suaranya mendengus.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "sudahlah, kita jangan bicarakan itu" "Kenapa tidak membicarakan itu, bukankah ini menyangkut nasib anak-anak kita ?" "ya, habis kau mau apa ?" "Aku mau kau turun tangan untuk menyelamatkan anakanak kita supaya mereka undurkan diri dari perkumpulan yang dinamai sip sam siao......." "Hussttt jangan sebut-sebut itu" memotong istrinya. Bwee Hiang disebelah luar dapat mendengar dengan tegas percakapan mereka. Mendengar pembicaraan itu, Bwee Hiang paham kalau tuan dan nyonya rumah bukan orang jahat, hanya anak-anaknya yang brengsek ikut-ikutan 'Sip sam siao mo-' si nona kembali urung mengetuk pintu, ketika mendengar yang lelaki bicara pula, "Aku sudah tua, tambahan sakitan saja. Kalau terus menerus si Co dan si Kian tidak merubah perbuatannya dan jadi orang benar, bisa-bisa aku mati lantarn kesal, kau tahu ?" Istrinya tidak kedengaran memberikan sahutannya. "Coba kau pikir," kata sang suami lagi. "sampai begini begini hari kemarin sore belum juga pulang, apa-apa anak-anak kita itu ? Ini gara-gara temannya si Kim dan si Goan yang ajak-ajak mereka masuk jadi anggota dari sip sam siao....." "Hussttt " memotong istrinya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ " orang kata jangan sebut-sebut itu, masih juga mau diulangi. Apa kau tua bangka ini sudah bosan hidup ?" "Aku sudah tua, paling-paling juga aku dibunuh- Takut apa " "Ngaco Kalau kau mati dibunuh, kau kira aku bakal enakenakan tinggal hidup ?" Diam-diam Bwee Hiang geli dalam hatinya- Pikirnya, setia juga perempuan itu kepada suaminya. Di dorong oleh ingin tahu, macam bagaimana suami istri itu, maka Bwee Hiang sudah mengetuk pintu rumah. "Nah, mereka baru pulang " kata sang suami. "Biar kutegur mereka " sahut istrinya. sebntar lagi, kapan pintu dibuka, nyonya rumah jadi keheranan karena yang berdiri di depan pintu bukan anakanaknya, hanya seorang gadis jelita dengan menyoreng pedang di pinggangnya. "Nona, ada urusan apa ?" tanyanya setelah kagetnya hilangan. Bwee Hiang tersenyum manis, Ia menjawab, "Aku kesasar semalaman. Kalau bibi tidak keberatan, ingin aku menumpang tinggal sebentaran untuk menghilangkan letih. Nanti akan kuganti ongkos sekedarnya untuk kebaikan bibi." "oh, kau kesasar ? Mari, mari masuk-" mengundang nyonya rumah-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bwee Hiang bertindak masuk- Di dalam ia dapatkan seorang lelaki dari usia pertengahan, romannya pucat dan agak lesu. Rupanya dia ini tuan rumah, pikir si gadisorang laki-laki itu bangkit dari duduknya ketika melihat Bwee Hiang bertindak masuk dengan membekal pedang, Ia menyambut dengan hormat, sedang si gadis menjura kepadanya sambil berkata, "Mohon paman memaafkanku, pagi hari begini datang mengganggu ketentramanmu. Aku semalaman kesasar jalan, maka aku minta kepada bibi tadi menumpang tinggal sebentara disini untuk menghilangkan lelah-" "oo, boleh- Kenapa mesti bilang mengganggu ketentraman segala." sahutnya ramah"Mari duduk disini-" mengundang nyonya rumahBwee Hiang tidak pakai malu-malu, ia menghampiri bangku dan duduk diatasnyaTuan dan nyonya rumah temani sigadis yang tengah betuli ikat rambut kepalanya yang aduk-adukan. Mereka mengawasi parasnya Bwee Hiang yang cantik, setelah kesengsem dengan kecantikan si nona, nyonya rumah melirik pada suaminya yang ketawa nyengir ke arahnya ketika istrinya mengedip kepadanya dan acungkan jempolnya. sang suami rupanya mengerti akan alam pikiran sang istri yang menghendaki seorang anak gadis yang demikian cantiknya. "oh " tiba-tiba nyonya rumah berkata, seperti baru sadar. Berbareng ia sudah bangkit dari duduknya, pergi ke belakang.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tidak lama ia sudah muncul lagi dengan barang hidangan sekedarnya. "Wah, aku jadi membikin repot bibi saja." kata Bwee Hiang ketika nyonya rumah meletakkan barang hidangan di atas meja. "Ah, tidak sama sekali." sahutnya. "Kau semalaman kesasar di pegunungan, sudah tentu sangat kelaparan bukan ?" Bwee Hiang anggukkan kepala melihat nyonya rumah tersenyum ke arahnya. Air teh hangat segera dituan ke dalam cangkir masingmasing oleh nyonya rumah, sambil berkata, "Mari nona, silahkan minum dan coba kuenya yang ada." Bwe Hiang girang hatinya menemui nyonya rumah demikian ramah tamah"Mari paman, kita mulai." mengundang Bwee Hiang. Dengan tidak malu-malu lagi ia angkat cangkir teh, dihirup isinya sampai habis. Hawa hangat terasa dalam badannya setelah minum air teh, lalu ia menjumput kue dan disikatnya dengan bernapsu. Dari tanya jawab yang berlangsung, Bwee Hiang dapat tahu kalau tuan rumah itu she Phang, lengkapnya Phang Leng cu. Tinggal dalam daerah pegunungan pek-kut-nia sudahtahun bersama istri dan dua anak lelakinya, pekerjaannya berburu binatang yang hasilnya dijual untuk menutup ongkos sehari-hari-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Dua anak lelaki itu kembar." menerangkan Leng cu. "Mereka biasa membantu aku berburu. Tapi belakangan ini sangat malas dan malah ma....." sang istri deliki mata ke arahnya, hingga ia tidak meneruskan omongannya-Leng cu menundukkan kepala seraya menghela napasBwee Hiang lihai matanya, dapat melihat kode dari nyonya rumah tadi yang melarang sang suami meneruskan bicaranyasi gadis mengerti karena sudah mendengar percakapan mereka, yang dimaksud Leng cu adalah 'masuk sip sam siao mo'. Si nona menghibur, katanya, "Anak-anak belum dewasa, memang suka menjengkelkan orang tua. Tapi paman, jangan lekas putus asa. Kalau mereka sudah cukup dewasa dan bisa menggunakan pikirannya, sudah tentu tabiatnya akan berubah." "Kau bicara betul, nona. orang tua ini sebagai ayahnya, tidak punya pikiran ke situ. Maunya uring-uringan saja dan menyesalkan si Co dan si Kian tidak berbakti, tanpa memberi nasehat kepada anak-anaknya." kata nyonya rumah"Nona rupanya pandai ilmu silat, maka pedangnya tidak ketinggalan." kata Leng cu, menyimpangkan pembicaraan barusan. "Ah, aku hanya belajar silat kampungan saja." sahut si gadis merendah-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Aku bawa-bawa pedang hanya sebagai teman saja, menghilangkan kesepian dijalanan." "Sebenarnya nona hendak kemana ?" tanya nyonya Leng cu. Bwee Hiang pikir, tidak perlu ia memutar sewajarnya, maka ia menjawab, "Aku keluar bersama teman, tapi dijalanan aku berpisahan untuk suatu urusan. Mungkin temanku itu sudah balik ke suyangtin. Aku hendak pulang ke sana tapi tak menemui jalanan, malah kesasar dan sampai disini-" Leng cu manggut-manggut. "Aku tinggal disini sudah lama, tapi belum pernah pergi sana sini. Maka tidak tahu dimana letaknya suyangtin." berkata ia kepada Bwee Hiang. "Kalau kutahu, tentu aku bisa unjukkan dimana letaknya, meskipun aku tidak mengantar sendiri nona ke sana." Bwee Hiang tadinya hendak menanyakan dimana letaknya suyangtin, tapi tidak jadi karena sekarang sudah mendengar tuan rumah tidak tahu dimana letaknya dusun dari Lima Harimau itu. Hatinya menjadi tidak tentram, kuatir tidak berjumpa pula dengan Kim Wan Thauto dan adik kecilnya Lo In. Tengah ia termenung-menung memikirkan nasibnya, tibatiba pintu digedor secara kasar dari sebelah luar. Tampak nyonya rumah tergopoh-gopoh lari ke pintu dan membukanya. Dua anak muda kelihatannya berjalan masuk- Mukanya sama, perawakannya juga sama. hanya yang jalan

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ belakangan ada sedikit tinggian. Tidak jelek wajah dua pemuda itu, cuma sikapnya kasar terhadap orang tua. Mereka anggap sang ibu yang membukai pintu sebagai pelayannya saja. Malah mereka menyahut kasar sekali ketika ditegur ibunya, kenapa mereka baru pulang sejak pergi kemarin sore. "Ibu untuk apa banyak tanya ?" bentak Teng Co"Apa ibumu tidak boleh menanya ?" balik tanya sang ibu"Pergi dan pulang kami berdua tak usah ditanya, pekerjaan ibu hanyalah membukai pintu, selesai " kata Teng Kian, sang adik, "sstt Jangan omong keras-keras- Di dalam ada tamu-" kata sang ibu. "Tamu siapa ? Pakai terima tamu segala " menggerutu Teng Co, seaya hendak berjalan masuk tetapi dicegah oleh adiknya Teng Kian sambil berkata, "Kita intip saja siapa tamu itu" Mereka mengintip di balik tirai yang memisahkan dua ruangan, depan dan tengah- Bwee Hiang di ruangan tengah sedang bercakap-cakap dengan tuan rumahKapan mereka lihat siapa yang berada di dalam, hampir berbareng mereka mundur setindak dan saling pandang hingga sang ibu menjadi heran. "Kalian kenapa ?" tanya ibunya, tidak mengerti akan kelakuan dua anaknya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "sstt " Teng co tempelkan jari di mulutnya, sekarang ia yang memberi tanda pada sang ibu agar jangan omong keras-keras. "Memangnya kenapa ?" tanya lagi sang ibu perlahan. "Nona itu adalah nona yang semalam menghajar kami orang dari sip sam siao mo-" jawab Teng co perlahan, hampir berbisik, "Aku kuatir dikenali dia, bisa runyam " sang ibu terkejut, Ia bertanya, "Apa kalian berdua juga turut mengeroyok ?" Teng Co dan Teng Kian manggut berbareng. " Celaka " seru sang ibu perlahan. "Dengan berapa orang kalian mengeroyok?" "Delapan orang, malah Citko binasa ditangannya " sahut Teng Kian. Nyonya rumah menggigil badannya, Ia ketakutan, dalam hatinya mengira kedatangan si nona tentu mencari dua anaknya. Mungkin akan dibinasakan "Ai, kenapa kalian ikut-ikutan ?" menyesalkan si nyonya. "Bagaimana tidak ikut-ikutan kalau perintah toako "jawab Teng coNyonya rumah tak sempat bicara karena matanya berkacakaca. Ia sedih akan kelakuan anak-anaknya. Pikirnya, apakah kedatangan Bwee Hiang seperti apa yang dimaksudkan oleh

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ suaminya tadi, bahwa anak-anaknya bakal menemui bencana ? "twako, mari kita keluar lagi " ajak Teng Co pada saudara mudanya. "Nanti dulu." sahut Teng Kian. "semalam kita mengeroyok dia pakai topeng, kalau kita ketemu dia sekarang, mana dapat dikenali ?" "Ah, aku takut dikenali." kata Teng Co, jeri ia untuk masuk ke dalam. "Tidak. coba mari ikut aku " mengajak Teng Kian, yang ternyata ada jauh lebih tabah dari sang kakak- Karena begitu ia habis mengucapkan kata-katanya lantas membuka tirai dan berjalan masukTeng Co kepaksa mengikuti di belakangnya. Di depan sang ayah, dua anak itu memberi hormat dan menanyakan kesehatannya hingga Leng cu menjadi melengak keheranan sebab tidak biasanya dua anak itu berlaku demikian. Diam-diam ia jadi girang, dua anaknya itu bisa unjuk kelakuan sopan di depannya sang tetamu, Ia berkata pada dua anaknya, "Heeiii, kalian memberi hormat pada cici ini yang kebetulan mampir dalam rumah kita." Teng Kian dan Teng Co menurut, yang mana dibalas oleh si nona dengan semestinya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bwee Hiang sudah termasuk gadis Kangouw, tidak kikukkikuk lagi menghadapi dua pemuda itu, malah ia belaga pilon atau seakan-akan ia baru ketemu dengan mereka. Hanya sebentaran Teng Co dan Teng Kian pasang omong, la lalu permisi meninggalkan tamunya dengan alasan ada urusan yang harus dibereskan. Mereka menganggap si nona sudah kena dikibuli, tidak mengenali mereka. "Nah, aku bilang juga apa ?" kata Teng Kian ketika mereka sudah berada berduaan dalam kamarnya. "Tentu dia tidak mengenali kita, sebab kita mengenakan topeng semalam." "Coba kita ngeloyor keluar, tentu akan menerbitkan kecurigaan." "Kau benar, bisa memikir panjang, Pweko (kakak ke-8?)-" kata Teng Co"siko (kakak ke-4) suka gampang mundur saja sihSelamanya kita tak dapat mengerjakan urusan besar dan mendapat pujian dari toako" kata Pweko alias Teng Kian dengan bangga barusan dipuji sang engko "Kau bilang urusan besar, apa maksudmu dengan kata-kata itu ?" tanya siko "Haha, kalau kita dapat mempersembahkan dia untuk toako, bukan itu suatu perbuatan yang besar yang kita sudah lakukan?" "Dia begitu lihai, mana bisa kita berdua dapat menggempurnya ?"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "ah, kau benar-benar sangat tolol. Kalau kita terangterangan berkelahi dengannya, sama saja dua ketimun ketemu duren. Tentu tidak bakal menang Tapi kita haru menggunakan akal untuk menangkapnya, hahaha " siko menjadi heran melihat tingkah laku adiknya, Ia lalu menanya akal apa yang akan diandalkan untuk menangkap Bwee Hiang. "Mari aku kasih tahu." sahut si adik denagn bangga, siko mendekati adiknya yang lalu berbisik di telinganya. "Ah, kau benar-benar jempol " memuji siko seraya acungkan jempolnya. setelah berunding, kakak beradik itu lantas masuk tidur. Hulah kerjanya anggota 'Sip sam siao mo', siang dipakai malam, malam dipakai siang, jadi terbalik menggunakan tempo seperti dengan orang-orang biasa. Di lain ruangan, tampak Bwee Hiang enak-enak saja ngobrol dengan Leng cu dan nyonya rumah- Kalau sang suami kelihatan gembira kongkouw dalam hal ilmu silat dengan Bwee Hiang, adalah sang istri kelihatan murung sajaLeng cu mengira istrinya mendongkol pada dua anaknya, maka ia tidak menanyakan sebab apa kemurungannya itu. Akan tetapi Bwee Hiang diam-diam sudah tahu kekesalan nyonya rumah yang merasa kuatir akan keselamatan dua putranya, si gadis yang lihai pendengarannya sudah dapat menangkap pembicaraan mereka dibalik tirai tadiMula-mula ia lihat nyonya rumah sangat gembira melayani ia bicara, itu sebelum anak-anaknya pulang. Akan tetapi sesudah anak-anaknya ada di rumah, kelihatannya nyonya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ rumah berubah sikapnya seperti sedang berduka. Tapi, untuk itu, si nona belaga pilon. "Aku masih merasa letih." tiba-tiba Bwee Hiang berkata. "Bagaimana kalau aku malam ini menginap semalam disiniApa kalian tidak keberatan ?" Nyonya rumah diam, tapi Leng cu lantas menjawab, "Tidak, tidak, malah kita senang sekali kalau nona tidak mencela rumah kami yang buruk ini-" Nyonya rumah melengak- ia melengak terkejut- Pikirnya, si nona menginap dalam rumahnya, apakah hendak melakukan pembunuhan atas mereka serumah diwaktu malam? oh, sungguh ngeri sekali kalau sampai ada kejadian demikian. Ia sebisa-bisanya tindak perasaan takutnya, tampak mulutnya tersenyum ramah dipaksakan hingga Bwee Hiang dlam-diam merasa geli dalam hatinya. "Nah, aku sudah makan cukup hidangan kalian. Aku akan pergi dulu dan sebentar sore aku balik untuk menginap disini-" kataBwee Hiang tiba-tiba permisi berlalu. "Kau hendak kemana, nona ?" tanya Leng cu. "Aku hendak cari tahu dimana letaknya dusun suyangtin." sahut si nona. "Baiklah kalau begitu." kata Leng cu. "Beberapa lie dari sini, kau akan ketemu beberapa rumah yang juga penghuni-penghuninya adalah memburu binatang

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ seperti aku. Kau tanyakan saja disana, barangkali saja mereka tahu." "Terima kasih, paman. Nah, bibi, saya permisi dulu " kata Bwee Hiang seraya bangkit dari duduknya dan bertindak keluar dari rumah diantar oleh nyonya rumah dan tuan rumah. setelah si nona pergi dan tidak kelihatan bayangannya lagi, Leng cu menanya pada istrinya, "Aku lihat kau hilang kegembiraan terhadap si nona. Apakah kau tidak senang kepadanya ? Tidak biasanya kulihat kau perlakukan tamu macam begini-" "Aku bukannya tidak senang." jawab sang istri. "Dia itu adalah algojo yang akan membasmi kita serumah, kau tahu ?" "Hah " Leng cu terkejut bukan main. "siapa bilang ? Dari mana kau tahu ?" sang istri lalu cerita apa yang ia dengar dari dua anaknya, bahwa si nona semalam sudah menghajar kawanan 'Sip sam siao mo' kocar kacir. "Aku menduga kedatangannya si nona itu adalah alamat bencana bagi kita sekeluarga." kata sang istri, tubuhnya menggigil. "Bagaimana baiknya sih, uh, uh, uh-..." ia menangis sedih dan ketakutan. Jangan ketakutan dulu." membujuk sang suami.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Apa sudah jelas niatnya itu ? Memangnya dia sudah mengenali bahwa anak-anak kita anggota kumpulan brengsek itu ? Belum pasti duduknya soal sudah menangis ketakutan " (Bersambung) Jilid 10 Nyonya rumah rupanya anggap kata-kata suaminya beralasan, maka perlahan-lahan nangisnya berhenti. Lalu berkata, "Biar pun begitu, kita harus sedia payung sebelum hujan. Kita harus cari akal supaya kita lolos dari bencana " "Dasar anak-anak kita yang membawa sial, maka kita jadi menghadapi kesulitan ini." "Sekarang sudah terjadi begini, kau masih mau sesalkan anak-anak kita ?" Leng Cu membungkam. "Memangnya kau sudah tidak punya otak untuk mencari pikiran baik ?" kata nyonya rumah ketika melihat suaminya membisu seribu bahasa. "He hehe," ketawa Leng Cu. "Sekarang begini saja. Sebentar sore si nona akan balik untuk menginap di rumah kita. Nah, saat aku benah-benahku dan apa yang perlu supaya datang sudah beres tempat tidur untuknya. Kita nanti lihat, bagaimana sikapnya terhadap kita. Kalau melihat gelagat baik, tidak apa. Tapi kalau sebaliknya, tidak ada salahnya kalau kita berdua berlutut minta ampun kepadanya."

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Nyonya rumah tidak berkata-kata lagi. Ia sudah lantas ngeloyor tinggalkan suaminya untuk menyiapkan kamar bagi si nona. Bwee Hiang keluar hari itu telah mencari keterangan halnya Sip sam siao mo. Dari keterangan yang dikumpul, ia dapat kenyataan bahwa 'Sip sam siao mo' sangat sewenang-wenang dalam sepak terjangnya. Bukan sedikit yang dibikin susah olehnya. Malah ada beberapa penduduk yang punya gadisgadis cantik parasnya sudah diculik. Kabar halnya gadis-aadis diculik yang membuat si nona amat gusar dan menimbulkan keinginan untuk membasmi 'Sip sam siao mo', guna membebaskan penduduk dari gangguannya. Ketika cuaca mulai remang-remang gelap, tampak Bwee Hiang pulang ke rumahnya Leng Cu, disambut Leng Cu suami istri dengan ramah- Mereka tidak nampakkan perubahan apaapa wajahnya, malah nyonya Leng Cu yang Bwee Hiang lihat paling belakangan ada murung, kini ia lihat dalam gembira. senang Bwee Hiang ketika nampak ia sudah disediakan tempat yang serba bersih untuk melewatkan sang malam dalam rumahnya Leng Cu. "Bagaimana, apa sudah dapat keterangan dimana letaknya suyangtin ?" tanya Lengcu pada Bwee Hiang sambil ketawa. "Menyesal, tidak seorang pun yang tahu letaknya." sahut si nona. sebentar lagi Bwee Hiang dijamu makan sekedarnya, tapi si nona menolak- Katanya ia sudah kenyang makan diluaran. Tuan dan nyonya rumah tidak memaksa, mereka lantas makan berduaan saja.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bwee Hiang heran melihat mereka makan berduaan saja, kemana perginya dua anaknya ? Maka ia lalu menanya, "Bibi, kemana anak-anakmu ? Kenapa tidak diajak makan bersama ?" "oo, mereka ada urusun diluaran. Mungkin besok pagi baru kembali. Mereka sangat repot dengan pekerjaannya yang baru rupanya." sahut nyonya rumahBwee Hiang bersenyum- Ia tidak menanyakan lebih jauh, hanya ia berkata. "Aku sangat lelah- Maafkan aku, aku ingin masuk tidur lebih dahulu " Bwee Hiang berkata sambil kakinya melangkah ke sebuah kamar yang hanya teraling oleh kain panjang yang merupakan tirai. sang malam pun sudah bertambah larut hingga kedengaran suara ngeros Bwee Hiang yang kecapaian rupanya. Tuan dan nyonya rumah pun sudah pada masuk setelah mereka bercakap-cakap sebentaran. Dalam kesunyian sang malam, tiba-tiba tirai yang menghalangi ruangan Bwee Hiang tidur pelan-pelan telah tersingkap. Di lain detik dua orang sudah berdiri dekat pembaringan memandang pada si nona yang tidur telentang. si nona tidur dengan tidak tukar pakaian, pedangnya juga tetap tersoren di pinggangnya. Melihat itu, kedua orang itu menjadi seram juga. sebaliknya, melihat si nona tidur pulas dengan mulut menyungging senyuman dan wajahnya yang cantik menarik, membuat jantungnya mereka berdebaran.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "siko, sayang amat gadis begini cantik dikorbankan untuk toako kita yang sangat kasar." kedengaran seorang berbisik, tiada lain adalah suara Pweko-siko tidak menyahut, ia hanya angguk-anggukan kepalanyaMatanya terus mengawasi parasnya Bwee Hiang. "ya, apa mau dikata, kita sudah janjikan. Masa kita tarik pulang janji kita ?" sahut siko kemudian. "sekarang bagaimana kita bawa dia kesana ?" tanya pweko "Kita ringkus saja. Dia toh sudah tidak berdaya kena pengaruh asap hio pulas kita yang mujarab. Paling sedikit dia akan kepulesan satu jam lamanya. Kita tentu sudah sampai disana. Apalagi toako janjikan mau kirim kereta untuk menyambut kita dalam perjalanan." "Begitupun bagus." sahut Pweko "Mari kita mulai kerja " Pweko berkata sambil ulur tangannya memengang lengan si nona yang halus untuk dikasih duduk dan ditelikung kedua tangannya. "Nanti dulu Pweko " kata siko ketika melihat si nona sudah dikasih duduk dan mulai hendak ditelikung kedua tangannya, sambil berkata siko mendekati si nona, memandang paras orang dari dekat. Bau harum telah menusuk hidungnya hingga napsu birahi dari anak muda yang sedang galaknya tak tertahankan, mukanya nyelonong dengan tiba-tiba hendak mencium bibir yang merah semringah itu

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ 'cuh ' tiba-tiba ludah kental melesat dari mulut Bwee Hiang mengarah mata kirinya si bangor hingga siko berteriak mengaduh dan tangannya menekap matanya yang kesakitan. Belum sempat mulutnya dibuka untuk memaki, kembali suara 'cuh' terdengar lagi dan mata kanannya kini yang kesakitan dan siko menjadi buta oleh karenanya. Kedua tangannya serabutan untuk mencari pegangan, sebelum pegangan dapat dipegang, ia merasa dadanya sesak kena dihantam sepatunya Bwee Hiang. Ia roboh terpelanting dan tidak bangun lagi. Kemana Pweko, kok diam saja ? Kiranya ia sudah terlebih dulu roboh kena ditotok jalan darahnya bagian dada (Ubunhiat). Pweko roboh tak berdaya masih mending, tidak cacat, sedang kakaknya (siko) roboh dengan kedua matanya buta kena diludahi si nona yang disemprotkan dengan IwekangCepat si nona bangkit ketika melihat dua orang sudah menjadi korban totokannya. Baru ia melangkah melewati tirai, ia dihadang oleh dua orang yang tengah berlutut hingga ia menjadi terkejut. Kiranya yang berlutut itu tiada lain adalah tuan dan nyonya rumahBwee Hiang lihat nyonya rumah bercucuran air matanya, sedangkan suaminya matanya berkaca-kaca ketika memandang ke arahnya. "Liehiap." kata Leng Cu dengan suara parau. "Kami berdua suami istri menyerahkan diri untuk menerima hukuman atas perbuatan dua anak kami yang durhaka "

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Hehehe, terima salah ?" kata Bwee Hiang. "Kalian bersekongkol untuk menyusahkan nonamu, ya ? Bagus, bagus perbuatan kalian." Bwee Hiang sudah memperhitungkan akan kejadian malam itu- Ia menggeros tidur hanya pura-pura saja, sementara ia sudah menelan pil pemunah obat pulas pengasi Lo In hingga asap hio pulasnya Pweko yang mujarab tidak mempan. Lo In sengaja bekali si nona pil pemunah obat pulas itu sebab ia kuatir Bwee Hiang pada suatu ketika psti akan mengalami kesulitan dari orang jahat dalam perantauannya karena dalam setiap rumah penginapan mereka tidur terpisah hingga si bocah tak dapat melindunginya. Bwee Hiang percaya penuh akan nasehat guru ciliknya. Maka setiap ia masuk tidur, ia selalu menelan satu pil untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diingini-Kejadian barusan itu adalah satu pengalaman, yang membuktikan kebenaran nasehat Lo In itu hingga si nona diam-diam bersyukur pada guru ciliknya itu. Lo In masih kecil, belum ada pengalaman dalam dunia Kangouw. Tapi soal itu ia dapat keterangan dari Liok sinshe yang spesial menasehatkan di dalam perantauan jangan melupakan pil mujizat itu. Tempo hari, kebasan Kim Coa siancu dengan setangannya tidak akan mempan bila si bocah sudah menelan pil anti yang mutajab itu. Mendengar teguran Bwee Hiang, Leng cu suami istri jadi gemetaran. "Lantaran takut dengan ancaman Toako dari 'Sip sam siao mo', akan membunuh mati sekeluarga kalau kami tidak menurut perintahnya, maka kami menjadi takut sehingga terpaksa kami membuat kesulitan pada nona. si Co dan si

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kian menggunakan obat tidur atas perintahnya toako dengan ancaman dibunuh mati kalau mereka tidak dapat menangkap Liehiap- sekarang kejadian sudah begii, kami pun tidak perlu kabur untuk menyelamatkan diri kami yang berdosa. Nah, hunuslah pedang Liehiap dan tebaskan pada leher kami suami istri yang tidak beruntung....." Demikian Leng cu menerangkan di depan Bwee Hiang sambil berlinang-linang air mata, sedang istirnya menangis tersedu-sedu. Leng cu berkata bahwa obat pules yang digunakan itu atas titahnya toako, sebenarnya dusta sebab itu atas usaha anaknya si Teng Kian. Bwee Hiang merasa kasihan pada suami istri itu. Ia percaya mereka memang tidak jahat, sebagaimana ia dapat dengar dari percakapan mereka ketika ia mau masuk ke rumahnya Leng cu. "Liehiap, lekaslah habiskan jiwa kamiJ angan tunggutunggu lagi." kata Leng cu ketika ia melihat si nona tinggal menjublek. Bwee Hiang sudah membuka mulut hendak berkata, tibatiba terdengar pintu rumah digedor dengan kasar dari sebelah luar. Tuan dan nyonya rumah tidak bergerak meskipun gedoran pada pintu makin lama makin keras, hingga suaranya rumah mau roboh-Mereka tahu bahwa yang datang itu adalah kawanan 'sip sam siao mo'. " Lekas buka " perintah Bwee Hiang pada nyonya rumah yang biasanya tukang buka pintu, setelah mendengar perintah, baru ia bangkit dari berlututnya dan lari menghampiri pintu yang hampir terbuka karena gedoran makin hebat-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ segera lima orang sudah menerobos ke dalam- Mereka pada mengenakan topeng dengan golok terhunus di tangan masing-masing. "Mana siko dan Pweko ? Kenapa mereka terlambat mengantar orang ke sana ?" tanya satu diantaranya kepada nyonya rumah"Mereka, mereka-— ada di....." nyonya rumah terputus-putus bicaranya hingga orang yang menanya tadijadi marah"Mereka, mereka apa ?" bentaknya, kakinya pun berbareng melayang menendang nyonya rumah hingga jatuh tersungkur ke kolong meja"Hahaha, hahaha " tertawa orang kejam itu, setelah menendang nyonya rumah hingga masuk ke kolong mejasebelum ia berhenti ketawa, tiba-tiba ia merasakan lehernya dingin-Cepat ia menoleh- Tampak olehnya seorang dara jelita sedang tersenyum ke arahnya dengan pedang ditempelkan pada lehernyaKagetnya bukan main, hingga seorang kejam mendadak merasa lemas-Kiranya penyebab rasa dingin tadi adalah pedang yang menempel di lehernyaIa melirik pada kawan-kawannya, entah sejak kapan kawan-kawannya sudah roboh di sana sini hingga ia seorang yang masih ketinggalan untuk menghadapi kematian. yang tadinya begitu gagah berani, main hantam dan main tendang, sekarang orang itu berubah menjadi pengecut yang ketakutan. Tak tahan lututnya lemas, maka ia terkulai mendeprok- Tapi ujung pedang Bwee Hiang masih mengikuti terus dilehernya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dengan satu sontekan ujung pedang, topeng orang itu sobek dan wajahnya lantas kelihatan pucat ketakutan, Ia ternyata seorang pemuda belum masuk 20 tahun, dengan suara gemetar ia berkata, " Ampun Liehiap, ampunkanjiwa semutku. Aku masih punya dua adik dan dua orang tua yang harus kurawat. Kalau aku dibunuh, siapa yang akan merawat mereka ? oh, ampun" Tidak senang Bwee Hiang terhadap pemuda yang begitu pengecut. Akan tetapi mendengar kata-katanya bahwa ia mempunyai banyak tanggung jawab di rumah, maka mau tak mau si nona merasa kasihan juga. "Untuk mengampuni jiwamu tidak sudah asal kaujawab dengan betul pertanyaanku." kata Bwee Hiang seraya ujung pedangnya digores-goreskan pada leher orang. "Katakan, Liehiap mau menanya apa ?" sahut orang itu sangat ketakutan. "Pertama kutanya, siapa nama pemimpinmu ?" "Toako yang Liehiap maksudkan ?" "ya, lekas sebutkan " "Dia she Coa bernama Pang.... Aiyoo— " Terputus bicara orang itu, tubuhnya terkulai dengan kepala pecah dihantam senjata gelap yang berupa peluru besi yang menyambar dari jendela mengarah tepat dijidatnya. membuat ia roboh tidak bangun lagi. Dengan gerakan 'yan cu coan lim' atau 'Burung walet terbang masuk hutan'. Bwee Hiang enjot tubuhnya, melesat

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ molos dari jendela. Meskipun demikian gesit, ia masih terlambat sebab orang yang melepas senjata gelap itu sudah lari kira-kira beberapa tombak di sana. si nona penasaran dan lantas gerakan kakinya menguber. Dalam kegelapan malam, tampak dua orang saling kejar. Mengejar sudah beberapa lama, Bwee Hoang masih belum dapat menyandak orang itu, yang masih lari di sebelah depannya, Ia merasa bahwa ilmu entengi tubuhnya hanya berimbang dengan orang yang dikejarnya, maka hati si nona menjadi cemas. selagi sangsi untuk mengejar terus, tiba-tiba ia rasakan badannya melayang. Kiranya ia telah menginjak lubang jebakan yang dalam, Bwee Hiang terjatuh ke dalamnya. Tapi si nona lihai. Begitu kakinya menginjak dasar lubang, sudah enjot tubuhnya membal lagi. Cuma sayang lubang itu terlalu dalam hingga si nona terpaksa harus jatuh pula ke dalam lubang, tak dapat ia mencapai pinggiran lubang untuk menolong dirinya. Baru sekarang si nona menjadi kaget dan kuatir. Dalam lubang keadaan sangat gelap dan baunya tidak enak hingga Bwee Hiang hampir muntah-muntah, kalau tidak keburu ambil setangan untuk menekap lubang hidungnya. "Hahaha " terdengar orang tertawa di sebelah atas. Kemudian disambung dengan kata-kata, "Mau tahu nama toako dari 'sip sam siao mo' tidak sukarAsal kau bersedia untuk menjadi isterinya yang tercinta " Bwee Hiang sangat mendongkol, tapi ia tak berdaya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Bagaimana, nona manis ? Apa kau jadi istriku atau mati dipendam hidup, hidup dalam lubang ini ? Hayo, lekas pilih Aku tidak banyak tempo disini " Bwee Hiang sudah mau membuka mulutnya untuk mencaci maki, tapi kata-katanya urung dikeluarkan karena ia ingat satu akal. Ia hanya dia terus, pura-pura jatuh pingsan kejeblos dalam lubang jebakan sehingga kemungkinan toako akan mengirim orang ke dasar lubang untuk cari tahu dirinyaDisitulah ia akan mendapat kesempatan untuk menolong dirinya yang sudah tidak berdayaToako sudah berteriak-teriak keras tetap tidak ada jawaban dari dalam lubang- Pikir toako, si nona mesti mendapat halangan apa-apa, kalau tidak jatuh pingsan. Benar tepat perhitungan si nona sebab tidak lama lagi ia dapat lihat dua orang dikerek turun dengan membawa obor. Mereka yang dikirim ke dalam lubang itu adalah Ngoko dan Lakko (nomor 5 dan nomor 6), sebab Lakko tidak berani turun sendiri Ia minta supaya Ngoko temaninya. Ketika mereka mencapai dasar lubang, dari penerangan obor mereka lihat si nona tengah terlentang pingsan. "Betul dugaan Toako, anak ayam ini sedang tidur nyenyak disini-" berkata Lakko"Huss, jangan banyak cakap- Lekas bekerja " sahut Ngoko Lakko segera turun dari keranjang kerekan, menghampiri si nona yang tidak berkutik, obor ia dekati pada wajah si nona untuk memandang paras Bwee Hiang yang cantik jelita.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ah, nona begini manis, sayang betul jadi korbannya toako kita yang kasar" ia menggumam perlahan tapi terdengar tegas di telinganya Ngoko "Apa yang kau lakukan ? Lekas angkat dia " kata Ngoko yang tidak memberi kesempatan Lakko Lakko cepat memondong si nona. Di lain saat mereka bertiga sudah berada di atas pula. Ketika Lakko mau meletakkan si nona di atas rumput, tiba-tiba toako berkata, "Mari, kasih aku yang pondong " Lakko serahkan tubuh si nona di tangan sang pemimpin. "Mari kita pulang " kata toako yang segera di dahului oleh kakinya bergerak sambil memondong si gadis. Bau harum pakaiannya yang membungkus si nona menusuk hidung toako hingga ia sambil memondong, pikirannya melayang-layang jauh di awan. Pikirnya bagaimana bahagianya ia kalau dapatkan si cantik sebagai ganti isterinya yang sudah mati sebulan yang lalu. Menurut siIatnya yang kejam, sebenarnya Bwee Hiang seharusnya dibunuh lantaran sudah membunuh beberapa orangnya- Akan tetapi kecantikan si nona telah membuyarkan amarah toako. Citko sudah binasa, dua orang (siko dan Pweko) tertotok, empat orang dibunuh oleh Bwee Hiang dalam rumah Leng cu, satu orang dibunuh peluru besinya toako hingga sang pemimpin dari 13 Iblis Cilik (sip sam siao mo) kini hanya ditemani oleh empat orang saudaranya. Tapi semuanya itu tidak dipikirkan lagi oleh toako- Pokoknya ia sudah dapat si

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ cantik Bwee Hiang sebagai penghiburnya-Demikian, tidak lama lagi mereka sudah sampai di markasnya. Kiranya yang digunakan sebagai markas oleh 13 Iblis Cilik itu adalah satu kuil tua yang disana sini sudah mengalami perbaikan. Rupanya kuil itu sudah lama ditelantarkan, hanya ketika 13 iblis cilik bermarkas disitu sudah diperbaiki. setelah berada di dalam kuil, dengan perlahan tubuh Bwee Hiang direbahkan diatas sebuah dipan. "sungguh cantik dia." kata toako dalam hati. Ia memandang dengan tidak merasa bosan pada wajah Bwee Hiang yang seolah-olah sedang tersenyum dalam tidurnya yang nyenyakTak tahan ia dengan debaran hati, bergejolaknya sang nafsu birahi yang muncul dengan tiba-tiba, maka cepat ia meloloskan topengnya lalu mencondongkan, badannya hendak mencium bibir yang menggiurkan itu. Tiba-tiba ia merasakan iganya kesemutan dan seluruh badannya menjadi lemas- Ia roboh terkulai dengan tidak bisa mengucapkan apa-apa dari mulutnyaKiranya, selagi bibirnya hendak ditempelkan pada bibirnya si gadis, hiat-to dibagian iganya sudah ditotok oleh Bwee Hiang yang sejak diangkat dari lubang jebakan si gadis purapura pingsan. Empat kawannya yang melihat sang toako hendak mencium si gadis, dalam hati masing-masing sangat ngilar. Tapi alangkah kagetnya tatkala nampak toakonya dengan sekonyong-konyong telah roboh terkulai sebelum menunaikan keinginannya untuk mencium si gadis"Hei, toako kenapa ?" seru satu dlantara empat orang itu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ si gadis berbareng bangkit dengan tiba-tiba- Terdengar sret-sret beberapa kali-seflera juga kepala empat orang dari 13 Iblis Cilik menggelundung ke lantai- Itulah Bwee Hiang yang menghunus pedangnya secara kilat ditebaskan kepada empat batang leher orang hingga kehilangan kepalanya. si nona lalu menghampiri toako, katanya, "Dimana kau simpan perempuan-perempuan culikanmu ?" Toako tidak menyahut, ia diam saja. "Kau tidak menjawab ?" tanya Bwee Hiang galakToako hanya kedap kedip matanya, tidak mengeluarkan suara. Kapan Bwee Hiang mau menampar si pemimpin dari 13 Iblis Cilik tapi ia urung menampar orang tersebut karena ia ingat sesuatu. "Kenapa aku jadi tolol ?" ia tegur dirinya sendiri, seraya kakinya menendang pada hiat-to yang membuka jalan darah toako Toako sampai bergulingan mendapat tendangan sepatu sigadis yang berujung lancip. Kiranya si nona tegur dirinya tadi, ternyata alpa membuka totokan pada tubuh toako sebab bagaimana juga toako tak dapat bicara sebelum totokannya dibebaskan terlebih dahulu. Kapan toako sudah berdiri bebas, ia tertawa tawar pada si gadis.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bwee Hiang lihat, toako bukan termasuk pemuda lagi sebab umurnya ditaksir sudah melampaui 40 tahun, si nona berkata, "Kau tua bangka ini, mengepalakan anak-anak melakukan penyelewengan. Betul-betul dosamu tidak bisa diampuni" Toako nyalinya besar, Ia tidak takut melihat Bwee Hiang barusan telah membunuh mati empat orangnya sekaligus, malah ia ketawa ketika ditegur si gadis, "simpananku tidak perlu orang lain mau tahu " katanya tawar. "Kematian sudah diambang pintu, masih mau berlagak ?" "Belum tentu." mendengus toako "Kematianmu tentu belum puas kalau tidak menyaksikan kepandaianmu nonamu, maka aku kasih kesempatan untuk kau membela diri- Lekas cabut pedangmu " "He he, lantaran kecantikanmu aku terjebak dalam akalmu. Kalau tidak, hm " "Kalau tidak, apa kau maksudkan ?" tanya Bwee Hiang. "Kalau tidak, siang-siang sudah kumampusi kau " seru toako dengan gusar. "Hihihi, makanya jadi pemimpin jangan suka kepincut sama paras cantik-" kata Bwee Hiang menggodai"Sekarang kau jatuh di tanganku. Terang ajalmu sudah dekat" "sret" terdengar pedang toako dihunus.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Di bawah penerangan lampu, pedang itu bergemerlapan tajam sampai Bwee Hiang terkejut dalam hatinya. "Pedang bagus " katanya diam-diam. Melihat si nona mengawasi pedangnya dengan kesima, ia kira si nona takut padanya. Maka ia lantas berkata, "Menyerahlah kalau kau takutjadi istriku toh tidak bakal menjadi rendah derajatmu. Malah kau bakal di........." Toako terputus kata-katanya karena si nona sudah menyerang dengan sengit, sambil membentak. "Kentut, jangan banyak lagak Lihat, kuambil jiwamu" "Belum tentu, nona yang manis " toako ngeledek si gadis sambil berkelit. "Hehe, kau pintar juga selamatkan diri, ya "sigadis ketawa tawar. "Masih terlalu siang buang menghitung kemenanganmu, nona manis " "Kau berani ngeledek nonamu ? Nih, rasakan" Mulutnya bicara, berbareng pedangnya berkelebat menyerang. "Trang " suara kedua senjata beradu, pedang si nona ditangkis sekerasnya oleh toako-Berbareng dengan suara "trang " pedangnya si nona terkutung kira-kira sepuluh sentimeter hingga Bwee Hiang sangat kaget.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Aku sudah kata, lebih baik kau menyerah untuk jadi nyonya ku- Tak usah kau capek-capek memainkan pedang per...." berbareng toako berkelit karena si nona sudah menerjang dengan gusar. " Lihat, dengan pedang buntungku, akan kuselot mulut bocormu " teriak si gadisMereka jadi bertempur seru- Ternyata kepandaian toako tidak lemah- Ia dapat melayani serangan si gadis- Ia tidak berniat menjatuhkan Bwee Hiang dengan kekerasan. Tapi apa mau, pedang buntungnya Bweee Hiang telah menabas kutung rambut kepalanya, membuat ia jadi sangat gusar. "Budak liar, kau berani main gila pada toako? Hm " berbareng ia gerakan permainan pedangnya lebih cepat. Toako mengira si gadis memainkan pedangnya begitu saja. Ia tidak takut, malah pikirnya kalau barusan ia tidak lengah tidak bakal rambutnya kena dipapas buntung oleh si gadissekarang ia gerakkan pedangnya lebih cepat, pasti Bwee Hiang akan kewalahan dan menyerah kalahIa tidak tahu kalau si gadis menggempur ia hanya mainmain saja, mau lihat kepandaiannya sampai dimana. Ketika si gadis sudah tahu bahwa menggempur toako hanya buang tempo saja, bukan mendapat pandangan, maka ia pun merubah taktik- sekarang, bukan pedang yang berkelebat saja, akan tetapi dibarengi dengan tubuhnya yang sebentarsebentar lenyap dari pandangan toako hingga pemimpin dari 13 Iblis Cilik itu menjadi ngos-ngosan napasnya. Pada saat tidak terduga-duga, tahu-tahu nadi tangan kanan toako kena ditepuk dan kontan pedangnya jatuh berkelontrang di lantai.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tepukan si gadis meskipun perlahan tapi sakinya bukan main dirasakan oleh toako, sampai nyelusup kejantung. Ia masih penasaran dan cepat bungkukkan badannya mau ambil pedangnya. Tapi pedang siang-siang sudah diinjak oleh kakinya Bwee Hiang. "Kau tidak pantas memiliki pedang mustika " kata Bwee Hiang, berbareng sepatunya yang menginjak pedang 'salaman' dengan jidat toako hingga ia terpelanting bergulingan seraya teraduh-aduh. sambil menjumput pedang toako, Bwee Hiang cekikikan ketawa. "Nah, aku ganti pedangmu " kata si gadis seraya melemparkan pedangnya sendiri pada toako yang masih teraduh-aduh karena jidatnya berleleran darah kena dicium sepatu. Ketika Bwee Hiang masukan pedang barunya dalam sarung yang ada dipinggangnya, ternyata tidak pas, kepanjangan sedikit. Matanya lantas melirik pada sarung pedang yang ada dipinggangnya toako, kiranya sarung pedang itu adalah sarung pedang yang bagus. " Lekas serahkan sarungnya " ia membentakToako tidak berani ayal karena sudah tahu kelihaiannya si gadis sekarang. Cepat ia loloskan sarung pedangnya dan dilemparnya pada Bwee Hiang. Dengan satu tangkapan bagus, Bwee Hiang di lain saat sudah masukkan pedang barunya ke dalam sarungnya yang asli. girang hatinya Bwee Hiang ketika ia sudah menyoren pedang barunya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pikirnya, dengan kawan yang sakti itu ia dapat malang melintang dalam dunia Kangouw dengan atau tidak dengan guru ciliknya yang sekarang entah ada dimana. "Lekas unjukkan dimana tempat penyimpanan wanitawanita yang kau culik " bentak Bwee Hiang dengan bengis hingga toako jadi ketakutan. "Itu, itu—" ia berkata gugup hingga Bwee Hiang tidak sabaran. "Itu, itu apa ?" kakinya berbareng menendang hingga toako bergulingan dan membentur meja abu tepekong yang sudah amoh hingga berantakan. Bwee Hiang ketawa cekikikan melihat abu tepekong berhamburan diatas kepalanya toako dari 13 Iblis cilik. Bukan main marahnya toako, tapi apa yang ia bisa bikin- Ia toh sudah tidak bisa menang lawan si gadisDalam merenungkan nasibnya pada saat itu, ia terkejut ketika Bwee Hiang membentak sambil menghunus pedangnya"Tidak lekas bicara, mau tunggu kapan ?" Toako sudah kenal tajamnya pedang bekas miliknya itu, maka ia ketakutan. "Semua wanita yang diculik tidak ada disini." menerangkan toako. "Lalu, kau umpatkan dimana ?" tanya Bwee Hiang. "Mereka sudah dikirim ke Pekskut-nia, dipersembahkan kepada Thoat Beng Mo Siauw." sahutnya. "Betul bicaramu ?"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kenapa tidak betul, aku adalah orangnya Thoat Beng Mo Siauw-" Bwee Hiang berpikir- Adik kecilnya menyusul si Hantu Ketawa ke Pekskut-nia- Ia juga menyusul tetapi kehilangan jejaknya- Entahlah, apakah Lo In masih ada disana. Tapi si nona masih kurang percaya atas keterangannya toako. Maka ia lalu mendekati toako dan menotoknya. setelah mana ia lantas menggeledah dalam kuil tua itu, ternyata tidak ada wanita yang ditahan disitu. Ketika ia keluar lagi, lalu menotok bebas si toako. Kiranya ia tadi menotok toako, kuatir orang nanti kabur selama ia melakukan penggeledahan, Ia lalu berkata pada toako, "Mari kita ke Pekskut-nia " Mendengar perkataan si nona, diam-diam toako merasa girang. Pikirnya, "Kau ajak aku ke Pekskut-nia, sama juga kau mencari mampus Di sana ada si Hantu Ketawa dan banyak kawannya, kau mana dapat meloloskan diri Cuma sayang kau yang berparas cantik harus jatuh ditangannya Thoat Beng Mo Siauw......." Di lain saat mereka sudah berlari-larian di tengah malam buta menuju ke Pekskut-nia. Tidak sampai mencapai puncaknya bukit, mereka berhenti di depan sebuah rumah besar yang dibangun panjang dan luas pekarangannya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bwee Hiang memperhatikan bangunan rumah itu. Kiranya bekas kuil tua yang sudah dipermak jadi lebih besar. "Apa ini tempatnya Thoat Beng mo siauw ?" tanya si nona kepada toako yang tengah berdiri menjublek. Toako anggukkan kepala tanpa menyahut. Rupanya ia sedang keheranan kenapa markas besarnya demikian sepiTidak seorang pun ada di luar, biasanya ada beberapa orang yang menjaga di sekitarnya rumah. Ketika ia sedang menduga-duga apa yang sudah terjadi di situ, tiba-tiba ia kaget mendengar bentakan Bwee Hiang, " Jalan" Toako makin merasa heran ketika ia membuka pintu pekarangan tidak terkunci, Ia jalan terus membawa Bwee Hiang masuk ke dalam rumahsi nona sudah siap dengan pedang di tangan, Ia mengharap akan ketemu dengan adik kecilnya di situ, tapi ia sangsi karena kelihatan rumah itu sunyi-sunyi saja seperti yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya. ruangan depan keadaannya sepi. Ketika toako dan Bwee Hiang masuk ke dalam ruangan tengah, tiba-tiba dihadang oleh tiga orang yang berpakaian hitam, satu diantaranya telah menegur toako, katanya, "Hei, toako, kau bawa apa itu ?" Ia berkata sambil matanya melirik pada Bwee Hiang dengan ceriwis sekali. Bwee Hiang meludah, muak ia melihat orang berkelakuan tengik itu. Toako tidak menyahut, ia hanya angkat tangan kanannya di taruh di dada. Itu adalah kode bahwa dirinya ada dalam bahaya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ orang yang menanya tadi menjadi kaget, lalu mengawasi si nona yang membawa pedang tajam di tangannya. Lalu ia melirik pada dua kawannya, kemudian dengan berbareng mereka menyerang si nona. "Bagus " seru Bwee Hiang. Berbareng terdengar tiga kali suara "sret", tiga kepala orang-orang tadi telah menggelinding di lantai. Darah menyembur keluar dari leher masing-masing korban tapi Bwee Hiang sedikit pun tidak merasa ngeri, sebaliknya dengan toako, badannya menjadi menggigil ketakutan. "Kau orang jahat, dikasih hidup juga percuma " kata si nona pada toako, tahu-tahu sebelum ia melihat bagaimana si nona bergerak, kepalanya telah menggelinding pula dilantai hingga dalam halaman itu banjir darahBwee Hiang ketawa tawar menyaksikan itu. Ia tidak merasa ngeri dan tidak merasa menyesal atas perbuatannya yang ganas, mengingat perbuatannya itu belum ada sepersepuluhnya dari perbuatan su coan sam-sat yang membasmi markas Ceng Giee Pang dan membunuh-bunuh seisi rumah tangganya. setelah membereskan empar orang di ruangan tengah, si nona lantas hendak masuk ke lain ruangan lagi. Tapi sebelumnya ia telah dihadang oleh dua orang yang romannya bengis-bengis. Cuma saja roman yang bengis-bengis itu tidak lama berhadapan dengan si nona. sebelum mereka bergerak, dengan pedangnya Bwee Hiang sudah mendahului dan kembali ruangan tengah itu tambah dua kepala manusia yang menggelinding. Cepat Bwee Hiang lompat masuk ke lain ruangan.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Keadaannya sunyi-sunyi saja. Ketika ia jalan makin ke dalam, tiba-tiba ia mendengar suara wanita cekikikan ketawa. Ia heran, masa ada wanita yang ketawa ditangannya orang jahat, bukannya menangis ketakutan. Ketika Bwee Hiang mendekati kamar dari mana ada terdengar ketawa tadi, ia mendengar si wanita berkata, "Dasar lelaki tidak ada kenyangnya, aduh, kan sakit tuh tetek orang di.....hihihi...." Bwee Hiang yang masih 'hijau' tentu saja menjadi heran mendengar kata-kata si wanita dari dalam kamar. Apa yang mereka sedang lakukan ? tanyanya dalam hati. si nona sudah angkat kaki hendak menendang pintu, tidak jadi, ketika mendengar yang lelaki berkata, "siauw Cui, kau adalah kembang diantara wanita yang menjadi gula-gulanya si hantu tua. sekarang si hantu tua sudah mati. Bagaimana pun kau akan menjadi milikku." "Pintar juga kau memilih-" terdengar si wanita yang dipanggil siauw Cui menjawab"Apa kau tidak takut pada orang she Kan yang sudah memiliki aku lebih dulu ? Hm Aku tidak percaya kau berani bergebrak dengannya untuk rebutkan diriku yang hina Hihi....." "ah, kau nakal......." "siauw Cuui, aku orang she Tan, bagaimana cun akan memilikimu......"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sampai di situ Bwee Hiang dengar ada suara jalan yang perlahan mendatangi, mereka, cepat ia menyingkir ke samping dan mendekati jendela kamar. Kembali si nona mendengar suara si wanita berkata, "Kau mau ambil diriku yang hina, sungguh aku sangat berterima kasih- Nanti setelah kita menjadi suami istri barulah kita bisa merdeka- sekarang sudahlah, kau lekas keluar- Nanti keburu datang orang she Kan, kau bisa berabe-" "Nanti atau sekarang sama saja, malam ini kau harus melayani aku......." "Brakk " terdengar suara pintu ditendang terbuka. Bwee Hiang hatinya menjadi makin kepingin menonton adegan di sebelah dalam- Ia mengintip dari jendela- Ia lihat wanita dan laki-laki yang bercakap-cakap tadi sedang berpelukan dalam pakaian setengah telanjang. Matanya tampak terbelalak memandang kepada orang yang barusan masuk dengan menendang pintu. Lelaki yang barusan masuk lebih besar, tapi tingginya kalah dengan lelaki yang tengah memeluki si wanita yang dipanggil siauw Cui. "Hahaha. Bagus perbuatanmu siauw Cui." kata orang she Kan yang barusan masuk"Kau kata mau ikut aku dengan setia, tidak tahunya diamdiam simpan lelaki dalam kamar. Kalau aku tidak membunuh kalian, tentu orang akan menyangka aku adalah seorang pengecut" berbareng ia menghunus goloknya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ siauw Cui berontak dari pelukan orang she Tan dan lompat ke arah si orang she Kan, katanya. "Jangan. jangan engko Hok Hu. Aku sumpah selanjutnya akan setia pada....." "Nah, inilah bukti kesetiaanmu" bentaknya sebelum wanita itu habis kata-katanya, berbareng kepalanya terpisah dari lehernya disabat golok tajam si orang sheTan yang sudah merapikan pakaiannya, nampak Siauw Cui ditabas batang lehernya menjadi merah matanya saking gusar" orang she Kan, apa memangnya aku takut pada mu?" sambil menyerang dengan goloknya yang sudah dihunusnya hingga mereka jadi bertempur dalam kamar yang tidak seberapa lebar. Dua-dua berkelahi dalam kegusaran, tentu saja serangan-serangan yang dilancarkan oleh masing-masing adalah serangan-serangan yang mematikan. Untuk sementara kelihatan orang she Tan dapat memberikan perlawanan bagus, tapi ia kalah pengalaman dan perlahan-lahan terdesak sampai ke pojok"Nah, susullah roh si sundalmu ke neraka " bentak si orang she Kan berbareng ujung goloknya sudah menikam pada dada lawannya hingga amblas dan ujung golok baru berhenti menusuk sesudah ditahan dengan tembok kamar. Cepat orang she Kan menarik goloknya kembali, tapi bukan untuk dibersihkan dari darah musuhnya hanya disabetkan kepada batang leher lawan yang sudah tidak berdaya. Roh orang she Tan benar-benar telah menyusul sang kekasih yang sudah jalan dahulu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Puas kelihatannya orang she Kan, sudah membunuh dua orang cabul tadi- Setelah menendang mayatnya siauw Cui, ia keluar dari kamar, di depan pintu ia menggumam, "Aku adalah Kan Hok Hui, cukup mempunyai kepandaian silat. Kenapa tidak bisa menggantikan si tua yang sudah mampus ? Hahaha, pantas, pantas..........." Ia jalan terus ke ruangan belakang, sama sekali tidak tahu kalau geark geriknya ada yang membayangi ialah Bwee Hiang jago perempuan kita. Bwee Hiang kenapa tidak menebas saja batang lehernya Kan Hok Hui ? Itu karena si nona ada maksud lain. Ia mau tahu gerak gerik Kan Hok Hui lebih jauh yang menurut gumamannya tadi ingin menjadi kepala disitu. Kan Hok Hui telah membunyikan lonceng tanda buat orangorang berkumpul dalam ruangan belakang yang luas lebarRupanya disitu biasa dipakai rapat oleh mereka. sebentar lagi tampak berkumpul kurang lebih 20 orang, mereka pada duduk diatas bangku-bangku panjang. Banyak tempat yang lowong. Rupanya kawan penjahat sudah banyak kurang orangnya karena tempo hari dibasmi oleh Kim Coa siancu. Tampak sebuah mimbar, diatas mana ada di taruh sebuah meja dengan tiga buah kursi. Tampak kursi yang tengah diduduki oleh Kan Hok Hui, sedang kursi di kanan kirinya tidak ada yang duduki. Biasanya kursi yang tengah diduduki oleh Thoat Beng Mo Siauw, yang kanan oleh Kan Hok Hui dan yang kiri oleh Thio Jin Liong. Dua orang ini adalah tangan kanan si Hantu Ketawa (Thoat Beng mo siauw).

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sekarang si Hantu Ketawa danjin Liong sudah mati. Maka Kan Hok Huilah yang mengepalai kawanan orang jahat itu. setelah orang-orang pada berkumpul, terdengar Kan Hok Hui berkata, "Saudara-saudara sekalian, seperti kalian tahu, Thoat Beng mo siauw dan jin Liong sudah mati dan kini tinggal aku sendiri yang masih hidup- Aku mau menggantikan si orang tua (dimaksudkan si Hantu Ketawa) menjadi kepala disiniBagaimana pendapat sekalian saudara-saudara ?" semua orang bersorak menanda kan persetujuannyagirang hatinya Kan Hok Hui. Ia berkata lagi, "Kalian jangan ikut-ikutan saja- Kalau diantaranya ada yang tidak setuju boleh angkat tangan. Aku tidak memaksanya. Hayo, siapa yang tidak setuju ?" Ada diantaranya yang sebenarnya tidak merasa setuju. Akan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena takut akan kekejamannya Kan Hok Hui. Mereka jadi ikut-ikutan saja setuju. Meskpun begitu, tampak dua orang yang mengacungkan tangannya. Kan Hok Hui diam-diam sangat tidak senang ada orang yang menentangnya, Ia kata, "Bagus. Coba terangkan oleh dua orang saudara yang mengacungkan tangannya, kenapa kalian tidak setuju dengan pengangkatan diriku menjadi pemimpin ?" "oh, kami bukannya tidak setuju." salah sahut satu diantaranya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kami sekarang lihat, hanya saudara Kan saja yang memimpin, sedang yang sudah-sudah kita dipimpin oleh 3 orang." "oo, begitu." sahut Kan Hok Hui, reda perasaan tidak senangnya. "Hal itu mudah dirundingkan belakangan, setelah aku memegang tampuk pimpinan." "Mufakat kalau begitu." kata dua orang hampir berbareng. "Tidak mufakat " terdengar suara yang lain berbareng orangnya muncul dari balik tirai yang memisahkan ruangan yang disebelahnya. semua mata ditujukan pada orang tadi. Kiranya dia adalah seorang gadis cantik jelita hingga mereka jadi melongo heran memandang si gadis yang tiada lain adalah Bwee Hiang. Mereka menanya-nanya pada dirinya masing-masing, gadis siapa yang muncul malam-malam dalam ruangan rapat itu. Apakah dia manusia atau setan. Tapi Kan Hok Hui lantas perdengarkan suara ketawanya. Ia kemudian berkata, "Kau bukan anggota kita, bagaimana mungkin kau dapat mengemukakan suaramu ? sebenarnya siapakah kau ? Malam-malam ada disini- Apa kau tidak takut dengan kami orang ?" "Hihi " ketawa Bwee Hiang. " Kalau takut masa aku datang kemari ?" "Jadi, kau mau apa ?" tegur Kan Hok Huu.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Biasanya, dalam pemilihan pemimpin, yang kuat dialah yang dipilih sebagai pemimpin, sekarang belum ketentuan kekuatanmu, lantas saja mengangkat diri sebagai pemimpin, Itu tidak adil " Bwee Hiang menyatakan. Perkataan Bwee Hiang bikin semua orang saling lirik satu dengan lain. Kata-kata si nona memang benar, akan tetapi siapa orangnya yang dapat mengalahkan Kan Hok Hui yang sudah jelas kepandaiannya di atas semua orangnya. "Hahaha " Kan Hok Hui tertawa terbahak-bahakMeskipun ia merasa aneh atas kedatangannya si nona yang tiba-tiba, ia tidak memikirkan untuk menangkapnya- Ia tahu si nona parasnya cantik, maka ia ingin takluki Bwee Hiang dengan kehalusan hingga hatinya si nona akan terpikat sendiri olehnyaKan Hok Hui sangat licin dan cerdik. Melihat si nona ada membekal pedang di pinggangnya, lantas tahu bahwa wanita itu bukan sembarangan wanita. Kedatangannya pun tentu mempunyai maksud tertentu, Ia tidak mau sembarangan membenturnya, ia percaya dengan kecerdikannya ia dapat menguasai si nona. siapa tahu si gadis memang sudah menjadi jodohnya untuk menjadi istrinya. Maka dalam gembiranya, ia tertawa, setelah tertawa ,ia berkata, "Nona ini adalah tamu kita, apa yang dia katakan barusan memang benar, sekarang siapa dlantara saudara-saudara yang ada minat untuk main-main dengan aku ? Ada baiknya

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ juga untuk membuka matanya tamu kita yang ingin melihat pengangkatan pemimpin dilakukan dengan adil" "Nah, itu baru benar" kata Bwee Hiang, ketawa manis. setelah sepi sejenak, seorang yang beralis tebal dan muka lebar kelihatan bangun dari bangkunya dan maju ke depan, Ia berkata, "Maaf, aku un Hoa ingin coba-coba peruntungan. Harap saudara Kan berlaku murah " un Hoa berkata sambil angkat tangannya memberi hormat pada Kan Hok Hui. Kan Hok Hui bangkit dari kursinya, turun dari mimbar dan jalan menghampiri un Hoa. Jarak antara bangku-bangku dan mimbar, lebar juga. Disitulah mereka bertemu untuk memperebutkan jabatan pemimpin. Bwee Hiang senang dapat mengadu domba kan kawanan penjahat itu. sebaliknya Kan Hok Hui mendongkol. Tapi karena ia sudah punya maksud untuk menakluki si nona dengan halus, terpaksa ia harus tunjukan kepandaiannya. Tidak banyak cakap lagi antara Kan Hok Hui dan un Hoa. Mereka sudah lantas saling serang. Ternyata kepandaiannya un Hoa kalah jauh, maka hanya dalam dua jurus saja ia sudah kena ditendang nyungsep ke kolong bangku. "Mari, siapa lagi yang maju " tantang Kan Hok Hui-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Beberapa orang yang panas hatinya sudah maju bergiliran. Tapi semua bukan tandingan Kan Hok Hui, semua dijatuhkan dengan mudahnya. setelah tidak ada orang yang berani maju lagi, maka sambil unjuk senyuman bangga, Kan Hok Hui berkata, "setelah kalian tidak ada yang berani maju lagi, terang jabatan pemimpin aku yang dapat, bukan ?" "Nanti dulu, masih ada yang belum dijatuhkan" kata Bwee Hiang, ketawa riang, "siapa ?" tanya Hok Hui. "Aku....."jawab Bwee Hiang. "Kalau toh tidak masuk hitungan orang kami, bagaimana mau merebut jabatan pemimpin? Kau pergi sana Dimana rumah mu sebenarnya ?" "orang mau merebut jabatan pemimpin, ini malah menanya rumah orang segala, Itu kan tidak masuk dalam rumah. Hihihi.." "Kau tidak pantas menjadi pemimpin, lebih pantas jadi nyonya pemimpin" Bwee Hiang deliki matanya ke arah Hok Hui, yang sedang ketawa memandangnya. Delikan mata Bwee Hiang yang tajam, bukan membikin marah Kan Hok Hui, sebaliknya hatinya tergoncang dengan serentak.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Awas, akan kuselot mulut bocormu " mengancam Bwee Hiang. Kan Hok Hui tertawa gelak-gelak mendengar kata-kata si nona yang lucu. "Kau ketawa kan apa, hah " bentak Bwee Hiang. "Aku ketawa kan kau nona manis, jadi isteri....." "Plok " Kan Hok Hui rasakan pipi kirinya ditampar hingga perkataannya putus setengah jalan, yang tadinya ia hendak mengatakan jadi isitriku lebih baik....... Tamparan si nona bukannya tidak dirasakan oleh Kan Hok Hui, sebab seketika itu meluap amarahnya. "Gadis liar, kau berani" bentaknya sambil menerjang si nona di depannya, tapi Bwee Hiang dengan manis berkelit. "Heheh, pintar juga kau berkelit, ya " kata Kan Hok Hui, segera ia melancarkan serangan susulan. Lagi-lagi ia mesti menyerang tempat kosong sebab si nona sudah berkelit sambil memutar ke samping kirinya. Kan Hok Hui kaget si nona demikian gesit. Baru saja ia berbalik dan hendak melancarkan serangan ketiga kalinya, tiba-tiba ia rasakan pipi kanannya ditampar. Belum tahu ada berapa biji giginya yang rontok ketika ditampar pipi kirinya, sekarang pipi kanannya lagi kena tamparan si nona. Entah berapa biji lagi giginya yang rontok, tapi yang terang ketika ia semprotkan dari mulutnya yang berboboran darah, ada lompat keluar sampai lima buah giginya.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Terang marahnya Kan Ho Hui sudah sampai di rambut kepala. "Perempuan hina, kau berani main-main dengan tua besarmu ? Hm " bentaknya. Tapi sebelum ia bergerak menyerang si gadis, ia telah didahului dengan satujotosan tepat ke dagunya hingga ia jatuh terpelanting. Melihat Kan Hok Hui merangkak-rangkak dengan susah mau bangun, Bwee Hiang ketawa geli, tidak tahan ia kalau tidak cekikikan. Kawan-kawannya Kan Hok Hui tidak satu yang berani turun tangan melihat pemimpinnya dihajar babak belur oleh si nona. Ketika Kan Hok Hui dapat bangun lagi, ia hanya mengawasi si nona denganpenuh kegusaran tapi mulutnya membungkam. "Nah, apa kau mulai percaya dengan ancamanku ? Aku sudah selot mulutmu yang bocor " kata Bwee Hiang seraya ketawa terpingkal-pingkal. Kan Hok Hui tidak menjawab perkataan si nona, sebaliknya dengan mulut belepotan darah ia berkata pada kawankawannya, "Kalian mau tunggu apa lagi ? Lekas tangkap gadis liar itu " Reaksi dari seruan ini ternyata mengecewakan, sebab mereka seperi yang berlagak pilon, diam saja tak bangkit dari duduknya. "siapa yang dapat menangkap dia, akan kuangkat jadi pemimpin" seru Kan Hok Hui lagi.

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ seruan ini ternyata ada pengaruhnya sebab hampir serentak semuanya pada bangun berdiri dan mengurung Bwee Hiang yang masih enak-enak ketawa. Kapan si nona melihat dirinya dikepung, bukannya takut malah ketawa cekikikan, katanya, "Kalian mau tangkap nonamu ? Bagus, silahkan tangkap " "Kau ini budak hina dari mana, kesasar ke....." Hulah un Hoa yang berkata. Mendingnan kalau ia tidak buka mulut dan diam-diam mengeroyok si nona. Ini dia buka mulut keluarkan perkataan kotor membuat Bwee Hiang sengit. Maka ketika ia belum habis bicara, sudah dihajar mulutnya oleh si nona. seperti Kan Hok Hui, dari mulutnya yang belepotan darah ia semprotkan beberapa buah giginya yang rontoh- Ia tidak berani membuka mulut lagi tapi dengan gemas ia bantu kawan-kawannya menerjang si gadis. Bwee Hiang sekarang bukan Bwee Hiang jamannya si kerudung merah, sebagai murid jago cilik kita (Lo In) si nona tidak mengecewakan. Tambahan ia sudah berpengalaman dalam pertempuran keroyokan. Maka dikepung dengan 30 orang, ia anggap sepi saja. Dengan lincahnya ia kelit sana sini mengelakkan serangan. Kakinya cun tidak tinggal diam hingga banyak yang rubuh kena ditendang jin-tiong-hiat dan jalan darah di jidat kena dicium ujung sepatunya si nona yang mungil. Kan Hok Hui di lain pihak berteria-teriak menganjurkan supaya kepungan dipererat, jangan kasih si nona lolos. sedang ia sendiri tinggal berdiri, tidak turut mengeroyok karena dirasakan kepalanya mendenyut-denyut sakit, itulah efek dari mulutnya yang berboran darah-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tapi melihat orang-orangnya makin kurang karena sudah pada rebah dirobohkan Bwee Hiang, mau tidak mau ia kepaksa turun tangan juga- Ia tidak bertangan kosong, tapi dengan goloknya ia menyerang Bwee Hiang. "Kau datang lagi ? Hehehe " Bwee Hiang menjengeki, ketika ia kelit dari serangan golok Kan Hok Hui yang tajam. "Budak hina, kalau malam ini aku tidak bisa tangkap kau, benar-benar aku bukan orang she Kan, murid kesayangan si Hantu Ketawa dari Pek-kut-nia " berkata Kan Hok Hui dengan sombongnya. Kini Bwee Hiang tahu kalau orang she Kan ini adalah murid kepala dari si Hantu Ketawa. Barangkali lebih baik ia tidak menyebutkan dirinya siapa, sebab dengan menyebutkan dirinya adalah murid dari si Hantu Ketawa, bukan membuat si nona jeri malah menjadi benci terhadapnya. Pikir si nona, kalau dia ini murid si Hantu Ketawa, sudah tentu sangat jahat seperti juga dengan gurunya yang kesohor. sisa 10 orang yang masih belum roboh, hanya dari kejauhan saja membantu Kan Hok Hui yang sedang kalap menyerang Bwee Hiang. Dalam babak yang menentukan Kan Hok Hui telah menggunakan tipu 'Ngo seng boan goat' (Lima bintang mengurung rembulan), goloknya diputar dan mengurung rapat, beberapa kali menuju ke arah tubuh lawan yang berbahaya. Bwee Hiang kaget sedikit, ia tidak mengira Kan Hok Hui punya kepandaian boleh juga. Tapi serangan itu ia anggap ada serangan enteng, meskipun dirinya seperti sudah terkurung golok-

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sekonyong-konyong, la kelebatkan pedangnya yang tajam pada depan mukanya Kan Hok Hui. Dalam gugup, Kan Hok Hui menangkis. "Trang " suara senjata keduanya beradu, kontan goloknya Kan Hok Hui terpapas kuntung. Belum sempat orang she Kan tenangkan hatinya yang kaget, tiba-tiba jari tangan kiri Bwee Hiang menyelonong ke 'sam-li-hiat',jalan darah di lengan kanan, seketika itu juga ia roboh terkulai dengan golok buntungnya sekali, si nona telah menggunakan salah satu jurus dari Bwee-hoa Kiam-hoat yang dinamai 'Bwee lie kian goat' atau 'Dibalik bunga bwee mengintip rembulan', suatu gerakan yang lihai sekali untuk memunahkan tipu 'Lima bintang mengurung rembulan' yang digunakan oleh Kan Hok HuiMelihat pemimpinnya tidak berdaya, mendeprok di lantai, maka sisa yang 10 orang lagi yang berhati macam kertas, semuanya berlutut minta ampun pada jago betina kita hingga Bwee Hiang ngikik ketawa. Di luar dugaan, kecuali Kan Hok Hui, Bwee Hiang telah menotok bebas kawanan orang jahat yang mengeroyoknya tadi semuranya pada berlutut di depannya Bwee Hiang. Seperti yang masih kekanak-kanakan pikirannya, Bwee Hiang tampak senang dirinya dipuja demikian oleh orangorang di depannya, Ia lantas bertindak naik ke atas mimbar dimana ia duduk diatas kursi kebesaran (pemimpin). Sambil ketok-ketok meja dengan pedangnya, Bwee Hiang berkata, "Sekalian dengar, Aku sekarang sudah jadi pemimpin kalian lantaran sudah mengalahkan kalian semua. Kalian mau

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ takluk apa tidak ? Siapa yang masih penasaran, boleh bangun " Semua orang manggut-manggut kepalanya, Hampir berbareng semua orang berseru, "Hidup," hidup Lie-tay-ong segala, aku bukannya kepala berandal. Aku hanya pemimpin" "Hidup, hidup ketua kita " terdengar pula suara berseru ramai-ramai. Kali ini Bwee Hiang tidak menegur, Ia kelihatan senang dipanggil ketua. Lie-tay-ong itu ada panggilan kawanan berandal kepada kepala berandal wanita, maka Bwee Hiang tidak mau dipanggil Lie-tay-ong. "sekarang aku tanya, siapa diantara kalian yang mau mewakili bicara dengan aku. Perlu aku mengajukan beberapa pertanyaan" berkata Bwee Hiang. semuanya berdiam, tidak seorang yang berani bangkit dari berlututnya. "Hei, kenapa kalian takut ? Lekas maju satu orang untuk aku tanyakan apa-apa." Mendengar nada suaranya seperti yang gusar, mereka yang berlutut pada ketakutan. Syukur ada satu diantaranya yang bangkit dari berlutut, siapa ? Kiranya dia si un Hoa yang coba peruntungan mengadu silat dengan Kan Hok Huiun Hoa maju ke depan mimbar, sambil menjura memberi hormat, ia berkata,

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Apa yang liehiap hendak tanyakan, tanyalah padaku. Apa yang aku tahu, akan aku jawab sejelasnya. Harap Liehiap jangan kuatir dibohongi." Bwee Hiang diam-diam ketawa geli dalam hatinya. Belum apa-apa un Hoa sudah mencegah orang jangan kuatir dibohongi. Memangnya ia (un Hoa) tukang ngebohong ? Tapi kalau dilihat tampangnya, un Hoa kelihatan ada jujur dan besar nyalinya, Ia senang, maka Bwee Hiang menanya, "Siapa itu tukang bohong (dusta) ?" "Aku bukan bilang tukang bohong, tapi sebagai penegasan bahwa aku tidak akan membohongi Liehiap dalam tanya jawab yang kuberikan pada Liehiap." "Bagus." kata Bwee Hiang. "Sekarang yang pertama kutanya, apa kau pernah lihat ada anak berwajah hitam, kira-kira berusia 16 tahun ada datang kemari ?" "Tidak pernah kulihat ada anak muka hitam kemari-" Heran Bwee Hiang, si adik kecil tidak datang kesitu. sebaliknya hatinya merasa lega. Cuma kemana perginya si adik kecil itu. "Lalu, matinya Thoat Beng Mo siauw lantaran apa ? Kalau sakit, sakit apa dan kalau dibunuh siapa yang membunuhnya pemimpin kalian itu ?" "Pemimpin klta dibunuh oleh Kim Coa siancu." "Hah siapa itu Kim Coa siancu ?"

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Aku tidak tahu, hanya menurut kata teman-teman orangnya sangat cantik-" "He, cantik mana dengan aku ?" un Hoa membisu- Tapi dalam hatinya diam-diam merasa geli atas pertanyaan si nona. "Bagaimana, cantik mana dengan aku " "Aku tidak tahu karena aku tidak melihat dengan mata sendiri Kim Coa siancu itu. Jadi kau tidak bisa membandingkannya dengan Liehiap." "Bagaimana Kim Coa siancu dapat membunuh pemimpin yang terkenal lihai ?" "Dia kena digigit ular emasnya." "stop soal Kim Coa siancu. sekarang kutanya, ada berapa banyak wanita yang ada dikurung disini ?" "Tidak tahu persis jumlahnya tapi lebih dari sepuluh orang." "Bagus, semuanya baik-baik saja tinggal disini ?" "Ia semuanya baik-baik saja. Semuanya menurut, cuma ada satu gadis dari ong-ke-chung yang kemarin diculik sampai sekarang menangis saja." "Hah, kenapa demikian ? Lekas kau bawa dia kemari " un Hoa mengiyakan. Ia putar tubuhnya dan pergi ambil si gadis she ong. sebentar lagi gadis itu sudah dibawa menghadap Bwee Hiang. Ternyata un Hoa mendapat kesulitan untuk membawanya karena si gadis meronta-ronta

TIRAIKASIH WEBSITE http://kan